PANASNYA BUNGA MEKAR : 14-02
Karena itulah, maka kedua orang itu benar-benar menjadi hantu di medan pertempuran yang makin dahsyat itu. Keduanya benar-benar mampu menyapu lawan yang mengepung mereka. Meskipun luka-luka senjata yang tergores di tubuh lawannya, bukan goresan dan tikaman yang membunuh, namun mereka benar-benar telah berhasil melumpuhkan lawan yang tidak terhitung jumlahnya. Jika diantara mereka ternyata ada satu dua orang yang terbunuh, agaknya bukan itulah tujuan mereka.
Tetapi sebenarnyalah bahwa Witantra dan Mahisa Bungalan takkan dapat menghindarkan diri dari pembunuhan. Lawan demikian banyak yartg datang dari segala arah. Karena itu, maka kadang-kadang yang terjadi tidak lagi dapat dihindarinya. .
Dalam pada itu pertempuran di sebelah menyebelah masih berlangsung dengan sengitnya pula. Pasukan induk yang jumlahnya tidak begitu banyak itu harus bertempur dengan segenap kemampuan mereka. Tetapi pada umumnya mereka adalah orang-orang terpilih yang bersenjata pedang dan perisai sehingga orang-orang dari gerombolan yang datang membantu dan menyerang pasukan induk itu dari arah belakang, terkejut karenanya, karena seolah-olah mereka telah membentur kekuatan yang tidak akan tertembus.
Dengan demikian maka pertempuran itu semakin lama menjadi semakin sengit. Matahari yang kemudian memanjat langit, bagaikan semakin memanasi arena yang terbakar oleh kemarahan, dendam dan kebencian.
Mereka yang bertempur itu telah basah oleh keringat. Tetapi ada pula diantara mereka yang menjadi basah oleh darah yang mengalir dari luka.
Yang terdengar di arena pertempuran itu adalah teriakan-teriakan kemarahan, hentakan senjata dan umpatan-umpatan kasar. Namun kadang-kadang juga lengking kesakitan dan kejutan dari mereka yang tergelincir ke dalam jurang.
Orang-orang yang berada di dalam sarang gerombolan itupun sudah seluruhnya ikut melibatkan diri. Mereka yang semula melemparkan batu dan lembing, telah berlari-lari menuruni tebing dan melibatkan diri malawan pasukan induk Mahisa Bungalan, sehingga seperti pasukan yang berada di sayap, mereka berhadapan dengan lawan yang datang dari arah yang berlawanan.
Namun kekuatan yang turun dari barak itu pun telah membentur kekuatan yang seakan-akan tidak tergoyahkan. Mereka membentur prajurit dan pengawal terpercaya yang bersenjata pedang dan perisai.
Bagi para prajurit, maka adalah kebetulan sekali bahwa lawan merekalah yang justru menuruni tebing. Karena itu maka mereka tidak perlu lagi memanjat, menghadapi hujan batu, lembing dan anak panah.
Sementara itu, di sayap pasukan Mahisa Bungalan, pertempuran pun berlangsung dengan garangnya. Masing-masing pihak telah mengerahkan segenap kemampuan. Para prajurit dan pengawal yang sudah mendengar isyarat untuk bertempur dengan kemampuan tertinggi, tidak ragu-ragu-lagi untuk mengayunkan senjata mereka, meskipun akan berakibat kematianbagi lawannya.
Untuk waktu yang cukup lama, pertempuran itu masih belum dapat dinilai dengan cermat.
Karena itulah, maka Mahisa Bungalan tidak ingin menjadi korban. Dengan demikian, maka sejak ia mulai menggerakkan pedangnya, ia sudah bertekad untuk menvurangi lawan sejauh-jauh dapat dilakukan. Namun ia tetap berdiri di atas landasan bahwa kedatangannya bukan untuk membunuh. Kematian yang timbul adalah akibat yang memang tidak dapat. dihindari dalam satu peperangan betapapun kecilnya.
Dua gerombolan yang terhitung kuat itu telah mengerahkan segenap orang yang ada di antara mereka. Terlebih-lebih lagi, gerombolan yang baraknya telah diserang oleh Mahisa Bungalan itu. Meskipun masih ada satu dua orang yang tersisa di dalam goa untuk melindungi barang-barang mereka, tetapi selebihnya telah dikerahkan semuanya di dalam arena pertempuran.
Bahkan pada saat-saat terakhir, telah terdengar suara kentongan yang memanggil semua orang dimanapun mereka sedang berada untuk menghadapi para prajurit dan pengawal yang datang menyerang itu.
Sampai saatnya matahari mendekati puncaknya pertempuran itu masih berlangsung terus. Para prajurit dan pengawal yang berada disayap benar-benar telah terkepung. Namun mereka masih tetap bertahan di tempat mereka. Arena yang sempit di pinggir jurang, sehingga setiap saat, mereka dapat melontarkan lawan mereka menggelinding di tebing yang meskipun tidak begitu tinggi, namun batu-batu padasnya sempal mengelupas kulit diheberapa bagian tubuh.
Ternyata kedua belah pihak merasa, bahwa kekuatan lawan mereka melampaui perhitungan. Para prajurit dan pengawalpun merasa telah terperosok ke dalam kekuatan yang memaksa mereka mengerahkan segenap kekuatan di saat-saat pertama benturan itu terjadi. Sementara orang-orang di dalam kedua gerombolan yang melihat jumlah lawan mereka tidak terlalu banyak, namun ternyata memiliki kekuatan yang mengejutkan.
Di saat matahari melampaui puncak langit, kekuatan di kedua belah pihak telah menurun. Gerombolan yang bertempur dengan keras dan kasar itu telah banyak kehilangan kekuatan mereka. Beberapa orang terbaring sambil mengerang. Sementara yang lain masih juga bertempur meskipun dari tubuhnya telah menitik darah. Bahkan ada beberapa orang di antara mereka yang sudah tidak dapat ditolong lagi jiwanya.
Pada para prajuritpun telah jatuh korban. Tetapi terlalu sedikit dibanding dengan lawan mereka. Para prajurit dan pengawal itu memiliki kemampuan pribadi dan kerja sama yang jauh lebih baik dari lawan mereka, meskipun jumlah mereka jauh lebih sedikit.
Pada saat-saat yang demikian, maka Mahisa Bungalan dan Witantrapun mengambil kesimpulan bahwa di sarang itu tentu tidak ada orang yang disebut Rajawali Penakluk.
Jika orang itu ada, ia tentu terjun ke arena. Seandainya tidak diinduk pasukan, tentu berada di sayap pasukan. Mahisa Bungalan telah memberikan pesan, jika orang itu muncul di manapun, maka agar para prajurit dan pengawal memberikan isyarat agar ia segera dapat mengambil tindakan sebelum orang itu menelan banyak korban.
Tetapi isyarat itu belum terdengar.
Karena itu, maka Witantra dan Mahisa Bungalan pun mengambil kesimpulan, bahwa orang itu tidak ada di barak itu.
Dengan demikian, maka keduanya berusaha untuk segera mengakhiri pertempuran. Tetapi tidak mudah untuk melakukannya. Kedua belah pihak telah terlibat terlalu jauh dalam perang brubuh.
Ketika Witantra kemudian mendekati Mahisa Bungalan, maka katanya, “Aku akan mencoba untuk mencegah jatuhnya korban lebih banyak lagi”
“Apa yang akan paman lakukan?“ bertanya Mahisa Bungalan.
“Menemui pemimpin perampok ini” jawab Witantra.
“Menurut pengamatanku, ada dua gerombolan yang kita hadapi. Kalengahanku ternyata telah menyeret pasukan ini ke dalam pertempuran yang berat, dan menyebabkan korban semakin banyak jatuh dari kedua belah pihak” berkata Mahisa Bungalan.
“Aku akan naik. Tentu pemimpin gerombolan ini masih ada di atas” desis Witantra.
Mahisa Bungalan termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Terserahlah kepada paman”
Witantra pun kemudian mempersiapkan dirinya. Ketika ia siap meninggalkan arena diinduk pasukan, iapun telah berpesan, “Hati-hatilah. Aku akan memanjat”
Mahisa Bungalan mengangguk. Namun iapun segera tenggelam ke dalam pertempuran yang riuh.
Witantra pun kemudian bergeser meninggalkan arena pertempuran itu. Sesaat dipandanginya tangga yang memanjat naik. Namun ternyata Witantra lebih senang memanjat tebing tidak melalui tangga itu.
Tidak ada lagi orang yang sempat melontarkan batu atau lembing atau senjata apapun juga karena pertempuran di sayap pasukan Mahisa Bungalan telah semakin mendekati sarang. Sehingga dengan demikian, maka Witantra pun segera dapat naik sampai ke depan barak.
Sejenak ia mengamati pertempuran. Namun kemudian iapun berteriak nyaring sambil meloncat berdiri di atas sebuah batu padas, “He, pemimpin gerombolan yang sedang mempertahankan baraknya. Apakah kau dengar suaraku?”
Beberapa orang yang bertempur tidak terlalu jauh daripadanya telah tertegun Melihatnya. Namun seolah-olah mereka merasa wajib untuk tidak berbuat sesuatu atas orang itu.
“Dengarlah, he, pemimpin gerombolan ini” teriak Witantra pula.
Seorang yang bertubuh tinggi, tegap dan berwajah kasar telah berjalan mendekatinya sambil menjawab, “Untuk apa kau cari pemimpinku”
“Aku ingin berbicara. Apakah kau pemimpin gerombolan ini?“ bertanya Witantra.
“Bukan aku. Tetapi ia akan mendengar kata-kataku. Apakah maksudmu. Apakah kau dan orang-orangmu akan menyerah?“ orang itu ganti bertanya.
“Itu tidak akan terjadi” jawab Witantra, “sebentar lagi kami akan menyapu semua orang-orangmu dan gerombolan yang justru datang dari arah belakang kami”
“Omong kosong. Jadi kau mau apa?“ bertanya orang itu.
“Aku ingin berbicara dengan pemimpinmu” jawab Witantra.
“Bicaralah cepat, sebelum aku membunuhmu” geram orang itu.
Witantra termangu-mangu sejenak. Tetapi ia melihat sayap pasukan Mahisa Bungalan telah semakin mendesak, meskipun lapis demi lapis masih harus dihadapi, karena banyaknya jumlah lawan dibanding dengan para prajurit dan pengawal.
“Dengarlah” berkata Witantra, “apakah kalian tidak cemas melihat korban yang jatuh tanpa hitungan di pihak kalian?“
Orang itu menggeram. Sekilas ia melayangkan pandangannya karena yang semakin dahsyat di sekitarnya. Ia melihat apa yang sedang terjadi. Namun ia mencoba untuk berkata dengan garang, “Orang-orangmu akan segera tumpas”
”Orang-orangku atau orang-orangmu akibatnya adalah hilangnya berpuluh-puluh nyawa” sahut Witantra, “mana pemimpinmu. Aku kira ia akan dapat mempertimbangkan, sebaiknya kalian menyerah”
“Persetan“ orang itu berteriak, “aku akan membunuhmu”
”Jangan bodoh. Katakan kepada pemimpinmu” sahut Witantra.
Tetapi orang itu tidak mendengarkannya. Dengan garangnya ia meloncat menyerang. Senjatanya yang dahsyat, canggah dengan tajam eri pandan tiba-tiba saja telah mengarah keleher Witantra. Jika canggah itu berhasil menjepit lehernya, maka leher itu tentu akan terkerat dengan urat dan daging tersayat.
Tetapi Witantra sama sekali tidak terkejut melihat serangan itu. la mengelak dengan gerak yang sederhana, sementara canggah itu meluncur dekal telinga kanannya.
Namun dengan tangkasnya Witantra memukul canggah itu dengan pedang yang dibawanya. Demikian kerasnya sehingga canggah itu bagaikan direnggut oleh kekuatan raksasa, dan terlepas dari tangannya.
Orang bertubuh tinggi kekar itu terkejut. Orang yang dihadapinya itu tubuhnya tidak terlalu besar. Tidak sebesar dirinya. Tetapi ternyata memiliki kekuatan yang luar biasa.
“Kau ingin mengambil senjata?“ geram Witantra, “Ambillah. Aku takkan menghalangimu”
Orang itu berdiri termangu-mangu.
”Cepat. Aku ingin membuktikan kepadamu, bahwa kau tidak berarti apa-apa bagiku. Juga orang-orang yang lain. Yang sebenarnya ingin aku cari adalah Rajawali Penakluk yang menurut keterangan yang aku dapat, ia berada di antara sarang-sarang gerombolan perampok, sehingga aku akan menyusuri tempat-tempat yang tersembunyi namun yang mungkin sekali menjadi tempat persembunyian Rajawali Penakluk”
Orang itu menjadi semakin tegang. Dengan nada rendah ia berkata, “Rajawali Penakluk tidak ada disini”
“Aku sudah mengira. Karena itu, katakan kepada pemimpinmu sebelum kalian semuanya menjadi punah. Para prajurit dan pengawal sudah mendapat perinlah untuk bertempur dalam tataran tertinggi, sehingga sulit untuk mengendalikannya” berkata Witantra.
Orang itu berdiri kebingungan. Sekali-sekali dipandanginya senjata yang tergolek disamping Witantra. Namun kemudian Witantra itu berkata sekali lagi, “Ambil senjatamu. Kita akan bertempur”
Orang itu justru semakin kebingungan. Berapa orang yang melihat peristiwa itupun merasa aneh. Apalagi ketika mereka mendengar bahwa orang itu sedang mencari Rajawali Penakluk.
“Cepat” geram Witantra, “atau kau panggil saja pemimpinmu. Aku akan berbicara dengan orang itu tentang kematian-kematian yang tidak berarti dari orang-orang gerombolan ini dan gerombolan yang telah berhasil kalian hubungi. Tetapi kehadirannya telah membuat prajurit dan -pengawal yang berada di dalam pasukan kami bertempur dalam tataran tertinggi”
Sejenak orang itu masih berdiri mematung. Namun tiba-tiba seseorang meloncat disampingnya sambil berkata, “Aku pemimpin gerombolan ini. Kau sudah datang mengganggu ketenangan kami disini. Karena itu, kalian semuanya harus dimusnakan”
“Terima kasih, bahwa kau bersedia menemui aku“ sahut Witantra, “tetapi jangan mencoba membutakan diri terhadap kenyataan. Aku melihat kesulitan pada gerombolanmu dan gerombolan yang datang membantumu”
“Omong kosong” geram orang itu.
“Dengarlah. Aku datang untuk memburu Rajawali Penakluk. Aku ingin menangkapnya hidup atau mati. Karena itu, tidak sewajarnyalah jika jatuh korban tidak terhitung, sementara orang yang aku cari tidak ada disini”
“Kalau kalian menjadi ketakutan, menyerahlah“ berkata pemimpin gerombolan itu.
“Jangan main-main” berkata Witantra, “aku minta kau menarik pasukanmu dengan isyarat apapun yang dapat kau berikan. Aku berjanji untuk tidak membunuh lebih banyak lagi. Kami akan meninggalkan gerombolan ini dan melanjutkan perjalanan kami, memburu orang yang menyebut dirinya Rajawali Penakluk”
“Jangan sombong. Orang itu memiliki kemampuan seperti kuasa dewa-dewa dilangit” berkata orang yang menyebut dirinya pemimpin gerombolan itu.
“Aku akan menangkapnya” berkata Witantra.
Pemimpin gerombolan itu menggertakkan giginya. Katanya, “Kau terlalu sombong. Aku akan membunuhmu, mencincangmu dan melemparkan sayatan kulit dagingmu kepada orang-orangmu”
“Jangan mimpi. Menyerahlah” geram Witantra. Orang itu menjadi semakin marah. Tetapi Witantra berkata lebih lanjut, “Ambil senjatamu. He raksasa dungu. Bersama pemimpinmu, buktikan bahwa aku benar-benar mampu menangkap Rajawali Penakluk itu jika ia berada disini”
Tetapi pemimpin gerombolan itu tidak menunggu kawannya mengambil senjatanya. Dengan pedangnya ia meloncat menyerang. kitatan cahaya yang terpantul pada batang pedangnya bagaikan nyala yang meloncat dari matahari itu sendiri.
Witantra melihat serangan yang dahsyat itu. Namun sebenarnyalah tidak lebih dari lontaran kekuatan wadag yang kosong. Karena itu, maka Witantra dengan sengit telah menangkis serangan itu dengan membenturkan pedangnya pula.
Benturan yang keras telah terjadi. Namun ternyata bahwa benturan itu telah mengejutkan pemimpin gerombolan yang menyangka bahwa ia mempunyai kekuatan yang luar biasa.
Dalam pada itu, demikian kerasnya benturan itu terjadi, sementara Witantra dengan sengaja ingin menunjukkan, bahwa ia benar-benar ingin menangkap Rajawali Penakluk, maka pedang di tangan pemimpin gerombolan itu tidak dapat diselamatkan lagi. Bukan saja senjata itu terlepas dari tangannya, tetapi senjata itu telah terloncat beberapa langkah dari padanya.
Sejenak pemimpin gerombolan itu termangu-mangu. Namun kemudian iapun menyadari keadaannya. Dengan gigi gemeretak ia meloncat beberapa langkah surut. Sambil mengumpat ia menyambar pedang seorang gerombolan yang berdiri kehingungan melihat pedang pemimpinnya yang terlempar beberapa langkah itu.
Dengan pedang yang bergetar di tangannya orang itu melangkah mendekati Witantra lagi ia menggeram, “Anak Setan. Kau kira apa yang kau lakukan itu dapat menakut-nakuti aku he?“
“Cobalah” jawab Witantra, “sebaiknya kau mencoba meyakini apa yang aku katakan. Panggil Rajawali Penakluk, atau jika ia tidak ada disini, menyerah sajalah. Kami tidak akan berbuat apa-apa. Yang kami cari adalah Rajawali Penakluk itu”
Pemimpin gerombolan itu tidak menghiraukannya. Langkah demi langkah ia maju. Pedangnya pun kemudian terjulur lurus kedepan.
Tetapi Witantra pun seolah-olah tidak menghiraukannya. Bahkan iapun kemudian memungut canggah yang tergolek di tanah. Sambil melemparkan canggah itu ia berkata kepada orang bertubuh tinggi tegap, “Pakailah senjatamu. Bantu pemimpinmu. Aku memang ingin meyakinkan, bahwa perlawanan kalian akan sia-sia”
Sambil menangkap senjatanya orang- bertubuh tinggi tegap itu menggeram.
“Marilah. Kalian harus yakin bahwa kalian memang harus menyerah sebelum orang-orangmu tuntas habis” desis Witantra.
Kedua orang itupun segera mempersiapkan diri. Seperti berjanji, maka keduanyapun kemudian mengambil arah yang berbeda. Bahkan dua orang yang lainpun telah mendekat pula. Mereka telah bersiap pula membantu pemimpinnya.
Sementara itu. di sekitar tempat itu pertempuran menjadi semakin seru. Sayap pasukan Mahisa Bungalanpun menjadi semakin mendekati barak. Mereka berusaha mendesak lawan mereka dari barak itu, sementara mereka pun berusaha menghalau serangan gerombolan yang datang membantu, sambil bergeser.
Sebenarnyalah seperti ymg dikatakan oleh Witantra. Prajurit Singasari dan pengawal, dan Kediri telah bertempur tanpa pengekangan diri. justru karena lawan mereka terlalu banyak. Namun dengan demikian, maka korban di antara gerombolan itupun menjadi semakin banyak pula.
Dalam pada itu, orang-orang yang berada di sekitar Witantrapun telah siap menyerangnya. Namun Witantra pun telah siap sepenuhnya. Bahkan iapun kemudian berkata, “Marilah. Mulailah”
Hampir berbareng orang-orang itupun menyerangnya. Namun betapa mereka terperanjat. Dengan satu ayunan, dua diantara senjata lawannya telah terlempar. Bahkan dengan ayunan berikutnya, maka sekali lagi pedang di tangab pemimpin gerombolan itupun terlepas pula. Dengan putaran berikutnya, maka canggah yang mulai bergetar di tangan orang bertubuh tinggi tegap itupun telah terlempar pula.
Tetapi Witantra tidak berhenti, ia benar-banar ingin memaksa pemimpin gerombolan itu menyerah. Karena itu, maka tiba-tiba saja ujung pedangnya telah menyentuh pundak lawannya. Segores luka telah memerah pada kulitnya.
“Aku baru memberimu peringatan” berkata Witantra, “jika aku bersungguh-sungguh, maka pundakmu akan patah”
Pemimpin gerombolan yang kehilangan senjatanya itu meloncat mundur. Dirabanya pundaknya. Dan terasa di tangannya, darah telah menitik dari luka itu.
“Menyerahlah” geram Witantra. Pemimpin gerombolan itu termangu-mangu.
“Aku memperingatkan sekali lagi. Jika kau tidak mendengarkan peringatanku ini, maka kami akan benar-benar mengambil sikap untuk mengakhiri pertempuran ini dengan memusnahkan kalian semuanya, karena di sini kita tidak menemukan Rajawali Penakluk”
Pemimpin gerombolan itu berdiri tegak seperti patung. Sementara Witantra berkata, “Berilah isyarat agar pemimpin gerombolan yang menyerang kami dari luar kepungan inipun menyadari bahwa mereka tidak akan berarti apa-apa lagi, selain sekedar mengotori senjata kami”
Nampaknya memang tidak ada jalan untuk menghindar. Ketika sekali lagi pemimpin gerombolan itu memandang berkeliling, maka dilihatnya orang-orangnya menjadi semakin terdesak meskipun jumlahnya masih memadai. Tetapi lambat laun jumlah itu akan cepat menjadi susut, tiga empat kali lipat dari jumlah susut para prajurit dan pengawal.
“Nah. apakah kau akan mengorbankan semua orang-orangmu?“ bertanya Witantra.
Pemimpin gerombolan itu termangu-mangu.
“Kami tidak akan berbuat apa-apa terhadap kalian” berkata Witantra, “karena yang kami perlukan adalah Rajawali Penakluk itu”
Pemimpin gerombolan itu masih diam dicengkam oleh kebingungan.
Tetapi Witantra sengaja memberinya waktu. Ia tidak berbuat apa-apa ketika pemimpin gerombolan itu sekali lagi memperhatikan arena pertempuran yang semakin gawat mereka orang-orangnya.
“Kau yakin sekarang?“ bertanya Witantra.
Sebenarnyalah bahwa pemimpin gerombolan itu pun tidak dapat ingkar melihat medan yang gawat itu. Ia melihat orang-orangnya yang terluka mengerang kesakitan, merangkak-rangkak dan berusaha menghindar dari pertempuran.
“Pasukan kami dapat membunuh setiap orang di dalam gerombolanmu dan gerombolan yang datang membantumu” berkata Witantra, “tetapi apakah itu perlu kami lakukan?”
Pemimpin gerombolan itupun kemudian bertanya, “Apakah yang akan kau lakukan jika kami menyerah”
“Tidak apa-apa” berkata Witantra, “selain menuntut agar kalian merubah cara hidup kalian yang sesat ini”
“Omong kosong” geram orang itu.
”Apa gunanya aku menipumu, karena aku yakin bahwa kami akan dapat memusnahkan kalian dalam sehari ini” jawab Witantra.
Orang itu tercenung sejenak. Namun akhirnya iapun percaya bahwa pasukan yang datang itu akan dapat menusnakan orang-orangnya dalam sehari itu.
Karena itu, maka ia memang tidak mempunyai pilihan lain. Pemimpin gerombolan itupun memperhitungkan bahwa pemimpin gerombolan yang lain, yang datang menolongnya, tidak melihat keadaan sejelas seperti yang dilihatnya, karena orang itu berada di dalam kelompok yang menghadapi induk pasukan para prajurit dan pengawal.
Tetapi sebenarnyalah bahwa pemimpin gerombolan itu pun mengetahui keadaan yang dihadapinya. Ternyata bahwa induk pasukan lawan yang nampaknya hanya terdiri dari sejumlah kecil parajurit dan pengawal, namun ternyata mereka mempunyai kekuatan yang tidak diduganya.
Namun demikian, karena ia tidak dapat melihat pertempuran itu dalam lingkup yang lebih luas, maka ia tidak dapat mengambil sikap.
Sementara itu, pemimpin gerombolan yang tinggal di dalam barak yang didatangi oleh Mahisa Bungalan dan pasukannya itu tidak dapat ingkar lagi, bahwa pasukannya sendiri dan gerombolan yang datang untuk membantunya itu tidak dapat bertahan lebih lama. Karena itulah, maka ia pun kemudian berkata kepada pengawalnya yang paling dipercaya, “Bunyikan isyarat”
“Isyarat apa?“ pengawalnya bertanya.
“Bodoh kau. Kita hentikan perlawanan” berkata pemimpin gerombolan itu.
Pengawal itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia bertanya, “Apakah kita dapat mempercayainya?”
“Aku percaya kepadanya” jawab pemimpin gerombolan itu. Lalu, “Terkutuklah jika ia berbohong”
“Aku berkata sebenarnya” sahut Witantra, “jika kau berniat memenuhi permintaanku untuk menyerah, aku akan turun dan berada dipasukan induk untuk memberikan perintah, agar para prajurit dan pengawalpun menghentikan pertempuran”
“Kami akan menghentikan perlawanan” berkata pemimpin gerombolan itu.
Witantra kemudian meninggalkan tempat itu. Dengan tergesa-gesa iapun menuruni lereng yang tidak terlalu dalanwintuk menemui Mahisa Bungalan.
“Mereka akan menyerah” berkata Witantra.
“Apakah mereka tidak akan menipu kita?“ bertanya Mahisa Bungalan.
“Aku kira tidak” jawab Witantra, “jika mereka dengan licik menjebak kita, maka kita tidak akan mengampuni setiap orang yang ada di dalam barak itu”
Sejenak kemudian, ternyata mereka telah mendengar isyarat. Dengan kentongan pemimpin gerombolan itu memerintahkan orang-orangnya untuk menghentikan perlawanan. Sementara Mahisa Bungalan pun telah menyiapkan isyarat pula dengan panah sendaren, agar para prajurit dan pengawal juga menghentikan pertempuran.
Beberapa orang prajurit telah melepaskan anak panah keudara berturut-turut pada jarak yang agak jarang. Susul menyusul untuk waktu yang agak panjang.
Dengan demikian, maka kedua belah pihak telah mendapat aba-aba dari induk pasukan masing-masing untuk menarik diri dari benturan senjata. Bahkan gerombolan yang datang membantu itu pun mengerti pula isyarat itu, sehingga merekapun kemudian telah bergeser menjauh.
Sementara para prajurit dan pengawal juga tidak memburu mereka.
Sementara itu, maka masih terdengar pula isyarat, bahwa gerombolan itu ternyata telah menyerah.
Mahisa Bungalan dan Witantra pun kemudian naik tebing untuk menemui pemimpin gerombolan itu. Mereka masih minta agar pemimpin gerombolan itu memerintahkan anak buah mereka untuk meletakkan senjata.
Meskipun agak ragu, tetapi perintah itu pun telah diberikan lewat suara kentongan. Sehingga dengan demikian maka orang-orangnya telah mengumpulkan senjata mereka dan sama sekali mengakhiri perlawanan.
Tetapi sebenarnyalah bahwa mereka pun menyadari, bagaimanapun juga mereka tidak akan dapat melawan pasukan yang dipimpin oleh anak muda yang bernama Mahisa Bungalan itu.
Sesaat kemudian, medan yang semula hiruk pikuk oleh suara dentang senjata, sorak kemenangan dan jerit kesakitan, telah menjadi hening. Orang-orang yang berdiri tegak bagaikan patung yang membeku. Mereka menunggu perintah apa lagi yang harus mereka lakukan.
Mahisa Bungalan pun kemudian memerintahkan kepada para pemimpin kelompok untuk menarik pasukan mereka dalam himpunan gelar masing-masing. Sementara beberapa orang dari mereka pun telah berusaha menolong kawan-kawan mereka yang terluka.
Namun sekali-sekali masih juga terdengar gemeretak gigi, bahwa beberapa orang terpaksa menjadi korban. Bukan hanya terluka parah, tetapi ada di antara mereka yang harus melepaskan nyawanya.
Tetapi korban di pihak gerombolan ternyata bagaikan tidak terhitung lagi. Yang luka dan yang terbunuh berserakkan silang melintang.
Mahisa Bungalan lah yang kemudian memanggil kedua orang pemimpin gerombolan yang menyerah itu. Katanya, “Kita akan berbicara. Kumpulkan orang-orangmu dan lakukanlah apa yang dapat kalian lakukan terhadap orang orang kalian yang terluka. Kumpulkan mereka untuk mendapat pengobatan”
Kedua orang itu pun kemudian mengikuti Mahisa, Bungalan dan Witantra sesudah mereka memerintahkan pengawal kepercayaannya untuk mengurus orang-orangnya. Mengumpulkan mereka yang tidak cidera, tetapi juga yang terluka dan terbunuh.
Di tempat yang terpisah, Mahisa Bungalan dan Witantra berbicara langsung dengan kedua orang pemimpin gerombolan yang sudah menyerah itu. Apa yang harus mereka lakukan, dan apa yang mereka kehendaki.
“Kami masih menyayangkan jiwa orang-orang yangt tidak tahu pasti, apa yang sedang mereka lakukan“ berkata Mahisa Bungalan.
“Apakah kami semuanya akan ditangkap?“ bertanya pemimpin gerombolan yang tinggal dibarak itu.
“Apakah ada yang lebih baik dari menangkap kalian” bertanya Mahisa Bungalan.
Kedua orang itu saling berpandangan. Namun keduanya tidak dapat mengatakan sesuatu. Agaknya mereka memang menganggap bahwa menyerah akan lebih baik dari membunuh diri bersama-sama dalam jumlah yang besar.
Karena kedua orang itu tidak menjawab, maka Mahisa Bungalan pun berkata, “Aku akan berada disini sampai besok, Kami akan mengambil keputusan, apa yang sebaiknya kami lakukan. Aku minta, kalian dan orang-orang kalian tidak melakukan sesuatu yang akan mencelakakan kalian semuanya”
“Kami akan mengatur mereka” jawab pemimpin gerombolan yang datang untuk membantu, namun yang ternyata mereka pun telah dijebak oleh kekalahan yang gawat.
Setelah memberikan beberapa janji, maka Mahisa Bungalan dan Witantra pun meninggalkan kedua orang itu untuk mengatur pasukannya. Mereka kemudian ditarik beberapa puluh langkah dari barak. Namun pasukan itu masih tetap mengawasi barak itu dari segala arah. Sementara beberapa orang petugas khusus telah berusaha untuk menolong orang-orang yang terluka dan mengumpulkan beberapa orang yang gugur di peperangan itu.
Demikian pula yang dilakukan oleh orang-orang di dalam barak gerombolan itu, Mereka pun mengumpulkan korban yang berserakan. Sementara beberapa orang di antara mereka pun berusaha menolong kawan-kawan mereka yang terluka.
Dalam pada itu, para prajurit dan pengawal telah mengumpulkan senjata orang-orang yang menyerah itu dan menimbunnya di bawah pengawasan. Dengan demikian, maka para prajurit dan pengawal akan yakin, bahwa orang-orang dari gerombolan itu tidak akan melakukan perbuatan yang dapat menjerat mereka ke dalam keadaan yang lebih gawat lagi.
Dalam suasana yang muram, para prajurit dan pengawal terpaksa menguburkan kawan-kawan mereka yang terluka senjata di tempat itu. Tetapi mereka berusaha untuk mendapatkan tempat yang baik dan ditandai dengan ciri yang akan mudah mereka kenal, sehingga apabila pada suatu saat akan dilakukan upacara bagi mereka, maka mereka akan segera dapat mengenal kembali kubur itu.
Malam itu, Mahisa Bungalan. Witantra dan beberapa orang perwira telah mengadakan pembicaraan. Mereka kemudian sepakat untuk tidak menangkap semua orang. Hanya pemimpin mereka sajalah yang akan dibawa ke Kediri, sementara orang-orangnya yang lain harus menghentikan kegiatan mereka yang merugikan orang lain itu.
“Tentu akan merupakan satu kesulitan untuk membawa mereka semuanya” berkata salah seorang perwira, “sementara beberapa orang masih ada di padepokan itu. Namun agaknya cara itulah yang paling baik. Kita akan dapat mengancam mereka, jika ternyata mereka masih melakukan kegiatan serupa, maka mereka akan kita tumpas habis di saat lain”
“Aku sependapat” berkata perwira yang lain, “kini mereka nampaknya harus melihat kenyataan. Korban terlalu banyak jatuh di antara mereka, sehingga kekuatan, mereka telah susut jauh dari kekuatan mereka sebelumnya.
Yang lain mengangguk-angguk. Mereka tidak mempunyai keberatan, meskipun ada juga semacam dendam yang membara di hati mereka, karena beberapa kawan mereka, yang berangkat bersama-sama, ternyata tidak dapat kembali bersama dengan pasukan itu.
“Apaboleh buat” desis mereka. Dan mereka pun mengerti, bahwa akibat seperti itu akan dapat terjadi terhadap setiap prajurit dan pengawal yang mengemban tugas.
Demikianlah, maka pasukan yang dibawah pimpinan Mahisa Bungalan itu telah mengambil satu sikap terhadap gerombolan yang nyaris mereka hancurkan. Dengan demikian, maka pada pagi hari berikutnya, Mahisa Bungalan telah menemui kedua orang pemimpin gerombolan itu. Kepada mereka disampaikan, hasil pembicaraan yang menyangkut kedua orang pemimpin gerombolan itu.
“Kalian berdua dan orang-orang terpenting dari gerombolan kalian akan kami bawa ke Kediri” berkata Mahisa Bungalan.
“Kami tidak akan membantah” jawab salah seorang dari kedua orang itu, “tetapi kamipun mohon agar nasib kami mendapat perlindungan”
“Aku akan berusaha” jawab Mahisa Bungalan, “sebentar lagi kami akan meninggalkan tempat ini. Kumpulkan orang-orangmu. Aku ingin berbicara kepada mereka”
Demikianlah, maka di hadapan orang-orang yangj semula termasuk dalam gerombolan yang terhitung kuat itu, Mahisa Bungalan telah memberikan beberapa petunjuk agar mereka meninggalkan cara hidup mereka yang hitam itu.
“Kalian akan dapat mencari jalan lain untuk memberi makan dan pakaian keluarga kalian” berkata Mahisa Bungalan, “apa yang kalian lakukan selama ini adalah perbuatan yang tercela. Kalian telah membuat orang lain menjadi korban untuk kepentingan kalian”
Orang-orang itu pun mendengarkan keterangan itu dengan sungguh-sungguh. Mereka tidak dapat berbuat lain. Seandainya mereka masih menggenggam senjata, mungkin mereka akan bersikap lain. Mungkin mereka akan berteriak untuk membungkam mulut Mahisa Bungalan. Katau Mahisa Bungalan masih juga berbicara, mereka akan dapat membungkam dengan cara lain, dengan ujung senjata kalian.
Tetapi senjata mereka telah mereka serahkan Mereka sudah tidak berdaya lagi. Dengan demikian, maka mereka tidak mempunyai pilihan lain daripada mendengarkan keterangan Mahisa Bungalan itu.
Namun Mahisa Bungalan pun menyadari. Orang-orang yang untuk waktu yang lama hidup dalam lingkungan yang seolah-olah tidak terjamah oleh tata kehidupan dan pergaulan antara manusia yang berusaha meningkatkan peradaban mereka, tentu tidak akan dengan mudah menerima pengertian-pengertian yang dikatakannya. Karena itu, aka iapun kemudian juga mempergunakan bahasa orang-rang yang sedang dihadapinya. Katanya, “Kali ini kalian kami ampuni. Tetapi kami berharap, bahwa pesan-pesan kami dapat kalian lakukan. Jika tidak dan ternyata kami masih melihat dan menjumpai kalian dalam tingkah laku kalian sekarang ini, maka kami tidak akan dapat mengampuni kalian lagi. Kami akan menumpas setiap orang yang tertibat dalam kegiatan yang bertentangan dengan tata hidup yang tertib dan saling menghormati”
Terasa juga jantung mereka tersentuh oleh kata-kata itu. Ancaman itu harus mereka pertimbangkan. Dan agaknya ancaman itu terpahat lebih dalam di hati mereka dari pada beberapa pengertian tentang tata kehidupan dan pergaulan antar manusia, karena sebenarnyalah mereka masih terlalu sulit untuk mengerti, bahwa merugikan orang lain itu adalah salah satu perbuatan yang harus dikutuk.
Karena bagi mereka, kekuatan memiliki kemungkinan terbesar di dalam hubungan antar manusia. Yang menanglah yang menentukan atas yang lemah.
Beberapa kali Mahisa Bungalan menekankan pesan-pesannya. Sehingga Mahisa Bungalan yakin, bahwa orang-orang itu benar-benar mengerti yang dimaksudkan, dan benar-benar ngeri mengalami hukuman yang bakal dijatuhkan kepada mereka, apabila mereka melanggar pesan pesan itu.
Setelah selesai dengan pesan-pesannya, maka Mahisa Bungalan pun kemudian minta diri. Dua orang pemimpin mereka dari dua lingkungan akan dibawa oleh pasukan Mahisa Bungalan bersama dua orang terpenting dari lingkungan masing-masing. Sehingga dangan demikian, maka Mahisa Bungalan akan menjadi lebih yakin lagi, bahwa gerombolan itu tidak akan mampu lagi berbuat apa-apa.
Selain segala macam pesan itu, Mahisa Bungalan masih mengambil satu sikap yang sebenarnya sangat berat bagi mereka. Semua harta kekayaan yang ada dan bernilai tinggi akan dibawa oleh pasukan itu untuk diserahkan kepada pimpinan di Kediri. Adalah sangat baik apabila barang-barang itu dapat diserahkan kembali kepada yang memilikinya. Tetapi jika hal itu tidak mungkin lagi dilakukan, karena pemiliknya sudah tidak dapat mengenali orang-orang mereka yang sudah terlalu lama hilang, atau karena sebab-sebab lain, sehingga barang-barang itu tidak dapat lagi sampai kepada para pemiliknya, maka barang-barang itu akan dapat dipergunakan untuk kepentingan yang lebih berarti bagi Kediri.
Demikianlah, maka ketika matahari naik lebih tinggi lagi, pasukan itu meninggalkan barak gerombolan yang dianggap paling kuat di daerah yang luas, yang seolah-olah jarang sekali dapat dijangkau oleh tangan-tangan pasukan yang dapat memberikan perlindungan kepada rakyat yang lemah.
“Kita akan menyusun rencana baru” berkata Mahisa Bungalan kepada Witantra, “tetapi pada dasarnya, aku akan datang ke setiap sarang seperti yang sudah kita lakukan”
“Apakah tidak ada cara lain” bertanya Witantra kepada diri sendiri. Tetapi ia masih belum mengucapkan pertanyaan itu kepada siapapun juga. rencanakan, dan yang sudah disepakati bersama dengan Pangeran Kuda Padmadata”
Witantra mengangguk-angguk. Tetapi ia pun sadar, bahwa perburuan ini tentu akan memakan waktu, beaya dan korban yang tidak sedikit.
Ketika iring-iringan pasukan itu sampai di padepokan kecil, yang seakan-akan merupakan pangkalan samentara di daerah yang jauh itu, maka Pangeran Kuda Padmadata pun telah berada di padepokan itu pula. Pengalaman pasukan yang dipimpin oleh Pangeran Kuda Padmadata itu pun hampir bersamaan dengan yang terjadi atas Mahisa Bungalan. Meskipun sebelumnya mereka tidak berjanji, tetapi keputusan yang mereka ambil pun jampir bersamaan pula. Seperti Mahisa Bungalan, maka Pangeran Kuda Padmadata tidak membawa semua orang yang tergabung dalam gerombolan yang didatanginya.
“Aku mencoba untuk memberikan peringatan-peringatan keras terhadap mereka” berkata Pangeran Kuda Padmadata, “hanya tiga orang yang aku bawa bersama kami“
Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. Dengan nada datar ia berkata, “Mudah-mudahan mereka menepati janji. Jika tidak, kami terpaksa melakukan seperti apa yang telah kami katakan kepada mereka”
“Ya” berkata Pangeran Kuda Padmadata, “untuk menegakkan wibawa Singasari dan Kediri. Tetapi juga untuk kepentingan rakyat yang selaku diancam oleh ketakutan”
Untuk beberapa hari, maka pasukan yang di padepokan itu beristirahat. Mereka menunggu kawan-kawan mereka yang terluka menjadi sembuh kembali, atau setidak-tidaknya luka-luka itu menjadi bertambah ringan.
Namun demikian, Mahisa Bungalan dan Pangeran Kuda Padmadata masih dalam pendirian mereka, bahwa perburuan harus dilanjutkan.
Witantra yang sempat berbicara dengan Mahisa Agni, Mahendra dan Ki Wastu menjadi prihatin. Jika usaha itu dilanjutkan dengan cara yang sama, maka korban tentu akan menjadi semakin banyak. Setiap kali Mahisa Bungalan dan Pangeran Kuda Padmadata mendatangi sarang-sarang gerombolan, maka tentu ada satu dua orang prajurit dan pengawal yang gugur. Meskipun mereka juga akan berhasil membunuh jauh lebih banyak. Namun kematian yang demikian seharusnya dapat dihindari, karena yang mereka cari sebenarnya adalah Ki Dukut Pakering.
Tetapi ketika hal ini mereka sampaikan kepada Mahisa Bungalan dan Pangeran Kuda Padmadata, maka sikap keduanya pun hampir sama.
“Paman” berkata Mahisa Bungalan kepada Witantra, “bukankah dengan demikian kita akan mendapi hasil ganda. Selain mencari Ki Dukut Pakering kita sudah berbuat sesuatu bagi keamanan di daerah ini. Bukankah dengan demikian kita sudah menghancurkan sarang-sarang gerombolan yang bengis bagi rakyat di sekitarnya. Bukankah dengan demikian kita dapat merampas kembal apa yang pernah mereka rampas dari rakyat? Usaha kita bukan sekedar mencari dan membunuh Ki Dukut Pakering. Tetapi sekaligus dengan tugas yang tidak kalah pentingnya dari mencari Ki Dukut itu sendiri”
Orang-orang tua yang menyertai mereka sampai ke padepokan itu tidak dapat membantahnya. Yang dikatakan anak-anak muda itu memang tidak terlalu salah. Tetapi apakah tidak ada cara yang lebih baik agar korban dapat dikurangi sejauh-jauhnya.
Namun orang-orang tua itu hanya dapat menggeleng-gelengkan kepala, ketika anak-anak muda itu berbicara di hadapan para prajurit dan pengawal. Mereka telah berhasil menempa hati para prajurit dan pengawal, sehingga merekapun justru mengharap, kapan mereka akan berangkat lagi untuk menumpas tindakan-indakan terkutuk dari orang-orang yang sama sekali tidak bertumpu pada peradaban manusia itu.
Akhirnya, datang pula saatnya Mahisa Bungalan dan Pangeran Kuda Padmadata berangkat lagi dalam tugas mereka. Dari orang-orang yang tertawan mereka mendapat petunjuk-petunjuk tempat-tempat lain yang mungkin menjadi tempat persembunyian Ki Dukut Pakering.
Karena itu, maka pada saatnya, Mahisa Bungalan dan Pangeran Kuda Padmadata telah menyiapkan pasukan masing-masing. Seperti sebelumnya, maka merekapun menuju ke sasaran yang berbeda. Dan seperti yang pernah mereka lakukan, orang-orang tua pun tidak sampai hati melepaskan mereka pergi tanpa pangawasan.
Witantra tetap pada pasukan Mahisa Bungalan, dan Mahisa Agni tetap pada pasukan Pangeran Kuda Padmadata. Sementara Mahendra, anak-anaknya yang lain dan Ki Wastu tetap berada di padepokan.
Sebenarnya Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah mendesak ayahnya sekali lagi, agar mereka diperkenankan mengikuti perjalanan kedua yang dilakukan oleh Mahisa Bungalan. Namun seperti yang terdahulu, ayahnya tetap berkeberatan untuk melepaskan mereka pergi, karena menurut ceritera yang didengarnya, maka medan yang di hadapi oleh pasukan-pasukan itu adalah medan yang cukup berat.
“jadi kapan kita akan pergi?“ bertanya Mahisa Murti.
“Kita tidak pergi bertamasya” jawab ayahnya, “aku akan memberitahukan kepada kalian, jika menurut perhitunganku hal itu memungkinkan. Tetapi jika tidak, maka kita akan tetap menunggu di sini. Itu bukan berarti bahwa kita tidak berbuat apa-apa. Di sini kita mambantu menjaga para tawanan. Bahkan mungkin Ki Dukut Pakering yang kita cari kemana-mana itu justru datang kemari dengan maksud yang paling buruk yang pernah direncanakan. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak dapat memaksa. Karena itu, betapapun mereka sangat kecewa, mereka harus tetap tinggal di padepokan itu bersama ayahnya dan beberapa orang prajurit dan pengawal yang mengawasi beberapa orang tawanan bersama para cantrik padepokan itu.
Tetapi yang terjadi kemudian pun tidak berbeda dengan yang baru saja dilakukan oleh Mahisa Bungalan dan Pangeran Kuda Padmadata. Mereka hanya menemukan sarang gerombolan tanpa orang yang menyebut dirinya Rajawali Penakluk. Mereka pun hanya menemukan kematian tanpa arti, karena mereka tidak berhasil menangkap buruan mereka.
Namun demikian, Mahisa Bungalan dan Pangeran Kuda Padmadata masih merasa bahwa mereka telah berbuat sesuatu. Mereka telah berhasil membuat orang-orang itu mengakui dan menyesali kesalahan mereka, sehingga mereka berjanji tidak akan melakukannya lagi.
Dalam pada itu, daerah yang bagaikan diaduk oleh prahara karena kehadiran pasukan Mahisa Bungalan dan Pangeran Kuda Padmadata di daerah yang luas, telah menjadi perhatian beberapa orang yang meskipun tidak langsung, namun ikut berkepentingan. Orang-orang yang memiliki ilmu yang cukup, namun yang telah memilih daerah hitam sebagai arena hidup mereka.
Yang memperhatikan segala peristiwa itu dengan darah yang mendidih adalah Ki Dukut Pakering sendiri. Meskipun ia tidak berada di antara orang-orang yang dihancurkan oleh pasukan Singasari dan Kediri itu, namun ia mendengar apa yang telah terjadi. Pasukan yang telah dikumpulkannya untuk mendukung usahanya itu ternyata telah hancur berserakan.
Tetapi itu adalah suatu hal yang sangat wajar. Mereka tidak mempunyai kekuatan untuk bertahan terhadap pasukan Kediri, apalagi pasukan Singasari.
Namun dalam pada itu, sebenarnyalah ada orang-orang yang lebih baik yang dapat dihubungi oleh Ki Dukut Pakering. Namun dengan demikian, Ki Dukut harus berjuang mengatasi hambatan dari dalam dirinya sendiri.
“Aku harus terjun ke dalam warna yang kelam itu pula” berkata Ki Dukut di dalam hatinya.
Tetapi ia sudah tidak mempunyai pilihan lain. Apa yang dilakukan selama ini, sebenarnyalah bahwa tidak berbeda dengan apa yang dilakukan oleh orang-orang yang hidup di dunia yang hitam.
Karena itu, maka Ki Dukut pun segera memutuskan bahwa ia akan berada di tengah-tengah orang-orang yang disebut golongan hitam.
“Aku akan hadir di antara mereka” berkata Ki Dukut, “meskipun mungkin memerlukan pengorbanan perasaan”
Demikianlah, maka Ki Dukut pun telah membulatkan tekadnya. Berita kehancuran dari gerombolan-gerombolan yang pernah menjadi tempat penyangga niatnya itu pun merupakan dorongan baginya untuk memilih tempat, karena tidak ada tempat lain yang akan dapat menerimanya lagi.
“Kepada penjahat-penjahat kecil aku dapat memberikan janji-janji kecil” berkata Ki Dukut kepada dirinya sendiri, “mereka sudah berangan-angan dan berpengharapan jika aku berbicara tentang istana Pangeran Kuda Padmadata yang menyimpan beberapa puluh keping emas, berlian dan pusaka-pusaka. Tetapi kepada orang-orang yang jauh lebih besar, akupun harus memberikan harapan-harapan yang besar”
Karena itu, maka yang kemudian akan disebut-sebut oleh Ki Dukut dengan orang-orang yang dianggapnya cukup besar dilingkungan orang-orang berilmu hitam, adalah Kediri itu sendiri.
“Kita sudah terlalu lama berada di bawah kekuasaan Singasari” berkata Ki Dukut Pakering dengan seorang yang dikenal bernama Macan Wahan.
Macan Wahan itu tertawa. Katanya, “Apa yang dapat kita lakukan?“
“Kau berhati kerdil” berkata Ki Dukut yang datang ke padepokan Macan Wahan.
“Jangan berkata begitu Ki Dukut” jawab Macan Wahan, “kau yang telah terusir dari istana muridmu itu, nampaknya menjadi sakit hati dan berusaha untuk mendapatkan dukungan yang kuat agar kau dapat membalas dendam”
“Pandanganmu cukup tajam” jawab Ki Dukut, “tetapi ada yang kurang. Kau belum menyebut apakah kepentinganku dengan kedua orang muridku itu”
“Katakan“
“Niatku untuk merebut Kediri dari tangan Singasari itulah yang membekali aku untuk memasuki lingkungan para bangsawan di Kediri” berkata Ki Dukut, “tetapi aku gagal, karena seorang dari muridku itu ternyata seorang pengecut”
“Kuda Padmadata?“ bertanya Macan Wahan.
“Ya. Adiknya memiliki keberanian yang dapat aku banggakan. Aku berusaha untuk memupuknya. Tetapi keberanian itu telah terbentur pada sikap kakaknya. Bahkan kakaknya telah sampai hati menjerumuskan adiknya ke lubang kematian”
“Kau berkata sebenarnya?“ bertanya Macan Wahan.
Ki Dukut menjadi berdebar-debar. Menurut djgaannya, tidak banyak orang yang mengetahui persoalan yang sebenarnya antara dirinya dengan Pangeran Kuda Padmadata. Tidak banyak orang yang tahu persoalan yang timbul antara dirinya dengan seorang perempuan yang ternyata anak Ki Wastu yang kemudian diperisterikan oleh Pangeran Kuda Padmadata.....
Bersambung.....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar