PANASNYA BUNGA MEKAR : 14-01
Oleh karena itu maka para pemimpin kelompok segera memerintahkan pasukannya untuk meneliti pagar halaman barak yang rapat dan cukup tinggi itu. Mungkin ada kesengajaan para pengikut Rajawali Penakluk itu membuat pintu-pintu rahasia pada dinding barak yang dapat mereka masuki di malam hari untuk menjebak pasukan yang ada di dalamnya.
Tetapi dinding barak yang rapat dan tinggi itu ternyata cukup kuat. Tidak ada lubang yang dapat digunakan untuk merayap masuk. Meskipun demikian, para prajurit dan pengawal itupun selalu berhati-hati dan bersiap menghadapi segala kemungkinan.
Karena mereka tidak bersiap dengan obor yang cukup banyak, maka para prajurit itu pun lalu membuat perapian di beberapa bagian halaman barak itu, sekaligus untuk menerangi halaman di sekitar barak, di dalam lingkungan pagar.
Mereka pun kemudian mengatur giliran untuk berjaga-jaga, agar mereka tidak mengalami nasib seburuk pasukan Rajawali Penakluk yang mengepung padepokan, justru mereka menjadi lengah karena mereka menganggap lawannya sama sekali tidak berdaya.
Demikianlah, pasukan itu pun bermalam semalam di dalam lingkungan halaman barak itu. tetapi mereka tidak mengalami sesuatu. Namun dengan demikian, jantung mereka telah dicengkam oleh perasaan kecewa yang sangat.
“Kita harus menemukan mereka” geram Mahisa Bungalan.
Karena itulah, ketika matahari terbit di keesokan harinya, maka Mahisa Bungalan pun telah menemui Witantra untuk membicarakan kemungkinan yang akan ditempuhnya.
“Jika kau ingin mencarinya kemana kita akan pergi?“ bertanya Witantra,, “apakah kau akan membawa pasukanmu menjelajahi daerah yang tidak terbatas ini? Atau kita mencari bahan lebih dahulu sebelum pasukan kita bergerak”
“Jadi kita harus menunggu lagi?“ bertanya Mahisa Bungalan.
“Bukan menunggu. Tetapi kita akan segera mulai. Bukankah usaha menemukan satu tempat yang akan menjadi sasaran pasukan kita itu pun sudah satu permulaan? Apakah kau kira kau akan berhasil dengan iring-iringan pasukan ini mendaki tebing dan menuruni lereng-lereng jurang tanpa tujuan?”
“Jadi menurut pertimbangan paman, kita akan kembali lagi ke padepokan itu?“ bertanya Mahisa Bungalan.
“Ya, agar kita tahu apa yang harus kita lakukan” Mahisa Bungalan tidak menjawab. Namun ia pun kemudian memanggil dua orang tawanannya. Dengan nada keras ia bertanya, apakah ia mengetahui, kemana perginya seisi barak yang telah kosong itu.
Tetapi jawabnya benar-benar masuk akal, “Bukankah selama ini aku berada di padepokan itu? Tentu aku tidak mengetahui kemana mereka pergi”
“Kemungkinan terbesar. Ha, apakah kau tahu sarang-sarang yang lain, yang dapat dipergunakan oleh Rajawali Penakluk yang licik itu?“ bentak Mahisa Bungalan.
“Aku berasal dari barak ini” jawab keduanya hampir berbareng.
Mahisa Bungalan hanya dapat menggeram. Ternyata kedua orang itu tidak dapat menunjukkan, kemungkinan yang dapat menuntun arah pasukan itu tanpa kembali dahulu ke padepokan.
Namun akhirnya Mahisa Bungalan tidak dapat berbuat lain. Bahkan, betapapun kecewa, namun Pangeran Kuda Padmadata pun berkata, “Tawanan-tawanan itu tentu ada yang dapat berbicara, kemana kita harus menyusul”
Dengan kesal, Mahisa Bungalan dan Pangeran Kuda Padmadata telah membawa pasukannya kembali tanpa hasil apapun juga. Barak yang mereka datangi ternyata sudah kosong sama sekali, tanpa mendapat petunjuk, kemana mereka harus mencari Rajawali Penakluk.
Ketika mereka sampai ke Padepokan setelah menempuh perjalanan panjang yang menjemukan, maka Mahisa Bungalan pun segera minta, agar Witantra berusaha untuk mendapatkan petunjuk kemana pasukan yang sudah siap di padepokan itu harus bergerak.
Witantra menarik nafas dalam-dalam ketika Mahisa Bungalan berkata, “Paman, bukankah kita sudah cukup lama berjalan menjelajahi daerah yang luas ini? Bukankah dengan demikian, sudah tiba waktunya bagi kita untuk bertindak lebih cepat?“
“Ya, aku mengerti, Mahisa Bungalan. Biarlah akan kulakukan secepatnya” jawab Witantra.
Mahisa Agni, Mahendra dan Ki Wastu yang mendengar persoalan yang dikemukakan oleh Mahisa Bungalan itu hanya tersenyum saja. Mereka dapat mengerti gejolak darah muda yang mengalir di dalam tubuh Mahisa Bungalan dan Pangeran Kuda Padmadata.
Namun dalam pada itu, Mahisa Murtini dan Mahisa Pukat memiliki pendapat lain, “Marilah kita mencarinya, ayah. Kita akan melanjutkan perjalanan mengelilingi daerah yang luas bersama pasukan yang kuat. Kita akan dapat melihat-lihat dan mendapatkan pengalaman dari penjelajahan itu”
“Ah, kau” desis Mahendra, “kau kira kita sedang bertamasya? Mungkin kau akan senang menjelajahi daerah yang luas, menuruni tebing dan memanjang lereng-lereng gunung yang terjal bersama kawan yang berjumlah banyak. Tetapi bukan itu tujuan pasukan Singasari dan Kediri ini bergerak. Mereka mempunyai tugas yang harus mereka lakukan sebaik-baiknya. Dengan tenaga yang sedikit mungkin, akan dapat dicapai hasil yang sebanyak-banyaknya”
“Itu namanya tidak adil. Orang yang ingin mencapai hasil yang besar, ia harus mau bekerja sekeras-kerasnya” jawab Mahisa Murti.
Mahendra tertawa. Katanya, “Tetapi dalam perbandingan keseluruhan, patokan itu harus diperhitungkan”
“Seperti ayah saja” desis Mahisa Pukat, “ maunya ayah membeli barang semurah-murahnya dan dijual dengan harga yang setinggi-tingginya”
Bukan saja Mahendra, tetapi orang-orang lain yang mendengarpun tertawa pula. Bahkan Witantra berkata, “Tetapi patokan ayahmu itu memang dapat ditrapkan dimana-mana Pukat”
Mahisa Pukat mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak menjawab lagi.
Namun dalam pada itu, orang-orang tua itupun berusaha untuk mengimbangi kecepatan gerak anak-anak muda. Mereka pun segera berusaha mencari keterangan di antara tawanan yang ada di padepokan itu, kemanakah Rajawali Penakluk itu berpindah tempat.
Tetapi tidak seorang pun dari mereka yang dapat memberikan petunjuk. Tidak seorang pun yang dapat menduga, apa yang dilakukan oleh Rajawali Penakluk itu.
Akhirnya Mahisa Bungalan tidak telaten lagi. Kepada para tawanan itupun ia bertanya, dimanakah tempat-tempat bersembunyian dan sarang-sarang dari kelompok-kelompok yang termasuk berada di bawah pengaruh Rajawali Panakluk itu.
Orang-orang tua yang melihat cara Mahisa Bungalan menelusuri jejak Ki Dukut itupun mengangguk-angguk. Nampaknya Mahisa Bungalan ingin mencari Ki Dukut dari satu tempat ke tempat yang lain
“Hal ini lebih baik aku lakukan, daripada tidak sama sekali” berkata Mahisa Bungalan.
“Baiklah kita coba” berkata Mahisa Agni, “mungkin usaha ini akan ada hasilnya”
“Karena itu, aku harus mengetahui, kemungkinan-kemungkinan yang dapat aku lakukan” sahut Mahisa Bungalan.
Mahisa Agni tidak menghalang-halangi. Ternyata bahwa dari para tawanan itu, Mahisa Bungalan dapat mengetahui beberapa tempat yang mungkin dipergunakan oleh Ki Dukut untuk bersembunyi, atau beristirahat beberapa saat sebelum ia mulai lagi dengan kerjanya yang gila.
“Kita akan menjelajahi tempat demi tempat” berkata Mahisa Bungalan kepada Pangeran Kuda Padmadata.
“Kita dapat membagi pasukan” sahut Pangeran Kuda Padmadata, “kau membawa separo, aku membawa separo. Kita akan pergi ke arah yang berbeda setelah kita sepakati arah kita masing-masing”
Mahisa Bungalan mengangguk-angguk, katanya, “Bagus. Dengan demikian kerja kita akan lebih cepat”
Dengan rencana itu, maka Mahisa Bungalan dan Pangeran Kuda Padmadata pun segera membicarakannya dengan Mahisa Agni dan orang-orang tua yang lain.
Orang-orang tua itu hanya dapat mengangguk-angguk. Namun mereka tidak akan dapat melepaskan anak-anak muda itu. Karena itu, maka Mahisa Agnipun berkata, “Baiklah. Aku akan pergi bersama Pangeran Kuda Padmadata, sementara Witantra akan berada di dalam pasukanmu, Mahisa Bungalan” Mahisa Agni berhenti sejenak, lalu, “sudah barang tentu, padepokan ini tidak dapat ditinggalkan begitu saja. Satu pengalaman pernah terjadi, Ki Dukut itu justru menyerang lagi padepokan ini. Karena itu, maka biarlah Mahendra dan kedua anak-anaknya bersama Ki Wastu tinggal di padepokan ini bersama beberapa prajurit dan pengawal untuk mengawasi para tawanan”
Betapa jengkelnya Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, bahwa mereka harus berada di padepokan itu. Bagaimanapun juga keduanya menyatakan keinginan mereka, tetapi Mahendra tetap berkeberatan jika keduanya mengikuti kakaknya dalam perjalanan yang berat dan tidak menentu.
“Pada saatnya kau akan pergi juga” berkata Mahendra, “tetapi dalam perjalanan yang lain”
Akhirnya keduanya mengerti juga, betapa beratnya tugas yang sedang dipikul oleh Mahisa Bungalan, sehingga akhirnya mereka bersedia berada di padepokan bersama ayahnya dan Ki Wastu. Dalam pada itu, maka Mahisa Bungalan dan Pangeran Kuda Padmadata pun telah mempersiapkan diri. Mereka telah membagi pasukan yang ada menjadi dua bagian. Yang seorang akan dipimpin oleh Mahisa Bungalan, yang lain akan langsung dipimpin oleh Pangeran Kuda Padmadata. Sementara itu masih ada sekelompok kecil yang akan tinggal di padepokan untuk membantu para cantrik apabila terjadi sesuatu. Selebihnya, mereka yang tinggal juga berkewajiban untuk memberikan latihan-latihan olah kanuragan, agar para cantrik mampu meningkatkan ilmu mereka.
Demikianlah, pada hari yang tertentu, dua kelompok pasukan itupun berangkat dari padepokan kecil itu. Seperti yang direncanakan, maka Mahisa Agni akan menyertai Pangeran Kuda Padmadata, sedangkan Witantra akan berada di dalam pasukan yang dipimpin oleh Mahisa Bungalan.
Bersama mereka, dua orang tawanan berada disetiap kelompok untuk menunjukkan, tempat-tempat yang mungkin menjadi tempat persembunyian sementara Ki Dukut Pakering yang bergelar Rajawali Penakluk itu.
Dari para tawanan itu Mahisa Bungalan dan Pangeran Kuda Padmadata mendapat beberapa petunjuk, bahwa Ki Dukut yang menyebut dirinya Rajawali Penakluk itu mempunyai beberapa gerombolan pengikut yung semula saling terpisah. Karena itu. maka mungkin sekuli Ki Dukut berada di antara pengikut-pengikutnya itu.
“Kita harus mendatangi sarang mereka satu demi satu” berkata Mahisa Bungalan kepada tawanan yang menyertainya.
Namun dalam pada itu, Pangeran kuda Padmadata pun berniat demikian. Dengan Mahisa Bungalan Pangeran itu sudah bersetuju untuk membagi, yang manakah yang harus didatangi oleh Pangeran Kuda Padmadata, dan yang manakah yang harus diselesaikan oleh Mahisa Bungalan.
Dengan demikian maka perjalanan kelompok-kelompok itu adalah perjalanan yang cukup berat. Mereka harus menyusup hutan, menuruni jurang dan mendaki lereng bukit-bukit. Sarang gerombolan itu terpencar, dan pada umumnya berada di tempat yang sulit untuk didatangi.
Namun, sudah menjadi tekad Mahisa Bungalan dan Pangeran Kuda Padmadata, bahwa perburuan itu harus lebih mengarah. Bukan sekedar menjelajahi pedepokan demi padepokan tanpa berbuat apa-apa. Seakan-akan hanya sekedar menunggu kesempatan, serta menunggu satu kemungkinan dari berpuluh-puluh kemungkinan yang lain, bahwa mereka akan bertemu dengan Ki Dukut disatu tempat.
Mahisa Agni, Witantra, Mahendra dan Ki Wastu harus mengikuti cara berpikir anak-anak muda itu. Sehingga merekapun kemudian seakan-akan hanyalah mengikuti saja sambil memberikan pendapat dan mungkin kemampuannya apabila diperlukan
Demikianlah, maka pada hari-hari pertama, kedua kelompok itu telah menuju ke arah yang berbeda, sehingga jarak antara keduanya menjadi semakin jauh. Mahisa Bungalan dan pasukannya, yang di sertai oleh Witantra menuju ke daerah yang berbukit-bukit, sementara Pangeran Kuda Padamadata yang diikuti oleh Mehisa Agni serta pasukannya, menusuk masuk ke dalam kepekatan hutan.
Dari para tawanan mereka mendapat petunjuk, bahwa sebagian dari sarang gerombolan yang berada di bawah pengaruh Ki Dukut itu ada di antara bukit-bukit dan terpencar di seberangnya, sementara yang lain bersembunyi di hutan-hutan dan lembah-lembah dibalik hutan itu.
Tetapi tidak seorang pun dari para tawanan yang mengetahui keadaan Ki Dukut yang sebenarnya. Merekapun tidak tahu apa yang dilakukan oleh pengikut-pengikutnya yang terlepas dari tangan para prajurit dan pengawal.
Mereka tidak mengetahui, bahwa Ki Dukut yang bergelar Rajawali Penakluk itu tiba-tiba saja sudah hilang dari antara pengikutnya. Sementara sarang yang telah kosong itu telah ditinggalkan oleh penghuninya, atas pesan Ki Dukut ke tempat yang lebih tersembunyi lagi.
Karena itu, baik Mahisa Bungalan maupun Pangeran Kuda Padmadata telah dibawa oleh tawanan-tawanan yang berada di antara mereka menuju ke tampat yang sudah mereka kenal.
Sebenarnyalah, sepeninggal Ki Dukut, setiap kelompok penjahat itu seakan-akan telah saling memisahkan diri. Mereka seakan-akan tidak lagi merasa terikat yang satu dengan lain seperti sebelum Ki Dukut yang mereka kenal dengan gelar Rajawali Penakluk itu berada di antara mereka.
Hanya bekas-bekas pengaruh Ki Dukut yang mengikat mereka sajalah yang kadang-kadang masih terlintas di dalam angan-angan mereka.
“Bila orang itu datang, biarlah kami menjalankan perintahnya. Jika tidak, kami tidak mempunyai keterikatan dengan kelompok-kelompok lain” berkata hampir setiap pemimpin kelompok yang telah mengangkat diri mereka kembali.
Dengan demikian, maka mereka telah terjun kembali ke dalam kehidupan mereka seperti sediakala. Mereka berada di jalan-jalan sunyi. Menelusuri bulak-bulak panjang di malam hari, dan bahkan kadang-kadang memasuki padukuhan-padukuhan dan selanjutnya memilih rumah-rumah yang paling besar dan mempunyai kemungkinan menyimpan benda-benda berharga.
Demikianlah mereka telah kembali ke dalam kehidupan meraba sebagai perampok dan penyamun sepenuhnya tanpa pegangan dan arah sama sekali.
Dalam pada itu, maka tawanan yang berada di dalam pasukan Mahisa Bungalan telah membawa pasukan itu untuk pertama kali ke sarang sekelompok penjahat yang dianggapnya paling baik. Kelompok yang pertama berhubungan dengan Ki Dukut yang bergelar Rajawali Penakluk itu.
“Mungkin Rajawali Penakluk itu berada di sana” katanya di dalam hati, “jika tidak, maka meskipun pasukan ini akan berhasil menghancurkan sarang itu, tetapi pasukan ini tentu akan mengalami luka yang cukup parah pula. Jika kemudian aku membawa ketempat yarig terhitung kuat, maka keadaannya tentu semakin buruk, sehingga akhirnya akan menjerumuskan pasukan ini ke dalam lingkungan yang tidak akan memberinya kesempatan untuk meninggalkan tempat itu. Sarang kelompokku sendiri yang aku kenal baik-baik”
Demikianlah, maka setelah menempuh perjalanan yang panjang dan beristirahat semalam di lereng sebuah bukit berbatu padas, maka pasukan itu pun mendekati sarang kelompok yang akan mereka datangi pertama kali.
“Kau jangan menipu kami” berkata Mahisa Bunga lan kepada kedua orang itu, “kami akan menghancurkan kepala kalian”
“Aku hanya menunjukkan. Aku tidak tahu lagi, apakah isi padepokan itu. Apakah Rajawali Penakluk ada di situ atau tidak. Atau kemungkinan-kemungkinan lain pada perkembangan terakhir”
Mahisa Bungalan menggeram. Namun kemudian katanya, “Sebut, darimana arah yang sebaiknya kami mendekati barak itu?“
“Barak itu menghadap ke tangga yang mendaki lereng bukit ini. Tetapi di samping beberapa gubug, terdapat pula sebuah goa yang dalam dan luas. Aku juga tidak tahu, siapakah yang memimpin kelompok ini sekarang” desis tawanan itu.
Mahisa Bungalan termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun minta pertimbangan Witantra, apakah yang sebaiknya dilakukannya.
Jika kau sudah siap, maka sebaiknya kita mendekati barak itu” berkata Witantra, “awasi setiap lubang yang mungkin dapat dijadikan jalan untuk melepaskan diri. Besok pagi-pagi kita akan menyergap”
“Kau harus memberikan kesempatan kepada orang-orangmu untuk beristirahat. Jangan kau paksa mereka untuk memeras keringatnya di perjalanan, kemudian memeras darahnya di pertempuran ini”
Mahisa Bungalan tidak membantah lagi. Iapun kemudian memerintahkan pasukannya dengan diam-diam mengepung barak dan goa di hadapan mereka. Tetapi mereka harus sangat berhati-hati, agar penghuni barak itu tidak mengetahuinya.
“Biarkan orang yang memasuki daerah kepungan ini“ perintah Mahisa Bungalan, “tetapi setiap orang yang keluar harus kalian ikuti dan kalian tangkap setelah jaraknya cukup jauh dari barak itu”
Demikianlah, maka ketika senja menjadi semakin gelap, pasukan yang datang itu pun mulai mengatur diri mengepung sarang gerombolan perampok dari penyamun yang berada dibawah pengaruh Rajawali Penakluk itu.
Seperti yang diperintahkan oleh Mahisa Bungalan, maka para prajurit dan pengawal itu pun akan menangkap setiap orang yang keluar dari barak itu, sehingga memungkinkan mereka menghubungi gerombolan yang lain sehubungan dengan kehadiran para prajurit dan pengawal
Tetapi ternyata bahwa kehadiran mereka diketahui oleh penghuni barak itu. Seperti yang selalu mereka lakukan, mengingat pesan Ki Dukut agar mereka selalu berhati-hati, maka gerombolan itu telah memasang beberapa orang untuk mengawasi keadaan siang dan malam. Demikian mereka melihat sepasukan mendekati barak itu, maka merekapun segera bertindak cepat.
Sesudah memberikan laporan kepada pemimpin gerombolan itu. maka dua orang telah diperintahkan untuk menghubungi gerombolan terdekat. Mereka memang sudah memperhitungkan bahwa pasukan itu baru akan menyerang di keesokan harinya. Menurut perhitungan gerombolan itu, pasukan yang datang itu tidak akan bergerak di malam hari, karena mereka belum mengenal medan sebenarnyalah yang cukup gawat.
“Tetapi bagaimana jika mereka menyerang malam ini” bertanya salah seorang dari gerombolan itu.
“Kita akan melumatkannya. Kita sudah terbiasa bergerak di malam hari. Dan kita sudah mengenal daerah ini seperti kita mengenal tubuh kita sendiri” jawab pemimpin gerombolan itu.
“Kenapa kita tidak menyerang mereka malam ini?“ bertanya yang lain.
“Kita harus keluar dari sarang kita. Mereka pun berpencar mengelilingi barak ini. Apalagi mereka telah memilih tempat yang paling baik bagi mereka, karena kitalah yang datang kepada mereka. Agak berbeda jika merekalah yang datang kepada kita. Mereka tidak dapat memilih tempat dimana kita akan menjebak” sahut pemimpin gerombolan, “selebihnya, jika orang kita itu sempat menghubungi kelompok lain yang terdekat, maka kita akan mendapat kesempatan lebih banyak. Aku sudah berpesan, agar mereka tetap berada diluar kepungan, dan mereka akan bertindak pada saat pasukan itu menyerang kita besok pagi”
Para perampok dan penyamun yang berada di barak itu pun hanya dapat menunggu. Namun mereka selalu siap menghadapi segala kemungkinan yang bakal datang.
Ternyata bahwa dua orang yang mereka tugaskan untuk menghubungi kelompok lainnya, berhasil menyusup keluar sebelum kepungan itu merapat. Mereka dengan tergesa-gesa, bahkan berlari-lari kecil menuju kes ebuah barak yang lain. Mereka berharap bahwa sebelum pagi. kelompok yang lain itu sudah berada di sekitar sarangnya.
Kedatangan kedua orang itu memang mengejutkan. Sarang yang didatangi itupun selalu dalam kesiagaan seperti juga yang lain-lain. Sehingga karena itu, kedatangan kedua orang itu segera diketahui oleh hampir semua orang di dalam gerombolan itu.
“Apa yang terjadi?“ bertanya pemimpin gerombolan itu.
“Barak kami telah didatangi oleh sepasukan yang kuat berkata kedua orang petugas itu, “mereka mengepung barak kami. Menurut perhitungan kami, mereka akan menyerang besok pagi”
Pemimpin gerombolan itu mengangguk-angguk. Iapun segera mengerti bahwa kedatangan kedua orang itu tentu akan memerlukan bantuan.
Untuk menjaga kepentingan bersama, juga apabila gerombolan itu sendiri mengalami, maka pemimpin gerombolan itupun berkata, “Kau tentu memerlukan bantuan. Baiklah, kita akan menghadapi mereka bersama-sama”
“Terima kasih. Kamipun akan melakukan hal yang serupa apabila barak inilah yang mengalami serangan pada kesempatan lain” jawab petugas itu.
“Tetapi apakah menurut perhitungan kalian, kami akan dapat melawan mereka?“ bertanya pemimpin gerombolan itu.
“Jumlah mereka tidak terlalu banyak. Tetapi kita sudah dapat mengukur kemampuan mereka. Ketika orang-orang terbaik kita menyerang mereka, maka di antara kita jatuh banyak korban” berkata petugas itu, “tetapi sekarang, meskipun bukan orang-orang terbaik, kita dapat mengarahkan semua orang yang ada. Tidak hanya beberapa orang terpilih saja. Bagaimanapun juga, jumlah akan ikut menentukan akhir dari pertempuran yang bakal datang itu”
“Aku sependapat” jawab pemimpin gerombolan itu, “tentu orang-orang yang tertawan itulah yang telah menunjukkan barakmu itu”
“Tentu. Kami sudah memperhitungkan, seperti juga perhitungan Rajawali Penakluk itu, sehingga ia memerintahkan sarang induk kita itu dipindahkan”
Demikianlah, maka gerombolan itupun segera mempersiapkan diri. Mereka harus dengan cepat bertindak.
“Kesempatan untuk melepaskan dendam“ berkata pemimpin gerombolan itu, “merekalah yang kini datang. Dengan jumlah yang banyak kita akan menghancurkan mereka. Meskipun kita tidak lagi memilih orang-orang terbaik, tetapi justru kita semuanya akan bergerak”
Sejenak kemudian, maka gerombolan itu pun telah meninggalkan sarang mereka. Hanya beberapa orang sajalah yang kemudian tinggal menunggui harta benda yang tersimpan di dalam barak itu.
Dengan petunjuk dari kedua orang yang datang memberitahukan keadaan baraknya itu, maka gerombolan yang datang itupun telah mengatur diri. Pemimpin gerombolan itu telah memberikan beberapa petunjuk, agar kehadiran mereka tidak diketahui oleh orang-orang Singasari dan Kediri itu.
“Kita baru akan bergerak jika orang-orang Singasari dan Kediri itu sudah mulai menyerang” berkata pemimpin gerombolan itu, lalu, “sehingga dengan demikian, maka pasukan itu akan terjepit. Di depan mereka adalah orang-orang yang berada di dalam barak, sementara di belakang mereka adalah kita yang datang untuk membalas dendam”
Demikianlah, maka dengan cepat gerombolan itu bergerak. Mereka mendekati sarang yang terkepung itu menjelang ayam jantan berkokok untuk yang ketiga kalinya.
“Ada waktu sedikit untuk beristirahat” berkata pemimpin gerombolan itu, “memencarlah. Bukankah kalian telah mengenal daerah ini, setidak-tidaknya beberapa orang di antara mereka? Kalian akan menyerang setelah aku memberikan isyarat dengan suara kentongan kecil ini. Kalian tidak perlu mengepung daerah ini. Tetapi kalian cukup berkumpul kelompok demi kelompok di tempat yang terpencar, sehingga pada saatnya kalian akan dapat menyergap dari segala arah. Sementara kalian menunggu fajar, kalian sempat tidur barang sejenak”
Demikianlah, maka dengan sangat hati-hati, maka gerombolan itupun telah terpencar. Mereka berkumpul dalam kelompok-kelompok kecil yang sudah ditentukan di seputar barak itu. Pada saatnya mereka sudah ditentukan di seputar barak itu. Pada saatnya mereka akan menyerang dari segenap penjuru”
Waktu yang sesaat itu telah mereka pergunakan sebaik-baiknya untuk beristirahat. Beberapa orang di antara mereka sempat mengunyah makanan yang mereka bawa dari barak mereka. Yang lain langsung tertidur. Tetapi kawannya segera membangunkannya sambil berdesis, “Jangan mendengkur. Suaramu seperti babi hutan. Jika orang-orang Singasari dan Kediri itu mendengar, maka mereka akan datang menangkapmu”
“Apa aku mendengkur?“ ia bertanya.
”Keras sekali” jawab kawannya.
”Aku tidak merasa” jawabnya.
”Dan kau tentu tidak mendengarnya pula” sahut kawannya yang lain.
Orang itu terdiam. Tetapi iapun kemudian tidur sambil memiringkan kepalanya, agar tidak mendengkur lagi. Tetapi ternyata kawannya telah membangunkannya lagi., “Pergilah jauh-jauh. Tidurlah sendiri” geram kawannya.
“Nanti aku dimakan harimau” katanya, “baiklah. Aku tidak akan tidur. Aku hanya sekedar bertiduran untuk menghilangkan telah”
Tetapi sebentar kemudian ia sudah mendengkur lagi. Namun kawan-kawannya tidak menghiraukannya lagi. Merekapun sedang mencoba untuk dapat tidur barang sekejap.
Tetapi kesempatan itu memang tidak terlalu lama. Sejenak kemudian langit pun mulai dibayangi oleh warna fajar.
Dalam pada itu, maka para prajurit dan pengawal yang mengepung barak itupun telah bersiap-siap untuk melakukan tugas mereka. Barak itu akan segera mereka serang dari segala arah. Mereka masih mempunyai harapan, bahwa mereka akan dapat menemukan Rajawali Penakluk atau setidak-tidaknya mendapat keterangan tentang dirinya.
“Ingat” berkata Mahisa Bungalan kepada pemimpin-pemimpin kelompok yang dikumpulkannya menjelang pagi kami bukan datang untuk membunuh. Tetapi tugas kami adalah memburu orang yang bernama Ki Dukut dan bergelar Rajawali Penakluk itu. Meskipun perampok dan penyamun tidak dibenarkan adanya, terutama di telatah Kediri dan Singasari, namun cara kita menghadapi mereka berbeda dengan apa yang harus kita lakukan terhadap Ki Dukut Pakering”
Para pemimpin kelompok itu mengerti apa yang dimaksudkan oleh Mahisa Bungalan. Karena itu. maka merekapun mengangguk dan siap menyampaikan perintah itu kepada anak buah mereka.
“Kalian akan mendengar suara panah sendaren. Kami di sini akan melepaskan panah itu ke segenap arah. Suara sendaren yang kalian dengar adalah perintah, bahwa kalian harus segera menyerang” berkata Mahisa Bungalan kemudian.
Demikianlah maka para pemimpin kelompok itu pun segera kembali ke tempat masing-masing dan segera menyampaikan pesan itu pula kepada anak buahnya.
Sementara itu, di dalam barak itu pun telah terjadi kesibukan. Orang-orang di dalam barak itu menjadi-berdebar-debar pula. Kedua orang yang ditugaskannya mencari hubungan dengan gerombolan terdekat tidak kembali lagi kepada mereka.
“Keduanya tentu mempunyai perhitungan tersendiri” berkata pemimpin gerombolan itu, “mereka tidak akan berani menembus kepungan. Jika mereka tertangkap, maka rahasia hubungan mereka dengan kawan kita di luar barak ini akan terungkap”
Bagaimana jika mereka tertangkap ketika mereka berangkat?“ bertanya seseorang.
“Memang mungkin. Karena itu, kita harus bersiaga sebaik-baiknya. Mungkin kita memang harus bertempur tanpa bantuan pihak yang lain” jawab pemimpin gerombolan itu, “sementara kita belum tahu pasti, seberapa besar kekuatan lawan. Tetapi kita yakin, bahwa kita akan dapat mempertahankan diri. Dan kitapun yakin, bahwa orang itu akan dapat menghubungi kawan kita. Mereka akan datang membantu kita dengan cara yang kita pesankan”
Namun demikian, pemimpin gerombolan itupun telah memerintahkan orang-orangnya Untuk mempergunakan segala cara yang dapat mereka lakukan tanpa mengharap bantuan pihak lain.
“Jumlah kita cukup banyak” geramnya.
Beberapa orang diantaranya mereka telah siap dengan budur dan batu besar yang dapat mereka lontarkan pada lereng-lereng yang mungkin akan dipanjat oleh para prajurit dan pengawal. Juga di hadapan tangga yang menjadi jalan induk memasuki sarang mereka. Sementara yang lain telah menyiapkan lembing-lembing bambu yang ujungnya diberi sekeping besi. Lembing-lembing itu akan dapat mereka lontarkan kepada lawan yang akan mendaki bukit.
Dengan senjata-senjata itu, mereka telah menghadap ke segala arah yang mungkin akan ditempuh oleh para prajurit dan pengawal. Meskipun satu sisi dari barak itu agaknya terlalu sulit untuk ditempuh, namun mereka telah menempatkan-beberapa orang untuk mengawasinya juga. Mungkin sekali para prajurit dan pengawal itu justru meng ambil arah yang dianggapnya terlalu sulit itu, sehingga mereka dapat menyergap tanpa mendapat perlawanan yang berarti.
Tetapi prajurit dan pengawal yang dipimpin oleh Mahisa Bungalan itu tidak mempergunakan jalan yang terlalu sulit itu. Kepungannya pada bagian yang sulit itu pun tidak terlalu rapat, karena mereka menganggap, jalan itu tidak akan mungkin dilalui.
Dengan hati yang berdebar-debar, setiap orang telah menunggu langit menjadi terang. Para prajurit dan pengawal, orang-orang yang berada di dalam kepungan dan gerombolan yang datang untuk membantu.
Dengan demikian, maka rasa-rasanya tempat itu justru menjadi semakin sepi. Orang-orang yang ada di sekitar tempat itu telah menahan nafas masing-masing dengan tangan dihulu senjata. Sementara yang lain telah siap untuk melontarkan senjata-senjata mereka, sementara orang lain menggenggam tangkai kentongan dengan eratnya sedangkan tangannya yang lain menggenggam pemukulnya.
Tiba-tiba kesenyapan pagi itu telah dikoyak oleh lengking panah sendaren. Beberapa panah sendaren telah berterbangan ke segala arah, seolah-olah gaung suara burung aneh yang memenuhi langit yang masih buram.
Pada saat itulah pasukan Mahisa Bungalan mulai bergerak. Mereka pun menyadari kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi pada saat mereka mendekati barak. Karena itulah, maka pasukan yang paling kuat adalah justru pasukan yang datang dari arah sayap. Meskipun mereka menempuh jalan yang agak sulit, tetapi mereka mendaki tebing tidak tepat di hadapan barak yang menjadi sasaran serangan mereka, sehingga mereka tidak akan mendapat hambatan langsung dari orang-orang di dalam barak itu
Tetapi satu hal yang tidak diperhitungkan oleh Mahisa Bungalan adalah, kedatangan orang-orang dari gerombolan lain yang akan menyerang mereka dari belakang.
Perlahan-lahan pasukan Mahisa Bungalan itu bergerak maju. Hal-hal yang akan terjadi telah diduga sebelumnya. Demikian pasukan induk itu mendekati tangga, maka orang-orang di dalam gerombolan itu telah siap melontarkan batu-batu yang besar untuk menghambat lawan mereka, sementara yang lain akan melemparkan lembing-lembing bambu yang ujungnya diberi kepingan-kepingan besi tajam.
Tetapi para prajurit dan pengawal itupun cukup mempunyai pengalaman. Karena itu, maka mereka yang dihadapkan langsung pada jalan induk itu adalah prajurit-prajurit dan pengawal pilihan yang mampu mengatasi kesulitan yang bakal mereka hadapi dengan perlengkapan khusus Mereka adalah prajurit-prajurit yang bersenjata pedang dan perisai.
Demikian prajurit-prajurit pengawal yang melalui jalan di hadapan sarang mereka itu mulai mendaki, di-antaranya lewat tangga yang memang sudah ada di situ, maka batu-batu besar itupun mulai dilontarkan, diiringi dengan lemparan lembing dan anak panah.
Bebatuan dan senjata-senjata itu momang dapat menahan pasukan Mahisa Bungalan. Mereka tidak segera dapat memanjat. Sebagian dari mereka berusaha untuk mendaki di sebelah menyebelah, tetapi batu-batu itu pun meluncur dengan derasnya diiringi dengan lontaran lembing dan anak panah.
Namun agaknya para prajurit dan pengawal itu tidak menjadi gelisah. Hal itu memang sudah diperhitungkan. Pasukan yang datang dari sayap harus mendahului menghimpit gerombolan itu, sehingga sebagian dari mereka akan ditarik ke daerah benturan yang terjadi itu.
Sebenarnyalah bahwa sebagian sayap pasukan Mahisa Bungalan telah berhasil mendaki tebing. Mereka pun segera merayap mendekati sarang gerombolan itu dari samping.
Dengan demikian, maka pertempuran yang berkobar lebih dahulu justru sayap pasukan Mahisa Bungalan. Pasukan itu seolah-olah telah datang menghimpit dari sebelah menyebelah.
Kekuatan pasukan Mahisa Bungalan ternyata sangat mengejutkan. Jumlah mereka memang tidak sebanyak orang-orang yang ada di sarang itu. Tetapi kemampuan mereka ternyata jauh melampaui kemampuan orang-orang yang berada digerombolan itu.
Namun dalam pada itu, sejenak kemudian telah terdengar suara kentongan dari arah yang agak jauh, justru di bagian yang dianggap sulit. Suara kentongan yang memberikan aba-aba kepada gerombolan yang akan datang membantu gerombolan yang telah di serang oleh pasukan Mahisa Bungalan itu.
Tetapi sebenarnyalah, yang berada di tempat itu hanyalah beberapa orang saja yang bertugas membunyikan isyarat itu.
Sementara itu, pasukan yang sebenarnya telah memencar dari segenap arah, seperti pasukan Mahisa Bungalan.
Isyarat itu mengejutkan Mahisa Bungalan dan pasukannya. Dengan demikian, maka mulailah Mahisa Bungalan menyadari kelengahannya.
Batu dan lembing yang dilontarkan dari atas tebing tidak mengejutkan pasukannya. Kesiagaan itu dapat saja berlangsung setiap saat, sejak terjadi permusuhan dengan padepokan kecil itu, karena mereka yang berada di sarang gerombolan itu sudah menduga, bahwa pada suatu saat akan datang serangan balasan seperti itu. Tetapi bahwa di luar kepungan pasukan dari Singasari dan Kediri itu masih terdapat selapis lawan yang menyergap mereka, adalah merupakan satu peristiwa yang seharusnya tidak perlu terjadi.
“Satu kelengahan” desis Witantra.
“Ya. Satu kelengahan” gumam Mahisa Bungalan, “kita tidak tahu, apakah kelengahan ini akibatnya akan parah bagi pasukan ini”
Witantra tidak menjawab. Tetapi ia mulai melihat, orang-orang yang bermunculan dari gerumbul-gerumbul liar di seputar mereka. Dengan senjata teracu dan teriakan-teriakan yang gempita, merekapun berlari-lari dengan garangnya.
Para prajurit Singasari dan pengawal dari Kediri yang sudah berada di atas tebing pun terkejut. Sayap pasukan yang mulai menghimpit lawannya itu harus mengambil sikap.
Tetapi para pemimpin kelompok para prajurit dan pengawal itu memiliki pengalaman yang luas di dalam pertempuran yang paling garang. Karena itu, maka merekapun dengan cepat menyesuaikan diri. Meskipun mereka tidak dapat mengingkari kenyataan, bahwa lawan meraka menjadi sangat banyak di kedua arah.
Kehadiran gerombolan itu telah membuat orang-orang di dalam sarang yang terkepung itu bersorak-sorak pula. Mereka merasa seakan telah terlepas dari ancaman yang mencemaskan dari pasukan yang kuat itu.
Sejenak kemudian, pertempuran yang dahsyatpun telah terjadi. Bukan saja disayap pasukan yang sudah mulai menyerang dari sebelah menyebelah. Tetapi pasukan yang sudah mulai memanjat dari bagian depan barak itupun harus menghentikan langkah mereka untuk menghadapi gerombolan yang menyerang mereka dari arah belakang.
“Keadaan kita gawat paman” berkata Mahisa Bungalan.
Witantra memang melihat keadaan yang gawat itu. Pasukan lawan jumlahnya menjadi semakin banyak.
“Aku akan membunyikan isyarat untuk menyelamatkan pasukan ini” berkata Mahisa Bungalan.
Tidak ada pilihan lain. Karena itu, maka Witantra pun mengangguk kecil.
Namun Mahisa Bungalan masih nampak ragu-ragu ketika tiga orang penghubung telah siap di hadapannya.
“Bagaimana paman?“ sekali lagi ia bertanya.
“Keadaan pasukanmu memang gawat” berkata Witantra.
Mahisa Bungalan mengangguk sambil berkata, “Baiklah. Marilah kita lepaskan isyarat itu. meskipun sebenarnya baru akan aku lepaskan di saat-saat yang memaksa. Bahkan kami berharap bahwa isyarat itu tidak perlu. Tetapi keadaan yang tidak terduga-duga ini telah mencemaskan pasukan kita. Meskipun pertempuran ini baru mulai. Agaknya kita tidak boleh membiarkan pasukan ini hancur di ujung pertempuran”
Ketiga orang itu pun kemudian siap dengan busur dan anak panah mereka. Panah sendaren.
Dengan segera ketiganya pun menyiapkan diri. Sejenak kemudian, maka meluncurlah berturut-turut tiga panah sendaren keudara.
Isyarat itu telah mengejutkan setiap pemimpin kelompok pasukan Singasari dan Kediri. Namun dengan demikian mereka menyadari, bahwa keadaan mereka mulai gawat demikian mereka mulai terlibat ke dalam pertempuran.
Isyarat itu adalah isyarat untuk bertempur dengan kekuatan tertinggi dan kemungkinan yang paling buruk. Pasukan itu harus mengurangi jumlah lawan mereka sebanyak-banyaknya.
Karena itulah, maka pertempuran itupun segera telah meningkat semakin dahsyat. Pasukan Singasari dan Kediri itu tidak sempat melihat keseluruhan medan. Karena itu, merekapun segera dapat membayangkan, ketika isyarat itu mereka dengar.
”Tidak ada cara lain” berkata seorang pemimpin kelompok kepada anak buahnya.
Sebenarnyalah para prajurit dan pengawal itupun telah bertempur tanpa pengekangan diri. Ketika satu dua orang kawan mereka mulai terluka, maka merekapun yakin, bahwa sebenarnyalah isyarat itu telah dilontarkan tepat pada saatnya, demikian pertempuran itu mulai.
Karena itulah, maka pasukan Mahisa Bungalan pun telah mengerahkan segenap kemampuan mereka. Justru mereka merapat dan menyempit garis benturan antara pasukan mereka dengan lawan. Dengan demikian, maka mereka berhasil membatasi jumlah lawan yang akan langsung mereka hadapi, meskipun dengan demikian, lapisan lawan menjadi semakin tebal.
Tetapi kelebihan kemampuan dan ketrampilan bertempur pada para prajurit dan pengawal itu telah membuat lawan mereka menjadi ngeri.
Pada saat-saat yang gawat itu, Mahisa Bungalan dan Witantra tidak dapat tinggal diam. Sementara mereka belum pasti bahwa di tempat itu terdapat seorang yang menyebut dirinya Rajawali Penakluk, maka Witantra pun harus membantu para prajurit dan pengawal yang gelisah melihat jumlah lawan mereka.
Witantra dan Mahisa Bungalan tidak segera memisahkan diri. Witantra masih menunggu perkembangan. Jika benar ada orang bernama Rajawali Penakluk itu, dan yang dipilihnya ternyata Mahisa Bungalan untuk menjadi lawannya, maka mau tidak mau Witantra harus berusaha menghindarkannya. Apalagi pertemuan antara dua orang yang memiliki ilmu yang tinggi itu bukannya di dalam perang tanding.
Karena itu, maka Witantra dan Mahisa Bungalan yang justru berada diinduk pasukan yang menghadap langsung kemulut sarang gerombolan itu, telah bertempur pula di antara para prajurit dan pengawal yang tidak sempat untuk memanjat naik. Kecuali lawan merekalah melontarkan batu dan senjata tajam, juga karena sergapan yang tiba-tiba saja datang dari belakang.
Sebenarnyalah bahwa jumlah induk pasukan itu justru tidak sebesar sayap pasukan yang mendapat tugas menghimpit lawan dari arah yang berlawanan. Menurut perhitungan, memang sayap itulah yang akan membenturkan kekuatannya lebih dahulu karena mereka tentu tidak akan mendapat hambatan yang sangat besar disaat-saat mereka memanjat tebing untuk mencapai ketinggian lawan mereka.
Kehadiran Witantra dan Mahisa Bungalan langsung di medan pertempuran itu telah mengejutkan lawan mereka, justru karena keduanya nampaknya tidak berdebar dengan orang-orang lain dalam pasukannya, dan senjata merekapun tidak lebih dari sebilah pedang seperti yang dipergunakan oleh orang-orang lain di dalam pasukan itu.
Namun ternyata bahwa ujung senjata mereka itu, bagaikan memiliki ketajaman penglihatan, sehingga setiap geraknya telah berhasil menyusup senjata lawan, dan menyentuh kulit dan mengoyak daging.
Meskipun Mahisa Bungalan telah melepaskan isyarat untuk bertempur dengan kemampuan tertinggi dan kemungkinan yang terburuk bagi lawan, namun keduanya memang bukan pembunuh-pembunuh yang tidak berperi-kemanusiaan. Karena itu, justru mereka yang tersentuh oleh senjata Witantra dan Mahisa Bungalan, sebagian besar masih mempunyai kemungkinan untuk tetap hidup meskipun mereka tidak berdaya lagi untuk melawan.
Pertempuran itu semakin lama menjadi semakin dahsyat. Orang-orang yang mempertahankan sarang mereka dan mereka yang datang untuk membantu, mulai merasa, bahwa lawan mereka benar-benar sepasukan prajurit dan pengawal yang mumpuni.
”Tetapi jumlah kita jauh lebih banyak” berkata pemimpin gerombolan yang bertahan. Hampir bersamaan pula, maka pemimpin gerombolan yang datang membantupun berteriak pula.
Teriakan-teriakan itu memang dapat memberikan dorongan tekad yang dilambari dengan dendam seperti yang sengaja ditiup ketelinga mereka oleh para pemimpin mereka.
Dengan demikian, meskipun di induk pasukan itu, jumlah prajurit dan pengawal terlalu sedikit dibandingkan dengan jumlah lawan mereka, namun pertempuran itupun seolah-olah menjadi seimbang. Orang-orang yang berada di atas tebing itu tidak lagi dapat melontarkan batu dan lembing-lembing bambu yang ujungnya diberi kepingan besi tajam, karena di dalam pertempuran itu seakan-akan telah berbaur kedua belah pihak.
Disayap pasukan Mahisa Bungalan yang sudah berada di tempat yang lebih tinggi, dan sudah mulai menghimpit lawan telah mengalami kesulitan pula. Mereka bertempur menghadap ke segala arah. Justru merekalah yang kemudian seolah-olah telah terkepung.
Namun pengalaman mereka berada diberbagai medan yang paling berat, segera menempatkan mereka pada kedudukan yang paling mungkin untuk mengatasi kesulitan itu.
Dalam medan yang sempit itu, prajurit dan pengawal yang berada di dalam pasukan Mahisa Bungalan itu telah membentuk gelar bulat memanjang. Dengan demikian, maka sebagian lawan mereka yang berusaha mengepung pasukan itu, telah berada di pinggir tebing yang meskipun tidak sangat linggi, tetapi seseorang yang terlempar akan berguling dan jatuh di lembah yang memungkinkan mereka menjadi luka-luka pada kulit dan daging. Mungkin luka itu tidak terlalu parah. Namun luka-luka itu akan dapat mengganggu kemampuan tempur mereka.
Sebenarnyalah, bahwa medan yang sempit itu membuat orang-orang yang bertempur sambil berdesak-desak an itu menjadi kebingungan. Adalah satu perhitungan yang mapan, bahwa setiap kali pasukan Mahisa Bungalan yang berada disayap itu telah berusaha mendesak lawan mereka. Satu dua diantara mereka berguling ke bawah.
Dengan mendesak mereka maka mereka tidak akan dapat bertahan lagi. Mereka lebih baik berguling-guling di lereng itu, dari pada perut mereka dilubangi dengan ujung pedang prajurit dan pengawal dari Kediri yang ternyata memiliki ketrampilan yang luar biasa dalam ilmu pedang.
Namun serangan gerombolan itu bagaikan gelombang yang menghempas pantai. Bergulung-gulung susul menyusul. Jika lapisan pertama berhasil disapu oleh prajurit dan pengawal itu, mati terluka atau terguling di jurang, maka lapisan berikutnya telah menghantam mereka dengan ujung senjata teracu.
Dalam pada itu, orang-orang yang terguling di tebing itu tidak lagi berusaha untuk memanjat. Sambil menyeringai menahan pedih mereka pun segera bangkit dan menggabungkan diri dengan kawan-kawan mereka yang berada di bawah, bertempur melawan induk pasukan Mahisa Bungalan. Mereka menganggap bahwa lawan terlalu sedikit di induk pasukan itu, sehingga mereka akan dengan mudah dapat segera menumpas mereka sampai orang terakhir
Tetapi demikian mereka mendekat, maka mereka mulai melihat satu kenyataan yang sama sekali lain dengan yang mereka duga. Meskipun jumlah mereka tidak terlalu banyak, namun kawan-kawan gerombolan yang sudah berada di hadapan pasukan yang sedikit itu sama sekali tidak berhasil mendesak maju. Bahkan satu dua orang di antara mereka terlempar dia ntara kawan-kawan mereka yang berdesakan. Yang lain merangkak sambil mengerang. Sementara yang lain lagi terkapar tidak bergerak.
“Luar biasa” desis salah seorang dari mereka, “tentu ada di antara mereka yang memiliki ilmu iblis”
Dalam pada itu, maka dua orang di antara mereka yang datang menyerang itu benar-benar mendebarkan jantung. Ternyata bukan saja Rajawali Penakluk yang mampu berbuat sesuatu di luar nalar mereka. Para prajurit dan pengawal sudah membuat mereka berdebar-debar. Apalagi kedua orang itu. Mereka mampu berbuat sesuatu seperti yang pernah diperlihatkan oleh Rajawali Penakluk itu.....
Bersambung....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar