Rabu, 03 Februari 2021

PANASNYA BUNGA MEKAR JILID 13-03

PANASNYA BUNGA MEKAR : 13-03
“Nah,” berkata Ki Dukut, “kalian telah berjanji untuk mengikuti segala perintahku. Kali ini aku tidak akan berbuat sesuatu atas kalian. Aku dan orang-orangku akan segera kembali. Mungkin pada suatu saat aku akan memanggil kalian untuk satu tugas yang penting”

Macan Wulung menjadi heran. Apakah artinya perbuatan Ki Dukut yang menyebut dirinya Rajawali Penakluk itu. Apakah ia sekedar ingin menunjukkan kelebihannya atau ingin berbuat gila tanpa tujuan tertentu. Atau barangkali ia benar-benar ingin melakukan seperti yang dikatakannya, yang bagi Macan Wulung tidak lebih dari sebuah mimpi.

Tetapi Ki Dukut benar-benar akan meninggalkan sarang Macan Wulung ita Namun demikian ia menyatakan niatnya, maka iapun berpesan, “Jika kalian ingkar, maka pada saat lain kami akan datang bukan dengan niat yang baik seperti sekarang. Tetapi kami akan datang sebagai perampok dan penyamun yang hanya mengenal maut sebagai penyelesaian setiap masalah. Kalian harus menyadari, bahwa kami dapat berbuat demikian”

Macan Wulung tidak menjawab. Tetapi sebenarnyalah bahwa orang yang menyebut dirinya Rajawali Penakluk itu akan dapat berbuat demikian.

Ki Dukut dan orang-orangnya tidak tinggal terlalu lama disarang Macan Wulung. Setelah beristirahat secukupnya, maka mereka pun segera meninggalkan sarang itu tanpa membawa kekayaan dan harta benda yang tertimbun di sarang itu.

Demikian Ki Dukut dan orang-orangnya hilang dibalik pepohonan, maka Macan Wulung bergumam, “Agaknya orang itu orang gila yang sakti. Ia berbuat sesuatu tanpa maksud. Bahkan mungkin di luar sadarnya”

“Tetapi orang gila yang demikian tentu sangat berbanaya. Apalagi bersamanya adalah Iblis yang tamak itu. Pada suatu saat orang gila yang sakti itu akan diperalat oleh Iblis yang tamak dan dengki itu” berkata salah seorang anak buahnya.

“Apakah iblis itu juga yang membawanya kemari?“ bertanya yang lain.

“Tentu tidak” jawab Macan Wulung, “jika Iblis itu yang membawanya, maka ia tentu akan memanfaatkannya, membawa barang-barang yang ada itu sampai tuntas”

Yang lain mengangguk-angguk. Namun Macan Wulung itupun kemudian berkata, “Memang ada dua kemungkinan. Orang tua itu seorang gila yang sakti, atau kitalah yang sudah dibuatnya gila”

Yang lain tidak menjawab. Tetapi orang yang menyebut dirinya Rajawali Penakluk itu memang orang aneh bagi mereka. Orang itu datang, bertempur, melukai beberapa orang dan kemudian pergi.

Tetapi Macan Wulung pun sudah memperhitungkan, jika orang tua itu bukan orang gila, maka pada suatu saat ia akan datang dan benar-benar akan melakukan seperti yang dikatakannya, merintis jalan ke ahta Singasari.

“Itupun perbuatan gila” geram Macan Wulung.

Demikian, dalam pada itu, Ki Dukut dan orang-orangnyapun langsung kembali ke baraknya. Mereka sama sekali tidak membawa apapun juga. Bukan saja orang-orang Macan Wulung yang heran, bahkan orang-orangnya pun merasa heran juga.

“Barang-barang Macan Wulung itu cukup banyak” berkata salah seorang dari mereka.

“Ya. Sebenarya kita dapat mengambil separuh tanpa dapat mereka cegah” desis yang lain.

“Tetapi Rajawali itu nampaknya sama sekali tidak menghiraukannya” berkata yang pertama.

“Ia mimpi tentang kedudukan tertinggi. Bukan tentang harta benda” desis yang lain pula.

Tetapi kawannya mencibirkan bibirnya sambil menjawab, “Itu tidak mungkin. Mimpi itu justru mimpi buruk yang dapat menyeretnya ke dalam dekapan maut”

“Dan kita bersama-sama akan diseretnya pula”

Tetapi mereka tidak berani menentang kehendak Ki Dukut. Mereka sudah mengetahui betapa tinggi tingkat kemampuan orang itu. Tidak seorangpun yang akan dapat mengimbanginya. Bahkan semua orang yang ada diantara mereka, tidak akan dapat mengalahkannya.

Ternyata ketika mereka sampai ke dalam sarang mereka sendiri, hampir setiap orang diantara mereka berpendapat serupa. Alangkah bodohnya Ki Dukut yang menyebut dirinya Rajawali Penakluk itu. Mereka sebenarnya dengan leluasa dapat mengambil apa saja yang mereka kehendaki dengan kemenangan mutlak yang mereka dapatkan. Tanpa membunuh, mereka sudah menunjukkan kelebihan dari gerombolan-gerombolan lain yang sejalan dengan mereka. Apalagi ternyata mereka tidak mengambil sekeping uang pun dari simpanan Macan Wulung itu.

Namun dalam pada itu, ternyata bahwa Ki Dukut sama sekali tidak pernah menyebut tentang harta benda itu. Yang setiap kali dikatakan, bagaimana ia dapat memperluaskan pengaruhnya dan memilih orang-orang terbaik untuk membantunya.

Ternyata bahwa Ki Dukut tidak hanya sekedar berbicara tentang pengaruh dan kekuasaan. Tetapi ia benar-benar melakukannya. Kecuali Macan Wulung, maka Ki Dukut telah menaklukkan beberapa gerombolan yang lain pula.

Ternyata bahwa gerombolan-gerombolan yang lainpun menjadi heran, bahwa orang yang menyebut dirinya Rajawali Penakluk Bumi itu tidak berbuat apa-apa atas mereka. Ia benar-benar hanya mengalahkan dan memaksa untuk menyerah saja.

Namun, akhirnya datang juga suatu saat, bahwa Ki Dukut bukan sekedar mengalahkan mereka, gerombolan-gerombolan yang berpencaran. Tetapi Ki Dukut pun kemudian telah meminta kepada mereka untuk menyerahkan beberapa orang-orangnya yang terbaik.

“Kita akan segera mulai berkata Ki Dukut kepada orang-orang yang telah dikumpulkannya.

Ternyata Ki Dukut telah membawa mereka ke tempat yang terpencil. Sebelum ia berbuat sesuatu, maka Ki Dukut ingin meningkatkan ilmu orang-orangnya yang telah dipilihnya itu. Sementara ia sama sekali tidak perlu cemas akan kekurangan makan dan pakaian, karena gerombolan-gerombolan yang berada di bawah pengaruhnya akhirnya harus membantunya juga, menyediakan uang dan bahan yang diperlukan oleh Ki Dukut dan orang-orangnya yang terpilih itu.

Ki Dukut telah mempersiapkan orang-orang itu untuk mencapai maksudnya. Sebenarnyalah bahwa ia sama sekali tidak ingin melawan Kediri dan apalagi Singasari. Tetapi yang ingin dilakukannya adalah menghancurkan padepokan kecil yang dipimpin oleh Ki Kasang Jati. musuh bebuyutannya.

Di tempat yang terpisah, maka Ki Dukut telah menempa beberapa orang yang dipilih dari antara gerombolan-gerombolan yang pernah di kalahkannya. Ki Dukut memilih orang-orang muda di antara mereka, yang menurut pertimbangannya masih menyimpan kemungkinan yang besar bagi masa depannya.

Dalam pada itu, selama Ki Dukut sibuk menempa orang-orang yang telah dipilihnya, maka orang-orang yang memburunya pun telah menjelajahi beberapa padukuhan dan padepokan. Mereka singgah di beberapa tempat yang pernah tersangkut ke dalam usaha Ki Dukut untuk menghancurkan Ki Kasang Jati, Tetapi gagal.

“Seorang pemimpin padepokan yang menerima Mahisa Agni, Witantra dan Pangeran Kuda Padmadata singgah di padepokannya, telah menyatakan kepada mereka, bahwa masih belum ada tanda-tanda bahwa Ki Dukut akan datang ke padepokannya.

“Syukurlah” berkata Mahisa Bungalan, “mudah-mudahan ia tidak lagi menuruti kata hatinya yang sesaat itu“

“Mudah-mudahan” sahut pemimpin padepokan itu.

“Meskipun demikian, kalian jangan menjadi lengah“ pesan Mahisa Agni.

“Kami akan menjaga padepokan kami sejauh-jauh dapat kami lakukan, meskipun kami tahu, bahwa Ki Dukut adalah seorang yang pilih tanding. Tetapi ia kini seorang diri” berkata pemimpin padepokan itu, “bagaimanapun juga, maka seisi padepokan ini harus diperhitungkannya”

Mahisa Agni mengangguk-angguk. Ia dapat mengerti, bahwa seorang diri memang sulit untuk melawan seisi padepokan betapapun juga ia seorang yang mumpuni. Namun demikian, seandainya seisi padepokan itu akhirnya dapat mengalahkannya, tetapi korbannya pun tentu tidak sedikit.

Ketika ketiga orang itu kemudian, meneruskan perjalanan mereka, dan singgah di padepokan lain, maka keterangan yang didengarnya pun hampir serupa.

Namun ketika ia singgah di padepokan yang lain lagi, maka ketika orang itu telah mendengar keterangan yang lain, meskipun tidak menyangkut tentang Ki Dukut, tetapi keterangan itu agaknya cukup menarik.

“Bahaya yang mengancam padepokan ini, ternyata bukan saja datang dari Ki Dukut” berkata pemimpin padepokan itu.

“Apakah ada pihak lain yang telah melakukan pesan dendam dari Ki Dukut?“ bertanya Mahisa Agni.

“Bukan, sama sekali bukan. Tetapi diujung hutan sebelah, telah berhimpun beberapa orang yang telah terpilih dari lingkungan para perampok untuk mendapat latihan-latihan khusus” berkata pemimpin padepokan itu.

“Dari mana kau mengetahuinya?“ bertanya Witantra.

“Perampok-perampok itu tidak terlalu ganas terhadap orang-orang yang sering berhubungan dengan mereka untuk mendapatkan persediaan makan. Mereka membeli dengan harga yang wajar. Mereka sama sekali tidak memaksakan kehendaknya kepada orang-orang yang sempat berhubungan dengan mereka untuk menjual bahan-bahan makanannya” jawab pemimpin padepokan itu, “pemimpinnya seorang tua bernama Rajawali Penakluk Bumi”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Nama itu terdengar aneh ditelinganya. Namun demikian ia tidak memberikan tanggapan atas nama itu. Demikian juga Witantra dan Pengeran Kuda Padmadata.

Namun demikian Pangeran itu bertanya, “Apa saja yang mereka katakan tentang kelompok mereka itu?”

“Mereka tidak mangatakan sesuatu yang penting. Yang mereka katakan hanyalah, bahwa kawan-kawan mereka terdiri dari orang-orang yang berasal dari lingkungan yang berbeda. Mereka di tempat terpencil itu mendapat latihan-latihan kanuragan dari pemimpin mereka yang yang mereka sebut Rajawali Penakluk itu”

“Memang suatu masalah tersendiri” berkata Witantra, “masalah yang tidak terdapat pada padepokan-padepokan lain yang jauh dari tempat ini”

“Ya” sahut pemimpin padepokan itu, “berita itu membuat kami cemas. Meskipun sampai sekarang, mereka tidak membuat kesulitan apapun, namun kita tidak tahu, apa yang akan mereka lakukan kemudian”

Mahisa Agni, Witantra dan Pangeran Kuda Padmadata ternyata sangat tertarik kepada berita itu. Nampaknya persoalannya tidak ada hubungannya dengan tugas mereka, mencari seseorang yang bernama Ki Dukut Pakering. Namun agaknya mereka tidak dapat melepaskan perhatian mereka kepada peristiwa yang nampaknya akan dapat mempengaruhi ketenangan lingkungannya.

Karena itu, maka Mahisa Agni, Witantra dan Pangeran Kuda Padmadata, memutuskan untuk tinggal di padepokan itu untuk beberapa saat lamanya. Mungkin ada sesuatu yang harus mendapat perhatian mereka.

“Kesediaan kalian tinggal di sini sangat menyenang kan kami” berkata pemimpin padepokan itu, “namun mudah-mudahan tidak akan terjadi sesuatu disini”

Demikianlah maka ketiga orang pendatang itupun mendapat tempat tinggal untuk beberapa lamanya di padepokan itu. Meskipun ada juga semacam kecurigaan terhadap mereka, karena ketiga orang itu sama sekali belum dikenalnya. Hanya karena keterangan mereka yang jelas dan pasti, tentang seorang anak muda bernama Mahisa Bungalan yang pernah berkunjung ke padepokan Ki Kasang Jati sajalah, maka ketiganya dapat diterima.

Namun demikian, pemimpin padepokan itu masih memerintahkan kepada para cantriknya untuk mengawasi ketiganya dengan diam-diam. Jika nampak sesuatu yang muncurigakan, maka mereka harus segera melaporkan kepadanya.

Dalam pada itu, Mahendra dan kelompok kecilnya telah menelusuri jalur jalan yang telah ditentukan pula. Mereka juga mengunjungi padepokan-padepokan yang terlibat dalam usaha Ki Dukut untuk mengalahkan Ki Kasang Jati tetapi gagal.

Namun dalam pada itu, Mahisa Bungalan ternyata masih belum membawa ayahnya ke padepokan yang pernah dikunjunginya, dan yang pernah menumbuhkan persoalan di dalam hatinya. Meskipun kadang-kadang ada juga getar kegelisahannya, bahwa justru padepokan itulah yang akan didatangi oleh Ki Dukut, namun ada semacam hambatan yang menghalanginya untuk berkunjung ke tempat itu mendahului padepokan-padepokan yang lain.

Ki Wastu yang mengerti perasaan anak muda itu sama sekali tidak mengusulkan sesuatu. Diikutinya saja arah yang ditentukan oleh Mahisa Bungalan. Bahkan ketika mereka sampai ke padepokan yang manjadi tempat yang dijanjikan untuk saling bertemu, ternyata bahwa Mahisa Agni dan kedua orang yang pergi bersamanya masih belum berada di tempat itu.

“Kita memang terlalu cepat sehari” berkata Mahisa Bungalan kepada ayahnya.

“Kita akan menunggu sampai besok. Biasanya pamanmu Mahisa Agni memegang hitungan waktu sebaik-baiknya. Jika besok mereka tidak datang, maka agaknya ada persoalan yang mereka hadapi di perjalanan.

Dengan demikian, maka Mahisa Bungalan yang sudah dikenal oleh pemimpin padepokan itu, telah diterima dengan senang hati. Bahkan kedatangannya telah ditunggu-tunggu oleh kegelisahan dan kecemasan bahwa Ki Dukut akan datang untuk melepaskan dendamnya.

Tetapi seperti keterangan yang didengar oleh Mahisa Agni, bahwa tidak ada tanda-tanda gerakan sama sekali yang akan dapat mengganggu ketenangan padepokannya.

Tetapi ternyata dihari yang sudah ditentukan, Mahisa Agni, Witantra dan Pangeran Kuda Padmadata tidak datang ke padepokan itu.

Karena itu. maka Mahendra dan mereka yang datang bersamanya menjadi gelisah.

“Tentu terjadi sesuatu di perjalanan” berkata Mahisa Murti.

“Mudah-mudahan tidak demikian. Mungkin ada sesuatu yang menarik perhatian, sehingga mereka tidak segera datang ke tempat ini”

“Kita akan dapat menelusurinya” berkata Mahisa Bungalan, “bukankah arah perjalanan paman Mahisa Agni, paman Witantra dan Pangeran Kuda Padmadata telah ditentukan?“

“Ya. Kita akan segera melihat, apakah yang terjadi atas mereka” berkata Mahendra.

Dengan demikian maka Mahendra telah minta diri kepada pemimpin padepokan itu untuk mencari tiga orang kawan mereka yang menempuh perjalanan yang lain.

“Tetapi bukankah kalian akan datang lagi ke padepokan ini?“ bertanya pemimpin padepokan itu.

“Mungkin. Tetapi mungkin pula tidak. Kami sedang memburu buruan yang berbahaya dan tangkas. Mungkin kami akan mengambil sikap tertentu sesuai dengan perkembangan keadaan” jawab Mahendra.

Demikianlah, maka Mahendra dan mereka yang pergi bersamanya segera meninggalkan padepokan itu. Mereka menuju ke padepokan berikutnya sesuai dengan rencana perjalanan Mahisa Agni.

Ketika mereka sampai ke tempat itu, ternyata bahwa Mahisa Agni, Witantra dan Pangeran Kuda Padmadata masih berada di tempat itu. Mereka tidak dapat dengan segera meninggalkan padepokan itu sesuai dengan waktu yang sudah ditentukan, karena mereka menghadapi persoalan yang khusus.

“Kami tahu, bahwa kalian tentu akan datang” desis Witantra.

Mahendra mengerutkan keningnya. Namun iapun kemudian berkata, “Kamilah yang menjadi gelisah. Syukurlah bahwa tidak terjadi sesuatu di perjalanan kalian”

“Kami mengawasi perkembangan sekelompok orang yang dengan sungguh-sungguh sedang mempelajari olah kanuragan di hutan sebelah” berkata Mahisa Agni yang kemudian memberikan beberapa keterangan sebagaimana didengarnya. Bahkan di hari terakhir, pemimpin padepokan itu telah memberikan pesan-pesan khusus kepada orang yang pernah melaporkan tentang sekelompok orang yang sedang meningkatkan ilmunya di hutan itu, agar apabila ia menjual beberapa jenis bahan makanan, ia memperhatikan orang-orang itu dengan lebih seksama.

Hal itu nampaknya memang sangat menarik hati Mahendra. Bahkan Ki Wastu pun berpendapat, bahwa kelompok itu memang memerlukan perhatian yang lebih besar.

“Ada yang sangat menarik pada kelompok itu“ berkata Ki Wastu, “nampaknya mereka mempunyai maksud tertentu. Mereka ingin meningkatkan kemampuan mereka, sementara mereka tidak ingin terganggu. Ternyata mereka sama sekali tidak berbuat sesuatu selain meningkatkan ilmu di tempat yang terpencil itu”

Pendapat itu sesuai dengan pendapat orang-orang lain yang berada di padepokan itu. Pemimpin padepokan itupun berpendapat demikian. Karena itu, maka yang perlu mereka ketahui, apakah yang sebenarnya dikehendaki oleh kelompok yang dengan sungguh-sungguh sedang menempa diri itu.

Dalam pada itu, orang-orang yang ditugaskan untuk mengetahui lebih banyak tentang kelompok itu, ternyata tidak dapat memberikan keterangan yang lebih jelas, selain bahwa orang-orang di tempat terpencil itu telah membeli beberapa jenis bahan makan dari mereka.

“Kita tidak dapat membiarkan mereka melakukan sesuatu yang dapat menggangu ketenangan daerah di sekelilingnya” berkata Mahisa Bungalan yang nampaknya tidak sabar menunggu.

Tetapi Mahisa Agni berkata, “Kita akan mencari keterangan yang lebih banyak tentang mereka“

“Sementara itu Ki Dukut telah merayap dari satu padepokan ke padepokan yang lain” sahut Mahisa Bungalan.

Pendapat Mahisa Bungalan itu dapat dimengerti oleh Mahisa Agni. Karena itu, maka katanya, “Apakah kita harus mempercepat perkembangan menempa diri itu“

“Maksud paman?“ bertanya Mahisa Bungalan.

“Kita akan memancing mereka, agar mereka segera berbuat sesuatu yang dapat memberikan petunjuk, apa yang sebenarnya akan mereka lakukan” berkata Mahisa Agni.

“Apakah yang dapat kita lakukan” bertanya Mahisa Bungalan.

Mahisa Agni merenung sejenak. Lalu katanya, “Sebaiknya di padepokan ini juga melakukan hal yang sama”

“Maksud paman di padepokan ini juga diselenggarakan latihan olah kanuragan seperti yang dilakukan di tempat terpencil itu?“ bertanya Mahisa Bungalan pula.

“Ya” jawab Mahisa Agni singkat.

Ternyata pendapat itu disetujui oleh pemimpin padepokan itu. Selagi beberapa orang yang berada di padepok-annya itu tetap berada bersama mereka, maka jika terjadi sesuatu, tamu-tamunya itu akan dapat membantunya. .

Demikian seperti yang telah direncanakan, maka di hari berikutnya, di padepokan itu telah diselenggarakan latihan-latihan olah kanuragan melampaui kebiasaan. Para cantrik dari padepokan itu mengikutinya justru di-tempat yang dapat dilihat dari luar padepokan.

Meskipun mereka berlatih di kebun belakang, namun pada saat-saat tertentu, para cantrik itu telah diperintahkan oleh pemimpin padepokannya untuk berbuat sesuatu yang dengan sengaja dapat memancing perhatian orang-orang yang menyaksikan.

Demikianlah, maka seperti yang diharapkan, maka berita tentang latihan-latihan yang melampaui kebiasaan itu, bahkan yang nampaknya dilakukan dengan sungguh-sungguh dan sangat berat itu dapat didengar oleh Ki Dukut yang menyebut dirinya Rajawali Penakluk itu.

“Apakah orang-orang padepokan itu sudah gila” berkata Ki Dukut kepada seseorang yang sedang mengantar beras kepada kelompok yang terpencil itu.

“Aku tidak tahu” jawab orang yang menjual beras itu, “yang aku ketahui mereka sedang berlatih melampaui saat-saat sebelumnya”

Ki Dukut mengerutkan keningnya sambil berkata, “Apakah kau pernah datang ke padepokan itu?“

“Jarang sekali. Mereka tidak pernah membeli beras, karena para cantrik mempunyai tanah yang cukup luas dan menghasilkan bahan makanan yang cukup bagi mereka”

Ki Dukut mengangguk-angguk. Ia pun mengerti, bahwa pada umumnya setiap padepokan memiliki sawah dan ladang yang cukup bagi persediaan makan mereka. Agak berbeda dengan kedudukannya di tempat terpencil itu. Ia tidak mempunyai waktu untuk membuka hutan bagi tanah persawahan. Dan ia tidak perlu minta agar orang-orangnya memberikan beras atau bahan makanan yang lain bagi orang-orangnya yang sedang ditempa, karena mereka mempunyai banyak uang untuk membeli dari orang-orang padukuhan di sekitarnya.

Ki Dukut tidak bertanya lebih banyak lagi kepada orang yang menjual beras kepadanya, karena orang itu tidak akan mengetahui terlalu banyak tentang para cantrik yang berlatih di padepokan itu. Hanya dari penjual beras itu, Ki Dukut dapat mengerti, saat-saat yang sering dipergunakan oleh para cantrik untuk berlatih.

Karena itu, maka Ki Dukut telah mengirimkan orang-orangnya yang terpercaya, termasuk pengikutnya yang setia, untuk melihat apakah yang dikatakan oleh penjual beras itu memang benar.

“Orang itu tidak berbohong” berkata pengikutnya yang setia, “Aku melihat para cantrik itu berlatih. Agaknya mereka bersembunyi atau setidak-tidaknya agar tidak mudah diketahui orang, karena mereka melakukan latihan-latihan itu di kebun belakang. Tetapi agaknya aku masih sempat melihatnya dari sela-sela pintu butulan kebun belakang yang terbuka”

“Apakah mereka tidak mempunyai sanggar?“ bertanya Ki Dukut.

“Mungkin ada” jawab pengawalnya, “tetapi yang agak menarik perhatian adalah, bahwa cantrik di padepokan itu agaknya terlalu banyak”

“Bagaimana dapat kau katakan terlalu banyak?“ bertanya Ki Dukut.

“Aku tidak dapat menghitung dengan pasti. Tetapi aku kira, padepokan itu dengan sengaja telah memperkuat diri”

Ki Dukut menjadi gelisah mendengar berita itu. Bahkan ia mulai bertanya kepada diri sendiri, apakah orang-orang di padukuhan itu mengetahui rencananya.

“Aku tidak pernah mengganggu mereka atau perbuatan-perbuatan lain yang dapat menimbulkan kecurigaan mereka” berkata Ki Dukut kepada diri sendiri.

Namun kemudian Ki Dukut pun menggeram, “Pemimpin padepokan itu pernah aku bawa ke padepokan Ki Kasang Jati. Tetapi ia tidak berbuat apa-apa. Bahkan orang itu telah berkhianat”

Tiba-tiba saja dendam Ki Dukut telah bergejolak di dalam hatinya. Apabila pemimpin padepokan itu mengetahui bahwa yang memimpin sekelompok orang yang sedang menempa diri di tempat terpencil itu adalah Ki Dukut, maka mungkin sekali ia telah mempersiapkan diri.

“Bukan salahku” berkata Ki Dukut, “orang itu telah menantang agar aku bertindak atas mereka. Perbuatan mereka benar-benar telah menggugah dendamku kepadanya. Sebenarnya aku tidak akan menghiraukannya lagi, karena orang itu tidak lebih dari tikus celurut yang tidak tahu diri”

Ki Dukut pun kemudian telah memanggil pengawalnya yang setia, yang mengikutinya dari satu tempat ke tempat yang lain.

“Selesaikan saja padepokan kecil yang berisi orang-orang gila itu” berkata Ki Dukut, “mereka mencoba menantang aku, seakan-akan mereka memiliki kekuatan yang cukup untuk membendung dendam dan kemarahanku”

Pengawalnya pun mengangguk-angguk, meskipun ia masih bertanya, “Apakah aku pergi sendiri bersama para pengikut yang lain?”

“Bawalah sebagian besar dari orang-orang yang telah menempa diri ini. Hancurkan saja padepokan itu dari pada akan dapat menimbulkan persoalan di hari depan. Agaknya aku tidak perlu ikut bersamamu. Padepokan itu hanya akan mengotori tanganku saja jika aku pergi bersamamu”

Pengikutnya yang setia itupun kemudian mempersiapkan sepasukan laskarnya yang telah ditempa beberapa saat lamanya. Mereka merasa bahwa mereka memilki kekuatan yang telah sempurna sehingga orang-orang di padepokan itu tidak akan dapat berbuat sesuatu kecuali menyerahkan leher mereka untuk dibantai.

“Kita akan mencoba, betapa kemampuan kita akan membuat orang-orang padepokan itu benar-benar menjadi gila. Tetapi sayang, bahwa mereka tidak mendapat kesempatan untuk mengagumi kemampuanku terlalu lama, karena mereka harus dimusnahkan” berkata salah seorang dari mereka.

Ketika pasukan itu sudah bersiap, maka mulailah mereka dengan tugas mereka untuk menghancurkan padepokan kecil yang menurut pemimpin mereka yang bergelar Rajawali Penakluk itu terlalu sombong dan tinggi hati, karena mereka telah berani menantangnya dengan latihan-latihan yang berat untuk mengimbangi latihan-latihan yang selenggarakan di tempat terpencil itu.

“Mereka harus mangerti, bahwa tanpa aku mereka sudah dapat kalian hancurkan. Apalagi jika aku, Rajawali Penakluk datang pula di antara pasukannya” berkata Ki Dukut itu.

Dengan gambira, sepasukan kecil yang terdiri dari orang-orang terbaik yang dikumpulkan oleh Ki Dukut dari beberapa gerombolan perampok itu menuju ke padepokan yang menurut penilaian mereka adalah padepokan yang tidak berarti. Hanya seorang sajalah di antara mereka yang dapat dihitung dalam lingkungan orang-orang yang berilmu. Selebihnya adalah para cantrik yang dungu, yang tidak memiliki bekal apapun juga. Jika mereka mendapat latihan sedikit di padepokan, itu sama sekali tidak akan berarti apa-apa melawan segerombolan perampok terpilih yang sudah ditempa beberapa saat lamanya oleh seorang yang bernama Ki Dukut Pakering yang menyebut dirinya Rajawali Penakluk itu.

Ternyata sepasukan kecil orang-orang yang mendendam itu, sama sekali tidak berusaha mendekati padepokan itu dengan diam-diam. Mereka sama sekali tidak takut bahwa perjalanan mereka telah diketahui oleh orang-orang padepokan.

“Mungkin ada di antara mereka yang sempat melarikan diri” berkata pengawal Ki Dukut yang memimpin pasukan kecil itu. Lalu, “tetapi agaknya mereka akan menunggu. Mereka dengan sombong telah berani menantang kita. Aku kira mereka terlalu bodoh untuk menilai, betapa kemampuan kita sudah meningkat. Setiap orang di antara kita akan dapat bertanding seorang lawan seorang dengan pemimpin padepokan yang sombong itu. Apalagi kita bersama-sama”

“Jika mereka menunggu kedatangan kita, maka tidak seorangpun yang akan sempat lari. Padepokan itu akan menjadi karang abang. Satu contoh yang baik bagi pedepokan-pedepokan lain yang berani menantang kita” sahut kawannya.

“Yang kita lakukan ini adalah sekedar pendahuluan. Kita merencanakan untuk mendatangi bukan hanya satu padepokan ini saja. Tetapi beberapa, terutama yang telah berkhianat terhadap pemimpin kita” desis pengawal itu.

Orang-orangnya tidak bertanya, kapan dan bagaimana pemimpin padepokan itu telah berkhianat. Yang menyesak di dalam dada mereka adalah satu kegembiraan bahwa akan dapat menjajagi kemampuan mereka sendiri.

Demikianlah maka pasukan itu semakin lama menjadi semakin dekat dengan padepokan kecil yang menurut pengamatan para perampok itu sedang mempersiapkan diri, yang dinilai oleh Ki Dukut sebagai dengan sengaja telah menantang mereka.

Dalam pada itu, padepokan kecil itu pun sebenarnya telah bersiaga menghadapi segala kemungkinan. Seorang pengawas yang melihat kehadiran sepasukan kecil, segera memasuki ruang dalam rumah induk padepokan itu untuk memberikan laporan.

Namun sebenarnyalah bahwa pemimpin padepokan itu menjadi berdebar-debar pula. Yang diketahuinya memiliki kemampuan yang tinggi di antara mereka, barulah Mahisa Bungalan dan Ki Wastu yang pernah berada di padepokan Ki Kasang Jati. Seandainya yang datang itu benar-benar orang yang terlatih dan bahkan dengan guru mereka, yang disebut Rajawali Penakluk itu, apakah padepokan itu dapat bertahan, meskipun tamu-tamu mereka bersedia membantunya.

“Mereka langsung menuju padepokan ini” berkata pengawas itu.

“Baiklah” berkata pemimpin padepokan itu, meskipun detak jantungnya terasa semakin cepat, “siapkan kawan-kawanmu. Para Cantrik harus menyadari apa yang dapat terjadi pada padepokan mereka. Karena itu, maka biarlah mereka berbuat sesuatu bagi padepokan ini”

Pengawas itupun kemudian keluar dari ruang dalam. Dengan berlari-lari kecil ia kemudian memanggil kawan-kawannya. Setengah berteriak ia berkata, “Bersiaplah menghadapi segala kemungkinan. Orang-orang yang berlatih di hutan itu datang dengan senjata mereka”

Meskipun hal itu tidak mengejutkan mereka, karena merekapun mengerti, bahwa padepokan itu sengaja memancing orang-orang yang tidak mereka ketahui dengan pasti, yang dengan tekun tengah menempa diri di hutan dekat dengan padepokan mereka, namun rasa-rasanya mereka menjadi berdebar-debar pula.

Sejenak kemudian, mereka pun telah menyiapkan diri menghadapi segala kemungkinan. Regol halaman telah mereka tutup. Sementara itu setiap sudut padepokan, mendapat pengawasan yang ketat dari para cantrik sesuai dengan petunjuk-petunjuk yang pernah mereka dengar, dan bahkan mereka pun pernah melakukannya dalam latihan-latihan yang khusus.

Dalam pada itu dua orang telah berdiri pada dua buah tangga di sebelah menyebelah regol halaman, sementara beberapa orang cantrik telah bersiap di belakang regol.

Di pendapa rumah induk padepokan itu, Pemimpin padapokan bersama tamu-tamunya berdiri dengan termangu-mangu. Masih ada keragu-raguan di dalam hatinya, apakah mereka akan dapat menyelamatkan padepokan itu dari ancaman orang-orang yang tidak mereka kenal.

“Agaknya bukan dendam Ki Dukut yang akan menghancurkan padepokan ini, tetapi justru dari pihak yang tidak aku kenal sama sekali” berkata pemimpin padepokan itu di dalam hatinya.

Sementara itu, dari kejauhan telah terdengar suara sorak yang riuh. Agaknya orang-orang yang datang menyerang padepokan itu berusaha untuk mengecilkan hati lawannya dengan teriakan-teriakan yang mendebarkan.

“Mereka sudah dekat” desis Mahisa Bungalan.

Mahisa Agni mengangguk. Kemudian iapun berkata, “Marilah kita akan menunggu di halaman”

Dengan hati yang berdebar-debar pemimpin padepokan bersama tamunya itu pun segera turun ke halaman. Mereka melihat para cantrik yang sudah bersiaga. Di depan regol beberapa orang cantrik dengan tombak dan pedang terhunus sedang menunggu. Demikian orang-orang yang menyerang padepokan itu memecah pintu regol. maka perut mereka akan segera dilubangi dengan ujung-ujung tombak.

Namun ternyata Mahisa Agni kemudian berkata, “Kemarilah. Kita akan mempertahankan padepokan ini di halaman. Tidak semua orang dari meraka akan memasuki halaman ini lewat regol. Tetapi sebagian dari mereka bahkan sebagian besar, akan memasuki halaman ini dengan meloncati dinding”

“Setiap sudut telah diawasi” desis seorang cantrik yang terhitung tua.

“Bagus. Tetapi jika mereka berloncatan masuk, Maka kita akan menjadi terlalu sibuk, karena sebagian besar dari kita berkumpul di depan regol”

“Apakah mereka harus membiarkan penyerang itu memasuki regol halaman tanpa perlawanan?“ bertanya cantrik itu pula.

“Kita bertempur di halaman dan di kebun. Tidak berjejal-jejal di regol“ desis Mahisa Agni.

Cantrik itu tidak menjawab. Sementara beberapa orang cantrik yang lain telah meninggalkan regol dan memencar di halaman dalam kelompok-kelompok kecil.

“Kita akan membagi diri pula” desis Mahisa Bungalan.

Mahisa Agni mengangguk-angguk. Sementara Witantra berkata, “Kita harus berada di segala arena. Kita belum tahu kemampuan lawan tetapi juga kemampuan padepokan ini”

“Aku berada di halaman“ tiba-tiba saja Mahisa Murti memotong.

“Mahisa Murti dan Mahisa Pukat akan berada bersama ayah” desis Mahisa Agni.

“Tetapi di halaman ini” Mahisa Pukat Menyela pula.

“Baiklah” desis Mahisa Agni, “Mahendra dan kedua anak itu akan berada di halaman. Mahisa Bungalan akan berada di sisi kanan bersama aku, sementara Witantra dan Ki Wastu akan berada di sisi Kiri”

“Aku“ pemimpin padepokan itu bertanya.

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Justru pemimpin padepokan itulah yang bertanya kepadanya. Namun iapun kemudian menjawab.

“Kau disini, bersama Mahindra dan kedua anak-anaknya” Namun dalam pada itu. Pangeran Kuda Padmadata bertanya pula.

“Apakah aku tidak akan ikut dalam pertempuran ini?“ Mahisa Agni justru termangu-mangu. Namun kemu dian jawabnya ragu.

“Silahkan. Apa yang baik menurut pendapatmu.

Pangeran Kuda Padmadata menyadari. Bahwa Mahisa Agni tidak dapatnya menyebutnya sebagai seorang Pangeran, karena ia memang tidak berpakaian seorang Pangeran. Namun Mahisa Agni ragu-ragu pula untuk tidak mengucapkan sebutannya.

Namun dalam pada itu. Pangeran Kuda Padmadata tidak sempat memikirkannya terlalu panjang, seperti juga Mahisa Agni. Diluar padepokan telah terdengar orang-orang yang datang itu bersorak-sorak gemuruh.

“Satu cara untuk mempengaruhi lawannya” desis Mahisa Agni kepada pemimpin padepokan itu.

Ternyata sorak yang gemuruh itu benar-benar telah mempengaruhi para cantrik. Rasa-rasanya jantung mereka bardebar semakin cepat. Apalagi jika mereka mendengar di antara sorak sorai itu. kata-kata umpatan yang kasar.

“Mereka sudah sangat dekat“ orang yang memanjat tangga di sisi regol berteriak.

“Baiklah” desis Mahisa Agni, “kita mengambil tempat kita masing-masing. Namun ia sempat berkata kepada Mahisa Bungalan, “Lawan kita adalah orang-orang yang tidak mengerti persoalan yang sebenarnya kita hadapi. Mungkin mereka sekedar terpancing oleh latihan-latihan yang sengaja kita lakukan disini. Karena itu, kita jangan dibakar oleh nafsu berlebihan”

Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam. Sementara Mahendra berkata kepada Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, “Berhati-hatilah. Tetapi ingatlah pesan pamanmu Mahisa Agni”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengerutkan keningnya. Namun mereka pun kemudian mengangguk kecil.

Dalam pada itu, kedua orang yang berada di tangga sebelah menyebelah regol pun telah turun pula sambil berkata, “Mereka telah berpencar”

Mahisa Agni mengangguk kecil. Ia memang sudah memperhitungkan bahwa orang-orang itu tidak berjejal-jejal memasuki padepokan itu lewat regol. Karena itu, maka para cantrik pun telah dimintanya untuk berpencar pula.

Sejenak kemudian, maka suara riuh sorak dan teriakan-teriakan itu seolah-olah telah mengepung padepokan. Seakan-akan di sekitar padepokan itu telah berkumpul lawan yang jumlahnya tidak terhitung.

Karena itu, para cantrik yang belum berpengalaman, bahkan pemimpin padepokan itu, menjadi sangat gelisah Apalagi mereka belum mengetahui tingkat kemampuan orang-orang yang berada di padepokannya selain Mahisa Bungalan dan Ki Wastu. Apakah artinya kedua orang itu jika mereka harus berhadapan dengan lawan yang tidak terhitung.

Sejenak kemudian, para cantrik telah dikejutkan oleh loncatan-loncatan lawan mereka ke atas dinding padepokan, sementara suara teriakan dan sorak yang mengguruh masih saja terdengar.

“Hancurkan semuanya“ terdengar seseorang berteriak.

“Bunuh semua“ yang lain menyahut lebih keras, “kita jadikan padepokan ini menjadi kuburan yang besar”

“Bantai para cantrik yang dungu” terdengar suara yang lain lagi, “jangan beri kesempatan mereka tetap hidup. Seorangpun jangan”

Teriakan-teriakan itu membuat para cantrik menjadi ngeri. Seolah-olah mereka dihadapkan kepada sekelompok hantu yang sudah siap mencabut nyawa mereka menghisap darah mereka sampai kering.

Karena itu. maka terasa tangan meraka meskipun menggenggam senjata, namun agak gemetar.

Bahkan ada diantara “para cantrik yang menyesal, kenapa mereka telah bersedia menurut petunjuk para pendatang yang belum mereka kenal dengan baik. Akibatnya ternyata sangat buruk bagi padepokan itu serta penghuninya.

Pemimpin padepokan itu pun menjadi termangu-mangu pula. Ia memiliki kemampuan yang cukup. Namun ia menyadari, bahwa cantrik-cantriknya masih dalam tataran permulaan dihidang olah kanuragan. Meskipun ada seorang di antara, mereka yang sudah memiliki ilmu lebih baik dari kawannya serta dua orang lainnya selapis lebih tinggi dari kebanyakan para cantrik, namun mereka tidak akan banyak dapat membantu kawan-kawannya.

Dalam pada itu, orang-orang yang menyerang padepokan itu sudah mulai berloncatan turun. Wajah mereka yang kasar dan sikap mereka yang garang, benar-benar membuat para cantrik menjadi sangat cemas.

“Apakah kalian akan melawan“ seorang yang masih berdiri di atas dinding padepokan berteriak sambil bertolak pinggang.

Tidak seorang pun yang menyahut.

“He, apakah kalian akan melawan kami?” orang itu bertanya lagi dengan suara lantang”

Tidak seorangpun dari para cantrik, bahkan pemimpin padepokan itu yang menjawab.

“Sebaiknya kalian tidak melawan. Dengan demikian maka tugas kami akan cepat selesai. Kalian berdiri berjajar sambil menundukkan kepala. Kami akan memenggal kepala kalian seorang demi seorang. Dengan demikian maka kalian akan mengalami saat kematian yang menyenangkan” orang itu berhenti sejenak, lalu, “tetapi jika kalian melawan, maka kalian akan mengalami saat kematian yang paling mengerikan yang pernah terjadi atas seseorang”

Suasana di halaman itu menjadi semakin tegang. Bahkan ada di antara para cantrik yang menjadi pucat.

Namun dalam ketegangan itu, tiba-tiba saja terdengar suara tertawa tertahan-tahan. Ketika semua orang berpaling kearah suara tertawa itu; mereka melihat Mahisa Murti dan Mahisa Pukat berdiri berdesakkan sambil menahan tawa mereka.

“He, anak gila” teriak orang yang berdiri diatas dinding, “kau akan mati lebih dahulu dengan cara yang akan aku pilih”

Mahisa Murti masih tertawa tertahan-tahan. Sementara Mahisa Pukat menjawab, “Jangan seperti orang mengigau”

Jawaban Mahisa Pukat itu telah mendebarkan segenap jantung mereka yang mendengarnya. Bukan saja orang yang berdiri di atas dinding, tetapi para cantrik pun menjadi berdebar-debar. Sebagian dari mereka merasa heran, namun sebagian lagi telah menyesali sikap yang gila itu. Dengan demikian, maka orang-orang yang menyerang padepokan kecil itu akan menjadi semakin marah, sehingga mereka akan bertindak semakin kasar. Dengan demikian tidak akan ada harapan lagi bagi mereka untuk mendapat kesempatan hidup.

Namun dalam pada itu, kedua anak muda itu agaknya sama sekali tidak merasa takut.

Orang yang berdiri di atas dinding itu benar-benar menjadi marah. Namun sebelum ia sempat berkata sesuatu Mahisa Murti telah mendahului, “Aku belum pernah melihat lelucon seperti ini. Alangkah menarik jika kami bersama-sama harus berdiri dengan kepala tunduk. Kemudian satu demi kepala kami akan dipenggal”

Terdengar orang itu mengumpat kasar. Dengan geram ia berteriak, “Tangkap semuanya hidup-hidup. Jangan seorangpun yang terbunuh. Aku sendirilah yang akan membunuh mereka seorang demi seorang. Aku memerlukan waktu lima hari untuk melakukannya”

Perintah itu benar-benar mengerikan bagi para cantrik dan pemimpin padepokan itu. Tetapi dalam pada itu, Mahisa Bungalan yang tidak sabar lagi itupun berteriak lantang, “Cepatlah mulai. Kami sudah menunggu”

Orang yang berdiri di atas dinding itu berpaling kearah Mahisa Bungalan. Namun terasa darahnya berdesir di jantungnya. Meskipun sekilas, ia merasa pernah melihat anak muda itu.

Karena itu, maka tiba-tiba saja sikapnya telah berubah. Ia tidak lagi merasa ia akan dapat berbuat sekehendak hatinya. Bahkan tiba-tiba ia memperingatkan orang-orangnya, “Berhati-hatilah. Terlengah, setiap orang tidak boleh terlepas dari tangan kita”

Yang terdengar adalah suara tertawa Mahisa Murti dan Mahisa Pukat lagi. Bahkan terdengar Mahisa Pukat berkata, “Orang itu hanya pandai berteriak-teriak saja.

Para cantrik dan pemimpin padepokan itu menjadi bingung. Selagi hati mereka dicengkam oleh kengerian, maka anak-anak muda itu seolah-olah hanya bergurau saja menghadapi ancaman maut yang hampir menerkamnya.

Kemarahan orang yang berdiri di atas dinding itu tidak lagi dapat ditahan. Karena itu, maka iapun berteriak nyaring sambil meloncat, “Sekarang, bunuh mereka”

Bersama dengan itu, Mahendra pun berdisis, “Lindungi para cantrik. Berpencarlah”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang berdiri berdesakan itupun berpencar. Merekapun mengerti, bahwa para cantrik, bahkan pemimpin padepokan itu menjadi cemas. Jumlah orang-orang yang memasuki padepokan itu nampaknya lebih banyak dari jumlah orang-orang yang berada di padepokan. Apalagi orang-orang itu nampak kasar dan menilik sikapnya, mereka memiliki kemampuan yang menyakinkan.

Sementara itu, para cantrik yang baru mengenal dasar-dasar olah kanuragan itupun merasa, betapa kecilnya mereka di hadapan orang-orang yang garang itu.

Selagi para cantrik dan pemimpin padepokan itu termangu-mangu, Mahendra yang berdiri tidak terlalu jauh dari pemimpin padepokan itu berbisik, “Perintahkan kepada para cantrikmu, agar mereka tidak membunuh diri dengan kecemasannya sendiri. Yang mereka hadapi adalah orang-orang yang memiliki kelemahan seperti kebanyakan orang. Karena itu, mereka harus mempertahankan hidup mereka sesuai dengan kodratnya”

Pemimpin padepokan yang cemas itu, ternyata tersentuh hatinya mendengar bisik Mahendra. Rasa-rasanya iapun seperti terbangun dari mimpi buruknya. Ia sadar, bahwa menghadapi orang-orang yang liar itu, para cantrik tidak dapat berbuat lain kecuali mempertahankan hidup mereka. Karena itu, maka tiba-tiba saja ia berteriak, “Siapa yang ingin hidup, berusahalah untuk tetap hidup. Siapa yang ingin membunuh diri, serahkanlah kepalamu kepada orang-orang liar yang memasuki padepokan ini”

Kata-kata pemimpin padepokan itu bagaikan gemuruhnya guruh dilangit. Para cantrik yang ragu-ragu itupun menyadari keadaanya. Jika mereka ragu-ragu dan apalagi kehilangan keberanian untuk melawan, maka tidak ada ubahnya seperti mereka yang berdiri sambil menyerahkan lehernya untuk dipenggal.

Karena itu, maka para cantrik itupun tiba-tiba telah menggenggam senjata mereka erat-erat. Meskipun masih ada satu dua di antara mereka yang ragu-ragu, namun senjata-senjata mereka pada umumnya telah teracu.

Sejenak kemudian, orang-orang yang memasuki padepokan itu telah bergerak maju dari beberapa arah. Mereka ternyata memasuki padepokan bukan saja meloncati dinding halaman, tetapi ada diantara mereka yang meloncatl masuk dari sisi padepokan. Namun sementara itu, Mahisa Agni dan Mahisa Bungalan sudah berdiri di sisi kanan, Sementara Witantra dan Ki Wastu di sisi kiri. Disamping mereka ada juga beberapa orang cantrik yang berdiri termangu-mangu. Namun yang kemudian, mereka bagaikan menemukan kekuatan mereka kembali.

“Marilah” berkata Mahisa Agni, “kita akan segera mulai. Jangan ragu-ragu lagi, agar seperti kata-kata pemimpin padepokanmu, bahwa kalian harus mempertahankan hidupmu”

Karena itu, ketika orang-orang yang menyerang padepokan itu menyerang mereka, para cantrik itupun bersiap melawan dengan senjata di tangan.

Namun yang datang itu adalah sekelompok orang-orang yang terpilih di antara beberapa kelompok penjahat dan penyamun yang tersebar di daerah yang luas, yang ternyata telah dapat ditaklukkan oleh Ki Dukut yang mempergunakan gelar yang mengerikan. Apalagi mereka telah mendapat tempaan yang khusus dari Ki Dukut sendiri, sehingga mereka benar-benar merupakan orang-orang yang berbahaya.

Karena itu, maka orang-orang itu pun merasa, bahwa yang mereka hadapi di padepokan itu adalah cantrik-cantrik yang dungu dan bodoh. Yang sama sekali tidak mengerti, betapa berbahayanya ujung pedang.

Beberapa orang yang memasuki padepokan itu, masih saja berusaha menakut-nakuti lawannya. Ketika mereka mulai bergerak, maka satu dua orang diantara mereka telah berteriak-teriak pula dengan mengucapkan kata-kata yang mengerikan.

Yang mula-mula bertempur diantara mereka adalah orang-orang yang berada di halaman. Mahisa Pukat dan Mahisa Murti agaknya tidak sabar lagi menunggu terlalu lama. Karena itu, maka mereka pun segera meloncat menyerang orang-orang yang bergerak maju sambil berteriak-teriak itu.

Orang-orang yang menyerang Padepokan itu tidak menghiraukan sikap Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Justru mereka menganggap bahwa kedua anak-anak itu belum mengenal bahaya yang gawat yang akan dapat terjadi atas mereka.

Namun apa yang dilakukan oleh kedua anak-anak muda itu benar-benar telah mengejutkan lawan-lawan mereka. Bahkan Mahendra pun harus menarik nafas dalam dalam melihat tingkah kedua anaknya itu.

Ketika keduanya meloncat menyerang, maka tiba-tiba saja diantara teriakan-teriakan yang mengerikan dari orang-orang yang datang menyerang itu telah terdengar teriakan kesakitan. Adalah di luar dugaan setiap orang, bahwa tiba-tiba saja dua orang telah terhuyung-huyung. Seleret luka telah menganga di dada dan lambung. Yang seorang terdorong beberapa langkah surut sambil berusaha menahan darah yang mengalir dari lukanya di dada, sedang seorang lagi tidak sempat bergeser dari tempatnya. Ia telah terjatuh di atas lututnya. Namun kemudian sambil memegangi lambungnya maka iapun jatuh menelungkup.....

Bersambung....!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...