Rabu, 03 Februari 2021

PANASNYA BUNGA MEKAR JILID 13-02

PANASNYA BUNGA MEKAR : 13-02
“Aku masih memberi kesempatan kalian untuk menyerah” berkata Ki Dukut, “atau benar-benar aku akan mengambil sikap yang dapat membuat kalian menyesal”

Para perampok itu termangu-mangu. Sekilas mereka memandang pemimpin mereka yang menjadi ragu-ragu pula.

“Aku berjanji, bahwa aku tidak akan membuat perubahan apapun dalam lingkungan hidup kalian. Aku hanya ingin menjadi pemimpin kalian. Kemudian memperluas pengaruh kelompok yang aku pimpin sehingga kita semuanya akan menjadi kelompok yang paling kuat di antara kelompok-kelompok perampokan dan penyamun. Kita semuanya akan memperluas daerah kita dan menguasai sumber hidup ditempai yang luas. Kita akan menentukan batas penjelajahan dan kitalah yang akan membagi kemungkinan bagaimana masa depan kita semuanya”

Hampir diluar sadar, maka para perampok itu seakan-akan telah menghentikan perlawanan. Bahkan pemimpin merekapun akhirnya harus mengakui kenyataan, bahwa ia tidak akan dapat memenangkan pertempuran itu meskipun ia memanggil kawan-kawannya yang lain. Karena itu, agaknya ia memilih untuk tetap hidup meskipun tidak lagi sebagai pemimpin, daripada dilemparkan ke dalam sarang semut dompo yang sangat ditakuti.

“Apakah kalian menerima tawaranku?“ bertanya Ki Dukut.

Pemimpin perampok itu menjadi ragu-ragu. Namun akhirnya ia berkata, “Aku tidak dapat melawan kehendakmu. Karena itu, jika kau berjanji untuk memperlakukan kami dengan baik, aku akan bersedia memenuhi keinginanmu”

Ki Dukut pun kemudian tersenyum. Katanya, “Aku berjanji. Aku bukan pembunuh yang kasar. Aku hanya membunuh jika terpaksa. Demikian juga atas korban-korbanku dalam petualanganku”

Pemimpin perampok itu pun kemudian menyarungkan senjatanya sambil berkata, “Kami akan menempatkan diri sebagai pengikutmu”

Ki Dukut mengangguk-angguk. Kemudian katanya, “Tunjukkan aku, dimana tempat tinggalmu. Atau tepatnya, dimana sarangmu”

Sekelompok perampok itu pun kemudian membawa Ki Dukut ke dalam sarangnya, yang terletak di sebuah goa di lereng pegunungan.

Beberapa orang yang berada di goa itu terkejut melihat kehadiran dua orang asing di tempat tinggal mereka. Seorang yang berwajah gelap penuh dengan goresan-goresan bekas luka melangkah menyongsong kedatangan mereka sambil bertanya kepada pemimpin perampok itu, “Siapakah mereka, dan apakah maksud mereka datang kemari?”

“Orang ini adalah pemimpin kita yang baru” desis pemimpin perampok itu.

Orang berwajah kasar penuh goresan bekas luka itu menjadi tegang. Katanya, “Apakah kau bergurau?“

“Tidak. Aku tidak bergurau. Aku berkata sebenarnya” jawab pemimpin yang telah dikalahkan oleh Ki Dukut itu.

“Kau gila” geram orang berwajah kasar itu, “aku mengakui kau sebagai pimpinan kami karena kau memiliki perhitungan yang luas di daerah perburuan yang rumit ini. Kau disegani oleh beberapa orang pemimpin perampok yang lain. Kau jugalah yang mula-mula menghimpun kami dalam satu kelompok yang memiliki kekuatan yang kini dapat kita banggakan. Lalu, apakah artinya kedatangan orang baru yang tiba-tiba saja menyebut dirinya pemimpin karni disini”

Pemimpin perampok yang telah dikalahkan oleh Ki Dukut itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Aku sudah dikalahkannya”

“Gila” geram orang berwajah cacad itu. Lalu katanya, “sebenarnya aku mengakui kau sebagai pimpinan di daerah ini karena kemampuanmu mengurangi masalah-masalah yang pelik yang timbul di antara pekerjaan pekerjaan kami. Bukan karena aku mengakui kau adalah orang yang paling kuat disini. Jika kau kemudian menyerah kan kedudukan ini kepada orang lain yang, telah mengalahkanmu, maka akupun berhak melakukannya. Dari pada pimpinan kelompok ini jatuh ke tangan orang yang tidak kita kenal, maka aku menuntut, agar aku sajalah yang menjadi pimpinan disini”

Bekas pemimpin perampok yang telah dikalahkan itupun berkata, “Terserahlah kepadamu. Aku sudah tidak dapat berbuat sesuatu. Jika kau ingin memperbandingkan ilmu, lakukanlah jika orang baru yang menyebut dirinya Rajawali Panakluk Bumi ini bersedia melayanimu”

“Aku akan membunuhnya. Melawan atau tidak melawan. Ia sudah melihat daerah ini. Ia sudah melihat tempat kedudukan kita yang mungkin akan berakibat buruk bagi kita” geram orang itu.

Pemimpin perampok yang sudah dikalahkan itupun kemudian bersikap acuh tidak acuh sambil berkata, “Aku bukan pemimpin lagi disini. Bicarakan dengan orang asing itu”

“Persetan“ orang berwajah cacad itu menggeram, “apakah kau benar-benar ingin menjadi pemimpin disini?“ iapun kemudian bertanya kepada Ki Dukut.

“Ya” jawab Ki Dukut singkat, “apakah kau berkeberatan?“ Sikap Ki Dukut benar-benar menyakitkan hati. Karena itu, maka orang itupun membentak, “Baik. Kita akan melihat, siapakah yang paling pantas untuk menjadi pimpinan disini”

Ki Dukut tersenyum. Katanya, “Sikapmu bagus sekali. Bukan hanya kau, tetapi setiap orang disini akan yakin tentang aku”

Kata-kata itu semakin membuat jantung orang berwajah kasar itu bagaikan terbakar. Orang tua itu nampaknya tidak menyakinkan bahwa ia dapat mengalahkan pemimpin perampok yang diakui dan disegari! oleh beberapa kelompok yang lain.

Karena itu, maka orang berwajah kasar itupun segera melangkah semakin mendekat. Dengan suara lantang ia berkata, “Jangan menyesal jika kau akan mati disini sebelum kau berhasil memperdayakan aku. Agaknya kau telah membius pemimpinku dan memaksanya mengakui kau sebagai pemimpinnya dalam ketidak sadarannya”

“Aku telah dikalahkan” teriak pemimpin perampok yang sudah menyerahkan pimpinan itu.

“Persetan” geram orang berwajah cacat itu.

“Sebaiknya kau memang mengetahui siapakah yang kau hadapi. Baru kemudian kau dan orang-orang lain yang ada disini akan yakin, bahwa aku memang Rajawali Penakluk Bumi. Bukan hanya kelompok ini sajalah yang akan aku taklukkan. Tetapi setiap gerombolan perampok yang kita dengar namanya, akan kita datangi dan kita taklukkan. Yang melawan kita hancurkan, yang dengan suka. rela menyerah, akan kita beri wewenang di daerah jelajah tertentu”

“Omong kosong” geram orang berwajah kasar itu, “bersiaplah untuk mati. Kita akan berperang tanding. Kau atau aku”

“Kau tidak usah sesorah” jawab Ki Dukut, “marilah. Jika kau ingin mati, sebaiknya kau memang membunuh diri. Tetapi kau tidak akan berarti apa-apa bagiku”

Orang itu tidak lagi dapat menahan diri. Darahnya sudah mendidih, sehingga dengan serta merta iapun telah meloncat menyerang.

Ki Dukut mengerutkan keningnya. Ia melihat orang itu memang memiliki kemampuan dan kekuatan yang cukup, yang memang dapat dibanggakan diantara mereka. Tetapi bagi Ki Dukut, yang dilakukan oleh orang itu memang tidak banyak berarti. Karena itu, maka Ki Dukutpun sempat mengelak dan dengan cepat ia menangkap tangan orang itu menariknya dan kemudian memutarnya dengan kekuatan yang besar.

Orang itu bertempur satu lingkaran. Ketika Ki Dukut melepaskannya, maka ia justru terlempar dan jatuh terguling di tanah.

Ki Dukut tertawa. Katanya, “Bangkitlah anak nakal. Jangan banyak tingkah. Menyerah sajalah dan akui aku sebagai pemimpinmu”

Orang berwajah kasar yang terbanting itu memandang Ki Dukut dengan mata yang bagaikan membara. Perlahan-lahan ia bangkit sambil menggeram.

“Anak setan” katanya, “kau kira caramu yang kasar itu dapat menggetarkan hatiku”

“O, kau anggap aku bermain kasar” jawab Ki Dukut, “baiklah. Aku akan mengimbangi permainanmu”

“Kau sudah melakukannya” jawab orang berwajah kasar itu, “sekarang sudah saatnya aku membunuhmu”

Ki Dukut mengerutkan keningnya melihat orang berwajah kasar itu meloncat mengambil senjatanya yang bersandar pada dinding padas. Sebuah bindi kayu yang besar belimbingan dengan lingir baja.

“Senjatamu memang menakutkan” geram Ki Dukut, “tetapi itu tidak akan berarti apa-apa bagi Rajawali Penakluk Bumi”

Orang berwajah kasar itu sama sekali tidak menjawab. Ia langsung meloncat menerkam dengan ayunan bindinya yang berat.

Tetapi Ki Dukut masih sempat tertawa. Ia sudah bertekad untuk menunjukkan kemampuannya sehingga orang-orang yang menyaksikannya menjadi yakin, bahwa ia memang orang yang tidak ada bandingnya.

Karena itu, Ki Dukut tidak mau memperpanjang waktu perlawanan orang berwajah kasar itu. Demikian senjata itu terayun, maka Ki Dukut pun telah meloncat kesamping. Pada saat senjata itu lewat tanpa menyentuh tubuhnya, maka Ki Dukut lah yang meloncat demikian cepatnya sehingga hampir tidak tertangkap oleh tatapan mata telanjang.

Dengan serta merta, Ki Dukut menangkap pergelangan tangan orang itu, memilinnya dan dengan hentaknya yang kuat melemparkan senjata itu dari tangan orang berwajah kasar itu. Ternyata Ki Dukut benar-benar ingin menyelesaikan pertempuran itu dengan cepat. Karena itu, maka tanpa melepaskan tangan yang dipilihnya, Ki Dukut menangkap tengkuk lawannya dan menekannya dengan kuat.

Terdengar orang itu mengaduh. Dengan sisa kekuatannya ia berusaha menghentakkan dirinya. Tetapi tangkapan tangan Ki Dukut bagaikan himpitan sepasang gunung, sehingga semakin kuat ia berusaha, maka tangan dan tengkuknya justru menjadi semakin sakit.

“Aku dapat membunuhmu sekarang” berkata Ki Dukut, “tetapi aku tidak ingin melakukannya. Kau memang tidak berarti apa-apa bagiku, tetapi bagi kelompok kecil ini, aku kira tenagamu memang dibutuhkan”

Orang itu tidak menjawab. Yang terdengar adalah gejolak jantungnya yang berdentangan.

“Katakan“ desak Ki Dukut, “apakah yang kau kehendaki kemudian. Pimpinan, kematian atau apa?“

Orang itu tidak segera menjawab. Masih terdengar ia menggeram. Tetapi masih terdengar pula ia mengeluh kesakitan.

“Jawablah” berkata Ki Dukut, “aku adalah orang yang baik bagi kalian. Juga bagi orang gila ini. Kau mau apa sekarang? Aku akan memenuhi permintaanmu”

Orang itu masih berdiam diri. Tetapi ketika tangan Ki Dukut menekan semakin keras, maka iapun mengeluh semakin keras pula.

Tetapi Ki Dukut Pakering melepaskannya. Ia justru menekan semakin keras, sehingga orang itu berteriak karenanya.

“Tanganmu dapat patah, dan kau akan aku biarkan terkapar disini. He, apakah begitu maumu?“ bertanya Ki Dukut.

“Tidak“ orang itu berteriak.

“Jadi apa?“ bentak Ki Dukut.

“Aku menyerah“ akhirnya orang itu tidak dapat mengingkari kenyataan itu lagi. Ia tidak ingin tangannya patah dan kemudian dibiarkannya dirinya terkapar di antara batu-batu padas.

Ki Dukut termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun melepaskan orang itu dan mendorongnya sehingga orang itu jatuh terjerembab.

“Nah, siapa lagi yang tidak yakin terhadap kemampuanku?“ bertanya Ki Dukut kepada orang-orang yang memandang perkelaian itu dengan tegang.

Tidak seorangpun yang menjawab. Bahkan seolah-olah mereka telah membeku di tempatnya. Ujung jaripun tidak dapat mereka gerakkan, karena rasa-rasanya mereka telah dicengkam oleh kecemasan yang sangat.

“Nah, jika tidak ada lagi yang ingin mencoba kemampuanku, maka sekarang aku adalah pemimpinmu” berkata Ki Dukut.

Tidak seorangpun yang membantah. Mereka tidak dapat menolak kehadiran orang baru itu. Karena adalah suatu kenyataan bahwa orang itu memang tidak dapat dikalahkan oleh orang-orang terbaik dari gerombolan itu.

Karena itu, maka tidak seorang pun yang tidak menerima keadaan baru di dalam lingkungan kecil itu. Dengan berbagai pertanyaan yang bergulat disetiap hati, mereka menunggu, apakah yang kemudian akan terjadi.

Ternyata Ki Dukut yang kemudian menjadi pemimpin sekelompok perampok dan penyamun itu tidak membuat ketentuan-ketentuan baru. Ia lebih banyak membiarkan pemimpin yang lama melakukan kegiatan seperti yang selalu mereka lakukan.

Namun pada saat tertentu, tiba-tiba Ki Dukut itu memanggil semua orang di dalam gerombolannya untuk berkumpul. Dengan hati yang bertanya-tanya, maka setiap orangpun kemudian berkumpul di seputar Ki Dukut yang duduk berdampingan dengan pengikutnya yang setia, yang datang bersamanya ke tempat itu.

Ternyata yang dikatakan oleh Ki Dukut agak mengejutkan setiap orang di dalam gerombolan itu. Dengan nada yang pasti Ki Dukut berkata, “Aku adalah Rajawali Penakluk Bumi. Karena itu, aku tidak dapat duduk berdiri dan puas dengan keadaan seperti ini”

“Apakah maksudmu?“ bertanya bekas pemimpin gerombolan itu.

“Kita harus menembus batas jelajah kita. Kita tidak tidak puas dengan batas yang sekarang. Kita harus bebas menentukan daerah petualangan kita” berkata Ki Dukut

Orang-orang yang ada di dalam kelompok itu termangu-mangu. Bahkan orang berwajah kasar itu berkata, “Rajawali Penakluk Bumi. Bukankah dengan demikian berarti kita akan membenturkan diri dengan kekuatan-kekuatan di sekitar kita”

“Itulah yang aku kehendaki. Dengan demikian kita akan menunjukkan bahwa kita adalah kelompok yang paling kuat di antara gerombolan-gerombolan perampok dan penyamun yang ada di daerah ini. kita akan menguasai keadaan dan akhirnya kita akan mengatur segala-galanya”

Para pengikutnya menjadi ragu-ragu. Meskipun gerombolan itu adalah gerombolan yang disegani, tetapi jika gerombolan itu mulai melanggar persetujuan, maka gerombolan itu akan berhadapan dengan beberapa kelompok sekaligus.

Tetapi agaknya Ki Dukut yang disebut Rajawali Penakluk Bumi itu menjadi gembira. Bahkan katanya, “Kita harus dapat membuktikan, bahwa kita benar-benar dapat menjadi sebuah gerombolan yang paling berkuasa. Nah, siapakah yang berkeberatan”

Orang-orang yang mendengarkan rencana itu menjadi ragu-ragu. Tetapi mereka tidak berani menyatakan perasaan mereka. Bahkan mereka mencoba menilai Ki Dukut itu sendiri dihadapkan pada kemungkinan pelaksanaan rencana itu.

“Orang itu memang luar biasa” berkata orang-orang itu di dalam hati.

Karena tidak ada yang menjawab, maka Ki Dukutpun berkata, “Baiklah. Kediaman kalian dapat aku baca. Kalian ragu-ragu. Mungkin kalian kurang kepercayaan kepada diri kalian sendiri” ia berhenti sejenak, lalu, “baiklah. Mulai hari ini, kalian akan aku latih bertempur lebih baik lagi. Bertempur dengan tata gerak yang lebih teratur, sehingga dengan demikian, kemampuan kalian akan meningkat. Dasar yang ada pada kalian akan aku coba untuk aku kembangkan”

Sepercik kegembiraan nampak di wajah orang-orang kasar itu. Sebenarnyalah ada rasa muak di hati Ki Dukut melihat orang-orang yang berada di sekitarnya. Jika ia harus mengajar mereka berlatih olah kanuragan, maka itu berarti bahwa peningkatan kemampuan itu akan dapat dimanfaatkannya.

“Tidak harus mendapat pengikut yang cukup untuk menghancurkan padepokan Ki Kasang Jati dan kemudian menghancurkan istana Pangeran yang gila itu meskipun aku harus mengorbankan semua orang-orang dungu yang kasar ini” berkata Ki Dukut di dalam hatinya.

Demikianlah, maka sejak hari itu, Ki Dukut mulai meningkatkan kemampuan orang-orang kasar itu. Pada dasarnya mereka sudah memiliki kemampuan berkelahi meskipun masih terlalu kasar, bodoh dan kadang-kadang hanya bersandarkan pada kekuatan tenaga semata-mata tanpa landasan ilmu yang paling sederhana sekalipun.

Yang mula-mula dikerjakan oleh Ki Dukut adalah, memilih orang-orangnya dalam kelompok-kelompok kecil yang terpisah. Ia mempergunakan cara yang berbeda bagi mereka yang berbeda dasar ilmu dan pengalaman.

Dibantu oleh pengikutnya yang setia, ia mulai mengajari orang-orang kasar itu. Bagi mereka yang sudah mempunyai landasan ilmu yang cukup, Ki Dukut berusaha untuk memperkaya unsur-unsur gerak yang mereka miliki. Memberikan arah dan petunjuk apa yang dapat mereka lakukan dengan unsur-unsur gerak itu. Sedangkan bagi mereka yang hanya mampu berkelahi dengan tenaga kasar mereka, pengikut Ki Dukut itu mulai memperkenalkan mereka dengan olah kanuragan. Bagaimana mereka harus mempergunakan anggauta badan mereka sebaik-baiknya. Bagaimana mereka harus mempergunakan tenaga dan kekuatan mereka. Dengan demikian maka mereka tidak akan lagi menghambur-hamburkan tenaga dan kekuatan tanpa arti di dalam perkelahian-perkelahian yang akan terjadi. Dengan menguasai tubuh mereka sebaik-baiknya, maka mereka akan dapat melakukan gerak yang benar-benar terarah.

Karena pada dasarnya orang-orang itu adalah orang-orang yang berpengalaman berkelahi dan bertempur betapapun kasarnya, maka usaha Ki Dukut untuk meningkatkan kemampuan mereka ternyata tidak begitu sulit. Orang-orang itu dengan penuh kemauan telah berusaha sebaik-baiknya melakukannya semua petunjuk dan latihan-latihan yang diberikan oleh Ki Dukut dan pengikutnya, karena dengan demikian mereka merasa mendapat bekal yang lebih baik bagi pekerjaan mereka yang telah mereka lakukan sejak lama.

Dalam waktu yang terhitung singkat, maka para perampok yang dipimpin oleh Ki Dukut itu sudah menjadi semakin trampil bermain senjata. Mereka tidak lagi sekedar bergerak dan meloncat-loncat sambil mengayunkan senjata, tetapi mereka sudah mulai dapat memperhitungkan untung dan rugi bagi gerakan-gerakan mereka yang meskipun masih nampak kasar, tetapi sudah mulai terkendali.

Dalam pada itu, ketika orang-orangnya sudah semakin meningkat kemampuannya, maka Ki Dukut telah mengulangi niatnya untuk melebarkan daerah pengaruh mereka. Meskipun masih ada juga satu dua orang yang ragu-ragu, namun sebagian besar dari mereka yang merasa sudah mempunyai bekal yang lebih mantap itupun dengan senang hati menerima pendapat Ki Dukut yang ternyata memang lebih baik dari pemimpin mereka yang terdahulu.

“Kita akan menerobos batas perjanjian yang telah dibuat” berkata Ki Dukut, “dengan demikian akan segera timbul perselisihan. Justru perselisihan itulah yang kita kehendaki”

Sebagian besar dari orang-orangnya justru menjadi gembira. Mereka ingin mencoba, apakah mereka benar-benar sudah menjadi lebih baik dari masa-masa sebelumnya.

“Kita tidak lebih baik dari mereka” berkata salah seorang dari mereka kepada kawannya, “tetapi sekarang mungkin keadaannya akan berbeda”

Demikianlah, maka Ki Dukut pun telah merencanakan hari yang akan dipergunakan untuk mulai dengan usahanya, memperluas pengaruhnya terhadap gerombolan-gerombolan yang ada di sekitarnya.

Tetapi jarak terdekat dari batas jelajah gerombolan yang dipimpin oleh Ki Dukut itu adalah sebuah gerombolan yang berada di seberang bukit padas, di hutan yang lebat. Mereka tinggal di dalam gubug-gubug yang mereka buat di dalam hutan itu. Untuk mencapai tempat itu, mereka harus berjalan sehari penuh.

Namun Ki Dukut benar-benar telah bertekad. Karena itu, maka di dini hari, sebagian besar dari anggauta gerombolan itu dipimpin oleh Ki Dukut sendiri yang mereka kenal dengan gelar Rajawali Penakluk Bumi itu, berangkat ke hutan di seberang bukit padas.

Hanya sebagian kecil saja dari anggauta gerombolan itu yang tinggal. Mereka menunggui tempat tinggal dan harta benda yang mereka peroleh dari kejahatan yang mereka lakukan.

Sehari penuh gerumbolan itu berjalan, Baru setelah malam menjadi kelam mereka telah mendekati sarang gerombolan yang ingin mereka jerat ke dalam pengaruh mereka.

“Kita tidak boleh tergesa-gesa” berkata Ki Dukut, “kita sekarang sedang telah. Karena itu, jika terjadi benturan kekuatan, maka sebagian kekuatan kita telah terhisap di perjalanan. Karena itu kita akan beristirahat semalam suntuk. Besok pagi-pagi kita akan melihat keadaan. Baru kemudian kita akan menentukan langkah. Sementara itu kekuatan kita sebagian telah pulih kembali”

Dengan demikian maka Ki Dukut dan orang-orangnya semalam suntuk telah tidur nyenyak. Hanya dua orang berganti-ganti sajalah yang berjaga-jaga jika ada sesuatu diluar perhitungan mereka.

Ketika matahari terbit di Timur, maka orang-orang itupun mulai mempersiapkan diri. Tetapi mereka tidak segera berbuat sesuatu, sementara tubuh mereka telah menjadi segar kembali.

“Kita akan memancing mereka” berkata Ki Dukut, “mereka harus kita buat marah dan mereka akan kehilangan pengamatan diri”

Namun sebelumnya Ki Dukut telah memberikan banyak pesan kepada anak buahnya agar mereka tidak kehilangan pengamatan diri. Bahwa mereka harus tetap mempergunakan nalar selama mereka menghadapi lawan yang bagaimanapun juga.

“Jangan sekali-kali merendahkan lawan” berkata Ki Dukut, “jika kita lengah, maka kita sudah mulai menginjakkan sebelah kaki kita ke dalam bencana”

Ki Dukut dan bekas pemimpin gerombolan itu bersama pengikut Ki Dukut yang setia telah lebih dahulu melihat keadaan gerombolan yang tinggal di hutan itu. Dengan hati-hati mereka berusaha untuk mendekat. Dari jarak yang memungkinkan dapat mereka capai tanpa diketahui oleh penghuni gubug-gubug itu, Ki Dukut dapat menduga, berapa besar kekuatan yang bakal dihadapinya.

“Di siang hari mereka berkumpul” berkata bekas pemimpin gerombolan itu.

Ki Dukut Pakering yang menyebut dirinya Rajawali Penakluk itu mengangguk-angguk. Katanya, “Kebetulan sekali. Jika mereka berkumpul, maka mereka akan melihat, bahwa mereka tidak dapat berbuat banyak menghadapi kelompok kita. Kita tidak usah berbuat lagi untuk menya-kinkan orang-orang yang sedang tidak ada di dalam sarang mereka”

Bekas pemimpin gerombolan itu mengangguk-angguk Lalu iapun bertanya, “Jadi, bagaimana maksudmu kemudian?“

“Menilik jumlah barak dan kesibukan mereka, maka mereka tidak memiliki kekuatan melampaui kekuatan kita. Karena itu, maka kita akan memancingnya dan kemudian mengalahkan mereka. Tetapi kita datang tidak untuk membunuh. Kita datang untuk menaklukkan mereka, sehingga mereka akan menjadi sekelompok penjahat yang berada dibawah pengaruh kita” jawab Ki Dukut.

“Jika demikian, apakah aku harus memanggil kawan-kawan” bertanya bekas pemimpin gerombolan itu.

Ki Dukut mengangguk-angguk. Katanya, “Siapkan mereka. Aku akan memancing mereka keluar dari sarangnya. Kita akan bertempur di tempat yang luas, sehingga kita berkesempatan menunjukkan kemampuan kita. Jika mereka kemudian menyerah, maka kita tidak akan membunuh seorang pun di antara mereka. Kecuali jika ada di antara mereka yang keras kepala”

Bekas pemimpin gerombolan itu pun kemudian bergeser surut dan kembali ke tempat kawan-kawannya. Setelah memberikan beberapa pesan seperti yang diberikan oleh Ki Dukut, maka iapun membawa orang-orangnya mendekati tempat Ki Dukut bersembunyi.

Tetapi yang ditemukan di tempat itu tinggallah pengikutnya saja. Ternyata Ki Dukut telah merayap mendekat, memancing perhatian lawan agar mereka keluar dari sarangnya.

“Kita akan menunggu di sini” berkata pengikut Ki Dukut itu.

“Apakah kita akan menunggu perintah?“ bertanya bekas pemimpin gerombolan itu.

“Ya. Ki Dukut akan memberikan isyarat. Kita akan segera bertindak” jawab pengikutnya.

Dalam pada itu, maka orang-orang yang sudah siap itu masih menunggu beberapa saat, sementara Ki Dukut merayap mendekati sarang gerombolan yang menjadi sasaran perluasan pengaruhnya.

Sejenak Ki Dukut menunggu. Ketika kemudian ia melihat dua orang lewat beberapa langkah di hadapannya, maka Ki Dukut itupun meloncat berlari ke balik sebuah gerumbul.

Ternyata Ki Dukut berhasil menarik perhatian kedua orang itu. Salah seorang dari keduanya berteriak, “He, siapa kau?“

Ki Dukut tidak menjawab. Tetapi ia meloncat lagi ke balik gerumbul yang lain lagi.

Kedua orang itu pun yakin, bahwa orang itu bukan salah seorang dari kawan-kawannya. Karena itu, maka keduanyapun segera mengejarnya.

Tetapi keduanya tidak menyadari, siapakah orang yang bersembunyi di balik gerumbul itu. Karena itulah, maka demikian mereka mendekat, maka keduanya bagaikan dilemparkan oleh kekuatan yang tidak mereka mengerti. Demikian mereka terbanting di tanah, maka rasa-rasanya punggung mereka bagaikan patah.

Kemarahan yang memuncak telah mendorong mereka untuk segera bangkit dan menarik senjata masing-masing. Bahkan hampir di luar sadar, maka keduanya pun berteriak memanggil kawan-kawannya.

“Ada apa?“ seorang yang bertubuh tinggi, berdada bidang dan berjambang datang berlari-lari.

“Seseorang bersembunyi di balik gerumbul itu”

“Setan alas. Tetapi apakah kau tidak mengigau?“ bertanya orang berdada bidang itu.

“Aku melihat sendiri”

“Kenapa kau berteriak-teriak seperti melihat hantu, apalagi hanya seseorang” Geram orang bertubuh tinggi itu.

Keduanya tidak menjawab. Mereka merasa agak malu juga mengatakan bahwa mereka telah terlempar tanpa dapat berbuat apa-apa.

Namun dalam pada itu, beberapa orang yang lain telah datang pula. Masing-masing dengan jenis senjata mereka yang menyeramkan.

“Kepung tempat itu, agar orang itu tidak dapat lari” geram orang bertubuh tinggi itu.

Namun dalam pada itu, orang-orang itupun terkejut ketika mereka melihat Ki Dukut telah meloncat berlari. Dengan serta merta orang-orang itupun berteriak, “Jangan biarkan mereka lari”

Tetapi mereka terkejut ketika mereka mendengar orang yang akan mereka kejar itu bersuit nyaring. Mereka pun segera menyadari bahwa orang itu tentu tidak sendiri.

“Bersiaplah“ orang bertubuh tinggi itu menggeram, “agaknya ada orang-orang gila jemu hidup datang ke rumah kita. Kita akan menyambutnya sebagai tamu yang paling terhormat”

Dalam pada itu, ketika orang-orang berikutnya ke luar dari gubug-gubug di hutan itu, maka orang-orang yang berpihak kepada Ki Dukut pun telah mendekat pula. Tetapi sesuai dengan pesan Ki Dukut, mereka berada di tempat yang agak terbuka.

Dalam pada itu, maka orang-orang yang keluar dari sarangnya dengan senjata masing-masing itupun segera bergerak maju. Mereka sadar, bahwa mereka akan berhadapan dengan sekelompok orang yang belum mereka ketahui. Bukan hanya berhadapan dengan seseorang saja.

Pemimpin mereka ternyata adalah seorang yang bertubuh tinggi pula. Tetapi orang itu tidak berjambang. Bahkan kepalanya hampir tidak ditumbuhi rambut lagi. Namun demikian, matanya bagaikan menyorotkan api, sementara giginya terdengar gemeretak.

“Orang-orang gila manakah yang telah berani mendekati tempat ini” geramnya.

Dalam pada itu, maka orang-orang Ki Dukut pun telah bersiap pula. Ketika Ki Dukut kembali kepada mereka, maka iapun berkata, “Mereka akan segera datang”

Sejenak orang-orang Ki Dukut yang manyebut dirinya sebagai seekor Rajawali itu masih harus menunggu. Ki Dukut telah berhasil mengusik mereka seperti membasahi sarang semut.

“Berhati-hatilah” berkata Ki Dukut kepada orang-orangnya, “mereka sedang dibakar oleh kemarahan. Tetapi kalian jangan kehilangan akal. Kalian telah memiliki dasar-dasar olah kanuragan yang barangkali lebih dari mereka. Karena itu, kalian harus tetap mempergunakan akal yang terang, sehingga kalian tidak akan kehilangan kemampuan kalian yang baru pada tataran permulaan itu. Hadapi mereka dengan sadar”

Orang yang sudah bersiap itu menjadi semakin mantap. Rasa-rasanya mereka tidak sabar lagi menunggu, karena mereka segera ingin menunjukkan bahwa mereka telah memiliki dasar-dasar kemampuan ilmu kanuragan. Bukan sekedar mengandalkan kekuatan tenaga wadag mereka dengan kasar.

Sejenak kemudian, orang-orang yang marah itu telah datang berlari-lari sambil mengacungkan senjata mereka. Bahkan ada diantara mereka yang berteriak-teriak.

“Mereka datang” berkata Ki Dukut, “marilah, kita akan menyongsong mereka”

Ki Dukut pun kemudian meloncat dari persembunyiannya. Demikian Ki Dukut berdiri, maka orang-orangnya pun berloncatan pula sendiri di sebelah menyebelah. Mereka sudah diajari oleh Ki Dukut, bagaimana mereka harus menempatkan diri. Meskipun tidak lengkap, tetapi mereka telah berdiri di dalam gelar. Gelar garuda nglayang. Sementara Ki Dukut menjadi, paruh dari gelarnya. Pengikutnya yang setia menjadi pendamping yang selalu dekat padanya. Sementara bekas pemimpin gerombolan itu dan orang yang berwajah cacat telah berdiri di kedua ujung menjadi sayap pasukannya, masing-masing bersama beberapa orang.

“Mereka akan terjebak” desis Ki Dukut, “mereka akan menyerang paruh yang nampaknya lemah. Tetapi sayap sebelah menyebelah itu akan segera mencengkam mereka dan sekaligus menguasainya.

Pengikutnya mengangguk-angguk. Di paruh pasukan itu memang hanya ada dua orang. Ki Dukut dan pengikutnya yang setia. Kemudian dua orang di belakang yang menjadi dada pasukannya, sementara di ekor gelar itu terdapat tiga orang berdiri termangu-mangu.

Demikianlah, seperti yang sudah diperhitungkan, maka gerombolan yang marah itu tidak mempunyai perhitungan yang luas seperti Ki Dukut. Mereka langsung menyerang paruh pasukan yang nampaknya tidak akan berdaya sama sekali menghadapi serangan itu.

Ki Dukut dan pengikutnya telah bersiap sepenuhnya. Kemudian terdengar Ki Dukut berkata kepada orang-orang yang berada di belakangnya, “Jika mereka membentur aku. maka aku akan mundur. Kalian akan segera terlibat. Beritahukan kepada ekor pasukan ini, jika ada diantara lawan yang menerobos langsung, maka mereka berkewajib an untuk menahan, sementara sayap itu akan segera bergerak pula.

Demikianlah, maka dengan permainan yang mengasyikkan itu, Ki Dukut menunggu lawannya yang marah. Sekelompok orang berwajah kasar telah berlari-lari mendatangi mereka. Namun beberapa langkah di hadapan Ki Dukut, mereka memperlambat langkah mereka, dan bahkan kemudian mereka telah berhenti.

“Gila, siapakah kalian, ha?“ bertanya orang bertubuh tinggi dan berkepala botak.

“Aku Rajawali Panakluk Bumi” jawab Ki Dukut.

“Persetan” geram orang bertubuh tinggi itu, “apa maumu datang ke sarangku. Apakah kau pemimpin dari sekelompok orang-orang dungu yang tidak tahu, siapakah aku ini he?“ bertanya orang bertubuh tinggi itu.

“Kami adalah kelompok yang semula dipimpin oleh Iblis Pencabut Nyawa. Tetapi kini pemimpin itu ada di tanganku atas kehendaknya, karena aku adalah saudara tuanya yang baru datang dari menyadap ilmu kanuragan yang tidak ada duanya di muka bumi. Karena itulah maka aku disebut Rajawali Panakluk Bumi” jawab Ki Dukut.

“Gila. Jadi kalian ini anak buah si Iblis dungu itu? Seharusnya ia mengenal dengan siapa kalian berhadapan. Kalian tidak akan dapat berbuat apa-apa atas kami. Tetapi apakah maksud kalian sebenarnya datang ke tempat ini? Apakah kalian akan menyerahkan pimpinan gerombolan kepadaku atau kalian minta perlindunganku karena kalian telah diganggu oleh gerombolan lain sehingga daerah buronmu menjadi sempit?“ bertanya orang yang botak itu.

“Tidak” jawab Ki Dukut, “kami datang untuk memperluas daerah pengaruh kami. Kalian harus tunduk kepada kami. Meskipun kalian akan tetap kami beri hak untuk berburu di padang perburuan kalian, tetapi kalian berada dibawah perintah kami. Setiap saat jika kami perlukan, kalian tidak akan dapat menolak. Apakah itu tenaga kalian, apakah harta kekayaan yang telah kalian kumpulkan”

“Kau benar-benar gila” teriak orang berkepala botak itu belum pernah mendengar serba sedikit tentang aku. Tentang Macan Wulung. He, akulah Macan Wulung itu.

Ki Dukut mengangguk-angguk. Katanya, “Namamu lebih baik dari Iblis Pencabut Nyawa. Macan Wulung terdengar lebih sederhana, tetapi lebih berkesan. Sayang, aku datang untuk menaklukanmu”

“Persetan” jawab orang berkepala botak itu, “kalian datang untuk mengantarkan nyawa kalian. Kamisudah siap mencincang kalian disini” geram orang itu sambil memandang berkeliling, lalu, “kenapa kalian berdiri berpencaran? Kau kira dengan demikian kalian dapat menyebak kami?“

“Kami sama sekali tidak ingin menjebak kalian. Kami datang dengan gelar perang yang tidak kau kenal sebelumnya. Sebenarnyalah kami ingin mengalahkan kalian tanpa membunuh seorangpun apabila mungkin. Tetapi jika terpaksa, apaboleh buat”

Orang yang menyebut dirinya Macan Wulung itu menggeram marah. Sikap Ki Dukut benar-benar telah menyakitkan hatinya.

Karena itu, maka ia tidak ingin menunda lebih lama lagi. Orang-orang yang datang dengan sikap yang sombong itu harus dihancurkan. Mereka harus menyadari kebodohan mereka, bahwa mereka telah datang ke sarang gerombolan yang dipimpin oleh seorang yang bernama Macan Wulung.

Dengan demikian maka orang berkepala botak itupun kemudian berteriak, “Bunuh mereka semuanya. Jangan ada yang tersisa”

Tetapi pada saat itu pula Ki Dukut tertawa. Kemudian demikian perintah itu selesai, Ki Dukut pun berteriak, “Jangan kau bunuh seorang pun dari lawan-lawanmu yang menyerah”

“Persetan“ Macan Wulung itu berteriak semakin keras.

Demikianlah, sejenak kemudian, maka Macan Wulung itu telah meloncat menyerang Ki Dukut yang menyebut dirinya Rajawali Penakluk Bumi. Demikian ia meloncat maju, maka pengikut-pengikutnyapun segera berlari-larian menyerang pula.

Ki Dukut bergeser setapak. Pengikutnya yang setia itupun telah menggenggam senjatanya. Demikian orang-orang yang dipimpin oleh Macan Wulung itu meloncat menyerang, maka senjatanyapun segera berputaran.

Dua orang yang menjadi dada pasukan itupun melangkah maju. Merekapun segera terlihat ke dalam pertempuran. Sementara orang-orang yang lain langsung menyerang tiga yang berdiri agak terpisah. Tiga orang yang menjadi ekor gelar Ki Dukut.

Dalam pada itu, maka untuk sekejap, orang-orang yang berada dipusat gelar itu bagaikan telah ditimbuni dengan lawan yang jumlahnya terlalu banyak. Namun hanya sekejap. Sebelum mereka sempat berbuat sesuatu, maka sayap gelar itupun telah menyergap dari sebelah menyebelah, sehingga dengan demikian, maka orang-orang Macan Wulung itu seolah-olah menghadapi lawan yang datang dari tiga arah.

Pertempuran berikutnya menjadi semakin sengit. Orang-orang Ki Dukut dengan sengaja memancing pertempuran agar meluas. Mereka telah mendapat latihan yang khusus Bertempur bersama-sama dalam satu kelompok, atau bertempur seorang lawan seorang.

Sejenak kemudian, pertempuran itupun telah menebar. Orang-orang Macan Wulung, yang melihat lawan mereka mundur, mula-mula mengira bahwa lawan-lawan mereka telah terdesak justru baru saja kedua gerombolan itu berbenturan.

Tetapi dugaan itu ternyata salah. Demikian pertempuran itu menebar, maka mulai terasa, bahwa orang-orang yang datang itupun ternyata memiliki kemampuan yang cukup sebagai bekal kedatangan mereka ke gerombolan Macan Wulung itu.

Orang-orang Ki Dukut tetap terbagi dalam tiga kelompok. Sayap Kiri dan sayap Kanan menghadap ke induk gelar, sementara induk gelarnya, dipimpin langsung oleh Ki Dukut, sehingga dengan demikian maka Ki Dukut seorang diri dan pengawalnya itu, dapat dihitung sebagai sekelompok orang yang tangguh.

Karena itu, maka Macan Wulung yang berada di dalam arena pertempuran di induk gelar pasukan Rajawali Penakluk itu menjadi heran, bahwa jumlah orangnya yang lebih banyak di bagian pertempuran di induk gelar lawan itu sama sekali tidak berhasil mendesak lawannya.

Bahkan kemudian. Macan Wulung itu melihat betapa orang yang memimpin pasukan lawan itu telah bertempur dengan laku yang aneh.

Sementara itu, orang-orang yang berada di sayap pasukan Ki Dukut itupun telah mengejutkan lawan-lawan mereka. Orang-orang yang datang menyerang sarang mereka itu ternyata memiliki kemampuan yang melampaui kemampuan mereka.

Dengan demikian, maka beberapa saat kemudian, mulailah keseimbangan pertempuran itu goyah. Orang-orang Ki Dukut sedikit demi sedikit mulai menguasai seluruh arena. Mereka yang harus bertempur seorang melawan seorangpun nampak, bahwa orang-orang Ki Dukut memiliki ketrampilan dan memainkan senjatanya melampaui lawannya.

Macan Wulung mulai bingung menghadapi lawan yang seorang ini. Ia sudah mempunyai pengalaman bertempur yang luas di padang perburuan. Ia pernah bertempur melawan berbagai macam lawan dengan ilmunya masing-masing. Tetapi Macan Wulung belum pernah melihat seseorang mampu berbuat seperti yang dilakukan oleh orang yang menyebut dirinya Rajawali Penakluk itu.

Tetapi Macan Wulung bukan pengecut. Ia masih bertempur untuk meyakinkan diri, apakah benar-benar ia berhadapan dengan lawan yang memiliki ilmu yang aneh.

Sementara itu, seperti yang dipesan oleh Ki Dukut, maka orang-orangnya berusaha untuk bertempur dan mengalahkan lawannya tanpa membunuhnya, meskipun diluar kehendak mereka, kadang-kadang senjata mereka telah melukai lawannya. Tetapi kadang-kadang merekapun tidak dapat mengendalikan diri, sehingga dengan marah mereka menggoreskan senjata mereka ke tubuh lawannya, karena lawannya pun telah melukainya.

Demikianlah pertempuran itu berlangsung dengan sengitnya. Tetapi terasa pada orang-orang Macan Wulung bahwa gerombolan yang datang menyerang itu tidak dengan penuh nafsu berusaha membunuh sebanyak-banyaknya.

“Menyerah sajalah“ tiba-tiba mereka mendengar Ki Dukut berteriak, “kami datang tidak untuk membunuh. Kami datang untuk memperluas pengaruh kami. Jika kalian menyerah, maka kalian berada di bawah perlindungan kami. Tetapi kalian harus tunduk kepada perintah kami”

“Aku sobek mulutmu” geram Macan Wulung.

“Kau sudah berusaha untuk melakukannya” sahut Ki Dukut, “tetapi kau tidak mampu”

Ketika Macan Wulung itu menggeram, maka Ki Dukut justru tertawa berkepanjangan.

Jantung Macan Wulung rasa-rasanya hampir meledak menahan marah melihat sikap Ki Dukut. Tetapi ia benar-benar tidak dapat berbuat banyak. Ki Dukut benar-benar seorang yang memiliki kemampuan yang tidak dapat diimbanginya. Bahkan orang-orangnya pun ternyata memiliki beberapa kelebihan daripada orang-orang Macan Wulung yang dibanggakannya itu.

Demikianlah, akhirnya perlawanan Macan Wulung benar-benar telah dilumpuhkan. Beberapa orangnya telah terluka dan tidak mampu lagi berbuat sesuatu, meskipun mereka tidak dibunuh. Sementara Macan Wulung sendiri menjadi bingung, bagaimana ia menghadapi Rajawali yang bertempur bagaikan iblis itu.

Dalam pada itu, untuk lari pun rasa-rasanya tidak ada kesempatan lagi bagi Macan Wulung. Pasukan Rajawali Penakluk itu seolah-oleh telah mengepung mereka dengan rapat.

Demikianlah, maka Macan Wulung itu benar-benar tidak lagi dapat menemukan jalan lain kecuali satu-satunya yang ditawarkan oleh Ki Dukut. Menyerah.

Karena itu, ketika sekali lagi Ki Dukut berteriak agar mereka menyerahkan, maka Macan Wulungpun menjawab, “Aku akan menyerah bersama orang-orangku asal kau bersikap jujur”

“Maksudmu?“ bertanya Ki Dukut.

“Kau jamin keselamatan kami” jawab Macan Wulung.

“Sudah aku katakan bahwa aku memerlukan kalian Karena itu, aku jamin keselamatan kalian” berkata Ki Dukut kemudian.

Macan Wulung pun kemudian berdiri termangu-mangu. Namun akhirnya ia melepaskan senjatanya sambil berkata, “Aku menyerah”

Ki Dukut tertawa. Iapun kemudian meneriakkan isyarat agar pertempuran dihentikan, karena Macan Wulung telah menyerah.

Dengan demikian, maka anak buah Macan Wulungpun telah melepaskan senjata mereka pula. Setelah mereka melihat pemimpinnya menyerah, maka tidak seorang lagi yang berhasrat untuk melawan.

Tetapi mereka menjadi heran, ketika Ki Dukut pun kemudian berkata, “Ambillah senjata kalian. Sudah aku katakan, bahwa aku tidak akan berbuat apa-apa”

Macan Wulung dan anak buahnya menjadi ragu-ragu. Tetapi Ki Dukut berkata sekali lagi, “Ambillah senjata kalian”

Betapapun kebimbangan mencekam hati, tetapi orang orang Macan Wulung itupun kemudian mengambil senjata mereka. Sementara itu Ki Dukut berkata, “Persilahkan kami datang ke sarang kalian. Kami akan berada di sini beberapa saat. Tetapi kami akan segera kembali setelah kami memberikan beberapa pesan kepada kalian”

Orang-orang yang keheranan itupun kemudian kembali ke sarang mereka diikuti oleh Ki Dukut dan orang-orangnya. Diantara barak-barak yang berserakkan melingkar, anak buah Macan Wulung itu duduk di tanah.

“Obatilah mereka yang terluka” berkata Ki Dukut baru kemudian aku akan berbicara”

Macan Wulung dan orang-orangnya pun kemudian sibuk mengobati kawan mereka yang terluka dengan obat-obatan yang ada pada mereka. Baru kemudian setelah selesai, Ki Dukut berkata, “Sayang, bahwa ada beberapa orang diantara kalian dan orang-orangku yang terluka. Terlebih-lebih lagi, bahwa ada satu dua orang-orangmu yang terluka berat. Tetapi aku yakin, bahwa mereka akan sembuh”

“Mudah-mudahan” desis Macan Wulung.

“Nah. Sekarang dengarlah. Aku sudah mengatakan bahwa aku tidak akan berbuat apa-apa atas kalian kecuali didorong oleh keinginanku untuk memperluas pengaruh. Aku ingin mendapat bantuan kalian pada saat-saat yang aku inginkan”

“Bantuan apa?“ bertanya Macan Wulung.

“Aku ingin berkuasa di daerah yang luas. Bahkan aku ingin berkuasa seluas daerah Kediri. Kemudian aku ingin berkuasa seluas tlatah Singasari”

Macan Wulung itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia tertawa sambil berkata, “Kau mimpi. Meskipun aku sudah melihat sendiri, bahwa kau mempunyai ilmu yang ajaib, tetapi Kediri dan apalagi Singasari bukan sekedar padukuhan kecil atau sebuah padepokan dengan satu dua orang cantrik, Putut atau jejanggan”

“Jangan menggurui aku” jawab Ki Dukut, “barang kali aku lebih tahu dari pada kau tentang tlatah Kediri dan Singasari” potong Ki Dukut, “tetapi aku memang berkeinginan demikian. Sebagai langkah pertama aku telah mengalahkan kalian disini. Besok atau lusa, aku akan mengalahkan gerombolan-gerombolan yang lain. Kemudian aku akan menguasai padepokan-padepokan yang berpencaran. Menyusun kekuatan untuk mengalahkan Pakuwon-pakuwon kecil. Baru kemudian aku akan madeg kraman, melawan Kediri”

“Aku tidak mengerti” desis Macan Wulung.

“Kau memang bodoh. He. apakah kau tidak pernah mendengar ceritera tentang Sri Ranggah Rajasa Sang Amurwabumi, yang pada masa kecilnya bernama Ken Arok? Ia mula-mula hidup di daerah kelam seperti aku sekarang. Tetapi akhirnya ia dapat menguasai Tumapel. Dari Tumapel baru ia memanjatkan kekuasaannya lewat pecahnya Kediri. Sehingga akhirnya berdiri Singasari sampai sekarang, meskipun setelah itu terjadi banyak kematian”

“Kau akan menirukannya?“ bertanya Macan Wulung.

“Ya” jawab Ki Dukut.

“Aku juga pernah mendengar ceritera itu meskipun tidak lengkap. Tetapi tentu bukan dalam umur setua kau. Waktumu tinggal sedikit” berkata Macan Wulung.

“Tetapi aku akan melakukannya. Ternyata aku dapat bergerak lebih cepat dari Ken Arok. Karena itu, aku memerlukan waktu yang lebih pendek untuk mencapai maksudku“ Ki Dukut berhenti sejenak, lalu, “tetapi seandainya tidak sepenuhnya, sebagianpun aku tentu sudah merasa puas, Seandainya aku dapat menguasai padepokan kecil itu”

Macan Wulung mengerutkan keningnya. Agaknya tujuan utama orang yang menyebut dirinya Rajawali Penakluk itu adalah sebuah padepokan kecil. Karena itu, maka iapun bertanya, “Padepokan apakah yang kau maksud?“

“Sebuah padepokan” jawab Ki Dukut, “di dalam padepokan itu tinggal sekelompok perampok dan penyamun seperti kita semuanya. Tetapi mereka berada dalam lingkungan hidup yang lebih teratur.. Meskipun demikian, aku akan menaklukkannya juga”

“Hanya sampai padepokan kecil itu?“ bertanya Macan Wulung.

“Di padepokan kecil itu tersimpan syarat dan cara untuk mencapai tataran tertinggi dari derajad manusia di Singasari” desis Ki Dukut.

Macan Wulung tidak begitu mengerti apa yang dikatakan oleh Ki Dukut. Namun iapun kemudian mengangguk.....

Bersambung....!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...