Rabu, 03 Februari 2021

PANASNYA BUNGA MEKAR JILID 13-01

PANASNYA BUNGA MEKAR : 13-01
Diluar sadarnya ia mulai membayangkan gadis padepokan itu. Seorang gadis yang cantik, keras hati, namun dapat bersikap lembut.

Mahisa Bungalan seolah-olah telah terbangun dari mimpinya ketika Ki Selabajra berkata, “Sekali-kali dalam masa perburuan itu, datanglah ke padepokan kami. Tentu kau masih ingat, jalan manakah yang sebaiknya kau tempuh. Jalan ke padepokanku, atau ke padepokan Ki Watu Kendeng”

Mahisa Bungalan mengangguk kecil. Suaranya tiba-tiba saja menjadi bergetar, “baik, baik Ki Selabajra. Aku akan datang ke padepokan yang sudah lama tidak aku lihat. Padepokan yang tenang dan damai, namun yang kini agaknya telah menyimpan bara yang panas dan membakar”

Ki Selabajra menarik nafas dalam-dalam. Sebenarnya bagi Mahisa Bungalan, orang bertubuh tinggi itu tidak perlu terlalu banyak dirisaukan. Mahisa Bungalan memiliki tataran ilmu yang jauh lebih tinggi dari orang bertubuh tinggi itu. Tetapi agaknya Mahisa Bungalan mempertimbangkan kehadiran orang itu jauh mendalam.

Dalam pada itu, maka Mahisa Bungalan kemudian bertanya, “Siapakah nama orang itu?“

Orang tua itu termangu-mangu sejenak. Kemudian jawabnya, “Namanya Marwantaka”
Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Nama yang bagus, seperti juga orangnya yang tampan”

“Ah. Angger terlalu merendahkan dir,“desah Ki Selabajra.

Mahisa Bungalan memandang Ki Selabajra sejenak, namun kemudian iapun melemparkan tatapan matanya ke kejauhan.

Beberapa saat mereka saling berdiam diri. Baru kemudian Mahisa Bungalan berkata, “Aku akan segera kembali ke Kediri. Aku akan segera mulai dengan perburuan yang dahsyat ini. Mungkin aku akan singgah di padepokan Ki Selabajra, mungkin di Watu Kendeng. Tetapi aku tidak dapat mengatakan, kapan aku akan sampai ke tempat itu”

Ki Selabajra menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengangguk-angguk ia menjawab, “Baiklah ngger. Kami akan selalu menunggu kehadiran angger di padepokan kami”

Mahisa Bungalan tidak menjawab lagi. Tetapi ia pun kemudian berkata, “Aku akan mempersiapkan diri. Aku akan segera berangkat ke Kediri bersama Ki Wastu”

Seperti yang dikatakan, maka Mahisa Bungalan pun segera berkemas. Namun ternyala atas permintaan Ki Kasang Jati mereka masih diminta tinggal sampai matahari terbit di keesokan harinya bersama orang-orang yang berada di padepokan itu.

Demikianlah, maka di hari berikutnya, Mahisa Bungalan telah menempuh perjalanan kembali ke Kediri bersama Ki Wastu. Mereka harus segera mulai berpencar mencari seseorang yang bernama Ki Dukut Pakering. Mahisa Bungalan sendiri masih belum jelas benar ujud dari orang yang bernama Ki Dukut itu meskipun ia pernah melihatnya di padepokan Ki Kasang Jati. Tetapi ia sudah mendapat gambaran dari orang yang bakal diburunya itu.

“Tetapi Ki Dukut bukan seorang yang dungu” berkata Ki Wastu kepada Mahisa Bungalan di perjalanan.

“Kita menyadari” jawab Mahisa Bungalan, “mungkin justru kita yang akan dijebaknya. Tetapi kita harus menemukannya di manapun juga, karena ia adalah orang yang sangat berbahaya. Berbahaya bagi banyak orang dan berbahaya bagi Kediri”

Ki Wastu mengangguk-angguk. Tetapi terasa kata-kata Mahisa Bungalan agak terlalu karas dan pasti. Bahkan terasa, bahwa sesuatu agaknya telah mengguncang perasaannya.

Karena itu, maka sebagai seorang yang telah menyimpan banyak pengalaman di dalam hidupnya, terasa bahwa ada sesuatu yang sedang dipikirkan oleh anak muda itu.

Tetapi Ki Wastu tidak ingin menyinggung perasaan Mahisa Bungalan. Karena itu, ia tidak dengan serta merta bertanya. Dengan hati-hati ia berbicara tentang berbagai hal yang dapat memancing hati anak muda itu.

Mahisa Bungalan yang memang sedang digelut oleh ingatannya tentang pedepokan kecil yang tenang dan tentang seorang gadis cantik yang Keras hati. telah tersentuh karenanya.

Akhirnya, Mahisa Bungalan tidak lagi menahan hatinya Seperti sebuah pintu yang terketuk, maka akhirnya pintu itupun terbuka.

”Ki Wastu” berkata Mahisa Bungalan di perjalanan, “aku sudah lama berada dalam keluarga Ki Wastu. Karena itu, maka aku kira, aku tidak perlu lagi menyembunyikan perasaanku. Agaknya masih sulit bagiku untuk mengatakannya dengan terus terang kepada ayah”

Ki Wastu mengangguk-angguk.

Dalam pada itu, maka Mahisa Bungalan pun telah mengatakan serba sedikit tentang anak muda bertubuh tinggi yang bernama Marwantaka itu. Hubungan orang itu dengan Ki Selabajra dan dengan anak gadisnya yang bernama Ken Padmi.

Ki Wastu mengangguk-angguk. Katanya, “Itukah sebabnya maka orang bertubuh tinggi itu tiba-tiba saja telah mendendammu? Aku kira ia adalah orang yang sudah terlampau dalam diracuni oleh ceritera Ki Dukut Pakering. Namun agaknya masih ada persoalan lain yang tersangkut pada sikapnya itu”

“Agaknya memang demikian Ki Wastu. Mungkin juga orang itu lebih percaya kepada Ki Dukut daripada kepada kita pada mulanya. Terlebih-lebih lagi karena sikap yang khusus kepadaku dalam hubungannya dengan seorang gadis bernama Ken Padmi itu”

Ki Wastu mengangguk-angguk. Terbayang betapa rumitnya persoalan antara Ken Padmi dengan Mahisa Bungalan itu. Apalagi setelah di antara mereka berdiri beberapa nama yang telah menyangkutkan diri.

Diluar sadarnya Ki Wastu membayangkan, apa yang pernah terjadi dengan anak gadisnya. Persoalan anak gadisnya pada mulanya tidak serumit persoalan Mahisa Bungalan. Seorang anak muda dalang kepadanya dan minta anak gadisnya untuk menjadi isterinya. Dan ternyata anak muda itu adalah Pangeran Kuda Padmadata.

Baru kemudian, persoalan yang sangat rumit itu menyusul, justru setelah anak perempuannya itu mempunyai seorang anak laki-laki.

Sambil menarik nafas dalam-dalam ia berkata, “Angger Mahisa Bungalan. Agaknya persoalan itu lebih baik timbul dahulu daripada kemudian”

Mahisa Bungalan mengerutkan keningnya. Kemudian ia bertanya, “Apakah lebih baik demikian? Dan apakah dalam setiap hubungan antara seorang laki-laki dan seorang perempuan tentu akan timbul persoalan yang rumit seperti itu?“

“Tidak selalu ngger” jawab Ki Wastu, “tetapi jika persoalan itu dapat kau pecahkan, maka keadaanmu akan jauh lebih baik dari keadaan anak perempuanku dengan suaminya, Pangeran Kuda Padmadata yang hampir saja menjadi korban”

Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam. Untuk sejenak ia tidak menjawab.

Keduanya pun kemudian saling berdiam diri. Perjalanan mereka menyusup bulak-bulak panjang yang hijau oleh tanaman padi dan jagung. Namun di kejauhan mereka masih melihat padang perdu yang menyekat daerah persawahan dengan hutan yang membujur panjang. Semakin dalam hutan itu menjadi semakin lebat.

Ki Wastu dan Mahisa Bungalan berpacu muskipun tidak dalam kecepatan puncak. Derap kaki kuda mereka telah melontarkan debu yang keputih-putihan. Tetapi mereka sama sekali tidak menyadari, bahwa ketika mereka melintas di ujung padang perdu, dua pasang mata memandang mereka dengan penuh perhatian.

“He, apakah keduanya berada di padepokan Kasang Jati?“ bertanya seorang tua yang duduk di bayangan dedaunan.

“Aku tidak tahu pasti Ki Dukut” jawab yang lain, “tetapi mungkin pula keduanya cantrik atau Putut dari Padepokan itu”

Ki Dukut mengerutkan keningnya. Kedua penunggang kuda itu berpacu terlalu jauh, sehingga keduanya tidak melihat dengan jelas, siapakah orang-orang yang duduk di atas punggung kuda itu. Apalagi mereka pun tidak begitu mengenal orang-orang yang berada di padepokan Ki Kasang Jati, karena ketika mereka memasuki padepokan itu, malam telah menjadi sangat kelam.

“Sebenarnya kita akan dapat membunuh mereka” berkata Ki Dukut Pakering.

“Tetapi kita tidak akan dapat mengejar mereka” desis yang lain.

Ki Dukut menggeretakkan giginya. Namun kemudian katanya kepada pengikutnya, “Aku masih mempunyai banyak kesempatan. Ternyata orang-orang yang ikut bersama kita datang ke padepokan Kasang Jati telah berkhianat”

“Ya. Mereka telah berkhianat” sahut pengikutnya.

“Mereka agaknya mengerti, bahwa aku telah menipu mereka” desis Ki Dukut pula.

Pengikutnya yang seorang itu mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Mereka harus mendapat hukuman yang setimpal dengan kesalahan mereka”

“Tentu. Tetapi untuk waktu yang dekat, aku tidak dapat melakukannya. Mereka tentu menyadari akan hal itu, sehingga mereka pun akan bersiap akan menghadapi segala kemungkinan. Karena itu, aku akan mengambil waktu yang paling baik sesudah aku mengamati keadaan” berkata Ki Dukut Pakering. Namun kemudian sambil menggeram ia berkata, “Tetapi yang lebih dahulu harus dimusnahkan adalah Padmadata, Wastu dan Kasang Jati. Jika aku dapat menangkap perempuan dan anaknya itu, maka segalanya akan dapat aku lakukan. Kuda Padmadata tidak akan dapat melawan kehendakku apapun yang aku perintahkan”

“Tetapi sulit untuk menemukan perempuan dan anak laki-lakinya itu. Sekarang kita sudah kehilangan banyak pengikut. Selain yang sudah terbunuh, mereka yang masih hidup sudah tertawan dan satu dua melarikan diri karena ketakutan”

“Aku tidak menyalahkan mereka” jawab Ki Dukut, “yang penting sekarang, bagaimana kita menyusun kekuatan baru”

Pengikutnya tidak menjawab. Tetapi ia membayangkan, bahwa hal itu akan sulit dilakukan. Kecuali jika mereka dapat memasuki lingkungan mereka yang memang hidup di dunia yang kelam.

Namun agaknya hal itu terpikir juga oleh Ki Dukut Pakering. Karena itu maka katanya, “Mungkin aku akan mencari jalan memintas”

“Maksud Ki Dukut?“ bertanya pengikutnya.

“Aku akan membuat pangeram-eram di lingkungan tertentu. Betapapun hitamnya satu lingkungan, namun mereka akan dapat kita pergunakan sebagai alat yang baik. Aku dapat memasuki lingkungan para penjahat. Para penyamun dan perampok. Aku dapat menunjukkan kelebihanku dari mereka, sehingga aku akan mampunyai pengaruh di antara mereka. Dengan demikian aku tidak perlu menipu para pemimpin padepokan seperti yang sudah aku lakukan, yang ternyata tidak menghasilkan apa-apa. Tetapi dengan mereka, maka aku akan mendapat banyak kesempatan”

“Dan kita pun akan ikut menyamun dan merampok?“ bertanya pengikutnya.

“Bukankah yang kita lakukan atas Pangeran Padmadata juga serupa dengan itu? Hanya mungkin kita masih memilih cara yang lebih baik dari merampok itu sendiri” jawab Ki Dukut.

Pengikutnya tidak segera menyahut. Iapun telah memikirkannya. Dan agaknya memang jalan itu adalah jalan satu-satunya.

“Tetapi tujuan kita agak berbeda dengan mereka” berkata pengikutnya.

“Pada dasarnya tidak” sahut Ki Dukut, “karena itu, kita tidak akan ragu-ragu lagi melakukannya. Dengan demikian maka kita akan menjelajahi daerah-daerah yang paling gawat, sehingga pada suatu saat kita akan mendapat jalan menuju ke sarang mereka”

“Apakah Ki Dukut sudah pasti dengan rencana itu?” bertanya pengikutnya.

“Aku masih akan berpikir. Tetapi aku kira, jalan ini adalah jalan yang paling baik” jawab Ki Dukut

Pengikutnya tidak menjawab. Tetapi ia mengangguk-angguk. Ia sudah mulai membayangkan, daerah petualangan yang bakal ditempuh oleh Ki Dukut. Mereka berdua akan memasuki daerah yang paling gawat karena daerah itu dikuasai oleh para perampok. Tetapi Ki Dukut ingin menunjukkan kelebihannya, sehingga ia akan mendapat pengaruh di antara mereka. Dengan pengaruhnya, ia akan dapat membujuk mereka melakukan seperti yang diinginnya.

Namun pengikut Ki Dukut itu masih ragu-ragu. Apakah berdua saja mereka akan dapat menanamkan pengaruh mereka di antara para penjahat yang berkuasa di lereng-lereng pegunungan dan di lembah-lembah yang berpadas dan berlubang-lubang oleh goa-goa yang dangkal dan yang dalam.

Tetapi pengikut Ki Dukut itu terlalu percaya kepada perhitungan orang tua itu. Karena itu, maka ia pun hanya mengangguk-angguk kecil saja.

Sementara itu, perjalanan Mahisa Bungalan dan Ki Wastu menjadi semakin jauh. Seperti saat mereka berangkat, maka mereka pun harus bermalam di perjalanan. Namun hal itu sudah terlalu sering dilakukannya, sehingga mereka sama sekali tidak merasa canggung karenanya.

Ketika mereka kemudian sampai di Kediri, maka merekapun segera melaporkan apa yang mereka ketahui.

Mereka menceriterakan tanpa ditambah dan tanpa dikurangi segala peristiwa yang telah terjadi di padepokan Ki Kasang Jati.

Mahisa Agni dan Witantra yang berada di Kediri mendengarkan laporan Mahisa Bungalan dengan saksama, merekapun membayangkan bahwa Ki Dukut yang gagal itu tentu akan mengambil jalan lain. yang mungkin lebih kasar dan liar.

“Kami sudah memutuskan untuk mengadakan perburuan” berkata Mahisa Bungalan, “kami harus dapat menangkap Ki Dukut. Jika tidak, maka Ki Dukut akan dapat merusak ketenangan hidup padepokan-padepokan kecil yang dianggapnya pernah berkhianat kepadanya”

Mahisa Agni mengangguk-angguk sambil berdesis, “Hal itu memang mungkin sekali dilakukan”

“Ya” sahut Witantra, “setan itu akan dapat berbuat apa saja yang mungkin tidak pernah kita bayangkan”

“Lalu, apakah yang dapat kita lakukan?“ bertanya Pangeran Kuda Padmadata.

“Kita masih harus memikirkannya” jawab Witantra.

“Tetapi kita harus bertindak cepat” desis Mahisa Bungalan.

“Jika kita terlambat, maka daerah yang luas sudah menjadi karang abang. Sulit untuk dapat menahan arus kemarahan Ki Dukut Pakering bagi padepokan-padepokan kecil itu”

“Aku dapat mengerahkan para pengawal. Bukan saja pengawal, tetapi pengawal Kediri akan dapat aku pergunakan jika diperlukan”

“Terima kasih” berkata Mahisa Agni, “tetapi untuk sementara aku kira belum dapat kita lakukan. Kita masih harus membuat pertimbangan-pertimbangan yang matang”

“Tetapi sementara itu, padepokan-padepokan kecil telah hancur menjadi debu” potong Mahisa Bungalan.

Mahisa Agni tersenyum. Katanya, “Kemudaanmu telah membakar jantungmu. Mahisa Bungalan, aku tahu, bahwa kita harus bertindak cepat. Bukankah kau mengetahui, siapa yang telah datang bersama Ki Dukut ke padepokan Ki Kasang Jati? Dengan demikian kita mempunyai gambaran, telatah manakah yang kira-kira akan menjadi sasaran”

“Ya. Bukankah dengan demikian kita tidak perlu membuat banyak pertimbangan lagi?“ bertanya Mahisa Bungalan.

“Aku mengerti. Maksudku, kita akan pergi ke daerah itu tanpa mengerahkan para pengawal. Dengan demikian, maka kita tidak akan mengguncang ketenangan Kediri dalam keseluruhan, hanya karena seorang yang bernama Ki Dukut Pakering”

“Tetapi adalah kewajiban para pengawal Kediri untuk melindungi daerah pengawasannya. Bahkan menjadi kewajiban Singasari pula” sahut Mahisa Bungalan.

“Baiklah” berkata Witantra kemudian, “kita akan segera berangkat. Pamanmu Mahisa Agni, aku, kau dan Ki Wastu. Kita mulai dengan pemburuan yang panjang di daerah yang sangat luas. Tetapi kita sudah mempunyai gambaran, sasaran yang diintai oleh buruan kita”

Namun tiba-tiba Mahisa Bungalan berkata, “Kita dapat memisahkan diri dalam dua atau tiga kelompok kecil. Jika dalam satu kelompok kecil ada paman Mahisa Agni, atau paman Witantra atau Ki Wastu atau mungkin ayah, maka Ki Dukut tidak akan mampu berbuat sesuatu, karena tidak ada lagi pengikutnya yang memiliki ilmu yang cukup”

“Bagaimana maksudmu sebenarnya Mahisa Bungalan?“ bertanya Mahisa Agni.

“Paman Mahisa Agni disertai dua tiga orang maju ke arah yang berbeda dengan paman Witantra disertai oleh dua atau tiga orang pula. Demikian pula Ki Wastu dan ayah Mahendra. Bukankah dengan demikian daerah perburuan yang luas itu akan menjadi semakin sempit?“

“Kau?“ tiba-tiba saja Ki Wastu bertanya.

“Aku dapat mengikuti ayah yang belum melihat medan” jawab Mahisa Bungalan.

Namun tiba-tiba Ki Wastu tersenyum. Katanya, “Baiklah ngger. Kau pergi bersama ayahmu. Semakin cepat semakin baik. Mungkin Ki Dukut akan memilih sasaran yang pertama padepokan Ki Selabajra”

“Ah“ desah Mahisa Bungalan. Namun ia pun segera menundukkan kepalanya.

“Aku hanya bergurau” berkata Ki Wastu kemudian. Tetapi bibirnya masih membayang senyumnya.

Mahisa Agni, Witantra dan Pangeran Kuda Padmadata yang masih belum mengerti persoalan Mahisa Bungalan mengerutkan keningnya. Tetapi mereka tidak bertanya, karena mereka mengerti, bahwa Ki Wastu tidak bersungguh-sungguh.

Namun dalam pada itu, Mahisa Bungalan pun kemudian berkata, “Tetapi semuanya terserah kepada paman-paman. Mungkin paman mempunyai cara yang lebih baik”

“Mahisa Bungalan” berkata Mahisa Agni, “menurut pendapatmu, apakah Ki Dukut masih mempunyai pengikut yang kuat?“

“Tidak paman. Tidak ada lagi kekuatan yang mendukungnya. Orang-orang yang dibawanya ke padepokan Ki Dukut telah mengerti, apakah yang sebenarnya terjadi”

“Dan mereka itulah yang kau cemaskan“ sambung Mahisa Agni.

“Ya paman. Selebihnya, mungkin Ki Dukut masih sempat mencari korban ke padepokan-padepokan lain. Mereka yang belum pernah mendengar peristiwa yang sebenarnya, masih mungkin dibujuknya dengan segala macam janji dan kedudukannya di masa lampau” jawab Mahisa Bungalan.

“Baiklah” berkata Mahisa Agni, “kita akan menjelajahi medan perburuan yang luas. Tetapi kita tidak perlu mengerahkan terlalu banyak orang, agar kita tidak memberikan kesan yang kurang baik”

“Maksud paman?“ bertanya Mahisa Bungalan.

“Aku dan pamanmu Witantra akan menempuh perjalanan yang berbeda dengan perjalanan yang akan kau tempuh bersama ayahmu dan Ki Wastu. Kita akan menjelajahi daerah yang mungkin akan diambah oleh Ki Dukut Pakering. Sementara kau dapat memberikan petunjuk daerah manakah yang akan menjadi sasaran utama. Mungkin pada suatu saat kita akan bertemu di sebuah padepokan. Tetapi kemudian kita akan berpisah lagi. Dengan demikian daerah perburuan kita akan dapat kita batasi”

Mahisa Bungalan menarik nafas, dalam-dalam. Sekilas dipandanginya wajah Ki Wastu. Rasa-rasanya orang tua itu masih juga tersenyum kepadanya.

Namun Ki Wastu itupun kemudian berkata, “Kita akan dapat pergi bersama-sama sampai ke tempat tinggal Ki Kasang Jati. Kemudian kita akan berpisah menuju daerah perburuan yang berbeda”

“Aku sependapat” sahut Mahisa Bungalan.

“Baiklah” jawab Mahisa Agni, “dengan demikian, maka Mahisa Bungalan harus memanggil ayahnya lebih dahulu”

“Biarlah aku mengawaninya” berkata Ki Wastu, “aku juga ingin menengok cucuku“

“Jangan lupa menghadap Tuanku Maharaja untuk menyampaikan permohonan penundaan waktu. Kau harus mengemukakan alasan yang jelas sehingga kepergianmu dapat dimengertinya“ pesan Mahisa Agni.

Demikianlah, maka Mahisa Bungalan pun telah pergi ke Singasari untuk menyusul ayahnya bersama Ki Wastu. Namun sudah diduganya sejak ia masih di perjalanan pulang. Kedua adiknya tentu tidak mau lagi ditinggalkannya.

Mahendra yang mendapat keterangan dari Mahisa Bungalan tentang Ki Dukut Pakering itupun kemudian memutuskan untuk pergi bersama-sama Mahisa Bungalan, tetapi kali ini ia tidak melarang kedua anaknya yang lain mengikutinya.

“Tetapi kalian harus mengetahui, bahwa kita akan berburu di medan yang luas” berkata Mahendra kepada kedua anaknya.

“Menyenangkan sekali” jawab Mahisa Pukat.

“Kami menunggu kesempatan itu“ sambung Mahisa Murti

Mahendra menarik nafas dalam-dalam. Kedua anaknya itu memang sudah meningkat dewasa penuh. Merekapun telah mempelajari ilmu sampai tataran yang cukup, sehingga mereka memang perlu mengembangkannya.

Dengan demikian, maka Mahisa Bungalan pun kemudian kembali ke Kediri bersama ayah dan adik-adiknya, selain Ki Wastu yang bersamanya pula setelah ia menjumpai anak dan cucunya.

Namun dalam pada itu agaknya Mahisa Bungalan masih belum menyampaikan persoalan pribadinya kepada ayahnya. Ia masih belum mengambil sikap, karena ia tidak tahu, bagaimana dengan Ken Padmi setelah ditinggalkannya untuk waktu yang lama.

Beberapa hari kemudian, maka mereka telah bersiap unluk mulai dengan perburuan yang besar. Ternyata Pangeran Kuda Padmadata telah bersedia ikut pula bersama mereka.

“Jika paman Mahendra telah mempunyai beberapa orang pengikut. maka aku akan pergi bersama paman Mahisa Agni dan paman Witantra” berkata Pangeran Kuda Padmadata.

“Baiklah” sahut Mahisa Agni, “kami akan pergi bertiga, sementara Mahendra akan pergi berlima, termasuk Mahisa Murli dan Mahisa Pukat”

“Aku akan bertamasya dengan keluargaku” jawab Mahendra, “nampaknya tamasya yang menyenangkan. Apalagi di antara kami terdapat pula Ki Wastu”

Demikianlah, maka mereka pun bersama-sama telah pergi ke padepokan Ki Kasang Jati untuk mematangkan rencana mereka dalam perburuan mereka. Mereka pun masih harus membagi medan serta menentukan di mana mereka akan bertemu pada saat-saat yang ditentukan.

Pangeran Kuda Padmadata yang ikut dalam perburuan itu, telah menanggalkan pakaian kepangeranannya. Ia mengenakan pakaian seperti kebanyakan orang, seperti juga Mahisa Agni, Witantra dan yang lain-lain. Dengan demikian, maka perjalanannya tidak akan banyak menarik perhatian orang di sepanjang jalan.

Pada hari-hari pertama perjalanan itu benar-benar seperti sebuah tamasya yang menyenangkan. Apalagi Bagi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.

Tidak ada sesuatu yang mereka jumpai di perjalanan. Di malam yang kelam di tengah perjalanan, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sempat untuk melihat-lihat padang perdu yang luas. Ternyata padang perdu itu bukannya tertidur di malam hari. Ketika jenis binatang yang berkeliaran disiang hari mulai bersembunyi di sarangnya, maka mulailah binatang malam menandai kehidupan padang perdu.

“Menarik sekali” desis Mahisa Murti, “marilah kita melihat binatang apa sajakah yang berkeliaran di malam hari. Mungkin sejenis musang, mungkin pula jenis harimau yang tidak lagi mendapat makanan di hutan lebat itu, sehingga mereka telah berkeliaran di padang perdu”

Mahisa Pukat ragu-ragu. Katanya kemudian, “Tidak. Mungkin kita dapat tersesat. Dan bukankah perjalanan kita masih jauh? kita perlu beristirahat“

Mahisa Murti mengerutkan keningnya. Namun iapun mengerti pula. Katanya, “Baiklah. Kita akan beristirahat”

Demikianlah mereka menyusuri jalan panjang. Akhirnya merekapun sampai ke padepokan Ki Kasang Jati.

Kehadiran mereka telah mengejutkan isi padepokan itu. Mereka masih dibayangi dendam dan kebencian Ki Dukut Pakering. Karena itu, ketika sekelompok orang-orang berkuda mendekati padepokan itu, maka para cantrik dan Putut pun telah bersiap pula. Dengan tergesa-gesa salah seorang dari mereka memberitahukan kepada Ki Kasang Jati yang baru beristirahat di ruang dalam.

“Apakah Ki Dukut datang lagi dengan pasukannya yang baru?“ berkata Ki Kasang Jati.

“Kami tidak tahu. Kami hanya melihat sekelompok orang berkuda menyusuri jalan menuju ke padepokan ini” jawab seorang cantrik.

Ki Kasang Jati pun segera mempersiapkan diri. Namun sambil menarik nafas dalam-dalam ia berkata, “Masih saja ada sebab aku harus menggenggam hulu senjata”

Cantrik itu sama sekali tidak menjawab. Namun iapun mengikut pula ketika Ki Kasang Jati melangkah keluar. Di luar ia melihat kedua Putut dan para cantrik sudah bersiap meskipun mereka tidak bertebaran di halaman. Namun mereka telah berada di belakang seketheng. Setiap saat mereka dapat bergerak dan menghambur turun ke halaman lewat seketheng sebelah menyebelah.

Dari kejauhan, debu nampak mengepul tinggi. Tetapi iring-iringan orang berkuda itu sudah menjadi semakin dekat, meskipun masih belum dapat dilihat dengan jelas siapa para penunggangnya.

Namun, ketika kemudian Ki Kasang Jati turun ke halaman dan berdiri di regol, maka iapun mulai melihat lamat-lamat, siapakah diantara mereka yang berkuda itu.

“He” katanya kepada kedua Putut dan para cantrik, “dua diantara mereka adalah Wastu dan Mahisa Bungalan”

Para cantrik dan Putut itupun termangu-mangu. Merekapun kemudian berdesakkan berdiri di regol. Satu dua diantara mereka bahkan telah turun ke jalan.

“Ya” desis salah seorang Putut, “dua diantaranya adalah Mahisa Bungalan dan Ki Wastu”

Ki Kasang Jatipun menarik nafas dalam-dalam. Kepada diri sendiri ia berkata, “Perburuan akan segera dimulai. Nampaknya Mahisa Bungalan dan Wastu tidak mau terlambat”

Sejenak kemudian, maka iring-iringan orang berkuda itupun menjadi semakin dekat. Ki Kasang Jati yang sudah terlanjur berada di regolpun telah menyambut tamunya di regol itu pula.

Dengan tergopoh-gopoh Ki Kasang Jatipun kemudian mempersilahkan tamunya masuk ke halaman. Setelah para cantrik menerima kuda-kuda mereka, dan mereka telah mencuci kaki mereka pada sebuah jambangan dibawah sebatang pohon kamboja, maka mereka pun segera naik ke pendapa.

Sesaat Ki Kasang telah menyampaikan ucapan selamat atas kehadiran para tamu. Kemudian Ki Wastu pun mulai memperkenalkan tamu-tamu itu seorang demi seorang.

“Adalah satu kurnia bahwa tuan-tuan telah bersedia datang ke padepokan ini” berkata Ki Kasang Jati kemudian, “apalagi karena tuan Mahisa Agni dan tuan Witantra pernah memegang kekuasaan atas nama kekuasaan Singasari di Kediri”

“Ah, itu sudah lama lampau. Sekarang, sebut saja kami dengan nama-nama kami. Agaknya dengan demikian, hubungan kami akan menjadi lebih akrab” berkata Mahisa Agni.

Ki Kasang Jati mengangguk-angguk. Katanya, “Kami, penghuni padepokan ini mengucapkan terima kasih. Juga kepada Pangeran Kuda Padmadata yang tidak memakai pakaian kebesaran seorang Pangeran”

“Pakaian kebesaran semacam itu hanya akan mengganggu tugas kami sekarang ini Ki Kasang Jati” sahut Pangeran Kuda Padmadata.

“Baiklah. Kami sudah dapat menduga, bahwa kedatangan kalian adalah permulaan dari satu perburuan yang besar. Tetapi aku ingin mempersilahkan kalian singgah di padepokan ini barang satu dua hari. Kalian akan beristirahat sambil menyusun kerangka tugas kita” berkata Ki Kasang Jati.

Tidak seorang pun yang membantah. Mereka memang harus melakukannya. Singgah barang satu malam di padepokan itu sambil menyusun rencana perjalanan yang akan mereka tempuh.

Pada kesempatan yang terluang, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sempat melihat-lihat padepokan kecil yang tanang itu. Nampaknya hidup di padepokan semacam itu memang sangat menarik dibanding dengan kegelisahan hidup di Kota Raja dan sekitarnya.

Ketika malam berikutnya datang menyelubungi padepokan kecil itu maka mulailah beberapa orang berkumpul di pendapa. Mereka mulai menyusun rencana perburuan yang akan mereka lakukan.

Mahisa Bungalan yang mengenal beberapa bagian dari daerah yang akan mereka jelajahi dapat memberikan beberapa keterangan. Ditambah dengan pengenalan Ki Kasang Jati dan para Pututnya.

“Daerah itu cukup luas” berkata Ki Kasang Jati.

Mahisa Agni mengangguk-angguk. Tetapi rasa-rasanya pekerjaan itu akan dapat memberikan suasana lain padanya. Untuk beberapa lama ia tinggal di istana, yang melihat putaran kehidupan sehari-hari yang hampir tidak berubah. Sementara yang dilihatnyapun sangat terbatas. Dinding-dinding istana, prajurit, taman dan jika ia melangkah keluar, mereka yang dilihatnya adalah jalur-jalur jalan Kota Raja yang sudah dilihatnya berubah.

Hampir diluar sadarnya, Mahisa Agni justru mengenang masa mudanya, selagi ia masih hidup di sela-sela hijaunya pepohonan padukuhan kecil. Mahisa Agni tersadar ketika ia mendengar Mahisa Bungalan berkata, “Kita akan membagi diri Ki Kasang Jati”

“Apakah tenagaku juga diperlukan?“ bertanya Ki Kasang Jati.

Mahisa Bungalan termangu-mangu. Namun Witantra lah yang menjawab, “Ki Kasang Jati akan berburu di daerah ini. Jika padepokan ini ditinggalkan, maka padepok an ini akan dapat menjadi sasaran pertama. Karena itu, mungkin Ki Kasang Jati akan dapat membantu kami, tetapi hanya di sekitar padepokan ini saja”

Ki Kasang Jati mengangguk-angguk. Katanya, “Terima kasih. Aku akan berusaha membantu sejauh dapat aku lakukan sambil menunggui padepokan kecil ini” ia berhenti sejenak, lalu mudah-mudahan kalian berhasil.

Seperti yang sudah direncanakan, maka Mahisa Agni akan pergi bersama Witantra dan Pangeran Kuda Padmadata. Sementara Mahendra akan pergi bersama ketiga anaknya dan Ki Wastu. Namun seperti yang diduga oleh Ki Wastu, bahwa agaknya Mahisa Bungalan akan memanfaatkan perjalanan ayahnya untuk kepentingan yang lain, apabila suasananya masih memungkinkan.

Namun dalam pada itu, agar Mahisa Agni, Witantra dan Pangeran Kuda Padma tidak mengalami kesulitan di medan, maka Ki Kasang Jati telah menyertakan seorang pututnya untuk ikut bersama mereka, yang akan dapat membantu mepermudah menyelusuri jalan-jalan yang akan mereka jelajahi.

“Meskipun ia juga belum mengenal seluruhnya, tetapi ia akan dapat mempermudah perjalanan kalian” berkata Ki Kasang Jati.

“Terima kasih” jawab Mahisa Bungalan, “tetapi dengan demikian, kekuatan padepokan ini akan berkurang.

“Mudah-mudahan kami di sini tidak mengalami banyak kesulitan jika iblis itu benar-benar datang lagi” jawab Ki Kasang Jati.

Dengan demikian, maka batas dan kewajiban masing-masing teluh ditentukan. Merekapun menunjuk beberapa tempat untuk bertemu jika diperlukan masa perburuan.

Orang-orang yang akan melakukan perburuan itupun sepakat, besok pagi, ketika matahari terbit, mereka akan berangkat dari padepokan Ki Kasang Jati. Sekelompok akan menuju ke Barat, dan kelompok yang lain akan menuju ke Timur.

Malam itu, mereka masih sempat berkelakar. Meskipun demikian Ki Wastu sama sekali tidak menyinggung masalah Mahisa Bungalan dalam hubungannya dengan seorang gadis yang bernama Ken Padmi, seperti pengakuan Mahisa Bungalan sendiri. Ki Wastu membiarkan Mahisa Bungalan sendiri pada saatnya menyampaikannya kepada ayahnya.

Demikianlah, di pagi hari berikutnya, ketika matahari terbit di timur, maka kedua kelompok itupun segera berang kat kearah yang sudah ditentukan.

Dalam pada itu, Ki Dukut Pakering yang merasa tidak mungkin lagi membujuk beberapa pemimpin padepokan ternyata telah mengambil jalan lain. Dengan sengaja Ki Dukut telah memasuki daerah yang terkenal gawat, karena daerah itu menjadi daerah jelajah para penjahat. Namun dengan mempertaruhkan dirinya, Ki Dukut justru mengambil cara itu untuk mendapatkan pengikut-pengikut

Dengan pakaian dan kelengkapan yang menarik perhatian, Ki Dukut dan seorang pengikutnya berkuda menyelusuri jalan yang gawat. Mereka berharap justru dapat bertemu dengan sekelompok penjahat yang akan menyamunnya.

Ternyata bahwa usaha Ki Dukut itu berhasil ketika tiba-tiba saja dari balik segerumbul perdu, berloncatan tiga orang berpakaian serba kelam. Wajah mereka pun nampak Kasar dan telanjang.

“Ki Sanak” berkata orang yang paling garang di antara mereka, “apakah aku boleh bertanya. Ki Sanak akan pergi ke mana?“

Ki Dukut menarik keningnya. Kemudian sambil tersenyum ia berkata, “Aku sekedar ingin metihat-lihat, apakah daerah ini masih merupakan daerah yang gawat”

Ketiga orang itu menjadi heran mendengar jawaban Ki Dukut. Orang yang paling garang pun kemudian maju setapak, “Aku tidak mengerti maksudmu. Aku bertanya, kau akan pergi ke mana?“

“Sudah aku jawab dungu“ tiba-tiba saja Ki Dukut membentak.

“Gila” geram orang berwajah garang itu, “apakah kau mengenal kami?“

“Tentu. Kalian adalah penyamun atau perampok atau apapun namanya” jawab Ki Dukut.

“Setan alas. Jika demikian, maka cepat lakukan perintah kami. Lepaskan pakaianmu, perhiasanmu, mungkin intan berlian pada timangmu, atau pada pendok kerismu, “

Tetapi Ki Dukut tertawa. Katanya, “Jangan bodoh. He, siapa pemimpinmu?“

Ketiga orang berpakaian kelam dan berwajah menyeramkan itupun termangu-mangu sejenak. Mereka belum pernah melihat orang yang dengan sengaja memasuki daerah yang gawat itu dan justru telah membentak-bentaknya.

Namun sesaat kemudian ketiga orang itu menyadari pekerjaannya. Salah seorang dari merekapun melangkah mendekat sambil berkata, “Sudahlah. Jangan banyak bicara. Jangan bertanya siapa pemimpin kami, dan jangan bertanya tentang kami lebih banyak lagi. Seandainya kau sengaja lewat jalan ini, maka kau telah salah langkah, dan kau akan menjadi korban dari kesombongan tetapi sekaligus kebodohanmu”

Ki Dukut dan pengikutnya kemudian menambatkan kuda mereka pada sebatang pohon perdu. Kemudian dengan suara lantang Ki Dukut berkata, “Ki Sanak. Aku sengaja memilih jalan ini. Aku sengaja ingin bertemu dengan kalian, dan terlebih-lebih lagi pemimpin kalian”

“Cukup. Sekarang apa maumu sebenarnya” bentak salah seorang dari ketiga orang penyamun itu.

“Panggilah pemimpinmu” jawab Ki Dukut.

Ketiga orang penyamun itu tidak dapat menahan kemarahan mereka lagi. Dengan gigi yang gemeretak merekapun kemudian mengepung kedua orang yang berdiri menghadap kearah yang berlawanan.

“Kalian benar-benar bodoh dan dungu. Tetapi baiklah. Marilah, apa yang akan kalian lakukan” geram Ki Dukut.

Ketiga orang itu tidak sabar lagi. Kemarahan mereka telah sampai ke ubun-ubun. Karena itu, Maka merekapun bergeser maju. Senjata merekapun mulai bergetar di tangan mereka.

Pengikut Ki Dukut telah mencabut pedangnya pula. Tetapi Ki Dukut sendiri masih saja berdiri tegak, tanpa sen jata meskipun sudah siap menghadapi segala kemungkinan.

Sikap itu benar-benar membuat lawannya tidak dapat menahan diri lagi. Dengan serta merta, maka ketiga orang itupun telah bersama-sama menyerang dengan ujung senjata.

Pengikut Ki Dukut itu sempat menangkis ujung senjata yang mengarah ke dadanya. Namun dalam pada itu. Ketiga orang itu terkejut, ketika tiba-tiba saja Ki Dukut telah berada di luar lingkaran.

“Setan alas“ orang-orang yang garang itu menggeram. Dua orang di antara mereka pun segera memburu

Ki Dukut Pakering, sedangkan yang seorang tetap menghadapi pengikutnya.

“Bunuh saja mereka berdua“ orang yang agaknya menjadi pemimpin dari ketiga orang itu menggeram.

Kedua kawannya tidak menunggu lagi. Dengan serta meria merekapun telah menyerang lawan masing-masing. Sementara Ki Dukut harus menghadapi dua orang lawan yang bertempur berpasangan.

Namun adalah diluar dugaan sama sekali. Bukan saja karena Ki Dukut tidak bersenjata. Tetapi pada gerak yang tidak mereka duga sama sekali, Ki Dukut sempat menghantam pergelangan tangan salah seorang lawannya, sehingga senjatanya telah terlepas dari tangannya yang serasa menjadi patah. Demikian selagi kawannya dengan heran memperhatikan sekilas, maka tiba-tiba saja tanpa dapat melihat bagaimana hal itu terjadi, senjatanya telah berpindah ke tangan Ki Dukut Pakering.

“Apakah kalian masih akan melawan?“ bertanya Ki Dukut.

Kedua orang itu benar-benar telah dicengkam ketegangan. Sementara pengikutnya yang bertempur dengan senjata itu telah berhasil menguasai lawannya pula.

Ketiga orang itu termangu-mangu sejenak. Mereka benar-benar tidak mengerti, bagaimana segalanya itu dapat terjadi.

Namun dalam pada itu, selagi ketiga orang penyamun itu termangu-mangu terdengar Ki Dukut berkata ”Nah ternyata bahwa kawan kalian telah datang. Aku tidak tahu, apakah ia pemimpin kalian”

Ketiga orang itu menjadi heran. Tetapi yang lebih heran lagi adalah dua orang yang bersembunyi di balik sebuah gerumbul perdu. Ternyata orang tua yang telah mengalahkan para perampok itu tahu pasti, bahwa ada orang lain yang datang mendekat.

“Marilah” berkata Ki Dukut, “kalian tidak usah bersembunyi. Aku tidak akan membunuh siapa pun di sini. Ketiga orang ini pun tidak akan aku bunuh, meskipun aku dapat melakukannya dengan mudah, semudah memijit buah ceplukan”

Kedua orang itu tidak dapat bersembunyi lebih lama. Tetapi merekapun bukan pengecut yang hatinya susut karena sikap Ki Dukut yang garang. Salah seorang dari kedua orang itupun kemudian berkata ”Baiklah Ki Sanak. Kau memiliki penglihatan yang sangat tajam. Mungkin bukan penglihatan indera wadagmu, tetapi penglihatan batinmu. Namun demikian, aku tidak akan duduk menjilat telapak kakimu. Aku adalah pemimpin perampok dan penyamun yang ditakuti di daerah ini. Aku adalah orang yang dikenal sebagai Iblis Pencabut Nyawa”

Ki Dukut tertawa. Katanya, “jangan membuat nama yang dapat menakuti anak-anak. He. apakah kau pernah mendengar namaku?“

“Siapa kau?“ bertanya pemimpin perampok itu.

“Aku adalah Rajawali Penakluk Bumi” berkata Ki Dukut. Lalu, “Mungkin aku dapat membuat nama yang lebih mengerikan. Namun nama itu tidak berarti apa-apa bagiku. Sekarang, marilah kita berbicara tentang diri kita masing-masing”

“Apa maksudmu lewat dengan sengaja di daerah ini” bertanya pemimpin perampok itu.

“Aku adalah pemimpin perampok yang selama ini bertualang tanpa kawan selain seorang saja. Tiba-tiba aku ingin mempunyai lebih dari satu kawan. Karena itu, bagaimana jika aku saja yang memimpin kelompok pe-rampok di sini. Kau akan menjadi pemimpin kedua yang namamu akan terangkat pula karena tingkat ilmuku yang tanpa lawan”

Pemimpin perampok itu menggeram. Ia benar-benar merasa terhina mendengar keterangan Ki Dukut yang sombong itu. Bahkan seolah-olah merasa dirinya manusia yang lain dari manusia kebanyakan sehingga tidak mungkin terkalahkan.

Karena itu, maka iapun menjawab, “Ki Sanak yang menyebut dirinya Rajawali Panakluk Bumi. Jangan kau kira bahwa aku sama sekali tidak akan berdaya menghadapi kau berdua. Mungkin kau memang seorang yang memiliki ilmu yang tidak terkalahkan di daerah yang tidak aku kenal. Tetapi disini, kau tidak akan berarti apa-apa bagiku, sehingga jika kau ingin bekerja bersama kami, maka kau akan menjadi orang yang paling rendah dalam tataran kami”

“He, apakah kau tidak melihat kenyataan yang terjadi di hadapanmu Iblis? Tiga orangmu sama sekali tidak berdaya. Itupun aku hanya sekedar bermain-main Apalagi jika aku bertempur dengan sungguh-sungguh”

“Persetan” geram pemimpin perampok yang menyebut dirinya Iblis Pencabut Nyawa itu, “kau belum mengenal aku seperti aku belum mengenalmu. Jangan terlampau sombong”

“Terserahlah menurut penilaianmu. Tetapi yang jelas bahwa aku tidak akan dapat kau sebut orang yang akan berada ditataran terendah” jawab Ki Dukut Pakering.

Pemimpin perampok itu tidak sabar lagi. Sikap Ki Dukut benar-benar sangat menyakitkan hati.

Karena itu, maka ia pun segera bersiap dengan senjata di tangan. Ia ingin menjajagi, apakah kemampuan orang yang menyebut dirinya Rajawali Penakluk itu benar-benar memiliki ilmu yang tinggi seperti sikap sombongnya.

Ki Dukut pun telah bersiap pula menghadapi segala kemungkinan. Bahkan ia masih sempat berkata, “Iblis yang jinak. Marilah kita membuat janji”

“Apa janjimu?“ bertanya pemimpin perampok itu.

“Kita akan bertempur. Mungkin kau tidak ingin bertempur seorang diri. Baiklah. Kau dapat bertempur berempat atau bahkan berlima sama sekali. Aku hanya berdua. Tetapi kita membuat taruhan” jawab Ki Dukut.

“Apakah taruhannya?“ bertanya pemimpin perampok itu.

“Jika kami berdua kalah, kau dapat memperlakukan kami sesuai dengan keinginanmu. Mungkin kau akan mengambil milik kami, atau kalian akan mencincang kami atau semacam hukum picis atau terserahlah, akan kalian perlakukan apa saja atas kami. Tetapi jika kami menang, kalian harus tunduk kepada kami, dan aku akan menjadi pemimpin kalian disini. Sebenarnyalah bahwa aku mempunyai cita-cita yang barangkali akan sangat menyenangkan bagi kalian”

“Persetan” geram pemimpin perampok itu, “aku tidak peduli. Jika kau kalah, kau memang akan aku bunuh. Tetapi aku ingin melihat kau menyesali kesombonganmu Aku ingin memasukkan kau kesarang semut dompo. Semut merah berkepala hitam. Kau akan disayat-sayat oleh semut itu menjadi gumpalan-gumpalan daging dan kerangka. Untuk mati. diperlukan waktu dua atau tiga hari”

Ki Dukut tertawa. Katanya, “Bagus sekali. Aku belum pernah mendengar nama semut dompo yang berwarna merah dan berkepala hitam. Tetapi jika jenis itu memang ada di hutan-hutan sekitar tempat ini, maka agaknya memang menarik sekali untuk melemparkan satu dua orang di antara kalian. Aku ingin melihat, bagaimana kira-kira tingkah laku seseorang yang mengalami siksaan seberat itu”

Pemimpin perampok itu benar-benar menjadi marah. Maka sesaat kemudian iapun telah bersiap. Bahkan ia berkata kepada orang-orangnya, “Jangan tinggal diam. Tangkap kedua orang ini. Sudah lama aku tidak memberi makan semut dompo itu”

Orang-orang pun segera bersiap. Tetapi dua orang di antara mereka menjadi termangu-mangu.Mereka sudah tidak memiliki senjata lagi.

Tetapi mereka menjadi heran ketika Ki Dukut berkata, “Ambil senjatamu”

Orang yang kehilangan senjata itu termangu-mangu Namun iapun kemudian mengambil senjatanya, sementara yang senjatanya jatuh ke tangan Ki Dukut Pakering yang mereka kenal bernama Rajawali Penakluk Bumi itu pun telah diserahkannya kembali sambil tertawa. Katanya, “Kau akan memerlukan ini”

Orang itu termangu-mangu. Tetapi iapun kemudian menerima senjata itu pula, meskipun terasa tangannya menjadi gemetar.

Sikap Ki Dukut Pakering benar menyakitkan hati pemimpin perampok itu. Karena itu, maka ia pun dengan serta merta telah menyerang orang tua yang menyebut dirinya Rajawali Penakluk Bumi.

Tetapi pemimpin perampok itu benar-benar menjadi heran. Ki Dukut Pakering dan seorang pengikutnya itu mampu bergerak secepat kitat. Bahkan kadang-kadang diluar jangkauan penglihatan para perampok itu.

Apalagi ketika Ki Dukut dan pengikutnya menggenggam senjata pula di tangan mereka. Maka perlawanan para perampok itu hampir tidak berarti sama sekali.

Yang dapat mereka lakukan hanyalah sekedar saling berloncatan dan bahkan kadang-kadang mereka kehilangan arah sama sekali, sehingga mereka menjadi kebingungan.

Pertempuran itu ternyata tidak berlangsung lama. Satu demi satu senjata para perampok itu telah lepas dari tangan. Segores demi segores senjata Ki Dukut dan pengikutnya telah melukai lawannya. Namun agaknya Ki Dukut dan pengikutnya itu sama sekali tidak bernafsu untuk membunuh mereka. Dalam keadaan yang gawat Ki Dukut masih berkata, “Menyerah sajalah. Aku bermaksud baik. Aku tidak akan menghukum kalian, apalagi memasukkan kalian ke sarang semut dompo itu. Tetapi jika kalian berkeras untuk bertempur terus, mungkin aku akan mempertimbangkannya, apakah kalian akan aku masukkan ke dalam sarang semut itu, atau aku akan mangambil sikap lain”

Betapapun garangnya, namun ancaman Ki Dukut Pakering itu benar-benar menggetarkan hati. Pemimpin perampok yang telah menjelajahi daerah petualangan yang luas itupun tergetar hatinya melihat kemampuan Ki Dukut Pakering yang menyebut dirinya sebagai Rajawali Penakluk Bumi.....

Bersambung....!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...