Rabu, 03 Februari 2021

PANASNYA BUNGA MEKAR JILID 12-03

PANASNYA BUNGA MEKAR : 12-03
Ki Selabajra yang kemudian berkata, “Silahkan. Kami memang ingin mendengar ceritera dari pihak yang lain”

Ki Kasang Jati mengangguk-angguk sambil menjawab, “Demikianlah. Kalian tentu saja sudah cukup mempunyai pengalaman, sehingga akan dapat menimbang baik dan buruk. Biarlah angger Mahisa Bungalan sajalah yang menceriterakan, apa yang diketahuinya sejak awal sampai ia berada di padepokan ini”

“Silahkan ngger” desis Ki Selabajra, “aku masih mempunyai kepercayaan kepadamu”

Orang bertubuh tinggi di antara kawan-kawan Ki Dukut itu mengerutkan keningnya. Sekilas ia memandang wajah Ki Selabajra. Kemudian iapun memandangi wajah Mahisa Bungalan yang tegang.

Sejenak kemudian, Mahisa Bungalan itupun segera berceritera tentang segala peristiwa yang berhubungan dengan Pangeran Kuda Padmadata yang diketahuinya. Sejak tanpa sengaja ia telah terlibat langsung sampai akhirnya ia telah melibatkan pula paman-pamannya dan bahkan telah menitipkan anak perempuan Ki Wastu itu ke dalam lingkungan istana Singasari.

Orang-orang yang duduk di pendapa itu mendengarkan ceritera Mahisa Bungalan dengan hati yang bergejolak. Kadang-kadang tegang, kadang-kadang haru namun kadang-kadang mereka telah merasa tersinggung pula.

“Gila” geram salah seorang dari mereka, “ kita sudah ditipu oleh Ki Dukut”

Namun orang yang bertabuh tinggi itupun berdesis, “Apakah kalian percaya kepada ceritera anak muda ini?“

“Aku percaya“ Ki Selabajra lah yang menjawab, “Aku masih mempercayainya seperti yang sudah aku katakan”

“Apakah kau pernah mengenalnya sebelumnya?“ bertanya orang bertubuh tinggi itu.

“Pernah. Ia pernah tinggal di padepokanku meskipun tidak terlalu lama” jawab Ki Selabajra.

Orang bertubuh tinggi itu tertegun sejenak. Namun kemudian katanya, “Bagiku, ceritera itu akan dapat didasari oleh sikap dan kepentingan masing-masing. Lebih baik jika kita mendengar ceritera dari kedua belah pihak pada saat yang bersamaan. Maksudku kedua belah pihak berada di satu lingkaran pertemuan. Baru kita mendengar ceritera itu secara adil”

“Jangan bodoh” sahut seorang yang bertubuh gemuk, “dengan demikian yang ada bukannya sebuah pembicaraan, tetapi tentu sebuah perkelaian”

Orang bertubuh tinggi itu menjadi tegang. Tetapi ia tidak menyahut lagi.

“Begitulah Ki Sanak” berkata Ki Kasang Jati, “kalian sudah mendengar apa yang kami ketahui tentang peristiwa yang kalian dengar pula dari Ki Dukut tetapi dengan urutan kejadian dan desar berpijak yang berbeda. Terserah kepada kalian. Sebagian dari kalian telah menyatakan percaya kepada ceritera angger Mahisa Bungalan, sementara ada yang bersikap lain, kami tidak akan dapat memaksa. Terserahlah. Dan terserah pula sikap apa yang akan kalian ambil. Kami akan melayani dengan senang hati. Yang percaya, atau yang tidak percaya kepada ceritera itu”

Suasana telah menegang. Meskipun kata-kata Ki Kasang Jati itu diucapkan dengan ramah tamah dan senyum, tetapi tantangan bagi mereka yang masih berkeras hati untuk menganggap padepokan kecil itu telah melakukan banyak kesalahan, benar-benar telah mendebarkan.

Namun suasana itu pun kemudian telah dipecahkan dengan desah Ki Selabajra, “Kita telah tertipu”

Beberapa orang lainnya pun menarik nafas dalam-dalam pula. Bagi mereka yang melihat kenyataan di sekitar mereka, maka mereka akan menyadari bahwa tidak ada yang dapat mereka lakukan di padepokan itu, seandainya mereka tidak mempercayai ceritera Mahisa Bungalan. Namun bersama Ki Wastu dan Ki Kasang Jati, nampaknya yang dikatakan oleh Mahisa Bungalan itu memang meyakinkan.

“Jika demikian, kita memang telah tertipu” berkata seorang yang bertubuh gemuk, “sehingga dengan demikian, apa salahnya jika mohon maaf kepada Ki Kasang Jati?“

“Ah” sahut Ki Kasang Jati, “kita masing-masing dapat saja membuat kekhilafan. Karena itu, jika hal itu sudah kita sadari, maka kita masing-masing tentu akan saling memaafkan”

“Terima kasih” desis Ki Selabajra, “untunglah bahwa di sini kami dapat bertemu dengan angger Mahisa Bungalan. Jika kami datang lebih dahulu daripadanya, mungkin keadaan akan berbeda”

“Ya. Mungkin kalian telah mencincang kami dan seisi padepokan ini” sahut Ki Kasang Jati.

“Bukan maksud kami” sahut orang yang bertubuh gemuk, “kami datang untuk menangkap Ki Kasang Jati dan membawanya kepada yang berhak untuk mengadili kesalahan yang kami kira benar-benar telah dilakukan oleh Ki Kasang Jati”

Tetapi orang bertubuh tinggi itu masih berkata, “Dan kita masih belum mendapat bukti yang meyakinkan, bahwa yang dikatakan oleh Mahisa Bungalan itu benar”

Mahisa Bungalan memandang orang itu dengan tegang. Katanya kemudian, “Apakah kau bersedia datang kepada Pangeran Kuda Padmadata?“

“Buat apa?“ desis orang bertubuh tinggi itu.

“Untuk mendengar keterangannya, apakah yang aku katakan ini benar atau justru keterangan Ki Dukut itulah yang benar” jawab Mahisa Bungalan.

“Aku tidak terlalu bodoh untuk mengumpankan kepalaku ke mulut seekor harimau” geram orang itu.

“Kenapa? Apakah kau takut Pangeran Kuda Padmadata akan berbuat sesuatu atasmu” bertanya Mahisa Bungalan.

“Bukan Pangeran itu. Tetapi di perjalanan menuju Kediri, kau dapat saja berbuat curang dan mencelakai aku” jawab orang bertubuh tinggi.

Mahisa Bungalan menggeretakkan giginya. Darah mudanya seakan-akan telah mendidih di jantungnya. Namun Ki Kasang Jati berkata menengahi, “Sudah aku katakan. Terserahlah kepada kalian. Percaya atau tidak percaya. Bahkan kamipun telah bersedia melayani sikap apapun yang akan kalian ambil”

Orang bertubuh tinggi itulah yang menggeram. Katanya, “Aku lebih percaya kepada Ki Dukut Pakering. Ia adalah guru Pangeran Kuda Padmadata. Dan yang dikatakannyapun lebih wajar dari ceritera Mahisa Bungalan yang seolah-olah dapat berbuat apa saja melampaui kewajaran orang lain. Aku tidak percaya bahwa Ki Dukut akan sampai hati mengorbankan muridnya. Yang lebih masuk akal bagiku adalah niat buruk Ki Wastu karena anak perempuannya tidak lagi dikehendaki oleh Pangeran Kuda Padmadata dan ditinggalkannya di padukuhan terpencil dari Kota Raja. Tetapi bahwa kemudian dengan bantuan Ki Kasang Jati telah membuat huru-hara itulah yang memang pantas untuk dihukum”

“Kau ternyata seorang yang teguh hati” sahut Ki Kasang Jati mendahului Mahisa Bungalan yang telah bergeser setapak, “aku menghargai sikapmu. Tetapi bahwa kau telah mengeraskan hati pada kekeliruan itulah pantas disesalkan. Namun demikian, aku tidak berkeberatan atas sikapmu. Pada suatu saat kau akan melihat kebenaran”

“Bukan keras hati” potong Mahisa Bungalan, “tetapi keras kepala. Jika kau yakin akan tanggapanmu atas segala peristiwa itu, apa yang akan kau lakukan?“

“Tidak ada” jawab orang bertubuh tinggi itu, “karena aku hanya seorang diri”

“Gila” geram Mahisa Bungalan, “yang berceritera tentang peristiwa yang tidak kau percaya itupun hanya aku seorang diri”

Wajah orang bertubuh tinggi itu menegang. Namun kemudian dengan geram ia berkata, “Kau akan bersikap seperti seorang laki-laki?“

“Aku sudah bersikap seperti seorang laki-laki. justru aku bertempur berhadapan dengan dua tiga orang sekaligus. Nah, apakah kau akan bersikap jantan pula“ Mahisa Bungalan sudah terlalu sulit mengendalikan perasaannya.

Ki Kasang Jati menarik nafas dalam-dalam. Namun ia berkata, “Persoalannya harus dibatasi. Tetapi sebenarnya kita tidak akan memaksa kalian untuk percaya”

“Aku harus meyakinkan, apakah orang yang bernama Mahisa Bungalan dan mengaku dapat membebaskan anak perempuan Ki Wastu ini benar-banar seorang laki-laki, atau hanya seorang pemimpin”

Mahisa Bungalan menggeram. Agaknya orang bertubuh tinggi itu tidak percaya akan kemampuannya.

“Apakah ia tidak berada di arena pertempuran melawan para cantrik, putut dan aku sendiri?“ bertanya Mahisa Bungalan di dalam hatinya. Namun agaknya sikap itu menunjukkan, bahwa ia benar-benar ingin mengetahui tataran kemampuan Mahisa Bungalan yang sebenarnya.

“Apakah yang sebenarnya kau kehendaki?“ tiba-tiba saja Mahisa Bungalan bertanya.

Orang bertubuh tinggi itu menggeram. Dipandanginya Ki Kasang Jati dan Ki Wastu sejenak. Kemudian katanya, “Aku tidak akan menyangsikan lagi jika Ki Kasang Jati yang menceriterakan dan mengalami peristiwa itu. Mungkin hal itu juga dapat dilakukan oleh Ki Wastu, saudara seperguruan Ki Kasang Jati. Tetapi tidak oleh seorang anak muda yang bernama Mahisa Bungalan, yang memang pernah aku dengar berada di padepokan Kenanga”

Mahisa Bungalan menggeretakkan giginya. Katanya dengan suara bergetar, “Kau siapa? Ternyata kau pernah mendengar namaku sebelumnya. Tatapi jika demikian, kenapa kau seolah-olah tidak mengenalku sama sekali?”

“Aku hanya mendengar namamu dari seorang gadis bernama Ken Padmi” desis orang bertubuh tinggi Itu.

“Cukup“ Ki Selabajra lah yang kemudian memotong, “masalahnya akan berkembang ke arah yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan Ki Dukut Pakering dan Ki Kasang Jati di padepokan ini”

“Ada Ki Selabajra” berkata orang bertubuh tinggi itu, “aku benar-benar ingin mengetahui kebenaran berita tentang kebesaran namanya. Ternyata iapun telah dengan sombong menyebut kemampuan diri tanpa malu-malu”

“Bukan maksudku” geram Mahisa Bungalan, “jika aku menceriterakan semua peristiwa yang telah terjadi itu semata-mata karena aku ingin meyakinkan, bahwa yang dikatakan oleh Ki Dukut itu tidak benar”

“Apapun alasanmu” potong orang bertubuh tinggi itu, “tetapi kau adalah orang yang paling sombong yang pernah aku dengar dan yang pernah aku kenal namanya”

“Baiklah” jawab Mahisa Bungalan, “jika itu yang kau kehendaki, aku tidak berkeberatan”

“Tidak ada gunanya” potong Ki Selabajra, “persoalan yang kau katakan, terlalu dicari-cari dan tidak akan berarti apa-apa”

“Biarlah aku melakukannya Ki Selabajra” jawab orang bertubuh tinggi itu, “dengan demikian, semua yang pernah aku dengar bukannya sekedar ceritera”

“Kaulah yang sombong” potong seorang yang bertubuh gemuk, “kau akan membuang waktu dan tenaga tanpa arti”

“Itu persoalanku sendiri” jawab orang bertubuh tinggi itu.

“Aku tahu” jawab orang bertubuh gemuk, “ tetapi terserahlah. Aku dan kawan-kawan yang lain tidak ikut campur”

“Ini adalah suatu sikap yang gila” geram Ki Selabajra, “kau ternyata lebih gila dari orang lain yang pernah dikenal di padepokan Kenanga”

“Mungkin Ki Selabajra. Tetapi dengan, demikian Ki Selabajra akan yakin terhadap kemampuanku” desis orang bertubuh tinggi itu, “aku tidak hanya sekedar dapat mengalahkan murid-murid Ki Selabajra yang tidak berarti apa-apa itu. Tetapi juga orang yang namanya pernah di sebut-sebut oleh orang-orang di padepokan Ki Selabajra dan yang agaknya tidak pernah dilupakan oleh Ken Padmi”

“Cukup” potong Ki Selabajra.

Namun ternyata bahwa perasaan Mahisa Bungalan telah tersinggung karenanya. Karena itu maka katanya, “Aku siap, apapun yang harus aku lakukan”

“Bagus” sahut orang bertubuh tinggi yang dengan serta merta telah bangkit dan melangkah turun dari tangga pendapa.

Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya kepada Ki Wastu dan Ki Kasang Jati, “Maaf, agaknya aku telah terseret ke dalam satu persoalan yang kurang aku mengerti. Tetapi biarlah aku melayaninya”

Ki Wastu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian sambil menepuk bahu Mahisa Bungalan ia berkata, “Berhati-hatilah. Tanpa bekal apapun ia tidak akan berbuat demikian. Aku melihat betapa ia memiliki kemampuan dalam pertempuran melawan salah seorang Putut terpercaya dari padepokan ini”

Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam. Ternyata orang bertubuh tinggi itu telah bertempur melawan seorang Putut dari padepokan Ki Kasang Jati di lingkaran pertempuran yang terpisah dari arena, pertempuran Mahisa Bungalan.

Sejenak kemudian Mahisa Bungalan pun talah bangkit pula diikuti beberapa orang yang lain. Sementara Ki Selabajra mendekatinya sambil bergumam, “Buatlah ia jera. Tetapi aku mohon baginya, agar kesombongannya diampuni”

Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia berpaling memandang wajah Ki Selabajra, terbayang kecemasan yang sangat pada sorot matanya.

Tanpa menjawab sama sekali Mahisa Bungalan pun kemudian turun pula ke halaman diikuti oleh beberapa orang yang memasuki padepokan itu bersama Ki Dukut serta kedua orang Putut terpercaya dari padepokan itu. Para cantrikpun ternyata beringsut pula mendekat, berdiri pada sebuah lingkaran yang memagari Mahisa Bungalan dan orang yang bertubuh tinggi itu.

“Kalian menjadi saksi” berkata orang bertubuh tinggi itu, “aku akan menunjukkan kepada Mahisa Bungalan, bahwa nama yang ditinggalkan di padepokan Ki Selabajra bukanlah nama yang pantas dikagumi dan selalu dikenang oleh penghuni-penghuninya. Jika ia dapat sekedar menunjukkan, kelebihannya terhadap seorang gadis, maka bagiku, itu bukannya satu kelebihan yang sebenarnya bagi seorang laki-laki”

Mahisa Bungalan menggeram. Tetapi ia sama sekali tidak menjawab.

Sejenak kemudian, maka kedua orang itu pun telah bersiap. Betapapun dinginnya malam, namun dikening mereka telah mengembun keringat yang membasah.

Ki Kasang Jati yang berdiri di sebelah Ki Wastu menjadi berdebar-debar juga. Tetapi ia tidak mengerti, perkembangan apakan yang sebenarnya terjadi di hati mereka, sehingga tiba-tiba saja mereka seolah-olah telah berdiri sebagai lawan yang saling mendendam.

Ki Selabajra menjadi berdebar-debar. Ternyata ia lebih banyak mengetahui persoalan yang berkembang di dalam hati kedua orang itu. Apalagi karena orang bertubuh tinggi itu telah menyebut nama Ken Padmi.

“Tidak aku duga sama sekali” berkata Ki Selabajra di dalam hatinya, “bahwa aku akan menjumpai peristiwa ini”

Namun Ki Selabajra tidak dapat mencegahnya lagi. Kedua orang itu telah berkata berkeras hati untuk menunjukkan bahwa masing-masing adalah seorang laki-laki yang memiliki harga diri.

Sejenak kemudian, keduanya telah mulai bergeser. Ketika Mahisa Bungalan merendah, maka orang bertubuh tinggi itu telah meloncat menyerang dengan garangnya.

Pertempuran yang sengitpun segera terjadi. Orang bertubuh tinggi itu ingin menyelesaikan pertempuran itu dalam waktu yang singkat. Semakin singkat maka ia akan semakin meyakinkan bagi orang lain, bahwa Mahisa Bungalan bukanlah orang yang harus di kagumi.

Tetapi Mahisa Bungalan tidak membiarkan dadanya dipecahkan oleh lawannya. Karena itu, maka iapun telah berusaha untuk menghindari setiap serangan. Betapa cepatnya orang bertubuh tinggi itu bergerak namun ternyata bahwa Mahisa Bungalan mampu mengimbanginya.

Agak berbeda dengan orang bertubuh tinggi itu, Mahisa Bungalan tidak bernafsu, untuk mengalahkan lawannya secepat-cepatnya. Meskipun ia juga ingin menunjukkan bahwa ia memiliki kelebihan dari lawannya, tetapi ia mempunyai cara yang berbeda. Di hadapan Ki Wastu, Ki Kasang jati dan Ki Selabajra, Mahisa Bungalan tidak dapat membiarkan perasaannya bergejolak tidak terkendali. Bagaimanapun juga ia masih harus memperlihatkan, bahwa orang-orang itu akan menilai sikap dan perbuatannya. Bahkan bukan mereka sajalah yang akan menilainya, tetapi yang mereka lihat itu akan merambat lewat mulut kemulut, sehingga akan terdengar oleh banyak orang lain yang pernah mengenalnya Ki Wasku akan bercerita kepada paman-pamannya Mahisa Agni danWitantra, dan bahkan kepada ayahnya dan tentu akan terdengar pula oleh Pangeran Kuda Padmadata. Sedangkan lewat Ki Selabajra maka kemungkinan benar, seorang gadis yang disebut-sebut oleh orang bertubuh tinggi dan bernama Ken Padmi itupun akan mendengar pula, bagaimana ia mengalahkan lawannya tanpa bersikap kasar.

Karena itu, maka Mahisa Bungalan telah mengambil sikap tersendiri. Ia tidak ingin mengalahkan lawannya dalam waktu yang singkat, tetapi ia ingin menunjukkan bahwa lawannya yang telah mengerahkan segenap kemampuannya itu dapat dikalahkannya tanpa membasahi tubuhnya dengan keringat.

Dengan demikian, maka Mahisa Bungalan pun kemudian tidak terlalu banyak membalas-serangan dengan serangan. Hanya pada saat-saat ia terdesak, maka ia pun berusaha untuk memperbaiki keadaannya dengan beberapa serangan. Selebihnya, ia lebih banyak bertahan dan menghindar.

Dengan caranya Mahisa Bungalan ingin membiarkan lawannya kehabisan tenaga dan berhenti dengan sendirinya. Dengan demikian maka setiap orang akan dapat menilai, bahwa bagi Mahisa Bungalan orang bertubuh tinggi itu tidak banyak berarti.

Namun ternyata orang bertubuh tinggi itu telah mengerahkan segenap kemampuannya pada serangan-serangan pertamanya. Seperti yang dikehendaki, ia ingin menjatuhkan lawannya dalam waktu sekejap. Kemudian dengan bangga ia akan menepuk dada sambil berkata, “Inilah Mahisa Bungalan yang disebut-sebut orang. ia dapat aku kalahkan sebelum sepenginang”

Tetapi ternyata bahwa usahanya itu tidak segera berhasil. Orang bertubuh tinggi itu merasa bahwa ia selalu berhasil mendesak lawannya. Hanya sekali-kali saja ia harus menghindar dan meloncat surut. Namun kemudian ia berhasil menekan lawannya tanpa banyak mendapat perlawanan kecuali loncatan-loncatan menghindar dan sekali-kali serangan balasan yang tidak berarti.

Ki Selabajra yang berdiri di tepi arena itu menjadi berdebar-debar. Ia memang melihat orang bertubuh tinggi iu selalu mendesak lawannya. Dan iapun melihat betapa Mahisa Bungalan berloncatan menghindar. Namun demikian tidak satu kalipun orang bertubuh tinggi itu berhasil menyentuh tubuh Mahisa Bungalan.

Untuk beberapa saat, orang bertubuh tinggi itu masih menunjukkan kemampuannya. Sekali-sekali Mahisa Bungalan dengan sengaja memberikan kemungkinan kepada lawannya. Namun apabila lawannya mulai menyerangnya, maka iapun segera bergeser menghindar.

Namun dalam pada itu, kemarahan lawannya bagaikan telah membakar rongga dadanya. Ia masih belum menyadari, apa yang sebenarnya terjadi. Yang bergejolak di hatinya adalah harga dirinya yang memaksanya untuk bertempur melawan Mahisa Bungalan.

Tetapi ternyata bahwa ia tidak dapat mengalahkannya. Meskipun menurut perhitungannya, Mahisa Bungalan pun tidak dapat mengalahkan pula. Pada saat-saat terakhir, maka tenaganya benar-benar telah terkuras habis. Setiap kali mengayunkan tangan atau kakinya, maka iapun telah terhuyung-huyung sehingga orang bertubuh tinggi itu harus berjuang untuk mempertahankan keseimbangannya.

Dengan demikian, maka orang itu akhirnya merasa, bahwa kesempatan untuk mengalahkan Mahisa Bungalan telah habis sama sekali. Apabila mengalahkan dengan cepat untuk membuktikan bahwa ia memiliki banyak kelebihan dari anak muda itu.

Tetapi bagaimana juga, ia masih mempunyai kebanggaan bahwa Mahisa Bungalan tidak dapat mengalahkannya. Sehingga dengan demikian, ia akan dapat menepuk dada. bahwa orang yang memiliki nama yang dikagumi di padepokan Kenaga itu sama sekali tidak lebih dari dirinya sendiri.

Meskipun demikian, keinginannya untuk mengalahkan lawannya ternyata tidak dapat dikekangnya. Ketika Mahisa Bungalan dengan dada terbuka tegak di hadapannya, maka dengan serta merta ia telah melangkah maju sambil menjulurkan tangannya menghantam dada anak muda yang nampaknya lengah itu.

Tetapi Mahisa Bungalan tidak membiarkan dadanya dikenai lawannya. Karena itu, maka iapun bergeser hanya setapak surut, sehingga tangan orang bertubuh tinggi itu tidak mengenainya.

Namun karena jarak itu nampaknya hanya demikian dekatnya, maka orang bertubuh tinggi itu telah memburunya Selangkah ia memaksa kakinya melangkah dan sekali lagi ia mengayunkan tangannya dengan sisa tenaga yang ada padanya. Ia merasa bahwa serangan berikutnya itu tentu tidak akan luput lagi, sehingga karena itu, maka dikerahkannya segenap tenaga dan justru berat badannya.

Mahisa Bungalan tidak bergeser surut. Tetapi ia meloncat kesamping. Karena itulah maka orang bertubuh tinggi itu telah terseret oleh hentakkan tangannya dan berat badannya sendiri, sehingga iapun terhuyung-huyung jatuh tertelungkup.

Kedua tangannya berusaha menahan berat badannya. Tetapi ketelahan yang sangat telah memaksanya untuk menyentuh tanah dengan wajahnya yang berkeringat.

Ketika kemudian ia mengangkat wajah itu, maka wajah itu telah dilekati debu yang kelabu kehitam-hitaman.

Orang itu tertatih-tatih berdiri sambil menggeram. Dengan lengannya ia mengusap wajahnya yang kotor itu. Namun kemudian ia masih sempat menggeram, “Kita akan bertempur dengan sisa tenaga kita sampai salah seorang dari kita yakin telah memenangkan pertempuran ini”

Mahisa Bungalan yang berdiri tegak memandanginya dengan tajamnya. Agaknya di mata orang bertubuh tinggi itu, Mahisa Bungalan pun telah kehabisan tenaga. Namun sebenarnyalah meskipun keringat Mahisa Bungalan juga membasahi seluruh tubuhnya, namun ia masih menyimpan sebagian besar dari tenaganya.

Untuk beberapa saat Mahisa Bungalan termangu-mangu. Ia bergeser selangkah ketika lawannya itu menyerangnya. Sekali lagi orang itu terjerembab. Dan sekali lagi ia berusaha untuk bangkit sambil menggeretakkan giginya.

“Apakah kau masih belum puas?“ tiba-tiba saja Mahisa Bungalan bertanya.

“Kau menyerah?“ bertanya orang bertubuh tinggi itu.

“Jangan gila” geram Mahisa Bungalan, “seharusnya kau dapat menilai keadaan. Kaulah yang harus mengakui kekalahan. Kemudian perkelahian ini dapat kita hentikan”

“Jangan mengigau” geram orang bertubuh tinggi itu, “jika kau sudah tidak mampu lagi bergerak, menyerahlah. Aku tidak akan menyakitimu. Aku hanya ingin membuktikan bahwa kau tidak lebih baik dari aku. dan bahwa kau sudah aku kalahkan”

“Ki Sanak” berkata Mahisa Bungalan, “sebenarnya aku tidak bernafsu untuk menunjukkan kemenanganku atasmu. Tetapi kau sudah menyebut nama seorang gadis di padepokan Kenanga. Kaupun telah menyebut berapa orang-orang padepokan itu mengenal namaku. Karena itu, aku memang wajib mempertahankannya. Dan ternyata kau adalah orang yang tidak tahu diri”

“Cukup. Jika kau masih berkicau lagi, aku akan menyobek mulutmu” bentak orang bertubuh tinggi itu.

“Ki Sanak. Cobalah melihat kenyataanmu. Dengan sentuhan jariku aku dapat membantingmu jatuh”

Orang itu ternyata menjadi semakin marah. Dengan serta merta ia berusaha menyerang Mahisa Bungalan. Tetapi Mahisa Bungalan yang sudah jemu bermain-main tidak membiarkan orang itu tersuruk dan jatuh. Namun demikian ia terhuyung-huyung di hadapannya, maka iapun segera menangkap tengkuknya sambil menggeram, “Cobalah melawan. Aku dapat membenturkan kepalamu pada dinding batu itu. Atau dengan satu pukulan aku dapat memecahkan tulang kepalamu ini”

Orang itu meronta. Tetapi tangkapan tangan Mahisa Bungalan bagaikan himpitan sebuah bukit padas. Bahkan terasa tangan itu semakin lama semakin menghimpit tengkuknya.

Orang-orang yang menyaksikan pertempuran itu menjadi kian tegang. Ada di antara mereka yang tidak mengetahui dengan pasti, apa yang telah terjadi, sehingga merekapun telah terkejut melihat akhir dari pertempuran itu. Mereka menyangka bahwa Mahisa Bungalan pun telah menjadi sangat telah dan kehabisan, tenaga. Namun ternyata bahwa justru pada saat terakhir, Mahisa Bungalan telah berubah manjadi sangat garang.

Tetapi beberapa orang memang telah mengetahui, bahwa Mahisa Bungalan ingin mengalahkan lawannya dengan caranya. Ia ingin menunjukkan bahwa seolah-olah ia membiarkan saja lawannya sehingga ia telah menyerah kepada keadaan.

Sebenarnyalah bahwa orang bertubuh tinggi itu sudah tidak berdaya sama sekali. Ketika Mahisa Bungalan menggerakkan tengkuknya, tubuhnya bagaikan terombang-ambing tanpa dapat bertahan sama sekali.

Akhirnya Mahisa Bungalan pun melepaskannya dengan mendorongnya sedikit ke samping. Namun dorongan yang sedikit itu ternyata telah membantingnya jatuh.

Terdengar orang itu menyeringai. Namun kemudian sambil mengumpat ia berusaha untuk meloncat bangkit. Namun demikian ia berdiri pada lututnya, maka iapun telah teriatuh kembali dengan lemahnya.

“Bangkitlah” geram Mahisa. Bungalan yang berdiri tegak selangkah disampingnya, “apakah kau masih belum melihat kenyataan ini”

Sorot mata orang itu bagaikan bara api yang menyala oleh kemarahan yang tidak terkendali. Tetapi tubuhnya benar-benar telah kehabisan tenaga. Ia tidak lagi mampu bangkit, apalagi berdiri bertolak pinggang seperti Mahisa Bungalan.

“Aku dapat mematahkan lehermu setiap saat aku kehendaki” geram Mahisa Bungalan, “ tetapi aku ingin agar kau yakin, bahwa kau bukan apa-apa bagiku”

Ki Wastu menarik nafas dalam-dalam. Agaknya anak muda itu benar-benar telah menjadi sangat marah. Ia tidak pernah melihat Mahisa Bungalan demikian sombongnya. Seakan-akan dengan sengaja ia ingin menunjukkan betapa dirinya adalah seorang anak muda yang luar biasa.

Dalam pada itu Ki Selabajra lah yang kemudian melangkah maju sambil berkata, “Aku tidak pernah sangsi, bahwa demikianlah akan jadinya. Tetapi agaknya anak itu tidak akan percaya sebelum ia mengalaminya”

Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam. Ia melihat orang yang bertubuh tinggi itu seakan-akan telah kehabisan tenaga. Tulang belulangnya seakan-akan telah dilolosi dari tubuhnya. Namun demikian, sorot matanya masih memancarkan dendam dan kebencian, sehingga karena itulah, maka kemarahan Mahisa Bungalan tidak segera susut karenanya. Dengan jantung yang berdentangan ia menggeram, “Nah, katakan sekarang. Apa yang dapat kau lakukan? Apakah kau masih akan mengatakan, bahwa aku tidak berarti apa-apa bagimu?“

Orang bertubuh tinggi itu sama sekali tidak menjawab. Sementara Ki Selabajra yang berkata, “Maafkan anak itu ngger”

Wajah Mahisa Bungalan masih menegang. Justru sekilas ia membayangkan seorang gadis yang cantik, yang telah, dapat menyentuh perasaan. Seorang gadis padepokan yang bernama Ken Padmi, yang namanya justru telah disebut-sebut oleh orang bertubuh tinggi yang telah dikalahkannya itu.

Ki Selabajra kemudian mendekati orang bertubuh tinggi itu. Kemudian katanya, “Kau tidak dapat mengingkari kenyataan. Ternyata kau memang bukan apa-apa bagi Mahisa Bungalan. Lihatlah. Pada saat kau sudah kehabisan tenaga, angger Mahisa Bungalan sama sekali tidak nampak susut kemampuannya. Ia masih tetap seperti saat kalian mulai menjajagi kemampuan masing-masing”

Orang bertubuh tinggi itu tidak menjawab. Tetapi ketika Ki Selabajra membantunya untuk berdiri, maka orang bertubuh tinggi itu telah mengibaskan tangannya sambil menggeram, “Aku dapat berdiri sendiri”

“Cobalah” desis Ki Selabajra, “berdirilah”

Orang itu duduk sambil bertelekan pada kedua tangannya. Ketika ia memandang berkeliling, dan melihat wajah-wajah yang tegang, terdengarlah ia menggeram. Tetapi akhirnya ia benar-benar harus melihat kenyataan. Tenaganya benar-benar telah terkuras habis. Seandainya Mahisa Bungalan ingin berbuat sesuatu, ia benar-benar sudah tidak mampu melawannya lagi.

Tetapi ia tidak mau mengakuinya di hadapan anak muda yang bernama Mahisa Bungalan itu. Apapun yang akan terjadi, ia tetap mengeraskan hatinya tanpa menyatakan kekalahannya.

Mahisa Bungalan masih berdiri tegak. Namun sikap Ki Selabajra telah mengurangi panasnya bara di dalam hatinya.

“Sudahlah ngger” desis Ki Wastu kemudian ditelinganya, “biarlah ia bertahan pada kesombongannya. Tetapi ia tidak dapat menipu dirinya sendiri, bahwa ia tidak akan dapat berbuat apa-apa atas anak muda yang bernama Mahisa Bungalan”

Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian, “Terserahlah kepada orang itu. Kadang-kadang aku juga merasa perlu untuk menyombongkan diri”

“Angger benar” berkata Ki Wastu, “tetapi apakah setelah setiap orang mengetahui kemenangan angger, angger masih harus menyombongkan diri?“

Mahisa Bungalan termangu sejenak. Namun kemudian ia berdesis, “Orang itu terlalu tinggi hati. Aku merasa sangat kesal menghadapinya“

“Tetapi angger menghadapi masalah-masalah yang agaknya jauh lebih penting dari orang itu“ desis Ki Wastu, “agaknya Ki Kasang Jati juga menunggu, apakah perkelahian ini dapat dianggap sudah selesai”

Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam. Namun akhirnya ia berhasil menenangkan hatinya. Sekilas dilihatnya orang yang keras hati dan keras kepala itu. Tetapi iapun kemudian berdesis, “Aku tidak peduli lagi apa yang akan dilakukannya”

Ki Wastu menarik nafas dalam-dalam.

“Jika demikian, kau dapat meninggalkan orang itu apapun yang dilakukannya” desis Ki Wastu.

Mahisa Bungalan bergeser setapak. Kemudian katanya kepada Ki Kasang Jati, “ Aku tidak mempunyai kepentingan lagi terhadapnya”

“Baiklah ngger” berkata Ki Kasang Jati, “marilah, aku mempersilahkan kalian naik ke pendapa. Kita dapat duduk dengan tenang, berbicara dengan baik tanpa prasangka. Kita sudah berhasil melenyapkan salah sangka yang ditimbulkan oleh Ki Dukut, sehingga kita tidak ingin terlibat ke dalam persoalan yang tidak ada artinya sama sekali”

Mahisa Bungalan tidak menjawab. Sementara Ki Wastu berdesis, “Marilah, kita naik ke pendapa”

Ki Kasang Jati, Ki Wastu diikuti oleh beberapa orang yang ada di halaman itu naik ke pendapa, sementara Mahisa Bungalan untuk beberapa saat masih memandang lawannya yang ternyata tidak dapat melupakan sikapnya yang sangat menjengkelkan. Tetapi Mahisa Bungalan sudah bertekad untuk tidak mempedulikannya lagi.

Ki Selabajra lah yang terakhir naik ke pendapa. Ia masih berada di halaman bersama orang bertubuh tinggi itu. Dengan nada yang dalam ia berkata, “Marilah, naiklah ke pendapa, perasaan apapun yang ada di dalam hatimu”

Orang itu tidak menjawab.

“Kita adalah tamu-tamu yang deksura dan tidak tahu diri. Kita datang dengan niat buruk. Tetapi kita sekarang mendapat tanggapan yang sangat baik dari Ki Kasang Jati. Sama sekali bukan karena wibawa kita, karena kita tidak akan mampu berbuat apa-apa di hadapannya, apalagi di sini ada angger Mahisa Bungalan dan saudara seperguruan Ki Kasang Jati itu”

Orang itu tetap tidak menjawab.

“Marilah” desak Ki Selabajra, “sikapmu dapat membuat hati orang yang betapapun sabarnya menjadi panas. Dan hal itu sama sekali tidak menguntungkanmu. Atau, kau akan terlempar ke dalam suatu keadaan yang asing di tempat ini karena pokalmu sendiri”

Orang itu sempat memikirkan kata-kata Ki Selabajra. Karena itu, maka iapun kemudian beringsut dan berdesis, “Silahkan naik. Aku akan menyusul”

“Kita naik ke pendapa bersama-sama” berkata Ki Selabajra.

Orang itu tidak membantah lagi. Iapun kemudian berjalan tertatih-tatih. Namun ia memaksa diri untuk tegak sebaik-baiknya, seolah-olah ia sama sekali tidak mengalami kesulitan karena kekalahannya. Sejenak kemudian orang-orang yang berdatangan di padepokan itu telah duduk di pendapa. Meskipun suasananya tidak begitu akrab, tetapi semakin lama mereka menjadi semakin mengerti yang satu dengan yang lain.

Orang-orang yang datang bersama Ki Dukut memang merasa, bahwa orang yang bernama Ki Kasang jati itu agaknya, tidak akan dapat melakukan seperti yang dikatakan oleh Ki Dukut Pakering. Menilik sikap dan kata-katanya, maka Ki Kasang adalah orang yang sudah jauh lebih mengendap dari pada mereka yang lain, yang berada di pendapa itu, termasuk juga Ki Dukut Pakering sendiri.

Untuk beberapa saat mereka masih berbincang dan melihat keadaan mereka dari berbagai segi. Akhirnya, mereka berkesimpulan untuk melupakan saja apa yang pernah terjadi.

“Tidak ada dendam dan pembalasan” berkata Ki Kasang Jati, “kami di sini mengerti, bahwa kalian tidak bermaksud buruk”

“Terima kasih” desis salah seorang dari mereka yang datang padepokan itu atas permintaan Ki Dukut, “kami merasa, betapa sejuk hati Ki Kasang Jati. Kami benar-benar merasa bersalah telah datang ke padepokan ini. Ketika kami mendengar permintaan Ki Dukut dengan alasan-alasannya yang nampaknya sangat kuat, ditambah karena menurut penglihatan kami, Ki Dukut adalah guru dari Pangeran Kuda Padmadata, maka kami sama sekali tidak mengira bahwa kami telah terjebak ke dalam suatu keadaan yang salah sama sekali”

“Sudahlah” berkata Ki Kasang Jati, “sekali lagi aku minta, agar semuanya dapat kita lupakan. Justru kehadiran kalian telah menambah jumlah saudara-saudara kami di sini. Yang semula kita sama sekali tidak saling mengenal, maka kini kami mempunyai saudara yang lebih banyak. Pada suatu perjalanan yang mungkin kami lakukan, maka kami akan mendapat tempat persinggahan yang lebih banyak dari masa sebelumnya”

“Sikap Ki Kasang Jati sangat menyentuh perasaan kami” berkata Ki Selabajra, “ternyata di sini kami menjumpai cermin yang dapat menunjukkan cacat di dalam hati kami. Betapa dungunya kami, dan betapa kasarnya sikap dan tindakan kami. Namun seperti yang Ki Kasang Jati katakan, kami akan sangat senang menerima Ki Kasang Jati apabila benar-benar Ki Kasang Jati sempat singgah di padepokan kami”

Ki Kasang Jati tertawa. Katanya, “Aku sudah tua. Tetapi sekali timbul keinginan di dalam hati untuk melakukan perjalanan agar di saat terakhir aku sempat melihat betapa luasnya bumi Kediri dan Singasari, dan terlebih-lebih lagi betapa besarnya ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa”

“Kami menunggu” desis Ki Selabajra, “juga kami menunggu kehadiran angger Mahisa Bungalan. Aku sama sekali tidak menduga bahwa di sini kita akan bertemu.

Kehadiran orang-orang yang tidak diundang itu, akhirnya telah berada dalam suasana yang lain sama sekali dengan saat kedatangan mereka. Para cantrik yang semula telah terlihat ke dalam pertempuran, betapapun lemahnya mereka, kemudian harus menjamu mereka yang duduk di pendapa itu.

Tetapi karena Ki Kasang Jati nampaknya benar-benar telah melupakan apa yang baru saja terjadi, maka para cantrik pun telah berusaha pula melakukannya, meskipun ada satu dua diantara mereka yang telah terluka. Namun dengan obat-obatan yang ada di padepokan itu, mereka telah diobati sebaik-baiknya oleh kawan-kawan mereka.

Ternyata bahwa orang-orang yang semula bermaksud melakukan hukuman itu telah berada di pedukuhan itu dalam suasana yang sebaliknya. Mereka segera dapat menyesuaikan diri dan benar melupakan apa yang telah terjadi.

Namun, orang yang bertubuh tinggi itu benar-benar tidak dapat melupakan apa yang telah dialaminya. Ia tidak dapat melupakan orang yang bernama Mahisa Bungalan itu. Persoalannya sama sekali tidak lagi berhubungan dengan Ki Kasang Jati. Tetapi persoalannya akan menyangkut nama seorang gadis. Ken Padmi.

Meskipun demikian, orang bertubuh tinggi itu tidak dapat mengingkari kenyataan. Ia sudah dikalahkan oleh Mahisa Bungalan. Bahkan iapun kemudian menangkap kesan dari pembicaraan setiap orang, bahwa Mahisa Bungalan tidak bertempur dengan sepenuh kemampuannya. Jika Mahisa Bungalan berniat mengalahkannya dalam sekejap, maka ia tidak akan dapat berbuat apa-apa.

Hari berikutnya orang-orang itu masih tetap berada di rumah Ki Kasang Jati. Namun dalam pembicaraan merekapun menyadari bahwa dalam keadaan yang demikian Ki Dukut Pakering justru akan berkisar, mengarahkan dendamnya kepada mereka.

“Tetapi ia tidak mempunyai pengikut lagi” berkata Ki Selabajra, “jika kita mempersiapkan seisi padepokan kita masing-masing, maka kita berharap akan dapat bertahan melawannya. Betapapun juga ia bukan iblis yang tidak terkalahkan”

“Bagaimanapun juga, kita semuanya memang harus mempersiapkan diri” berkata salah seorang dari mereka, “pada suatu saat mungkin kita akan saling berhubungan. Agaknya Ki Dukut Pakering adalah orang yang licik dan dapat berbuat apa saja untuk kepentingannya tanpa menghiraukan orang lain”

Ki Kasang Jati akhirnya melihat, betapa orang yang bernama Ki Dukut Pakering itu dapat menimbulkan ketakutan di beberapa tempat. Bagaimanapun juga, ia adalah orang yang berbahaya. Orang yang merasa hidupnya telah diguncang oleh kegagalan demi kegagalan, sehingga apa yang dilakukan kemudian, tentu hanya sekedar luapan dendam dan kebencian.

“Orang itu akan menjadi seekor ular berbisa di sebuah taman yang banyak dikunjungi oleh mereka yang ingin menemukan ketenangan yang ceria” berkata Ki Kasang Jati kemudian, “atau seperti seekor harimau di hutan rindang yang dihuni oleh rusa dan kijang”

“Ya. Ki Kasang Jati benar“ orang yang bertubuh gemuk itu menyahut, “mungkin kita dapat mempersiapkan seluruh isi padepokan kami untuk menghadapinya. Tetapi sekali waktu kita dapat bertemu di perjalanan. Atau tiba-tiba saja ia menjumpai salah seorang dari kita di tengah-tengah sawah dan pategalan selagi kita bekerja”

“Kau benar Ki Sanak” sahut seorang yang lain.

Sementara itu, Ki Kasang Jati merasa betapa kecemasan telah tersebar. Maka dengan nada yang berat ia berkata, “Kita memang harus berburu di hutan rindang, tetapi sangat luas”

“Tepat” sahut Ki Wastu, “aku tidak berani mengatakannya, meskipun aku sudah memikirnya. Kita memang harus pergi berburu. Kita tidak dapat menunggu seekor demi seekor kijang dan rusa itu binasa diterkam oleh seekor harimau yang garang”

“Tetapi daerah perburuan itu terlampau luas” berkata Ki Kasang Jati.

“Kita tidak sendiri” sahut Mahisa Bungalan, “kita akan dapat membagi diri dalam beberapa kelompok. Terlebih-lebih lagi, Pangeran Kuda Padmadata di Kediri, tentu akan dapat membantu kita. Pasukan pengawalnya cukup banyak. Sementara paman-pamanku, paman Mahisa Agni, paman Witantra dan ayahku, Mahendra, tentu akan bersedia membantu dengan caranya. Mungkin tidak akan dapat melakukannya sepenuhnya seperti yang dapat kita lakukan. Tetapi di mana mereka berada akan dapat menjadi lubang-lubang jerat baginya”

Orang-orang yang berada di pendapa itu nampak tertarik sekali dengan pendapat Mahisa Bungalan. Apalagi ketika Mahisa Bungalan menyebut beberapa nama, bahkan nama Pangeran Kuda Padmadata, murid Ki Dukut Pakering sendiri.

Sebenarnyalah bahwa yang dikatakan oleh Mahisa Bungalan itu dapat memberikan sedikit ketenangan bagi mereka yang dicemaskan oleh dendam Ki Dukut Pakering. jika benar beberapa nama itu akan dapat membantu mereka, maka Ki Dukut pun tentu memperhitungkan segala kemungkinan. Apalagi jika kemudian para pengawal di Kediri atau bahkan sepasukan prajurit Singasari akan dapat ikut serta menjaring ular berbisa itu.

“Kami akan segera kembali” berkata Mahisa Bungalan, “kami akan segera mulai dengan perburuan itu. Sebelumnya kami minta setiap padepokan dapat mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan”

“Kami akan melakukannya” berkata Ki Selabajra, “meskipun aku seorang diri tidak akan berarti apa-apa bagi Ki Dukut. Tetapi seluruh isi padepokan kami, mungkin masih harus diperhitungkan oleh orang yang luar biasa itu. Apalagi jika kita memang sudah benar-benar bersiap”

“Kita harus memperhitungkan waktu sebaik-baiknya” desis Ki Kasang Jati. Karena itu, maka angger Mahisa Bungalan pun harus segera bertindak”

Mahisa Bungalan mengerti, bahwa Ki Dukut bukan seorang yang bermalas-malas menunggu kesempatan datang kepadanya. Tetapi Ki Dukut Pakering adalah orang yang memburu kesempatan. Ia bertindak cepat dan tegas. Selebihnya, Ki Dukut sama sekali tidak mempertimbangkan cara apakah yang akan dipergunakannya untuk memenuhi maksudnya. Ia tidak mempunyai pertimbangan kemanusiaan dan apalagi pertanggungan jawab bagi masa langgengnya.

Karena itu, maka ia pun harus bertindak cepat pula untuk mengimbangi langkah yang akan diambil oleh Ki Dukut Pakering. Sehingga iapun memutuskan untuk segera kembali ke Kediri dan menyampaikan masalah yang dijumpainya di padepokan Ki Kasang Jati itu kepada Pangeran Kuda Padmadata.

Namun dalam pada itu, Mahisa Bungalan telah mulai diganggu lagi dengan nama seorang gadis yang pernah dijumpainya. Nama yang tiba-tiba telah disebut oleh seorang yang bertubuh tinggi, yang tanpa alasan yang dapat dimengertinya, seolah-olah telah mendendamnya.

Karena itulah, maka pada satu kesempatan yang khusus ia telah bertanya kepada Ki Selabajra. siapakah sebenarnya orang yang bertubuh tinggi itu.

Ki Selabajra sudah mengira, bahwa pada suatu kesempatan Maisa Bungalan tentu akan bertanya kepadanya tentang orang bertubuh tinggi, yang justru telah menyebut pula nama Ken Padmi.

Karena itu ketika pada saat mereka sempat berbicara berdua dan Mahisa Bungalan benar-benar bertanya tentang orang bertubuh tinggi itu, Ki Selabajra menarik nafas dalam-dalam sambil menjawab, “Ia orang baru di padepokanku. ngger”

“Apakah ia juga murid Ki Selabajra?“ bertanya Mahisa Bungalan kemudian.

“Bukan. Ia bukan muridku. Ia memiliki kemampuan yang hampir seimbang dengan kemampuanku” jawab Ki Selabajra.

“Jadi. siapakah orang itu?“ desak Mahisa Bungalan. Ki Selabajra mengerutkan keningnya. Kemudian dengan ragu-ragu ia berkata, “Aku tidak tahu, di mana ia mengenal Ken Padmi. Tetapi akhirnya ia datang ke padepokanku. Ia memang mengatakan, bahwa ia ingin berguru kepadaku, tetapi aku mengerti, bahwa ia memiliki ilmu yang cukup tinggi menurut tataran padepokanku. Sehingga karena itu, maka aku minta ia berada di padepokan bukan sebagai murid”

“Ia berasal dari mana?“ bertanya Mahisa Bungalan.

“Ia juga anak padepokan. Tidak terlalu jauh dari padepokanku. Mungkin ia pernah melihat Ken Padmi di sawah, di pasar atau entah di mana. Keduanyapun kemudian berkenalan, juga entah di mana dan sejak kapan. Namun akhirnya orang bertubuh tinggi itu telah berusaha untuk selalu berada di dekat Ken Padmi” berkata Ki Selabajra.

Dan tiba-tiba saja Mahisa Bungalan bertanya, “Apakah Gemak Werdi masih sering beradu di padepokan?“

Pertanyaan itu ternyata teluh menyentuh perasaan Ki Selabajra. Bagaimanapun juga, agaknya Mahisa Bungalan masih juga dapat mengenang apa yang pernah dialaminya lahir dan batin di padepokannya.

Karena itu, dengan nada dalam ia bertanya, “Ia jarang sekali datang ke padepokan, ia merasa dirinya telah terasing karena kedatangan anak yang sombong itu”

Mahisa Bungalan menarik nafas panjang. Sementara itu, Ki Selabajra berkata, “Tetapi bagaimanapun juga yang telah terjadi, dan apapun yang sudah dikatakan oleh Ken Padmi tentang dirinya dan orang-orang yang berhubungan dalam sentuhan batin dengan gadis itu, namun ia masih tetap selalu menyebut nama angger Mahisa Bungalan” Ki Selabajra berhenti sejenak, lalu, “Aku mohon maaf ngger. Aku memang orang tua yang tidak tahu diri dan terlebih-lebih lagi tidak tahu malu. Aku sudah mengatakan sesuatu tentang anak gadisku, yang sebenarnya sama sekali tidak pantas. Tetapi aku ingin bersikap jujur menghadapi kenyataan jiwa anak gadisku itu. Angger tentu dapat meraba, bahwa orang yang sombong itu pernah mendengar nama angger dari Ken Padmi. Bukankah itu sudah pertanda, bahwa ia masih selalu menyebut nama angger”

“Mungkin sekali Ki Selabajra. Mungkin ia masih selalu menyebut namaku. Tetapi Mahisa Bungalan dalam ceriteranya adalah seorang yang berhati kelam, melampaui kelamnya malam tanpa bulan tanpa bintang”

“Jika demikian, maka orang itu tidak akan dengan serta merta membenci dan bahkan seolah-olah ia sudah mendendammu” jawab Ki Selabajra. Namun kemudian, “Tetapi sekali lagi aku minta maaf. Mungkin angger menganggap bahwa aku sudah merendahkan anak gadisku dengan menjajakannya kepada angger. Tidak ngger. Aku mengerti sikap angger. Aku hanya ingin mengatakan apa yang aku ketahui tentang anak gadisku itu”

Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. Ia dapat mengerti pula apa yang dikatakan oleh Ki Selabajra. Namun iapun seolah-olah telah tersentuh kembali oleh getar perasaannya yang sudah didesaknya jauh kedasar hati.....

Bersambung....!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...