PANASNYA BUNGA MEKAR : 12-02
“Kita akan menjaga, agar tidak ada korban yang jatuh. Baik di antara kita, maupun di antara mereka. Tetapi kita sudah berpijak pada ujung tanduk. Mungkin kita akan terluka, tetapi mungkin pula kita terpaksa melukai” desis Ki Dukut pada saat mereka siap untuk berangkat.
Kawan-kawan Ki Dukut itu hanya mengangguk-angguk. Mereka menganggap bahwa Ki Dukut adalah orang yang paling mengetahui persoalannya, sehingga karena itu, maka mereka menyerahkan segala rencana sebagian terbesar kepada Ki Dukut.
Pada saat yang sudah ditentukan, maka sekelompok orang yang dipimpin oleh Ki Dukut Pakering telah menyusuri jalan-jalan setapak menuju ke padepokan kecil tempat tinggal Ki Kasang Jati. Padepokan yang dalam keadaan sehari-hari nampak tenang dan tidak dibayangi oleh sifat-sifat permusuhan. Namun tiba-tiba beberapa orang bersenjata telah mendatangi padepokan itu dengan jantung yang panas.
Ki Dukut yang berjalan di paling depan pun masih saja dibayangi oleh keragu-raguan. Jika maksudnya tersingkap, maka ia akan kehilangan kepercayaan dari kawan-kawannya. Bahkan mungkin orang-orang itu akan dapat menjadi orang yang sangat berbaya baginya.
Semakin dekat mereka dengan padepokan kecil itu, maka jantung Ki Dukut Pakering itu pun berdegup semakin keras.
Dalam pada itu, padepokan kecil yang dipimpin oleh Ki Kasang Jati itupun tidak pernah meninggalkah kewaspadaan. Selama padepokan itu dibayangi oleh orang-orang yang tidak mereka kenal, yang nampaknya selalu mengamat-amati padepokan kecil itu, maka orang-orang di padepokan itupun merasa, bahwa mereka harus berhati-hati. Karena itulah, maka setiap malam, beberapa orang selalu berjaga-jaga di halaman depan, meskipun mereka sengaja tidak berada di regol. Bahkan mereka dengan sengaja berada di tempat yang terlindung dari cahaya lampu di pendapa dan di regol halaman.
Setiap malam, regol dan seluruh halaman itupun selalu mendapat mengawasan mereka. Kedua orang Putut di padepokan itu berganti-ganti memimpin para cantrik yang bertugas meronda. Setiap malam mereka berganti berjaga-jaga. Jika yang seorang tidur di gandok, maka yang lain berada diantara para cantrik yang bertugas.
Sementara itu, selain kedua orang Putut yang bertugas berganti-ganti itu, Mahisa Bungalan dan Ki Wastupun selalu bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan. Meskipun Ki Kasang Jati sendiri nampaknya tidak begitu menghiraukan ketegangan yang setiap saat terasa semakin memuncak, namun iapun tidak meninggalkan kewaspadaan. Bahkan kadang-kadang Ki Kasang Jati sendiri keluar dari ruang dalam di tengah malam, berjalan menyusuri sudut-sudut halaman dan menyapa para peronda di serambi, atau di sudut-sudut yang terlindung,
Dengan demikian, maka setiap saat regol padepokan itu tidak pernah terlepas dari pengamatan para cantrik meskipun dari jarak yang tidak terlalu dekat. Namun lampu minyak regol itu cukup terang, apabila seseorang memasuki regol halaman itu, tentu akan dapat mereka lihat.
Karena itulah, maka ketika Ki Dukut mendekati regol dan menganggap regol itu sepi tidak terjaga, maka dengan dada yang berdebaran, para cantrik pun melihat dengan jelas, beberapa orang telah melangkahi tlundak pintu regol halaman padepokan itu.
Para cantrik yang mengamati regol itupun saling menggamit sebagai isyarat. Ternyata bahwa mereka semuanya telah melihat, beberapa orang memasuki halaman padepokannya.
“Bukan sekedar dugaan” berkata para cantrik itu di dalam hatinya.
Namun mereka terkejut ketika mereka melihat, tiba-tiba saja Ki Kasang Jati telah berada di sebelah mereka sambil berbisik, “Aku akan menyapa mereka. Bangunkan kawan-kawanmu. Beritahukan Ki Wastu dan Mahisa Bungalan yang berada di dalam”
Para cantrik itu tidak bertanya lagi. Beberapa orang pun kemudian berdiri dan tanpa ragu-ragu mereka melangkah ke gandok dan yang lain masuk ke ruang dalam.
Ternyata bayangan para cantrik itu dapat dilihat oleh Ki Dukut Pakering. Sejenak itu justru termangu-mangu. Namun ia pun kemudian menyadari, bahwa kedatangannya telah dilihat oleh beberapa orang penghuni padepokan itu.
“Gila” geramnya di dalam hati, “apakah ada iblis yang memberitahukan kepada meraka”
Namun kemudian iapun melanjutkan, “Persetan. Meskipun mereka mengetahui kehadiran kita, tidak akan ada kekuatan yang cukup untuk membendung kedatangan kita”
Karena itu, maka Ki Dukut pun sama sekali tidak merubah rencananya. Ia melangkah terus ke tengah-tengah halaman padepokan Ki Kasang Jati.
Namun langkahnya terhenti ketika ia mendengar seseorang menyapanya, “Selamat malam Ki Dukut Pakering. Kami sudah menunggu kedatanganmu di padepokan kecil ini”
Ki Dukut mengerutkan keningnya. Dari kegelapan ia melihat bayangan seseorang diikuti oleh dua orang di belakangnya. Beberapa langkah di hadapan Ki Dukut, orang itu berhenti samhil berkata lebih lanjut, “Kunjunganmu merupakan kehormatan yang sangat besar bagi kami”
“Persetan Kasang Jati. Aku datang untuk membuat perhitungan. Kau sudah terlalu banyak membuat aku menahan hati. Tetapi yang kau lakukan terakhir, sehingga aku harus mengorbankan muridku adalah sudah sampai pada batasnya. Aku datang untuk menghukummu. Bukan lagi untuk berbicara panjang lebar”
“Aku sudah mengerti apa yang telah terjadi” sahut Ki Kasang Jati, “apakah tidak ada cara yang lebih baik dari yang kau lakukan sekarang?“
“Menyerahlah Ki Kasang Jati” berkata Ki Dukut tanpa menjawab pertanyaan Ki Kasang Jati, “kau akan aku bawa menghadap pada pimpinan pemerintahan di Kediri. Kau harus mendapat pengadilan. Jika kau merasa tidak bersalah, kau tentu tidak akan berkeberatan, karena dengan demikian kau akan segera dilepaskan. Tetapi jika kau bersalah, maka hukuman akan menjadi jauh lebih ringan daripada kau berusaha hendak melawan”
“Aku tidak mengerti apa yang kau katakan Ki Dukut Pakering” jawab Ki Kasang Jati, “karena itu, jelaskanlah, apa yang akan kau lakukan”
“Aku tidak akan banyak berbicara” geram Ki Dukut, “kesalahanmu kau dekap di dadamu. Sekarang menyerahlah. Perintahkan semua orang di dalam padepokan ini menyerah, agar aku dan kawan-kawanku yang sebenarnya tidak ingin mempergunakan kekerasan ini tidak perlu bertindak lebih kasar”
“Aku tidak berkeberatan” berkata Ki Kasang Jati, “tetapi sebut sebabnya”
“Persetan” berkata Ki Dukut. Lalu katanya kepada kawan-kawannya, “Apa kita masih dapat menunggu lebih lama lagi dengan pembicaraan yang tidak berkeputusan, Atau kita tangkap saja orang ini, kemudian kita bawa ke Kediri?“
Ternyata ada juga diantara kawan-kawan Ki Dukut yang-tidak sabar. Katanya, “Marilah, kita tangkap saja orang ini. Tentu sulit untuk mendengarkan pengakuannya selagi ia masih bebas. Tetapi jika ia sudah tidak berdaya, apalagi di hadapan yang memerintah di Kediri, ia akan mengaku segala kesalahannya”
“Sebenarnya aku masih ingin berbuat lebih itu lagi” berkata Ki Dukut, “Tetapi apa boleh buat, ia memaksa aku mempergunakan kekerasan”
Sebenarnyalah Ki Dukut tidak ingin berbantah lebih lama. Dengan demikian, maka ia akan membuka kemungkinan bagi mereka yang datang bersamanya untuk menilik keadaan. Karena itu, maka kemudian katanya, “Baik. Jangan menyesal jika dalam usahaku menangkapmu, kulitmu tersentuh jari-jariku. Atau bahkan mungkin salah satu orang cantrikmu tergores oleh kuku kawan-kawanku yang datang bersamaku sekarang atas nama keadilan pemerintahan di Kediri”
Ki Kasang Jati masih akan menjawab. Tetapi Ki Du sudah meloncat mendekatinya. Katanya, “Marilah. Memencarlah. Orang-orang di padepokan ini tidak terlalu banyak”
Mereka yang datang bersama Ki Dukut pun segera bergeser. Meskipun ada satu dua orang yang terpaksa memikir kembali pembicaraan antara kedua orang itu, namun ternyata mereka tidak mempunyai kesempatan terlalu banyak. Orang-orang yang menghuni padepokan pun ternyata sudah berpencar pula.
“Ki Dukut“ Ki Kasang masih ingin berbicara, “jangan tergesa-gesa”
“Hanya ada dua pilihan” sahut Ki Dukut denhan serta merta, “menyerahlah, atau kami terpaksa menangkapmu dan mengikatmu. Kami akan membawamu seperti membawa seorang penjahat yang paling buas. Meskipun sebenarnya kau lebih berbahaya dari penjahat itu, namun aku masih lebih hormat kepadamu”
Ki Kasang Jati masih akan menjawab. Tetapi sekali lagi Ki Dukut meloncat mendekat, sehingga Ki Kasang Jati terpaksa mengurungkan kata-kata yang sudah ada dibibirnya Ia harus bersiap menghadapi segala kemungkinan yang tiba-tiba saja dapat dilakukan oleh Ki Dukut Pakering.
Pada saat itu, maka kawan-kawan Ki Dukut pun segera memencar. Mereka sama sekali tidak mengira, bahwa ia telah mengambil langkah yang keliru, karena mereka terlalu percaya kepada Ki Dukut yang mereka anggap sebagai seorang yang selain memiliki ilmu yang tinggi ia seorang guru dari dua orang kakak beradik yang mempunyai pengaruh di Kediri. Sehingga karena itu, maka mustahil bahwa orang yang demikian akan menyesatkan mereka ke dalam kerja yang salah.
Demikianlah, ketika kawan-kawannya sudah berencar, maka Ki Dukut itupun berkata lantang, “Siapa yang ingin selamat, menyerah sajalah. Kami bermaksud baik. Kami hanya memerlukan Ki Kasang Jati. Tidak orang lain. Karena itu, siapa yang ingin selamat, jangan melibatkan diri ke dalam persoalan ini”
Namun yang terdengar adalah jawaban dari salah sorang Pututnya, “Kami adalah murid-muridnya. Kami akan berbuat apa saja bagi guru kami, dan bagi padepokan kami”
Ki Dukut kemudian menggeram. Tetapi jawaban itu kemungkinkannya untuk meneriakkan aba-aba, “Baiklah kawan-kawan. Kita sudah tahu, bagaimana sikap orang orang yang masih ingin aku hormati. Tetapi ternyata mereka tidak lebih dari sekelompok orang-orang yang telah jatuh ke dalam lumpur yang paling rendah. Tidak ada cara lain yang dapat kita tempuh selain menangkap mereka hidup-hidup, atau jika tidak ada cara lain. maka kematian adalah akibat yang sangat wajar dari sikap dan pandangan hidup mereka”
Ki Kasang Jati benar-benar tidak sempat untuk memberikan penjelasan. Tetapi ia sudah mulai curiga, bahwa orang-orang yang datang bersama Ki Dukut Pakering bukanlah orang-orang yang memang bermaksud jahat.
Namun, apabila mereka mempergunakan kekerasan juga, maka tidak ada cara lain kecuali menyelamatkan diri. Baru kemudian, apabila keselamatan itu telah didapatkannya, barulah akan datang kesempatan untuk memberikan penjelasan. Tetapi jika mereka tidak berhasil menyelamatkan diri. maka kesempatan untuk memberikan penjelasan itupun sama sekali tidak akan didapatkannya.
Demikianlah, maka para cantrik itu pun berpencar pula. Dua orang Putut yang terbaik di antara murid-murid Ki Kasang Jati itupun berpencar pula. Seorang di sisi kiri dari pendapa bersama beberapa orang cantrik, yang lain di sisi kanan.
Dalam pada itu, Ki Dukut ingin segera menyelesaikan rencananya. Ketika orang-orangnya telah berpencar, maka tiba-tiba saja ia sudah mulai menyerang Ki Kasang Jati sambil menggeram, “Sebaiknya kau menyerah”
Ki Kasang Jati mengelak. Ia masih sempat berbicara, “Aku tidak tahu, apakah yang sedang kau kerjakan sekarang”
Karena orang-orang yang berdiri di pihaknya sudah memencar, maka Ki Dukut itupun menggeram, “Dendam tidak akan dapat padam sebelum pecah nyawamu. Kau sumber bencana bagi perguruanku, sehingga akhirnya seorang dari kedua muridku itu terbunuh”
“Aku sudah tahu. Tetapi bagaimana mungkin kau dapat mempengarui orang-orang itu, sehingga mereka masih juga berpihak kepadamu?“ bertanya Ki Kasar Jati.
“Mereka adalah orang-orang yang waskita. Mereka melihat kebenaran yang sejati” berkata Ki Dukut lantang, agar orang-orang yang tidak terlalu jauh daripadinya dapat mendengarkannya.
Ki Kasang Jati menggigit bibirnya, ia tidak dapat berteriak melampaui suara Ki Dukut Pakering. karena lawannya itu pun kemudian mengerahkan segenap kemampuanya untuk menyerangnya.
Ki Dukut Pakering, guru dari Pangeran Kuda Padmadata dan adiknya. Kuda Rukmasanti, memang seorang yang memiliki ilmu yang luar biasa. Ia mampu bergerak secepat tatit di langit. Namun ia memiliki kekuatan seperti runtuhnya bukit-bukit batu menimpa jurang dan lurah yang dalam.
Karena itu. maka Ki Kasang Jati harus berhati-hati Pertempuran di antara keduanya bukannya baru terjadi untuk yang pertama kali. Keduanya telah bertempur beberapa kali. Setiap kali, tidak seorang pun yang dapat menyebut dirinya memenangkan perkelaian.
Tetapi kedatangan Ki Dukut itu bukanlah sendiri. Jika berhasil mengalahkan para cantrik dan murid-murid Kasang Jati dengan mempergunakan tangan beberapa orang yang bersedia membantunya itu, maka Ki Kasang tentu akan terpengaruh sehingga ia pun akan menyerah atau terbunuh.
Ki Dukut tidak begitu merisaukan para pengikutnya, musuh terbesarnya telah dapat diselesaikan, maka yang lain baginya tidak akan banyak berarti. Ia akan dapat menjumpai mereka seorang demi seorang. Jika ada diantara mereka yang menuntut pertanggungan jawabnya, maka orang itu justru akan diselesaikan sama sekali.
Demikianlah, maka pertempuran antara kedua orang ng memiliki ilmu yang tinggi dan yang saling mengenal menjajagi itu, dengan segera meningkat dengan dahsyatnya. Keduanya tidak lagi berusaha untuk mengetahui kuatan dan kelemahan lawannya, karena sebenarnyalah duanya telah saling mengetahuinya.
Yang mereka lakukan kemudian hanyalah menjaga, agar mereka tetap menyadari keadaan diri. Mereka tidak mudah terpancing oleh gejolak perasaan sehingga mereka akan melakukan sesuatu yang tidak perlu. Imbangan kekuatan sangat mereka perlukan, sehingga mereka tidak akan melepaskan tenaga mereka tanpa arti sama sekali.
Sementara itu, di halaman itu pun telah menyala berapa lingkaran pertempuran. Para cantrik memang tidak banyak dapat berbuat sesuatu. Tetapi dua orang Putut yang terbaik dari antara murid Ki Kasang Jati itu memang harus diperhitungkan.
Tetapi kedua orang itu tidak dapat melawan semua orang yang kemudian menghambur di sebelah menyebelah pendapa. Meskipun kedua Putut itu dengan garangnya menahan lawan-lawannya, tetapi yang lainpun segera mendesak para cantrik sehingga mereka terdorong surut.
“Bertahanlah atas nama padepokan ini” teriak salah seorang Putut, “sebentar lagi aku akan datang membantu”
“Menyerahlah“ salah seorang lawannyapun berteriak, “itu akan lebih baik daripada kalian harus bertempur. Kemungkinan yang paling buruk pun dapat kita hindari”
“Kami berpijak di tempat kami sendiri” sahut salah seorang Putut, “jika kalian ingin berbicara dengan kami, keluarlah dari padepokan ini. Baru kita akan dapat berbicara dengan wajar dan dalam kedudukan yang sama”
Kawan-kawan Ki Dukut pun tidak menjawab lagi. Merekapun segera mendesak para cantrik semakin jauh. Tetapi mereka yang bertempur melawan kedua orang Putut itu pun harus mengerahkan segenap kemampuan mereka. Ternyata kedua orang Putut itu memiliki ilmu yang cukup tinggi. Mereka adalah murid-murid terbaik dari Ki Kasang jati yang mumpuni.
Tetapi para cantrik tidak dapat bertahan lebih lama. Lawan-lawan mereka adalah orang-orang yang berpengalaman, sehingga mereka pun segera terdesak semakin jauh, semakin jauh sampai ke seketeng.
Namun tiba-tiba imbangan pertempuran itu telah berubah. Di antara para cantrik itu tiba-tiba saja terdapat seseorang yang berilmu tinggi. Dengan garangnya orang itu bertempur. Dalam gelapnya malam, lawan-lawan mereka tidak dapat melihat, siapakah orang yang muncul dari seketeng dan langsung mendesak mereka dengan kemampuan yang mendebarkan.
Karena itu, maka pertempuran di depan seketeng itu pun berlangsung semakin sengit. Ternyata dua tiga orang sekaligus merasa mendapat tekanan karena salah seseorang yang tiba-tiba saja telah berada di depan seketeng.
“Siapa kau?“ bertanya salah seorang kawan Ki Dukut Pakering.
“Aku cantrik padepokan ini seperti saudara-saudaraku,” yang lain jawab orang itu.
”Tetapi adalah mustahil bahwa di antara para cantrik telah terdapat orang yang memiliki ilmu yang mengejutkan.”
Karena itu, maka pertempuran di dalam gelap di depan seketeng itupun berlangsung dengan sengitnya. Beberapa orang kawan Ki Dukut harus bertempur melawan orang yang memiliki ilmu yang mengejutkan itu. Orang itu mampu meloncat dengan cepat, menyerang dengan tiba-tiba dan bahkan kakinya seolah-olah tidak lagi berjejak di atas tanah.
Para cantrik yang semula merasa terdesak itupun menjadi heran. Namun mereka pun segera mengerti, bahwa orang itu adalah tamu-tamu Ki Kasang Jati.
Sebenarnyalah bahwa Ki Wastu dan Mahisa Bungalan telah membagi diri. Yang seseorang berada di sebelah kanan pendapa, sedang lainnya berada di sebelah kiri. Ketika mereka melihat para cantrik terdesak, maka mereka pun segera turun ke arena lewat seketeng sebelah menyebelah.
Kawan-kawan Ki Dukut pun menjadi heran bahwa di antara para cantrik terdapat orang-orang yang memiliki ilmu yang mengejutkan. Dua orang Putut yang bertempur di sebelah pendapa itupun telah membuat mereka heran. Apalagi tiba-tiba saja di antara para cantrik terdapat orang-orang yang segera dapat mendesak mereka.
Karena itulah, maka baik Mahisa Bungalan maupun Ki Wastu segera berhadapan dengan lawan yang tidak hanya seorang. Sementara para cantrik berkesempatan untuk bertempur berpasangan.
Karena itu, maka para cantrik tidak lagi merasa terdesak dan tidak lagi merasa terlalu sulit untuk bertahan.
Mahisa Bungalan ternyata mendengar semua pembicaraan antara Ki Dukut dan Ki Kasang Jati. Ia memang menjadi curiga, apakah kawan-kawannya juga memiliki sifat seperti orang itu. Agaknya Ki Dukut telah menunjukkan sikap yang kurang wajar. Ia tidak berterus terang dengan segala peristiwa yang telah terjadi.
Karena itu, maka tiba-tiba saja ia bertanya kepada-lawannya, “Apakah sebenarnya yang kalian kehendaki di padepokan ini?“
“Menyerahlah” geram lawannya, “kau akan mengetahui, apa yang pernah dilakukan oleh gurumu, jika kau benar-benar cantrik padepokan ini”
“Aku memang cantrik padepokan ini. Tetapi sebut kesalahan guruku” desis Mahisa Bungalan.
“Jangan memancing belas kasihan kami” berkata lawannya, “tetapi jika kau menyerah, maka kau akan mendapat perlakuan yang baik. Kami dapat berbuat baik, Tetapi kami dapat juga berbuat kasar Bahkan kami pun dapat berbuat sesuatu, sehingga akan jatuh korban. Mungkin kawan-kawanmu, tetapi mungkin korban itu adalah kau sendiri”
“Atau kau” desis Mahisa Bungalan, “jika jatuh korban di antara kami, maka kami adalah korban dalam tugas seorang cantrik yang setia kepada gurunya dan kepada padepokannya. Kami akan menjadi korban yang tidak sia-sia. Tetapi jika kau mati, apakah sebenarnya arti kematianmu”
“Persetan“ lawannya menyerang semakin dahsyat sambil menggeram, “Kau benar-benar tidak mau menyerah”
Tetapi Mahisa Bungalan pun ternyata mulai menjadi jemu. Karena itu, ketika ia bertempur semakin keras, maka lawannyapun menjadi semakin sulit menghadapinya, meskipun mereka sudah bertempur berpasangan.
“Gila” geram lawannya di dalam hati, “orang ini agak aneh“
Namun adalah suatu kenyataan, bahwa cantrik yang seorang itu adalah cantrik yang sangat mendebarkan jantung karena tata geraknya yang membayangkan ilmu yang tinggi dan mapan.
Tetapi di lingkaran pertempuran yang lain, terdapat pula seorang cantrik yang mumpuni. Meskipun nampaknya orang itu sudah agak tua. Tetapi ia sudah mengejutkan lawan-lawannya. Dengan tangkasnya ia bertempur di antara beberapa orang lawannya, sehingga para cantrik yang lain mempunyai kesempatan untuk membenahi diri setelah mereka terdesak beberapa saat lamanya.
Kehadiran Mahisa Bungalan dan Ki Wastu benar-benar telah mempengaruhi keadaan. Kawan-kawan Ki Dukut yang semula dengan cepat menguasai keadaan, rasa-rasanya telah membentur dinding pertahanan yang sangat kuat. Di samping dua orang Putut padepokan itu yang tangguh dan tanggon, maka masih ada dua orang cantrik yang bertempur ditempat terpisah, namun memiliki kemampuan yang luar biasa. Bahkan semakin lama kawan-kawan Ki Dukut menjadi ragu-ragu, apakah dua orang itu benar-benar cantrik dari padepokan kecil itu.
Namun dalam pada itu, pertempuran masih berlangsung dengan sengitnya. Ki Dukut yang bertempur dengan penuh dendam, berusaha untuk dapat mendesak lawannya, meskipun ia sadar, bahwa untuk melakukannya, akan sangat terpengaruh oleh keadaan dalam keseluruhan. “Tetapi sebentar lagi, kawan-kawanku akan menguasai keadaan” berkata Ki Dukut di dalam hatinya, “ jika orang ini telah mati, maka tidak sulit bagiku untuk mengatasi tikus-tikus kecil ini, “
Ki Dukut merasa, bahwa usahanya akan segera berhasil. Kematian Ki Kasang Jati, akan mengurangi tekanan batinnya karena kegagalan rencananya, bahkan dengan terbunuhnya Pangeran Kuda Rukmasanti. Jika kawan-kawannya telah berhasil menghalau para cantrik, maka mereka tentu akan segera membantunya, atau setidak-tidaknya akan mempengaruhi tekad berlawanan Ki Kasang Jati.
Tetapi ternyata bahwa kawan-kawan Ki Dukut itu tidak segera dapat menguasai halaman padepokan kecil itu. Bahkan semakin lama pertempuran di halaman itu rasa-rasanya menjadi semakin sengit. Agak berbeda dengan apa yang diperhitungkan oleh Ki Dukut. Ia mengira bahwa yang akan terjadi, hanyalah sekedar menakut-nakuti, kemudian menangkapi atau menghalau cantrik-cantrik yang tidak berarti, meskipun sudah diperhitungkan pula bahwa ada satu dua diantara mereka yang akan nampu memberikan perlawanan.
“Putut-putut itu agaknya memiliki kemampuan yang tinggi pula” geram Ki Dukut di dalam hatinya.
Sebenarnya Putut-putut di padepokan itu memiliki kemampuan yang cukup untuk menahan lawan-lawannya. Tetapi jumlah lawan-lawannya memang cukup banyak, sehingga para cantrik untuk beberapa saat telah terlesak. Tetapi ternyata kemudian, bahwa kawan-kawan Ki Dukut Pakering itu tidak dapat mengingkari kenyataan, bahwa mereka telah membentur kekuatan di luar kemampuan mereka.
Perlahan-lahan Mahisa Bungalan, Ki Wastu dan para cantrik telah berhasil mendesak lawannya. Demikian pula dua orang Putut dari padepokan itu pun mampu bertahan meskipun harus mengerahkan segenap kemampuan yang dimilikinya.
Sementara itu, ternyata Ki Dukut sendiri tidak berhasil mendesak lawannya. Ternyata keseimbangan kemampuan mereka masih tetap seperti yang beberapa tahun yang lalu. Masih seperti setiap kali mereka bertemu dan bertempur.
“Gila” geram Ki Dukut, “nampaknya kau masih juga ingat mempertahankan namamu”
“Tidak Ki Dukut. Tetapi adalah wajar bahwa aku ingin mempertahankan umurku”
“Persetan. Perguruanmu yang hampir punah ini tentu tidak akan dapat bertahan lebih lama lagi. Apabila apabila kau sekarang mati di halaman ini” desis Ki Dukut.
“Kau salah” sahut Ki Kasang, “jika aku mati, ada muridku yang akan melanjutkan cabang perguruan kecil ini. Ia akan segera datang dan tinggal di antara para cantrik. Sebelum muridku yang sudah sempurna memiliki ilmuku itu datang, kedua Putut yang hampir mencapai tingkat tertinggi itupun akan dapat bertahan untuk beberapa saat lamanya”
“Omong kosong” bentak Ki Dukut, “kedua cantrikmu itu pun akan mati pula sekarang, mungkin akan lebih dahulu daripadamu”
“Ia akan dapat bertahan” sahut Ki Kasang. Sekilas Ki Dukut memang melihat, bahwa pertempuran di sebelah-menyebelah pendapa itu masih berlangsung dengan sengitnya, Ia pun manyadari, bahwa kawan-kawannya tentu tidak segera dapat menguasai kedua Putut dan para cantrik, sehingga karena itu ia mengumpat di dalam hati, “Orang-orang dungu, jika mereka sudah berani menyebut dirinya pemimpin padepokan, kenapa mereka sama sekali tidak dapat menguasai dua orang Putut dan beberapa orang cantrik kecil”
Tetapi kenyataan itu sudah terjadi. Kawan-kawannya tidak segera berhasil menguasai cantrik-cantrik kecil yang dipimpin oleh dua orang Putut itu.
“Jangan menyesal kawan-kawanmu” berkata Ki Kasang Jati yang seolah-olah melihat kekesalan di hati lawannya, “mereka tidak akan dapat berbuat banyak. Apalagi jika aku sempat memanggil muridku yang sudah putus segala macam ilmu, yang tidak jauh berbeda dengan aku sendiri, dan seorang muridku yang lain, yang meskipun belum sempurna seperti kakak seperguruannya, tetapi aku kira akan dapat dengan mudah menghalau orang-orangmu, karena ia telah memiliki ilmu jauh lebing tinggi dari kedua Putut yang sekarang ada disini”
“Persetan” geram Ki Dukut, “soalnya adalah waktu. Akhirnya akan datang saatnya, kau berlutut di bawah kakiku dengan kepala tunduk. Aku akan memenggal lehermu dengan tanganku sendiri”
Ki Kasang Jati tidak menjawab. Tetapi ia harus mengimbangi tekanan lawannya yang didorong oleh dendam dan kebencian yang tiada taranya.
Namun bagaimanapun juga. Ki Ki Dukut ternyata tidak mampu merubah dirinya menjadi seorang yang memiliki ilmu yang melampaui lawannya yang telah menjadi bebuyutan.
Karena itu, maka pertempuran antara kedua orang itupun justru menjadi semakin dahsyat. Ternyata Ki Kasang Jati dan Ki Dukut Pakering adalah dua orang yang memiliki ilmu yang sulit dicari bandingnya. Demikian sengitnya pertempuran di antara keduanya, maka seolah-olah di halaman padepokan itu telah terjadi angin prahara yang berputaran. Dedaunan pun bagaikan diguncang, sehingga lembaran-lembaran yang mulai menguningpun telah berguguran di tanah.
“Luar biasa” desis Ki Wastu yang melihat pertempuran itu.
Ki Kasang Jati adalah saudara tua seperguruannya. Tetapi ternyata bahwa ia telah meninggalkan kemampuan ilmunya agak jauh. Agaknya Ki Kasang Jati dalam padepokannya telah sempat menyempurnakan ilmunya jauh lebih baik dari Ki Wastu. yang dalam waktu yang lama telah direpotkan oleh anak perempuannya.
Mahisa Bungalan yang sempat melihat pertempuran itu sekilas juga mengagumi kemampuan kedua orang yang sedang bertempur itu. Ia telah mengalami pertempuran dengan murid Ki Dukut Pakering. Meskipun ia berhasil mengalahkannya, tetapi iapun harus mengerahkan puncak ilmunya, sehingga dengan demikian ia dapat menduga, betapa tinggi tingkat ilmu Ki Dukut Pakering dan Ki Kasang Jati.
Namun demikian, Mahisa Bungalan masih yakin, seandainya pamannya Mahisa Agni dan Witantra atau ayahnya ada di tempat itu, maka mereka tidak akan berada di bawah tataran ilmu kedua orang yang sedang bertempur itu.
Dalam pada itu, oleh perhatiannya yang terpecah, maka Mahisa Bungalan tidak berusaha mendesak lawannya. Namun ketika ia hampir saja dikenai oleh lawannya yang bertempur tidak hanya seorang melawan seorang itupun bagaikan menjadi sadar akan keadaannya. Dengan serta merta iapun meloncat dan memperbaiki kedudukannya.
Mahisa Bungalan mulai memperhatikan lawannya seorang demi seorang. Meskipun malam terjadi semakin gelap, tetapi ia menjadi semakin jelas melihat lekuk-lekuk wajah lawannya.
Mahisa Bungalan terkejut ketika ia melihat seseorang meloncat menghadapinya bersama beberapa orang yang lain, setelah beberapa lamanya lawan lawannya tidak berhasil mendesaknya. Dengan suara berat orang itu berkata, “Yang seorang ini harus dapat kita kuasai lebih dahulu. Baru kita akan menguasai para cantrik yang tidak banyak berarti”
“Ya” sahut yang lain, “kita menangkap orang ini. Baru kita akan dangan mudah menundukkan para cantrik”
Sejenak Mahisa Bungalan harus memperkuat pertahanannya. Namun kemudian ia sempat memperhatikan orang yang baru dalam lingkaran pertempuran melawannya itu.
Tetapi Mahisa Bungalan tidak segera menyapanya Ia ingin menyakinkan, apakah yang dilihatnya itu benar-benar orang yang pernah dikenalnya.
Namun dalam pada itu, orang itupun agaknya telah terkejut pula. Bahkan nampak pada tata geraknya, bahwa ia menjadi ragu-ragu. Tetapi seperti Mahisa Bungalan, orang itupun agaknya ingin menyakinkan, siapakah sebenarnya orang yang sedang dihadapinya.
Dalam pada itu, Ki Wastupun bertempur dengan garangnya pula. Meskipun ia tidak segarang Ki Kasang Jati. Tetapi ia memiliki beberapa kesamaan. Tata geraknya dan langkah sikapnya. Bahkan dalam keadaan yang memaksa, maka Ki Wastupun telah bertempur dengan dahsyatnya.
Lawan-lawannya menjadi semakin heran. Di padepokan itu ada seorang cantrik yang luar biasa. Yang jauh melampaui para cantrik yang lain, bahkan melampaui kedua Putut kebanggaan Ki Kasang Jati.
Tetapi lawan-lawan Ki Wastu tidak sempat terlalu banyak membuat pertimbangan-pertimbangan. Berbeda dengan Mahisa Bungalan, maka Ki Wastu sama sekali tidak terganggu oleh pengenalannya terhadap salah seorang lawannya.
Karena itu, maka ia pun kemudian justru berhasil mendesak lawannya yang bertempur berpasangan. Dengan loncatan-loncatan yang cepat, ia dapat membuat lawan-lawannya menjadi bingung. Bahkan ketika seorang lagi mendekatinya dan melibatkan diri, mereka masih tetap tidak dapat menguasainya.
Ki Wastu yang berloncatan itu sekali-kali sempat meninggalkan lawan-lawannya, membantu para cantrik yang harus berjuang dengan sepenuh kemampuannya melawan orang-orang yang tidak mereka kenal itu. Namun karena orang-orang terpilih telah bertempur melawan salah seorang dari tamu padepokan itu, maka tugas mereka pun tidak lagi terasa terlalu berat. Mereka masib mempunyai harapan untuk dapat tetap bertahan dalam keadaan mereka.
Ki Dukut dan Ki Kasang Jati benar-benar telah sampai kepuncak ilmu masing-masing. Tidak ada lagi yang dapat mengekang mereka melepaskan ilmu tertinggi mereka: Betapapun Ki Kasang Jati berusaha mengendalikan hatinya, tetapi menghadapi lawan yang benar-benar ingin membunuhnya, maka lambat laun kesabarannya pun menjadi semakin susut, sehingga akhirnya, Ki Kasang Jati tidak lagi berpikir untuk dapat mengalahkan lawannya tanpa membunuhnya.
“Jika aku masih saja dibayangi oleh keseganan dan sikap yang terlalu ramah terhadap tamu yang seorang ini, maka akulah yang benar-benar akan terbaring inati di halaman ini. Bahkan mungkin orang gila ini benar-benar akan memenggal leherku dan membawanya bagi pemuas dendamnya” berkata Ki Kasang Jati di dalam hatinya.
Dengan demikian, maka iapun telah mengerahkan segenap kemampuannya. Agaknya ia memang memilih bertahan meskipun ia harus membunuh lawannya dari pada ia sendirilah yang akan terbunuh di dalam pertempuran yang sengit itu.
Pada saat pertempuran antara Ki Kasang Jati dan Ki Dukut Pakering menjadi semakin sengit, maka tiba-tiba saja Mahisa Bungalan meloncat mundur dari antara lawannya untuk mengambil jarak. Dengan suara bergetar ia kemudian menyebut sebuah nama, “Ki Selabajra”
Orang yang disebut Ki Selabajra itupun tertegun. Dengan ragu-ragu ia melangkah maju sambil berdesis, “Apakah benar penglihatanku. Bukankah kau angger Mahisa Bungalan”
“Ya. Aku Mahisa Bungalan”
Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Pantas. Kami bertiga, berempat, bahkan sepuluh orang dari kami tidak akan dapat mengalahkannya.
“Ah. itu sangat berlebih-lebihan” desis Mahisa Bungalan.
Dengan serta merta pertempuran itu pun terhenti. Tidak saja mereka yang mengepung Mahisa Bungalan, tetapi mereka yang bertempur dengan para cantrikpun telah berhenti juga.
“Kenapa kau berada di padepokan ini ngger?“ bertanya Ki Selabajra, “jika aku belum mengenalmu, maka aku tidak akan heran bahwa seseorang dapat terlibat dalam perbuatan yang betapapun jahatnya. Tetapi karena aku sudah mengenalmu, maka aku menjadi heran, bahwa angger Mahisa Bungalan dapat terlibat disini, di-padepokan yang kotor dan penuh dengan dosa”
“Siapa yang mengatakannya Kiai?“ bertanya Mahisa Bungalan, “aku justru yang bertanya, kenapa Kiai terlibat ke dalam tindakan yang sama sekali tidak dilandasi oleh peradaban yang betapapun sederhananya”
“Apakah kau sudah jatuh ke dalam lembah yang hitam atau justru karena kau tidak mengetahui apa yang telah terjadi?“ bertanya Ki Selabajra.
Mahisa Bungalan termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun bertanya, “Apakah yang Kiai maksud?“
“Ki Kasang Jati, orang yang sebelumnya sangat kami takuti dan kami hormati, meskipun kami tahu, betapa dendam menyala di hatinya terhadap Ki Dukut Pakering, ternyata adalah orang yang sama sekali tidak dilandasi oleh sifat-sifat kemanusiaan yang wajar”
“Kenapa?“ bertanya Mahisa Bungalan.
Namun dalam pada itu, sebelum Ki Selabajra menjawab, terdengar Ki Dukut berteriak, “Kenapa kalian berhenti? Tangkap semua orang di padepokan ini. Aku akan menangkap orang yang dianggap gegedug ini”
“Kami tidak mempunyai waktu ngger” berkata Ki Selabajra, “jika angger memang tidak ingin terlibat lebih jauh, aku mohon angger meninggalkan tempat ini. Sebab jika Ki Dukut telah menguasai Ki Kasang Jati, maka akan datang waktunya, kau harus melawannya”
“Ki Selabajra” berkata Mahisa Bungalan, “seandainya demikian, aku tidak pernah merasa gentar menghadapi Ki Dukut Pakering. Meskipun aku tahu, bahwa ia adalah orang yang pilih tanding. Tetapi coba katakan Kiai, kenapa Kiai berada dipihaknya? Apakah Kiai tidak tahu sama sekali apa yang telah terjadi di Kediri?“
“Kematian muridnya? Pangeran Kuda Rukmasanti?“ bertanya Ki Selabajra.
“Jadi Kiai tahu? Dan apakah Kiai juga tahu, siapa yang membunuhnya dan apa sebabnya?“ bertanya Mahisa Bungalan.
“Tentu sekelompok orang yang dipimpin oleh Ki Kasang Jati yang ditangisi oleh adik seperguruannya, karena Pangeran Kuda Padmadata tidak lagi dapat menganggap anak perempuan saudara seperguruan Ki Kasang Jati itu sebagai isterinya. Ketamakan itulah yang telah mendorongnya melakukan perbuatan melampaui batas kewajaran, karena persoalannya sebenarnya bukan menilai dengan pembunuhan yang kemudian dilakukannya” berkata Ki Selabajra.
Dada Mahisa Bungalan tergetar mendengar jawaban Ki Selabajra, katanya, “Bukan aku yang salah pilih Kiai. Tetapi Kiai dan barangkali kawan-kawan Kiai. Yang membunuh Pangeran Kuda Rukmasanti adalah dirinya sendiri, perbuatannya sendiri, meskipun aku adalah lantarannya, sehingga kepalanya telah membentur ompak batu”
“Jadi angger Mahisa Bungalan yang telah membunuhnya?“ bertanya Ki Selabajra.
“Ya. Dan aku tahu pasti persoalannya, karena yang aku lakukan justru demi keselamatan kakak kandungnya. Pangeran Kuda Padmadata” jawab Mahisa Bungalan.
“Bohong“ tiba-tiba saja Ki Dukut berteriak, “jangan dengar kata-katanya. Orang itu terlibat terlalu jauh dalam pembunuhan itu”
“Memang aku yang membunuhnya” sahut Mahisa Bungalan. Lalu, “Ki Selabajra. jika kau tidak percaya maka kau dapat bertanya kepada Pangeran Kuda Padmadata itu sendiri. Seorang Pangeran yang hampir saja menjadi korban ketamakan gurunya sendiri”
“Bohong. Bohong” teriak Ki Dukut.
Namun Ki Dukut tidak dapat mencegah Mahisa Bungalan berkata selanjutnya. Apalagi ketika Ki Kasang Jati justru menekannya semakin berat sambil berkata, “Teruskan ngger, biarlah semua orang mendengarnya. Wastu, berhentilah sebentar. Biarlah lawan-lawanmu mendengar penjelasan angger Mahisa Bungalan”
“Bohong, jangan percaya. Perbuatan licik semacam ini memang sudah aku duga sebelumnya” teriak Ki Dukut.
“Aku berkata sebenarnya” jawab Mahisa Bungalan, “sekarang Pangeran Kuda Padmadata masih hidup dan dalam keadaan segar bugar. Kalian dapat menemuinya dan bertanya, apakah yang pernah terjadi atasnya, di istananya dan atas orang-orang yang paling dekat dengan dirinya”
“Omong kosong“ Ki Dukut masih saja berteriak.
“Aku datang bersama mertua Pangeran Kuda Padmadata yang hampir saja menjadi korban ketamakan gurunya itu”
Ki Dukut Pakering bergetar semakin keras. Bukan saja karena ia harus mengerahkan segenap kemampuannya melawan musuh bebuyutan, tetapi kata-kata Mahisa Bungalan itu benar-benar telah mempengaruhi orang-orang yang datang bersamanya.
Ternyata bahwa berkembangnya keadaan itu telah mendebarkan jantung Ki Dukut Pakering. Rasa-rasanya tidak mungkin lagi baginya untuk mempertahankan kebohongannya di hadapan orang yang menyebut dirinya Mahisa Bungalan, karena ternyata ia adalah orang yang telah membunuh Pangeran Kuda Rukamasanti yang bertempur di dalam sebuah ruangan di istana Pangeran Kuda Padmadata. Apalagi ternyata di padepokan itu terdapat juga mertua Pangeran Kuda Padmadata itu sendiri.
Dalam pada itu terdengar Mahisa Bungalan berkata seterusnya, “Marilah kita berbicara. Kita akan saling memberikan alasan atas sikap dan tindakan kita masing-masing”
“Persetan“ Ki Dukut Pakering berteriak. Ia mencoba mengerahkan segenap kemampuannya. Dengan hentakkan yang kuat dan cepat ia menyerang Ki Kasang Jati yang agak terkejut karenanya. Namun ia masih sempat menghindar itu dengan loncatan panjang surut.
Tetapi yang terjadi kemudian adalah diluar dugaannya. Demikian Ki Kasang Jati meloncat surut, maka tiba-tiba saja Ki Dukut itupun telah meloncat sambil bersuit nyaring. Bagaimanapun juga ia masih teringat kepada seorang pengikut setianya. Dengan isyarat itu, maka ia telah memberitahukan kepadanya, agar ia meninggalkan arena yang rasa-rasanya akan menjadi semakin panas baginya.
Sejenak kemudian, maka Ki Dukut itupun telah meloncati dinding padepokan, karena ia tidak sempat berlari melalui regol. Demikian juga pengikutnya yang setia itupun segera menghilang dibalik dinding. Demikian” cepatnya, sehingga beberapa orang hanya dapat menyaksikannya saja.
Tetapi Ki Kasang Jati memang sengaja tidak mengejarnya. Meskipun mungkin ia akan dapat menyusulnya tetapi lebih baik baginya untuk membiarkan Ki Dukut Pakering itu pergi meninggalkan padepokannya.
Mahisa Bungalan dan Ki Wastu pun termangu-mangu. Meraka pun tidak mengejarnya pula, karena Ki Kasang Jati sama sekali juga tidak berusaha untuk menangkap lawannya itu.
“Biarlah ia pergi” berkata Ki Kasang Jati, “meskipun itu berarti bahwa aku harus selalu bersiap-siap menunggu kedatangannya”
Tidak seorang pun yang menjawab. Beberapa orang yang datang bersama Ki Dukut itupun menjadi semakin berdebar-debar. Jika orang-orang di padepokan itu kemudian meneruskan pertempuran, maka mereka tidak akan lagi mampu bertahan. Ki Kasang Jati yang memiliki ilmu yang luar biasa itu, tentu tidak akan terlawan oleh siapapun diantara mereka.
Namun dalam pada itu, terdengar Ki Selabajra bertanya kepada Mahisa Bungalan, “Angger Mahisa Bungalan. Ternyata Ki Dukut Pakering telah meninggalkan kami begitu saja. Hal ini memang menarik perhatian kami. Bahkan telah menumbuhkan kecurigaan kami. Sekarang, aku kira kami tidak mempunyai pilihan lain daripada berbicara dengan kalian”
“Bagus” berkata Mahisa Bungalan, “aku kira Ki Kasang Jati juga tidak akan berkeberatan, karena ia tidak mempunyai persoalan apapun juga dengan kalian”
Ki Kasang Jati. yang mendengar percakapan itu pun menyahut, “Aku akan mempersilahkan kalian naik ke pendapa. Kita akan menyarungkan senjata kita, dan kita akan berbicara tentang persoalan yang sedang kita hadapi”
Sejenak suasana padepokan itu menjadi hening. Namun kemudian terdengar suara Mahisa Bungalan memecah kesepian, “Silahkan. Marilah kita berbicara”
Orang-orang yang menggenggam senjata itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian mereka pun menyarungkan senjata mereka seperti yang dikatakan olah Ki Kasang Jati. Meskipun dengan ragu-ragu, namun mereka pun kemudian naik ke pendapa.
Meskipun demikian, masih ada juga kecurigaan di antara mereka. Tanpa diatur mereka telah duduk pada pihak mereka masing-masing.
Ki Kasang Jati yang agaknya telah dapat menduga, apa yang terjadi dengan orang-orang yang telah membantu Ki Dukut Pakering itu pun kemudian berkata, “Ki Sanak. Agaknya kita telah terdorong ke dalam satu perbuatan yang tidak kita inginkan. Aku yakin bahwa Ki Sanak semuanya tidak akan bermaksud buruk dalam tindakan yang kalian lakukan ini. Tetapi sayang, bahwa kalian telah terperosok ke dalam kelicikan sikap Ki Dukut Pakering”
“Apa yang sebenarnya terjadi?” bertanya seseorang yang bertubuh tinggi.
“Seperti yang sudah dikatakan oleh angger Mahisa Bungalan” jawab Ki Kasang Jati.
“Siapakah Mahisa Bungalan itu?“ orang itu bertanya pula.
“Inilah orangnya” jawab Ki Kasang Jati sambil menunjuk Mahisa Bungalan, “ia adalah orang yang paling tahu tentang peristiwa yang terjadi di istana Pangeran Kuda Padmadata itu. Dan orang yang di sebelahnya adalah Ki Wastu, mertua Pangeran Kuda Padmadata yang dikatakan oleh Ki Dukut, seolah-olah ia telah merencanakan perbuatan keji terhadap Pengeran Kuda Padmadata dengan bantuanku”
“Apakah kalian tidak melakukannya?“ orang bertubuh tinggi itu mendesak.
“Jangan bernada mengadili kami” sahut Mahisa Bungalan, “kalian harus mendengar kebenaran dari peristiwa itu. Tetapi jangan bersikap seperti itu, seolah-olah kalian berhak berbuat demikian terhadap kami”
Orang bertubuh tinggi itu mengerutkan keningnya. Dipandanginya Mahisa Bungalan dengan tatapan mata yang tegang. Kata-kata Mahisa Bungalan itu terasa menyinggung perasaannya.
“Mahisa Bungalan” berkata orang itu, “kami datang untuk menghukum kalian. Kau, Ki Kasang Jati dan orang yang sebenarnya kami cari adalah Ki Wastu, mertua dari Pengeran Kuda Padmadata. Karena itu, maka untuk mengurungkan niat kami, kalian harus dapat memberikan bukti-bukti bahwa kalian memang tidak bersalah. Jika dengan demikian, kami telah mengadili kalian, maka sebenarnyalah kami ingin melakukannya sekarang. Baru jika ternyata kalian memang tidak bersalah, maka tidak akan melanjutkan niat kami menghukum kalian”
Jantung Mahisa Bungalan bergetar semakin cepat Tiba-tiba saja darah mudanya bergejolak, sehingga iapun menjawab, “Jika kalian memang datang untuk menghukum kami, lakukanlah. Baru kemudian setelah kami menyakinkan kalian, bahwa kalian tidak akan dapat berbuat demikian, baru kau akan berbicara, seperti seorang Senapati di hadapan prajurit-prajurit yang telah ditaklukan”
“Persetan” geram orang bertubuh tinggi itu.
“Apakah kalian akan mencoba?” bertanya Mahisa Bungalan. Wajah-wajah itu pun menjadi tegang. Namun tantangan Mahisa Bungalan itu benar-benar telah mendebarkan jantung. Di antara mereka tidak ada lagi orang yang akan mampu mengimbangi Ki Kasang Jati, meskipun seandainya ada di antara mereka, atau beberapa orang bersama-sama, dapat melawan Mahisa Bungalan.
Namun dalam pada itu, Ki Kasang Jati berkata, “Aku kira itu tidak perlu sama sekali. Baiklah kita mulai mengurai segala peristiwa yang pernah terjadi. Dangan demikian, barulah kita akan mengambil kesimpulan dan sikap. Jika setelah kami menceriterakan segala yang kami ketahui dan kalian menilainya, barulah kita akan menentukan, apakah kalian tetap pada pendirian kalinan untuk menghukum kami, atau kalian akan mengambil sikap lain”
Ki Wastu menarik nafas dalam-dalam. Dangan nada datar ia berkata, “Memang sebaiknya kita melihat peristiwa yang telah terjadi. Aku adalah orang tua perempuan yang telah menjadi isteri Pangeran Kuda Padmadata yang tentu telah dihasut oleh Ki Dukut Pakering. Yang gagak disebutnya kuntul. dan yang kuntul disebutnya gagak. Karena itu, agar tidak seperti timbangan yang berat sebelah, maka jika kalian telah mendengar satu ceritera dari Ki Dukut, dengarkanlah kini ceritera lain dalam sentuhan yang sama”
Orang-orang yang berada di pendapa itu mengangguk. Meskipun orang bertubuh tinggi itu masih nampak tegang, namun ia tidak menyahut lagi.....
Bersambung....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar