PANASNYA BUNGA MEKAR : 12-01
Perjalanan ke Kediri itu sendiri sudah merupakan perjalanan yang cukup jauh. Namun ternyata bahwa Ki Wastu pun seorang perantau yang berpengalaman pula. Karena itulah, maka meskipun perjalanan itu cukup jauh dan ditempuhnya seorang diri, namun ia sama sekali tidak menjadi segan karenanya. Apabila perjalanan itu adalah perjalanan yang dianggapnya sangat penting.
Mahisa Pukat dan Mahisa Murti ternyata merengek pula untuk bisa ikut dalam perjalanan itu. Di Kediri mereka akan bertemu dengan kakaknya dan dengan paman-pamannya.
Tetapi Mahendra melarangnya. Ia masih belum sampai hati melepaskan kedua anak yang masih sangat muda itu. meskipun mereka pun telah dibekalinya dengan ilmu kanuragan.
Ketika Ki Wastu telah berada di Kediri pula, maka ia pun segera menawarkan maksudnya kepada Bungalan seperti yang dikatakan oleh Mahendra.
Ternyata dengan serta merta Mahisa Bungalan telah menerimanya, meskipun ia sadar, bahwa perjalanan itu adalah perjalanan yang berat, yang mungkin akan mengalami akibat yang gawat pula.
Tetapi seperti yang dikatakan oleh ayahnya, maka ia ingin melengkapi pengalamannya sebelum ia memasuki tugas-tugas keprajuritan.
Ternyata Mahisa Agni dan Witantra pun tidak berkeberatan. Dengan beberapa pesan, maka mereka pun telah melepaskan Mahisa Bungalan untuk pergi bersama Ki Wastu.
“Berhati-hatilah“ pesan Pangeran Kuda Padmadata, “guruku adalah seorang yang memiliki ilmu yang luar biasa”
“Mudah-mudahan kami tidak bertemu Pengeran” berkata Ki Wastu.
Pangeran Kuda Padmadata mengangguk-angguk lemah. Tetapi sebenarnyalah bahwa ia menjadi cemas. Jika di dalam perjalanan itu mereka bertemu dengen Ki Dukut Pakering, yang mungkin masih disertai satu dua pengikutnya, maka keduanya akan mengalamai nasib yeng kurang baik.
Tetapi Ki Wastu dan Mahisa Bungalan bukannya orang yang tidak berilmu. Keduanya adalah orang-orang yang memiliki kemampuan yang harus diperhitungkan pula.
Demikianlah, maka kemudian Ki Wastu dan Mahisa Bungalan itu pun meninggalkan Kediri, manuju ke sebuah padepokan kecil yang agak jauh dari kota. Mereka harus berkuda melalui daerah pegunungan. Dan mereka pun harus bermalam sampai dua malam di perjalanan.
Tetapi keduanya sudah memiliki pengalaman perantauan. Karena itu perjalanan mereka, bukannya persoalan lagi. Perjalanan yang demikian sudah terlalu sering mereka lakukan, meskipun sesuai dengan jalur masing-masing. Bahkan pada permulaan perjalanan itu. Mahisa Bungalan telah mendapatkan kesegaran baru di dalam dirinya, Ketika ia memasuki daerah yang berlembah kehijau-hijauan di-atas tanah berpadas yang kemerah-merahan.
Mahisa Bungalan telah pernah menempuh perjalanan jauh. Berkuda, bahkan berjalan kaki. Namun ia tidak jemu-jamunya mengagumi alam yang cantik meskipun tidak terlalu ramah.
Sekali-sekali kuda-kuda mereka berjalan dengan hati-hati menuruni tebing. Namun kemudian berlari di lembah-lembah yang hijau menyusuri jalan yang rata. Agaknya jalur jalan antara padukuhan telah menjadi semakin ramai dilalui orang. Kadang-kadang mereka bertemu dengan pedati yang merangkak dengan lambannya. Namun kadang kadang mereka pun berpapasan dengan kuda yang berpacu dengan tergesa-gesa.
Tetapi mereka tidak selalu berjalan melalui jalan yang rata. Sekali-sekali mereka harus menempuh jalan sempit yang melintasi. Agaknya Ki Wastu sudah pernah menempuh perjalanan serupa sebelumnya. Ia pernah melintas dari Kediri sampai ke padepokan saudara seperguruannya itu.
Bahkan akhirnya Mahisa Bungalan bertanya, “Apakah Ki Wastu sudah mengenal jalan yang akan kita tempuh?“
“Tentu ngger. Aku memang pernah pergi ke Kediri pada saat-saat Pangeran Kuda Padmadata masih belum dicengkam oleh bayangan kekuasaan gurunya. Aku pernah melintasi jalan ini, dan agaknya aku masih dapat mengingat beberapa cirinya. Maskipun kadang-kadang aku menjadi ragu-ragu. Tetapi agaknya jalan yang kita tempuh sekarang adalah jalan yang benar” jawab Ki Wastu.
Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. Bahkan seandainya jalan itu adalah jalan yang salah sekalipun, maka mereka berdua tentu akan dapat menemukan padepokan yang mereka cari.
Di malam pertama, keduanya harus bermalam di lereng sebuah bukit. Mereka tidak berusaha untuk sampai ke padukuhan dan mohon agar diperkenankan untuk bermalam di banjar. Agaknya sebuah lekuk di lereng bukit, telah dapat mereka pergunakan untuk beristirahat. Apalagi tidak jauh dari lekuk itu terdapat sebuah mata air yang meskipun hanya kecil saja, tetapi sudah cukup untuk memberi kuda mereka minum. Sementara rerumputan yang hijau di sekitarnya dapat memberi makan kuda-kuda mereka sekenyang-kenyangnya.
Meskipun tidak saling berjanji, namun kedua-duanya seakan-akan sudah saling bersetuju untuk tidur bergantian. Yang mula-mula tidur adalah Mahisa Bungalan. Baru ketika Mahisa Bungalan terjaga, maka Ki Wastu lah yang merebahkan dirinya di atas batu-batu padas.
Tetapi keduanya terkejut ketika mereka mendengar kuda mereka meringkik. Dengan sigapnya Mahisa Bungalan dan Ki Wastu bangkit dan meloncat keluar dari lekuk lereng gunung.
Tetapi mereka tidak melihat seseorang
“Tetapi seekor binatang buas” berkata Ki Wastu, “di lereng bukit ini, sering terdapat binatang buas yang barangkali terpaksa keluar dari hutan sebelah karena mereka tidak mendapat makan. Mungkin mereka tidak lagi dapat mengintai dan kemudian menerkam seekor kijang. Bahkan kelinci-kelinci pun telah lari bersembunyi sejak petang hari”
Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia pun percaya bahwa kuda-kuda mereka agaknya telah mencium bau binatang buas di sekitarnya.
Karena itu, maka Mahisa Bungalan pun kemudian tidak lagi berada di dalam lekuk lereng bukit. Betapapun terasa dingin menyentuh kulitnya, tetapi ia tidak akan menunggu sampai seekor harimau meloncat menerkam kudanya. Meskipun mungkin ia akan dapat mengusirnya, tetapi jika kudanya telah terluka, maka akibatnya akan dapat menyulitkannya.
Ki Wastu yang baru sempat beristirahat sejenak itu pun kemudian berbaring di luar lekuk bukit itu. Ia pun tidak sampai hati membiarkan kuda mereka ketakutan.
Sekali-sekali mereka masih mendengar kuda mereka meringkik dengan gelisahnya. Namun Mahisa Bungalan pun kemudian membelai surinya dan menenangkannya. Kedua ekor kuda itu seakan-akan mengerti, bahwa keduanya berada dibawah perlindungan tuannya. Karena itu, maka kuda-kuda itu pun menjadi tenang dan tidak lagi meringkik ketakutan.
Ketika fajar menyingsing, maka barulah kedua orang itu yakin, bahwa sebenarnyalah seekor harimau telah mendekati tempat itu. Mereka dapat melihat jejak kaki harimau itu di sekitar mata air tidak terlalu jauh dari tempat mereka bermalam.
“Agaknya harimau itu sedang haus” gumam Ki Wastu, “dan ternyata mata air ini adalah mata air yang terdekat dari hutan itu”
“Ah” sahut Mahisa Bungalan, “tentu di hutan itu ada juga mata air” jawab Mahisa Bungalan, “bahkan di bawah pohon-pohon raksasa itu biasanya terdapat belumbang meskipun kecil”
Ki Wastu mengangguk-angguk. Tetapi adalah satu, kenyataan, bahwa di sekitar mata air itu terdapat jejak harimau.
Namun Ki Wastu pun mengangguk-angguk ketika Mahisa Bungalan berkata, “Mungkin bau kuda-kuda itu tercium oleh seekor harimau. Ketika harimau itu mendekat, maka dijumpainya mata air itu”
Demikianlah setelah berbenah diri, maka keduanya pun segera melanjutkan perjalanan. Perjalanan mereka masih cukup jauh. Dan mereka pun masih harus bermalam di perjalanan.
Tetapi pada malam kedua, mereka tidak bermalam di lereng bukit, atau di tengah-tengah hutan. Tetapi keduanya memilih untuk bermalam di sebuah padukuhan. Dengan senang hati Ki Buyut memberikan tempat bagi mereka di banjar padukuhan.
Berbeda dengan saat-saat mereka bermalam di lekuk sebuah lereng bukit. Di banjar, mereka dapat bermalam dengan tenang, karena di banjar itu pula, beberapa orang anak muda berkumpul. Bahkan mereka berdua telah dijamu pula oleh Ki Buyut dengan makan dan minum secukupnya.
Demikianlah, dipagi hari berikutnya, Ki Wastu dan Mahisa Bungalan meninggalkan padukuhan itu dengan ucapan terima kasih yang tidak terhingga kepada Ki Buyut dan isi padukuhan itu yang telah memberikan tempat bermalam bagi mereka.
Dalam pada itu, perjalanan Ki Wastu dan Mahisa Bungalan pun manjadi semakin dekat dengan tujuan. Sebuah padepokan kecil yang terpencil, seolah-olah dengan sangaja memisahkan diri dari tata hubungan kehidupan sesama.
“Itu adalah padepokan Pucang Wungu” berkata Ki Wastu kepada Mahisa Bungalan ketika mereka menuruni bukit kecil, menghadap ke sebuah lembah yg subur. Sebuah padukuhan kecil terletak di tengah tengah bulak, dihubungkan dengan sebuah jalur jalan duri jalan yang mereka lalui.
“Itukah padepokan yang kita tuju?“ bertanya Mahisa Bungalan.
“Ya. Ternyata aku masih dapat menemukannya meskipun sudah cukup lama aku tidak mengunjunginya” desis Ki Wastu.
“Apakah sudah lama sekali?“ bertanya Mahisa Bungalan.
“Sebetulnya juga belum. Tetapi karena aku telah terlibat dalam persoalan yang merampas segenap perhatianku, maka rasa-rasanya aku sudah lama sekali terpisah dari sanak kadang”
Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. Dengan nada berat ia berdesis, “Padepokan yang sejuk. Tetapi kedatangan kita akan membawa udara yang panas bagi penghuninya”
“Apaboleh buat” berkata Ki Wastu, “agaknya itu lebih baik daripada tiba-tiba saja padepokan itu menjadi terbakar hangus”
Mahisa Bungalan tidak menjawab. Namun ia benar-benar merasa, betapa padepokan itu merupakan tempat yang tenang dan tenteram.
Demikianlah maka kedua orang itu pun semakin lama menjadi semakin dekat. Perlahan-lahan mereka menuruni tebing bukit kecil itu menuju ke padepokan yang disebut padepokan Pucang Wungu.
Kedatangan Ki Wastu memang telah mengejutkan penghuninya. Seorang yang rambutnya telah memutih, namun yang tubuhnya masih nampak sigap dan tangkas, dengan tergesa-gesa telah mendatanginya.
“Kau Wastu” desisnya.
Ki Wastu mengangguk hormat. Dengan suara bergetar ia berkata, “Aku telah datang lagi ke padepokan yang tenang dan damai ini kakang”
“Marilah Wastu. Marilah. Naiklah ke pendapa. He, siapakah anak muda itu? Muridmu?“ bertanya saudara seperguruan Ki Wastu itu.
“Ah, bukan kakang. Sama sekali bukan. Ia adalah seorang anak muda yang mumpuni. Yang memiliki ilmu yang lebih baik dari anak muda yang manapun” jawab Ki Wastu.
“Ah” sahut Mahisa Bungalan, “tentu tidak. Ki Wastu selalu memuji. Tetapi dengan demikian, aku akan kehilangan kenyataan tempat berpijak jika aku benar-benar merasa diriku terlalu besar”
“Siapakah namamu ngger?“ bertanya saudara seperguruan Ki Wastu.
“Namaku Mahisa Bungalan” jawab Mahisa Bungalan, lalu, “dengan sebutan apakah jika aku memanggil kakek?“
Orang tua berambut putih itu mengerutkan keningnya. Namun Ki Wastu tertawa sambil berkata, “Ia juga memanggilku kakek ketika kami pertama kali bertemu“
Orang berambut putih itupun tertawa. Lalu jawabnya, “Panggil aku Ki Kasang Jati”
Mahisa Bungalan mengangguk sambil menyahut, “Terima kasih. Dengan demikian, aku tidak lagi akan memanggil kakek”
Orang tua itu tersenyum. Sekali lagi ia mempersilahkan, “Marilah, naiklah ke pendapa”
Mereka pun kemudian duduk di pendapa. Beberapa saat Ki Wastu dan Ki Kasang Jati saling menanyakan keselamatan masing-masing. Kemudian dengan nada penuh harap ia berkata, “Bukankah kau akan tinggal di padepokan ini untuk beberapa lama?“
Ki Wastu mengangguk. Meskipun terasa keragu-raguannya, namun ia menjawab, “Ya kakang. Aku berada di padepokanmu untuk beberapa lamanya”
“Baiklah. Baiklah. Jika demikian aku tidak akan bertanya keperluanmu datang ke padepokan ini. Tentu kau hanya sekedar ingin menengok aku” berkata Ki Kasang Jati.
“Ya. Aku hanya ingin sekedar bertamu. Sudah lama aku tidak berkunjung kemari. Bagiku, kakang adalah pengganti guru yang sudah tidak ada lagi”
“Ah, kau memang suka mumuji. Setelah unak muda itu, maka sekarang kau memuji aku. Mungkin aku dapat kau anggap sebagai pengganti guru, karena ketuaanku. Karena aku sudah terlalu lama hidup sehingga umurku pun semakin bertambah-tambah. Tetapi dalam hal ilmu, kita hampir tidak ada bedanya”
“Mungkin aku memang memuji. Tetapi kakang senang merendahkan diri seperti anuk muda ini pula.
Mereka pun tertawa. Pertemuan itu nampaknya benar benar memberikan kesan kegembiraan setelah cukup lama mereka berpisah.
Ki Wastu pun ternyata tidak tergesa-gesa menyampaikan maksudnya. Ia berada di padepokan itu bersama Mahisa Bungalan. Di hari pertama, sudah terasa, betapa tenangnya hidup di padepokan itu. Beberapa orang cantrik bekerja dengan rajin dan gembira. Tanaman pohon buah-buahan mereka pun nampak subur dan rimbun. Buahnya bergayutan seoleh-olah akan mamatahkan ranting dan dahan-dahannya.
Namun demikian, Ki Wastu yang gelisah oleh beban perasaannya, merasa masih, belum lapang dadanya, jika ia belum mengatakan keperluannya datang ke padepokan itu. Karena itulah, maka pada hari kedua, ketika mereka duduk di pendapa bersama Mahisa Bungalan, Ki Wastu berniat untuk menyampaikan.
“Apapun tanggapan kakang Kasang Jati” berkata Ki Wastu di dalam hatinya. Lalu, “Namun aku tidak akan dapat menyembunyikannya lebih lama lagi. Bukan saja karena kegelisahan perasaanku, namun ada kemungkinan lain yang dapat terjadi dengan tiba-tiba di padepokan ini”
Karena itu, maka Ki Wastupun kemudiun bertekad untuk segera menyampaikan keperluannya. Sebelum justru guru Pangeran Kuda Padmadata lah yang telah mendahului.
Dengan agak ragu-ragu, maka Ki Wastu pun kemudian berkata, “Kakang, sebenarnyalah bahwa kedatanganku kemari, selain berkunjung karena sudah terlalu lama aku tidak datang kemari, juga membawa pesan yang barangkali penting bagi kakang”
Ki Kasang Jati tersenyum. Katanya, “Aku sudah mengira, bahwa kau tentu mempunyai keperluan, jika tidak, kau tentu sudah melupakan orang tua yang tidak berharga ini”
“Ah, jangan begitu kakang” jawab Ki Wastu, “kakang adalah orang tuaku, guruku dan tempat aku bersandar”
“Kau sudah memuji lagi. Tetapi baiklah. Katakan, apakah keperluanmu?“
Ki Wastu beringsut sejenak. Kemudian katanya, “Apa kah kakang masih ingat kepada Pangeran Kuda Padmadata”
Orang tua itu mengerutkan keningnya, sementara, Ki Wastu menjelaskan, “Pangeran yang pernah mengambil anak perempuanku menjadi isterinya”
“O, tentu. Aku ingat. Nah, bagaimana kabarnya Pangeran itu sekarang?“ bertanya Ki Kasang Jati.
“Dan apakah kakang mengetahui bahwa Pangeran Kuda Padmadata itu murid Ki Dukut Pakering” bertanya Ki Wastu pula.
Ki kasang Jati menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Ya. Aku sudah mengetahuinya. Ia adalah murid Ki Dukut Pakering”
“Dan kakang masih ingat, hubungan yang buruk antara kakang dan Ki Dukut Pakering itu?“ bertanya Ki Wastu pula.
“Aku berusaha untuk melupakannya. Apakah arti permusuhan diantara orang tua-tua. yang pada saat yang pendek akan segera kembali kepada penciptanya” jawab Ki Kasang Jati.
Dada Mahisa Bungalan menjadi berdebar-debar. Ternyata tanggapan Ki Kasang Jati dan Ki Dukut Pakering agak bertentangan terhadap masa-masa lampau mereka. Agaknya Ki Dukut masih selalu mengingat permusuhan yang tajam sejak masa jauh sebelum mereka menjadi tua. Sedangkan Ki Kasang Jati telah berusaha untuk melupakannya.
Sejenak Ki Wastu termangu-mangu. Bahkan kebimbangan yang sangat telah mencekam jantungnya.
Tetapi kemudian ia bertekad untuk segera menyampaikannya, justru karena sikap Ki Kasang Jati. Jika orang tua itu tidak mengetahui sikap sebenarnya dari Ki Dukut, maka mungkin sekali pada suatu saat ia akan dihadapkan pada keadaan yang sangat membingungkan.
Karena itu, maka Ki Wastu pun kemudian berkata, “Kakang, kedatanganku kemari agaknya ada hubungannya dengan kedua orang murid dan guru itu”
“Kenapa dengan mereka?“ bertanya Ki Kasang dengan kerut-merut di kening.
Keragu-raguan masih nampak di wajah Ki Wastu. Sekilas ia memandang Mahisa Bungalan. Namun Mahisa Bungalan tidak memberikan kesan apapun kepadanya.
Baru sejenak kemudian, Ki Wastu itupun berkata, “Kakang, mungkin terkejut mendengar ceriteraku. Tetapi sebenarnyalah bahwa aku tidak berbohong. Anak muda ini akan dapat menjadi saksi”
“Katakanlah” desis Ki Kasang Jati.
Ki Wastu bergeser lagi setapak. Kemudian dengan bahasa yang patah-patah iapun menceriterakan, apa yang diketahuinya tentang Ki Dukut Pakering serta sikapnya terhadap Pangeran Kuda Padmadata.
Ki Kasang Jati mendengarkan ceritera itu dengan saksama. Setiap kali nampak kerut-merut dikeningnya. Bahkan kadang-kadang wajah itu menjadi sangat tegang.
Namun ketika Ki Wastu selesai dengan ceriteranya, maka Ki Kasang itu berkata, “Wastu. apakah kau bukan sekedar salah paham menanggapi peristwa itu? Darimana kau mengetahui bahwa Ki Dukut sudah bersikap demikian buruknya”
“Aku mendengar sebagian dari Pangeran Kuda Padmadata” jawab Ki Wastu.
“Dan kau mempercayainya begitu suja? Mungkin sebagian ceriteranya adalah benar, tetapi mungkin sebagian lagi hanyalah untuk mendukung ceritera yang sebenarnya itu”
“Tidak kakang. Bertanyalah kepada anak muda ini. Untunglah bahwa aku bersedia singgah di Kediri untuk membawanya serta. Jika tidak, mungkin aku sama sekali tidak mempunyai saksi untuk menyatakan kebenaran dari ceriteraku”
Ki Kasang mengerutkan keningnya. Kemudian iapun bertanya, “Apakah benar ngger. Apa saja yang kau ketahui tentang Ki Dukut Pakering?“
“Maaf Ki Kasang Jati” jawab Mahisa Bungalan, “aku tidak tahu apapun juga tentang Ki Dukut Pakering. Tetapi aku mangetahui serba sedikit kebenaran ceritera Ki Wastu. Aku tahu bagaimana anak perempuannya mengalami perlakuan yang keji. Aku tahu bagaimana Ki Dukut telah membuat jaring-jaring yang sangat rapat. Dan aku tahu, apa yang dialami Pangeran Kuda Padmadata itu di istananya sendiri, karena paman Mahisa Agni telah mengabdi di istana itu pula”
“Dengan demikian, maka kalian sampai pada kesimpulan, bahwa yang berbuat demikian itu adalah Ki Dukut Pakering?“ bertanya Ki Kasang.
“Kakang” berkata Ki Wastu, “puteri yang ikut menjadi alat pemerasan itulah yang mula-mula mengatakannya. Kemudian diperkuat dengan gejala-gejala yang dapat dirasakan oleh Pangeran Kuda Padmadata. Sehingga karena itu, maka aku percaya, bahwa sumber malapetaka itu adalah Ki Dukut Pakering. Namun selebihnya dari dendamnya yang tersimpan, iapun telah didorong oleh ketamakannya melihat kekayaan Pangeran Kuda Padmadata itu melimpah, yang kelak akan jatuh ke tangan orang yang dibencinya.
Ki Kasang Jati menarik nafas dalam-dalam, wajahnya menjadi muram. Dengan nada dalam, iapun kemudian berkata, ”Jika demikian, maka akulah yang paling bersalah sehingga anak perempuanmu itu mengalami nasib yang sangat buruk. Bahkan hampir saja merampas jiwanya”
“Tidak. Bukan maksudku menyalahkan kakang.” potong Ki Wastu dengan serta merta, “aku hanya mengatakan, bahwa kebencian Ki Dukut terhadap kakang Kasang telah mempengaruhi caranya berpikir menanggapi keadaan muridnya. Tetapi sudah barang tentu ada pengaruh lain yang harus diperhitungkan. Tentu adik Pangeran Kuda Padmadata itu pun mula-mula terkejut dan tidak mau melihat kenyataan bahwa kakaknya telah kawin dengan seorang pidak pedarakan. Kekecewaan ini bertemu dengan keangkuhan, ketamakan dan kedengkian.”
Ki Kasang Jati mengangguk-angguk. Katanya kemudian hampir kepada diri sendiri, “Aku tidak mengira, bahwa permusuhan yang sudah aku usahakan untuk melupakan itu, masih saja berakibat buruk. Bukan atas diriku sendiri, tetapi atas orang-orang yang sebenarnya tidak bersalah.”
“Kakang” bertanya Ki Wastu kemudian, “sebaiknya kakang tidak usah menyesali diri sendiri. Kini anakku telah bebas, dan bahkan mendapat perlindungan yang sangat baik di Istana Singasari, diawasi oleh Ki Mahendra, ayah angger Mahisa Bungalan ini.” Ki Wastu berhenti sejenak, lalu, “kedatanganku kakang, sebenarnya hanyalah ingin memberikan isyarat kepada kakang.”
“Terima kasih” jawab Ki Kasang Jati. Lalu, “Aku mengerti. Kegagalan Ki Dukut atas rencananya yang menyangkut muridnya, dan kegagalannya menyingkirkan puteri itu, mungkin akan menumbuhkan rencananya yang lain. Sasarannya adalah aku.”
“Ya, ya kakang. Aku memang ingin mengatakan demikian.”
“Terima kasih Wastu” desis Ki Kasang Jati, “aku sudah tua. Aku kira aku sudah tidak pantas lagi turun ke dalam arena perselisihan apapun sebabnya. Karena itu, jika Ki Dukut datang, biarkan ia mendapatkan apa yang dicarinya. Jika ia ingin melepaskan dendamnya, biarlah ia melakukannya.”
“Aku sudah mengira” berkata Ki Wastu, “Kakang adalah orang yang baik, murah hati dan barangkali seorang yang tidak banyak menghiraukan nasibnya sendiri.”
Tetapi, di samping itu kakang pun harus bertindak adil. Adil terhadap diri sendiri dan adil terhadap hubungan kakang dengan orang lain. Jika kakang membiarkan dendam itu membakar diri kakang, itu sama sekali bukan sikap yang adil. Kakang sudah membiarkan kejahatan berlaku atas seseorang, meskipun seseorang itu kakang sendiri. Tetapi mungkin kejahatan itu akan menjalar terhadap orang lain yang lebih buruk lagi, apabila orang itu sama sekali tidak tahu menahu. “
Ki Kasang Jati mengerutkan keningnya. Namun iapun kemudian berkata, “Kau pandai memaksa aku untuk berpikir Wastu. Tetapi dengan melepaskan dendamnya kepadaku, maka aku kira ia sudah puas. Ia tidak akan lagi mencari sasaran yang lain.”
“Tetapi dendamnya telah berkembang dengan ketamakan dan kedengkian. Ia tidak akan puas dengan pelepasan dendamnya yang lama saja. Ia kini tentu mendendam Pangeran Kuda Padmadata pula, serta keinginannya untuk menguasai harta bendanya tentu tidak akan dapat segera dilupakannya.”
Ki Kasang Jati menarik nafas dalam-dalam. Sejenak ia merenungi keadaannya. Sekilas terbayang, apa yang pernah terjadi, sehingga dendam telah menyala antara dirinya dengan orang yang bernama Ki Dukut Pakering. Ki Kasang Jati sama sekali tidak mengira, bahwa dendam itu justru akan membakar anak perempuan dari adik seperguruannya, sehingga hampir saja perempuan itu menjadi hangus bersama anak laki lakinya. Bahkan Pangeran Kuda Padmadata sendiri, hampir saja menjadi korban pula.
Kini nampaknya, kegagalan kegagalan itu telah menggiring Ki Dukut Pakering untuk menemukan sasarannya yang semula meskipun hanya sekedar untuk melepaskan amukan kekecewaan dan kebencian.
“Tetapi apakah benar, bahwa dendam itu akan terhenti sampai pada pelepasan atas diriku?” bertanya Ki Kasang Jati kepada diri sendiri.
Tetapi, pertanyaan itu telah membuka pertimbangan pertimbangannya yang lain. Justru itulah, yang dikehendaki oleh Ki Wastu, agar kejahatan yang membakar perasaan Ki Dukut Pakering itu tidak menjalar.
“Wastu,” berkata Ki Kasang Jati kemudian, “aku mengerti maksudmu. Tetapi apakah kata orang, jika orang-orang tua yang sudah berusaha untuk mendekatkan diri kepada asalnya, kepada Sangkan Paraning Dumadi ini masih harus berselisih dan bahkan mungkin masih harus mempergunakan kekerasan pula”
“Kakang” jawab Ki Wastu, “mungkin aku adalah orang yang lebih kasar dari Kakang. Aku sudah bertempur mempertahankan anak perempuanku. Bahkan angger Mahisa Bungalan ini serta ayah dan paman-pamannya telah mempergunakan pula untuk mencegah menjalarnya kejahatan”
“Mereka adalah orang-orang yang memang mempunyai kewajiban sebagai seorang Kesatria. Apalagi mereka adalah orang-orang yang berada dalam lingkungan keprajuritan”
“Tetapi apakah menurut pendapat kakang, membiarkan kejahatan itu terjadi, juga termasuk kebajikan? Juga termasuk jalan menuju ke Sangkan Paranging Dumadi? Apakah dengan demikian kakang sudah menunaikan tugas pengabdian kakang justru karena kakang mendapatkan kurnia kelebihan dalam olah kanuragan?“ bertanya Ki Wastu.
“Wastu” berkata Ki Kasang Jati, “sejak dahulu aku selalu merasa terdesak apabila aku harus berbantah dengan kau. Tetapi biarlah aku mengakuinya. Aku memang harus mendengarkan pendapatmu. Aku akan mencoba mempertimbangkannya”
“Kakang masih akan mempertimbangkannya?“ berkata Ki Wastu.
Ki Kasang Jati menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada datar ia berkata, “Kau selalu saja mendesak, Wastu. Baiklah. Baiklah. Aku tidak akan mempertimbangkannya lagi. Aku akan berbuat sesuatu untuk menjaga diri”
Ki Wastu menundukkan kepalanya. Katanya dengan nada dalam, hampir kepada diri sendiri, “Maaf kakang. Sebenarnya aku hanya didorong oleh kecemasanku, bahwa sesuatu telah terjadi atas kakang dan padepokan ini, tanpa ngetahuinya lebih dahulu”
Aku mengerti maksudmu Wastu” desis Ki Kasang Jati.
Ki Wastu tidak menyahut lagi. Tetapi kepalanya masih tertunduk. Sementara itu, Mahisa Bungalan hanya dapat mendengarkan percakapan dua orang kakak beradik seperguruan itu.
Dalam pada itu, Ki Kasang Jati pun kemudian berkata, “Wastu, dengan demikian, maka aku justru minta agar kau tetap tinggal di sini untuk sementara. Mungkin yang kau katakan itu segera terjadi, sehingga kau sempat menyaksikannya. Mungkin kau akan dapat menemukan jalan keluar jika sebenarnyalah seperti yang kau katakan. Apalagi jika Ki Dukut membawa orang-orang lain yang sebenarnya tidak bersangkut paut dengan padepokan ini”
“Baiklah kakang, aku akan tinggal di sini untuk beberapa saat. Tetapi tentu tidak terlalu lama. Di Singasari anak perempuan dan cucuku tentu selalu menunggu, kapan mereka mendapat kesempatan untuk keluar dari lingkungan istana yang kurang dimengertinya. Meskipun ia mendapat perlindungan sebaik-baiknya, tentu ia akan lebih kerasan tinggal di luar lingkungan istana”
Ki Kasang Jati mengangguk. Jawabnya, “Jika yang kau perhitungkan itu benar-benar akan terjadi, maka tentu tidak akan terlalu lama lagi hal itu akan terjadi”
Dengan demikian, maka Ki Wastu dan Mahisa Bungalan masih tetap akan tinggal beberapa lama di padepokan kecil yang tenang itu. Namun yang karena kedatangan mereka, telah menjadi goncang. Meskipun Ki Kasang Jati sama sekali tidak memberitahukan apapun kepada cantrik-cantriknya, namun suasana itu nampaknya terasa oleh beberapa orang yang berada di padepokan itu pula.
Namun agaknya, apa yang dikatakan oleh Ki Wastu itu benar-benar mulai membayangi padepokan kecil itu. Pada suatu sore ternyata salah seorang cantrik melaporkan kepada Ki Kasang Jati, “Ki Kasang Jati, ketika aku pulang dari sawah, aku melihat dua orang yang melintas di jalan sebelah. Beberapa saat lamanya mereka berhenti mengamati padepokan ini dari jarak yang tidak terlalu dekat. Keduanya tidak mengetahui, bahwa aku yang bekerja di sawah dan sedang berada di dalam gubug, adalah penghuni padepokan ini. Atau barangkali keduanya justru tidak melihat aku, karena aku sudah duduk di dalam gubug.
“Apa salahnya” bertanya Ki Kasang Jati, “mungkin keduanya sedang mencari seseorang, atau bahkan keduanya mamang mencari padepokan ini. Mungkin sanak kadangnya ada yang tinggal di padepokan ini, atau untuk keperluan yang lain”
Cantrik itu mengangguk-angguk. Jawabnya, “Mungkin sekali. Aku tidak tahu, kenapa aku tiba-tiba saja telah mencurigainya”
Ki Kasang Jati mengerutkan keningnya. Agaknya seperti yang dirasakannya, suasana di padepokannya memang sudah berubah karena kehadiran Ki Wastu dan Mahisa Bungalan. Namun iapun mengerti, bahwa Ki Wastu dan Mahisa Bungalan datang ke padepokan itu dengan maksud yang baik.
Dengan demikian, maka Ki Kasang Jati memang harus mulai menyatakan sikapnya kepada para cantriknya. Ia tidak dapat membiarkan orang-orang yang tinggal di padepokan itu berteka-teki tanpa petunjuk arah sama sekali.
Karena itu, maka pada hari berikutnya, Ki Kasang Jati telah memanggil dua orang Pututnya untuk diajak berbincang bersama Ki Wastu dan Mahisa Bungalan.
Dengan hati-hati Ki Kasang Jati memberikan kemungkinan yang dapat terjadi di padepokan kecil itu. Sebenarnya ia sendiri sudah berusaha melupakan permusuhan yang sudah terlalu lama tanpa ujung pangkal itu. Namun pada suatu saat, ia memang harus melihat kenyataan, bahwa permusuhan itu belum padam sama sekali. Pada suatu saat, karena terpercik oleh peristiwa yang terjadi di Kediri, maka api yang telah tidak lagi berasap itu, bagaikan disiram dengan minyak.
Kedua Putut itu pun mendengarkan keterangan Ki Kasang Jati dengan saksama. Mereka menarik nafas dalam dalam ketika Ki Kasang Jati berkata, “Tetapi semuanya itu adalah salahku. Betapa hatiku ternyata telah ternoda oleh sikapku sendiri. Jika padepokan ini dimaksudkan untuk menjauhkan diri dari segala macam kekasaran duniawi, maka aku masih juga mengajarkan olah kanuragan kepada kalian berdua. Ternyata pada suatu saat, seolah-olah kita semuanya telah dituntut untuk mampertanggung jawabkannya”
Kedua Putut itu mengangguk-angguk.
“Nah” berkata Ki Kasang Jati kemudian, “bagaimanapun juga kita tidak akan dapat ingkar, bahwa salah satu dari sifat kita, adalah mempertahankan hidup kita. Karena itu, kita tidak bersalah jika kita bertahan di dalam lingkungan kita sendiri, jika ada pihak yang ingin merusak ketenangan padepokan ini”
Kedua Putut itu masih mengangguk-angguk. Salah seorang dari mereka berkata, “Guru. Agaknya memang demikian. Kita berhak untuk mempertahankan diri, sebagaimana yang guru ajarkan. Seperti juga kita makan dan minum, agar kita akan tetap hidup”
Ki Kasang Jati tersenyum. Katanya, “Baiklah, jika kau memang menempatkan pengertian itu pada keadaan yang kita hadapi sekarang. Cobalah sampaikan kepada kawan-kawanmu dengan hati-hati, agar mereka tidak salah paham dan menjadi sangat gelisah karenanya”
“Ya guru. Aku akan mencoba. Tetapi sudah seharusnya kita bersiaga manghadapi kemungkinan yang betapapun pahitnya, yang memang jarang sekali terjadi atas padepokan ini” jawab salah seorang Pututnya.
Ki Kasang Jati menarik nafas dalam-dalam. Dua orang muridnya yang tertua itu dapat mengerti persoalannya dengan jelas. Tetapi beberapa orang cantrik yang lain, mungkin akan mempunyai tanggapan yang berbeda.
Tetapi kedua orang Putut itu akan dapat mewakilinya. Mereka dalam hidup sehari-hari adalah satu dengan para cantrik, meskipun sebenarnya kedua orang Putut itu dapat juga disebut guru dari para cantrik yang lain. Namun setiap orang padepokan itu menganggap bahwa guru mereka adalah Ki Kasang Jati. Sementara para Putut Itu adalah saudara tua mereka.
Demikianlah, padepokan kecil yang tenang itu benar-benar telah di panasi dengan ketegangan yang semakin memuncak. Ternyata cantrik-cantrik yang lain pun melaporkan bahwa mereka melihat orang-orang yang tidak dikenal dan mencurigakan di sekitar padepokan itu”
“Baiklah” berkata Ki Kasang Jati, “kalian harus menyadari, bahwa bukan Wastu dan angger Mahisa Bungalan inilah yang membawa ketegangan, di sini. Bahkan mereka telah mendahului datangnya ketegangan itu dengan memberitahukan kepada isi padepokan ini. Dengan demikian, maka datang atau tidak datang Wastu dan angger Mahisa Bungalan, kita akan menghadapi ketegangan ini dan sekaligus sentuhan yang kasar,” Ki Kasang Jati berhenti sejenak, lalu katanya kemudian, “tetapi ingat, kalian tidak perlu mengatakan, bahwa ada dua orang tamu di padepokan ini. Anggaplah Wastu dan angger Mahisa Bungalan sebagai keluarga sendiri. Sebut sajalah mereka sebagai saudara-saudara kalian”
“Kenapa?” bertanya salah seorang dari para cantrik.
“Tidak apa-apa. Tetapi dengan demikian, maka tidak akan menimbulkan sikap khusus bagi mereka yang berniat buruk terhadap padepokan ini” jawab Ki Kasang Jati.
Para Putut dan cantrik itu pun mengerti maksud Ki Kasang Jati. Karena itu. maka mereka pun berusaha untuk tidak menyebut sama sekali tentang dua orang yang berada di padepokannya, yang mereka ketahui bahwa salah seorang dari kedua orang itu adalah adik seperguruan Ki Kasang Jati sendiri.
Sebenarnyalah bahwa perhitungan Ki Wastu dan Mahisa Bungalan tidak terlalu jauh dari kebenaran. Ki Dukut Pakering benar-benar telah mendekati padepokan Ki Kasang Jati dengan dendam yang membara. Karena ia tidak mempunyai orang-orang yang dapat dipercaya lagi selain seorang pengikutnya saja, maka ia pun telah berhubungan dengan beberapa orang yang telah dikenalnya untuk membantunya.
“Ada seorang yang mumpuni di padepokan itu” berkata Ki Dukut, “ tetapi orang itu adalah musuhku. Musuh bebuyutan. Aku akan menyelesaikannya, sementara kalian dapat berbuat menurut kehendak kalian atas para pengikutnya. Mungkin ada satu dua Putut pilihan, tetapi jarak kemampuannya tentu terpaut panjang dari Ki Kasang Jati sendiri”
“Apakah Ki Dukut yakin?“ bertanya salah seorang yang bersedia membantunya.
“Kenapa tidak? Aku mengenal padepokan itu sejak lama” jawab Ki Dukut.
“Apakah tidak mungkin telah terjadi perubahan dengan cepat? Selama Ki Dukut tidak melihat padepokan ini, maka banyak peristiwa dapat terjadi?” bertanya orang lain yang diajaknya untuk melakukannya rencananya.
“Kita akan dapat mengamatinya untuk beberapa lama” jawab Ki Dukut, “agar kita dapat menyakinkan, bahwa kerja kita akan berhasil dengan baik”
“Itu adalah cara yang paling baik” berkata orang lain, “kita akan melihat padepokan itu dalam keadaannya sekarang. Bukan beberapa saat yang lampau”
Dengan damikian, maka Ki Dukut dan beberapa orang yang telah diajaknya melaksanakan rencananya, telah mengamati padepokan itu. Dengan cermat mereka berusaha untuk mengamati, apakah ada sesuatu yang dapat dianggapnya gawat
Ternyata bahwa kehadiran Ki Wastu dan Mahisa Bungalan yang lebih dahulu dari Ki Dukut, telah lepas dari pengamatan orang-orang yang bermaksud buruk itu.
Tetapi dalam pada itu, ternyata tidak semua orang yang berada dipihak Ki Dukut mengerti persoalan yang sebenarnya. Ada diantara mereka yang telah tertipu. Ternyata Ki Dukut yang mereka kenal mempunyai murid dua orang Pangeran itu dapat mempergunakan keadaannya itu untuk mengelabuhi beberapa orang pemimpin padepokan untuk berdiri dipihaknya.
Meskipun beberapa orang pemimpin padepokan itu bukannya orang yang dapat disebut memiliki ilmu yang pinunjul, namun dengan jumlah yang cukup banyak, maka Ki Dukut akan dapat dengan mudah menghancurkan padepokan itu, sementara orang-orang yang membantunya itupun pada saatnya akan mengalami nasib buruk pula.
Dengan janji yang memberikan banyak harapan, dan apalagi mereka yang merasa berkewajiban untuk melakukan kebajikan atas Pangeran Kuda Padmadata yang malang, maka beberapa orang telah bersedia berdiri dipihak Ki Dukut dengan rencananya yang gila. Menghancur kan padepokan itu dengan segenap penghuninya.
“Mereka telah menghancurkan keluarga Pangeran Kuda Padmadata” berkata Ki Dukut dengan orang-orang yang bersedia membantunya, “bahkan adiknya. Pangeran Kuda Rukmasanti telah terbunuh. Perampokan itu memang keji. Tetapi tentu bukan sekedar perampokan biasa. Ki Wastu, saudara seperguruan Ki Kasang Jati merasa kehilangan martabatnya ketika ia harus melihat kenyataan, bahwa anak perempuannya tidak diperlukan lagi oleh Pangeran Kuda Padmadata. Meskipun Pengeran yang baik hati itu telah memberikan terlalu banyak pada saat isterinya itu ditinggalkannya di padukuhan, namun dendam telah menyala di hatinya. Dan ia berhasil menipu beberapa orang untuk membantunya. Kematian Pangeran Kuda Rukmasanti sangat menyakitkan hati kakaknya dan hatiku sendiri. Karena aku tidak mengetahui rumah Ki Wastu, maka aku akan membuat perhitungan dengan orang yang telah membantunya berbuat jahat”
Orang-orang yang sudah bersedia membantunya itu mendengarkan keterangan Ki Dukut dengan saksama. Tetapi mereka agak heran mendengar keterangan bahwa Ki Dukut masih belum mengetahui rumah Ki Wastu, yang anak perempuannya pernah menjadi isteri muridnya.
Agaknya Ki Dukut dapat melihat keragu-raguan itu. Maka katanya kemudian, “Bukan berarti bahwa aku belum pernah melihat tempat tinggalnya, tetapi orang itu telah pergi meninggalkan rumah dan halamannya. Ia menyadari bahwa ia telah melakukan sesuatu yang akan dapat menimbulkan persoalan pada dirinya, sehingga akhirnya ia talah bersembunyi Persembunyiannya itulah yang belum dapat aku ketemukan”
Orang-orang yang berada dipihak Ki Dukut tanpa mengerti keadaan yang sebenarnya itu mengangguk-angguk. Ceritera Ki Dukut nampaknya memang menyakinkan Bahkan Ki Dukut itu berkata kepada mereka, “Pangeran Kuda Padmadata tentu akan sangat berterima kasih kepada kalian. Sementara kalian mengetahui bahwa Pangeran itu adalah Pangeran yang kaya raya”
“Itu tidak penting” berkata seseorang, “tetapi membebaskan Pangeran itu dari kecemasan, bayangan-bayangan yang suram dan ketidak-pastian atas hari depannya itulah yang telah mendorong kami untuk membantu Ki Dukut. Bukan berarti bahwa kami memiliki kemampuan melampaui Ki Dukut Pakering sendiri, tetapi mungkin tenaga kami yang tidak berarti itu akan dapat meringankan tugas Ki Dukut di padukuhan itu”
“Terima kasih” sahut Ki Dukut, “betapapun tinggi ilmu orang yang menyebut dirinya Kasang Jati itu, maka biarlah aku akan melumpuhkannya. Sementara kalian akan dapat menguasai para cantriknya yang tidak banyak berarti”
Demikianlah maka rencana untuk memasuki padepokan kecil itu telah disusun dengan rapi. Menurut pengamatan mereka, tidak ada yang perlu mendapat perhatian khusus pada padepokan itu. Tidak ada kecemasan bahwa Ki Kasang Jati telah mendatangkan orang-orang yang kuat yang akan dapat melindungi padepokannya yang mulai dibayangi oleh keburaman itu.
“Kita tinggal menentukan waktu” berkata Ki Dukut Pakering.
“Jangan terlalu lama” berkata salah seorang yang bersedia membantunya, “aku tidak mempunyai waktu terlalu banyak, karena aku harus segera berada kembali di padepokanku”
“Ya“ yang lain menyahut, “kasihan Pengeran yang malang itu. Jika kita berhasil memasuki padepokan itu, mungkin kita akan dapat memaksa satu dua orang untuk menunjukkan, dimanakah rumah orang yang bernama Ki Wastu itu”
“Baiklah” berkata Ki Dukut Pakering, “semakin cepat memang semakin baik. Besok kita akan mengadakan pengamatan terakhir. Kita akan langsung menyusun rencana, kapan kita akan memasuki padepokan itu”
Demikianlah seperti yang dikatakan, di keesokan harinya, maka Ki Dukut dan seorang yang mewakili beberapa orang yang telah menyatakan bersedia membantu Ki Dukut telah mengadakan pengamatan terakhir pada padukuhan kecil itu. Seperti di hari-hari sebelumnya, maka mereka tidak melihat sesuatu yang baru pada padepokan itu. Mereka melihat beberapa orang cantrik bekerja seperti biasa. Mereka melihat, tidak seorang pun dari para cantrik yang menunjukkan kesiagaan yang berarti.
“Dengan demikian tugas kita tidak terlalu berat. Bukankah tugas kami hanyalah mencegah, agar Ki Dukut sempat berhadapan dengan Ki Kasang Jati?“ bertanya orang yang menyertainya.
“Ya. Tetapi jika diperlukan, maka kalian dapat membantu aku menangkap orang itu, karena aku ingin dapat menangkapnya hidup-hidup. Sudah barang tentu bahwa jika terpaksa sekali, aku akan membunuhnya. Namun apabila masih mungkin, aku ingin dapat mendengar beberapa jawab atas pertanyaan-pertanyaan yang tersimpan di dalam hati ini”
Orang yang menyertainya mengangguk-angguk. Ia semakin yakin akan kebersihan hati Ki Dukut, ketika Ki Dukut berkata, “Sebenarnyalah bahwa kematian bukan akhir dari persoalan ini. Aku, dan tentu juga Pangeran Kuda Padmadata tidak menginginkan kematiannya. Karena sebenarnyalah bahwa dendam bukanlah tujuan terakhir, meskipun betapa sakitnya hati Pangeran yang kehilangan adiknya itu, dan aku yang telah kehilangan muridku”
“Kita akan berusaha” jawab orang yang menyertainya, “tetapi kita tidak dapat menentukan“ ia berhenti sejenak, lalu jadi, apakah kita sudah dapat menentukan saat untuk memasuki padepokan itu?”
“Setelah kita amati beberapa hari. maka nampaknya kita akan segera dapat melakukannya. Aku akan berbicara dengan kawan-kawan kita, apakah sebaiknya malam nanti kita melakukannya” berkata Ki Dukut
“Aku tidak berkeberatan. Malam nanti kita memasuki padepokan kecil itu lewat regol. Kita minta Ki Kasang Jati menyerah dan mengakui kesalahannya, sehingga ia sebaiknya tidak melawan untuk dihadapkan kepada Pangeran Kuda Padmadata, serta sekaligus menunjukkan dimana Ki Wastu bersembunyi” berkata orang yang menyertainya, “mudah-mudahan Ki Dukut mengerti, bahwa dengan demikian, para cantriknya akan selamat”
“Bagus” sahut Ki Dukut. Namun ia berkata selanjutnya, “tetapi ia adalah orang yang keras hati dan kepala. Tetapi biarlah kita melihat”
“Kita harus segera membuat rencana sebaik-baiknya” berkata kawannya, “marilah, kita akan menyusunnya sekarang. Malam nanti kita masuki padepokan itu”
Ki Dukut pun kemudian mengangguk sambil berkata, “Sayang bahwa kita harus mengguncang ketenangan padepokan itu. Tetapi yang isinya sama sekali bukanlah seperti wadah yang kasat mata”
Bersama dengan beberapa orang yang sudah menyatakan kesediaannya untuk membantu, maka Ki Dukut Pakering telah menyusun rencananya. Sebelum tengah malam mereka akan memasuki padepokan kecil itu. Ki Dukut Pakering sendiri akan menghadapi Ki Kasang Jati, agar ia dapat dengan hati-hati berusaha menangkapnya hidup-hidup.
“Tetapi jika ia berkeras hati untuk mempertahankan kesalahannya, apa boleh buat” berkata Ki Dukut, “namun, jika masih mungkin, sementara aku tidak berhasil menangkapnya hidup-hidup. Aku akan memerlukan pertolongan kalian, justru karena aku menginginkannya, hidup-hidup“
“Kami sudah menyatakan kesediaan kami” jawab salah seorang dari mereka yang berada diantara Ki Dukut Pakering, “karena itu, kami akan membantunya apa saja yang kalian perlukan. Sebenarnyalah kami menganggap bahwa rencanamu untuk menangkap hidup-hidup adalah rencana yang paling baik”
“Ya. Marilah kita bersiap sambil berdoa. Semoga yang Maha Agung akan selalu berada bersama kita” berkata Ki Dukut, “sehingga apa yang kita kerjakan tidak ber tentangan dengan kehendaknya. Namun aku percaya, bahwa niat yang baik, akan mendapat jalan yang rancak pula”
Demikianlah, maka Ki Dukut dan kawan-kawannya pun telah bersiap menjelang gelap. Bagaimanapun juga. mereka harus mempersiapkan diri untuk bertempur. Mereka akan bertempur tanpa menjatuhkan korban jiwa apabila mungkin. Tetapi jika justru jiwa mereka sendiri terancam, maka mungkin sekali mereka terpaksa membunuh. Namun pembunuhan yang mereka lakukan telah mereka perhitungkan sebaik-baiknya, bahwa mereka telah melakukan satu tugas kemanusiaan yang besar. Jika Ki Kasang Jati itu tidak ditangkap, atau bahkan jika terpaksa dibunuh, maka tindakan-tindakannya yang melanggar segi peradaban manusia akan semakin menjalar. Bahkan ia sudah berani berbuat jahat terhadap seorang pangeran dari Kediri dan membunuh Pangeran Kuda Rukmasanti.
Dengan demikian, maka kawan-kawan Ki Dukut itu merasa diri mereka berpinjak pada alas kebenaran, sehingga mereka sama sekali tidak ragu-ragu untuk bertindak.
Ketika malam turun, maka Ki Dukut telah menentukan arah yang akan mereka tempuh. Menurut perhitungan Ki Dukut, maka mereka tidak perlu datang sambil mengendap-endap. Tetapi mereka akan dapat langsung memasuki regol dan menyerang padepokan itu dari depan dengan dada tengadah sebagaimana seharusnya dilakukan oleh seorang laki-laki.....
Bersambung....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar