PANASNYA BUNGA MEKAR : 11-03
“Lalu dimana?” bertanya Pangeran Kuda Padmadata.
“Di rumah Ki Daredu. Aku sudah kerasan tinggal di rumah itu. Mungkin untuk beberapa lamanya aku akan menunggu perkembangan keadaan di rumah Ki Daredu”
Tetapi Witantra menggeleng. Katanya, “Yang kita hadapi bukan kanak-kanak. Sebaiknya kau berada di sini untuk beberapa saat sampai segalanya nampak lebih jelas. Guru Pangeran Kuda Padmadata tentu bukan orang kebanyakan. Ia tentu memiliki sesuatu yang jauh melampaui Pangeran Kuda Rukmasanti itu”
Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam.,Tetapi iapun kemudian mengangguk sambil menjawab, “Terserah kepada paman”
“Nah, baiklah kita akan melihat perkembangan keadaan. Biarlah Mehendra dan Ki Wastu segera kembali ke Singasari” gumam Witantra,
Demikianlah, Maka pembicaraan itu pun telah mengambil kesimpulan, agar Mahendra dan Ki Wastu kembali ke Singasari. Mereka harus memberitahukan segala persoalannya kepada para prajurit di Istana Singasari. Dengan demikian, maka perhatian mereka kepada perempuan itu akan memberikan pertimbangan, agar perlindungan kepadanya menjadi lebih baik. Bahkan jika diijinkan oleh pimpinan prajurit pengawal, maka biarlah Ki Wastu berada didekat anak perempuan dan cucunya, agar ia akan dapat bertindak langsung jika terjadi sesuatu, sementara ia dapat mengharapkan bantuan para prajurit.
“Tidak mustahil guru Pangeran Kuda Rukmasanti itu akan mengambil jalan yang licik. Ia dapat memberikan uang atau bentuk suap yang lain kepada para pengawal untuk mendapat kesempatan bertemu dengan orang yang seharusnya dilindungi itu. Ia akan dapat saja memberikan seribu satu alasan, sehingga para pengawal yang menerima suap itu tidak mengetahui, bahwa orang yang mungkin mengaku saudaranya,mungkin mengaku utusan dari siapa pun, namun yang sebenarnya akan dapat membunuh pada kesempatan yang sangat kecil sekalipun” berkata Mahendra.
Ki Wastu mengangguk-angguk. Agaknya sebaiknya memang demikian apabila ia mendapat ijin dari yang berwenang dalam pasukan pengawal istana itu.
“Sementara itu” berkata Mahendra lebih lanjut, “aku dapat kembali kepada kedua anak-anakku yang bengal itu. Mereka tentu sudah menunggu dan mengumpat setiap saat karena aku terlalu lama pergi”
Ki Wastu pun mengangguk-angguk. Diluar sadarnya ia berkata, “Ki Mahendra ternyata mendapat kurnia yang tiada taranya dari Yang Maha Agung. Putera-putera Ki Mahendra ke-tiga-tiganya dapat dibanggakan”
“Aku selalu mengucapkan terima kasih kepada kemurahan Tuhan Yang Maha Penyayang. Namun sebenarnyalah bahwa anak-anakku itu adalah anak-anak yang bengal”
“Mereka memiliki ilmu yang luar biasa pada umurnya yang masih sangat muda. Ketika aku melihat, bagaimana Mahisa Bungalan mempertahankan diri dari orang-orang yang berusaha membunuhnya, pada saat pertama kali aku melihatnya, aku hampir tidak percaya akan penglihatanku atas kemudian anak itu”
“Ki Wastu selalu memuji. Tetapi Ki Wastu juga telah memberikan sumbangan yang sangat berharga bagi Mahisa Bungalan” jawab Mahendra.
“Tidak ada artinya baginya. Hanya sekedar melengkapi ilmu geraknya” sahut Ki Wastu.
Demikianlah, maka ketika Mahendra dan Ki Wastu kembali ke Singasari, mereka sempat singgah di rumah Ki Daredu. Kepada orang tua itu Mahendra mengatakan, bahwa segalanya telah selesai. Ia tidak perlu merasa cemas lagi”
“Aku tidak mengerti, apakah yang sebenarnya telah terjadi di Istana Pangeran Kuda Padmadata” berkata Ki Daredu.
“Tidak ada apa-apa. Seperti berita yang barangkali pernah kau dengar, bahwa rumah itu telah dirampok oleh sekelompok penjahat yang merasa sangat kuat kedudukannya. Tetapi untunglah pada saat itu Mahisa Agni dan Kakang Witantra berada di istana itu” jawab Mahendra.
Tetapi Ki Daredu tertawa sambil berkata, “Jadi aku harus mempercayainya?”
Mahendrapun tersenyum. Jawabnya, “Terserah Kepadamu Ki Daredu”
Ki Daredu masih tertawa sambil mengangguk-angguk., “Baiklah. Aku akan mempercayainya. Tetapi aku tahu bahwa Tuanku Mahisa Agni dan Tuanku Witantra pernah memegang kekuasaan tertinggi Singasari di Kediri. Akupun mengetahui bahwa ada sesuatu yang tidak wajar terjadi di istana itu seperti yang pernah dikatakan oleh Tuanku Mahisa Agni sebelumnya. Tetapi sebaiknya aku memang tidak mengatakannya kepada siapapun”
Mahendra dan Ki Wastupun tertawa. Pekatik tua itu agaknya bukannya orang yang terlalu bodoh, sehingga ia pun dapat mengerti beberapa persoalan yang dilakukan oleh Mahisa Agni. Namun, bahwa segala sesuatu telah selesai dilakukan oleh Mahisa Agni dan Witantra, membuat hati Ki Daredu menjadi tenang. Beberapa hari lamanya, iapun mengalami ketegangan. Yang dilakukan oleh Mahisa Agni tentu bukannya sesuatu yang tidak akan dapat menyangkut banyak pihak.
Demikianlah, maka Mahendra dan Ki Wastu pun meninggalkan Kediri, kembali ke Singasari. Bagaimanapun juga, mereka merasa cemas, bahwa guru Pangeran Kuda Rukmasanti itu akan mencari sasaran dendamnya kepada anak perempuan Ki Wastu, mungkin mengambilnya untuk dipergunakan sebagai alat memaksakan kehendaknya kepada Pangeran Kuda Padmadata seperti yang pernah terjadi.
Sepeninggal Mahendra dan Ki Wastu, maka Mahisa Agni dan Witantra telah ditempatkan di tempat yang khusus di dalam istana Pengeran Kuda Padmadata.
Tetapi karena Mahisa Agni dan Witantra masih tetap ingin dianggap sebagai orang-orang yang tidak banyak berarti, maka iapun telah memilih tempat diluar lingkungan bangunan induk istana Pangeran Kuda Padmadata. Meskipun Mahisa Bungalan pernah mengatakan pada saat hatinya terbakar oleh kemarahannya dihadapan Pangeran Kuda Rukmasanti, tetapi hanya orang-orang tertentu sajalah yang telah mendengar bahwa ia adalah Mahisa Agni dan Witantra yang pernah mewakili kekuasaan Singasari di Kediri. Sementara orang-orang itu telah dipesan untuk tidak mengatakan sesuatu tentang kedua orang itu.
Dalam kehidupan sehari-hari di istana, Mahisa Agni dan Witantra, mencoba untuk meluluhkan diri ke dalam keluarga besar yang mulai tenang itu.
Dalam pada itu, selagi Pengeran Kuda Padmadata sibuk dengan usaha penyelamatan keluarganya, sebelum mereka merasa aman untuk membawanya ke istana, maka seorang yang memiliki ilmu yang mumpuni sedang dicekam oleh kekecewaan. Bahkan kecemasan bahwa rahasianya telah terbuka.
“Ia tentu akan mengatakannya” geramnya. Namun ia tidak mempunyai cara untuk mencegahnya. Dalam pada itu, seorang pengikutnya yang terdekat duduk dengan kepala tunduk diatas amben yang besar, sementara orang yang berilmu mumpuni itu berjalan hilir mudik didalam bilik itu.
“Ada beberapa orang gila di rumah Kuda Padmadata” orang itu bergeremang, “tidak banyak yang mengetahui siapa mereka. Tetapi agaknya mereka pulalah yang telah berhasil membebaskan isteri Pangeran gila itu”
Orang yang menundukkan kepalanya itu mengangguk angguk kecil. Katanya kemudian, “Tetapi belum terlambat Masih ada kesempatan untuk membunuhnya atau mencari kembali sampai kita dapatkan perempuan dan anak laki-lakinya itu”
“Jika Pangeran itu mati, maka tidak banyak lagi artinya atas harta benda yang dimilikinya. Tetapi aku kini telah dibakar oleh dendam. Aku tidak mau berpikir lagi. Yang penting bagiku adalah kematiannya. Ada atau tidak ada gunanya lagi bagiku”
“Kita masih dapat mengumpulkan kekuatan” berkata pengikutnya.
“Tetapi aku kehilangan muridku yang paling baik. Pangeran Kuda Rukmasanti. Ada juga setan yang mampu mengalahkannya” geramnya, “bukannya saja seorang. Tetapi aku yakin, bahwa beberapa orang yang ada di istana itu, tentu memiliki ilmu yang tinggi. Setidak-tidaknya mereka dapat mengimbangi ilmu murid-muridku. Tetapi dalam jumlah empat atau lima orang, maka sulit bagiku untuk mengatasinya. Aku tidak sempat memanggil orang lain diantara kalian”
“Sekarang masih ada waktu” berkata pengikutnya.
“Aku sudah kehilangan dua orang muridku yang paling baik. Kuda Rukmasanti sudah jelas, ia terbunuh. Sedang Padmadata benar-benar telah berkhianat. Ia telah membuat jalur hubungan dengan iblis yang paling terkutuk itu. Langsung atau tidak langsung. Sengaja atau tidak sengaja”
“Kita dapat berbuat cepat” berkata pengikutnya.
Orang yang dibakar oleh dendam itu mengangguk-angguk. Katanya, “Kau tinggal satu-satunya muridku. Itupun agak terasing dari kedua muridku yang berdarah bangsawan itu, sehingga kau tidak nampak sebagai saudara seperguruannya. Tetapi aku yakin, justru karena itu, maka kau telah menempa dirimu sebaik-baiknya meskipun jarang dibawah pengawasanku langsung”
“Aku sedang mencoba untuk dapat menjadi murid di padepokan kecil itu” berkata pengikutnya.
Jangan sebut lagi padepokan itu. Aku tidak akan kembali ke sana. Kuda Padmadata telah pernah datang ke padepokan itu. Ia akan dapat datang kesana mencari aku dengan membawa beberapa orang pilihan” guman orang yang sedang mendendam itu.
“Ki Dukut Pakering” berkata pengikutnya, “jika demikian, maka apakah yang akan kita lakukan sekarang?”
“Untuk sementara aku akan tinggal di pondok ini. Aku akan membuat hubungan dengan beberapa orang kawan-kawanku, Aku sudah hampir kehilangan kesempatan karena kegagalan-kegagalan yang terjadi. Semula aku masih dapat menjanjikan sebagian dari kekayaan Pangeran gila itu, jika kelak jatuh ketanganku lewat adik dan perempuan yang disebut isterinya itu. Tetapi kini aku tidak akan dapat mengatakan demikian, sementara beberapa pihak telah kehilangan kepercayaan kepadaku” desah orang yang disebut Dukut Pakering itu.
“Tetapi masih dapat diusahakan dengan banyak cara” berkata pengikutnya.
“Sudah banyak orang yang terbunuh, meskipun itu karena kebodohan mereka sendiri. Menurut keterangan yang aku dengar, satu orang diantara orang-orang yang me nolong isteri Pangeran yang gila itu, telah membunuh beberapa orang sekaligus”
“Kesahalan-kesalahan itu akan dapat dipakai sebagai pengalaman” berkata Pengikutnya. Lalu, “Sebaiknya Ki Dukut masih berusaha menghubungi beberapa orang yang dapat dipercaya”
“Itu memerlukan waktu. Tetapi dendamku tidak susut lewat waktu-waktu yang betapapun panjangnya. Padmadata harus mati dengan cara apapun juga. Mungkin aku harus menunggu saat yang paling baik. Tapi rasa-rasa nya aku sudah tidak sabar lagi”
“Segalanya dapat dibicarakan” berkata Pengikutnya, “tetapi siapakah yang masih mungkin dihubungi dalam hal ini”
“Ada dua tiga orang. Mereka masih mempunyai hubungan ilmu dengan aku. merekapun orang-orang yang tidak ada tandingnya. Tetapi mereka tentu mempunyai syarat-syarat yang harus aku penuhi. Itulah yang masih belum dapat aku ramalkan” berkata Dukut Pekering.
“Apakah tidak ada semacam kesetia kawanan meng hadapi persoalan ini? Seperti juga jika pada saat lain, salah seorang dari mereka mengalami kesulitan?”
“Mungkin juga” berkata Dukut Pekering, “tetapi aku harus dapat menyakinkan mereka, bahwa aku telah dihinakan. Bahwa aku telah diperlakukan dengan licik dan tidak adil”
“Apakah mereka orang-orang yang berpegang pada keadilan dan mungkin kebenaran?” bertanya Pengikutnya.
Ki Dukut Pakering menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku tidak mengerti. Tetapi kebenaran itu sendiri bukannya sesuatu yang mutlak seperti juga keadilan. Setiap orang dapat memberikan batasan sesuai dengan kepentingannya”
Pengikutnya mengangguk-angguk. Namun rasa-rasanya yang terjadi itu adalah sesuatu yang sangat pahit yang harus ditelan oleh Ki Dukut Pakering, yang sebelumnya sangat dihormati orang.
Sebagai seorang guru dari kakak beradik Pangeran Kuda Padmadata dan Kuda Rukmasanti, maka ia adalah orang yang disegani. Ia memang mempunyai ilmu pada tingkat yang sulit dicapai oleh orang kebanyakan. Namun pada suatu saat, ia tidak dapat tegak lagi dalam kedudukannya. Hatinya telah digoyahkan oleh dendam dan kebencian. Namun kemudian juga nafsu dan ketamakan.
Semula ia kecewa kerena Pangeran Kuda Padmadata di luar sadarnya telah berhubungan dengan orang yang paling dibencinya, bahkan kemudian Pangeran Kuda Padmadata telah kawin dengan seorang perempuan padukuhan yang masih mempunyai jalur hubungan meskipun tidak langsung dengan orang yang paling dibencinya itu. Namun akhirnya, warna-warna hatinya yang sebenarnya telah mencair pula mengaliri sikapnya. Ia tidak saja berusaha untuk menjauhkan Pangeran Kuda Padmadata dari orang yang paling dibencinya itu. Tetapi ia mulai melihat kekayaan yang tersimpan di dalam istana Pangeran Kuda Padmadata. Seorang Pangeran yang memiliki hutan khusus dengan tanaman peliharaan yang dapat mendatangkan kekayaan, karena ia menamani jenis-jenis kayu yang bergetah arum.
Dengan cara yang tidak kasat mata, maka ia memperalat adik kandung Pangeran Kuda Padmadata untuk menguasainya. Bukan saja orangnya, tetapi juga segala kekayaannya. Bahkan telah diaturnya untuk memasukkan seorang perempuan yang hampir sederajat untuk disebut sebagai isterinya tanpa dapat menolak, karena isteri Pangeran itu yang sebenarnya telah dikuasainya.
“Tetapi ternyata hadir orang-orang gila yang tidak dikenal itu” geramnya didalam hati.
Sebenarnya bahwa kehadiran Mahisa Bungalan yang tidak diduga-duga itu telah merusak segala rencananya. Apa yang sudah dimulainya, ternyata pecah berserakkan. Perempuan yang dapat dipergunakannya untuk memaksakan kehendaknya atas Pengeran Kuda Padmadata itu telah terlepas dari tangannya. Betapapun diusahakannya namun korban-korban jugalah yang jatuh. Sedang perempuan itu bagaikan telah hilang ditelan bumi.
Setelah kegagalan-kegagalan itulah maka kini harus mulai lagi dari permulaan sekali meskipun tujuannya sudah berbeda. Kini ia telah digerakkan oleh dendam yang tidak tertahankan, seperti dendamnya kepada saudara tua seperguruan Ki Wastu itu.
Seorang pengikutnya yang semula tidak diperhitungkannya, kini menjadi satu-satunya orang yang setia kepadanya.
Bersama seorang pengikutnya itulah maka Ki Dukut Pakering mulai dengan usahanya melepaskan dendamnya. Setelah beberapa saat lamanya ia berada di pondok kecil milik pengikutnya itu, maka mulailah ia mencari hubungan dengan orang-orang yang pernah dikenalnya.
Namun dalam pada itu, ada juga semacam kerinduannya untuk melihat bekas padepokannya yang tidak lagi dihuninya, karena ia mempunyai perhitungan tertentu setelah ia gagal menguasai muridnya yang tua.
“Apakah Ki Dukut akan kembali ke padepokan itu?” bertanya pengikutnya.
“Tidak. Aku hanya ingin melihatnya. Mungkin aku akan mendapatkan semacam kesan atau bahkan mungkin aku akan mendapat ilham daripada padepokan itu, apakah yang sebaiknya aku lakukan” jawab Ki Dukut Pakering.
Demikianlah, maka ia telah mengajak pengikutnya untuk berjalan mendekati padepokannya. Mereka menempuh jalan yang jarang dilalui orang, karena Ki Dukut merasa seolah-olah setiap orang telah mengetahui apa yang telah dilakukan.
Dengan hati yang ragu-ragu, mereka telah mendekati sebuah bukit kecil. Dari atas bukit itu mereka akan dapat melihat, jalur jalan menuju ke padepokannya yang juga terletak di atas sebuah bukit kecil yang lain.
Namun jantung Ki Dukut itu serasa berhenti berdetak. Dari tempatnya ia melihat beberapa ekor kuda berpacu menuju ke padepokan kecilnya.
“Siapakah mereka?” bertanya pengikutnya.
“Setan itu” geram Ki Dukut” Tentu yang dipaling depan itu adalah Kuda Padmadata”
“Apakah maksudnya?” bertanya pengikutnya pula.
“Tentu ia mencari aku. Ia membawa beberapa orang pengawal”
“Hanya lima orang” desis pengikutnya, “apakah Ki Dukut tidak berniat membalas dendam sama sekali. Merekalah yang datang kepedepokan ini”
Ki Dukut menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Meskipun hanya lima orang, tetapi aku tidak tahu, siapakah mereka. Mungkin salah seorang dari mereka adalah orang yang telah membebaskan isteri Pangeran gila itu dengan membunuh beberapa orang sekaligus. Bukan berarti aku takut kepadanya, tetapi aku harus belajar dari pengalaman, agar aku tidak gagal lagi, dan apalagi mati tanpa arti sama sekali”
Pengikutnya mengangguk-angguk. Dari kejauhan ia memandang derap beberapa ekor kuda menuju ke padepokan kecil yang telah menjadi kosong itu.
Di muka regol. Ki Dukut dan pengikutnya melihat kuda-kuda itu berhenti. Tanpa berpencar mereka telah meloncat turun dan memasuki regol. Selanjutnya, dari kejauhan mereka tidak melihat orang-orang yang memasuki regol padepokan itu lagi.
“Mereka tidak akan menemukan apa-apa” berkata Ki Dukut, “tetapi sikap deksura dari Padmadata membuat darahku semakin mendidih. Aku semakin bernafsu mencincangnya meskipun ia pernah menjadi muridku yang baik”
Pengikutnya mengangguk-angguk. Namun tatapan matanya masih saja mengarah ke padepokan kecil itu. Tetapi iapun tidak melihat lagi orang-orang berkuda yang telah memasuki regol padepokan itu sambil menuntun kuda mereka.
Dalam pada itu, Pengeran Kuda Padmadata bersama Mahisa Agni, Witantra dan Mahisa Bungalan diikuti oleh seorang pengiring, telah memasuki padepokan yang pernah dihuni oleh Ki Dukut Pakering.
Namun padepokan kecil itu ternyata telah kosong. Mereka tidak menjumpai seorangpun berada di padepokan itu.
“Semuanya telah pergi” berkata Pangeran Kuda Padmadata.
Mahisa Agni mengangguk-angguk. Sementara Witantra dan Mahisa Bungalan telah melihat-lihat ke bagian samping dari padepokan itu. Mungkin sesuatu dapat dijumpainya, atau barangkali ada semacam petunjuk yang dapat dipergunakan sebagai alat untuk menelusuri jejak Ki Dukut Pakering.
“Agaknya orang tua itu menyadari, bahwa pada suatu saat aku akan datang ke padepokan ini” berkata Pangeran Kuda Padmadata.
“Mungkin Pangeran” sahut Mahisa Agni, “tetapi mungkin pula orang tua itu ingin menghalau kegelisahan hatinya”
“Tetapi usahanya untuk membunuh puteri itu adalah pertanda, betapa ia telah dicengkam oleh kecemasan dan ketakutan. Dengan demikian, maka ia tidak akan berani lagi berada di padepokan ini”
Mahisa Agni pun mengangguk-angguk. Ketika ia pun kemudian memutari padepokan itu menyusul Witantra dan Mahisa Bungalan, maka ia pun melihat, betapa padepokan kecil itu pernah terpelihara dengan baik. Padepokan itu agaknya memang tidak banyak berpenghuni. Hanya ada beberapa pondok kecil meskipun cukup baik. Karena padepokan itu adalah dari seorang guru yang mempunyai dua orang murid Pangeran yang cukup kaya di Kediri.
“Sayang sekali jika padepokan ini diterlantarkan” berkata Mahisa Agni.
“Siapakah yang berani memakai padepokan ini?” desis Witantra, “meskipun guru Pangeran Kuda Padmadata itu sudah tidak tinggal disini, tetapi jika ada orang lain yang berani memilikinya, maka ia tentu akan dianggapnya musuh yang harus disingkirkan”
Mahisa Agni mengangguk-angguk. Katanya, “Agaknya memang demikian. Karena itu, untuk sementara padepokan ini akan kosong”
“Tidak ada lagi yang akan menyirami tanaman-tanaman itu” berkata Mahisa Bungalan. Lalu iapun mengeluh, “Burung-burung di dalam sangkar itu mati kelaparan. Agaknya sudah sejak beberapa hari padepokan ini ditinggalkan”
“Masih ada yang hidup” berkata Mahisa Agni, “mungkin pada suatu saat orang itu atau pengikutnya telah datang dan memberi sekedar minum makan kepada burung burung didalam sangkar itu. Tetapi keadaannya sudah tidak terlalu baik”
Mahisa Bungalan pun kemudian membuka pintu sangkar burung-burung yang masih hidup. Betapa lemahnya mereka, namun burung-burung itupun kemudian berterbangan. Satu dua di antara mereka hinggap di pinggir belumbang yang airnya nampak jernih meskipun dikotori oleh dedaunan yang gugur dari rantingnya. Sementara yang lain telah hinggap pada pelepah pisang. Beberapa tandan buah pisang memang nampak menguning di batangnya.
Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam. Rasa-rasanya lehernya ikut menjadi sejuk ketika ia melihat beberapa ekor burung yang minum air belumbang yang segar, kemudian terbang mencari buah-buahan yang bertebaran di kebun padepokan itu.
Dalam pada itu, maka ketika mereka sudah melingkari padepokan itu dari sudut kesudut, maka mereka pun kemudian naik kependapa. Masih ada sehelai tikar pandan yang putih terbentang. Meskipun Mahisa Bungalan harus mengibaskan beberapa kali karena debu, namun tikar itu adalah tikar yang masih baik.
Orang-orang itu pun kemudian beristirahat sambil duduk di pendapa. Pangeran Kuda Padmadata dapat bercerita serba sedikit, pada saat-saat ia belajar ilmu kanuragan pada Ki Dukut Pakering di padepokan itu. Ketika ia sudah menguasai dasar-dasar ilmunya, maka iapun kembali ke Kediri. Ki Dukut lah yang kemudian selalu datang untuk meningkatkan dan mematangkan ilmunya. Sehingga akhirnya pada suatu saat terasa oleh Pangeran Kuda Padmadata, bahwa gurunya agak berbeda sikap terhadapnya dan terhadap adiknya. Pangeran Kuda Rukmasanti.
“Tinggal sebuah kenangan yang manis” berkata Pangeran Kuda Padmadata.
Mahisa Agni, Witantra dan Mahisa Bungalan dapat merasa, betapa perasaan kecewa telah mencekam jantung Pangeran Kuda Padmadata. Padepokan itu agaknya memang pernah memberinya nafas kehidupan yang sejuk. Tetapi kemudian, ternyata bahwa gurunya telah membantingnya pada suatu keadaan yang hampir menyeretnya pada keputus-asaan dan bahkan akhir hidup yang sangat pahit.
Dalam pada itu, selagi Pangeran Kuda Padmadata dan beberapa orang yang menyertainya duduk dipendapa padepokan kecil itu, maka Ki Dukut Pakering memperhatikan padepokannya dengan hati yang bergejolak. Sekali-sekali terdengar ia mengumpat. Namun kemudian katanya, “Apa saja yang mereka kerjakan di padepokan itu? Apakah mereka akan merampok sisa-sisa perabot yang masih ada. Atau mereka akan membakarnya?”
Pangikutnya tidak menyahut. Namun ia pun tidak dapat membayangkan apa yang akan dilakukan oleh beberapa orang yang sedang berada di dalamnya.
Namun demikian, kedua orang itu sama sekali tidak ingin mendekat dan melihat ke dalamnya. Mereka tidak mau mengalami nasib yang buruk, karena menurut perhitungan Ki Dukut Pakering, orang yang datang itu tentu bukan orang kebanyakan. Jika ia terlibat dalam satu perselisihan, maka Ki Dukut tidak yakin, bahwa ia akan dapat membebaskan dirinya. Sementara ia harus mempertanggung jawabkan segala peristiwa yang pernah terjadi di istana Pangeran Kuda Padmadata.
Ternyata Pangeran Kuda Padmadata tidak terlalu lama berada di padepokan itu. Setelah ia yakin, bahwa padepokan itu telah ditinggalkan oleh seluruh penghuninya, maka Pangeran Kuda Padmadata pun segera bersiap-siap untuk kembali ke istananya.
“Kita harus berusaha mengerti, atau setidak-tidak nya mengetahui arah kepergian Ki Dukut” berkata Pangeran Kuda Padmadata, “apakah ia benar-benar ingin meninggalkan daerah ini, atau ia hanya sekedar bersembunyi dengan menyimpan dendam dihatinya”
“Kemungkinan yang terakhir itulah” sahut Mahisa Bungalan.
Pangeran Kuda Padmadata mengangguk-angguk. Katanya, “Agaknya memang demikian”
“Tetapi untuk menemukannya adalah pekerjaan yang sangat sulit. Bahkan menemukan lacaknyapun agaknya memerlukan waktu dan kerja yang tekun” desis Mahisa Agni.
“Benar” sahut Pangeran Kuda Padmadata, “dan aku harus melakukannya. Jika aku tidak menemukan suatu keyakinan bahwa orang itu tidak akan dapat menggangguku lagi, maka aku masih akan tetap ragu-ragu untuk menjemput isteriku ke Singasari”
“Memang sebaiknya Pangeran tidak tergesa-gesa” berkata Witantra, “semuanya memang harus jelas. Jika tidak demikian, maka selesai isteri Pangeran itu sudah berada disini, keadaan yang gawat itu masih akan mencekam istana Pangeran, maka akan dapat timbul kesulitan”
Pangeran Kuda Padmadata mengangguk-angguk. Namun katanya kemudian, “Marilah kita kembali. Kita tidak menemukan sesuatu disini”
Orang-orang yang ada di padepokan kecil itupun segera meninggalkan regol halaman, kembali ke Kediri.
Sementara itu, Ki Dukut Pakering masih saja berada di atas bukit kecil yang tidak begitu jauh dari pedepokannya. Beberapa kali ia mengumpat. Namun kemudian katanya, “Marilah, Kita melihat, apa yang mereka lakukan di padepokan itu”
Ki Dukut dan pengikutnya itupun segera menuruni tebing yang rendah turun ke jalan yang menuju ke padepokan itu. Dengan ragu-ragu merekapun kemudian memasuki regol yang masih terbuka.
Terasa jantung Ki Dukut itu menjadi berdebar-debar. Ada juga keseganan meninggalkan padepokan yang sudah mapan, dengan kebun bunga dan kebun buah-buahan. Beberapa tandan pisang telah mulai menguning. Buah-buahan yang tumbuh subur.
“Pangeran itu memang anak setan. Nyawanya ternyata cukup liat, sehingga rencana yang nampaknya sudah hampir selesai dengan sempurna itu telah gagal” geram Ki Dukut, “tetapi yang harus dibunuh bukannya Pangeran itu saja, tetapi semuanya. Orang-orang gila yang telah melibatkan diri itu pun harus mati dicincang”
“Apakah Ki Dukut dapat mengetahui salah seorang dari mereka?” bertanya pengikutnya.
“Sampai saat ini belum. Tetapi aku segera akan mengetahuinya. Jangan kau kira bahwa orang-orang kita yang telah dikalahkan seluruhnya akan berkhianat. Kita akan dapat mencari hubungan dengan mereka.
“Apakah mereka masih dapat dipercaya?” desis pengikutnya, “mereka tentu mengetahui, bahwa harapan untuk mendapatkan kekayaan Pangeran Kuda Padmadata telah pudar sama sekali. Dengan demikian, mereka pun tidak dapat mengharapkan apapun juga dengan tugas-tugas yang akan kita berikan kepada mereka”
“Mungkin,” sahut Ki Dukut, “tetapi mereka pun tentu ingin hidup mereka lebih panjang. Mereka yang tidak mau menjalankan perintah, berarti nyawanya akan kita lenyapkan”
Pengikutnya menarik nafas dalam-dalam. Dengan cara yang demikian, memang mungkin sekali untuk memaksa satu dua orang di antara mereka untuk tetap mematuhi perintah Ki Dukut. Tetapi hubungan dengan orang-orang dalam, bukan berarti tidak mengandung bahaya. Pengkhianatan masih akan dapat terjadi sehingga akan dapat menyulitkan keadaan Ki Dukut yang sudah terjepit itu.
Namun dalam pada itu, Ki Dukut pun berkata, “Tetapi kecuali mempergunakan orang-orang yang masih berada di istana itu, aku akan tetap mencari hubungan beberapa orang kawanku. Mungkin aku memerlukan waktu barang dua tiga pekan. Tetapi itu akan lebih baik jika aku tempuh dengan cara yang lain”
Pengikutnya mengangguk-angguk. Iapun berpendapat bahwa jalan yang paling baik adalah mencari bantuan kepada orang-orang yang dianggap mempunyai kemungkinan untuk melakukan niatnya.
Satu-satunya jalan untuk menguasai harta benda Pangeran Kuda Padmadata adalah dengan merampoknya Orang-orang yang masih berada di istana itu akan dapat di bujuk, mungkin dengan di takut-takuti, tetapi mungkin juga dengan janji bahwa mereka akan mendapat sebagian dari hasil rampokan itu, jika mereka dapat membantu terlaksananya” berkata Ki Dukut.
Pengikutnya mengangguk-angguk, sementara Ki Dukut Pakering pun dengan wajah buram berdesis, “ Aku tidak pernah berpikir sebelumnya bahwa akhirnya, aku hanya akan menjadi seorang perampok. Tetapi akupun akan tetap menjaga harga diriku. Aku tidak merampok petani-petani miskin atau saudagar ternak di padukuhan. Tetapi aku merampok seorang Pangeran gila yang bernama Kuda Padmadata, yang karena dendam tiada taranya. Bahkan kemudian membunuhnya sekali”
Nampak diwajah Ki Dukut, betapa kemarahan dan dendam menyala dihatinya. Sambil menggeretakkan giginya ia berkata, “Kita kembali. Pondok kecil itu ternyata jauh lebih baik dari padepokan ini. Kita harus mulai dengan modal yang ada dan dapat kita pergunakan”
“Maksudmu iblis itu sendiri” bertanya Ki Dukut.
“Ya Ki Dukut. Kita dapat mulai dari iblis itu sendiri. Kemudian adik seperguruannya. Ayah perempuan itu. Baru kemudian sampai pada sasarannya”
Pengikutnya sama sekali tidak menjawab. Namun iapun kemudian mengikutinya ketika Ki Dukut dengan tergesa-gesa meninggalkan padepokan yang pernah dihuninya beserta beberapa orang pengikutnya.
Dengan darah yang bergejolak di jantungnya, Ki Dukut berjalan menyelusuri jalan yang pernah setiap hari dilaluinya, keluar masuk padepokannya.
Dalam pada itu. Di perjalanan kembali kepondok kecilnya, Ki Dukut telah menganyam gagasan. Apakah yang sebaiknya dilakukan lebih dahulu. Apakah ia akan menghubungi orang-orang yang akan dimintanya untuk membantu membunuh Pangeran yang pernah jadi muridnya itu, ataukah ia harus mengambil langkah-langkah lain.
“Ki Dukut,” bertanya pengikutnya itu, “bukankah ada sumber kebencian Di Dukut kepada Pangeran Kuda Padmadata? Tentu bukan tiba-tiba saja Ki Dukut membencinya, kemudian bersama Pangeran Kuda Rukmasanti merencanakan segalanya yang telah terjadi itu”
“Ya” berkata Ki Dukut, “iblis itulah yang menumbuhkan kebencianku kepada Kuda Padmadata yang kemudian mengambil seorang isteri dari padukuhan. Seandainya perempuan yang diambil itu bukannya anak perempuan tikus kecil itu, aku kira aku tidak akan membencinya. Karena Kuda Padmadata termasuk seorang murid yang patuh. Tetapi ternyata bahwa ia sama sekali tidak menghiraukan peringatanku ketika ia mengambil gadis padesan itu. Apalagi ketika aku mengetahui bahwa perempuan itu adalah anak dan adik seperguruan iblis buruk itu”
Pengikutnya mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Tetapi apakah dengan demikian, Ki Dukut tidak mulai saja dari sumber kebencian itu”
“Maksudmu iblis itu sendiri?” bertanya Ki Dukut.
“Ya Ki Dukut. Kita dapat mulai dari iblis itu sendiri. Kemudian adik seperguruannya. Ayah perempuan itu. Baru kemudian sampai kepada sasarannya. Perempuan dan anak laki-lakinya, terakhir barulah Pangeran Kuda Padmadata”
“Tidak yang terakhir,” potong Ki Dukut, “aku ingin memperlihatkan kematian Pangeran gila itu kepada isteri dan anak laki-lakinya”
“Jika demikian, apakah Ki Dukut tidak mulai saja dari orang yang telah menjadi sumber kebencian Ki Dukut. Mungkin tidak terlalu sulit untuk melakukannya. Jika Ki Dukut mendapat satu dua orang kawan, maka orang itu, betapapun saktinya, tentu akan dapat dikalahkan. Memang agak berbeda dengan Pangeran itu sekarang. Mungkin ia sedang dikerumuni oleh orang-orang yang memiliki kelebihan” desis pengikutnya.
“Ya. Kuda Padmadata sedang cukerumuni oleh orang-orang yang memiliki ilmu yang tinggi, tetapi bodoh dan dungu. Apa yang mereka dapatkan dengan mempertaruhkan nyawa, mereka melindungi Pangeran dan istrinya itu” geram Ki Dukut.
“Tetapi apakah mungkin mereka keluarga atau hubungan perguruan dengan orang tua dari perempuan yang diambilnya itu?” bertanya pengikutnya.
“Aku tidak tahu” jawab Ki Dukut, “tetapi agaknya mereka orang lain, mungkin mereka adalah petugas-petugas dari Singasari, atau orang-orang lain sama sekali.
Namun dalam pada itu, pendapat pengikutnya itu memang menarik perhatian. Jika ia tidak segera dapat menghukum Pangeran Kuda Padmadata, maka ia akan mulai dari ujung yang lain. Ia akan dapat menelusuri kebenciannya kepada musuh bebuyutannya. Kemudian ke-kepada orang tua perempuan padukuhan itu. Baru kemudian ia akan sampai kepada perempuan dan anak laki-lakinya atau Pangeran Kuda Padmadata sendiri, yang ke-matiannya ingin ditunjukkannya kepada isterinya yang diambilnya dari padukuhan itu.
Bahkan tiba-tiba saja Ki Dukut berkata, “Aku akan memikirkannya”
“ Apa Ki Dukut?” bertanya pengikutnya.
“ Aku tidak harus mulai dengan Pangeran Kuda Padmadata” berkata Ki Dukut, “ aku akan membunuh iblis itu lebih dahulu. Mungkin aku akan sulit melakukannya karena mungkin aku dan iblis itu mempunyai kemampuan seimbang. Namun aku akan datang kepadanya dengan beberapa orang tertentu, aku harus yakin bahwa ia akan mati. Kemudian aku akan merambat kepada orang-orang yang lebih dekat lagi dengan Pengeran Kuda Padmadata itu”
“Tetapi apakah Ki Dukut tahu, dimanakah orang-orang itu tinggal atau mungkin padepokannya?” bertanya pengikutnya.
“Aku sudah mengetahuinya. Tetapi perempuan dan orang tuanya itulah yang tidak aku ketahui dimana mereka sekarang berada” geram Ki Dukut, “namun demikian, aku akan mulai dari orang yang dapat aku ketemukan dengan mudah”
Pengikutnya tidak menyahut lagi. Tetapi iapun mengikutinya saja dengan langkah yang semakin cepat.
Ternyata Ki Dukut Pakering benar-benar telah memikirkan, bahwa ia akan mengambil langkah yang lain Ia sudah merasa tidak lagi akan dapat menguasai harta benda Pangeran Kuda Padmadata seperti yang diperhitung kan. Karena itu, yang kemudian menyala di dadanya bukan lagi ketamakannya kepada harta benda, tetapi dendamnyalah yang seakan-akan telah membakar jantung.
Ketika keduanya sampai kepondok kecil tempat tinggal mereka untuk sementara, maka Ki Dukut masih mengulangi pembicaraan itu. Bahkan kemudian seakan-akan ia telah mengambil keputusan, untuk mengamati padepokan kecil tempat tinggal musuh bebuyutannya itu.
“Alangkah buruk nasibnya” berkata Ki Dukut, “tiba-tiba saja aku datang untuk melepaskan dendam dan kebencianku kepadanya. Mungkin ia tidak menduga sama sekali. Bermimpi pun tidak. Atau bahkan ia sudah dibayangi oleh mimpi buruk”
Pengikutnya mengerutkan keningnya ketika ia melihat Ki Dukut itu tertawa tertahan-tahan. Sambil mengangguk-angguk ia berkata pula, “Kenapa baru sekarang aku menyadarinya, bahwa dengan demikian aku akan mendapat kepuasan ganda. Meskipun bukan karena aku dapat membunuh Pangeran Kuda Padmadata dan mendapat harta bendanya, tetapi aku telah membunuh orang yang paling aku benci sebelum aku membunuh muridku yang gila itu”
Dengan demikian, maka Ki Dukut itu pun telah memalingkan untuk sementara perhatiannya kepada musuh bebuyutannya. Ia tidak lagi dengan tergesa-gesa ingin membunuh Pangeran Kuda Padmadata, karena menurut perhitungannya, orang-orang yang telah melibatkan diri itu tentu masih tetap berada di istana itu untuk sementara.
“Biarlah mereka terlena dengan Pangeran yang gila itu” berkata Ki Dukut, “aku akan mengambil jalan lain”
Namun demikian, pada saat Ki Dukut memutuskan untuk menghubungi beberapa orang yang dikenalnya dengan baik untuk melaksanakan maksudnya, maka pada saat itu, Mahendra dan Ki Wastu telah berada di Singasari
Bersama Mahendra, maka Ki Wastu pun telah masuk ke dalam lingkungan istana untuk menengok anak perempuan Ki Wastu dan cucunya ternyata mereka mendapat tempat yang cukup baik dan perlindungan seperlunya, apalagi pesan itu diberikan oleh Mahisa Agni.
“Untuk sementara kau akan tetap tinggal disini” berkata Ki Wastu kepada anak perempuannya.
“Kenapa ayah?” bertanya anak perempuannya itu, “aku berterima kasih kepada para prajurit di Singasari yang telah melindungi aku dan memperlakukan aku dengan sebaik-baiknya. Tetapi aku di sini tidak lebih dari seekor burung yang hidup didalam sangkar. Aku mendapat makan secukupnya. Aku mendapat pakaian dan bahkan aku mendapat apa saja yang aku perlakukan. Tetapi bukan kali demikian yang seharusnya dilakukan oleh seorang perempuan. Aku sudah merindukan panasnya api di dapur. Aku sudah mulai dibayangi oleh keinginan untuk mengambil air sumur mengisi pakiwan dengan kelenting. Aku adalah seorang perempuan yang seharusnya bekerja seperti kebanyakan srempuan. Tetapi disini aku tidak sempat melakukannya, justru karena kebaikan hati dan mungkin juga belas kasihan”
Mahendra menarik nafas, dalam-dalam. Katanya, “jangan memikirkan sesuatu yang dapat memberati perasaan. Kami sudah bertemu dengan Pangeran Kuda Padmadata. Segalanya akan segera selesai. Namun sementara ini, Pangeran itu masih dibayangi oleh dendam dan kebencian, justru dari gurunya sendiri. Karena itu. maka untuk sementara kau masih perlu mendapat perlindungan khusus. Perlindungan yang sebaik-baiknya tidak akan dapat kau peroleh di rumahku misalnya, karena orang-orang yang mendendam Pangeran Kuda Padmadata itu akan dapat bertindak dengan cara yang paling kasar sekalipun”
Perempuan itu dapat mengerti. Tetapi kadang-kadang ia merasa sulit untuk mengendalikan perasaannya. Bahkan tanpa disadarinya, matanya menjadi basah Terdengar ia berdesah, “ Ayah, sampai kapan aku harus mengalami himpitan perasaan seperti ini?”
“Anakku” jawab Ki Wastu, “sebenarnyalah langit sudah menjadi merah oleh fajar. Sebentar lagi, pagi akan datang. Tetapi kau tidak akan dapat mempercepat putaran waktu. Karena itu, kau harus tetap bersabar”
Perempuan itu menunduk dalam-dalam. Titik air matanya telah membasahi pangkuannya. Namun ia mencoba untuk tetap menahan hati dan mengerti, pesan ayahnya. Karena iapun menyadari, betapa ayahnya, dan orang-orang yang semula tidak dikenalnya sama sekali, telah mempertaruhkan nyawanya, untuk melindunginya.
Dalam pada itu, untuk sementara, Ki Wastu tetap berada di rumah Mahendra. Ia menunggu mungkin sesuatu akan terjadi di Kediri atau di Singasari.
Namun sementara itu, Ki Wastu pun telah memikirkan saudara seperguruannya. Sumber kebencian guru Pangeran Kuda Padmadata kepada muridnya itu adalah karena saudara tua seperguruannya itu, sehingga kebencian itu lelah mengalir pula kepada Pangeran yang malang itu.
Yang hampir saja menjadi korban. Namun ternyata bahwa yang berbicara, bukan saja dendam dan kebencian, tetapi juga nafsu dan ketamakan atas harta benda Pangeran yang kaya raya itu.
“Ki Mahendra” berkata Ki Wastu pada suatu saat, “aku merasa kurang lengkap, jika persoalan ini tidak aku sampaikan kepada kakak seperguruanku, yang kemudian aku anggap sebagai pengganti guruku. Ia adalah sumber dari kebencian Ki Dukut Pakering, guru Pangeran Kuda Padmadata itu. Jika ia mengetahui persoalan ini, mungkin ia akan dapat ikut memecahkannya. Dengan demikian kecemasan kecurigaan dan keragu-raguan ini akan dapat segera diatasi”
Mahendra mengangguk-angguk. Iapun sependapat dengan Ki Wastu. Namun demikian, ia masih bertanya, “Tetapi Ki Wastu, apakah dalam waktu dekat, saudara seperguruan Ki Wastu itu perlu diberi tahu? Atau justru apabila segala sudah selesai, sehingga tidak perlu melibatkannya ke dalam kegelisahan pula”
“Mungkin juga demikian. Tetapi jika ia sudah mengetahuinya, maka ia akan dapat ikut mengambil sikap,” bertanya Ki Wastu, “bahkan mungkin ia akan dapat memberikan jalan penyelesaian”
Mahendra masih mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Jika demikian, apakah yang sebaiknya kita lakukan?”
“Ki Mahendra” berkata Ki Wastu kemudian, “aku kira tidak ada jalan lain kecuali, aku harus menemuinya di padepokannya. Menyampaikan segala persoalan yang berkembang atas anak perempuanku, sehingga berakhir dengan kematian Pangeran Kuda Rukmasanti”
“Perjalanan itu tetap cukup jauh Ki Wastu. Apakah Ki Wastu akan menempuh perjalanan itu sendiri”
“Aku kira aku tidak berkeberatan untuk menempuh perjalanan itu sendiri. Meskipun mungkin aku kembali bersama dengan saudara seperguruanku itu” sahut Ki Wastu kemudian.
“Mungkin ada kawan lain yang dapat pergi bersama! Ki Wastu” berkata Mahendra, “jika Ki Wastu mau singgah di Kediri, meskipun barangkali akan bertambah sedikit jauh, namun Mahisa Bungalan akan dapat menemanimu”
Ki Wastu mengerutkan keningnya. Ia telah mengenal anak muda yang bernama Mahisa Bungalan. Ia telah mengetahui tingkat kemampuan anak muda itu. Bahkan ternyata Mahisa Bungalan telah berhasil mengalahkan Pangeran Kuda Rukmasanti.
“Tetapi apakah ia masih bersedia mengorbankan waktunya untuk kepentingan orang yang tidak mempunyai sangkut paut sama sekali dengan anak muda itu?” bertanya Ki Wastu, lalu, “kami bukan sanak bukan kadang. Kamipun tidak mempunyai hubungan perguruan. Adalah karena sikap yang luhur sajalah, maka angger Mahisa Bungalan, dan bahkan kemudian seluruh keluarganya, termasuk ayah dan paman-pamannya, telah terlibat pula ke dalam persoalan ini”
Mahendra tersenyum. Katanya, “Ki Wastu. Memang seharusnya Mahisa Bungalan sudah dipanggil oleh Sang Maha Prabu di Singasari untuk memasuki lingkungan keprajuritan. Tetapi agaknya Mahisa Bungalan ingin melengkapi pengalamannya lebih dahulu. Jika ia sudah berada di dalam lingkungan keprajuritan, maka ia adalah seorang prajurit yang tidak dapat pergi kemana saja sesuai dengan keinginannya. Karena itu, untuk sementara ia masih mohon waktu, agar ia diperkenankan melengkapi bekalnya sebelum ia memasuki tugas-tugas yang berat dari seorang prajurit di Singasari yang besar ini”
Ki Wastu menarik nafas dalam-dalam. Namun katanya kemudian, “Tetapi untuk mencari pengalaman, seharusnya angger Mahisa Bungalan tidak terlalu dekat berjalan menyentuh bahaya. Mungkin ia ingin melihat kota-kota lain dan tata kehidupan yang lebih lengkap. Tetapi tidak bermain-main dengan nyawanya”
“Sentuhan-sentuhan pada bahaya yang gawat itulah yang diinginkannya, meskipun aku harus berdoa siang dan malam, agar’ia selalu mendapat perlindungan dari Yang Maha Kuasa”
Ki Wastu mengangguk-angguk. Katanya, “Aku menyadari bahwa aku sedang berbicara dengan ayah seorang anak muda yang bernama Mahisa Bungalan. Akupun sadar, bahwa pembicaraan ini sekaligus merangkum pengertian, bahwa Ki Mahendra tidak berkeberatan sama sekali jika aku menawarkan kepada angger Mahisa Bungalan, apakah ia bersedia untuk ikut bersamaku, pergi ke padepokan saudara seperguruanku itu”
“Ki Wastu benar. Justru aku masih ingin memberikan kesempatan kepada anakku. Mudah-mudahan dengan tugas tugas ini menjadi puas dan segera bersedia memasuki lingkungan keprajuritan yang sudah lama tersedia baginya” berkata Mahendra.
Dengan demikian, maka keduanya pun telah sepakat, bahwa Ki Wastu akan memberitahukan segala yang telah terjadi kepada saudara seperguruannya, yang menjadi pusat dendam Ki Dukut Pakering, sehingga akibatnya telah menyentuh Pangeran Kuda Padmadata, muridnya sendiri. Sehingga hampir saja hidupnya telah dikorbankan. Sementara itu Ki Wastu pun akan singgah pula di Kediri untuk menyampaikan maksudnya kepada Mahisa Bungalan, apabila ia tidak berkeberatan untuk ikut serta dalam perjalanan yang agak panjang.....
Bersambung.....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar