Rabu, 03 Februari 2021

PANASNYA BUNGA MEKAR JILID 11-02

PANASNYA BUNGA MEKAR : 11-02
Pangeran Kuda Rukmasanti menyeringai menahan, sakit.

“Adimas, kau mendengar suaraku?” sekali lagi Pangeran Kuda Padmadata berdesis ditelinga adiknya.

Namun yang terdengar dari bibir Pangeran Kuda Rukmasanti mengejutkan sekail Dengan suara gemetar dan terputus-putus Pengeran yang masih muda itu menggeram, “Aku bunuh kau, istri dan anakmu yang tidak pantas mewarisi segala yang kau miliki karena derajatnya”

Pangeran Kuda Padmadata menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Baiklah. Segalanya akan terjadi. Tetapi sadarilah keadaanmu Tenangkan hatimu. Kau memerlukan seorang tabib yang baik untuk mengobati luka-lukamu”

“Aku tidak terluka” tiba-tiba saja Pangeran itu menghentakkan dirinya. Namun ternyata tenaganya sama sekali tidak mampu lagi mendukungnya. Karena itu, maka iapun terkulai lagi dengan lemahnya. Bahkan dari sudut bibirnya mulai mengalir darah yang kehitam-hitaman.

“Animas, animas” pangal Pangeran Kuda Padmadata.

Tidak ada jawaban. Nafas Pangeran yang masih muda itu pun menjadi semakin sendat.

Akhirnya, yang sangat dicemaskan itu telah terjadi. Pangeran yang masih sangat muda untuk berpeluk dengan maut itu telah menghembuskan nafasnya yang terakhir.

Yang lebih menggelisahkan hati Pangeran Kuda Padmadata ialah bahwa adiknya di saat-saat terakhir, masih belum dapat mengerti, apa yang telah terjadi pada dirinya. Ia masih belum melihat kesalahan yang telah menggerakkannya untuk melakukan suatu pengkhianatan terhadap kakak kandungnya sendiri.

Sambil menarik nafas dalam-dalam Pangeran Kuda Padmadata berdesis, “Ia telah kehilangan segala kesempatan. Kesempatan terakhir pun tidak dipergunakannya untuk menghubungkan dirinya dengan Yang Maha Agung”

Mahendra telah berlutut pula di sisinya. Di sebelah lain Mahisa Agni dan Witantra pun telah duduk pula diatas pecahan kayu yang berserakkan, sementara Mahisa Bungalan masih berdiri dengan nafas terengah-engah.

“Kemarilah Mahisa Bungalan” panggil ayahnya.

Mahisa Bungalan memandang orang-orang yang berada di dalam bilik itu sejenak. Namun iapun kemudian beringsut maju dan duduk di belakang Mahisa Agni.

“Maafkan anak itu Pangeran” berkata Mahendra, “iapun masih terlalu muda untuk mengekang diri”

“Tidak. Ia tidak bersalah. Ia sudah melakukan sesuatu yang menurut keyakinannya, akan dapat bermanfaat bagi sesamanya. Ia telah berjuang untuk tegaknya keadilan di dalam lingkungan keluarga kecilku. Bahkan ia telah berjuang untuk memulihkan keluargaku yang terpecah dan terancam akan punah” berkata Pangeran Kuda Padmadata.

Mahendra mengangguk-angguk, sementara Mahisa Bungalan menundukkan kepalanya dalam-dalam. Terbayang segalanya yang telah dilakukannya sejak ia bertemu dengan seorang laki-laki yang dengan segenap kemampuan yang ada padanya, berusaha menyelamatkan seorang cucu laki-lakinya, yang ternyata adalah putera Pangeran Kuda Padmadata.

“Ki Sanak” berkata Pangeran Kuda Padmadata kemudian, “cobalah, panggillah puteri yang berada di bilik depan. Biarlah ia melihat akibat dari akhir permainan yang telah dilakukan oleh Rukmasanti bersamanya”

Witantra menjadi ragu. Namun ia pun berdiri pula ketika Mahisa Agni menggamitnya dan mengisyaratkannya agar mereka berdua melakukan permintaan itu.

Mahisa Agni dan Witantra pun kemudian pergi ke bilik depan. Bilik yang tertutup rapat dan diselarak dari dalam.

Perlahan-lahan Mahisa Agni mengetuk pintu itu sambil berkata, “Puteri. Hamba mendapat perintah untuk me manggil puteri”

“Siapa kau?” terdengar suara dari dalam.

“Hamba adalah pekatik yang telah bersalah mengambil barang-barang milik puteri di ruang penyimpanan” berkata Mahisa Agni.

“Apa yang terjadi?” bertanya puteri itu.

“Sebaiknya puteri datang sendiri. Pangeran memanggil tuan puteri”

“Pangeran siapa?” bertanya puteri itu.

“Sejenak Mahisa Agni ragu-ragu. Namun kemudian katanya, “Pangeran Kuda Rukmasanti”

Sejenak bilik itu menjadi sepi. Namun telinga Mahisa Agni dan Witantra yang tajam mendengar embannya berbisik, “Berhati-hatilah puteri. Mungkin orang-orang itu ingin menjebak tuan puteri dengan maksud buruk”

Mahisa Agni termangu-mangu. Agaknya puteri itu pun mendengar hiruk pikuk yang terjadi. Bahkan puteri itu pun tentu mengetahui, bahwa telah terjadi pertempuran yang sengit.

Sejenak Mahisa Agni menunggu. Namun kemudian ia mendengar puteri itu berkata, “Lihatlah, siapakah orang-orang itu”

Emban itu tidak membuka pintu. Tetapi ia telah mencoba melihat orang-orang yang mengetuk pintunya dari lubang daun pintu yang sempit. Namun dari lubang yang sempit itu ia melihat Mahisa Agni dan seorang yang tidak dikenalnya. Tetapi agaknya kedua orang itu tidak berbahaya bagi mereka. Apalagi keduanya agaknya tidak bersenjata”

“Yang seorang memang hamba istana ini” bisiknya kepada puteri yang gelisah.

“Bukalah pintu” perintah puteri itu.

Emban itu telah menarik selarak dan membuka pintu. Selarak yang sebenarnya tidak berarti bagi Mahisa Agni apabila ia ingin memaksa membuka pintu itu.

“Puteri” Mahisa Agni dan Witantra mengangguk dalam-dalam. Demikian hormatnya, sehingga puteri itu pun kemudian tidak mencurigainya lagi.

“Hamba mendapat perintah untuk memanggil tuan puteri” berkata Witantra kemudian.

“Siapakah yang memerintahkanmu? Benar Pangeran Kuda Rukmasanti?” bertanya puteri itu.

“Hamba tuan puteri” jawab Mahisa Agni.

“Apakah yang sudah terjadi?” bertanya puteri itu pula.

“Sedikit perselisihan. Tetapi semuanya sudah selesai”

“Kenapa bukan para pengawal yang datang menjemputku?” bertanya puteri itu.

Sejenak Mahisa Agni termangu-mangu. Namun ia pun kemudian menjawab, “Para pengawal sedang mengawasi beberapa orang yang terlibat dalam perselisihan itu tuan puteri”

“Perselisihan apa sebenarnya?” bertanya puteri itu.

“Hamba tidak jelas tuan puteri. Tetapi persoalannya memang menyangkut persoalan perhiasan itu”

Puteri itu masih ragu-ragu. Namun kemudian katanya kepada embannya, “Ikut aku”

Puteri itu pun kemudian diantar oleh embannya menuju ke ruang yang khusus di bagian belakang istana itu, Ketika ia sampai di serambi, maka iapun terkejut. Ia melihat beberapa orang di antara para pengawal, justru duduk diam, sementara seorang tua berdiri mengawasi mereka.

“O” Puteri itu hampir menjerit ketika ia melihat dua sosok mayat di halaman.

“Silahkan puteri” berkata Mahisa Agni, “jangan hiraukan yang terjadi, Pangeran Kuda Rukmasanti telah menunggu”

Puteri itu menjadi semakin ragu-ragu. Apalagi ketika ia melihat sebuah bilik yang pecah dindingnya dan perabotnya berserakan.

“Masuklah” Mahisa Agni mempersilahkan.

Dengan hati yang berdebar-debar puteri itu berdiri di muka pintu Jantungnya bagaikan berhenti berdetak ketika ia melihat seseorang yang memangku kepala orang lain yang terbujur diam.

“Siapa?” suaranya tertahan dikerongkongan.

Puteri itu menjadi pucat ketika ia melihat Pangeran Kuda Padmadata berpaling. Dengan suara tertahan Pangeran itu berkata, “Lihatlah. Inilah Pangeran Kuda Rukmasanti”

Puteri itu maju selangkah. Namun puteri itu tiba-tiba telah memekik tinggi sambil berlari-lari mendekati sesosok mayat yang terbujur di pangkuan Pangeran Kuda Padmadata.

“Pangeran, Pangeran” teriak puteri itu.

“Tetapi Pangeran Kuda Rukmasanti sama sekali tidak menyahut.

“Kenapa Pengeran?” bertanya puteri itu sambil memandang wajah Pangeran Kuda Padmadata.

“Ia telah membentur ompak batu itu” jawab Pangeran Kuda Padmadata.

“Kenapa hal itu dapat terjadi?”

Pangeran Kuda Padmadata termangu-mangu sejenak. Lalu katanya, “Aku menyesal bahwa adikku telah terbunuh Tetapi aku tidak dapat menyalahkan orang lain. Ia telah memetik buah dari tanamannya sendiri” Pangeran Kuda Padmadata berhenti sejenak, lalu, “semuanya sudah berakhir”

“Maksud Pangeran?” bertanya puteri itu.

“Selama ini aku selalu dibayangi oleh niat dan maksud yang kurang baik dari adikku, aku sama sekali tidak ingin mengakhiri dengan cara ini. Tetapi demikianlah yang terjadi”

Puteri itu terdiam sejenak. Namun tiba-tiba saja ia menarik nafas dalam-dalam sambil berkata, “Semuanya berakhir. Akupun kini akan bebas dari ketakutan dan kepura-puraan”

Semua orang terkejut mendengar kata-kata puteri itu. Semua mata pun tertuju ke arahnya. Dengan ragu-ragu Pangeran Kuda Padmadata bertanya, “Apakah maksudmu?”

Puteri itu termenung sesaat. Namun kemudian ia menundukkan kepalanya Perlahan-lahan terdengar suaranya sendat, “Ampun Pangeran. Selama ini aku merasa diriku dipanggang oleh api yang paling panas” ia berhenti sejenak. Bahkan kemudian terdengar ia terisak, “aku telah dikuasai oleh Pangeran Kuda Rukmasanti yang tamak aku sama sekali tidak dapat melawan kehendaknya, karena aku tidak sampai hati menyakiti hati Pangeran Kuda Padmadata. Aku tahu, bahwa isteri Pangeran yang pertama, dan putera Pangeran laki-laki berada di bawah kekuasaan Pangeran Kuda Rukmasanti, sehingga apabila aku melawan kehendaknya, maka isteri Pangeran yang pertama dan putera Pangeran itu akan mengalami kesulitan. Karena itu, aku terpaksa berbuat sesuai yang dihendaki oleh Pangeran Kuda Rukmasanti, demi kesetiaanku kepada Pangeran Kuda Padmadata, meskipun aku adalah seorang isteri yang kedua. Namun adalah menjadi kewajibanku untuk menunjukkan bakti dan kesetiaan, yang barangkali terpaksa aku lakukan dengan cara yang tidak terpuji”

Ruangan itu menjadi hening sesaat. Perlahan-lahan Pangeran Kuda Padmadata meletakkan tubuh adiknya yang membeku. Kemudian ditatapnya wajah puteri itu dengan sorot mata yang aneh.

“Apakah benar yang kau katakan?” tiba-tiba Pangeran Kuda Padmadata bertanya.

“Ampun Pangeran, hamba berkata sebenarnya” jawab puteri itu, “jika Pangeran tidak percaya, belahlah dada ini”

Pangeran Kuda Padmadata menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “Aku benar akan membelah dadamu Dan aku akan melihat, bahwa pada jantungmu tumbuh bulu-bulu sebagai pertanda kelamnya sifat dan watakmu”

“Pangeran?”

“Puteri yang manis” desis Pangeran Kuda Padmadata, “siapakah sebenarnya yang telah mendorong adikku berbuat seperti ini? Siapakah sebenarnya yang telah membakar istana ini dengan ketamakan dan kedengkian?”

“O” puteri itu terkejut, “apakah maksud Pangeran dengan tuduhan-tuduhan semacam itu?”

Puteri itu mulai menjadi ketakutan. Namun ia masih mencoba mengelak, “Pangeran, Hamba adalah isteri Pangeran, meskipun hanya isteri kedua. Tetapi hambapun mempunyai kewajiban sebagaimana seorang isteri yang setia. Hamba sudah mengatakan bahwa mungkin cara yang hamba tempuh tidak sesuai dengan keinginan Pangeran. Tetapi dengan demikian, hamba sudah berusaha memperpanjang umur isteri Pangeran yang pertama dan putera laki-laki Pangeran itu”

“O, puteri yang maha bijaksana” berkata Pangeran Kuda Padmadata dengan suara gemetar oleh gejolak perasaannya., “Jika puteri tidak mengatakan demikian, tidak memutar balik kenyataan dan membebankan semua dosa kepada adikku, mungkin aku masih mempunyai perasaan belas kasihan kepadamu. Tetapi ternyata kau adalah iblis yang paling licik. Kau adalah iblis yang berkedok seorang wanita yang paling cantik di Kediri. Kau telah membius adikku dengan kecantikanmu. Kau telah bersepakat dengan Kuda Rukmasanti untuk membelengguku dalam sarang raksasa ini. Tetapi yang Maha Agung telah membebaskan aku dengan lantaran beberapa orang yang ternyata adalah para petugas sandi dari Singasari”

“Paman Mahisa Agni pernah mewakili kuasa Singasari di Kediri” tiba-tiba saja Mahisa Bungalan memotong, “Demikian pula paman Witantra. Keduanya adalah Senopati Agung, seperti yang sudah aku katakan”

Wajah puteri itu menjadi pucat. Sementara Pangeran Kuda Padmadata berkata, “Aku mengucapkan terima kasih kepada tuan-tuan sekalian, mungkin sikapku terlampau kasar. Tetapi keadaanku saat ini agak berbeda dengan keadaan seorang Pangeran sewajarnya”

“Kami mengerti Pangeran” jawab Mahisa Agni.

“Aku ingin menyerahkan puteri ini kepada kekuasaan tertinggi di Kediri. Mungkin perlu juga diketahui oleh Singasari apa yang telah terjadi disini. Tetapi peristiwa ini adalah peristiwa yang kecil sekali dalam hubungan Singasari dan Kediri, tetapi peristiwa yang maha besar bagi keluargaku” Pangeran Kuda Padmadata berhenti sejenak memandang puteri yang kemudian menangis sambil meratap, “Ampun Pangeran. Hamba mohon ampun”

“Kesalahanmu berlipat ganda. Kau telah menjerumuskan adikku ke dalam kesulitan ini. Dan pada saat terakhir kau telah mengkhianatinya pula” geram Pangeran Kuda Padmadata.

“Bukan maksud hamba sendiri” jawab puteri itu, “tetapi juga dalam persetujuan dengan Pangeran Kuda Rukmasanti”

“Sebenarnya sulit dipercaya, bahwa adikku pada suatu saat akan memusuhi aku tanpa pengaruh orang lain. Ia adalah seorang anak yang baik. Ia sangat penurut, dan bahkan ia kadang-kadang menunjukkan kesediaannya berkorban untuk kepentinganku. Namun pada suatu saat, ia menjadi liar dan buas, justru setelah ia berhubungan dengan kau”

“Hamba mohon ampun. Tetapi jangan serahkan hamba kepada kekuasaan di Kediri, meskipun tuanku akan menghukum hamba dengan cara apa saja” berkata puteri itu, “hamba iklas menerima hukuman Pangeran, karena hamba telah berdosa kepada Pangeran”

“Aku tidak berhak. Biarlah kau berada di tangan mereka yang wajib mengadilimu. Yang wajib menghukum atau mengampunimu” jawab Pangeran Kuda Padmadata.

Puteri itu menangis tertahan-tahan. Seolah-olah ia melihat apa yang pernah dilakukannya. Ia telah menjerumuskan Pangeran Kuda Rukmasanti ke dalam keadaan yang paling pahit. Pangeran yang masih muda itu telah mengakhiri hidupnya dalam keadaan yang mengerikan. Yang terakhir melukainya, bukanlah ujung tombak atau keris. Tetapi ompak batu yang menjadi alas tiang didalam ruang sudah berserakan itu.

Tiba-tiba saja penyesalan yang dalam telah mengorek jantungnya. Dengan suara tertahan-tahan ia berkata, “Pangeran Kuda Padmadata. Hamba memang sudah sepantasnya dihukum. Tetapi aku mohon, hendaklah tuan yang menjatuhkan hukuman atas hamba. Hamba adalah perempuan yang paling hina di seluruh Kediri”

“Sudah aku katakan” jawab Pangeran Kuda Padmadata, “bukan aku yang berhak”

“Meskipun tuan tidak berhak. Tetapi seandainya Pangeran menghendaki, maka tuan dapat menghukum hamba sekarang. Tuan dapat membunuh hamba dihadapan para saksi, bahwa sebenarnyalah hamba telah bersalah” tangis puteri itu.

“Tidak. Tidak” desis Pangeran Kuda Padmadata.

“Jika hamba Pangeran serahkan kepada kekuasaan Kediri, maka hamba hanya akan menjajakan aib yang. tergores di kening. Setiap orang akan memandang hamba seperti memandang seekor binatang melata yang paling rendah derajadnya. Jika hamba kemudian dibawa ke tiang gantungan di ara-ara atau hukuman lain yang harus hamba lakukan, maka kematian hamba akan diiringi oleh perasaan malu yang tentu tidak akan tertanggungkan” puteri itu menangis semakin menjadi jadi, “tetapi jika tuan membunuh aku sekarang, maka perasaan itu akan jauh berkurang menghimpit jantung hamba. Kematian tidak lagi menakutkan bagi hamba, tetapi yang paling mengerikan bagi hamba sekarang, adalah justru perasaan malu dan tidak berharga”

Pangeran Kuda Padmadata menarik nafas dalam-dalam Katanya kemudian, “Aku tidak dapat bebuat apa-apa terhadapmu. Tetapi aku bersedia menolongmu, menjauhkan kau dari perasaan malu, Seandainya kau harus aku hukum, maka hukumanmu tidak akan dilakukan di hadapan rakyat Kediri”

Puteri itu mengingat wajahnya. Namun wajah itupun kembali tertunduk. Tetapi terdengar suaranya parau, “Hamba mengucapkan terima kasih tuan. Sebenarnyalah, bahwa kebaikan hati Pangeran itu akan hamba imbangi dengan perasaan sesal yang tidak ada taranya. Tentu tuanku tidak akan percaya lagi kepada hamba, apapun yang hamba katakan. Tetapi biarlah hamba mengatakannya juga, bahwa jika hamba melakukannya, bukanlah semata-mata karena keinginan hamba sendiri, meskipun ada juga keterlibatan hamba secara batin dalam muslihat ini”

Pangeran Kuda Padmadata mengerutkan keningnya. Namun kemudian sambil mengangguk-angguk ia berkata, “Aku sudah menduga. Tetapi siapakah orangnya”

Puteri itu termangu-mangu sejenak. Namun katanya kemudian Pangeran, bukan maksud hamba ingin mengurangi kesalahan hamba. Tetapi sebenarnyalah bahwa Pangeran Kuda Rukmasanti pun mengetahui segala-galanya.

“Ya, katakan siapakah orang yang berada bersama kalian itu” desak Pangeran Kuda Padmadata.

Sejenak puteri itu ragu-ragu. Namun tiba-tiba, sebelum puteri itu menjawab, Mahisa Agni meloncat dengan cepatnya, mendorong puteri itu sehingga jatuh tertelungkup.

Namun bersamaan dengan itu, seleret anak panah telah menyambar ke dalam bilik itu. Hampir saja mengenai Mahisa Bungalan. Tetapi dengan gerak naluriah. Mahisa Bungalan agaknya telah beringsut pula.

Sementara puteri itu terjatuh, maka tiba-tiba pula Witantra telah meloncat bagaikan terbang, keluar dari bilik itu. Hampir tidak dapat di ikuti dengan tatapan mata sewajarnya. Yang dapat dilihat oleh orang-orang yang berada diserambi seolah-olah hanyalah sebuah bayangan yang terbang menghilang ke dalam gelap.

Ki Wastu pun tertegun melihat peristiwa itu. Barulah ia sadar sepenuhnya, bahwa Mahisa Bungalan benar-benar seorang anak muda dari lingkungan yang pilih tanding. Orang yang disebut ayahnya, paman-pamannya dan juga yang dianggapnya sebagai gurunya.

Mahendra dan Mahisa Agni pun kemudian menolong puteri itu duduk kembali. Namun kemudian ia pun dibawa beringut ketempat yang lebih terlindung. Sementara Mahendra pun kemudian bangkit dan melangkah ke luar untuk mengamati keadaan.

Tetapi keadaan di luar terasa sangat sepi. Meskipun di serambi beberapa orang duduk di bawah pengawasan Ki Wastu, namun seolah-olah mereka adalah patung yang mati.

Perlahan-lahan Mahendra mendekati Ki Wastu yang termangu-mangu sambil berkata, “Ada seseorang yang terlibat di dalam persoalan yang gawat ini”

“Aku adalah orang tua yang tidak berarti sama sekali. Aku berada di sini, tetapi aku tidak melihat sesuatu yang ternyata hampir saja merusak keadaan seluruhnya” berkata Ki Wastu.

Ada orang yang berusaha menghilangkan jejak dengan membunuh puteri itu” berkata Mahendra.

Ki Wastu mengangguk-angguk. Dipandanginya arah Witantra menghilang dalam gelap. Namun ia tidak melihat sesuatu.

“Kita akan menunggu” berkata Mahendra.

“Sekedar menunggu?” bertanya Ki Wastu. Mahendra pun termangu-mangu. Namun katanya kemudian, “aku akan melihat, apa yang terjadi dengan kakang Witantra. Berhati-hatilah kiai. Di dalam ada Mahisa Agni dan Mahisa Bungalan. Jika perlu, kau harus memanggilnya”

“Baiklah” jawab Ki Wastu.

Mahendra pun termangu-mangu sejenak, ia tidak tahu, kemana Witantra menyusul orang yang telah berusaha membunuh puteri yang sedang mengucapkan beberapa pengakuan itu.

Namun ia pun kemudian melangkah memasuki kegelapan, ke arah Witantra menghilang.

Tetapi Mahendra tidak menjumpai sesuatu. Dengan ketajaman inderanya ia berusaha mencari, apakah di halaman yang gelap di bagian belakang istana itu telah terjadi perkelahian. Namun agaknya, yang didapatnya adalah getar dedaunan disentuh angin malam yang lembut.

Karena itu, maka Mahendra pun tidak melanjutkan langkahnya. Ia sudah kehilangan jejak. Sehingga ia pun justru melangkah kembali ke serambi. Namun ia terkejut ketika ia mendengar desir lembut. Dengan tangkasnya ia berkisar, menghadap kearah suara itu.

Yang dilihatnya adalah sesosok bayangan yang terkejut pula melihat kehadirannya. Tetapi segera mereka saling mengenal, bahwa yang datang itu adalah Witantra.

“Bagaimana?” bertanya Mahendra.

“Aku kehilangan jejak” jawab Witantra.

“Ternyata bahwa segalanya belum berakhir. Jika orang itu dapat melepaskan diri dari tangan kakang Witantra, maka orang itu tentu bukan orang kebanyakan”

“Ya” jawab Witantra, “karena itulah, maka segalanya masih harus dipersoalkan. Pangeran Kuda Padmadata mungkin akan berhadapan dengan orang-orang yang justru lebih berbahaya dari orang-orang yang nampak dan membayanginya selama ini. Mungkin orang-orang yang tersembunyi itu merasa bahwa tidak ada lagi kesempatan yang dapat dilakukannya, selain dengan kekerasan terbuka, sementara mereka adalah orang-orang yang pilih tanding”

Mahendra mengangguk-angguk. Dengan nada rendah ia berkata, “Untunglah bahwa perempuan dan anak laki-lakinya itu telah dititipkan ke dalam istana Singasari, sehingga mereka berada dalam perlindungan para prajurit. Mungkin orang-orang yang tersembunyi itupun tidak akan tinggal diam. Mungkin mereka pun akan mempergunakan perempuan dan anak laki-lakinya itu sebagai bahan untuk mematahkan perlawanan Pangeran Kuda Padmadata atas segala maksudnya”

“Tetapi jika yang mereka maksudkan adalah warisan, maka mereka tidak akan mendapatkan saluran lagi” berkata Witantra kemudian, “tidak ada perempuan yang dapat disebut isteri Pangeran Kuda Padmadata, dan tidak ada orang yang dapat disebut saudara kandungnya lagi”

“Kecuali dengan kekerasan” desis Mahendra.

“Maksudmu, perampokan?” berkata Witantra.

Mahendra mengangguk, sementara Witantra berkata, “Jika demikian, para pengawal di istana ini yang tentu akan dibangun lagi oleh Pangeran Kuda Padmadata, akan lebih mudah menghadapinya. Betapa besar kekuatan mereka, maka isyarat yang disembunyikan, akan terdengar dari gardu-gardu perondan para pengawal kota. Mereka akan segera datang membantu sehingga perampokan itu akan dapat digagalkan”

Witantra mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Mungkin akan dicari cara lain. Namun sebaiknya Pangeran Kuda Padmadata tidak meninggalkan kewaspadaan menghadapi segala kemungkinan yang mungkin kasar, tetapi mungkin juga dengan halus”

“Tetapi puteri itu dapat diselamatkan oleh Mahisa Agni” desis Mahendra, “ia akan dapat menjadi sumber keterangan yang mudah-mudahan dapat mengungkapkan persoalan ini sampai tuntas”

Keduanya pun kemudian kembali ke serambi. Mereka masih melihat Ki Wastu berada di tempatnya, mengawasi orang-orang yang duduk dengan lesu.

“Bagaimana?” bertanya orang tua itu. Witantra menggeleng. Jawabnya, “Aku tidak menemukannya”

Ki Wastu menarik nafas dalam-dalam. Ia pun menyadari, bahwa persoalan yang mereka hadapi memang belum selesai. Tetapi, ia tidak mengatakan sesuatu. Ia menunggu perkembangan terakhir dari pembicaraan orang-orang yang berada didalam. Meskipun ia adalah mertua Pangeran, tetapi Ki Wastu merasa dirinya tidak lebih dari orang padesan yang tidak berhak untuk berbuat sesuatu selain me nunggu dan menjalankan perintah yang akan diterimanya.

Dalam pada itu, maka Witantra dan Mahendra pun telah masuk kembali ke dalam bilik yang sudah menjadi porak poranda itu. Mereka melihat puteri yang ketakutan itu duduk di sudut, dijaga oleh Mahisa Agni dengan tubuh gemetar. Sementara Pangeran Kuda Padmadata berdiri di samping tubuh adiknya yang membeku.

“Tidak ada seorang pun yang dapat aku ketemukan” berkata Witantra.

“Tentu bukan orang kebanyakan” desis Mahisa Agni, “bahwa ia berhasil mendekati pintu itu tanpa diketahui oleh seorang pun, merupakan pertanda bahwa ia termasuk orang yang pilih tanding”

Pangeran Kuda Padmadata menarik nafas dalam-dalam. Kemudian dipandanginya perempuan yang pernah disebut sebagai isterinya itu dengan tajamnya. Kemudian katanya, “Katakan, siapakah orang yang berada di belakang kalian, yang hampir saja membunuhmu itu?”

Puteri itu masih menggigil. Namun Mahisa Agni pun kemudian berkata, “Jangan takut puteri. Puteri akan aman di sini, karena di sini ada beberapa orang pengawal dan usaha itu telah digagalkan, sehingga tidak akan ada orang yang berani mencoba lagi”

Puteri itu masih ragu-ragu. Wajahnya masih pucat, dan bibirnya nampak bergetar oleh ketakutan yang sangat.

Tetapi Puteri itu tidak segera mengatakan, nama yang dikehendaki oleh Pangeran Kuda Padmadata. Bahkan puteri itu telah menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya sambil terisak.

“Puteri” berkata Mahisa Agni, “jika puteri mengatakannya, maka beban di dalam dada puteri akan menyusut. Seolah-olah beban itu sudah puteri letakkan. Bukankah puteri sudah mengatakan, bahwa hukuman apapun tidak lagi menggetarkan jantung puteri, jika hukuman itu harus puteri lakukan, kecuali apabila puteri harus menanggung malu di hadapan rakyat Kediri?”

Puteri itupun mengangguk kecil.

“Nah, katakan” desis Mahisa Agni, “dengan demikian maka kesalahan dari peristiwa ini tidak akan memberati pundak puteri, sehingga puteri akan di arak berkeliling kota sebelum dibawa ke tiang gantungan.”

“O” desahnya.

“Katakan” desak pangeran Kuda Padmadata. Karena puteri itu masih berdiam diri, maka Pangeran Padmadata lah yang kemudian menyebut sebuah nama, “Apakah paman Herbuntala, ayahmu itulah yang telah menggerakkan hatimu untuk melakukan pengkhianatan ini?”

Puteri itu menggelengkan kepalanya.

“Jika bukan ayahmu, siapa? Dan apakah ayahmu tidak tahu menahu akan segala muslihatmu itu?”

“Tidak Pangeran” jawab puteri itu sambil menangis, “ayahanda sudah terlalu tua untuk melakukannya”

“Jadi siapa?” Pangeran Kuda Padmadata sudah hampir kehilangan kesabaran. Lalu katanya, “Baiklah. Jika tidak ada orang lain, maka kau adalah pangkal dari segala yang telah terjadi. Kau akan menanggung segala kesalahan dan dosa itu seluruhnya, karena adikku sudah mati”

“Pangeran dapat menghukum mati hamba sekarang juga” tangis puteri itu.

“Bukan aku” suara Pangeran Kuda Padmadata semakin keras, “tetapi penguasa di Kediri. Mungkin kau tidak saja diarak keliling kota sebelum digantung, tetapi kau akan diikat di simpang empat pusat kota, agar setiap orang dapat melihat betapa seorang puteri yang cantik, tetapi hatinya sekelam hati iblis”

“Jangan Pangeran jangan. Ayahanda akan tersiksa melampaui yang hamba derita sendiri” minta puteri itu.

“Apaboleh buat. Jika kau tidak mau menyebut nama orang yang bertanggung jawab atas segala kejadian ini”

Sejenak puteri itu termangu-mangu. Namun akhirnya ia berkata ampun pengeran. Hamba tidak kuasa untuk mengatakannya, karena hamba takut akan mengalami kutuknya. Tetapi carilah orang yang paling dekat dengan Pangeran dan kakanda Kuda Rukmasanti dalam hubungan ilmu kanuragan”

Wajah Pangeran Kuda Padmadata menegang. Dengan suara bergetar ia berkata, “Aku tidak mempunyai saudara seperguruan yang lain, kecuali adimas Kuda Rukmasanti. Mungkin guru mempunyai murid yang lain diluar pengetahuanku. Tetapi aku tidak mengenalnya”

“Tidak Pangeran” desis puteri yang ketakutan itu, “memang tidak ada muridnya yang lain kecuali Pangeran berdua kakak beradik seperti yang dikatakan oleh kakanda Pangeran Kuda Rukmasanti”

“Jadi, jadi siapakah yang kau maksud? Siapa?” Pangeran Kuda Padmadata yang tidak sabar lagi itu telah mengguncang tubuh puteri itu.

Hampir saja Pangeran itu meremas lengan puteri itu, jika Mahendra tidak menggamitnya, ketika puteri itu menyeringai menahan sakit yang menyengat lengannya yang digenggam kuat-kuat oleh Pangeran Kuda Padmadata.

“Siapa?” Pangeran itu berteriak.

Puteri itu masih terisak. Tetapi ia berdesis, “Siapakah orang yang hamba maksud itu. Tuan tentu dapat menyebutnya”

“Guru sendiri. Guru sendiri” Pangeran Kuda Padmadata benar-benar telah berteriak, “benar begitu? Atau kau memang harus dipancung kepalamu jika kau berbohong?”

“Ampun Pangeran” puteri itu menangis, “jangan dipaksa hamba menyebutkannya. Hamba tidak berani, karena hamba akan dikutuknya sehingga hamba akan dapat menjadi seekor kelinci, atau seekor katak, atau seekor binatang melata yang paling hina dalam jenis hamba, atau hamba akan dapat menjadi gila dan kehilangan akal dan ingatan, sehingga hamba akan berkeliaran di sepanjang jalan tanpa mengenal malu sama sekali”

“Tidak” teriak Pangeran Kuda Padmadata, “tidak ada orang yang dapat mengutuk orang lain menjadi seekor binatang jika ia sendiri berhati binatang. He, apakah benar? Kau tidak usah menyebutnya. Jika benar, anggukkan kepalamu”

Puteri itu ragu-ragu. Namun akhirnya ia mengangguk kecil.

Namun dalam pada itu, meledaklah tangisnya betapapun ia mencoba menahan. Wajahnya menjadi pucat seperti kapas. Tubuhnya gemetar seperti orang kedinginan.

Betapa ketakutan yang sangat telah mencekamnya.

Tetapi Mahisa Agni kemudian berkata, “Puteri, apakah puteri pernah melihat, bagaimana ia mengutuk seseorang menjadi seekor binatang?”

Puteri itu ragu-ragu sejenak. Namun ia pun kemudian menggeleng.

“Nah, itu adalah pertanda, bahwa ia tidak dapat melakukannya. Mungkin ia dapat membuat orang lain menjadi gila dengan cara yang khusus. Tetapi bukan dengan kutukan. Aku dapat membuat orang lain kehilangan ingatan dengan reramuan obat-obatan, tetapi juga dengan mengganggu syaraf pada simpul-simpul yang paling peka. Jika tuan puteri tidak percaya, aku dapat mencobanya”

Puteri itu memandang Mahisa Agni dengan tatapan mata yang buram. Tetapi ia mengangguk lemah. Di sela-sela bibirnya yang gemetar terdengar ia berdesis, “apakah benar demikian?”

“Ya. Seandainya ia mencoba melakukannya, maka kita akan dapat mencoba menghindar” jawab Mahisa Agni.

Puteri itu mencoba menenangkan hatinya. Tetapi ia masih pucat dan gemetar.

“Ya Pangeran. Guru Pangeran Kuda Rukmasanti. Ia telah mengatur segalanya” desis puteri itu dengan ragu-ragu.

“Jadi, benarkah guru telah melakukannya?” sekali lagi Pangeran Kuda Padmadata bertanya.

“Ya Pangeran. Guru Pangeran Kuda Rukmasanti. Ia telah mengatur segalanya” desis puteri itu dengan ragu-ragu.

Pangeran Kuda Padmadata menarik nafas dalam-dalam. Di antara getar jantungnya, ia berkata terbata-bata, “Aku tidak menduga bahwa guru dapat bertindak sedemikian jauhnya. Aku sudah merasa, bahwa guru lebih dekat dengan Kuda Rukmasanti. Meskipun pada mulanya tidak ada bedanya antara kami berdua. Tetapi di saat-saat terakhir terasa, bahwa guru lebih banyak berada bersama Kuda Rukmasanti. Bahkan kadang-kadang aku merasa ditinggalkan. Karena itulah, maka aku ragu-ragu, meskipun aku saudara yang lebih tua bukan saja dalam umur, tetapi juga dalam olah kanuragan, namun aku tidak yakin bahwa ilmuku lebih baik dari ilmu Kuda Rukmasanti.

Mahisa Agni, Witantra, Mahendra dan Mahisa Bungalan termangu-mangu mendengarkan keterangan Pangeran Kuda Padmadata itu. Selanjutnya Pangeran itu berkata, “Agaknya puncak dari sikap guru itu tercermin pada peristiwa yang pahit yang aku alami untuk beberapa lama. Hampir saja aku menjadi putus asa, bahwa aku tidak akan dapat keluar lagi dari istana ini sebagai seorang yang bebas. Bahkan aku mengira, bahwa isteri dan anakku itu tidak akan mampu lagi aku selamatkan”

“Semuanya sudah lewat Pangeran” desis Mahisa Agni.

“Belum. Masih ada yang dapat terjadi. Ternyata guru masih belum menganggap bahwa peristiwa ini telah selesai. Gurulah yang agaknya telah mencoba membunuh puteri. Untunglah bahwa usaha itu dapat digagalkan”

“Mudah-mudahan segalanya akan dapat menjadi semakin terang” desis Witantra.

“Tetapi aku tidak tahu, kenapa sikap guru demikian tidak adil. Aku merasa bahwa aku tidak pernah berbuat kesalahan. Mungkin aku tidak mempunyai kesempatan sebanyak yang dilakukan oleh adimas Rukmasanti”

Namun dalam pada itu, semua orang telah berpaling ke pintu ketika mereka mendengar suara, “Hambalah yang menyebabkannya Pangeran”

Pangeran Kuda Padmadata terkejut. Dengan serta merta ia bangkit dan melangkah mendekat, “Ki Wastu”

“Ya, hambalah ini Angger Pangeran” jawab orang tua itu.

“Marilah Ki Wastu” Pangeran Kuda Padmadata mempersilahkan.

“Biarlah hamba disini Pangeran. Hamba mengawasi orang-orang yang berada di serambi itu” jawab Ki Wastu.

“Tetapi apa hubungannya guru dengan Ki Wastu, sehingga Ki merasa, bahwa Ki Wastu adalah penyebab dari kebencian guru kepadaku”

“Sebenarnya itu tidak perlu terjadi” berkata Ki Wastu, “semuanya sudah dilupakan oleh orang yang aku anggap guruku. Agaknya orang yang Pangeran sebut sebagai guru Pangeran itu adalah musuh bebuyutan dengan orang yang aku anggap sebagai saudara tua seperguruanku, yang kemudian aku anggap sebagai pengganti guruku”

“O” Pangeran Kuda Padmadata terkejut, “adalah kebetulan sekali Pangeran. Ketika Pangeran mengambil anakku menjadi isteri Pangeran dan Pangeran tinggalkan di padesan untuk waktu yang lama, hamba sudah merasa, bahwa ada hubungannya dengan orang yang Pangeran sebut guru itu. Pada saat itu Pengeran masih selalu datang ke padukuhan hamba. Tetapi pada suatu saat Pangeran bagaikan melupakan kami. Selain seorang yang Pangeran tinggalkan bersama kami, maka seolah-olah hubungan kita sudah terputus sama sekali. Sehingga akhirnya datang malapetaka itu. Orang yang tuanku tinggalkan itu ternyata adalah seorang yang sangat setia. Tetapi akhirnya ia terbunuh oleh orang-orang yang telah mengambil anak perempuan hamba itu dan kemudian menyembunyikannya. Sementara itu mereka masih saja mengancam keselamatan hidup cucu hamba yang lahir dari anak perempuan hamba itu, yang sebenarnya adalah putera Pangeran sendiri”

Pangeran Kuda Padmadata menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian, “Tetapi guru tidak pernah mengatakan sesuatu tentang permusuhannya dengan saudara seperguruan Ki Wastu itu”

“Mungkin ia menganggap hal itu tidak perlu dikatakannya. Sementara ia mempunyai cara dan pamrih ganda. Ia dapat melepaskan dendamnya karena Pangeran telah berhubungan dengan musuh bebuyutannya, tetapi juga dapat mengharapkan harta peninggalan yang akan Pangeran wariskan kepada Pangeran Kuda Rukmasanti dan puteri yang disebut isteri tuanku ini”

“Aku mengerti” desis Pangeran Kuda Padmadata, “jika segalanya berjalan lancar, maka umurku pun tidak akan panjang. Aku akan mereka lenyapkan, meskipun mereka tentu berusaha untuk melenyapkan jejak. Mungkin kematian yang mereka rencanakan, akan memberikan kesan, bahwa aku mengalami kecelakaan. Mungkin aku akan mengalami sakit beberapa hari lamanya, atau alasan-alasan lain yang dapat mereka lakukan. Namun puteri itupun tidak akan menikmati kemenangannya. Ia akan tersisih, sehingga segalanya akan jatuh ke tangan guru. Mungkin Kuda Rukmasanti akan ikut menikmatinya pula sebagai murid terdekat. Atau puteri itu pun akan dapat ikut serta memiliki jika ia diperlukan oleh Kuda Rukmasanti”

Terdengar puteri itu terisak tertahan-tahan. Namun iapun kemudian berkata, “Aku memang seorang perempuan yang tidak berharga Aku tidak akan dapat mencuci tanganku, seolah-olah aku sama sekali tidak bersalah”

“Aku akan menyerahkan kau kepada paman Herbuntala. Aku akan menyelesaikan masalah ini dengan guru sampai tuntas. Aku akan mencarinya kemana guru pergi” geram Pangeran Kuda Padmadata.

“Jangan serahkan aku kepada ayahanda” tangis puteri itu.

“Lalu apa yang harus aku lakukan? Kau tidak mau diserahkan kepada penguasa di Kediri. Dan kau juga tidak mau diserahkan kepada ayahandamu. Jadi kau mau apa?” tiba-tiba saja Pangeran Kuda Padmadata membentaknya.

Puteri itu menjadi semakin ketakutan. Sementara Pangeran itu berkata, “aku tidak akan mengatakan sesuatu kepada paman Herbuntala”

“Tetapi ayahanda menyangka bahwa aku akan tinggal di rumah ini sebagai isteri Pangeran suara puteri itu gemetar.

“Itu tidak mungkin. Bukankah Rukmasanti yang selalu datang menjemputmu jika kau pulang. Dan Rukmasanti pula yang mengantarmu?” geram Pangeran Kuda Padmadata.

“Ya Pangeran. Tetapi atas nama Pangeran Kuda Padmadata”

“Jika kau tidak mau kembali ke rumahmu lalu kau mau kemana lagi?”

“Biarlah hamba di sini, meskipun hamba harus menjadi juru pengangsu atau juru madaran” tangis perempuan itu.

“Persetan” wajah Pangeran Kuda Padmadata menjadi merah, “kau harus kembali. Jika kau ingin menjaga namamu, maka katakan kepada ayahmu, bahwa kaulah yang telah minta aku mengantarmu pulang. Katakan kepada ayahmu, bahwa aku sudah membohongimu. Ternyata aku sudah mempunyai isteri dan anak. Biarlah paman Herbuntala marah kepadaku dan mengutukku”

“Tidak. Pangeran tidak bersalah. Aku tidak akan dapat mengatakannya kepada ayahanda demikian”

“Terserah kepadamu, apa yang akan kau katakan. Tetapi kau hanya mempunyai dua pilihan. Aku serahkan kepada penguasa di Kediri yang akan menghukummu, atau aku kembalikan kau kepada orang tuamu”

Puteri itu tidak dapat membantah lagi. Ia tidak mempunyai pilihan lain, sehingga karena itu, maka iapun harus pasrah kepada nasibnya. Betapa penyesalan telah mencekamnya. Betapa rendah budinya dan betapa ringkih hatinya.

Dalam pada itu, maka Pangeran Kuda Padmadata pun kemudian memerintahkan membenahi keadaan yang telah terserak-serak tidak menentu. Demikian juga mereka harus menyelenggarakan mayat Pangeran Kuda Rukmasanti.

Kepada orang-orang yang tidak lagi dapat berbuat apa-apa itu, Pangeran Kuda Padmadata berpesan, agar mereka tidak usah menceriterakan apa yang telah terjadi Mereka akan diampuni, sepanjang mereka mengerti, bahwa yang telah mereka lakukan itu adalah kesesatan.

“Aku tidak akan sampai hati membiarkan nama adikku tercemar” berkata Pangeran Kuda Padmadata, “Karena itu, kalian yang pernah menjadi pengikutnya dan berpengharapan untuk mendapatkan keuntungan apapun juga, harus membantuku. Aku akan mengatakan bahwa rumah ini telah didatangi oleh sekelompok perampok. Kita semuanya telah bertempur. Dan adikku telah terbunuh. Dengan demikian, namanya tidak akan direndahkan oleh orang-orang Kediri. Ingat, jika penguasa di Kediri mengetahui, bahwa adikku pernah melakukan kesalahan yang harus dihukum, maka tentu akan dilakukan pengusutan. Kalian, yang pernah menjadi pengikutnya akan diseret pula ke tiang gantungan. Tetapi aku berpendirian lain. Siapa yang menyesali kesalahannya dan tidak akan melakukannya lagi, maka aku akan mengampuninya”

Beberapa orang yang berada di serambi itu menundukkan kepalanya. Ketika pekatik muda itu mencoba mengangkat wajahnya, tiba-tiba saja terpandang olehnya Mahisa Agni. Pekatik muda itu cepat-cepat menundukkan kepalanya ketika ia melihat Mahisa Agni justru tersenyum kepadanya.

Demikianlah, maka malam itu juga istana Pangeran Kuda Padmadata telah disibukkan dengan penyelenggaraan mayat Pangeran Kuda Rukmasanti dan pengawal yang telah terbunuh. Tetapi seperti yang dipesankan oleh Pangeran Kuda Padmadata, tidak seorang pun yang berani mengatakan, apakah yang sebenarnya telah terjadi, agar mereka tidak terseret ke tiang gantungan karena mereka telah terlibat ke dalam kesalahan itu. Bahkan kepada mereka yang tidak tahu menahu tentang peristiwa itu, tetapi melihat pertengkaran yang telah terjadi antara kakak beradik itu pun telah mendapat pesan pula dari Pangeran Kuda Padmadata agar mereka tidak menceriterakan lain dari yang dipesankannya.

“Jika tidak, kalian pun tentu akan diusut. Satu persatu kalian akan dipanggil untuk didengar keterangannya oleh para prajurit” berkata Pangeran Kuda Padmadata Sehingga dengan demikian, maka penghuni istana itupun merasa takut untuk menceriterakan apa yang sebenarnya telah terjadi.

Sementara itu, maka Pangeran Kuda Padmadata telah mempersilahkan Mahisa Agni. Witantra, Mahendra, Ki Wastu dan Mahisa Bangalan untuk masuk keruang dalam. Puteri yang ketakutan itu pun telah dipersilahkan masuk ke dalam bilik di ruang dalam yang terlindung rapat, sehingga tidak seekor lalatpun yang akan dapat mengganggunya, ditunggui oleh embannya yang juga gemetar karena ketakutan.

Sementara orang-orang yang tidak terlibat, abdi istana Pangeran itu yang sudah berada menghambakan diri, diperintahkannya mengawasi kawan-kawanya yang ternyata adalah para pengikut Pangeran Kuda Rukmasanti.

Meskipun demikian, orang-orang di serambi itu benar-benar tidak berani lagi berbuat sesuatu, Mereka yang mendapat tugas menyelenggarakan mayat-mayat itu pun tidak berani berusaha untuk berbuat lain, Jika orang-orang yang mengawasi itu berteriak, maka yang akan keluar adalah orang-orang yang luar biasa yang sedang berada di ruang dalam. Yang paling muda di antara mereka ternyata telah mampu membunuh Pangeran Kuda Rukmasanti, yang mereka anggap orang yang tidak terkalahkan.

Dipagi harinya, maka seluruh Kediripun telah mendengar apa yang terjadi. Tetapi seperti yang dikatakan oleh Pangeran Kuda Padmadata, bahwa yang terjadi itu adalah satu kecelakaan, Sekelompok perampok telah memasuki istana itu. Dalam pertempuran yang terjadi, maka Pangeran Kuda Rukmasanti telah terbunuh.

“Dua orang perampok itupun telah terbunuh pula” berkata Pangeran Kuda Padmadata sambil menunjuk mayat dua orang yang sehari-hari nampaknya seperti dua orang pengawalnya yang paling setia, namun orang yang baginya justru paling memuakan. Lebih memuakkan dari adiknya yang telah berkhianat itu.

Sementara itu, maka seperti yang sudah dikatakannya, orang yang disebut isteri Pangeran Kuda Padmadata itu pun telah diserahkannya kembali kepada orang tuanya, demikian upacara penyelenggaraan mayat itu sudah selesai.

Tetapi ternyata bahwa puteri itu tidak ingin merendahkan nama Pangeran Kuda Padmadata. Yang dikatakannya kepada ayahnya, bahwa ia sebenarnya telah ditekan oleh perasaan takut yang sangat untuk berada di istana itu.

Meskipun ia sadar, bahwa pada suatu saat ayahnya akan bertanya, kapan ia akan kembali kepada suaminya, Namun ia akan mendapat kesempatan untuk memikirkannya. Mungkin ia dapat berterus terang setelah berjarak waktu. Mungkin ayahnya akan marah dan menghukumnya, Tetapi keadaannya tentu sudah berubah.

Namun dalam pada itu, yang kemudian menjadi pembicaraan Pangeran Kuda Padmadata adalah persoalan yang tentu masih akan berkepanjangan. Gurunya tentu tidak akan tinggal diam, karena rencana jahatnya telah diketahui oleh Pangeran Kuda Padmadata.

“Ki Wastu” berkata Pangeran itu ketika mereka duduk di serambi samping istana setelah keadaan mereda, dan suasaa di istana itu telah berjalan wajar, meskipun agaknya lain bagi Pangeran Kuda Padmadata sendiri, “Apakah tidak mustahil bahwa dendam guru akan dijatuhkan kepada anak perempuan Ki Wastu serta anak laki-lakinya?”

“Mereka sudah berada di bawah perlindungan para prajurit di Singasari Pangeran” jawab Ki Wastu.

Pangeran Kuda Padmadata mengangguk-angguk. Namun masih nampak kecemasan di wajahnya. Bahkan kemudian katanya, “Apakah para prajurit di Singasari itu menyadari, bahwa perempuan itu terancam bahaya yg dapat menyergapnya dengan segala cara. Mungkin seseorang mengaku akan mengunjunginya karena ia saudaranya, atau mungkin dengan cara apapun juga, sehingga memberi kesempatan kepadanya untuk melakukan niatnya yang jahat.”

“Mudah-mudahan para prajurit tetap waspada” sahut Mahendra. Namun akhirnya ia berkata, “Pangeran, aku kira memang lebih baik jika aku kembali saja. Aku akan dapat memberikan beberapa peringatan kepada prajurit-prajurit di Singasari. Karena menurut perhitungan, lebih baik jika isteri Pangeran itu untuk sementara tidak berada di istana ini. Orang yang Pangeran katakan sebagai guru itu tentu masih tetap berusaha melakukan sesuatu. Meskipun mungkin ia sudah melepaskan niatnya untuk memiliki harta dan benda yang ada di istana ini, tetapi dendamnya akan menuntut pembalasan”

Pangeran Kuda Padmadata mengangguk-angguk. Akan tetapi katanya kemudian, “Tetapi ia adalah isteriku. Akulah yang paling berkewajiban untuk melindunginya. Anak itu pun adalah anakku. Biarlah aku mempertanggung jawabkannya”

“Sebaiknya kita melihat keadaan yang tentu masih akan berkembang Pangeran” berkata Witantra, “aku setuju jika Mahendra dan Ki Wastu kembali ke Singasari. Aku dan Mahisa Agni akan berada disini. Mungkin Pangeran masih memerlukan aku.”

Pangeran Kuda Padmadata berpikir sejenak. Sementara itu Mahisa Bungalan bertanya, “Bagaimana dengan aku paman?”

Witantra memandang anak muda itu sambil berkata, “Kau akan menentukan sikapmu. Meskipun aku mengatakannya, namun agaknya lebih suka memilih sendiri. Jika kau menganggap perantauanmu sudah selesai, maka kau dapat kembali ke Singasari. Tetapi jika kau masih ingin melihat kelanjutan dari peristiwa ini kau dapat tinggal di sini.”

Mahisa Bungalan termangu-mangu. Namun akhirnya ia berkata, “Aku akan tinggal di sini. Tetapi tidak di istana ini.”

Bersambung....!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...