PANASNYA BUNGA MEKAR : 11-01
Demikian Ki Wastu mengambil alih lawan Mahendra, maka Mahendra yang tidak lagi dikepung oleh lawannya yang harus menghadapi Ki Wastu, sempat menghindarkan diri dan melihat perkelahian anaknya dengan hati yang berdebar-debar.
Ternyata bahwa Pangeran Kuda Rukmasanti benar-benar seorang yang pilih tanding. Dengan mengerahkan segenap kemampuannya Mahisa Bungalan berusaha untuk mengimbangi ilmu lawannya. Dalam ruangan yang tidak terlalu luas itu, maka diperlukan ketangkasan dan kecepatan bergerak yang tinggi, karena masing-masing akan dengan mudah dapat menjangkau lawannya dengan ujung senjata. Setiap kelengahan akan berakibat tersayatnya kulit daging mereka.
Dalam pada itu, Pangeran Kuda Padmadata yang marah itupun bertempur dengan segenap kemampuannya. Bukan saja karena ia ingin melindungi dirinya. Tetapi tekanan batin yang dialaminya untuk beberapa waktu lamanya itu, bagaikan meledak tidak terkendali. Dua orang itu untuk beberapa lama merupakan hantu yang setiap hari menakut-nakutinya, menyiksa perasaannya dan kadang-kadang bahkan menyakiti tubuhnya.
Keringat telah membasahi segenap tubuh kedua orang lawan Pangeran Kuda Padmadata. Jika setiap hari keduanya dapat melaksanakan kehendaknya tanpa banyak kesulitan, maka kini mereka benar-benar telah berhadapan dengan Pangeran Kuda Padmadata seutuhnya.
Dalam kemarahan yang memuncak, maka ujung tombak Pangeran Kuda Padmadata seolah-olah telah mengejar keduanya, kemana keduanya menghindar. Ketika Pangeran yang marah itu mendesak salah seorang dari mereka, maka yang lain berusaha untuk menyerangnya dari samping.
Tetapi tanpa diduganya, tombak itu telah berkisar. Meskipun ujungnya tidak berputar arah, namun tiba-tiba saja terasa sebuah hentakan pada pundaknya.
Ternyata Pangeran Kuda Padmadata tidak menyerangnya dengan mata tombaknya. Tetapi dengan pangkal landean, ia menghantam pundak salah seorang lawannya.
Orang itu terdorong dengan kuatnya, sehingga tubuhnya berputar. Bahkan kemudian ia telah kehilangan keseimbangannya sama sekali.
Tetapi Pangeran Kuda Padmadata tidak sempat memburunya. Ketika ia berkisar, maka lawannya yang seorang lagi telah siap menyerangnya.
Namun Pangeran Kuda Padmadata pun telah bersiap pula. Tombaknya telah siap merunduk menyongsong serangan lawannya, sehingga lawannya itu mengurungkannya.
Tetapi yang sekejap itu telah memberikan kesempatan kepada orang yang terjatuh itu untuk meloncat bangkit. Tetapi ia masih harus menyeringai menahan sakit. Meskipun yang mengenai pundaknya itu adalah pangkal landean tombak Pangeran Kuda Padmadata, tetapi rasa-rasanya tulang-tulangnya telah berpatahan.
“Gila” orang itu menggeram,, “apakah Pangeran benar-benar tidak dapat menahan diri?”
“Persetan” geram Pangeran Kuda Padmadata.
“Jika demikian, maka saatnya telah tiba. Kami tidak akan berbelas kasihan lagi. Kami dapat membunuh Pangeran”
Tetapi, orang itu tidak sempat menyelesaikan kata-katanya. Ia harus meloncat menjauh beberapa langkah, bahkan mirip seperti seseorang yang berlari sipat kuping untuk menghindari serangan tombak Pangeran Kuda Padmadata yang meloncat pula beberapa langkah.
Pangeran itu berhenti ketika lawannya yang lain telah memburunya pula dengan senjata teracu. Tetapi demikian Pangeran itu berhenti dan memutar tubuhnya, maka orang itu pun berhenti pula.
Sejenak kemudian, lawannya yang telah terluka di pundaknya itu pun mendekatinya pula selangkah demi selangkah dengan sangat berhati-hati. Ketika Pangeran Kuda Padmadata menggerakkan tombaknya ke arah lawannya orang lain, maka orang yang telah terluka itu pun meloncat maju sambil menjulurkan senjatanya.
Tetapi Pangeran itu cukup tangkas. Ia berkisar dan memutar tombaknya mendatar.
Perkelahian itu pun menjadi semakin dahsyat. Pangeran Kuda Padmadata benar-benar tidak mengekang diri lagi. Ujung tombaknya kemudian bagaikan berterbangan memutari tubuh lawannya.
Ketika kemudian terdengar desah tertahan, maka seorang lawannya telah terlempar lagi jatuh terguling di tanah. Dengan susah payah kawannya berusaha mencegah agar Pangeran itu tidak sempat memburunya dan menghunjamkan ujung tombaknya, dengan sebuah serangan yang cepat. Namun, orang itu bernasib malang, karena Pangeran Kuda Padmadata yang sudah memperhitungkannya, tiba-tiba telah berputar sambil berjongkok. Orang itulah yang kemudian menghunjamkan dadanya sendiri ke ujung tombak Pangeran Kuda Padmadata, orang yang untuk beberapa saat lamanya berada dibayangan kekuasaan adik kandungnya.
Dengan tangkasnya, Pangeran itu pun menghentakkan tombaknya. Ketika tombaknya itu terlepas dari dada lawannya, maka orang yang dikenainya itu pun kemudian terhuyung-huyung sejenak, namun sesaat lagi ia pun jatuh pada lututnya, dan ketika ia terbanting ke tanah maka jiwanya tidak dapat tertolong lagi.
Kawannya yang terjatuh oleh dorongan tangkai tombak Pangeran Kuda Padmadata itu melihat, bagaimana kawannya yang berusaha menyelamatkannya itu justru telah terbunuh lebih dahulu dari padanya.
Tetapi dalam pada itu, maka ia pun telah dibayangi oleh kecemasan yang amat sangat. Berdua ia tidak dapat mengalahkan Pangeran yang untuk beberapa saat lamanya telah tunduk pada perintahnya itu, yang kemudian dengan tiba-tiba saja telah menghentak dengan ledakkan kekuatannya yang tidak terlawan.
Karena kesadarannya bahwa Pangeran Kuda Padmadata adalah seorang prajurit linuwih, maka tiba-tiba saja jantung orang itu telah dicekam oleh ketakutan yang amat sangat. Ia merasa bahwa ia telah dihadapkan pada suatu kenyataan tentang Pangeran yang untuk beberapa saat menjadi jinak itu.
Itulah sebabnya, maka ketika Pangeran Kuda Padmadata kemudian berputar menghadapnya setelah kawannya terbanting jatuh, maka tidak ada jalan lain yang nampak dihadapannya, selain melarikan diri.
Karena itulah, maka tiba-tiba saja ia meloncat berdiri dan mencoba berlari meninggalkan arena tanpa menghiraukan kawan-kawannya yang justru baru mulai bertempur.
Pangeran Kuda Padmadata yang menjadi muak melihat kedua orang yang untuk beberapa saat lamanya seolah-olah berkuasa atasnya itu ternyata telah tidak dapat menahan diri lagi. Dengan dada yang membara, maka ia melihat lawannya berusaha menyelamatkan diri dengan licik.
Dengan demikian, maka kemarahannya pun menjadi semakin melonjak didesak oleh kebencian dan rasa muak. Hampir diluar sadarnya, maka tiba-tiba saja tangannya telah bergerak terayun dengan cepatnya.
Tidak seorang pun yang mampu mencegahnya. Tombak di tangannya tiba-tiba saja telah meluncur mengejar orang yang melarikan diri itu.
Sejenak kemudian terdengar jerit melengking. Tubuh yang sedang berlari itupun tiba-tiba saja telah terhenti. Sesaat tubuh itu terhuyung-huyung, namun kemudian jatuh berguling di tanah. Di punggungnya tertanam tombak yang membenam sampai ke pangkal tajamnya.
Semua orang yang mendengar jerit itu, dan kemudian melihat tubuh itu jatuh di tanah, merasa tubuhnya meremang. Namun Pangeran Kuda Padmadata yang sedang marah itu, seolah-olah tidak menghiraukannya lagi. Demikian ia kehilangan lawannya, maka ia pun segera berlari menuju ke pintu untuk melihat, apa yang telah terjadi dengan adiknya yang telah mengkhianatinya itu.
Ternyata Mahendra masih berdiri di pintu. Orang-orang yang mengepung mereka yang berusaha membebaskan Pangeran Kuda Padmadata itu telah bertempur melawan Mahisa Agni, Witantra dan Ki Wastu. Mereka ternyata tidak banyak mendapat kesempatan Meskipun jumlah mereka lebih banyak.
Beberapa orang di antara mereka adalah orang-orang yang dianggap cukup memiliki kemampuan sehingga mereka telah mendapat perintah untuk melindungi istana itu dari kemungkinan seperti yang telah terjadi.
Tetapi berhadapan dengan Witantra, Mahisa Agni dan Ki Wastu mereka tidak banyak dapat berbuat sesuatu. Bahkan pemimpin pengawal itu pun tidak dapat menguasai lawannya meskipun ia dibantu oleh beberapa orang pengikutnya.
Mahendra yang melihat Pangeran Kuda Padmadata mendekatinya, maka ia pun beringsut. Tetapi ketika Pangeran itu mendekat lagi, ia berkata,, “Biarlah keduanya bertempur dengan jantan”
“Kuda Rukmasanti adalah seorang yang luar biasa” desis Pangeran Kuda Padmadata,, “biarlah aku yang akan menyelesaikannya”
Tetapi Mahendra menjawab,, “Lihatlah Pangeran, apakah kira-kira yang akan terjadi?”
Pangeran Kuda Padmadata mengerutkan keningnya. Ia melihat perkelaian yang dasyat di ruang yang tidak begitu luas. Tetapi kedua orang yang bertempur itu ternyata memiliki kemampuan yang tinggi, yang tidak segera dapat saling menguasai.
“Siapakah anak muda itu?” bertanya Pangeran Kuda Padmadata.
“Mahisa Bungalan. Ia adalah anak hamba” jawab Mahendra.
“Jadi ia benar-benar anakmu?” bertanya Pangeran itu.
“Ya Pangeran”
Pangeran Kuda Padmadata termangu-mangu. Agaknya anak muda yang bernama Mahisa Bungalan itu memang memiliki kemampuan yang dapat mengimbangi kemampuan Pangeran Kuda Rukmasanti”
“Anakmu luar biasa” guman Pangeran Kuda Padmadata, “selama ini aku belum pernah melihat seorang pun yang dapat mengimbangi Kuda Rukmasanti, apalagi yang umurnya masih sebaya. Aku sendiri tidak yakin, apakah aku akan dapat mengalahkannya. Tetapi nampaknya anak muda itu benar-benar memiliki kemampuan yang mengagumkan”
“Ia masih memerlukan banyak pengalaman” jawab Mahendra, “karena itu, biarlah ia mendapatkan pengalaman baru di sini”
Pangeran Kuda Padmadata menjadi termangu-mangu Namun ia masih berdiri tegak di sebelah Mahendra.
Sementara itu kedua orang itu masih bertempur dengan sengitnya. Kemarahan Pangeran Kuda Rukmasanti benar-benar telah membakar dadanya. Namun ia pun harus melihat kenyataan, bahwa lawannya benar-benar anak muda yang tangguh dan tanggon.
Sementara itu, di dalam bilik yang lain perempuan yang disebut isteri Pangeran Kuda Padmadata sedang menggigil ketakutan Ia tidak tahu pasti apa yang terjadi. Sementara emban yang menungguinya pun tidak dapat mengatakan, apa yang sebenarnya telah terjadi di luar.
Meskipun mereka mengetahui bahwa telah terjadi pertempuran, tetapi mereka tidak dapat mengatakan, siapa saja yang telah terlibat dan apalagi tentang keseimbangan pertempuran itu.
“Apakah kakang mas Kuda Padmadata telah berusaha untuk melawan kehendak adimas Kuda Rukmasanti?” bertanya puteri itu.
“Hamba tidak tahu puteri. Tetapi suara itu ramai sekali” jawab embannya.
“Ternyata bahwa kakangmas Kuda Padmadata adalah seorang yang paling bodoh jika ia berani melakukan perlawanan justru pada saat para pengawal sedang berjaga-jaga karena kehilangan yang nampaknya sudah mulai terdapat tanda-tanda siapakah yang telah mengambilnya” berkata puteri yang ketakutan itu.
Tetapi emban itu pun tidak dapat menjawab. Bahkan ia pun telah menggigil pula ketakutan seperti puteri itu juga.
Dalam pada itu, pertempuran itu pun masih berlangsung dengan dahsyatnya. Di halaman Mahisa Agni, Witantra dan Ki Wastu telah berhasil menguasai lawan-lawan mereka. Beberapa orang telah terluka dan bahkan mereka telah terdesak mundur, beberapa orang pengawal telah mengerang kesakitan karena luka-luka mereka. Sementara beberapa orang telah pingsan.
Tetapi Mahisa Bungalan masih bertempur dengan gigihnya melawan Pangeran Kuda Rukmasanti.
“Inikah salah seorang contoh dari anak-anak muda Singasari?” desis Pangeran Kuda Padmadata.
Mahisa tidak menjawab. Tetapi perkelahian itu benar-benar merupakan perkelaian yang sengit. Keduanya saling mendesak dan dalam kedudukan yang seimbang. Pangeran Kuda Rukmasanti memiliki kecepatan bergerak. Senjatanya berputaran dalam ruangan yang tidak terlalu luas itu, sehingga seolah-olah setiap jengkal telah tersentuh oleh tajamnya senjatanya.
Namun Mahisa Bungalan telah memagari dirinya dengan putaran tombaknya yang bagikan perisai yang tidak tertembuskan oleh senjata lawannya. Bahkan kadang-kadang senjata yang melindungi tubuhnya itu bergeser dan mematuk dengan cepatnya mengarah kebagian yang paling berbahaya di tubuh Pangeran Kuda Rukmasanti.
“Mengagumkan” desis Pangeran Kuda Padmadata.
Mahendra tidak menyambut. Ia benar-benar dicengkam oleh ketegangan. Dalam pada itu, Mahisa Agni, Witantra dan Ki Wastu pun telah menyelesaikan pertempuran di halamanan. Beberapa orang memang berhasil melarikan diri. Tetapi, beberapa orang telah menyerahkan dan tidak bermaksud melawan lagi. Kedua orang yang terbunuh oleh Pangeran Kuda Padmadata itu ternyata telah berpengaruh sekali pada setiap orang yang mengadakan perlawanan. Bahkan, pekatik muda yang garang itu pun telah berjongkok sambil minta maaf kepada Mahisa Agni.
“Aku tidak menyangka, bahwa kau, bahwa kau, bukannya pekatik tua” desahnya.
Mahisa Agni memandanginya dengan tajamnya. Dalam keremangan cahaya lampu di kejahuan ia melihat wajah pekatik muda itu disaput oleh kecemasan dan ketakutan.
“Aku adalah seorang pekatik tua” berkata Mahisa Agni tetapi aku bukan penjilat seperti kau”
Pekatik muda itu membungkuk dalam-dalam sampai dahinya menyentuh tanah,, “Aku mohon ampun”
Mahisa Agni, Witantra dan Ki Wastu pun kemudian mengumpulkan orang-orang yang sudah menyerah. Mereka harus merawat kawan-kawan mereka yang terluka dan membawanya ke serambi, sementara yg lain harus duduk bejajar ditunggui oleh Ki Wastu dan Witantra. Beberapa orang yang tidak tahu menahu tentang persoalan yang menyangkut hubungan antara kedua Pangeran kakak beradik itu pun menjadi sangat bingung. Namun sebagian dari mereka telah terlibat kedalam perkelahian yang tidak mereka ketahui artinya, sehingga di antara mereka ada pula yang harus duduk berjajar bersama beberapa orang abdi yang lain, yang memang ditetapkan di istana itu oleh Pangeran Kuda Rukmasanti.
Sementara itu. Mahisa Bungalan dan Pengaran Kuda Rukmasanti telah sampai ke puncak ilmu masing-masing.
Keduanya telah menjadi wuru dan kehilangan segala macam pertimbangan yang dapat mengekang gerak mereka.
Dalam kekalutan itu, ruangan tempat kedua anak muda itu bertempur telah berubah menjadi sebuah bilik yang ditaburi dengan segala macam perabot yang pecah berserakan. Senjata kedua anak muda itu lelah memecahkan segala yang berada di dalam ruangan itu. Amben kayu berukhir, geledeg kayu, songsong kehormatan yang lumat, beberapa macam perabot yang lain hancur sama sekali. Sementara kedua orang itu masih bertempur dengan dahsyatnya. Sekali-sekali Mahisa Bungalan berhasil mendesak lawannya sampai ke sudut ruangan. Tetapi, kemudian Pangeran Rukmasanti lah yang seolah-olah telah menguasai Mahisa Bungalan. sehingga Mahisa Bungalan harus berloncatan menjauh.
Namun dalam puncak pertempuran itu, senjata-senjata mereka mulai ikut berbicara. Mahisa Bungalan berdesis ketika terasa ujung senjata lawannya tergores di pundaknya. Titik darah yang membasahi kulitnya, bagaikan titik-titik minyak yang jatuh kedalam api, menyalakan kemarahan di hatinya. Dengan dahsyatnya ia pun kemudian telah melihat lawannya kedalam putaran selanjutnya yang mengerikan.
Pangeran Kuda Rukmasanti itu mengaduh ketika ia terdorong oleh sentuhan senjata Mahisa Bungalan. Lengannyalah yang kemudian mengalirkan darah karena tersobek oleh pedang anak muda dari Singasari itu.
Tetapi Pangeran Kuda Rukmasanti tidak menyerah. Ia pun kemudian meloncat ke samping. Namun senjatanya langsung terjulur lurus ketika ia meloncat pula menyerang Ketika Mahisa Bungalan berusaha menghindar, maka serangan berikutnya telah memburunya.
Mahisa Bungalan berkisar surut. Tetapi ketika ia melangkah setapak lagi mundur, maka terasa punggungnya telah melekat pada dinding kayu.
Pangeran Kuda Rukmasanti yang marah memandanginya dengan tajamnya. Kemudian terdengar mulutnya menggeram,, “Mati kau sekarang jahanam”
Mahisa Bungalan berdiri melekat dinding. Tetapi ia merendahkan diri pada lututnya. Sambil bergeser miring ia menggerakkan pedangnya menyongsong serangan Pangeran Kuda Rukmasanti.
Mahendra menjadi berdebar-debar. Kesempatan menghindar sudah terlalu sempit baginya. Namun bukan berarti bahwa ia telah kehilangan segala macam cara untuk menghadapi lawannya.
Sejenak Pangeran Kuda Rukmasanti berdiri dengan garangnya. Kemudian dengan langkah pendek ia bergerak mendekat sambil berkata pula,, “Jangan menyesal, bahwa kau sudah ikut campur dalam persoalanku. Sekarang, kau akan mati sia-sia”
Mahisa Bungalan tidak menjawab. Tetapi tatapan matanya terikat pada tangan Pangeran yang bagaikan kesurupan itu.
Ketika tangan itu bergerak, maka Mahisa Bungalan pun bergeser. Ia melihat Pangeran Kuda Rukmasanti dengan serta merta, telah menjulurkan senjatanya menusuk ke arah dadanya.
Dengan tangkas, Mahisa Bungalan menyilangkan pedangnya menangkis serangan itu. Tetapi ternyata bahwa lawannya telah menarik serangannya. Dengan cepat, Pangeran Kuda Rukmasanti mengayunkan pedangnya mendatar, menyambar perut Mahisa Bungalan.
Mahisa Bungalan tidak mungkin lagi bergeser surut. Karena itu maka ia pun dengan cepat menggerakkan pedangnya menyilang serangan lawannya.
Yang terjadi adalah sebuah benturan yang keras. Kedua anak muda itu ternyata memiliki kemampuan yang mengagumkan. Serangan Pangeran Kuda Rukmasanti yang cepat dan kuat itu telah membentur senjata Mahisa Bungalan, sehingga bungaapi pun telah meloncat di udara.
Pangeran Kuda Rukmasanti menggeram. Ia bergeser setapak surut. Serangannya ternyata tidak berhasil menyobek perut lawannya. Namun dengan demikian, kemarahannya benar-benar telah sampai keubun-ubun.
Sejenak Pangeran Kuda Rukmasanti berdiri dengan tegangnya. Ketika ia kemudian mengangkat pedangnya, maka tangan kirinya pun telah bergetar pula. Ketika tangan itu menyilang di dadanya, maka Pangeran Kuda Padmadata pun tiba-tiba melangkah selangkah maju. Tetapi Mahendra cepat menahannya sambil berkata,, “Kita akan menyaksikan keduanya bertempur dengan jujur Pangeran”
“Tetapi sikap itu berbahaya sekali” desis Pangeran Kuda Padmadata,, “anak itu telah sampai ke puncak ilmunya”
Mahendra menjadi berdebar-debar. Tetapi ketika ia melihat Mahisa Bungalan pun mengangkat pedangnya pula menyilang, serta dengan ketajaman tatapan matanya Mahendra melihat ujung pedang itu bergetar dengan getaran yang bagaikan memancarkan tenaga yang tidak kasat mata, maka Mahendra pun tahu, bahwa Mahisa Bungalan tanggap menghadapi lawannya yang telah mengerahkan puncak ilmunya, sehingga Mahisa Bungalan pun telah mengimbanginya pula.
“Tetapi, apakah kekuatan puncak ilmu mereka juga seimbang pertanyaan itu telah mengganggu perasaan Mahendra.
Sementara Pangeran Kuda Padmadata menjadi gelisah. Dengan nada rendah ia berkata, “Ilmu itu tidak ada bandingnya. Biarlah aku yang melawannya”
Tetapi Pangeran Kuda Padmadata tidak sempat berbuat sesuatu Dengan jantung yang berdegup keras ia melihat Pangeran Kuda Rukmasanti meloncat mengayunkan senjatanya langsung mengarah ke dahi lawannya tanpa menghiraukan kemungkinan lawannya menangkis serangannya.
Jantung Pangeran Kuda Padmadata bagaikan berhenti berdetak. Ia tahu, bahwa kemampuan tenaga cadangan adiknya telah tersalur sepenuhnya lambaran ilmunya yang dahsyat, yang sukar dicari bandingnya.
Tetapi Mahisa Bungalan memiliki puncak ilmu rangkap dari dua perguruan yang meskipun berbeda, telah berhasil luluh di dalam dirinya. Ia telah menimba ilmu dari Mahisa Agni dan sekaligus mewarisi ilmu ayahnya sendiri dan saudara seperguruan ayahnya, Witantra.
Namun demikian, Mahisa Bungalan masih mempergunakan nalarnya sepenuhnya. Ketika ayunan senjata lawan nya itu menghantam kearah dahinya, maka ia tidak langsung membenturkan ilmunya, tetapi ia masih berusaha untuk mengelak.
Mahisa Bungalan yang tidak dapat lagi bergeser mundur itu masih sempat menghindar ke samping. Namun dalam pada itu, hatinya bergetar ketika ia melihat, betapa dahsyatnya senjata lawannya itu menghantam dinding kayu yang tebal.
Terdengar suara gemeretak serta derak yang memekakkan telinga. Sebagian dinding kayu itu ternyata terbelah oleh kekuatan ilmu dan senjata Pangeran Kuda Rukmasanti.
Pangeran Kuda Padmadata menahan nafasnya. Demikian cepat segalanya telah terjadi. Pada saat itu pula, Mahisa Bungalan yang telah mengerahkan ilmunya pada senjatanya, tiba-tiba telah mengayunkan pedangnya, menghantam senjata Kuda Rukmasanti.
Benturan telah terjadi. Jauh lebih dahsyat dari benturan-benturan sebelumnya. Dua ilmu telah beradu. Namun Mahisa Bungalan yang memukul punggung senjata lawannya agaknya lebih mapan. Namun senjatanya lah yang agaknya kurang baik, Senjata yang dapat direngut dari seorang pengawal itu tidak mampu menahan benturan ilmu. yang luar biasa, sehingga ketika bunga api memercik, ternyata bahwa pedangnya telah patah.
Tetapi dalam pada itu, senjata Pangeran Kuda Rukmasanti yang dihantam pada punggungnya itupun telah terlepas dari genggamam Pangeran Kuda Rukmasanti.
Pangeran Kuda Rukmasanti terkejut mengalami benturan yang dahsyat itu. Ia sama sekali tidak menduga, bahwa lawannya itu tidak saja mampu mengimbangi kekuatan dan kemampuan wajarnya, tetapi iapun mampu membentur kekuatan puncak ilmunya dengan pengerahan tenaga cadangan. Bahkan dengan demikian, lawannya itu telah mampu menghantam dan melepaskan genggaman senjatanya, meskipun senjata lawannya itupun telah patah pula.
Pangeran Kuda Padmadata pun menjadi berdebar-debar. Ternyata anak orang yang berdiri di pintu, di sisinya itu, memiliki kemampuan yang dapat mengimbangi kemampuan adik kandungnya, kemampuan yang sukar dicari bandingannya.
“Luar biasa” desis Pangeran Kuda Padmadata, “itulah sebabnya mereka berani bertindak pada keadaan yang sangat gawat. Jika anak muda itu mampu berbuat demikian, bagaimana dengan ayahnya dan orang-orang yang lain yang termasuk di dalam kelompok mereka”
Di luar sadarnya, maka Pangeran Kuda Padmadata itu pun memandang ke sekelilingnya. Dengan berdebar-debar ia melihat beberapa orang yang sudah mutlak dikuasai oleh beberapa orang yang mengaku petugas dari Singasari itu. Para pengawal, bahkan pemimpin-pemimpinnya sama sekali tidak berdaya menghadapi orang-orang tua dari Singasari itu, sehingga mereka dapat ditundukkan tanpa mengorbankan jiwa.
Sekilas Pangeran Kuda Padmadata melihat dua orang pengawalnya yang telah dibunuhnya. Tetapi ia tidak menyesal. Kedua orang itu benar-benar merupakan hantu yang paling licik yang selalu membayanginya.
Dalam pada itu, kedua orang anak muda yang telah kehilangan senjata masing-masing itu ternyata masih bertempur terus. Mereka sudah berada pada puncak kemampuan mereka. Meskipun bertempur dengan tangan mereka namun kedahsyatan sentuhan tangan mereka tidak kalah dahsyatnya dari benturan-benturan senjata.
Ruang yang menjadi arena pertempuran itu sudah berserakkan. Bukan saja perabotnya. Tetapi dinding-dindingnya pun sudah menjadi pecah oleh hentakan kekuatan yang tidak ada taranya.
Benturan demi benturan telah terjadi. Masing-masing dengan mengerahkan segenap kemampuan yang ada, dan mengerahkan segenap daya tahan tubuhnya.
Namun demikian, setelah memeras tenaga dan kemampuan, maka ternyata bahwa betapapun tinggi ilmu yang mereka miliki, tetapi mereka masih tetap didalam lingkup keterbatasan. Kedua anak muda yang sedang bertempur itu masih tetap dua orang yang terdiri dari wadag mereka. Daging dan tulang mereka masih juga daging dan tulang se wajarnya.
Dengan demikian, maka setelah ilmu mereka berbenturan dengan dahsyatnya pada puncak kemampuan, maka mulai nampak tenaga mereka pun mulai susut. Pengerahan tenaga cadangan mereka pada puncak ilmu mereka tidak lagi sedahsyat pada benturan-benturan yang pertama.
Namun pada saat-saat yang demikian, maka perbedaan tingkat kemampuan kedua anak muda yang seimbang itu, mulai nampak. Ternyata bahwa ketahanan merekalah yang berbeda.
Pangeran Kuda Rukmasanti adalah seorang anak muda yang luar biasa. Yang memiliki ilmu yang tidak ada taranya, yang seimbang dengan ilmu yang dimiliki oleh Mahisa Bungalan. Namun kemampuan yang seimbang itu ternyata didukung oleh daya tahan yang berbeda. Mahisa Bungalan adalah seorang yang membiasakan diri hidup dalam keprihatinan. Bahkan ia adalah seorang perantau yang dengan caranya telah menempa diri. Sementara Pangeran Kuda Rukmasanti adalah seorang Pangeran yang terbiasa hidup dalam genangan pesona hidup duniawi. Meskipun Pangeran Kuda Rukmasanti telah bekerja keras untuk menguasai ilmu yang dahsyat seperti juga kakaknya Pangeran Kuda Padmadata, bahkan mungkin dalam tataran yang lebih baik, namun ia tidak menempa dirinya sedahsyat Mahisa Bungalan.
Karena itulah, Maka pada saat-saat terakhir, Mahisa Bungalan yang mempunyai daya tahan yang lebih besar, ternyata sedikit demi sedikit, berhasil mendesak lawannya.
Namun demikian, itu belum berarti akhir dari pertempuran itu. Jika Mahisa Bungalan melakukan kesalahan sedikit saja, maka ia akan terperosok ke dalam kesulitan yang berbahaya.
Tetapi Mahisa Bungalan pun ternyata berusaha untuk bertempur dengan cermat di saat-saat terakhir. Ia tidak mau membuat kesalahan sama sekali. Bahkan ia telah mengambil keputusan untuk melumpuhkan lawannya yang dianggapnya seorang pengkhianat terhadap saudara kandungnya sendiri.
Perlahan-lahan Mahisa Bungalan berhasil mendesak lawannya. Ketika Pangeran Kuda Rukmasanti menghentakkan kekuatannya menghantam Mahisa Bungalan dengan tangan terjulur lurus mengarah ke dada, maka Mahisa Bungalan sempat mengelak. Yang terdengar kemudian adalah gemeretak dinding yang pecah. Namun pada saat yang tepat, Mahisa Bungalan sempat merendahkan dirinya. Kakinya dengan cepat terayun menghantam lambung.
Kemampuan yang dilambari dengan ilmunya yang dahsyat itu telah melemparkan Pangeran Kuda Rukmasanti. Meskipun tubuh Pangeran muda itu juga dilambari dengan kemampuan puncaknya, namun kekuatan kaki Mahisa Bungalan masih terasa menyesakkan nafasnya.
Dengan sigapnya Pangeran Kuda Rukmasanti berusaha untuk meloncat bangkit. Namun demikian ia berdiri tegak, Mahisa Bungalan telah meluncur bagaikan anak panah yang dilontarkan dari busurnya. Dengan kaki terjulur lurus menyamping, Mahisa Bungalan menyerang Pangeran Kuda Rukmasanti yang baru bangkit berdiri. Tidak ada kesempatan apapun juga yang dapat dilakukan. Demikian Pangeran itu berdiri tegak, maka serangan Mahisa Bungalan menghantam tengkuknya sehingga sekali lagi Pangeran Kuda Rukmasanti terdorong jatuh terbanting di lantai.
Pangeran Kuda Rukmasanti mengeluh tertahan. Tetapi kemarahan di dadanya telah menghentakkannya untuk bangkit. Betapapun perasaan sakit mencengkamnya, tetapi dengan tangkasnya ia meloncat berdiri. Ia tidak mau sekali lagi dikenai serangan Mahisa Bungalan. Karena itu, maka dengan cermat ia mengamati setiap gerak lawannya.
Mahisa Bungalan yang tidak mau kehilangan kesempatan telah meloncat sekali lagi. Tangannyalah yang kemudian terjulur menghantam kening.
Tetapi Pangeran Kuda Rukmasanti masih sempat mengelak. Ia memalingkan wajahnya sambil menarik tubuhnya secengkang, sehingga tangan Mahisa Bungalan tidak menyentuhnya. Bahkan dengan serta merta, maka Pangeran Kuda Rukmasanti itu berkisar setapak ke samping. Dan dengan kuatnya ia menghantam bagian samping dada Mahisa Bungalan dengan kerasnya.
Terasa nafas Bungalan menyesak. Bahkan sebelum ia sempat memperbaiki keadaannya, Pangeran Kuda Rukmasanti telah berputar. Dengan kerasnya Pangeran itu menghantam pangkal leher Mahisa Bungalan dengan sisi telapak tangannya.
Mahisa Bungalan lah yang kemudian menyeringai menahan sakit yang menyengat. Namun ia tidak mau membiarkan dirinya dikenai beruntun olah lawannya.
Pada jarak gapai tangannya, justru pada saat Pangeran Kuda Rukmasanti menyerangnya, Mahisa memiringkan tubuhnya, sehingga ia sempat menangkis serangan kaki lawannya dengan sikunya. Benturan itu memang merupakan benturan ilmu yang sangat dahsyat, sehingga ternyata bahwa Mahisa Bungalan dan Pangeran Kuda Rukmasanti telah terdesak surut beberapa langkah.
Demikian keduanya memperbaiki kedudukan mereka, maka keduanya telah berhadapan dengan garangnya.
Pada keadaan yang demikian, baik Pangeran Kuda Padmadata, maupun Mahendra dapat melihat dengan jelas, bahwa keadaan Mahisa Bungalan masih lebih baik dari lawannya. Pernafasan Kuda Rukmasanti menjadi semakin memburuk oleh sesak didadanya, juga oleh tenaganya yang terperas.
Meskipun Mahisa Bungalan telah mandi keringat, serta pernafasannya pun mulai semakin cepat mengalir, namun ia masih nampak lebih kuat dari lawannya.
“Kuda Rukmasanti” panggil Pangeran Kuda Padmadata dengan cemas. Lalu, “Sudahlah. Marilah kita berbicara dengan baik. Semuanya telah dapat diketahui dengan pasti”
Pangeran Kuda Rukmasanti memandang kakak kandungnya dengan tatapan mata penuh kebencian. Dengan kasar ia menjawab, “Kau harus tunduk kepadaku. Aku akan membunuh siapa saja yang menentang maksudku”
“Adimas” berkata Pangeran Kuda Padmadata, “marilah kita berbicara. Bagaimana juga, aku adalah kakak kandungmu. Kau adalah adikku”
“Cukup” Pangeran Kuda Rukmasanti berteriak, “jangan merajuk. Sudah saatnya kau mengetahui segala rencanaku. Kau akan kehilangan anak isterimu yang kau ambil dari padukuhan itu. Jika pada saatnya kau mati, mungkin karena kecelakaan atau karena sebab-sebab lain sehingga kau mati muda, maka segala warisan akan jatuh ke tanganku dan puteri yang disebut isterimu itu”
“Ya, ya. Aku tahu” berkata PangeranKuda Padma data, “untuk itu kau tidak perlu menunggu aku mati. Kau tidak perlu membunuh anak isteriku. Biarlah aku serahkan semuanya kepadamu. Aku akan menyingkir dan hidup di kalangan orang-orang padesan bersama isteri dan anakku, aku tidak akan mengingat lagi, bahwa aku dalah Pangeran Kuda Padmadata”
“Omong kosong. Kau hanya ingin menyelamatkan dirimu” geram Pangeran Kuda Rukmasanti, “pada saatnya kau akan berusaha membunuh aku”
“Orang yang hina” Mahisa Bungalan lah yang tidak tahan lagi mendengar percakapan itu, “kau tidak mempunyai kesempatan lagi tanpa belas kasihan Pangeran Kuda Padmadata”
“Mahisa Bungalan” potong Mahendra, “biarlah masalahnya diselesaikan antara kakak beradik itu”
Mahisa Bungalan menggeram. Rasa-rasanya ia tidak sabar menunggu lagi. Tangannya sudah gemetar, sementara ilmunya masih mapan pada puncak kemampuannya.
Setiap saat ia menerkam lawannya, maka pada jari-jarinya masih terungkap kekuatannya yang tiada taranya, yang tiap saat pula dapat merengut nyawa lawannya itu.
Namun dalam pada itu, ruangan itu telah digetarkan suara Pangeran Kuda Rukmasanti, “jangan bicara lagi. Marilah, siapa yang ingin aku bunuh, majulah. Aku akan membunuh kalian semuanya. Kalian orang dungu, dan kakangmas Kuda Padmadata. Kemudian siapapun juga yang mencoba melibatkan diri dalam masalah kami”
Pangeran Kuda Padmadata melangkah maju. Dengan hati-hati ia berkata, “Kau sudah tidak banyak kesempatan adimas. Orang-orangmu telah terbunuh. Kedua orang yang kau tempatkan di sisiku itupun telah terbunuh. Darahku masih mendidih pada saat mereka melawanku, sehingga aku tidak sempat membuat pertimbangan-pertimbangan lain kecuali membunuh mereka”
“Aku tidak tergantung kepada siapapun juga” teriak Pangeran Kuda Rukmasanti, “aku adalah aku. Dan aku akan membunuh semua orang di sini”
Jantung Mahisa Bungalan bagaikan akan meledak. Ia sudah tidak dapat menahan diri lagi melihat sikap Pangeran Kuda Rukmasanti. Darah yang meleleh dari luka masing-masing, nampaknya telah membuat jantung mereka hangus terbakar oleh gejolak kemarahan yang tidak terkekang.
Hanya karena ayahnya lah maka Mahisa Bungalan masih berusaha untuk menahan diri.
Namun agaknya Pangeran Kuda Padmadata yang marah itu, telah berusaha menguasai perasaannya. Kemarahannya telah tersalur dan terhunjam lewat tombaknya ke tubuh kedua orang yang setiap hari membayanginya dan yang baginya sangat memuakkan itu. Bahkan kadang-kadang kedua orang itu berani membentaknya, mendorongnya dan justru kadang-kadang menyakitinya, dengan ancaman, bahwa setiap perlawanan akan berakibat kematian anak dan isterinya.
Selangkah lagi ia maju mendekati adiknya. Dan dengan suara lunak ia berkata, “Sudahlah adimas. Marilah kita berbicara sebagai dua orang saudara. Selain kita, masih ada paman dan bibi kita yang dapat memberikan beberapa petunjuk tentang hidup kita dimasa datang. Atau barangkali orang-orang tua lainnya yang kita anggap cukup bijaksana”
“Persetan dengan orang lain” geram Kuda Rukma santi, “kau akan menyeret aku kepada pengadilan keluarga? Kau akan menyudutkan aku ke dalam kesulitan, karena orang-orang tua itu akan menunjuk hidungku sambil menyeringai dengan bengis. Mereka akan meneriakkan hukuman yang paling berat yang harus aku tanggungkan”
“Tidak. Tidak” sahut Pangeran Kuda Pamdadata dengan serta merta, “jika memang tidak kau kehendaki, aku tidak akan minta nasehat kepada siapapun juga. Kita akan menyelesaikan persoalan kita. Aku akan menurut apa yang akan kau putuskan tentang istana ini, tentang isinya dan tentang apapun juga yang kau kehendaki”
“Kau memancing aku. Kau sudah menjadi licik kakangmas. Jika kau masih jantan marilah. Kita masih mempunyai kesempatan untuk menyelesaikan persoalan kita dengan sikap laki-laki”
“Apakah yang akan kita pertengkarkan dengan perang tanding semacam itu adimas”
“Istana peninggalan ayahanda, isinya dan perempuan itu”
“Ambillah semuanya tanpa perang tanding. Aku sudah mengaku kalah. Ambillah isinya, dan ambillah puteri yang memang belum pernah menjadi isteriku itu” Pangeran Kuda Padmadata berhenti sejenak, “lalu apa lagi?”
“Licik. Licik. Licik kau. Marilah, aku bunuh kau” teriak Pangeran Kuda Rukmasanti.
Pangeran Kuda Padmadata menarik nafas dalam-dalam. Namun ia benar-benar tidak ingin melawan adiknya. Adik kandungnya, yang pada masa kecilnya setiap hari bermain bersama, berlari-larian dan memang kadang kadang mereka bertengkar. Tetapi tidak lebih lama dari sepenginang.
Ternyata bahwa Kuda Padmadata benar-benar tidak ingin berkelai melawan adiknya. Dengan susah payah ia mencoba membujuknya. Namun dengan keras adiknya membentak dan bahkan mengumpat.
“Lalu apakah yang kau kehendaki sebenarnya adimas?” bertanya Pangeran Kuda Padmadata, “Aku sudah menyerahkan segala-galanya tanpa kecuali. Aku bersikap jujur. Bukan sekedar ingin menjebakmu, karena kedudukanku sekarang jauh lebih baik dari kedudukanmu”
“Bohong” teriak Pangeran Kuda Rukmasanti.
“Lihatlah. Orang-orang sudah terbunuh. Yang lain menyerah dan meletakkan senjatanya” jawab Pangeran Kuda Padmadata.
“Tetapi isterimu itu akan aku bunuh dengan anak laki-lakimu sekaligus” teriak adiknya.
“Ia sudah berada di tangan yang aman. Kau tidak akan dapat melakukannya” sahut Pangeran Kuda Padmadata, “karena itu, tidak ada gunanya aku menjebakmu dengan licik. Jika aku mau, segala dapat terjadi tanpa jebak-jebakan. Tanpa melakukan kelicikan dan tanpa pengkhianatan. Kau memang sudah tidak berdaya. Karena itu, jika aku bertanya untuk menyerahkan apa saja selain nyawa isteri dan anak laki-lakiku itu, aku tidak akan berkeberatan”
“Aku minta nyawamu” teriak Pangeran Kuda Rukmasanti.
“Adimas” Pangeran Kuda Padmadata terkejut. Ia tidak menduga sama sekali bahwa kesesatan hati itu sudah mencekamnya demikian dalamnya.
Sejenak Pangeran Kuda Padmadata termangu-mangu. Namun dalam pada itu, Pangeran Kuda Rukmasanti berteriak, “Cepat. Ambil keputusan. Menyerahkan lehermu di sini, atau bertempur sampai mati”
Pangeran Kuda Padmadata termangu-mangu. Namun kemudian dengan kepala tunduk ia berkata, “Aku tidak dapat bertempur melawannya. Aku tidak tahu apakah aku akan kalah atau menang seandainya aku harus berperang tanding. Tetapi aku adalah saudara tuanya. Demikian pula di dalam perguruan. Aku kira aku tidak kalah daripadanya. Tetapi aku tidak dapat melakukannya”
“Jadi, apa yang akan terjadi selanjutnya Pangeran?” bertanya Mahendra.
Pangeran Kuda Padmadata merenung sejenak. Namun iapun kemudian justru memutar diri dan melangkah keluar dari ruangan itu.
Tetapi iblis benar-benar telah menyala di hati adik kandungnya. Demikian Pengeran Kuda Padmadata melangkah menjauh sambil membelakangi adiknya, tiba-tiba saja Pangeran Kuda Rukmasanti telah menyerangnya dengan garangnya. Kedua tangannya berkembang menerkam tengkuk kakaknya.
“Pangeran” Mahendra berteriak.
Pangeran Kuda Padmadata terkejut. Iapun telah meloncat berpaling. Namun yang dilihatnya adalah Mahisa Bungalan yang meloncat dengan serangan kakinya mendatar. Demikian cepatnya, sehingga kaki itu telah lebih dahulu menyentuh tubuh Pangeran Kuda Rukmasanti daripada tangan Pangeran Kuda Rukmasanti yang menerkam kakaknya.
Demikian kerasnya, dilambari dengan kemampuan puncaknya, maka hantaman kaki Mahisa Bungalan telah membenturkan Pangeran Kuda Rukmasanti pada dinding.
Tetapi daya tahan tubuh Pangeran Kuda Rukmasanti pun ternyata luar biasa pula. Karena itu, maka tubuh yang terlempar itu telah memecahkan dinding kayu yang membatasi bilik itu dengan ruang lainnya.
Demikian tinggi kemampuan Pangeran Kuda Rukmasanti, didorong oleh kemarahan yang membakar jantungnya, maka ia pun dengan serta merta telah meloncat berdiri. Dengan tangkasnya ia pun telah bersiap untuk menghadapi segala kemungkinan.
Sikap itu telah membuat darah Mahisa Bungalan mendidih. Ia masih terlalu muda untuk dapat menahan diri dalam keadaan seperti itu. Karena itu, maka tanpa menghiraukan lagi Pangeran Kuda Padmadata dan ayahnya. Mahisa Bungalan meloncat menyerang.
Pertempuran pun segera menyala kembali dengan sengitnya. Keduanya tidak lagi menghiraukan siapapun juga. Mahisa Bungalan tidak lagi melihat ketika Witantra pun kemudian berdiri di pintu bersama Mahisa Agni.
Dengan dahsyatnya Mahisa Bungalan menyalurkan tangannya mengarah kepada Pangeran Kuda Rukmasanti. Tetapi Pangeran itu menarik sebelah kakinya dan bergeser ke samping. Dengan sekuat tenaga, maka ialah yang kemudian menyerang dengan hentakkan tangan mendatar ke lambung Mahisa Bungalan.
Mahisa Bungalan yang marah itu sengaja tidak menghindar. Ia telah menangkis serangan itu dengan kedua sikunya yang merapat dihadapan dadanya sambil merendahkan lututnya.
Telah terjadi benturan kekuatan yang dahsyat. Pangeran Kuda Rukmasanti menyeringai menahan sakit tangannya, sementara Mahisa Bungalan terguncang selangkah surut.
Namun dalam pada itu, meskipun perasaan nyeri menyengat tangannya,, tetapi Pangeran Rukmasanti tidak menghiraukan. Sekali lagi ia berputar pada sebelah tumitnya sementara kakinya yang lain dengan dahsyatnya menghantam lawannya.
Mahisa Bungalan tidak membentur kekuatan kaki lawannya. Ia meloncat menghindarkan. Tetapi kemudian ia pun melenting seperti seekor bilalang, dengan tangannya terjulur lurus menghantam ke arah kening.
Pangeran Kuda Rukmasanti menyilangkan tangannya, ketika terjadi benturan sekali lagi maka tangan Mahisa Bungalan telah bergeser. Setapak ia beringut surut. Sementara Pangeran Kuda Rukmasanti pun terdorong selangkah.
Tetapi kecepatan bergerak Mahisa Bungalan lah yang kemudian mengejutkan lawannya. Sekejab kemudian, tubuh Mahisa Bungalan bagaikan lurus mendatar dan bertumpu pada satu kakinya, sedangkan kakinya yang lain telah menyambar dada lawannya.
Pangeran Kuda Rukmasanti berusaha memukul kaki itu ke samping. Tetapi ia tidak berhasil sepenuhnya. Ternyata kaki Mahisa Bungalan masih mengenai pundaknya, sehingga ia terdorong setapak.
Mahisa Bungalan tidak melepaskan setiap kesempatan Dengan tangkasnya ia meloncat sekali lagi menyerang lawannya. Tetapi Pangeran Kuda Rukmasanti masih sempat memperhitungkan serangan itu, Justru kerena ia masih belum mapan, maka ia justru menjatuhkan dirinya.
Dengan demikian, maka serangan Mahisa Bungalan tidak mengenai sasarannya. Ketergesa-gesaannya telah membenturkannya pada dinding kayu di bagian lain dari ruang itu.
Sekali lagi terdengar dinding kayu itu berderak pecah berserakan.
Dengan demikian, maka bilik itu sudah tidak berujud lagi. Semuanya berserakkan. Dinding pun telah pecah dan patah-patah. Namun pertempuran itu masih berlangsung terus. Mahisa Bungalan segera memperbaiki keadaannya, sementara Pangeran Kuda Rukmasanti telah tegak pula.
Tetapi pernafasan Pangeran Kuda Rukmasanti menjadi semakin cepat berdesakkan di lubang hidungnya. Keringatnya telah terperas, bercampur dengan titik-titik darahnya. Wajahnya yang tegang kadang-kadang nampak merah membara. Namun kadang-kadang nampak keputih-putihan dan bagaikan tidak dialiri oleh darahnya lagi.
Sementara Mahisa Bungalan justru menjadi semakin garang. Selangkah demi selangkah ia maju mendekati lawannya. Pecahan dinding kayu yang berserakan tidak dihiraukannya lagi. Iapun sama sekali tidak tertarik untuk memungut senjata yang terlepas dari tangan Pangeran kuda Rukmasanti. rasa-rasanya ia lebih percaya pada tangannya yang dialiri oleh kemampuan puncaknya.
Pangeran Kuda Rukmasanti ternyata sama sekali tidak menyadari, betapa kemampuannya telah mulai susut. Nafasnya mulai mengganggunya. Namun gejolak perasaannya justru menjadi semakin menyala membakar kesadarannya bagaikan hangus.
“Adimas” suara Pangeran Kuda Padmadata menjadi parau. Bagaimapun juga, ia merasa gentar di sudut jantungnya, melihat keadaan adik kandungnya.
Tetapi Pangeran Kuda Rukmasanti tidak mendengarnya. Wajahnya yang kadang-kadang pucat, kadang-kadang menyala itu menjadi semakin liar. Bahkan semakin lama. kesan keagungannya sebagai seorang bangsawan tinggi dari Kediri telah lenyap. Yang nampak adalah wajah iblis yang paling buas menghadapi bayangan kebenaran yang menjadi semakin nyata.
“Adimas, kau dengar suaraku?” suara Pangeran Kuda Padmadata bergetar.
Tetapi Pangeran Kuda Rukmasanti justru telah meloncat menyerang Mahisa Bungalan yang telah menjadi semakin dekat. Demikian tiba-tiba dengan mengerahkan segenap kemampuannya.
Mahisa Bungalan yang masih selalu bersiap, tidak sempat mengelak. Sekali lagi mengerahkan segenap kekuatan dan kemampuan puncak ilmunya untuk membentur serangan Pangeran Kuda Rukmasanti.
Akibat benturan yang terjadi berlandaskan segenap kemampuan dari dua orang yang memiliki kekuatan dan. kematangan ilmu yang luar biasa itu, maka akibatnya pun luar biasa pula.
Mahisa Bungalan telah terdorong beberapa langkah surut. Bahkan, oleh pecahan perabot dan dinding yang pecah berserakan, kaki Mahisa Bungalan telah terantuk dan membuatnya terhuyung-huyung. Tenaganya yang telah diperas itu, tidak lagi mampu mempertahankan keseimbangannya, sehingga akhirnya ia terjatuh meskipun ia masih dalam keadaan sepenuhnya menghadapi kemungkinan yang dapat memburunya.
Tetapi dalam pada itu, akibat yang terjadi pada pangeran Kuda Rukmasanti pun ternyata menggetarkan jantung. Pangeran Kuda Rukmasanti telah terlempar beberapa langkah dan jatuh terbanting di atas pecahan kayu perabot dan dinding yang berserakkan. Namun yg berakibat sangat buruk baginya adalah, bahwa kepala Pangeran Kuda Rukmasanti itu telah membentur batu pada tiang yang terdapat di antara bilik itu tanpa dapat mengelak lagi.
Namun yang terdengar dari bibir Pangeran Kuda Rukmasanti mengejutkan sekali. Dengan suara gemetar dan terputus-putus Pangeran yang masih muda itu menggeram, “Aku bunuh kau, isteri dan anakmu yang tidak pantas mewarisi segala yang kau miliki karena derajatnya.”
Terdengar Pangeran itu mengaduh. Betapa gejolak yang menggelora di dalam dadanya masih sempat menghentakkannya bangun. Namun sekali lagi terhuyung-huyung dan jatuh terbaring di lantai. Tangannya mengusap bagian belakang kepalanya yang telah membentur sudut batu yang telah melukai bagian belakang kepalanya itu.
“Adimas” Pangeran Kuda Padmadata yang mengetahui apa yang telah terjadi itu, telah berlari-lari mendekatinya.
Ternyata bahwa Pangeran Kuda Padmadata, saudara yang lebih tua dari Pangeran Kuda Rukmasanti benar-benar berusaha untuk melenyapkan segala pertengkaran yang pernah terjadi. Dengan perasaan haru seorang kakak kandung, maka pangeran Kuda. Padmadata itu telah mengangkat kepala adiknya dan diletakkan pada pangkuannya.
“Adimas” desisnya.
Ternyata bahwa keadaan Pengeran itu benar-benar sudah parah. Dari bagian belakang kepalanya mengalir darah, agaknya terbentur ompak itu sudah melukai tulang belakang kepala itu.....
Bersambung....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar