PANASNYA BUNGA MEKAR : 10-03
Seperti yang sudah disepakati, maka pada saat yang demikian, Ki Wastu sudah berada di depan istana itu pula. Pada saat tertentu ia akan memasuki halaman dan menyatakan diri kepada Pangeran Kuda Padmadata tentang dirinya, anak perempuan dan cucunya laki-laki. Namun untuk melakukannya, ia masih harus menunggu isyarat dari salah seorang yang telah memasuki istana itu, meskipun sebagai tangkapan.
“Jika rencana kita gagal sama sekali” pesan Witantra kepada Ki Wastu, “maka adalah menurut kebijaksanaanmu. Kau dapat mengambil jalan terdekat, meskipun akibatnya belum dapat dipastikan. Kau dapat menghadap penguasaan Singasari di Kediri dengan menyebut nama Mahisa dan Witantra. Tetapi sejauh dapat kita lakukan, kita tidak akan melibatkan siapapun ke dalam persoalan ini, apalagi orang-orang yang memegang kekuasaan”
Karena itulah, maka Ki Wastu pun dengan penuh kewaspadaan berada tidak jauh dari pintu gerbang Istana Pangeran Kuda Padmadata. Sebagai seorang perantau ia duduk bersandar sebatang pohon untuk melepaskan lelahnya.
Ketika Witantra dan Mahisa Bungalan menghadap, maka Pangeran Kuda Padmadata pun menjadi kecewa. Yang datang memang bukan Damar, tetapi orang lain yang menyebut orang lain yang menyebut dirinya bernama Gantar dengan seorang anak muda yang bernama Bungalan.
Pemimpin pengawal yang membawa mereka menghadap itupun kemudian dengan garang mulai bertanya tentang perhiasan-perhiasan itu. Ia bertanya dengan teliti dan kadang-kadang dengan keras dan kasar.
Dalam pada itu, agaknya Pangeran Kuda Rukmasanti tidak sabar lagi menunggu. Jawaban Witantra dan Bungalan yang berbelit-belit membua Pangeran Muda itu tidak telatan.
Tiba-tiba saja ia meloncat berdiri. Dengan garangnya ia meremas rambut Witantra sambil berteriak, “Kau tidak dapat ingkar lagi Pedagang itu sudah mengatakan, bahwa ia mendapat barang itu dari padamu. Nah, kau tinggal mengakui, bahwa kau telah mencuri barang-barang ini. Kau memanjat istana ini dan membuka atapnya. Kau masuk dengan mempergunakan tampar atau apapun juga. Kau keluar juga lewat lubang di atap itu. Karena kau tergesa-gesa, maka beberapa jenis perhiasan telah terjatuh di tanah”
Witantra tidak segera menjawab. Namun tiba-tiba saja Pangeran yang marah itu tiba-tiba saja telah memukul wajahnya sambil berteriak, “Kau harus mengakui” lalu katanya kepada Mahendra, “ha, bukankah kau dapatkan barang-barang itu dari orang ini”
“Hamba tuanku, “ jawab Mahendra.
Sementara itu Witantra telah terbanting jatuh ketika tangan Pangeran Kuda Rukmasanti mengenai wajahnya. Dengan suara gemetar ia berkata, “Ampun tuanku. Hamba benar-benar tidak tahu”
Belum lagi suara itu selesai diucapkan, kaki Pangeran Kuda Rukmasanti telah mengenai kepala Witantra. Sekali lagi ia berteriak, “Aku dapat membunuhmu dan anak muda itu disini. He, anak muda, apakah kau juga ingkar” Mahisa Bungalan tidak segera menjawab. Yang kemudian berdebar-debar adalah justru Mahendra dan Witantra. Jika Mahisa Bungalan tidak dapat mengendalikan dirinya, maka mungkin sekali rencana meraka harus dirubah dengan tiba-tiba.
Namun dalam pada itu, ketika Pangeran Kuda Rukmasanti mendekati Mahisa Bungalan, maka Pangeran Kuda Padmadata berkata, “Biarlah aku bertanya kepadanya”
Kedua pengawalnya yang selalu dekat dengan Pangeran itupun berusaha mencegahnya. Tetapi Pangeran itu sudah berdiri dan melangkah mendekati Witantra.
“Ki Sanak” berkata Pangeran Kuda Padmadata, “bukan maksud kami untuk menyakiti Ki Sanak. Tetapi kami justru ingin menempatkan persoalan ini pada keadaan yang sewajarnya. Cobalah katakan sesuatu tentang perhiasan-perhiasan itu”
“Bukanlah pedagang perhiasan itu mendapatkan barang-anrang itu daripadamu?” bertanya Pangeran itu.
Seolah-olah diluar sadarnya Witantra mengangguk sambil nenjawab, “Hamba tuanku”
“Nah, demikianlah Ki Sanak. Tetapi sudah barang tentu, kau telah mendapatkan barang itu dari pihak lain pula. Cola katakan, apakah kau mendapatkan dari seseorang, atau kau dapatkan dari tempat dan dengan cara lain. Adalah mustahil bahwa barang-barang itu akan dapat berkisar sendiri dari tempat penyimpanannya di dalam bilik itu”
Witantra menarik mafas dalam-dalam, Namun kemudian ia membungkukan badannya dalam, sehingga wajahnya hampir menyentuh lantai. Katanya, “Ampun tuanku. Hamba memang mendapatkan barang-barang itu dari orang lain. Hamba sama sekali tidak mencuri, apalagi di istana tuanku. Hamba sama sekali tidak berani dan tidak akun dapat melakukannya”
Pangeran Kuda Padmadata menarik keningnya. Kemudian ia bertpnya lagi, “Apakah kau dapat menyebut, siapakah yang telah menyerahkan barang-barang itu kepadamu”
Witantra termangu-mangu. Sebagai seorang yang bernama Gantar ia dapat diperlakukan apa saja oleh orang orang yang berkuasa di istana Pangeran Kuda Padmadata itu. Namun sekilas ia memang sudah melihat, bahwa kekuasaan Pangeran Kuda Padmadata selalu dibayangi oleh kekuasaan adiknya yang bernama Pangeran Kuda Rukmasanti.
Namun dalam pada itu, karena ia tidak segera menjawab, maka Pangeran Kuda Padmadata pun mendesaknya, “Ki Sanak. Coba berterus teranglah. Atau barangkali kau anak muda. Apakah kau dapat mengatakan, siapakah yang telah memberikan atau katakanlah menjual barang-barang itu kepadamu dan kemudian kau jual kepada pedagang itu? Perbuatan yang kurang baik itu pada akhirnya memang harus dipertanggung-jawabkan. Pencurian yang telah dilakukan di istana ini memang harus dapat dibongkar. Karena itu, katakanlah, agar kau tidak dibebani oleh dosa dan kesalahan mereka yang sudah melakukannya itu”
Witantra termangu-mangu sejenak. Sekilas ia memandang Mahendra, Mahisa Bungalan dan sebentar lagi Mahisa Agni. Diluar sadarnya ia telah memperbandingkan kekuatan orang-orang yang berada di dalam bilik itu. Apakah pada suatu saat yang tepat, mereka akan dapat menguasai orang-orang yang telah membayangi kekuasaan Pangeran Kuda Padmadata, dan yang telah sampai hati memerintahkan orang-orang upahan untuk membunuh isteri dan anak laki-lakinya.
“Cobalah” desak Pangeran Kuda Padmadata, “katakanlah”
“Orang itu harus dipaksa” geram Pangeran Kuda Rukmasanti”
“Tidak Pangeran” berkata Witantra dengan serta merta, “biarlah hamba mengatakannya. Barangkali itu memang lebih baik dari pada hamba sendiri yang harus mengalami kesulitan karena barang-barang itu”
“Nah” desis Paneeran Kuda Padmadata, “katakanlah”
Witantra menarik nafas dalam-dalam. Nampaknya ia berharap akan berhasil dengan rencana yang telah disusunnya bersama Mahisa Agni. Karena itu, maka katanya kemudian, “Tuanku. Hamba mendapat barang-barang itu dari hamba istana ini. Menurut keterangannya, barang-barang itu memang akan dijualnya. Tetapi adalah bodoh sekali bahwa pedagang itu telah menawarkan barang-barang perhiasan itu justru kemari”
“Siapakah hamba istana itu?” Pangeran Kuda Rukmasanti berteriak.
“Ampun tuanku. Namanya Damar”
“Damar” hampir berbareng beberapa orang telah mengulang Namun justru Pangeran Kuda Padmadata lah yang paling keras. Kemudian katanya, “Orang itulah yang aku curigai ketika aku bertanya kepada setiap orang-orang menghamba di istana ini. He, apakah kaliah tidak ingat?”
Kedua pengawalnya diluar sadarnya telah mengangguk sambil menjawab, “Ya ingat tuanku”
“Panggil orang itu kemari” Pangeran Kuda Padmadata pun menjadi garang. Seolah-olah ia telah mengalami perubahan yang tiba-tiba dari dalam dirinya.
Beberapa orang yang berada di dalam bilik itu termangu-mangu. Namun mereka bagaikan terbangun ketika mereka mendengar sekali lagi Pangeran Kuda Padmadata berteriak, “Panggil orang itu kemari”
“Tetapi, dimanakah sekarang orang itu” bertanya pengawalnya.
“Kau dungu. Bukankah kau mendengar, bahwa ia adalah seorang pekatik?” bentak Pangeran Kuda Padmadata.
Orang-orang yang semula selalu membayanginya itu tiba-tiba saja telah berada dibawah pengaruhnya. Karena itu, maka salah seorang dari merekapun telah berkata, “Baiklah. Hamba akan memanggilnya. Tetapi hamba tidak tahu, dimana rumahnya”
“Bertanyalah kepada orang-orang yang berhubungan dengan Kuda-kudaku itu” jawab Pangeran Kuda Padmadata.
Salah seorang dari kedua pengawal yang selalu mengikut kemana saja Pangeran itu pergi, dan bahkan kadang-kadang justru merekalah yang memerintah, telah dengan tergesa-gesa pergi kebelakang untuk mencari seseorang yang bernama Damar.
Sementara itu, di dalam bilik itu pun telah terjadi kegelisahan. Ketika Mahendra berkisar, maka pemimpin pengawal itu telah membentaknya, “Jangan berusaha lari”
“Tidak tuan. Aku tidak akan lari” jawab Mahendra.
Sementara itu, maka salah seorang pengawal yang mencari Mahisa Agni telah mendapat petunjuk, bahwa orang yang bernama Damar itu berada di rumah gamel kuda di sudut bagian belakang dari halaman istana itu.
“Ikut aku” perintah pengawal itu.
“Maksud tuan” bertanya Mahisa Agni.
“Ikut aku” pengawal itu membentak.
Mahisa Agni menjadi ketakutan, sementara gamel itupun menjadi berdebar-debar.
“Apa yang terjadi tuan?” bertanya gamel itu.
“Kau tidak turut campur. Kecuali jika ternyata kau terlibat pula dalam persoalan ini, maka kau akan digantung” bentak pengawal itu.
“Aku tidak mengerti” desis gamel itu. Pengawal itu sama sekali tidak menyahut. Tetapi ditariknya Mahisa Agni dengan kasarnya.
“Ia baru sakit tuan” desis gamel itu.
“Aku tidak peduli. Jika ia akan mati, biarlah ia mati” geramnya.
Mahisa Agni tidak melawan. Ia mengikuti saja kemana ia di tarik dengan kasar. Namun demikian, ia masih juga berdebar-dobar, apakah ia akan dapat menyelesaikan seluruh rencananya dengan baik.
Dalam pada itu, maka Mahisa Agni yang bernama Damar itupun telah dihadapkan pula kepada Pangeran Kuda Padmadata yang telah menjadi garang. Ia tidak lagi menghiraukan orang-orang yang selama itu telah memagarinya dengan kekuasaan dan dan ancaman.
Ketika Mahisa Agni kemudian dibawa masuk kedalam bilik itu, maka dengan serta merta Pangeran Kuda Padmadata berkata, “Nah, apakah kalian sekarang percaya, bahwa orang ini memang pantas dicurigai?”
Tidak ada seorangpan yang menjawab. Mereka memang harus mengakui bahwa Pangeran Kuda Padmadata telah mencurigai orang yang bernama Damar itu.
“He, hamba yang hina” berkata Pangeran itu, “cobalah jawab pertanyaanku dengan sebenarnya. Disini hanya ada aku, adik kandungku yang baik, seorang pemimpin pasukan pengawal, dua orang pengawalku yang paling setia. Diluar ada dua orang pengawal yang mengamati peristiwa ini dengan seksama dibawah perintah pemimpin pengawal ini. Dan beberapa orang lain berpencaran diluar”
“Apa yang kau katakan?” potong Pangeran Kuda Rukmasanti.
“Aku memberikan gambaran kepadanya, bahwa ia tidak akan dapat ingkar menghadapi kenyataan ini” jawab Pangeran Kuda Padmadata. Lalu katanya kepada Mahisa Agni, “sekarang, jawablah. Apakah benar kau telah memanjat dinding istana ini, memasuki salah satu biliknya dan mengambil perhiasan itu?”
“Hamba Pangeran. Hamba telah melakukannya” jawab Mahisa Agni dengan tenang. Keterangan Pangeran Kuda Padmadata agaknya telah memberikan gambaran yang lebih jelas, siapakah yang bakal mereka hadapi. Dan agaknya Pangeran itupun siap menghadapi segala kemungkinan
Jawaban Mahisa Agni telah membuat orang-orang-yang berada di dalam bilik itu berdebar-debar. Pemimpin pengawal itupun kemudian meloncat maju dan dengan kasar merenggut rambut Mahisa Agni, “Jadi kaulah mencuri di istana itu?”
Mahisa Agni tidak mengeluh. Ia tidak berteriak kesakitan seperti orang yang disebut bernama Damar. Ia membiarkan rambutnya ditarik oleh pemimpin pengawal itu.
Namun Pangeran Kuda Padmadata yang membentaknya, “Aku sedang bertanya kepadanya. Lepaskan”
“Ia telah menghina kami” jawab pemimpin pengawal itu.
“Lepaskan”
“Biarkan ia melakukan tugasnya” potong Pangeran Kuda Rukmasanti, “kau tidak perlu memerintahkan apapun juga kepadanya”
“Aku Pangeran Kuda Padmadata” tiba-tiba Pangeran itu menjadi marah, “aku berkuasa di dalam istanaku. Aku akan memeriksa orang ini”
Kata-kata Pangeran itu ternyata masih juga berpengaruh. Namun demikian kedua pengawalnya mendekatinya. Salah seorang dari mereka berdesis, “Pangeran harus mengingat kedudukan Pangeran. Hamba akan membantu Pangeran apapun juga”
Tetapi jawabannya benar-benar mengejutkan, “Aku tidak memerlukan kalian lagi. Aku akan memeriksa orang ini”
Kedua pengawal itu termangu-mangu. Namun ternyata Pangeran Kuda Rukmasanti berkata, “Biarkan ia melakukannya”
Kedua pengawal itu melangkah surut. Sementara Pangeran Kuda Padmadata memandangi seisi ruangan itu berganti-ganti. Adiknya, kedua pengawalnya, pemimpin pengawal, kemudian orang-orang yang duduk bersimpuh di dalam bilik itu. Pedagang perhiasan, dua orang perantara yang menerima barang-barang itu dan menyerahkan kepada pedagang itu. Kemudian pekatik yang telah mengaku dengan terus terang mancuri barang-barangnya, tetapi yang telah berbisik kepadanya, bahwa ia adalah petugas sandi dari Singasari.
Sejenak Pangeran Kuda Padmadata mengurai keadaan. Wajah-wajah orang yang duduk bersimpuh itu akhirnya memberikan keyakinan kepadanya. Maka katanya kemudian, “Damar. Katakan yang sebenarnya, kenapa kau mencuri di istana ini?”
Mahisa Agni mengangkat wajahnya. Kemudian ia justru bertanya, “Tuanku, apakah hamba boleh mengatakan yang sebenarnya? Disini ada hamba, dan tiga orang yang bersangkut paut dengan hamba dan tugas hamba”
“Itu sudah cukup. Katakanlah”
Orang-orang yang mendengar pembicaraan itu menjadi heran. Namun merekapun segera mendengar Mahisa Agni menjawab pertanyaan Pangeran Kuda Padmadata, “Pangeran, hamba memang mencuri di istana ini. Belum lama hamba mengabdikan diri di istana sebagai seorang pakatik”
“Untuk apa kau mencuri?” bertanya Pangeran Kuda Padmadata.
Pertanyaan itu memang terdengar aneh di telinga adiknya dan para pengawal yang ada di dalam bilik itu.
“Ampun tuanku. Hamba mencuri karena hamba didorong oleh keinginan hamba untuk mengetahui isi istana ini. Bukannya karena hamba ingin memiliki perhiasan itu. Itulah sebabnya, maka hamba telah berusaha untuk dapat menyampaikan perhiasan yang telah hamba curi itu kembali ke istana ini. Kemudian hamba memang berharap untuk dipanggil bersama-sama seperti pada aat ini”
“Bagus” wajah Pengeran Kuda Padmadata menjadi cerah, “aku mengerti. Aku mendengar pesan yang kau berikan. Dan aku sekarang memahami apa yang kau lakukan”
“Apa yang telah dilakukannya” geram Pangeran Kuda Rukmasanti.
“Adinda” berkata Pangeran Kuda Padmadata, “kau adalah adikku yang baik. Yang memberikan kenangan yang manis di masa kanak-kanak kita, karena kita berdua berada dalam asuhan yang sama. Kita selalu bermain bersama, tidur dan makan bersama, meskipun kita kadang-kadang juga bertengkar. Tetapi pertengkaran itu telah memuncak justru saat kita sudah menjadi semakin tua. Nah, bertanyalah kepada orang-orang ini, apakah yang sebenarnya mereka kehendaki”
Wajah Pangeran Kuda Rukmasanti menjadi merah. Dengan garang ia memandangi Mahisa Agni dan orang-orang lain yang masih duduk bersimpuh. Dengan lantang ia bertanya, “Apakah maksudmu sebenarnya. Kau tidak dapat berbuat gila disini. Aku dapat memerintahkan beberapa pengawal untuk bertindak”
Mahisa Agni memandang Pangeran Kuda Rukmasanti yang marah dan agak kebingungan itu. Ketika kemudian ia memandang pemimpin pengawal yang garang dan kemudian kedua orang yang selalu membayangi Pangeran Kuda Padmadata. Maka Mahisa Agni pun kemudian berketetapan hati untuk segera menyampaikan maksudnya, dengan kesiagaan sepenuhnya untuk menghadapi segala kemungkinan akibat dari sikap dan perbuatannya itu.
Sementara itu Mahisa Bungalan telah menjadi semakin gelisah. Ia hampir tidak sabar lagi dengan sikap Mahisa Agni yang berkepanjangan.
Namun Mahisa Agni masih juga berkata, “Tuanku Pangeran Kuda Rukmasanti. Sudah sejak lama hamba mendengar ceritera tentang seorang Pangeran yang kehilangan dirinya sendiri. Hamba tidak begitu jelas persoalannya. Namun yang hamba ketahui, bahwa seorang yang tidak bersalah, telah dikejar-kejar oleh beberapa orang yang tidak berperi-kemanusiaan untuk dibunuh dan dihapuskan jejaknya”
“Gila. Apakah yang kau katakan itu? Aku bertanya kepadamu, dalam hubungan hilangnya perhiasan-perhiasan itu dari istana kakanda Pangeran Kuda Padmadata” teriak Pangeran Kuda Rukmasanti.
“Hamba juga berceritera tentang perhiasan dan kenapa hamba telah mancurinya. Sebenarnyalah bahwa hamba sekedar ingin berhubungan langsung dengan Pangeran Kuda Padmadata” jawab Mahisa Agni, “hamba agaknya telah berhasil menyatakan kepada Pangeran, bahwa hamba datang untuk melihat keadaan yang timpang di dalam istana ini”
“Apa hubunganmu dengan peristiwa di istana ini?” bertanya Pangeran Kuda Rukmasanti dengan garang.
“Hamba adalah orang-orang yang tidak dangan sengaja telah terlibat dalam persoalan keluarga Pangeran Kuda Padmadata. Hambalah yang telah menyelamatkan seorang perempuan dan anak laki-lakinya yang mempunyai sangkut paut dan hubungan darah dengan Pangeran Kuda Padmadata. Nah, sekarang hamba ingin bertanya, siapakah sebenarnya yang telah memerintahkan membunuh perempuan dan anak laki-lakinya itu?”
“Nah” sahut Pangeran Kuda Padmadata, “baru sekarang aku pasti. Aku memang sudah memperhitungkan, bahwa isteri dan anakku itu akan menjadi sasaran kedengkian kalian”
“Hamba telah berhasil menyelamatkan mereka” berkata Mahisa Bungalan yang tidak sabar.
“Persetan” geram Pangeran Kuda Rukmasanti, “apakah kalian memang orang-orang gila yang dengan sengaja membunuh diri?”
“Sabarlah Pangeran” berkata Witantra, “memang agak sulit untuk menerima peristiwa ini. Tetapi hamba pun ingin bertanya, bagaimana dengan tuan puteri yang barangkali sekarang berada di istana ini pula?”
Pangeran Kuda Padmadata menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Ia bukan isteriku yang sebenarnya. Ia hadir bukan atas kehendakku. Aku sudah dibayangi oleh kekuasaan yang tidak kasat mata, tetapi tidak dapat aku tolak. Orang-orang yang membayangiku telah dapat menunjukkan bukti bahwa mereka telah menguasai isteri dan anakku yang aku tinggalkan di padukuhan. Sehingga mereka dengan demikian dapat memaksaku berbuat apa saja. Aku tidak mencemaskan umurku sendiri, tetapi aku tidak akan dapat membiarkan itu”
“Cukup kakanda” potong Pangeran Kuda Rukmasanti, “aku masih tetap pada pendirianku. Aku tidak akan mencabut keputusanku untuk membunuh perempuan dan anak laki-laki itu jika kau tidak menurut segala perintahku”
“Aku sudah berkata adinda, jika kau ingin memiliki segala harta dan kekayaan ini, ambillah. Tetapi jangan kau korbankan perempuan dan anak yang tidak bersalah itu” jawab Pangeran Kuda Padmadata.
“Aku tidak peduli” geram adiknya, lalu, “He kalian dapat bertindak apa saja yang kalian anggap baik. Juga terhadap orang-orang yang tidak tahu diri ini”
“Tunggu” berkata Mahisa Agni, “tuanku jangan tergesa-gesa menjatuhkan perintah. Sudah hamba katakan, bahwa perempuan dan anak laki-laki itu telah berhasil dibebaskan oleh kemenakanku itu. Kalian tidak akan dapat mempergunakannya lagi untuk memaksakan kehendak kalian. Bahkan ada disini pula, ayah perempuan itu, yang telah berusaha menyelamatkan anaknya dengan segenap kemampuan yang ada padanya”
“Siapa?” bertanya Pangeran Kuda Padmadata.
“Ki Wastu” jawab Mahisa Agni.
“Ki Wastu ada disini?” desis Pangeran Kuda Padmadata.
“Persetan” geram Pangeran Kuda Rukmasanti, “jangan percaya. Kakanda. Jika kakanda masih mencintai perempuan padukuhan itu dan anaknya, jangan mencoba berbuat sesuatu yang akan dapat memperpendek umurnya”
“Jangan cemas tuanku” potong Mahisa Bungalan, “hamba telah membebaskannya dengan tangan hamba. Dengan tangan ayah hamba dan paman-paman hamba”
“Siapa ayahmu?” bertanya Pangeran Kuda Padmadata.
“Ayah hamba adalah pedagang itu. Yang tuanku tangkap karena ia telah membawa perhiasan yang memang diambil oleh paman Mahisa Agni”
“He, apa yang kau katakan” potong Mahisa Agni.
“O, maksudku, paman Damar”
“Katankanlah. Katakanlah nama kalian yang sebenarnya” minta Pangeran Kuda Padmadata, “permainan memang harus berakhir. Aku tidak akan mempertimbangkan nyawaku. Tetapi bahwa isteri dan anakku sudah kalian selamatkan, maka aku tidak akan takut lagi menghadapi segala kenyataan yang paling pahit sekalipun” ia berhenti sejenak, lalu, “tetapi dimanakah isteri dan anakku sekarang”
“Mereka berada di dalam istana Singasari” jawab Mahisa Agni.
Semua orang yang mendengar jawaban itu terkejut. Pangeran Kuda Padmadata, Pangeran Kuda Rukmasanti, para pengawal dan dua orang yang selalu membayangi Pangeran Kuda Padmadata.
Dengan nada tinggi Pangeran Kuda Padmadata bertanya, “Apakah pendengaranku tidak salah? Isteri dan anakku itu berada di istana Singasari?”
“Ya tuanku. Hambalah yang telah membawa mereka ke dalam istana. Atas perkenan tuanku Ranggawuni yang bergelar Wishnuwardhana, Maharaja di Singasari” jawab Mahisa Bungalan.
Pangeran Kuda Padmadata menjadi semakin tegang. Dengan nada datar ia bertanya, “Siapakah sebenarnya kalian”
“Sudah hamba katakan” jawab Mahisa Agni, “hamba adalah seorang petugas sandi dari Singasari yang ingin mengetahui keadaan tuanku yang sebenarnya”
“Bohong” teriak Pangeran Kuda Rukmasanti, “kalian adalah perampok-perampok yang sudah mempersiapkan ceritera itu pada saatnya kalian tertangkap. Ayo, bersiaplah untuk menerima hukumanmu. Bukan saja karena kalian telah mencuri, tetapi karena kalian telah membuat ceritera-ceritera khayal yang menyangkut nama baik Maharaja di Singasari yang kini berkuasa pula atas Kediri”
“Tepat” jawab Witantra, “memang kekuasaan Singasari kini meliputi Kediri. Bahkan Singasari telah meletakkan seseorang yang menjadi penghubung dari kepentingan daerah ini dengan kekuasaan di Singasari. Bukan saja saat ini, tetapi sejak beberapa saat yang lampau. Sejak Sang Amurwabumi berkuasa di Singasari”
“Apa hubungannya dengan pencurian yang kalian lakukan. Jangan membual lagi. Kami sudah siap menangkapmu sama sekali. Bahkan kami sudah siap untuk membungkam mulutmu dan membual itu. Kalian memang pantas dihukum gantung di halaman belakang istana ini” geram Pangeran Kuda Rukmasanti.
“Jangan tergesa-gesa tuanku” berkata Mahisa Agni, “hamba telah berhasil melihat kecurangan yang terjadi di istana ini. Ternyata tuanku, saudara muda Pangeran Kuda Padmadata telah berkhianat terhadap saudara tua yang mengasihi tuanku sejak masa kanak-kanak. Tuanku telah Sampai hati menjatuhkan perintah untuk membunuh perempuan dan anak yang tidak bersalah itu. karena tuanku menginginkan segala warisan dan kekayaan kakak kandung sendiri, termasuk perempuan yang mendapat gelar tuan puteri Kuda Padmadata, yang tidak lain adalah alat tuanku semata-mata”
“Tutup mulutmu” geram Pangeran Kuda Rukmasanti.
“Hamba belum selesai” potong Mahisa Agni, “ternyata bahwa maksud tuanku membunuh keluarga Pangeran Kuda Padmadata itu gagal. Sementara tuanku masih mempergunakannya sebagai alat untuk mengikat Kuda Padmadata, seolah-olah isteri dan anak itu merupakan piranti yang hidup untuk memaksakan kehendak tuanku, dengan mengancam keselamatannya. Padahal, pada saat yang sama tuanku benar-benar telah menjatuhkan perintah untuk membunuh”
“Pengkhianat” geram Pangeran Kuda Rukmasanti.
“Kalian memang harus dibunuh” teriak Pangeran Kuda Rukmasanti, “siapkan para pengawal. Orang-orang ini tidak boleh keluar dari istana”
“Tidak ada gunanya Pangeran” berkata Witantra, “diluar masih ada kawan kami. Justru ayah dari perempuan yang akan tuanku bunuh itu”
“Iapun akan ditangkap dan dibunuh” geram Pangeran itu.
“Tidak” jawab Pangeran Kuda Padmadata, “aku akan berbuat sesuatu apapun akibatnya. Aku tidak takut lagi bahwa anak dan isteriku akan terbunuh. Sekarang aku bersedia mati. Tetapi aku tidak akan tunduk lagi kepada kalian”
“Persetan” teriak adiknya, “ kalian memang sedang membunuh diri”
Dalam pada itu, pemimpin pengawal itupun segera bersiap. Demikian pula kedua orang yang selalu membayangi Pangeran Kuda Padmadata. Namun dengan sigapnya Pangeran Kuda Padmadata telah meloncat mengambil tempat, siap untuk bertempur menghadapi beberapa orang yang berada di dalam bilik itu.
Sementara itu, terdengar pemimpin pengawal itu meneriakkan perintah. Sejenak kemudian dua orang pengawal yang berada diluar pintupun telah meloncat masuk pula dengan senjata merunduk.
“Kalian tidak akan dapat melarikan diri” geram Pangeran Kuda Rukmasanti.
“Aku tidak akan melarikan diri” jawab Pangeran Kuda Padmadata, “aku akan mati disini. Para hamba yang masih setia kepadaku dan tidak tahu menahu tentang kekuasaan bayanganmu akan berceritera kepada setiap orang bahwa aku mati terbunuh di dalam bilik ini. Kekuasaan Kediri dan Singasari tantu akan mencari sebab kematianku, sementara isteri dan anakku sudah selamat”
“Tidak usah orang lain” geram Mahisa Bungalan yang tidak sabar. Tiba-tiba saja ia sudah meloncat berdiri, “biarlah kedua pamanku ini mengusut, persoalan ini. Keduanya adalah Senopati Agung bagi Singasari. Dan keduanya pernah berada di Kediri sebagai penghubung kekuasaan Singasari di sini”
Kata-kata itu telah mengejutkan pula. Sementara Mahisa Bungalan meneruskan, “Pamanku yang seorang adalah Mahisa Agni, yang pada permulaan kekuasaan Singasari atas Kediri telah berada di daerah ini”
“Mahisa Agni” desis Pangeran Kuda Padmadata, “aku memang pernah mendengar”
“Omong kosong” teriak Pangeran Kuda Rukmasanti. Lalu iapun meneriakkan perintah, “bunuh mereka”
Dalam pada itu. Pangeran Kuda Padmadata benar-benar telah bersiap mengahadapi segala kemungkinan. Tiba-tiba saja ia telah meloncat dengan tangkasnya. Tangannya tiba-tiba saja telah menyambar tombak yang berada di sudut ruangan, tegak di dalam tempatnya dalam jajaran dengan songsong kehormatan.
Ternyata seorang pengawal yang sudah mengetahui segala persoalan yang menyangkut kedua kakak beradik itu, dan memang dengan sengaja telah memilih pihak, yang dianggapnya akan sangat menguntungkan, yaitu Pangeran Kuda Rukmasanti, dengan sigap mulai meloncat menyusul Pangeran Kuda Padmadata.
Namun sebelum ujung senjatanya menyentuh Pangeran yang sedang menyambar tombak itu, tangan Mahisa Bungalan yang kuat telah menerkamnya. Adalah malang baginya, karena pada hentakkan pertama, Mahisa Bungalan telah menghantam tengkuknya, sehingga orang itu tidak sempat melawannya.
Dengan sigap Mahisa Bungalan merebut pedangnya. Ketika ia kemudian melepaskan orang itu sama sekali tidak mampu lagi untuk berdiri. Sehingga karena itu, maka iapun terjatuh pingsan.
Sejenak kemudian, maka para pengawal dan Pengeran Kuda Rukmasanti pun telah menggenggam senjata masing-masing, sementara Pangeran Kuda Padmadata dan Mahisa Bungalan telah bersenjata pula.
“Jangan melawan” geram Kuda Rukmasanti, “segalanya akan sia-sia. Sebentar lagi, akan datang lebih banyak lagi orang-orang yang selama ini telah aku letakkan di istana ini, sementara hamba-hamba yang lain tidak akan berani berbuat sesuatu”
“Persetan” Mahisa Bungalan lah yang menjawab. Seolah-olah segalanya yang tertahan di dadanya, tiba-tiba saja telah melonjak, “Aku sudah terlalu lama menunggu kesempatan ini. Kau sudah terlalu lama menyiksa orang yang sama sekali tidak bersalah”
“Kau gila” Pangeran Kuda Rukmasanti hampir berteriak, “kau tahu, siapa aku?”
“Kau setan yang tidak pantas dihormati. Buat apa aku menghormatimu, memanggilmu dengan sebutan kehormatan, dan menyebut diriku dengan hamba sambil membungkuk dan menundukkan kepala dalam-dalam”
Pangeran Kuda Rukmasanti tidak dapat menahan gejolak hatinya. Dengan garangnya ia meloncat menyerang Mahisa Bungalan sambil berteriak, “Cepat, bunuh semuanya”
Mahisa Bungalan sudah bersiap menghadapi kemungkinan itu. Karena itu maka iapun segera mengelak dan meloncat ke sebelah lain dari ruangan itu. Katanya, “Disini kita akan bertempur”
Pangera Kuda Rukmasanti mengejarnya, sekali lagi menyerang. Namun senjatanya sama sekali tidak dapat menyentuh lawannya.
Sementara itu. kedua orang pengawal yang selalu membayangi Pangeran Kuda Padmadata itupun segera bertindak. Ia tidak ingin melepaskan Pangeran yang sudah sekian lamanya dibelenggunya dalam bayangan kekuasaan adik kandungnya. Karena itu, maka keduanya pun segera menyerangnya.
“Tanpa perasaan takut bahwa isteri dan anakku akan kalian korbankan, maka kau berdua adalah tikus-tikus celurut yang tidak berarti apa apa bagiku” geram Pangeran Kuda Padmadata.
Seberarnyalah bahwa keduanya ternyata tidak segera dapat menguasai Pangeran yang sudah bersenjata tombak itu. Bahkan kemudian ternyata, bahwa Pangeran Kuda Padmadata adalah seorang prajurit linuwih yang memiliki kemampuan memainkan senjata dengan tangkas. Meskipun ruangan itu tidak seluas medan, namun ia sama sekali tidak canggung mempergunakan sebatang tombak untuk melawan keduanya.
Sementara itu, pemimpin pengawal yang berada di dalam bilik itupun berteriak kepada pengawal yang tinggal seorang, karena kawannya yang bersama-sama memasuki bilik itu telah pingsan dan bahkan senjata telah berada di tangan Mahisa Bungalan, “ Cepat. Panggil para pengawal yang lain”
Pengawal itu tidak menjawab. Iapun segera berlari keluar memanggil kawan-kawannya.
Mahisa Agni dan Witantra masih berdiri termangu-mangu. Namun ketika Pemimpin pengawal itu mendekatinya, maka Mahisa Agni berkata, “Apakah kita akan bertempur disini, atau di halaman?”
“Persetan. Aku bunuh kau berdua” geram pemimpin pengawal itu.
“Jika kau mampu lakukan. Tetapi sebaiknya diluar saja. Agaknya tempatnya lebih luas. kita tidak usah cemas bahwa orang-orang yang tidak berkepentingan akan menjadi penonton dalam permainan ini” jawab Mahisa Agni.
Pemimpin pengawal itu tidak sabar lagi. Dengan serta merta ia menyerang. Namun Mahisa Agni dan Witantra dengan cepat telah meloncat keluar dari ruangan itu sambil berkata, “Pangeran. Agaknya lebih leluasa bertempur diluar”
Tidak terdengar jawaban. Tetapi agaknya Pangeran Kuda Padmadata mendengarnya, sehingga iapun bergeser ke pintu dan dengan serta merta meloncat keluar pula, beberapa saat setelah pemimpin pengawal itupun telah keluar pula menyusul Mahisa Agni dan Witantra.
Yang kemudian tinggal di dalam adalah Mahisa Bungalan dan Pangeran Kuda Rukmasanti. Ternyata keduanya masih muda dan memiliki kemampuan yang tinggi. Seperti juga Pangeran Kuda Padmadata, maka Pangeran Kuda Rukmasanti adalah seorang prajurit pilihan yang memiliki kemampuan yang dahsyat.
Tetapi lawannya adalah Mahisa Bungalan. Seorang anak muda yang pada usia mudanya telah memiliki pengalaman yang sangat luas karena perantauannya serta berbekal ilmu yang cukup.
Pemimpin Pangawal yang bersenjata pedang panjang itu dengan garangnya telah menghadapi Mahisa Agni dan Witantra yang tidak bersenjata. Namun agaknya kedua orang itu masih belum siap untuk bertempur. Bahkan Witantra masih juga bertanya, “Apakah yang akan kau lakukan?”
“Membunuhmu” teriak pemimpin pengawal itu.
“Jangan berbuat sesuatu yang dapat mencelakai dirimu sendiri” berkata Witantra, “letakkan senjatamu dan menyerahlah kepada Pangeran Kuda Padmadata”
Pemimpin pengawal itu menggeram. Dengan serta merta ia meloncat menyerang Witantra dengan ayunan mendatar.
Tetapi serangannya sama sekali tidak menyentuh lawannya. Senjatanya bagaikan menebas angin. Witantra dengan tangkasnya telah meloncat ke samping.
Kemarahan pemimpin pengawal itu telah membakar jantungnya. Ketika pedangnya tidak menyentuh Witantra, maka iapun segera melompat menyerang Mahisa Agni yang berdiri tidak terlalu jauh daripadanya.
Tetapi seperti saat ia menyerang Witantra, maka pedangnya sama sekali tidak berarti bagi Mahisa Agni. Dengan gerak yang sederhana, Mahisa Agni telah berhasil menghindari serangan pemimpin pengawal di istana Pangeran Kuda Padmadata itu.
Sementara itu, maka Pangeran Kuda Padmadata sendiri dengan kemampuan ilmunya yang tinggi, telah membingungkan kedua orang yang selama beberapa saat membayanginya.
Mahendra yang kemudian berdiri di pintu memperhatikan pertempuran yang terjadi di halaman. dan sekali-sekali ia mengawasi anaknya yang bertempur melawan Pangeran Kuda Rukmasanti, karena bagaimanapun juga, ia mengerti bahwa Pangeran Kuda Rukmasanti adalah seorang prajurit yang pilih tanding.
Namun agaknya bekal yang dibawa oleh Mahisa Bungalan pun telah mampu melindungi dirinya. Beberapa saat lamanya mereka bertempur di dalam bilik itu. Sekali sekali mereka berloncatan menghamburkan perabot-perabot yang bernilai tinggi dari istana Pangeran Kuda Padmadata itu. Tetapi mereka tidak lagi menghiraukan, apa yang mereka pecahkan dan apa yang mereka rusakkan.
Sementara itu. Pangeran Kuda Padmadata ternyata telah berhasil mendesak kedua lawannya. Tombaknya berputar dan mematuk dengan dasyatnya. Bahkan kadang-kadang kedua lawannya harus berlompatan beberapa langkah untuk mengambil jarak.
“Pangeran” teriak salah seorang pengawal yang selalu membayanginya, “tuanku telah kahilangan kesadaran. Pandanglah kami. Tuanku tidak akan dapat menentang kehendak kami”
“Apakah kau kira aku sudah menjadi gila?” bertanya Pangeran Kuda Padmadata, “selama ini aku memang tunduk pada kehendakmu. Tetapi bukan karena aku takut kepadamu. Aku selalu kau bayangi dengan ancaman, bahwa kau akan mangorbankan isteri dan anakku. Tetapi sekarang, aku sudah mendapat kepastian, bahwa isteri dan anakku akan selamat. Karena itu, maka kalian berdua tidak akan berarti apa-apa lagi bagiku. Kalian akan mati diujung tombakku sebagai suatu pernyataan, bahwa Pangeran Kuda Padmadata adalah seorang prajurit, seorang laki-laki, tetapi juga seorang suami dan ayah memikirkan keselamatan anaknya. Namun pada saat yang tepat, aku akan manunjukkan, bahwa aku adalah Pangeran Kuda Padmadata. Aku berkuasa di istana ini, dan aku mampu melawan kau berdua tanpa mengeluarkan keringat”
“Bohong” teriak salah seorang pengawal itu, “isteri dan anak Pangeran masih tetap dalam kekuasaan kami”
Sebelum Pangeran itu menjawab, maka terdengar suara Mahisa Agni, “Aku menjadi jaminan, bahwa isteri dan putera laki-laki Pangeran sudah kami selamatkan. Kami sudah menempatkan mereka di tempat yang paling aman. Anak muda yang bernama Mahisa Bungalan dan ayah perempuan itu, telah membunuh orang-orang yang diupah untuk melakukan pengejaran dan pembunuhan atas mereka”
“Gila” geram Pangeran Kuda Padmadata. Namun dengan demikian, maka senjatanya menjadi semakin cepat berputar.
Dalam pada itu. pemimpin pengawal yang bersenjata pedang itu dengan garangnya menyerang Witantra dan Mahisa Agni berganti-ganti. Tetapi ia sama sekali tidak dapat manyentuh mereka, sehingga seperti orang yang wuru ia mengamuk tanpa dapat berbuat apapun juga.
Namun sejenak kemudian, maka beberapa orang mulai mendekati arena. Orang-orang yang di tempatkan di istana itu oleh Pangeran Kuda Rukmasanti telah mendengar apa yang terjadi. Karena itu, maka merekapun segera mengepung arena perkelahian itu.
“Mereka datang” geram Pemimpin pengawal itu, “sebelum kalian menyadari apa yang terjadi, maka kalian telah terbunuh disini. Mayat kalian malam ini juga akan dilemparkan ke hutan untuk menjadi makanan anjing-anjing liar”
Mahisa Agni dan Witantra memperhatikan beberapa bayangan yang memutari tempat itu. Semakin lama menjadi semakin menyempit.
Tiba-tiba dari antara mereka meloncat seorang anak muda di hadapan Mahisa Agni sambil menggeram, “He, kau orang tua gila. Apa yang kau lakukan disini”
Mahisa Agni memandang anak muda itu. Anak muda, yang sehari-hari menjadi pekatik meskipun ia tidak pandai menyabit rumput.
“Aku sedang melihat perkelahian yang tidak atau jarang sekali terjadi di padukuhanku” jawab Mahisa Asni.
“Gila. Pergi atau aku cekik kau sampai mati”
Witantra yang semula memperhatikan orang itu, segera harus berloncatan, karena pemimpin pengawal itu telah menyerangnya pula dengan garangnya.
“Jangan melibatkan diri” berkata Mahisa Agni, “ aku tahu bahwa kau adalah salah seorang pengikut Pangeran Kuda Rukmasanti. Tetapi sebaiknya, kau menyingkir saja”
“He, apakah kau sudah gila” bentak anak muda itu, “aku dapat membunuhmu”
Mahisa Agni tersenyum. Sementara itu justru Mahendra telah terlibat dalam perkelahian melawan beberapa orang yang mendekatinya.
“Menyingkirlah anak muda” berkata Mahisa Agni, “besok aku ajari kau menyabit rumput”
Anak muda itu menjadi sangat marah. Tiba-tiba saja ia meloncat menyambar kepala Mahisa Agni.
Namun kali ini anak muda itu terkejut. Mahisa Agni tidak berteriak kesakitan dan minta maaf. Tetapi tangannya sama sekali tidak menyentuh apapun juga.
Mahisa Agni yang meloncat menghindari tangan pekatik muda itu tersenyum. Katanya, “Jangan terlampau garang. Sayang, bahwa aku sekarang bukannya pekatik tua yang membiarkan dirinya kau bentak-bentak”
“Siapakah kau?” geram pekatik muda itu.
“Baiklah aku katakan dengan terus terang agar kau tahu duduk persoalannya” jawab Mahisa Agni, “aku adalah petugas dari Singasari yang berkewajiban untuk mengetahui keadaan istana ini sebenarnya. Nah, kau tentu tahu maksudnya, karena kau tentu juga terlibat dalam persoalan ini”
“Persetan” geram anak muda itu, “sementara itu ia melihat beberapa orang kawannya telah semakin dekat, “kau dapat terbunuh tanpa ampun disini. Aku sudah curiga, bahwa kau bukan pekatik kebanyakan”
Mahisa Agni tidak menjawab. Beberapa orang sudah mengepungnya. Yang lain, bersama dengan pemimpin pengawal itu mengepung Witantra, sementara yang lain lagi bertempur melawan Mahendra.
Di dalam bilik itu, Mahisa Bungalan masih bertempur dengan sengitnya melawan Pangeran Kuda Rukmasanti. Pangeran dari Kediri itu sama sekali tidak menduga, bahwa pada suatu saat ia akan berhadapan dengan anak muda yang memiliki kemampuan yang dapat mengimbangi kemampuannya. Bahkan beberapa orang lain yang datang bersamanya telah berusaha membongkar kelicikan yang telah dilakukan beberapa lama untuk menghapus keturunan kakak kandungnya yang kaya raya, sehingga segalanya akan dapat dimilikinya bersama seorang perempuan yang disebutkan sebagai isteri kakak kandungnya itu.
Tetapi agaknya ancaman yang selama itu dipergunakannya untuk menjerat kakak kandungnya, yaitu kematian isterinya dan anaknya, telah disingkapkan kenyataannya oleh orang-orang yang menyebut dirinya petugas sandi dari Singasari itu.
Betapa kemarahan menghentak-hentak dadanya. Namun ia tidak dapat mengingkari kenyataan, bahwa sebenarnyalah ia tidak dapat memaksakan kehendaknya atas lawannya itu.
Sementara itu, Pangeran Kuda Padmadata bertempur dengan marahnya melawan dua orang yang untuk beberapa lamanya selalu membayangi, sehingga sebenarnyalah. bahwa Pangeran Kuda Padmadata benar-benar telah muak kepadanya. Setiap kali kedua orang itu selalu menyebut isteri dan anak laki-lakinya jika ia membantah atau menentang kehendak mereka.
Tetapi saat ia menyadari, bahwa keduanya tidak lagi dapat menakut-nakutinya lagi dengan nasib anak istrinya, maka iapun dapat menumpahkan segala gejolak perasaannya yang tertahan.
Dengan demikian, maka Pangeran itupun bertempur dengan sepenuh tenaga. Namun demikian kedua lawannyapun berusaha untuk melawannya. Keduanya adalah orang orang yang sudah terpilih untuk melakukan tugas mereka. Karena itu, merekapun pada saatnya merasa wajib pula untuk bertahan.
Tetapi Pangeran Kuda Padmadata yang selama ini sama sekali tidak dapat menentang mereka berdua, tiba-tiba saja telah menjadi sangat girang. Tombaknya menyambar-nyambar dengan dahsyatnya. Sekali-kali berputar namun tiba-tiba tombak itu terjulur mematuk dengan dahsyatnya.
Agaknya kemarahan Pangeran Kuda Padmadata benar-benar tidak tertahankan. Dengan segenap kemampuannya ia melibatkan kedua lawannya dalam putaran senjatanya yang bergulung-gulung seperti angin pusara. Betapa sulitnya berusaha untuk melepaskan diri dari kuasa kemampuan Pangeran Kuda Padmadata yang untuk beberapa lamanya justru berada di bawah kekuasaan mereka berdua.
Mahisa Agni yang berhadapan dengan pekatik muda itu beserta beberapa orang yang lain masih berusaha meyakinkan mereka bahwa mereka tidak dapat berbuat apa-apa.
“Menyerahlah. Kalian tidak akan terlibat banyak pengkhianatan.”
“Lebih baik aku membunuhmu” geram pekatik muda itu, “aku akan menyesal bahwa kadang-kadang aku masih juga berbaik hati kepadamu. Jika tidak kemarin aku membunuhmu, maka sekarang aku akan mencekikmu.”
Pekatik muda itu masih akan berbicara terus. Tetapi Mahisa Agni sudah jemu mendengarnya. Karena itu sebelum ia meneruskan kata-katanya, tiba-tiba saja terasa mulutnya menjadi sakit.
Ia tidak tahu, kapan Mahisa Agni itu bergerak. Namun tiba-tiba saja bibirnya bagaikan menjadi pecah.
“Sebuah peringatan” desis Mahisa Agni, “aku dapat berbuat lebih keras terhadapmu dan terhadap siapapun”
Pekatik muda itu bergeser surut. Ketika ia mengusap bibirnya, terasa tangannya menjadi hangat. Dalam cahaya lampu yang lamat-lamat ia melihat warna merah telah mengotori jari-jarinya.
“Darah” desisnya.
Namun dalam pada itu, iapun tiba-tiba berteriak, “Bunuh orang tua gila ini”
Beberapa orang yang memang di bawah perintahnya yang tersebar di istana itupun segera berloncatan maju. Namun satu demi satu mereka terlempar menjauh. Demikian mereka terjatuh, maka mereka merasa sulit untuk dapat bangkit kembali.
Demikian pula lawan Mahendra yang dikepung oleh beberapa orang. Bahkan tiba-tiba saja ia mendengar suara Ki Wastu, “Aku sudah berada di sini.”
Mahendra berpaling sejenak, sementara Ki Wastu berkata, “Maaf aku telah memasuki halaman karena aku mendengar keributan yang lamat-lamat.”
“Jadi keributan itu terdengar sampai di jalan di depan istana itu?” bertanya Mahendra.
“Tetapi tidak jelas. Karena aku sudah membayangkan apa yang terjadi, maka aku segera mengetahui, bahwa pertempuran telah terjadi.”
Mahendra mengangguk-angguk, sementara lawannya mengitarinya semakin rapat. Ketika beberapa orang menyerangnya, maka Mahendra pun berkata, “Jangan tergesa-gesa. Sebaiknya kalian memikirkan sekali lagi apa yang kalian kerjakan.”
Tidak seorang pun yang menjawab. Tetapi beberapa orang dari mereka telah terlempar, sementara yang lain tiba-tiba saja bagaikan dihentakkan oleh kekuatan yang luar biasa, sehingga mereka telah terlempar jauh.
Agaknya Ki Wastu pun tidak tinggal diam. Iapun telah mulai memasuki arena.....
Bersambung....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar