PANASNYA BUNGA MEKAR : 10-02
Dengan hati-hati, Mahisa Agni telah membuka bumbungan di atas dudur samping. Dengan sangat berhati-hati. Kemudian iapun perlahan-lahan membuka raguman. Kekuatan Muhisa Agni adalah kekuatan yang luar biasa, sehingga dengan jari-jarinya ia telah berhasil memutus tali-tali ijuk pada atap rumah Pangeran Kuda Padmadata yang kuat itu.
Kemampuan Mahisa Agni memang berlebihan, jika ia sekedar ingin melakukan pencurian. Segalanya dapat dilakukan tanpa menimbulkan bunyi apapun juga. Sehingga akhirnya atap istana itupun telat terbuka, sehingga cukup luas untuk menyusup masuk ke dalam.
Dengan sangat hati-hati, Mahisa Agnipun kemudian meloncat turun. Kakinya bagaikan kaki seekor kucing yang liat dan sama sekali tidak menimbulkan bunyi apapun. Dengan demikian, maka orang yang menunggui Pangeran Kuda Padmadata di dalam ruang di sebelah bilik Pangeran itu, sama sekali tidak mendengarnya.
Ruang itu memang sepi. Mahisa Agni telah berhasil memasuki sebuah ruang yang tidak begitu luas. Tetapi ruang itu adalah ruang yang sangat mahal, karena di dalam ruang itu tersimpan beberapa bagian perhiasan Puteri yang cantik itu.
Meskipun perhiasan yang tersimpan di dalam sebuah peti yang terletak di dalam geledeg kayu itu hanyalah sebagian dari perhiasannya yang dipakainya sehari-hari, sementara perhiasannya yang lebih mahal lagi disimpan di bangsal perbendaharaan, namun barang-barang itu mempunyai nilai yang cukup tinggi.
Sejenak Mahisa Agni termangu-mangu. Di sebelah ruang itu adalah bilik pembaringan puteri. Diantarai oleh sentong tengah, maka terdapat bilik tempat tidur Pangeran Kuda Padmadata. Sedang di bilik berikutnya, yang menghubungkan rumah induk dengan gandok, terdapat orang-orang yang mengawal Pangeran Kuda Padmadata.
Sejenak Mahisa Agni termangu-mangu. Ia sadar, bahwa di sebelah bilik itupun tentu terdapat ruang satu atau dua orang pengawal. Karena itu, maka ia pun harus berhati-hati.
Dengan perlahan-lahan akali, Mahisa Agnipun kemudian membuka peti yang tersimpan di dalam geledeg itu. Diambilnya beberapa buah perhiasan yang mahal. Kemudian dibawanya perhiasan itu meninggalkan ruangan.
Dengan loncatan yang ringan Mahisa Agni berhasil menggapai dudur atap istana itu di tempat yang telah dibukanya. Lewat lubang saat ia meluncur masuk, maka iapun telah menyusup keluar.
Sejenak Mahisa Agni menunggu. Sejenak, maka iapun mulai merangkak ke bibir atap.
Ketika ia merasa aman, maka iapun segera meloncat turun. Dibawah teritisan. ia meninggalkan sebuah perhiasan yang diambilnya. Kemudian, ketika ia berlari sambil membungkuk-bungkuk ke kebun di belakang istana itu, maka ia pun telah melepaskan sebuah perhiasan lagi. Demikian pula ketika ia sampai di dinding belakang. Ia telah meletakkan satu lagi perhiasan itu, tetapi tidak tepat di tempat ia meloncat naik. Sehingga dengan demikian, maka ia tidak meninggalkan bekas di tempat yang sebenarnya.
Ketika Mahisa Agni telah berada diluar, maka iapun segera menemui Witantra dan Mahisa Bungalan. Nampaknya Mahisa Bungalan telah tidak sabar lagi menunggu
“Ia hampir saja menyusulmu” desis Witantra. Mahisa Agni tersenyum. Katanya, “Untunglah bahwa kau belum melakukannya”
Mahisa Bungalan tidak menjawab. Tetapi sebenarnya lah ia telah menjadi gelisah dan tidak telaten menunggu. Mahisa Agni pun kemudian menceriterakan apa yang dialaminya dalam perjalanan mereka kembali ke rumah Ki Daredu.
“Memang sulit” gumam Witantra, “jika kau datang kembali di malam-malam berikutnya, maka keadaannya pun akan serupa. Kau tidak akan dapat menjumpai Pangeran itu tanpa pengawasan”
Mahisa Agni mengangguk-angguk. Perlahan-lahan ia bergumam, “Apakah tidak ada jalan lain kecuali menghubungi Panji Kudasuwana”
“Itu adalah jalan yang dapat segera ditempuh” sahut Mahisa Bungalan.
“Tetapi apakah jalan itu tidak berbahaya bagi Pangeran Kuda Padmadata itu sendiri” desis Mahisa Agni.
“Kita harus tegas. Pangeran Kuda Padamadata harus dengan tiba-tiba dipisahkan dari orang-orang yang mengelilinginya” geram Mahisa Bungalan, “kemudian Pangeran itu dipertemukan dengan isteri dan anaknya yang terpisah daripadanya itu”
Mahisa Agni mengangguk-angguk. Tetapi iapun sedang berpikir keras, apakah yang sebaiknya dilakukan.
Dalam pada itu, ketika seorang penjaga istana Pangeran Kuda Padmadata yang sedang meronda, terjaga dari tidurnya oleh kokok ayam dipagi hari, maka iapun segera berbenah diri. Kawannya yang lain telah lebih dahulu terbangun dan sebelum meninggalkan tugasnya, lebih dahulu dilihatnya ruang di sebelah. Tetapi nampaknya pintu masih tertutup, sehingga ia tidak memperhatikannya lebih lama lagi.
Kedua orang penjaga itupun kemudian meninggalkan bilik tempatnya bertugas. Di siang hari, tempat itu tidak ditunggui oleh seorang pengawalpun.
Setelah kedua pengawal itu melaporkan diri ke gardu induk bagi para pengawal di dalam istana Pangeran Kuda Padmadata itu, maka merekapun segera meninggalkan halaman istana kembali ke rumah masing-masing. Mereka mendapat kesempatan untuk berada di antara keluarganya pada hari-hari tertentu setelah mereka menjalankan tugas sepekan penuh.
Namun agaknya pada malam terakhir dari tugas mereka, istana itu telah digemparkan oleh kenyataan, bahwa atap di atas bilik penyimpanan perhiasan isteri Pangeran Kuda Padmadata telah terbuka.
Seorang pelayan dalam yang akan membersihkan bilik itu terkejut ketika dilihatnya bilik itu nampak tidak seperti biasanya. Beberapa jenis perabotnya berserakan, dan ketika ia menengadahkan wajahnya, dilihatnya cahaya yang jatuh dari atap yang sudah berlubang.
Sambil berteriak pelayan itu berlari ke gardu para pengawal. Dengan suara terbata-bata ia melaporkan apa yang telah dilihatnya.
Sejenak kemudian, istana itu menjadi gempar. Para pengawal menjadi sangat sibuk, sementara dengan tegas pemimpin pengawal itu berteriak, “Panggil kedua pengawal yang bertugas di bilik ini semalam”
Namun dalam pada itu, kegemparan telah terjadi.
Dalam kesibukan itu, Mahisa Agni sebagai seorang pekatik telah memasuki halaman. Tidak seorang pun yang menghiraukannya. Para pengawalpun tidak. Tidak seorangpun yang akan menghubungkan peristiwa yang menggemparkan itu dengan seorang pekatik tua yang berjalan tertatih-tatih sambil membawa keranjang dan sabit.
Adalah suatu kebetulan, bahwa pekatik muda yang selalu mengawasinya tidak berada di kandang. Seperti pata abdi yang lain, mereka telah berkerumun di sekitar pintu butulan. Karena itu, maka Mahisa Agni pun telah ikut pula mendekat dan berdiri di antara para hamba yang lain.
“Apa yang telah terjadi” bertanya Mahisa Agni kepada seorang juru taman.
“Ada seorang atau lebih pencuri yang memasuki bilik itu” desis juru taman.
“O” Mahisa Agni terkejut Tetapi ia tidak berkata apapun lagi.
Namun dalam pada itu, kegemparan yang lain telah terjadi. Seorang pengawal telah menyentuh seuntai berlian di bawah teritisan. Hampir terpekik ia berkata, “Aku menemukannya”
Para pengawal pun segera mengerumuninya. Sebenarnyalah bahwa ia telah menggenggam satu dari perhiasan yang hilang dari bilik itu.
Tetapi kegemparan berikutnya telah terjadi pula. Orang lain telah menemukan perhiasan yang lain di balik tananam perdu. Kemudian disusul oleh yang lain lagi. Dengan demikian, maka para pengawalpun telah mengikuti arah dari barang-barang yang ditemukan itu. Agaknya barang-barang itu telah terjatuh ketika pencurinya melarikan diri.
Sejenak kemuadian para pengawal pun telah sibuk meneliti semua keadaan di sepanjang jalur yang telah ditemukan sebagai jejak dari arah yang ditempuh oleh pencuri yang telah berhasih memasuki bilik itu.
Pada saat yang sibuk dan tegang itu, isteri Pangeran Kuda Padmadata berada di dalam biliknya ditunggui oleh seorang emban dan adik Pangeran Kuda Padmadata. Bagaimanapun juga peristiwa itu telah menggetarkan jantungnya, sehingga ia menjadi ketakutan dan berdebar-debar.
“Jangan cemas” adik Pangeran Kuda Padmadata itu berusaha untuk menenangkan, “tidak terjadi apa apa. Pencuri itu memang gila. Tetapi yang berhasil dibawa tentu tidak berarti sama sekali” ia berhenti sejenak, lalu, “cobalah kau tenangkan hatimu, kemudian kau sempatkan sejenak untuk melihat, apa saja yang telah hilang”
Isteri Pangeran Kuda Padmadata itu tidak menjawab Tetapi ia berusaha untuk menenangkan dirinya barang sejenak.
Sementara itu, selagi para pengawal sibuk meneliti keadaan dan dua orang pengawal khusus itupun sedang berusaha melihat dengan teliti apa yang telah terjadi, Pangeran Kuda Padmadata sendiri berdiri termangu-mangu di pintu butulan. Bahkan iapun kemudian turun ke halaman belakang untuk melihat para pengawal yang sedang memperhatikan arah dari jejak pencuri yang telah berhasil memasuki istana.
Kesempatan yang tidak mungkin dapat dilewatkan oleh Mahisa Agni. Saat yang sekejap itu benar-benar berharga bagi Mahisa Agni. Adalah jarang sekali terjadi bahwa Pangeran Kuda Padmadata telah terpisah dari dua orang pengawal khususnya.
Pada saat Pangeran itu sedang merenungi orang-orang yang sedang diributkan oleh peristiwa itu, maka Mahisa Agnipun menyusup kesamping dan berjalan terbungkuk-bungkuk lewat di belakang Pangeran Kuda Padmadata. Saat yang sangat berharga itu telah dipergunakannya sebaik-baiknya. Tepat di belakang Pangeran itu ia berdesis perlahan-lahan, “Hamba adalah petugas sandi dari Singasari yang ingin mengetahui keadaan Pangeran yang sebenarnya”
Mahisa Agni sama sekali tidak berhenti. Ia berjalan terus, dan menyusup lagi diantara orang-orang yang berkerumun.
Sekilas Kuda Padmadata berpaling. Ia melihat Mahisa Agni yang berhenti beberapa langkah dari padanya diantara beberapa hambanya yang kemudian didorong oleh para pengawal untuk menyingkir.
“Pergi, jangan mengganggu tugas kami. Kembali kepada perkejaan kalian masing-masing. Biarlah kami yang mengurusi masalah ini” teriak pemimpin pengawal.
Ketika para hamba istana itu kemudian melangkah surut karena mereka didesak oleh para pengawal, Pangeran Kuda Padmadata masih dapat mengenali Mahisa Agni yang berdiri diantara mereka.
“Siapakah orang itu?” pertanyaan itu telah tumbuh di dalam hatinya. Demikian banyak abdi di halaman Istana itu, hingga Pangeran itu tidak mengenalnya seorang demi seorang.
Namun Pangeran yang telah kehilangan kebebasannya itu sempat mendengar kata-kata yang diucapkan oleh Mahisa Agni.
Dalam pada itu, maka ketika dua orang pengawal yang bertugas di bagian dalam istana, dan berada di sebelah bilik yang telah berhasil dimasuki oleh seorang pencuri atau lebih itu datang, perhatian pimpinan pengawal tertuju sepenuhnya kepada mereka. Dengan tegang ia memerintahkan kedua orang itu masuk ke dalam bilik yang khusus untuk didengar keterangannya.
Ternyata kedua pengawai itu terkejut bukan kepalang Mereka sama sekali tidak menyangka, bahwa bilik itu telah terbuka di bagian atapnya dan seorang pencuri telah berhasil mengambil beberapa buah barang perhiasan.
Sehari penuh para pengawal meneliti segala macam jejak yang mungkin dapat mereka ketemukan. Bukan saja di dalam halaman, tetapi juga diluar halaman.
Namun dalam pada itu, mereka sama sekali tidak menemukan sesuatu. Tidak ada bekas atau jejak yang dapat mereka pergunakan untuk mencari jalur yang dapat membawa mereka kepada suatu dugaan, siapakah yang telah menghina para pengawal istana Pangeran Kuda Padmadata itu.
Ketika kemudian isteri Pangeran itu sudah menjadi agak tenang dan berhasil melihat dan menyebut barang-barangnya yang hilang, ternyata bahwa sebagian dari barang-barang itu telah dapat diketemukan kembali. Hanya sebagian kecil sajalah dari perhiasan itu yang tidak diketemukan.
“Pencuri itu tentu dalam keadaan tergesa-gesa” berkata adik Pangeran Kuda Padmadata.
“Tetapi ini benar-benar suatu penghinaan” berkata Pangeran Kuda Padmadata.
Namun seorang dari kedua pengawalnya yang terdekat itupun berkata, “Ampun Pangeran. Biarlah para pengawal mengurusnya. Jika ini suatu penghinaan, maka para pengawallah yang paling merasa terhina”
“Ya, tetapi bukankah kita dapat berusaha untuk mencari jejaknya. Meskipun seandainya tidak dapat diketemukan” berkata Pangeran itu.
“Pangeran tidak perlu berbuat sesuatu. Kami menganggap bahwa hal ini tidak usah disampaikan kepada siapapun juga. Juga tidak perlu didengar oleh para bangsawan, karena dengan demikian maka aib kita akan bertebaran sampai kemana-mana”
“Aku setuju” berkata Pangeran Kuda Padmadata, “meskipun aku tahu latar belakang dari sikap kalian. Kalian tidak ingin selembar seratpun yang dapat menghubungkan istana ini dengan pihak luar”
“Kakanda tidak usah mengatakan hal itu” berkata adiknya, “apa yang telah terjadi, biarlah terjadi. Kadang-kadang kita memang harus menyerah kepada nasib. Baik atau buruk”
“Aku tidak menyesali nasib. Tetapi aku tidak mau menerima penghinaan ini. Aku tidak tahu bagaimana tanggapan kalian” berkata Pangeran Kuda Padmadata.
“Lalu apa yang akan kakanda kerjakan?” bertanya adiknya.
“Mungkin orang yang-memasuki bilik itu adalah salah seorang dari para pengawal kita sendiri, atau para abdi yang lain” Pangeran itu berhenti sejenak, lalu, “karena itu. aku ingin menemui mereka seorang demi seorang”
Kedua pengawalnya terdekat tertawa. Katanya, “Suatu usaha yang sia-sia Pangeran”“
“Tidak. Aku tidak akan berusaha apapun juga bagi diriku sendiri. Kau berdua dapat mengikuti segala persoalan yang akan aku lakukan dalam penelitian ini”
Salah seorang dari kedua pengawal itu menyahut, “Jangan memikirkan apapun juga. Pangeran adalah orang yang paling mukti di negeri ini. Tanpa berbuat apapun juga. Pangeran dapat menikmati hidup ini sepuas-puasnya”
Diluar sadarnya Pangeran Kuda Padmadata berpaling kearah isterinya. Namun yang terdengar adalah suara tertawa adiknya, “Ia bukan isteri kakanda yang sebenarnya. Jika kakanda ingin menikmati hidup ini, lakukanlah. Tetapi tidak dengan puteri yang seorang ini”
Seisi ruangan itupun meledak dengan suara tertawa. Sementara puteri yang dalam dunia bayangan Pangeran Kuda Padmadata itu menjadi isterinya, menunduk dalam-dalam. Meskipun ia juga tersenyum, namun wajahnya menjadi merah padam.
“Ia adalah seorang isteri yang tugasnya hanyalah menerima warisan semata-mata” berkata adiknya, “tidak dalam tugas-tugas yang lain”
Pangeran Kuda Padmadata menarik nafas dalam-dalam Namun katanya, “Aku ingin bertemu dengan setiap orang di lingkungan istana ini. Siapapun boleh ikut mendengar apa yang akan aku tanyakan kepada mereka”
Kedua pengawal itu ragu-ragu. Namun ketika adik Pangeran itu mengangguk, maka salah dari seorang para pengawal itu berkata, “Baiklah Pangeran. Hamba akan memanggil mereka seorang demi seorang”
Demikianlah maka semua hamba dan pengawal di dalam istana itu telah dipanggil seorang demi seorang memasuki sebuah bilik khusus. Di samping Pangeran Kuda Padmadata sendiri, maka di dalam bilik itu hadir pula kedua pengawalnya yang paling dekat itu.
Seorang, demi seorang telah ditanya oleh Pangeran Kuda Padmadata. Siapakah mereka, dan apakah yang mereka lakukan dalam tugas mereka sebagai hamba.
Pangeran Kuda Padmadatapun bertanya, dimana mereka berada semalam. Apakah mereka tidak berada di halaman istana atau disekitarnya.
“Tidak ada gunanya Pangeran – berkata salah seorang pengawalnya, “mereka tentu akan mengatakan bahwa mereka tidak berada di halaman, jika mereka tinggal di bagian belakang dari halaman istana ini, mereka akan mengatakan bahwa mereka sedang tidur nyenyak. Mereka sama sekali tidak beranjak dari pembaringan.”
“Tetapi aku dapat melihat seseorang yard berbo¬hong. Aku dapat melihat sorot matanya dan barangkali gagap bicaranya.” berkata Pangeran Kuda Padmadata.
Betapapun menjemukan, namun pertanyaan Pangeran itu berlangsung terus. Seorang demi seorang telah me¬masuki bilik itu.
Akhirnya, seorang pekatik tua telah memasuki bilik itu. Dengan tubuh gemetar ia merangkak mendekat ketika salah seorang pengawal Pangeran itu memanggilnya.
“Siapa namamu?” bertanya Pangeran Kuda Padmadata.
“Nama hamba Damar, Pangeran” jawab pekatik tua.
Dimana kau tinggal? Di bagian belakang dari halaman ini? – bertanya Pangeran itu pula.
“Tidak Pangeran. Hamba tinggal di rumah saudara hamba” Pangeran Kuda Padmadata mengangguk-angguk, iapun kemudian bertanya seperti pertanyaan-pertanyaan yang pernah di sampaikan kepada para hamba yang lain.
Tidak ada kesimpulan apapun yang didapatkan dari pembicaraan itu. Namun dengan demikian, Pangeran Kuda Padmadata mengetahui, bahwa orang yang menyebut dirinya petugas sandi dari Singasari itu adalah seorang pekatik bernama Damar.
Ketika Mahisa Agni kemudian meninggalkan ruang itu, maks Pangeran Kuda Padmadata berkata kepadaa pengawal itu, “Aku mencurigai orang itu meskipun aku tidak pasti. Mungkin aku keliru. Tetapi dari antara semua orang yang memasuki bilik ini, maka orang itu mempunyai pertanda yang paling mungkin untuk melakukan pencurian, atau setidak-tidaknya ia memberikan beberapa petunjuk terhadap pencuri yang sebenarnya.
“Aku tidak melihat pertanda seperti itu,” sahut se¬orang pengawal.
“Mungkin kau tidak melihat. Tetapi aku ingin memperhatikan orang itu. Jika pada suatu saat, pencuri yang sebenarnya dapat diketemukan. maka dugaanku ternyata keliru.”
Dalam pada itu, isteri Pangeran Kuda Padmadata sudah dapat memastikan barang-barangnya,yang hilang. Lebih dari separo dari barang-barang itu dapat diketemu¬kan di halaman, karena barang-barang itu agaknya terjatuh. Namun masih ada beberapa perhiasan yang lain yang benar-benar telah hilang dari istana itu.
Meskipun yang dilakukan oleh Pangeran Kuda Padmadata seolah-olah tidak ada gunanya, tetapi bagi Pangeran itu sendiri, seolah-olah telah memberikan satu kemungkin-an untuk membuka jalur keluar istana lewat pekatik itu.
Sementara itu, Mahisa Agni pun merasa, bahwa yang dibisikkannya kepada Pangeran itu telah mendapat tanggapan. Ia merasa kagum juga terhadap kejernihan pikiran Pangeran itu. Meskipun ia nampaknya sudah terkungkung oleh kekuasaan yang sulit untuk diatasinya, namun ia tidak berputus asa. Ia berusaha untuk dapat memecahkan din¬ding yang mengelilinginya dengan cara apapun juga.
Yang mengalami nasib yang kurang baik adalah kedua orang pengawal yang bertugas di sebelah bilik yang telah dimasuki oleh Mahisa Agni. Keduanya terpaksa untuk sementara tinggal di dalam bilik pengawasan, karena mereka masih akan diperiksa lebih saksama lagi.
Peristiwa itu, telah diceriterakan oleh Mahisa Agni kepada Witantra dan Mahisa Bungalan, ketika pada sore hari Mahisa Agni kembali kerumah Ki Daredu.
“Kita harus mencari jalan” berkata Mahisa Agni, “aku masih mempunyai sebagian dari perhiasan yang aku ambil.”
“Maksudmu?” bertanya Witantra.
“Kita sudah mendapat keterangan lebih jelas. Dengan demikian, maka kita sudah dapat melihat, siapakah yang sebenarnya berbati jahat.” sahut Mahisa Agni, “karena itu, maka kita harus segera mengambil sikap, tetapi yang tidak mengancam keselamatan Pangeran itu sendiri dan isterinya yang barasal dari padesan itu.”
“Apa yang dapat kita lakukan paman?” bertanya Mahisa Bungalan.
“Kau kembali kepada ayahmu. Titipkan perempuan dan anak laki-lakinya itu kelingkungan dalam istana. Biarlah para prajurit melindunginya. Kau dapat barterus terang kepada Tuanku Ranggawuni. Aku kira tuanku tidak akan berkeberatan mangijinkan perempuan dan anak laki-laki itu tinggal.”
“Apakah hubungannya dengan barang-barang Yang paman ambil itu?”
“Kemudian kita jual barang-barang itu. Biarlah ayahmu barusaha untuk berhubungan dengan orang-orang Kediri yang dikenalnya, sehingga pada suatu saat, seseo¬orang dapat mengenal barang-barang itu sebagai barang¬barang dari istana Pangeran Kuda Padmadata. Dengan demikian maka ayahmu akan ditangkap dan dibawa masuk ke istana Pangeran Kuda Padmadata. Ayahmu kemudian akan mengatakan, bahwa ia membeli barang barang itu dari orang lain. Orang lain itu adalah Witantra. Kita se¬muanya akan berada di dalam lingkungan istana itu. Pada saat yang tepat kita akan bertindak menyelamatkan Pangeran itu dari cengkeraman orang-orang yang ingin ber¬buat jahat kepadanya. Jika kita berempat bersama sama dapat berbuat sesuatu, maka aku kira kita akan berhasil, karena Pangeran itu sendiri tentu akan berbuat sesuatu untuk menyelamatkan dirinya sendiri.”
“Rencana ini dapat kita pelajari sebaik baiknya. Masih banyak yang dapat di sisipkan pada rancangan kasar ini. Tetapi pada dasarnya aku dapat menyetujui.” ber¬kata Witantra.
“Paman belum menyebut perananku” potong Ma¬hisa Bungalan.
Witantra tertawa. Katanya, “Sabarlah sedikit. Kau tentu akan memegang peranan penting dalam hal ini.”
“Apak aku belum menyebut?” bertanya Mahisa Agni.
“Belum” jawab Mahisa Bungalan.
“Jika demikian, maka kau akan menjadi penghubung antara pamanmu Witanira dan ayahmu. Sehingga, dengan demikian kauu akan diseret pula ke dalam istana itu.”
“Bagaimana jika kita semuanya diserahkan kepada penguasa di Kediri? Kepada Panji Kudasulwarna?”
“Aku akan berbicara dengan Panji Kudasuwarna.” Sahut Mahisa Agni. “Tetapi ia pun harus mengetahui kesulitan Pangeran Kuda Padmadata.”
Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. Namun katanya kemudian, “Tetapi jika segalanya berjalan menurut kemauan kita. Tetapi jika fidak, maka masalahnya tidak akan semudah seperti yang kita bicarakan.”
Mahisa Agni pun tersenyum seperti juga Witantra. Maka katanya, “Kita hanya merencanakan menurut perhitungan kita Mahisa Bungalan. Tetapi bukan berarti bahwa pihak lain tidak mempunyai perhitungan pula.”
“Tetapi baiklah paman. Aku akan mencoba berbuat seperti perhitungan itu. Aku akan kembali dengan membawa barang yang masih tersisa pada paman dan akan menyerahkannya kepada ayah. –
“Sampaikan segala pesan sebaik-baiknya, agar kita tidak salah langkah. Sebaiknya ayahmu menemui kami, sebelum kita bertindak lebih iauh. Kita tidak tahu pasti, jaring-jaring yang dipasang oleh adik Pangeran Kuda Padmadata itu sampai seberapa jauh jarak jangkauan¬nya”
Demikianlah, maka Mahisa Agni dan Witantra telah melepaskan Mahisa Bungalan pergi meninggalkan Kediri. Perjalanan ke Singasari yang cukup jauh itu telah ditempuhnya secepat dapat dilakukan. Namum Mahisa Bungalan masih harus juga bermalam di perjalanan.
Namun sebagai seorang perantau, maka ia sama sekali tidak merasa kesulitan di perjalanan.
kedatangan Mahisa Bungalan yang seorang diri di rumahnya, memang mengejutkan. Namun Mahendra pun kemudian mengangguk-angguk setelah ia mendengar penjelasan yang diberikan oleh Mahisa Bungalan.
“Jadi anakku harus dititipkan ke dalam istana?” bertanya Ki Wastu.
Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. Katanya, “Itulah agaknya tempat yang paling aman baginya”“
“Tetapi anakku tentu akan merasa dirinya terlampau kecil dan tidak sepantasnya diperlakukan demikian. Ia adalah anak padukuhan kecil yang tidak berarti, “ berkata Ki Wastu.
“Tetapi ia adalah isteri Pangeran Kuda Padmadata” jawab Mahisa Bungalan, “pada suatu saat, jika Tuhan mengijinkan, ia akan berdiri di samping seorang bangsawan di Kediri”
Ki Wastu menarik nafas dalam-dalam. Terasa jantungnya bergetar. Dengan suara yang dalam ia berkata, “Apakah yang dapat aku ucapkan. Aku telah berhutang budi tanpa dapat diperhitungkan lagi. Kalian telah berbuat terlalu banyak, melampaui kewajiban sebagai sesama”
“Tidak” jawab Mahendra, “yang kami lakukan barulah butir-butir debu yang tidak berarti sama sekali di hadapan Tuhan Yang Maha Agung”
Orang tua itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku akan ikut serta ke Kediri. Bukan saatnya bagiku untuk duduk menunggu, sementara orang lain berjuang bagi keluargaku. Bagi anak dan cucuku”
Mahendra tertawa. Katanya, “Jika demikian, aku tidak berkeberatan. Kita adalah pedagang permata yang membawa barang-barang curian. Pada suatu saat akan tertangkap dan dihadapkan kepada pemilik barang itu”
Demikianlah, maka segala persiapan pun dilakukan Mahendra dan Mahisa Bungalan telah memohon waktu menghadap. Kepada Ranggawuni, Mahendra menyampaikan segala pesan Mahisa Agni”
Ternyata, seperti yang diduga oleh Mahisa Agni, maka Maharaja Singasari itu pun tidak berkeberatan. Diserahkannya perempuan dan anak laki-lakinya itu kepada seorang emban dan di bawah pengawasan para pengawal istana itu.
“Tidak akan ada orang yang mengusiknya disini” berkata Mahendra kepada Ki Wastu.
Dalam pada itu, maka Mahendra dan Ki Wastu pun segera mempersiapkan diri. Mereka adalah pedagang-pedagang barang berharga dan perhiasan. Meskipun mereka berangkat dari Singasari bersamaan berangkatnya dengan Mahisa bungalan, namun Mahisa Bungalan lah yang lebih dahulu memasuki gerbang kota.
Sebagai seorang pedagang, Mahendra mempunyai beberapa orang kawan di Kediri. Ia segera menawarkan barang-barang yang dibawanya. Dengan sengaja ia memamerkan barang-barang yang diambil oleh Mahisa Agni dari istana Pangeran Kuda Padmadata. Sementara pada saat-saat tertentu ia masih harus berhubungan dengan Mahisa Agni dan Witantra, agar mereka tetap bersambungan, seperti yang direncanakan, ternyata bahwa perhiasan sangat mahal itu menarik perhatian beberapa pedagang di Kediri. Kawan-kawan Mahendra, menganggap barang-barang itu tentu milik seorang bangsawan yang sangat kaya.
Ternyata bahwa beberapa orang telah menghubungkan dengan berita pencurian yang terjadi di istana Pangeran Kuda Padmadata. Beberapa orang pedagang, kadang-kadang sering saling bersaing itu telah dengan sengaja menjebak Mahendra. Ia dihadapkan pada orang-orang yang mempunyai sangkut paut dan mendapat kepercayaan dari lingkungan istana Pangeran Kuda Padmadata, terutama mereka yang mendapat kepercayaan dari adik pangeran yang ternyata selalu dibayangi oleh kekuasaan yang tidak nampak dari adik kandungnya sendiri.
Salah seorang dari para pedagang itu ternyata mempunyai hubungan yang akrab dengan seorang pemimpin pengawal dari istana Pangeran Kuda Padmadata yang telah dipengaruhi pula oleh adik Pengeran itu. Ketika ia mendapat kabar tentang permata dan perhiasan itu, maka iapun berkata, “Bawa orang itu kepadaku. Katakan bahwa aku ingin membelinya”
“Apakah aku harus membawanya masuk ke istana” bertanya pedagang itu.
“Bodoh kau. Kalau ia tahu bahwa barang-barang itu barang curian, ia tentu tidak akan bersedia memasuki istana dengan membawa perhiasan itu kemari” sahut salah salah orang dari pada perwira pengawal itu.
“Nampaknya ia tidak tahu menahu tentang perhiasan yang hilang dari istana ini. Ketika aku mengatakan bahwa puteri mungkin akan membelinya, ia sama sekali tidak berkeberatan untuk menghadap”
Perwira pengawal itu termangu-mangu. Namun katanya kemudian, “datanglah besok. Aku akan masuk ke istana nanti dan membicarakannya dengan Pangeran Kuda Rukmasanti, adik Pangeran Kuda Padmadata”
Demikianlah maka hal itu pun kemudian benar-benar telah dibicarakan dengan Pangeran Kuda Rukmasanti. Apakah sebaiknya pedagang itu dibawanya masuk ke istana atau biarlah datang saja ke rumah pengawal itu.
“Jika ia memang tidak berkeberatan dan tidak mengetahui menahu tentang barang-barang yang hilang dari istana ini, bawalah ia kemari dengan demikian, maka langsung puteri akan dapat melihatnya, apakah barang-barang itu memang miliknya”
“Baiklah, Besok ia akan menghadap. Aku akan menghuhungi kawanku yang akan membawanya masuk ke dalam istana ini”
Seperti yang dikatakan oleh pengawal itu, maka Mahendra telah dihubungi oleh seorang pedagang yang memang sudah dikenalnya sebelumnya. Dengan tidak banyak sanggahan, maka Mahendra pun kemudian telah menjanjikan untuk membawa barangnya kepada Pangeran Kuda Rukmasanti.
“Tetapi aku belum tahu, bagaimana aku akan menghadap” berkata Mahendra.
“Kita akan pergi bersama-sama. Nanti sore, kita akan pergi ke istana itu”
Mahendra mengangguk-angguk. katanya, “Aku akan datang ke rumahmu. Kita akan bersama-sama pergi menghadap”
Pedagang itu mengangguk-angguk. Namun ia tersenyum di dalam hati. Jika benar-benar barang-barang itu milik Pangeran Kuda Padmadata yang hilang, maka Mahendra akan ditangkap. Daerah perdagangan permata akan kehilangan salah seorang dari mereka yang dianggap oleh pedagang yang menjebak Mahendra itu sebagai saingan yang berat.
Hal itu segera disampaikan oleh Mahendra kepada Mahisa Agni. Ia harus berada di istana itu, pada saat Mahendra dihadapkan kepada Pangeran Kuda Rukmasanti. Sementara itu, Witantra pun harus bersiap-siap untuk ditangkap bersama Mahisa Bungalan.
“Tetapi bagaimana dengan Ki Daredu. Ia tentu akan terkena kesalahan pula, karena ia telah memberikan tempat kepada kita” berkata Mahisa Bungalan.
“Mungkin ia akan ditangkap pula” berkata Mahisa Agni, “aku akan berbicara kepadanya. Seandainya ia benar-benar ditangkap, maka kita semuanya akan menjadi jaminan”
“Bagaimana jika ia dipaksa untuk mengatakan, siapakah kita sebenarnya” bertanya Mahisa Bungalan pula.
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian, “Baiklah. Aku akan memberikan beberapa pesan. Jika ia dipaksa untuk berkata tentang kita, biarlah ia menyebut kita dari salah satu nama padepokan atau sarang sekelompok penjahat. Biarlah ia menyebut kita sebagai pencuri-pencuri yeng memang hidup kita dari segala macam kejahatan”
“Dengan demikian, maka ia pun akan dikenakan hukuman” sahut Mahisa Bungalan.
“Ya. Dan adalah tugas kita untuk membebaskannya” sahut Mahisa Agni.
Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. Tetapi sebenarnyalah bahwa ia menaruh iba kepada Ki Daredu jika ia harus mengalami kesulitan karena tugas-tugas yang sebenarnya bersumber pada dirinya yang telah melibatkan din dengan sadar, ke dalam persoalan Pangeran Kuda Padmadata dengan keluarganya.
Namun agaknya Mahisa Agni dan Witantra yakin, bahwa mereka akan dapat melindungi Ki Daredu pada saatnya meskipun untuk satu dua hari, mungkin orang itu harus menjalani penahanan atas dirinya oleh para pengawal dari istana Pangeran Kuda Padmadata.
Ketika saatnya tiba, maka Mahendra yang telah menghubungi Mahisa Agni itupun segera mendapatkan kawannya Mereka bersama-sama telah pergi menghadap Pangeran Kuda Rukmasanti yang masih berada di istana Pangeran Kuda Padmadata.
Dalam pada itu Mahisa Agni ternyata agak lambat bekerja pada hari itu. Ketika ia datang dengan membawa sekeranjang rumput, wajahnya kelihatan gelisah.
“Kau memang gila” geram kawannya yang masih muda, “jika kita dimarahi karena kelambatan ini, maka semua itu adalah karena salahmu”
“Aku sedang sakit” jawab Mahisa Agni, “biasanya aku tidak merasa seperti sekarang ini. Nafasku sesak, dan badanku menggigil kedinginan”
“Persetan” geram kawannya yang masih muda, “itu pertanda bahwa kau akan mati”
Mahisa Agni tidak menjawab. Tetapi di belakang kandang, ia duduk dengan nafas yang terengah-engah.
“Jika kau mau mati, matilah” geram kawannya yang masih muda. Mahisa Agni tidak menjawab. Namun ia mulai menghitung waktu. Saatnya telah tiba, bahwa Mahendra akan datang menghadap.
Sebenarnyalah, bahwa sesaat kemudian, dua orang tamu telah memasuki halaman. Seorang dari mereka adalah Mahendra.
Mahisa Agni yang kemudian pergi ke seketeng, melihat kedua orang itu menambatkan kudanya di sudut halaman samping. Kemudian lewat seorang pengawal, kedatangan mereka diberitahukan kepada salah seorang pemimpin pengawal yang dengan sengaja memanggil pedagang perhiasan itu memasuki istana.
Kedua orang itu kemudian diterima di serambi samping, menghadap ke gandok. Sejenak mereka harus menunggu. Baru kemudian salah seorang pemimpin pengawal yang memanggil mereka datang, bersama Pangeran Kuda Rukmasanti, telah datang menemui mereka.
Mahisa Agni tidak dapat menyaksikan pembicaraan itu. Namun ia kemudian duduk di bawah sebatang pohon perdu. Dari tempatnya ia dapat melihat sudut serambi itu.
Sementara itu, maka seorang perwira pengawal itupun kemudian mengatakan kepada Mahendrabahwa Pangeran Kuda Rukmasantilah yang sebenarnya memerlukan perhiasan itu.
“Hamba membawa beberapa macam perhiasan yang sangat bagus” berkata Mahendra tanpa prasangka.
“Aku memang ingin yang paling bagus yang kau punyai” jawab Pangeran itu.
“Cobalah, perlihatkan semua perhiasan yang kau bawa” minta Pangeran itu.
Sejenak kemudian, Mahendra pun telah mengeluarkan sebuah perhiasan yang dibawanya di dalam sebuah peti kayu kecil. Perhiasan yang memang sangat bagus dan mahal.
Sejenak Pangeran Kuda Rukmasanti mengamat-amati perhiasan itu. Ia memang kurang memahami, apakah perhiasan-perhiasan itu adalah perhiasan puteri yang telah di curi orang dari bilik penyimpanannya.
“Tunggulah” berkata Pangeran itu, “aku akan memanggil orang yang akan memakainya. Mungkin ia dapat memilih”
“Silahkan Pangeran, silahkan. Hamba akan menunggu dengan senang hati” desis Mahendra.
Namun Mahendra itu menjadi berdebar-debar ketika ia diluar sadarnya berpaling ke halaman. Dilihatnya sekilas, dua orang pengawal berjalan hilir mudik di muka serambi itu.
“Mereka telah bersiap untuk menangkapku” berkata Mahendra di dalam hatinya.
Sementara itu, sejenak kemudian, maka Pangeran Kuda Padmadata telah hadir pula bersama isterinya dan kedua orang pengawal yang tidak pernah terpisah dari padanya.
Dengan berdebar-debar isteri Pangeran Kuda Padmadata itu memperhatikan perhiasan yang dibawa oleh Mahendra itu. Wajahnya sejenak kemudian nampak menegang. Kemudian dengan suara gemetar ia berkata, “Ini adalah perhiasanku sendiri yang telah hilang dicuri orang”
“Ha?” Pangeran Kuda Padmadata dan adiknya terbelalak. Meskipun dugaan itu telah ada, namun mereka terkejut juga mendengar pengakuan itu.
Dalam pada itu Mahendra pun menjadi pucat. Dengan suara gemetar ia berkata, “Apa maksud tuan puteri?”
Sebelum puteri itu menjawab, maka Pangeran Kuda Padmadata telah mendahului, “Barang-barang itu adalah barang kami sendiri”
“Bagaimana mungkin tuanku” berkata Mahendra.
“Letakkan semuanya” berkata Pangeran Kuda Rukmasanti, “ternyata kami menemukan apa yang kami cari”
Mahendra menjadi bingung. Namun sebenarnyalah bahwa segalanya itu telah diharapkannya terjadi.
Ketika puteri itu sudah yakin, bahwa barang-barang itu adalah miliknya yang hilang, maka pemimpin pengawal itupun kemudian berkata, “Kau telah salah memilih pembeli Ki Sanak. Dengan demikian, kami terpaksa menangkapmu”
“Tetapi aku tidak bersalah. Aku tidak mencuri” berkata Mahendra.
“Mungkin memang bukan kau sendiri yang melakukannya” berkata kawannya, “tetapi orang lain. Dan itu memang dapat terjadi sebagai suatu akibat buruk dari pekerjaan kita”
Mahendra memandang kawannya dengan wajah pucat. Katanya, “Apakah kau dapat menolongku?”
“Jika terbukti kau bersalah, Bagaimana mungkin aku dapat menolongmu” berkata pedagang itu.
“Tinggalkan orang ini disini” berkata salah seorang pemimpin pengawal itu, “kami akan menyelesaikan persoalan sendiri, tanpa menyerahkan kepada penguasa di Kediri, apalagi orang yang dikirim oleh raja Singasari itu”
“Baiklah” sahut pedagang kawan Mahendra itu, “aku akan mohon diri”
“Jangan kau kabarkan kepada siapapun sebelum segalanya menjadi jelas”
Pedagang itupun kemudian minta diri. Ia sama sekali tidak dapat membantu, betapapun Mahendra minta kepadanya.
Sepeninggal orang itu, maka para pengawal di istana itu telah membawa Mahendra ke dalam ruang khusus. Di hadapan Pangeran Kuda Padmadata dan Pangeran Kuda Rukmasanti, ia ditanya dengan tekanan, dari manakah ia berhasil mendapatkan barang-barang itu.
Untuk beberapa saat lamanya, Mahendra mengatakan bahwa barang-barang itu telah dibelinya dari orang yang tidak dikenal.
“Tuanku, hamba tidak tahu sama sekali, bahwa barang-barang ini adalah barang curian. jika hamba tahu, apakah hamba gila, telah menawarkan barang-barang ini kemari” berkata Mahendra.
“Mungkin kau memang tidak mengerti” desak seorang pengawal, “tetapi kau tentu tahu, siapakah yang menjual barang-barang ini. Kami tidak percaya bahwa kau tidak mengenalnya sama sekali”
“Hamba tidak ingat lagi” desis Manendra. Tetapi suaranya tenggalam dalam geram pemimpin pengawal itu sambil mencengkeram pundaknya, “Jangan bohong. Mungkin kau tidak bersalah. Tetapi jika kau berbohong tentang orang yang menyerahkan perhiasan ini kepadamu, maka kau akan mendapat hukuman yang lebih berat”
Mahendra menjadi gemetar. Sambil memandang pemimpin pengawal itu ia berkata, “Jangan tuan. Aku memang tidak bersalah”
“Jika asal dari barang-barang ini dapat diketemukan, kau memang tidak bersalah. Tetapi jika orang yang menjual barang-barang ini kepadamu tidak dapat diketemukan, maka kau dapat kami anggap sebagai orang yang telah memasuki istana ini dan mencuri beberapa barang perhiasan yang sangat mahal harganya”
Mahendra menjadi ketakutan. Namun kemudian katanya, “Tetapi tuan. Jika hamba menunjukkan mereka, apakah itu berarti bahwa hamba akan dibebaskan”
“Jika terbukti bahwa kau tidak bersalah karena ada orang lain yang dapat kami tangkap, maka kau akan kami bebaskan dari segala tuduhan” geram pengawal itu.
Mahendra termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Baiklah tuan. Aku akan mengatakannya. Tetapi aku mohon dapat dibebaskan dan aku akan segera pulang ke rumahku”
“Sebut, siapakah yang telah manjual barang-barang ini kepadamu he?” bentak pengawal itu.
Sejanak Mahendra ragu-ragu. Nemun kemudian katanya, “Aku membeli barang ini dari seorang bernama Gantar”
“Gantar” ulang pengawal itu hampir berbareng dengan desis dari bibir Pangeran Kuda Padmadata. Tetapi Pangeran itu kemudian mengerutkan keningnya. Pekatik yang telah membisikkan sesuatu kepadanya itu bernama Damar. Bukan Gantar.
Pengawal itupun kemudian bertanya dengan kasar kepada Mahendra, “Dimana rumah orang yang bernama Gantar itu”
“Rumahnya aku tidak tahu pasti tuan. Tetapi sesungguhnyalah aku tidak tahu pasti. Aku bertemu dengan orang itu dalam perlawatan kerja yang selalu aku lakukan. Menurut pengakuannya, untuk sementara ia berada di Kediri, di rumah seorang pekatik yang bernama Daredu”
“Jangan menyebut nama-nama yang dapat membingungkan kami” berkata pengawal itu.
“Tuan. Sebenarnyalah kami tidak mengerti yang sebaiknya aku lakukan. Tetapi seandainya tuan memerlukan, maka biarlah aku menunjukkan tempat tinggal orang itu” berkata Mahendra.
“Kau tidak berbohong?” bertanya pengawal itu.
“Aku berjanji. Sudah tentu aku tidak berani berbohong, karena aku berhadapan dengan tuan. Apalagi aku ingin agar aku dibebaskan dari segala tuduhan yang akan dapat menjerat aku” berkata Mahendra dengan gagap.
Salah seorang pemimpin pengawal yang memeriksa Mahendra itupun kemudian berpaling kepada Pangeran Kuda Rukmasanti sambil bertanya, “Apakah hamba dapat melakukannya Pangeran?”
Pangeran Kuda Rukmasanti termangu-mangu sejenak Namun kemudian katanya, “Lakukanlah. Bawalah pengawal, jika sewaktu-waktu kau perlukan”
Pemimpin pengawal itupun kemudian berkata kepada Mahendra, “Antarkan aku kepada orang yang kau maksud”
Mahendra pun kemudian dengan langkah gemetar meninggalkan ruang itu diikuti oleh pengawal yang telah memeriksanya bersama dua orang pengawal yang lain, sementara pedagang yang membawanya masih tetap tinggal di rumah Pangeran itu.
Dengan ragu-ragu Mahendra pun kemudian menerima kendali kudanya dari seorang pengawal yang mengikutinya sambil membentak, “Kita berkuda. Cepat”
Mahendra menerima kendali kuda itu. Namun ketika ia akan meloncat naik, pengawal itu membentaknya sekali lagi, “He, agaknya kau orang yang tidak mengerti unggah-ungguh”
Mehendra termangu-mangu. Namun akhirnya ia mengerti bahwa ia tidak boleh berkuda di halaman.
Demikianlah, maka bersama tiga orang pengawal Mahendra pergi ke rumah Ki Daredu.
Ternyata Witantra dan Mahisa Bungalan telah siap untuk ditangkap dan dibawa ke rumah Pangeran Kuda Padmadata. Meskipun ketika pemimpin pengawal itu bertanya kepadanya, mula-mula ia telah mengingkari.
“Ikutilah kami” berkata pemimpin pengawal itu, “bukan kami yang akan memutuskan segala sesuatu. Kalian akan kami bawa ke istana Pangeran Kuda Padmadata. Jika kalian memang tidak bersalah, maka kalian akari segera dibebaskan”
Ketika Witantra masih menolak, maka kesabaran pengawal itu pun hampir sampai kebatasnya, sehingga karena itu ia menggeram, “Kau bersedia atau tidak. Aku mendapat wewenang untuk memenggal lehermu”
Witantra dan Mahisa Bungalan tidak membantah lagi. Meskipun darah Mahisa Bungalan rasa-rasanya telah mendidih, namun ia harus mengikuti rencana yang telah disusun sebaik-baiknya. Karena itu, maka iapun tidak menyanggah lagi.
“Kami tidak bersalah” berkata Witantra, “kami mohon keadilan kepada Pangeran Kuda Padmadata”
Witantra dan Mahisa Bungalan pun menyiapkan kuda mereka pula. Bersama-sama dengan para pengawal dan Mahendra, merekapun telah pergi ke rumah Pangeran Kuda Padmadata.
Samentara itu, Mahisa Agni masih belum meninggalkan istana itu. Kepada gamel yang memelihara kuda Pangeran itu ia mengatakan bahwa tubuhnya terasa kurang enak. Karena itu, maka ia akan tinggal beberapa saat lagi, sehingga badannya tidak lagi menggigil dan kuat untuk berjalan kembali ke rumahnya.
“Singgahlah ke gubugku di sudut kebun itu” berkata gamel itu. Mahisa Angi termangu-mangu sejenak. Namun katanya, “Biarlah aku duduk di belakang kandang ini barang sejenak. Mungkin badanku akan segera terasa baik”
“Di pondokku kau akan mendapat minuman panas” berkata gamel itu pula.
Akhirnya Mahisa Agni singgah ke rumah gamel itu sambil mengucapkan banyak terima kasih.
Sementara itu, Ki Daredu pun menjadi sangat gelisah. Ia sudah mendengar segala rencana yeng sedang dilakukan oleh Mahisa Agni. Iapun percaya bahwa Mahisa Agni akan dapat menyelesaikan segala persoalan dan sekaligus melindunginya, justru karena ia tahu, siapakah Mahisa Agni itu.
Namun demikian, jika pada saatnya ia pun akan diambil pula, maka ia menjadi ragu-ragu, apakah ia akan dapat tetap merahasiakan segalanya.
“Tetapi aku masih belum diambil sekarang” berkata Ki Daredu di dalam hatinya, “mungkin tuanku Mahisa Agni dapat menyingkirkan keterlibatanku di dalam persoalan ini, atau para pengawal istana Pangeran Kuda Padmadata menganggap bahwa aku tidak terlibat kecuali memberikan tempat bagi mereka”
Dalam pada itu, maka Witantra dan Mahisa Bungalan telah dibawa menghadap Pangeran Kuda Rukmasanti dan Pangeran Kuda Padmadata.....
Bersambung....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar