Rabu, 03 Februari 2021

PANASNYA BUNGA MEKAR JILID 09-02

PANASNYA BUNGA MEKAR : 09-02
Sebenarnya bahwa kedua anak muda itu dengan tekun dan sungguh-sungguh telah melatih dirinya di bawah bimbingan ayah mereka sendiri. Seperti juga Mahisa Bungalan maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah menguasai sebagian besar dari dasar-dasar ilmu yang diturunkan oleh ayahnya. Karena itulah, maka ketika mereka dihadapkan kepada dua orang pengikut Ki Wangut, maka mereka segera mampu menyesuaikan diri.
Hanya karena mereka masih belum cukup berpengalaman, maka berhadapan dengan lawan mereka yang garang, maka harus mengerahkan segenap kemampuan serta ilmu yang ada pada mereka untuk mengimbanginya.

Sementara kedua anak muda itu bertempur dengan kedua lawannya, yang semakin lama menjadi semakin sengit, maka Mahendrapun bertempur semakin dashayat pula. Sebenarnyalah bahwa Ki Tunda Wara bersama kedua orang pengiringnya, merupakan lawan yang harus diperhitungkan dengan mungsuh-mungsuh. Diantara kegarangan dan keganasan Ki Tunda Wara, maka kedua pengiringnya telah menyerang mereka dengan buas dan liar. Tidak ada sesuatu yang mengekang mereka untuk melakukan apa saja, dan dengan cara yan bagaimanapun juga.

Tetapi Mahendra adalah seorang yang bukan saja me miliki ilmu yang tinggi, tetapi iapun memiliki pengalaman yang seolah-olah tidak ada batasnya. Ia pernah bertempur melawan berjenis-jenis ilmu. Yang garang, yang kasar dan yang liar sekalipun seperti yang dihadapinya saat itu.

Namun Ki Tunda Wara agaknya bukan seseorang yang sekedar menakut-nakutinya. Ia adalah seorang yang jarang melepaskan lawannya untuk tetap hidup.

Namun yang kemudian tumbuh di hati Ki Tunda Wara adalah sebuah umpatan yang menyakiti jantungnya sendiri. Ia merasa kurang cermat menilai keadaan. Betapapun juga ia berhati-hati, tetapi ia telah terjerumus seperti orang-orang yang melakukan kewajiban serupa sebelumnya

“Ternyata aku tidak lebih baik dari orang-orang Wangut yang telah terbunuh” geramnya di dalam hati.

Namun dengan demikian, kemarahannya menjadi semakin bergejolak di dalam hati. Selagi masih terbuka kesempatan, maka ia harus mengatasi kesulitan itu. Ia masih bertempur dengan dua orang kepercayaannya, melawan seorang tua yang seolah-olah telah mewakili anaknya yang bernama Mahisa Bungalan itu.

“Dua anak muda itu juga telah sangat mengganggu” geram Ki Tunda Wara di dalam hatinya.

Dengan penuh dendam dan kebencian, maka Ki Tunda Warapun telah bertempur semakin garang. Dengan hentakkan-hentakkan yang keras dan umpatan-umpatan kasar, ia memerintahkan kepada dua orang pengikutnya untuk bertempur semakin keras.

Mahendra menyadari kedudukannya Karena itu, maka iapun telah meningkatkan ilmunya pula. Bahkan kemudian, Mahendra pun menjadi marah ketika orang-orang yang bertempur melawannya itu menjadi semakin buas

Ketika kedua orang pengikut Ki Tunda Wara itu menyerangnya bersama-sama, maka Mahendra sempat melompat menghindar. Namun sekejab kemudian, Ki Tunda Warapun dengan garangnya telah melontarkan senjatanya yang tersembunyi. Orang itu membawa sejenis senjata beracun yang sangat berbahaya bagi lawan-lawannya.

Tetapi Mahendra segera mengenal senjata semacan itu. Ia pernah mengalami serangan-serangan serupa dan orang-orang lain yang pernah bertempur melawannya.

Sebenarnya bahwa senjata itu memang sangat berbahaya. Karena itu, maka Mahendra telah benar-benar dihadapkan kepada perlawanan yang telah mengancam jiwanya.

karena itulah, maka Mahendra pun harus bertempur dengan segenap kemampuannya uniuk segera melumpuhkan lawannya. Dengan demikian maka perlawanan Mahendra meningkat semakin garang. Bukan saja ia bergerak semakin cepat, tetapi, kekuatannya pun bagaikan menjadi berlipat, “Anak setan” geram Ki Tunda Wara, “kekuatan dan ilmu apakah yang telah merasuki orang ini”

Sementara itu, Ki Wastu pun telah berhasil mendesak Ki Wangut yang bertempur seorang melawan seorang.

Tidak hanyak yang dapat dilakukan oleh Ki Wangut kemudian melawan kecepatan bergerak Ki Wastu. Perlahan-lahan Ki Wastu telah mendorong Ki Wangut semakin surut.

Dengan garangnya, pedang Ki Wastu berputaran ujungnya seperti seekor lalat yang setiap saat dapat hinggap di bagian ubuh Ki Wangut yang manapun yang dikehendaki.

Sementara perisainya yang kecil itu rasa-rasanya dapat mekar melindungi seluruh tubuhnya. Tidak ada seujung duripun yang dapat disusupi senjata lawan yang berusaha dengan segenap kemampuannya.

Sejenak kemudian Ki Wangut pun telah menjadi semakin gelisah iapun merasa terjebak karena kebodohan dan keangkuhannya. Meskipun Mahisa Bungalan tidak ada di rumahnya, ternyata di rumah itu ada tiga orang yang dapat menggantikannya. Bahkan ayah Mahisa Bungalan itu ternyata memiliki kemampuan jauh lebih besar dari yang diduganya.

Tetapi Ki Wangut tidak ingin menyerah begitu saja. Dengan segenap kemampuannya ia telah menghentakkan senjatanya. Selangkah ia mendesak maju. Namun dalam padu itu, ia terkejut ketika terdengar teriakan ngeri di bagian lain dari pertempuran itu.

Kelika ia sempat berpaling maka dilihatnya seorany lawan Mahendra telah terluka. Sejenak ia terhuyung-huyung. Namun kemudian ia telah terjatuh bersandar sebatang pohon perdu. Tetapi hanya sesaat, karena sesaat kemudian, tubuhnya telah roboh di tanah.

Mahendra termangu-mangu sejenak. Dengan suara serak ia berkata, “Bukan maksudku untuk membunuhnya. Tetapi kau yang memaksa aku untuk membela diri. Jika kalian menghentikan serangan kalian, Maka kita masih sempat berbicara.

“Persetan” teriak Ki Tunda Wara yang telah kehilangan seorang pengiringnya yang terbaik, “Kau harus mati anak iblis. Aku sama sekali tidak terpengaruh oleh kematiannya. Ia justru telah mengganggu pemusatan kemampuanku”

“Jangan membohongi diri sendiri” jawab Mahendra sambil bertempur, “pertimbangkan baik-baik”

Ki Tunda Wara tidak menyahut tetapi justru ia menyerang semakin garang.

“Ki Sanak” berkata Mahendra, “kau telah memaksa aku untuk membunuh lagi. Kawanmu, dan jika kau tetap keras kepala, maka kau sendiripun akan mati. kecuali siapa yang tersedia dengan suka rela meninggalkan arena”

Tidak ada jawaban. Justru Ki Tunda Wara telah berteriak nyaring sambil menyerang Mahendra.

Tetapi Mahendra telah bersiap menghadapi segala kemungkinan. Ia telah berhasil mengurangi seorang lawannya, sehingga kedudukannya telah menjadi semakin baik.

Orang-orang yang menyaksikan di luar dinding halaman menjadi semakin tegang. Tetapi bahwa Mahendra telah berhasil mengurangi lawannya, telah membuat mereka menjadi sedikit tenang. Apalagi ketika mereka kemudian melihat, Mahendra menjadi semakin mendesak lawannya.

Yang tidak kalah menarik bagi anak-anak muda, adalah Mahisa Pukat dan Mahisa Murti. Kawan mereka bermain sehari-hari. Namun anak-anak muda itu menjadi heran melihat kemampuan kakak beradik itu.

Ternyata bahwa pertempuran itu tidak akan berlangsung terlalu lama lagi. Ki Wastu telah benar-benar menguasai lawannya. Ki Wangut yang bertempur dengan garangnya, perlahan-lahan tenaganya menjadi susut. Sementara Ki Wastu yang tua itu. seolah-olah tidak terpengaruh sama sekali oleh pertempuran yang sudah berlangsung beberapa saat itu. Ki Wastu ternyata memiliki ketahanan yang sangat mengagumkan, sedangkan Ki Wangut yang seakan-akan, telah memeras segenap kemampuannya itu, mulai diganggu oleh nafasnya yang bagaikan saling memburu. Tetapi Ki Wangut tidak dapat berbuat lain. Meskipun ia menyadari, bahwa ia harus mengatur kekuatannya agar ia tidak kehabisan tenaga. Tetapi melawan Ki Wastu tidak ada yang dapat dilakukannya, kecuali mengerahkan segenap kemampuan dan kekuatannya. Jika ia tidak berbuat demikian, maka kematiannya tentu akan datang semakin cepat.

Namun ternyata bahwa kematian itu lambat laun semakin terbayang pula di rongga matanya. Ia merasa bahwa ia tidak akan dapat mengalahkan orang tua itu. Orang yang telah mampu membunuh dua orang pengikutnya sekaligus.

“Anak-anak setan itulah yang telah mengganggu garangnya. Kehadiran Mahisa Pukat dan Mahisa Murti benar benar telah menggagalkan usahanya. Tanpa keduanya, maka ia akan bertempur bertiga bersama dua orang pengiringnya melawan orang tua itu, yang ternyata ia tidak mampu menghadapinya sendiri.

Terlintas maksudnya untuk melarikan diri. Namun itupun akan sia-sia, Di seputar halaman rumah itu telah penuh dengan anak-anak muda.

Namun sejenak komudian, Ki Wangut itupun telah dikejutkan lagi oleh suara orang teriakan. Ternyata seorang lagi lawan Mahendra telah terlempar jatuh. Bahkan demikian kerasnya, sehingga ia telah terbanting membentur dinding.

Agaknya Mahendra telah mempergunakan kakinya untuk menghatam lawannya. Ia masih berharap bahwa ia akan dapat menangkap mereka hidup-hidup untuk mendengar keterangannya. Karena itu, maka ia telah menyerang orang itu dengan hentakkan kaki tepat pada lambungnya.

Tetapi ia tidak tahu pasti, apakah orang itu masih dapat bertahan untuk hidup justru karena kepalanya membentur dinding halaman, sehingga memungkinkannya menjadi cidera karenanya, atau justru telah terbunuh.

Namun dengan demikian, maka lawan Mahendra telah berkurang sehingga tinggal seorang saja. Seorang yang memiliki kemampuan paling tinggi di antara ketiga orang lawannya. Tetapi, ternyata bahwa orang itu tidak akan mampu mengimbangi kemampuan Mahendra.

Seperti Ki Wangut, maka Ki Tunda Wara seolah-olah telah dapat melihat akhir dari pertempuran itu. Seolah-olah ia telah dapat melihat dirinya sendiri, mati terkapar di halaman itu dengan luka yang menganga di dadanya. Tetapi ia tidak akan dapat melepaskan diri dari akibat seperti yang sudah terbayang itu. Ia tidak akan dapat mengingkari kenyataan, bahwa ia telah terjerat olah nafsu yang menyala pada adik seperguruannya untuk mendapatkan harta benda yang melimpah. Namun yang akhirnya telah menyeretnya ke dalam bayangan yang sangat kelam.

Dalam saat-saat terakhir itu, maka Ki Tunda Wara justru telah bertekad untuk bertempur dengan segenap kemampuan yang ada padanya. Karena itu. maka Ki Tunda Wara itu telah mengerahkan segenap kemampuannya. Ia telah membangunkan ilmu puncaknya untuk menghancurkan kekuatan Mahendra.

Namun ia menjadi sangat kecewa. Mahendra sama sekali tidak dapat dilawannya. Apapun yang dilakukannya, seolah-olah tidak berarti apa-apa buat lawannya. Bahkan, darahnya bagaikan mendidih ketika ia mendengar Mahendra berkata, “Menyerahlah Ki Sanak. Apakah kita masih dapat berbicara”

“Anak iblis” geram Ki Tunda Wara. Dengan loncatan yang garang ia telah menghentakkan segenap ilmunya menghantam Mahendra.

Tetapi usahanya itu sama sekali tidak berarti. Mahendra yang masih belum sampai ke ilmu puncaknya, ternyata masih mampu bertahan, meskipun ia harus bergeser beberapa langkah surut.

Tetapi Ki Tunda Wara pun menyadari, bahwa lawannya masih belum bersungguh-sungguh ingin membunuhnya. Mahendra masih lebih banyak menghindar, menangkis dan sekali-kali membenturkan senjatanya. Tetapi masih juga terdengar Mahendra berkata, “Apakah kau benar-benar telah kehilangan akal?”

Ki Tunda Wara tidak menyahut. Ia benar-benar tidak ingin menyerah. Apapun yang terjadi atas dirinya.

Namun dalam pada itu, Ki Tunda Wara harus melihat kenyataan yang sangat pahit. Sejenak kemudian, ia melihat Ki Wangut terdesak tanpa dapat berbuat sesuatu lagi. Ki Tunda Wara melihat, betapa senjata Ki Wastu menghujam di dada adik seperguruannya.

Namun tidak terdapat jerit dan sesambal. Yang terdengar justru umpatan kasar. Tetapi umpatan itu segera terputus, ketika orang itu terjatuh di tanah. Ki Wangut masih sempat menggeliat. Namun sejenak kemudian maka nafasnyapun telah lenyap dari rongga dadanya.

Dalam pada itu, Ki Tunda Wara tidak dapat melihat arti dari perjuangannya selanjutnya. Adik seperguruannya yang dibakar oleh nafsunya untuk memburu harta benda, ternyata telah mengorbankan nyawanya. Karena itu, ketika Ki Wangut benar-benar telah tidak dapat bernafas lagi, maka Ki Tunda Warapun melompat mengambil jarak dari lawannya sambil berkata, “Aku tidak akan melawan lagi”

Ki Tunda Wara menjadi berdebar-debar ketika ia melihat Mahendra menahan senjatanya. Bahkan kemudian ia tidak memburunya dengan senjata teracu.

“Kau menyerah?” bertanya Mahendra.

“Bukan menyerah. Tetapi aku urungkan niatku untuk bertempur lebih lama lagi, karena adik seperguruanku telah terbunuh. Yang aku lakukan adalah membela Wangut dalam perjuangannya. Tetapi ia sudah mati”

“Pengecut” tiba-tiba saja terdengar dua orang yang masih bertempur melawan Mahisa Pukat dan Mahisa Murti mengumpat hampir bersamaan.

“Tutup mulutmu” teriak Ki Tunda Wara, “lurahmu sudah mati. Apa lagi yang dapat kalian lakukan?”

“Kami akan berjuang sampai mati” sahut yang seorang.

“Tidak ada kata-kata menyerah di dalam jalur darahku” teriak yang seorang.

Ki Tunda Wara menjadi merah menyala. Tetapi sebelum ia berbuat sesuatu, Mahendra talah berkata, “Jangan hiraukan. Tetapi aku ingin arti dari sikapmu. Letakkan senjatamu”

“Aku tidak menyerah. Tetapi aku mengurungkan niatku” katanya mengulang.

“Sebelum kedua orang kawanmu menjadi korban?” bertanya Mahendra.

“Itu adalah karena kebodohannya sendiri, aku tidak memerlukan mereka. Aku juga tidak memerlukan kedua orang pengikut Wangut itu”

“Persetan Pengecut” teriak salah seorang dari keduanya, “aku kira kau benar-benar malampaui kejantanan Ki Lurah. Tetapi ternyata Ki Wangut jauh iebih berharga dari padamu. Jika ia melihat kelicikanmu, tentu adik seperguruanmu itu tidak mau lagi mengakumu sebagai saudara seperguruannya”

“Tutup mulutmu” teriak Ki Tunda Wara, “atau aku akan membunuhmu sama sekali”

“Jangan berbuat kesalahan untuk yang kedua kalinya” Mahisa Pukat lah yang menjawab, “yang pertama kau adalah seorang pengecut. Dan yang kedua, kau akan berkhianat terhadap kawan-kawanmu. Kau sangka, aku tidak dapat membunuhnya jika ia benar-benar tidak mau menyerah”

“Anak iblis” teriak Ki Tunda Wara, sementara lawan Mahisa Pukat itupun berteriak pula, “jangan sombong anak muda. Aku belum kau kalahkan”

“Sebentar lagi” jawab Mahisa Pukat. Lawannya tidak sempat menjawab. Dengan garangnya Mahisa Pukat menyerang lawannya seperti badai menghantam gunung.
Dalam pada itu, Mahendra yang berdiri berhadapan dengan Ki Tunda Wara pada jarak beberapa langkah, berkata, “Marilah kita berbicara tentang keadaan kita”

Ki Tunda Wara menjadi tegang. Ia melihat lawan adik seperguruannya yang telah kehilangan lawannya itu melangkah perlahan-lahan mendekatinya.

“Menyerahlah. Jangan terlalu mengingat harga diri jerkata Mahendra kemudian”

“Gila” teriak Ki Tunda Wara, “sudah aku katakan, aku tidak menyerah”

“Jika demikian, kita akan bertempur terus. Aku masih mempunyai waktu beberapa saat sambil menunggu kedua anak-anakku itu menyelesaikan lawan-lawannya”

“Kau gila Mahendra. Kau terlalu sombong seperti anak-anakmu. Kau seolah-olah dapat menebak apa yang terjadi. Tetapi aku masih belum merasa kau kalahkan”

“Baiklah” berkata Mahendra, “kita akan bertempur terus. Sementara Ki Wastu yang sudah tidak mempunyai lawan lagi, akan menyaksikan, siapakah yang kalah dan siapakah yang menang di antara kita”

Ki Tunda Wara menjadi ragu-ragu. Ia tahu pasti, bahwa ia tidak akan dapat melawan Mahendra dengan cara apapun juga. Iapun tidak akan dapat melarikan diri, karena di seputar halaman itu telah penuh anak-anak muda bersenjata telanjang. Meskipun mereka tidak berani terjun ke arena pertempuran, namun mereka akan dapat menghalangi langkahnya, sehingga Mahendra akan dapat menghujamkan senjatanya pada punggungnya.

“Semuanya akan sia-sia” katanya di dalam hati. Dan penyesalan itupun bergejolak semakin keras di dalam hatinya.

Tetapi semuanya sudah terjadi. Kedua pengiringnya sudah terbunuh. Adik seperguruannya yang telah menyeretnya ke dalam persoalan ini pun telah mati. Karena itu. maka akhirnya ia berkata, “Aku menyerah” Ki Tunda Wara telah meletakkan senjatanya. Kemudian atas perintah Mahendra ia melangkah surut.

“Serahkan tanganmu” berkata Mahendra, “aku akan mengikatnya dengan lulup kayu so”

Ki Tunda Wara mengerutkan keningnya. Dengan suara bergetar ia berkata, “Itu sesuatu penghinaan”

“Itu bukti bahwa kau benar-benar menyerah” sahut Mahendra, “aku akan membawamu ke Singasari. Tidak ada tempat di sini untuk menyimpanmu”

Wajah Ki Tunda Wara menjadi merah padam. Tetapi ia benar-benar dihadapkan pada suatu kenyataan yang sangat pahit. Adik seperguruannya yang menyeretnya ke dalam keadaan itu ternyata sudah terbunuh.

Sementara itu ia masih mendengar salah seorang pengikut Ki Wangut berterirak, “Pengecut. Biarlah tanganmu dan kakimu diikat bukan saja dengan kayu so. Tetapi biarlah diikat dengan tampar ijuk yang paling kasar Jangan mengharap bahwa kau akan diikat dengan cinde berwarna Jingga”

Ki Tunda Waia menggeram. Tetapi sebelum ia menjawab maka yang terdengar adalah pekik melengking. Orang yang baru saja berteriak itupun ternyata terdorong beberapa langkah. Kemudian iapun terjatuh dengan darah yang mengalir dari dadanya, ternyata satu dari sepasang pedang Mahisa Pukat telah menyambarnya.

Orang itu tidak dapat mengeluh lagi. Iapun tidak dapat mengumpat. Demikian ia terbanting, maka nafasnyapun telah putus pula karenanya.

Lawan Mahisa Murti yang pantang menyerah itu menjadi seperti seekor harimau gila. la menyerang sambil berteriak-teriak bagaikan memecah langit. Namun Mahisa Murti dengan hati-hati melawannya, sehingga ia sama sekali tidak terpengaruh oleh keadaan lawannya.

Dalam pada itu, Mahendra, Ki Wastu, Mahisa Pukat dan bahwa Ki Tunda Wara sendiri telah memperhatikan tingkah laku orang itu dengan hati yang berdebar-debar, seolah orang itu telah kehilangan nalarnya sama sekali.

Demikianlah, maka sesaat kemudian terdengar Mahendra berkata, “Ki Sanak. Apakah kau masih mendengar Suaraku?”

Ternyata orang itu tidak menghiraukannya. Ia masih bertempur seperti orang yang kehilangan kemampuan untuk mengendalikan dirinya.

Sebenarnyalah orang itu telah putus asa. Pemimpinnya telah mati terbunuh. Seorang kawannya pun telah terbunuh pula, sementara orang yang dianggapnya memiliki kelebihan melampui pemimpinnya, justru pengecut dan bahkan telah menyerahkan tangannya untuk diikat.

Karena itulah, maka tidak ada yang dapat dilakukan kecuali membunuh diri. Jika ia masih mampu, maka biarlah ia mati bersama dengan lawannya.

Namun Mahisa Murti cukup berhati-hati. Ia tidak terseret dalam irama pertempuran yang buas dan liar. Ia masih mampu melihat keadaan dengan hati yang bening, justru karena ia yakin, bahwa ia akan mampu mengatasi keadaan yang bagaimanapun juga liarnya.

Sementara itu, memang tidak ada penyelesaian yang lain dari pada menghentikan perlawanan itu dengan kemungkinan yang paling pahit. Itulah agaknya yang telah membayang di hati Mahisa Murti.

Dengan kemampuannya mempermainkan pedang rangkapnya, ia berusaha untuk melukai lawannya. Ia memang ingin mencoba untuk dapat menangkapnya hidup-hidup.

Dengan sapuan mendatar ia telah mendorong lawannya untuk meloncat mundur. Namun dengan teriakkan nyaring, lawannya telah meloncat menyerang dengan garangnya.

Mahisa Murti sempat mengelak kesamping, sementara itu pedang di tangan kanannya telah terjulur mematuk pundak.

Orang itu menyeringai menahan sakit. Namun ternyata luka itu sama sekali tidak mempengaruhi. Orang itu masih meloncat menyerang sambil menggeram.

Sekali lagi Mahisa Murti mengelak. Dan sekali lagi pedangnya terjulur. Yang terdengar adalah sebuah teriakan nyaring. Pedang Mahisa Murti telah menyentuh lambung.

Betapun darah telah membasahi tubuhnya, tetapi sama sekali tidak mengurangi keliarannya. Ia justru bagaikan benar-benar gila. Darah yang memerah itu membuatnya menjadi semakin garang. Matanya pun bagaikan menjadi merah seperti darahnya.

Mahisa Murti melihat keadaan lawaknya yang telah kehilangan akal itu. Tiba-tiba saja hatinya dijalari oleh perasaan ngeri yang luar biasa. Darah, luka dan tatapan mata yang memancarkan kebencian dan dendam itu, seolah-olah membuat lawannya bagaikan hantu yang melihat bangkai tergolek di padang yang dikerumuni oleh anjing- anjing liar, sementara di udara burung-burung gagak terbang melingkar-lingkar sambil memekik tinggi.

Dengan penuh nafsu orang itu menyerang tanpa pertimbangan nalar lagi. seolah-olah ia sedang berebut dengan anjing-anjing liar dan burung pemakan bangkai yang satu-satu menukik dari udara.

Perasaan ngeri yang sangat telah mencengkam jantung Mahisa Murti. Justru karena itulah, maka tiba-tiba saja ia telah berloncatan dengan tangkasnya. Menyerang lawannya dengan tusukan langsung kearang jantung. Tetapi ketika lawannya berusaha mengelak, maka serangan mendatar telah menebasnya, langsung menyobek perutnya.

“Gila” Justru Mahisa Murtilah yang berteriak. Ia tidak sempat melihat lawannya terhuyung-huyung dan jatuh di tanah, karena iapun kemudian berlari meninggalkannya dan seolah-olah ia berlindung di punggung ayahnya.

Mahendra menarik nafas dalam-dalam. Memang sangat mengerikan. Tetapi ia tidak dapat menyalahkan anaknya. Mahisa Murti memang sangat kurang pengalaman, sehingga menghadapi peristiwa yang mengerikan itu, hatinya menjadi kecut.

“Sudahlah” berkata Mahendra, “cobalah mengusai perasaan kalian masing-masing. Yang terjadi di halaman rumah ini, bukannya yang kita maksudkan. Kita telah dihadapkan pada suatu keadaan tanpa dapat mengelak lagi”

Mahisa Pukat pun berdiri membeku. Ia telah memalingkan wajahnya dari pandangan yang mengerikan itu.

Dalam pada itu, maka pertempuran di halaman itupun telah terhenti. Orang-orang yang datang menyerang isi halaman itu telah terbunuh kecuali Ki Tunda Wara yang menyerah.

Namun dalam pada itu, Mahendra pun berkata kepada Ki Wastu, yang berdiri termangu-mangu, “Ki Wastu, apakah kedua orang pengikut orang ini telah mati pula?”

Ki Wastu segera menghampiri kedua orang pengikut Ki Tunda Wara. Tetapi ternyata keduanyapun telah terbunuh. Yang terlempar oleh kaki Mahendra ternyata telah membentur dinding sedemikian kerasnya, sehingga tulang kepalanya menjadi retak karenanya.

“Ki Sanak” berkata Mahendra kepada Ki Tunda Wara, “kau adalah satu-satunya orang yang masih hidup dari antara kawan-kawanmu. Karena itu, kita akan pergi bersama-sama ke Singasari. Aku akan membawamu menyusul anakku Mahisa Bungalan. Entah, apakah yang akan terjadi atasmu di Singasari. Tetapi orang-orang di Singasari bukannya binatang buas yang selalu rakus untuk minum darah korbannya”

Ki Tunda Wara yang merasa tidak mampu berbuat apa-apa lagi itu hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “Yang terjadi atasku nilalah satu kekeliruan besar. Aku adalah orang yang cukup berhati-hati. Tetapi aku masih juga terjerumus ke dalam keadaan yang pahit ini karena aku tidak dapat mengelakkan diri dari sesambat adik seperguruanku”

“Kau harus menjelaskan semuanya kepada Mahisa Bungalan dan mungkin orang-orang yang dihubunginya”

“Aku tidak banyak mengetahui persoalannya. Keteranganku tidak akan ada artinya” berkata Tunda Wara.

“Biarlah orang-orang Singasari mengambil kesimpulan. Aku akan mengantarkanmu. Jaraknya sudah dekat”

Ki Tunda Wara tidak dapat membantah lagi. Sementara orang-orang padukuhan itu. membantu menyelenggara kan mayat-mayat yang terkapar di halaman, maka Mahendra pun bersiap-siap untuk pergi ke Singasari. Sementara itu, Mahendra benar-benar telah mengikat tangan dan kaki Ki Tunda Wara di dalam sebuah bilik yang tertutup rapat. Tetapi ia tidak benar-benar mengikatnya dengan lulup kayu so, tetapi dengan janget rangkap ganda.

“Maaf Ki Sanak” berkata Mahendra, “meskipun aku tahu, bahwa kau akan dapat memutuskan tali ini dengan hentakan ilmumu, dan kemudian memecahkan dinding kayu dari bilik ini, namun kau tentu memerlukan waktu. Sementara aku akan dapat datang mencegahnya. Kau akan berada di bawah pengawasan kedua anak-anakku, namun mereka akan berada diluar dinding”

Baru setelah semuanya selesai, maka Mahendra pun minta kepada Ki Wastu untuk berhati-hati bersama kedua anak-anaknya menunggui perempuan anak Ki Wastu dan cucunya yang sedang diburu itu.

“Aku akan pergi ke Singasari mengantarkan orang itu” berkata Mahendra.

Ki Wastu menundukkan kepalanya. Dengan suara yang dalam ia berkata, “Betapa besar pertolongan yang telah kami terima. Sejak anakku itu di simpan di hutan tertutup, melepaskannya dan membawanya kembali kepadaku. Angger Mahisa Bungalan telah menyelamatkan kami dari sergapan empat orang pengikut orang yang terbunuh itu. Dan kemudian aku sudah membuat seisi rumah ini menjadi sangat sibuk dan bahkan mempertahankan nyawanya pula”

Mahendra tertawa. Katanya, “Aku tidak berbuat apa-apa selain menetapi kewajibanku bagi sesama. Sudah sewajarnya bahwa kita akan saling menolong. Sebenarnyalah bahwa Ki Wastu memiliki kemampuan menyelamatkan diri sendiri”

“Tetapi aku tidak dapat berbuat apa-apa” jawab Ki Wastu.

“Sudahlah” berkata Mahendra, “marilah kita berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa, agar kita selalu mendapatkan perlindungannya. Mudah-mudahan di Singasari aku mendapat petunjuk lebih jelas tentang keadaan Pangeran Kuda Padmadata”

Ki Wastu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku dan anak cucuku telah membuat bukan saja seisi rumah ini menjadi sibuk dan bahkan mempertaruhkan nyawa, tetapi ternyata aku sudah membuat seisi padukuhan ini terlibat dalam persoalan yang sebenarnya sangat bersifat pribadi”

Mahendra tersenyum. Katanya, “Sudahlah, tenangkanlah hati anak cucumu”

Ki Wastu mengangguk dalam-dalam. Ia benar-benar mereka berhutang budi kepada keluarga itu. Bukan saja itu. Bukan saja ia telah mendapat lompat, tetapi ternyata ia telah mendapatkan perlindungan mereka pula. Tanpa perlindungan keluarga Mahendra, maka anak dan cucunya itu tentu telah dicincang menjadi berkeping-keping.

Sejenak kemudian, maka Mahendra pun telah memberikan pesan-pesan kepada Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, agar mereka berhati-hati.

Menurut perhitungan Mahendra, untuk beberapa saat lamanya, tidak akan ada lagi bencana yang mengejar perempuan dan anaknya itu. Mereka tentu memerlukan waktu untuk mempersiapkan tindakan yang akan mereka ambil selanjutnya, jika mereka mengetahui apa yang telah terjadi. Dan itu akan memerlukan waktu yang cukup.

“Aku segera pulang” berkata Mahendra, lalu aku titipkan kalian kepada Ki Wastu”
“Ah” desis Ki Wastu, “kamilah yang menitipkan diri kami disini”

Mahendra tertawa. Katanya, “Sebenarnya aku menitipkan anak-anakku. Mereka masih terlalu hijau, sehingga mereka harus selalu mendapat pengawasan. Lalu katanya kepada kedua anak-anaknya, “ikutilah petunjuk-petunjuknya”

Mahisa Pukat dan Mahisa Murti mengangguk. Merekapun mengerti bahwa orang tua yang datang bersama kakaknya Mahisa Bungalan itu adalah seorang yang memiliki ilmu yang tinggi, meskipun belum setingkat dengan ayahnya

“Kami akan melakukan semua pesan ayah” berkata Mahisa Pukat kemudian.

Mahendra mengangguk-angguk. Namun iapun yakin, bahwa keadaan akan tidak bertambah buruk, la tidak akan terlalu lama beradadi Singasari.

Demikianlah, maka Mahendra pun kemudian meninggalkan rumahnya membawa Ki Tunda Wara ke Singasari. Ia melepaskan segala ikatan dan membiarkan Ki Tunda Wara berkuda bersamanya seperti dua orang dalam perjalanan.

Ternyata Ki Tunda Wara telah menerima keadaannya dengan ikhlas. Sekilas iapun teringat kepada padepokannya. Kepada beberapa orang perempuan yang disimpannya dengan kekerasan. Dan kepada para pengikutnya yang patuh dan takut kepadanya.

“Dalam keadaan ini mereka tidak berarti lagi bagiku” berkata Ki Tunda Wara di dalam hatinya. Lalu katanya, “Ternyata bahwa aku telah bertemu seorang perkasa yang meskipun baik hati, tetapi agak sombong juga. Ia yakin bahwa aku tidak akan dapat berbuat apa-apa. Aku tidak akan dapat melawannya, hingga aku dibiarkannya berkuda seperti seorang sahabatnya”

Sebenarnyalah bahwa Ki Tunda Wara merasa tidak akan dapat berbuat apa-apa lagi. Ketika ia memasuki gerbang Singasari dan berkuda diantar orang-orang yang semakin ramai, ada juga niatnya untuk melarikan diri. Namun justru karena sikap Mahendra, ia menjari ragu-ragu dan bahkan membatalkannya sama sekali.

“Gila” geramnya, “jika anak iblis ini mengancamku dan menakut-nakutiku, aku memang bernafsu untuk menyusup di antara orang banyak. Ada kemungkinan, aku dapat melenyapkan diri diantara mereka. Orang ini pada suatu saat tentu lengah”

Tetapi sikap Mahendra benar-benar telah mengikatnya untuk tetap tunduk dan menurut perintahnya.

Ki Tunda Wara kadang-kadang mengumpat di dalam hatinya jika ia memperhatikan sikap Mahendra. Kadang-kadang Mahendra yang bertemu dengan satu dua orang yang dikenalnya, berbicara dan bahkan bergurau tanpa memperhatikan Ki Tunda Wara. Tetapi Ki Tunda Wara itu sudah kehilangan segala nafsunya untuk melepaskan diri dari tangan Mahendra.

“Aku akan menjadi buruan. Meskipun mereka tidak mengetahui tempat tinggalku, tetapi jika mareka mencari dengan sungguh-sungguh, tentu akan dapat mereka ketemukan juga. Padepokan itu akan mereka hancurkan menjadi karang abang. Dan pengikut-pengikutku yang tidak bersalah akan menjadi korban juga. Biarlah hal itu dilakukan atas padepokan Wangut yang tamak itu” katanya di dalam hatinya.

Karena itu, maka perjalanan Mahendra dan Ki Tunda Wara tidak terhambat sama sekali. Mereka langsung menuju ke istana Singasari untuk menemui Mahisa Agni, karena Mehendra menganggap bahwa Mahisa Bungalan tentu berada di sana pula.

Sebenarnyalah bahwa ketika Mahendra memasuki tempat tinggal Mahisa Agni, maka dijumpainya Mahisa Bungalan sedang di terima oleh Mahisa Agni di ruang belakang.

Kedatangan Mahendra dengan seseorang telah mengejutkan mereka. Apalagi Mahisa Bungalan. Kepergian ayahnya berarti kekosongan di rumahnya. Dengan demikian, akan dapat membahayakan bukan saja Ki Wastu dan anak cucunya, tetapi tentu juga Mahisa Pukat dan Mahisa Murti.

Mehendra yang kemudian duduk, di hadapan Mahisa Agni itupun nampaknya melihat kegelisahan di hati anaknya. Karena itu, ketika Mahisa Agni telah menanyakan keselamatannya di perjalanan, maka iapun segera berkata, “Mahisa Bungalan. aku terpaksa meninggalkan rumah kita untuk mengantarkan tamu yang akan menyusulmu”

“Siapakah orang itu ayah?” bertanya Mahisa Bungalan.

“Aku belum mengenalnya”

Wajah Mahisa Bungalan menjadi merah. Katanya, “Tetapi itu sangat mendebarkan. Apakah orang ini benar-benar ingin mencari aku seperti yang dikatakannya, karena akupun belum mengenalnya pula”

Mahendrapun segera menyahut, “Atau sekedar memancing agar aku pergi meninggalkan rumah sehingga orang yang bermaksud jahat akan dapat dengan mudah melakukannya?”

Wajah Mahisa Bungalan menegang. Sementara Ki Tunda Wara hanya menundukkan kepalanya saja.

“Mahisa Bungalan, sebenarnyalah yang kau cemaskan itu sudah terjadi”

Mahisa Bungalan dan Mahisa Agni terkeiut mendengar keterangan itu. Dengan gelisah Bungalan bertanya, “Jadi apakah maksud ayah datang dengan orang ini? Apakah yang telah terjadi di rumah kita?”

“Salah seorang dari mereka yang datang adalah orang ini” berkata Mahendra.

Wajah Mahisa Bungalan menjadi semakin tegang.

Sementara itu Mahendra pun segera menceriteakan apa yang telah terjadi. Dan iapun mengatakan, siapakah orang yang telah dibawanya itu.

Mahisa Agni dan Mahisa Bungalan termangu-mangu sejenak. Namun keduanya menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada dalam Mahisa Agni bertaka, “Jadi, telah terjadi kematian di halaman rumahmu Mahendra?”

“Apa boleh buat” jawab Mahendra, “kami tidak dapat menghindarnya. Yang seorang ini yang menurut keterangannya bernama Tunda Wara, dan akan aku serahkan kepada yang berwajib di Singasari”

Mahisa Agni dan Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. Semuanya menjadi jelas bagi mereka. Orang yang datang bersama Mahendra. yang nampaknya seperti seorang sahabat yang bepergian bersama itu, ternyata adalah orang yang ingin melakukan pembunuhan yang sangat keji.

“Mengerikan sekali Ki Sanak berkata Mahisa Agni” jika yang kau rencanakan itu benar-benar terjadi, maka seorang perempuan dan seorang anak laki-lakinya akan mati terkapar di halaman. Mungkin kalian akan memotong bagian dari badannya untuk bukti bahwa kalian telah melakukannya”

Ki Tunda Wara menarik nalas dalam-dalam. Katanya, “Bukan akulah yang sebenarnya ingin melakukannya tuan tetapi aku sekedar menuruti tangis adik seperguruanku. la mendapat upah dari seseorang untuk melakukan perbuatan yang terkutuk itu”

“Dan kau membantunya pula” potong Mahisa Bungalan.

Ki Tunda Wara menunduk semakin dalam. Tetapi kemudian sambil mengangguk ia menjawab, “Kau benar anak muda. Aku telah membantunya”

Mahisa Agni beringsut sejenak. Dengan sareh ia mencoba menanyakan segala sesuatu yang diketahui oleh Ki Tunda Wara tentang rencana adik seperguruannya. Tetapi Ki Tunda Wara tidak banyak mengetahuinya. Iapun tidak mengetahui siapakah orang yang telah mengupah adiknya itu.

“Saudara laki-laki Pangeran Kuda Padmadata atau orang lain? Atau barangkali ada nama perempuan lain sebagai sisihan Pangeran Kuda Padmadata?”

“Semuanya tidak jelas bagiku” jawab Ki Tunda Wara, “aku tidak banyak mempersoalkan mula-mula. Namun itu adalah satu kesalahan bagiku sehingga aku sekarang terjerumus ke dalam kesulitan yang parah. Aku adalah seorang tawanan, yang mungkin akan mengalami perlakuan yang tidak menyenangkan jika aku tidak dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka yang akan memeriksa aku”

“Kenapa?” bertanya Mahisa Bungalan.

“Aku akan diperas untuk memberikan keterangan yang memang tidak aku ketahui” desis Ki Tunda Wara.

“Tidak” sahut Mahisa Agni, “kau tidak akan diperlakukan kasar. Aku percaya akan segala keterangan mu. Kau memang tidak banyak mengetahui persoalan ini. Kau terlibat ke dalam satu keadaan yang tidak kau pahami”

“Aku menyesal” jawab Ki Tunda Wara.

“Meskipun demikian” berkata Mahisa Agni kemudian, “kau akan tetap menjadi seorang tawanan. Aku akan menempatkan kau dalam pengawasan yang kuat, karena aku tahu bahwa kau adalah seorang yang memiliki kemampuan yang sangat tinggi”

“Jika demikian, aku tidak akan tertangkap” desis Ki Tunda Wara.

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Namun katanya kemudian, “Tetapi meskipun demikian, tidak ada dinding kayu yang dapat menahanmu Ki Sanak. Karena itu, kau memerlukan pengawasan yang kuat”

Ki Tunda Wara mengangguk sambil menjawab, “Aku seorang tawanan. Aku menyerahkan diriku kepada kebijaksanaan tuan. Namun aku berjanji, jika masih ada sedikit kepercayaan kepadaku, bahwa aku tidak akan lari”

Mahisa Agni memandang Ki Tunda Wara sejenak. Lalu katanya, “Aku percaya. Tetapi itu bukan berarti bahwa aku melepaskan niatku untuk memberikan pengawasan”

Ki Tunda Wara tidak menyahut, meskipun kepalanya terangguk-angguk kecil.

Demikianlah, maka Ki Tunda Wara pun diserahkan kepada seorang Senopati muda untuk menempatkannya dalam sebuah bilik yang dijaga kuat. Sementara Mahisa Agni, Mahisa Bungalan dan Mahendra masih berbincang dengan sungguh-sungguh.

“Perjalanan ke Kediri bukan perjalanan yang ringan” berkata Mahisa Agni.

“Aku mengerti paman” jawab Mahisa Bungalan.

“Sementara persoalan yang kau hadapipun merupakan persoalan yang rumit. Kau tidak pasti latar belakang dari peristiwa itu. Kita hanya mendasarkan tindakan kita pada keterangan sebelah. Maksudku dari pihak Ki Wastu itu saja. Tetapi kita belum pernah mendengar keterangan dari pihak Pangeran Kuda Padmadata” berkata Mahisa Agni.

“Ya paman. Tetapi menilik sikap dan tindakan orang-orang yang memburu anak dan cucu Ki Wastu itu, maka aku dapat mengambil kesimpulan, bahwa ada pihak yang ingin melenyapkan ibu dan anak itu dengan kasar dan buas” jawab Mahisa Bungalan.

Mahisa Agni memandang Mahendra sejenak. Kemudian iapun bertanya, “Bagaimana pendapatmu Mahendra?”

“Aku sependapat dengan Mahisa Bungalan. Tetapi aku ingin memberikan pesan, bahwa di Kediri tentu ada pihak yang dapat menjadi sangat berbahaya bagi Mahisa Bungalan. Apalagi jika mereka mengerti maksud kedatangannya. Karena itu, perjalanan ke Kediri akan merupakan perjalanan yang gawat”

Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. Sementara Mahendra berkata selanjutnya, “Tindakan yang tidak tanggung-tanggung dari orang-orang yang memburu perempuan dan anak laki-lakinya itu merupakan sebagian kecil dari kesulitan yang akan kau hadapi di Kediri”
“Ya ayah” desis Mahisa Bungalan, “tetapi niat itu tentu bukannya harus dibatalkan”

“Ya” tiba-tiba saja Mahisa Agni menjawab, “kau memang harus pergi ke Kediri. Kau harus menghadapi persoalan ini betapapun berat. Tetapi kau tidak akan pergi seorang diri”

Mahisa Bungalan mengerutkan keningnya, sementara Mahisa Agni melanjutkan, “Aku akan pergi bersamamu”

Mahisa Bungalan terkejut mendengar kesediaan Mahisa Agni untuk pergi bersamanya. Ia menjadi sangat gembira karenanya. Tetapi dengan demikian iapun menyadari, betapa tugas itu sangat berat jika harus dilakukannya sendiri.

Dalam pada itu, Mahendra lah yang justru menyahut, “Terima kasih kakang. Tetapi apakah dengan demikian, hal ini tidak akan membuatmu menjadi sibuk. Saat-saat kau harus beristirahat, maka kau dihadapkan pada Suatu pekerjaan yang menuntut kesungguhan karena yang akan dihadapi mungkin adalah kekerasan”

Mahisa Agni tersenyum sambil berkata, “Umur kita tidak terpaut banyak. Dan kau masih juga menjelajahi sudut negeri ini”

“Itu adalah caraku mencari nafkah. Jika aku berhenti bertualang, maka keluargaku akan menghadapi kesulitan” jawab Mahendra.

Mahisa Agnipun tertawa. Katanya pula, “Tidak ada bedanya. Akupun masih ingin menjelajahi segala sudut negeri ini. Termasuk Kediri. Sudah lama aku tidak melihat kota itu. Kau tentu ingat, bahwa aku pernah berada di Kediri, sehingga kadang-kadang aku memang merindukan kota yang bersih itu”

Mahendra pun tertawa pula. Katanya, “Apa boleh buat jika kau menganggap bahwa perjalanan itu adalah perjalanan tamasya untuk mengenang satu masa yang pernah kau hayati. Tetapi masa itu telah silam dan tidak akan kembali lagi”

“Kadang-kadang memang ada satu kerinduan pada masa lampau” jawab Mahisa Agni. Lalu tiba-tiba, “Mungkin Witantra yang pernah tinggal di Kediri pula, tidak akan berkeberatan pergi bersama kami”

“Kakang Witantra?” desis Mehendra.

“Ya”

Mahendra menarik nafas dalam-dalam. Namun katanya kemudian, “Sayang. Aku mempunyai tanggungan di rumah. Aku tidak berani meninggalkan mereka terlalu lama. Jika tidak ada perempuan dan anak laki-lakinya yang sedang diburu oleh maut itu, akupun sebenarnya ingin ikut pula bersama kalian”

Mahisa Agni tertawa. Katanya, “Kau seperti kanak-kanak yang melihat ibunya pergi ke pasar”

“Sayang sekali” jawab Mahendra, lalu, “bahkan aku tidak sampai hati meninggalkan mereka terlalu lama. Aku sudah mendapat jaminan bahwa perjalanan Mahisa Bungalan akan mendapat perlindungan, sehingga karena itu, maka sebaiknya aku kembali pulang”

“Mudah-mudahan perjalanan kami selamat. Kami tidak tahu, siapakah yang ternyata harus kami hadapi di Kediri” berkata Mahisa Agni.

“Kakang tidak akan kekurangan cara untuk mengurai persoalan itu” jawab Mahendra, “kita akan saling berdoa, mudah-mudahan kita masing-masing akan dapat berbuat sebaik-baiknya menghadapi persoalan yang tiba-tiba saja sudah dihadapkan ke dada kita”

“Ya” jawab Mahisa Agni, “kita tidak akan dapat ingkar lagi Mahisa Bungalan agaknya dengan tiba-tiba dihadapkan pada persoalan ini di perjalanannya, sehingga akhirnya ia memang memerlukan kita yang tua-tua”

Mahendra pun kemudian minta diri untuk segera kembali kerumahnya. Ia tidak dapat terlalu lama membiarkan kedua anak-anaknya tidak dalam pengawasannya justru karena ada orang lain di rumahnya yang setiap saat dapat mengundang bahaya. Tetapi iapun tidak dapat melepaskan diri dari tanggung jawabnya atas sesama, karena orang-orang itu memang memerlukan pertolongan. Meskipun ayah dari perempuan yang sedang diburu itu adalah seorang tua yang memiliki ilmu yang tinggi, tetapi ia tidak akan dapat berdiri sendiri menghadapi kekuatan yang tidak seimbang, sehingga ia pun memerlukan pertolongan orang lain.

Demikian maka Mahendra pun meninggalkan kota sebelum hari menjadi gelap. Sementara Mahisa Agni dan Mahisa Bungalan telah siap untuk mengunjungi Witantra. Mereka akan merencanakan sebuah perjalanan. Baru kemudian mereka akan menghadapi Maharaja Singasari untuk menyampaikan maksudnya.

Kedatangan Mahisa Agni dan Mahisa Bungalan di rumah Witantra ternyata telah mengejutkannya. Dengan serta merta Witantra pun menanyakan kapan Mahisa Bungalan kembali dari perjalanannya.

Witantra menarik nafas dalam-dalam. Sementara Mahisa Bungalan meneruskan keterangan dan rencananya untuk pergi ke Kediri bersama Mahisa Agni.

“Jadi kau akan pergi juga Mahisa Agni” Witantra mengerutkan keningnya.

“Kemarin pagi paman” sahut Mahisa Bungalan.

“Kau sudah puas dengan pertanyaanmu?” bertanya Witantra pula.

Mahisa Bungalan menjadi ragu-ragu. Akhirnya ia menjawab, “Aku terpaksa pulang, paman”

“Kenapa terpaksa?” bertanya Witantra. Mahisa Bungalan kemudian menceritakan pengalamannya sehingga ia harus kembali pulang dengan membawa seorang kakek serta anak dan cucunya.

“Ya. Dan kami tidak hanya akan pergi berdua” jawab Mahisa Agni.

“Siapa lagi?” bertanya Witantra.

“Jika kakang Witantra pergi juga. maka perjalanan kami akan menjadi sangat menyenangkan”

Witantra termangu-mangu sejenak. Namun iapun tersenyum sambil berkata, “Aku sudah terlalu tua. Tetapi agaknya menarik juga untuk pergi ke Kediri. Aku sudah lama tidak melihat kota itu”

“Nah bukankah kita yang tua-tua ini mempunyai kepentingan yang serupa? Berusaha mengenang kembali masa-masa lampau” sahut Mahisa Agni.

Witantra tersenyum. Memang menarik untuk melihat-lihat daerah yang sudah lama tidak dilihatnya. Namun yang lebih menarik lagi adalah persoalan yang dibawa oleh Mahisa Bungalan.....

Bersambung....!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...