PANASNYA BUNGA MEKAR : 09-01
Kedatangan Mahisa Bungalan memang telah mengejutkan orang tuanya. Terlebih lagi ia datang bersama seorang kakek dan seorang perempuan dan anaknya. Tetapi Mahendra tidak menunjukkan sikap yang masam, ketika ia menyambut tamu-tamunya.
“Mahisa Bungalan” bertanya Mahendra, “aku belum jelas bagaimanakah kedudukan kakek tua itu beserta anak perempuannya. Keteranganmu yang singkat itu menumbuhkan teka-teki padaku”
“Seperti yang aku katakan ayah. Perempuan itu adalah isteri dari Pangeran Kuda Padmadata di Kediri” sahut Mahisa Bungalan.
“Apakah kau mempunyai hubungan khusus dengan perempuan itu?” bertanya ayahnya.
“Tidak ayah. Sebenarnya tidak. Aku hanya ingin menolongnya, karena seolah-olah di dunia ini tidak ada lagi tempat baginya. Ia selalu diburu oleh bayangan maut” jawab Mahisa Bungalan. Dan iapun menceriterakan bagaimana ia membebaskan perempuan itu dari sebuah gubug di hutan tertutup. Bahkan karena itu, ia sudah terpaksa membunuh beberapa orang yang mengawasinya.
“Jadi sekian banyak orang yang digerakkan untuk membunuhnya bersama anaknya? Apakah nilai warisan Pangeran Kuda Padmadata itu sedemikian banyaknya, sehingga sebagian kecil daripadanya cukup untuk mengupah sekian banyak orang”
Mahisa Bungalnn menarik nafas dalam-dalam. Pertanyaan ayahnya itu memang dapat dimengertinya. Sehingga iapun bertanya kepada diri sendiri. Berapa banyak warisan yang mungkin akan ditinggalkan Pangeran itu kelak.
Karena Mahisa Bungalan tidak segera menajwab, maka Mahendra pun kemudian berkata, “Agaknya kau pun tidak mengerti Mahisa Bungalan. Tetapi baiklah kita anggap bahwa ada pihak yang ingin membunuh perempuan dan anak itu, agar keduanya tidak dapat lagi berbicara tentang warisan” Mahendra berhenti sejenak, lalu, “Adalah satu kenyataan, bahwa perempuan dan anaknya itu kini berada di rumah ini. Katakan Mahisa Bungalan, apakah rencanamu kemudian? Selama ini aku menanti-nanti kapan kau pulang setelah kau puas bertualang. Bukankah kita sudah ditunggu pula untuk datang kepada kakang Mahisa Agni dan kakang Witantra, menyerahkan tekad pengabdianmu dalam lingkungan keprajuritan”
“Ayah” berkata Mahisa Bungalan kemudian, “aku ingin menghadap Pangeran Kuda Padmadata. Aku ingin mendapat penjelasan, apakah yang sebenarnya telah terladi. Apakah benar bahwa perempuan itu memang isterinya. Jika demikian, maka ia mempunyai seorang anak laki-laki”
Mahendra menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengangguk-angguk ia berkata, “Mungkin Pangeran Kuda Padmadata memang seorang yang kaya raya. Yang memiliki berpuluh-puluh keping emas, intan, berlian dan jenis-jenis permata yang lain. Aku yang mengenal nilai permata memang dapat membayangkan, betapa banyak harta benda itu. Namun apakah mungkin, bahwa rencana itu juga dilakukan karena harga diri. Keluarga Pangeran Padmadata tidak mau melihat keturunan Pangeran Kuda Padmadata dikotori oleh darah keturunan tataran padukuhan”
Mahisa Bungalan meng-angguk-angguk. Iapun tidak membantah kemungkinan itu. Sementara itu ayahnya berkata selanjutnya, “Namun bagaimanapun juga usaha pembunuhan itu tidak berbeda. Karena itu, memang sebaiknya Pangeran Kuda Padmadata memberikan penjelasan tentang hal ini. Kecuali jika rencana ini memang sudah diketahuinya pula”
“Ah” desah Mahisa Bungalan, “aku kira ia bukan orang yang demikian bengisnya terhadap anak laki-lakinya. Mungkin ia dapat berbuat demikian terhadap isterinya tetapi terhadap darah dagingnya sendiri?”
Mahendra menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian, “Jadi kau masih akan melakukan perjalanan ki Kediri?”
“Ya ayah” jawab Mahesa Bungalan.
“Perjalanan yang berbahaya. Siapa tahu, bahwa d Kediri telah menunggu beberapa orang yang sudah memperhitungkan, bahwa kemungkinan seperti yang akan kau lakukan itu akan terjadi”
“Memang mungkin” jawab Mahisa Bungalan, “tetapi apakah dengan demikian kita tidak mengambil satu sikap apapun?”
“Maksudku bukan begitu. Tetapi kau harus berhati hati menghadapi setiap kemungkinan yang dapat terjadi” Mahendra berhenti sejenak, lalu, “jika kau benar-benar ingin ke Kediri, datanglah kepada pamanmu Mahisa Agn atau pamanmu Witantra. Mereka pernah berada di Kediri untuk satu jabatan tertinggi. Karena itu, mungkin keduanya akan dapat banyak memberikan petunjuk kepadamu, apa yang sebaiknya kau lakukan. Karena tidak mustahil bahwa justru di Kediri terdapat orang-orang yang benar-benar tidak dapat terkalahkan yang melingkari Pangeran Kuda Padmadata. Mungkin orang-orang yang sedang mengejar perempuan itu sama sekali tidak mengenal jalur induk dari rencana ini. Dan mereka bukanlah orang yang sebenarnya patut diperhitungkan, karena mereka dipilih sekedar untuk membunuh seorang perempuan dan anak-anak”
“Tetapi mereka kini menyadari, bahwa mereka tidak dapat berbuat tanpa perhitungan. Beberapa orang di antara mareka sudah terbunuh” jawab Mahisa Bungalan.
“Ya. Karena itulah maka baik kau yang akan pergi ke Kediri, maupun yang ditinggalkan di sini harus berjaga-jaga menghadapi segala kemungkinan” berkata Mahendra.
“Ya ayah. Aku akan menghubungi paman Mahisa Agni dan paman Witantra sebelum aku pergi ke Kediri” sahut Mahisa Bungalan, “tetapi apakah tidak sebaiknya kita berbicara dengan kakek itu”
“Tidak ada salahnya. Panggillah” berkata Mahendra. Mahisa Bungalan pun kemudian memanggil Ki Wastu untuk ikut berbicara tentang rencana kepergian Mahisa Bungalan ke Kediri.
“Kau tinggal disini saja kek. Mudah-mudahan kalian aman tinggal di rumah ini” berkata Mahisa Bungalan.
Ki Wastu membungkuk dalam-dalam. Katanya, “Aku mengucapkan beribu terima kasih. Tetapi apakah dengan demikian, kami tidak akan terlalu banyak mengganggu. Angger Mahisa Bungalan sudah mempertaruhkan nyawanya menyelamatkan anak dan cucuku tanpa pamrih. Dan sekarang, tidak mustahil bahwa persoalannya akan merambat sampai ke rumah ini, justru karena kami berada di sini”
“Kemungkinan-kemungkinan itu memang dapat terjadi Ki Wastu” berkata Mahendra, “tetapi ini adalah kemungkinan yang paling baik yang dapat kita tempuh bersama. Karena itu, tenangkan hati kalian disini, meskipun kita semuanya memang harus berhati-hati. Biarlah Mahisa Bungalan pergi ke Kediri”
“Ada semacam kecemasan di hati” berkata Ki Wastu, “bukan saja karena kami akan ditinggalkan oleh angger Mahisa Bungalan, tetapi juga perjalanan angger Mahisa Bungalan itu sendiri”
“Mudah-mudahan tidak banyak hambatan di perjalanan” berkata Mahisa Bungalan, “demikian juga, mudah mudahan tidak akan ada sesuatu yang dapat mengancam keselamatan kalian di sini. Selama aku pergi, kalian tinggal bersama ayah dan adik-adikku”
Ki Wastu tidak dapat menolak rencana yang akan dilakukan oleh Mahesa Bungalan, meskipun dengan demikian ia merasa, bahwa Mahisa Bungalan telah terlalu banyak berbuat bagi keluarganya. Selebihnya, ia memang benar-benar merasa cemas, seandainya orang-orang yang tentu masih saja memburu anak dan cucunya itu sampai pula ke rumah yang akan ditinggalkan oleh Mahisa Bungalan itu. Ia tidak terlalu mencemaskan dirinya sendiri, seandainya ia akan menjadi korban, karena itu memang sudah menjadi beban kewajibannya, bahkan tanggung jawabnya.
Tetapi jika isi rumah itu harus mengalami akibat yang buruk, maka ia tidak akan sampai hati membiarkannya terjadi. Namun agaknya Mahisa Bungalan sudah bertekad bulat. Dihari berikutnya, Mahisa Bungalan sudah akan siap untuk berangkat. Tetapi Mahisa Bungalan akan singgah di Singasari, menjumpai Mahisa Agni dan Witantra untuk mendapat keterangan apakah yang sebaiknya dilakukan di Kediri.
Demikianlah, ketika matahari terbit, Mahisa Bungalan meninggalkan rumahnya menuju ke Kediri. Ketika ia keluar dari padukuhannya, maka ia tidak terlepas dari pengamatan orang-orang Ki Wangut yang dengan tergesa-gesa melaporkannya.
“Anak muda itu” berkata pengikut Ki Wangut itu, “ia tentu yang berada di pedati yang kita ikuti. Ialah yang kemudian turun dan berjalan di sisi lembunya untuk beberapa tonggak menjelang akhir dari perjalanan mereka.
“Kemana anak itu?” desis Ki Wangut.
Pengiringnya menggelengkan kepalanya. Namun Ki Tunda Warapun kemudian tersenyum sambil berkata, “Adalah kebetulan sekali. Dengan demikian, maka kekuatan yang ada di rumah itu telah berkurang. Menilik perlengkapannya, maka anak itu akan menempuh perjalanan jauh atau sekedar pergi ke padukuhan sebelah?” bertanya Ki Tunda Wara kemudian kepada pengikut Ki Wangut yang melihat Mahisa Bungalan meninggalkan padukuhan.
“Ia Berkuda, menilik perlengkapannya, ia tentu menempuh perjalanan yang panjang”
Ki Tunda Wara memandang Ki Wangut dengan tajam. Kemudian dengan bersungguh-sungguh ia berkata, “Saatnya telah tiba”
“Kita ber-siap-siap sekarang” berkata Ki Wangut, “kita tidak akan menunggu lagi. Biarlah kita bertindak disiang hari. Kita tidak ingin menunggu anak muda itu kembali. Yang penting perempuan dan anak itu mati. Kita membawa bukti kematiannya berupa apapun juga kepada orang yang dapat kita percaya. Kecuali jika perempuan itu akan dibiarkan hidup oleh kakang Tunda Wara”
“Anak iblis” berkata Ki Tunda Wara, “itu akan aku tentukan kemudian”
Ki Wangut hanya tersenyum saja. Namun iapun kemudian telah memerintahkan orang-orangnya bersiap dan sekaligus memanggil kedua pengiring Ki Tunda Wara. Mereka telah menentukan tempat untuk berkumpul, tidak di halaman banjar tempat Ki Wangut dan Ki Tunda Wara bermalam.
Meskipun demikian, sikap mereka sempat menarik perhatian orang-orang padukuhan itu. Tetapi agaknya Ki Wangut dan Ki Tunda Wara tidak banyak menghiraukannya Jagi. Mereka menganggap bahwa mereka tidak akan banyak mengganggu seandainya mereka mengetahui apa yang akan dilakukannya di halaman rumah Mahisa Bungalan yang sedang pergi itu.
Dari anak-anak muda yang dijumpainya di banjar, Ki Wangut dan Ki Tunda Wara mengetahui, bahwa di padukuhan itu tidak ada orang yang pantas disegani, kecuali Mahisa Bungalan dan keluarganya. Tetapi Mahisa Bungalan saat itu sedang tidak ada di rumahnya.
“Kita akan menyelesaikan tugas kita dengan cepat” berkata Ki Tunda Wara, “kemudian kitapun dapat meninggalkan padukuhan ini dengan cepat pula setelah tugas kita selesai”
Demikianlah, maka keenam orang itupun segera mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan. Bersama-sama mereka telah mendekati regol halaman rumah Mahendra yang menuju ke Singasari sebelum ia akan langsung ke Kediri.
Dalam pada itu, di rumah itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sedang merajuk karena mereka tidak diperkenankan mengikuti perjalanan kakaknya ke Kediri. Dengan wajah yang gelap Mahisa Pukat berkata, “Baru kemarin kakang Mahisa Bungalan datang, sekarang kakang Mahisa Bungalan sudah diperkenankan pergi lagi ke Kediri. Tetapi kami berdua masih saja dianggap kanak-kanak yang hanya boleh bermain di halaman”
Mahendra terpaksa tersenyum sambil berkata, “Hanya kanak-kanak sajalah yang merajuk seperti itu”
“Tetapi ayah tidak adil” potong Mahisa Murti, “berilah kesempatan kami untuk mengenal daerah yang akan dapat memberikan pengalaman bagi kami”
“Bukankah kalian sudah sering ikut bersama ayah pergi ke tempat-tempat yang jauh?”
“Tetapi sekedar menjajakan permata dan perhiasan” jawab Mahisa Murti.
Mahendra terpaksa tertawa. Katanya, “Jangan gelisah. Pada saatnya kalian akan melakukan perjalanan seperti kakakmu. Tetapi kali ini kakakmu sedang mengemban tugas kemanusiaan. Karena itu kalian jangan mengganggunya”
“Kami dapat membantunya, bukan mengganggu” sahut Mahisa Pukat.
Mahendra mengangguk-angguk. Jawabnya, “Benar. Kamu benar. Tetapi biarlah lain kali. Kesempatan masih panjang. Kalian masih terlalu muda untuk ikut melakukan tugas kemanusiaan kali ini”
Mahisa Pukat dan Mahisa Murti tidak membantah lagi, meskipun mereka belum puas mendengar jawaban ayahnya. Sebenarnya bahwa mereka ingin ikut pergi, meskipun hanya sebagai pengiring yang tidak ikut menentukan apapun juga.
Ketika keduanya kemudian keluar ke halaman, Mahisa Pukat berkata, “Kita pergi saja ke kota”
“Untuk apa?” bertanya Mahisa Murti.
“Kita menghadap paman Mahisa Agni”
“Ya. Untuk apa? Seandainya kita bertemu dengan kakang Mahisa Bungalan, tentu kita akan disuruhnya pulang juga”
Mahisa Pukat termangu-mangu. Namun tiba-tiba saja ia menjawab, “Asal saja kita pergi untuk melepaskan kecewa. Kita berputar-putar sebentar, kemudian kembali sebelum sore”
Mahisa Murti berpikir sejenak. Lalu katanya, “Kita berjalan kaki saja. He, bukankah kita berjanji untuk menghadap paman Mahisa Agni sambil membawa seekor berkisar? Nah, kita bawa bekisar yang sudah kita siapkan itu”
“Kenapa berjalan kaki?”
“Lebih menyenangkan. Kita memintas lewat jalan-jalan sempit. Singasari tidak jauh. Setelah kita melampaui sendang Gupit, kita segera memasuki gerbang”
“Aku tahu. Kau akan merendam di sendang Gupit” Mahisa Murti tertawa. Katanya, “Kita akan minta ijin ayah. Tentu tidak berkeberatan asal kita berjanji tidak akan mengganggu dan memaksa untuk mengikuti kakang Mahisa Bungalan jika kita bertemu di tempat paman Mahisa Agni”
Tetapi ternyata kedua anak muda itu tidak sempat melakukannya. Ketika mereka akan masuk kembali, untuk menemuhi ayahnya, mereka melihat beberapa orang mendekati regol rumahnya.
“Ada tamu” berkata Mahisa Pukat.
“O, tamunya cukup banyak” sahut Mahisa Murti, “tentu orang-orang yang ingin membeli pusaka. Aneh, kadang-kadang orang-orang menjadi bingung untuk memiliki pusaka yang dianggapnya bertuah. Jika pusaka-pusaka ayah itu semuanya bertuah, sebaiknya tidak usah dijual saja”
“Untuk apa?” bertanya Mahisa Pukat.
“Disimpan sendiri. Tuahnya akan melimpah kepada ayah,”
“Tidak selalu sesuai. Karena itu, maka untuk memiliki sebuah pusaka, perlu ditayuh tiga hari atau sepekan” Mahisa Murti tidak sempat menjawab. Mereka melihat orang-orang berkuda itu memasuki regol halaman rumahnya tanpa turun dari punggung kuda mereka.
Kedua anak muda itu menjadi curiga ketika mereka melihat orang-orang berkuda itu memencar.
“He, apakah yang akan mereka lakukan? Apakah kedatangan mereka ada hubungan dengan kedatangan orang orang yang berpedati bersama kakang Mahisa Bungalan” desis Mahisa Pukat.
“Mungkin sekali” jawab Mahisa Murti, “panggil ayah. Aku akan menemuinya”
“Jangan sendiri. Biarlah aku bersamamu. Jika sudah pasti barulah kita menentukan langkah” jawab Mahisa Pukat.
Dengan demikian maka kedua anak muda itu tidak beringsut dari tempatnya. Dengan tengadah mereka menatap orang-orang yang berada di halaman rumahnya dengan sikap yang tidak sewajarnya itu.
Ki Wangut dan Ki Tunda Wara memandang kedua anak muda itu dengan hati yang berdebar-debar. Nampaknya kedua anak muda itu memang memiliki beberapa kelebihan seperti yang pernah didengarnya dari anak-anak yang berada dibanjar.
“Tentu kedua anak muda inilah yang disebut Mahisa Pukat dan Mahisa Murti” berkata Ki Wangut dan Ki Tunda Wara di dalam hatinya.
Sementara itu, Mahisa Pukat yang melangkat maju bertanya., “He, siapakah Ki Sanak yang belum pernah kami kenal, namun yang telah memasuki halaman rumah kami dengan cara yang tidak kami sukai ini?”
Ki Wangut tertawa. Jawabnya, “Anak muda yang berani. Sayang bahwa kau belum mengenal kami. Jika kalian telah mengenal kami, maka kalian tidak akan bersikap demikian”
“Bagaimana sikap kami menurut pendapatmu” tiba-tiba saja Mahisa Murti bertanya.
Pertanyaan itu agak mengejutkan Ki Wangut. Namun iapun kemudian menjawab, “Kalian tentu bersikap lebih baik dan hormat”
“Siapa kalian?” desak Mahisa Pukat.
“Siapapun kami, tidak banyak bedanya bagi kalian, karena kalian memang belum mengenal kami. Tetapi ketahuilah bahwa kami datang dari tempat yang jauh. Kami datang untuk menyusul saudara perempuan kami bersama anak laki-lakinya”
Wajah kedua anak muda itu menegang. Mereka sudah mengetahui serba sedikit tentang perempuan yang datang bersama kakaknya itu. Sehingga karena itu, maka dengan tanpa ragu-ragu Mahisa Pukat berkata, “O, jadi kalianlah yang telah memburunya dan akan membunuhnya”
Wajah orang-orang berkuda itu menegang. Mereka tidak mengira bahwa anak-anak muda itu akan dengan langsung menyebutnya. Tetapi karena mereka tidak akan dapat ingkar lagi, maka Ki Wangut pun berkata, “Ya. Tidak mungkin kami sembunyikan lagi maksud kedatangan kami. tujukkan dimana mereka. Dengan demikian kalian dan penghuni rumah ini yang lain tidak akan mengalami kesulitan apapun juga”
Diluar dugaan orang-orang yang berada di halaman lu, Mahisa Murti menjawab, “Mereka berada di rumah kami. Mereka adalah tamu-tamu kami. Karena itu. mereka berada dibawah perlindungan kami”
Ki Wangut menggeram. Namun kemudian ia memaksa bibirnya untuk tersenyum, “Kalian adalah anak-anak muda yang luar biasa. Tetapi jangan melibatkan diri dalam persoalan ini. Lebih baik kalian minggir dan memberi jalan kepadaku, masuk ke dalam rumahmu untuk mengambil perempuan dan anak laki-lakinya itu.
Wajah Mahisa Pukat dan Mahisa Murti menjadi merah padam. Dengan suara bergetar Mahisa Murti berkata, “Kalian menganggap kami tikus-tikus kecil yang takut melihat seekor kucing. Kembalilah dan jangan menginjak halaman rumahku sekali lagi”
“Anak iblis. Anak setan” geram Ki Tunda Wara, “kalian jangan terlalu bodoh untuk bersikap demikian terhadap kami berenam. Kami adalah orang-orang liar yang tidak pernah membuat pertimbangan berulang kali. Jika kami masih memberi kesempatan kepada kalian, itu berarti bahwa kami masih belum sampai puncak sikap kami. Karena itu, pergilah. Biarlah kami mengurus perempuan itu”
“Tidak” Mahisa Pukat hampir berteriak, “pergi, sebelum aku bertindak. Rumah ini adalah rumahku. Halaman ini adalah halaman ayahku”
“Setan teriak Tunda Wara, “aku bunuh kau”
Namun dalam pada itu, semua orang yang berada di halaman itu terkejut ketika mereka mendengar seseorang berkata di pintu seketeng, “Anakmas Mahisa Pukat dan Mahisa Murti. Biarlah aku menemuinya. Agaknya orang-orang itu mencari aku. Sebaiknya aku tidak terlalu mengganggu kalian dan ayah kalian”
Tetapi belum lagi suara itu lenyap getarannya, terdengar jawaban dari pintu pringgitan, “Biarlah anak-anak itu belajar menerima tamu Ki Wastu. Kita yang tua-tua ini sebaiknya menunggu, apakah tamu kita cukup sopan, atau tidak”
Ki Wangut dan Ki Tunda Wara menggeretakkan giginya. Bahkan salah seorang dari pengiringnya nampak tidak sabar lagi, sehingga berteriak, “Kita bunuh semuanya”
Ki Wangut pun kemudian berkata, “Kalian adalah orang-orang yang tidak tahu diri. Aku tahu. Orang itu adalah orang tua yang mengikuti perempuan dan anak laki-lakinya yang harus aku bunuh. Sedangkan orang tua yang berdiri di pintu pringgitan itu adalah ayah kedua anak muda ini yang bernama Mahendra, juga. ayah Mahisa Bungalan”
“Tepat” jawab Mahendra yang kemudian melangkah menyeberangi pendapa, “aku adalah ayah kadua anak-anak itu, sedangkan orang tua di seketeng itu adalah Ki Wastu. Ayah dari perempuan yang kalian buru. Sedangkan anakku Mahisa Bungalan saat ini sedang pergi”
“Tidak ada jalan lain” geram Ki Tunda Wara, “kita harus memakai kekerasan. Agaknya orang-orang yang tidak tahu diri ini mencoba untuk memamerkan kemampuannya”
“Sama sekali tidak Ki Sanak” berkata Mahendra, “tidak ada gunanya untuk menyombongkan diri. Jika aku harus bertempur adalah semata-mata karena aku ingin mempertahankan diri, dan berbuat sebaik-baiknya sebagai tuan rumah yang mendapat tamu”
“Persetan” jawab Ki Wangut, “jangan berbicara seperti sedang sesorah. Kita akan bertempur dan saling membunuh”
“Kalian benar-benar ingin membunuh?” bertanya Mahendra kemudian.
“Sudah aku katakan”
“Jika demikian, apa boleh buat. Mungkin kalian akan berhasil, tetapi seisi padukuhan ini tidak akan melepaskan kalian meninggalkan halaman rumah ini” berkata Mahendra.
“Kami akan membunuh seisi padukuhan ini jika mereka mencoba menghalangi kami”
“Jumlah kalian tidak lebih dari enam orang. Sedangkan anak muda di padukuhan ini jumlahnya puluhan”
“Persetan anak iblis” teriak Ki Tunda Wara sambil meloncat turun. “Kita bunuh semuanya”
Ki Wangut dan para pengiringnya pun segera turun dari punggung kudanya. Mereka mengikat kuda mereka pada pohon-pohon perdu seperti mereka hendak bertamu. Mereka sama sekali tidak memperhitungkan kemungkinan-kemungkinan buruk yang dapat timbul atas diri mereka. Demikian yakin mereka akan kemampuan mereka masing-masing, apalagi di antara mereka terdapat Ki Wangut sendiri dan Ki Tunda Wara.
“Meskipun orang tua. yang disebut ayah itu mampu membunuh dua orang sekaligus, namun yang dihadapinya adalah kelinci-kelinci dungu yang tidak mampu berbuat sesuatu yang berarti dengan senjata mereka” berkata salah saorang pengiring itu di dalam hatinya.
Dalam pada itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun hampir tidak dapat menahan diri lagi. Tetapi ketika mereka hampir meloncat maju, ayahnya berkata, “Anak-anak ambillah senjata panjang kalian. Jangan tergesa-gesa. Nampaknya orang-orang itu bukan orang-orang yang dapat berpikir panjang”
“Gila” teriak salah seorang pengiring Ki Wangut.
Namun Mahendra pun kemudian berkata, “Beri kesempatan kedua anak-anakku mengambil senjata panjangnya. Kalian akan dihadapkan pada kemampuan mereka sepenuhnya”
“Beri anak-anak itu kesempatan” teriak Ki Tunda Wara.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat termangu-mangu sejenak. Namun kemudian merekapun meloncat naik ke pendapa dan berlari masuk ke ruang dalam. Mereka yang semula sudah bersiap untuk bertempur dengan keris, atas nasehat ayahnya, maka mereka pun telah mengambil pedang mereka.
“Kau bawa pedang rangkap?” bertanya Mahisa Murti.
“Ya. Aku ingin menunjukkan kepada ayah, bahwa aku sudah menguasai permainan pedang rangkap”
“Aku akan membawa canggah” desis Mahisa Murti.
“Jangan mencoba-coba. Nampaknya mereka adalah orang-orang yang garang. Pergunakan yang paling baik menurut pendapatmu”
Mahisa Murti barpikir sejenak. Kemudian disambarnya sepasang pedangnya sambil berkata, “Akupun mempercayakan diri pada ilmu pedang rangkap”
Ketika mereka menghambur kembali ke halaman, mereka melihat orang-orang yang memasuki halaman mereka, telah berdiri dalam dua lingkaran. Yang sekelompok mendekati Ki Wastu yang telah keluar dari seketeng, sementara yang sekelompok lagi berada di sekitar Mahendra.
Sejenak Mahendra menjadi ragu-ragu. Ia kurang memahami kemampuan orang tua yang berdiri di luar seketeng itu. Jika ia memerintahkan salah seorang anaknya bertempur bersamanya, tetapi keadaannya akan sangat menyulitkan anaknya, maka ia tentu tidak akan dapat membiarkannya.
Namun demikian, tidak ada jalan lain kecuali mencobanya. Karena itu, maka katanya, “Salah seorang dari kalian, bertempurlah bersama Ki Wastu. Dengan demikian, dia tidak harus menghadapi tiga orang sekaligus”
Sejenak kedua anak muda itu ragu-ragu. Namun Mahisa Pukat lah yang meloncat mendekati Ki Wastu sambil berteriak, “Aku berada di sini Ki Wastu”
Ki Wastu lah yang menjadi berdebar-debar. Ia yakin anak itu tentu belum memiliki kemampuan seperti Mahisa Bunalan. Karena itu, maka ia pun justru memikirkan kemungkinan yang paling buruk yang dapat terjadi dengan anak itu.
“Jangan banyak bicara lagi” geram Ki Wangut yang langsung menghadapi Ki Wastu, “aku sudah siap membunuhmu jika kau berkeras untuk melindungi anak perempuan dan cucumu”
KI Wastu tidak menjawab lagi. Ia sudah siap dengan pedang dan perisainya. Pedangnya yang khusus memang memberikan kesan tersendiri pula kepada lawannya. Namun Ki Wangut benar-benar ingin menyelesaikan persoalan itu dengan segera. Karena itu, maka iapun segera melangkah mendekati lawannya, sementara kedua pengiringnya bersiap-siap menghadapi Mahisa Pukat.
Dalam pada itu. Ki Tunda Wara telah bersiap pula. Namun m masih mencoba memperingatkan Mahendra. Katanya, “Apakah kau benar-benar berkeras untuk membantunya?”
“Ya” jawab Mahendra.
“Jangan menyesal. Aku adalah pembantai yang paling buruk yang pernah ada. Aku membunuh tanpa seujung rambutpun yang tergetar. Aku terbiasa melakukan apa saja yang tidak dapat dilakukan oleh orang lain. Tetapi aku kadang-kadang mengurungkan niatku sebelum aku mulai, jika korbanku mendengarkan nasehatku”
“Apa nasehatmu bagiku sekarang?” bertanya Mahendra.
“Pergilah dan bawa anak-anakmu menyingkir”
Mahendra mengangguk-angguk. Tetapi jawabnya membuat Ki Tunda Wara semakin marah. Katanya, “Sayang Ki sanak. Aku tidak dapat menerima nasehat itu. Malahan sebaiknya, kau saja mengurungkan niatmu. Biarlah perempuan dan anaknya itu kembali kepada suaminya dengan damai. Kenapa kalian harus berjuang untuk membunuhnya hanya karana kalian akan menerima upah. Apakah harga jiwa seseorang dapat dinilai dengan keping-keping uang? He, Ki Sanak. Menurut pendengaranku, sudah sekian banyak kawan-kawanmu yang mati. Apakah harga nyawa kawan-kawanmu itu sesuai dengan upah yang dijanjikan”
“Persetan” geram Ki Tunda Wara, “persoalannya tidak lagi jumlah upah dan banyaknya kematian. Ada atau tidak ada, dendam sudah membara. Persoalannya kini justru karena kami ingin menuntut balas atas kematian kawan-kawanku, dengan tidak mengabaikan upah yang bakal kami terima. Tetapi bagiku, pembunuhan yang telah dilakukan oleh Mahisa Bungalan benar-benar sangat menyakitkan hati”
“Dan sekarang kau datang karena Mahisa Bungalan tidak ada di rumah” desis Mahendra.
“Diamlah anak iblis” teriak Ki Tunda Wara, “kita akan mulai bertempur”
Mahendra kemudian mempersiapkan diri. Ia juga membawa sebilah pedang. Dengan hati-hati ia memperhatikan setiap gerak dan sikap. Sebagai seorang yang memiliki ilmu yang tinggi, iapun segera dapat mengetahui, bahwa lawannya memang bukan orang kebanyakan. Demikian pula Ki Tunda Wara. Ia segera mengetahui, bahwa Mahendra adalah seorang yang pilih tanding.
“Gila” geramnya di dalam hati, “orang ini agaknya tidak kalah dari anaknya yang dikatakan memiliki kemampuan yang luar biasa itu. Kita memang bodoh. Sebaiknya, pedati itu kita hentikan di jalan saat kita dapat menyusulnya”
Tetapi Ki Tunda Warapun menyadari, bahwa mereka baru dapat menyusul pedati itu dekat padukuhan Mahisa Bungalan, sehingga jika ia bertempur saat itu, kemungkinan hadirnya ayah dan adik-adik Mahisa Bungalanpun sangat besar pula.
Sejenak kemudian, maka Ki Tunda Warapun mulai menggerakkan senjatanya. Sementara kedua pengiringnya telah memencar. Namun dalam pada itu, ternyata Mahisa Murti yang bertempur bersama ayahnya tidak memisahkan dirinya.
Di bagian lain, Mahisa Pukat benar-benar harus melawan dua orang yang diperintahkan oleh Ki Wangut untuk secepatnya membunuh anak muda itu. Ia sendiri akan menghadapi Ki Wastu yang sudah bersiap pula menghadapinya.
Namun dalam pada itu, berbeda dengan Ki Wastu yang cemas dan gelisah karena Mahisa Pukat yang harus berhadapan dengan dua orang lawan, maka anak muda itu sendiri menjadi gembira. Darahnya yang panas seolah-olah telah merambat di seluruh tubuhnya, sehingga iapun justru mulai menggetarkan sepasang pedang rangkapnya.
Sejenak kemudian, maka pertempuranpun segera menyala di halaman rumah itu. Beberapa orang yang melihat ketegangan itupun telah berlari-lari menyingkir. Namun ada beberapa orang anak-anak muda yang memberanikan diri untuk menyaksikannya.
Meskipun mula-mula mereka melihat pertempuran itu sambil bersembunyi, namun akhirnya satu dua diantara mereka telah berusaha menjadi semakin dekat. Ada di antara mereka yang memanjat sebatang pohon di luar dinding halaman, dan ada pula yang menjenguk di regol halaman.
Ki Wangut yang melihat mereka pula telah berteriak lantang, “Siapa yang berani memasuki halaman, mereka akan dibantai pula disini bersama seisi rumah ini”
Karena itu, maka tidak seorang pun yang segera berani memasuki halaman rumah itu. Bagaimanapun juga, mereka merasa tidak memiliki bekal kemampuan yang cukup untuk memasuki arena perkelahian yang membingungkan itu.
“Dua orang itu adalah orang-orang yang tidur di banjar semalam” desis salah seorang dari anak-anak muda itu.
“Ya. Itulah agaknya mereka berbicara melingkari keluarga Mahisa Bungalan” sahut yang lain, “agaknya mereka mempunyai maksud yang kurang baik”
Kawannya mengangguk-angguk. Namun mereka tidak dapat berbuat sesuatu.
Yang terjadi di halaman itu adalah pertempuran yang semakin sengit. Ternyata Mahendra hertempur dengan sangat berhati-hati. Ia sama sekali tidak menunjukkan puncak kemampuannya. Ia mulai dengan tataran yang paling kecil untuk menjajagi ilmu lawannya, meskipun untuk beberapa saat ia harus terdesak bersama Mahisa Murti yang bertempur berpasangan bersamanya.
Yang terjadi itu telah membuat Ki Wastu menjadi semakin gelisah, ia merasa bersalah, jika keluarga Mahendra itu mengalami kesulitan karena kehadirannya. Sekilas terpercik penyesalan di hatinya, bahwa ia bersedia mengikuti Mahisa Bungalan ke Singasari, yang ternyata rumah itu terletak beberapa ratus tonggak dari kota yang sebenarnya. Meskipun tidak jauh, tetapi masih tetap ada jarak antara padukuhan itu dengan Kota Raja.
Apalagi ketika ia melihat Mahendra agak terdesak, sementara Mahisa Pukat yang lincah itu hampir terkurung oleh kedua lawannya.
“Aku harus segera mengakhiri pertempuran ini agar aku dapat berbuat sesuatu bagi mereka” berkata Ki Wastu di dalam hatinya.
Tetapi yang dihadapinya kemudian adalah Ki Wangut. Ia adalah orang yang memiliki kemampuan melampaui setiap pengikutnya. Juga para pengikutnya yang telah terbunuh.
Karena itu, maka Ki Wastu tidak segera dapat menguasainya. Bahkan kadang-kadang Ki Wastu sendiri harus meloncat surut, apabila serangan lawannya datang bagaikan badai di musim ke sembilan.
Dalam pada itu. Mahisa Pukat bertempur dengan lincahnya. Ia merasa mendapat kesempatan untuk mengetahui takaran kemampuannya. Namun semakin lama, wajahnya yang cerah menjadi semakin tegang. Ternyata kedua lawannya adalah lawan yang sangat berbahaya. Serangan-serangan mereka benar-benar serangan yang dapat menyobek tubuhnya dan bahkan memungut nyawanya.
“Gila” geram Mahisa Pukat, “aku kira mereka adalah bahan permainan yang mengasikkan”
Namun ternyata bahwa peluh mulai mengalir di seluruh tubuhnya. Dalam keadaan yang demikian, terngiang peringatan ayahnya yang berulang kali didengarnya, “Jangan menganggap lawan-lawanmu lebih rendah dari kemampuanmu”
Mahisa Pukat menggeretakkan giginya. Ia telah salah hitung terhadap kedua lawannya. Ternyata keduanya adalah orang-orang yang pilih tanding.
Dengan demikian, maka Mahisa Pukat lah orang yang pertama-tama telah terdesak. Hanya karena kecepatannya bergerak, maka ia masih mampu membebaskan curinya dari serangan-serangan lawannya. Pedang rangkapnya dapat menjadi perisai yang rapat, selain kakinya yang lincah berloncatan seperti burung sikatan.
Tetapi ia tidak akan dapat berbuat demikian seterusnya. Semakin lama tenaganya tentu menjadi semakin susut. Jika ia sudah kehabisan tenaga, maka ia akan kehilangan kesempatan untuk melepaskan diri dari kedua orang yang menjadi buas dan liar itu.
Ki Wastu yang melihat kelemahan Mahisa Pukat menjadi semakin cemas. Iapun kemudian telah mengerahkan segenap kemampuannya agar ia dapat segera melumpuhkan lawannya.
Ternyata Ki Wastu benar-benar seorang yang memiliki ilmu yang mapan. Perlahan-lahan ternyata buliwa Ki Wangut telah salah pula menilai lawan Ia menganggap bawa ia akan dapat mengimbangi kemampuan orang tua itu. Kemudian membunuh anak dan cucunya. Meskipun demikian ia telah membunuh dua orang pengikut pula untuk meyakinkan bahwa usahanya tidak akan gagal lagi.
Namun ternyata ia telah memasuki sebuah rumah yang dihuni oleh seorang tua dan dua orang anak muda yang berani.
“Tetapi mereka akan segera diselesaikan” gumam Ki Wangut yang merasa terdesak oleh lawannya.
Meskipun demikian, kesempatan bagi kedua orang yang bertempur itu masih belum berselisih banyak. Ki Wangut kadang-kadang masih juga mampu mengejutkan lawannya dan mendesaknya. Bahkan serangan-serangannya masih merupakan serangan-serangan yang gawat bagi lawannya. Sementara dua Orang pengikutnya benar-benar telah berhasil mendesak Mahisa Pukat yang bersenjata pedang rangkap.
Dalam pada itu, Mahendra yang bertempur melawan Ki Tunda Wara mengerutkan keningnya ketika ia melihat keadaan Mahisa Pukat. Sejenak ia memperlihatkan keadaannya sambil melayani lawannya bersama Mahisa Murti.
“Berbahaya baginya” berkata Mahendra di dalam hatinya. Namun demikian, ia berdua berhadapan dengan tiga orang yang bertempur bersama-sama dengan garangnya.
Namun dengan demikian, Mahendra telah didorong untuk secepatnya menyelesaikan pertempuran itu. Ia tidak akan dapat membiarkan anaknya menjadi Korban dalam persoalan yang sebenarnya tidak bersangkut paut langsung dengannya.
Karena itu, maka Mahendrapun mulai memperhitung kan benar-benar medan yang dihadapinya. Perlahan-lahan tetapi pasti, ia meningkatkan ilmunya untuk menghadapi lawannya.
Ki Wastu pun ternyata menjadi semakin gelisah pula melihat keadaan Mahisa Pukat. Agaknya anak itu benar-benar berada dalam bahaya. Dua orang yang bertempur melawannya, telah bertempur dengan kasar dan liar. Mereka tidak menghiraukan apapun lagi, selain membunuh lawannya yang masih sangat muda itu dengan segera.
Dengan sepenuh kemampuannya, maka Ki Wastu pun berusaha menguasai lawannya. Ia telah bertempur dengan garangnya pula. Senjatanya berputar seperti baling-baling, sementara perisainya dengan rapatnya telah melindungi dirinya dari setiap serangan lawannya.
Namun demikian, ia tidak segera dapat mengalahkan lawannya. Ki Wastu pun telah bertempur dengan sepenuh kamampuan dan tenaga. Meskipun ia merasa, bahwa lawannya memiliki sedikit kelebihan, tetapi ia masih mempunyai harapan untuk dapat bertahan lebih lama lagi. Jika sekiranya ia tidak mungkin mengalahkan lawannya, namun ia akan dapat memperpanjang waktu sehingga Mahisa Pukat dapat dikalahkan oleh kedua orang lawannya.
“Jika seorang saja dari mereka terbunuh, maka mereka tentu akan merasa ngeri” berkata Ki Wangut di dalam hatinya.
Sebenarnyalah keadaan Mahisa Pukat telah benar-benar berbahaya. Sementara Mahendra masih harus berjuang untuk mengalahkan lawannya. Namun yang karena hadirnya Mahisa Murti di arena itu, maka iapun sebagian justru merasa harus melindunginya, sehingga ia tidak dapat bertempur sesuai dengan perhitungannya sendiri. Karena itu, mengingat keadaan Mahisa Pukat, maka tiba-tiba saja Mahendra telah berteriak, “Mahisa Murti, kawanilah Mahisa Pukat agar ia tidak bertempur sendiri”
Mahisa Murti mengerutkan keningnya. Namun tiba-tiba saja ia melenting dari arena, untuk memenuhi perintah ayahnya.
Dalam pada itu, Ki Tunda Wara yang mengetahui perhitungan Mahendra berusaha untuk mencegahnya. Tetapi ternyata Mahendra telah menyerangnya dengan dahsyatnya, sehingga ia tidak dapat berbuat lain, kecuali melepaskan Mahisa Murti meninggalkan arena pertempuran itu, untuk menyatukan diri dengan Mahisa Pukat, “Aku ikut bermain bersamamu” teriak Mahisa Murti.
Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Ia merasa bahwa ia mengalami banyak kesulitan untuk melawan kedua orang itu. Agaknya ayahnya dapat melihatnya, sehingga diperintahkannya Mahisa Murti untuk membantunya.
Dengan demikian, maka Mahisa Pukat pun merasa, bahwa ia akan mendapat kesempatan lebih banyak dalam pertempuran seorang melawan seorang.
Sepeninggal Mahisa Murti, maka Ki Tunda Wara pun berteriak, “Orang dungu. Agaknya kaulah yang ingin mati lebih dahulu. Tidak ada bedanya, siapapun yang akan mati paling cepat. Yang berada di halaman ini, dan perempuan serta anak laki-lakinya yang bersembunyi di dalam”
Mahendra tidak menghiraukannya. Dengan hati-hati ia memperhatikan ketiga lawannya yang kemudian mengepungnya.
“Yang seorang ini memiliki ilmu yang paling tinggi dari antara kedua orang kawannya” berkata Mahendra di dalam hatinya.
Ki Wastupun melihat perubahan tata perkelahian yang terjadi di halaman itu. Mahisa Pukat telah berdiri berhadapan hanya dengan seorang lawan, sedangkan yang seorang kemudian terpaksa melawan Mahisa Murti yang telah memasuki arena itu pula.
Namun dalam pada itu, Ki Wastu mulai mencemaskan nasib Mahendra. Ia harus melawan tiga orang bersama-sama. Apalagi seorang dari antara mereka, agaknya memiliki kemampuan yang tinggi.
“Seandainya ayah Mahisa Bungalan ini memiliki kemampuan seperti anaknya, ia akan mengalami kesulitan untuk menghadapi tiga orang itu sekaligus. Apalagi jika kemampuannya tidak setingkat dengan anaknya”
Seperti setiap orang pendatang yang terlibat di dalam pertempuran itu, maka Ki Tunda Wara pun tidak mengetahui kemampuan lawannya yang sebenarnya. Ia sama sekali tidak mengerti, bahwa Mahendra adalah seorang yang memiliki kemampuan setingkat dengan orang yang paling disegani di istana Singasari, Mahisa Agni dan Witantra. Meskipun ada kekurangan-keurangan kecil padanya dibanding dengan keduanya, namun Mahendra adalah orang yang memiliki ilmu yang mumpuni.
Karena ia harus berhadapan dengan tiga orang sekaligus, maka akhirnya Mahendra tidak dapat lagi sekedar mengimbangi lawannya dengan mengendalikan ilmunya selapis demi selapis. Bagaimanapun juga Ki Tunda Wara adalah seorang yang pilih tanding. Bersama dengan dua orang kepercayaannya, maka mereka merupakan kekuatan yang luar biasa.
Dengan demikian, maka akhirnya Mahendra tidak dapat berbuat lain. Ia harus bertempur sebaik-baiknya untuk mempertahankan diri dari ketiga orang yang garang dan buas itu. Sehingga karena itulah, maka akhirnya Mahendra tidak dapat terlalu banyak mengendalikan dirinya. Ketika ia justru merasa terdesak, maka Mahendra pun segera sampai ke puncak ilmunya yang ngedap-ngedap.
Perlahan-lahan kemampuan Mahendra semakin meningkat, sehingga bagaikan badai yang bertiup dari lautan. Semakin lama semakin dahsyat, mendorong gelombang yang semakin garang menghantam pantai.
Dengan demikian, maka Ki Tunda Warapun menjadi semakin heran menghadapi lawanya. Meskipun anaknya yang seorang telah meninggalkan arena itu. namun ternyata bahwa Mahendra mampu mengimbangi ketiga orang lawannya.
“Anak iblis” geram Ki Tunda Wara di dalam hatinya, “apakah dengan demikian, aku sudah terjebak? Jika orang ini adalah langsung menjadi guru anaknya yang bernama Mahisa Bungalan, yang telah membunuh sekian banyak orang, maka aku akan mengalami kesulitan”
Sebenarnyalah, bahwa akhirnya Ki Tunda Wara pun yakin, seperti yang pernah dilakukan oleh orang-orang Ki Wangut, maka iapun telah melakukan kesalahan. Ternyata bahwa ia telah terjebak ke dalam rumah Mahendra yang memiliki kemampuan tiada bandingnya.
“Anak-anak di banjar itupun gila” geramnya, “ia tidak memberitahukan dengan lengkap keadaan rumah ini. Atau memang mereka tidak mengetahui keadaan yang sebenarnya dari orang tua gila ini”
Sementara itu, maka orang-orang yang mengerumuni halaman itupun menjadi semakin banyak. Anak-anak muda yang bersenjata di tangan telah mengepung halaman itu. Namun mereka menjadi ragu-ragu untuk memasukinya. Apalagi ketika mereka melihat pertempuran yang bagi mereka sangat membingunkan.
Dalam pada itu, Ki Wastu yang bertempur melawan Ki Wangut semakin lama menjadi semakin sengit. Meskipun Ki Wastu memiliki kelebihan, namun kekasaran Ki Wangut seakan-akan telah mengimbangi kelebihan itu. Bahkan kadang-kadang Ki Wastu harus melangkah surut. Sekali-sekali ia mengerutkan keningnya, karena Ki Wangut yang memekakkan telinga. Kemudian dengan garang, buas dan liar Ki Wangut menyerangnya
Tetapi Ki Wastu cukup tangkas. Senjatanya yang garang dan perisai kecilnya, membuat lawannya kadang-kadang kehilangan kesempatan. Bahkan dengan kecepatan yang mengagumkan, Ki Wastu kadang-kadang dapat mendesak lawannya beberapa langkah surut. Namun dengan loncatan-loncatan panjang, Ki Wangut masih selalu sempat menghindarkan diri.
“Orang tua ini memang gila” katanya di dalam hati. Namun ketika sekali-sekali ia sempat berpaling kearah Ki Tunda Wara yang bertempur bertiga melawan Mahendra, maka ia mengumpat tidak habis-habisnya. Tentu mahendra bukan orang yang sekedar memiliki kemampuan setingkat Mahisa Bungalan.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak banyak mengalami kesulitan. Ia perlahan-lahan tetapi pasti dapat menguasai lawan masing-masing. Namun merekapun sadar, bahwa ayah mereka harus bertempur melawan tiga orang sekaligus, sehingga kadang-kadang terbersit pula kecemasan di hati tentang nasib ayahnya.
Karena itulah, maka kedua anak muda itu telah bertempur dengan segenap kemampuan. Mereka berusaha untuk semakin cepat mengakhiri pertempuran itu, agar dengan demikian, mereka dapat segera membantu ayahnya.
Karena itulah, maka kedua lawannya pun segera menjadi semakin terdesak. Meskipun demikian, karena kegarangan mereka serta pengalaman yang pernah mereka dapat dari kehidupan mereka yang gelap, maka kadang-kadang merekapun masih mampu membalas serangan lawan-lawan mereka dengan serangan yang berbahaya.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang selalu berada dibawah bimbingan dan pengawasan ayahnya, ternyata tetap manyadari keadaan mereka. Betapapun juga. Mereka, tidak boleh mengabaikan kemampuan lawan. Karena demikian, ia sudah membuat kesalahan yang pertama sebelum akan segera disusul oleh kesalahan-kesalahan lain.
Karena itu, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat itupun telah bertempur dengan sungguh-sungguh. Dengan hati-hati, dan penuh kewaspadaan. Namun di dalam lubuk hati mereka, terbesit pula kegembiraan bahwa mereka mendapat kesempatan untuk menilai kemampuan mereka tidak hanya dalam latihan-latihan saja.
Dalam pada itu, lawan-lawan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menyaksikan pertempuran itu dengan hati yang berdebar-debar. Ternyata kedua kawan mereka kakak beradik itu adalah anak-anak muda yang memiliki kemampuan yang mengagumkan.....
Bersambung....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar