Rabu, 03 Februari 2021

PANASNYA BUNGA MEKAR JILID 09-03

PANASNYA BUNGA MEKAR : 09-03
Di Kediri mereka harus berusaha bertemu dengan Pangeran Kuda Padmadata. Meskipun tidak dikenalnya secara pribadi dengan rapat, namun mereka telah mendengar siapakah Pangeran Kuda Padmadata. Seorang yang masih sangat muda ketika mereka berada di Kediri.

Tetapi adalah Suatu hal yang sangat wajar, jika Pangeran Kuda Padmadata itulah yang pernah mengenal Mahisa Agni atau Witantra yang pernah bertugas di Kediri.

“Bagaimana pendapatmu Witantra?” bertanya Mahisa Agni.

Witantra menarik natas dalam-dalam. Katanya kemudian, “Baiklah. Aku akan menyertai kalian pergi ke Kediri. Mungkin kita akan menjumpai beberapa hal yang menarik”

“Tetapi mungkin juga menegangkan” sahut Mahisa Agni.

“Memang mungkin sekali. Kita tidak tahu, siapakah sebenarnya yang bermain di belakang segala peristiwa itu. Mungkin orang lain. Mungkin keluarga terdekat dari Pangeran Kuda Padmadata. bahkan mungkin Pangeran Kuda Padmadata sendiri”

“Kenapa Pangeran itu sendiri paman?” bertanya Mahisa Bungalan.

“Ia tidak ingin dibayangi oleh darah padukuhan yang lahir sebagai anak laki-lakinya. la tidak ingin melihat lagi langkahnya yang dianggapnya sesat, setelah ia berada kembali di dalam lingkungan para bangsawan. Mungkin pula isterinya yang lain, yang diambilnya dari kalangan bangsawan tidak mengetahui apa yang pernah dilakukan oleh Pangeran Padmadata. Tetapi masih ada kemungkinan kemungkinan yang lain lagi. Kita tidak dapat menebak saja. Tetapi kita harus melakukan pengamatan dengan seksama”

Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. Sebagian keterangan yang pernah didengarnya dari peristiwa itu, memang belum merupakan pegangan yang dapat diyakini. Pendapat, dan mungkin pendengaran dari Ki Wastu. bahkan dari anak perempuannya itu sendiri, masih mungkin pula bukannya kebenaran.

“Yang kita ketahui, barulah kenyataan-kenyataan yang terjadi” berkata Witantra kemudian, “bahwa perempuan itu telah diambil dari rumahnya dan disimpan di hutan tutupan. Bahwa seorang hamba yang setia telah mengorbankan dirinya untuk melindurgi anak laki-laki itu, sementara kemudian kau berhasil membebaskan perempuan itu dari tangan mereka yang menyimpannya. Latar belakang dari segala yang terjadi itu masih belum jelas”

“Itulah yang akan kita cari di Kediri” desis Mahisa Agni.

“Baiklah kita bersiap-siap. Kita akan segera berangkat. Persoalannya tidak boleh berlarut-larut, karena bahaya maut selalu mengejar perempuan dan anak laki-lakinya. Bahkan bahaya yang gawat akan mungkin sekali mengintai keluarga Mahisa Bungalan yang ditinggalkan di rumah”

Demikianlah, maka Witantra pun segera mempersiapkan diri. Mahisa Agni dan Mahisa Bungalan bermalam satu malam di rumah Witantra. Di hari berikutnya, maka merekapun menghadap Maharaja Singasari untuk mohon diri. Mereka tidak mengatakan alasan mereka yang sebenarnya, selain karena keinginan mereka untuk melihat kota yang sudah lama tidak mereka lihat itu.

Ranggawuni yang memegang tahta Kediri, tidak menahannya. Namun ia bertanya kepada Mahisa Bungalan, “Apakah kau masih memerlukan waktu yang panjang untuk memuaskan darah petualanganmu sebelum kau memasuki satu lingkungan yang mapan?”

Mahisa Bungalan menundukkan kepalanya dalam-dalam. Dengan suara dalam ia menjawab, “Ampun tuanku. Sebenarnyalah bahwa perjalanan hamba ini adalah perjalanan yang terakhir. Hamba memang ingin mengikuti kedua paman hamba ini untuk melihat-lihat Kediri saat ini”

Ranggawuni tersenyum. Katanya, “Baiklah. Tetapi cepatlah kembali”

Mahisa Bungalan menunduk semakin dalam. Sementara Ranggawuni yang bergelar Sri Jaya Wisnuwardhana itu berkata selanjutnya., “Sudah masanya kau menempatkan dirimu pada tempat yang sesuai dengan pilihanmu”

“Hamba akan menjunjung titah tuanku” jawab Mahisa Bungalan.

Dengan dimikian, maka ketiga orang itupun segera meninggalkan Singasari. Namun Mahisa Agni tidak sampai hati untuk melepaskan keluarga Mahendra begitu saja. Karena itu, agar Mehendra tidak terlalu terikat kepada kewajibannya untuk melindungi orang-orang yang sedang diburu itu, maka iapun telah mengirimkan dua orang petugas sandi untuk membantu setiap saat diperlukan.

“Kau berada di sana sampai Mahisa Bungalan kembali” berkata Mahisa Agni, “katakan kepada Mahendra bahwa akulah yang memberimu perintah. Aku memilih kalian berdua, karena Mahendra telah mengenal kalian. Jika orang lain yang datang, maka ia akan segera mencurigainya karena justru ia berada dalam keadaan yang gawat”

Hampir berbareng dengan saat keberangkatan Mahisa Agni, Witantra dan Mahisa Bungalan, maka kedua orang itupun pergi kerumah Mahendra. Mereka harus ikut mengamati keadaan rumah itu. Tanpa mereka, maka Mahendra tidak akan dapat berbuat apa-apa sama sekali diluar rumahnya, sehingga ia tidak akan dapat bekerja untuk mencapai nafkah, atau kepentingan-kepentingan lain di luar padukuhannya.

Dalam pada itu, maka tiga ekor kuda telah berderap meninggalkan gerbang kota Singasari menuju ke Kediri. Perjalanan yang membawa kewajiban yang berat, meskipun sebenarnya masalah itu adalah masalah orang lain. Namun diluar kesadaran Mahisa Bungalan, iapun telah terlibat terlalu jauh sehingga ia tidak mungkin lagi melepaskannya, karena masalahnya akan menyangkut jiwa seorang perempuan dan anak laki-lakinya.

Perjalanan ketiga orang itu ternyata mengandung kegembiraan tersendiri, disamping ketegangan karena kewajiban mereka. Di perjalanan mereka melihat sesuatu yang sudah lama tidak mereka lihat. Perubahan-bahan yang terjadi membuat hati mereka menjadi cerah. Dengan demikian, maka Singasari benar-benar telah berkembang.

Namun ada juga daerah yang mereka jumpai masih seperti beberapa saat yang lampau. Tanpa perubahan apapun juga. Jalan-jalan, parit-parit dan dinding padukuhan dengan cepat dapat mereka kenali sebagaimana mereka lihat beberapa waktu yang lewat.

“Daerah ini perlu mendapat perhatian” berkata Mahisa Bungalan, “seolah-olah daerah ini adalah daerah yang mati. Meskipun tanahnya subur dan air yang mengalir diparit itu tidak pernah kering, namun jika penghuni daerah ini sudah menjadi puas dengan keadaannya, maka daerah ini akan segera ketinggalan”

“Ya” Witantra mengangguk-angguk, “daerah lain telah berkembang semakin pesat dengan perluasan daerah persawahan dan kerja yang lain atas dasar peningkatan ketrampilan, maka daerah ini sama sekali tidak bergerak”

“Kita akan singgah di padukuhan ini kelak jika kita kembali” berkata Mahisa Agni, “kita akan melihat apakah sebabnya maka daerah ini merupakan daerah yang terhenti perkembangannya. Mungkin justru karena daerah ini adalah daerah yang subur, sehinggu tanpa kesulitan apapun juga, segala kebutuhan penghuninya telah terpenuhi”

Namun bagaimanapun juga, padukuhan itu terasa sangat sepi, meskipun suasananya sangat tenang. Di padukuhan lain terdengar suara pandai besi yang sedang menempa beberapa jenis alat pertanian, sementara mereka kadang-kadang bertemu dengan seiring itik yang digembalakan.

Tetapi mereka tidak menemukan apa-apa di padukuhan itu selain parit yang mengalirkan air yang bening, serta sawah yang nampak hijau segar. Pohon nyiur yang bergoyang disentuh angin yang lembut di sepanjang dinding padukuhan, melingkar dari ujung sampai keujung.

Namun bagaimana juga perjalanan itu memang sangat menarik.

“Kita akan singgah di rumah seseorang, atau kita akan langsung pergi ke istana Pangeran Kuda Padmadata?” tiba-tiba saja Mahisa Bungalan bertanya.

“Pangeran Kuda Padmadata akan segera mengetahuinya pula. Jika ia pernah mendengar namamu, maka orang yang ada di sekitarnya, yang berhubungan dengan peristiwa Ki Wastu serta anak cucunya itu, akan segera bersiap-siap”

Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. Lalu, “Jadi, apakah yang sebaiknya kita lakukan?”

“Apakah kita akan singgah lebih dahulu di istana Panji Kudasuwana, yang kini bertugas di Kediri sebagai wakil kekuasaan Singasari?” bertanya Mahisa Bungalan.

“Jangan Mahisa Bungalan” sahut Mahisa Agni, “dengan demikian kedatangan kita akan cepat diketahui. Apalagi aku dan pamanmu Witantra pernah pula berada di Kediri dalam kedudukan yang serupa”

“Apa salahnya paman?” bertanya Mahisa Bungalan.

Dengan ragu-ragu ia memandang wajah Mahisa Agni yang sudab berubah pula, Namun akhirnya ia mulai mengenalinya.

Mahisa Agni termangu-mangu sejenak. Namun iapun kemudian berkata, “Kita tentu tidak akan dapat langsung menuju ke istana Pangeran Kuda Padmadata. Kita harus berusaha mendapat keterangan serba sedikit tentang keadaannya. Keluarganya dan mungkin sesuatu yang dapat memberikan gambaran tentang dirinya”

Witantra mengangguk-angguk sambil menyahut, “ Ya Kita akan mencari beberapa keterangan tentang dirinya.

“Kita akan singgah di rumah kakang Daredu. Ia adalah seorang pekatik yang pernah aku kenal ketika aku berada di Kediri. Aku pernah melihat rumahnya dan akupun mengenal keluarganya” sahut Mahisa Agni.

Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. Agaknya yang dikatakan oleh Mahisa Agni itu memang paling baik bagi mereka.

Demikianlah, setelah mereka menempuh perjalanan yang panjang, mereka semakin mendekati Kediri. Tetapi karena perjalanan mereka bukannya perjalanan yang tergesa-gesa maka mereka bertiga telah bermalam satu malam di perjalanan.

Mereka memasuki Kediri menjelang sore dihari berikutnya. Mahisa Agni ternyata masih tetap mengenal jalan-jalan di dalam kota Kediri yang memang tidak terlalu banyak berubah. Sehingga dengan demikian, maka Mahisa Agni akan dapat langsung menemukan jalan ke rumah Daredu, seorang pekatik yang pernah dikenalnya ketika ia berada di Kediri.

Kedatangannya benar-benar telah mengejutkan seisi rumah yang tidak begitu besar itu. Daredu yang umurnya sebaya dengan Mahisa Agni, telah nampak menjadi semakin tua. Agak lebih tua dari Mahisa Agni.

“Aku Mahisa Agni Ki Daredu, “

“O, Tuanku” tiba-tiba saja Ki Daredu menjatuhkan diri berlutut di hadapan Mahisa Agni. Namun cepat Mahisa Agni menarik pundaknya sambil berkata, “Berdiri sajalah. Aku minta kepadamu”

“Ampun tuanku” Daredu masih gemetar karena terkejut.

“Berdirilah, untuk kepentinganku”

Dengan ragu-ragu Daredu berdiri meskipun sambil terbungkuk-bungkuk.

“Aku datang untuk mengunjungimu” berkata Mahisa Agni yang muda ini adalah kemanakanku, sedang yang setua aku ini adalah kakang Witantra. Bukankah kau juga pernah mengenal namanya?”

Pekatik yang nampak sudah lebih tua dari umur yang sebenarnya itu menjadi semakin heran. Dengan suara tertahan ia berkata, “Tentu. Aku sudah mengenal tuanku berdua. Tuanku berdua pernah menjadi wakil kekuasaan Singasari di Kediri. Dan hamba adalah pekatik yang rendah. Kedatangan tuanku membuat aku menjadi bingung”

Mahisa Agni tertawa. Katanya, “Ki Daredu. Jangan bingung. Aku datang untuk satu kepentingan yang tidak berarti. Aku ingin melihat kota yang bersih dan segar. Sebenarnyalah aku rindu untuk berkunjung ke kota ini. Tetapi jika aku datang dengan resmi mengunjungi Panji Kudasuwara, maka aku akan kehilangan banyak kesempatan untuk melihat-lihat, karena upacara resmi akan mengikatku”

“Tetapi tuanku bertiga akan mendapat tempat, yang baik, sesuai dengan kedudukan tuanku bertiga” berkata Daredu.

“Aku justru ingin menyusuri jalan kota Kediri dengan bebas. Aku ingin menyusup ke lorong-lorong kecil dan pasar-pasar yang terselip di sudut-sudut kota” jawab Mahisa Agni.

Ki Daredu masih termangu-mangu. Namun kemudian Mahisa Agni berkata, “Ki Daredu, apakah kami tidak kau persilahkan masuk ke dalam rumahmu?”

“Tentu tuanku” jawab Ki Daredu tergopoh-gopoh. Namun kemudian, “tetapi, rumah ini adalah rumah yang kecil,, buruk dan tidak mempunyai perabot sama sekali.”

“Kami adalah orang-orang yang pernah menjadi prajurit. Bahkan sebelumnya kami adalah petualang-petualang yang dapat tinggal di sembarang tempat dan keadaan. Prajurit tidak memilih medan. Di manapun ia berada, ia harus dapat menyesuaikan dirinya” jawab Mahisa Agni.

Ki Daredu tidak dapat berbuat lain kecuali mempersilah kan tamu-tamunya masuk ke dalam rumahnya yang tidak begitu besar. Di ruang depan yang disekat dengan dinding bambu dengan bilik-bilik berjajar tiga, dan berpintu rendah, terhampar sebuah amben bambu yang besar. Tidak ada pendapa yang luas dan tidak ada gandok di sebelah menyebelah. Tetapi amben itu cukup luas untuk duduk dan mungkin juga untuk tidur bertiga.

Betapa enggannya Ki Daredu menerima tamu yang baginya terlalu agung itu. Namun ia harus menerimanya dan mampersilahkan mereka duduk.

“Ampun tuanku. Kami sekeluarga tidak tahu, apakah yang harus kami perbuat bagi tuanku bertiga”

Witantra tersenyum. Katanya, “Perlakukan kami seperti orang lain yang datang berkunjung kepadamu. Kau lihat, bahwa kami tidak mengenakan pakaian kebesaran sama sekali, sehingga kami tidak datang dalam kedudukan kami. Kami datang atas keinginan pribadi dalam kepentingan yang bersifat sangat pribadi pula”

Ki Daredu bergeser setapak dengan gelisahnya. Jawabnya, “Betapapun juga aku mengerti, siapakah tuanku ini”

Tetapi sambil tertawa Witantra menjawab, “Anggaplah kami orang lain dari yang pernah kau kenal itu”

Ki Daredu menundukkan kepalanya dalam-dalam sambil berkata, “Aku sekaluarga akan mencobanya tuanku”

“Jangan segan. Dan jangan kau katakan kepada i apapun juga siapakah kami sebenarnya. Katakanlah, bahwa kami adalah saudara-saudaramu yang datang dari jauh, sedang anak muda ini adalah kemanakanmu”

“Ah mana mungkin tuanku. Ujud lahiriahku sama sekali tidak pantas untuk manyebut tuanku demikian” jawab Ki Daredu.

Mahisa Agnipun tertawa. Katanya, “Tetapi kau tentu tidak berkeberatan memenuhi permintaanku. Panggillah kami sebagai mana kalian memanggil saudara-saudaramu”

Ki Daredu masih saja dicengkam oleh keragu-raguan. Namun katanya kemudian, “Biarlah aku menyebut seperti seharusnya. Hanya jika tuanku berbaksud demikian, biarlah aku mencoba melakukan di hadapan orang lain”

“Baiklah” jawab Mahisa Agni, “dan sekali lagi aku berpesan, bahwa kau dan keluargamu jangan sekali-kali mengatakan siapakah aku sebenarnya”

“Bagaimana aku akan menyebut sebuah nama jika ada orang yang bertanya kepadaku tuanku” bertanya Ki Daredu.

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Lalu katanya, “Sebut saja dengan nama apapun juga”

“Ya, tetapi nama apakah yang paling pantas aku ucapkan?”

“Sebut aku dengan Damar dan kakang Witantra dengan Gantar. Sedang anak muda ini sebut saja namanya Bungalan. Ia memang bernama demikian”

Ki Daredu menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu Mahisa Agni berkata seterusnya, “Jika kau tidak berkeberatan aku akan tinggal di rumahmu barang tiga empat hari. Kau tidak usah memikirkan apapun juga. Kami dapat tidur di amben ini, dan kamipun dapat makan apa yang selalu kau makan sehari-hari”

“Ah” desah Ki Daredu. Namun Witantra segera berdesis, “Jangan ragu-ragu. Kami sangat mengharap kesediaanmu menerima kami dalam keadaan yang wejar saja seperti kau menerima orang lain. Kecuali kami tidak membuat kalian terlalu sibuk dengan berbagai macam ketentuan unggah-ungguh, kamipun akan mendapatkan kesempatan untuk berbuat dengan kepentingan kami sekarang ini”

Ki Daredu memandang Witantra dengan ragu. Semen tara Mahisa Agni menjelaskan, “Kami memang mempunyai kepentingan khusus Ki Daredu. Nanti kau akan kami beritahu. Aku tahu, bahwa kau adalah seorang pekatik yang baik pada saat aku masih berada di Kediri, Aku tahu, apakah kau juga masih seorang yang baik terhadapku sekarang ini”

Betapapun enggannya, namun Ki Daredu harus menuruti permintaan tamu-tamunya yang aneh. Bahkan kepada keluarganya, ia memperkenalkan bahwa ketiganya adalah saudara-saudaranya yang datang dari jauh.

“Nampaknya aku belum pernah mendengar namanya dan ujud mereka tidak ada kemiripan dengan kau” desis isterinya.

“Mereka bekerja di kota. Mereka sudah dipengaruhi oleh tata cara orang-orang yang berpangkat, meskipun tidak terlalu tinggi. Sedang kita? Meskipun kita tinggal di kota, tetapi aku hanya seorang pekatik”

“Di kota mana?” bertanya isterinya.

“Kota raja Singasari. Bukan di Kediri”

“O. Jauh sekali”

“Ya, jauh sekali. Mereka sudah rindu bertemu dengan kadangnya yang hanya menjedi seorang pekatik”

Nyi Daredu mengangguk-angguk. Ketika ia berkesempatan menemui ketiga tamunya, maka katanya, “Kami mengucapkan terima kasih yang besar sekali, bahwa kalian telah bersedia mengunjungi kami yang kecil ini”

“Apakah bedanya?” bertanya Mahisa Agni, “kami juga abdi-abdi yang kecil di Singasari”

“Tetapi kalian bukannya seorang pekatik seperti suamiku”

Mahisa Agni dan Witantra tertawa. Sementara Mahisa Bungalan mengangguk-angguk kecil.

“Nyai” berkata Witantra, “hampir seumur kami, kami tidak berkesempatan mengunjungi kakang Daredu. Karena itu, maka kami telah memerlukan untuk datang ke Kediri, selagi kami masih mampu berkuda pada jarak yang cukup jauh”

“Terima kasih. Terima kasih” desis Nyi Daredu. Sebagaimana seseorang yang menerima kunjungan saudara-saudaranya yang jauh dan jarang bertemu, maka Nyi Daredu berusaha untuk menjamu tamunya sebaik-baiknya. Meskipun demikian ketika ia menghidangkannya, iapun berkata, “Hanya inilah yang dapat kami hidangkan”

“Luar biasa” berkata Mahisa Agni, “kami telah menerima kehormatan yang besar sekali”

Ternyata bahwa Mahisa Agni, Witantra dan Mahisa Bungalan telah menerima suguhan itu dengan senang hati. Mereka telah memperlakukan hidangan itu benar-benar seperti hidangan yang sangat menyenangkan.

Demikianlah, maka untuk beberapa saat Mahisa Agni. Witantra dan Mahisa Bungalan akan berada di Kediri. Mereka telah menyusun rencana untuk melakukan tugas mereka, dalam hubungannya dengan Pangeran Kuda Padmadata.

Setelah mereka beristirahat semalam di rumah Ki Daredu, dan tidur bertiga di amben besar di ruang depan, maka di pagi harinya mereka bertiga telah minta diri untuk melihat-lihat Kota yang telah beberapa lama tidak mereka kunjungi.

Meskipun ada juga perubahan yang nampak pada kota itu, tetapi perubahan itu tidak terlalu besar, sehingga ketiganya dengan cepat dapat mengenali seluruh kota. Seperti yang mereka rencanakan, maka yang mereka lakukan di hari pertama itu barulah lewat di depan istana Pangeran Kuda Padmadata tanpa berbuat apapun juga.

Istana itu adalah istana yang cukup menarik. Pangeran Kuda Padmadata memang seorang yang kaya, yang memiliki tanah kelenggahan yang luas, beberapa tonggak hutan tutupan yang menghasilkan getah yang sangat mahal. Memiliki bermacam-macam kekayaan yang tidak banyak dimiliki oleh para bangsawan yang lain.

“Kita harus mengenalnya lebih banyak” berkata Mahisa Agni.

“Nampaknya istana itu tenang-tenang saja” desis Mahisa Bungalan.

“Ya” sahut Witantra, “tetapi siapa tahu bahwa di dalam dinding halaman terdapat beberapa orang yang dengan mata setajam mata elang, memandangi setiap orang yang masuk regol. Meskipun nampaknya mereka sebagai juru taman, namun mereka adalah orang-orang yang memang dipasang oleh pihak tertentu”

“Kita harus mengetahui lingkungan hidupnya” berkata Mahisa Agni, “mungkin Ki Daredu mengenal satu dua orang abdi dari istana itu. Mungkin pekatiknya, mungkin juru taman atau juru pengangsunya”

“Sementara kita dapat mencari sumber yang lain” berkata Mahisa Bungalan, “mungkin di kedai-kedai kita akan dapat mendengar serba sedikit tentang orang yang kaya raya itu”

“Tetapi kita harus berhati-hati” desis Witantra, “jika yang kita lakukan di kedai-kedai itu sempat mencurigakan orang lain, maka kita akan mengalami kesulitan.

“Kita berusaha untuk tidak meninggalkan kesan yang dapat menarik perhatian orang lain” jawab mahisa Bungalan.

Witantra dan Mahisa Agni mengangguk-angguk. Mereka masih saja berjalan menyusuri jalan-jalan di kota. Tetapi mereka berusaha untuk tidak menarik perhatian orang lain.

Sebenarnyalah Kediri adalah kota yang bersih dan teratur. Beberapa orang bangsawan di Kediri adalah orang-orang yang kaya raya, termasuk Pangeran Kuda Padmadata. Namun agaknya dibalik kekayaan itu, tersembunyi api yang dapat membakar nafsu ketamakan dan kedengkian. Tetapi masih belum nampak, siapakah yang telah menyalakan api itu.

Adalah kewajiban ketiga orang yang datang dari Singasari itu untuk mencari keterangan dan kemudian memecahkan persoalannya.

Tetapi Mahisa Agni, Witantra dan Mahisa Bungalan tidak tergesa-gesa. Ia harus melakukan dengan cermat. Yang terjadi atas Ki Tunda Wara dan Ki Wangut adalah cermin dari ketergesa-gesaan itu, sehingga mereka telah mengalami kegagalan mutlak, sehingga mereka bukan saja tidak berhasil melakukan tugas mereka, namun mereka justru telah menjadi korban.

Namun ternyata, bahwa kegagalan Ki Wangut dan Ki Tunda Wara telah tercium oleh para pengikutnya. Hari-hari yang telah dilalui ternyata terlalu lama. Tanpa ada keterangan dan berita.

Dalam kegelisahan, maka para pengikut Ki Wangut telah mencari hubungan dengan orang-orang yang dikenalnya merupakan jalur dengan orang-orang di Kediri.

Tetapi hubungan itupun agaknya terlalu sulit untuk sampai kepada orang yang pertama.

Meskipun demikian, agaknya orang-orang yang menjadi jalur hubungan dengan Kediri itu memiliki kemampuan berpikir yang lebih baik dari sisa-sisa pengikut Ki Wangut yang gelisah. Sehingga dengan demikian, maka berita tentang kemungkinan kegagalan usaha untuk membunuh perempuan dan anaknya itu telah terdengar oleh orang-orang yang bermain dengan rencana itu di Kediri.

“Mereka ternyata adalah orang-orang dungu” desis seorang yeng berjambang lebat

“Aku sudah mengira. Jika ia berhasil, maka ia tentu sudah menuntut upah yang kita janjikan itu, setelah mereka dapat menyerahkan bukti-bukti kematian perempuan dan anak laki-laki itu” sahut seorang yang bertubuh tinggi.

“Agaknya pihak yang semula berdiri diluar persoalan ini telah menjadi sebab gagalnya rencana Ki Wangut. Aku semula menganggap bahwa ia memiliki kelebihan dari orang-orang lain yang pernah aku kenal. Tetapi ternyata ia tidak lebih dari seorang yang hanya pandai membual. Menurut pendengaranku, ia telah mengorbankan terlalu banyak pengikutnya. Sedangkan akhirnya ia tidak berhasil sama sekali”

“Itu adalah akibat dari kebodohannya” berkata orang ber jambang pula.

Sementara orang bertubuh tinggi itu berkata, “Tetapi kita tidak boleh terpancang pada sikap itu. Bahkan yang terjadi adalah akibat kebodohan Ki Wangut Jika masalahnya menjadi semakin buruk, maka kita harus mengambil sikap lain”

“Maksudmu?” bertanya orang berjambang.

“Mungkin ada pihak-pihak yang ingin menelusuri masalah ini sampai ke Kediri” sahut orang bertubuh tinggi.

“Memang mungkin sekali. Karena itu, maka kita harus memperketat pengawasan di sekitar istana Pangeran Kuda Padmadata. Mungkin ada orang yang ingin langsung menghadapnya untuk menyampaikan masalah ini. Atau mungkin justru perempuan dan anak itu langsung dibawanya menghadap”

“Kita akan berhubungan dangan jaring-jaring yang sudah kita susun. Kita harus bekerja bersungguh-sungguh. Taruhannya adalah segala kekayaan dan warisan yang Pangeran yang kaya-kaya itu. Sebab tidak seharusnya warisan itu jatuh ke tangan darah padesan meskipun ia adalah anak Pangeran Kuda Padmadata”

Kawannya yang berjambang itu tertawa. Katanya, “Apakah itu yang terpenting?”

“Lalu apa?” bertanya yang bertubuh tinggi.

“Yang terpenting adalah nasib kita sendiri. Jika kita dengan keras hati berniat menggagalkan saluran warisan itu kepada daerah padesan, maka yang terpenting adalah, bahwa kita akan menerima sebagian dari padanya”

“Ah, kau memang terlalu tamak” desis orang bertubuh tinggi itu.

“Apakah kau kira, kau tidak akan berbuat demikian?” bertanya orang berjambang, “seandainya, anak padesan itu berjanji kepada kita untuk memberikan lebih banyak dari bagian yang akan kita terima jika warisan itu tidak jatuh kepadanya, maka apakah kita tidak akan berpihak kepada anak padesan itu, meskipun kita sendiri mempunyai tetesan darah bangsawan”

“Kau memang gila” desis orang bertubuh tinggi, “tetapi itu adalah pengakuan yang jujur. Aku kita aku pun berpendirian serupa. Namun demikian, aku masih memikirkan harga diriku sebagai seorang bangsawan dari tingkat yang paling rendah sekalipun”

Orang berjambang itu tertawa semakin keras. Tetapi akhirnya ia berkata, “Baiklah Semuanya dapat saja kita lakukan. Tetapi yang penting, kita harus selalu mengawasi segala kemungkinan yang dapat terjadi di istana Pangeran Kuda Padmadata”

Dengan demikian, maka kegelisahan para pengikut Ki Wangut itu telah menggerakkan orang-orang yang terlibat dalam persoalan yang sedang bergejolak di dalam keluarga Pangeran Kuda Padmadata. Mereka memang sudah memperhitungkan, berdasarkan atas laporan-laporan dari perkembangan keadaan, maka Ki Wangut akan mengalami kegagalan. Meskipun mereka belum menerima keterangan selengkapnya tentang kegagalan Ki Wangut. namun bahwa orang itu tidak lagi nampak untuk waktu yang lama, maka mereka menduga, bahwa Ki Wangut tidak berhasil menemukan tempat persembunyian perempuan dan anak laki-lakinya atau bahkan Ki Wangut telah mengalami kegagalan yang paling pahit seperti yang pernah terjadi atas beberapa orang pengikutnya.

Dengan persiapan yang baik, maka istana Pangeran Kuda Padmadata telah dikelilingi oleh beberapa orang yang bertugas untuk mengawasi jika ada orang yang mencurigakan tersangkut dalam persoalan yang gawat itu mulai merambah jalan masuk untuk menghadap Pangeran Kuda Padmadata, atau bahkan langsung menghadapkan perempuan dan anak laki-lakinya, yang seharusnya sudah dimusnahkan itu.

Bukan saja satu dua orang pengawal, tetapi orang-orang dalam di istana itu pun telah mendapat tugas-tugas khusus yang berhubungan dengan kemungkinan yang tidak diinginkan itu.

Ternyata bahwa Pangeran Kuda Padmadata adalah seorang bangsawan yang senang sekali memelihara berbagai macam binatang. Dari burung yang berkicau, sampai pada binatang buas yang dibuatnya kandang yang khusus di halaman.

Di halaman samping dari istana itu terdapat kandang seekor harimau loreng yang besar dan garang. Beberapa langkah lagi terdapat kandang harimau hitam legam yang sangat berbahaya, karena harimau itu pandai memanjat seperti seekor kucing. Meskipun harimau hitam itu tidak sebesar dan sekuat harimau loreng, tetapi bagi lawan-lawannya, harimau hitam justru lebih berbahaya, karena kelicikannya.

Tetapi berbeda dengan kandang yang kuat dan garang itu, di bagian lain terdapat sangkar burung berkicau bergantungan di serambi. Namun kadang-kadang para tamu terkejut ketika mereka memasuki pintu samping karena mereka akan melihat kulit seekor ular yang utuh membelit pada sebatang kayu. Kepalanya yang besar dengan mulut menganga tergantung tepat diatas pintu.

Istana Pangeran Kuda Padmadata menunjukkan, bahwa pemiliknya adalah seorang pemburu yang baik.

Di hari-hari berikutnya. Mahisa Agni, Mahisa Bungalan dan Witantra berhasil mendengar serba sedikit tentang Pangeran itu. Tetapi yang mereka dengar dari beberapa orang di kedai-kedai adalah, bahwa Pangeran Kuda Padmadata adalah seorang pemburu. Selebihnya mereka tidak mengetahui.

“Kita sudah mengetahui beberapa hal” berkata Mahisa Agni, “Pangeran itu adalah seorang yang kaya raya dan ia seorang pemburu yang baik”

“Baru itu” potong Mahisa Bungalan.

Witantra tertawa. Katanya, “Jangan tergesa-gesa. Kita sudah melalui jalan di depan rumah itu beberapa kali. Kita melihat beberapa orang sibuk di halaman, membersihkan taman dan kadang-kadang melakukan pekerjaan yang tidak berarti. Betapapun kayanya seseorang, tetapi ia tidak mempunyai juru taman yang berlebih-lebihan jumlahnya. Di hari kedua aku melihat ada tiga orang yang sibuk di halaman rumah itu. Meskipun hari ini aku hanya melihat seorang”

“Mungkin mereka adalah pekatik atau juru pengangsu atau gamel yang sedang tidak mempunyai pekerjaan. Karena mereka senang pula akan berjenis-jenis tanaman, maka mereka telah membantu juru taman untuk memelihara tanaman bunga yang tumbuh di halaman” desis Mahisa Bungalan.

“Memang mungkin. Tetapi mungkin pula, mereka memang dipasang untuk mengawasi orang-orang yang tidak mereka kehendaki memasuki halaman istana itu” jawab Witantra.

Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Itupun dapat terjadi. Tetapi sudah barang tentu kita tidak akan dapat terus menerus mondar mandir tanpa berbuat sesuatu”

Mahisa Agnipun tertawa. Katanya, “Kau ternyata masih terlalu dikuasai oleh kemudaanmu. Kita harus berhati-hati. Jangan membiarkan gejolak perasaanmu mendorongmu untuk berbuat sesuatu diluar pertimbangan”

Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Tetapi kita tidak boleh terlambat paman”

“Ya, ya” sahut Witantra, “kita memang harus berbuat sesuatu secepatnya”

Mahisa Bungalan mengerutkan keningnya. Tetapi iapun terdiam.

Sementara itu, maka ketika mereka berada di rumah Ki Daredu, maka Mahisa Agnipun bertanya kepada pekatik itu, “Ki Daredu, apakah kau mengetahui serba sedikit tentang Pangeran Kuda Padmadata dengan kesenangannya berburu?”

Ki Daredu termangu-mangu sejenak. Kemudian jawabnya, “Hamba tidak banyak mengetahui tentang Pangeran yang kaya raya itu tuanku. Yang hamba ketahui, di dalam istananya terdapat banyak sekali jenis binatang hidup atau mati”

“Apakah kau mempunyai seorang kenalan atau sanak kadang yang mengabdi pada Pangeran itu?”

Ki Daredu termenung sejenak. Namun kemudian katanya, “Jika sekedar mengenal, hamba mengenal seorang diantara mereka. Hamba mengenal seorang pemelihara kuda yang baik di istana itu. Mula-mula ia tidak lebih dari seorang pekatik yang harus mencari rumput seperti hamba untuk memberi makan beberapa ekor kuda yang baik di istana itu. Tetapi kemudian ia berhasil mempelajari sifat dan tabiat kuda yang dikenalnya di dalam istana itu. Akhirnya, ia menggantikan pemelihara kuda yang terdahulu, yang sudah terlalu tua dan tidak dapat bekerja lagi”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Ki Daredu. Apakah di istana itu tidak memerlukan pekatik lagi? Jika pekatik itu kini bertugas sebagai pemelihara kuda, maka apakah sudah ada pekatik yang lain yang menyediakan rumput bagi kuda-kuda yang berada di istana itu”

“Sudah tuahku. Sudah ada. Akupun mengenalnya, karena kami sering bersama-sama berada di padang rumput”

Mahisa Agni mengangguk-angguk. Katanya, “Aku akan ikut bersamamu ke padang rumput. Akan membantumu menjadi seorang pekatik”

“Tuanku. Hamba tidak mengerti” wajah Ki Daredu menjadi tegang.

“Kau berjanji untuk tidak bersikap demikian dihadapan orang lain. Bahkan di hadapan isterimu” desis Mahisa Agni, “Kau akan menganggap aku sebagai saudaramu yang datang dari jauh. Kau ingat”

Ki Daredu mengeleng-gelengkan kepalanya sambil bergumam, “Hamba tidak mengerti. Apa saja yang sedang tuanku lakukan sekarang di Kediri”

Mahisa Agni tertawa. Katanya, “Aku tidak sedang berbuat apa-apa selain mengenal Kediri pada masa ini, setelah beberapa lama aku tinggalkan. Ketika aku berada di Kediri, Pangeran Kuda Padmadata belum menjadi seorang yang mendireng seperti sakarang. Ia masih terlalu muda dan mungkin tidak termasuk ke dalam perhatianku pada masa itu”

“Kenapa sebenarnya dengan Pangeran itu?” bertanya Ki Daredu.

“Tidak apa-apa. Dan kaupun tidak perlu mengatakan dan menanyakan kepada siapapun juga. Aku hanya ingin ikut bersamamu ke padang rumput untuk menyabit rumput”

Ki Daredu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Hamba tidak mengerti. Tetapi jika demikian yang tuan kehendaki, maka apa boleh buat”

Demikianlah ketika Ki Daredu pergi ke padang rumput, untuk menyabit rumput yang hijau segar, maka Mahisa Agni telah pergi bersamanya dalam pakaian seorang pekatik.

“Namaku Damar” desis Mahisa Agni ketika mereka barada di padang.

Ki Daredu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia pun kemudian mengangguk sambil menjawab, “Aku, hamba, eh, aku menurut saja yang tuanku, maksudku, yang kehendaki”

Mahisa Agni tersenyum. Tetapi ia tidak menyahut. Sejenak kemudian Mahisa Agnipun telah ikut menyabit rumput bersama Ki daredu. Di padang itu terdapat beberapa orang yang juga sedang menyabit rumput untuk memberi makan kuda-kuda peliharaan yang banyak jumlahnya di Kediri.

“Tuanku, maksudku, kami dapat juga menyabit rumput he?” bertanya Ki Daredu.

“Di masa kecilku aku tinggal di sebuah padepokan kecil. Aku juga sering menyabit rumput dan menggembala kerbau” jawab Mahisa Agni.

“Tuanku senang berkelekar” Ki Daredu tertawa.

“Namaku Damar” Mahisa Agni memperingatkan.

“O, ya. Maksudku, kau sedang berkelekar, Damar”

Mahisa Agnipun tertawa tertahan.

Namun dalam pada itu, yang dilakukannya itu telah membawa Mahisa Agni ke dalam sebuah kenangan. Kenangan di masa yang telah jauh lampau. Samar-samar mulai terbayang, sebuah padepokan kecil yang bernama Panawijen. Seorang anak muda yang sederhana, tinggal di padepokan. Sehari-hari dilakukannya pekerjaan sebagi-mana anak-anak padesan. Namun di malam hari anak muda itu belajar bukan saja oleh kanuragan, tetapi juga kejiwan dan kesusastraan serba sedikit dari seorang mPu yang bernama Empu Purwa.

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Kenangan itu manis sekali, tetapi juga pahit seperti empedu. Perlahan-lahan Mahisa Agni menggeleng, seolah-olah ia ingin mengusir kenangan yang semakin lama menjadi semakin mengabur dan akhirnya hilang sama sekali, ketika Mahisa Agni berhasil memusatkan perhatiannya kepada beberapa orang menyabit rumput di padang itu.

“Ki Daredu, yang manakah pekatik Pangeran Kuda Padmadata yang sekarang?” bertanya Mahisa Agni.

“Itulah. Yang masih muda. Semuda kemanakan tuanku”

“Namaku Damar”

“Ya, ya. Semuda kemanakanmu yang bernama Bungalan itu”

Mahisa Agni mengangguk-angguk. Katanya, “Bawa aku kepadanya. Aku ingin memperkenalkan diri”

Ki Daredu termangu-mangu. Namun tiba-tiba ia berkata, “Ia datang dengan pekatik yang lama, sekarang menjadi juru pemelihara kuda”

“O, jadi orang itu ada disini pula?”

“Ya. Agaknya pekatik itu menyabit rumput yang tidak begitu baik, sehingga pemelihara kuda itu memerlukan datang untuk memberinya petunjuk”

Mahisa Agni mengangguk-angguk. Namun tiba-tiba ia mengerutkan keningnya. Kepada Ki Daredu ia bertanya, “Pekatik baru itu memang terlalu bodoh. Ia sama sekali tidak dapat menyabit rumput. Jika sekiranya ia mempunyai sedikit pengalaman menyabit rumput sebelumnya, ia tidak akan berbuat seperti itu. Aku sudah lama sekali tidak menyabit. Tetapi aku agaknya masih lebih pandai daripadanya”

Ki Daredu mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Sejenak semula aku sudah menyangka, bahwa ia sama sekali belum pernah melakukan pekerjaan itu. Meskipun demikian, ia adalah anak yang rajin, sehingga setiap hari iapun dapat membawa rumput yang cukup untuk memberi makan beberapa ekor kuda di rumah Pangeran Kuda Padmadata itu. Tetapi agaknya pemelihara kuda itu menganggap perlu untuk memberinya beberapa petunjuk”

Mahisa Agni mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Cari kesempatan untuk berbicara dengan mereka. Aku ingin memperkenalkan diri”

Ki Daredu pun kemudian menjinjing keranjang rumputnya mendekati mereka. Sambil melemparkan keranjangnya ia bertanya, “He kau turun lagi ke padang rumput ini?”

Yang diajak berbicara itupun tersenyum sambil menjawab, “Anak itu bodoh sekali. Sudah beberapa kali aku memberinya petunjuk. Tetapi ia belum berhasil mendapatkan rumput seperti yang aku kehendaki. Bahkan masih belum mencukupi kebutuhan, apa lagi Pangeran Kuda Padmadata mempunyai dua ekor kuda yang baru dan tegar”

“Apakah aku dapat membantu” tiba-tiba saja Mahisa Agni bertanya.

Ki Daredu terkejut. Tetapi ia menahan diri untuk tidak memberikan kesan apapun, juga, karena ia sudah mulai curiga, bahwa kedatangan Mahisa Agni ke Kediri, bukannya tanpa maksud tertentu.

Pemelihara kuda Pangeran Kuda Padmadata itu memandang Mahisa Agni sejenak. Dengan ragu-ragu ia bertanya, “Siapakah orang ini Ki Daredu?”

Ki Daredu menjadi bimbang. Tetapi iapun kemudian menjawab, “Ia saudaraku yang datang dari jauh”

“Siapakah namanya?”

“Damar” sahut Ki Daredu dengan memaksa diri, Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Sementara Ki Daredu pun berkata, “ia datang dari padesan. Agaknya sawah dan ladangnya menjadi kering olah musin kemarau yang panjang. Karena itu, ia datang ke kota”

Pemelihara kuda itu mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Padang inipun sudah mulai terpengaruh pula oleh musim, meskipun ada parit khusus yang sengaja dialirkan lewat padang ini justru agar rumput di padang ini tidak menjadi kering sama sekali”

“Ya. Padang ini adalah padang yang diperuntukkan bagi kuda-kuda peliharaan di daerah belahan Selatan kota Kediri. Padang serupa hanya ada tiga hamparan di seluruh kota ini” jawab pemelihara kuda itu” Jika padang ini menjadi kering, maka kita harus mencari rumput ke sawah-sawah dan pategalan”

Ki Daredu mengangguk-angguk. Sementara MahisaAgnipun bertanya sekali lagi, “Apakah aku dapat menghambakan diri kepada Pangeran yang mempunyai kuda yang tegar itu. Maksudku. Pangeran Kuda….”

“Kuda Padmadata” pemelihara kuda itu melengkapi.

“Ya. Pangeran Kuda Padmadata. Aku tidak dapat segera kembali ke padukuhanku yang kering. Disini aku akan mendapat sekedar makan dan tempat untuk menumpang badan sepata” sambung Mahisa Agni.

“Kau tidak mempunyai keluarga?” bertanya pemelihara kuda itu.

“Tidak Ki Sanak. Isteriku telah meninggal. Anakku yang seorang tidak lagi aku ketahui dimana tinggalnya, sementara anakku yang seorang lagi, perempuan, telah meninggal ketika ia melahirkan anak”

Pemelihara kuda itu termangu-mangu. Katanya kemudian, “Aku memang memerlukan kawan. He, apakah ia sekarang membantumu Ki Daredu?”

“Membantu menyabit disini. Tetapi ia belum menghambakan diri kepada siapapun” Ki Daredu mencoba menyesuaikan diri, bahkan katanya kemudian, “jika ia mendapat tempat untuk menghamba, aku akan sangat terterima kasih, karena aku yang miskin ini tidak perlu menanggung hidupnya meskipun ia hanya sebatang kara”

“Aku akan membicarakannya dengan Ki Jurasanta. lurah para abdi di istana Pangeran Kuda Padmadata kata pemelihara kuda itu.

“Terima kasih Ki Sanak, terima kasih. Aku tak sampai hati terlalu lama menjadi beban kakang Daredu yang sudah merasa kesulitan menanggung keluarganya sendiri” berkata Mahisa Agni.

“Bukankah namamu Damar?” bertanya pemelihara kuda itu.

“Ya, namaku Damar” sahut Mahisa Agni.

“Baiklah. Aku akan menyampaikannya” desis pemelihara kuda di istana Pangeran Kuda Padmadata itu.

Namun dalam pada itu, Mahisa kadang-kadang memperhatikan pekatik baru yang masih muda, yang ternyata masih kurang pandai menyabit rumput itu. Pada sorot matanya, Mahisa Agni menangkap isyarat, bahwa ia harus berhati-hati terhadapnya.

“Ia hadir di istana itu dengan tugas khusus” desis Mahisa Agni di dalam hatinya, “meskipun ia tidak pandai menyabit rumput, tetapi ia mencoba untuk melakukan tugasnya sebaik-baiknya. Namun ada sesuatu yang perlu diperhatikan pada anak itu”

Ternyata bahwa pandangan Mahisa Agni yang tajam, berhasil menangkap sesuatu pada anak itu. Meskipun demikian, Mahisa Agni masih tetap pada sikapnya”

“Datanglah besok” berkata pemelihara kuda itu, “aku tentu sudah berkesempatan bertemu dengan Ki Jurasanta”

“Terima kasih” desis Mahisa Agni terima kasih, “Dan Mahisa Agnipun kemudian meneruskan membantu Ki Daredu menyabit rumput. Ia berbuat seperu yang dilakukan oleh kebanyakan pekatik. Untunglah bahwa di masa kecilnya, Mahisa Agni pernah juga melakukannya, sebagai anak padepokan kecil. Sehingga dengan demikian, nampak bahwa ia memiliki ketrampilan melampaui anak muda yang telah bekerja pada Pangeran Kuda Padmadata itu.

Ketika kemudian mereka kembali pulang sebelum Ki Daredu membawa rumputnya ke istana Panji Kudasuwana, yang bertugas atas nama kekuasaan Singasari di Kediri, tidak habisnya ia bertanya di dalam hati, apakah yang sebenarnya dilakukan olen Mahisa Agni, tetapi ada keseganan untuk menanyakannya.

Mahisa Agni lah yang kemudian sambil menjinjing keranjang di kepalanya berkata, “Kau tidak usah menjadi pening karena sikapku Ki Daredu. Biarlah aku mencari cara tersendiri untuk menemukan kesegaran kenangan atas kota ini”

“Tetapi tuanku telah berbuat sesuatu yang tidak sepantasnya. Apakah yang akan dikatakan orang jika akhirnya mereka mengetahui, bahwa tuanku lah yang menjadi penyabit rumput di istana Pangeran Kuda Padmadata.

“Itu sudah wajar. Aku anak padepokan kecil yang kemudian menjadi penyabit rumput”

“Tuanku adalah penguasa tertinggi di Kediri atas nama kerajaan Singasari yang kini memerintah Kediri” berkata Ki Daredu.

Mahisa Agni tertawa. Katanya, “Itu adalah Panji Kudasuwana. Bukan aku. Pada waktunya memang aku. Tetapi itu sudah lampau seperti juga Panji Pati-pati kini tidak berkuasa lagi”

Ki Daredu berdesis, “Aku sudah pikun” lalu suaranya merendah, “Ampun tuanku. Hamba tidak tahu apakah yang sebaiknya harus hamba lakukan. Mudah-mudahan hamba dapat membantu tuanku dengan rencana yang membingungkan ini”

Mahisa Agni masih tertawa. Keranjang rumput itupun masih berada dikepalanya. Katanya, “Aku pantas menjadi seorang pekatik. Ki Daredu menarik nafas dalam-dalam. Ia benar-benar menjadi bingung menghadapi sikap Mahisa Agni. Ia sadar, bahwa ada sesuatu yang akan dilakukan oleh orang yang pernah memegang kekuasaan di Kediri atas nama pimpinan tertinggi di Singasari itu. Tetapi bagaimana mungkin ia sampai merendahkan dirinya dan menjadi seorang pekatik.

Tetapi Ki Daredu kemudiani tidak berani bertanya. Ia tidak ingin dianggap orang tua yang banyak ingin mengetahui persoalan yang bukan persoalannya.

Ketika Mahisa Agni sampai di rumah Ki Daredu, maka iapun segera menceriterakan apa yang telah dilakukannya. Mahisa Agni sempat juga menceriterakan, bagaimana Ki Daredu menjadi bingung karenanya.

Sementara itu, kening Mahisa Bungalan menjadi berkerut-merut. Ia tahu, bahwa yang dilakukan olah Mahisa Agni itu tentu berbahaya. Jika orang-orang yang berada di seputar Pangeran Kuda Padmadata mengetahuinya, maka ia akan berhadapan dengan kekuatan yang mungkin sangat besar.

Mahisa Agni seolah-olah mengetahui kecemasan Mahisa Bungalan itu. Maka katanya kemudian, “Jika aku mengalami kesulitan, bukankah kau dan kakang Witantra ada di sini?”

Bersambung....!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...