*HIJAUNYA LEMBAH : JILID-026-01*
Demikian mereka sampai di pategalan, maka mereka-pun segera mencari tempat yang paling baik untuk bertempur. Karena tujuan mereka pergi ke pategalan itu adalah untuk berkelahi.
Dibawah sebatang pohon sukun mereka telah menemukan tempat yang lapang. Mereka tidak menghiraukan tanaman jagung muda yang tumbuh dengan suburnya. Hijau daunnya tidak melemahkan hasrat mereka yang ingin mengadu kemampuan ilmu mereka yang tinggi. Meskipun sebenarnyalah Mahisa Murti dan Mahisa Pukat hanya sekedar berusaha membela diri saja.
Sejenak kemudian, maka orang-orang yang akan bertempur itu telah bersiap. Orang bertubuh kecil itu telah siap mempergunakan tongkatnya, sementara Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah menyiapkan pedang pendek mereka, jenis senjata yang dapat mereka bawa dibawah kain panjang mereka.
Orang bertubuh kecil yang telah siap untuk menyerang itupun masih sempat berkata, “Salah seorang diantara kalian telah dapat merasakan betapa tongkatku memiliki kekuatan yang sulit untuk dilawan. Itupun belum lagi tersalur, kekuatan ilmuku. Kalian dapat membayangkan, jika tongkat aku ayunkan langsung mengenai tubuh kalian.”
Mahisa Pukat yang telah dikenai tongkat itupun mengerutkan keningnya. Dipandanginya Mahisa Murti sekilas, namun kemudian iapun memandang orang bertubuh kecil itu sambil menjawab, “Ki Sanak. Pundakku yang dikenai tongkatmu memang sakit. Itupun belum kau saluri kekuatan ilmu dan tidak langsung kau ayunkan ke tubuhku. Namun sementara itu aku pun juga tidak siap mengalami benturan dengan tongkatmu sehingga aku pun belum mempersiapkan daya tahanku dengan melambari ilmuku untuk melawan tongkatmu.”
Orang bertubuh kecil itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya hampir bergumam, “Kalian memang anak-anak yang sombong. Tetapi sebentar lagi kalian akan merasakan betapa kesombongan kalian telah menjerumuskan kalian ke dalam kesulitan.”
“Sombong atau tidak sombong kami sudah terjerumus ke dalam kesulitan,” jawab Mahisa Murti. Lalu, “Karena itu, marilah kita bertempur. Siapakah yang terbukti akan mati disini.”
Orang bertubuh kecil itupun kemudian bergeser setapak sambil mengayunkan tongkatnya. Perlahan-lahan namun terasa bahwa tongkat itu benar-benar berbahaya jika mengenai tubuh mereka.
Karena itu, maka baik Mahisa Murti maupun Mahisa Pukat menyadari, bahwa mereka harus berusaha selalu menghindari sentuhan tongkat panjang orang bertubuh kecil itu. Karena sentuhannya benar-benar akan dapat memecahkan tulang-tulangnya.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat itupun kemudian merenggang. Mereka akan langsung menghadapi orang bertubuh kecil itu berpasangan. Dengan memutar pedang pendek masing-masing keduanya berusaha untuk berada di tempat yang seberang-menyeberangi orang yang bertubuh kecil itu. Dengan demikian maka keduanya akan dapat memecah perhatian orang bertubuh kecil yang bertongkat panjang itu.
Sejenak kemudian, maka tongkat itu mulai terayun. Namun kedua orang anak muda itu telah bersiap sepenuhnya. Mereka telah bertekad untuk menghindari benturan sejauh dapat mereka lakukan karena agaknya orang bertubuh kecil itu selain mampu mempergunakan tenaga-tenaga cadangannya sebaik-baiknya, iapun memiliki kemampuan menyerap kekuatan dari alam sekelilingnya, sehingga dengan demikian, maka tongkatnya memiliki kekuatan yang luar biasa.
Tetapi kedua orang anak muda itupun telah dibekali dengan ilmu yang lengkap. Karena itu, baik Mahisa Murti maupun Mahisa Pukat sama sekali tidak menjadi gentar melihat sikap lawannya. Ketika tongkat panjang itu terayun menyambar tubuh Mahisa Murti namun yang dapat dihindarinya, maka terdengar desing yang tajam seakan-akan menusuk langsung ke pusat jantung kedua anak muda itu.
“Luar biasa,” desis Mahisa Murti dan Mahisa Pukat hampir berbareng.
Namun keduanya telah meloncat mempersiapkan diri menghadapi pertempuran yang lebih keras lagi melawan orang bertubuh kecil itu.
Orang bertubuh kecil itupun merasa heran melihat ketangkasan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Kedua anak muda itu ternyata mampu bergerak cepat mengatasi kecepatan gerak tongkatnya.
Namun demikian, orang bertubuh kecil itu masih mampu meningkatkan kecepatan geraknya. Tongkatnya berputar semakin cepat, sehingga Mahisa Murti dan Mahisa Pukat harus berloncatan semakin cepat pula. Bahkan karena tongkat itu rasa-rasanya selalu memburunya, maka pada satu saat, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah berusaha untuk menjajagi kekuatan yang sebenarnya dari orang bertubuh kecil itu.
Dengan hati-hati dan tidak langsung, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sekali-sekali telah membenturkan senjatanya. Namun ternyata bahwa kekuatan orang bertubuh kecil dengan ayunan tongkatnya itu bukannya tidak mungkin untuk terlawan. Dengan mengerahkan kekuatan cadangannya dan landasan ilmunya, maka kekuatan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun menjadi berlipat, sehingga ketika terjadi benturan kecil, maka orang yang memutar tongkatnya itupun merasa heran. Ketika tongkatnya membentur pedang pendek Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, terasa olehnya bahwa kedua orang anak muda itu memiliki kemampuan yang nggegirisi.
“Mana mungkin,” berkata orang itu di dalam dirinya.
Namun orang bertubuh kecil itu menghadapi satu kenyataan, bahwa Mahisa Murti dan Mahisa Pukat memiliki kekuatan yang sangat besar. Bukan kekuatan wajarnya, tetapi kekuatan ilmunya yang mendebarkan.
Dengan demikian maka pertempuran antara bertubuh kecil itu melawan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menjadi semakin cepat. Benturan-benturan menjadi semakin sering terjadi. Ketika Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menyadari, bahwa kekuatan orang bertongkat itu tidak terlalu mengejutkan, maka mereka pun mulai semakin sering membenturkan senjatanya menangkis serangan lawannya. Mereka tidak lagi berloncatan dan diburu oleh ayunan tongkat panjang itu. Tetapi sekali-sekali mereka dengan tengadah telah memukul ayunan tongkat itu dengan lambaran ilmu mereka.
Sementara itu, Mahisa Bungalan dan Pangeran Singa Narpada mulai menjadi cemas. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat ternyata terlalu lama pergi. Bahkan keduanya pun mulai menjadi cemas, bahwa telah terjadi sesuatu dengan kedua anak muda itu.
“Apakah aku harus mencarinya?” bertanya Mahisa Bungalan.
Pangeran Singa Narpada termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Kita menunggu beberapa saat lagi. Jika mereka tidak segera kembali, maka memang sebaiknya kau mencarinya. Aku akan menunggui benda ini dan Adimas Lembu Sabdata akan aku paksa untuk tidur, agar pada saat-saat yang gawat tidak justru mengganggu.”
Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. Ia masih berusaha menahan kegelisahannya. Karena itu, maka iapun masih saja duduk bersandar sebatang pohon yang tidak terlalu besar. Namun tatapan matanya terlempar ke kejauhan, ke arah kedua adiknya meninggalkan tempat itu.
“Agaknya dari sana pula mereka akan datang,” berkata Mahisa Bungalan didalam hatinya.
Namun dalam pada itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih bertempur dengan sengitnya. Orang bertubuh kecil itu memutar tongkat panjangnya semakin cepat. Tetapi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang telah mewarisi ilmu ayahnya justru menjadi semakin mapan, sehingga keduanya berhasil menempatkan diri mereka sebaik-baiknya. Keduanya bertempur berpasangan dalam hubungan yang semakin mantap. Saling mengisi dan kadang-kadang mampu membingungkan orang bertubuh kecil itu.
“Bukan main.” terdengar orang bertubuh kecil itu berdesis. Namun ia harus bergerak lebih cepat agar ia tidak semakin terdesak oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.
Dengan demikian maka pertempuran itupun menjadi semakin sengit. Orang bertubuh kecil itu ternyata tidak membatasi kemampuan ilmunya pada ayunan tongkat panjangnya. Namun tiba-tiba saja telah terjadi serangan yang sangat mengejutkan bagi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.
Dalam keadaan yang mulai terdesak, maka orang bertubuh kecil itu telah menunjukkan kemampuannya yang sangat tinggi. Ketika ia gagal menyentuh lawannya dengan tongkatnya yang sudah dijalari dengan ilmunya, maka ia mulai mempertimbangkan untuk mempergunakan ilmunya yang lebih tinggi.
Sementara itu, ranting-ranting dan cabang-cabang pepohonan di pategalan itupun bagaikan ditebas oleh angin pusaran. Sentuhan tongkat panjang itu benar-benar telah merusakkan tanaman di pategalan itu. Bukan saja tanaman-tanaman kecil, tetapi juga pepohonan yang tumbuh menaungi pategalan itu serta pohon buah-buahan.
Meskipun demikian, ayunan demikian, ayunan tongkat itu tidak dapat mematahkan ketahanan ilmu Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Dengan pedang pendeknya, keduanya mampu menahan kekuatan lawannya dengan benturan-benturan.
Karena itu, maka dalam keadaan yang semakin terdesak, tiba-tiba saja orang itu telah mengacungkan tongkatnya Tidak diayunkan, tetapi dari ujung tongkat itu seakan-akan lelah menyambar cahaya yang silau.
Mahisa Murti yang menjadi sasaran pertama, tidak membiarkan dirinya disentuh oleh sesuatu yang tidak dikenalnya. Karena itu maka iapun telah meloncat menghindar.
Karena itu, maka cahaya yang silau itu tidak mengenainya. Ketika cahaya itu menyentuh sebongkah batu padas, maka batu itu seakan-akan telah meledak.
Memang mendebarkan. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat segera teringat akan serangan-serangan Panembahan Bajang. Tetapi meskipun serangan-serangan itu juga menimbulkan ledakan, namun berbeda karena serangan orang bertubuh kecil itu langsung dihadapinya. Serangan itu seakan-akan dilontarkan dari ujung tongkat panjang orang bertubuh kecil itu, meskipun tentu saja bukan karena tongkat panjang itulah yang dapat melontarkan serangan, tetapi kemampuan ilmu orang yang memilikinya.
Dengan demikian, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat harus berhati-hati. Keduanya tidak boleh lengah jika orang bertubuh kecil itu mulai mengacungkan tongkatnya.
Namun ternyata bahwa Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mampu bekerja bersama sebaik-baiknya, sehingga seakan-akan orang itu tidak mempunyai kesempatan untuk melakukannya. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat dapat menyerang bergantian dan saling mengisi. Kemampuan keduanya memang seimbang pada tataran yang tinggi.
Meskipun demikian, sekali-kali orang bertubuh kecil itu sempat juga melontarkan serangannya. Jika serangan itu mengenai sebatang pohon, maka pohon itupun menjadi tumbang karenanya.
Dengan perhitungan yang mapan, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat berusaha untuk dapat bertempur pada jarak yang dekat, sehingga lawannya tidak sempat menyerang dengan caranya yang mendebarkan itu. Kedua pedang pendek Mahisa Murti dan Mahisa Pukat bergantian menyambar orang bertubuh kecil itu. Setiap kali terdengar dentang senjata mereka beradu.
Ternyata orang bertubuh kecil itu benar-benar telah membentur kekuatan yang tidak dikira sebelumnya. Ia tidak menyangka bahwa kedua anak muda itu telah memiliki ilmu puncak dari satu perguruan meskipun pengalaman mereka masih belum terlalu luas. Tetapi keduanya adalah pengembara yang pernah menjelajahi lembah dan lereng-lereng pegunungan.
Namun agaknya orang bertubuh kecil itu masih mampu meningkatkan kemampuannya. Ia masih mampu bergerak lebih cepat dan tongkatnya berputaran dengan melontarkan desing yang menyengat telinga.
Pada kesempatan-kesempatan tertentu, maka orang bertubuh kecil itu masih mampu juga melepaskan diri dari kurungan kemampuan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, menyerang dengan cahaya yang silau yang seakan-akan dilontarkan dari ujung tongkatnya.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun telah berusaha untuk bertempur semakin cepat pula. Namun ternyata bahwa keduanya kadang-kadang mengalami kesulitan karena serangan-serangan yang aneh itu justru dapat dilakukan lebih cepat dan dari jarak yang lebih dekat. Seakan-akan setiap ia menunjuk dengan ujung tongkatnya, maka serangan cahaya yang menyilaukan itu telah terlontar. Bahkan kadang-kadang susul menyusul.
“Gila,“ geram Mahisa Murti yang harus berloncatan menghindar, bahkan Mahisa Pukat telah menjatuhkan dirinya dan berguling dengan cepat.
Namun dengan demikian, maka pertempuran diantara mereka pun menjadi semakin sengit. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat harus mengerahkan kemampuan mereka untuk mengatasi serangan-serangan yang seakan-akan menjadi semakin cepat itu.
Untuk beberapa saat Mahisa Murti dan Mahisa Pukat berhasil mengatasi serangan-serangan yang semakin cepat. Namun kemudian ternyata bahwa orang bertubuh kecil itu mampu meningkatkan serangannya. Dengan demikian maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah menjadi terdesak kembali.
Namun kedua orang anak muda itu adalah anak dan sekaligus murid Mahendra yang telah mencapai tingkat tertinggi dari ilmunya meskipun masih harus dikembangkannya. Karena itu, maka keduanya tidak ingin untuk terdesak terus menerus dan kehilangan kesempatan untuk keluar dari pertemuan itu. Karena itu, maka baik Mahisa Murti maupun Mahisa Pukat sampai pada satu keputusan untuk mengimbangi kemampuan ilmu lawannya dengan caranya. Dengan bekal ilmu yang ada pada mereka.
Dalam keadaan yang terdesak itu, maka hampir berbareng Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sampai pada satu keputusan untuk mempergunakan senjata mereka yang lain.
Sejenak kemudian, maka Mahisa Murti telah memindahkan pedang pendeknya di tangan kirinya. Mahisa Pukat yang melihatnya tidak menunggu lebih lama lagi. Iapun telah melakukan hal yang sama pula.
Orang bertubuh kecil yang mampu menyerang dengan ilmunya yang menggetarkan itupun kedua lawannya memindahkan senjata-senjata mereka ke tangan kirinya. Karena itu, maka iapun segera menyadari, bahwa keduanya tidak membiarkan diri mereka terus menerus terdesak.
Sebenarnyalah bahwa sejenak kemudian, baik Mahisa Murti maupun Mahisa Pukat telah saling menjauhi. Keduanya mengambil arah yang berbeda, sehingga orang bertubuh kecil itu harus selalu berusaha menyesuaikan dirinya.
Namun selagi serangan-serangannya harus diarahkan kepada dua sasaran yang terpisah, maka kedua anak muda itu telah menyerangnya pula dengan serangan-serangan yang mendebarkan pula.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah mempergunakan paser-paser kecilnya untuk mengimbangi serang-an-serangan yang seolah-olah melejit dari ujung tongkat panjang lawannya.
Orang bertubuh kecil itu mengumpat. Meskipun ujud serangan itu berbeda, namun memiliki kemampuan yang tidak terlalu jauh berbeda. Jika loncatan cahaya yang keluar dari ujung tongkat panjang itu mampu meledakkan batu padas, maka sentuhannya pada tubuh lawannya tentu akan dapat memecahkan tulang belulang. Namun sentuhan paser Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, meskipun hanya segores kecil akan dapat membinasakan lawannya pula karena kekuatan bisanya yang hampir tidak terlawan.
Agaknya orang bertubuh kecil itupun menyadari. Karena itu, maka ketika paser pertama mulai meluncur dari tangan Mahisa Murti, jantung orang itupun telah menjadi berdebaran. Apalagi kemudian disusul lontaran kedua dari tangan Mahisa Pukat.
Sejenak orang bertubuh kecil itu berusaha mengambil jarak. Namun ternyata bahwa Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak membiarkannya bergeser menjauh. Setiap serangan dengan kekuatan ilmu yang terlontar dari ujung tongkat panjang itu, selalu dibalas dengan lontaran paser-paser kecil dengan kecepatan yang mampu mengimbanginya.
Orang bertubuh kecil itu ternyata harus mengakui kemampuan kedua lawannya yang masih sangat muda. Meskipun orang bertubuh kecil itu mengerti, bahwa jumlah paser-paser kecil anak-anak muda itu tentu terbatas, tidak sebagaimana dapat dilakukan dengan lontaran serangannya dengan tongkat panjangnya, namun orang bertubuh kecil itupun tidak berani meyakini dirinya, bahwa sampai hitungan terakhir dari paser-paser itu dilontarkan, ia masih mampu menghindarinya.
Apabila menurut pengamatan orang bertubuh kecil itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mampu memperhitungkan keadaan sebaik-baiknya. Mereka tidak asal saja melontarkan senjata mereka. Tetapi baik Mahisa Murti maupun Mahisa Pukat setiap kali melepaskan senjata kecilnya itu, tentu dilambari dengan perhitungan yang cermat, sehingga sedang lemparan senjata, hampir saja menyentuh kulit lawannya. Dan setiap sentuhan, berarti maut telah datang menjemputnya.
Beberapa saat mereka masih bertempur. Justru semakin cepat dan semakin sengit.
Namun akhirnya orang bertubuh kecil itu tidak dapat bertahan lebih lama lagi. Serangan-serangan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat setiap kali berdesing di telinganya seperti seekor kumbang yang siap menyengat tengkuknya.
Sementara itu, kesempatannya untuk menyerang dengan tongkatnya pun menjadi semakin terbatas. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat selain mempergunakan paser-paser kecilnya, mereka pun telah berusaha menyerang dengan pedang pendeknya, sehingga orang bertubuh kecil itu setiap saat harus menghindar atau menangkis serangan-serangan itu. Beruntun dan bahkan hampir tidak berhenti sama sekali. Kedua anak muda itu meloncat menyerang silih berganti dan susul menyusul antara ujung pedang pendeknya dan paser-paser kecilnya.
“Bukan main,” desis orang bertubuh kecil yang kehilangan kesempatan untuk membalas menyerang. Bahkan iapun menjadi cemas karena serangan-serangan kedua lawannya yang semakin meningkat.
Sehingga akhirnya, orang bertubuh kecil itupun sampai pada satu kenyataan, bahwa ia tidak dapat bertahan lebih lama lagi.
Sementara itu, Mahisa Bungalan semakin lama menjadi semakin cemas akan keadaan kedua adiknya. Mereka telah terlalu lama pergi, sehingga menimbulkan dugaan yang menggelisahkan.
Pangeran Singa Narpada pun agaknya melihat kegelisahan itu. Sehingga karena itu, maka iapun kemudian berkata, “Mahisa Bungalan. Aku dapat merasakan kegelisahan perasaanmu. Kedua adikmu memang sudah terlalu lama pergi. Karena itu, maka biarlah kau mencarinya. Aku akan menjaga benda ini sebaik-baiknya.”
Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam. Ia menjadi bimbang. Apakah ia dapat meninggalkan Pangeran Singa Narpada dengan benda yang paling berharga itu. Apalagi keadaan Pangeran Lembu Sabdata yang tidak dapat dianggap wajar.
Namun Pangeran Singa Narpada kemudian berkata, “Pergilah. Mungkin kedua adikmu itu memang memerlukanmu.”
Mahisa Bungalan pun kemudian bangkit. Sambil memandang berkeliling ia bergumam, “Baiklah Pangeran. Aku tidak akan pergi terlalu lama.”
“Tetapi sementara ini, biarlah aku memersilahkan adimas Lembu Sabdata untuk tidur,” berkata Pangeran Singa Narpada sambil mendekati Pangeran Lembu Sabdata yang duduk memandang kehijauan dedaunan dengan tatapan mata yang kosong.
“Marilah,” berkata Pangeran Singa Narpada, “tidurlah.”
Kata-kata itu seakan-akan merupakan perintah yang tidak terlawan. Bahkan kemudian sebuah sentuhan telah membuat Pangeran Lembu Sabdata benar-benar tertidur.
Mahisa Bungalan pun menjadi agak tenang melihat Pangeran Lembu Sabdata yang telah tertidur. Dengan demikian jika terjadi sesuatu, Pengeran Singa Narpada dapat memusatkan perhatiannya kepada benda yang paling berharga di Kediri itu, sehingga ia akan dapat menjaganya dengan sebaik-baiknya. Karena sebenarnyalah Mahisa Bungalan mempunyai perhitungan tersendiri.
“Pangeran,” berkata Mahisa Bungalan, “Aku mohon diri. Tetapi aku mempunyai dugaan bahwa mungkin sekali seseorang memang telah memancing salah seorang diantara kita untuk pergi.”
“Aku mengerti,” berkata Pangeran Singa Narpada, ”Kita akan sangat berhati-hati.”
Demikianlah, maka Mahisa Bungalan pun kemudian meninggalkan tempat itu. Langkahnya perlahan-lahan. Rasa-rasanya kedua kakinya masih dibebani oleh keragu-raguannya, sehingga ia tidak meloncat dan melangkah dengan cepat.
Namun akhirnya langkahnya itupun semakin lama menjadi semakin cepat. Ketika ia berpaling dan tidak lagi melihat Pangeran Singa Narpada, maka iapun berjalan semakin cepat.
Ketika Mahisa Bungalan meloncati sebatang sungai kecil dan turun di sebuah jalan sempit, langkahnya terhenti. Ia ragu-ragu memilih arah. Apakah sebaiknya ia ke kiri atau kekanan.
Tetapi selagi ia masih ragu-ragu, maka dilihatnya dua orang yang berjalan tergesa-gesa ke arahnya. Keduanya ternyata adalah Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.
Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam, sementara kedua adiknya yang melihatnya justru telah mempercepat langkah mereka.
“Kalian terlalu lama pergi,” desis Mahisa Bungalan ketika kedua adiknya menjadi semakin dekat.
Mahisa Murti lah yang kemudian berceritera apa yang telah terjadi atas mereka. Sehingga akhirnya ia berkata, “Ternyata bahwa orang bertubuh kecil dan bertongkat panjang itu telah meninggalkan gelanggang. Kami semula memang berusaha untuk memburunya. Namun dengan ilmunya, orang itu berhasil lolos dari tangan kami dan meningggalkan kami semakin jauh. Cahaya yang seakan-akan meloncat dari ujung tongkatnya itu banyak menghalangi kami, apalagi kami memang merasa bahwa jika kami terlalu lama pergi, kami akan dapat menggelisahkan kakang dan Pangeran Singa Narpada.”
Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. Namun tiba-tiba ia berkata, “Jika demikian, kita harus cepat kembali. Mungkin Pangeran Singa Narpada harus menghadapi orang itu.“
“Tetapi apakah orang itu mengetahui tempat kita berhenti dan beristirahat?” bertanya Mahisa Pukat.
Mahisa Bungalan mengerutkan keningnya. Namun iapun kemudian meloncat sambil berkata, “Kita harus cepat kembali.”
Kedua adiknya pun cepat menyusulnya. Ketiganya pun kemudian berloncatan diatas tanah berbatu. Kemudian mereka menyusup gerumbul-gerumbul kecil sehingga akhirnya mereka sampai ke tempat Pangeran Singa Narpada menunggu.
Ketiga orang itu menjadi berdebar-debar. Ternyata Pangeran Singa Narpada telah berdiri berhadapan dengan orang bertubuh kecil dan bertongkat panjang. Sambil memegang Mahkota yang dibungkusnya rapat-rapat, Pangeran Singa Narpada siap menghadapi segala kemungkinan.
Tetapi orang bertubuh kecil itu kemudian berkata, “Aku tidak akan berbuat sesuatu.”
Pangeran Singa Narpada masih berhati-hati. Sementara Mahisa Bungalan dan kedua adiknya telah datang mendekat.
“Nah,” berkata Mahisa Pukat, “Kita bertemu lagi. Marilah. Kita akan melanjutkan permainan kita. Jika kau masih mampu melontarkan ilmumu yang nggegirisi itu, maka aku pun masih mempunyai paser-paser kecil. Bahkan sebagian yang telah kami lontarkan telah dapat kami pungut kembali.”
Tetapi orang itu menggeleng. Katanya, “Tidak. Melawan kalian berdua aku ternyata sudah kalah. Apalagi disini ada empat orang yang tentu memiliki ilmu yang seimbang. Bahkan aku yakin, bahwa yang lebih tua memiliki pengalaman yang lebih luas.”
“Lalu apa maksudmu datang kemari?” bertanya Mahisa Pukat.
Orang itu termangu-mangu, sementara Mahisa Murti berkata kepada Mahisa Bungalan, “Orang inilah yang telah aku katakan itu kakang.”
Mahisa Bungalan memang sudah menduga ketika ia melihat orang bersenjata tongkat itu. Selangkah ia mendekati orang itu sambil berkata, “Kedua adikku sudah berceritera tentang kau Ki Sanak. Tentang kemampuan ilmumu yang sangat tinggi.”
“Ah,” desah orang itu, “Keduanya tentu hanya sekedar memuji. Ternyata bahwa aku tidak mampu melawan mereka berdua.”
“Kau tentu mengalah. Tetapi apakah maksudmu sebenarnya?” bertanya Mahisa Bungalan.
“Aku tidak mengalah,” jawab orang bertongkat panjang itu, “Aku memang kalah. Karena itu, maka aku telah melarikan diri dari medan dan langsung menuju kemari.”
Mahisa Bungalan mengangguk-angguk, sementara orang bertubuh kecil itulah yang kemudian bertanya, “Jadi kedua orang anak muda itu adalah adikmu?”
“Ya,” jawab Mahisa Bungalan, “Keduanya adalah adikku. Anak ingusan yang baru dapat bermain kucing-kucingan.“ Namun segera Mahisa Bungalan melanjutkan, “Tetapi bukan berarti bahwa kakaknya mampu lebih baik dari keduanya.”
“Tentu,” sahut orang itu, “Aku yakin bahwa kakaknya akan dapat berbuat lebih dari kedua adiknya. Tetapi siapakah sebenarnya kalian?”
“Untuk apa kau bertanya tentang kami,“ Pangeran Singa Narpada lah yang menyahut, “Kami adalah orang kabur kanginan. Berkandang langit, berselimut embun.”
“Ah, sebutan bagi mereka yang sengaja merendahkan diri,” berkata orang itu, “Tetapi apakah aku boleh mengetahui, siapakah kalian.”
Pangeran Singa Narpada menggeleng sambil menjawab. “Tidak ada gunanya. Siapapun kami dan siapapun kau, akan sama saja artinya dalam hubungan kita.”
Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “Aku telah mulai dari sudut yang keliru. Aku tidak dapat menyalahkan kalian jika kalian tidak lagi merasa perlu untuk mengetahui siapa aku, dan tidak lagi menganggap ada gunanya jika aku menanyakan siapakah kalian.”
“Aku tidak tahu apa yang telah terjadi. Tetapi menilik kehadiranmu dan sikap kedua anak muda itu, maka begitu, kau bukan seorang yang dapat dianggap tidak bermaksud apa-apa.”
“Itulah yang aku maksudnya, bahwa aku telah mulai dari satu sudut yang salah dalam usahaku mendekati kalian.” berkata orang bertubuh kecil itu.
“Nah,” berkata Mahisa Bungalan, “Sebaiknya kau menyebut saja, apa maksudmu. Kau sudah menyerang kedua adikku dan bertempur melawan mereka. Jika kau benar-benar mengaku kalah, kau tentu tidak akan datang kemari. Karena itu, agaknya kau ingin memilih lawan yang mungkin kau anggap lebih tua dari sekedar anak-anak yang terlalu muda.”
“Tidak,” jawab orang itu, “Aku benar-benar merasa kalah. Tetapi aku merasa wajib untuk datang menemui kalian.”
Kerut di dahi Mahisa Bungalan menunjukkan gejolak di hatinya. Namun orang bertubuh kecil itupun kemudian berkata, “Baiklah, aku ingin minta maaf kepada kedua anak muda itu. Aku mungkin telah menyakiti hati mereka dan mengganggu mereka.”
“Katakan, apa maksudmu,“ geram Mahisa Pukat, “Kami sudah terlalu letih menunggu pembicaraan yang berputar-putar ini.”
Orang bertubuh kecil dan bertongkat panjang itu menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya, “Baiklah. Aku akan berterus terang. Aku tahu bahwa kedua orang anak muda itu termasuk dua orang diantara kalian berempat. Karena itu, aku memang ingin menjajagi kemampuan mereka. Sebenarnya yang aku inginkan bukan keduanya. Tetapi siapapun diantara kalian.“ orang itu berhenti sejenak, lalu, “Ternyata bahwa kemampuan kedua anak muda itu, dan tentu juga kalian berdua yang lebih tua, jauh lebih tinggi dari dugaanku.”
“Hanya sekedar menjajagi tanpa maksud yang lain?” bertanya Mahisa Murti.
Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Ki Sanak. Sebenarnyalah aku memang terlalu banyak mencampuri persoalan orang lain. Sebenarnya aku tidak berkepentingan apapun juga dengan kalian. Sebenarnyalah kita hanya berpapasan saja di jalan. Jika aku tidak berpaling kepada kalian dan kalian tidak berpaling kepadaku, maka tidak pernah akan timbul persoalan. Tetapi dalam pengembaraan ini, tiba-tiba saja hatiku telah digelitik oleh satu keinginan untuk mengetahui, apakah yang sebenarnya terjadi. Ternyata bahwa benda yang aku cemaskan itu dikawal oleh orang-orang yang memiliki kemampuan yang sangat tinggi, sehingga tidak perlu dicemaskan akan jatuh ke tangan orang lain. Tetapi tentu aku ingin meyakinkan, bahwa benda itu sekarang telah berada di tangan orang yang benar dan berhak.”
“Benda apa yang kau maksud Ki Sanak?” bertanya Mahisa Bungalan.
“Jangan terlalu memperbodoh orang lain,” berkata orang bertubuh kecil dan bersenjata tongkat panjang itu, “Meskipun kau bungkus dengan seribu lembar kain, namun cahaya tejanya tidak akan tertutup karenanya. Menurut pengamatanku, teja yang memancar dari benda yang kau bawa itu adalah teja dari benda yang sangat berharga bagi Kediri. Teja itu pernah aku lihat memancar di atas gedung perbendaharaan di Kediri. Warna dan jenisnya. Tiba-tiba saja aku melihat cahaya itu di sini. Bukankah dengan demikian hal ini sangat menarik perhatian?”
Pangeran Singa Narpada menarik nafas dalam-dalam. Sementara Mahisa Bungalan bertanya, “Kau melihat teja memancar?”
“Ya. Mungkin memang tidak setiap orang melihatnya. Tetapi adalah kebetulan bahwa aku mendapati kurnia penglihatan mata batin untuk dapat menangkap cahaya teja yang memang tidak setiap saat memancar,” jawab orang bertongkat itu.
Mahisa Bungalan memandang orang itu dengan tajamnya, sementara Pangeran Singa Narpada bergeser selangkah maju. Dengan nada datar Pangeran Singa Narpada bertanya, “Ki Sanak. Apakah kau yakin bahwa memang melihat teja sebagaimana kau lihat di atas gedung perbendaharaan?”
Orang bertubuh kecil dan bersenjata tongkat itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Aku adalah orang kebanyakan sebagaimana orang lain yang dapat berbuat salah. Tetapi menurut penglihatanku, apa yang aku lihat di sini adalah apa yang pernah aku lihat di gedung perbendaharaan itu.”
Pangeran Singa Narpada mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Baiklah Ki Sanak. Seandainya kau benar, apakah yang akan kau lakukan selanjutnya? Apakah kau menginginkan benda yang memancarkan teja itu?”
“Tidak Ki Sanak. Tidak,” jawab orang itu dengan serta merta, “yang ingin aku yakini, apakah benda itu tidak berada di tangan orang yang salah.”
“Orang yang salah bagaimana maksudmu?” bertanya Pangeran Singa Narpada.
“Orang yang mempunyai pamrih dari tuah yang ada di dalam pusaka itu,“ jawab orang bertubuh kecil itu, “Sehingga dengan demikian maka benda yang sangat berharga itu berada di tangan orang yang tidak berhak.”
Pangeran Singa Narpada menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada datar ia bertanya, “Bagaimana kau dapat mengetahui bahwa orang yang membawa benda ini orang yang berhak atau bukan?”
“Aku mengandalkan penglihatan mata batinku atas orang itu,“ jawab orang bertubuh kecil itu. “Karena itu, maka aku memerlukan bertemu dengan orang-orang yang bertanggung-jawab atas benda itu. Ketika aku bertemu dengan kedua orang anak muda itu, aku memang kurang yakin. Meskipun demikian aku memang berniat menjajagi kemampuan mereka.”
Pangeran Singa Narpada mengangguk-angguk. Lalu ia-pun bertanya, “Jika demikian, maka kau sekarang akan dapat mengatakan, apakah kau berhadapan dengan orang yang berhak atau tidak?”
Orang itu termangu-mangu. Namun kemudian katanya dengan nada dalam, “Sekali lagi aku katakan bahwa aku dapat saja berbuat salah. Tetapi setelah berbicara dengan kalian, maka aku berharap bahwa kalian adalah orang-orang yang memang berhak. Apalagi kalian ternyata memang memiliki kemampuan yang memadai untuk mengamankan benda itu.”
“Bagaimana jika kau salah menilai kami?” bertanya Pangeran Singa Narpada.
“Sudah aku katakan, bahwa mungkin sekali aku berbuat salah. Dan jika itu terjadi, apa boleh buat,” jawab orang itu, “Bukankah aku tidak akan dapat mengalahkan kalian? Sehingga seandainya aku salah menilai, maka aku tidak akan dapat menolong benda itu sekarang. Namun pertemuan ini akan dapat aku jadikan bahan dan petunjuk jika, pada suatu saat aku mendengar bahwa Kediri kehilangan benda yang sangat berharga dari gedung perbendaharaan.”
Pangeran Singa Narpada menarik nafas dalam-dalam. Namun dalam pada itu, orang bertubuh kecil itupun bertanya sambil menunjuk kepada Pangeran Lembu Sabdata yang terbaring diam-diam, “Siapakah orang ini?”
“Ia adalah adikku,” jawab Pangeran Singa Narpada.
“Kenapa? Menurut penglihatanku, orang itu pulas.”
“Kau benar,” jawab Pangeran Singa Narpada, ”Aku telah menidurkannya, karena hal itu akan sangat berarti baginya. Adikku memang mempunyai kelainan.”
Orang itu termangu-mangu. Dipandanginya Pangeran Lembu Sabdata yang tertidur nyenyak. Namun kemudian iapun mengangguk-angguk. Katanya, “Ki Sanak. Aku ternyata harus mempercayai kalian meskipun aku belum tahu dengan pasti, siapakah kalian. Namun justru karena itu, maka biarlah aku mengucapkan selamat bahwa benda itu sudah berada di tangan kalian. Mudah-mudahan penglihatanku atas kalian tidak salah.”
Pangeran Singa Narpada termangu-mangu sejenak. Namun iapun kemudian bertanya, “Siapakah sebenarnya kau Ki Sanak?”
“Aku bukan orang yang pantas untuk dikenal. Bukan karena aku ingin merahasiakan diri. Tetapi sebenarnyalah aku tidak berarti apa-apa bagi kalian. Namun demikian baiklah aku menyebutkan namaku jika itu pantas kau dengar.“ orang itu berhenti sejenak, lalu katanya, “Aku adalah seorang pertapa yang asing. Yang menyebut namaku adalah Wantingan. Ki Ajar Wantingan.”
Pangeran Singa Narpada termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia bertanya, “Apakah kau pernah datang ke istana Kediri?”
Orang itu menggeleng. Katanya, “Tidak Ki Sanak. Aku belum pernah datang ke istana Kediri, karena aku memang tidak pernah mempunyai kepentingan apapun. Apalagi ketika kemudian Kediri diaduk oleh pertentangan diantara keluarga sendiri. Aku merasa semakin jauh dari setiap hubungan dengan istana Kediri, meskipun aku pernah berada di Kota Raja.”
“Jika demikian apa artinya dengan langkah yang kau ambil sekarang?” bertanya Pangeran Singa Narpada.
“Tidak lebih dari sikap seorang hamba yang wajib ikut berusaha melindungi keselamatan Kediri dan segala perlengkapan wibawanya termasuk benda yang kau bawa itu,” berkata orang bertubuh kecil itu, “Karena itu, maka setelah aku bertemu dengan kalian, terutama Ki Sanak yang membawa benda itu, maka aku yakin bahwa kalian memang berhak membawa benda itu. Namun yang aneh bagiku adalah kenapa benda itu justru kalian bawa sampai ke tempat ini.”
Pangeran Singa Narpada termangu-mangu sejenak. Namun jawabnya, “Aku memang sedang menyelamatkan untuk mengembalikannya ke istana.”
Orang bertubuh kecil itu mengangguk-angguk. Dipandanginya Pangeran Singa Narpada dengan tajamnya. Kemudian Mahisa Bungalan dan kedua adiknya. Dengan nada datar ia berkata, “Aku percaya kepada kalian. Ketika aku mulai melihat teja ini untuk pertama kalinya di bulak panjang, aku mengikuti kalian dari jarak yang cukup jauh. Kemudian ketika kedua orang diantara kalian memisahkan diri, maka aku mencoba untuk menjajagi kemampuan kalian. Dan ternyata kemampuan masih berada di lapisan yang lebih rendah seperti yang aku katakan jujur. Tetapi siapakah sebenarnya kalian?”
Pangeran Siang Narpada memandang orang itu pula dengan tajam. Namun iapun mulai mempercayai orang itu. Agaknya orang itu memang tidak mempunyai pamrih apapun juga. Namun untuk menyatakan dirinya, Pangeran Singa Narpada masih merasa segan. Karena itu maka katanya, “Ki Ajar. Melihat sikap dan sorot mata Ki Ajar, aku dapat meyakinkan diriku, bahwa Ki Ajar memang tidak bermaksud buruk. Tetapi sebaliknya Ki Ajar menyempatkan diri untuk datang ke Kediri. Mudah-mudahan kita akan dapat bertemu.”
“Bagaimana aku dapat mencari kalian di Kota Raja?” bertanya Ki Ajar.
“Mungkin Ki Ajar akan dapat meyakinkan diri bahwa pada suatu saat Ki Ajar akan dapat melihat teja yang sama memancar lagi dari gedung perbendaharaan. Kemudian Ki Ajar akan dapat mendengar dari orang-orang dalam, siapakah yang Ki Ajar cari. Bertanyalah kepada orang yang bertanggung jawab atas kembalinya pusaka ini. Ia akan dapat menunjukkan kepada Ki Ajar, siapakah kami sebenarnya.”
“Siapakah orang yang harus aku jumpai untuk menanyakan sekelompok orang yang telah mengembalikan benda yang sangat berharga ini?” bertanya Ki Ajar.
Pangeran Singa Narpada termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Datanglah kepada Pangeran Singa Narpada. Ia akan dapat menyebut nama kami seorang demi seorang, karena kepadanyalah kami akan menyerahkan benda yang sangat berharga ini.”
Ki Ajar Wantingan mengangguk-angguk. Namun ada sesuatu yang aneh di pandangan matanya meskipun tidak diucapkannya.
“Baiklah,” berkata Ki Ajar Wantingan, “pada suatu saat aku akan pergi ke Kota Raja. Jika aku tidak melihat teja itu memancar dari gedung perbendaharaan dan jika aku menghadap Pangeran Singa Narpada aku tidak mendapat keterangan sebagaimana kau katakan, maka aku akan menyesali kepercayaanku kepada kalian kali ini, meskipun aku sadar, bahwa bagaimanapun juga sikapku, aku tidak akan dapat berbuat apapun juga terhadap kalian.”
Pangeran Singa Narpada menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Baiklah Ki Ajar. Mudah-mudahan Ki Ajar tidak perlu menyesal. Dan aku mohon Ki Ajar berdoa agar perjalananku selamat sampai ke Kediri dan menyerahkan benda ini kepada Pangeran Singa Narpada. Karena jika aku bertemu dengan seseorang yang memiliki kemampuan untuk melihat bahwa benda yang aku bawa ini memiliki nilai yang sangat tinggi, baik sebagai benda dalam ujud kewadagannya, maupun nilai-nilainya sebagai benda yang dikeramatkan di Kediri, karena sebagian orang percaya bahwa benda itu mempunyai pengaruh langsung atas wahyu keraton, sedangkan orang itu mempunyai ilmu yang tidak dapat kami atasi, maka satu kemungkinan akan terjadi, bahwa benda ini tidak akan pernah kembali ke Kediri, dan bahkan kamipun mungkin tidak akan pernah melihat Kediri lagi.”
Orang bertubuh kecil itu mengangguk-angguk. Lalu kalanya, “Aku akan ikut berdoa bagi keselamatan kalian. Mudah-mudahan kalian tidak bertemu dengan orang-orang sebagaimana kau katakan. Tetapi baiklah kalian berhati hati meskipun aku yakin bahwa tidak ada seorang pun yang akan dapat mengalahkan kalian berempat sekaligus. Panembahan Bajang pun tentu tidak.”
Pangeran Singa Narpada mengerutkan keningnya. Bahkan Mahisa Bungalan pun bertanya, “Bagaimana dengan Panembahan Bajang?”
Orang yang menyebut dirinya Ki Ajar Wantingan itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya. “Orang itu memiliki ilmu yang tinggi pula. Tetapi aku pun yakin, bahwa ia tidak akan dapat mengambil benda itu dari kalian jika ia sendiri dan bertempur dengan jujur. Panembahan Bajang memiliki penglihatan sebagaimana dapat aku lihat. Ia sebenarnya bukan seorang yang sejak semula memang seorang yang jahat. Tetapi ia memiliki kelemahan pada sikap dan keputusan yang diambilnya, sehingga ia mudah sekali terpengaruh oleh orang lain.”
“Apakah jika ia melihat benda ini ia akan berusaha merampasnya?” bertanya Mahisa Bungalan.
“Mungkin demikian,” jawab Ki Ajar Wantingan, ”Kelebihannya adalah bahwa ia seorang yang licik dan mempunyai kemampuan menyerang dari jarak jauh.”
Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam. Ia menggamit Mahisa Pukat yang ingin berbicara. Agaknya Mahisa Pukat ingin mengatakan, bahwa orang yang disebut itu sudah terbunuh dengan cara yang kurang dimengerti. Namun niatnya itu harus diurungkannya.
Sementara itu, maka orang bertubuh kecil yang menyebut dirinya Ki Ajar Wantingan itupun kemudian telah minta diri. Dengan nada datar ia berkata, “Tunggulah. Pada waktunya aku akan mengunjungimu.”
“Terima kasih,” berkata Pangeran Singa Narpada.
Ki Ajar itupun kemudian bergeser surut. Dipandanginya keempat orang itu berganti-ganti. Kemudian iapun melangkah meninggalkan mereka yang termangu-mangu.
Pangeran Singa Narpada menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada rendah ia berkata, “Agaknya orang ini memang lain dengan Panembahan Bajang.”
Mahisa Bungalan kemudian berdesis, “Aku mempercayainya. Tetapi bagaimanapun juga, kita memang harus berhati-hati. Mungkin suatu saat ia benar-benar akan mencari Pangeran Singa Narpada untuk menanyakan, siapakah yang telah membawa benda yang nilainya sangat tinggi bagi Kediri itu kembali ke istana.”
“Mudah-mudahan ia tidak dapat mengenali aku,” desis Pangeran Singa Narpada.
“Aku kira ia akan dapat mengenali Pangeran, pengenalan orang-orang berilmu, sebagaimana Pangeran sendiri, agaknya akan cukup tajam,” desis Mahisa Bungalan.
Pangeran Singa Narpada mengangguk-angguk. Kemudian katanya, “Nah, sekarang, apakah yang akan kita lakukan?”
“Kita masih akan menunggu hari mendekati senja.” jawab Pangeran Singa Narpada.
Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. Namun kemudian Mahisa Pukat lah yang berkata, “Kita mempunyai waktu terlalu banyak.”
”Beristirahatlah sebaik-baiknya agar malam nanti, kita akan dapat menempuh perjalanan semalam suntuk,” berkata Mahisa Bungalan, “Kehadiran Ki Ajar Wantingan merupakan peringatan bagi kita, bahwa ternyata meskipun benda keramat itu dibungkus rangkap seratus, namun pembungkusnya tidak dapat menahan pancaran teja yang keluar dari benda itu, yang ternyata dapat dilihat oleh orang-orang tertentu seperti Panembahan Bajang dan Ki Ajar Wantingan.”
“Bukanlah kakang pernah juga berusaha melihatnya?” bertanya Mahisa Murti.
“Tetapi dengan satu perjuangan yang cukup berat. Aku dan agaknya juga Pangeran Singa Narpada tidak dapat dengan serta merta melihat sebagaimana Ki Ajar dan mungkin juga Panembahan Bajang,” jawab Mahisa Bungalan.
Mahisa Murti pun mengangguk-angguk. Namun rasa-rasanya ia segan sekali untuk duduk-duduk, berbaring dan apalagi tidur tanpa berbuat apa-apa.
Namun setiap kali kakaknya memperingatkannya, bahwa keduanya harus beristirahat. Merasa letih atau tidak, mereka harus berusaha menghemat tenaga bagi malam hari, karena di malam hari mereka akan menempuh perjalanan yang cukup panjang.
Betapapun juga menjemukannya, namun Mahisa Murti dan Mahisa Pukat memang harus menunggu, sementara Pangeran Singa Narpada telah berusaha untuk membangunkan adiknya. Tetapi setiap usaha untuk mengadakan hubungan dengan adiknya, ternyata ia selalu mengalami kegagalan. Pangeran Lembu Sabdata benar-benar telah mengalami satu keadaan yang parah. Meskipun secara wadag ia nampak tetap sehat, apalagi dengan segala usaha Pangeran Lembu Sabdata dapat juga menyuapi mulutnya sendiri, namun secara jiwani Pangeran Lembu Sabdata telah kehilangan dirinya sendiri.
Demikianlah, setelah Mahisa Murti dan Mahisa Pukat merasa jemu menunggu, barulah matahari turun ke Barat.
Dalam pada itu, maka Pangeran Singa Narpada dan kelompok kecilnya telah mulai bersiap-siap. Menjelang matahari tenggelam maka mereka pun segera meninggalkan tempat itu untuk meneruskan perjalanan.
Namun keempat orang itu menyadari, bahwa mereka memang harus sangat berhati-hati.
Ternyata bahwa selanjutnya mereka tidak lagi menjumpai hambatan yang berarti. Mereka dapat menempuh sisa perjalanan mereka dengan selamat sampai di Kediri.
Meskipun demikian Pengeran Singa Narpada tidak langsung menuju ke istana. Tetapi ia membawa benda yang dikeramatkan itu ke istananya bersama Mahisa Bungalan dan kedua adiknya serta Pangeran Lembu Sabdata.
“Aku baru akan menyerahkannya besok,” berkata Pangeran Singa Narpada. Lalu, “Namun kau minta kalian tinggal di rumah ini sampai benda itu kembali ke gedung perbendaharaan.”
Mahisa Bungalan mengangguk. Katanya, “Sudah tentu kami tidak akan berkeberatan.”
“Sebagaimana saat aku pergi, maka tidak akan banyak orang yang tahu bahwa aku telah kembali. Juga tentang benda yang aku bawa itu. Tidak banyak orang yang tahu bahwa benda itu pernah hilang. Pada saat yang dekat, benda itu sudah akan kembali lagi ke tempatnya. Rakyat Kediri tidak mengetahui, bahwa pada saat tertentu benda pernah hilang dari gedung perbendaharaan,” berkata Pangeran Singa Narpada.
Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengangguk-angguk ia berkata, “Biarlah masa-masa pengembaraan mahkota itu tetap tidak diketahui oleh rakyat Kediri. Meskipun ada satu dua orang yang mengetahuinya yang agaknya sulit untuk tetap berusaha, apalagi setelah benda itu kembali ke tempatnya.”
Pangeran Singa Narpada mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya, “Setelah benda itu kembali, justru tidak terlalu berbahaya lagi jika berita hilangnya itu tersebar. Rakyat tidak lagi menjadi gelisah, karena mereka percaya bahwa mahkota itu adalah tempat bersemayamnya Wahyu Keraton. Meskipun benda itu hilang, tetapi karena sudah kembali, maka rakyat akan menjadi yakin, bahwa Wahyu Keraton masih tetap berada di Kediri.”
Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. Karena itu, katanya, “Mudah-mudahan rakyat Kediri akan menemukan ketenangannya kembali.”
“Ya,” desis Pangeran Singa Narpada, ”Namun masih ada satu hal yang harus diperhatikan. Adimas Lembu Sabdata. Kita harus berusaha menyembuhkannya. Tetapi apakah jika ia menjadi sembuh, ia tidak lagi dibayangi oleh keinginan-keinginan gilanya itu? Sehingga ketenangan rakyat Kediri akan terguncang kembali sebagaimana yang telah terjadi pada masa kegarangan Pangeran Kuda Permati.”
Mahisa Bungalan termangu-mangu. Pangeran Lembu Sabdata memang akan menjadi satu masalah yang harus mendapatkan pemecahan. Tetapi untuk sementara keadaannya tidak membahayakan. Meskipun demikian bukan berarti bahwa kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi itu diabaikan.
Demikianlah, setelah bermalam di istana Pangeran Singa Narpada, maka mahkota yang untuk beberapa saat lamanya tidak ada di gedung perbendaharaan Kediri telah diserahkan kembali oleh Pangeran Singa Narpada. Seperti dikatakannya, maka sebagaimana saat ia meninggalkan Kediri, maka tidak banyak orang yang tahu dan membicarakannya pada saat ia kembali. Namun di lingkungan istana Kediri, kehadirannya bersama mahkota yang hilang itu merupakan satu hal yang dianggap sebagai pertanda yang baik bagi masa depan Kediri.
“Aku mengucapkan terima kasih,” berkata Sri Baginda. ”Seharusnya aku menyambut kedatanganmu dengan upacara kebesaran.”
“Tidak Baginda,” jawab Pangeran Singa Narpada, ”yang tidak mengetahui bahwa aku pergi, biarlah tetap tidak mengetahuinya.”
“Akhirnya semua orang, terutama orang-orang dalam, mengetahui juga bahwa kau telah pergi, setelah untuk waktu yang cukup lama aku tidak kelihatan,” berkata Sri Baginda. “bahkan beberapa orang langsung bertanya kepadaku. Agaknya bagiku lebih baik mengatakan bahwa aku sedang pergi daripada mereka menyangka bahwa kau pun sedang mempersiapkan sebuah pemberontakan.”
Pangeran Singa Narpada mengangguk-angguk. Namun kemudian iapun mohon diri untuk beristirahat setelah menempuh perjalanan yang panjang dan berliku.
Bersambung.....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar