Jumat, 01 Januari 2021

HIJAUNYA LEMBAH HIJAUNYA LERENG PEGUNUNGAN JILID 026-02

*HIJAUNYA LEMBAH.  JILID 026-02*

“Hamba mohon agar mahkota itu mendapat penjagaan yang memadai,” berkata Pangeran Singa Narpada.

“Ya. Aku tentu tidak akan membiarkannya hilang untuk kedua kalinya,” jawab Sri Baginda. Namun tiba-tiba saja Sri Baginda bertanya, “Apakah orang yang kau katakan pergi bersamaan itu tidak akan kau bawa menghadap?”

Pangeran Singa Narpada menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Orang itu masih ada di rumah hamba Sri Baginda. Jika Sri Baginda menghendaki, maka biarlah pada kesempatan lain, hamba akan membawanya menghadap.”

“Sudah sepantasnya kau bawa orang itu kemari. Aku akan mengucapkan terima kasih kepadanya,” berkata Sri Baginda.

“Orang itu adalah seorang perwira dari Singasari,” berkata Pangeran Singa Narpada kemudian.

Sri Baginda mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya, “Apa salahnya jika ia seorang perwira dari Singasari? Aku ingin berbicara dengan orang itu dan menyatakan terima kasih bukan saja aku pribadi, tetapi Kediri pada umumnya.”

“Baiklah Sri Baginda,” jawab Pangeran Singa Narpada, ”Sebenarnyalah ada juga keinginan hamba untuk membawanya menghadap. Tetapi setelah ada perintah Sri Baginda, maka rasa-rasanya ia akan menjadi semakin mantap.”

Dengan demikian, maka Pangeran Singa Narpada telah mohon diri. Namun keinginan Sri Baginda untuk bertemu Mahisa Bungalan menahan Mahisa Bungalan untuk tetap tinggal di Kediri lebih lama lagi, meskipun sebenarnya ia ingin segera kembali ke Singasari setelah sekian lamanya ia meninggalkan tugasnya sebagai prajurit.

“Besok kita menghadap,” berkata Mahisa Bungalan, “Selanjutnya aku akan dapat segera meninggalkan Kediri kembali ke kesatuanku.”

“Kenapa tergesa-gesa? Bukankah kau tidak pergi begitu saja? Bukankah kau sudah mendapat ijin untuk waktu yang tidak terbatas,” jawab Pangeran Singa Narpada.

“Tetapi rasa-rasanya aku sudah terlalu lama pergi,” jawab Mahisa Bungalan.

“Baiklah. Tetapi jangan kau sia-siakan kesempatan ini,” berkata Pangeran Singa Narpada, ”Bukan karena kau akan menerima hadiah. Tetapi dengan demikian kau akan dapat menjadi jalur hubungan antara Kediri dan Singasari.”

“Bukankah jalur itu sudah ada?” bertanya Mahisa Bungalan.

“Jalur yang resmi memang sudah ada,” jawab Pangeran Singa Narpada, ”Tetapi kehadiranmu dengan kemenangan yang pernah kau berikan kepada Kediri tentu akan membuat jalur yang lain, yang barangkali akan menjadi lebih akrab dari jalur yang sudah ada.”

Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. Namun sekali lagi ia berkata, “Baiklah. Besok kita menghadap.”

Pangeran Singa Narpada mengangguk pula. Tetapi ia tidak memberikan keterangan lebih panjang, meskipun sebenarnya didalam hatinya terbersit kecemasan tentang sikap Sri Baginda yang dibayangi oleh kebimbangan. Ia berharap bahwa jasa yang telah diberikan oleh seorang perwira Singasari akan meyakinkan Sri Baginda sehingga sikapnya tidak lagi samar-samar.

Sebenarnyalah, di hari berikutnya, Mahisa Bungalan telah ikut bersama Pangeran Singa Narpada menghadap. Dengan ramah Sri Baginda telah menerima Mahisa Bungalan yang telah ikut serta bersama Pangeran Singa Narpada menemukan kembali benda yang paling berharga bagi Kediri itu. Dengan tulus Sri Baginda menyatakan terima kasihnya yang tidak terhingga.

“Langsung atau tidak langsung, Singasari telah ikut mempertahankan hadirnya wahyu keraton di Kediri,” berkata Sri Baginda.

“Itu adalah bagian dari kewajiban hamba Sri Baginda.” jawab Mahisa Bungalan, “Keberhasilan usaha Pangeran Singa Narpada untuk menemukan kembali benda yang sangat berharga bagi Kediri itu, telah memberikan kebanggaan pula bagi Singasari, karena sebenarnyalah Kediri adalah salah satu dari anggauta keluarga Singasari.”

Sri Baginda menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Apa yang dapat aku berikan sebagai pernyataan terima kasih Kediri?”

Mahisa Bungalan mengerutkan keningnya. Ia tidak segera menangkap maksud Sri Baginda. Bahkan diluar sadarnya Mahisa Bungalan telah berpaling kepada Pangeran Singa Narpada.

“Mahisa Bungalan,” berkata Pangeran Singa Narpada.

“Sri Baginda ingin menyatakan terima kasih yang tulus. Mungkin sama sekali tidak kau kehendaki. Tetapi agaknya Sri Baginda ingin memberikan sedikit kenangan sebagai pernyataan terima kasihnya itu.”

“O,” Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Ampun Sri Baginda. Bukan berarti bahwa hamba menolak pernyataan tulus Sri Baginda. Tetapi apa yang aku lakukan tidak lebih dari mengemban kewajiban. Seandainya Sri Baginda ingin memberikan kenang-kenangan atas hasil yang hamba capai meskipun sama sekali tidak banyak berarti itu, maka sebaiknya Baginda menegaskan sikap Kediri sebagaimana selama ini dijadikan. Bukankah ikatan yang lebih mantap antara Kediri dan Singasari itu merupakan pertanda terima kasih yang tidak ada taranya.”

Sri Baginda justru mengerutkan keningnya. Memang nampak perubahan pada wajah Sri Baginda. Namun sejenak kemudian Sri Baginda berhasil menguasai perasaannya. Bahkan iapun kemudian tersenyum sambil berkata, “Kau memang seorang Senapati yang pantas menjadi tauladan. Baiklah. Aku akan mencoba melakukan sebagaimana kau katakan.”

“Terima kasih Baginda,” jawab Mahisa Bungalan, “untuk selanjutnya, maka sekaligus hamba akan mohon diri. Besok hamba akan meninggalkan Kediri kembali ke Singasari.”

“Begitu tergesa-gesa?” bertanya Sri Baginda.

“Hamba sudah terlalu lama meninggalkan tugas-tugas hamba,” berkata Mahisa Bungalan.

Sri Baginda tidak dapat menahannya. Ketika Mahisa Bungalan meninggalkan bangsal penghadapan, maka sekali lagi Sri Baginda mengucapkan terima kasihnya.

“Baginda ingin memberikan sesuatu kepadamu,” berkata Pangeran Singa Narpada.

“Aku sudah menyatakan terima kasih,” jawab Mahisa Bungalan, “Sebaiknya tidak menerima pernyataan terima kasih dalam ujud benda. Tetapi dalam ujud sikap sebagaimana Pangeran sendiri mengharapkan.”

Pangeran Singa Narpada mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Aku mengerti maksudmu. Dan Sri Baginda pun agaknya mengerti juga. Tetapi aku harap kau tidak tergesa-gesa pergi. Kau dan kedua adikmu akan aku minta untuk tetap berada di rumahku untuk beberapa hari.”

“Pangeran sudah mengetahui, bahwa aku ingin segera kembali ke Singasari. Aku bukannya orang yang tidak mempunyai keluarga yang menunggu kedatanganku. Mungkin Mahisa Murti dan Mahisa Pukat dapat melakukannya. Atau mungkin mereka pun ingin menengok ayah di rumah.”

Pangeran Singa Narpada menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian, “Aku mengerti. Memang aku tidak akan dapat menahanmu terlalu lama. Tetapi tentu kau masih perlu melepaskan lelah barang satu dua hari.”

“Baiklah,” berkata Mahisa Bungalan, “Aku akan bermalam dua malam lagi. Aku tentu merasa letih lagi untuk menempuh perjalanan kembali ke Singasari.”

Demikianlah, maka sesuai dengan permintaan Pangeran Singa Narpada maka Mahisa Bungalan masih tetap berada di Kediri setelah ia bermalam lagi. Ia masih akan bermalam satu malam lagi. Baru di keesokan harinya ia akan meninggalkan istana Pangeran Singa Narpada.

Dalam pada itu, di istana Pangeran Singa Narpada, Mahisa Bungalan dan kedua adiknya telah mendapat perlakuan yang baik sekali, karena Pangeran Singa Narpada rasa-rasanya memang berhutang budi kepada Mahisa Bungalan. Tanpa Mahisa Bungalan dan kedua adiknya, maka ia tentu tidak akan berhasil membawa mahkota itu kembali. Bahkan mungkin ia sendiri untuk seterusnya tidak akan pernah kembali ke Kediri.

Sementara itu, ketika senja turun, Mahisa Bungalan sempat berbicara dengan kedua adiknya, apakah keduanya akan kembali ke Singasari atau tidak.

“Memang ada keinginan untuk pulang,” berkata Mahisa Pukat, “Sudah lama aku tidak bertemu dengan ayah.”

“Bagaimana dengan kau Mahisa Murti?” bertanya Mahisa Bungalan.

“Rasa-rasanya aku ingin juga kembali barang satu dua hari sebelum kami akan mulai dengan pengembaraan baru.” jawab Mahisa Murti.

“Jika demikian maka kita akan kembali bersama-sama,” berkata Mahisa Bungalan, “Namun ada baiknya juga untuk berjalan bertiga pada jarak yang cukup panjang daripada berjalan seorang diri.”

Dalam pada itu Pangeran Singa Narpada pun menyebut. “Kalian akan dapat membawa tiga ekor kuda.”

Mahisa Bungalan mengerutkan keningnya. Namun Mahisa Pukat lah yang mendahului menjawab, “Terima kasih. Menyenangkan sekali menempuh perjalanan dengan berkuda.”

Mahisa Bungalan tersenyum. Adiknya ternyata lebih senang menempuh perjalanan kembali diatas punggung kuda. Agaknya karena tidak ada lagi kepentingan mereka di perjalanan, maka perjalanan yang terlalu lama akan menjadi sangat menjemukan. Karena itu, setiap usaha mempercepat perjalanan akan sangat menyenangkan.

“Baiklah,” berkata Pangeran Singa Narpada, ”Besok akan disediakan tiga ekor kuda yang baik. Mudah-mudahan kuda-kuda itu tidak justru memperlambat perjalanan kalian.”

“Kuda-kuda itu kelak kami pelihara dengan baik,” berkata Mahisa Pukat.

Pangeran Singa Narpada pun tersenyum pula. Meskipun kedua anak muda itu telah menunjukkan kemampuan yang tinggi, serta puncak ilmu yang mengagumkan, namun pengaruh kemudaan masih nampak pada sikap mereka.

Dalam pada itu, selagi mereka berbincang tentang kuda, maka seorang pengawal telah menghadap Pangeran Singa Narpada untuk menyampaikan permohonan seseorang yang akan menghadap.

“Siapa?” bertanya Pangeran Singa Narpada.

“Orang itu mengaku bernama Ki Ajar Wantingan,” jawab pengawal itu.

“Ajar Wantingan,“ ulang Pangeran Singa Narpada.

“Ya Pangeran,” jawab pengawal itu.

“Apakah kau melihat ciri-ciri dari orang itu?” bertanya Pangeran Singa Narpada pula.

“Orang itu bertubuh kecil dengan membawa sebatang tongkat yang panjang,” jawab pengawal itu.

Pangeran Singa Narpada mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Silahkan Ki Ajar menunggu aku di serambi. Aku akan segera datang.”

Pengawal itupun kemudian telah bergeser meninggalkan ruangan itu untuk mempersilahkan Ki Ajar Wantingan duduk di serambi.

“Sebentar lagi Pangeran akan datang,” berkata pengawal itu.

“Tetapi bukankah Pangeran sudah bersedia menerima kedatanganku?” bertanya Ki Ajar.

“Ya. Pangeran sudah memerintahkan aku untuk mempersilahkan Ki Ajar menunggu,” jawab pengawal itu.

“Terima kasih,” desis Ki Ajar yang kemudian duduk menunggu dengan hati berdebar-debar. Ia belum pernah berkenalan dengan Pangeran Singa Narpada. Namun menurut pesan orang yang membawa benda yang akan dikembalikan itu adalah, agar ia menemui Pangeran Singa Narpada.

Untuk beberapa saat lamanya Ki Ajar menunggu. Namun ia menjadi ragu-ragu, apakah benar bahwa Pangeran Singa Narpada bersedia menerimanya. Orang yang belum pernah dikenalnya.

Dalam kegelisahannya menunggu, Ki Ajar itu melihat seseorang melintasi halaman menuju ke serambi itu. Orang itu adalah orang yang sudah dikenalnya. Orang yang membawa benda yang dikeramatkan di Kediri.

“Ki Ajar,“ orang itu tertegun. ”Kenapa Ki Ajar berada disini?”

“O.“ Ki Ajar telah melangkah turun dari serambi menemui orang itu, “Aku memenuhi pesanmu. Aku akan menghadap Pangeran Singa Narpada.”

“Dan kau sudah diterima?” bertanya orang itu.

“Belum. Aku sudah mohon kepada seorang pengawal untuk disampaikan. Menurut pengawal itu, aku diperintahkan untuk menunggu di serambi,” jawab orang itu.

“O.“ orang itu mengangguk-angguk. ”Jika demikian, maka sebentar lagi Pangeran Singa Narpada tentu akan datang. Marilah. Silahkan duduk. Aku akan menemani Ki Ajar menunggu.”

“Terima kasih,” jawab Ki Ajar.

Sejenak kemudian, maka keduanya telah duduk di serambi. Orang yang menemani Ki Ajar itupun bertanya tentang Ki Ajar yang demikian cepatnya menyusulnya.

“Aku tidak terpisah jauh dari kalian,” berkata Ki Ajar. “Maaf Ki Sanak. Meskipun aku mempercayaimu dan kawan-kawanmu, namun ada juga sedikit kecemasan, bahwa kau akan mengalami kesulitan di perjalanan.”

“Atau Ki Ajar mencurigai kami, bahwa kami tidak akan sampai ke istana,” jawab orang itu.

Ki Ajar menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Sejak kalian memasuki istana ini aku dapat mengenalinya.”

“Cahaya teja itu,“ potong orang itu.

“Ya. Aku menjadi sedikit gelisah karena benda itu tidak langsung diserahkan kepada Sri Baginda. Tetapi bermalam di istana ini semalam,” berkata Ki Ajar.

“Aku adalah utusan Pangeran Singa Narpada,” jawab orang yang menemaninya duduk. ”Karena itu aku akan melaporkan diri sambil membawa bukti bahwa aku telah menyelesaikan tugasku dengan baik.”

Ki Ajar mengangguk-angguk sambil berguman. “Kau benar. Ternyata di hari berikutnya benda itu sudah berada di gedung perbendaharaan.”

“Ya. Benda itu sudah kembali ke tempatnya, sehingga agaknya sudah tidak ada persoalan lagi,” berkata Pangeran Singa Narpada.

“Syukurlah,“ Ki Ajar itu mengangguk-angguk. Namun tiba-tiba saja ia berkata, “Ah, jika demikian, maka aku kira, aku tidak perlu menghadap Pangeran Singa Narpada, karena kepentingan menemui Pangeran adalah untuk menanyakan siapakah orangnya yang tengah mengembalikan benda itu. tetapi ternyata bahwa aku telah menemuinya di sini Ki Sanak. Sebaiknya aku datang berkunjung ke rumahku. Dimanakah ketiga orang kawanmu itu? Anak-anak muda yang luar biasa yang telah memiliki ilmu melampui ilmuku?”

“Apakah Ki Ajar akan menemui mereka?” bertanya Pangeran Singa Narpada.

“Ya, tentu. Aku ingin bertemu dengan kalian berempat. Berbincang tanpa dibayangi oleh kecurigaan. Berbicara tentang hidup dan kehidupan sebagai orang kebanyakan.”

Orang yang menemaninya itu menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “Marilah, kita menghadap Pangeran Singa Narpada.”

“Aku mendapat perintah untuk menunggu. Aku tidak berani. Atau seperti yang aku katakan, aku urungkan niatku menghadap karena aku sudah bertemu Ki Sanak,” berkata Ki Ajar.

Orang yang menemaninya duduk itu termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Baiklah. Marilah kita menghadap Pangeran Singa Narpada. Ki Ajar dapat mengatakan bahwa Ki Ajar tidak jadi menghadap karena orang yang Ki Ajar cari telah diketemukan.”

“Apakah perlu?” bertanya Ki Ajar.

“Tentu,” jawab orang yang menemaninya itu, “Agar Pangeran Singa Narpada yang sudah terlanjur mendapat pemberitahuan tentang kedatanganmu tidak justru mencarimu.”

Ki Ajar mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Terserahlah kepada Ki Sanak. Tetapi segala sesuatunya tergantung kepadamu.”

“Marilah,” jawab orang itu, “Aku sudah terbiasa menghadap Pangeran Singa Narpada didalam.”

Ki Ajar memandang orang itu dengan tajamnya. Namun kemudian iapun mengangguk sambil menjawab, “Marilah. Tetapi aku hanya sekedar itu.”

Keduanya pun kemudian memasuki pintu samping langsung menuju ke ruang dalam. Mereka terhenti ketika mereka melihat Mahisa Bungalan dan kedua adiknya duduk di sudut ruangan sambil berbincang diantara mereka.

“O,“ Mahisa Bungalan dan kedua adiknya pun bergeser. ”Marilah. Silahkan Ki Ajar.”

“Kalian semuanya berada disini?” bertanya Ki Ajar.

“Ya. Kami masih tinggal disini untuk hari ini. Besok kami sudah meninggalkan tempat ini,” jawab Mahisa Bungalan.

“Untunglah bahwa aku datang hari ini. Jika aku menunda sampai besok, apalagi lusa, maka aku tidak akan dapat bertemu lagi dengan Ki Sanak semuanya,” berkata Ki Ajar.

“Ya. Sebagai utusan Pangeran Singa Narpada kami sudah melaporkan hasilnya. Karena itu, maka tugas kami pun telah selesai sampai disini,” berkata Mahisa Bungalan.

“Jika aku terlambat, maka kemana aku harus mencari kalian?” bertanya Ki Ajar.

“Kami bertiga berada di Singasari,” jawab Mahisa Bungalan. “Tetapi kawan kami yang seorang itu akan tetap tinggal disini.”

“O,“ Ki Ajar mengangguk-angguk. ”Apakah ia memang keluarga Pangeran Singa Narpada.”

“Silahkan Ki Ajar bertanya saja langsung,” jawab Mahisa Bungalan.

“Ki Ajar itu memandang orang yang membawanya masuk dengan sorot mata yang memancarkan berbagai pertanyaan didalam hatinya. Namun kemudian iapun bertanya, “Aku ulangi pertanyaanku, apakah Ki Sanak memang keluarga Pangeran Singa Narpada?”

“Ya,” jawab orang itu, yang lalu mempersilahkan tamunya, “Duduklah Ki Ajar. Mungkin kita dapat berbincang sebentar sambil menunggu Pangeran Singa Narpada. Ketiga orang ini juga akan mohon diri, karena besok mereka akan meninggalkan Kediri.”

Ki Ajar menarik nafas dalam-dalam. Namun iapun kemudian telah duduk pula bersama Mahisa Bungalan dan kedua adiknya, sementara orang yang membawanya masuk untuk sekejap masih tetap berdiri di tempatnya. Namun iapun kemudian telah duduk pula bersama mereka.

Untuk beberapa saat mereka masih berbincang tentang benda yang sudah mereka kembalikan ke istana. Orang yang membawa Ki Ajar itu masuk, agaknya tidak banyak lagi berahasia tentang benda yang sudah diketemukannya lagi.

“Mahkota itu memang merupakan benda yang sangat berharga, karena menurut kepercayaan beberapa pihak, mahkota itu merupakan tempat bersemayam wahyu keraton.” berkata orang itu kemudian.

Ki Ajar mengangguk-angguk. Namun tiba-tiba saja Ki Ajar bertanya, “Jadi, apakah kita akan menghadap Pangeran Singa Narpada?”

“Ya,” jawab orang itu, “Tunggulah barang sebentar.”

Orang itu termangu-mangu. Sementara Mahisa Bungalan berkata, “berapa lama lagi ia harus menunggu?”

Orang yang membawa Ki Ajar itu masuk, tersenyum. Tetapi sebelum ia menjawab, Ki Ajar berkata dengan suara datar. “Aku minta maaf Pangeran. Sebenarnya sudah sejak semula aku menduga, bahwa aku berhadapan dengan seorang Pangeran, meskipun baru kemudian aku yakin bahwa Pangeran adalah Pangeran Singa Narpada itu sendiri.”

“O.“ orang yang membawanya itu mengerutkan keningnya, “Apa yang Ki Ajar katakan?”

“Sejak aku melihat Pangeran membawa benda yang dikeramatkan itu aku sudah mengira bahwa orang yang memegang benda itu adalah orang yang sudah sewajarnya membawanya. Menurut penglihatan batinku, orang yang membawa benda itu tentu seorang Pangeran. Demikian pula orang yang pada saat itu tertidur nyenyak.“ Ki Ajar itu berkata selanjutnya, “Dan sekarang aku yakin, bahwa orang itu adalah Pangeran Singa Narpada sendiri.”

Pangeran Singa Narpada tersenyum. Lalu katanya, “Aku lupa bahwa aku berhadapan dengan seseorang yang memiliki penglihatan batin yang sangat tajam. Sebenarnya aku ingin membuat Ki Ajar terkejut.”

Ki Ajar tersenyum. Lalu katanya, “Sejak Pangeran membawa aku memasuki ruangan ini, aku sudah pasti, jika semula aku masih ragu-ragu.”

“Maaf Ki Ajar,” berkata Pangeran Singa Narpada, ”Bukan maksudku mempermainkan Ki Ajar. Tetapi aku hanya sekedar ingin membuat pertemuan kita menjadi lebih akrab.”

“Aku mengerti,“ jawab Ki Ajar, “Karena itu, aku berusaha untuk bertahan, seakan-akan aku belum yakin, dengan siapa aku berhadapan. Namun akhirnya aku tidak tahan lagi untuk tetap berpura-pura.”

“Aku kira, akulah yang bertahan berpura-pura. Tetapi ternyata Ki Ajar sudah melihat yang sebenarnya tanpa aku sadari,” berkata Pangeran Singa Narpada sambil tersenyum.

Mahisa Bungalan pun tersenyum pula. Ternyata Ki Ajar Wantingan memang memiliki penglihatan batin yang tajam. Agaknya bukan saja penglihatan batinnya, tetapi juga panggraitanya sangat tajam.

Dengan demikian maka pertemuan selanjutnya memang menjadi sangat akrab. Ki Ajar Wantingan yang belum banyak dikenal sebelumnya oleh Pangeran Singa Narpada rasa-rasanya bagaikan keluarga sendiri. Mereka dapat berbincang dan berbicara tentang apa saja dengan hati terbuka.

Namun dalam pada itu, maka Ki Ajar Wantingan itupun berkata diantara pembicaraan mereka tentang berbagai hal yang tidak penting. “Pangeran, sebenarnya aku ingin memberikan sedikit pesan bagi Pangeran.”

“Tentang apa?” bertanya Pangeran Singa Narpada.

“Selagi aku masih ingat,” berkata Ki Ajar Wantingan. ”Aku ingin sedikit memberikan pesan tentang benda yang sangat berharga itu. Aku kira orang yang mampu melihat cahaya yang terpancar dari benda itu bukannya hanya aku dan Panembahan Bajang. Karena itu, maka benda itu memerlukan perlindungan yang sangat kuat.”

“Aku sudah mohon kepada Sri Baginda, agar pengamanan atas benda itu diperkuat. Pengawal yang bertugas di gedung perbendaharaan harus berlipat jumlahnya,” jawab Pangeran Singa Narpada.

“Itu tidak cukup Pangeran,” berkata Ki Ajar Wantingan.

“Jadi bagaimana?” bertanya Pangeran Singa Narpada, ”Apakah harus ada satu dua orang yang memiliki ilmu yang tinggi untuk mengawasi benda itu?”

“Penjagaan yang kuat dengan jumlah pengawal yang berlipat tidak akan banyak menolong,” jawab Ki Ajar Wantingan, “cobalah Pangeran menceriterakan, bagaimana maka benda itu dapat hilang sebelumnya.”

“Yang mengambil pusaka itu memiliki kemampuan untuk melontarkan ilmu sirep,” jawab Pangeran Singa Narpada.

Ki Ajar Wantingan mengangguk-angguk. Katanya, “Nah, bukankah dengan cara itu, meskipun para pengawalnya menjadi berlipat, namun para pengawal itu tidak akan banyak berarti.”

“Jadi bagaimana menurut Ki Ajar?” bertanya Pangeran Singa Narpada.

“Pangeran,” berkata Ki Ajar Wantingan. ”Menurut pengetahuanku yang picik, sebaiknya benda itu diletakkan ke dalam satu kotak yang khusus.”

“Kotak yang khusus yang bagaimana maksud Ki Ajar?” bertanya Pangeran Singa Narpada.

“Kotak yang tidak terbuat dari kayu biasa,” jawab Ki Ajar, “Kotak itu harus terbuat dari perak dan dilapisi dengan kulit seekor kerbau dungkul berwarna bule.”

Pangeran Singa Narpada mengerutkan keningnya. Lalu iapun bertanya, “Jika benda itu disimpan dalam kotak dari perak dan dilapisi dengan kulit kerbau bule dan dungkul, apakah benda itu tidak akan dapat diambil orang?”

“Bukan begitu Pangeran,” jawab Ki Ajar, “Dengan kotak itu maka teja yang memancar dari benda itu tidak akan dapat lolos, karena cahaya teja itu dapat diserap oleh kotak perak yang berlapis kulit kerbau dungkul berwarna bule.”

Pangeran Singa Narpada mengangguk-angguk. Katanya. “Jadi dengan demikian benda itu tidak mudah diketahui tempatnya karena tidak dapat dilihat oleh orang-orang yang berpandangan batin yang tajam sekalipun.”

“Demikianlah Pangeran,” jawab Ki Ajar, “Jika tidak ditempatkan dalam kotak yang demikian, maka beberapa orang khusus akan dapat melihatnya. Jika ada diantara mereka tergelitik hatinya, maka kemungkinan yang buruk dapat terjadi, sebagaimana pernah terjadi.”

Pangeran Singa Narpada mengangguk-angguk. Katanya. “Terima kasih Ki Ajar. Aku akan menyampaikannya kepada Sri Baginda. Aku akan mohon agar benda itu dibuatkan kotak dari perak, dan dicarikan seekor kerbau bule yang bertanduk dungkul.”

“Tentu tidak sulit dicari di seluruh Kediri,” berkata Ki Ajar.

“Kotak dari perak tentu akan dapat dengan mudah dibuat betapapun besarnya. Ada segerobag perak yang dapat disiapkan dalam satu hari. Tetapi seekor kerbau bule yang bertanduk dungkul itulah yang perlu dicari,” berkata Pangeran Singa Narpada, ”Mungkin memerlukan waktu yang cukup lama meskipun mungkin ada juga satu dua ekor di seluruh Kediri ini.”

“Tentu ada,” berkata Ki Ajar, “Mungkin aku dapat membantu. Jika pada satu saat aku bertemu dengan seekor kerbau yang demikian, maka aku akan menyampaikannya kepada Pangeran. Mungkin Pangeran sudah mendapatkan sebelumnya, atau kerbau itu tidak akan boleh aku ambil. Berbeda agaknya jika perintah itu datang dari Sri Baginda.”

“Baiklah Ki Ajar,” berkata Pangeran Singa Narpada, ”Jika Ki Ajar menjumpainya, ambillah jika diperbolehkan. Jika tidak maka cepat-cepatlah sampaikan kepadaku.”

Ki Ajar mengangguk-angguk. Sementara itu Mahisa Bungalan tiba-tiba saja bertanya, “Apakah ada kekuatan khusus pada selapis perak dan kulit kerbau bule bertanduk dungkul?”

“Ya. Sudah aku katakan kemampuannya menyerap cahaya teja. Tetapi jika kau bertanya apa sebabnya, maka aku tidak akan dapat menjelaskan. Aku mendengarnya dari seorang pertapa. Dan sebenarnyalah, pada saat-saat aku sempat membuktikan, maka ternyata keterangan itu benar,” jawab Ki Ajar Wantingan.

“Apakah Ki Ajar pernah menyimpan pusaka yang juga memancarkan teja?” bertanya Mahisa Bungalan selanjutnya.

“Bukan aku. Tetapi pertapa itu,“ jawab Ki Ajar Wantingan.

Mahisa Bungalan mengerutkan keningnya. Dipandanginya Ki Ajar itu dengan tajamnya. Namun kemudian ia bertanya, “Pertapa yang mana? Apakah Ki Ajar sendiri bukan seorang pertapa?”

“Aku juga seorang yang berusaha menjauhkan diri dari kepentingan duniawi. Tetapi apakah aku dapat disebut seorang pertapa masih harus dipertanyakan. Seorang pertapa adalah seseorang yang memiliki gegayuhan yang tinggi disertai dengan laku yang berat dan tidak mengenal lelah. Tetapi bukannya gegayuhan duniawi. Gegayuhan yang berhubungan langsung dengan Maha Penciptanya. Sementara itu, aku masih kadang-kadang mengeluh karena keletihan dalam laku yang belum seberapa berat.”

“Bagaimanapun juga, tetapi seseorang yang telah menjauhkan diri dari kepentingan duniawi adalah orang-orang yang pantas mendapat kehormatan khusus, karena ia adalah orang-orang yang dekat dengan Yang Maha Agung,” berkata Mahisa Bungalan.

Ki Ajar itu tersenyum. Dengan nada rendah ia berkata, “Terima kasih Ki Sanak. Tetapi sebutan yang demikian masih terlalu tinggi bagiku. Aku adalah sekedar orang yang sedang mencoba menempuh laku itu.”

Mahisa Bungalan tidak mempersoalkan lagi. Bahkan pembicaran mereka pun kemudian justru telah bergeser ke persoalan-persoalan lain yang tidak penting dan tidak ada hubungannya dengan benda yang baru saja diselamatkan oleh Pangeran Singa Narpada itu.

Malam itu Pangeran Singa Narpada telah mempersilahkan Ki Ajar untuk bermalam di istananya. Dengan demikian maka mereka dapat lebih banyak berbicara tentang bermacam-macam persoalan. Sementara itu, di keesokan harinya, Mahisa Bungalan dan kedua adiknya pun akan kembali ke Singasari.

Ketika fajar menyingsing, maka para tamu Pangeran Singa Narpada itupun telah bersiap-siap. Ketika Ki Ajar telah selesai berbenah diri, maka ia adalah orang yang pertama minta diri. Meskipun matahari belum terbit, namun Ki Ajar itu telah meninggalkan halaman istana Pangeran Singa Narpada.

Sejenak kemudian maka Mahisa Bungalan dan kedua adiknya pun telah bersiap pula. Merekapun kemudian minta diri untuk meninggalkan Kediri setelah ketiganya membantu melakukan satu tugas yang berat dan berbahaya. Namun yang ternyata telah mencapai hasil yang memadai.

“Tidak ada cara yang tepat untuk menyatakan terima kasih kami dan bahkan seluruh Kediri kepada kalian,” berkata Pangeran Singa Narpada, ”pada suatu saat maka aku tentu akan datang ke Singasari untuk menyampaikan laporan itu kepada Sri Maharaja di Singasari.”

“Kami menunggu,” sahut Mahisa Bungalan, “Mudah-mudahan untuk selanjutnya, tidak terjadi seperti yang baru saja mengguncang Kediri.”

Pangeran Singa Narpada tersenyum. Jawabnya, “Mudah-mudahan. Kami akan berusaha sebaik-baiknya.”

Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. Sementara itu, kuda-kuda mereka pun telah bersiap, sehingga sejenak kemudian maka mereka pun telah bersiap pula untuk berangkat.

Namun dalam pada itu, ketika Mahisa Bungalan itu sudah berada di pintu gerbang halaman istana iapun sempat bertanya, “Pangeran. Apakah Pangeran percaya sepenuhnya kepada Ki Ajar Wantingan?”

“Bukan percaya sepenuhnya, tetapi aku ingin mencoba. Mungkin yang dikatakannya itu benar, sehingga benda yang bagi Kediri mempunyai nilai yang tidak terhingga itu tidak setiap kali memanggil orang-orang yang memiliki pengamatan hati yang tajam, dan ingin memilikinya,” sahut Pangeran Singa Narpada.

Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. Katanya, “Tetapi setiap persoalan harus dikaji dengan cermat. Aku memang sedikit mempercayai. Tetapi tidak lepas dari sikap berhati-hati.”

Pangeran Singa Narpada tersenyum. Katanya, “Terima kasih, Mahisa Bungalan. Pesanmu akan selalu aku perhatikan agar aku tidak membuatmu sekali lagi menempuh perjalanan berat dan berbahaya.”

Mahisa Bungalan tersenyum. Namun iapun kemudian minta diri bersama kedua adiknya meninggalkan Kediri yang telah menemukan cahayanya kembali.

Sejenak kemudian maka ketiga orang anak muda itu telah berpacu meninggalkan Kota Raja. Mereka tidak berpacu terlalu cepat, sehingga perjalanan mereka tidak banyak menarik perhatian. Sementara itu jalan-jalan pun menjadi ramai meskipun hari baru saja terang.

Orang-orang yang pergi ke pasar berjalan berurutan di jalan-jalan raya. Ada yang membawa barang-barang jualan, tetapi ada yang justru ingin membeli kebutuhan mereka masing-masing.

Mahisa Bungalan dan kedua adiknya telah menjadi semakin jauh dari Kota Raja. Mereka memasuki daerah persawahan yang hijau subur. Orang-orang Kediri yang sudah beberapa lama mengalami goncangan karena perang diantara keluarga sendiri, merasa telah menemukan ketenangannya kembali. Mereka dapat bekerja di sawah dan ladang. Sementara itu pasar pun menjadi ramai. Suara pande besi melengking diantara hiruk pikuknya orang-orang yang berjual beli. Buah-buahan, ubi-ubian dan gerabah memenuhi pasar-pasar yang terdapat hampir di setiap padukuhan yang besar.

Dengan demikian maka kehidupan di Kediri telah menjadi hampir pulih kembali. Sebagian besar dari orang-orang itu sama sekali tidak tahu, bahwa benda yang paling berharga di Kediri telah hilang dan baru saja diketemukan kembali.

Dalam pada itu, perjalanan Mahisa Bungalan dan kedua adiknya sama sekali tidak menemui hambatan. Ketika mereka menghirup udara Singasari, rasa-rasanya nafas di kerongkongan mereka menjadi segar. Sudah agak lama mereka meninggalkan kampung halaman menempuh perjalanan yang berat dan berbahaya. Namun ketika semuanya telah selesai, maka rasa-rasanya hati ini menjadi bertambah lapang.

Kedatangan ketiga orang bersaudara itu telah disambut dengan gembira oleh keluarga yang untuk beberapa lama mereka tinggalkan.

Mahendra yang telah menjadi semakin tua itupun merasa berbangga ketika ia mendengarkan kedua anaknya yang masih muda itu berceritera dengan nada tinggi, dengan gairah dan bahkan kadang-kadang saling berebut. Sementara Mahisa Bungalan yang lebih tua lebih banyak mendengarkan sambil tersenyum-senyum.

“Orang yang bertubuh kecil dan bertongkat panjang itu ternyata memiliki ilmu iblis,” berkata Mahisa Pukat, “Dari ujung tongkatnya telah meloncat cahaya yang menyambar-nyambar. Jika cahaya yang keluar dari tongkatnya itu mengenai bongkah-bongkahan batu padas, maka bongkah-bongkah batu padas itu hancur berserakan. Untunglah bahwa kami berdua masih mendapat perlindungan dari Yang Maha Agung, sehingga kami berdua berhasil meskipun tidak mengalahkannya, tetapi setidak-tidaknya melindungi diri kami.”

Mahendra mengerutkan keningnya. Ceritera kedua anaknya itu sangat menarik perhatiannya. Justru ketika kedua anaknya itu berceritera tentang kemampuan seorang yang bertubuh kecil dan bersenjatakan tongkat panjang.

“Kau sudah menyebut sebuah nama bukan?” bertanya Mahendra.

“Ya. Ia menyebut dirinya Ki Ajar Wantingan,” jawab Mahisa Murti.

Mahendra mengangguk-angguk. Dengan nada datar ia berkata, “Ia dapat menyebut nama apa saja. Tetapi rasa-rasanya aku pernah berhubungan dengan satu perguruan yang memiliki ciri seperti itu. Dan agaknya aku memang pernah mengenal seorang yang bertubuh kecil dan bertongkat panjang.”

Mahisa Bungalan yang mendengar pembicaraan itu, yang semula hanya tersenyum-senyum saja, tiba-tiba telah mengerutkan keningnya. Dengan sungguh-sungguh ia berkata, “Ayah. Coba sebutkan. Ciri-ciri yang ayah kenal itu. Apakah perguruan itu termasuk perguruan yang bersih atau tidak?”

Mahendra termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Rasa-rasanya perguruan itu bukan perguruan yang bersih. Tetapi sudah barang tentu, bahwa didalam telur di satu sarang, sering terdapat ayam yang berwarna lain.”

Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. Namun kemudian dengan nada sungguh-sungguh berkata, “Tetapi orang itu dengan tidak langsung telah melibatkan diri bagi penyimpanan benda yang paling berharga di Kediri itu.”

Mahendra termangu-mangu sejenak. Dengan ragu ia bertanya, “Apa yang dilakukannya?”

Mahisa Bungalan pun kemudian berceritera tentang pendapat orang itu, bahwa sebaiknya benda itu disimpan didalam sebuah peti yang dibuat dari perak dan dilapisi dengan kulit seekor kerbau dungkul yang bule.

Mahendra menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Tetapi bukankah peti kemudian tetap disimpan didalam gedung perbendaharaan?”

“Ya,” jawab Mahisa Bungalan.

“Dengan penjagaan yang diperkuat?” bertanya Mahendra pula.

“Ya,” jawab Mahisa Bungalan seterusnya, “Pangeran Singa Narpada sudah minta agar penjagaan dilipatkan. Sedangkan kegunaan peti itu hanya sekedar untuk menyerap cahaya teja yang memancar dari benda itu.”

Mahendra mengangguk-angguk. Katanya, “Memang mungkin sekali bahwa seseorang dapat melihat cahaya teja yang memancar dari satu benda atau seseorang. Kau harus tahu juga bahwa seseorang pada saat-saat tertentu akan dapat memancarkan teja dari dalam dirinya. Bahkan menurut kepercayaan, seorang yang besar dan memiliki pribadi yang kuat, pada saat meninggal akan nampak teja di langit, meskipun pada saat hidupnya ia tidak melepaskan teja itu. Teja yang menandai meninggalkan seorang besar adalah teja yang paling melintang di langit sejajar dengan cakrawala.”

Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. Namun kemudian ia bertanya, “Bagaimana menurut pendapat ayah tentang peti itu?”

“Kita dapat menunggu. Jika peti itu tetap berada di gedung perbendaharaan maka agaknya peti itu masih tetap didalam pengawasan para penjaga. Kecuali jika ia menyarankan agar peti itu disimpan di tempat lain,” jawab ayahnya.

“Baik ayah,” jawab Mahisa Bungalan, “Kita memang akan dapat menunggu. Sementara itu Pangeran Singa Narpada juga tidak akan terlalu mudah untuk menemukan kerbau bertanduk dungkul dan berwarna bule.”

“Tetapi pada satu saat jika kau bertemu dengan Pangeran Singa Narpada, kau dapat memberikan pesan kepadanya, agar ia tetap berhati-hati,” berkata Mahendra. Kemudian, “Mahisa Bungalan. Jika kau ingin mendapat penjelasan lebih lanjut, cobalah nanti kau bertanya kepada pamanmu Mahisa Agni dan Witantra. Mungkin keduanya pernah juga bertemu dengan orang yang memiliki ciri seperti itu dengan ilmu yang nggegirisi itu pula. Setidak-tidaknya pamanmu Witantra agaknya akan dapat berceritera juga tentang orang yang memiliki ilmu demikian.”

“Baiklah ayah,” berkata Mahisa Bungalan, “Aku pun akan segera pulang ke Kota Raja.”

“Isterimu tentu sudah menunggumu,” sahut ayahnya.

Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. Dengan nada rendah ia berkata, “Aku kira isteriku ada disini.”

“Ia berada disini beberapa hari. Tetapi kemudian kembali ke Kota Raja,” jawab ayahnya.

Setelah bermalam satu malam, maka Mahisa Bungalan-pun segera kembali ke Kota Raja. Isterinya menyambutnya dengan gembira, setelah beberapa lama ia mengalami ketegangan oleh kecemasan. Namun Mahisa Agni dan Witantra yang semakin tua itu dapat selalu menenangkannya.

Ketika Mahisa Agni dan Witantra mengetahui bahwa Mahisa Bungalan telah datang, maka mereka pun ikut menjadi gembira. Mahisa Bungalan setelah beristirahat di rumahnya sejenak, iapun telah mengunjungi Mahisa Agni dan Witantra, untuk memberikan laporan tentang perjalanannya.

“Syukurlah,” berkata Mahisa Agni, “perjalanan membawa hasil. Untunglah bahwa kedua adikmu itu menyusulmu.”

“Anak-anak nakal,” desis Mahisa Bungalan, “Ternyata mereka mempunyai pertanda sebagai petugas sandi Singasari di Kediri. Karena itu, maka ia telah mengenal jalur tugas-tugas rahasia di Kediri meskipun hanya sebagian kecil.”

Namun yang menarik perhatian Mahisa Agni dan Witantra adalah orang bertubuh kecil dan bersenjata tongkat panjang sebagaimana diceritakan oleh Mahisa Bungalan.

“Benar kata ayah,” desis Witantra, “Aku memang pernah mengenali satu cabang perguruan dengan ciri-ciri seperti itu. Bukan tongkat panjangnya, tetapi kemampuan melontarkan serangan dengan semacam cahaya yang dapat memecahkan batu-batu padas. Murid-murid perguruan itu dapat mempergunakan tongkat panjang, atau tongkat pendek, pedang atau pisau belati sekalipun.”

“Menurut ayah, perguruan yang memiliki ciri yang demikian itu bukannya perguruan yang terhitung bersih,” berkata Mahisa Bungalan.

“Aku sependapat. Tetapi sudah tentu kau tidak akan dapat menyebut bahwa semua orang yang memiliki ciri ilmu yang demikian adalah orang yang kurang bersih hatinya. Mungkin ia orang baik, karena itu diterimanya dengan cara yang lain dari orang-orang di perguruan yang pernah aku katakan,” berkata Witantra.

Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. Katanya, “Memang begitu paman. Orang itu nampaknya juga sangat meragukan. Menilik sikap dan tutur katanya, ia memang orang yang baik dan dapat dipercaya. Tetapi hanya kecurigaan sajalah agaknya yang membuat aku ragu-ragu.”

“Mungkin demikian. Tetapi kau harus belajar mendengarkan suara penggraitamu,” berkata Mahisa Agni, “Mungkin kau tidak sekedar menjadi curiga. Tetapi justru kau mempunyai daya pengamatan yang sangat tajam. Persoalannya kemudian adalah belajar mengenalinya dan menguranginya, sehingga kau dapat menangkap maknanya.”

Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. Namun katanya, “mudah-mudahan yang kita miliki ini tidak akan terkubur bersama kita.”

“Tetapi kali ini aku tidak akan dapat menentukan apakah aku harus mencurigainya atau tidak.”

“Tetapi baik kau maupun Pangeran Singa Narpada harus berhati-hati. Memang banyak sekali kemungkinan yang dapat terjadi. Aku sependapat dengan ayahmu, justru karena peti dari perak itu masih akan disimpan didalam gedung perbendaharaan, sehingga dengan demikian, maka peti itu masih berada didalam daerah pengamanan yang akan ditingkatkan itu. Seperti kata ayahmu pula, jika orang sudah menasehatkan untuk menyimpan mahkota itu di tempat tertentu, maka kau memang harus menjadi semakin mencurigainya. Apalagi tentu masih dibutuhkan waktu untuk menemukan kulit seekor kerbau bertanduk dungkul dan berkulit bule itu.”

Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. Kedua pamannya itu pendapatnya sama sebagaimana pendapat ayahnya. Karena itu maka Mahisa Bungalan pun menjadi agak tenang pula. Apalagi agaknya masih ada waktu apabila ia ingin berbicara lagi dengan Pangeran Singa Narpada tentang benda-benda yang memancarkan teja yang dapat diserap oleh peti yang dibuat dari perak dan dilapisi dengan kulit seekor kerbau dungkul dan berkulit bule.

Namun dalam pada itu, tiba-tiba saja Mahisa Agni berkata, “Mahisa Bungalan, sebenarnya aku juga tertarik atas keterangan tentang teja itu. Sebenarnyalah bahwa dengan sedikit laku, mungkin aku juga akan dapat melihatnya. Pada masa kecilku, aku adalah anak padepokan mPu Purwa. Dengan sisa ilmu yang sedikit, maka agaknya aku akan dapat mengembangkan pengenalanku atas cahaya teja sebagaimana dilakukan oleh orang yang menyebut dirinya Ajar Wantingan dan Panembahan Bajang yang sudah tidak ada itu. Sebelum benda itu disimpan didalam peti aku ingin melihatnya, apakah benar bahwa saat-saat tertentu mahkota itu memancarkan cahaya teja atau sebangsanya. Kemudian setelah benda itu disimpan didalam peti, apa benar cahaya itu dapat diserapnya.”

Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Kapan paman akan pergi ke Kediri? Pangeran Singa Narpada tentu akan dengan senang hati menerimanya.”

“Aku tidak akan pergi ke Kediri sebagai seorang tamu. Aku akan pergi dengan diam-diam dan melihat cahaya itu dengan diam-diam pula,” berkata Mahisa Agni, “Kecuali aku dapat dengan leluasa berbuat, aku pun tidak akan dikungkung oleh segala macam adat dan basa basi, justru karena kau, juga pamanmu Witantra pernah mendapat tugas di Kediri.”

Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. Namun ia tidak menentang keinginan Mahisa Agni. Bahkan Mahisa Bungalan menganggap bahwa cara itu adalah cara yang terbaik.

Namun mereka memang tidak tergesa-gesa. Pangeran Singa Narpada tidak akan mendapatkan kulit yang dikehendakinya dalam satu dua hari. Bahkan satu dua bulan. Karena itu, maka Mahisa Bungalan akan mendapatkan kesempatan cukup untuk beristirahat dan mempertimbangkan semua persoalan yang sedang dihadapi oleh Kediri.

Bersambung....... !

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...