*HIJAUNYA LEMBAH. JILID 025-04*
Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam. Namun katanya, “Kami berada di tempat ini untuk menghindarkan diri dari persoalan-persoalan yang dapat timbul. Karena itu, maka sebaiknya kalian pun tidak keluar dari ara-ara perdu ini.”
“Kami tidak akan berbuat apa-apa,” jawab Mahisa Murti, “hanya sekedar melupakan kejemuan. Seandainya ada pasar atau kedai atau orang-orang yang berjualan, maka kami memang ingin membeli makanan.”
Mahisa Bungalan memang tidak akan membiarkan keduanya menjadi sangat gelisah karena mereka harus menunggu tanpa berbuat apa-apa. Karena itu, maka Mahisa Bungalan itupun kemudian bertanya kepada Pangeran Singa Narpada. “Bagaimana menurut pertimbangan Pangeran?”
“Biarlah mereka pergi. Agaknya mereka benar-benar telah dewasa dalam sikap dan tingkah laku, bukan saja ilmunya. Karena itu, kami percaya bahwa mereka akan dapat menempatkan diri sebaik-baiknya, dan tidak akan berbuat sesuatu yang dapat merugikan perjalanan kita,” jawab Pangeran Singa Narpada.
Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Baiklah. Pangeran Singa Narpada pun tidak berkeberatan. Tetapi hati-hatilah.”
Mahisa Murti mengangguk kecil. Sementara itu, bersama Mahisa Pukat keduanya telah meninggalkan hutan perdu itu turun ke sebuah jalan kecil yang menuju ke sebuah padukuhan.
“Mudah-mudahan kita menemukan pasar,” berkata Mahisa Pukat.
“Untuk apa?” bertanya Mahisa Murti.
“Rasa-rasanya aku ingin makan sesuatu yang lain dari yang selalu kita makan selama ini,” berkata Mahisa Pukat.
“Ah, kau,” desis Mahisa Murti, “Apakah yang kita makan selama ini kurang baik?”
“Jangan berpura-pura. Jika kita menemukan jenis makanan yang sudah lama tidak kita jumpai, maka kau menyadarinya,“ jawab Mahisa Pukat.
Mahisa Murti tertawa. Tetapi ia tidak membantah. Agaknya benar juga bahwa mereka menjadi jenuh dengan makanan yang seadanya dan minum dengan meneguk air dari belik.
Sebenarnyalah, akhirnya keduanya telah menemukan sebuah pasar yang meskipun tidak begitu besar, tetapi didalamnya terdapat beberapa buah kedai makanan.
“Nah,” berkata Mahisa Pukat. ”Kita dapat-memilih. Jika kita sudah kenyang, maka kita akan dapat membeli untuk kakang Mahisa Bungalan dan Pangeran Singa Narpada.”
Mahisa Murti tidak menjawab, namun iapun telah menuju ke sebuah pintu kedai yang terbesar diantara kedai yang ada di warung itu.
Ketika mereka kemudian duduk, maka didalam kedai itu telah lebih dahulu duduk beberapa orang yang sedang menikmati minuman panas dan makanan.
Tidak ada orang yang memperhatikan kedatangan kedua anak muda itu. Ketika mereka mendengar langkah mereka memasuki pintu kedai, mereka hanya sekedar berpaling. Kemudian perhatian mereka kembali kepada minuman dan makanan yang sudah tersedia.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat lah telah memesan minuman dan makanan pula. Sejenak kemudian, maka mereka pun telah sibuk menikmatinya, sehingga karena itu, maka keduanya seperti orang-orang lain tidak menghiraukan ketika ada seorang lagi memasuki warung itu.
Seorang yang bertubuh kecil kekurus-kurusan telah duduk tidak terlalu jauh dari Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Tongkatnya yang panjang pun kemudian disandarkannya pada dinding warung itu.
Orang bertubuh kecil itupun kemudian sebagaimana orang-orang lain juga memesan minuman dan makanan. Seolah-olah tanpa menghiraukan orang lain, maka orang itupun kemudian minum dan makan dengan asyiknya.
Tetapi sekali-sekali orang itu berusaha untuk dapat memandang Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang sama sekali tidak memperhatikannya. Bahkan agaknya orang itu kemudian menjadi sangat tertarik kepada kedua orang anak muda itu.
Dalam pada itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih sibuk dengan minuman dan makanan mereka. Karena itu, mereka sama sekali tidak tahu, bahwa orang yang bertubuh kecil itu, perlahan-lahan tanpa dilihat oleh orang lain telah menyentuh tongkat panjangnya yang tersandar di dinding.
Tiba-tiba saja tongkat panjangnya itu mulai bergeser dan roboh menimpa pundak Mahisa Pukat. Adalah diluar dugaan bahwa tongkat yang kecil itu terasa di pundak Mahisa Pukat bagaikan robohnya sebatang pohon kelapa.
Diluar sadarnya, karena yang terjadi itu sama sekali tidak disangkanya, Mahisa Pukat telah mengaduh sambil meloncat berdiri.
Mahisa Murti pun terkejut pula. Tongkat yang dikibaskan dari pundak Mahisa Pukat itu hampir saja menimpanya. Namun tongkat itu telah terjatuh dan menimpa tempat duduk yang terbuat dari bambu.
Seisi kedai itu terkejut bukan buatan. Bahkan orang-orang yang duduk di ujung tempat duduk bambu itupun telah jatuh terlentang menimpa dinding kedai itu, karena tempat duduk dari bambu yang tertimpa oleh tongkat panjang itu menjadi roboh.
Orang-orang itupun kemudian tertatih-tatih berdiri. Beberapa orang menjadi marah. Tanpa memikirkan sebab dan terjadinya mereka memaki orang yang membawa tongkat itu.
Namun Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah menilai peristiwa yang terjadi itu bukannya sekedar satu kebetulan sebagaimana orang-orang lain menganggap. Beberapa orang marah karena orang, bertubuh kecil itu dianggap tidak berhati-hati dengan tongkatnya. Namun mereka tidak berpikir sama sekali, bahwa tongkat itu pada keadaan wajar tentu tidak akan dapat merobohkan tempat duduk yang meskipun terbuat dari bambu tetapi cukup kuat sebagai tempat duduk bagi beberapa orang.
Orang bertubuh kecil itu ternyata, tidak menjawab sama sekali yang diperhatikannya adalah justru Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Sementara itu, dengan mengerahkan daya tahannya, Mahisa Pukat berusaha mengatasi rasa sakitnya.
Tulangnya terasa bagaikan retak. Tetapi karena kemampuannya serta ketahanan tubuhnya yang tinggi, maka lambat laun ia berhasil menguasai perasaan sakitnya.
Tetapi Mahisa Pukat tidak menunjukkan bahwa rasa sakitnya itu telah dapat diatasinya. Ia masih saja menyeringai dengan memegang pundaknya dan bahkan kemudian iapun telah mengaduh pula beberapa kali.
Orang bertubuh kecil itupun kemudian mengambil tongkatnya yang telah merusakkan salah satu tempat duduk dikedai itu. Dilemparkannya beberapa keping uang kepada pemilik warung itu, kemudian tanpa mengucapkan kata apapun juga, ia telah melangkah keluar.
Beberapa orang yang masih ada didalam kedai itu masih saja mengumpat-umpat. Apalagi yang telah terjatuh karena tempat duduknya rusak tertimpa tongkat panjang itu.
Sementara itu, Mahisa Murti telah berbisik, di telinga Mahisa Pukat, “Bagaimana?”
“Tidak apa-apa,” jawab Mahisa Pukat.
“Kau nampak kesakitan,” berkata Mahisa Murti.
“Aku sengaja berbuat begitu. Mungkin masih akan ada kelanjutannya. Mudah-mudahan tidak akan mengganggu perjalanan kita, apalagi dengan mahkota dan Pangeran Lembu Sabdata,” jawab Mahisa Pukat.
Mahisa Murti mengangguk-angguk. Namun kemudian ia berdesis. “Apalagi sebabnya orang itu berbuat demikian atas kita?”
“Entahlah,” sahut Mahisa Pukat, “Tetapi kita memang harus berhati-hati. Mudah-mudahan, sekali lagi mudah-mudahan, tidak akan mengganggu perjalanan kita. Kakang Mahisa Bungalan tentu akan menyalahkan kita.”
Mahisa Murti mengangguk-angguk. Namun iapun kemudian mengambil uangnya dan memberikannya kepada pemilik kedai itu sesuai dengan makanan dan minuman yang telah mereka habiskan.
Keduanya pun kemudian keluar dari kedai itu dengan penuh kewaspadaan. Mereka yakin bahwa orang bertubuh kecil itu tidak akan membiarkannya pergi begitu saja.
“Kemana orang itu,” desis Mahisa Pukat.
“Entahlah,” sahut Mahisa Murti, “Tetapi kita tentu akan bertemu lagi. Kita tidak usah susah-susah mencarinya.”
“Orang itu tentu akan datang menemui kita. Mungkin dengan sikap yang ramah, tetapi mungkin dengan wajah yang garang dan menantang kita untuk berkelahi tanpa sebab.”
“Tetapi ia baik terhadap pemilik kedai itu. Ia memberikan ganti pada ambennya yang rusak dan barangkali makanan yang tumpah dengan beberapa keping uang yang tentu lebih banyak dari nilai barang-barang itu yang sebenarnya,” berkata Mahisa Pukat.
Mahisa Murti mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Marilah, tetapi kita tidak dapat langsung kembali ke tempat kakang Mahisa Bungalan dan Pangeran Singa Narpada.”
Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Mereka berdua pun kemudian meninggalkan tempat itu. Tetapi mereka tidak langsung menuju tempat kakaknya menunggu.
Sebenarnyalah sebagaimana dikatakan oleh Mahisa Murti, mereka memang tidak usah mencari orang bertubuh kecil dan bertongkat panjang itu. Ketika keduanya keluar dari padukuhan, maka mereka telah melihat orang bertubuh kecil dan bertongkat panjang itu duduk dibawah sebatang pohon gayam yang besar sambil memeluk tongkatnya.
“Itulah,” berkata Mahisa Murti.
Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Orang itu memang sedang mencari persoalan. Tetapi tentu bukannya satu kebetulan. Orang itu tentu mempunyai kepentingan dengan kita dan mungkin dengan kakang Mahisa Bungalan atau Pangeran Singa Narpada.”
Mahisa Murti tidak menjawab, sementara Mahisa Pukat mulai Iagi meraba-raba pundaknya sambil menyeringai, seolah-olah pundaknya itu menjadi sangat sakit, atau tulangnya menjadi retak karenanya.
Beberapa saat kemudian, keduanya menjadi semakin dekat dengan orang yang duduk dibawah pohon gayam itu.
Mahisa Murti pun kemudian berdesis, “Hati-hatilah. Mungkin ia seorang laki-laki. Tetapi mungkin ia seorang yang licik dan menyerang dengan tiba-tiba saja tanpa memberi isyarat lebih dahulu.”
Meskipun Mahisa Pukat masih saja menyeringai menahan sakit, namun ia telah bersiap menghadapi segala kemungkinan.
Sebenarnyalah ketika mereka melewati orang yang duduk itu, ternyata orang itu telah menyilangkan tongkatnya melintang jalan. Meskipun panjang tongkat itu tidak selebar jalan yang dilalui oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, namun keduanya telah berhenti.
Dengan nada datar Mahisa Murti bertanya, “Apa maksudmu menghalangi langkahku Ki Sanak.”
Orang itupun kemudian bangkit berdiri. Diamatinya Mahisa Pukat yang masih memegangi pundaknya. Kemudian dengan nada datar ia bertanya, “Apakah pundakmu terasa sakit?”
“Apakah maksudmu dengan menyakiti aku Ki Sanak?” bertanya Mahisa Pukat, “Tulangku serasa patah dan tanganku seakan-akan tidak mampu bergerak sama sekali.”
Orang itu mengangguk-angguk. Katanya, “Tetapi kau telah membuat aku menjadi heran. Meskipun kau mengatakan bahwa tulang-tulangmu terasa sakit, tetapi kau masih mampu berdiri tegak dan berjalan meninggalkan kedai itu.”
“Jadi, bagaimana seharusnya menurut nalarmu?” bertanya Mahisa Pukat, “Apakah aku harus mati?“
“Seandainya kau tidak mati, maka kau harus menjadi lumpuh atau sama sekali tidak dapat keluar dari kedai itu,“ jawab orang itu.
“Kenapa? Bukankah tongkatmu tidak lebih dari sebatang tongkat kecil dan panjang? Apakah dengan tongkat itu kau memang terbiasa membunuh orang atau membuatnya lumpuh dan tidak berdaya seperti aku?” bertanya Mahisa Pukat.
“Kau masih dapat berjalan sampai ke tempat ini. Karena itu aku menunggumu. Kau harus ditimpa tongkat ini sekali lagi agar kau benar-benar menjadi lumpuh atau mati.” berkata orang bertubuh kecil itu.
“Ah.” desah Mahisa Pukat, “Apakah kau sampai hati berbuat demikian terhadapku? Apakah sebenarnya salahku dan apakah sebenarnya persoalan yang ada diantara kita?”
“Kenapa kau tanyakan persoalan yang ada diantara kita?“ orang itu justru bertanya, “Jika aku ingin membunuh seseorang maka aku tidak pernah berpikir apakah aku mempunyai persoalan dengan orang itu atau tidak.”
Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “Ki Sanak. Marilah kita berterus terang. Apakah maumu sebenarnya, agar semuanya menjadi jelas. Kau sudah menyakiti pundak saudaraku. Sekarang kau berniat untuk membunuh kami. Aku yakin bahwa yang kau katakan itu bukannya yang sebenarnya. Mungkin kau memang ingin membunuh kami, tetapi tentu ada persoalan yang mendorong melakukannya. Tidak seperti yang kau katakan, bahwa hal itu kau lakukan karena kau ingin melakukannya.”
Orang bertubuh kecil itu mengangguk-angguk. Katanya, “Ternyata kalian memang bukan orang kebanyakan. Kecuali itu tidak hancur, kau pun menangkap persoalan diantara kita dengan sikap dewasa.”
“Apapun menurut penilaianmu,” desis Mahisa Murti.
Orang itu termangu-mangu sejenak. Dipandanginya kedua anak muda itu berganti-ganti.
Untuk beberapa saat kedua belah pihak saling berdiam diri. Seakan-akan kedua belah pihak sedang menjajagi kemungkinan yang ada didalam diri mereka. Terutama orang bertubuh kecil itu. Dengan cermat ia melihat pundak Mahisa Pukat yang masih saja dipeganginya seakan-akan pundak itu masih terasa sakit.
Namun tiba-tiba saja orang bertubuh kecil itu berkata, “Anak muda. Jangan berpura-pura. Aku tahu, kau sudah berhasil mengatasi perasaan sakitmu. Dengan demikian maka kau tentu seorang anak muda yang pilih tanding. Tetapi justru karena itu maka keinginan untuk membunuh dan saudaramu menjadi semakin mendesak.”
“Itu bukan soal,” jawab Mahisa Pukat sambil melepaskan pundaknya, “Tetapi bahwa kau tahu aku berhasil mengatasi perasaan sakitku merupakan satu kemampuan penglihatan yang luar biasa. Sekali-sekali aku juga ingin memujimu, meskipun pujian yang keluar dari mulutku tidak akan lebih berarti dari pujian yang keluar dari mulutmu.”
Orang bertubuh kecil itu mengerutkan keningnya. Namun iapun kemudian menarik nafas dalam-dalam.
“Tepat,” jawab Mahisa Murti, “Apalagi membunuh seseorang yang sombong dan terlalu yakin akan kemampuannya. Seseorang yang akan dibunuh, tetapi kemudian justru berhasil membunuh lawannya itu akan dapat memberikan kepuasan lebih besar daripada membunuh seseorang yang sekedar memberikan perlawanan pada saat ia akan dibunuh.”
“Hem,“ orang itu menggeram. Tetapi ia menahan gejolak didalam hatinya. Bahkan dengan nada datar ia berkata, “Kalian benar-benar lepas dari dugaanku. Yang aku hadapi sekarang bukan anak-anak muda sebagaimana aku lihat. Tetapi marilah, mumpung masih ada waktu. Aku masih mempunyai tugas yang lain. Aku masih harus membunuh tujuh orang lagi, karena diantara sepuluh orang yang harus aku bunuh, aku baru berhasil membunuh satu orang. Sekarang aku akan membunuh dua orang lagi.”
“Kenapa baru seorang?” bertanya Mahisa Pukat.
“Yang aku jumpai memang baru seorang,” jawab orang bertubuh kecil itu. “Beruntunglah bahwa sekarang aku menjumpai dua orang sekaligus. Jika aku dapat menjumpai lima atau tujuh orang yang lain sekaligus, pekerjaanku akan semakin cepat, karena aku akan dapat membunuh mereka bersama-sama dalam satu saat seperti yang akan aku lakukan atas kalian.”
Tetapi Mahisa Murti justru tertawa karenanya. Lalu katanya, “Kau memang aneh. Kau sendiri mengatakan, bahwa sebaiknya kita tidak usah berpura-pura, meskipun kau tidak akan mengatakan sebab yang sebenarnya. Tetapi kau masih mengigau saja seperti seorang yang sakit panas.”
Orang itu mengerutkan keningnya. Tetapi tiba-tiba iapun tersenyum juga. Katanya, “Aku lupa bahwa aku berhadapan dengan anak-anak muda yang telah dewasa. Tetapi baiklah. Aku sekarang bersungguh-sungguh. Jika kalian memang jantan, marilah kita benar-benar pergi ke pategalan itu.”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak menjawab. Tetapi mereka pun kemudian melangkah ke pategalan bersama orang yang bertubuh kecil itu.....
Bersambung....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar