*HIJAUNYA LEMBAH. JILID 029-02*
“Justru karena kita mengerti keadaan kita yang sebenarnya,” desis Mahisa Ura, “seandainya kita sendiri tidak mengerti keadaan kita yang sebenarnya, dan menganggap kita ini memang pengembara, maka nasehat-nasehat itu perlu sekali bagi kita.”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Sebenarnyalah bahwa orang itu menganggap mereka benar-benar pengembara yang tidak mempedulikan masa depan mereka, sementara itu mereka masih cukup muda untuk mulai dengan pekerjaan yang lebih berarti daripada menyusuri jalan-jalan, pedukuhan-pedukuhan dan hutan-hutan.
“Dan malam nanti kita akan mendengarkan lagi ia berbicara tentang nasib kita di masa depan,” berkata Mahisa Pukat.
Tetapi mereka tidak akan dapat menolak sementara keadaan Mahisa Ura masih lemah.
Sebenarnyalah bahwa ketika malam turun, orang yang dianggap memiliki pengetahuan yang luas itu telah datang lagi. Seperti pada siang harinya, maka ia pun mulai dengan nasehat-nasehat yang berkepanjangan.
Namun dalam pada itu, Mahisa Ura, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah memaksa diri untuk mendengarkannya.
Betapapun mereka menjadi jenuh namun mereka tidak dapat memaksa orang itu untuk berhenti berbicara tentang sikap dan tingkah laku, tentang pandangan hidup dan penghayatannya dan tentang hari ini, kemarin dan masa depan.
Tetapi ternyata bahwa yang datang seperti sebelumnya, bukan hanya orang itu saja. Beberapa orang telah berada di banjar itu pula untuk berbincang, berbicara dan berkelakar sambil berjaga-jaga.
Betapapun kesalnya hati ketiga orang yang bermalam di banjar itu, namun mereka mengakui bahwa penghuni padukuhan itu adalah orang-orang yang ramah dan baik hati. Orang yang dianggap berpengetahuan itu pun sebenarnya berniat baik meskipun ia kurang dapat menempatkan diri. Namun ketiga orang yang bermalam di banjar itu pun menyadari, bahwa hal itu dilakukan karena ketiganya telah mengaku sebagai pengembara.
Malam itu, Mahisa Ura, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah dipersilahkan makan bersama-sama dengan orang-orang padukuhan itu yang sedang berada di banjar. Namun agaknya Mahisa Ura masih terlalu lemah, sehingga ia tidak dapat duduk bersama orang-orang padukuhan itu terlalu lama.
Demikianlah, betapapun ada hal-hal yang kurang sesuai dengan perasaan Mahisa Ura, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, namun ketiganya merasa mendapat tempat yang baik untuk memulihkan keadaan Mahisa Ura. Tidak ada seorang pun yang merasa keberatan, dan apalagi keinginan untuk mengusir mereka.
Bahkan pada saat-saat Mahisa Ura sudah sembuh dan kekuatannya sudah pulih kembali, orang-orang padukuhan itu masih memberinya kesempatan untuk tinggal apabila mereka berniat demikian.
Tetapi Mahisa Ura itu pun berkata, “Terima kasih. Kami adalah pengembara yang selalu menjelajahi hutan dan padesan, lembah dan bukit-bukit. Adalah menjadi panggilan hidup kami untuk bergaul akrab dengan alam.”
Akhirnya ketiga orang itu pun meninggalkan padukuhan itu setelah mereka mengucapkan terima kasih yang tidak terhingga.
Dengan demikian, maka ketiga orang itu pun telah melanjutkan perjalanan mereka. Mahisa Ura telah membawa Mahisa Murti dan Mahisa Pukat memasuki sebuah padukuhan, di mana ia telah menangkap saudara kembar dari orang yang terbunuh dalam perkelahian, namun yang berhasil melukai Mahisa Ura dengan seekor ular, sehingga dengan demikian perjalanan mereka pun telah terhambat beberapa saat.
Seperti yang diperhitungkan oleh Mahisa Ura, maka ketika ia memasuki padukuhan itu, maka ia tidak dikenali lagi meskipun pada saat ia menangkap buruannya beberapa orang telah menyaksikannya. Bahkan ia sempat bermalam di padukuhan itu. Ternyata bahwa penghuni padukuhan itu pun sebagian besar adakah orang-orang yang baik seperti penghuni padukuhan yang telah ditinggalkannya.
Ketika mereka berada di banjar, Mahisa Pukat sempat berkata, “Bagaimana? Apakah kita akan tetap menjadi pengembara seperti ini, atau kita akan menjadi pedagang batu akik? Aku telah menyediakan beberapa buah batu akik yang bagus yang memang pantas untuk diperdagangkan.”
Tetapi Mahisa Murti pun menjawab, “Jika kita akan menjadi pedagang di sini dengan menjual batu-batu akik yang memang bagus itu, siapakah yang kira-kira akan membelinya. Di padukuhan ini agaknya tidak ada orang yang cukup kaya yang mau melepaskan uangnya hanya untuk membelinya. Di padukuhan.”
Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Namun ia mengakui sebagaimana dikatakan oleh saudaranya. Sambil mengangguk-angguk ia berkata, “Ya. Ki Bekel pun tidak akan membeli batu akik. Mungkin padukuhan yang lebih besar dari padukuhan ini.”
Mahisa Ura memotong, “Ya. Kita memang akan memasuki beberapa padukuhan lagi. Aku akan mencoba mengingat, jalan manakah yang pernah aku lalui sampai pada suatu saat aku menemukan padukuhan yang telah aku kenal ini.”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat itu pun mengangguk-anggguk. Namun dengan demikian mereka menyadari bahwa perjalanan mereka memang masih panjang. Mungkin Mahisa Ura akan segera dapat mengenali jalan yang pernah dilaluinya, tetapi mungkin ia memerlukan waktu yang lama untuk dapat mengingat, kemana saja ia pernah lewat.
Di hari yang cerah, ketiga orang itu mulai dengan perjalanan yang sulit. Bukan karena mereka berjalan melalui rawa-rawa atau lereng pegunungan yang terdiri dari batu-batu karang yang runcing, tetapi mereka masih harus menemukan jalan yang menuju ke arah yang benar.
Demikianlah mereka telah berjalan melampaui satu padukuhan ke padukuhan berikutnya. Mahisa Ura telah mencoba untuk mengingatnya, jalan manakah yang telah pernah dilaluinya. Pada saat ia menempuh perjalanan itu, ia sama sekali tidak berpikir bahwa ia akan mengulangi perjalanannya itu. Karena itu, maka ia tidak begitu memperhatikan, tanda-tanda yang terdapat di sepanjang jalan yang pernah dilaluinya.
Namun ketajaman ingatan dan penglihatannya sebagai seorang petugas sandi agaknya telah menolongnya sehingga ia masih juga sempat melihat beberapa macam pepohonan, bukit dan ujud-ujud lain yang menarik perhatian.
“Aku yakin, bahwa aku telah menempuh jalan yang benar,” berkata Mahisa Ura.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang belum pernah menempuh perjalanan melalui tempat itu, tidak dapat ikut menentukan. Namun mereka pun percaya akan ketajaman ingatan Mahisa Ura. Agaknya mereka memang menempuh jalan yang benar. Meskipun lamban, tetapi agaknya mereka memang mendekati jalan menuju kesasaran.
Ketika mereka memasuki sebuah bulak yang panjang antara dua padukuhan yang agak jauh, terasa bahwa seseorang atau lebih telah mengikuti mereka, meskipun mereka tidak dapat langsung melihat. Setiap kali mereka berhenti dan berpaling, mereka sama sekali tidak melihat seorang pun. Namun naluri mereka telah menangkap sesuatu yang menggetarkan perasaan mereka.
Mahisa Murti yang tanpa disengaja telah memandang ke sisi sebelah kiri dari arah perjalanan mereka, tiba-tiba saja telah melihat batang-batang jagung yang tumbuh subur itu bergerak-gerak. Bukan oleh angin, karena tidak semua batang-batang jagung itu bergerak.
Dengan demikian Mahisa Murti mengambil kesimpulan, bahwa tentu ada seseorang atau lebih yang telah mengamati perjalanan mereka.
“Tidak aneh,” berkata Mahisa Murti di dalam hatinya, “tiga orang yang berjalan bersama-sama di daerah yang terpencil ini memang dengan mudah akan menarik perhatian.”
Namun agaknya Mahisa Pukat pun mempunyai perasaan yang sama. Ia pun telah melihat keadaan yang serupa dengan yang dilihat oleh Mahisa Murti, meskipun di arah yang berbeda. Namun Mahisa Pukat tidak hanya tinggal diam untuk meyakinkan apakah yang dilihatnya itu benar. Tiba-tiba saja ia pun telah berkata, “Aku melihat sesuatu yang menarik perhatian.”
“Apa,” Mahisa Murti bertanya dengan serta merta, karena ia sudah menduga bahwa Mahisa Pukat pun melihat apa yang dilihatnya.
“Seseorang di dalam rimbunnya batang-batang jagung itu,” jawab Mahisa Pukat.
“Di sebelah mana,” bertanya Mahisa Murti.
“Di sebelah kanan jalan,” jawab Mahisa Pukat.
Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam, ia pun kemudian berkata, “Jika demikian, maka tentu lebih dari seorang yang telah mengamati perjalanan kita.”
“Aku tidak melihat apa-apa,” berkata Mahisa Ura.
“Aku pun hanya kebetulan melihatnya,” sahut Mahisa Murti, dan Mahisa Pukat pun berkata, “Aku juga. Aku tidak sengaja memandang batang-batang jagung yang subur itu. Agaknya aku telah melihat ujung batang-batang jagung itu bergerak-gerak, tentu bukan oleh tiupan angin yang betapapun lembutnya.”
Mahisa Ura mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Kita memang harus berhati-hati.”
“Jika demikian, apakah aku dapat memberikan kesan lain dari perjalanan ini,” bertanya Mahisa Murti.
“Kita adalah pedagang akik dan wesi aji. Kita tidak saja akan menjual barang-barang dagangan, tetapi kita juga mau membeli jika ada di antara milik orang-orang padukuhan yang baik dan harganya memadai,” berkata Mahisa Pukat.
“Tidak akan banyak bedanya,” jawab Mahisa Ura, “tidak ada seorang pun yang pernah berbuat demikian di sini.”
“Kita dapat menjadi perintis dari perdagangan itu di daerah ini,” jawab Mahisa Pukat.
“Bagaimanapun juga kehadiran kita akan menarik perhatian. Mungkin oleh para penghuni padukuhan-padukuhan itu tidak memberikan kesan lebih dari menarik perhatian. Tetapi mungkin oleh orang lain, kesannya akan lain pula,” jawab Mahisa Ura.
“Tetapi manakah yang lebih baik. Kita melewati padukuhan-padukuhan itu sebagai pengembara yang memasuki daerah ini tanpa alasan apapun juga, atau kita memasuki daerah ini dengan satu maksud untuk membeli batu-batu berharga dan wesi aji. Kita dapat memberikan alasan apapun juga. Mungkin kita telah melihat wahyu yang turun di daerah ini, sehingga kita yakin bahwa di sini ada seorang yang memiliki atau mungkin wesi aji yang tidak dimiliki oleh siapa pun juga, yang mempunyai nilai yang sangat tinggi.” berkata Mahisa Pukat.
Mahisa Ura termangu-mangu. Namun sambil memandang Mahisa Murti ia bertanya, “Bagaimana pendapatmu?”
“Kita dapat mencobanya. Namun kita harus bersiap-siap mengalami akibat yang bagaimanapun juga,” jawab Mahisa Murti.
Mahisa Ura mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Kita adalah pedagang batu-batu bertuah dan wesi aji. Tetapi aku tidak tahu menahu sama sekali tentang batu-batu akik dan wesi aji.”
“Kami sudah belajar kepada ayah,” jawab Mahisa Pukat, “karena itu, kami dapat mengetahui yang sebenarnya tentang batu-batu akik, batu-batu berharga dan wesi aji.”
“Baiklah,” berkata Mahisa Ura, “Jika seseorang ingin menguji kita, maka kalian akan dapat menyelesaikannya. Kecuali jika memang ada orang yang mencari persoalan.”
“Kita sudah siap,” jawab Mahisa Pukat, “sejak kita berangkat kita sudah memperhitungkan apa yang mungkin dapat terjadi atas kita.”
Dengan demikian, maka mereka bertiga telah bertekad bulat untuk memperkenalkan diri dengan orang-orang padukuhan yang ada di ujung bulak panjang itu sebagai tiga orang bersaudara pedagang batu akik yang mengembara untuk menjual dan mencari dagangan.”
“Dengan demikian kita tidak akan menghiraukan orang-orang yang membayangi perjalanan kita, asal mereka tidak mengganggu kita secara langsung,” berkata Mahisa Pukat kemudian.
Mahisa Ura mengangguk-angguk. Tetapi ia sendiri menang belum melihat seorang pun yang mengikut mereka.
Demikianlah mereka masih saja berjalan dengan tenang tanpa terhenti sama sekali, meskipun mereka bertiga tidak kehilangan kewaspadaan.
“Kita masih akan melalui beberapa padukuhan,” berkata Mahisa Ura, “ada padukuhan yang cukup besar, sebelum kita memasuki daerah yang benar-benar sulit untuk diingat. Tetapi aku akan berusaha meskipun tidak banyak tanda-tanda yang dapat dilihat di hutan-hutan yang pepat, yang seakan-akan dimana-mana sama saja. Suram, lembab dan pepat dengan dedaunan dan pepohonan.”
“Baiklah,” berkata Mahisa Murti, “di padukuhan di ujung bulak ini, kita akan mulai dengan usaha kita memperjual belikan batu akik dan wesi aji. Mudah-mudahan kita dapat meneguk air sambil mandi.”
Tetapi Mahisa Pukat menyahut, “Tetapi dengan demikian kita akan minum air yang kotor.”
Mahisa Murti tersenyum. Demikian juga Mahisa Ura yang mengangguk-angguk.
Ketiga orang itu masih berjalan tanpa terhambat meskipun mereka masih saja merasa diikuti, setidak-tidaknya diawasi. Namun mereka seakan-akan tidak menyadarinya. Mereka masih saja berjalan dengan wajah menghadap ke arah jalan panjang di hadapan mereka.
Ternyata perjalanan mereka benar-benar tidak terganggu cara langsung. Menjelang gerbang padukuhan, ternyata ketiga orang itu telah membenahi diri mereka. Mereka tidak datang kepadukuhan itu dengan kepala tunduk dan punggung terbungkuk-bungkuk sebagai pengembara yang memerlukan belas kasihan. Tetapi mereka datang sebagai tiga orang kakak beradik yang sedang berdagang.
Ketika ketiga orang itu memasuki gerbang padukuhan, mereka merasa bahwa berpasang-pasang mata memandang dengan penuh kecurigaan. Namun ketiga orang itu tidak menghiraukannya. Bahkan ketika di tikungan mereka bertemu dengan seorang yang berjalan berlawanan arah, mereka telah bertanya, dimana rumah Ki Bekel dari padukuhan itu.
“Untuk apa?” orang itu justru bertanya.
“Kami ingin berdagang di padukuhan ini,” jawab Mahisa Ura.
“Berdagang apa?” bertanya orang itu.
“Kami berdagang batu akik, batu-batu berharga lainnya termasuk permata dan wesi aji. Kami dapat menjual dan dapat juga membeli,” jawab Mahisa Ura.
Orang itu mengerutkan keningnya. Dengan nada tinggi ia berkata, “Kami tidak pernah berurusan dengan batu-batu akik dan apalagi batu permata yang tentu mahal harganya. Tetapi kami kadang-kadang memang berbicara tentang wesi aji.”
“Nah, tunjukkan dimana rumah Ki Bekel. Aku ingin minta ijin untuk bermalam di banjar barang satu dua malam, sambil berdagang batu-batu akik dan wesi aji,” sahut Mahisa Ura.
Orang itu masih saja ragu-ragu. Namun kemudian ia pun berkata, “Pergilah ke simpang tiga itu. Jika kau menghadap kekanan, maka kau akan melihat sebuah regol yang agak besar. Nah, rumah di dalam dinding itulah rumah Ki Bekel.”
“Terima kasih,” jawab Mahisa Ura, “kita akan pergi kesana. Mudah-mudahan Ki Bekel ada di rumah.”
“Ki Bekel jarang sekali meninggalkan rumahnya kecuali jika ada persoalan yang sangat penting,” jawab orang itu.
“Mungkin ke sawah atau pekerjaan lain,” desis Mahisa Ura.
“Ki Bekel sudah terlalu tua untuk bekerja. Anaknyalah yang melakukan semua pekerjaan atas namanya. Hanya untuk mengambil satu keputusan persoalan yang gawat, maka masih diperlukan Ki Bekel itu sendiri.”
Mahisa Ura mangangguk-angguk. Katanya kemudian, “Terima kasih. Aku akan mengunjunginya.”
Orang itu mengangguk kecil. Tetapi ia tidak menjawab.
Mahisa Ura, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun kemudian melangkah menuju simpang tiga. Sebagaimana dikatakan oleh orang yang bertemu di tikungan, ketika mereka berpaling ke kanan, maka mereka telah melihat sebuah pintu gerbang rumah Ki Bekel.
Sementara itu, orang yang di tikungan itu masih saja berdiri termangu-mangu. Ia sadar, ketika ia mendengar seseorang menyapanya.
Orang itu berpaling. Dilihatnya di sebuah regol kecil yang terbuka sebuah kepala tersembul.
“Siapakah orang-orang itu tadi?” bertanya orang yang muncul dari balik regol itu.
Orang yang berada di tikungan itulah yang kemudian justru masuk ke dalam regol.
“Pedagang batu akik, permata dan wesi aji,” jawab orang yang ditanya.
Orang yang bertanya itu mengangguk-angguk. Namun ia pun bertanya pula, “Aku dengar dari dalam dinding, orang itu akan pergi ke rumah Ki Bekel.”
“Ya. Segala sesuatunya tentu tergantung Ki Bekel,” jawab orang yang semula berada di tikungan, “tetapi agaknya mereka memerlukan untuk dapat bermalam di banjar.”
Orang yang berada di halaman itu mengangguk-angguk.
Dalam pada itu, maka Mahisa Ura, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun telah berada di depan regol rumah Ki Bekel. Tidak ada seorang pun yang ada di regol itu. Karena itu, maka Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura pun telah memasuki halaman dengan sikap yang ragu.
“Marilah,” berkata Mahisa Ura, “kita akan mengetuk pintu seketeng.”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk.
Mereka bertiga pun kemudian melintasi halaman menuju ke pintu seketeng. Halaman itu benar-benar sepi.
Tidak seorang pun, apalagi penjaga yang berada di halaman itu.
Untuk sesaat Mahisa Ura berdiri termangu-mangu di depan pintu seketeng. Namun ia pun kemudian mengetuk pintu itu perlahan-lahan.
Tetapi baru setelah beberapa kali Mahisa Ura mengetuk dan semakin keras, terdengar jawaban dari dalam. Terdengar langkah kecil-kecil menuju ke pintu seketeng itu.
“Seorang perempuan” desis Mahisa Ura.
Sebenarnyalah bahwa seorang perempuan separo baya telah membuka pintu itu. Dengan wajah keheranan ia bertanya, “Siapakah kalian?”
Mahisa Ura mengangguk-angguk hormat. Demikian juga Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Dengan demikian, maka sikap mereka sedikit dapat memberikan ketenangan di hati perempuan itu. Agaknya ketiga orang itu bukan orang-orang yang garang.
“Kami ingin bertemu dengan Ki Bekel” berkata Mahisa Ura.
“Siapakah kalian?” sekali lagi perempuan itu bertanya.
“Kami tiga bersaudara. Kami adalah pedagang keliling,” jawab Mahisa Ura.
Perempuan itu mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Silahkan menunggu di pendapa. Akan aku sampaikan kepada Ki Bekel.”
“Terima kasih,” jawab Mahisa Ura.
Ketiganya pun kemudian telah pergi ke pendapa. Mereka duduk diatas tikar yang memang sudah terbentang. Beberapa saat mereka menunggu sambil memperhatikan keadaan disekelilingnya.
Rumah Ki Bekel bukanlah rumah yang terlalu besar. Tetapi kelihatan terawat dan teratur. Halamannya bersih dinaungi oleh beberapa jenis pepohonan. Sebatang pohon sawo, sebatang pohon jambu air dikedua sudutnya, sementara di dekat regol terdapat sepasang pohon kemuning. Di halaman samping terdapat beberapa batang pohon nyiur seperti yang terdapat di halaman samping belakang, sebagaimana mereka lihat, ketika mereka datang.
Ketika pintu pringgitan berderit, maka mereka bertiga pun segera berpaling. Mereka melihat seorang laki-laki yang mulai memasuki hari-hari tuanya. Namun tubuhnya masih nampak kuat dan tegap. Wajahnya memancar cerah. Sementara itu, dengan langkah yang pasti ia pun kemudian menuju ketiga orang tamu yang telah duduk lebih dahulu.
“Maaf Ki Sanak,” berkata Ki Bekel, “kalian terpaksa menunggu sejenak.”
“O, tidak apa Ki Bekel,” jawab Mahisa Ura. Namun tiba-tiba ia bertanya, “Bukankah aku berhadapan dengan Ki Bekel?”
“Ya, ya. Aku adalah Bekel di padukuhan ini,” jawab Ki Bekel, “bukankah kalian memang ingin bertemu dengan aku?”
“Ya Ki Bekel,” jawab Mahisa Ura, “kami bertiga bersaudara memang ingin menghadap Ki Bekel.”
Ki Bekel mengangguk-angguk. Katanya, “Menurut Nyi Bekel, kalian bertiga adalah pedagang keliling. Apakah benar begitu?”
“Ya Ki Bekel,” jawab Mahisa Ura, “kami adalah tiga orang bersaudara. Kami memang pedagang keliling. Kami memang ingin mohon ijin untuk berdagang di padukuhan ini. Apabila Ki Bekel mengijinkan, kami ingin berada di padukuhan ini barang satu dua hari.”
Ki Bekel mengerutkan keningnya. Ia pun kemudian bertanya, “Apakah yang kalian jual belikan? Hasil bumi atau binatang ternak?”
“Bukan Ki Bekel,” jawab Mahisa Ura, “bukah hasil bumi dan bukan binatang ternak. Tetapi kami adalah pedagang batu akik dan wesi aji.”
Ki Bekel mengerutkan keningnya. Dengan nada tinggi ia bertanya, “Batu akik?”
“Ya, batu akik,” jawab Mahisa Ura.
Ki Bekel menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “orang-orang di padukuhan ini tidak pernah merasa perlu dengan batu akik itu. Memang ada juga satu dua orang di padukuhhan ini yang memiliki batu akik. Tetapi yang lain tidak pernah berpikir untuk berusaha memilikinya. Tetapi kalau wesi aji, mungkin ada satu dua orang yang sering membicarakannya.”
“O,” Mahisa Ura mengangguk-angguk, “jika demikian biarlah kami memberikan pelayanan tentang kebutuhan wesi aji.”
Ki Bekel menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku tidak akan menghalangi usaha kalian Ki Sanak. Tetapi aku kira kalian tidak akan mendapat kepuasan berdagang di tempat ini. Padukuhan ini bukan padukuhan yang kaya. Satu dua orang diantaranya memang memungkinkan untuk membeli sesuatu diluar kebutuhan sehari-hari. Tetapi aku tidak dapat mengatakan, apakah kalian akan mendapat kesempatan yang baik untuk berdagang di sini. Meskipun demikian, aku akan mempersilahkan kalian untuk tinggal di banjar barang satu dua hari.”
“Terima kasih Ki Bekel,” jawab Mahisa Ura, “kami juga baru sekedar menjajagi. Jika ada kemungkinan untuk berdagang, aku akan mendapatkan pasaran baru. Tetapi jika tidak, ini adalah sekedar penjajagan. Mudah-mudahan aku berhasil di sini dan di padukuhan-padukuhan di sekitarnya. Mungkin di seluruh Kabuyutan.”
Ki Bekel mengangguk-angguk. Katanya, “Silahkan. Aku tidak dapat mengatakan apa-apa.” Ki Bekel itu berhenti sejenak, lalu, “tetapi siapakah nama kalian bertiga?”
“Namaku Mahisa Ura. Kedua adikku ini bernama Mahisa Murti dan Mahisa Pukat,” jawab Mahisa Ura.
Ki Bekel mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Jika demikian, biarlah kalian diantar ke banjar. Kalian akan diserahkan kepada penunggu banjar atas ijinku.”
Mahisa Ura mengangguk hormat sambil berkata, “Terima kasih Ki Bekel. Kemurahan hati Ki Bekel akan sangat berarti bagi usaha kami bertiga.”
“Tunggulah. Aku akan memanggil anakku,” berkata Ki Bekel kemudian.
Sejenak kemudian, maka Ki Bekel pun bangkit dan masuk ke dalam lewat pintu pringgitan. Beberapa saat kemudian, maka ia pun telah datang kembali bersama dengan seorang laki-laki muda yang tubuhnya tegap sebagaimana Ki Bekel. Wajahnya nampak bersungguh-sungguh sebagaimana tatapan matanya yang tajam.
Mahisa Ura menarik nafas dalam-dalam. Di dalam hati ia berkata, “Anak muda yang cerdas.”
Ki Bekel pun kemudian memperkenalkan laki-laki muda itu kepada ketiga orang yang mengaku pedagang batu akik itu, sebagai anaknya.
“Namanya Waditra,” berkata Ki Bekel.
Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura mengangguk hormat. Mereka pun telah memperkenalkan nama mereka masing-masing.
Waditra yang berwajah tenang dan bersungguh-sungguh itu ternyata seorang yang ramah. Sambil tersenyum ia berkata, “Kalian telah mengunjungi satu padukuhan yang sepi dan miskin.”
“Kami sedang menjajagi kemungkinan untuk dapat berhubungan dengan isi padukuhan ini,” berkata Mahisa Ura.
“Ayah sudah mengatakan kepadaku, apakah yang sedang kalian lakukan sekarang ini di padukuhanku. Aku tidak tahu, apakah kalian akan berhasil atau tidak,” berkata Waditra.
“Apapun yang akan kami alami, tidak akan mengecewakan kami. Setidak-tidaknya kami telah mendapat sahabat-sahabat baru yang akan dapat menjadi tempat bernaung diwaktu hujan, dan tempat mencari air diwaktu haus dalam perjalanan seperti yang sedang kami lakukan,” berkata Mahisa Ura.
Waditra tersenyum. Katanya, “Baiklah. Marilah, aku antar kalian ke banjar dan aku serahkan kalian kepada penunggu banjar, agar kalian mendapat tempat untuk bermalam barang satu dua malam.”
“Terima kasih,” sahut Mahisa Ura.
Sejenak kemudian maka Mahisa Ura, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun telah minta diri kepada Ki Bekel. Sambil sekali lagi mengucapkan terima kasih, maka mereka pun meninggalkan regol halaman itu menuju ke banjar, bersama dengan anak Ki Bekel yang berwajah dalam dan bersungguh-sungguh itu.
Ternyata banjar itu tidak terlalu jauh. Namun demikian sebagaimana saat mereka memasuki padukuhan itu, maka semua orang telah memperhatikan mereka meskipun mereka telah diantar oleh Waditra, anak laki-laki Ki Bekel dari padukuhan itu.
Di banjar mereka diterima oleh seorang laki-laki separo baya. Rambutnya sudah mulai berwarna dua.
“Orang inilah yang menunggu banjar,” berkata Waditra.
Mahisa Ura dan kedua orang yang diakuinya sebagai adiknya itu pun mengangguk sambil memperkenalkan diri mereka pula.
“Nah, terserahlah kepadamu,” berkata Waditra kepada penunggu banjar itu, “kau dapat mengatur, bahwa ketiga orang ini akan dapat bermalam di banjar.” Namun kemudian Waditra pun berpaling kepada Mahisa Ura, “Tetapi Ki Sanak. Karena kedatangan kalian adalah untuk berdagang, maka kami mohon maaf, bahwa kami tidak dapat menyediadakan makan dan minuman kalian. Kami hanya dapat menyediakan tempat untuk sekedar beristirahat. Itu pun apa adanya sebagaimana kau lihat sekarang.”
Mahisa Ura dengan serta merta menjawab, “Apa yang kami terima jauh dari cukup. Soal makan dan minum kami, jangan dirisaukan. Memang kami tidak akan dapat membebani padukuhan ini dengan kebutuhan-kebutuhan kami yang seharusnya kami tanggung sendiri. Tetapi apa yang disediakan buat kami telah jauh dari cukup.”
Waditra mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Sudahlah. Aku masih tugas lain. Tetapi apakah aku diijinkan untuk sekedar melihat apa yang kalian perdagangkan?”
“O,” Mahisa Murti dan Mahisa Pukat saling berpandangan sejenak. Namun kemudian Mahisa Pukat pun menyahut, “Aku membawa beberapa batu akik yang paling bagus pada masa sekarang. Batu akik yang dapat mempengaruhi sikap dan tingkah laku seseorang, sehingga ia akan mendapat perhatian yang sangat besar dari pihak lain. Anak-anak muda akan diperhatikan oleh gadis-gadis sebaliknya gadis-gadis akan dikerumuni oleh anak-anak muda. Tetapi tuah yang lain adalah, siapa yang memakai batu akik itu sebagai mata cincin atau mata bandul kalungnya, maka ia akan dapat melakukan semua tugas-tugasnya dengan baik.”
Waditra itu mengerutkan keningnya, tetapi ia tidak menjawab.
Dalam pada itu Mahisa Pukat pun telah mengeluarkan beberapa batu akik dari kantong ikat pinggangnya. Batu akik yang memang sudah dipersiapkan, dan seandainya batu akik itu dilihat oleh seorang yang ahli sekalipun sebagaimana Mahendra, maka akan mengatakan bahwa batu akik itu memang batu akik yang bagus.
Selain batu akik, maka Mahisa Pukat pun telah mengeluarkan pula dari kantong ikat pinggangnya yang sebelah, beberapa butir batu permata yang sudah ada pada embannya. Cincin dan gelang.
Waditra menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia pun kemudian berkata, “Agaknya kami di sini tidak banyak tertarik terhadap batu akik. Apalagi permata yang harganya tentu sangat mahal. Tetapi bukankah kalian juga membawa wesi aji?”
“Ya,” jawab Mahisa Murti, “Tetapi yang ada pada kami sekarang bukan wesi aji dalam ujud senjata pakai.”
“Aku ingin melihat” berkata Waditra.
Mahisa Murti lah yang kemudian mengambil dari kantong ikat pinggangnya beberapa jenis benda kecil berwarna kuning kehitam-hitaman, tetapi ada juga yang berwarna hijau.
Yang mirip dengan sebilah pisau yang kecil kemudian dipisahkannya sambil berdesis, “Wesi kuning.”
Anak Ki Bekel itu termangu-mangu. Dipandanginya benda kecil itu sambil mengangguk-angguk. Menurut penglihatannya, maka benda itu agaknya memang memiliki sesuatu yang dapat mempengaruhi pemiliknya.
“Apakah kau akan membelinya?” bertanya Mahisa Murti.
Waditra termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Aku akan memberitahukan kepada ayah. Mungkin ada satu di antaranya yang menarik perhatiannya. Mungkin benda yang kau tunjukkan kepadaku itu.”
“Baiklah yang ini aku sisihkan,” berkata Mahisa Murti.
Waditra mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Aku akan minta diri. Segala sesuatunya tergantung kepada ayah.”
Mahisa Murti mengangguk-angguk hormat. Katanya, “Silahkan. Sementara itu, sekali lagi kami mengucapkan terima kasih.”
Waditra itu pun kemudian meninggalkan ketiga orang yang akan berada di banjar itu barang satu dua hari. Namun ia sudah melihat, bahwa mereka benar-benar membawa barang-barang yang mereka sebut sedang diperjualbelikan. Dengan demikian kecurigaan Waditra atas ketiga orang itu pun telah hilang. Mereka bukan sekedar orang-orang yang mengaku sebagai pedagang, tetapi mereka mempunyai maksud yang lain.
Dalam pada itu, Mahisa Ura, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun menyadari, bahwa Waditra bukannya ingin membeli sesuatu dari mereka. Yang dilakukannya adalah sekedar melihat, apakah benar mereka memang mempunyai barang-barang yang akan mereka perjual belikan sebagaimana mereka katakan.”
Tetapi mereka bertiga sama sekali tidak berkeberatan. Dengan demikian maka mereka pun telah dapat meyakinkan, bahwa mereka tidak perlu dicurigai.
Waditra yang tidak lagi mencurigai ketiga orang itu, justru telah memberitahukan bukan saja kepada ayahnya, tetapi kepada beberapa orang yang dijumpainya, bahwa di banjar ada tiga orang pedagang keliling yang membawa beberapa jenis batu akik, permata dan wesi aji.
Meskipun orang-orang padukuhan itu bukannya orang-orang yang kaya, tetapi ada juga minat di antara mereka untuk melihat-lihat barang-barang yang dibawa oleh Mahisa Ura, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.
Karena itulah, maka beberapa saat kemudian, maka beberapa orang telah datang ke banjar untuk bertemu dan berkenalan dengan mereka bertiga.
“Seandainya kalian tidak jadi membeli apapun juga, kami sudah merasa beruntung,” berkata Mahisa Ura, “setidak-tidaknya kami telah mendapatkan sahabat-sahabat yang baik di daerah ini.”
Orang-orang padukuhan itu pun mengangguk-angguk. Ternyata bahwa sikap dan pelayanan ketiga orang itu dapat memberikan kesenangan kepada orang-orang padukuhan itu. Meskipun masih belum ada di antara orang-orang padukuhan itu yang membeli sepotong bendapun, namun kedatangan mereka telah menunjukkan sikap yang ramah dari orang-orang padukuhan itu.
Dalam waktu sehari saja, maka Mahisa Ura, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah mengenal sebagian besar dari penghuni padukuhan itu, terutama orang-orang laki-laki dan anak-anak mudanya.
“Jika kita berada di sini untuk dua tiga hari, maka kita akan mengenali seluruh isinya,” berkata Mahisa Ura.
“Tetapi bukahkah itu tidak penting,” berkata Mahisa Murti, “yang penting bagi kami adalah mengetahui, mendengar atau melihat kemungkinan-kemungkinan untuk menemukan jalan menuju ke padepokan orang-orang bertongkat itu.”
Mahisa Ura mengangguk-angguk, sementara Mahisa Pukat berkata, “mudah-mudahan kita akan mendengar seseorang di sini menyebut padepokan itu.”
“Ya mudah-mudahan,” berkata Mahisa Ura, “jika tidak, maka kita masih mungkin untuk berhubungan dengan padukuhan-padukuhan di sekitar padukuhan ini, sementara kita akan memohon kepada Ki Bekel untuk tetap berada di banjar ini lebih lama lagi. Jika tidak terjadi sesuatu, maka aku kira, Ki Bekel tidak akan berkeberatan.”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk.
Dalam waktu yang singkat, maka hubungan ketiga orang itu dengan penghuni padukuhan itu pun menjadi semakin akrab. Ternyata di antara sekian banyak penghuni padukuhan itu, ada juga yang menaruh minat atas barang-barang yang dibawa oleh Mahisa Murti. Wesi aji yang berupa benda-benda kecil itu, dapat juga menarik perhatian seorang yang terhitung kaya di padukuhan itu untuk memiliki.
Mahisa Murti yang mengemban tugas yang lain, yang bukan sekedar berdagang, tidak memberikan harga terlalu tinggi. Ia tidak mengharapkan keuntungan yang banyak. Tetapi yang penting, baginya adalah kesan bahwa mereka memang seorang pedagang.
Tetapi Mahisa Murti pun tidak memberikan harga semena-mena. Jika yang membeli itu benar-benar mengetahui serba sedikit tentang wesi aji, maka jika ia memberikan harga terlalu murah, maka tentu akan menimbulkan pertanyaan pula.
Karena itu, Mahisa Murti memberikan harga sewajarnya meskipun ternyata harga itu dianggap terlalu tinggi bagi orang yang ingin membelinya.
Ternyata telah terjadi tawar menawar. Namun akhirnya Mahisa Murti lah yang mengalah. Meskipun sebenarnya ia masih rugi, tetapi karena tidak seberapa, maka diberikannya juga wesi aji yang di kehendaki oleh orang padukuhan dengan harga sebesar sebagaimana ia menawar.
“Buka dasar,” berkata Mahisa Murti.
Sementara itu, ternyata bahwa Ki Bekel dari padukuhan itu pun telah memerlukan mengunjungi banjar dan melihat beberapa jenis wesi aji sebagaimana dikatakan oleh anak laki-lakinya. Ki Bekel memang tertarik kepada sebuah di antaranya yang bentuknya mirip dengan sebilah pisau, tetapi terlalu kecil dan warnanya memang kuning agak kehitam-hitaman.
Ternyata bahwa Ki Bekel pun memiliki pengetahuan serba sedikit tentang wesi aji. Ia pun agaknya mampu menilai wesi aji yang disebutnya sebagai wesi kuning itu.
“Apakah pengaruh wesi aji yang satu ini?” bertanya Ki Bekel.
“Ki Bekel dapat menayuhnya,” jawab Mahisa Murti
“Mungkin semalam, tetapi mungkin tiga malam.”
“Aku mengerti. Tetapi bagaimana menurut pendapatmu?” bertanya Ki Bekel pula.
“Menurut pendapatku, wesi aji ini mempunyai pengaruh yang sejuk. Wataknya tenang dan damai,” jawab Mahisa Murti.
Ki Bekel mengangguk-angguk sambil mengamati wesi aji itu. Katanya, “agaknya aku sesuai dengan pendapatmu. Tetapi apakah aku diperbolehkan meyakinkannya?”
“Maksud Ki Bekel?” bertanya Mahisa Murti.
“Seperti yang kau katakan, aku akan menayuhnya barang tiga malam. Tetapi dengan demikian aku akan menghambat jika kalian akan meninggalkan tempat ini,” berkata Ki Bekel.
“O, tidak apa-apa Ki Bekel. Kami tidak mempunyai batasan waktu. Jika perlu kami dapat berada di satu tempat sampai sepekan. Seperti Ki Bekel ketahui, kami adalah pedagang keliling. Di mana memungkinkan barang-barang kami terjual, maka kami akan berada di tempat itu,” jawab Mahisa Murti.
“Tetapi tentu dengan perhitungan,” sahut Ki Bekel, “kalian di sini harus makan dan minum. Jika keuntungan yang kalian dapat di sini tidak seimbang dengan pengeluaran kalian, maka kalian tentu merasa dirugikan.”
Mahisa Murti tersenyum. Ki Bekel adalah seorang tua yang tentu memiliki pengalaman dan pengetahuan yang luas, sehingga pengamatannya terhadap mereka bertiga pun didasari atas pengenalannya yang luas itu. Tentu ada di antara orang-orang padukuhan itu yang juga menjadi pedagang. Meskipun mungkin pedagang ternak atau yang lain.
Namun dalam pada itu Mahisa Murti pun menjawab, “Benar Ki Bekel. Kami tentu mengharapkan mendapat keuntungan. Tetapi seandainya perjalanan kami untuk memperkenalkan diri ini tidak mendapat keuntungan sebagaimana kami harapkan, namun kami telah mendapatkan keuntungan yang lain, sebagaimana pernah kami katakan sebelumnya. Di sini kami mendapatkan sahabat-sahabat. Bukan berarti tidak ada pamrih, sebab kami akan dapat datang pada kesempatan yang lain dengan membawa barang-barang yang lebih banyak lagi, sehingga keuntungan kami pada kesempatan lain itu akan dapat menutup kekurangan yang kami alami sebelumnya.”
Ki Bekel mengerutkan keningnya. Namun ia pun kemudian tersenyum. Katanya, “Aku senang. Kau berkata dengan jujur.”
Mahisa Murti pun tersenyum pula. Katanya, “Aku tidak dapat berkata lain kecuali apa adanya.”
“Baiklah,” berkata Ki Bekel, “aku akan mencoba menayuh wesi kuning ini. Tetapi aku memerlukan waktu tiga malam sejak malam nanti.”
“Silahkan Ki Bekel. Jika ternyata di dalam tayuh itu terdapat ketidak sesuaian, maka kami tidak akan kecewa jika rencana pembelian itu diurungkan,” berkata Mahisa Murti.
Ki Bekel pun kemudian telah membawa wesi aji itu untuk ditayuh selama tiga malam.
Ketika banjar itu kemudian menjadi sepi, maka Mahisa Murti pun berkata, “Untunglah bahwa Ki Bekel memberikan alasan kepada kita untuk berada di tempat ini lebih lama.”
Mahisa Ura mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Dalam waktu yang tiga hari itu, kita akan dapat melihat-lihat keadaan di sekeliling padukuhan ini. Mungkin aku dapat mengenali sesuatu yang akan dapat menuntun kita ke padepokan orang-orang bertongkat itu.”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Dengan demikian mereka tidak perlu membuat alasan-alasan apapun untuk memperpanjang kesempatan mereka berada di banjar itu.
Demikianlah selain melayani orang-orang padukuhan itu yang kebanyakan hanya sekedar melihat-lihat saja, maka ketiga orang itu sempat keluar dari padukuhan.
“Kami ingin sekedar melihat-lihat,” berkata Mahisa Ura kepada orang-orang padukuhan itu, “kami masih harus menunggu Ki Bekel yang menayuh salah satu di antara wesi aji yang kami bawa.”
Tidak ada seorang pun yang mencurigai mereka. Ketika mereka keluar dari padukuhan itu, tidak seorang pun yang berniat untuk mengawasinya.
Namun ketiga orang itu tertegun ketika mereka terhenti di luar regol padukuhan itu, karena seseorang telah menghentikan mereka.
“Ki Jagabaya,” desis Mahisa Ura.
“Ya Ki Sanak,” jawab orang yang disebut Ki Jagabaya itu.
“Apa ada sesuatu yang ingin Ki Jagabaya katakan kepada kami?” bertanya Mahisa Ura.
Ki Jagabaya menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian ia pun bertanya, “Ki Sanak bertiga akan pergi ke mana?”
“Hanya sekedar melihat-lihat,” jawab Mahisa Ura, “kami tidak mempunyai tujuan tertentu.”
“Apakah Ki Sanak bertiga akan melihat-lihat sampai jarak yang jauh?” bertanya Ki Jagabaya.
Mahisa Ura termangu-mangu. Namun kemudian ia pun bertanya, “Apakah ada sesuatu yang penting atau merupakan pantangan di daerah ini?”
Ki Jagabaya termangu-mangu. Tiba-tiba saja ia memandang berkeliling. Wajahnya nampak tegang dan sikapnya nampak gelisah.
Mahisa Ura, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat merasa heran melihat sikap Ki Jagabaya itu. Karena itu maka Mahisa Ura pun kemudian bertanya pula, “Ada apa sebenarnya Ki Jagabaya?”
Ki Jagabaya itu menarik nafas. Lalu katanya, “Marilah. Kita masuk kedalam regol padukuhan. Nanti aku persilahkan kalian bertiga untuk melanjutkan perjalanan.”
Mahisa Ura, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak membantah. Meskipun mereka merasa heran, namun mereka pun kemudian mengikuti Ki Jagabaya masuk kembali kedalam regol.
Baru setelah mereka berada didalam regol, maka Ki Jagabaya itu berkata, “Ki Sanak. Kami ingin sedikit memberikan peringatan bagi Ki Sanak bertiga. Mungkin Ki Sanak bertiga belum mengetahui lingkungan ini dengan baik.”
Bersambung.....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar