Sabtu, 02 Januari 2021

HIJAUNYA LEMBAH HIJAUNYA LERENG PEGUNUNGAN JILID 029-01

*HIJAUNYA LEMBAH : JILID-029-01*

Ternyata Mahisa Ura, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat jantungnya menjadi berdebar-debar juga menghadapi orang-orang yang tidak dikenalnya serta tidak diketahui dengan jelas maksudnya.

“Marilah Ki Sanak,” berkata orang yang dikiranya telah terlepas dari penjara itu.

Mahisa Ura lah yang berdiri dipaling depan. Dengan nada datar ia bertanya, “Apakah maksud kalian menghentikan perjalanan kami?”

Orang yang mengaku sebagai tukang blandong itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian ia pun berkata, “Ki Sanak. Agaknya lebih baik jika aku berkata langsung pada persoalannya.”

“Ya,” jawab Mahisa Ura, “dengan demikian persoalan kita cepat selesai, dan kami akan dapat dengan segera meninggalkan tempat ini.”

Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Mudah-mudahan kalian dapat segera pergi. Tetapi aku sangsi apakah kalian akan dapat pergi.”

“Apa maksudmu?” bertanya Mahisa Ura.

Tiba-tiba saja orang yang mempunyai saudara kembar itu tertawa. Dengan nada tinggi ia berkata, “Ki Sanak. Betapapun tinggi kemampuan ilmu dan bekal pengetahuan seseorang, pada suatu saat akan tergelincir juga.”

“Apa maksudmu?” tiba-tiba saja Mahisa Ura bertanya.

“Seorang petugas sandi pun suatu saat tidak mampu merahasiakan dirinya,” berkata orang itu.

Wajah Mahisa Ura tiba-tiba menjadi tegang. Ia mulai curiga bahwa orang itu benar-benar orang yang telah pernah ditangkapnya. Namun demikian ia masih bertanya, “Aku tidak tahu arah bicaramu.”

“Baiklah Ki Sanak. Aku memang tidak ingin melingkar-lingkar. Ki Sanak tentu seorang petugas sandi yang telah menangkap orang yang Ki Sanak kira adalah aku. Betapapun tajamnya penglihatan Ki Sanak, namun Ki Sanak telah salah sangka,” berkata orang yang mendendam itu, “Tetapi itu adalah wajar. Aku adalah saudara kembar dari orang yang telah kau tangkap itu. Karena itu, adalah satu kebetulan bahwa kita telah bertemu. Selama ini aku hanya dapat menahan dendamku di dalam hati. Tiba-tiba saja kau datang sendiri kepadaku, dan melaporkan diri bahwa kaulah orang yang selama ini aku cari.”

Mahisa Ura menarik nalas dalam-dalam. Dengan nada rendah ia berkata, “Aku harus mengakui kekeliruanku. Tetapi aku belum terlambat, karena kau juga telah menempatkan dirimu sendiri pada kemungkinan yang buruk. Aku masih mempunyai kesempatan untuk menangkapmu sekarang.”

“O,” orang yang mendendam itu tertawa. Katanya, “Kau lihat bahwa aku tidak sendiri?”

“Aku juga tidak sendiri,” jawab Mahisa Ura, “aku datang bersama adik-adikku.”

“Nampaknya kau sedang membawa adik-adikmu untuk mendengarkan bualanmu, bahwa di satu tempat kau telah berhasil menangkap seorang yang tentu kau sebut sebagai seorang penjahat besar,” berkata orang itu.

“Ya. Aku memang sudah berhasil menangkap seorang penjahat besar. Nah, apakah kau menyadari, bahwa saudara kembarmu itu tidak mampu melawanku pada waktu itu, karena aku pun datang seorang diri,” berkata Mahisa Ura. “sekarang, apakah kau kira kau akan dapat berbuat sesuatu atasku dan adik-adikku.”

“Mungkin kau akan berjuang untuk menyelamatkan dirimu. Tetapi bagaimana dengan anak-anak ingusan itu? Meskipun mungkin kau mampu bertahan, tetapi jika kedua adikmu itu terancam jiwanya, maka apakah kau akan sampai hati membiarkannya,” bertanya orang yang mendendam itu.

“Tentu tidak,” jawab Mahisa Ura, “aku tidak akan membiarkannya. Karena itu, siapa yang berani mengganggu adik-adikku, ia akan aku bunuh lebih dahulu.”

Orang yang mendendam itu tertawa. Kawan-kawannya pun tertawa pula. Kelima orang itu telah berdiri mengitari Mahisa Ura, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Seorang di antara mereka berkata, “Seorang petugas sandi yang berani. Tetapi pada suatu saat seperti ini, kau akan mati terkapar di tepian.”

“Bukankah kita akan menangkapnya, “desis yang lain.

“O, ya,” jawab yang lain, “Kita akan menangkap ketiga-tiganya. Kita akan memeliharanya untuk memperlengkap ternak di kandang.”

Mahisa Pukat mulai bergeser mendengar kata-kata itu. Tetapi Mahisa Murti menggamitnya, sehingga Mahisa Pukat hanya dapat menggeretakkan giginya.

Sementara itu petugas sandi itu pun menjawab, “Baiklah. Kau nampaknya yakin sekali akan dapat menangkap kami bertiga. Marilah kita buktikan, siapakah yang akan berhasil melakukannya.”

“Kami akan menangkap kalian hidup-hidup. Tetapi jika itu sulit kami lakukan karena kalian melawan, maka mungkin sekali kalian akan mati di sini. Tetapi barangkali mati akan menjadi pilihan kalian daripada kalian harus tetap hidup di antara kawan-kawan kami yang semuanya membenci para petugas sandi dan para prajurit mana pun juga,” berkata orang yang mendendam itu.

Mahisa Ura mengerutkan keningnya. Dengan suara tajam ia berkata, “Jika demikian maka kau ternyata lebih jahat dari saudara kembarmu. Ia hanya perampok dan penyamun. Mungkin membunuh. Tetapi tidak ada niat di hatinya untuk menyiksa seseorang seperti yang pernah kau angankan itu.”

“O,” orang itu tertawa keras-keras, “kau menjadi cemas. Tetapi mungkin aku memang lebih jahat dari saudara kembarku. Namun kejahatanku didukung oleh kemampuanku yang juga lebih tinggi dari saudara kembarku. Karena itu jika kalian ingin melawan tentu akan sia-sia saja.”

Sekali lagi Mahisa Murti terpaksa menggamit Mahisa Pukat yang hampir kehilangan kesabaran. Bahkan Mahisa Murti pun berdesis, “Biarlah ia berbicara sampai puas.”

Ternyata orang yang mendendam itu mendengarnya juga. Dengan wajah yang tegang ia berpaling ke arah Mahisa Murti, “Apa yang kau katakan? “ ia bertanya dengan nada keras.

“Yang aku katakan adalah, biar kau berkicau sampai puas. Saudaraku hampir kehilangan kesabarannya mendengar suaramu yang bagaikan guntur meledak di langit,” jawab Mahisa Murti. Lalu, “tetapi aku cegah ia berbuat sesuatu. Bukankah kau mengatakan bahwa perlawanan kami akan sia-sia?”

Wajah orang itu menjadi merah. Ternyata bahwa kata-kata Mahisa Murti itu pun merupakan ungkapan dari kemarahan yang tertahan di dalam dadanya.

Bahkan sebelum orang itu menjawab, Mahisa Ura telah mendahuluinya, “Nah, kau dengar apa kata adik-adikku? Pertimbangkan. Apakah kau akan melawan, atau kau akan menyerah dan sekaligus aku bawa ke Singasari agar kau dapat berkumpul dengan saudaramu yang kembar denganmu itu.”

Orang yang mempunyai saudara kembar itulah yang justru lebih dahulu tidak dapat menahan kemarahannya Dengan suara lantang ia pun kemudian berkata kepada kawan-kawannya, “Kita akan bersiap melakukan rencana kita. Jangan seorang pun dari ketiga kelinci ini yang melarikan diri.”

“O,” geram Mahisa Pukat yang tidak dapat menahan hati, “jika kalian sebut kami sebagai kelinci, maka kalian adalah tikus-tikus celurut yang tidak ada artinya sama sekali. Cepat, berlutut sajalah. Biar mudah kami mencekik lehermu.”

“Gila,” teriak orang yang mendendam itu, “kaulah yang akan mati untuk pertama kali.”

“Jangan banyak bicara. Jika kau memang mendendam karena saudara kembarmu tertangkap, berbuatlah sesuatu. Bukan sekedar berbicara, menyindir, mengancam dan menakut-nakuti. Kami bukan kanak-kanak lagi yang akan menjadi cemas, gelisah dan takut.”

“Bagus,” orang itu berteriak semakin keras, “kita akan bertempur. Kita tangkap mereka hidup-hidup. Kita dapat mengikatnya seperti seekor beruk dan berbuat apa saja sesuka hati.”

Mahisa Ura, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sama sekali tidak menjawab lagi. Ketika kelima orang itu bersiap, maka mereka bertiga pun telah bersiap pula. Mereka berdiri saling membelakangi.

Dalam pada itu, Mahisa Ura berbisik, “Aku belum pernah melihat bentuk dan ungkapan ilmu kalian sebagaimana kalian juga belum pernah melihat ilmuku. Mudah-mudahan kita akan dapat saling mengisi.”

“Kita masing-masing akan berusaha,” jawab Mahisa Murti.

Sejenak mereka menunggu, sementara kelima orang lawan mereka telah bersiap pula.

“Aku akan memilih lawan,” berkata orang yang mendendam itu, “aku akan melawan orang yang telah menangkap saudara kembarku. Aku ingin tahu, apakah ia mampu melawan aku.”

Kawan-kawannya berusaha untuk menyesuaikan diri. Tetapi Mahisa Pukat tiba-tiba saja menjawab, “Siapa yang memberi hak kepadamu untuk memilih lawan? Kau tidak boleh melawan kakang Mahisa Ura. Tetapi kau harus melawan aku.”

Jantung orang yang mendendam itu bagaikan akan meledak. Dengan nada lantang ia menjawab, “Bagus. Aku akan membunuhmu lebih dahulu.”

Mahisa Pukat justru tersenyum. Katanya, “Nah, ternyata kau jantan juga berani melawan aku. Apakah kau tidak gentar melihat tampangku.”

Orang itu benar-benar tidak mampu lagi menahan diri. Tiba-tiba saja ia telah meloncat menyerang Mahisa Pukat.

Tetapi Mahisa Pukat sudah bersiaga. Ia memang ingin memancing orang itu untuk melawannya. Sejak orang itu membual Mahisa Pukat sudah merasa jengkel dan sangat benci kepadanya.

Mahisa Ura tidak dapat mencegahnya, meskipun sebenarnya ia ingin juga bertempur melawan orang itu. Ia ingin menangkap orang itu sebagaimana ia menangkap saudara kembarnya. Karena Mahisa Ura belum yakin akan kemampuan Mahisa Pukat, maka ia merasa cemas juga bahwa Mahisa Pukat akan mengalami kesulitan dan orang itu akan terlepas dari tangannya.

Namun sejenak kemudian Mahisa Pukat telah bertempur melawan orang itu. Orang yang didorong oleh perasaan dendam dan kemarahan.

Mahisa Ura tidak sempat memperhatikan pertempuran antara Mahisa Pukat melawan orang yang bersaudara kembar itu, karena salah seorang di antara kelima orang itu telah menyerangnya.

Yang masih berdiri bebas adalah Mahisa Murti. Sementara itu ketiga orang yang berpihak kepada orang yang mendendam itu pun masih berdiri termangu-mangu.

“Nah,” berkata Mahisa Murti, “aku tinggal sendiri dan kalian masih bertiga. Ayo, kita akan bertempur. Kalian bertiga dan aku sendiri. Kita akan melihat, siapakah yang akan menang di antara kita.”

“Persetan,” geram salah seorang di antara mereka, “aku akan melawanmu seorang dengan seorang.”

Tetapi Mahisa Murti masih menjawab, “jika demikian, lalu dua di antara kalian akan berbuat apa?”

“Tutup mulutmu,” teriak seorang di antara mereka.

Mahisa Murti tidak sempat menjawab. Orang itu tiba-tiba saja telah menyerangnya dengan garang.

Dengan demikian maka tiga orang di antara kelima orang itu telah bertempur. Dua orang di antara mereka masih berdiri termangu-mangu. Namun keduanya telah bersiap untuk turun kegelanggang apabila diperlukan.

Ternyata orang yang terkuat di antara kelima orang adalah saudara kembar dari orang yang pernah ditangkap oleji Mahisa Ura. Seperti yang dikatakannya, ia memang memiliki kelebihan dari saudara kembarnya yang tertangkap itu.

Namun yang ternyata pertama-tama mendapat perhatian dari petugas di Singasari adalah justru saudara kembarnya, bukan karena saudara kembarnya itu lebih berbahaya dari padanya.

Berita tentang perampok dan penyamun yang ganas itu memang memiliki ilmu yang sangat tinggi. Pada saat yang bersamaan ia mampu berada didua tempat dan melakukan kejahatan yang serupa. Karena itulah, maka perampok itu sangat ditakuti, sehingga Singasari telah secara khusus mengirimkan seorang petugas sandinya untuk melacaknya.

Sampai pada saat orang itu diketemukan, ternyata para petugas tidak mengetahui bahwa ia mempunyai saudara kembarnya. Bahkan untuk menjaga kebesaran namanya, maka saudara kembarnya itu untuk sementara tidak melakukan kejahatan agar tidak ada orang yang kemudian menyadari, bahwa ilmu yang sangat tinggi itu sebenarnya nampak karena penjahat itu adalah dua orang kembar. Ia sama sekali tidak mampu berada didua tempat pada saat yang sama jika mereka berdua tidak mengaturnya.

Saat itu yang mendapat kehormatan untuk melawannya adalah Mahisa Pukat.

Mahisa Ura sendiri memang mendapat lawan yang cukup kuat, meskipun tak sekuat orang kembar itu. Dengan demikian maka Mahisa Ura tidak terlalu banyak mengalami kesulitan. Dengan tangkasnya ia menempatkan dirinya sebagai lawan yang mendebarkan jantung, karena sikap dan gerak Mahisa Ura sangat meyakinkan.

Sementara itu, Mahisa Murti pun harus bertempur melawan seorang yang ilmunya tidak terlalu tinggi. Tetapi Mahisa Murti sengaja menempatkan dirinya sejajar dengan kemampuan orang itu, agar kemampuannya tidak justru mengejutkan, termasuk bagi Mahisa Ura.

Dalam pada itu, Mahisa Ura ternyata masih saja mencemaskan keadaan Mahisa Pukat. Ia pernah bertempur melawan saudara kembar lawan Mahisa Pukat itu dan dengan susah payah telah menangkapnya. Jika benar pengakuan orang itu, bahwa ia memiliki kelebihan dari saudara kembarnya, maka ia tentu seorang yang memang memiliki ilmu yang tinggi.

“Ia berani menantangku,” berkata Mahisa Ura di dalam hatinya, “jika ia tidak yakin akan kemampuannya, tentu ia tidak berani melakukannya karena ia tahu bahwa aku mampu menangkap saudara kembarnya.”

Sebenarnyalah pertempuran antara Mahisa Pukat dan lawannya itu menjadi semakin seru. Namun Mahisa Ura tidak menyadari, bahwa sebenarnya Mahisa Pukat pun masih belum sampai pada puncak kemampuannya. Ia masih mempergunakan dasar ilmunya berdasarkan atas kekuatan kewadagannya didukung oleh kekuatan tenaga cadangannya. Dengan demikian maka seakan-akan tata geraknya menjadi semakin tangkas dan cepat. Tetapi Mahisa Pukat sama sekali masih belum sampai pada ilmu andalannya dalam bentuk lunak atau keras, karena kedua-duanya akan dapat membunuh lawannya.

Namun Mahisa Ura benar-benar seorang yang keras ke para. Ia merasa bahwa dirinya memang memiliki ilmu yang sangat tinggi, sehingga karena itu, maka tidak mudah baginya untuk melihat kenyataan, bahwa ia tidak akan mampu mengalahkan anak muda yang bernama Mahisa Pukat itu.

Demikianlah pertempuran pun semakin lama menjadi semakin seru. Mereka saling mendorong, saling menyerang dan saling mendesak. Dalam permainannya, Mahisa Murti pun kadang-kadang harus bergeser surut, agar pertempuran itu nampak menjadi sangat seru.

Mahisa Ura yang kurang memahami kemampuan Mahisa Pukat yang sebenarnya, memang menjadi cemas. Ia merasa betapa lawannya tidak terlalu kuat sebagaimana saudara kembar orang yang bertempur melawan Mahisa Pukat yang pernah ditangkapnya itu.

Karena itu, maka tiba-tiba saja ia berteriak, “Mahisa Pukat, serahkan orang itu kepadaku.”

“Aku masih mampu melawannya,” jawab Mahisa Pukat.

“Soalnya bukan mampu atau tidak mampu. Tetapi ia sudah mengenali aku. Apalagi ia telah mengaku sebagai seorang penjahat. Karena itu adalah menjadi kewajibanku untuk menangkapnya,” berkata Mahisa Ura.

“Persetan,” yang berteriak adalah lawan Mahisa Ura, “kau akan mampus sejenak lagi.”

Tetapi Mahisa Ura tidak banyak menghiraukannya. Ia tidak mengalami banyak kesulitan ketika orang itu meloncat menyerangnya dengan garang. Bahkan ia masih sempat berbicara terus, “Yang penting adalah kewajibanku untuk menangkapnya. Ia tentu merasa senang bahwa ia mendapat kesempatan untuk menghindari aku.”

“Omong kosong,” orang yang mempunyai saudara kembar itulah yang kemudian berteriak, “kau akan mati.”

“Bagaimana mungkin kau mampu membunuhku, karena kau tidak bertempur melawan aku,” sahut Mahisa Ura..

Ternyata Mahisa Ura berhasil menyinggung perasaan lawan Mahisa Pukat itu. Karena itu, maka ia pun telah berkata kepada kawannya yang bertempur melawan Mahisa Ura, “Kita bertukar lawan. Tangkap anak muda ini, karena ia pun akan dapat kita jadikan bahan permainan sebagaimana orang yang telah menangkap saudara kembarku itu.”

Lawan Mahisa Ura tidak membantah. Namun Mahisa Ura dengan sengaja telah melepaskannya dan dengan cepat menempatkan diri di hadapan lawan Mahisa Pukat. Sementara itu, lawan Mahisa Ura itulah yang kemudian menjadi lawan Mahisa Pukat.

Mahisa Pukat tidak mencegahnya. Ia pun justru ingin menyerahkan tanggung jawab atas orang itu kepada Mahisa Ura yang sebenarnya adalah petugas sandi yang bernama Urawan.

Demikianlah maka pertempuran antara Mahisa Ura dan orang yang bersaudara kembar itu menjadi semakin sengit. Mahisa Ura, memang merasa bertangung jawab untuk menangkap orang itu, sementara orang itu telah didera oleh perasaan dendamnya kepada petugas sandi yang telah menangkap saudara kembarnya itu.

Kedua orang itu telah mengerahkan segenap kemampuannya, sehingga benturan-benturan kekuatan yang kemudian terjadi benar-benar telah mengguncangkaan kedua belah pihak.

Mahisa Ura merasakan bahwa orang itu memang memiliki kelebihan dari saudara kembarnya. Orang itu memilliki kekuatan yang lebih besar dan kecepatan gerak yang lebih tinggi. Karena itu, maka Mahisa Ura harus bekerja lebih keras untuk dapat menundukkan lawannya.

Mahisa Pukat yang kemudian melihat Mahisa Ura bertempur dengan sengitnya melawan saudara kembar dari orang yang pernah ditangkapnya itu pun serba sedikit dapat menduga, seberapa tinggi kemampuan Mahisa Ura yang sebenarnya.

Demikianlah maka pertempuran di tiga lingkaran itu semakin lama menjadi semakin seru. Sementara itu, dua orang yang lain dari kelima orang yang mencegat perjalanan Mahisa Ura bertiga masih berdiri termangu-mangu.

Namun sejenak kemudian, maka mereka pun mulai melihat Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mulai mendesak lawannya. Dua di antara kelima orang yang mencegat perjalanan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat itu meniadi cemas, bahwa kawannya yang bertempur melawan dua orang anak-anak muda itu akan terdesak semakin jauh.

Karena itu, sambil menunggu perkembangan selanjutnya, mereka berniat untuk turun ke gelanggang. Keduanya akan membantu dua orang kawannya, masing-masing seorang.

“Apa pun yang akan terjadi, jika aku dapat dengan cepat membantu menyelesaikan pertempuran itu, maka tugas kami akan menjadi semakin ringan. Mungkin kami akan segera dapat menyelesaikan ketiga orang itu seluruhnya dan membawa mereka kepada kawan-kawan kami,” berkata kedua orang itu didalam hati.

Dengan demikian maka dengan saling memberikan isyarat, maka keduanya telah meloncat ke arah yang berbeda. Seorang telah turun karena untuk melawan Mahisa Murti, sementara yang seorang telah membantu kawannya yang berhadapan dengan Mahisa Pukat.

Dalam pertempuran berikutnya, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masing-masing harus bertempur melawan dua orang.

Mahisa Ura kembali menjadi cemas. Meskipun mereka sudah berjanji untuk melindungi diri mereka masing-masing, tetapi bagaimanapun juga ia tidak dapat berdiam diri jika terjadi sesuatu dengan kedua orang anak muda itu. Kedua anak muda yang diakuinya sebagai adiknya itu bagi Mahisa Ura merupakan sahabat yang sangat baik.

Seakan-akan keduanya mampu menyesuaikan diri dengan sifat dan watak Mahisa Ura. Apalagi nampaknya keduanya memang memiliki bekal yang cukup untuk melakukan tugasnya.

“Tetapi apakah keduanya mampu bertempur melawan masing-masing dua orang?” bertanya Mahisa Ura didalam hatinya.

Tetapi Mahisa Ura itu tidak dapat mengelakkan diri dari kenyataan, bahwa lawannya memiliki kemampuan yang tinggi, sehingga karena itu, maka Mahisa Ura tidak segera dapat menundukkannya.

Namun, ketika ia sempat sedikit mengikuti kedua anak muda yang bertempur itu, nampaknya keduanya tidak dalam keadaan yang berbahaya.

“Mudah-mudahan mereka dapat bertahan sampai aku dapat melumpuhkan orang kembar yang tinggal seorang ini,” berkata Mahisa Ura di dalam hatinya. Bahkan ia pun berharap, bahwa orang-orang yang bertempur melawan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat itu bukan orang-orang yang berilmu tinggi seperti orang kembar yang mendendam itu.

Seorang di antara mereka telah bertempur melawannya. Agaknya orang itu juga berilmu, tetapi tidak sekuat lawannya yang kemudian itu.

Dengan mengerahkan segenap kemampuannya Mahisa Ura ingin segera mengalahkan lawannya. Tetapi lawannya pun telah mengerahkan ilmunya pula. Ia merasa memiliki ilmu yang sangat tinggi, sehingga karena itu, ia pun berharap akan dapat membalaskan dendam saudara kembarnya itu.

Ternyata bahwa kedua orang itu telah bertempur dengan serunya tanpa dapat diduga sebelumnya, siapakah yang akan memenangkan pertempuran. Bahkan keduanya tidak lagi bertempur dengan tangannya, tetapi keduanya telah mempergunakan senjatanya masing-masing.

Dalam loncatan-loncatan yang semakin cepat, maka senjata mereka telah saling berbenturan. Namun sekali-sekali mereka telah meloncat mundur apabila ujung senjata lawannya hampir saya mengoyak kulit.

Tetapi dalam putaran selanjutnya, mereka tidak selalu dapat menghindari ujung senjata lawan. Kecepatan gerak mereka yang seimbang itu, kadang-kadang telah menimbulkan kesulitan dikedua belah pihak karena perhitungan yang kurang tepat.

Karena itulah, maka pertempuran di antara kedua orang yang memiliki ilmu seimbang itu banyak tergantung kepada kemampuan mereka menanggapi tata gerak lawan dan kecepatan mereka mengambil sikap dan menentukan langkah-langkah berikutnya.

Karena itulah maka pada satu saat, orang yang mempunyai. saudara kembar itu mengumpat habis habisan ketika senjata Mahisa Ura menyentuh lengannya. Tetapi sejenak kemudian Mahisa Ura lah yang berdesis karena ujung senjata lawan menyentuhnya pula.

Dengan demikian maka kedua orang yang bertempur dengan sengitnya itu telah terluka. Tetapi luka-luka itu sama sekali tidak mereka hiraukan. Luka-luka itu tidak berpengaruh sama sekali atas kecepatan gerak dan kegarangan mereka.

Karena itulah, maka pertempuran itu masih saja berlangsung dengan cepat. Benturan-benturan kekuatan masih terjadi. Senjata mereka yang beradu telah memercikkan bunga api di udara. Serangan demi serangan terjadi beruntun balas membalas. Sekali-sekali Mahisa Ura terdesak selangkah surut. Namun kemudian ia pun telah memaksa lawannya untuk meloncat menghindari ujung senjatanya.

Pertempuran itu pun semakin lama justru menjadi semakin seru. Jika kulit mereka mulai dibasahi oleh darah yang mengalir dari luka, serta hulu senjata mereka telah basah oleh keringat, maka hal itu justru telah membakar jantung mereka dan mendidihkan darah mereka.

Karena itulah, maka pertempuran itu pun terus. Keduanya benar-benar telah mengerahkan kemampuan dan kekuatan mereka. Segenap ilmu mereka telah mereka tumpahkan dilandasi dengan segenap kemampuan tenaga cadangan yang ada di dalam diri mereka.

Dalam pada itu, Mahisa Ura pun telah berkata di dalam hatinya, “Ternyata yang dikatakan oleh orang ini bukan sekedar membual. Ia benar-benar memiliki kelebihan dari saudara kembarnya. Untunglah bahwa aku telah mengambil alih orang ini dari Mahisa Pukat, sehingga anak muda itu tidak banyak mengalami kesulitan, karena lawannya yang kemudian, meskipun berdua, tidak memiliki bekal ilmu yang cukup.”

Demikianlah pertempuran antara Mahisa Ura dan lawannya itu masih berlangsung terus. Masih belum nampak tanda-tanda kemenangan di antara mereka, karena keduanya masih saling mendesak dan bertahan.

Sementara itu Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun masing-masing masih harus bertempur melawan dua orang. Tetapi sebenarnya mereka sama sekali tidak mengalami kesulitan. Meskipun demikian mereka tidak dengan serta merta mengakhiri pertempuran.

Untuk beberapa saat baik Mahisa Murti maupun Mahisa Pukat telah menyesuaikan dirinya. Seakan-akan mereka telah berjanji, untuk sementara mereka merasa belum perlu menunjukkan kemampuan mereka yang sebenarnya, juga di hadapan Mahisa Ura.

Namun demikian kedua orang lawannya tidak juga mampu menundukkannya. Betapapun juga dua orang lawan bagi masing-masing itu bertempur dengan segenap kemampuan mereka, namun anak-anak muda itu rasa-rasanya memang sangat liat, sehingga lawan mereka itu justru kadang-kadang menjadi bingung.

Tetapi yang kemudian tidak telaten adalah Mahisa Pukat. Apalagi ketika ia mulai melihat Mahisa Ura telah terluka meskipun lawannya juga terluka.

Namun dengan demikian Mahisa Pukat dapat menilai bahwa kedua orang yang bertempur itu memiliki ilmu yang benar-benar seimbang.

“Agaknya pada saat Mahisa Ura menangkap saudara kembar lawannya, ia juga mengalami sedikit kesulitan meskipun ia akhirnya dapat menyelesaikan tugasnya,” berkata Mahisa Pukat di dalam hatinya.

Berbeda dengan Mahisa Pukat, Mahisa Murti tidak terlalu tergesa-gesa. Meskipun ia juga melihat Mahisa Ura terluka, tetapi ia pun melihat lawannya terluka.

Dengan demikian maka Mahisa Murti tidak begitu mencemaskan keadaan Mahisa Ura. Mahisa Murti yakin bahwa Mahisa Ura tentu memiliki daya penalaran yang lebih baik dari lawannya. Meskipun keduanya mempunyai bekal yang sama, tetapi ungkapannya tentu akan lebih baik pada Mahisa Ura.

Sebenarnyalah ketika Mahisa Ura sudah terluka ia pun menjadi semakin cemas mempergunakan perhitungannya.

Meskipun darahnya menjadi mendidih karenanya, tetapi ia tejlah mengerahkan bukan saja kemampuan dan ilmunya, tetapi juga daya penalarannya.

Mahisa Ura telah berusaha untuk mencairi titik-titik kelemahan pada lawannya. Ia mulai mencari sebab, kenapa ia pada suatu saat mampu melukai lawannya yang memiliki kekuatan dan kecepatan gerak mengimbangi kemampuannya.

Dengan berbagai cara dan sekali-sekali mencoba, akhirnya Mahisa Ura menemukan satu kelemahan pada lawannya. Pertahanan lawannya pada sisi sebelah kiri nampaknya agak lemah. Senjatanya yang digenggamnya dengan tangan kanannya, kadang-kadang terlambat untuk melindungi tubuhnya dibagian kiri, meskipun lawan Mahisa Ura kadang-kadang mempergunakan kecepatan loncatan kakinya untuk menghindar.

Dengan perhitungan itulah, maka Mahisa Ura telah berusaha untuk menyerang lawannya semakin cepat dan keras.

Sebenarnyalah, bahwa orang yang mendendam karena saudara kembarnya tertangkap itu sekali-sekali mulai menjadi bingung oleh serangan-serangan yang semakin mendesak. Bahkan untuk melepaskan diri kejaran ujung senjata lawannya, orang itu harus berloncatan beberapa langkah surut.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun telah melihat perubahan keseimbangan itu. Karena itu Mahisa Murti justru menjadi semakin tenang dalam permainannya. Tetapi Mahisa Pukat sudah terlanjur menjadi jemu dengan permainannya, sehingga ia pun telah berniat untuk mengakhiri.

Karena itu, maka meskipun tidak dengan serta merta, Mahisa Pukat pun telah meningkatkan kemampuan perlawanannya. Setapak demi setapak. Tetapi dengan pasti Mahisa Pukat menuju ke arah penyelesaian pertempuran yang sudah berlangsung beberapa saat lamanya itu.

Mahisa Murti pun melihat apa yang dilakukan oleh Mahisa Pukat tetapi ia sendiri belum berniat untuk berbuat demikian.

Karena itulah, maka telah terjadi perubahan keseimbangan pertempuran antara Mahisa Pukat dengan kedua lawannya. Jika semula Mahisa Pukat hanya sekedar melayani, maka kemudian Mahisa Pukat mulai membuat kedua lawannya berkeringat di seluruh tubuhnya. Bukan hanya karena mereka harus memeras keringat, tetapi juga karena mereka menjadi gelisah.

Dengan segenap kemampuan dan ilmu yang ada pada mereka, keduanya telah memberikan perlawanan yang tertinggi. Namun kemampuan Mahisa Pukat masih sanggup setingkat lebih tinggi.

Dengan demikian maka kedua orang itu mulai terdesak. Selangkah demi selangkah mereka terdorong mundur, meskipun sekali-sekali mereka berdua berhasil mengejutkan Mahisa Pukat dengan serangan beruntun dan berbareng. Tetapi dalam keadaan yang demikiaan Mahisa Pukat pun dengan cepat mampu menguasai keadaan sehingga keseimbangan pun kembali sebagaimana sebelumnya.

Kedua lawan Mahisa Pukat itu semakin lama menjadi semakin gelisah. Mereka benar-benar kehilangan akal, bagaimana caranya untuk mengatasi tekanan anak yang masih sangat muda itu menurut ukuran mereka.

Kegelisahan kedua orang lawan Mahisa Pukat itu ternyata telah menjalari perasaan lawan Mahisa Ura. Bukan karena ia cemas oleh kemampuan lawannya yang meningkat, tetapi jika kedua orang lawan Mahisa Pukat itu dapat dikalahkan, akan berarti bahwa ia harus melawan dua orang yang menurut dugaannya adalah dua orang kakak beradik, disamping saudaranya yang seorang lagi.

Tetapi juga karena itu maka orang yang mempunyai saudara kembar itu telah menghentakkan kemampuannya. Ia harus dapat mengalahkan lawannya itu lebih dahulu sebelum Mahisa Pukat bebas dari kedua lawannya dalam keadaan menang, dan membuat kedua lawannya itu cidera atau bahkan akan dibunuhnya.

Namun orang itu pun tidak dapat mengelak dari kenyataan bahwa ilmu orang yang menyebut dirinya Mahisa Ura itu sangat tinggi dan selapis diatas ilmunya. Apalagi Mahisa Ura dapat memanfaatkan penalarannya dengan baik dan cermat, sesuai dengan tugasnya sebagai prajurit sandi.

Dalam keadaan yang demikian, maka orang yang mempunyai saudara kembar itu tidak sempat membuat perhitungan lain daripada mempergunakan senjata anehnya. Senjata yang jarang sekali dipergunakan, meskipun bagi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat bukan lagi senjata yang aneh, karena mereka pernah mengalaminya. Namun karena itu, maka justru mereka telah mendapat penangkalnya sehingga bagi mereka senjata tidak terlalu merisaukannya.

Namun Mahisa Ura benar-benar terkejut ketika ia melihat lawannya itu meloncat mundur. Kemudian dengan tangkasnya ia mengambil sebuah bumbung kecil, dengan tangan kirinya. Demikian ia membuka tutup bumbungnya dengan mulutnya maka ia pun telah mengibaskan bumbungnya itu dengan menghentakkan yang keras.

Sesuatu telah meluncur dari dalam bumbung kecil itu. Namun lawan Mahisa Ura itu ternyata cukup cerdik. Ia pun telah melemparkan bumbung itu pula ke arah Mahisa Ura, sehingga perhatian Mahisa Ura terbagi pada dua benda yang meluncur ke arahnya.

Namun benda-benda itu meluncur dengan kecepatan yang sangat tinggi, sehingga Mahisa Ura tidak sempat berbuat banyak. Ia memang berusaha mengelak, tetapi ia tidak berhasil terlepas dari sambaran senjata aneh lawannya.

Mahisa Ura terkejut ketika tiba-tiba sesuatu telah melekat di lengannya. Seekor ular.

Mahisa Ura pun segera menyadari, bahwa lawannya telah mempergunakan senjata racun ular yang sangat tajam. Dalam keadaan yang demikian Mahisa Ura telah mengambil satu keputusan yang sangat cepat, melampaui kecepatan berpikir lawannya. Demikian ular itu menggigit dan melekat di lengannya, maka Mahisa Ura pun telah meloncat dengan garangnya. Senjatanya terjulur lurus ke depan sehingga seakan-akan loncatannya itu pun menjadi semakin cepat dan semakin panjang jangkaunnya.

Lawannya pun terkejut melihat kecepatan gerak Mahisa Ura. Lawannya itu mengira, bahwa Mahisa Ura akan kehilangan akal dan tidak mampu lagi berbuat sesuatu menghadapi kenyataan, bahwa dengan demikian umurnya sudah hampir sampai kebatas.

Namun lawan Mahisa Ura masih sempat mengelak. Dengan tergesa-gesa ia bergeser ke samping sehingga ia telah terlepas dari ujung senjata Mahisa Ura.

Tetapi kemarahan Mahisa Ura telah mendorongnya bergerak lebih cepat. Ketika ujung senjata Mahisa Ura tidak menyentuh tubuh lawannya yang bergeser menyamping, maka Mahisa Ura pun telah menggerakkan senjata ke samping mendatar setinggi lambung dengan sisa tenaganya. Demikian cepatnya sehingga lawannya yang sudah terlempar ke samping itu sama sekali tidak sempat mengelak. Dengan senjatanya lawannya itu mencoba menangkis serangan Mahisa Ura. Namun serangan itu demikian kerasnya dan tiba-tiba serta lawannya dalam keadaan lengah, sehingga senjata itu justru telah terlepas dari tangannya.

Mahisa Ura yang mulai terasakan akibat dari gigitan ular yang masih melekat di lengannya, tidak mau melepaskan kesempatan yang terakhir itu. Ketika lawannya berusaha untuk bergeser setelah ia kehilangan senjatanya, maka Mahisa Ura pun telah meloncat sekali lagi. Sebuah tikaman yang kuat tidak berhasil dihindari oleh lawannya. Ujung senjata Mahisa Ura telah membelah dada lawannya menghunjam sampai ke jantung.

Terdengar desah tertahan. Kemudian mulut lawannya itu masih mampu mengumpat dan berdesis, “Kau juga akan mati karena racunku.”

Mahisa Ura berdiri dengan wajah yang tegang. Ia sadar sepenuhnya bahwa ular yang menggigitnya itu tentu ular yang sangat berbisa sehingga ia tidak dapat mengelakkan diri dari kematian.

Mahisa Pukat dan Mahisa Murti pun terkejut melihat peristiwa yang terjadi demikian cepatnya itu. Namun mereka pun menjadi sangat cemas, bahwa gigitan ular di lengan Mahsa Ura itu akan dapat membunuhnya.

Karena itu, maka kedua orang anak muda itu tidak dapat berbuat lain daripada berusaha menolongnya. Meskipun Mahisa Murti mula-mula tidak ingin menyelesaikan kedua lawannya dengan cepat, tetapi peristiwa yang terjadi atas Mahisa Ura itu ternyata telah merubah keputusannya.

Tiba-tiba saja Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah menghetakkan kemampuannya. Diluar sadarnya Mahisa Murti telah menyerang kedua lawannya dengan kekuatan ilmunya dalam bentuknya yang lunak. Mahisa Murti tidak menghentakkan tangannya dan memecahkan kepala kedua lawannya. Tetapi kemampuannya bermain dengan panasnya tenaga api yang memancar dari Adji Bajra Geni telah menghentikan perlawanan kedua lawannya. Udara panas bagaikan membakar kedua lawannya yang menjadi bingung. Namun Mahisa Murti tidak berniat membunuh mereka, sehingga ia pun telah mengendalikan ilmunya, sekedar untuk menghentikan perlawanan kedua orang lawannya. Sementara itu, maka ia pun telah menyentuh kedua lawannya dengan ujung jarinya ditengkuk masing-masing selagi kedua lawannya itu kebingungan.

Kekuatan dan tenaga kedua orang lawannya itu bagaikan terhisap habis. Keduanya tiba-tiba saja telah terbaring di tanah dengan lemahnya. Meskipun mereka masih mampu menggerakkan bibirnya dan jari-jari tangannya, tetapi yang dapat mereka lakukan hanyalah mengeluh dan mengumpat.

Tetapi ternyata bahwa lawan Mahisa Pukat mengalami keadaan yang lebih buruk. Kemarahan Mahisa Pukat tidak dapat tertahankan lagi. Justru pada saat ia sudah meningkatkan ilmunya karena ia memang sudah menghendaki permainan itu berhenti, ia dikejutkan oleh keadaan yang gawat pada Mahisa Ura.

Dengan demikian maka Mahisa Pukat telah menghentakkan kekuatannya tanpa dilambari puncak ilmunya. Namun hentakkan tenaganya atas lembaran tenaga cadangannya telah menghantam dada kedua lawannya, sehingga keduanya merasa bagaikan tertimpa sebongkah batu karang. Dada mereka menjadi sesak, dan tulang-tulang iga mereka serasa berpatahan.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat kemudian tidak menghiraukan lagi lawan-lawannya. Keduanya segera berlari ke arah Mahisa Ura yang sudah menjadi sangat lemah karena bisa ular itu mulai menggigit bagian dalam seluruh tubuhnya. Bahkan menyusuri darah telah hampir mencapai jantungnya.

Ternyata Mahisa Murti bergerak lebih cepat. Ia sesaat lebih dahulu sampai kepada Mahisa Ura yang terbaring.

“Mahisa Murti dan Mahisa Pukat,” desisnya ketika ia melihat kedua anak muda itu yang datang dan berjongkok disisinya, “ternyata aku tidak dapat mengantar kalian sampai ke tujuan.”

“Aku akan mencoba mengobatinya,” berkata Mahisa Murti, “Tenanglah.”

“Racun ini sangat kuat,” desis Mahisa Ura.

Mahisa Murti tidak menjawab. Tetapi ia sudah melepas cincinnya yang bermata sebuah batu yang mampu menangkal racun yang betapapun kuatnya.

Meskipun agak terlambat, tetapi Mahisa Murti masih akan mencobanya.

Batu pada cincin tidak sekedar dikenakan di jarinya. Tetapi batu itu telah dilekatkan pada luka gigitan ular, sementara ularnya telah terjatuh pada saat Mahisa Ura menghentakkan kemampuannya untuk membunuh lawannya. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat terkejut ketika terdengar Mahisa Ura itu mengaduh. Namun Mahisa Murti tidak melepaskan batu yang melekat pada luka itu.

Yang dilihatnya kemudian adalah tubuh Mahisa Ura yang menggigil setelah lukanya bagaikan disengat bara.

Beberapa saat Mahisa Ura merasakan tubuhnya bagaikan diguncang oleh berbagai perasaan yang berbaur. Sakit, panas dan dingin rasa-rasanya telah menjalari urat-urat darahnya.

Mahisa Murti masih bertahan. Bahkan kemudian Mahisa Pukat pun berkata, “Apakah aku dapat membantunya?”

Mahisat Murti termangu-mangu. Meskipun Mahisa Pukat juga mempunyai gelang yang mampu menangkal racun dan bisa, tetapi apakah keduanya dapat bergabung dan bekerja bersama. Jika cara kerja kedua benda itu berbeda, maka justru akan dapat menimbulkan kesulitan.

Namun sebelum Mahisa Murti menjawab, Mahisa Ura nampak menjadi semakin baik. Ia tidak lagi menyeringai menahan sakit dan keluhan-keluhan tertahan merembes dari sela-sela bibirnya. Tetapi ia nampak menjadi lebih tenang meskipun tubuhnya masih menggigil.

“Kita tunggu saja sebentar,” jawab Mahisa Murti, “Mungkin batu ini mampu mengatasi kesulitan didalam dirinya.”

Mahisa Murti tidak mendesaknya. Ia pun masih menunggu beberapa saat.

Sementara itu, dari luka di lengan Mahisa Ura nampak darah mulai mengalir. Darah yang berwarna kehitam-hitaman.

Dengan hati-hati Mahisa Murti memijat perlahan-lahan daging disekitar luka itu. Meskipun terasa sakit, tetapi dengan demikian darah menjadi semakin banyak mengalir bagaikan dihisap oleh batu di cincin Mahisa Murti itu. “Mudah-mudahan kau sembuh,” berkata Mahisa Murti.

Mahisa Ura masih diam saja. Kepalanya masih terasa sangat pening. Namun perasaan sakit di seluruh tubuhnya mulai berkurang.

Untuk beberapa saat, Mahisa Murti membiarkan darah mengalir dari luka itu. Sementara itu, cincinnya tidak lagi dilekatkan pada lukanya, tetapi dikenakan pada jari-jarinya.

Demikianlah, ternyata bahwa keadaan Mahisa Ura semakin lama menjadi semakin baik. Darahnya yang mengalir tidak lagi nampak kehitam-hitaman, tetapi darahnya telah menjadi merah.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Namun keduanya yakin bahwa keadaan Mahisa Ura akan menjadi baik.

Untuk beberapa saat Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menunggui Mahisa Ura yang terbaring. Namun pada wajah itu tidak lagi nampak penderitaan yang sangat, meskipun tubuh itu masih nampak sangat lemah.

Beberapa saat kemudian, maka Mahisa Murti pun bertanya, “Bagaimana keadaanmu kakang?”

Mahisa Ura mencoba menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Aku merasa keadaanku menjadi bertambah baik. Tetapi tulang-tulangku seakan-akan telah terlepas dari sendi-sendinya.”

“Untuk beberapa saat keadaanmu akan begitu,” sahut Mahisa Pukat, “tetapi nanti kau akan menjadi baik.”

“Tetapi apakah kita akan tetap di sini,” bertanya Mahisa Ura.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat saling berpandangan sejenak. Kemudian Mahisa Murti pun berkata, “Kita akan pergi ke padukuhan terdekat. Mungkin kita akan mendapat tempat bermalam di banjar padukuhan itu.”

Mahisa Ura mengangguk-angguk kecil. Katanya, “Kita akan mencoba pergi ke padukuhan sebelah. Tetapi bagaimana dengan orang-orang itu?”

“Lawanmu telah kau bunuh,” berkata Mahisa Murti.

“Ia adalah pemimpin dari yang lain,” jawab Mahisa Ura.

“Apakah kita dapat membiarkan yang lain untuk hidup dan bahkan menyelenggarakan kawannya yang terbunuh itu,” bertanya Mahisa Murti.

Mahisa Ura menarik nafas. Dadanya terasa menjadi semakin lapang. Katanya, “Biarlah yang lain hidup meskipun kita harus mengancam mereka agar mereka tidak melakukan tindakan-tindakan terlarang.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Kematian seorang di antara mereka akan menjadi alat untuk menakut-nakuti yang lain. Dalam keadaan yang memaksa, maka yang lain itu pun akan dapat dibunuh pula seperti kawannya yang terbunuh itu.

Untuk beberapa saat, Mahisa Ura masih terbaring. Sementara Mahisa Murti telah membebaskan kedua orang lawannya dari sentuhan tangannya pada simpul-simpul sarafnya sehingga keduanya mendapatkan kembali kekuatannya.

“Aku dapat membunuh kalian,” geram Mahisa Murti.

Kedua lawannya hanya menundukkan kepalanya saja.

Tetapi dari sikapnya, keduanya sama sekali tidak akan berani lagi berbuat apa-apa.

Sementara itu dua orang lawan Mahisa Pukat masih saja merasa dicengkam oleh perasaan sakit meskipun sudah agak berkurang. Namun dengan memaksa diri keduanya dapat juga bangkit berdiri.

Kepada keempat orang itu, Mahisa Murti berkata, “Seorang di antara kalian telah mati. Itu adalah akibat wajar dari tingkah laku kalian yang tidak diperhitungkan dengan cermat. Untunglah bahwa seorang kawanku yang telah dilukai dengan curang oleh kawanmu yang terbunuh itu dapat bertahan dan yakin akan sembuh. Jika ia juga terbunuh karena racun ular, maka kalian berempat akan aku bunuh.”

Keempat orang itu tidak menjawab.

“Nah, aku serahkan seorang kawanmu yang mati itu. Selenggarakan sebaik-baiknya. Kami akan meneruskan perjalanan,” berkata Mahisa Murti.

Keempat orang itu mengangguk hampir berbareng. Seorang di antara mereka menyahut, “Kami mohon maaf. Kami akan melakukan sebagaimana kau katakan.”

Mahisa Murti memandang orang itu sejenak. Lalu katanya, “Tetapi ingat, jangan memancing kami untuk membunuh kalian juga seperti kawanmu itu.”

Keempat orang itu termangu-mangu. Namun sebenarnyalah mereka tidak mengira bahwa mereka akan tetap dibiarkan hidup. Karena itu, mereka justru berjanji di dalam hati, bahwa mereka akan melakukan sebagaimana dikatakan oleh anak-anak muda itu.

Dalam pada itu, Mahisa Murti telah kembali kepada Mahisa Ura yang tidak lagi terancam jiwanya karena racun. Karena itu, maka Mahisa Murti telah mengambil cincinnya kembali dan bersama Mahisa Pukat membantu Mahisa Ura untuk meninggalkan tempat itu.

Ternyata keadaan Mahisa Ura masih sangat lemah, sehingga Mahisa Murti dan Mahisa Pukat harus memapahnya.

Ketika mereka sampai ke padukuhan terdekat maka mereka bertiga telah minta ijin untuk dapat bermalam di banjar.

Kepada orang-orang bersaudara yang mengembara. Sedangkan Mahisa Ura yang lemah itu, dikatakan oleh Mahisa Murti, telah digigit ular ketika mereka berada di tepian.

“Agaknya ular itu bukan ular yang berbisa tajam,” berkata orang-orang padukuhan itu.

“Mungkin, Kami berhasil memeras darah saudara kami sehingga yang mengalir kemudian adalah darah yang bersih,” jawab Mahisa Murti.

Orang-orang padukuhan itu ternyata merasa kasihan juga kepada ketiga orang pengembara itu, sehingga mereka mendapat kesempatan untuk bermalam di banjar sehingga keadaan salah seorang yang digigit ular itu menjadi baik.

Kesempatan itu ternyata sangat berharga bagi Mahisa Ura yang lemah itu, karena dengan demikian ia sempat untuk memulihkan keadaannya.

Oleh orang-orang padukuhan itu, Mahisa Ura dan kedua orang yang diakuinya sebagai adiknya itu telah ditempatkan di serambi banjar. Mereka mendapat ijin untuk tinggal diserambi banjar itu sampai keadaan Mahisa Ura menjadi baik. Bahkan orang-orang padukuhan itu telah memberi mereka makan dan minum selama mereka berada di banjar itu, karena orang-orang padukuhan itu menganggap mereka benar-benar pengembara yang perlu dibelas kasihani.

Meskipun demikian ada juga orang padukuhan itu yang memberi mereka nasehat, “Anak-anak muda. Sebenarnya kalian masih cukup muda untuk memulai dengan satu usaha yang dapat memberi kalian hidupan. Apakah sebenarnya yang menarik kalian untuk menjadi pengembara? Kalian tidak akan melihat hari depan kalian menjadi cerah. Karena itu, jika kalian mau mendengarkan nasehatku, maka sebaiknya kalian kembali saja kepada keluarga kalian untuk memulai dengan satu kehidupan yang wajar. Bekerja, mungkin di sawah atau di pategalan atau kerja apapun juga, karena nampaknya kalian adalah anak-anak muda yang kuat.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak menjawab. Sementara itu Mahisa Ura masih berbaring di sebuah amben yang cukup besar di serambi banjar.

Orang yang memberi nasehat itu adalah orang yang dianggap memiliki pengetahuan yang cukup di antara orang-orang di padukuhan itu. Karena itu, maka orang-orang lainnya kemudian telah ikut pula memberi mereka petunjuk untuk memulai dengan satu kehidupan baru yang lebih bermanfaat bagi masa depan mereka.

“Kami kasihan melihat kalian bertiga dalam keadaan seperti ini,” berkata orang yang memiliki pengetahuan yang melampaui tetangga-tetangganya itu, “Tetapi kami tidak dapat menolong kalian dengan memberikan pekerjaan yang patas. Tetapi menilik sikap, tingkah laku dan ujud kalian, maka kalian tidak sebaiknya menjadi pengembara yang tidak mempunyai harapan apapun juga bagi masa depan kalian.”

Anak-anak muda itu masih tetap berdiam diri. Sementara Mahisa Ura yang terbaring itu hanya dapat menarik nafas dalam-dalam.

Tetapi orang itu tidak berbicara berkepanjangan tentang masa depan. Sekali-sekali ia meraba Mahisa Ura sambil berkata, “Tubuhmu tidak terasa panas. Mudah-mudahan kau lekas sembuh dan pulih kembali.”

Dengan suara sendat Mahisa Ura menjawab, “Terima kasih. Nampaknya aku pun akan segera menjadi baik.”

Orang itu mengangguk-angguk. Sambil bangkit dari duduknya orang itu berkata, “Cepat menjadi sembuh. Nanti malam aku akan datang lagi.”

“Terima kasih,” jawab Mahisa Murti, “Tetapi kami jangan membuat Ki Sanak menjadi sibuk.”

Orang itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia pun tersenyum. Katanya, “Tidak. Mungkin kewajibanku untuk berbuat sesuatu bagi sesama. Mungkin nasehat-nasehatku akan berarti bagi masa depan kalian.”

“Terima kasih,” jawab Mahisa Murti.

Sepeninggal orang itu dan beberapa orang lain yang melihat keadaan Mahisa Ura yang terluka itu, maka sambil menarik nafas Mahisa Murti berkata, “Dadaku serasa menjadi sesak.”

Mahisa Ura mengangguk kecil. Katanya, “Untunglah orang itu tidak berada di sini lebih lama lagi. Tetapi malam nanti ia akan datang lagi. Ia tentu akan memberi nasehat-nasehat lagi. Lebih panjang dan lebih banyak.”

“Aku tidak mendengar apa yang dikatakannya,” desis Mahisa Pukat.

“Aku tidak menyalahkannya,” berkata Mahisa Ura sambil berbaring, “orang-orang tua dan terpandang karena pengetahuannya, memang merasa berkewajiban untuk memberikan petunjuk-petunjuk tanpa mempertimbangkan sasarannya. Tetapi bukankah kita di mata mereka memang pengembara-pengembara yang tidak mempunyai masa depan.”

“Kita diterima sebagai pengembara di sini,” berkata Mahisa Pukat, “tetapi di perjalanan berikutnya, aku akan menjadi pedagang batu akik dan wesi aji.”

Mahisa Murti mengangguk-angguk. Katanya, “Kita dapat mencoba. Tetapi dalam keadaan seperti ini, kita memang tidak akan dapat melakukannya. Kita memang pantas sebagai pengembara. Sementara itu ujud kita memang masih muda, sehingga apa yang dikatakan oleh orang itu memang benar.”

“Tetapi kenapa dadamu menjadi sesak?” bertanya Mahisa Pukat.

Mahisa Murti mengerutkan keningnya. Namun ia pun kemudian tersenyum sambil menjawab, “Ya. Dadaku memang menjadi sesak mendengar nasehat-nasehatnya meskipun dengan nalar aku menganggap bahwa yang dikatakan itu benar.”

Bersambung.....!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...