*HIJAUNYA LEMBAH. JILID 029-03*
Mahisa Ura yang mengangguk-angguk bertanya, “Kami memang belum mengetahui apa pun juga tentang lingkungan ini Ki Jagabaya. Yang kami ketahui barulah padukuhan ini, karena kami berada di sini. Namun menurut penilaian kami, para penghuni padukuhan ini adalah orang-orang yang baik dan ramah, sehingga karena itu maka kami merasa seakan-akan kami berada di rumah sendiri.”
“Ki Sanak benar,” jawab Mahisa Ura, “tetapi itu adalah orang-orang padukuhan ini dan padukuhan-padukuhan sebelah menyebelah. Karena itu, aku bertanya, apakah Ki Sanak akan berjalan jauh atau tidak.”
Mahisa Ura memandang Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sejenak. Namun kemudian dengan nada datar ia bertanya, “Kami kurang mengerti ukuran yang Ki Jagabaya maksudkan. Jarak yang disebut jauh itu sampai seberapa. Mungkin seratus patok, mungkin lebih.”
Ki Jagabaya termangu-mangu Sejenak. Sejenak ia memandang ke arah regol. Namun masih ada kesan padanya, bahwa Ki Jagabaya itu menjadi gelisah.
“Ki Sanak,” berkata Ki Jagabaya, “karena Ki Sanak berada di padukuhan ini atas ijin Ki Bekel, maka di sini Ki Sanak adalah tamu kami. Karena itu, maka bagaimanapun juga, kami merasa ikut bertanggung jawab atas keselamatan Ki Sanak bertiga.”
Mahisa Ura mengangguk-angguk. Katanya, “Terima kasih Ki Jagabaya. Kami memang merasa tenang di padukuhan ini.”
“Karena itu, maka kami ingin memberi peringatan kepada Ki Sanak bertiga,” berkata Ki Jagabaya kemudian, “Ki Sanak jangan salah mengerti. Percayalah bahwa aku bermaksud baik.”
“Ya, ya Ki Jagabaya. Kami percaya,” sahut Mahisa Ura.
Ki Jagabaya mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Sebenarnya aku ingin memperingatkan agar Ki Sanak jangan berjalan-jalan terlalu jauh ke Utara.”
Mahisa Ura mengerutkan keningnya. Sementara Mahisa Murti dan Mahisa Pukat saling berpandangan sejenak. Sementara itu Ki Jagabaya pun berkata selanjutnya, “Sebenarnya daerah itu bukan daerah yang pantang dikunjungi pada mulanya. Tetapi akhir-akhir ini daerah tersebut sering menjerat orang-orang yang sedang lewat. Bahkan kecemasan telah mulai tumbuh di padukuhan-padukuhan disekitar tempat ini. Sedangkan padukuhan-padukuhan itu terletak di Kabuyutan yang sama dengan daerah ini.”
Mahisa Ura mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Terima kasih atas peringatan ini Ki Jagabaya. Tetapi seberapa jauh dari padukuhan ini tempat yang Ki Jagabaya maksudkan itu.”
“Ada beberapa padukuhan. Padukuhan ini adalah padukuhan di ujung Kabuyutan. Sedangkan padukuhan yang mulai dibayangi oleh orang-orang yang kadang-kadang mengganggu itu, adalah padukuhan di ujung yang lain dari Kabuyutan ini,” jawab Ki Jagabaya.
“Lalu bagaimana dengan Kabuyutan di sebelah lagi?” bertanya Mahisa Murti tiba-tiba.
“Kabuyutan itu mengalami keadaan yang lebih parah. Jika keadaan tidak berubah, maka Kabuyutan sebelah, akan menjadi daerah mati. Orang-orangnya akan berpindah tempat ke Kabuyutan yang lain sehingga akhirnya Kabuyutan itu akan menjadi kosong,” sahut Ki Jagabaya.
Mahisa Ura mengangguk-angguk. Tetapi ia pun kemudian bertanya, “Ki Jagabaya. Apakah sebabnya, maka perubahan itu tiba-tiba saja telah terjadi? Jika semula tidak ada kesulitan bagi Kabuyutan sebelah, kini tiba-tiba keadaan telah berubah.”
Ki Jagabaya termangu-mangu sejenak. Setiap kali ia memandang ke arah regol. Bahkan kemudian dipandanginya lingkungan disekelilingnya. Namun yang nampak olehnya adalah seorang perempuan yang lewat memasuki gerbang halaman rumahnya tidak jauh dari tempat mereka berdiri. Perempuan itu memang memperhatikan mereka sejenak. Tetapi kemudian ia pun tidak menghiraukannya lagi.
Sementara itu Ki Jagabaya pun kemudian berkata, “Masih belum jelas bagi kami. Tetapi sudah terasa kesulitan akan membentang di hadapan kami. Pada bulan terakhir, kami sudah mengalami beberapa kali tindak kekerasan terjadi di lingkungan ini Kabuyutan kami, sedangkan di Kabuyutan sebelah, jumlah itu lebih besar lagi.”
“Kekerasan yang bagaimana yang telah terjadi? Perkelahian, atau mungkin perampokan?” bertanya Mahisa Pukat.
“Agaknya memang mengarah kekerasan yang berlatar belakang kejahatan. Tetapi kami kurang pasti, apakah sebenarnya yang telah terjadi, karena pernah kami ketemukan korban yang sebenarnya sudah dapat diduga sebelumnya, bahwa ia tidak memiliki sesuatu yang dapat dirampok,” berkata Ki Jagabaya.
Mahisa Ura mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Terima kasih atas keterangan ini Ki Jagabaya. Dengan demikian maka kami tidak akan tersesat ke daerah yang berbahaya itu.”
“Hal ini aku lakukan karena kalian adalah tamu-tamu kami,” berkata Ki Jagabaya kemudian. “karena itu, sebaiknya Ki Sanak jangan mendekati daerah yang berbahaya itu.”
Mahisa Ura, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Dengan nada dalam Mahisa Ura menyahut, “Terima kasih Ki Jagabaya. Jika Ki Jagabaya tidak memberi tahu kepada kami, maka aku kira kami mungkin sekali akan tersesat ke daerah yang berbahaya itu.”
“Aku hanya ingin menghormati tamuku,” berkata Ki Jagabaya, “sebenarnya aku tidak boleh memberitahukan hal ini kepada Ki Sanak bertiga. Jika diketahui bahwa aku telah mencegah seseorang melalui daerah gawat itu, maka aku tentu akan diancam oleh orang-orang yang sering melakukan kejahatan itu, karena aku di anggap telah membendung arus mangsa yang seharusnya diperuntukkan bagi mereka.”
Ketiga orang itu pun mengangguk-angguk. Itulah agaknya Ki Jagabaya bersikap aneh.
“Tidak ada seorang pun yang berani memperingatkan kepada Ki Sanak bertiga,” berkata Ki Jagabaya, “Ki Bekel- pun tidak memperingatkan Ki Sanak agar tidak berjalan ke arah Utara. Mungkin Ki Bekel memang lupa atau barangkali Ki Bekel merasa tidak berkepentingan dengan Ki Sanak bertiga. Tetapi ternyata bahwa baik Ki Bekel, maupun anaknya tidak memberi peringatan kepada Ki Sanak bertiga.”
“Baiklah Ki Jagabaya,” berkata Mahisa Ura kemudian, “aku akan berjalan-jalan di lingkungan Kabuyutan ini, tetapi tidak sampai ke ujung, sehingga aku tidak akan terjerumus kedalam kesulitan sebagaimana Ki Jagabaya katakan.”
Ki Jagabaya mengangguk-angguk. Katanya, “berhati-hatilah. Tetapi sebaiknya Ki Sanak tidak keluar dari padukuhan ini. Atau sejauh-jauhnya padukuhan sebelah.”
“Aku akan memperhatikan pesan Ki Jagabaya,” jawab Mahisa Ura.
Ki Jagabaya mengangguk-angguk. Katanya, “Mudah-mudahan kalian tidak menemui kesulitan di perjalanan.”
Mahisa Ura, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun kemudian meninggalkan Ki Jagabaya yang termangu-mangu. Sekali lagi mereka keluar dari regol padukuhan untuk melihat-lihat keadaan disekitar padukuhan itu.
Beberapa puluh langkah dari regol, setelah mereka tidak lagi melihat Ki Jagabaya, maka Mahisa Ura pun berkata, “Untunglah, kita mendapat peringatan daripadanya. Ada juga orang yang berani berkata kepada kita tentang orang-orang itu.”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Namun kemudian Mahisa Pukat pun bertanya, “Apakah kita tidak akan berani mendekati daerah yang dikatakan gawat itu?”
“Tentu tidak,” berkata Mahisa Ura, “semakin gawat keadaan suatu tempat, maka tempat itu akan menjadi semakin menarik bagi kita.”
“Aku sependapat,” sahut Mahisa Murti, “kita akan menyelidiki tempat itu. Mungkin ada hubungannya dengan orang-orang bertongkat atau justru padepokan.”
“Menarik sekali,” berkata Mahisa Pukat, “mudah-mudahan kita mendapat petunjuk serba sedikit tentang orang-orang bertongkat atau padukuhan.”
“Tetapi kita tidak akan melakukannya sekarang,” berkata Mahisa Ura.
“Kenapa?” bertanya Mahisa Pukat.
“Kita wajib menghormati pesan Ki Jagabaya,” jawab Mahisa Ura, “jika kita pergi sekarang, sementara ada orang lain yang menyampaikannya kepada Ki Jagabaya, maka Ki Jagabaya akan sangat tersinggung. Seolah-olah kita dengan sengaja melanggar pesannya.”
“Apa bedanya jika kita melakukannya pada kesempatan lain?” bertanya Mahisa Pukat.
“Ada bedanya,” jawab Mahisa Ura, “kita akan dapat menjawab, bahwa kita sangat tertarik kepada keadaan padukuhan-padukuhan disekitar tempat ini sehingga kita terlupa pesan itu. Keasyikan kita berbicara tentang batu akik dan wesi aji membuat kita kehilangan kewaspadaan. Kesalahan kita adalah kita kurang berhati-hati, bukan dengan sengaja melanggar pesannya atau bahkan menjajagi kebenaran pesan itu.”
Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak membantah.
Karena itu, maka ketika mereka sampai disimpang tiga, mereka memang tidak menuju ke Utara. Tetapi mereka telah berbelok ke Selatan.
Sebenarnyalah, saat itu Ki Jagabaya masih memperhatikan mereka meskipun ia berdiri di belakang dinding di sebelah regol. Karena itu Mahisa Ura, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang berpaling sekaligus tidak melihatnya.
Ketika Ki Jagabaya itu melihat ketiga orang itu berbelok ke Selatan, maka ia menarik nafas dalam-dalam. Ketegangan di wajahnya pun bagaikan larut, sehingga sejenak kemudian ia pun telah bergeser meninggalkan tempatnya.
Dengan nada dalam ia berkata kepada dirinya sendiri, “Sokurlah, bahwa mereka mau mendengarkan petunjuk-petunjukku.”
Sementara itu, Mahisa Ura, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah menyusuri jalan bulak yang panjang. Dengan ketajaman ingatan seorang petugas sandi, Mahisa Ura mencoba mengingat, tanda-tanda manakah yang pernah dilihatnya. Namun ada semacam keyakinan bahwa pada saat-saat ia tersesat, ia memang melewati jalan itu.
“Aku sedang mencoba mengingat, apakah aku melewati tempat ini setelah aku kehilangan jalan,” berkata Mahisa Ura.
“Kau adalah seorang petugas sandi,” sahut Mahisa Pukat, “ingatanmu tentu cukup tajam.”
“Apakah seorang petugas sandi pada suatu saat tidak akan kehilangan jejak pada ingatannya?” berkata Mahisa Ura, “mungkin aku kehilangan jejak itu. Tetapi mungkin aku akan mampu mengingatnya kembali.”
Mahisa Murtilah yang kemudian tersenyum sambil berkata, “Usahakan, agar kau dapat mengingatnya kembali.”
Mahisa Ura mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak segera dapat mengingat jalan yang pernah dilaluinya.
Namun demikian ia berkata, “besok kita pergi ke Utara. Mungkin ada sesuatu yang dapat mengingatkan aku kepada jalan yang menuju ke padepokan orang-orang bertongkat itu.”
Hari itu Mahisa Ura, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat benar-benar hanya melihat-lihat. Mereka memasuki sebuah padukuhan dan berbicara dengan Bekel di padukuhan itu. Ternyata Ki Bekel pun tidak berkeberatan jika ketiga orang itu akan sekedar berjual beli batu-batu akik dan wesi aji. Bahkan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah menunjukkan contoh-contoh dari barang-barang yang dijual belikan.
“Kami menunggu Ki Bekel di padukuhan sebelah sedang melakukan tayuh atas sebuah dari wesi aji yang kami bawa. Sementara itu, kami mulai hubungan kami dengan padukuhan-padukuhan sebelah menyebelah,” berkata Mahisa Ura.
“Baiklah,” berkata Ki Bekel, “singgahlah di sini. Jika kalian ingin bermalam di banjar padukuhan, kami tidak berkeberatan. Tetapi sebagaimana kalian katakan, bahwa kami hanya dapat menyediakan tempat sekedar untuk tidur saja, seperti di padukuhan tempat kalian bermalam sekarang.”
“Terima kasih,” berkata Mahisa Ura, “tetapi jika barang-barangku sudah habis, maka aku akan kembali lebih dahulu untuk mengambil barang-barang dagangan baru. Kemudian aku akan kembali lagi ke padukuhan ini.”
“Kapan pun Ki Sanak datang, kami akan menerima kalian dengan senang hati,” berkata Ki Bekel.
Ketika ketiga orang itu meninggalkan rumah Ki Bekel, maka baik Ki Bekel maupun orang-orang lain, tidak seorang- pun yang memberitahukan apa pun tentang kemungkinan yang buruk jika mereka menempuh perjalanan ke Utara.
Karena itu, ketika mereka kembali ke penginapan, mereka pun telah memperbincangkannya.
“Apakah benar kata Ki Jagabaya, bahwa tidak seorang pun yang berani menyebut tentang padepokan itu,” berkata Mahisa Ura.
“Tetapi rasa-rasanya tidak ada sesuatu yang tidak wajar pada Ki Bekel dan para bebahunya. Seandainya memang ada sesuatu, maka tentu salah seorang di antara mereka akan memberitahukan kepada kita,” berkata Mahisa Murti.
Namun Mahisa Pukatlah yang menyahut, “Mungkin mereka memang mendapat ancaman. Tetapi dengan demikian justru akan menjadi semakin menarik untuk mencari hubungan dengan orang-orang di padukuhan itu. Karena itu, besok kita akan pergi ke Utara untuk menemukan jalan menuju ke padepokan itu.”
“Baiklah,” berkata Mahisa Ura, “besok kita pergi ke Utara tanpa diketahui oleh Ki Jagabaya.”
“Kita akan berangkat pagi-pagi benar, sementara kita akan keluar dari padukuhan di regol sebelah Barat. Regol yang tentu tidak akan dilewati, jika seseorang pergi ke Utara. Mudah-mudahan Ki Jagabaya tidak melihatnya kemana kita akan pergi,” berkata Mahisa Murti.
Dengan demikian, maka pada hari itu, ketika mereka bertemu dengan Ki Jagabaya telah menceriterakan apa yang mereka lakukan di padukuhan sebelah.
Ki Jagabaya mengangguk-angguk. Katanya, “Sokurlah jika kalian tidak mengalami sesuatu. Padukuhan yang kalian datangi itu juga masih termasuk satu Kabuyutan dengan padukuhan ini.”
Mahisa Ura, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun mengangguk-angguk. Namun tiba-tiba saja Ki Jagabaya bertanya dengan berbisik, “Ki Sanak. Apakah kalian juga mendapat peringatan ketika kalian bertemu dengan Ki Bekel di padukuhan sebelah, agar kalian tidak pergi ke Utara.”
Mahisa Ura, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat termangu-mangu.
Namun Mahisa Uralah yang menjawab perlahan-lahan sambil menggeleng, “Tidak. Tidak Ki Jagabaya.”
“Nah, yakinlah sekarang, bahwa yang aku katakan benar,” desis Ki Jagabaya.
“Ya,” jawab Mahisa Ura, “kami percaya. Karena itu, kami tidak pergi ke Utara.”
Tetapi ketiga orang itu sama sekali tidak melepaskan rencananya. Mereka benar-benar berniat esok pagi pergi ke Utara justru karena Ki Jagabaya telah melarangnya.
Malam itu, ketiga orang itu pun berusaha untuk beristirahat sebanyak-banyiskaya. Di sore hari mereka telah berada di sebuah warung disudut padukuhan itu. Namun tidak seorang pun di antara orang-orang yang berada di warung itu, bahkan juga penjualnya, yang berbicara tentang daerah Utara itu, meskipun ketiga orang itu telah memancingnya.
Karena itulah, ketika mereka sudah berbaring di sebuah amben yang besar dibilik di serambi banjar padukuhan, maka Mahisa Pukat pun berkata, “Nampaknya akan terjadi satu perjalanan yang menarik.”
“Mungkin,” jawab Mahisa Ura, “mudah-mudahan aku pun mampu mengenali sesuatu yang dapat menjadi petunjuk arah.”
“Atau bahkan kita justru akan terperosok kedalamnya. Kedalam padepokan orang-orang bertongkat itu,” sahut Mahisa Murti.
Namun ketiganya tidak membicarakannya lagi. Mereka berusaha untuk dapat tidur dengan baik. Namun justru karena pesan Ki Jagabaya sertai kesadaran mereka, bahwa kedatangan mereka di padukuhan itu telah diawasi oleh orang-orang yang tidak mereka ketahui, maka mereka telah mengatur waktu, agar mereka tidak tidur bersama-sama. Seorang di antara mereka akan bergantian berjaga-jaga, meskipun barangkali yang bertugas berjaga-jaga itu juga berbaring bersama kedua orang yang lain.
Dengan tertib mereka telah mengatur, siapakah yang mendapat giliran untuk tidur untuk waktu tertentu.
Namun Mahisa Pukat yang mendapat giliran pertama lebih senang duduk saja bersandar pintu yang sudah diselarak.
Ketika angin berhembus lewat celah-celah dinding bambu, maka terasa mata Mahisa Pukat menjadi sangat berat. Namun ia harus bertahan untuk bangun sampai saatnya ia membangunkan Mahisa Murti yang akan menggantikannya. Menjelang dini hari, Mahisa Uralah yang akan berjaga-jaga sampai mereka terbangun seluruhnya menjelang hari yang akan datang.
Namun ketika hampir saatnya Mahisa Pukat membangunkan Mahisa Murti, tiba-tiba saja ia mendengar desir lembut di luar pintu. Karena itu, maka Mahisa Pukat itu pun telah mengatur pernafasannya serta berusaha untuk tidak bergerak.
Desir lembut itu lewat didalam pintu. Sejenak langkah itu berhenti, namun kemudian langkah itu bergeser terus dan hilang di ujung serambi.
Mahisa Pukat termangu-mangu. Namun ia pun kemudian berkata kepada diri sendiri, “Mungkin seorang peronda yang bertugas di banjar.”
Namun sejenak kemudian, ia mendengar langkah itu kembali dan bahkan berhenti sejenak di muka pintu uu. Sehingga dengan demikian maka Mahisa Pukat harus menahan diri dan sekali, lagi mengatur pernafasannya, sehingga tarikan nafasnya yang teratur mengesankan orang-orang yang sedang tidur nyenyak.
Tetapi langkah itu tidak terlalu lama berhenti. Terdengar lagi desir menjauh dan kemudian hilang pula dari pendengarannya.
Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu, maka waktu yang menjadi tanggung jawabnya sudah lewat. Karena itu, maka ia pun kemudian menyentuh Mahisa Murti yang segera terbangun pula.
“Akulah sekarang yang bertugas?” bertanya Mahisa Murti.
“Ya. Aku sudah menyelesaikan tugasku. Tetapi tiba-tiba aku sama sekali tidak merasa mengantuk,” jawab Mahisa Pukat perlahan.
“Kenapa?” bertanya Mahisa Murti hampir berbisik.
Mahisa Pukat termangu-mangu. Sejenak ia memperhatikan keadaan diluar bilik itu. Ketika ia yakin bahwa tidak ada sesuatu yang mencurigakan, maka ia pun telah menceriterakan apa yang dialaminya.
Mahisa Murti mengangguk-angguk. Lalu katanya lirih, “Baiklah. Aku akan berhati-hati. Kau tidur sajalah. Seandainya ada seseorang yang membayangi kita, maka ia tidak akan melakukan sesuatu di banjar ini.”
“Apakah hal ini ada hubungannya dengan orang-orang yang membayangi perjalanan kita pada saat kita mendekati padukuhan ini?” bertanya Mahisa Pukat.
“Kita masih belum tahu,” jawab Mahisa Murti, “kita pun belum dapat menghubungkan hal itu dengan sikap Ki Jagabaya. Menurut pendapatku, seandainya di daerah Utara ada orang-orang yang pantas ditakuti, mereka agaknya tidak akan sampai ke banjar ini.”
Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Sementara itu sekali lagi Mahisa Murti berkata, “Tidurlah. Tidak akan terjadi sesuatu.”
“Aku tidak mengantuk,” jawab Mahisa Pukat.
“Berbaringlah,” desis Murti pula, “kau akan mengantuk dan kemudian tertidur. Besok kita akan melakukan sesuatu yang mungkin gawat. Tetapi mungkin juga tidak ada apa-apa. Tetapi sebaiknya kau beristirahat. Aku sudah cukup lama beristirahat, sehingga seandainya aku tidak tertidur lagi, aku sudah cukup segar.”
Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Namun ia pun kemudian telah berbaring diamben yang besar itu di sebelah Mahisa Ura. Ternyata derit amben itu telah membangunkan Mahisa Ura. Tetapi agaknya Mahisa Ura tidak berminat untuk bangun. Ia hanya membuka matanya sejenak sambil berdesis, “Kalian akan bergantian tugas?”
“Ya,” jawab Mahisa Pukat yang sudah berbaring, sementara Mahisa Murti pun kemudian duduk bersandar pintu sebagaimana dilakukan oleh Mahisa Pukat sebelumnya.
“Kenapa kau duduk disitu?” bertanya Mahisa Ura.
“Tidak apa-apa,” jawab Mahisa Murti, “jika aku masih dipembaringan aku akan mengantuk lagi.”
Mahisa Ura tidak bertanya lagi. Bahkan matanyalah yang kemudian terpejam.
Sementara itu Mahisa Pukat pun berdesis, “Jika saatnya ia berjaga-jaga kau beritahukan apa yang aku dengar atau mungkin kau juga akan mendengarnya.”
“Baiklah,” jawab Mahisa Murti.
Namun sambil matanya masih tetap terpejam Mahisa Ura berdesis, “Ada apa?”
“Tidurlah,” sahut Mahisa Pukat, “aku pun akan tidur.”
Mahisa Ura memang tidak bertanya lagi. Ia pun segera tertidur lagi.
Berbeda dengan Mahisa Ura, ternyata Mahisa Pukat memerlukan waktu yang lebih lama untuk dapat tertidur.
Namun dalam pada itu, Mahisa Murti masih saja duduk bersandar pintu. Beberapa lama ia menunggu. Tetapi ia tidak mendengar sebagaimana didengar oleh Mahisa Pukat. Bahkan sampai saatnya ia menyelesaikan tugasnya, ia sama sekali tidak mendengar apa-apa.
Menjelang dini hari, Mahisa Murti telah membangunkan Mahisa Ura yang telah tidur dengan nyenyak. Karena itu, ketika tangan Mahisa Murti menyentuhnya, ia pun segera terbangun dan berkisar turun dari pembaringan.
Dalam pada itu ternyata Mahisa Pukat pun terbangun pula, sehingga dengan demikian bersama Mahisa Murti ia memberikan beberapa pesan kepada Mahisa Ura yang bertugas terakhir untuk malam itu.
“Sebentar lagi kita akan bangun dan akan menuju ke tempat yang justru dilarang oleh Ki Jagabaya,” berkata Mahisa Murti, “karena itu, mungkin aku masih sempat memanfaatkan waktu yang sedikit ini untuk tidur lagi. Tidurlah kalian,” sahut Mahisa Ura, “aku akan duduk pula seperti kalian, bersandar pintu.”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun kemudian telah berbaring pula. Mereka ingin mempergunakan waktu yang tinggal sedikit untuk tidur lagi barang sejenak, sementara Mahisa Uralah yang bertugas berjaga-jaga.
Ternyata Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih dapat mempergunakan sisa waktu yang pendek itu untuk tidur nyenyakTetapi tidak terlalu lama. Sejenak kemudian telah terdengar ayam jantan berkokok bersahut-sahutan.
Mahisa Ura yang berjaga-jaga pun telah membangunkan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Mereka dengan cepat berbenah diri dan kemudian keluar dari dalam bilik mereka.
Ketika para penjaga banjar itu bertanya, maka keti-ganya pun menjawab, “Kami akan pergi ke sungai. Mungkin kami akan langsung pergi ke pasar.”
Para penjaga sama sekali tidak mencurigai mereka. Mereka membiarkan Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura untuk keluar dari halaman banjar.
Ketika mereka keluar dari regol padukuhan, maka mereka masih bertemu dengan anak-anak muda yang pulang dari ronda. Ketika anak-anak muda itu bertanya, maka jawab Mahisa Ura pun tidak ubahnya dengan jawaban yang diberikannya kepada para penjaga di regol halaman banjar.
Demikian maka ketiga orang itu pun telah keluar dari regol padukuhan. Mereka memang menuju kesungai. Tetapi mereka tidak terlalu lama berada di sungai kecil di sebelah padukuhan itu. Namun mereka pun kemudian justru telah pergi ke arah yang tidak dikehendaki oleh Ki Jagabaya.
Dengan hati-hati mereka menuju ke Utara. Setiap jengkal yang mereka lalui telah mereka perhatikan dengan seksama, sementara langit pun telah menjadi merah.
Namun ketiga orang itu yakin, bahwa tidak seorang pun yang memperhatikan perjalanan mereka. Mereka pun berharap bahwa Ki Bekel kemudian dan apalagi Ki Jagabaya tidak mengetahui bahwa mereka telah menuju ke arah Utara.
Ketika langit menjadi terang, maka mereka telah berada cukup jauh dari padukuhan yang menjadi tempat tinggal mereka.
Dengan cermat mereka memperhatikan jalan yang mereka lalui. Mereka memperhatikan setiap ujud yang menarik perhatian. Mungkin pepohonan yang besar, mungkin batu-batu besar, apalagi batu besar yang berwarna hijau sebagaimana pernah diceriterakan oleh Mahisa Ura pada saat ia tersesat.
Untuk beberapa lama mereka sama sekali tidak menemukan sesuatu yang dapat dipergunakannya untuk menemukan jalan yang pernah ditempuh oleh Mahisa Ura.
Namun mereka tidak menjadi berputus asa. Mereka masih saja berjalan melampui beberapa padukuhan. Namun mereka tidak mengetahui, apakah mereka telah berada di ujung Kabuyutan yang lain.
Beberapa orang yang berpapasan dengan mereka bertiga memang berpaling dan melihat mereka. Tetapi ketiga orang itu memang tidak begitu menarik untuk diperhatikan. Mereka datang ujud memang tidak lebih dari orang kebanyakan. Bahkan Mahisa Ura ketika melewati sebuah paSar yang mulai banyak didatangi orang setelah matahari membayang, telah membeli sebuah cambuk lembu sebagaimana dibawa oleh kebanyakan belantik lembu atau pembawa pedati.
Dengan demikian maka mereka bertiga telah dikira belantik lembu dan kerbau bahkan mungkin juga kambing yang datang dari tempat yang agak jauh.
Namun akhirnya mereka pun tertegun ketika mereka sampai kesebuah tugu batu yang tidak terlalu besar yang merupakan batas antara kabuyutan yang disebut oleh Ki Jagabaya.
“Kita sudah sampai di ujung Kabuyutan,” berkata Mahisa Ura, “ternyata kita tidak mengalami sesuatu. Bahkan sama sekali tidak ada tanda-tanda bahwa di daerah ini merupakan daerah yang berbahaya. Jalan ini masih saja banyak orang lewat sebagaimana di Kabuyutan yang baru saja ditinggalkannya. Di Kabuyutan berikutnya pun tanda-tanda kehidupan ubahnya seperti Kabuyutan sebelah. Sawah-sawah juga nampak hijau dan para petani pun telah mengerjakannya dengan rajin.
Hal itu telah mendorong Mahisa Ura, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat untuk memasuki Kabuyutan tetangga itu lebih dalam lagi.
Untuk beberapa saat mereka berjalan, memang tidak ada yang menarik. Mereka sengaja melalui beberapa padukuhan. Namun sikap orang-orang padukuhan itu pun nampaknya ramah sebagaimana padukuhan tempat mereka menginap.
“Aku tidak mengerti, kenapa Ki Jagabaya telah melarang kita memasuki daerah ini,” gumam Mahisa Ura.
“Ya. Nampaknya daerah ini tidak terlalu gawat. Semuanya berjalan lancar, baik, tenang dan sebagaimana kita lihat di padukuhan tempat kita menginap,” desis Mahisa Murti.
Mahisa Ura mengangguk-angguk. Katanya pula, “Jika benar seperti yang didengar oleh Mahisa Pukat tentang langkah-langkah didepan bilik kita, serta dugaan kita bahwa ketika kita datang telah diikuti oleh orang-orang yang tidak kita kenal, maka tempat yang gawat justru tidak di sini. Tetapi di padukuhan tempat kita menginap meskipun nampaknya juga tenang dan baik seperti ditempat ini.”
“Aku memang kurang mengerti tentang sikap Ki Jagabaya. Kenapa ia sama sekali tidak berkata apapun juga, ketika kita berbicara dengan Ki Bekel dan anaknya. Bahkan tidak seorang pun di padukuhan itu, di pasar dan dimana saja, yang pernah mengatakan bahwa daerah yang kita masuki sekarang adalah daerah yang berbahaya sebagaimana dikatakan oleh Ki Jagabaya,” berkata Mahisa Pukat.
“Apakah kau justru menjadi curiga?” bertanya Mahisa Ura.
Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku tidak dapat mengatakannya demikian. Tetapi aku hanya kurang mengerti maksudnya. Mungkin ia tidak berniat kurang baik.”
“Ya,” sambung Mahisa Murti, “kita belum dapat dengan serta merta mencurigainya. Kita harus melihat lebih dahulu persoalan-persoalan yang berkembang kemudian.”
Mahisa Ura mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak mengatakan sesuatu. Ia kemudian lebih memperhatikan lingkungan yang mereka lalui.
Namun tiba-tiba Mahisa Ura itu memejamkan matanya. Kemudian dipandanginya keadaan alam disekelilingnya. Lalu tiba-tiba saja ia berkata, “Bukan dalam mimpi. Aku pernah melihat hutan perdu itu. Di sebelah hutan perdu itu terdapat hutan yang meskipun tidak begitu liar, tetapi temasuk hutan yang cukup lebat.
“Ada apa?” bertanya Mahisa Murti yang mulai berharap bahwa Mahisa Ura akan dapat mengingat sesuatu.
Mahisa Ura mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya, “Apakah kalian membawa barang-barang dagangan kalian?”
“Ya,” jawab Mahisa Pukat dan Mahisa Murti hampir berbareng.
Mahisa Ura mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Sebaiknya kita singgah di padukuhan sebelah. Kita bertemu dengan Ki Bekel dan minta untuk mendapat kesempatan sebagaimana kita dapatkan di padukuhan yang sekarang. Kita juga akan menawarkan barang-barang dagangan seperti yang kita tawarkan itu.”
Tetapi Mahisa Murti menyahut, “Bagaimana dengan Ki Bekel yang sedang menayuh wesi aji itu? Jika kita berada di sini, maka berarti kita sudah melanggar pesan Ki Jagabaya. Mungkin Ki Bekel pun akan marah.”
“Bukankah kita tidak menyesal seandainya Ki Bekel itu mengurungkan niatnya untuk membeli wesi aji itu,” bertanya Mahisa Ura.
“Memang tidak apa-apa. Tetapi mungkin ki Bekel bukan hanya tidak jadi membeli. Tetapi wesi aji itu tidak akan dikembalikan kepada kita,” jawab Mahisa Murti.
“Tidak apa-apa. Kau akan dapat minta ganti kepada orang-orang Kediri yang memberikan tugas kepada kalian,” berkata Mahisa Ura.
“Bukan hanya itu,” sahut Mahisa Pukat, “hubungan kita dengan Ki Bekel dan orang-orang padukuhan itu akan terputus.”
Mahisa Ura menarik nafas dalam-dalam. Katanya dengan nada rendah, “Aku mengerti. Tetapi tempat ini sangat menarik perhatianku. Hutan perdu itu. Dan aku membayangkan di belakangnya akan terdapat sebuah hutan yang cukup lebat. Kemudian di belakangnya akan terdapat sebatang randu alas raksasa. Jika kita pergi lebih jauh lagi, maka kita akan sampai kesebuah batu besar berwarna hijau.”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada rendah Mahisa Murti berkata, “Kau mulai mengenalinya?”
“Mudah-mudahan aku benar,” berkata Mahisa Ura.
“Aku yakin akan ketajaman penglihatan dan ingatannya sebagai petugas sandi,” desis Mahisa Pukat.
Mahisa Ura berpaling ke arah Mahisa Pukat sambil berdesis, “Jika kau mulai memujiku, maka segalanya akan gagal.”
“Baik-baik,” dengan serta merta Mahisa Pukat menyahut, “aku tidak akan memujimu. Sepantasnya kau memang tidak dipuji.”
Mahisa Ura tersenyum sebagaimana Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Namun kemudian katanya, “Jadi kita akan kembali dahulu, baru setelah lewat saat tayuh itu, kita kembali lagi kemari?”
Dengan demikian maka ketiga orang itu pun memutuskan untuk kembali lagi ke padukuhan tempat mereka menginap untuk menyelesaikan persoalan wesi aji yang sedang ditayuh oleh Ki Bekel.
Ketika mereka bertiga sampai ke banjar, maka seorang petugas telah bertanya, “Kemana saja kalian sehari ini?”
“Berjalan-jalan,” jawab Mahisa Ura, “kami melihat-lihat isi Kabuyutan ini. Kami melihat padukuhan demi padukuhan. Mungkin kami akan dapat menemukan tempat yang subur bagi sawah kami.”
Petugas itu tersenyum. Katanya, “Kalian adalah pedagang yang ulet. Dengan demikian maka kalian akan cepat menjadi kaya.”
“Kenapa. Bukankah yang kami lakukan adalah sebagaimana dilakukan oleh para pedagang yang lain?” bertanya Mahisa Ura.
“Ya. Tetapi jarang sekali ada pedagang yang pernah mencapai tempat ini. Tempat yang dianggap terpencil dan jarang sekali, bahkan hampir tidak ada seorang pun yang memiliki uang cukup untuk membeli kebutuhan-kebutuhan sampingan seperti yang kalian jual belikan itu,” jawab petugas itu, “Namun ternyata kalian berhasil menggelitik mereka yang beruang sedikit itu untuk membeli barang-barang kalian yang jarang sekali lihat di sini.”
“O, kenapa kau berkata begitu? Sampai sekarang baru ada seorang yang membeli barang daganganku,” jawab Mahisa Ura.
“Bukankah Ki Bekel juga akan membeli?” bertanya petugas itu.
Mahisa Ura tersenyum. Katanya, “Ki Bekel baru melakukan tayuh. Jika hasilnya sesuai, maka Ki Bekel akan membelinya. Tetapi jika tidak, maka rencana pembelian itu pun batal.”
“Tetapi bagaimanapun juga, kalian sudah menarik perhatiannya. Dan jika Ki Bekel jadi membelinya, maka kau akan cepat menjadi kaya. Orang-orang padukuhan ini akan menjadi latah dan membeli seperti apa yang dibeli oleh Ki Bekel,” berkata petugas itu.
Mahisa Ura menarik nafas dalam-dalam. Dengan tajamnya diperhatikannya petugas itu. Namun kemudian ia segera menyadari, sehingga ia pun telah berusaha agar orang itu tidak merasa diperhatikannya.
Bahkan Mahisa Ura pun berkata, “Jika orang-orang padukuhan ini menjadi latah, apakah kau juga akan latah dan membeli batu akik atau wesi aji?”
“Seharusnya juga demikian, tetapi aku tidak mempunyai cukup untuk itu. Karena itu, aku menjadi iri hati dan selalu mengumpat-umpat jika ada orang lain yang mendapat kesempatan untuk membelinya,” jawab petugas itu.
Mahisa Ura menarik nafas dalam-dalam. Hampir saja ia mengambil kesimpulan lain dari sikap petugas sandi itu dari sekedar iri hati. Karena itu, maka Mahisa Ura itu pun mengangguk-angguk kecil.
“Sudahlah,” berkata Mahisa Ura kemudian, “kami akan beristirahat.”
“Silahkan,” petugas itu mempersilahkan, “aku berada di sini sampai malam.”
Mahisa Ura bersama Mahisa Murti dan Mahisa Pukat- pun kemudian telah menuju ke bilik mereka.
Namun ternyata bukan hanya Mahisa Ura sajalah yang merasa heran melihat sikap petugas itu. Nampaknya petugas itu tidak begitu senang terhadap Ki Bekel yang telah memilih satu di antara barang-barang Mahisa Murti untuk dibeli apabila dalam tayuhnya ia menemukan persesuaian.
Adalah diluar dugaan Mahisa Ura, bahwa Mahisa Murti telah bertanya kepadanya, “Apa katamu tentang petugas itu?”
“Petugas yang mana?” bertanya Mahisa Ura.
“Petugas yang mengeluh karena tidak mampu untuk membeli apapun juga dari kita,” jawab Mahisa Murti.
Mahisa Ura menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “Ternyata sikapnya itu hanya dilandasi oleh perasaan iri hati.”
“Mungkin,” jawab Mahisa Murti, “Tetapi aku mempunyai dugaan lain. Mungkin orang itu memang iri hati, tetapi mungkin ia memang tidak begitu senang terhadap Ki Bekel karena sebab lain.”
“Aku sependapat,” jawab Mahisa Pukat, “agaknya orang itu memang tidak begitu senang terhadap Ki Bekel. Mungkin karena cara Ki Bekel memerintah. Tetapi mungkin karena sebab-sebab lain.”
Mahisa Ura mengangguk-angguk. Katanya, “Semula aku juga berpikir begitu. Tetapi setelah orang itu berterus terang bahwa ia merasa iri karena ia tidak akan mungkin dapat membelinya, maka aku tidak berprasangka lagi.”
Mahisa Murti mengangguk-angguk, katanya, “Baiklah kita menunggu sebagaimana kita menunggu perkembangan keadaan menghadapi Ki Jagabaya. Mungkin ia justru benar-benar berniat baik meskipun akibatnya dapat berakibat lain.”
Mahisa Ura dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Namun semuanya itu telah memaksa mereka untuk lebih berhati-hati.
Ketika kemudian saatnya tiba, maka Ki Bekel pun telah datang ke banjar pagi-pagi sekali. Pada saat matahari masih belum terbit. Dengan wajah yang cerah ia pun berkata, “Ki Sanak. Nampaknya aku sesuai dengan wesi aji itu. Wesi kuning itu memberikan harapan-harapan baik jika aku memilikinya. Ujudnya pun menarik. Seperti sebilah pisau kecil yang dapat dimasukkan kedalam kantong ikat pinggang dan dengan demikian maka akan dapat aku bawa kemana-mana. Wesi kuning itu menurut tayuh yang aku lakukan, memberikan isyarat bahwa wesi kuning itu mempunyai pengaruh yang sejuk, tenang dan tidak berangasan.”
Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Namun dengan demikian ia pun sadar, bahwa Ki Bekel memang memiliki kemampuan untuk menilai wesi aji.
Dengan demikian maka mereka mulai membicarakan harga dari wesi kuning itu. Seperti yang sudah, maka Mahisa Murti tidak membuat harga terlalu tinggi, tetapi juga tidak terlalu rendah, karena jika demikian justru akan dapat mengundang kecurigaan.
Beberapa lamanya terjadi tawar menawar. Namun akhirnya, harga demikian Mahisa Murti telah mendapat keuntungan meskipun tidak terlalu banyak.
Dalam kesempatan itu, maka Mahisa Murti yang telah menerima uang dari Ki Bekel itu pun tiba-tiba saja berkata, “Ki Bekel apakah aku diperkenankan untuk bertanya sesuatu? Mumpung di sini sekarang tidak ada orang lain.”
“Bertanya apa?” Ki Bekel menjadi heran. “tentang wesi aji?”
“Tidak Ki Bekel,” jawab Mahisa Murti, “Tetapi sebelumnya kami minta maaf. Mungkin pertanyaan kami tidak menyenangkan bagi Ki Bekel. Kami pun sama sekali tidak bermaksud untuk mengadu bahkan ingin menumbuhkan kesan yang kurang baik. Jika pertanyaan nanti kami ajukan, semata-mata karena kami telah menerima kebaikan Ki Bekel di padukuhan ini.”
Ki Bekel jadi termangu-mangu. Dengan nada datar ia pun berkata, “Silahkan Ki Sanak. Apa yang ingin kalian tanyakan?”
“Ki Bekel, apakah benar bahwa di arah utara dari Kabuyutan ini merupakan daerah yang pantang didatangi oleh orang luar?” bertanya Mahisa Murti.
Ki Bekel mengerutkan keningnya. Ia merasa heran atas pertanyaan itu. Bahkan kemudian dengan curiga Ki Bekel ganti bertanya, “Siapa yang mengatakannya?”
“Seseorang,” jawab Mahisa Murti.
“Sebutlah,” desak Ki Bekel, “aku adalah Bekel di padukuhan ini. Aku tahu kewajibanku dan aku tahu, apa yang harus aku lakukan menghadapi persoalan-persoalan yang betapapun rumitnya bagi padukuhan ini.”
Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian ia pun berkata, “Maaf Ki Bekel. Yang memberitahukan kepadaku akan hal tersebut adalah Ki Jagabaya.”
Mahisa Murti pun kemudian menirukan pesan-pesan yang pernah diberikan oleh Ki Jagabaya kepadanya ketika mereka akan keluar dari padukuhan itu untuk melihat-lihat keadaan.
Ki Bekel menjadi tegang sejenak. Namun kemudian wajahnya telah pulih kembali. Dengan cepat Ki Bekel berhasil menguasai gejolak perasaannya.
Sambil mengangguk-angguk Ki Bekel pun berkata, “Mungkin Ki Jagabaya mengetahui banyak tentang daerah tersebut sesuai dengan tugas pengamanannya atas padukuhan ini. Tetapi sepanjang pengetahuanku, di daerah Utara itu tidak pernah terjadi sesuatu.”
“Tetapi dari mana Ki Jagabaya mendapatkan keterangan tentang hal itu?” bertanya Mahisa Murti.
“Entahlah,” jawab Ki Bekel, “aku kurang tahu. Tetapi hal itu bukannya tidak perlu diperhatikan. Bahkan bagiku hal itu merupakan sesuatu yang sangat menarik.”
Mahisa Murti mengangguk-angguk. Sementara Ki Bekel berkata pula, “Hal ini memang perlu dipelajari.”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat hampir berbareng berpaling ke arah Mahisa Ura. Namun agaknya Mahisa Ura tidak menaruh perhatian terlalu besar terhadap keterangan Ki Bekel itu. Sehingga karena itu maka Mahisa Murti pun terpaksa bertanya terus terang, “Ki Bekel. Apakah sudah seharusnya Ki Bekel berhubungan langsung dengan Ki Jagabaya tentang persoalan ini?”
Ki Bekel mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia pun telah bertanya, “Jadi apakah sebaiknya yang aku lakukan? Tingkah laku Ki Jagabaya memang menimbulkan pertanyaan yang harus dijawab. Karena itu, maka pada suatu saat, aku akan berhubungan dengan Ki Jagabaya.”
“Tetapi bukankah segala sesuatunya masih perlu mendapatkan kejelasan?” bertanya Mahisa Pukat.
“Jika kau berbicara dengan Ki Jagabaya, maksudnya adalah untuk mendapatkan penjelasan itu,” jawab Ki Bekel.
Mahisa Ura ternyata kemudian dapat menangkap maksud Mahisa Murti dan Mahisa Pukat itu. Karena itu, maka katanya, “Ki Bekel. Sebaiknya aku berkata terus terang. Jika kedua adikku mempersoalkan apakah Ki Bekel harus berterus terang kepada Ki Jagabaya atau tidak maka maksudnya adalah, sebaiknya Ki Bekel membiarkan untuk tidak membicarakannya dengan Ki Jagabaya. Sebab jika Ki Bekel menanyakan kepadanya, maka persoalannya akan terputus. Maksudku jika benar ada sesutu yang kurang wajar pada Ki Jagabaya, biarlah itu berlangsung. Selama itu, kita akan dapat mengadakan penyelidikan untuk mengetahui apakah sebenarnya yang dilakukan oleh Ki Jagabaya,” Mahisa Murti terdiam sejenak, lalu, “tetapi kami minta maaf Ki Bekel. Apakah selama ini Ki Bekel menaruh kepercayaan sepenuhnya atau tidak?”
Ki Bekel menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya, “Selama ini aku percaya kepadanya. Tetapi itu bukan berarti bahwa sesuatu tidak dapat terjadi. Mungkin ada sesuatu diluar pengamatanku sehingga kepercayaanku itu justru akan dapat menjerumuskan langkah-langkahku dan aku menjadi kurang berhati-hati.”
“Ki Bekel,” berkata Mahisa Ura, “jika masih ada setitik saja keragu-raguan di hati Ki Bekel, maka aku mohon agar hal ini sebaiknya tidak Ki Bekel sampaikan kepada Ki Jagabaya. Biarlah Ki Bekel dan barangkali kami bertiga, akan dapat membantu Ki Bekel, melihat apa yang sebenarnya dikehendaki oleh Ki Jagabaya.”
Ki Bekel menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya. “Baiklah Ki Sanak. Aku tidak akan menanyakannya kepada Ki Jagabaya. Tetapi aku akan mengikuti tingkah lakunya, sehingga pada suatu saat, kita dapat menjawab pertanyaan yang timbul karena tingkah lakunya.”
“Baiklah Ki Bekel,” berkata Mahisa Ura kemudian, “besok aku akan meninggalkan padukuhan ini. Aku akan berada di banjar, di padukuhan di ujung Kabuyutan ini. Tempat yang disebut oleh Ki Jagabaya sebagai tempat yang berbahaya. Aku harap Ki Bekel akan datang kepadaku, atau mengirimkan pesuruhnya menemui aku.”
Ki Bekel mengangguk-angguk. Katanya, “Mudah-mudahan kita akan dapat bersama untuk memecahkan teka-teki ini.”
“Tetapi Ki Bekel apakah Ki Bekel mengetahui sesuatu atau kemungkinan yang menarik perhatian di ujung Kabuyutan ini?” bertanya Mahisa Ura.
Ki Bekel menggeleng. Jawabnya, “Aku tidak melihat sesuatu.”
“Baiklah Ki Bekel,” jawab Mahisa Ura, “kami besok akan mohon diri. Mudah-mudahan kita akan menemukan sesuatu.”
“Tetapi kenapa kalian tiba-tiba saja menjadi tergesa-gesa meninggalkan padukuhan ini,” bertanya Ki Bekel.
“Sebenarnya aku akan berada ditempat ini lebih lama lagi. Tetapi agaknya sesuatu telah memaksa kami untuk pergi meskipun kita untuk selanjutnya akan tetap berhubungan,” jawab Mahisa Ura.
Demikianlah maka di hari berikutnya, maka Mahisa Ura, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah minta diri kepada Ki Bekel dan para bebahu padukuhan itu. Dengan sengaja Mahisa Ura mengatakan, bahwa ia telah berhubungan dengan seseorang yang tinggal di padukuhan di ujung Kabuyutan itu.
Ki Jagabaya mengerutkan keningnya. Wajahnya menjadi tegang sesaat. Tetapi ia pun kemudian tersenyum sambil bertanya, “Kenapa kalian memilih untuk bergeser ke arah Utara?”
Mahisa Ura menarik nafas dalam-dalam. Bagaimana juga, jantung Mahisa Ura memang terasa berdebar-debar. Namun demikian ia menjawab, “Sudah aku katakan Ki Jagabaya. Seseorang telah menyatakan keinginannya untuk melihat barang-barang kami.”
“Apakah orang orang padukuhan ini tidak ada lagi yang ingin membeli barang-barang dagangan Ki Sanak?” bertanya Ki Jagabaya.
“Aku sudah berada ditempat ini beberapa hari. Jika ada, maka aku kira mereka sudah menghubungi kami sampai hari ini,” jawab Mahisa Ura.
Ki Jagabaya termangu-mangu sejenak. Tetapi ia pun tersenyum lagi sambil menjawab, “Mungkin seseorang sedang mengumpulkan uangnya atau mungkin ada sebab-sebab lain.”
Mahisa Ura pun kemudian menjawab, “Aku tidak akan berada ditempat yang terlalu jauh. Jika uang itu benar telah terkumpul, maka kami masih tetap berada di Kabuyutan ini. Jika pada suatu saat kami akan meninggalkan Kabuyutan init maka kami akan melaporkannya kepada Ki Bekel di sini.”
Ki Jagabaya mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Mungkin aku akan mendapat kesempatan untuk menengok kalian.”
“Terima kasih Ki Jagabaya. Kami akan tetap menunggu. Kami akan berada di padukuhan itu untuk tiga atau ampat hari saja. Kecuali jika terjadi perkembangan yang menguntungkan dari perdagangan kami,” jawab Mahisa Ura.
Keduanya kemudian terdiam. Sementara itu Ki Bekel- pun yang berkata, “Nah, segalanya terserah kepada kalian, kapan saja kita kalian kehendaki, maka kalian akan dapat kembali ke banjar ini dan mempergunakan bilik itu untuk waktu yang tidak terbatas.”
Dengan demikian, maka Mahisa Ura, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah meninggalkan padukuhan itu dan pergi ke padukuhan di Ujung Kabuyutan, justru yang oleh Ki Jagabaya disebut sebagai daerah yang sangat berbahaya.
Ketika mereka sampai di tengah bulak diluar padukuhan yang-telah mereka tinggalkan, maka Mahisa Murti pun bertanya, “Apakah yang akan kita lakukan, jika ternyata kita tidak diterima untuk bermalam di banjar itu?”
Mahisa Ura tiba-tiba saja tersenyum. Katanya, “Bukankah kita tidak mempunyai niat buruk?”
“Apakah kita akan menjelaskan persoalan yang kita hadapi kepada orang-orang padukuhan yang belum pernah kita kenal sama sekali?” bertanya Mahisa Pukat.
Mahisa Ura menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Tentu tidak. Tetapi jika kita tidak dibenarkan untuk bermalam di banjar, kita akan mencoba mencari tempat di banjar padukuhan yang lain. Bahkan mungkin kita akan berhubungan dengan Ki Buyut. Tetapi seandainya kita benar-benar tidak mendapat tempat dimanapun, bukankah kita terbiasa tidur dimanapun juga?”
Mahisa Pukat mengangguk-angguk pula. Katanya, “Kau benar. Kita dapat bermalam dimana saja.”
Mahisa Murti pun mengangguk-angguk juga sambil mengayunkan langkahnya satu-satu. Katanya, “Ya. Kita bukan saudagar-saudagar besar. Kita tidak lebih dari pengembara.”
Mahisa Ura dan Mahisa Pukat pun kemudian telah tertawa tertahan.
Demikianlah ketiganya berjalan ke arah yang tidak dikehendaki oleh Ki Jagabaya. Tetapi mereka memang sudah bertekad untuk melakukannya justru untuk memancing sikap Ki Jagabaya yang menurut ketiga orang itu, memang memerlukan perhatian yang khusus.
Beberapa saat lamanya mereka berjalan. Mereka justru telah melintasi beberapa buah padukuhan. Tetapi mereka memang berniat untuk berada di padukuhan di ujung Kabuyutan.
Namun ketiga orang itu tiba-tiba saja telah merasa terganggu bahwa ketika mereka sampai ke bulak yang terakhir sebelum mereka memasuki padukuhan yang berada di ujung Kabuyutan, maka mereka telah merasa bahwa seseorang atau lebih telah mengamati mereka dari jarak yang agak jauh, di antara yang tumbuh subur di sawah. Sekali-sekali mereka melihat seseorang berada di pematang beberapa puluh langkah dari jalan yang mereka lalui. Namun kadang-kadang orang itu tidak dapat mereka lihat lagi.
“Apakah kau melihatnya?” bertanya Mahisa Murti kepada Mahisa Pukat.
Mahisa Pukat mengangguk-angguk sambil menjawab, “Ya. Aku melihatnya. Justru menarik sekali.” Lalu ia pun berpaling kepada Mahisa Ura, “Kau melihatnya.”
“Justru sekarang orang itu nampak di pematang,” jawab Mahisa Ura.
Sementara justru berpaling meskipun dengan hati-hati, agar tidak mengejutkan dan disadari oleh orang yang di pematang itu.
“Ya,” desis Mahisa Murti, “orang itulah yang aku maksud.”
Mahisa Ura mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Mungkin orang itu pula yang telah mengawasi kita pada saat kita datang kepadukuhan pertama.”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Dalam pada itu Mahisa Ura pun menjawab, “Agaknya memang ada hubungannya dengan Ki Jagabaya meskipun dalam dua kemungkinan yang bertolak belakang. Mungkin orang itu adalah orang yang memang dipasang ojeh Ki Jagabaya, tetapi mungkin Ki Jagabaya benar bahwa kita seharusnya tidak usah pergi ke tempat ini.”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Namun Mahisa Pukat pun berkata, “Biar sajalah. Jika orang itu ingin mengganggu kita, kita akan mencekiknya sampai hitam matanya hilang.”
“Ah, kau,” desis Mahisa Murti.
Mahisa Ura tersenyum. Katanya, “Kita akan menunggu apa yang akan terjadi dengan kita kelak.”
Mahisa Pukat dan Mahisa Murti tidak menjawab. Tetapi langkah mereka rasa-rasanya menjadi semakin berat ketika mereka mendekati padukuhan di ujung Kabuyutan.
“Sebelah padukuhan itu adalah batas antara dua Kabuyutan,” berkata Mahisa Ura.
“Ya. Tugu batas itu,” jawab Mahisa Murti kemudian.
Perlahan-lahan mereka maju semakin dekat. Namun akhirnya Mahisa Ura berkata, “Mau tidak mau kita akan pergi ke rumah Ki Bekel untuk menyatakan keinginan kami bermalam di padukuhan ini.”
“Ya,” sahut Mahisa Pukat, “marilah. Kita langsung pergi ke rumah Ki Bekel. Mudah-mudahan ia berada di rumah.”
Demikian ketiga orang itu pun telah pergi langsung ke rumah Ki Bekel. Untunglah bagi mereka, bahwa Ki Bekel masih ada di rumah.
Mahisa Ura, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengerutkan kening ketika mereka kemudian ditemui oleh Ki Bekel. Ternyata Ki Bekel masih muda juga seperti tamu-tamunya.
Ki Bekel yag berwajah cerah itu tersenyum. Seolah-olah ia mampu membaca perasaan tamu-tamunya. Karena itu maka katanya, “Akulah Bekel di padukuhan ini. Mungkin aku masih terlalu muda menurut Ki Sanak. Tetapi sebenarnyalah aku memang Bekel di padukuhan ini.”
“O, maaf Ki Bekel,” berkata Mahisa Ura, “kami memang heran melihat bahwa Ki Bekel masih terlalu muda untuk jabatan yang sedang Ki Bekel pangku sekarang.”
“Satu gambaran yang salah tentang seorang Bekel,” berkata Ki Bekel, “seolah-olah jika kita mendengar tentang seorang Bekel, kita membayangkan seorang yang sudah berjanggut dan berkumis putih, berjalan terbongkok-bongkok batuk.”
“Ah,” Mahisa Ura menjawab, “Bukan begitu Ki Bekel. Tetapi aku kira seorang Bekel yang muda pun wajar sekali.”
Ki Bekel tersenyum. Sambil mengangguk-angguk ia berkata, “Baiklah. Mungkin kita memang mempunyai gambaran masing-masing.”
Mahisa Ura, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun tersenyum pula. Sementara itu, Ki Bekel yang masih muda itu-pun bertanya, “Apakah keperluan Ki Sanak datang ke padukuhan ini? Menurut penglihatanku Ki Sanak bukan orang padukuhan ini, karena aku mengenal setiap orang di sini.”
Mahisa Uralah yang menjawab, “benar Ki Bekel. Kami adalah tiga bersaudara yang mengembara sambil melakukan jual beli beberapa jenis benda. Kami bermaksud melakukan jual beli itu di padukuhan ini apabila ada yang berminat. Dengan demikian, apabila diijinkan kami mohon untuk dapat menginap di banjar barang satu dua malam.”
“Ooo,” Ki Bekel mengangguk-angguk. “apa yang kalian jual belikan?”
“Wesi aji dan batu permata serta batu akik dan sebangsanya,” jawab Mahisa Ura.
“Batu?” Ki Bekel bertanya, “batu permata memang mempunyai nilai yang tinggi untuk diperjual belikan. Tetapi batu akik adalah permainan orang-orang yang khusus karena sulit untuk memberi penilaian atas kegunaannya.”
Bersambung.....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar