Minggu, 03 Januari 2021

HIJAUNYA LEMBAH HIJAUNYA LERENG PEGUNUNGAN JILID 030-01

*HIJAUNYA LEMBAH : JILID-030-01*

Orang-orang bertutup wajah itu pun kemudian benar-benar menyadari bahwa mereka tak akan dapat berbuat banyak menghadapi ketiga orang itu. Karena itu, maka mereka pun telah mengambil satu keputusan. Dengan isyarat yang tidak diketahui oleh ketiga orang lawan mereka, maka mereka pun siap untuk menarik diri.

Dua orang yang tidak dapat ikut bertempur karena gigitan ular dikaki, serta beberapa orang yang telah terlempar dari pertempuran sehingga tubuh mereka rasa-rasana tidak lagi mampu untuk bangkit, telah bersiap-siap pula. Bahkan mereka dengan diam-diam telah menyelinap kebalik semak-semak, tetapi tidak di atas gumuk, karena diatas gumuk itu terdapat banyak ular yang berkeliaran.

Beberapa saat kemudian, maka terdengar isyarat yang sebenarnya. Orang-orang bertutup wajah itu tidak menunggu lebih lama lagi. Mereka pun segera berloncatan meninggalkan medan.

Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura tertegun sejenak. Memang ada niat mereka untuk mengejar dan menangkap salah seorang di antara mereka. Tetapi niat itu urung karena tiba-tiba saja mereka telah dikejutkan oleh suara tertawa yang meledak-ledak.

Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura saling berpandangan. Namun mereka menyadari, bahwa suara itu tentu dilontarkan oleh seseorang yang berilmu tinggi.

“Berhati-hatilah,” bisik Mahisa Ura.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk. Namun mereka pun justru telah berpencar dan berdiri pada jarak beberapa langkah.

Suara tertawa itu masih terdengar. Semakin lama seakan-akan menjadi semakin keras dan mengguncang jantung.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mulai mengetrapkan ilmunya untuk melawan suara itu. Mahisa Ura pun telah mengerahkan daya tahannya agar ia tidak terseret ke dalam pengaruh suara yang menggetarkan itu.

Namun agaknya suara tertawa itu demikian tajamnya menusuk kedalam jantung, sehingga terasa betapa perasaan pedih bagaikan menusuk-nusuk.

Tetapi kekuatan ilmu Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mampu membetengi jantung mereka dengan sebaik-baiknya. Agak berbeda dengan Mahisa Ura yang agaknya memang mengalami kesulitan.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun melihat kesulitan yang dialami oleh Mahisa Ura meskipun belum jelas. Karena itu, maka seperti berjanji maka mereka pun telah bergeser saling mendekat.

Mahisa Murti pun yang mula-mula berdiri menempelkan punggungnya pada punggung Mahisa Ura, sementara Mahisa Pukat berdiri tegak membelakangi mereka berdua.

Mahisa Ura memang tidak tahu maksud Mahisa Murti. Ia bahkan mengira bahwa Mahisa Murti menjadi sangat berhati-hati sehingga mereka pun harus berdiri saling membelakangi. Demikian juga Mahisa Pukat yang berdiri membelakangi mereka berdua.

Namun dalam pada itu, di luar sadarnya, maka tertawa orang yang tidak dilihat itu tidak lagi terasa terlalu tajam menusuk jantung. Pada sentuhan tubuhnya dengan tubuh Mahisa Murti seolah-olah terjadi arus getaran yang melintas. Mahisa Ura tidak menyadari apa yang terjadi. Namun justru karena itu Mahisa Murti mengalami sedikit kesulitan.

Ia harus mengerahkan segenap kekuatan yang ada didalam dirinya berlandaskan pada ilmunya untuk melindungi jantungnya sendiri dan mengalirkan kekuatan pada tubuh Mahisa Ura yang tidak dengan sengaja menyesuaikan dirinya.

“Salah sendiri,” berkata Mahisa Murti didalam hatinya. “Seharusnya ia berterus terang apa yang hendak dilakukan.” Namun Mahisa Murti masih ingin menjaga, agar Mahisa Ura tidak merasa dirinya menjadi terlalu kecil.

Ternyata Mahisa Murti tidak harus berjuang dengan segenap kemampuannya terlalu lama. Sejenak kemudian, maka suara tertawa itu pun mulai mereda, sehingga sejenak kemudian, maka Mahisa Murti pun telah bergeser setapak maju, sehingga punggungnya tidak lagi bersentuhan dengan punggung Mahisa Ura.

“Apa yang terjadi,” desis Mahisa Ura.

Ketika Mahisa Pukat kemudian memutar tubuhnya, maka dilihatnya Mahisa Ura bagaikan bermandi keringat. Tetapi ketika ia memandang wajah Mahisa Murti, maka wajah itu pun nampaknya basah pula. Bahkan di keningnya keringat masih nampak mengalir dan menitik satu-satu.

Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Ia mengerti bahwa Mahisa Murti sudah mengerahkan segenap ilmunya untuk melindungi dirinya sendiri dan Mahisa Ura di luar sadar, sehingga Mahisa Ura tidak dengan sengaja menempatkan diri dalam dukungan arus kekuatan ilmu Mahisa Murti.

“Kita masih harus menunggu,” desis Mahisa Murti, “agaknya seseorang ingin berbicara dengan kita.”

Mahisa Ura mengangguk. Namun masih terasa nafasnya yang seakan-akan menjadi sesak.

Tetapi suara tertawa itu sudah tidak terdengar lagi. Sehingga perlahan-lahan keadaan Mahisa Ura pun menjadi wajar lagi sebagaimana sebelum dadanya merasa dihentak-hentak oleh suara tertawa itu.

Sedangkan Mahisa Murti pun telah mengusap keringatnya yang mengembun dikeningnya.

“Kau tentu letih?” desis Mahisa Pukat.

Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian jawabnya, “Aku memang merasa letih. Tetapi kini tidak lagi. Aku harap dalam keadaan seperti itu, kau dapat membantuku.”

“Apa yang kalian bicarakan?” bertanya Mahisa Ura.

Mahisa Murti menarik nafas panjang. Katanya, “Tidak apa-apa. Suara tertawa itu benar-benar menggetarkan jantung.”

“Ya. Aku merasa jantungku bagaikan terlepas dari tangkainya,” jawab Mahisa Ura.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat hanya mengangguk-angguk saja. Namun mereka pun tidak kehilangan kewaspadaan. Karena itu, maka mereka masih tetap menunggu, apa yang akan terjadi.

Untuk beberapa saat mereka tidak mendengar suara apapun juga. Karena itu, maka Mahisa Murti pun berteriak tanpa mempergunakan dorongan kekuatan ilmunya, “He, siapa yang telah mencoba menakut-nakuti kami dengan suara gunturnya?”

Tidak terdengar jawabnya. Untuk beberapa saat mereka menunggu. Namun Mahisa Pukat yang tidak telaten berteriak pula, “He, kenapa kau bersembunyi? Takut? Kemarilah. Kita akan berhadapan sebagai laki-laki.”

Masih tidak terdengar jawaban. Karena itu, maka Mahisa Ura lah yang berteriak, “He, kemarilah. Kita akan berbicara. Apakah sebenarnya yang kau kehendaki?”

Ternyata terdengar jawaban. Suaranya mengumandang bagaikan berputar-putar di relung-relung hutan, “Siapakah kalian?”

Pertanyaan itu memang hanya pendek. Tetapi rasa-rasanya dada ketiga orang itu telah dihentakkan oleh satu kekuatan yang luar biasa. Mahisa Ura lah yang mengalami kesulitan untuk melindungi jantungnya dari cengkaman goncangan yang tajam itu. Bahkan hampir saja Mahisa Ura itu mengaduh. Untunglah bahwa ia masih mampu bertahan dan dengan susah payah berusaha untuk tetap pada keadaannya.

Mahisa Murti lah yang sempat menekan dadanya untuk memberikan kesan yang sebagaimana terasa oleh Mahisa Ura. Meskipun sebenarnya Mahisa Murti dapat menangkis serangan itu dan melepaskan diri dari cengkaman goncangan pada isi dadanya.

Ketika Mahisa Pukat melihat sikap Mahisa Murti, maka ia pun berusaha untuk berbuat serupa. Ia sadar, bahwa meskipun Mahisa Ura mungkin dapat melihat kelebihan mereka, tetapi jangan membuat orang itu merasa sangat kecil dan tidak berarti.

Yang kemudian menjawab pertanyaan itu adalah Mahisa Murti, “Kami adalah tiga orang pengembara. Kami adalah pedagang batu akik dan wesi aji. Mungkin kau tertarik, kenapa kami bertiga telah berusaha mendekati batu hijau itu. Justru kami adalah pedagang batu akik, maka batu hijau itu sangat menarik perhatian kami. Menurut dugaan kami, batu itu adalah batu akik raksasa. Kami memang ingin berhubungan dengan orang yang mempunyai wewenang atas batu itu. Mungkin kami akan membelinya dengan harga yang pantas.”

Sekali lagi terdengar suara tertawa. Suara itu memang bagaikan mengguncang jantung. Karena itu, maka dengan serta merta, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah berdiri melekat pada Mahisa Ura meskipun saling beradu punggung. Namun baik Mahisa Murti maupun Mahisa Pukat telah saling bersentuhan, sehingga yang kemudian membantu Mahisa Ura, bukannya hanya Mahisa Murti, tetapi juga Mahisa Pukat, sehingga dengan demikian, maka Mahisa Murti tidak berada pada keadaan yang sangat melelahkan.

“Jika terjadi sesuatu, maka aku akan membutuhkan kekuatan lahir dan batin untuk mengatasinya,” berkata Mahisa Murti didalam hatinya.

Tetapi suara tertawa itu tidak berkepanjangan. Sementara itu Mahisa Ura pun tidak merasa sangat terhimpit oleh suara tertawa yang segera berhenti.

“Kalian adalah anak-anak muda yang perkasa,” berkata suara itu, “kalian tidak hancur oleh suaraku. Tetapi apakah dengan demikian kalian merasa bahwa kalian akan mampu mengelakkan diri jika aku menghendaki kematianmu.”

Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya kepada Mahisa Pukat, “orang itu tentu memiliki ilmu yang tinggi.”

“Apaboleh buat,” berkata Mahisa Pukat.

Mahisa Murti mengangguk-angguk. Namun kemudian tiba-tiba saja ia menengadahkan kepalanya sambil berkata, “Marilah, datanglah. Dengan demikian kita akan dapat berbicara panjang. Mungkin kita tidak akan mengalami salah paham. Katakan apa yang kau kehendaki. Mungkin bukan merupakan masalah bagi kami.”

“Sudahlah,” terdengar suara itu menggelepar dengan melontarkan getaran menggelisahkan, “pergi sajalah. Jangan berbuat sesuatu. Karena aku tidak akan membiarkan siapapun juga yang menaruh minat untuk kepentingan apapun atas batu itu. Batu itu sama sekali bukan batu yang berharga. Tetapi aku senang kepada batu itu. Karena itu, pergilah. Aku akan dapat melakukan apa saja yang aku inginkan atas kalian. Mungkin suaraku kurang meyakinkan kekuatan ilmuku, karena kalian ternyata memiliki daya tahan yang tinggi. Tetapi aku masih mempunyai seribu cara lain yang akan dapat aku pergunakan.”

Mahisa Murti menggeretakkan giginya. Tetapi ia masih menahan diri sehingga ia menjawab dengan suara wajarnya, “Kau sama sekali tidak dapat menakut-nakuti kami.”

Yang terdengar adalah suara tertawa. Dengan demikian maka baik Mahisa Murti maupun Mahisa Pukat dengan serta merta telah bergeser surut dan berdiri melekat tubuh Mahisa Ura.

Meskipun suara tertawa itu cukup menggetarkan jantung, tetapi tidak terlalu lama. Beberapa saat kemudian suara tertawa itu pun telah berhenti.

Yang terdengar adalah kata-kata orang yang tidak dapat mereka lihat itu, “Kalian memang luar biasa. Aku tidak akan berbuat apa-apa jika kau tidak memanjat gumuk itu. Tetapi jika kalian berusaha untuk menyentuh batu kehijauan itu, maka aku akan melakukan sesuatu yang mungkin tidak pernah kalian duga sebelumnya.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menjadi bimbang. Mereka dapat saja naik ke gumuk itu dan melihat-lihat batu hijau itu tanpa merasa takut. Tetapi bagaimana dengan Mahisa Ura. Jika Mahisa Ura itu mereka tinggalkan, maka mungkin sekali ia akan mengalami serangan yang langsung menikam jantungnya dengan suara tertawa dan getaran kata-kata orang yang tidak kelihatan itu.

Karena itu, maka Mahisa Murti pun kemudian berdesis, “Apakah yang sebaiknya kita lakukan?”

“Bagaimana menurut pertimbanganmu?” bertanya Mahisa Ura.

“Orang itu sangat berbahaya bagi kita,” desis Mahisa Murti.

“Apakah kita tidak mempunyai jalan untuk memecahkan gangguan ini?” bertanya Mahisa Pukat.

“Orang itu mampu menyerang dari jarak yang tidak kita ketahui seperti sekarang ini,” jawab Mahisa Murti.

Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Ia mengerti, bahwa Mahisa Murti masih menjaga perasaan Mahisa Ura agar ia tidak merasa terlalu kecil sehingga justru akan menumbuhkan keinginan berbuat yang aneh-aneh untuk menutupi kekecilannya.

Karena itu, makai Mahisa Pukat pun akhirnya berkata, “Marilah. Kita untuk sementara dapat meninggalkan tempat ini. Mungkin pada kesempatan lain kita akan dapat melihat batu itu lebih dekat.”

Mahisa Ura menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “Marilah. Mungkin besok kita akan kembali.”

Ketiga orang itu pun kemudian bergeser menjauhi gumuk kecil itu. Namun sementara itu, sikap Mahisa Ura menjadi agak berubah. Agaknya ia mulai mencoba mengenali apa yang telah terjadi sebenarnya dan apa yang telah dilakukan oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.

Karena itu, ketika mereka menjauhi tempat itu, Mahisa Ura sempat berdesis, “Ada sesuatu yang harus kita bicarakan.”

Mahisa Murti ingin bertanya. Tetapi kemudian terdengar lagi suara tertawa itu.

Ketika Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mendekati Mahisa Ura, tiba-tiba saja Mahisa Ura berkata, “Jangan sentuh aku. Biarlah aku melihat kenyataan tentang diriku dan tentang diri kalian berdua.”

“Mahisa Ura,” desis Mahisa Murti, “apa maksudmu?”

“Aku akan menjajagi kemampuan sendiri dalam keadaan seperti ini,” jawab Mahisa Ura.

Sementara itu suara tertawa itu pun terdengar mengumandang membentur dinding hutan dan memantul dengan getaran yang mengguncang dada.

“Jangan menunjukkan kelemahan di hadapan orang itu,” berkata Mahisa Murti, “cepat, pegang tanganku dan tangan Mahisa Pukat. Kita akan berdiri saling membelakangi.”

“Tidak,” jawab Mahisa Ura, “aku akan melihat ke diriku sendiri.”

Ketika Mahisa Murti bergeser maju, maka Mahisa Ura pun telah bergeser surut. Namun ternyata bahwa getaran yang mengguncang dadanya terasa menyesakkan nafasnya. Tulang-tulangnya terasa bagaikan terlepas dari sendi-sendinya.

Tubuh Mahisa Ura bergetar bagaikan kedinginan. Namun ketika ia hampir terjatuh, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, cepat meloncat mendekat dan dengan cepat mereka telah berdiri saling membelakangi.

“Tahankan,” desis Mahisa Murti, “kau tidak boleh jatuh dibawah pengaruh suara itu. Hentakkan kekuatanmu terakhir, sebelum kami berdua dapat membantumu. Jangan terlalu berpegang pada harga diri.”

Mahisa Ura tidak menjawab. Ia menghentakkan kekuatannya yang terakhir untuk tetap tegak. Sementara itu, ia telah dengan sadar menyesuaikan diri dengan arus kekuatan yang mengalir dari tubuh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, sehingga dengan demikian, maka segala sesuatunya berjalan jauh lebih rancak dari yang pernah terjadi.

Karena itu, dengan cepat pula ketahanan yang mengalir dari kemampuan ilmu Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah melindungi jantung Mahisa Ura, sehingga tidak menjadi beku karenanya.

Untuk beberapa saat mereka berdiri dalam keadaan yang bagaikan membeku. Namun kemudian Mahisa Murti berkata, “Aku akan menjawabnya jika orang itu berbicara.”

Tidak ada jawaban. Mahisa Pukat mengangguk kecil meskipun Mahisa Murti membelakanginya. Sementara Mahisa Ura semakin menyadari apa yang sebenarnya terjadi.

“Kalian ternyata bijaksana,” sebenarnyalah terdengar suara orang yang tidak menampakkan dirinya itu, “selamat jalan. Mudah-mudahan kalian menyadari, bahwa kalian tidak perlu kembali.”

Mahisa Murtilah yang kemudian benar-benar menjawab, “Terima kasih atas pujian itu Ki Sanak. Tetapi dengan terpaksa aku beritahukan, mungkin aku akan kembali. Atau barangkali kau memandang perlu untuk memindahkan atau menyembunyikan batu itu, lakukanlah.”

Ternyata bahwa Mahisa Murti mampu mengimbangi getar suara orang yang tidak menampakkan dirinya itu. Sementara Mahisa Ura bertahan dengan bantuan Mahisa Pukat.

Namun apa yang dilakukan oleh Mahisa Murti itu benar-benar mengejutkan. Baik bagi Mahisa Ura, maupun bagi orang yang telah berusaha menakut-nakutinya.

Orang yang menyerang Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura dengan getar suaranya itu sama sekali tidak mengira, bahwa anak-anak muda itu ternyata juga mampu melontarkan kekuatan ilmunya lewat getar suaranya. Bahkan ternyata bahwa kemampuan Mahisa Murti sama sekali tidak berada dibawah kemampuan orang yang tidak menampakkan diri itu.

Sementara itu, Mahisa Ura pun mengerti, bahwa ternyata kedua orang anak muda itu memang memiliki ilmu yang sangat tinggi. Ia pernah diselamatkan dari bisa ular yang tajam. Menurut dugaannya pada saat itu, kebetulan saja keduanya memiliki benda yang dapat menjadi penangkal bisa ular. Tetapi ketika Mahisa Ura itu mengalami serangan lewat getar suara maka ia pun menyadari, bahwa kedua anak muda itu memang bukan orang kebanyakan. Apalagi ketika ternyata Mahisa Murti mampu melepaskan serangan pula dengan cara yang sama sebagaimana oleh orang yang tidak menampakkan dirinya itu.

Tetapi Mahisa Ura tidak sempat berbuat sesuatu. Yang terjadi kemudian adalah semacam pertempuran antara orang yang tidak nampak itu melawan Mahisa Murti. Getar suara mereka mengumandang berbenturan di udara.

Terdengar suara tertawa. Tetapi suara tertawa itu terasa telah berubah. Suara tertawa itu bukan ungkapan dari kegembiraan dan kebanggaan. Tetapi semata-mata untuk melontarkan getaran suara yang menyerang mereka yang mendengarnya.

Telapi Mahisa Murti, Mahisa Pakal dan Mahisa Ura sama sekali tidak mengalami kesulitan karena serangan itu. Bahkan Mahisa Murti kemudian berkata dengan nada suaranya yang menghunjam ke dada orang yang tidak dilihatnya itu

“Suaramu tidak berarti sama sekali bagi kami. Tetapi hari ini kami memang tidak ingin berkelahi. Mungkin besok atau lusa aku akan kembali. Kita akan menentukan, siapakah di antara kita yang memiliki kelebihan dalam permainan ilmu seperti ini.”

Suara tertawa itu mereda. Yang kemudian terdengar adalah jawaban orang itu, “Aku akan menunggu anak muda. Tetapi aku percaya bahwa kalian adalah orang-orang linuwih. Meskipun demikian, jangan terlalu cepat berbangga. Kalian belum melihat jenis-jenis kemampuan ilmu yang dapat aku tunjukkan kepadamu dan langsung menjerat lehermu, sehingga kalian tidak akan mampu berbuat sesuatu selain menangis menyebut nama ibu bapamu.”

Mahisa Murtilah yang tertawa. Suaranya menghentak tajam, sehingga mengejutkan orang yang tidak dilihatnya itu.

“Baiklah. Besok kita akan bertemu. Jika kau akan memindahkan batu itu lakukanlah malam nanti,” berkata Mahisa Murti kemudian.

Beberapa saat kemudian, tempat itupun menjadi sepi lengang. Tidak terdengar lagi suara orang itu tertawa. Suara orang, berteriak dan tidak lagi udara digetarkan oleh benturan ilmu yang nggegirisi.

“Marilah kita pulang,” berkata Mahisa Murti.

Ketiga orang itu pun kemudian meninggalkan tempat itu, kembali ke banjar padukuhan tempat mereka bermalam. Namun belum lagi mereka jauh, mereka melihat beberapa orang keluar dari hutan sambil membawa beberapa helai dedaunan, tetapi dari arah yang lain.

“Orang-orang yang mencari daun pandan dengan duri sungsang itu,” desis Mahisa Pukat.

Mahisa Murti mengangguk-angguk. Namun katanya kemudian, “Perhatikan wajah-wajah mereka. Mungkin pada suatu saat kita harus mengenali mereka seorang demi seorang.”

Mahisa Ura dan Mahisa Pukat pun kemudian mencoba memperhatikan orang-orang itu. Tetapi ternyata bahwa mereka telah berbelok menyusuri rerumputan dan perlu menghindari ketiga orang yang sebenarnya sedang menunggu mereka.

“Mereka tentu orang-orang yang khusus,” berkata Mahisa Murti, “agaknya mereka memiliki satu cara untuk menyelamatkan diri dari getaran-getaran suara yang menghentak-hentak di dalam dada.”

“Bukankah kekuatan getar suara itu dipengaruhi oleh jarak pula?” bertanya Mahisa Pukat, “barangkali mereka berada di tempat yang cukup jauh ketika terjadi benturan getar suara itu. Nampaknya mereka telah keluar dari hutan ini dari arah yang bukan tempat mereka memasuki hutan itu.”

Mahisa Murti mengangguk-angguk. Memang mungkin orang-orang itu berada di jarak yang jauh sehingga getar suara yang saling berbenturan itu tidak terlalu berpengaruh sebagaimana atas Mahisa Ura yang berdiri terlalu dekat dengan sumber kekuatan yang menggetarkan udara itu.

Namun dalam pada itu, di perjalanan kembali ke Banjar, Mahisa Ura pun berkata, “Kalian telah mempermainkan aku.”

“Kenapa?” bertanya Mahisa Murti.

“Kalian berlaku seakan-akan kalian tidak memiliki kemampuan sejajar dengan kemampuanku. Ternyata bahwa kalian memiliki bekal ilmu yang sangat tinggi,” berkata Mahisa Ura.

“Tidak begitu,” jawab Mahisa Murti, “kita akan selalu bekerja bersama-sama. Kita adalah tiga orang bersaudara.”

“Tanpa kau, kami tidak akan menemukan apa-apa dalam perjalanan ini,” desis Mahisa Pukat. Lalu katanya pula, “Karena itu, marilah kita berbuat wajar saja. Kita bersama-sama mengemban tugas. Bagaimana sebaiknya harus kita lakukan agar tugas itu dapat kita selesaikan.”

“Kalian berdua yang mengemban tugas dari Kediri,” jawab Mahisa Ura.

“Tetapi akan memberikan arti pula bagi Singasari,” jawab Mahisa Pukat.

Mahisa Ura menarik nafas dalam-dalam. Sambil menundukkan kepalanya ia berdesis, “Ternyata aku selama ini merupakan orang dungu yang tidak tahu diri. Kau mentertawakan aku sambil memeras keteranganku untuk kepentinganmu.”

“Mahisa Ura,” berkata Mahisa Murti kemudian, “aku sudah mengira jika kau akan mengalami goncangan jika kau mengetahui keadaanku dan Mahisa Pukat yang sebenarnya. Sejak berangkat aku sudah berada dalam kedudukan yang sulit karena anggapan dan penilaianmu yang salah terhadap kami. Tetapi kami tidak ingin menyakiti hatimu. Itulah sebabnya sepanjang perjalanan kami berusaha untuk menyasuaikan diri. Namun tiba-tiba kami dihadapkan kepada satu keadaan yang memaksa kami untuk berbuat sesuatu.”

“Kenapa kalian tidak melakukannya sejak permulaan,” desis Mahisa Ura.

“Sudahlah,” berkata Mahisa Pukat, “kenapa hal seperti ini dapat menjadi persoalan yang nampaknya bersungguh-sungguh, Mahisa Ura. Kami tidak bermaksud buruk. Itu saja. Mungkin yang kami lakukan tidak sesuai dengan jalan pikiranmu. Tetapi sekali lagi aku ingin meyakinkan, bahwa kami tidak bermaksud buruk. Kami lakukan semuanya bagi kepentingam tugas-tugas kita.”

Mahisa Ura termangu-mangu sejenak. Namun kemudian sambil menarik nafas dalam-dalam ia berkata, “Aku harus malu kepada diriku sendiri. Apakah dalam keadaan seperti ini aku masih akan dapat berada di antara kalian berdua.”

“Sudah aku katakan,” berkata Mahisa Murti, “apa yang dapat kami lakukan dan tidak dapat kau lakukan Tetapi sebaliknya ada yang dapat kau lakukan, tetapi tidak dapat aku lakukan.”

Mahisa Ura pun kemudian mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya, “Terserah kepada kalian. Apakah kalian masih memerlukan aku atau tidak.”

“Jika kami tidak memerlukanmu, maka aku kira, sejak semula kami akan berangkat sendiri,” jawab Mahisa Pukat.

“Dan untuk selanjutnya aku tidak lebih dari sekedar penunjuk jalan,” gumam Mahisa Ura seolah-olah ditujukan kepada diri sendiri, “aku kira aku akan dapat menjadi pelindung kalian, kerena kalian masih sangat muda. Namun yang sebenarnya, akulah yang harus berlindung kepada kalian.”

“Kita adalah tiga orang bersaudara,” desis Mahisa Murti, “kau ingat. Kita sudah menyesuaikan nama kita. Karena itu, maka kita akan berjalan terus bersama-sama. Menyelesaikan tugas kita bersama-sama, atau kita akan mati bersama-sama dalam tugas ini, karena kemungkinan itu akan dapat terjadi atas kita.”

“Baiklah,” berkata Mahisa Ura, “aku akan mencoba menyisihkan perasaan malu di dalam hatiku. Aku akan meneruskan tugas ini seperti apa yang kau katakan. Apapun yang terjadi. Juga sengatan perasaanku sendiri.”

Mahisa Pukat dan Mahisa Murti pun saling berpandangan sejenak. Namun mereka pun menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada datar Mahisa Murti pun berkata, “Terima kasih. Kita akan melupakan semua kesulitan perasaan di dalam diri kita sendiri. Kita akan menghadapi tugas kita dengan wajah tengadah.”

Mahisa Ura tidak menjawab. Mereka berjalan ke arah jalan yang lebih besar untuk menuju ke padukuhan serta meninggalkan lingkungan hutan dan padang perdu. Ketika mereka berpaling, maka mereka masih melihat batu berwarna hijau itu di tempatnya.

Namun ketiganya menjadi berdebar-debar ketika mereka melihat seorang laki-laki yang sudah lewat pertengahan abad. Rambutnya beberapa helai yang terjurai dibawah ikat kepalanya sudah mulai berwarna rangkap. Namun tubuhnya masih nampak kekar dan tegap. Di lehernya tergantung berbagai benda keramat. Sedangkan di tangannya tergenggam sebatang tongkat yang agak panjang dan bersisik. Tongkat itu berkepala sebutir batu sebesar genggaman tangan dan berwarna kehijau-hijauan, dalam cengkeraman tangan seekor naga yang terbuat dari logam berwarna kekuning-kuningan. Sekaligus ketiga orang yang berpapasan dengan orang itu menganggapnya bahwa logam itu tentu emas.

Ketika orang itu berpapasan dengan Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura, maka orang itu sempat menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.

Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura pun tersenyum pula sambil mengangguk. Tetapi baik orang itu, maupun ketiga orang yang menyatakan diri bersaudara itu pun tidak mengucapkan pertanyaan.

Namun demikian orang itu lewat, maka Mahisa Murti-pun berpaling sambil berbisik, “Aku curiga kepada orang itu.”

“Ya,” sahut Mahisa Ura dan Mahisa Pukat hampir berbareng.

“Mungkin orang itu dengan sengaja berjalan ke arah yang berlawanan dengan kita,” berkata Mahisa Pukat, “orang itu tentu ingin lebih memperhatikan kita, seorang demi seorang.”

“Dari sorot matanya nampak bahwa orang itu memiliki ilmu yang tinggi,” berkata Mahisa Murti, “Namun beruntunglah kita, bahwa dengan demikian kita dapat mengenalinya.”

“Mungkin memang dengan sengaja ia ingin bertemu dengan kita dengan lebih terbuka,” berkata Mahisa Ura.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Dengan nada datar Mahisa Pukat pun berkata, “Kita akan bertemu lagi.”

Mahisa Murti mengangguk-angguk. Gumamnya, “Ya, mudah-mudahan kita mendapat kesempatan itu.”

Mahisa Ura menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Agaknya akulah yang menyebabkan kalian menunda pertemuan kalian dengan orang-orang itu.”

“Bukankah kita tidak tergesa-gesa?” sahut Mahisa Murti.

Mahisa Ura mengangguk lemah.

Demikianlah maka mereka bertiga pun kemudian telah kembali ke banjar. Tidak ada kesan apapun yang mereka dapatkan dari orang-orang padukuhan itu. Namun dari penunggu banjar, Mahisa Murti mendapat suguhan sikap yang buram. Dengan nada rendah orang itu berkata, “Aku menunggu kalian datang. Tetapi kalian tidak membawa oleh-oleh. Karena itu, seperti yang aku katakan, kalian tidak boleh mempergunakan Pakiwan. Dan aku pun tidak mau mengatakan siapakah tamu yang mencari kalian hari ini meskipun mungkin akan mendatangkan keuntungan bagi kalian.”

“Ah,” desah Mahisa Murti, “sayang sekali kami telah melupakannya. Tetapi ada sesuatu yang menarik bagimu meskipun bukan oleh-oleh.”

“Apa?” bertanya penjaga banjar itu.

“Kau dapat menukarkannya dengan oleh-oleh. Bahkan kau akan sempat memilih bagi kesenangan anak-anakmu,” berkata Mahisa Murti kemudian.

“Apa itu?” desak penjaga banjar itu.

“Tetapi, siapakah tamu yang mencari kami?” bertanya Mahisa Murti tiba-tiba.

“Ah. Kau belum memberikan apapun juga kepadaku sebagai pengganti oleh-oleh.” gumam penunggu banjar itu.

Mahisa Murti tertawa. Diambilnya beberapa keping uang sambil berkata, “Selama aku berada di banjar ini, belum ada seorang pun yang membeli barang-barangku. Tetapi aku harus sudah mengeluarkan uang untukmu.”

“Seseorang yang mengail harus lebih dahulu menyediakan umpan,” jawab penunggu banjar itu, “semakin besar ikan yang ingin ditangkap semakin besar umpan yang harus disediakan.”

“Luar biasa,” desis Mahisa Murti sambil tertawa.

Mahisa Pukat dan Mahisa Ura pun tertawa juga. “Kau benar-benar seorang yang pantas dihormati. Tetapi siapakah yang telah mencari kami.”

“Aku tidak akan mengatakannya,” jawab penunggu banjar itu.

Mahisa Murti menimang beberapa keping uang ditangannya sambil bertanya, “Siapakah yang mencari kami?”

Penjaga banjar itu mengamati uang di tangan Mahisa Murti itu sambil menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu Mahisa Murti telah membuka kantong ikat pinggangnya yang besar sambil berdesis, “Baiklah, jika kau tidak mau mengatakannya, oleh-oleh ini akan aku simpan lagi.”

“Tunggu,” minta penunggu banjar itu, “jangan kau simpan lagi. Aku akan mengatakannya jika yang itu kau berikan kepadaku sebagai pengganti oleh-oleh.”

Mahisa Murti tersenyum. Diacungkannya tangannya. Tetapi ketika orang itu siap menerimanya, Mahisa Murti tidak segera melepaskan uang itu. Tetapi sekali lagi ia bertanya, “Siapa yang datang kemari?”

“Berikan uang itu,” bentak penunggu banjar.

Mahisa Murti tersenyum. Katanya, “Jangan membentak. Tetapi jawab pertanyaanku, siapa yang mencari aku? Orang padukuhan ini yang ingin membeli batu-batu berharga atau batu akik atau wesi aji?”

Karena Mahisa Murti belum juga melepaskan uangnya, maka orang itu pun kemudian menyerah dan menjawab, “Yang mencari kalian adalah seorang pembeli yang mempunyai banyak sekali uang.”

“Ya, siapa?” Mahisa Murti pun menjadi tidak sabar.

Orang itu terdiam sejenak, lalu katanya, “Ki Jagabaya dari padukuhan di ujung lain dari Kabuyutan ini.”

“O,” Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Ia sudah menduga bahwa pada suatu saat Ki Jagabaya itu akan mencarinya.

“Tetapi apakah ia akan membeli sesuatu itulah yang meragukan,” desis Mahisa Murti, “Ki Jagabaya tidak akan membeli apapun juga.”

“Ah kau,” sahut penunggu banjar itu, “Ki Jagabaya adalah orang yang sangat kaya,” orang itu terdiam sejenak, lalu tiba-tiba, “he, manakah uang itu?”

Mahisa Murti tersenyum. Tetapi ia belum melepas uang itu, “Apakah benar Ki Jagabaya itu kaya raya?”

“Berikan uang itu,” geram penunggu banjar itu.

“Kau belum menjawab pertanyaanku,” berkata Mahisa Murti.

“Ya,” penunggu banjar itu hampir berteriak, “ia adalah orang yang kaya raya.”

Mahisa Murti tertawa. Katanya, “Jangan marah. Inilah oleh-oleh yang aku janjikan itu.”

Mahisa Murti pun kemudian memberikan beberapa keping uang kepada penunggu banjar itu. Namun ia pun masih bertanya, “Darimana kau tahu bahwa Ki Jagabaya itu kaya raya, sedangkan tetangga-tetangganya tidak pernah mengatakannya demikian.”

“Huh,” penunggu banjar itu mencibirkan bibirnya, “ia memang pintar berpura-pura. Ia membuat dirinya sebagai seorang yang tidak lebih dari orang kebanyakan. Tetapi ia menyimpan banyak harta benda di tempat lain. Di padukuhan ini terdapat seorang dari isteri-siterinya. Dengan susah payah ia merahasiakan isterinya itu dari isteri tuanya, karena Ki Jagabaya takut dicekik oleh mertuanya jika rahasianya itu terbuka.”

“O, dan Ki Jagabaya bertahan sampai saat ini sehingga rahasianya tidak diketahui oleh mertuanya?” bertanya Mahisa Murti.

“Orang-orang padukuhan ini tidak sampai hati memberitahukan rahasia itu meskipun ada beberapa orang yang mengetahuinya. Dengan demikian akan dapat timbul persoalan-persoalan yang dapat mengganggu ketenangan padukuhan-padukuhan di Kabuyutan ini. Jika demikian Ki Buyut akan dapat menjadi marah sekali dan mengambil langkah-langkah yang mengejutkan, karena kami sudah memahami sifat dan tabiat Ki Buyut itu.”

Mahisa Murti mengerutkan keningnya. Ketika ia memandang wajah Mahisa Pukat dan Mahisa Ura memang timbul kesan yang agak aneh.

“Baiklah,” berkata Mahisa Murti kemudian, “aku mengucapkan terima kasih atas keteranganmu. Nah, kau sekarang dapat membeli oleh-oleh menurut kesukaanmu sendiri.”

Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Aku akan pergi melihat adu gemak.”

“Ah,” desis Mahisa Murti, “apakah uang itu akan kau pergunakan untuk bertaruh?”

“Apa salahnya? Uang ini adalah uangku sendiri,” jawab penunggu banjar itu.

Mahisa Murti mengangguk-angguk. Katanya, “Uang itu memang uangmu sendiri. Tetapi untuk selanjutnya aku tidak akan memberimu uang lagi.”

“Kenapa?” bertanya penunggu banjar itu, “jika kau tidak mau memberi uang lagi, maka kalian tidak akan dapat mempergunakan pakiwan.”

“Itu satu pemerasan. Aku akan melaporkan kepada Ki Bekel,” jawab Mahisa Murti dengan sungguh-sungguh.

Wajah orang itu pun menjadi tegang. Dengan serta merta ia pun kemudian berkata, “Jangan. Jangan kau laporkan kepada Ki Bekel. Aku tidak bersungguh-sungguh.”

Mahisa Murti pun kemudian tersenyum. Katanya, “Jika kau tidak bertaruh, mungkin aku akan memberikan uang lagi. Bukankah uang itu lebih baik kau pergunakan untuk membelikan makanan anak-anakmu.”

Orang itu mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Aku tidak akan bertaruh.”

Sementara orang itu kemudian meninggalkan ketiga orang itu, maka Mahisa Murti pun berkata, “Bagaimana tanggapanmu terhadap Ki Jagabaya.”

Mahisa Pukat tiba-tiba saja tertawa kecut sambil berkata, “Agaknya dugaan kita keliru. Ki Jagabaya tidak berpijak kepada persoalan-persoalan yang sedang kita hadapi. Tetapi ia sekedar ketakutan jika rahasia tentang dirinya itu kita dengar di sini.”

Mahisa Ura pun tersenyum. Katanya, “Kitalah yang melihatnya terlalu besar kepada persoalan yang terlalu khusus pada Ki Jagabaya.”

“Baiklah. Aku kira Ki Jagabaya masih akan kembali kemari,” berkata Mahisa Murti. “Sebaiknya kita beristirahat barang sebentar.”

Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura itu pun kemudian telah membersihkan dirinya di pakiwan. Mereka pun kemudian duduk di serambi banjar. Pada kesempatan itu, maka Mahisa Ura pun berkata, “Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, aku ingin menyatakan sebuah pikiran. Jangan dianggap bahwa aku tersinggung oleh sikap kalian dan aku tidak akan melibatkan diri pada persoalan-persoalan yang sedang kita hadapi bersama. Tetapi aku ingin menyatakan dengan jujur, bahwa aku akan dapat menjadi penghambat langkah-langkah kalian.”

Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Tetapi batu hijau itu sama sekali bukan tujuan perjalanan kita. Karena itu maka kita akan dapat menundanya. Yang penting, kita akan pergi ke sebuah padepokan dari orang-orang bertongkat itu.”

Namun tiba-tiba saja Mahisa Pukat memotong, “He, bukankah orang yang kita jumpai tadi juga bertongkat? Di ujung tongkat terdapat sebuah batu hijau dalam genggaman kuku-kuku yang kuat. Apakah dengan demikian berarti bahwa ada hubungan antara batu hijau itu dengan tongkat-tongkat para penghuni padepokan yang agaknya sudah tidak terlalu jauh lagi.”

Mahisa Murti mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Orang yang kita jumpai itu pun bertongkat. Aku tidak tahu, apakah tongkat itu memiliki arti dan nilai yang serupa dengan tongkat-tongkat dari orang-orang yang telah tertangkap di Kediri itu.”

“Agaknya kita akan dapat berhubungan dengan orang bertongkat yang tadi kita jumpai jika kita mendekati lagi batu hijau itu,” berkata Mahisa Pukat.

“Ada dua kemungkinan,” berkata Mahisa Murti, “kita mendekati batu itu lagi, atau kita akan pergi ke padepokan orang-orang bertongkat itu.”

Mahisa Pukat dan Mahisa Ura termangu-mangu sejenak. Namun kemudian Mahisa Pukat pun berkata, “Jika orang bertongkat yang kita jumpai itu adalah salah seorang di antara penghuni padepokan yang kita cari, maka kita tentu sudah dikenalnya, sehingga orang itu tentu akan dapat bertindak lebih dahulu atas kita. Orang itu serba sedikit telah mengetahui kemampuan kita, karena kita sudah menjawab kekuatan getar suaranya dengan kekuatan yang sama atau yang mirip dengan kekuatan itu.”

Mahisa Murti mengangguk-angguk. Katanya, “Hal itu memang harus dipertimbangkan. Mungkin kita akan menjumpai satu sambutan yang sangat menyakitkan hati.”

“Karena itu, maka kalian dapat menyelesaikan orang yang kita jumpai di sekitar batu hijau itu,” berkata Mahisa Ura, “besok aku akan berada di banjar ini. Pergilah kalian ke batu hijau itu. Dengan demikian maka kalian tidak perlu memikirkan aku lagi. Kalian akan dapat berbuat sesuai dengan keadaan yang kalian hadapi. Beruntunglah kalian jika kebetulan bertongkat itu ada hubungannya dengan padepokan yang hendak kita datangi.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat saling berpandangan sejenak. Dengan nada berat Mahisa Murti berkata, “Apakah kau tidak ingin menyaksikan apa yang terjadi?”

“Tetapi itu akan mengganggu pemusatan kemampuan kalian menghadapi orang itu, karena kalian masih harus melindungi aku,” jawab Mahisa Ura.

“Sebenarnya kau akan dapat melindungi dirimu sendiri,” berkata Mahisa Pukat, “kau akan dapat berusaha untuk membangunkan daya tahan dengan kekuatan ilmu yang ada padamu.”

Mahisa Ura menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian sambil menggeleng ia berkata, “Tidak ada waktu lagi untuk mempelajarinya. Aku tahu bahwa kau ingin memberikan petunjuk kepadaku, bagaimana aku harus melakukannya. Tetapi dengan demikian maka segalanya akan terhambat sementara belum tentu bahwa aku akan dapat melakukan sesuatu sebagaimana kalian kehendaki. Karena itu, maka biarlah aku tinggal di banjar ini. Agaknya aku memang tidak kalian perlukan dalam tugas ini. Dalam langkah-langkah yang lain, aku akan tetap menyertai kalian.”

Mahisa Pukat dan Mahisa Murti saling berpandangan sejenak. Namun kemudian Mahisa Murti pun berkata, “Baiklah. Kau dapat tinggal di banjar ini. Jika pada satu saat aku pergi ke gumuk itu dan tidak kembali, maka tolong sampaikan hal itu kepada kakang Mahisa Bungalan di Singasari. Dan biarlah kakang Mahisa Bungalan melaporkannya ke Kediri.”

“Ah, jangan berkata begitu,” sahut Mahisa Ura, “aku yakin bahwa kalian akan dapat menyelesaikan tugas kalian dengan sebaik-baiknya.”

Demikianlah, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah memutuskan untuk kembali ke gumuk kecil itu. Mereka harus bertemu dengan orang yang telah menyerangnya lewat getaran suaranya. Menurut dugaan mereka, maka orang tua yang membawa tongkat itulah agaknya yang telah menyerang mereka dengan kekuatan ilmunya lewat getaran suaranya.

Ketika malam kemudian menyelimuti padukuhan itu, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah membenahi diri lahir dan batin. Ditunggui oleh Mahisa Ura keduanya berusaha untuk menggali semua kemampuan di dalam diri mereka. Baik yang telah mereka terima dari ayahnya, maupun yang telah mereka warisi dari Pangeran Singa Narpada. Dengan landasan ilmu-ilmu itu, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat benar-benar telah menjadi anak muda yang jarang ada bandingannya.

Lewat tengah malam barulah keduanya selesai dengan samadi mereka. Karena itu, mereka pun mulai dengan menyiapkan senjata mereka yang paling menakutkan lawan. Pisau-pisau kecil yang jumlahnya cukup banyak, yang kemudian diselimutkan pada sarung-sarungnya yang terdapat melingkar di ikat pinggang.

Sentuhan pisau-pisau kecil itu akan dapat berakibat sangat buruk bagi lawan-lawannya, karena pisau-pisau itu adalah pisau yang sangat beracun.

Di samping pisau-pisau kecil itu, maka keduanya telah membawa sepasang pisau belati yang agak panjang, sehingga dengan sepasang pisau belati itu, keduanya akan mampu melawan segala jenis senjata dalam ujud kewadagan. Namun apabila keduanya harus melayani senjata yang tidak kasat mata, maka keduanya telah siap sepenuhnya.

Ketika semuanya sudah dipersiapkan, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat itu pun menyempatkan diri untuk beristirahat sepenuhnya. Mereka pun kemudian berbaring dan mencoba untuk tidur dengan nyenyak.

Yang ternyata tidak dapat segera tertidur adalah justru Mahisa Ura. Kecuali merenungi dirinya sendiri, ia pun menjadi gelisah karena Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang muda itu akan memasuki suatu arena yang mungkin akan berhadapan dengan orang yang sudah sangat berpengalaman. Bahkan menurut dugaan Mahisa Ura, orang yang telah menyerang mereka dengan getar suaranya itu tidak sendiri. Orang-orang yang bertutup wajah, bahwa orang-orang yang mengaku akan mencari daun pandan berduri sungsang, tentu kawan-kawan orang yang bertongkat itu.

Sampai saatnya Mahisa Murti dan Mahisa Pukat bangun di dini hari, Mahisa Ura benar-benar tidak tidur barang sekejapun.

Sambil tersenyum Mahisa Murti pun kemudian berkata, “Sudahlah. Jangan terlalu risau.”

“Kalian akan menghadapi lawan yang berat,” berkata Mahisa Ura, “orang itu tentu tidak sendiri.”

“Kami sudah memperhitungkannya. Tentu jumlah mereka tidak akan lebih banyak dari jumlah pisau-pisau kami,” jawab Mahisa Pukat.

Mahisa Ura menarik nafas dalam-dalam. Memang hatinya digelitik untuk ikut bersama kedua orang itu. Tetapi dengan demikian ia mungkin akan dapat menjadi beban. Mungkin salah seorang dari kedua orang anak muda itu akan lebih banyak memperhatikannya sehingga ia akan tidak dapat memusatkan nalar budi serta ilmunya untuk menghadapi lawannya.

Karena itu, Mahisa Ura tetap pada sikapnya. Ia tidak akan pergi bersama kedua orang anak muda itu.

“Mudah-mudahan mereka tidak salah mengerti. Mudah-mudahan mereka tidak menganggap bahwa aku adalah pengecut yang tidak berani memasuki arena perjuangan yang sangat berat,” berkata Mahisa Ura didalam hatinya.

Namun, sebenarnyalah bahwa Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengerti sepenuhnya bahwa Mahisa Ura telah merasa dirinya terlalu kecil. Bukan karena ketakutan.

Karena itu, maka keduanya sama sekali tidak memaksa agar Mahisa Ura ikut bersama mereka.

Ketika matahari mulai memanjat langit, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun minta diri. Mereka akan mulai dengan perjalanan mereka yang berbahaya.

Tetapi mereka telah bertemu lagi dengan penunggu banjar itu di regol. Sekali lagi penunggu banjar itu berkata, “Jika kau pergi, maka kau harus membawa oleh-oleh. Baik juga seperti yang kemarin kau lakukan.”

Mahisa Murti tersenyum. Katanya, “Kau jangan memeras kami he?”

Penunggu banjar itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia pun tersenyum sambil berkata, “Aku main-main. Jangan kau laporkan kepada Ki Bekel.”

“Jadi kau tidak bersungguh-sungguh?” bertanya Mahisa Murti.

“Tidak. Tetapi jika kau memang ingin memberi, aku juga tidak berkeberatan,” jawab orang itu.

Mahisa Murti tertawa. Tetapi ia tidak menjawab.

Tetapi penunggu banjar itulah yang kemudian bertanya, “Apa yang harus aku katakan, jika Ki Jagabaya itu datang lagi?”

“Kakang Mahisa Ura ada di banjar,” jawab Mahisa Murti.

“O,” penunggu banjar itu mengangguk-angguk.

Demikianlah maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat itu pun meninggalkan banjar. Mereka akan mengulangi perjalanan mereka kemarin, menuju ke gumuk kecil tempat batu hijau itu mereka ketemukan.

Bagi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sama sekali tidak menemui kesulitan untuk menemukan kembali batu hijau yang berada di gumuk kecil itu.

“Marilah, kita akan melihat,” berkata Mahisa Murti, “kita tidak perlu menunggu, apakah orang itu ada di sekitar tempat ini atau tidak.”

Mahisa Pukat mengangguk. Katanya, “Marilah. Jika mereka tidak ada ditempat ini, maka satu kesempatan bagi kita untuk mengetahui apakah batu itu batu berharga atau bukan. Jika mungkin ada pecahan-pecahan kecil dari batu itu, akan dapat kita bawa untuk kita pelajari.”

“Seandainya ada pecahan-pecahan batu itu, tetapi kitalah yang tidak sempat keluar dari gumuk itu?” bertanya Mahisa Murti.

“Kepala kita akan diletakkan di dekat batu hijau itu,” jawab Mahisa Pukat.

Mahisa Murti tertawa. Mahisa Pukat pun kemudian tertawa juga.

Dengan langkah tetap keduanya telah mendekati gumuk kecil itu dan bahkan keduanya telah naik pula. Namun dalam pada itu Mahisa Murti sempat mengingatkan, “Di gumuk itu memang terdapat beberapa ekor ular yang berbisa.”

Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Katanya, “Meskipun ular itu tidak berbahaya bagi kami, tetapi jika ular-ular itu menggigit maka perjalanan kita memang akan terhambat. Setidak-tidaknya kita harus melepaskan gigitan ular itu.”

Mahisa Murti mengangguk kecil. Katanya, “Karena itu, kita memang harus berhati-hati.”

Demikianlah maka keduanya pun melangkah semakin mendekati batu yang berwarna kehijauan itu. Sementara itu, mereka pun telah bersiap untuk mempertahankan diri jika tiba-tiba mereka mendapat serangan dengan getar suara.

Setiap langkah, rasa-rasanya telah meningkatkan ketegangan di hati kedua anak muda itu. Meskipun mereka menjadi semakin dekat, ternyata mereka belum mendapat serangan sebagaimana mereka perhitungkan.

Namun demikian, ketika keduanya semakin dekat dengan batu hijau itu Mahisa Murti memperingatkan, “Mungkin mereka akan mempergunakan cara lain.”

Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Ia pun menduga bahwa ada sesuatu yang akan terjadi. Bukan sekedar getaran suara yang dilontarkan dari tempat yang tersembunyi, karena ternyata usaha yang demikian akan sia-sia saja.

Untuk beberapa saat Mahisa Murti dan Mahisa Pukat justru termangu-mangu. Namun kemudian keduanya pun melanjutkan langkah mereka mendekati batu hijau itu.

Tetapi belum lagi mereka menggapai dan meraba batu yang berwarna kehijauan itu, maka mereka telah dikejutkan oleh satu ledakan yang bagaikan mencuat dari dalam bumi. Segumpal api tersembul dari bawah rerumputan dan batang ilalang yang kering. Kemudian dengan cepat api itu menjalar di sekelilingnya.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat memang terkejut. Tetapi sebelum mereka menyadari apa yang terjadi, api itu dengan cepat telah menjalar melingkari batu berwarna hijau itu.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak dapat berbuat lain. Mereka harus berbuat sesuatu karena api pun kemudian telah mengepung mereka.

Untuk beberapa saat Mahisa Murti dan Mahisa Pukat justru termangu-mangu. Mereka berusaha untuk mengerti apa yang tengah terjadi.

“Kita terjebak kedalam perangkap api,” berkata Mahisa Murti.

“Api ini telah mengepung kita. Demikian cepat sehingga kita tidak dapat menghindarinya,” sahut Mahisa Pukat.

Mahisa Murti pun kemudian berdesis, “Kita amati watak api yang mengepung kita. Nampaknya api ini bukan api yang sewajarnya.”

Mahisa Pukat mengangguk-angguk, ia pun yakin bahwa api yang mereka hadapi adalah salah satu kekuatan ilmu dari orang-orang yang tidak mereka kenal.

Untuk beberapa saat Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih menunggu. Api itu pun semakin lama menjadi semakin besar melingkari kedua orang anak muda itu. Bahkan api itu pun telah merambat semakin lama menjadi semakin menebar, sehingga lingkaran pun justru menjadi semakin sempit.

Bersambung......!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...