Sabtu, 02 Januari 2021

HIJAUNYA LEMBAH HIJAUNYA LERENG PEGUNUNGAN JILID 029-04

*HIJAUNYA LEMBAH.  JILID 029-04*

“Batu?” Ki Bekel bertanya, “batu permata memang mempunyai nilai yang tinggi untuk diperjual belikan. Tetapi batu akik adalah permainan orang-orang yang khusus karena sulit untuk memberi penilaian atas kegunaannya.”

“Kami juga membawa batu permata,” berkata Mahisa Ura, “jika Ki Bekel ingin melihat, kami dapat menunjukkannya.”

“Ah,” berkata Ki Bekel, “aku bukan seorang Bekel yang kaya. Memang ada niat untuk membeli batu permata. Tetapi aku sekarang tidak mempunyai uang untuk itu. Tetapi entahlah orang-orang lain dari padukuhan ini. Tetapi menurut penilaianku, orang-orang dari padukuhan ini bukan orang-orang kaya. Meskipun demikian aku tidak tahu jika ada di antara mereka yang telah menabung, sehingga jika Ki Sanak akan mencoba aku tidak berkeberatan memberikan kesempatan kepada Ki Sanak menginap barang satu dua malam di banjar.”

“Terima kasih Ki Bekel,” jawab Mahisa Ura, “aku dan kedua adik kami mengucapkan terima kasih atas kesempatan ini. Mudah-mudahan kami mendapat kesempatan untuk dapat melayani kebutuhan penghuni padukuhan ini.”

Ki Bekel pun kemudian memanggil seorang pembantunya dan berkata, “Bawa ketiga orang ini ke banjar. Mereka minta ijin untuk bermalam. Beritahukan kepada orang-orang padukuhan ini, bahwa jika mereka memerlukan wesi aji, batu permata dan batu akik, maka mereka dapat berhubungan dengan ketiga orang yang bermalam di banjar ini.”

Mahisa Ura, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun kemudian minta diri. Diantar oleh pembantu Ki Bekel, mereka bertiga pergi banjar padukuhan.

“Ki Bekel masih sangat muda,” berkata Mahis Ura kepada orang yang mengantarkannya.

“Ya.” jawab orang itu, “Ki Bekel yang sekarang belum lama menggantikan Ki Bekel yang terdahulu.”

“Ooo,” Mahisa Ura mengangguk-angguk, “bagaimana dengan Ki Bekel yang dahulu?”

“Ki Bekel telah meninggal,” jawab pembantu itu, “Ki Bekel yang sekarang adalah menantunya, karena Ki Bekel tidak mempunyai anak laki-laki.”

Mahisa Ura mengangguk-angguk. Katanya, “Agaknya anak muda ini memang pantas menjadi seorang Bekel. Nampaknya ia cerdas dan tangkas.”

Pembantunya itu mengiakannya. Katanya, “Ya. Ki Bekel yang sekarang memang lebih trampil dari Ki Bekel yang terdahulu. Ki Bekel yang terdahulu adalah orang yang sederhana dan lugu. Ia tidak banyak berbuat sesuatu selain melakukan apa yang selalu dilakukan oleh para Bekel sebelumnya. Tetapi Ki Bekel yang sekarang telah melakukan hal-hal yang terasa baru dan segar meskipun ia selalu memanggil orang-orang tua untuk diajak berbicara.”

Mahisa Ura masih mengangguk-angguk. Dengan nada datar ia menyahut, “Mudah-mudahan ia berhasil dalam tugasnya.”

Pembantu Ki Bekel itu tidak menjawab. Mereka berjalan saja menyusuri jalan padukuhan. Ketika seorang muncul dari regol halaman rumahnya, maka pembantu Ki Bekel itu berkata, “Mereka adalah saudagar permata dan wesi aji. Mereka akan berada di banjar untuk satu dua malam. Nah, apakah kau memerlukan wesi aji atau permata?”

“Ah,” Mahisa Ura menyela, “kami bukan saudagar. Kami hanya pedagang yang tidak berarti. Kami akan mencoba melayani kebutuhan beberapa jenis batu. Bukan hanya permata, tetapi juga jenis batu akik yang ujudnya menarik tetapi harganya sangat murah. Bahkan jika sesuai, akan dapat memberikan pengaruh bagi pemakainya.”

Orang itu mengangguk-angguk. Namun katanya, “Menarik sekali. Tetapi sayang, aku tidak mempunyai simpanan uang untuk membelinya.”

Pembantu Ki Bekel itu tersenyum. Katanya, “Mulailah menabung sedikit demi sedikit. Pada saatnya kau akan dapat membeli jenis bebatuan atau wesi aji.”

Orang itu tersenyum. Jawabnya, “Kita sama-sama tahu, apakah kita mungkin akan dapat menabung.”

“Ya,” pembantu Ki Bekel itu mengangguk-angguk. Tetapi kemudian katanya, “Namun di padukuhan ini aku kira ada juga satu dua orang yang akan membelinya.”

“Mungkin,” jawab orang itu, “Mudah-mudahan barang dagangan kalian akan dapat laku di sini.”

“Mudah-mudahan,” berkata Mahisa Ura, “tetapi seandainya tidak seorang pun yang membeli barang-barangku, kita pun tidak apa apa. Satu keuntungan sudah aku dapatkan. Mempunyai sahabat-sahabat baru di padukuhan ini.”

“Ya,” pembantu Ki Bekel itu menyahut, sementara orang yang keluar regol itu pun mengangguk-angguk pula.

Demikianlah, maka sejak dari itu Mahisa Ura dan kedua orang yang diakunya sebagai adiknya itu telah berada di banjar padukuhan di ujung Kabuyutan, yang justru menjadi tempat yang disebut sangat berbahaya oleh Ki Jagabaya di padukuhan yang baru saja mereka tinggalkan. Di tempat itu Mahisa Ura mengharap akan dapat mengetahui keadaan di sekitarnya lebih cermat lagi.

Namun setelah mereka berada di padukuhan itu, sama sekali tidak ada tanda-tanda sebagaimana dikatakan oleh Ki Jagabaya. Penghuni padukuhan itu nampaknya tidak merasakan tekanan ketakutan sama sekali. Jalan-jalan disekitar padukuhan itu pun nampaknya tidak menjadi sepi. Orang lewat pun nampaknya seperti juga jalan-jalan di padukuhan-padukuhan yang lain. Bahkan jalan-jalan di bulak panjang pun dilewati orang yang pergi dan pulang dari pasar.

Dengan demikian maka pertanyaan pun semakin mendesak di hati Mahisa Ura, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Apakah maksud Ki Jagabaya memberikan peringatan kepada mereka untuk tidak pergi ke daerah Utara itu.

Di hari kedua setelah mereka bertiga berada di banjar padukuhan di ujung Kabuyutan itu, maka mereka bertiga pun telah minta diri kepada penjaga banjar untuk melihat-lihat keadaan disekitar padukuhan itu.

“Kapankah kalian akan kembali?” bertanya penunggu bajar itu.

“Siang nanti,” jawab Mahisa Ura.

“Jadi apa jawabku jika ada orang yang menanyakan kalian untuk melihat wesi aji atau batu akik?” bertanya penjaga banjar itu pula.

“Sore nanti aku ada di banjar. Pagi ini aku ingin mencari kemungkinan pemasaran di padukuhan-padukuhan lain,” jawab Mahisa Ura.

Penjaga banjar itu tidak bertanya lagi. Tetapi ia pun berpesan, “Jangan kembali terlalu malam.”

“Kenapa?” bertanya Mahisa Ura curiga.

“Tidak apa-apa. Jika kalian datang terlalu malam, maka aku tidak akan dapat menunggu oleh-oleh yang mungkin kau bawa,” jawab penjaga itu.

Mahisa Ura dan kedua orang yang diakuinya sebagai adiknya itu menarik nafas dalam-dalam. Bahkan dengan nada rendah Mahisa Ura berdesis, “Aku kira ada sesuatu yang sejalan dengan peringatan Ki Jagabaya.”

“Peringatan apa?” bertanya penjaga banjar itu.

“Tidak apa-apa,” jawab Mahisa Ura.

Penjaga itu termangu-mangu. Namun kemudian justru Mahisa Pukatlah yang bertanya, “Jangan tidur jika kami belum datang. Kami akan membawa oleh-oleh bagimu.”

Penjaga banjar itu tersenyum. Katanya, “aku menunggu. Tetapi jika kalian tidak membawa apa-apa, kalian tidak boleh mempergunakan pekiwan.”

“Baik,” jawab Mahisa Pukat, “kami akan membawa oleh-oleh yang tentu kau sukai.”

Penjaga banjar itu tertawa. Tetapi ia tidak menjawab lagi.

Demikian, maka Mahisa Ura, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat itu pun telah meninggalkan padukuhan itu. Mereka menyusuri jalan menuju ke arah Utara. Dengan demikian maka mereka telah memasuki Kabuyutan tetangga.

Tetapi karena ketiga orang itu tidak menunjukkan.sijkap maupun pakaian yang menarik perhatian, maka tidak;ada orangang memperhatikan mereka secara khusus.

Namun dalam pada itu, Mahisa Ura, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat merasa perlu untuk selalu berhati-hati karena ketika mereka datang ke Kabuyutan itu, dan ketika mereka berpindah dari padukuhan yang satu ke padukuhan di ujung Kabuyutan itu telah diikuti oleh mungkin seorang, mungkin lebih.

Sementara itu, Mahisa Ura mulai memperhatikan tanda-tanda dari lingkungan yang mereka lewati. Ketika mereka mendekati sebuah hutan yang dipisahkan dari sebuah padang rumput dan kemudian padang perdu dari daerah padukuhan dan pategalan, maka Mahisa Ura merasakan dengan ketajaman penggraitannya, bahwa ia pernah melewati tempat itu.

“Kita melingkari ujung hutan itu,” berkata Mahisa Ura.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun mengangguk. Mereka mulai yakin bahwa Mahisa Ura telah menemukan sesuatu yang dapat dipergunakannya sebagai petunjuk.

Demikianlah mereka bertiga berjalan meninggalkan jalan yang menghubungkan padukuhan yang satu dengan padukuhan yang lain.Mereka telah mengikuti sebuah jalan yang lebih kecil. Namun mereka pun telah memilih jalan yang lebih kecil lagi, bukan yang menuju ke pategalan, tetapi menuju ke pinggir hutan.

Tidak banyak orang yang pergi ke hutan. Hanya mereka yang mempunyai kepentingan yangsangat mendesak. Beberapa orang memang pergi kehutan untuk mendapatkan jenis dedaunan yang dapat dipergunakannya sebagai obat, atau jenis kayu yang khusus yang diketahui berada di hutan itu. Itu pun dilakukan oleh beberapa orang yang akan dapat melawan jika mereka diserang oleh binatang buas yang ada di hutan itu. Tetapi di padukuhan yangterakhir ketiga orang itu sama sekali tidak pernah mendengar ada bahaya lain yang dapat mengancam orang-orang yang datang kehutan itu kecuali binatang buas.

Ketika mereka sudah berada disisi lain dari hutan itu, maka tiba-tiba saja Mahisa Ura tertegun. Sejenak ia memandang ke arah sesuatu.

“Apa yang menarik perhatianmu?” bertanya Mahisa Murti.

Mahisa Ura memandang ke arah sebuah gumuk kecil. Dengan suara bergetar ia berkata, “Sebuah batu besar diatas gumuk kecil itu. Kau lihat batu itu berwarna hijau?”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Hampir diluar sadarnya Mahisa Murti berdesis, “Sejenis batu akik raksasa.”

Mahisa Pukat pun mengangguk-angguk, “Menarik sekali. Kenapa tidak seorang pun yang mengambilnya?”

Mahisa Ura menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “Aku pernah melihatnya, tetapi tentu dari sisi yang lain. Bentuknya agak berbeda dan latar belakang penglihatanku pun berbeda.”

“Kita lingkari batu itu,” berkata Mahisa Murti, “kemudian kita akan mendekat dan melihat, apakah benar batu itu sejenis batu berharga yang cukup keras atau bukan?”

Ketiga orang itu pun kemudian berjalan melingkari batu yang dari jauh nampaknya ke hijau-hijauan itu. Bahkan dicahaya matahari nampak berkilat dalam warna yang kadang-kadang nampak gelap, tetapi kadang-kadang nampak sedikit cerah.

Dengan mengungkapkan seluruh ingatannya Mahisa Ura mencoba mengenang apa yang pernah dilihatnya, sehingga tiba-tiba saja ia berhenti. “Di sini. Aku pernah berdiri di sini.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada datar Mahisa Murti bergumam, “Akhirnya kau ingat kembali apa yang pernah kau lupakan itu.”

Mahisa Ura mengangguk-angguk. Katanya, “Aku telah menemukan kembali ingatanku. Aku tentu akan dapat membawa kalian menuju ke pintu gerbang perguruan yang kau cari itu.”

“Ya,” Mahisa Murti mengangguk-angguk, “kita akan membicarakan cara yang paling baik untuk melakukan sesuatu atas perguruan itu.”

“Sementara kita belum menentukan sikap, maka sebaiknya kita melihat-lihat batu yang aneh itu. Memang sangat menarik bahwa batu itu masih tetap berada disitu,” berkata Mahisa Pukat.

“Aku tidak berkeberatan,” berkata Mahisa Ura, “tetapi untuk sementara batu itu jangan dipindahkan atau jangan dirubah letaknya. Aku masih memerlukannya untuk selalu mengingat lingkungan ini sebagaimana pernah aku lihat.”

“Baiklah,” berkata Mahisa Pukat, “mungkin kita memerlukan batu itu, tetapi mungkin juga tidak. Tetapi seandainya kita ingin mengambilnya, apakah tidak ada orang, atau padukuhan atau Kabuyutan yang akan merasa kehilangan?”

“Kita pun perlu berbicara dengan orang-orang Kabuyutan sebelah menyebelah. Mungkin seorang, atau satu lingkungan, memang merasa memilikinya. Jika demikian, maka kita harus menempuh jalan yang wajar sehingga tidak akan timbul persoalan di kemudian hari dengan orang atau lingkungan yang merasa berhak,” berkata Mahisa Ura.

Namun dalam pada itu, tiba-tiba saja Mahisa Murti berkata, “Apakah mungkin peringatan Ki Jagabaya ada hubungannya dengan batu itu?”

“Mungkin,” jawab Mahisa Ura, “ia mencurigai setiap orang asing yang memasuki Kabuyutan ini. Apalagi setelah Ki Jagabaya itu mendengar bahwa kita adalah pedagang batu akik.”

“Tetapi satu atau dua orang telah mengawasi saat itu kita memasuki Kabuyutan ini,” berkata Mahisa Pukat, “sejak Ki Jagabaya belum mengetahui bahwa kita adalah pedagang jenis batu-batuan.”

“Mungkin yang mengawasi kita waktu itu orang-orang Ki Jagabaya tetapi mungkin juga orang lain,” jawab Mahisa Murti, “Mungkin sekelompok orang tidak menyukai orang-orang baru yang memasuki lingkungan Kabuyutan ini.”

Mahisa Ura menganggpk-angguk. Jawabnya, “Memang mungkin. Karena itu, jika kita ingin mendekati batu itu, kita harus berhati-hati. Mungkin tidak akan terjadi sesuatu. Tetapi mungkin seperti yang kau katakan, ada pihak-pihak yang sedang mengamati kita. Mereka adalah orang-orang yang merasa berkepentingan dengan batu itu.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Dengan nada datar Mahisa Murti berkata, “Tidak ada salahnya untuk selalu berhati-hati.”

Mahisa Ura masih ingin menyahut. Namun mereka tertegun ketika mereka melihat beberapa orang yang muncul di kejauhan.

“Kau lihat, sekelompok orang datang mendekati kita,” berkata Mahisa Ura.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Memang ada semacam kecurigaan bahwa orang-orang itu datang dalam hubungannya dengan rencana mereka melihat batu berwarna hijau itu.

Namun orang-orang yang datang itu mengenakan pakaian yang sangat sederhana dan sama sekali tidak membawa senjata.

Ketika mereka menjadi semakin dekat, maka seorang di antara mereka mendekati Mahisa Ura sambil bertanya, “Ki Sanak. Apa yang kalian lakukan di sini?”

“Tidak apa-apa,” jawab Mahisa Ura, “kami hanya melihat-lihat. Tetapi Ki Sanak ini akan pergi ke mana?”

“Kami akan pergi ke hutan,” jawab orang itu, “seorang keluarga kami sakit. Kami harus mencari sehelai daun pandan eri sungsang.”

“Pandan eri sungsang,” desis Mahisa Ura, “apakah mungkin akan kalian dapatkan di hutan itu?”

“Tentu,” jawab orang itu, “kami sudah pernah mengambilnya sebulan yang lalu, ketika seseorang menderita sakit serupa.”

Mahisa Ura mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Silahkan Ki Sanak. Mudah-mudahan yang sakit itu lekas sembuh.”

“Terima kasih,” jawab orang itu. Tetapi orang itu tiba-tiba saja telah bertanya lagi, “Apakah Ki Sanak tertarik kepada batu hijau itu?”

Mahisa Ura termangu-mangu. Namun katanya, “Batu itu memang agak lain dengan batu kebanyakan. Kebetulan saja kami melihatnya ketika kami berjalan-jalan sekarang ini.”

“Nampaknya Ki Sanak bukan orang padukuhan di dekat tempat ini? Bukan pula orang Kabuyutan dari kedua Kabuyutan yang bertetangga itu,” berkata orang yang akan pergi ke hutan itu.

“Bukan Ki Sanak,” jawab Mahisa Ura, “kami adalah tamu di padukuhan di ujung Kabuyutan sebelah. Kami sedang melihat-lihat dan tanpa kami sengaja, kami telah sampai ditempat ini.”

“Batu itu memang menarik,” berkata orang itu, “Tetapi tidak seorang pun yang dapat mendekatinya. Gumuk kecil, tempat batu itu penuh dengan berbagai jenis ular. Dari yang kecil sampai yang sebesar paha Ki Sanak. Karena itu, maka orang-orang sebelah menyebelah tempat ini tidak ada yang berani mengambilnya, bahkan menyentuhnya.”

“Ular,” desis Mahisa Murti.

“Ya Ular,” jawab orang itu, “Banyak sekali. Seorang yang pergi ke gumuk itu akan digigit tiga empat ekor ular sekaligus.”

Mahisa Ura mengangguk-angguk. Tetapi diluar kehendaknya ia telah berpaling kepada Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, karena Mahisa Ura mengetahui bahwa Mahisa Murti dan Mahisa Pukat memiliki benda-benda yang dapat menjadi penangkal bisa yang betapapun tajamnya.

Namun sejenak kemudian Mahisa Ura itu pun menjawab. “Terima kasih atas peringatan Ki Sanak. Kami akan memperhitungkan semua kemungkinan,” Mahisa Ura berhenti sejenak, lalu, “Tetapi Kabuyutan yang manakah yang seharusnya memiliki gumuk tempat batu itu?”

Orang-orang itu termangu-mangu sejenak. Seorang di antara mereka kemudian menjawab, “Kedua Kabuyutan itu merasa berhak. Tetapi atas kesepakatan mereka, biarlah batu itu tetap berada ditempatnya.”

Mahisa Ura mengangguk-angguk. Sementara itu salah seorang dari orang-orang itu berkata, “Kami akan melanjutkan perjalanan Ki Sanak.”

“Silahkan,” jawab Mahisa Ura, “semua pesan Ki Sanak akan kami perhatikan.”

Demikianlah maka orang-orang itu pun telah meneruskan perjalanan memasuki hutan. Mereka agaknya memang akan mencari daun pandan berduri sungsang. Namun agaknya mereka memerlukan beberapa orang kawan agar mereka tidak menjadi korban binatang buas.

Sepeninggal orang-orang itu, maka Mahisa Murti pun berkata, “marilah akan melihat-lihat batu itu. Mungkin memang banyak terdapat ular yang berbahaya. Tetapi kita dapat berhati-hati. Kadang-kadang ular tidak dengan serta merta menyerang jika kita tidak mengganggunya. Bahkan mungkin ular-ular itu akan menyingkir.”

“Kalian mempunyai penangkal racun dan bisa. Tetapi bagaimana dengan aku?” bertanya Mahisa Ura.

“Kita bergantian,” berkata Mahisa Pukat, “aku dan Mahisa Murti akan naik ke gumuk itu. Kemudian aku akan turun, dan kau dapat mempergunakan penangkal bisa milikku jika memang diperlukan.”

Mahisa Ura mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Mudah-mudahan warna hijau itu bukan sekedar warna lumut atau sejenisnya yang danat memantulkan cahaya matahari.”

“Mungkin dapat juga demikian,” sahut Mahisa Murti, “tetapi sebaiknya kita mendekatinya apapun yang akan kita ketemukan.”

Ketiga orang itu pun kemudian berjalan menuju langsung ke gumuk kecil itu. Namun perasaan yang aneh telah menggetarkan dada mereka. Ada sesuatu yang rasa-rasanya menghambat langkah-langkah mereka.

Namun ketiga orang itu berjalan terus. Bahkan Mahisa Ura pun berkata, “Agaknya kita sudah dipengaruhi oleh pesan orang-orang itu. Aku merasa berdebar-debar.”

“Ya,” jawab Mahisa Pukat, “aku pun berdebar-debar. Tetapi ini adalah satu pendadaran, apakah jiwa kita cukup kuat menghadapi pengaruh pesan orang-orang itu.”

“Tetapi kita jangan terlalu berprasangka. Mungkin memang ada pengaruhnya. Mungkin batu itu benar-benar batu berharga. Tetapi mungkin juga batu itu tidak berharga sama sekali. Tetapi kita pun jangan mengabaikan pesan orang-orang itu. Mungkin orang-orang itu dengan jujur memberitahukan kepada kita, bahwa di gumuk itu memang banyak terdapat ular berbisa.”

Mahisa Ura mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Kita akan memperhatikan semua pesan dan kita akan melihat semua kemungkinan.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Dan sejenak kemudian maka mereka bertiga telah menjadi semakin dekat dengan gumuk kecil itu. Dengan demikian maka batu yang kehijau-hijauan itu pun menjadi semakin jelas.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang mengenal jenis bebatuan sebagaimana dipelajarinya dari ayahnya sekilas melihat bahwa batu itu memang memiliki ciri-ciri sebagai batu akik raksasa. Tetapi mereka masih harus mendekat dan melihatnya dengan teliti.

Namun mereka pun tidak mengabaikan pesan orang-orang yang baru saja mereka jumpai, bahwa di gumuk itu banyak terdapat ular berbisa.

Karena itulah maka ketika mereka sudah berada beberapa langkah saja dari gumuk itu, mereka pun telah berhenti.

“Aku akan melihatnya,” berkata Mahisa Murti.

“Aku bersamamu,” sahut Mahisa Pukat. Lalu katanya kepada Mahisa Ura, “kau tunggu di sini. Nanti kau akan mendapat giliran.”

Mahisa Ura menarik nafas. Tetapi ia menyadari bahwa ia tidak memiliki penangkal bisa sebagaimana Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.

Demikianlah maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah mulai memanjat gumuk kecil itu. Mereka menyibakkan rerumputan dan batang-batang ilalang. Mereka pun menyusup di antara semak-semak yang rimbun. Sementara itu, mereka dengan hati-hati memperhatikan apakah mereka menjumpai ular yang berbisa.

Mahisa Pukat tertegun ketika ia melihat seekor ular berleher merah tiba-tiba saja telah menelusur didepan kaki mereka. Tetap ular itu tidak menggigitnya. Bahkan berpaling pun tidak.

Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Bahkan ia pun berdesis, “Agaknya di gumuk ini memang banyak terdapat ular.”

“Kita baru melihat seekor,” jawab Mahisa Murti.

Mahisa Pukat mengangguk. Katanya, “Ya. Baru seekor. Tetapi tidak mustahil bahwa di gumuk seperti ini memang terdapat beberapa ekor ular.”

Mahisa Murti pun mengangguk-angguk. Tetapi ternyata bahwa ketika melangkah semakin mendekati batu berwarna hijau itu, mereka telah melihat lagi seekor ular yang lebih besar. Tetapi ular tidak berwarna merah di lehernya, tetapi ular itu berwarna kehitam-hitaman.

“Bandotan,” desis Mahisa Murti, “ular yang paling berbisa.”

Mahisa Pukat mengangguk. Tetapi ia pun menyahut, “Ular itu juga tidak terlalu buas.”

Mahisa Murti mengangguk kecil. Ular bandotan itu pun sama sekali tidak menghiraukan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang berdiri diam.

“Marilah,” berkata Mahisa Murti kemudian.

Batu hijau tinggal beberapa langkah saja dari keduanya. Namun tiba-tiba saja mereka telah dikejutkan suara-suara hentakan dibawah gumuk kecil itu.

Keduanya dengan serta merta telah berpaling. Mereka melihat disela-sela daun perdu dan semak-semak, Mahisa Ura sedang bertempur melawan beberapa orang. Dalam penglihatan sekilas, maka nampaknya Mahisa Ura benar-benar berada dalam kesulitan.

“Kita turun,” geram Mahisa Murti.

Keduanya pun kemudian berlari menghambur, menerobos semak-semak turun kembali.

Keduanya datang tepat pada waktunya. Hampir saja Mahisa Ura berhasil ditangkap, dan bahkan mengalami nasib yang buruk sekali.

Kedatangan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah benar-benar merubah keseimbangan. Mahisa Ura seakan-akan telah terlepas dari maut ketika beberapa orang yang mengeroyoknya telah berpaling kepada Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang datang, dan langsung menyerang membadai.

“Terima kasih,” desis Mahisa Ura.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak menjawab. Namun mereka justru sedang memperhatikan orang-orang yang telah bertempur melawan Mahisa Ura.

Mereka adalah orang-orang yang mengenakan pakaian yang aneh. Mereka mempergunakan ikat kepala untuk menutup wajah-wajah mereka, sedangkan yang mereka kenakan selain celana hitam, ikat pinggang yang besar, juga kain panjang yang dililitkan di pinggang.

“Siapakah kalian?” bertanya Mahisa Murti.

“Kami adalah penunggu batu hijau ini,” jawab salah seorang di antara mereka, “dalam ujud kami yang biasa, kami adalah ular-ular belang dan ular bandotan.”

Mahisa Pukatlah yang menyahut, “Adalah ada di antara kalian ular Dakgrama yang berleher merah. Aku baru saja menemuinya.”

“Aku adalah ular Dakgrama,” jawab salah seorang yang mengenakan tutup muka itu.

“Tetapi lehermu tidak merah,” jawab Mahisa Pukat sambil bertempur.

“Persetan kau,” geram orang itu, “jika aku berujud ular, maka leherku memang merah.”

Mahisa Pukat justru tertawa. Katanya, “Kalian memang dungu. Kebanyakan orang lebih takut kepada seekor ular daripada seseorang seperti kalian ini. Karena itu, jika kalian adalah ular-ular penunggu gumuk itu, maka kembalilah dalam ujudmu semula. Kami tentu akan ketakutan dan lari menjauh.”

Orang-orang itu terdengar mengumpat. Namun mereka tidak berubah ujud. Mereka masih saja seperti semula dan bertutup wajahnya dengan ikat kepala yang berwarna kehitam-hitaman.

“Nah,” berkata Mahisa Pukat kemudian, “ternyata kalian adalah pembual-pembual yang tidak berarti. Kalian kira kami percaya bahwa ular-ular penunggu gumuk itu dapat beralih ujud menjadi seperti kalian ini?”

Kemarahan orang-orang bertutup wajah itu justru memuncak. Karena itu maka mereka pun menyerang semakin garang.

Ternyata ada satu dua orang di antara mereka yang benar-benar memiliki kemampuan ulah kanuragan, sementara yang lain adalah orang-orang yang sekedar memilikinya secarik saja.

Menghadapi orang-orang yang memang memiliki sedikit ilmu, maka Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura harus berhati-hati. Jumlah lawan ternyata terlalu banyak.

Dengan demikian maka arena pertempuran telah berubah menjadi tiga lingkaran. Mahisa Ura melawan beberapa orang, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang masing-masing juga melawan beberapa orang.

Dalam pada itu, Mahisa Murti yang bertempur dengar, tangkasnya menjadi heran melihat cara Mahisa Pukat menempatkan dirinya. Beberapa kali ia terdesak mundur. Bahkan kadang-kadang Mahisa Pukat seakan-akan tidak mampu lagi mempertahankan diri.

Namun Mahisa Murti pun menarik nafas melihat permainan Mahisa Pukat. Tanpa disadari ia berhasil memancing lawan-lawannya untuk mendesaknya terus, sehingga beberapa langkah Mahisa Pukat telah naik keatas gumuk kecil itu. Sekali-kali Mahisa Pukat telah berlari-lari mengelilingi semak-semak, seakan-akan ia sudah tidak lagi mempunyai keberanian menghadapi lawan-lawannya.

Mahisa Uralah yang kurang mengerti, apa yang telah terjadi dengan Mahisa Pukat. Menurut penglihatannya, Mahisa Pukat dan Mahisa Murti memiliki kemampuan yang serupa. Namun ternyata Mahisa Pukat telah terdesak beberapa langkah dan bahkan sudah naik pula ke gumuk kecil.

Namun beberapa saat kemudian, setelah mereka melingkari beberapa buah semak-semak, serta setiap kali Mahisa Pukat berhasil dicegat oleh lawan-lawannya sehingga tidak dapat melingkar-lingkar lagi, maka seorang lawannya telah terpekik keras sekali. Dengan serta mereka ia pun berteriak, “Ular. Aku telah menginjak dan digigit ular.”

Mahisa Pukat tertawa. Katanya, “Nah, bukankah kalian adalah penunggu gerumbul dan gumuk ini. Bukankah kalian adalah ular-ular belang dan ular bandotan?”

Tidak ada seorang pun yang menjawab. Bahkan tiba-tiba seorang lagi telah terpekik pula karena kakinya juga telah menginjak ular dan digigitnya pula.

Mahisa Pukat tertawa semakin keras. Ternyata bahwa lawan-lawannya yang lain telah menjadi ketakutan dan berlari menghambur turun dari gumuk kecil itu. Sementara kedua orang yang digigit ular itu pun berusaha untuk turun pula dengan tergesa-gesa.

Tetapi Mahisa Pukat tidak dapat tertawa terlalu lama. Ternyata orang-orang yang melarikan diri itu telah bergabung dengan kawan-kawannya yang bertempur dengan Mahisa Murti dan Mahisa Ura.

Karena itu, maka Mahisa Pukat pun harus segera turun pula dari gumuk itu dan berusaha untuk membantu Mahisa Ura dan Mahisa Murti.

Sementara itu, kedua orang yang telah digigit ular itu pun berusaha untuk mengobati diri mereka sendiri. Ternyata orang-orang yang menyebut dirinya ujud dari ular-ular penunggu gumuk itu agaknya memiliki kemampuan untuk mengobati serangan racun dan bisa.

Meskipun demikian, kedua orang itu sudah tidak dapat lagi untuk ikut bertempur. Mereka harus duduk dengan tenang agar obat mereka mampu melawan kerasnya bisa ular yang ada di gumuk kecil itu.

Namun dalam pada itu, salah seorang di antara mereka berkata, “Luar biasa. Kenapa anak itu sama sekali tidak takut kepada ular yang berkeliaran di gumuk itu.”

“Memang aneh. Nampaknya ia pun tidak digigit ular sebagaimana kita alami,” desis yang lain.

“Memang mungkin. Kebetulan ia tidak menginjak ular. Tetapi bahwa anak itu tidak merasa takut itu pun tentu ada alasannya,” berkata yang pertama.

Kawannya mengangguk-angguk. Katanya, “Memang tentu ada sebabnya. Dua orang di antara mereka berani naik keatas gumuk, sementara yang seorang menunggu dibawah. Agaknya kedua orang yang berani naik keatas gumuk itu memang mempunyai bekal tertentu. Mungkin mereka adalah orang-orang yang kebal akan bisa ular.”

Yang pertama mengangguk-angguk pula. Dengan nada datar ia berkata, “Ya. Tetapi bagaimana dengan kita? Apakah kita akan mampu bertempur membantu kawan-kawan kita?”

“Kita harus menunggu agar obat kita tidak sia-sia. Baru kemudian kita akan menentukan sikap,” jawab kawannya.

Namun mereka memang tidak dapat berbuat sesuatu. Jika mereka melibatkan diri kedalam pertempuran, mungkin terjadi gejolak didalam darah mereka, sehingga bisa ular yang mengalir dari luka tidak dapat dijangkau sepenuhnya oleh penawarnya. Karena itu, mereka harus menunggu untuk beberapa saat. Tetapi dalambeberapa saat memang dapat terjadi perubahan didalam petempuran itu.

Sebenarnya pertempuran yang terjadi itu pun menjadi semakin kacau. Ketika orang-orang yang menghambur dari atas gumuk itu melibatkan diri kedalam lingkaran pertempuran di antara kawan-kawan mereka melawan Mahisa Ura dan yang melawan Mahisa Murti, maka Mahisa Pukat pun telah datang pula menyusup ke arena.

Karena Mahisa Pukat menganggap bahwa Mahisa Murti memiliki ilmu yang lebih tinggi dari Mahisa Ura, maka Mahisa Pukat pun telah memasuki putaran pertempuran antara beberapa orang bertutup wajah itu melawan Mahisa Ura.

Mahisa Murti sendiri memang tidak merasakan tekanan yang terlalu berat dari orang-orang yang datang menyerang dalam kelompok yang semakin besar itu. Mahisa Murti memiliki kecepatan gerak yang tinggi, dan ilmunya pun menjadi semakin lengkap karena Pangeran Singa Narpada yang tertarik kepada kedua kakak beradik itu telah memberikan ilmunya pula.

Sebaliknya, Mahisa Ura memang merasa sedikit mengalami kesulitan ketika beberapa orang dari gumuk itu telah berlari-lari turun dan bergabung dengan kawan-kawannya yang bertempur bersamanya.

Namun kehadiran Mahisa Pukat ternyata telah memperingan tugasnya menghadapi orang-orang bertutup wajah itu.Demikianlah pertempuran itu menjadi semakin seru. Orang-orang bertutup wajah itu telah mengerahkan segenap kemampuan mereka. Namun ternyata mereka menghadapi lawan yang sulit untuk ditundukkan.

Memang satu hal yang sulit untuk dimengerti. Mereka berada dalam satu kelompok yang cukup banyak untuk melawan tiga orang. Tetapi ternyata bahwa yang tiga orang itu benar-benar orang pilihan, sehingga yang sekelompok itu bahkan mulai terdesak karenanya.

“Siapa yang berani bertempur diatas gumuk itu,” tiba-tiba saja Mahisa Pukat berteriak, “jika kalian mengaku sebagai penunggu bukit, maka kalian tentu berani melakukannya, karena kalian tidak akan takut digigit ular. Bukankah menurut kalian ular-ular itu sebenarnya adalah kalian sendiri.”

“Persetan,” geram salah seorang di antara mereka yang bertutup wajah, “apapun katamu, maka kau akan mati di sini.”

“Begitu mudahnya,” desis Mahisa Pukat, “seharusnya kau mampu melihat keadaanmu dan kawan-kawanmu. Karena itu, menyerah sajalah. Kita dapat berbicara dengan baik. Jika kalian berkeberatan melihat kehadiran kami di sini, maka katakan saja berterus terang, apa sebabnya.”

“Persetan,” geram orang bertutup wajah itu, “Tidak ada pembicaraan. Kalian akan mati. Itu saja.”

“Jangan terlalu garang Ki Sanak,” jawab Mahisa Pukat, “kegarangan kalian tidak lebih dari satu lelucon saja. Tetapi jika kalian keras kepala, maka kami akan menjadi garang pula.”

“Jika kau akan menyerang, menyeranglah. Kami akan mencincang kalian sampai lumat,” bentak orang bertutup wajah itu. Tetapi belum lagi mulutnya terkatup, maka seorang di antara kawannya bagaikan terlempar dari arena pertempuran melawan Mahisa Murti. Yang terdengar kemudian adalah suara Mahisa Murti, “Satu orang kawanmu terlempar keluar dari arena. Satu demi satu akan terjadi seperti itu. Apakah kau tidak akan menyadari keadaan.”

Orang-orang bertutup wajah itu terdiam. Meskipun mereka masih bertempur terus, namun mereka tidak dapat selalu mengelak dari kenyataan yang terjadi. Bagaimanapun juga, mereka harus mengakui keunggulan ketiga orang yang seakan-akan sama sekali tidak mengalami kesulitan melawan mereka seluruhnya.

Sementara itu, Mahisa Pukat bertempur seolah-olah seenaknya saja. Sekali ia bergeser mendekati Mahisa Ura, namun kemudian ia berada dekat dengan Mahisa Murti. Namun demikian, Mahisa Pukat dianggap oleh orang-orang bertutup wajah itu sebagai seorang yang paling berbahaya di antara ketiga orang lawan mereka.

Dalam pada itu, sebagaimana dikatakan oleh Mahisa Murti, maka seorang lagi di antara orang-orang bertutup wajah itu telah terlempar jatuh. Tetapi orang itu masih mampu berusaha untuk bangkit. Namun adalah malang baginya, karena tiba-tiba saja ia pun telah terdorong dan jatuh terjerembab ketika seorang kawannya yang terlempar telah menimpanya.

“Setan,” geram orang itu.

“Maaf Ki Sanak,” yang menjawab adalah Mahisa Pukat yang ternyata telah melemparkan salah seorang lawannya.

Bersambung.......!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...