*HIJAUNYA LEMBAH. JILID 030-02*
Asap yang mengepul telah memenuhi udara. Rasa-rasanya nafas Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun menjadi semakin sesak. Bahkan pandangan mereka pun menjadi semakin kabur karena asap yang membuat udara menjadi semakin pekat.
Untuk beberapa saat kedua anak muda itu bertahan. Tetapi semakin lama udara yang mereka hirup pun telah penuh dengan asap ilalang yang terbakar sementara pandangan mereka memang semakin menjadi gelap karena asap yang semakin kelabu.
Batu yang berwarna hijau itu pun seakan-akan menjadi kabur pula tertutup oleh asap yang kehitaman dan menyesakkan nafas mereka.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun telah terbatuk-batuk kecil. Dunia bagaikah menjadi semakin sempit dan panas api pun mulai terasa menyentuh tubuh mereka.
“Mahisa Pukat,” desis Mahisa Murti, “kita harus berbuat sesuatu.”
“Apakah kita akan meyakinkan bahwa api ini benar-benar mampu membakar tubuh kita?” bertanya Mahisa Pukat.
Mahisa Murti termangu-mangu sejenak. Tetapi api itu rasa-rasanya semakin menyempit dan hampir menjerat tubuh mereka berdua di dekat batu yang berwarna hijau itu.
Namun dalam pada itu, maka Mahisa Murti pun berkata, “Marilah. Kita akan memadamkan api ini.”
“Biarlah aku mencobanya sendiri,” jawab Mahisa Pukat, “jika yang melakukan ini hanya seorang, maka kita pun harus mengukur kemampuan kita seorang demi seorang.
Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Sekali ia terbatuk oleh asap yang terhisap lewat lubang hidungnya. Namun kemudian katanya, “Baiklah. Lakukanlah sendiri, kecuali jika bantuanku diperlukan.”
Mahisa Pukat tidak menjawab. Namun ia pun segera mempersiapkan diri untuk melepaskan ilmunya melawan api yang sudah menjadi semakin sempit pula. Bahkan seakan-akan tidak lagi memberikan ruang gerak bagi kedua anak muda itu.
Mahisa Pukat pun kemudian telah memusatkan nalar budinya. Ia tidak mengetrapkan ilmu pamungkasnya dalam ujudnya yang keras. Tetapi Mahisa Pukat yang telah berhasil meluluhkan ilmunya dengan ilmu yang diwarisinya dari Pangeran Singa Narpada, telah mengetrapkan ilmunya dalam ujudnya yang lunak. Mahisa Pukat tidak melepaskan ilmunya yang mampu membakar segala sesuatu yang disentuhnya, tetapi ia justru telah melepaskan ilmunya untuk melawan panasnya api itu dengan cara yang sebaliknya. Dengan cara itu maka benturan yang terjadi justru telah menghisap kekuatan ilmu lawannya dan menghapusnya sebagaimana dapat dilakukannya dalam benturan kekuatan dengan wadagnya, sehingga selapis demi selapis kekuatan lawan itu akan terhisap dan hapus dari padanya.
Beberapa saat lamanya Mahisa Pukat memusatkan kemampuan ilmunya pada lawannya terhadap api yang menjadi semakin sempit. Panasnya api yang memancar menjilat dan menelan segalanya itu, tiba-tiba saja telah membentur satu kekuatan lain. Bukan dengan keras menolaknya, tetapi justru bagaikan menghisapnya. Perlahan-lahan panasnya api itu pun mulai menyusut, ditelan oleh kekuatan lain yang perlahan-lahan bagaikan melunakkannya. Mahisa Pukat seakan-akan telah menaburkan udara yang dingin beku. Lebih dingin titik-titik embun di malam bediding. Lebih basah dari semburan hujan yang bercampur prahara di musim basah.
Itulah sebabnya, maka api yang betapapun panasnya itu mulai pudar. Perlahan-lahan lidah api yang meronta-ronta itu pun mulai menyusut dan akhirnya gelang api itu pun tidak lagi menyempit, bahkan perlahan-lahan telah melebar kembali.
Mahisa Murti memperhatikan perlawanan ilmu Mahisa Pukat yang mampu mengatasi kekuatan ilmu seseorang yang tidak dikenalnya. Tetapi yang dengan semena-mena telah menyerangnya bahkan agaknya orang itu benar-benar ingin membunuhnya.
Ketika api itu mulai menyusut, maka Mahisa Murti pun melihat abu yang berserakan di atas gumuk kecil itu. Rerumputan dan batang-batang ilalang pun telah hangus dan tidak berbekas, keculai tinggal abu yang berhamburan.
“Api itu bukan bayangan semu. Tetapi api itu benar-benar api yang mampu membakar sampai hangus,” berkata Mahisa Murti kepada dirinya sendiri.
Tetapi Mahisa Murti pun sadar, jika hal itu bukan api yang sebenarnya, dan tidak mampu membakar rerumputan dan batang-batan ilalang, maka cara untuk melawannya pun harus berbeda pula.
Namun api yang sebenarnya itu pun telah dapat diatasi. Meskipun dengan demikian Mahisa Murti dan Mahisa Pukat harus lebih berhati-hati menghadapi seseorang yang bukan sekedar mampu menampilkan serangan dengan api yang semu.
Api yang membakar rerumputan, batang-batang ilalang dan gerumbul-gerumbul perdu di gumuk kecil itu pun semakin lama menjadi semakin kecil dan akhirnya mulai padam.
“Bagus,” desis Mahisa Murti, “kau mampu menjinakkannya dan menguasainya. Api itu telah padam.”
Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Ia memang melihat api itu telah padam. Tetapi gumuk itu menjadi bagaikan gundul. Dengan demikian Mahisa Pukat dapat membayangkan, betapa dahsyatnya api yang telah menyerangnya bersama Mahisa Murti. Namun Mahisa Pukat ternyata mampu mengatasinya.
“Apakah kau membiarkan aku melawannya seorang diri?” bertanya Mahisa Pukat.
“Apakah kau tidak merasakannya demikian?” Mahisa Murti justru ganti bertanya.
“Ya. Aku hanya ingin meyakinkannya,” jawab Mahisa Pukat.
Mahisa Murti pun kemudian mendekatinya sambil berdesis, “Kita akan menghadapi serangan berikutnya.”
“Ya,” berkata Mahisa Pukat, “aku sudah siap.”
Mahisa Murti mengangguk-angguk. Namun ia pun telah bersiap menghadapi segala kemungkinan.
Sebenarnyalah bahwa sejenak kemudian telah terdengar suara yang menggelepar menggetarkan udara. “Kalian memang luar biasa anak-anak muda. Kalian mampu melawan aji Gelap Ngamparku, dan kini kalian mampu melawan panas apiku. Bahkan kalian berhasil memadamkannya dengan membekukan udara tanpa membekukan darahmu sendiri.”
“Terima kasih atas pujian itu,” jawab Mahisa Pukat dengan kekuatan getar suara yang seimbang dengan kekuatan ilmu orang yang tidak dilihatnya itu.
“Aku memang sudah mengira bahwa kalian akan datang lagi hari ini,” berkata suara itu.
Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Namun ternyata bahwa ia telah meningkatkan kemampuan ilmunya dan melepaskan jawaban yang menggelapar. “Jika demikian, maka marilah sambutlah kedatanganku dengan beradu dada.”
“Apakah kalian berdua tidak mampu menemukan aku?” bertanya orang itu.
Pertanyaan itu memang menghentak perasaan Mahisa Pukat dan Mahisa Murti. Namun dalam pada itu dengan cepat Mahisa Pukat menemukan jawabnya, “Aku belum berusaha menemukanmu. Aku tidak ingin mempersulit diri dengan memusatkan indera pengamatanku untuk menemukanmu. Aku masih menghargaimu sebagai seorang laki-laki yang akan dengan sendirinya menghadapi dengan jantan orang yang dianggap lawannya.”
Getar suara Mahisa Pukat menjadi semakin berat dan menghentak di dada orang yang tidak dilihatnya. Sementara itu Mahisa Murti memberikan isyarat agar Mahisa Pukat memancing lawannya dalam pembicaraan yang lebih panjang.
Mahisa Pukat pun mengerti isyarat itu. Bahkan Mahisa Pukat pun mengerti bahwa Mahisa Murti akan berusaha untuk menemukan arah dari getar suara orang itu yang terasa melingkar-lingkar.
Ternyata orang itu masih menjawab, “Jangan menyembunyikan kelemahanmu. Kau tidak akan mampu menemukan aku. Meskipun kau memiliki kemampuan mengimbangi kemampuanku di satu segi ilmu, namun kalian masih sangat muda sehingga pengalaman kalian bagiku tidak berarti apa-apa.”
Mahisa Pukat justru tertawa. Katanya, “Baiklah. Bersembunyilah terus. Dengan cara yang demikian mungkin kau memang akan dapat menyelamatkan nyawamu meskipun kau harus mengorbankan harga dirimu.”
“Tutup mulutmu anak iblis,” bentak orang itu, “kau kira aku tidak dapat menyumbat mulutmu itu he?”
“Silahkan. Lakukanlah jika kau mampu. Kau tahu, bahwa aku dapat mengimbangi semua ilmumu, selain ilmu bersembunyimu yang licik itu,” jawab Mahisa Pukat.
Terdengar gemertak gigi. Demikian kuatnya dilontarkan dengan dorongan ilmu yang menghentak pula sehingga suaranya bagaikan bumilah yang menjadi retak.
Namun gemertak gigi itu telah disumbat oleh getar suara tertawa Mahisa Pukat bagaikan menggetarkan langit. Berkepanjangan, gelombang demi gelombang melanda lawannya seperu arus ombak yang datang susul menyusul menghantam pantai.
Sebenarnyalah orang yang tidak menampakkan dirinya itu harus meningkatkan daya tahannya. Ia tidak mengira bahwa anak-anak muda itu memiliki daya lontar yang sangat mendebarkan jantungnya.
Dengan demikian, maka orang itu telah memutuskan perhatiannya kepada daya tahannya. Setiap kali suara tertawa Mahisa Pukat telah mulai menyusup daya tahannya itu dan menyentuh isi dadanya sehingga mulai mempengaruhi pernafasannya.
Karena itulah, maka ada bagian yang mulai terasa lemah pada orang itu. Ia tidak lagi mampu membagi kemampuannya untuk bertahan dan untuk tetap mengaburkan sumber suaranya dalam getar suara yang berputaran.
Itulah sebabnya, maka perlahan-lahan tetapi pasti, Mahisa Murti akhirnya dapat menemukan arah sumber kekuatan ilmu Gelap Ngampar itu.
Mahisa Murti itu pun kemudian menarik nafas dalam-dalam. Suara itu ternyata tidak bersumber dan hutan di sebelah gumuk itu. Tetapi justru dari sebuah gerumbul di bawah gumuk yang telah terbakar itu.
Mahisa Pukat menangkap isyarat yang kemudian diberikan oleh Mahisa Murti. Karena itu, maka ia pun telah mengurangi tekanannya dan bahkan suara tertawanya pun mulai berhenti.
“Apakah kau masih tetap bersembunyi,” bertanya Mahisa Pukat.
Masih terdengar jawaban, “Pengecut yang licik. Cari aku jika kau memang mampu.”
Mahisa Pukat tertawa pendek. Jawabnya, “Kau akan melihat satu kenyataan pahit tentang dirimu sendiri.”
Untuk beberapa saat tidak terdengar jawaban, tetapi jawaban Mahisa Pukat itu benar-benar menggelisahkan orang yang bersembunyi di dalam gerumbul itu.
Sebenarnyalah bahwa Mahisa Murti telah memberikan isyarat pula dimana orang itu berada. Dengan mengikuti arah pandangan mata Mahisa Murti, maka Mahisa Pukat pun kemudian dapat menentukan, dimana orang itu bersembunyi.
Karena itu, maka Mahisa Pukat pun telah berdiri tegak menghadap ke arah gerumbul yang dipergunakan oleh orang yang tidak menampakkan diri itu bersembunyi.
Sikap itu ternyata benar-benar telah menggelisahkan orang yang bersembunyi itu. Sikap Mahisa Pukat menyatakan, bahwa anak muda itu benar-benar telah mengetahui, dimana ia bersembunyi dan dari persembunyiannya dapat melihat dengan jelas kedua anak muda yang berada di atas gumuk yang telah menjadi gundul itu.
“Ki Sanak,” berkata Mahisa Pukat, “marilah. Sebelum kau yakin bahwa aku telah mengetahui dimana kau bersembunyi, keluarlah atas kehendakmu sendiri. Jangan menunggu aku membakar persembunyianmu dengan kekuatan yang mungkin mampu mengimbangi kekuatanmu.”
Orang itu benar-benar menjadi gelisah. Kedua orang anak muda itu menurut perhitungannya benar-benar anak muda yang memiliki ilmu yang sangat tinggi. Berdua mereka tentu merupakan kekuatan yang sangat sulit untuk diatasi.
“Diluar dugaan,” berkata orang itu kepada diri sendiri. Namun ia tidak dapat mengingkari kenyataan yang ada di hadapannya.
Justru karena itulah, maka ia harus berpikir masak-masak, langkah apakah yang sebaiknya diambil dalam keadaan yang sangat gawat itu.
Untuk beberapa saat orang itu hanya berdiam diri saja. Tetapi nalarnya sedang bergejolak mencari keluar dari keadaannya yang sulit. Anak-anak muda itu ternyata memiliki kemampuan diluar dugaannya.
Sementara itu, terdengar Mahisa Pukat telah berkata selanjutnya, “Dengar Ki Sanak. Aku tidak mempunyai waktu banyak. Marilah, apa yang akan kita lakukan, biarlah segera kita lakukan.”
Sejenak Mahisa Pukat menunggu. Namun tiba-tiba saja terdengar suara tertawa berkepanjangan sambil berkata di antara getar suara tertawanya itu, “Anak-anak muda. Ternyata kalian memiliki sesuatu yang dapat kalian banggakan. Tetapi apa yang kalian miliki itu sama sekali tidak banyak berarti bagiku. Meskipun demikian, maka aku masih memberi kalian kesempatan untuk meninggalkan tempat itu.”
Tetapi jawab Mahisa Pukat sangat menyakitkan hati. Katanya, “Aku tidak akan memanfaatkan kesempatan yang kau berikan itu Ki Sanak. Aku tidak memerlukannya, aku justru memerlukan kau.”
Namun suara tertawa itu masih saja berkepanjangan. Katanya, “Baiklah. Jika kalian berkeras untuk melakukan apa yang kau inginkan, aku tidak berkeberatan. Kau dapat melihat batu itu. Tetapi jangan disentuh apalagi dirusakkan. Akulah pemilik batu itu.”
Mahisa Pukat tertegun sejenak, ia pun kemudian berpaling ke arah Mahisa Murti sambil berdesis perlahan, “Apa maksudnya.”
“Kita akan menunggu,” jawab Mahisa Murti.
Kedua anak muda itu pun kemudian berdiri tegak menghadap ke arah gerumbul tempat orang yang tidak dikenal itu bersembunyi. Gerumbul itu memang terletak tidak terlalu dekat, meskipun masih dalam jangkauan suara yang dilambari ilmu oleh kedua belah pihak.
Untuk beberapa saat Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menunggu. Namun sejenak kemudian, maka kedua anak muda itu melihat sesuatu bergerak pada gerumbul itu.
Namun tiba-tiba saja Mahisa Murti dan Mahisa Pukat terkejut. Dari gerumbul itu meloncat seekor harimau yang besar berbulu loreng.
“Harimau,” geram Mahisa Murti.
Mahisa Pukat seakan-akan telah membeku. Ia tidak mengira bahwa yang akan keluar dari gerumbul itu adalah seekor harimau.
Namun kedua anak muda itu dengan cepat telah berusaha untuk mengamati ujud yang dilihatnya. Ternyata mereka tidak menemukan sesuatu yang tidak wajar pada harimau itu. Harimau itu menurut penglihatan mereka benar-benar seekor harimau. Bukan suatu ujud yang semu.
“Menurut pengamatanku, harimau itu wajar,” desis Mahisa Murti.
“Inilah yang mungkin kurang dapat kita pahami,” berkata Mahisa Pukat, “kita masih sulit untuk menentukan, apakah harimau itu bukan harimau jadi-jadian.”
Mahisa Murti mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Kita dapat membedakan apakah ujud itu ada sebenarnya atau tidak. Tetapi kita memang tidak dapat mengerti, ujud yang sebenarnya ada itu apakah ujud jadi-jadian atau bukan.”
Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “orang itu sempat mengejutkan kita. Dengan demikian ia mempunyai waktu sekejap lebih banyak dari kita. Dan waktu itu dapat dipergunakannya sebaik-baiknya untuk melarikan diri.”
“Satu kelengahan, sehingga kita tidak akan dapat mengejarnya lagi,” berkata Mahisa Murti. Namun kemudian katanya, “Tetapi kita harus meyakinkan, apakah didalam gerumbul itu tidak ada lagi seorang pun.”
“Marilah,” berkata Mahisa Pukat.
Keduanya kemudian justru telah menuruni gumuk kecil itu dan pergi ke gerumbul yang mereka duga menjadi tempat persembunyian orang yang telah menyerang mereka dengan ilmunya yang tinggi tanpa menampakkan dirinya.
Sambil melangkah, Mahisa Pukat berkata, “Sepengetahuan kita, seekor harimau jadi-jadian hanya dapat ada di malam hari. Jika benar orang itu tentu memiliki sejenis ilmu tentang harimau jadi-jadian yang lain dari yang pernah kita dengar sebelumnya, yang dapat merubah dirinya menjadi seekor harimau jadi-jadian di siang hari dan di panasnya matahari.”
Mahisa Murti mengangguk-angguk. Namun keduanya tidak berbicara lagi. Mereka pun bergegas pergi ke gerumbul yang mereka yakini menjadi tempat orang itu bersembunyi.
Ketika mereka sampai kegerumbul itu, maka mereka pun mendekati dengan hati-hati. Dengan kemampuan ilmu mereka, maka mereka pun segera mengetahui, bahwa di dalam gerumbul itu tidak lagi terdapat apapun juga, apalagi seseorang.
Karena itu, maka keduanya pun segera menyibakkan gerumbul itu untuk melihat apa yang dapat mereka ketemukan yang mungkin akan dapat memberikan jawaban atas pertanyaan Mahisa Pukat tentang seekor harimau jadi-jadian di siang hari.
Tetapi mereka benar-benar tidak menjumpai apapun juga. Apalagi seseorang. Mereka pun tidak menemukan pertanda apapun juga yang dapat membantu mereka menjawab pertanyaan tentang harimau jadi-jadian itu. Karena keduanya yakin, bahwa orang yang bersembunyi di dalam gerumbul itu telah melarikan diri dalam ujud seekor harimau. Itulah kelebihannya,” desis Mahisa Murti, “kita tidak akan dapat melakukannya. Menjadi ujud apapun tidak.”
Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Katanya, “Kita telah kehilangan. Tetapi biar sajalah. Ia tentu akan kembali jika kita berbuat sesuatu atas batu hijau itu.”
Keduanya pun kemudian berpaling ke arah batu yang ada di atas gumuk, yang warnanya memang kehijau-hijauan. Namun yang belum mereka ketahui nilainya.
Sejenak keduanya termangu-mangu. Namun kemudian hampir berbareng keduanya telah bergerak pula berputar menghadap ke arah batu yang berwarna kehijauan itu.
“Kita kesana,” berkata Mahisa Murti, “yang jelas warna hijau itu bukan warna lumut, tetapi warna batu itu.”
Mahisa Pukat mengangguk-angguk. “Marilah. Kita akan melihat. Tetapi kemungkinan-kemungkinan yang lain masih dapat terjadi atas kita.”
“Kita memang harus berhati-hati,” desis Mahisa Murti.
Keduanya pun kemudian melangkah kembali naik ke atas gumuk kecil yang sudah menjadi gundul itu. Yang kemudian terhambur oleh kaki keduanya adalah abu dari rerumputan dan ilalang serta gerumbul perdu yang terbakar.
Semakin lama keduanya pun menjadi semakin dekat. Bahkan keduanya pun kemudian telah mencapai batu yang besar dan berwarna kehijauan itu.
Ketika seekor ular merayap dikaki mereka, maka mereka sama sekali tidak beranjak. Bahkan kemudian seekor lagi merayap menyilang dan bersembunyi di bawah batu itu.
“Tentu ada banyak ular yang bersembunyi di bawan batu itu,” berkata Mahisa Pukat, “ketika rumput dan ilalang terbakar, maka yang sempat menyelamatkan diri akan bersembunyi di bawah batu itu, karena hanya selingkar kecil di seputar batu ini sajalah rerumputan dan ilalang yang tidak terbakar.”
Mahisa Murti mengangguk-angguk. Tetapi ular bukan merupakan binatang yang menakutkan bagi keduanya.
Sejenak kemudian maka keduanya sempat memperhatikan batu yang berwarna kehijauan itu. Ketika mereka meraba dan menggosok pada satu sisi yang agak bersih maka Mahisa Murti berdesis, “Sejenis batu yang cukup berharga, meskipun bukan jenis yang sangat baik.”
Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Katanya, “Nampaknya memang menarik sekali. Sayang sekali bahwa tidak ada pecahan-pecahan kecil yang dapat kita bawa.”
“Agaknya orang-orang yang lebih dahulu menemukan tempat ini, telah membawa pecahan-pecahan kecil yang mungkin pernah ada. Batu pecahan yang besarnya segenggam tangan sudah akan dapat dibuat batu cincin berapa saja,” desis Mahisa Murti.
Mahisa Pukat pun kemudian mengelilingi batu itu. Tangannya meraba celah-celah batu yang kotor dan retak-retak.
Mahisa Pukat tiba-tiba saja mengibaskan jari-jarinya. Ternyata seekor binatang sejenis labah-labah yang sangat berbisa telah mengigitnya.
Mahisa Pukat meraba jari-jarinya. Untunglah bahwa ia memiliki penangkal racun yang dapat melindunginya dari segala macam bisa dan racun.
“Tentu tidak hanya seekor,” berkata Mahisa Murti.
Sebenarnyalah, ketika keduanya memperhatikan celah dan retak di tubuh batu itu, mereka telah melihat sejenis binatang yang mendebarkan. Laba-laba beracun, kala dan binatang berkaki seribu.
Betapapun juga Mahisa Murti dan Mahisa Pukat terlindung dari ketajaman bisa, namun tubuhnya meremang juga melihat berpuluh-puluh bahkan beratus jenis binatang berbisa di celah-celah retak batu yang berwarna kehijauan itu.
“Kita tidak dapat berbuat banyak dengan batu ini sekarang,” berkata Mahisa Murti, “Tetapi kita dapat menduga, bahwa batu ini memang ada harganya.”
“Ya. Jika mendapat perawatan dan penggarapan yang baik, batu ini akan dapat menjadi batu akik yang digemari. Keras dan membiaskan cahaya,” sahut Mahisa Pukat.
Lalu katanya, “Tetapi jika kita menemukan kemungkinannya, maka kita akan dapat membeli batu akik ini dari yang berhak. Tentu tidak dari orang yang telah berusaha mencegah kehadiran kita di sini.”
“Kita akan berhubungan dengan Ki Bekel. Mungkin kita memang harus berhubungan dengan Ki Buyut atau bahwa Sang Akuwu,” berkata Mahisa Murti kemudian. Namun ia pun kemudian berkata, “Tetapi kita tidak boleh lupa akan tugas kita yang sebenarnya, kenapa kita datang ke tempat ini.”
Mahisa Pukat mengangguk-angguk.
Namun sebelum keduanya banyak berbuat atas batu hijau itu, maka mereka pun telah dikejutkan oleh kehadiran seekor harimau loreng yang besar di bawah gumuk. Terdengar harimau itu meraung ketika harimau itu melihat kedua orang yang berada di sebelah batu yang berwarna kehijauan itu.
“Harimau itu datang lagi,” desis Mahisa Pukat, “harimau itu mengira bahwa ia dapat berbuat sesuatu atas kita dalam ujudnya sebagai harimau.”
Mahisa Murti mengerutkan keningnya. Katanya dengan nada datar, “Kita belum mengenal watak harimau jadi-jadian. Mungkin memang ada kelebihan yang dapat diandalkan dalam ujudnya sebagai harimau disamping kemampuan ilmunya.”
“Secara wadag seekor harimau memandang memiliki kekuatan yang sangat besar,” berkata Mahisa Pukat, “tetapi baiklah, kita akan menunggu, apa yang akan dikerjakan oleh harimau itu.”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun kemudian menunggu. Harimau itu berjalan melingkari gumuk kecil itu hilir mudik. Sekali-sekali terdengar harimau itu menggeram.
Karena harimau itu tidak berbuat apa-apa, maka Mahisa Murti pun kemudian berkata, “Apakah kita akan menangkap harimau itu? Mungkin kita akan dapat menemukan seseorang yang akan sangat berarti bagi kita.”
“Ya,” jawab Mahisa Pukat, “jika tadi kita merasa kehilangan, kini harimau itu sudah datang lagi.”
“Bagus,” berkata Mahisa Murti, “Marilah. Kau dan aku akan berpisah dan kemudian menuruni tebing gumuk kecil ini. Kita akan menangkap seekor harimau jadi-jadian yang dapat terjadi di siang hari. Kau dari sisi yang satu aku akan datang dari sisi yang lain. Mudah-mudahan kita akan dapat berhasil, sehingga kita mendapat lebih banyak peluang untuk mengambil langkah selanjutnya.”
Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Dipandanginya harimau itu dengan saksama, sementara harimau itu masih saja berjalan hilir mudik sambil memandangi kedua anak muda itu.
Meskipun harimau itu tidak segera menyerang, namun agaknya harimau itu nampaknya memang tidak bersahabat. Sekali-sekali harimau itu menampaknya taringnya yang tajam sambil menggeram.
Ketika Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mulai melangkah turun, maka harimau itu menjadi semakin garang. Bahkan harimau itu nampak menjadi gelisah.
“Harimau itu akan dapat lari lagi,” berkata Mahisa Murti.
Mahisa Pukat mengangguk. Jawabnya, “Kita akan mencobanya. Jika terpaksa harimau itu lari, apaboleh buat.”
Mahisa Murti pun tidak berkeberatan. Karena itu, maka keduanya pun segera berpisah dan memencar.
Tetapi seperti yang mereka duga, harimau itu surut ke belakang. Semakin lama semakin menjauhi gumuk yang gundul itu. Sekali-kali harimau itu menggeram dan mengkais-kais batang-batang ilalang. Namun harimau itu tetap memelihara jarak dengan kedua anak muda yang menuruni gumuk kecil itu.
“Kau pengecut yang paling licik,” Mahisa Pukat yang marah tiba-tiba telah melontar kekuatan ilmunya lewat getar suaranya, “berhenti. Jangan hanya memamerkan kemampuannmu melarikan diri. Coba sambut kedatangan kami. Atau jika kau takut menghadapi kami berdua, kita akan berhadapan dalam perang tanding. Pilih di antara kami, siapakah yang akan menjadi lawannya. Jika kami berdua mendekatimu, semata-mata karena kami ingin menangkapmu.”
Harimau itu menggeram keras sekali. Demikian kerasnya sehingga gumuk kecil itu bagaikan terguncang. Tetapi itu masih tetap bergeser surut menjauhi gumuk itu.
Mahisa Murti memandang Mahisa Pukat yang menjadi semakin jauh daripadanya. Namun Mahisa Pukat itu menggeleng. Agaknya Mahisa Murti mengetahui maksudnya, bahwa sulit bagi mereka untuk dapat menangkap harimau yang selalu menjauh itu.
Tetapi tiba-tiba saja Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menjadi terkejut ketika tiba-tiba saja mereka melihat seekor harimau lagi yang muncul dari balik sebuah gerumbul. Harimau itu juga sebesar dan segarang harimau yang terdahulu. Namun nampaknya harimau itu lebih mantap menatap kedua anak muda yang bergeser turun dari gumuk itu.
Mahisa Murti tiba-tiba saja telah bergeser mendekati Mahisa Pukat, sedangkan Mahisa Pukat yang melihat saudaranya itu mendekatinya, ia pun telah mendekat pula.
“Agaknya harimau itu datang dengan kawannya,” berkata Mahisa Murti, “kita harus berhati-hati sekali.”
“Mudah-mudahan kita dapat mengatasi keadaan. Tetapi jika mungkin jangan harimau-harimau itu terlepas lagi. Aku yakin bahwa harimau itu adalah harimau jadi-jadian.”
Mahisa Murti mengangguk. Dengan nada berat ia berkata, “Jika kita dapat menangkapnya satu atau keduanya, maka kita akan dapat menangkap seseorang.”
“Jika harimau itu bukan harimau jadi-jadian?” bertanya Mahisa Pukat.
Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Apaboleh buat.”
Demikianlah, maka kedua orang anak muda itu pun kemudian telah menghadapi dua ekor harimau. Karena itu, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun tidak lagi ingin menangkap salah seekor diantara keduanya, tetapi mereka masing-masing menghadapi seekor harimau.
Ternyata harimau itu tidak lagi bergeser surut. Setelah harimau itu menjadi dua, maka nampaknya keduanya pun telah menantang Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun saling berpandangan. Ketika Mahisa Murti meraba pisau belatinya, maka Mahisa Pukat pun melakukan hal yang sama. Bahkan dirabanya juga pisau-pisau kecilnya yang mengandung racun.
Tetapi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak tahu, apakah racunnya akan berarti juga atas kedua ekor harimau itu.
Beberapa saat kemudian Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masing-masing telah berhadapan dengan seekor harimau. Keduanya menjadi semakin yakin bahwa harimau-harimau itu adalah harimau jadi-jadian karena sikapnya.
Ketika Mahisa Murti berada beberapa langkah dari harimau yang dihadapinya, maka ia pun bertanya, “He, kenapa kau dan kawanmu bersikap tidak bersahabat terhadap kami? Apakah kami telah merugikanmu? Bukankah kami tidak berbuat apa-apa atas harimau-harimau yang ada di sini sebelumnya?”
Harimau itu menggeram marah. Kepalanya pun seakan-akan berpaling ke arah batu yang berwarna kehijau-hijauan itu sambil mengibaskah ekornya. Kepalanya agak merunduk dan matanya nampaknya menjadi merah.
“Persetan,” geram Mahisa Murti, “siapapun kau, namun jika kau dengan sengaja mengganggu aku, maka kau akan aku binasakan.”
Harimau itu tiba-tiba saja sudah menggeram keras sambil meloncat menerkam.
Namun Mahisa Murti sudah bersiap sepenuhnya. Karena itu, maka ia pun telah bergeser selangkah, sehingga terkaman harimau itu tidak mengenai sasaran. Meskipun demikian ketika tubuh harimau itu meluncur di depan tubuh Mahisa Murti, maka kaki harimau itu telah menggeliat menggapai tubuh Mahisa Murti. Tetapi Mahisa Murti telah surut lagi selangkah kecil. Sehingga dengan demikian maka kaki harimau itu sama sekali tidak menyentuhnya.
Harimau itu mengaum keras-keras sambil dengan sigapnya memutar tubuhnya. Sekali lagi harimau itu merunduk dan siap untuk menerkam.
Tetapi Mahisa Murti pun sudah siap pula menghadapi segala kemungkinan. Ia pun telah berdiri tegak menghadap ke arah harimau itu. Tubuhnya agak miring dan merendah pada lututnya. Sementara itu Mahisa Murti pun telah berada pada puncak kemampuannya.
Sementara itu Mahisa Pukat telah bersiap pula. Lawannya ternyata masih belum menyerang. Harimau itu masih berjalan memutarinya, mengamatinya dari berbagai arah.
Dalam pada itu Mahisa Pukat masih berdesis, “Tingkah lakumu bukan tingkah laku seekor harimau. Meskipun ujudnya adalah ujud harimau yang besar dan garang, tetapi ungkapan tingkah lakumu menunjukkan sifat licikmu.”
Tiba-tiba saja harimau itu menggeram keras sekali. Mahisa Pukat bergeser selangkah. Katanya, “Aku tidak peduli apakah kau mengarti kata-kataku atau tidak. Tetapi sifat penakutmu itu tidak serasi dengan ujudmu yang garang dan mendebarkan jantung itu.”
Sekali lagi harimau itu mengaum keras. Tiba-tiba saja harimau itu meloncat menerkam Mahisa Pukat.
Tetapi Mahisa Pukat pun sudah siap menghadapi kemungkinan itu. Sambil menghindar ia masih sempat berkata, “Apakah kau mengerti kata-kataku? “
Aneh, harimau nampaknya tanggap mendengar pembicaraan seseorang. Bahkan harimau jadi-jadian pun tidak akan mengerti bahasa manusia dalam keadaannya.
Harimau yang marah itu mengaum keras ketika kakinya gagal mengkoyak kulit Mahisa Pukat. Namun harimau itu menggeliat ketika Mahisa Pukat justru telah menyerangnya dengan kecepatan yang sangat tinggi, tepat pada saat harimau itu menjejakkan kakinya di tanah. Kaki Mahisa Pukat telah menghantam lambung harimau itu sehingga harimau yang besar dan kuat itu telah terdorong ke samping, bahkan hampir saja harimau itu jatuh berguling.
Tetapi harimau yang garang itu dengan tangkasnya pula telah berputar dan memperbaiki keseimbangannya Bahkan dengan cepat pula melonjak menggapai tubuh lawannya.
Demikianlah, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah terlibat dalam perkelahian melawan dua ekor harimau yang besar dan garang. Namun ternyata bahwa kedua anak muda itu memang memiliki ketangkasan dan kemampuan melampaui orang kebanyakan.
Ketika harimau yang garang itu meloncat menyerang Mahisa Murtilah yang kemudian dengan cepat meloncat ke punggungnya dan justru telah berhasil melekat pada tubuh harimau itu.
Harimau yang marah itu menjadi semakin marah. Dengan sekuat tenaga harimau itu berusaha untuk rrtenghibaskan orang yang telah melekat di punggungnya.
Namun pegangan tangan Mahisa Murti bagaikan lekat pada kulitnya, sehingga Mahisa Murti itu tidak berhasil dikibaskannya dari punggungnya.
Beberapa saat kemudian perkelahian itu pun menjadi semakin seru. Namun kedua ekor harimau itu ternyata tidak mampu menguasai kedua orang lawannya. Yang seekor, yang justru telah berada di cengkeraman tangan Mahisa Murti, menjadi bingung.
Meloncat, berputar, berguling dan dengan laku yang dapat dilakukan untuk melemparkan orang yang berada di punggungnya. Tetapi harimau itu tidak berhasil.
Sementara itu, harimau yang bertempur melawan Mahisa Pukat telah beberapa kali terkena serangan yang sangat keras. Bahkan harimau yang garang itu, telah terdorong beberapa langkah dan jatuh berguling.
Sekali-sekali kuku-kuku harimau itu memang berhasil menyentuh tubuh Mahisa Pukat sehingga terjadi goresan-goresan yang menitikkan darah. Namun luka-luka pada tubuh Mahisa Pukat itu tidak cukup berbahaya dan tidak mempengaruhi perlawanannya.
Sebagaimana Mahisa Pukat, Mahisa Murti pun telah terluka pula. Harimau yang bagaikan gila itu telah berguling-guling, meloncat dan membenturkan tubuhnya pada batu-batu padas. Dengan demikian maka kulit Mahisa Murti pun telah menyentuh tanah yang berbatu padas, menyentuh ranting-ranting perdu dan duri-duri gerumbul yang tajam. Namun luka-luka itu sama sekali tidak mempengaruhi perlawanan Mahisa Murti.
Untuk beberapa saat lamanya, ternyata bahwa kedua ekor harimau itu tidak mampu menunjukkan tanda-tanda kemenangan. Bahkan semakin lama justru menjadi semakin mengalami kesulitan. Baik yang melawan Mahisa Murti maupun yang melawan Mahisa Pukat.
Dalam keadaan yang paling gawat dari kedua ekor harimau yang semakin terdesak itu, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah dikejutkan oleh suara yang menggetarkan udara. “Bukan main anak-anak muda. Kalian mampu memberikan perlawanan yang luar biasa atas harimau-harimau yang garang itu.”
“Persetan,” geram Mahisa Murti, “licik kau.”
Yang terdengar adalah suara tertawa. Di sela-sela suara tertawanya terdengar kata-katanya, “Aku menguasai binatang buas di hutan itu. Harimau itu adalah harimau yang sebenarnya. Bukan harimau jadi-jadian seperti yang kalian duga. Aku mempunyai ilmu gendam yang dapat mempengaruhi binatang buas dan tunduk atas kehendakku.”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat lah yang kemudian menjadi sangat marah. Ternyata mereka berdua telah dihadapkan kepada salah satu kemampuan ilmu orang yang tidak dikenal itu. Karena itu, maka Mahisa Pukat pun tidak sabar lagi untuk bertempur dengan puncak-puncak kemampuannya. Dengan kemarahan yang menggelora di dalam dadanya, maka Mahisa Pukat telah menggerakkan ilmu pamungkasnya. Ilmu yang jarang sekali dipergunakan. Ilmu yang diwarisinya dari ayahnya.
Dengan kekuatan ilmu yang jarang ada duanya, maka Mahisa Pukat ingin mengakhiri perlawanan harimau yang garang itu.
Karena itu, maka tiba-tiba Mahisa Pukat itu pun telah mengambil jarak dari lawannya. Dengan cepat dan sigap, maka Mahisa Pukat pun telah bersiap dengan puncak ilmunya.
Bersambung.......!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar