Sabtu, 02 Januari 2021

HIJAUNYA LEMBAH HIJAUNYA LERENG PEGUNUNGAN JILID 028-04

*HIJAUNYA LEMBAH.  JILID 028-04*

“Kami ingin mengetahui latar belakang dari perbuatan mereka. Apa yang mendorong mereka berusaha untuk mengambil mahkota yang sangat berharga itu,” berkata Mahisa Murti, “dengan mengetahui latar belakangnya, maka Pangeran Singa Narpada akan dapat menentukan langkah-langkah pengamanan untuk selanjutnya.”

“Baiklah,” berkata Mahisa Bungalan, “Aku akan berusaha untuk mendapat keterangan lebih banyak tentang padepokan itu. Mungkin letaknya, ke mana padepokan itu menghadap, lingkungannya dan mungkin waktu-waktu tertentu orang-orang dari padepokan itu berbelanja.”

“Terima kasih,” jawab Mahisa Murti, “selama itu, aku akan mendapat kesempatan untuk ikut bersama memperjual belikan batu-batu akik, wesi aji, permata dan logam mulia.”

Demikianlah, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mulai dengan perjalanan-perjalanan sebagaimana ditempuh oleh ayahnya. Tetapi ayahnya memang tidak memperkenalkannya sebagai anak-anaknya. Tetapi keduanya disebutnya sebagai pedagang-pedagang muda yang memiliki kemauan keras dalam usahanya untuk maju.

Setelah beberapa kali keduanya mengikuti perjalanan ayahnya pada jarak-jarak yang tidak terlalu jauh, maka keduanya dapat mengerti, meskipun belum terlalu lancar, apa saja yang harus dilakukan oleh pedagang.

“Kau tidak usah menipu calon pembelimu,” pesan ayahnya, “kau katakan sebagaimana adanya dan kau dapat berterus terang bahwa kau mengambil keuntungan atas harga yang kau tentukan itu. Jika kau tidak mengambil keuntungan terlalu besar, maka biasanya calon pembeli itu tidak berkeberatan. Mereka tidak pernah merasa tertipu dan di saat lain jika mereka memerlukan lagi, mereka akan menghubungimu. Tetapi jika sekali mereka merasa tertipu, maka mereka tidak akan lagi mau berkenalan denganmu, karena ada orang-orang lain yang melakukan pekerjaan yang sama dengan yang kita lakukan.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat ternyata memiliki bakat ayahnya. Bukan saja dalam olah kanuragan, bahwa mereka telah mewarisi ilmu yang nggegirisi. Namun ternyata mereka pun dengan cepat mampu melakukan sebagaimana dilakukan ayah mereka dalam perdagangan.

Setelah beberapa lamanya kedua anak muda itu mengikuti Mahendra, maka keduanya kemudian telah mampu melakukannya sendiri.

“Tetapi kita tidak boleh melupakan tugas yang dibebankan di pundak kita,” berkata Mahisa Murti.

“Bukankah kita tidak dibatasi waktu?”

“Sementara ini kita menunggu keterangan yang sedang dikumpulkan oleh kakang Mahisa Bungalan tentang padepokan itu,” sahut Mahisa Pukat.

“Jika kita mengharapkan keterangan yang lengkap, maka kita tidak perlu lagi pergi ke padepokan itu. Kita tinggal menyadap keterangan itu dan kita sampaikan kepada Pangeran Singa Narpada,” jawab Mahisa Murti.

“Bukan begitu, “desis Mahisa Pukat, “keterangan yang aku maksud adalah sekedar keterangan yang akan dapat menuntun kita ke dalam persoalan yang lebih dalam lagi.”

Mahisa Murti mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Besok kita menghadap kakang Mahisa Bungalan. Apakah ia sudah dapat mengumpulkan keterangan lebih banyak.”

Demikianlah, maka dikeesokan harinya, sepengetahuan ayah mereka, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah menemui kakaknya untuk menanyakan apakah kakaknya sudah mendapat keterangan lebih banyak tentang padepokan Suriantal.

Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku memang sudah bertemu dengan orang yang pernah mendekati daerah yang bernama Suriantal itu. Ia sampai ke padepokan itu dengan tidak sengaja. Namun ia akan dapat memberikan ancar-ancar, jika kalian berdua memang benar-benar ingin sampai ke sana.”

“Baiklah kakang. Ancar-ancar itu tentu akan sangat berarti bagi kami berdua,” jawab Mahisa Murti.

Dengan demikian maka Mahisa Bungalan pun telah mengajak kedua adiknya langsung bertemu dengan petugas sandi Singasari yang pernah tersesat sampai ke padepokan Suriantal.

Beberapa keterangan yang tidak penting memang dan didengar oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Namun yang sangat berarti bagi mereka adalah ancar-ancar jalan menuju ke padepokan itu.

“Aku tidak mampu mengingat, bagaimana aku sampai ke tempat itu. Aku tersesat pada waktu itu. Kebetulan saja aku sampai ke satu daerah yang ternyata berada di bawah pengaruh padepokan yang bernama Suriantal itu,” berkata petugas itu.

“Tetapi bagaimana kau dapat kembali ke Singasari?” bertanya Mahisa Murti.

“Aku ke luar dari daerah yang tidak dikenal itu tanpa tahu jalan mana yang harus aku tempuh. Namun akhirnya aku mengenali satu daerah yang pernah aku datangi dalam tugas sandiku mengikuti seorang perampok yang lolos dari tangkapan prajurit Singasari. Dengan demikian, maka aku mampu menempuh jalan kembali ke Singasari ini.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Agaknya jalan menuju ke padepokan itu memang sulit. Namun bagaimanapun juga kedua anak muda itu sudah bertekad untuk pergi menuju ke tempat itu.

Dari petugas sandi Singasari itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mendapat petunjuk sebuah daerah pemukiman yang agak ramai yang terletak tidak terlalu jauh dari tempat petugas sandi itu mulai mengenali tempat di mana ia tersesat.

“Bagus,” berkata Mahisa Murti, “jadi kota kecil itu, cukup ramai?” bertanya Mahisa Murti.

“Bukan sebuah kota,” jawab petugas sandi itu, “hanya sebuah lingkungan yang dihuni oleh orang-orang yang terdiri dari satu keturunan, yang berkembang semakin banyak. Dari tempat itu masih ada jarak kira-kira tujuh ratus tonggak untuk mencapai ujung pengenalanku itu. Seterusnya aku memang menjadi bingung. Yang aku ngat, aku telah melewati sebatang pohon randu alas. Kemudian sebatang sungai kecil tanpa jembatan dan sesak. Hutan yang lebat meskipun tidak aku masuki. Dan sebuah batu besar berwarna hijau oleh lumut yang tebal. Hanya itulah yang aku ingat. Kemudian aku melihat sebuah pintu gerbang yang ternyata adalah pintu gerbang padepokan Suriantal yang hanya banyak dikenal namanya saja.”

“Nah,” berkata Mahisa Bungalan, “Kalian harus menemukan daerah itu. Ancar-ancar itu pun tidak terlalu banyak menolongmu. Tetapi itulah yang dapat, disampaikan kepada kalian. Tidak lebih.”

“Terima kasih,” berkata Mahisa Murti, “kami akan berusaha dengan segala upaya.”

“Perjalanan yang berbahaya,” berkata petugas sandi itu, “Tetapi aku sependapat dengan kalian. Berjalan terus. Bahkan seandainya kalian tidak berkeberatan, aku bersedia untuk ikut bersama kalian.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat saling berpandangan. Namun kemudian Mahisa Murti berkata, “Aku tidak tahu apakah keikutsertaanmu itu akan memberikan arti. Tetapi setidak-tidaknya kau dapat membawa aku sampai ke ujung daerah pengenalanmu itu apabila kakang Mahisa Bungalan tidak mempunyai pikiran lain.”

Mahisa Bungalan termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Aku tidak berkeberatan. Tetapi karena orang itu berada di kesatuan yang bukan menjadi tanggung jawabku, maka diperlukan ijin dari panglimanya.”

“Aku akan melakukannya,” jawab petugas sadi itu, “aku kira Panglima tidak akan berkeberatan, karena jika aku berhasil, maka hasilnya akan berarti juga bagi Singasari.”

Sejenak Mahisa Bungalan termangu-mangu. Namun ia mengenal dengan baik Panglima yang memimpin pasukan sandi itu. Karena itu, maka Mahisa Bungalan berkata, “Baiklah. Tetapi biarlah kami berpikir barang satu dua hari. Apakah aku sependapat dengan usulmu, bahwa kau akan pergi juga kembali ke daerah yang pernah menyesatkanmu itu.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat nampaknya sependapat dengan kakaknya. Mereka mempertimbangkan untung ruginya jika mereka pergi bersama dengan petugas sandi itu. Apakah mereka masih akan dapat memegang tugas rahasia kepergian mereka ke sarang orang-orang bertongkat itu.

“Baiklah,” berkata petugas sandi itu, “jika memang diperlukan, aku siap melakukannya.”

“Terima kasih,” berkata Mahisa Bungalan, “Sebenarnya kami memang sangat memerlukan petunjuk-petunjuk itu. Tetapi seperti kami katakan, kami memerlukan waktu untuk memikirkannya.”

Demikianlah, maka Mahisa Bungalan mendapat kesempatan untuk bertemu dengan pemimpin langsung dari petugas sandi itu. Kepada pemimpin petugas sandi itu Mahisa Bungalan mengemukakan persoalan yang dihadapinya.

“Tetapi aku berterus terang kepadamu, bahwa adikku itu bekerja untuk Kediri. Tentu saja Kediri yang mengerti dengan baik dan benar, hubungannya dengan Singasari.”

Pemimpin pasukan sandi itu mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Masalah apa yang paling penting kita persoalkan.”

“Kesetiaan orang itu,” sahut Mahisa Bungalan.

“Orang itu sudah bekerja bersamaku bertahun-tahun, Aku percaya kepadanya,” jawab pemimpin pasukan itu.

“Bagaimana dengan kemampuannya?” bertanya Mahisa Bungalan.

“Jangan dibanding dengan kemampuanmu,” jawab pemimpin pasukan itu, “aku pun tidak dapat menyamai kemampuanmu. Namun untuk menjaga dirinya, ia cukup mempunyai bekal. Ia tidak menyadap ilmu setelah menjadi prajurit dan apalagi memasuki tugas sandi. Sebelumnya ia memang sudah berguru dan membawa bekal ilmu ketika ia berada didalam lingkungan pasukan sandi.”

Mahisa Bungalan mengangguk-angguk pula. Katanya, “Bagaimana pendapatmu atas kesediaannya untuk mengikuti kedua adikku karena ia merasa pernah sampai ke tempat itu meskipun sudah dikatakannya bahwa ia merasa tersesat.”

Panglima pasukan sandi itu termangu-mangu sejenak. Ia mencoba untuk membayangkan, apakah yang mungkin terjadi di perjalanan mereka. Karena itu, maka katanya. “Apakah kau yakin bahwa kedua adikmu itu akan mampu pula menjaga dirinya?”

“Aku kira begitu. Tetapi karena aku belum tahu kemampuan petugas itu, maka belum dapat mengatakan, apakah kedua adikku itu memiliki ilmu setidak-tidaknya setingkat dengan petugas sandi itu,” jawab Mahisa Bungalan.

Namun kemudian pemimpin pasukan sandi itu pun berkata, “Sebenarnya aku cenderung untuk tidak berkeberatan. Mungkin tugas ini akan berarti pula bagi Singasari. Tetapi dengan satu pembicaraan semacam perjanjian, bahwa masing-masing bertanggung jawab tentang dirinya sendiri. Artinya, bahwa masing-masing tidak ada ketergantungan. Bukan berarti bahwa mereka tidak dapat bekerja bersama. Justru mereka harus bekerja bersama. Tetapi jika terjadi sesuatu atas salah seorang dari mereka, maka tanggung jawab berada atas diri mereka masing-masing. Yang lain tidak akan dianggap bersalah karena tidak mampu melindungi kawan-kawannya.”

Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. Ia mengerti maksud perwira yang menjabat sebagai Panglima pasukan sandi itu. Agaknya ia tidak mau mempertaruhkan anak buahnya dalam tugas itu. Dan ia pun tidak mau petugas sandi bertanggung jawab atas kedua adik Mahisa Bungalan yang masih sangat muda.

Karena itu, maka Mahisa Bungalan berkata, “Baiklah.”

Karena itu, maka Mahisa Bungalan itu pun berkata, “Baiklah. Aku mengerti. Maksudmu mereka harus bersiap menghadapi segala kemungkinan atas tanggung jawab mereka masing-masing. Yang satu tidak menjadi pelindung yang lain. Namun mereka harus bekerja bersama sebaik-baiknya.”

Panglima pasukan sandi itu mengangguk-angguk. Namun ia masih menjambung lagi, “Bukan maksudku mencurigai kemampuan kedua adik-adikmu yang masih sangat muda itu. Tetapi jika terjadi sesuatu jangan kita saling menyalahkan. Demikian juga jika petugasku itu tidak kembali karena sesuatu hal, maka kau tidak akan dapat menuntut kedua adik-adikmu.”

“Aku setuju, tetapi dengan jaminan bahwa petugasmu itu adalah petugas yang setia dan dapat dipercaya,” berkata Mahisa Bungalan kemudian.

Panglima itu mengangguk-angguk. Katanya, “Aku yakin.”

“Jika demikian, maka kita akan berjanji, bahwa kita akan melepaskan mereka bekerja bersama dalam tugas ini. Kedua adikku dengan petugas sandi itu. Mudah-mudahan mereka akan dapat menyelesaikan tugas mereka dengan baik.”

Panglima itu mengangguk. Namun ia pun kemudian mengerutkan keningnya sambil berdesis, “Apakah kau sudah memberikan sedikit penjelasan kepada kedua adikmu, bahwa banyak kemungkinan dapat terjadi?”

“Ya. Aku sudah berbicara banyak dengan mereka,” jawab Mahisa Bungalan.

“Sebenarnyalah mereka masih sangat muda. Apalagi untuk menangani tugas ini. Aku kurang mengerti, kenapa Kediri tidak memilih petugas yang lebih tua dan berpengalaman,” desis Panglima pasukan sandi itu.

Mahisa Bungalan tersenyum. Katanya, “Aku juga heran bahwa kedua adikku itu telah mendapat kepercayaan yang besar dari para pemimpin di Kediri. Tetapi mungkin juga karena pertimbangan lain. Kediri tidak mau kehilangan orang-orang terbaiknya. Karena Kediri tidak yakin bahwa tugas ini akan dapat diselesaikan dengan baik, dan para petugas yang akan melakukannya sempat kembali dengan selamat, maka Kediri merasa lebih baik mengirimkan orang lain namun yang dapat dipercaya.”

Panglima itu tersenyum. Katanya, “Kau pandai mengada-ada. Tetapi biarlah kedua adikmu itu mendapat pengalaman. Petugas sandi itu akan membantu kedua adikmu untuk menempuh satu perjalanan yang sulit, namun sekali lagi, dalam tanggung jawab masing-masing atas diri sendiri.”

“Baiklah. Besok kita akan berjanji, kapan mereka akan berangkat,” berkata Mahisa Bungalan.

Dengan demikian, maka Mahisa Bungalan pun menemui kedua adiknya. Ia mengatakan apa yang didengarnya dari panglima petugas sandi itu.

“Kakang yakin akan mereka?”

“Aku yakin,” jawab Mahisa Bungalan, “Jika aku keliru, maka yang salah adalah Panglimanya itu.”

Dengan kesediaan kedua belah pihak maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun telah bersiap-siap untuk berangkat bersama seorang petugas sandi yang memperkenalkan dirinya dengan nama Urawan.

Beberapa pesan telah diberikan kepada mereka bertiga. Panglima petugas sandi itu pun telah memberikan pesan-pesan langkah-langkah terbaik yang harus mereka lakukan sebagai petugas sandi. Kemudian Mahisa Agni, Wirantra dan Mahendra pun telah memberikan pesan-pesannya pula.

“Berhati-hatilah dalam semua langkah yang kalian ambil,” berkata Mahisa Agni, “aku berpengalaman cukup lama selaku seorang perantau. Banyak sekali bahaya yang mengancam diluar dugaan kita. Apalagi kalian telah dengan sengaja mendekati satu daerah yang kurang kalian kenal. Banyak sekali kemungkinan yang akan kalian ketemukan di daerah itu. Mungkin tidak ada apa-apa, tetapi mungkin daerah itu menyambutmu dengan keras dan kasar. Bahkan kejam dan keji.”

Ketiga orang itu mengangguk-angguk. Mereka bertiga mengenal siapakah Mahisa Agni, sehingga apa yang dikatakan itu tentu akan memberikan arti kepada mereka. Demikian pula Witantra dan Mahendra. Apalagi Mahendra yang pekerjaaannya sehari-hari adalah seorang pedagang keliling, maka pengalaman menempuh perjalanan tentu sudah banyak sekali.

Demikianlah maka pada hari yang sudah ditentukan mereka bertiga pun telah berangkat. Untuk tidak menai perhatian orang-orang di Kota Raja, maka mereka bertiga telah berangkat dari rumah Mahendra. Mereka seperti biasanya, berpakaian seperti orang kebanyakan. Mereka tidak membawa bekal yang berlebih-lebihan. Mereka hanya membawa sepengadeg pakaian selain yang mereka pakai. Namun seperti yang telah dilakukannya, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat membawa bekal uang yang cukup. Selain mereka dapat dari Pangeran isinga Narpada. karena Pangeran Singa Narpada menyadari tugas itu sangat berat, sehingga mungkin memerlukan uang yang cukup banyak pula selama di perjalanan, mereka pun telah menerima bekal dari ayah mereka. Bahkan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah membawa pula beberapa buah batu akik dan batu-batu berharga sebagai dagangan apabila mereka mendapat kesempatan untuk menjualnya.

Di hari-hari pertama dalam perjalanan mereka, petugas sandi itu pun sedang berusaha untuk menemukan jalan yang pernah ditempuhnya pada saat ia mengikuti seorang penjahat, sehingga jika jalan itu diketemukan, maka ia akan dapat menelusuri jalan itu sampai kepada satu tempat yang memang sulit, sehingga mungkin mereka harus bekerja keras untuk menemukan jalan menuju ke padepokan Suriantal.

“Apa yang akan kita lakukan setelah kita berada di sekitar padepokan itu akan kita pikirkan kemudian,” berkata petugas sandi itu.

“Ya,” jawab Mahisa Murti, “kau memiliki pengalaman jauh lebih banyak dari kami. Kami berdua akan mengikut saja apa yang menurut pertimbangan baik.”

“Ah, jangan begitu,” sahut Urawan, “kita akan bersama-sama melakukan tugas ini. Tetapi sudah barang tentu, yang memiliki pengenalan lebih banyak akan dapat menuntun yang lain.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Namun tiba-tiba Mahisa Pukat bertanya, “Sepanjang perjalan, bagaimanakah susunan hubungan kita?”

“Maksudmu?” bertanya Urawan.

“Apakah kita tetap orang lain seperti sekarang, ataukah kita akan menjadi saudara atau hubungan yang lain? Apakah kita akan tetap dengan nama kita masing-masing atau kita akan menentukan nama yang lain bagi kita.”

“Kita bukan orang-orang terkenal,” jawab Urawan, “karena itu, jika kita memakai nama kita pun tidak akan mudah diketahui siapakah kita sebenarnya. Orang-orang di sepanjang jalan yang akan kita lalui tetap tidak akan mengerti, apakah kita bernama seperti nama kita yang sebenarnya atau kita akan mempergunakan nama yang lain. Tetapi dalam hubungan di antara kita aku setuju, bahwa aku menjadi saudara kalian yang tertua. Sehingga kita akan menempuh perjalanan tiga bersaudara.”

“Apa acara kita? Sekedar mengembara atau ada tugas lain yang kita emban dalam perjalanan ini?” bertanya Mahisa Murti kemudian.

Urawan itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Kita adalah pengembara. Tidak ada yang akan kita lakukan selain mengembara dari satu tempat ke tempat lain.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Namun tiba-tiba saja Mahisa Pukat berdesis sambil tersenyum, “Tetapi nama kita sama sekali tidak bersentuhan. Namun kami berdua adalah Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.”

Urawan itu pun tersenyum pula. Jawabnya, “Baiklah. Namaku akan berubah menjadi Mahisa Ura.”

“O,” sahut Mahisa Murti, “kau tahu apa artinya ura?”

“Tahu, Kenapa? Ura adalah satu kerja tanpa tujuan. Asal saja dilakukan. Nah, bukankah aku juga sedang berbuat demikian sekarang,” jawab Urawan yang telah merubah namanya menjadi Mahisa Ura.

“Baiklah,” jawab Mahisa Pukat, “kita adalah tiga bersaudara. Mahisa Ura, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.”

Ketiganya tertawa. Sementara itu kaki mereka melangkah terus menyusuri jalan yang masih belum dapat dikenali.

Tetapi petugas sandi yang menyebut dirinya Mahisa Ura itu pun mempunyai beberapa ancar-ancar yang dapat meyakinkannya, bahwa pada saat ia akan menemukan jalan yang pernah ditelusurinya, pada satu tugasnya yang berat, mengikuti seorang yang memiliki kemampuan yang tinggi, namun telah dipergunakan untuk melakukan tindakan-tindakan yang sesat. Seorang perampok yang berhasil terlepas dari tangan para prajurit.

“Bagaimana kau berhasil menangkap perampok itu?” bertanya Mahisa Pukat.

“Aku berhasil mengetahui persembunyiannya,” jawab Mahisa Ura, “keterangan dari orang-orang di padukuhan yang aku datangi atas dasar beberapa petunjuk, memberikan jalan kepadaku. Meskipun agaknya setiap orang tidak ada yang berani menyebutkan tempat persembunyiannya itu, namun beberapa patah kata dapat menuntun aku pada satu kepastian, bahwa orang itu akhirnya dapat aku ketemukan.”

“Di rumahnya?” bertanya Mahisa Murti.

“Sama sekali tidak,” jawab petugas sandi itu, “aku menemukan di rumah seorang perempuan yang akan dijadikan isterinya yang ke lima. Menurut keterangannya dua orang isterinya telah dibunuhnya. Sementara ia akan mengawini isteri kelimanya, satu lagi isterinya sudah direncanakannya untuk dibunuh. Tetapi sebelum ia sempat melakukannya, ia sudah tertangkap.”

“Bukan main,” desis Mahisa Pukat, “hukuman apakah yang kemudian diterima dengan segala laku jahatnya itu?”

“Hukuman seumur hidupnya. Ia tidak akan dilepaskan dari sebuah penjara untuk selamanya-lamanya, karena orang seperti perampok itu sudah tidak ada lagi harapan untuk dapat menyembuhkan tabiatnya,” jawab petugas sandi itu.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Mereka mengerti, mengapa orang itu harus dihukum seumur hidup.

Demikianlah, maka ketiga orang itu telah menelusuri jalan yang diduga akan sampai pada satu jalur yang pernah dikenal oleh petugas sandi itu.

Jika malam turun, maka mereka dapat bermalam dimana saja. Di tengah-tengah bulak, di pategalan atau di hutan. Namun sekali-sekali mereka sempat juga bermalam di sebuah banjar.

Ternyata bahwa akhirnya yang diperhitungkan oleh betugas sandi itu benar juga. Ketika mereka bertiga muncul dari sebuah jalan sempit dan turun ke sebuah jalan yang lebih besar, maka tiba-tiba saja petugas sandi yang berpengalaman melakukan pengembaraan itu melihat sebuah gumuk kecil yang ditumbuhi sebatang pohon preh dan dijalari beberapa batang sejenis rotan yang lebat sehingga pohon preh raksasa itu hampir tidak dapat dikenali lagi.

Yang nampak hanyalah jalur-jalur panjang yang membelit dari ranting dengan daunnya yang lebat.

Petugas sandi itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kita sudah sampai ke satu tempat yang dapat aku kenali.”

“O,” Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun mengangguk. Ketika mereka mengikuti tatapan mata petugas sandi itu, maka mereka pun telah melihat gumuk itu pula.

“Aku tidak akan keliru. Jenis tanaman itu jarang sekali terdapat disini,” berkata Mahisa Ura.

“Bagus,” sahut Mahisa Pukat, “kita akan menemukan sasaran kita. Tetapi jalan masih panjang. Mungkin besok kita baru akan sampai ke padukuhan tempat yang terakkhir aku kenali, karena di padukuhan itu aku berhasil menangkap orang yang aku cari.”

“Ya,” jawab Mahisa Murti, “Mudah-mudahan perjalanan selanjutnya lancar.”

Petugas sandi itu mengangguk-angguk. Sebagaimana dikatakannya maka jarak yang mereka tempuh memang masih panjang.

Namun ketika mereka sedang beristirahat di sebuah kedai, maka tiba-tiba saja telah terjadi sesuatu yang sangat mengejutkan. Dua orang tiba-tiba saja telah muncul di ambang pintu. Wajah mereka kasar sebagaimana sikap mereka. Dengan langkah yang kasar pula keduanya memasuki kedai itu dan duduk dengan tanpa mengenal unggah-ungguh.

Tetapi yang lebih mengejutkan lagi adalah Mahisa Ura yang berdesis, “Gila. Orang itulah yang aku katakan. Apakah ia terlepas dari penjara?”

Sebelum Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menjawab, Mahisa Ura telah meloncat ke arah orang itu sambil membentak, “He, apakah kau sempat melarikan diri. Jika demikian, maka aku datang untuk menangkapmu.”

Orang-orang berwajah kasar itu termangu-mangu.

Sementara itu keadaan menjadi tegang. Mahisa telah berdiri di hadapan orang berwajah kasar itu. Dengan sikap yang garang Mahisa Ura siap bertindak jika orang itu berbuat sesuatu.

“He, apakah kau gila Ki Sanak,” geram salah seorang dari keduanya, “agaknya kau belum mengenal kami.”

“Aku mengenal kawanmu ini,” geram Mahisa Ura, “aku sudah menangkapnya beberapa saat yang lain. Tetapi agaknya ia sempat melarikan diri.”

“Aku bunuh kau,” kawan orang yang disebut telah pernah ditangkap itu berteriak.

Tetapi Mahisa Ura pun telah bersiap. Sementara Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun telah berdiri pula.

Namun tiba-tiba saja orang yang disebut pernah ditangkap itu bersikap lain. Ia justru menggamit kawannya sambil berkata, “Duduklah. Mungkin terjadi salah paham.”

“He?” kawannya merasa heran, “kau membiarkan diri kita diperlakukan seperti ini?”

“Tunggulah,” jawab orang yang disebut pernah ditangkap itu. Lalu katanya kepada Mahisa Ura, “Ki Sanak. Siapakah sebenarnya kalian. Dan kenapa kau menyebut bahwa aku pernah kau tangkap? Selain ini aku tidak pernah berbuat apa-apa yang dapat menjadi alasan untuk menangkapku. Kami memang orang-orang kasar, karena kami adalah tukang blandong yang bekerja sekedar untuk dapat hidup. Apakah seorang tukang blandong memang dapat ditangkap hanya karena ia seorang tukang blandong?”

Mahisa Ura termangu-mangu sejenak. Tetapi menurut penglihatannya orang itu benar-benar orang yang pernah ditangkapnya.

Namun Mahisa Ura memang melihat sikap yang agak berbeda dengan orang yang pernah ditangkapnya. Suaranya pun mempunyai tekanan yang berbeda pula.

“Apakah kau belum pernah ditangkap?” bertanya Mahisa Ura kemudian.

“Menurut ingatanku belum Ki Sanak. Sudah aku katakan, aku adalah seorang tukang blandong yang barangkali memang bersikap dan ujud sangat kasar menurut penglihatanmu,” jawab orang itu.

Mahisa Ura menarik nafas dalam-dalam. Semakin lama ia memang melihat beberapa kelainan pada orang itu. Orang yang pernah ditangkapnya itu mempunyai cacat dibawah mata kirinya. Sementara orang ini tidak. Betapapun kecilnya cacat itu, tetapi karena pada saat itu ia benar-benar memperhatikan wajah orang yang menjadi buruannya, maka ia dapat melihatnya.

“Kau tidak mempunyai cacat dibawah mata kirimu?” bertanya Mahisa Ura.

“Sebagaimana kau lihat,” jawab orang itu, “aku justru mempunyai cacat di bawah telinga kananku. Satu kecelakaan ketika aku menebang sebatang pohon cangkring di pinggir sungai di ujung padukuhan ini.”

Mahisa Ura menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Maaf Ki Sanak. Agaknya aku memang bersalah.”

Kawan orang yang dicurigai itu hampir saja membentak dan berteriak. Tetapi orang yang disangka terlepas dari penjara itu justru menggamitnya. Bahkan katanya, “Ah, tidak apa-apa Ki Sanak. Setiap orang pada satu saat akan dapat keliru.”

Mahisa Ura bergeser mundur. Ia pun kemudian duduk kembali di sebelah Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang sudah duduk pula.

Namun dalam pada itu, kedua orang kasar itulah yang justru berdiri. Orang yang disangka lari dari penjara itu berkata, “Sudahlah Ki Sanak. Aku merasa berdebar-debar. Biarlah aku mengurungkan niatku untuk makan.”

“Kenapa?” bertanya Mahisa Ura, “silahkan makan. Biarlah aku yang membayarnya.”

“Terima kasih,” jawab orang itu, “Biarlah aku sempat menenangkan hatiku sejenak.”

Mahisa Ura tidak dapat menahannya. Bahkan sekali lagi ia minta maaf kepada kedua orang itu.

Ketika kedua orang itu sudah tidak nampak lagi, maka Mahisa Ura itu pun berkata, “Aku memang keliru. Aku telah melakukan satu kebodohan. Dengan demikian maka perhatian beberapa orang sudah tertuju kepadaku.”

“Ya,” jawab Mahisa Murti, “kau terlalu cepat mengambil sikap.”

“Aku tidak ingin membiarkannya terlepas. Tetapi ternyata aku keliru. Biasanya pengenalanku atas seseorang jarang sekali salah,” desis Mahisa Ura.

“Tetapi kita belum terlambat,” gumam Mahisa Murti

“Kita dapat segera meninggalkan tempat ini. Seterusnya tidak ada lagi orang yang mengenali kita di padukuhan-padukuhan berikutnya.”

Mahisa Ura mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Kita harus segera pergi.”

“Tetapi kita selesaikan dahulu makanan dan minuman kita,” sahut Mahisa Pukat.

Dengan demikian maka mereka masih duduk untuk beberapa saat. Namun setelah makan dan minuman mereka habis, maka mereka pun telah meninggalkan kedai itu setelah mereka membayar harganya.

Ketika mereka berada di luar kedai, tidak terlalu banyak orang yang mereka jumpai melintasi dijalan didepan kedai itu. Yang berjalan melintas itu pun sama sekali tidak menghiraukan mereka. Sehingga dengan demikian mereka merasa bahwa yang terjadi itu tidak menarik perhatian orang, sementara yang berkepentingan pun agaknya telah melupakannya.

Karena itulah, maka ketiga orang itu pun telah berjalan dengan tenang meninggalkan padukuhan itu menuju kepadukuhan berikutnya.

Sementara itu, kedua orang yang telah meninggalkan kedai itu pun telah menghilang di tikungan. Dengan tergesa-gesa mereka berjalan kesebuah rumah di ujung jalan.

“Kenapa kau menjadi bingung seperti itu,” bertanya kawan dari orang yang disangka terlepas dari penjara. “kau tidak biasa berbuat demikian lunak kepada seseorang. Apalagi kau sudah dihina seperti itu.”

Orang itu tersenyum. Katanya, “Satu kebetulan yang tidak pernah aku mimpikan sebelumnya. Orang itu tentu orang yang pernah menangkap saudara kembarku. Saudara kembarku telah diikuti oleh seorang petugas sandi dari Singasari dan tiba-tiba menangkapnya dan membawanya ke Singasari. Calon isterinya mengetahuinya, tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa. Saudara kembarku yang memiliki ilmu yang tinggi itu pun tidak mampu melawannya. Karena itu, aku harus berpikir dua kali untuk bertindak.”

“Tetapi ada aku,” berkata kawannya.

“Mereka bertiga. Mungkin kedua orang kawannya itu pun berilmu tinggi pula,” jawab orang itu.

“Lalu apa maksudmu?” bertanya kawannya.

“Kita memanggil kawan-kawan kita. Kita akan mencegatnya dan aku ingin membalas dendam atas tertangkapnya saudara kembarku.”

“Mudah-mudahan mereka ada di rumah,” sahut kawannya, “karena itu kita harus cepat, sebelum kita kehilangan jejak.”

Sejenak kemudian mereka telah sampai di rumah yang dituju. Dengan tergesa-gesa mereka menceriterakan kepentingan mereka dan dengan tergesa-gesa pula mereka keluar dari rumah itu pula. Ternyata mereka masih juga singgah di dua rumah yang lain, sehingga mereka semua berjumlah lima orang.

“Bantu aku membalas dendam,” berkata orang yang kehilangan saudara kembarnya itu. “Bukankah aku sudah sering membantumu pula.”

“Kau tidak usah berkata begitu, “jawab kawannya, “apakah tanpa kata-kata itu aku akan menolak.”

“Maaf,” berkata orang yang ingin membalas dendam itu, “kita akan menyusulnya sekarang.”

Kelima orang itu pun kemudian telah kembali ke kedai tempat mereka bertemu dengan Mahisa Ura. Namun ternyata kedai itu telah kosong.

“Kemana orang-orang itu pergi?” bertanya orang yang mendendam itu kepada pemilik kedai.

“Aku tidak tahu,” jawab pemilik kedai itu.

Namun pemilik kedai itu tiba-tiba saja menyeringai menahan sakit ketika tangannya terpilih oleh orang yang sedang mendendam itu, “Sebut, atau tanganmu akan patah.”

Pemilik kedai itu tidak dapat mengelak. Karena itu maka ia pun telah menunjukkan arah perjalanan Mahisa Ura. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.

Kelima orang itu pun dengan tergesa-gesa telah menyusul ketiga orang yang baru saja meninggalkan kedai itu sambil mengancam, “Jika kau berbohong dan aku tidak dapat menyusul mereka, maka kau akan menjadi mayat disini.”

Pemilik kedai itu menjadi gemetar. Tetapi ia tidak dapat menjawab.

Dengan tergesa-gesa kelima orang itu pun berjalan searah dengan perjalanan Mahisa Ura. Orang yang mendendam itu pun berkata, “Aku yakin ia memang berjalan dijalan ini. Mungkin ia ingin menunjukkan kepada kawannya itu, dimana ia berhasil menangkap saudara kembarku.”

“Saudara kembarku mungkin menjadi lengah karena ia berada di rumah calon isterinya, sehingga petugas itu dapat menangkapnya. Menurut penglihatanku, saudaramu itu memiliki ilmu yang cukup tinggi.”

“Kami berguru bersama,” jawab saudara kembar itu. “Kita memiliki tingkat ilmu yang sama. Tetapi nasib saudara kembarku itu memang agak buruk, sehingga ia tertangkap oleh petugas itu memang nasibnya agak buruk, sehingga ia tertangkap oleh petugas yang gila itu.”

Kawan-kawannya mengangguk angguk. Katanya, “Sekarang kita yang akan menangkap mereka bertiga. Kita akan membawa mereka kedalam satu pertemuan di antara kawan-kawan kita. Dengan demikian maka kita akan mendapatkan satu permainan yang mengasyikkan.”

Kelima orang itu tertawa. Orang yang mendendam itu berkata, “Aku akan berbuat apa saja untuk kepuasan hatiku. Kemudian kita menghubungi Singasari lewat jalur apa pun juga. Kita akan menukarkan petugas itu dengan saudara kembarku.”

“Bagaimana mungkin dapat dilakukan,” jawab kawannya, “jika pada satu saat tukar menukar itu benar-benar berlangsung, maka disaat berikutnya kita semuanya justru akan ditangkap oleh pasukan segelar sepapan yang tentu sudah disiapkan.”

“Jadi bagaimana,” bertanya orang yang mendendam.

“Terserah kepada kita. Tetapi tidak untuk dipertukarkan, karena kita justru akan terjebak,” jawab kawannya.

Orang yang mendendam itu mengangguk-angguk yang lain pun ternyata sependapat, sehingga sebaiknya mereka tidak usah berpikir untuk menukarkannya.

Dalam pada itu kelima orang itu pun telah mempercepat langkah mereka. Ketika mereka mendekati regol, maka rasa-rasanya mereka tidak sabar lagi. Karena itu, maka orang yang mendendam itu pun berjalan semakin cepat.

Ia mencapai regol sesaat kemudian. Dengan jantung yang berdebar-debar dipandanginya bulak yang terbentang di hadapan mereka untuk melihat, apakah ketiga orang yang meninggalkan kedai itu masih dapat dilihatnya.

Keempat orang kawannya pun segera berdiri pula di sebelahnya. Mereka berlima berusaha untuk mengamati bulak yang cukup luas.

Sejenak kemudian, orang yang mendendam itu pun berdesis, “Kau lihat bintik-bintik sebelah pohon gayam itu?”

Yang lain mengangguk-angguk. Seorang di antara mereka berdisis, “Ya. Tiga orang. Itu tentu mereka.”

“Kita akan menyusulnya. Kita akan menangkap mereka,” berkata orang yang kehilangan saudara kembarnya.

Mereka berlima pun kemudian dengan tergesa-gesa telah memotong jalan. Mereka memintas lewat pematang yang silang menyilang.

Namun mereka pun sadar, bahwa mereka tidak akan dapat menyusul ketiga orang itu di bulak itu pula. Mereka akan mengikuti ketiganya sampai pada suatu yang memungkinkan bagi mereka untuk membuat perhitungan tanpa diganggu oleh orang lain.

Sejenak kemudian, maka ketiga orang yang disusul oleh kelima orang itu pun telah memasuki padukuhan. Tetapi itu bukan soal. Mereka tentu akan muncul di seberang padukuhan itu dan memasuki bulak di sebelah pula.

“Jalan di bulak sebelah menyeberangi sungai,” berkata salah seorang kelima orang itu.

“Kita cegat saja mereka di sungai itu. Kita akan memaksa mereka untuk bergeser dari jalan sepanjang tepian. Dan kita akan menangkap atau menyelesaikan mereka tanpa diganggu oleh orang lewat,” geram orang yang mendendam karena saudara kembarnya telah ditangkap.

Sebenarnyalah maka Mahisa Ura, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah menembus jalan padukuhan. Tetapi mereka memang tidak berhenti di padukuhan itu. Mereka menembus regol di ujung dan keluar di ujung yang lain.

Kemudian mereka pun menyusuri jalan bulak yang memang akan sampai ke sebuah tepian dan mereka harus menuruninya, karena mereka memang harus menyeberang sebuah sungai yang tidak begitu besar.

Seperti yang diperhitungkan, maka kelima orang yang mengambil jalan memintas itu telah menunggu ketiga orang itu. Mereka bersiap untuk membuat perhitungan. Mereka akan menangkap ketiganya untuk menjadi permainan yang mengasikkan bagi mereka. Namun jika sulit untuk menangkap, maka ketiga orang itu akan dibinasakan saja.

Seorang dari kelima orang itu telah duduk ditebing sungai untuk mengamati keadaan. Demikian ia melihat ketiga orang yang mereka tunggu itu berjalan mendekat, maka ia pun telah memberikan isyarat kepada kawan-kawannya.

Keempat orang yang lain pun segera bersiap-siap. Mereka harus berusaha memancing atau memaksa ketiga orang itu bergeser dari jalan, sehingga mereka akan dapat membuat perhitungan sampai tuntas.

Mahisa Ura, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sama sekali tidak mengira bahwa mereka telah ditunggu. Mereka juga tidak memperhatikan seseorang yang duduk di tebing sambil memberikan beberapa isyarat yang tidak menarik perhatian.

Karena itu, maka keempat orang yang menunggu segera bersiap. Demikian ketiga orang itu sampai ketepian, maka seorang di antara keempat orang itu pun menghampirinya.

“Ki Sanak,” berkata orang itu, “apakah kami dapat berbicara barang sejenak dengan Ki Sanak.”

“Kau siapa?” bertanya Mahisa Ura.

“Aku kawan dari orang yang pernah kau temui disebuah kedai itu,” jawab orang itu.

Mahisa Ura, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun telah memperhatikan seseorang yang berdiri agak jauh. Ternyata orang itu benar orang yang telah mereka jumpai dikedai.

“Apa kepentingannya dengan aku?” bertanya Mahisa Ura.

“Tentang salah paham itu,” jawab orang yang mendekati mereka bertiga, “ia ingin menjelaskan lebih jauh. Memang ada hubungan antara orang itu dengan orang yang disebut-sebut pernah ditangkap dan dibawa ke Singasari.”

Mahisa Ura mengerutkan keningnya. Ia melihat orang itu bersama dua kawannya. Seorang ada di hadapannya dan ketika ia berpaling maka orang yang duduk ditepian itu telan melangkah mendekat pula.

Ketiga orang itu segera menangkap suasana. Karena itu, maka mereka pun segera mempersiapkan diri.

“Silahkan Ki Sanak,” berkata orang yang mendekat itu.

Mahisa Ura memang tidak berkeberatan. Ia pun sadar, bahwa mungkin akan terjadi sesuatu yang tidak dikehendakinya. Tetapi jika hal itu harus terjadi apaboleh buat. Apalagi jika benar, orang yang diduganya telah melarikan diri itu, hanyalah seorang blandong. Mungkin ia memiliki kekuatan kewadagan. Tetapi sudah tentu tidak akan banyak berarti.

Mahisa Ura pun telah memberikan isyarat kepada Mahisa Murti dan Mahisa Pukat untuk mengikuti orang itu. Beberapa puluh langkah mereka berjalan. Semakin lama semakin jauh dari jalan yang mereka lewati sebagaimana memang dikehendaki oleh kelima orang itu.

Mahisa Ura, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang mengikuti orang yang mendatanginya itu menyadari bahwa di belakangnya berjalan orang yang duduk di atas tebing itu.

Untuk beberapa saat tidak ada seorang pun yang berbicara. Mereka berjalan saja dengan sikap dan dalam suasana yang kaku mencengkam.

Ketika mereka telah melampaui. beberapa puluh langkah, maka mereka melihat orang yang mereka temui di kedai itu sudah siap menunggu.....

Bersambung.....! 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...