*HIJAUNYA LEMBAH. JILID 028-03*
Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Jika demikian maka persoalan kita dengan orang ini sudah selesai,” berkata Mahisa Pukat.
“Kita menghadap Pangeran Singa Narpada,” desis Mahisa Murti.
Namun demikian sebelum mereka meninggalkan tempat itu, maka Mahisa Murti masih menitikkan air kebibir orang yang sedang pingsan itu. Katanya, “Mudah-mudahan ia segera sadar.”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun kemudian meninggalkan tempat itu. Tetapi mereka telah berpesan kepada para petugas untuk menjaga dengan baik, karena itu justru agak terganggu jiwanya oleh ketegangan yang sangat.
Sementara itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah menghadap Pangeran Singan Narpada. Keduanya telah melaporkan apa yang mereka dengar dari mulut tawanan yang terakhir itu.
“Suriantal,” desis Pangeran Singa Narpada, “bukankah sekali dua kali aku pernah menyebutkan di antara nama beberapa padepokan yang memiliki nama?”
“Ya Pangeran,” sahut Mahisa Murti dan Mahisa Pukat hampir berbareng. Sementara itu Mahisa Murti berkata selanjutnya, “Namun apakah dengan mengenal nama padepokan itu, kita akan dapat melangkah lebih lanjut.”
“Mungkin kita akan dapat berusaha,” berkata Pangeran Singa Narpada, “tetapi apakah rasa-rasanya orang-orang itu tidak akan dapat berbicara lebih banyak lagi?”
“Sulit Pangeran,” jawab Mahisa Murti, “agaknya mereda benar-benar dilandasi perasaan setia yang berlebihan terhadap guru dan perguruan mereka.”
“Itu adalah sikap yang wajar bagi seorang murid,” berkata Pangeran Singa Narpada.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk kecil. Sebenarnyalah kesetiaan yang demikian memang sepantasnya dilakukan oleh murid-murid sebuah padepokan.
Sementara itu Pangeran Singa Narpada pun kemudian berkata, “Jadi menurut perhitungan kalian, kita sudah tidak akan dapat mengorek lebih dalam?”
“Sulit Pangeran,” sahut Mahisa Pukat, “agaknya nama padepokan itu adalah kemungkinan tertinggi yang dapat kita sadap dari orang itu.”
Pangeran Singa Narpada pun kemudian mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Jika demikian, maka kita tidak memerlukan orang itu lagi.”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk kecil. Mereka mengerti maksud Pangeran Singa Narpada.
Namun dalam pada itu, keduanya pun menyadari, bahwa telah terbentang satu kewajiban yang akan dapat menjadi beban mereka. Bagaimanapun juga, sebaiknya mereka mengenal lebih dalam lagi tentang padepokan yang hanya disebut namanya meskipun keduanya tahu, bahwa dengan demikian mereka akan memasuki tugas yang sangat berbahaya.
“Kita harus lebih banyak berusaha mendengar tentang padepokan itu sebelum kita sendiri turun ke lapangan untuk melihat dan mendengar lebih banyak tentang padepokan itu,” berkata Mahisa Murti.
Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Katanya, “Kita mempunyai banyak waktu. Kita akan dapat berhubungan dengan ayah dan Paman Mahisa Agni dan paman Witantra jika mereka ada di istana.”
Mahisa Murti mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Agaknya mereka mengenal serba sedikit tentang padepokan itu. Dengan bekal itu pun maka kita akan mendekati padepokan yang mempunyai kedudukan tersendiri itu.”
“Tetapi Pangeran Singa Narpada belum menjatuhkan perintah apa pun juga,” berkata Mahisa Pukat kemudian.
Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Pangeran Singa Narpada memang belum menjatuhkan perintah. Tetapi agaknya ditilik dari sikapnya, perintah itu akan jatuh juga pada saat. Perintah seorang guru kepada muridnya, karena keduanya memang bukan prajurit Kediri. Namun demikian hal itu tidak akan dapat menghalangi perintah Pangeran Singa Narpada apabila pada suatu saat memang akan diberikan kepada mereka.
Dalam pada itu, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat-pun telah berusaha untuk menyelesaikan persoalan tawanan mereka yang menurut Pangeran Singa Narpada sudah tidak diperlukan karena tidak akan ada yang dapat disadapnya lagi.
Karena itulah, maka ketika orang yang termuda, yang pingsan terlalu lama itu mulai membuka matanya, maka ia pun telah terkejut bukan buatan.
Mula-mula dilihatnya samar-samar bayangan beberapa orang di sekitarnya. Ketika pandangan matanya menjadi semakin jelas, maka ia pun mulai melihat wajah-wajah. Wajah-wajah itu adalah wajah-wajah kakak seperguruannya. Tiga orang.
“O,” orang itu pun berdesis perlahan. Dengan ragu ia pun kemudian berkata, “apakah kita memang sudah berada di dunia yang lain.”
Ketiga orang itu mengambil nafas hampir berbareng. Sejenak mereka saling berpandangan. Namun kemudian yang tertua di antara mereka berkata, “Kita masih dalam dunia kita. Sadarlah. Kau baru saja pingsan.”
Orang itu berusaha untuk bergerak. Kemudian dibantu oleh ketiga orang saudara seperguruannya, ia berusaha untuk duduk.
“Apakah penglihatanku benar bahwa aku berada di antara saudara-saudaraku,” desis orang itu.
“Ya. Kau berada di antara saudara-saudaramu,” jawab seorang di antara mereka.
“Jadi apa artinya segala sesuatu yang pernah terjadi selama ini atas kita?” bertanya yang termuda di antara mereka.
“Kita adalah korban permainan yang sangat licik,” jawab yang tertua, “akhirnya kita tahu, bahwa cara orang-orang Kediri memeras keterangan kita benar-benar sulit untuk dihindari.”
Orang yang baru sadar dari pingsan itu merenung sejenak. Namun kemudian ia pun berkata, “Ya, orang-orang Kediri memang sangat licik. Aku mengerti sekarang. Jadi pakaian-pakaian kalian itu telah ditukar oleh orang-orang Kediri untuk tujuan tertentu.”
“Ya,” jawab yang tertua di antara mereka.
“Jadi kalian sama sekali tidak mengalami sesuatu sebagaimana kita bayangkan sebelumnya?” bertanya yang termuda.
“Secara badani kami tidak mengalami sesuatu,” jawab yang tertua, “tetapi siksaan jiwani, terutama yang kau alami, benar-benar satu siksaan yang kejam. Kami tidak mengalami apapun juga kecuali dipaksa untuk menyerahkan pakaian kami. Baru kemudian aku sadari, bahwa pakaian itu telah dipergunakan untuk menyiksa perasaanmu dengan memberikan pakaian itu dalam keadaan yang mengerikan, sehingga kau mendapat kesan, bahwa kami telah mengalami satu keadaan yang parah.”
“O,” yang termuda di antara orang-orang itu pun mengeluh. Dengan suara lemah ia pun kemudian berdesis, “Ternyata hatiku lemah seperti perempuan. Aku telah mengalami tekanan jiwa yang tidak dapat aku atasi. Aku telah menyerah.”
“Bukan salahmu,” desis yang tertua.
Tiba-tiba orang yang termuda itu telah beringsut ke arah saudara seperguruannya yang tertua. Dengan wajah tegang, ia pun kemudian berdesis, “Kakang, bunuh aku. Aku telah berkhianat terhadap perguruan kita.”
“Ah,” desah saudaranya yang tertua, “apakah yang telah kau lakukan?”
“Aku telah menyebut nama padepokan kita,” jawab yang termuda itu.
Wajah-wajah itu pun menjadi tegang. Namun kemudian yang tertua itu berkata, “Bukan salahmu. Bukankah aku sudah mengatakannya. Kau tentu mengalami tekanan jiwa yang luar biasa. Cara yang ditempuh oleh orang-orang Kediri memang sangat keji.”
“Tetapi seharusnya aku siap menghadapi keadaan yang bagaimanapun juga, sehingga aku tidak melontarkan rahasia yang seharusnya memang tidak aku ucapkan,” berkata yang termuda itu.
“Agaknya memang tidak akan ada seorang pun yang mampu bertahan mengalami siksaan jiwani sebagaimana dilakukan oleh orang-orang Kediri itu,” berkata yang tertua. Lalu, “Karena itu, sudahlah. Kita tidak usah menyesali apa yang sudah terjadi. Pada saat kita mulai melangkah, maka kemungkinan yang paling buruk itu sudah kita perhitungkan akan dapat terjadi atas kita dan seluruh padepokan kita.”
“Tetapi dengan menyebut nama padepokan kita, maka orang-orang Kediri tentu akan menelusurinya sampai kepadepokan itu,” berkata yang termuda.
“Memang mungkin,” jawab yang tertua, “tetapi kegagalan kita tentu sudah didengar oleh saudara-saudara kita. Kematian guru tentu merupakan sesuatu yang penting dan pantas diperhatikan oleh bukan saja seisi padepokan, tetapi semua orang yang berhubungan dengan padepokan kita. Dengan demikian mereka tentu sudah mempersiapkan diri. Mereka tahu apa yang harus mereka lakukan menanggapi persoalan yang terakhir yang akan sangat berpengaruh atas kehidupan padepokan kita.”
Yang termuda di antara mereka itu pun menarik nafas dalam-dalam. Terbayang kembali betapa ketegangan mencengkam jiwanya pada saat-saat ia melihat pakaian saudara-saudara seperguruannya, terkoyak-koyak dan terpercik noda-noda darah.
Tetapi ternyata bahwa tidak terjadi sesuatu atas sau-dara-saudara seperguruannya itu.
Namun segala sesuatunya memang sudah terlanjur. Ia sudah mengucapkan nama padepokannya, sehingga orang-orang Kediri tentu akan menelusurinya dengan cara yang dianggapnya paling baik. Namun untuk menenangkan hatinya, yang termuda di antara mereka itu kemudian berdesis, “Mudah-mudahan isi padepokan kita sudah siap menghadapi segala kemungkinan.”
“Kita yakin,” berkata saudara yang tertua di antara mereka, “saudara-saudara kita bukan orang-orang kebanyakan yang tidak mampu berpikir.”
Yang termuda di antara keempat orang itu pun mengangguk-angguk. Betapa ia dibebani oleh penyesalan, bahwa ia telah menyebut nama padepokan mereka. Dengan demikian ia telah membuka jalan bagi orang-orang Kediri untuk menelusuri kegiatan mereka.
Tetapi saudara-saudara seperguruan telah dapat mengerti, kenapa hal itu harus terjadi, sehingga ketiga saudaranya yang lain itu tidak menganggapnya bersalah.
Tetapi apakah orang-orang lain di padepokannya juga menganggapnya demikian? Itulah yang tidak diketahuinya.
Demikianlah, selagi mereka berbincang, maka pintu bilik itu telah terbuka. Ketika keempat orang itu berpaling, maka nampaklah wajah-wajah yang mereka anggap wajah-wajah iblis yang paling terkutuk. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.
“Setan,” geram yang termuda, “apa lagi yang kau kehendaki dari kami?”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Mahisa Murti lah yang melangkah lebih dahulu memasuki bilik itu, baru kemudian Mahisa Pukat.
“Kami minta maaf,” berkata Mahisa Murti, “Mungkin kami telah membuat perasaan kalian menjadi tegang selama ini. Tetapi kami tidak dapat berbuat lain untuk mendengar sedikit keterangan tentang diri kalian.”
“Kalian memang orang-orang yang tidak berperasaan,” geram yang termuda di antara keempat orang itu.
“Ah, jangan begitu, “jawab Mahisa Murti, “Bukankah kami tidak berbuat apa-apa. Seperti yang berulang kali kami katakan, bahwa kami berdua hanyalah orang-orang yang melaksanakan perintah? Bukankah kami tidak berbuat apa-apa atas ketiga saudara seperguruanmu. Kami hanya memanggil mereka dan menyerahkan kepada orang yang memerlukannya. Bahkan orang yang memerlukannya itu pun agaknya tidak berbuat apa-apa pula atas mereka.”
“Omong kosong,” geram yang termuda, “tetapi dengan langkah-langkah yang sudah kalian perhitungkan dengan cermat itu, membuat aku kehilangan jiwa. Bahkan aku telah menyebut nama padepokanku.”
“Jangan menyesal Ki Sanak,” berkata Mahisa Murti
“Sebenarnyalah kami mengagumi kalian. Ketahanan jiwa kalian sebagai murid dari sebuah padepokan dapat dibanggakan. Dalam keadaan yang menekan, maka satu-satunya yang dapat terlepas dari kerahasiaan kalian adalah nama padepokan kalian. Tetapi nama itu akan menjadi alas usaha kami menemukan persoalan yang sebenarnya yang telah terjadi di padepokan kalian yang bagaimanapun juga telah mengguncang Kediri.”
“Kau tidak usah memuji,” berkata yang tertua, “karena apapun yang kalian lakukan, tentu dengan maksud untuk memeras keterangan kami sebanyak-banyaknya.”
Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu Mahisa Pukat pun berkata, “Kami dapat mengerti perasaan kalian. Apa pun yang kami lakukan, tentu kalian menjadi curiga. Kami pun mengerti, bahwa yang kami lakukan memang terlalu menegangkan urat syaraf kalian, terutama yang termuda di antara kalian yang diluar kemampuannya menolak, telah menyebut nama padepokan kalian.”
“Kau memang dapat berbangga atas kemenanganmu,” berkata yang termuda itu, “Tetapi yang kalian lakukan memang terlalu keji.”
“Kami memilih jalan yang paling baik yang dapat kami lakukan. Kadang-kadang orang lain mempergunakan cara yang lain pula. Mungkin dengan memeras keterangan dengan memberikan tekanan badani. Penyiksaan diluar batas kemanusiaan sebagaimana kalian bayangkan,” sahut Mahisa Pukat.
“Tetapi tekanan jiwani yang kalian lakukan atas adik seperguruan kami, dan bahkan kami semuanya, juga merupakan tindakan yang paling kejam,” geram yang tertua di antara kalian.
“O, itukah penilaian kalian? Jadi menurut kalian, lebih baik kami lakukan tekanan badani atas kalian daripada apa yang sudah kami lakukan? Bukankah kami seakan-akan tidak pernah menyentuh wadag kalian untuk memaksa kalian menyebut sesuatu? Tetapi jika itu yang kalian maksud, maka kami akan dapat merubah cara kami. Kalian baru menyebut nama padepokan kalian. Masih banyak yang ingin kami dengar dari mulut kalian. Karena itu nampaknya kalian lebih setuju jika kami memberikan tekanan badan. Mungkin dengan salah satu cara penyiksaan yang paling menarik,” jawab Mahisa Pukat.
“Kalian memang iblis buruk,” geram yang tertua, “apa pun yang ingin kau lakukan, lakukanlah.”
“Ada perasaan belas kasihan di dalam dada kami. Tetapi tantangan kalian bukannya kami abaikan sama sekali. Jika perlu kami akan menyawab tantangan kalian, karena kematian kalian tidak akan ada yang dapat menuntut kami. Kalian ditangkap dan langsung dibawa ke istana ini,” suara Mahisa Pukat menjadi agak keras.
Keempat orang itu termangu-mangu sejenak. Bagaimanapun juga mereka lebih senang untuk tidak mengalami tekanan lagi agar mereka menyebut sesuatu. Karena itulah maka mereka sama sekali tidak menjawab lagi, agar tidak memancing sikap kasar dari kedua orang anak muda itu.
Dengan demikian maka untuk sejenak suasana menjadi lengang, tetapi cukup menegangkan. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat memandang keempat orang itu berganti-ganti. Namun sekali lagi ia yakin bahwa yang paling lemah di antara mereka adalah orang yang termuda.
Namun agaknya sikap keempat orang itu memang tidak menyenangkan bagi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Karena itu, maka Mahisa Pukat pun berkata, “Ki Sanak. Sebenarnyalah bahwa kami dapat melakukan apa saja. Bagaimanapun seandainya kami menekan yang termuda di antara kalian dengan cara yang pernah kami lakukan sementara itu kami benar-benar memperlakukan seorang demi seorang sebagaimana yang diduga?”
Wajah keempat orang itu menjadi tegang. Memang kedua orang anak muda itu akan dapat memperlakukan mereka sebagaimana dikatakannya. Karena itu, maka barulah mereka melihat, bahwa kedua orang anak muda itu sudah berusaha untuk membatasi tingkah lakunya.
Dengan demikian maka orang-orang itu pun telah menahan diri untuk tidak mengucapkan kata-kata yang dapat membangkitkan kemarahan kedua anak muda itu semakin menjadi.
Sementara itu Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun melihat bahwa keempat orang itu agaknya telah berusaha menguasai diri. Sehingga kedua anak muda itu pun tidak lagi ingin mengungkit persoalan di antara mereka.
Sejenak kemudian, maka Mahisa Murti itu pun berkata, “Sudahlah Ki Sanak. Sebaiknya kalian berusaha menenangkan diri di bilik ini. Senang atau tidak senang. Persoalan di antara kita agaknya memang sudah hampir selesai. Nama padepokan kalian memang sangat menarik. Karena itu maka persoalannya akan berpindah dari persoalan di antara kita menjadi persoalan antara kami dan padepokan kalian.”
Keempat orang itu sama sekali tidak menjawab. Sementara itu Mahisa Pukat masihjjuga bertanya, “Dengan kematian guru kalian, bagaimana dengan padepokan yang kalian tinggalkan?”
Keempat orang itu sama sekali tidak menjawab, sehingga dengan demikian maka Mahisa Pukat pun bergumam, “Aku sudah mengira bahwa kalian akan tinggal diam. Baiklah. Kami akan mencari sendiri jawabnya. Meskipun kami tahu dengan pasti, bahwa karena kegagalan kalian, maka padepokan kalian tentu telah bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan, karena mereka yang masih berada di padepokan akan memperhitungkan, bahwa kalian pada akhirnya akan menyebut juga nama padepokan itu?”
“Tetapi ada kemungkinan lain,” berkata Mahisa Murti
“Jika orang-orang padepokan itu terlalu yakin bahwa tidak seorang pun di antara mereka yang akan pernah mengucapkan sepatah kata rahasia, maka mereka tidak akan bersiap sama sekali,” Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Katanya, “Satu kelengahan.”
Demikianlah, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat itu pun segera meninggalkan bilik itu. Ketika mereka berada di pintu, maka mereka masih sempat berpaling.
Keempat orang yang ditinggalkannya memandangi kedua anak muda itu. Namun ternyata mereka mempunyai kesan yang lain dengan keduanya. Keduanya tidak lagi nampak sebagai sosok-sosok hantu yang menakutkan. Tetapi mereka justru melihat bahwa kedua anak muda itu telah berusaha untuk memperlakukan mereka dengan baik, sehingga gambaran-gambaran tentang peristiwa yang keji itu tidak sebenarnya dilakukan, meskipun akibatnya dapat menimbulkan ketegangan jiwa yang luar biasa. Tetapi jika keduanya memang orang-orang yang mempunyai kegemaran melihat darah, maka peristiwa yang keji itu akan benar-benar dilakukan.
Sementara itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun telah menghadap Pangeran Singa Narpada. Mereka melaporkan, bahwa sebagaimana telah mereka perhitungkan, bahwa tidak akan ada persoalan yang dapat mereka sadap lagi dari keempat orang yang tertawan itu.
“Baiklah,” berkata Pangeran Singa Narpada, “tetapi nama padepokan itu akan banyak memberikan petunjuk. Bukankah sangat menarik bagi kita untuk mencari keterangan tentang padepokan itu.”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Namun kemudian Mahisa Murti pun berkata, “Apakah kami berdua diperkenankan untuk mencari keterangan tentang padepokan itu?
Pangeran Singa Narpada menarik nafas dalam-dalam. Kemudian sambil tersenyum ia berkata, “Sebenarnyalah bahwa aku ingin minta kalian melakukannya. Tetapi masih ada sedikit keseganan padaku untuk menjatuhkan perintah. Meskipun kalian adalah murid-muridku, tetapi kalian juga mempunyai guru yang lain yang lebih dahulu menempa kalian menjadi orang-orang yang berilmu tinggi.”
“Pangeran,” berkata Mahisa Murti, “yang ada sekarang adalah Pangeran. Karena itu, bagi kami Pangeran adalah guru kami. Jika Pangeran akan menjatuhkan perintah, maka kami akan melaksanakannya dengan sebaik-baiknya.”
“Aku mengerti,” berkata Pangeran Singa Narpada, “tetapi aku tetap minta kepada kalian untuk menghubungi ayah kalian yang juga guru itu. Alangkah baiknya jika kalian menghubungi pula paman-paman kalian, sehingga dengan demikian maka kalian akan mendapat bekal yang cukup untuk mencari dan menelusuri watak dan tingkah laku padepokan Suriantal?”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Dengan nada dalam Mahisa Murti berkata, “Kami akan melakukannya Pangeran. Meskipun nampaknya persoalan orang-orang bertongkat itu sudah selesai dengan kematian guru mereka dan paman guru mereka, namun kita masih belum menemukan latar belakang dari perbuatan mereka, yang justru mungkin lebih berbahaya dari pemberontakan yang pernah dilakukan oleh Pengeran Kuda Permati,” Pangeran Singa Narpada mengangguk-angguk. Katanya, “Aku akan sangat berterima kasih atas kesediaan kalian, sementara aku akan tetap dapat mengawasi keadaan di Kediri, karena bagaimanapun juga, rasa-rasanya masih ada yang mengancam ketenangan kehidupan.”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengang-guk-angguk. Mereka sadar, bahwa Pangeran Singa Narpada memang tidak akan dapat bertindak sebagai guru sepenuhnya, karena ia tahu, bahwa Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih mempunyai guru yang lain yang kebetulan adalah ayah kedua anak muda itu sendiri.
Karena itu, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang tanggap akan kehendak gurunya, telah mendahului menyatakan diri mereka untuk melakukan tugas yang berat itu.
Namun demikian Pangeran Singa Narpada itu pun telah berpesan agar kedua anak muda itu minta diri kepada ayahnya dan paman-pamannya yang juga mempunyai pengaruh didalam hidupnya.
Tetapi Pangeran Singa Narpada tidak tergesa-gesa. Ia masih menahan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat untuk beberapa hari. Karena dalam beberapa hari Pangeran Singa Narpada akan semakin lebar membuka pintu kemungkinan pengembangan ilmu yang pernah diwariskannya kepada kedua orang anak muda itu, sehingga dengan demikian maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat akan menjadi lebih mudah untuk mengembangkan dan meningkatkan ilmu yang diwariskan dari Pangeran Singa Narpada.
Sementara itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih juga sempat berkunjung kepada keempat orang bertongkat itu. Namun tingkah laku kedua anak muda itu benar-benar telah berubah sehingga kesannya pun telah berubah sama sekali sehingga keempat orang bertongkat itu telah mengenal sebenarnya kedua anak muda yang semula mereka kenal lebih kejam dari anak iblis di dasar neraka.
Tetapi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak lagi berusaha untuk mendapatkan keterangan apapun juga dari mereka. Jika berdua mereka berada di dalam bilik keempat orang itu, maka yang mereka bicarakan adalah sekedar keadaan mereka serta keinginan-keinginan mereka berempat.
Sehingga akhirnya, ketika sampai saatnya Mahisa Murti dan Mahisa Pukat akan meninggalkan Kediri, maka disempatkannya untuk minta diri kepada keempat orang itu.
“Kau akan mencari dan kemudian mengerti apa yang sudah terjadi di padepokan Suriantal?” bertanya yang tertua di antara keempat orang itu.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat saling berpandangan sejenak. Baru kemudian Mahisa Murti menjawab, “Kami memang mendapat tugas untuk mencari padepokan kalian. Satu pekerjaan yang sangat berat yang harus kami lakukan, karena kami tidak mempunyai pegangan apapun yang dapat menjadi tuntutan betapapun kecilnya untuk sampai kepada padepokan yang namanya Suriantal itu.”
Orang tertua di antara keempat orang itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Maaf Ki Sanak. Aku tidak dapat membantu kalian karena janji setiaku kepada padepokan.”
“Kami mengerti,” jawab Mahisa Murti, “kami pun tidak berniat untuk membujuk kalian agar kalian berkhianat. Usaha kami memeras keterangan dari kalian sudah lewat. Segalanya untuk selanjutnya harus kami usahakan sendiri. Namun sementara itu, dengan berat hati, kami masih terpaksa harus menyimpan kalian di dalam tempat yang barangkali tidak menyenangkan bagi kalian.”
“Kami mengerti. Dan kami pun menyadari, bahwa kami tidak akan selalu berada di tempat yang baik dan terpisah seperti ini. Pada suatu saat, jika Ki Sanak sudah meninggalkan Kediri, maka kami tentu akan dilemparkan kedalam tempat yang dihuni oleh banyak orang. Mungkin kami akan menjadi satu bilik dengan para penyamun dan perampok, atau barangkali kami termasuk golongan pemberontak sebagaimana pernah terjadi, sehingga kami akan dilemparkan kedalam ruang yang diperuntukkan bagi para pemberontak. Namun kami tidak akan ingkar, karena yang demikian seharusnya sudah kami sadari sejak kami menentukan langkah kami,” jawab yang tertua di antara mereka.
Mahisa Murti mengangguk-angguk. Sementara itu Mahisa Pukat pun berkata, “Kami memang akan segera meninggalkan Kediri. Mudah-mudahan kita akan dapat bertemu lagi kelak jika kami datang kembali kemari.”
“Semoga kalian berhasil Ki Sanak,” desis salah seorang di antara orang-orang bertongkat itu.
Sementara yang terkecil di antara keempat orang itu pun berkata, “Maafkan aku Ki Sanak, atas kesan yang pernah tergores di dalam angan-anganku tentang kalian.”
“Kami mengerti,” jawab Mahisa Murti, “semoga untuk selanjutnya kita masing-masing akan selalu dilindungi oleh Yang Maha Agung.”
Keempat orang itu termangu-mangu. Namun kemudian mereka harus melepaskan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat meninggalkan mereka. Keempat orang itu mengerti, bahwa Mahisa Murti dan Mahisa Pukat akan meninggalkan Kediri untuk mencari padepokan yang bernama Suriantal. Sementara mereka berempat tahu pasti dimana letaknya dan apa yang sebenarnya ada di dalamnya. Namun mereka tidak dapat mengatakannya Sedangkan jalan menuju ke padepokan itu adalah jalan yang sangat berbahaya.
Tetapi keempat orang itu mengerti, bahwa kedua anak muda itu memiliki ilmu yang sangat tinggi. Keduanya ternyata mampu melawan dan bahkan membunuh paman guru mereka.
Meskipun demikian, kemungkinan lain masih akan dapat terjadi, karena Kebo Sarik yang terbunuh itu bukan seorang yang memiliki ilmu tertinggi.
Namun di hari-hari terakhir, jalan menuju ke peningkatan ilmu bagi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah terbuka semakin lebar, sehingga kemungkinan-kemungkinan pun akan dapat terjadi atas mereka.
Demikianlah maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun telah meninggalkan Kediri. Bekal yang mereka bawa cukup memadai untuk memasuki lingkungan yang keras didalam olah kanuragan. Bahkan mereka pun telah mendapat tuntunan untuk memasuki kemungkinan yang lebih luas memperdalam ilmu mereka, mengembangkan dan meningkatkan.
Namun seperti pesan Pangeran Singa Narpada, maka sekali lagi mereka harus kembali ke Singasari. Mungkin mereka akan mendapat sedikit penjelasan tentang padepokan yang bernama Suriantal.
Tidak ada hambatan sama sekali di perjalanan. Bahkan keduanya mendapat kesempatan untuk berlatih di sepanjang jalan. Keduanya ternyata telah memilih jalan yang tidak banyak dilalui orang. Justru mereka telah berjalan menyusuri lereng-lereng pegunungan yang hijau oleh hutan yang tumbuh subur, serta lembah-lembah yang lebat oleh pepohonan dan tanaman di ladang serta menyusuri pematang di antara tanaman padi di sawah.
Di lereng-lereng yang terjal kedua unak muda itu sempat mempertajam ilmu mereka. Tanpa dilihat oleh seorang, mereka telah mencoba kemampuan ilmu mereka. Baik yang mereka terima dari ayah mereka, maupun yang telah mereka terima dari Pangeran Singa Narpada.
Dengan ilmu yang mereka terima dari ayah mereka, maka keduanya mampu menghantam dan menghancurkan batu-batu padas, sementara dengan ilmu yang mereka warisi dari Pangeran Singa Narpada maka mereka mampu menghisap kekuatan dan tenaga lawan-lawan mereka.
Dengan kemungkinan yang telah dibuka oleh Pangeran Singa Narpada, maka kedua anak muda itu berusaha untuk memperdalam ilmu mereka. Bahkan keduanya telah berusaha untuk mampu bukan saja melemahkan kekuatan lawan, namun memanfaatkan kekuatan itu bagi kemampuan mereka.
“Kita tidak akan dapat menemukan jalur itu dengan serta merta,” berkata Mahisa Murti.
“Tetapi aku melihat jalan menuju ke kemungkinan itu,” desis Mahisa Murti.
“Memang mungkin sekali,” jawab Mahisa Murti, “Tetapi kita memerlukan waktu untuk mengamati dan mempelajari kemungkinan-kemungkinannya.”
Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Namun kedua anak muda itu yakin bahwa dalam pengembangan ilmu mereka, maka hal itu akan dapat mereka lakukan.
Dengan demikian, maka latihan-latihan yang mereka lakukan di sepanjang jalan-jalan sepi di lereng pegunungan dan dilembah-lembah yang hijau oleh lebatnya hutan, tanpa dilihat oleh orang lain, adalah untuk mencapai kedalaman dari ilmu mereka.
Karena itu, maka perjalanan mereka dari Kediri sampai ke Singasari memerlukan waktu yang berlipat dari perjalanan biasa.
Namun, akhirnya keduanya telah sampai ke rumah mereka. Mahendra menyambut kedua anaknya dengan wajah cerah.
“Hampir saja kita berselisih jalan,” berkata Mahendra, “aku sudah merencanakan untuk pergi ke Kediri. Ada beberapa pesanan wesi aji yang sudah aku dapat, sehingga akan aku serahkan kepada pemesannya. Untunglah aku belum berangkat, sehingga aku masih dapat menerima kedatanganmu.”
“Untunglah,” berkata Mahisa Murti, “Tetapi seandainya kita berselisih jalan, demikian ayah sampai di Kediri dan kembali ke Singasari, agaknya kami masih belum sampai.”
“Kenapa? Meskipun aku berkuda dan kalian berjalan kaki, tetapi selisih itu tentu tidak akan terlalu lama,” berkata Mahendra.
“Tetapi kami berjalan sangat lamban,” sahut Mahisa Pukat, “kami menyusuri lereng-lereng pegunungan dan lembah-lembah berhutan lebat.”
Mahendra mengangguk-angguk. Barulah ia mengerti, bahwa di sepanjang jalan kedua anaknya itu tentu memanfaatkan alam dan kesempatan yang ada untuk memperdalam ilmu mereka.
Setelah kedua anaknya beristirahat, membenahi diri dan makan, barulah menjelang malam Mahendra bertanya, apakah kedua anaknya pulang sekedar menengok keluarganya atau mempunyai keperluan yang khusus.
Kepada ayahnya kedua anak muda itu telah menceriterakan apa yang terjadi pada saat-saat terakhir di Kediri.
Bahwa seorang di antara orang-orang bertongkat yang berhasil mereka tangkap itu telah menyebut nama sebuah padepokan.
“Padepokan mana?” bertanya Mahendra.
“Padepokan Suriantal,” jawab Mahisa Murti dan Mahisa Pukat hampir berbareng.
Wajah Mahendra menegang sejenak. Dengan nada berat ia mengulang “ Suriantal?”
“Ya,” jawab Mahisa Murti.
Mahendra menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “apakah aku belum pernah menyebut nama padepokan itu?”
“Mungkin ayah pernah menyebutnya diantara sekian banyak padepokan yang pernah ayah sebutkan,” jawab Mahisa Murti, “Tetapi agaknya padepokan ini memiliki kekhususan.”
Mahendra mengangguk-angguk. Katanya, “Sayang sekali. Aku tidak banyak mengetahui tentang padepokan ini. Tetapi kalian akan sempat bertanya kepada kedua pamanmu. Mahisa Agni dan Witantra. Mudah-mudahan keduanya tidak sedang pergi, karena keduanya nampaknya telah mempergunakan hari-hari tuanya untuk melihat cerahnya alam terbuka di padesan dan di sela-sela bukit dan hutan-hutan kecil.”
“Agaknya berbeda dengan yang ayah lakukan?” desis Mahisa Pukat.
Mahendra mengerutkan keningnya. Namun ia pun kemudian tertawa sambil menjawab, “Tetapi aku pun melakukannya. Menjelajahi padukuhan-padukuhan.”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tersenyum. Dengan nada datar ia berkata, “Tetapi jika ayah menjelajahi padukuhan-padukuhan tentu dengan harapan untuk mendapatkan sepotong barang yang akan dapat diperjual belikan, atau sebaliknya membawa barang sesuai dengan pesanan.”
Mahendra tertegun sejanak. Namun ia pun tertawa pula sambil berkata, “Sambil bertamasya, aku dapat memenuhi kebutuhan hidup sekeluarga. Berbeda dengan paman-pamanmu yang memiliki jabatan dalam tatanan keprajuritan Singasari, sehingga mereka tidak memikirkan bagaimana harus mendapatkan uang.”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun tertawa pula, sementara Mahisa Murti berkata, “Apakah ayah mau mengajarkan cara yang ayah tempuh itu kepada kami? Selain mendatangkan keuntungan, maka pekerjaan ayah itu merupakan satu cara yang baik untuk melakukan tugas-tugas sandi.”
“Kenapa tidak?” berkata ayahnya, “kau harus belajar mengenali bentuk dan jenis benda-benda yang akan kau jadikan dagangan. Jika kau ingin memperjual belikan jenis-jenis wesi aji, maka kau harus mengenali bentuk dan jenis-jenis pusaka. Atau mungkin kau tertarik pada bebatuan yang disenangi dan bernilai tinggi, maka kau harus mencoba mengenalinya pula. Demikian pula batu permata dan intan berlian.”
“Senang sekali untuk dapat melakukannya ayah,” jawab Mahisa Pukat, “dengan pengetahuan itu, maka kami akan mempunyai ruang gerak yang lebih leluasa.”
“Baik,” berkata ayahnya, “tetapi kau pun harus mempunyai cara lain untuk menjelajahi daerah pengamatanmu, karena jika kau hanya mengenali satu cara, maka jika cara itu mulai dicurigai kau akan kehilangan kesempatan untuk berbuat sesuatu.”
“Tentu ayah,” jawab Mahisa Murti, “jika kau melihat cara sebagaimana pekerjaan yang ayah lakukan, agaknya cara itu mempunyai kemungkinan yang luas dari sekedar berkeliaran sebagaimana kami lakukan sekarang ini. Sementara itu, agaknya kami pun harus belajar, bagaimana caranya bekerja di bidang-bidang tertentu yang lain.”
Mahendra mengangguk-angguk. Katanya, “Ternyata pikiranmu semakin berkembang. Selama ini kau bertualang tanpa pegangan. Namun agaknya pengalaman kalian telah membuka pikiran kalian untuk bekerja lebih cermat, dan dengan cara yang lebih baik dan berencana.”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Sementara ayahnya berkata, “Tetapi itu sangat wajar, sejalan dengan umur kalian yang menjadi semakin bertambah.”
“Ya ayah,” desis Mahisa Murti, “Mungkin selama ini kami menganggap bahwa yang kalian lakukan adalah sekedar main-main.”
“Mungkin,” jawab ayahnya, “tetapi juga karena kalian belum mengenal tugas kalian yang sebenarnya. Aku tidak menyangka bahwa kalian senang akan pekerjaan seperti itu. Aku kira pada satu dua bulan kalian akan menjadi jemu dan mulai menetap untuk menekuni satu tugas tertentu sebagaimana kakakmu Mahisa Bungalan.”
Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian jawabnya, “Kakang Mahisa Bungalan pun harus dibujuk untuk bersedia menjadi seorang prajurit.”
Ayahnya mengangguk. Katanya, “Ya. Agaknya memang demikian. Aku pun ingin membujuk kalian berdua, bahwa kalian berdua sebaiknya menjadi prajurit sebagaimana kakakmu. Atau menjadi saudagar yang tekun seperti aku lakukan, disamping sawah dan ladang yang terbentang di ngarai yang luas itu.”
“Pada saatnya kami akan memilih ayah,” jawab Mahisa Pukat, “tetapi sebenarnyalah sekarang kami telah menekuni satu kerja yang tidak kalah pentingnya dengan tugas-tugas yang lain di dalam kehidupan ini.”
Mahendra mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Baiklah. Aku mengerti. Tetapi mungkin apa yang kalian inginkan itu akan merupakan luluhnya tugas-tugas yang dapat kau lakukan. Menjadi petugas sandi dan sekaligus bekerja sebagai pedagang sebagaimana aku lakukan.”
Kedua anaknya itu tertawa. Sambil mengangguk-angguk Mahisa Murti menjawab, “Satu rencana yang sangat menarik.”
Namun dalam pada itu, ayahnya pun berkata, “Jika demikian kita akan pergi bersama-sama. Kalian akan aku perkenalkan kepada kawan-kawanku bahwa kalian adalah anak-anakku yang pada suatu saat akan menggantikan pekerjaanku.”
Namun kedua anaknya itu mengerutkan keningnya. Lalu katanya, “Apakah sebaiknya kami dapat dengan mudah dikenali dalam tugas-tugas sandi?”
“Tetapi sebagai seorang pedagang kalian harus mendapat kepercayaan. Jika kalian tidak dikenal, maka kalian akan mendapatkan kesulitan untuk mendapatkan dan menjual dagangan yang tidak ada patokan dan pola jenisnya yang tertentu,” jawab ayahnya.
“Ternyata disinilah letak persoalannya,” jawab Mahisa Murti, “Memang mungkin kami bekerja sebagai pedagang, tetapi dalam batas-batas tertentu kami tidak boleh dengan mudah dikenali siapakah kami sebenarnya.”
“Ya. Aku tahu. Tetapi bukanlah kalian dalam hal ini bekerja untuk Kediri? Sementara orang-orang yang pernah berhubungan dengan kau mengenaliku sebagai orang Singasari,” berkata ayahnya.
“Kadang-kadang kami harus dikenal sebagai orang yang tinggal dekat dari tempat tertentu, atau justru dikenal sebagai orang yang tinggal diluar lingkungan Kediri dan Singasari agar tidak cepat menimbulkan dugaan bahwa kami bekerja untuk Kediri atau Singasari dalam persoalan-persoalan tertentu,” jawab Mahisa Pukat, “Bukankah ayah juga menganjurkan agar aku mengenali beberapa jenis pekerjaan.”
Ayahnya mengangguk-angguk. Tetapi tiba-tiba ia bertanya, “Jadi bagaimana dengan rencana kalian? Aku mengerti keberatan kalian.”
Mahisa Murti danMahisa Pukat termangu-mangu sejenak. Namun kemudian Mahisa Murti pun berkata, “Ayah. Kami memang ingin ikut bersama ayah untuk mengenali cara yang ayah pergunakan serta mengenali lingkungan perdagangan sebagaimana ayah lakukan. Tetapi ayah tidak usah mengaku kami sebagai anak-anak ayah. Bukan karena keseganan kami, tetapi semata-mata untuk mengamankan tugas-tugas yang akan kami lakukan kemudian. Bahkan mungkin juga untuk mengamankan ayah jika pada suatu saat kami dapat dikenali oleh pihak-pihak tertentu. Jika mereka mengetahui bahwa kami adalah anak ayah, maka mungkin ayah akan menjadi sasaran dendam mereka.”
Ayahnya mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Baiklah. Aku memahami keadaan kalian. Aku sependapat dengan cara yang ingin kalian tempuh. Meskipun demikian, kalian harus dengan tekun berusaha mengenali benda-benda yang akan kau perdagangkan itu.”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sama sekali tidak berkeberatan. Karena itu, maka sebagaimana dianjurkan oleh ayahnya, mereka mulai tekun mempelajari benda-benda berharga yang menjadi sasaran diperjual belikan oleh ayahnya dengan keuntungan yang cukup baik.
Sebagaimana keduanya memperdalam ilmunya, maka mereka pun dengan tekad dan bersungguh-sungguh mencoba mengenali berbagai jenis bebatuan dan besi yang bertuah. Juga beberapa jenis permata dan logam mulia.
Sementara mereka mempelajari cara mengenali benda-benda itu, mereka pun menyempatkan diri untuk bertemu dan berbicara dengan Mahisa Bungalan, bahkan kemudian sekaligus Mahisa Agni dan Witantra yang kebetulan tidak sedang keluar untuk menempuh perjalanan-perjalanan pendek dalam dua tiga hari.
Ketika Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menanyakan sesuatu yang mereka ketahui tentang padepokan Suriantal, maka yang paling terkejut adalah Mahisa Bungalan. Dengan nada tinggi ia bertanya, “Kenapa dengan padepokan Suriantal?”
Mahisa Murti pun menceriterakan apa yang sudah terjadi di Kediri. Bahkan Mahisa Bungalan pun telah sempat mendengar sebagian dari ceritera itu dari Mahisa Agni dan Witantra.
“Jadi orang-orang yang disebut bertongkat itu adalah orang-orang dari padepokan Suriantal?” bertanya Mahisa Bungalan.
“Ya. Guru keempat orang bertongkat itu telah terbunuh oleh Pangeran Singa Narpada, sementara kami berdua berhasil membunuh adik seperguruannya, sedangkan paman Mahisa Agni, paman Witantra dan ayah bermain-main dengan orang-orang bertongkat itu” jawab Mahisa Pukat.
Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. Dengan nada dalam ia berkata, “Satu tugas yang berat. Pihak keprajuritan pernah mendapat keterangan dari petugas sandi bahwa padepokan itu merupakan padepokan yang penuh dengan rahasia. Padepokan yang seakan-akan tertutup bagi kebanyakan orang. Namun bukan berarti bahwa orang-orang di padepokan itu sama sekali tidak berhubungan dengan orang-orang luar. Satu dua di antara mereka juga sering keluar dari padepokan untuk berbelanja atau membeli kebutuhan-kebutuhan lain. Mereka pun membayar dengan tertib barang-barang yang mereka kehendaki. Menurut laporan yang diterima oleh pihak keprajuritan di Singasari, orang-orang padepokan itu tidak mengganggu orang-orang yang hidup di sekitar padepokan itu. Namun tidak seorang pun mengetahui dengan pasti, apa saja yang dikerjakan oleh orang-orang di padepokan yang disebut Suriantal itu.”
“Dan sekarang kalian akan berhadapan dengan padepokan Suriantal,” berkata Mahisa Bungalan.
Bersambung.....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar