*HIJAUNYA LEMBAH. JILID 028-02*
Dengan demikian maka ketiga orang bersaudara seperguruan itu menjadi semakin gelisah dan tegang. Selain semalam mereka tidak dapat tidur, maka rasa-rasanya mereka pun tidak dapat menelan makan yang dihidangkan bagi mereka hari itu. Makan yang dihidangkan tiga kali dalam sehari, hampir tidak disentuhnya karena jantung mereka yang berdebaran.
Namun disore hari, prajurit yang menghidangkan makan tidak mengambil sisa makan mereka dan membiarkan makan itu tetap didalam bilik itu.
Ternyata ketika tengah malam saudara seperguruan mereka belum pulang dan mereka tidak juga dapat tertidur, makan itu telah mereka makan meskipun hanya sebagian kecil saja.
Malam itu, orang yang mereka tunggu-tunggu itu pun belum juga kembali. Karena itu, maka ketiga orang itu pun telah berusaha untuk tertidur barang sejenak menjelang pagi.
Namun sebelum fajar, mereka telah dikejutkan oleh derak pintu yang terbuka. Ketika mereka membuka mata, maka mereka melihat Mahisa Murti dan Mahisa Pukat berdiri didepan mereka.
“Dimana saudaraku itu,” bertanya salah seorang di antara mereka.
Mahisa Pukat tersenyum. Katanya, “Aku tidak tahu. Aku telah menyerahkannya kepada para panglima dan Senapati yang menghendaki berbicara dengan saudaramu itu.”
“Apakah sekarang ia masih berada di antara para pemimpin? Berapa pekan para pemimpin itu akan berbicara dengan saudaraku?” bertanya yang lain.
Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian dilemparkannya sebuah bungkusan kepada ketiga orang itu. Katanya, “Aku mendapat titipan dari para Senapati itu untuk disampaikan kepada kalian.”
“Apa? “ ketiga orang itu menjadi cemas.
“Bukalah,” berkata Mahisa Pukat.
Orang-orang itu menjadi ragu-ragu. Namun kemudian yang tertua di antara mereka pun telah membuka bungkusan itu. Darahnya terasa bagaikan berhenti mengalir ketika ia melihat bahwa didalam bungkusan itu terdapat pakaian saudara seperguruannya yang pergi itu.
Tangannya tiba-tiba telah menjadi gemetar. Wajahnya menjadi pucat dan rasa-rasanya ia tidak mampu lagi untuk membuka bungkusan itu lebih lanjut.
Kedua orang saudara seperguruannya menjadi tidak sabar. Berloncatan mereka menerkam bungkusan itu. Namun mereka pun telah menjadi pucat pula ketika mereka melihat bahwa isi bungkusan itu adalah pakaian saudara mereka yang tertua.
“Apa artinya?” bertanya salah seorang di antara mereka dengan suara gemetar.
“Aku tidak tahu,” jawab Mahisa Pukat, “aku hanya mendapat pesan untak menyampaikan barang-barang itu kepada kalian tanpa mengetahui isinya. Jika aku boleh tahu, apakah isinya? “
“Ini adalah pakaian saudara kami,” jawab salah seorang di antara mereka.
“Pakaian? “ ulang Mahisa Pukat.
“Ya,” jawab orang itu.
Mahisa Pukat mengerutkan keningnya. Sementara itu ketiga orang yang sudah berhasil menguasai perasaannya itu telah mencoba membuka lebih jauh lagi. Mereka mulai membentangkan pakaian-pakaian itu.
Namun dengan demikian keringat dingin telah membasahi seluruh tubuh mereka. Pakaian itu benar-benar membuat mereka menjadi sangat ngeri.
Di beberapa bagian dari pakaian itu terdapat noda-noda darah sementara dibagian yang lain terdapat lubang-lubang karena pakaian itu telah koyak.
“Apa artinya ini Ki Sanak, apa artinya,” tiba-tiba seorang di antara ketiga orang itu berteriak semakin keras sambil mengibas-kibaskan pakaian itu.
“Tenanglah,” berkata Mahisa Murti, “Mundurlah.”
“Tetapi bukankah dengan demikian berarti saudaraku itu telah mati dalam keadaan yang mengerikan? Apakah arti dari pakaiannya yang telah terkoyak-koyak itu dan apa pula artinya noda-noda darah pakaian itu?” bertanya salah seorang di antara ketiga orang itu.
“Tenanglah,” berkata Mahisa Murti, “kami tidak tahu apa yang terjadi. Tetapi kami berjanji untuk menanyakan, apakah arti dari peristiwa ini.”
“Aku tidak percaya bahwa kalian berdua tidak mengetahui apa yang terjadi. Kalian tentu telah ikut dalam pembantaian yang kejam, yang tidak pantas dilakukan oleh orang-orang beradap,” berkata salah seorang dari ketiga orang.
“Yang menjadi tawanan di sini adalah kalian. Jika di antara kita ada perasaan tidak percaya, maka kamilah yang sepantasnya tidak percaya kepada keterangan kalian. Bukan kalian yang memaksa kami untuk mengatakan apa yang sebenarnya menurut pendapat kalian,” jawab Mahisa Pukat.
“Persoalannya tidak pada tawanan atau bukan tawanan,” jawab salah seorang dari mereka bertiga, “tetapi apakah pantas bahwa prajurit dan apalagi para Senapatinya memperlakukan seorang tawanan seperti itu.”
“Kita belum tahu pasti apa yang terjadi,” berkata Mahisa Murti, “karena itu aku berjanji untuk mempersoalkannya besok.”
“Omong kosong. Kalian datang pada saat seperti ini dan menyerahkan kepada kami pakaian yang koyak-koyak dan bernoda darah. Bukankah itu sudah pasti?” geram seorang di antara ketiga orang itu.
Tetapi Mahisa Murti menjawab, “Terserahlah menurut penilaian kalian. Tetapi aku minta diri. Aku ingin beristirahat di sisa fajar ini meskipun barangkali hanya sekejap saja.”
Ketiga orang itu memandang Mahisa Murti dan Mahisa Pukat dengan sorot mata yang membara. Namun mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Sejenak kemudian Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun telah keluar dari dalam bilik itu, dan pintu pun kembali ditutup dan diselarak.
Sepeninggal Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, ketiga orang bertongkat itu masih saja merenungi pakaian saudara seperguruannya yang tertua itu. Mereka membayangkan apa yang telah terjadi atasnya. Ketika saudaranya itu dibawa oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, ia telah diikat dibelakang kuda dan dipaksa untuk berjalan mengikutinya.
Kemudian, tentu sesuatu yang mengerikan telah terjadi. Saudaranya itu telah dipaksa untuk berterus terang. Tetapi agaknya saudara seperguruannya yang tertua itu tetap membungkam, sehingga ia mengalami perlakuan diluar batas perikemanusiaan.
Akhirnya yang dapat mereka renungi hanyalah pakaiannya yang koyak dan bernoda darah.
“Besok akan datang saatnya, kita masing-masing mengalami nasib yang sama,” desis salah seorang di antara ketiga orang itu.
“Apaboleh buat,” geram orang yang tertua di antara mereka bertiga. Lalu, “Kita tidak akan dapat berkhianat terhadap perguruan kita.”
“Mati dengan cara yang sangat menyakitkan hati,” desis yang lain. “Bagaimana jika kita membunuh diri saya?”
“Membunuh diri?” bertanya yang tertua, “itu bukan perbuatan terpuji. Kita tidak boleh mengelakkan penderitaan yang datang untuk kepentingan padepokan kita.”
“Bukan membunuh diri dengan menusuk dada kita sampai ke jantung,” jawab saudaranya.
“Jadi apa maksudmu?” bertanya yang tertua di antara mereka.
“Kita melawan para penjaga sampai mati,” jawab saudara seperguruannya, “itu akan lebih baik dari mati dalam keadaan seperti ini.”
Yang tertua mengerutkan keningnya. Lalu katanya,” belum tentu juga kita akan mati. Mungkin kita akan mengalami keadaan yang lebih mengerikan lagi.”
Kedua orang adik seperguruannya menarik nafas dalam-dalam. Namun mereka benar-benar tidak dapat menerima keadaan itu. Karena itu, maka sejenak kemudian seorang di antara mereka berkata, “Kami harus melarikan diri, tanpa mempedulikan apa yang dapat terjadi atas diri kami. Mati pun kami kehendaki.”
Saudara tertua yang tertinggal di antara mereka hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Rasa-rasanya memang tidak ada pilihan lain.
Tetapi adalah diluar dugaan mereka, bahwa petugas yang mengawasi mereka telah mendengarkan dengan cermat apa yang telah mereka bicarakan. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat memang berpesan, bahwa sepeninggal mereka mungkin ketiga orang itu akan berbicara tentang pakaian kakak seperguruannya yang baru saja mereka berikan itu.
Dengan demikian maka di antara para petugas itu memang dengan sengaja telah menempel pada dinding bilik itu untuk mendengarkan pembicaraan ketiga orang saudara seperguruan yang marah itu, sehingga mereka tidak mengekang kata-katanya.
Para petugas yang mendengar percakapan itu pun segera telah melaporkannya kepada Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, sehingga keduanya tahu bahwa ketiga orang itu akan berusaha untuk melarikan diri.
“Hal itu dilakukan dalam rangka usaha mereka membunuh diri,” berkata Mahisa Murti kepada Pangeran Singa Narpada ketika kedua anak muda itu melaporkan pula hal itu kepada Pangeran Singa Narpada.
Pangeran Singa Narpada menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “Kita harus berhati-hati. Kita harus dapat menangkap mereka kembali tanpa membunuh. Karena kematian justru mereka kehendaki. Namun sebelumnya harus dilakukan usaha agar mereka tidak sempat melarikan diri.”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Sementara itu Pangeran Singa Narpada berkata, “Jika benar mereka keluar dari bilik itu, maka kalian akan bertempur menghadapi dua di antara mereka. Kalian dapat mencoba kemampuan kalian dengan ilmu yang aku wariskan kepada kalian, sehingga akhirnya mereka akan kehilangan kemampuan untuk bertempur tanpa membunuhnya. Serahkan yang seorang kepadaku. Aku tidak akan banyak mengalami kesulitan.”
Demikianlah, maka para petugas yang mengawasi bilik tawanan itu pun menjadi semakin berhati-hati. Pada suatu saat, ketiga orang itu tentu berusaha untuk melarikan diri. Mungkin pada saat-saat para petugas memberikan makan mereka dan mengambil sisa makanan sebelumnya. Atau pada kesempatan lain yang tiba-tiba.
Karena itu, ketika memberikan makan kedalam bilik itu, pengawalan telah dilakukan dengan lebih ketat. Sementara itu yang menyerahkan tiga nampan makanan kedalam bilik itu pun bukan petugas sebagaimana biasanya. Tetapi tiga orang perempuan yang diminta oleh nara pengawal untuk melakukannya. Tiga orang yang biasanya hanya bekerja di dapur.
Mula-mula ketiganya memang takut. Tetapi para pengawal menjamin keselamatan mereka jika terjadi sesuatu.
Sebenarnya lah ketiga orang saudara seperguruan itu mengumpat tidak habis-habisnya. Mereka sebenarnya ingin mempergunakan kesempatan itu untuk melakukan perlawanan. Mereka dapat melumpuhkan orang yang memberikan makan kepada mereka dan meloncat keluar. Kemudian menghadapi para pengawal dengan tekad untuk mati.
Tetapi betapapun buasnya ketiga orang bertongkat itu, ketika mereka melihat tiga orang perempuan memasuki bilik itu sambil membawa nampan berisi makan bagi mereka dengan sikap yang lugu dan kepala tunduk, hati mereka menjadi luluh. Apalagi seorang di antara ketiga orang perempuan itu rambutnya telah separo putih, sementara tangannya menjadi gemetar ketika ia meletakkan nampan itu diatas amben bambu.
“Setan orang-orang Kediri,” geram orang-orang itu, “Mereka ternyata sangat licik, pengecut dan biadab.”
Ketiga orang itu gagal dengan niatnya. Tetapi bukan berarti mati setelah bertempur dengan para pengawal.
Karena itu, maka ketiga orang itu pun sepakat untuk memecahkan dinding kayu yang tidak begitu tebal. Mereka merasa akan mampu melakukannya.
Karena itu, maka mereka pun telah bersepakat untuk mencari waktu yang paling baik untuk melakukannya.
“Lewat tengah hari,” berkata salah seorang di antara mereka.
Yang lain sependapat, sehingga dengan tegang mereka telah menunggu sampai matahari lewat dari puncak langit.
Dengan melihat lubang-lubang yang ditembus cahaya matahari di celah-celah atap dan dinding, maka mereka dapat mengetahui bahwa tengah hari telah datang. Karena itu, maka mereka pun telah bersiap-siap. Mereka tidak menghiraukan lagi makan yang kemudian diberikan kepada mereka juga oleh tiga orang perempuan yang telah memberikan sebelumnya.
Demikianlah, seperti yang mereka rencanakan, maka ketika matahari mulai turun, ketiga orang itu benar-benar telah berusaha memecahkan pintu bilik tawanannya.
Tidak seorang pun berusaha mencegah. Namun demikian dinding itu pecah, maka yang berdiri di hadapan mereka bukannya para pengawal, tetapi Pangeran Singa Narpada sendiri, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.
Tetapi orang-orang bertongkat itu tidak lagi mau surut. Mereka telah menantang ketiga orang itu meskipun tongkat mereka sudah dirampas.
“Bunuh kami,” geram salah seorang dari ketiga orang itu.
“Apakah kalian memerlukan bantuan kami untuk membunuh diri?” bertanya Pangeran Singa Narpada.
Pertanyaan itu memang menyakitkan hati. Tetapi salah seorang dari ketiga orang saudara seperguruan itu menjawab, “Apapun yang kalian katakan namun bagi kami sebagai laki-laki tentu akan lebih baik daripada mati sebagaimana saudara kami yang tertua. Mati dengan pakaian yang koyak-koyak penuh noda darah. Mati karena tingkah yang biadab dan tidak berperi kemanusiaan.”
Pangeran Singa Narpada mengerutkan keningnya. Namun kemudian katanya, “Cukup Ki Sanak. Kau tidak usah mengigau terlalu panjang. Apapun yang kalian kehendaki, kalian adalah tawanan kami. Karena itu, maka kamilah yang akan menentukan, apakah yang sebaiknya kami lakukan atas kalian.”
Ketiga orang tawanan itu menggeram. Namun mereka sudah bertekad untuk mati. Karena itu, maka yang tertua dari ketiganya berkata, “Kami akan menentukan apa yang paling baik buat kami. Bukan kalian. Apalagi kami sudah berada di luar bilik tahanan sehingga kami adalah orang-orang yang bebas seperti kalian.”
Pangeran Singa Narpada menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kalian tentu tahu pasti, bahwa akulah yang membunuh orang yang kalian sebut dengan guru kalian itu. Dua orang anak muda ini adalah orang-orang yang telah membunuh orang yang kau sebut dengan Kebo Sarik itu. Nah, apakah kalian benar-benar ingin melawan?”
“Semakin tinggi tingkat ilmu kalian, akan menjadi semakin baik buat kami. Karena dengan demikian maka kami akan semakin cepat kalian selesaikan dan mati,” jawab salah seorang dari ketiga orang itu.
Pangeran Singa Narpada mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Baiklah. Marilah kita melihat, apakah kalian akan dapat melakukan apa yang kalian inginkan itu.”
Ketiga orang pun segera bersiap. Sementara Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun telah menghadapi lawan masing-masing. Yang tertua di antara mereka merasa bertanggung jawab untuk memilih lawan yang terbaik, karena itu, maka ia pun telah maju menghadapi Pangeran Singa Narpada. Pangeran Singa Narpada menarik nafas dalam-dalam. Ternyata ketiga orang itu benar-benar bertekad untuk mati.
Sementara itu, ketiga orang itu pun masih sempat merasa heran. Di sekitar mereka sama sekali tidak nampak seorang prajuritpun. Apalagi sekelompok prajurit yang dapat saja diperintahkan oleh Pangeran Singa Narpada untuk menghancurkan mereka. Tetapi ternyata hal itu tidak dilakukan. Dan prajurit itu sama sekali tidak nampak di sekitar arena itu.
Dengan demikian maka mereka telah berhadapan masing-masing seorang melawan seorang.
Sejenak kemudian, maka mereka pun telah mulai bertempur. Yang tertua di antara mereka, yang bertempur melawan Pangeran Singa Narpada justru merasa heran. Rasa-rasanya ilmunya mampu mengimbangi ilmu Pangeran Singa Narpada yang telah membunuh gurunya. Bahkan beberapa kali Pangeran Singa Narpada telah berloncatan surut. Apalagi ketika lawan Pangeran Singa Narpada itu telah mempergunakan ilmunya yang melontarkan semacam cahaya yang mampu meledakkan sasarannya meskipun mereka tidak mempergunakan tongkatnya. Ilmunya itu seakan-akan memancar dari telapak tangannya. Namun agaknya memang tidak sedahsyat jika ilmunya itu dilontarkan dengan lontaran tongkat-tongkat yang agaknya merupakan senjata khusus mereka.
Dengan demikian maka rasa-rasanya pertempuran itu semakin lama menjadi semakin dahsyat. Beberapa kali Pangeran Singa Narpada yang terpaksa menghindari serangan itu berloncatan mengambil jarak.
Sementara itu Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah bertempur melawan kedua orang yang lain. Keduanya bertempur dengan garangnya justru karena keduanya tidak mengharapkan lagi dapat hidup terus. Bagi mereka tidak ada keinginan yang lain daripada mati saja di arena pertempuran itu.
Sebenarnyalah bahwa ketiga orang tawanan itu tubuhnya masih dipengaruhi oleh pertempuran yang mereka lakukan pada saat mereka mengambil pusaka dari Gedung Perbendaharaan. Meskipun hal itu sudah terjadi beberapa lama, namun keadaan mereka masih belum pulih seutuhnya. Karena itu, maka kadang-kadang masih terasa sesuatu yang agak mengganggu.
Namun mereka sama sekali tidak menghiraukannya. Mereka bertempur semakin lama semakin garang. Langkah dan gerak mereka menjadi semakin keras.
Namun dalam keadaannya yang demikian, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat justru sedang mencoba kemampuan ilmu mereka sendiri. Karena itu, ketika keduanya mulai mengetrapkan ilmu mereka untuk mengimbangi ilmu lawannya yang dilontarkan dari telapak tangannya, maka mereka mulai meyakini akan kemampuan mereka sendiri.
Pertempuran yang meningkat semakin garang itu, kemudian justru sebaliknya. Kemampuan ketiga orang saudara seperguruan itu dengan cepat telah susut, dan bahkan tenaga mereka pun rasa-rasanya tidak lagi mampu mendukung gejolak perlawanan mereka.
“Apa yang terjadi? “ mereka telah bertanya kepada diri sendiri.
Namun mereka tidak segera menemukan jawabnya. Yang terjadi atas mereka adalah bahwa pada satu saat, mereka seakan-akan tidak lagi mempunyai kekuatan untuk berbuat sesuatu.
Pada saat terakhir, barulah mereka sadar, bahwa mereka berhadapan dengan ilmu yang nggegirisi. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah mendapat kesempatan untuk mencoba kemampuan ilmunya, yang ternyata memiliki akibat yang sangat menentukan bagi kawan-kawannya.
Dengan demikian, maka ketiga orang saudara seperguruan itu akhirnya kehilangan semua kesempatan untuk melakukan perlawanan, karena kekuatan mereka bagaikan telah terhisap habis.
Ketika pada kesempatan terakhir, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat dapat mencengkam tangan lawan-lawannya serta masih dalam lembaran ilmunya, maka kekuatan lawannya benar-benar telah terhisap tanpa tersisa sama sekali, sehingga untuk berdiri saja mereka sama sekali sudah tidak mampu lagi.
Karena itu, ketika Mahisa Murti dan Mahisa Pukat melepaskan mereka, maka kedua orang itu pun telah terjatuh di tanah. Sementara itu lawan Pangeran Singa Narpada pun sama sekali sudah tidak berdaya untuk berbuat sesuatu. Bahkan untuk membunuh diri sendiri pun ia tidak akan mampu melakukannya seandainya ia mengggenggam senjata di tangan.
Baru setelah ketiga orang itu tidak berdaya, maka terdengar Pangeran Singa Narpada bersuit nyaring.
Sejenak kemudian, beberapa orang prajurit telah bermunculan. Mereka dengan sigapnya berloncatan mendekat. Namun ketika mereka melihat ketiga orang itu sudah tidak berdaya, maka mereka pun telah menarik nafas dalam-dalam.
“Siapkah tempat yang baru bagi mereka,” berkata Pangeran Singa Narpada, “karena tempat mereka sudah mereka pecahkan.”
“Baik Pangeran,” jawab seorang prajurit.
Sementara itu Pangeran Singa Narpada berkata selanjutnya, “setelah tempat itu siap, bahwa ketiga orang itu kedalamnya. Mereka tidak akan dapat berbuat apa-apa, karena mereka telah kehilangan tenaga mereka sampai tuntas.”
Ketiga orang itu hanya dapat mengumpat didalam hati. Mereka benar-benar menjadi lumpuh seluruh tubuhnya. Karena itu, ketika mereka diangkat oleh para prajurit, mereka memang tidak mampu berbuat sesuatu.
“Dalam waktu tiga hari belum seluruh kekuatan mereka pulih kembali,” berkata Pangeran Singa Narpada.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk, sementara Pangeran Singa Narpada berkata, “Ternyata kalian mendapat kesempatan untuk mencoba kemampuan kalian.”
“Ya Pangeran,” jawab Mahisa Murti, “kami telah mendapat kemurahan hati Pangeran tiada taranya. Dengan kemampuan yang kami warisi dari Pangeran, kami akan dapat memikul beban yang lebih berat bagi kepentingan sesama.”
“Syukurlah jika hal itu kau sadari,” sahut Pangeran Singa Narpada, “mudah-mudahan Yang Maha Agung akan selalu menerangi hati kalian.”
Demikianlah maka Pangeran Singa Narpada telah memberi kesempatan kepada Mahisa Murti dan Mahisa Pukat untuk beristirahat. Dalam tiga hari mereka tidak akan berbuat apa-apa terhadap orang-orang yang lumpuh untuk sementara itu. Baru setelah tiga hari, maka mereka baru akan dapat berhubungan lagi.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun kemudian telah beristirahat sebaik-baiknya. Namun pada saat-saat tertentu mereka tentu berada didalam sanggar. Dengan atau tidak dengan Pangeran Singa Narpada.
Dengan demikian maka dari hari ke hari kedua orang anak muda itu mampu mengembangkan ilmunya meskipun dengan langkah-langkah kecil sekalipun. Namun ternyata bahwa keduanya tidak pernah tinggal diam.
Dalam tiga hari kedua anak muda itu tidak mengusik tawanan mereka. Baru setelah hari keempat, pagi-pagi benar Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah memasuki bilik tahanan yang baru itu.
“Udara lebih nyaman di sini,” berkata Mahisa Pukat.
Ketiga orang bersaudara seperguruan itu masih duduk dengan tubuh yang sangat lemah. Kekuatan mereka masih belum pulih. Bahkan masih jauh dari utuh.
Mereka bertiga hanya memandang saja kepada Mahisa Murti dan Mahisa Pukat berganti-ganti. Tetapi mereka tidak menjawab.
Hari itu Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak berbuat apa-apa terhadap mereka bertiga. Mahisa Murti hanya menanyakan tentang kekuatan mereka. Namun jawab ketiga orang itu sama sekali tidak sedap didengar.
“Baiklah,” berkata Mahisa Pukat, “aku mengerti, bahwa dalam usaha kalian membunuh diri, kalian sengaja membuat kami marah. Tetapi kami sudah bertekad untuk tidak akan membantu usaha kalian membunuh diri itu.”
“Persetan,” geram orang tertua di antara ketiga orang itu.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat hanya tersenyum saja. Namun mereka pun segera meninggalkan tempat itu.
Ketiga orang itu mengumpat-umpat didalam hati. Tetapi mereka memang tidak dapat berbuat apa-apa.
Dua hari berikutnya Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak muncul sementara ketiga orang itu kekuatannya menjadi semakin baik. Bahkan mereka seakan-akan telah mendapatkan kembali seluruh kekuatan dan kemampuan mereka.
Baru pada hari berikutnya, Mahisa Murti dan Mahis Pukat telah muncul. Sambil tersenyum mgreka memandang ketiga orang tawanan yang sudah mampu bergerak dengan tangkas itu.
“Wajah kalian sangat memuakkan,” berkata orang tertua di antara mereka, “aku sudah jemu memandang kalian berdiri didepan pintu itu.”
“Ah jangan begitu,” jawab Mahisa Murti, “Bukankah kami tidak berbuat sesuatu yang dapat menyakiti hatimu?”
“Omong kosong,” geram orang tertua di antara ketiga orang itu, “pergilah.”
“Baiklah Ki Sanak. Kami akan pergi. Tetapi ketahuilah, bahwa aku membawa perintah untuk membawa salah seorang di antara kalian pergi bersamaku menghadap para perwira prajurit Kediri,” jawab Mahisa Pukat.
Jawaban Mahisa Pukat itu bagaikan bunyi petir yang meledak di atas kepala mereka. Sejenak ketiga orang itu justru bagaikan membeku.
“Apakah hal itu mengejutkan kalian?” bertanya Mahisa Pukat.
“Gila,” geram orang tertua di antara mereka, “jadi kebiadaban itu masih akan terjadi lagi.”
“Kebiadaban yang mana?” bertanya Mahisa Pukat.
“Jangan berpura-pura,” geram orang tertua di antara mereka. Namun kemudian katanya dengan nada datar, “Jika kalian akan membawa salah seorang di antara kami, bawalah aku.”
“Ya,” jawab Mahisa Pukat, “siapa pun di antara kalian.”
Ketiga orang tawanan itu saling berpandangan sejenak. Yang termuda di antara mereka berkata, “Jangan kau kakang. Biarlah aku saja.”
“Aku adalah orang tertua di sini,” berkata yang tertua itu, “adalah menjadi kewajibanku mempertanggung jawabkan segala persoalan yang timbul atas kita.”
Kedua adik seperguruannya tidak membantah. Ketika orang tertua di antara mereka itu melangkah keluar, maka rasa-rasanya mereka memang tidak akan bertemu lagi.
Ketika pintu kemudian tertutup dan diselarak dari luar, maka kedua orang yang masih tinggal di dalam bilik itu pun mengumpat.
Tetapi keduanya tidak dapat berbuat apa-apa kecuali menghentakkan kaki mereka sambil menggeram.
Demikianlah, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah membawa seorang di antara mereka keluar dan meninggalkan bilik itu.
Seperti yang pernah terjadi, maka kedua orang yang berada di dalam bilik itu telah dicengkam oleh ketegangan yang luar biasa. Sehari itu, saudara mereka seperguruan yang tertua itu tidak kembali. Bahkan pada hari kedua. Rasa-rasanya mereka telah menggantungkan tatapan mata mereka ke arah pintu. Namun setiap pintu itu terbuka, maka yang nampak adalah orang-orang yang lain.
Rasa-rasanya kedua orang itu hampir menjadi gila menunggu. Tetapi sampai pada hari ketiga, orang yang mereka tunggu itu tidak juga datang.
Namun ketika senja turun, maka kedua orang yang sudah sampai pada puncak ketegangannya itu melihat pintu terbuka. Jantung mereka bagaikan berhenti berdentang ketika mereka melihat Mahisa Murti dan Mahisa Pukat berdiri dimuka pintu.
Tetapi kedua orang itu justru terbungkam ketika Mahisa Murti itu malahan bertanya, “Apakah kakak seperguruanmu itu sudah kembali?”
“Jangan berpura-pura,” geram salah seorang dari kedua orang itu, “kau tentu tahu tentang itu.”
Mahisa Murti mengerutkan keningnya. Lampu minyak didalam bilik itu sudah dinyalakan.
“Jangan terlalu berprasangka,” berkata Mahisa Murti
“Kami tidak lebih dari utusan-utusan yang menjalankan perintah. Karena itu, maka kami tidak tahu apa yang telah terjadi atas saudara seperguruan itu.”
“Omong kosong,” jawab salah seorang dari keduanya
“Nah, sekarang apa yang akan kau lakukan.”
“Aku membawa kiriman bagi kalian,” jawab Mahisa Murti.
Wajah kedua orang itu pun telah menjadi pucat. Karena itu, maka seorang di antara mereka telah mendahului menebak dengan suara parau, “Kau membawa pakaian saudaraku?”
“Aku tidak tahu, apakah isinya,” jawab Mahisa Murti sambil melemparkan sebuah bungkusan.
Darah kedua orang itu bagaikan mendidih didalam tubuh mereka. Dalam cahaya lampu minyak mereka langsung dapat mengenali, bahwa pembungkus dari barang-barang yang dilemparkan oleh Mahisa Murti itu adalah ikat kepala saudara seperguruannya.
Dengan tangan gemetar maka salah seorang di antara mereka telah membuka bungkusan itu. Ternyata bahwa isinya sebagaimana mereka duga, adalah pakaian saudara seperguruan yang telah kotor, koyak-koyak dan bernoda darah.
Seorang di antara kedua orang itu pun tiba-tiba menggeram, “Kau akan membawa aku sekarang?”
“Membawa kemana?” bertanya Mahisa Murti.
“Ke tempat pembantaian yang biadab itu,” jawab orang itu dengan tandas.
Mahisa Murti tersenyum. Tetapi senyumannya itu sangat memuakkan bagi kedua orang yang berada didalam bilik itu.
“Ki Sanak,” berkata Mahisa Murti, “aku tidak mendapat perintah apapun juga kecuali menyerahkan bungkusan itu. Karena itu maka aku tidak dapat berbuat lain.”
“Aku ingin mencekik lehermu,” berkata orang yang tertua itu, “aku tahu bahwa kau memiliki ilmu yang lebih tinggi dari aku. Tetapi kau tidak berhak berbuat sewenang-wenang seperti itu.”
“Aku tidak berbuat apa-apa. Aku hanya memanggil saudara seperguruanmu dan membawa kepada para Senapati prajurit Kediri. Sekarang aku mendapat perintah untuk menyerahkan bungkusan itu. Aku sendiri tidak berbuat apa-apa,” jawab Mahisa Murti.
“Wajahmu bagaikan wajah iblis,” geram orang yang marah itu, “senyummu adalah senyum iblis itu pula.”
“Kalian salah sangka,” berkata Mahisa Pukat, “tetapi baiklah. Agaknya kalian tidak akan dapat mempercayai kami. Sedangkan kami tidak dapat berbuat lebih banyak dari yang telah kami lakukan sekarang ini,” Mahisa Pukat berhenti sejenak, lalu, “baiklah kami minta diri.”
“Persetan,” geram kedua orang tawanan itu hampir berbareng.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun kemudian telah meninggalkan tempat itu. Sementara kedua orang tawanan yang ditinggal di dalam bilik itu pun merenungi nasib mereka yang paling buruk.
“Akan datang saatnya, kita berdua mengalaminya,” berkata yang tertua dari keduanya.
“Benar-benar tingkah laku iblis,” geram adik seperguruannya. “Tetapi kita tidak dapat mencegahnya.”
Kakak seperguruannya mengangguk-angguk. Namun sebenarnyalah bahwa mereka tidak dapat berbuat apa-apa, kecuali menunggu kapan datang giliran mereka dibantai dengan cara yang sangat kejam.
Karena itu, maka dari waktu ke waktu, dari hari ke hari keduanya selalu dicengkam oleh ketegangan. Mereka seakan-akan tidak dapat tidur nyenyak dan tidak dapat merasakan asinnya garam manisnya gula.
Tetapi sampai tiga ampat hari, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sama sekali tidak menunjukkan batang hidungnya, jika pintu terbuka, maka yang nampak adalah perempuan yang membawa makanan bagi mereka. Jika merekalah yang keluar untuk mandi dan keperluan lain, maka beberapa orang pengawal mengawal mereka dengan senjata telanjang.
Dihari-hari berikutnya, maka kedua orang itu hampir-hampir tidak tahan lagi. Meskipun mereka tidak diperlakukan kasar, tetapi mereka seakan-akan telah hampir menjadi gila.
Namun pada hari keenam, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah datang pula kedalam bilik itu. Demikian keduanya melihat wajah itu, maka tiba-tiba yang termuda di antara keduanya telah berteriak keras-keras. Seakan-akan yang dilihatnya adalah wajah-wajah hantu yang sangat menakutkan. Saudaranya yang tertua telah menangkap lengannya dan mengguncangkan sambil berdesis, “He, kau kenapa?”
Untuk beberapa saat orang itu masih berteriak. Namun akhirnya terdengar kata-katanya mengumpat, “Anak iblis, setan alas. Bunuh kami sekarang juga.”
“Siapa yang akan membunuh?” bertanya Mahisa Pukat.
“Kalian yang nampaknya sebagai manusia itu, namun hatimu lebih hitam dan hati iblis yang paling terkutuk,” berkata orang itu.
“Aku tidak akan berbuat apa-apa,” berkata Mahisa Pukat.
“Sudahlah. Tutup mulutmu,” bentak yang tertua di antara kedua orang itu, “kau tentu akan membawa aku. Bawalah dan lakukanlah apa yang ingin kau lakukan atasku.”
“Tidak, tidak,” teriak yang muda, “akulah yang akan pergi bersamanya. Biarlah aku yang diperlakukan dengan biadab. Aku ingin segera mengetahui apa yang dilakukan atas kakak-kakak seperguruanku yang terdahulu.”
“Jangan,” berkata yang tua, “aku lebih tua darimu. Karena itu biarlah aku saja yang pergi. Seandainya akan terjadi juga atasmu kelak, maka tabahkan hatimu. Kita adalah murid-murid dari perguruan yang besar, yang tidak akan gentar menghadapi apapun juga. Jangan tunjukkan kelemahan hatimu agar kita tidak menodai kebesaran jiwa perguruan kita.”
Adik seperguruannya itu memandang kakaknya dengan pandangan yang tajam. Namun kemudian ia pun menarik nafas dalam-dalam. Ternyata kata-kata kakak seperguruannya itu mampu menyentuh hatinya sehingga ia pun telah berusaha untuk memperkuat ketahanan jiwanya menghadapi peristiwa yang sangat menggoncangkan itu.
Demikianlah, maka sejenak kemudian seorang di antara kedua orang itu telah dibawa pergi oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Dengan demikian, maka orang bertongkat yang telah kehilangan tongkatnya itu tinggal sendiri didalam biliknya. Rasa-rasanya ia memang sudah menjadi gila. Ingin ia berteriak keras-keras dan bahkan sekali-sekali ia telah membenturkan kepalanya pada dinding biliknya.
Pada hari berikutnya, ketegangan benar-benar terasa semakin memuncak didalam dadanya. Untunglah bahwa setiap kali ia menjadi teringat kepada pesan saudara seperguruannya.
“Jangan tunjukkan kelemahan hatimu agar kita tidak menodai kebesaran jiwa perguruan kita.”
Dengan perpegang pada pesan itulah, orang bertongkat yang terakhir itu ingin menunjukkan kebesaran jiwanya.
Untuk beberapa hari ia bertahan dengan ketegangan jiwa yang memuncak. Sehingga akhirnya, muncul lagi wajah-wajah yang sangat dibencinya pada hari yang keempat.
Dengan geram orang yang tinggal satu-satunya itu telah meloncat menyerang. Namun Mahisa Murti dan Mahisa Pukat memang telah mempersiapkan diri, sehingga serangan itu tidak mengenainya.
Namun ternyata orang itu tidak menyerang terus. Bahkan ia pun kemudian telah terduduk di tanah dengan kepala terkulai.
“Masuklah,” berkata Mahisa Murti.
“Aku tidak mau melihat bungkusan yang kau bawa. Bawa pergi dan bakar saja ditempat sampah. Jangan tunjukkan aku,” geram orang itu.
“Baiklah,” berkata Mahisa Murti dengan nada datar, “aku dapat memaklumi. Aku pun akhirnya dapat menebak isi dari bungkusan ini. Karena itu, maka aku tidak akan memberikan kepadamu.”
“Bakar saja. Jangan kau perlihatkan kepadaku,” berkata orang itu.
“Tidak. Sudah aku katakan, bahwa aku tidak akan memberikan kepadamu,” berkata Mahisa Murti. “Aku akan memenuhi permintaanmu untuk membakarnya. Tetapi masuklah ke dalam bilikmu.”
“Kapan kau akan membawa aku?” bertanya orang itu.
“Aku tidak tahu,” jawab Mahisa Murti, “Biarlah kau menunggu.”
“Aku dapat menjadi gila. Bunuh saja aku sekarang di sini,” teriaknya.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat saling berpandangan sejenak. Namun kemudian terdengar Mahisa Murti berkata, “Silahkan masuk ke dalam bilikmu. Aku tidak mendapat perintah untuk membawamu sekarang. Entah besok atau lusa.”
“Aku tidak mau menunda-nunda kematian dengan cara ini,” berkata orang itu, “Bunuh aku. Semakin cepat semakin baik.”
“Aku tidak pernah mendapat tugas untuk membunuh. Karena itu aku tidak akan dapat melakukannya,” jawab Mahisa Murti.
“Omong kosong. Kalian selalu berpura-pura, sehingga apa yang kau katakan tidak pernah mengandung kebenaran,” jawab orang itu.
Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Namun akhirnya ia berkata, “Sudahlah. Masuklah ke dalam bilikmu.”
“Tidak. Bunuh saja aku,” geram orang itu.
“Sudah aku katakan,” jawab Mahisa Murti, “aku tidak akan membunuhmu. Karena itu, masuklah ke dalam bilikmu. Jika kau tidak mau masuk juga, maka kami dapat menyeretmu seperti menyeret seekor kambing.”
Orang itu termangu-mangu sejenak. Ketika ia mencoba mengangkat wajahnya dan memandang wajah Mahisa Murti, maka darahnya berdesir tajam di dalam jantungnya. Wajah Mahisa Murti benar-benar bagaikan wajah hantu yang siap menerkam tengkuknya dan menghisap darahnya.
Dengan demikian maka rasa-rasanya orang itu tidak akan dapat berbuat lain kecuali menjalankan perintahnya. Betapapun keadaannya, maka orang itu pun kemudian beringsut bangkit dan masuk kembali ke dalam biliknya.
Namun ketika bilik itu ditutup, maka terdengar orang itu berteriak keras-keras. Rasa-rasanya jantungnya sudah tidak dapat lagi menampung perasaannya yang bergejolak itu.
Demikian kerasnya sehingga bilik itu rasa-rasanya telah berguncang sehingga sambungan dan ikatan kayu-kayunya dari tali-tali ijuk bergerak dan bergeser betapapun kecilnya.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang masih berada di luar bilik itu tidak segera meninggalkannya. Keduanya untuk beberapa lama masih berada di antara para penjaga di depan bilik itu. Mereka masih harus mengamati keadaan, jika orang itu tiba-tiba saja kehilangan kesadaran diri dan justru mengamuk tanpa dapat dikendalikan. Dengan ilmunya ia akan dapat berbuat berbagai macam langkah-langkah yang tidak terduga jika ia benar-benar telah dicengkam oleh keputus-asaan.
Tetapi ternyata ketika teriakan-teriakan itu mereda, maka tidak terjadi sesuatu di dalam bilik itu, sehingga Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun telah mohon diri kepada para penjaga.
“Jika terjadi sesuatu yang mencemaskan, beri kami isyarat. Kami akan segera datang. Bahkan mungkin Pangeran Singa Narpada sendiri.”
“Sekarang kalian akan ke mana?” bertanya salah seorang di antara para penjaga itu.
“Aku akan beristirahat,” jawab Mahisa Pukat.
Demikianlah keduanya telah meninggalkan tempat itu dan menuju bilik mereka untuk beristirahat.
Dalam pada itu, orang bertongkat yang tinggal satu-satunya di dalam biliknya itu rasa-rasanya sudah tidak tahan lagi menunggu. Dalam keadaan yang paling menggelisahkan itu, kadang-kadang terdengar ia berteriak nyaring. Benar-benar seperti orang yang sudah menjadi gila. Di hentak-hentakkannya pintu bilik itu, sehingga para penjaga mengawasinya setiap kejap tanpa kehilangan kewaspadaan.
Sementara itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang kemudian pergi ke bilik mereka sendiri itu pun masih saja memperbincangkan orang itu.
“Bagaimana jika ia benar-benar menjadi gila?” bertanya Mahisa Pukat.
“Apakah kita harus segera bertindak? Jika ia benar-benar menjadi gila, maka kita memang akan kehilangan kesempatan untuk mendengar keterangannya,” jawab Mahisa Murti.
“Jadi bagaimana?” bertanya Mahisa Pukat pula.
“Baiklah kita biarkan ia semalam ini. Besok kita akan melihat, apakah ia menjadi gila atau tidak,” bertanya Mahisa Murti.
“Besok kita harus mencoba mengoreknya,” desis Mahisa Pukat.
Namun demikian, keduanya masih saja selalu cemas, “Bahwa orang bertongkat itu akan benar-benar menjadi gila dan tidak akan dapat menjawab pertanyaan-pertanyaannya dengan baik.”
Karena itu, maka ketika malam lewat, pagi-pagi benar Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah pergi ke bilik tahanan itu. Dengan cemas keduanya telah membuka pintu bilik. Namun keduanya berada dalam kesiapan tertinggi sehingga apabila orang itu dengan tiba-tiba menyerang, mereka dapat menempatkan diri mereka.
Namun ternyata bahwa orang itu tidak berbuat apa-apa. Ia justru duduk saja di sudut bilik itu sambil memeluk lulutnya.
Tetapi ketika orang itu melihat wajah Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, maka tiba-tiba saja tubuhnya telah menjadi gemetar.
“Selamat pagi Ki Sanak,” sapa Mahisa Pukat.
Orang itu sama sekali tidak menjawab. Namun tubuhnya menjadi semakin gemetar sehingga bahkan terdengar giginya berderik seperti orang kedinginan.
Untuk beberapa saat Mahisa Murti dan Mahisa Pukat berdiri saja memandangi orang itu. Namun bagi orang itu, sikap Mahisa Murti dan Mahisa Pukat itu benar-benar sikap iblis yang paling terkutuk dialasnya neraka.
Sejenak kemudian mereka saling berdiam diri. Saling memandang dengan gejolak perasaan masing-masing.
Namun ketika Mahisa Murti dan Mahisa Pukat bergerak selangkah maju, maka orang itu pun tiba-tiba telah berteriak, “Jangan mendekat. Jangan mendekat.”
Ketakutan yang sangat telah membayang di wajahnya, sehingga sambil melekat dinding ia menutup wajahnya dengan kedua belah tangannya.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat maju semakin dekat. Kemudian dengan nada datar Mahisa Pukat pun berkata, “Marilah Ki Sanak. Kami mendapat perintah untuk membawa Ki Sanak menghadap para pemimpin prajurit Kediri.”
“Tidak. Aku tidak mau,” tiba-tiba saja orang itu seakan-akan menjadi liar. Sambil gemetar ia berjongkok melekat disudut bilik itu.
“Jangan takut,” berkata Mahisa Pukat, “tidak ada apa-apa. Kau hanya akan menjawab beberapa pertanyaan saja.”
“Aku tidak mau. Kalian akan memperlakukan aku seperti seekor keledai atau seekor anjing kurapan. Kalau kalian ingin membunuh aku, bunuhlah di sini sekarang,” teriak orang itu.
“Jangan salah paham Ki Sanak,” jawab Mahisa Pukat
“Tidak akan ada tindakan kekerasan sama sekali.”
“Omong kosong. Omong kosong,” teriak orang itu semakin keras.
Mahisa Pukat memandang Mahisa Murti sekilas. Lalu ia pun menarik nafas dalam-dalam sambil berkata, “baiklah Ki Sanak. Jika demikian, maka aku pun tidak akan membawamu menghadap. Tetapi akulah yang akan mewakilimu menjawab beberapa pertanyaan. Namun jawabku harus benar, karena jika jawabku salah, maka bukan aku yang akan mengalami perlakuan yang tidak kita inginkan, tetapi kau.”
“pertanyaan apa yang harus kau jawab? “ justru orang itulah yang bertanya.
“Aku harus menjawab pertanyaan antara lain, “Siapakah kalian sebenarnya, dan darimanakah kalian datang.”
Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun karena orang itu tidak segera menjawab, maka Mahisa pukat berkata, “Tetapi sebaiknya biar kau sajalah yang langsung menjawab pertanyaan-pertanyaan itu.”
“Tidak. Aku tidak mau. Lebih baik aku kau bunuh saja sekarang,” berkata orang itu.
Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Katanya, “Jika demikian, tolong, ajari aku menjawab yang sebenarnya, karena mungkin jawabanku itu akan dibuktikan oleh para pemimpin prajurit Kediri.”
Orang itu nampak kebingungan. Betapapun ketakutan mencengkam, namun masih ada juga kebimbangan untuk menyebutnya.
Karena orang itu tidak menjawab, maka Mahisa Pukat-pun berkata, “sebaiknya kau memang harus menghadap sendiri.”
“Tidak. Itu tidak perlu. Aku tidak mau,” orang itu berteriak keras-keras.
“Jika demikian, sebutlah siapakah kalian dan kalian berasal dari padepokan mana,” desak Mahisa Murti.
Orang itu masih saja gemetar. Wajahnya pucat dan nalarnya seakan-akan tidak lagi berjalan dengan wajar.
“jawab, atau aku seret kau menghadap di belakang seekor kuda,” geram Mahisa Pukat.
Orang itu seakan-akan merintih. “Jangan seret aku.”
“Kalau begitu sebut,” sahut Mahisa Pukat.
Ketakutan di hati orang itu benar-benar tidak teratasi sehingga akhirnya ia berkata, “Kami berasal dari padepokan Suriantal.”
Jantung Mahisa Murti dan Mahisa Pukat terasa bergetar. Nama itu pernah didengarnya meskipun hanya sekilas pada saat-saat ia berbincang dengan orang-orang berilmu tinggi di Singasari maupun di Kediri. Ayahnya pernah menyebutnya, sedangkan Pangeran Singa Narpada pernah juga mengatakan sedikit tentang padepokan yang bernama Suriantal itu. Sebuah padepokan yang namanya cukup menggetarkan dimasa lalu.
Namun, dengan kematian guru orang itu, apakah berarti pemimpin padepokan Suriantal itu sudah tidak ada lagi, sehingga padepokan itu akaan kehilangan ikatannya.
Tetapi hal itu masih belum ditanyakan kepada orang yang masih saja ketakutan itu. Namun yang ditanyakan kemudian adalah, “Jika demikian, maka untuk siapa orang-orang Suriantal itu bekerja.”
Orang itu tidak segera menjawab. Wajahnya yang pucat menjadi semakin pucat, sementara matanya justru bertambah liar.
Dipandanginya Mahisa Murti dan Mahisa Pukat berganti-ganti. Namun tiba-tiba saja ia berdiri dan meloncat menuju ke pintu.
“Tunggu,” cegah Mahisa Pukat.
Tetapi orang itu berlari terus, sehingga akhirnya Mahisa Pukat tidak berbuat lain kecuali dengan tangkasnya ia meloncat memotong langkah orang itu dan sekaligus memukul tengkuknya.
Orang itu terhenti. Namun kemudian ia kehilangan keseimbangannya. Untunglah pada saat ia terhuyung-huyung, Mahisa Murti sempat menangkapnya.
“Kau terlalu keras memukulnya,” berkata Mahisa Murti.
“Tetapi bukanlah ia tidak mati?” Mahisa Pukat benar-benar menjadi cemas.
“Tidak,” Mahisa Murti menggeleng, sementara Mahisa Pukat pun telah menarik nafas dalam-dalam. “Agaknya orang ini hanya pingsan saja.”
Mahisa Pukat memandang orang yang kemudian dibaringkan di lantai itu sambil berdesis. “Kasihan. Ia benar-benar mengalami tekanan batin yang sulit diatasinya.”
Mahisa Murti mengangguk-angguk. Ia pun kemudian berkata, “Biarlah orang ini beristirahat. Mudah-mudahan ia tidak kehilangan kesadarannya.”
“Kita sudah menempuh satu cara yang sangat menegangkan syarafnya. Tetapi tanpa dengan cara ini, ia tidak akan menyebut apa pun juga. Bahkan padepokan Suriantal itu sendiri tidak akan pernah diucapkannya,” jawab Mahisa Pukat.
“Mungkin nama padepokan itu akan dapat dijadikan salah satu alas untuk menemukan pemecahan atas persoalan yang lebih luas lagi dari usaha orang-orang ini untuk mendapatkan benda yang paling berharga di Kediri,” berkata Mahisa Murti kemudian.
Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Marilah. Kita tinggalkan orang ini. Ia akan sadar dan mungkin ada kesempatan baginya untuk beristirahat.”
“Tetapi apakah kita masih memerlukan jawaban-jawaban yang lain? Aku kira ia akan mengatakan apa pun lagi,” berkata Mahisa Murti. “Sementara itu, nama padepokan yang disebutnya merupakan pintu yang dapat kita masuki untuk melihat ke dalam persoalan mereka.”
Bersambung......!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar