*HIJAUNYA LEMBAH : JILID-028-01*
“Pantas,” desis Pangeran Singa Narpada, “dengan kekuatan yang luar biasa itulah, maka Kebo Sarik telah dilumpuhkan. Alangkah dahsyatnya ilmu itu, jika kalian berdua kelak mampu mengembangkannya dan mengungkapkannya dengan landasan yang matang. Namun, menilik umur kalian sekarang, maka kesempatan masih sangat luas, sehingga menurut perhitungan, maka kalian pada suatu saat akan menjadi orang-orang yang sulit dicari bandingnya. Namun dengan demikian, maka beban dipundak kalian pun menjadi bertambah berat. Dengan ilmu yang semakin tinggi, maka kalian akan mendapat godaan yang semakin besar. Mungkin dengan ilmu kalian yang sulit dicari bandingnya, kalian akan dapat melawan orang lain yang ingin menyulitkan keadaan kalian, tetapi pada suatu saat kalian akan menghadapi lawan yang sulit untuk dikalahkan. Lawan itu adalah diri sendiri. Dengan kemampuan yang sangat tinggi, maka kalian akan dapat dikuasai oleh ketamakan, oleh kedengkian dan keinginan yang tidak terbatas, serta nafsu untuk berkuasa atas orang lain dengan mempergunakan ilmu dan kemampuan kalian.”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk kecil. Meskipun dengan istilah yang berbeda, tetapi maknanya pernah juga didengarnya baik dari ayahnya, dari paman-pamannya Witantra dan Mahisa Agni. Karena itu, keduanya berusaha untuk menyimpan pesan itu didalam hati.
Dengan bahan-bahan yang lengkap atas pengamatannya terhadap kedua orang anak muda itu, maka Pangeran Singa Narpada pun kemudian menyiapkan diri serta menyiapkan kedua orang anak muda itu untuk mulai dengan latihan-latihan. Pangeran Singa Narpada tidak perlu mulai dari tataran pertama, tetapi ia akan dapat langsung sampai pada tahap-tahap terakhir, karena Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah memiliki bekal yang cukup.
Latihan-latihan di sanggar maupun di udara terbuka sebagian terbesar dilakukan pada malam hari. Dengan sungguh-sungguh dan sangat berhati-hati Pangeran Singa Narpada memperkenalkan jalur ilmunya kepada Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.
Sedikit demi sedikit keduanya belajar melihat perbandingan antara ilmu yang telah dikuasainya dengan ilmu yang diperkenalkan oleh Pangeran Singa Narpada. Mereka pun mulai mempelajari persamaan dan perbedaannya, sehingga mereka akan dapat dengan cepat menyadari, di jalur mana mereka berada.
“Jika kalian telah memahaminya dengan baik,” berkata Pangeran Singa Narpada, “maka kalian akan dapat berpindah-pindah seperti meloncat-loncat dari satu sisi ke sisi parit yang lain dengan penuh kesadaran dan tidak akan menjadi tumpang suh lagi. Dengan demikian, maka kalian akan dapat mempergunakan kedua jalur ilmu atau lebih di dalam dirimu bersamaan waktunya dan bahkan pada saatnya akan dapat saling mendukung dan saling mengisi.”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk angguk penuh pengertian. Petunjuk-petunjuk yang diterimanya memang menunjukkan kepada mereka, arah yang harus mereka tempuh dalam perjalanan mereka mengarungi dunia olah kanuragan yang kadang-kadang keras dan gawat.
Di siang hari, mereka lebih banyak berada di gandok. Mereka lebih banyak berbicara dan berbincang tentang ilmu yang sedang mereka tekuni. Bahkan kadang-kadang mereka telah membuat gambar di atas rontal atau di atas papan atau bahkan di atas lantai dengan-arang atau alat-alat lain. Mereka menekuni latihan-latihan mereka lewat pembicaraan denggan langkah-langkah yang mereka goreskan dalam gambar.
Namun ternyata bahwa goresan-goresan dan pembicaraan itu banyak bermanfaat bagi keduanya. Dalam latihan-latihan yang sebenarnya, maka yang mereka lakukan itu seakan-akan memberikan banyak tuntunan. Pemecahan persoalan-persoalan yang mungkin timbul dengan tiba-tiba serta kemungkinan-kemungkinan yang tanpa dipersiapkan lebih dulu akan sangat sulit dipecahkan.
Pangeran Singa Narpada memang menjadi heran melihat perkembangan kedua orang anak muda itu. Kecepatan mereka meningkat melampaui perhitungan Pangeran Singa Narpada, sehingga dengan demikian Pangeran Singa Narpada semakin merasa tertarik kepada keduanya dan ia pun menjadi semakin bergairah untuk memberikan latihan-latihan yang semakin hari menjadi semakin berat.
Di antara kerja keras itu, ternyata Pangeran Singa Narpada masih juga menyempatkan diri berbicara dengan orang-orang bertongkat yang telah ditawannya. Namun pembicaraan mereka tidak segera menemukan jalur yang mampu menunjukkan pemecahan atas persoalan yang dihadapinya.
Ternyata bahwa orang-orang bertongkat itu memiliki keteguhan hati untuk tidak mengatakan sesuatu yang mereka anggap rahasia dari lingkungan mereka.
Namun ketika mereka mendengar bahwa guru mereka dan Kebo Sarik benar-benar telah terbunuh, maka rasa-rasanya mereka pun telah kehilangan segala macam cita-cita yang semula bagaikan terbang setinggi bintang.
Meskipun demikian, tidak mudah bagi Pangeran Singa Narpada untuk mengetahui siapakah mereka sebenarnya. Namun dari pembicaraan yang dapat ditangkap oleh Pangeran Singa Narpada dengan ketajaman telinga batinnya, maka orang-orang itu seakan-akan telah menjadi berputus-asa.
“Kita akan tetap menahan mereka,” berkata Pangeran Singa Narpada, “setiap hari kita akan berbicara dengan mereka. Siapakah yang menjadi jemu lebih dahulu. Kita atau orang-orang itu. Jika kita menjadi jemu lebih dahulu, maka kita akan berhenti bertanya sebelum kita mendengar jawabnya Tetapi jika mereka menjadi jemu lebih dahulu, maka merekalah yang akan mengakhiri pembicaraan sehingga mereka akan menjawab segala pertanyaan kita.”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Keduanya menyadari, bahwa memang sulit untuk dapat menguasai perasaan keempat orang bertongkat itu.
Namun dalam pada itu, latihan-latihan yang dilakukan oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah memasuki ke bagian yang gawat. Keduanya harus semakin tekun mengenali kedua jenis ilmu yang akan menjadi bagian dari kemampuan mereka.
Dalam keadaan yang demikian, maka kedua anak muda itu dianjurkan oleh Pangeran Singa Narpada untuk mulai menjalani laku. Mereka harus mulai mengurangi jenis makanan yang mereka makan, meskipun mereka masih belum diharuskan untuk tidak makan nasi menguranginya.
Sementara itu, ternyata bahwa Mahendra menjadi sering berkunjung ke Kediri kerena kesibukan perdagangannya meskipun sekaligus ia harus menengok anak-anaknya.
Suatu kali Mahendra telah mendapat kesempatan untuk melihat apa yang dapat dilakukan oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Keduanya mampu menunjukkan kepada Mahendra, bagaimana kedua anaknya itu mampu mempergunakan jalur ilmu yang diterimanya dari ayahnya dan dari Pangeran Singa Narpada hampir berbareng tanpa menimbulkan bentur-benturan di dalam diri mereka. Bahkan dengan demikian maka unsur yang nampak pada kedua anaknya itu menjadi semakin banyak dan meliputi berbagai macam kegunaan.
Namun Pangeran Singa Narpada masih belum mulai dengan ilmu puncaknya, sehingga dengan demikian, maka kedua anak muda itu masih harus bekerja keras dan berbuat banyak.
Namun apa yang dapat disaksikan itu telah membuat Mahendra berbangga. Ia yakin bahwa kedua anaknya akan menjadi orang yang memiliki ilmu yang cukup dihari tua mereka.
Tetapi untuk sampai kepada ilmu puncak yang dimiliki oleh Pangeran Singa Narpada, maka Pangeran Singa Narpada masih harus membicarakannya dengan Mahendra. Selain ilmu yang dapat melontarkan kekuatan yang tidak ada taranya. Pangeran Singa Narpada juga memiliki ilmu yang disebut oleh beberapa orang sebagai ilmu yang licik, meskipun Pangeran Singa Narpada sendiri tidak mengerti, kenapa ilmunya disebut ilmu licik.
Karena itu, sebelum ia mewariskan ilmu itu kepada Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, maka Pangeran Singa Narpada memerlukan berbicara lebih dahulu dengan ayah anak-anak muda itu.
“Terserah kepada Ki Mahendra,” berkata Pangeran Singa Narpada, “apakah Ki Mahendra keberatan atau tidak. Sebenarnya aku sendiri tidak mengerti, kenapa orang lain menyebutnya sebagai ilmu yang licik.”
“Aku tidak menyebutnya sebagai ilmu yang licik,” berkata Mahendra, “karena itu, aku tidak keberatan jika Pangeran menurunkan ilmu itu kepada anak-anakku. Justru dengan demikian maka aku akan berharap, anak-anak akan memiliki bekal semakin lengkap untuk mengabdi kepada sesama.”
“Aku juga berharap demikian,” berkata Pangeran Singa Narpada, “aku sudah berulang kali mengatakan kepada kedua anak muda itu, bahwa semakin tinggi ilmu yang mereka sandang, maka tanggung jawab mereka terhadap sesama menjadi semakin besar.”
“Bagaimana kesan Pangeran terhadap anak-anak itu?” bertanya Mahendra.
“Aku kira mereka akan dapat memenuhi keinginan ayahnya,” jawab Pangeran Singa Narpada.
“Syukurlah,” jawab Mahendra, “jika demikian, maka aku serahkan kebijaksanaannya kepada Pangeran. Ilmu itu sama sekali bukan ilinu yang licik. Bukan seperti laku seorang pencuri yang mengambil milik orang dengan diam-diam. Tetapi sebagai laku seorang kesatria yang mengambil kejahatan orang lain untuk melindungi sesamanya.”
“Baiklah,” berkata Pangeran Singa Narpada, “jika demikian, maka aku akan memberikan ilmu itu kepada Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, agar di samping ilmu mereka yang dahsyat, yang diterima dari ayahnya, juga memiliki kemampuan untuk mengambil ilmu hitam dari orang lain.”
Dengan demikian maka Pangeran Singa Narpada tidak ragu-ragu lagi. Bahkan keragu-raguannya tentang dirinya sendiri pun menjadi semakin tipis. Ketika gurunya memberikan ilmu itu kepadanya, maka gurunya itu pun telah berpesan, “Jika kau salah langkah, maka ilmu ini akan menjadi ilmu yang sangat licik. Meskipun ditakuti oleh banyak orang, tetapi akan dikutuk oleh orang-orang yang mengabdikan diri kepada kebenaran. Tetapi jika kau mampu mengetrapkan kepada jalan kebenaran itu, maka kau akan menjadi sahabat umat manusia.”
Pesan itulah yang juga harus disampaikan kepada Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pada saatnya.
Untuk menerima puncak ilmu Pangeran Singa Narpada itu, maka mahisa Murti dan Mahisa Pukat benar-benar harus mempersiapkan diri, itu maka dibutuhkan waktu yang cukup panjang.
Yang harus dilakukan oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat adalah menjalani laku lahir dan batin. Mereka mulai mengurangi makanan pokok mereka sedikit demi sedikit, sementara itu, di malam hari pada hari-hari tentu mereka mulai berendam di dalam air sungai yang mengalir lambat. Sedangkan di hari-hari lain mereka harus melatih wadag mereka dengan mendaki gunung dan menuruni lereng digelapnya malam. Berlari-lari di sepanjang sungai berbatu-batu.
Namun yang terutama adalah latihan-latihan yang tekun bagi pernafasan. Mengatur keseimbangan kekuatan di dalam dan di luar dirinya, berlatih mengetrapkan kekuatan yang dihirupnya pada jalur pernafasannya, sehingga kekuatan ke seluruh tubuh, kemudian jika dikehendaki telah memusat pada bagian-bagian tubuhnya sesuai dengan maksud dan kegunaannya.
Mahendra tidak dapat menunggui anaknya dalam laku yang dijalani, karena ia harus kembali ke Singasari. Namun ia percayakan kedua anaknya kepada Pangeran Singa Narpada.
Dengan demikian maka kedua anak muda itu benar-benar tlah bekerja keras. Mereka sama sekali tidak mengenal waktu dan lebih. Meskipun sebagian besar waktu yang mereka pergunakan adalah malam hari.
Sementara itu, Kediri semakin lama memang menjadi semakin tenang. Tidak banyak timbul persoalan-persoalan yang dapat menjadikan Sri Baginda resah dan gelisah. Pemerintahan berjalan dengan wajar dan hubungan dengan Singasari masih terjalin sebagaimana seharusnya.
Namun dengan demikian bukan berarti bahwa tidak ada masalah sama sekali yang terjadi di Kediri. Kekuatan-kekuatan yang semula diikat oleh para pemimpinnya yang gagal, dan kemudian terpecah-pecah, telah dibekali dengan dendam dan kebencian.
Mereka memang tidak dapat berbuat banyak atas Kediri dalam keseluruhan. Tetapi mereka akan mampu berbuat sesuatu bagi bagian-bagian kecil dari Kediri.
Meskipun demikian, para prajurit Kediri pada umumnya mampu mengatasi persoalan-persoalan yang timbul itu dengan cepat. Para prajurit Kediri tidak mau mengalami kesulitan sebagaimana pernah terjadi. Jika mereka terlambat, maka kekuatan yang kecil itu akan dapat mekar dan menjadi kiblat dari dendam dan kebencian yang masih terdapat di mana-mana.
Sementara itu, keempat orang bertongkat yang masih tetap ditahan di bagian belakang dari istana Pangeran Singa Narpada ternyata memang tidak dapat memberikan keterangan selain tentang diri mereka sendiri. Yang tertua di antara mereka, yang telah dengan cerdik mempersilahkan Pangeran Singa Narpada membuat peti perak, namun yang ternyata telah terjerumus sendiri kedalam kesulitan, agaknya memang masih menyimpan sesuatu yang belum disebutkannya. Namun agaknya yang mereka lakukan adalah sekedar didorong oleh keinginan mereka sendiri. Tidak sebagaimana dilakukan oleh Ki Ajar Bomantara yang berhubungan dengan Pangeran Lembu Sabdata. Sedangkan sampai saat-saat terakhir, Pangeran Lembu Sabdata masih juga belum benar-benar dapat disembuhkan. Berbagai cara sudah ditempuh. Meskipun keadaannya menjadi semakin baik, tetapi ia masih tetap menutup diri.
Dalam kehidupannya sehari-hari, meskipun masih ditempatkan di tempat yang khusus dan mendapat pengawasan yang kuat, Pangeran Lembu Sabdata sudah dapat melayani dirinya sendiri. Ia mulai sadar tentang kehadirannya. Tetapi orang lain baginya tetap dianggapnya sebagai bahaya yang setiap saat dapat menerkamnya.
Karena itu, maka Pangeran Lembu Sabdata masih belum bersedia bergaul dengan siapa pun juga. Bahkan dengan tabib yang mengobatinya dengan tekun sabar dan bersungguh-sungguh itu pun masih saja terbentang jarak yang sulit untuk ditutup.
Namun dalam pada itu, kehidupan sehari-hari di Kediri telah berangsur menjadi baik dan mapan. Suasana yang demikian ternyata telah dapat dimanfaatkan oleh Mahendra, itu pun masih saja seorang pedagang batu-batu permata, batu bertuah dan benda-benda pusaka.
Sementara itu, kedua anaknya telah menekuni ilmu yang luar biasa yang siap diwariskan oleh Pangeran Singa Narpada.
Untuk itu, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah menjalani laku yang sangat berat. Sehingga akhirnya, Pangeran Singa Narpada memandang bahwa waktunya sudah tiba. Ternyata Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah benar-benar siap, karena sebelum ia menjalani laku untuk menerima ilmu yang tinggi dari Pangeran Singa Narpada, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah pernah menjalani laku untuk menerima ilmu puncak dari ayahnya sendiri yang juga menjadi gurunya.
Karena itu, maka untuk menjalani laku sebelum menerima ilmu Pangeran Singa Narpada, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mampu melakukannya dengan baik dalam waktu yang terhitung cepat.
Dengan demikian, maka akhirnya saatnya telah sampai pula bagi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat untuk menerima ilmu yang sulit dicari bandingnya itu, dan bahkan sudah jarang ditemui duanya.
Menjelang senja Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah melakukan mandi keramas. Mereka telah membersihkan wadag mereka sebelum mereka memasuki sanggar dan menjalani laku hening untuk melihat ke dalam diri mereka sendiri. Tanpa ada orang lain yang menunjuk maka dalam laku hening, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat berusaha untuk menilai diri mereka sendiri. Apakah mereka sudah cukup pantas untuk memasuki tataran yang lebih tinggi dalam olah kanuragan. Apakah mereka sudah cukup mampu mempertanggung-jawabkan ilmu yang akan diterimanya.
Dalam laku hening, keduanya seakan-akan telah memisahkan dirinya yang menilai dan dirinya yang dinilai. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang duduk bersila dengan menyilangkan tangan di dadanya, dalam memejamkan matanya, justru seakan-akan mereka melihat diri mereka duduk di hadapan mereka. Dalam kesempatan yang demikian maka keduanya telah menerawang sampai ke pusat jantung, untuk menilai perasaan, dan sampai ke pusat otak untuk menilai penalaran, siapakah mereka itu di dalam keluarga besar umat manusia.
Demikianlah mereka lakukan sampai tengah malam. Baru setelah kentongan tengah malam berbunyi, maka Pangeran Singa Narpada telah memasuki sanggar.
Untuk beberapa saat masih dilakukan laku terakhir. Baru setelah semuanya dilakukan dengan tuntas, maka Pangeran Singa Narpada itu mulai menurunkan ilmunya kepada Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.
Suasana di istana itu terasa hening. Tidak banyak orang yang tahu apa yang sedang terjadi di dalam sanggar. Dua orang prajurit yang bertugas pada saat mengelilingi halaman istana dan lewat di dekat sanggar, memang telah mendengar sesuatu yang tidak jelas di dalam sanggar itu. Namun mereka menyangka bahwa seseorang sedang mengadakan latihan di dalam sanggar itu. Para prajurit itu tidak mengira, bahwa di dalam sanggar itu telah terjadi sesuatu yang sangat penting. Pangeran Singa Narpada sedang mewariskan ilmunya yang jarang ada duanya kepada Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.
Seperti juga puncak ilmunya yang diterimanya dari ayahnya, maka yang diturunkan oleh Pangeran Singa Narpada adalah pokok landasan dari ilmunya, sehingga Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih berkewajiban untuk mengembangkannya dan mematangkannya di dalam dirinya.
Ketika langit menjadi merah oleh cahaya fajar, maka Pangeran Singa Narpada yang letih telah keluar dari sanggar itu. Untuk menyegarkan tubuhnya, maka Pangeran Singa Narpada langsung pergi ke pakiwan untuk mandi.
Namun dalam pada itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat ternyata masih tetap berada di dalam sanggar. Rasa-rasanya tubuh mereka menjadi sangat lemah dan kehilangan tulang belulangnya setelah mereka mengerahkan segenap kemampuan yang ada di dalam diri mereka untuk menerima ilmu yang diturunkan oleh Pangeran Singa Narpada.
Untuk beberapa lama Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih duduk bersila di sanggar dengan tangan berada di atas lutut. Mereka masih berusaha mengatur pernafasan mereka yang terengah-engah. Dengan sebulat hati mereka berusaha untuk memulihkan keadaan tubuh mereka, meskipun tidak dengan serta merta dan sepenuhnya.
Demikianlah, perlahan-lahan terasa angin pagi yang menyusup lewat celah-celah dinding mulai menyentuh tubuh mereka, sehingga rasa-rasanya menjadi semakin segar. Darah mereka yang mengalir dengan keras dan degup jantung yang bagaikan berguncang-guncang telah mulai mereda dan bahkan menjadi pulih kembali.
Namun agaknya mereka memerlukan waktu yang agak panjang. Ketika matahari sudah naik, keduanya masih belum nampak keluar dari sanggar.
Tetapi Pangeran Singa Narpada dapat memakluminya. Kedua anak itu jika ditilik dari umurnya masih terlalu muda. Hanya karena keduanya telah pernah menerima puncak ilmu ayahnya sajalah, maka Pangeran Singa Narpada berani memberikan ilmunya kepada kedua orang anak itu. Karena menurut pengertian Pangeran Singa Narpada, jika yang menerima ilmu itu ternyata masih belum memiliki kesediaan badani yang cukup, maka jatungnya justru akan dapat meledak.
Ternyata bahwa Mahisa Murti dan Mahisa Pukat benar-benar telah siap menerima ilmu yang luar biasa itu, meskipun untuk beberapa saat, keadaan tubuh mereka terasa menjadi lemah. Bahkan mungkin diperlukan waktu yang lebih lama lagi untuk memulihkan seluruh kekuatan tubuh kedua anak muda itu.
Ketika matahari kemudian naik semakin tinggi, bahkan hampir mencapai puncak langit, maka kedua anak muda itu baru merasa keadaan mereka sudah menjadi cukup baik. Karena itu, maka mereka pun telah menghentikan samadi mereka.
Setelah membenahi pakaian mereka, maka kedua orang anak muda itu pun telah keluar dari dalam sanggar dan seperti juga Pangeran Singa Narpada, mereka pun langsung pergi untuk menyegarkan badan. Ketika mereka mulai menyiram tubuh mereka dengan air di pakiwan, rasa-rasanya segalanya memang telah menjadi pulih kembali.
Namun dalam pada itu, meski pun tingkat mewariskan ilmu itu sudah selesai, namun masih ada sesuatu yang harus diberikan oleh Pangeran Singa Narpada.
Karena itu, ketika keduanya telah selesai membenahi diri, maka Pangeran Singa Narpada pun berkata, “beristirahatlah sebaik-baiknya lahir dan batin. Malam nanti kita masih akan berbicara.”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk kecil. Sebenarnyalah mereka ingin beristirahat sebaik-baiknya. Karena itu, maka sehari itu, keduanya hampir tidak keluar dari dalam bilik mereka. Mereka telah mempergunakan waktu mereka untuk sejenak tidur. Tetapi karena tidak menjadi kebiasaan mereka tidur di siang hari, maka mereka pun hanya sejenak dapat lenyap.
Ketika malam turun, maka kedua anak muda itu telah bersiap. Bersama Pangeran Singa Narpada mereka memasuki sanggar pula. Namun mereka tidak akan lagi melakukan pewarisan ilmu sebagaimana telah dilakukan semalam, tetapi mereka hanya duduk saja di atas selembar tikar. Di sebelah mereka lampu minyak menyala di atas ajuk-ajuk bambu.
Dalam kesempatan itu, Pangeran Singa Narpada telah memberikan beberapa macam petunjuk sebagaimana diterimanya dari gurunya. Bagaimana Mahisa Murti dan Mahisa Pukat dapat mengembangkan ilmu mereka. Selebihnya Pangeran Singa Narpada juga memberikan petunjuk-petunjuk apa yang sebaiknya dilakukan oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sebagai pewaris ilmunya.
“Agaknya tidak akan berbeda jauh dari pesan-pesan yang pernah kau terima dari ayahmu,” berkata Pangeran Singa Narpada.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Sementara itu Pangeran Singa Narpada berkata, “Karena itu, usahakanlah, agar kalian dapat melakukan sebagaimana di harapkan oleh ayahmu.”
“Kami akan berusaha Pangeran,” desis Mahisa Murti.
“Ya,” jawab Pangeran Singa Narpada, “aku yakin akan kejujuran hati kalian. Kalian adalah anak-anak muda yang memiliki bekal yang tidak ada bandingnya. Ilmu dari ayahmu, dan sekarang yang aku wariskan kepadamu, sementara itu, kalian telah memiliki penangkal racun yang dapat menolak racun dan bisa yang bagaimanapun tajamnya.”
Mahisa Murtidan Mahisa Pukat menundukkan kepalanya.
Sementara itu Pangeran Singa Narpada berkata, “Dengan bekal yang kalian miliki, maka pada suatu saat kalian akan menjadi orang yang sulit ada tandingnya. Namun itu bukan berarti bahwa kalian dapat berbuat apa saja, karena sebenarnyalah bahwa yang terkuat itu pun pada suatu saat akan dikalahkan oleh kekuatan baru tanpa di pilih apakah itu kekuatan hitam kekuatan putih. Karena itu, seseorang tidak boleh menjadi sombong karena ilmu-ilmu yang dimilikinya.”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih saja menunduk.
Masih banyak pesan-pesan yang diberikan oleh Pangeran Singa Narpada disamping petunjuk-petunjuk apakah yang harus dilakukan dalam waktu dekat dan panjang.
Akhirnya Pangeran Singa Narpada berkata, “Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Jika aku mewariskan ilmuku kepada kalian, itu agaknya bukannya tanpa pamrih. Karena itu, maka aku minta, kalian akan bersedia memenuhi permintaanku.”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menjadi tegang sejenak. Namun mereka pun berusaha untuk menghapuskan semua kesan itu dari wajah mereka. Bahkan keduanya pun kemudian berusaha untuk mendengarkan sebaik-baiknya, pesan apakah yang akan diberikan oleh Pangeran Singa Narpada itu.
Untuk beberapa saat Pangeran Singa Narpada justru terdiam. Namun kemudian setelah menarik nafas dalam-dalam ia pun berkata, “Aku terpaksa mengatakannya. Tetapi niatku baik.”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sama sekali tidak menjawab. Ia menunggu apa yang akan dikatakan oleh Pangeran Singa Narpada itu.
Baru sejenak kemudian Pangeran Singa Narpada berkata, “Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Bukan maksudku untuk mengorek rahasia keluarga sendiri, karena setiap cacad yang terdapat di dalam lingkungan keluargaku adalah cacadku juga.”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menjadi semakin berdebar-debar. Sementara itu Pangeran Singa Narpada berkata selanjutnya, “Dengarlah baik-baik, meskipun aku harus mengatakannya sambil menyembunyikan wajahku. Sebenarnyalah aku tidak dapat mempercayai lagi siapa pun juga di dalam lingkungan keluargaku sendiri. Ada beberapa alasan yang dapat aku sebut. Tetapi aku kira aku tidak perlu mengatakan kepadamu. Karena itu, tidak seorang pun di antara mereka yang menurut pendengaranku pantas untuk menerima warisan ilmuku.” Pangeran Singa Narpada berhenti sejenak, lalu, “Namun dengan demikian, aku telah mencemaskan Tanah Kediri. Jika tidak ada orang yang memiliki bekal ilmu yang cukup, maka pada suatu saat, jika datang orang yang ingin mengganggu ketenangan Tanah ini, tidak akan ada seorang pun yang akan dapat mengatasinya. Karena itu, maka aku akan minta tolong kepadamu. Meskipun kau bukan keluarga Kediri, namun aku berharap agar kau bersedia berbuat sesuatu bagi tanah ini.”
Jantung Mahisa Murti dan Mahisa Pukat terasa berdebar semakin cepat. Namun keduanya dapat merasakan betapa pahitnya perasaan Pangeran Singa Narpada. Ia merasa sendiri di ramainya Tanah Kediri.
Memang ada beberapa Senapati yang dapat dipercayainya. Tetapi mereka tidak mampu menarik kepercayaan Pangeran Singa Narpada sepenuhnya.
Karena itulah, maka beruntung sekali Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang justru telah menerima warisan ilmu yang luar biasa dari Pangeran Singa Narpada.
Tetapi justru karena itu, maka keduanya tentu tidak akan dapat menolak permintaan Pangeran Singa Narpada itu.
“Bagaimanakah kira-kira tanggapan kalian?” bertanya Pangeran Singa Narpada. Namun kemudian katanya, “Tetapi aku tidak memaksakan keinginan ini. Aku pun tidak tergesa-gesa ingin mendengar jawab kalian. Kalian dapat memikirkannya barang satu dua pekan. Pada suatu saat kalian akan dapat memberikan jawaban tanpa ragu-ragu lagi serta tidak akan menyesal di kemudian hari.”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat saling berpandangan sejenak, baru kemudian Mahisa Murti menyahut, “Pangeran. Adalah tidak pantas sama sekali bagi kami apabila kami mengelak satu kewajiban yang dibebankan oleh guru kami kepada kami, apapun ujud dan bentuknya. Namun agaknya Pangeran tidak ingin berbicara selaku guru terhadap murid-muridnya, karena Pangeran merasa bahwa Pangeran tidak membentuk kami sejak permulaan. Namun bagaimanapun juga kami adalah murid-murid yang wajib setia pada gurunya. Meskipun demikian sebagaimana yang Pangeran katakan, kami akan mempertimbangkannya dalam beberapa hari ini, meskipun sebenarnya itu tidak perlu.”
“Terima kasih,” jawab Pangeran Singa Narpada, “aku akan menunggu jawabnya. Tetapi aku akan dapat salah duga. Jika demikian yang terjadi, maka aku tidak akan merasa sangat kecewa, karena semuanya yang memang halus terjadi dan akan terjadi.”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak menjawab. Tetapi kepala mereka telah tertunduk semakin dalam. Keduanya mencoba untuk menerawang Kediri yang besar. Apakah tidak ada seorang pun di antara para bangsawan yang dapat dipercaya oleh Pangeran Singa Narpada?”
Bahkan diluar sadarnya Mahisa Murti dan Mahisa Pukat hampir-hampir telah menyatakan ketidak percayaannya.
Untunglah bahwa hal itu masih belum diucapkannya.
Sementara itu, malam telah menjadi semakin malam. Karena itu maka Pangeran Singa Narpada pun berkata, “sudahlah Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Kalian tentu menjadi sangat letih semalam. Mungkin kalian sudah merasa cukup beristirahat. Tetapi biarlah kekuatan kalian pulih kembali seutuhnya. Besok kau tidak harus menjalani laku lagi. Sementara itu waktu kita menjadi bertambah panjang untuk berbicara dengan orang-orang bertongkat yang sudah sangat lama berada di sini. Jika kita memang tidak memerlukan lagi, maka mereka akan aku kirimkan ke penjara istana, agar mereka dapat disimpan saja di sana.
“Sulit untuk mendengar keterangannya Pangeran,” berkata Mahisa Pukat.
“Ya. Namun kita masih akan mencoba. Sementara ini kita tidak dapat memusatkan perhatian kita. Namun agaknya mulai besok kita tidak akan lagi terganggu waktunya. Siang dan malam kita akan dapat melakukannya. Meskipun aku tahu, bahwa apa yang akan kita dengar tidak akan berarti apa-apa.”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Ia pun mempunyai perhitungan yang demikian. Tetapi memang tidak ada salahnya untuk mencoba sekali lagi berbicara dengan orang-orang bertongkat itu.
Dengan demikian maka sejenak kemudian, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun telah minta diri untuk kembali ke dalam biliknya. Mereka memang masih ingin beristirahat untuk beberapa saat lagi. Apalagi dimalam itu.
Ketika fajar membayang di hari berikutnya, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah berada di luar biliknya sebagaimana dilakukannya sehari-hari. Mereka tidak dapat meninggalkan kebiasaan mereka untuk berbuat sesuatu. Membersihkan halaman atau mengambil air dari sumur untuk memenuhi jambangan di pakiwan atau kerja-kerja yang lain.
Tetapi, karena di istana Pangeran Singa Narpada semuanya itu sudah dilakukan oleh orang-orang tertentu, maka keduanya setiap pagi telah berada di dalam sanggar. Apalagi ketika mereka telah menerima ilmu dari Pangeran Singa Narpada, maka mereka merasa perlu untuk selalu berusaha mengembangkannya bersama-sama dengan ilmu yang diwarisinya dari ayahnya.
Namun mereka tidak dapat melakukannya dengan serta merta. Mereka sadar, bahwa mereka harus melangkah dengan sabar. Hari itu adalah hari-hari permulaan bagi mereka menanggapi ilmu yang diwarisinya dari Pangeran Singa Narpada. Karena itu, maka mereka pun tidak dengan cepat ingin memaksa diri untuk mencapai satu loncatan panjang.
Tetapi sebagaimana di hari-hari lain, maka untuk tidak menimbulkan kesan-kesan tersendiri, maka keduanya tidak terlalu lama berada di dalam sanggar. Di siang hari, mereka adalah tamu yang khusus jika mereka di istana, tetapi jika mereka berada di padang terbuka, maka mereka adalah murid-murid yang bekerja keras untuk mempersiapkan diri mereka. Sedangkan di malam hari, waktu mereka lebih banyak justru berada di dalam sanggar.
Kebiasaan itu akan berlaku untuk waktu berikutnya. Namun dengan langkah-langkah yang berbeda. Mereka tidak lagi mempersiapkan diri untuk menerima ilmu yang jarang ada duanya, tetapi mereka menelusuri langkah-langkah untuk mengembangkan ilmu mereka.
Namun dalam pada itu, ternyata Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah memerlukan untuk menemui orang-orang bertongkat yang masih saja berada di dalam tahanan.
Kehadiran Mahisa Murti dan Mahisa Pukat selalu diterima dengan penuh kecurigaan oleh oang-orang bertongkat itu, sebagaimana kehadiran Pangeran Singa Narpada. Namun keempat orang itu tidak akan dapat menolak. Mereka harus menerima kedua orang anak muda itu betapapun mereka tidak senang.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang memasuki bilik tahanan keempat orang itu pun kemudian telah berusaha berbicara dengan mereka. Tetapi kedua anak muda itu segera merasakan, bahwa tidak akan banyak persoalan yang dapat mereka simpulkan dari pembicaraan itu sebagaimana yang pernah dilakukan.
Namun Mahisa Pukat masih juga bertanya, “Siapakah di antara kalian yang paling tua?”
Pertanyaan itu adalah pertanyaan yang wajar, sehingga salah seorang di antara keempat orang itu telah menunjuk orang bertubuh kecil yang duduk di sudut sambil memeluk lututnya.
Mahisa Pukat berpaling ke arah orang bertubuh kecil itu. Sambil tersenyum ia berkata, “Kita sudah pernah bertemu sebelum kalian berada di bilik ini.”
“Ya,” jawab orang bertubuh kecil itu, “kita pernah bertempur. Kalian berdua bersama-sama melawan aku. Waktu itu kalian berdua menang.”
“Aku tidak menyangka bahwa kau termasuk seorang yang licik dan pengecut,” berkata Mahisa Pukat.
Wajah orang bertubuh kecil itu menjadi merah.
“Kami waktu itu menyangka bahwa kau adalah seorang yang baik budi. Kami menyangka bahwa kau telah dengan hati terbuka memberitahukan kepada Pangeran Singa Narpada, bagaimana menyelamatkan benda berharga itu. Ternyata bahwa yang kau lakukan itu merupakan satu langkah dari rencanamu yang sangat rumit dan curang.”
“Adalah salah kalian bahwa kalian, terutama Pangeran Singa Narpada, mempercayainya,” sahut orang itu.
“O, Kau kira Pangeran Singa Narpada mempercayaimu?” bertanya Mahisa Pukat.
Orang bertubuh kecil itu terdiam. Namun sorot matanya masih telah menunjukkan hatinya yang bergejolak menanggapi sikap Mahisa Pukat.
“Sudah berapa lama kalian berada di sini?” bertanya Mahisa Pukat tiba-tiba.
“Kau tahu itu,” jawab orang bertubuh kecil itu.
“Dan kau masih tetap tidak bersedia membantu kami,” berkala Mahisa Pukat.
“Apa yang harus aku bantu?” bertanya orang itu.
“Sampai saat ini kau masih belum menyebutkan, siapakah kalian sebenarnya. Siapakah orang-orang yang telah terbunuh itu? Dan untuk apa kalian berusaha mengambil benda berharga dari Gedung Perbendaharaan itu,” berkata Mahisa Pukat.
“Aku sudah mengatakan semua yang aku ketahui,” berkata orang itu, “apalagi?”
“Masih ada,” jawab Mahisa Pukat, “sebut, dari manakah asal kalian. Di manakah padepokan kalian dan untuk apa kalian mengambil pusaka itu.”
“Sudah kami jawab. Padepokan kami terletak jauh sekali. Kau tidak akan dapat membayangkan di manakah letaknya. Dan padukuhan kami? Sementara itu aku pun sudah menjawab kepadamu, kepada Pangeran Singa Narpada dan kepada siapapun yang bertanya kepada kami, bahwa yang terbunuh itu adalah guruku dan paman guruku. Nah, bukankah sudah jelas? Sedangkan untuk apa pusaka-pusaka itu, hanya guruku sajalah yang tahu. Sedang guruku sudah dibunuh oleh Pangeran Singa Narpada. Dengan demikian, maka pertanyaanmu yang terakhir itu tidak akan pernah dapat dijawab.”
Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Rasa-rasanya pembicaraan itu sudah menjadi buntu sebagimana yang pernah dilakukannya.
Namun tiba-tiba saja ia bertanya, “Siapakah nama gurumu dan gelarnya?”
“Kenapa kau tidak bertanya sendiri ketika guru masih hidup?” bertanya orang bertubuh kecil.
“Tentu aku tidak mendapat kesempatan untuk melakukannya,” berkata Mahisa Pukat, “tetapi agaknya gurumu itu justru tidak begitu berkepentingan dengan pusaka yang kau ambil itu, karena menurut pengamatan kami, ia baru datang setelah pusaka itu diambil oleh paman gurumu.”
Orang bertubuh kecil itu tidak menjawab. Sementara itu Mahisa Pukat berkata, “Menurut pengamatanku, gurumu benar-benar seorang pertapa yang sudah tidak lagi memerlukan kebutuhan duniawi. Tetapi kenapa ia masih demikian tamaknya bahkan gejolak keinginan duniawinya masih sangat besar, karena ia masih berharap untuk menjadi seorang raja?”
“Bohong,” tiba-tiba salah seorang di antara keempat orang bertongkat itu memotong, “guru memang seorang pertapa yang bersih dari nafas keduniawian.”
“Jangan mimpi,” sahut Mahisa Pukat, “setiap orang melihat bahwa gurumu adalah seorang yang tamak sekali. Dalam umurnya yang sudah menginjak ketuaan, apakah sebenarnya yang ingin dicapai?”
“Guru memang tidak menginginkan apa-apa lagi. Yang dilakukannya semata-mata adalah karena cintanya kepada murid-muridnya.”
Mahisa Pukat mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia bertanya, “Siapakah nama guru kalian itu?”
Keempat orang itu terdiam. Tidak seorang pun yang menjawabnya.
“Nah,” berkata Mahisa Pukat, “bukankah kalian malu menyebut nama gurumu? Itu adalah pertanda bahwa kalian memang mengakui, guru kalian adalah orang yang namanya pernah cemar atau tercemar.”
“Tidak,” salah seorang di antara keempat orang itu hampir berteriak, “kalian jangan mengigau.”
“Jangan berteriak begitu,” Mahisa Murti lah yang menyahut, “kamilah yang sepantasnya membentak-bentak kalian. Bukankah kalian adalah tawanan kami?”
Orang bertongkat itu menggeram.
“Kalian harus menerima nasib kalian. Kalian adalah korban ketamakan guru kalian,” berkata Mahisa Murti.
“Tidak. Sama sekali tidak,” sahut orang bertongkat itu.
“Kenapa tidak? Gurumu mati atas ulahnya sendiri. Sekarang kalianlah yang tinggal hidup akan mengalami nasib yang tidak dapat kalian ramalkan. Bukankah hal itu adalah sekedar akibat nafsu gurumu? “ ulang Mahisa Pukat.
Wajah orang-orang bertongkat itu menjadi merah. Tetapi mereka tidak dapat menyangkal bahwa nasib mereka memang menjadi sangat buruk. Tetapi mereka sama sekali tidak rela bahwa gurunyalah yang menjadi sasaran kesalahan itu.
Karena itu, maka salah seorang di antara mereka berkata, “Maaf jika aku berteriak. Tetapi aku tidak dapat menerima sikapmu yang merendahkan guruku.”
“Jadi bagaimana yang sebenarnya terjadi?” bertanya Mahisa Pukat tiba-tiba.
Pertanyaan itu memang mengejutkan. Orang bertubuh kecil itu pun menundukkan kepalanya. Ia tidak akan dapat mengelak lagi pertanyaan-pertanyaan yang tentu akan datang seperti datangnya ombak di tepi laut. Bergulung-gulung susul menyusul tidak henti-hentinya.
Namun orang bertubuh kecil itu tidak menunjukkan kegelisahannya. Meskipun kepalanya tertunduk, namun ia tidak berdesah.
“Bagaimana yang sebenarnya?” Mahisa Pukat mencoba mendesak, “siapakah sebenarnya yang tahu rencana pengambilan pusaka itu? Untuk apa? Jika kalian tidak ingin disebutkan korban ketamakan guru kalian, maka kalian tentu tidak akan menyangkal bahwa bukan guru kalianlah yang bernafsu untuk mengambil mahkota itu. Jika guru kalian terlibat, maka itu adalah karena cinta guru kalian terhadap kalian.”
Keempat orang bertongkat itu tidak menjawab.
“Masih ada kesempatan bagi kalian,” berkata Mahisa Pukat, “atau orang-orang Kediri akan mengambil kesimpulan bahwa seorang pertapa tua dari sebuah padepokan telah mengorbankan murid-muridnya bagi memenuhi ketamakannya.”
Keempat orang itu masih tetap berdiam diri. Wajah-wajah mereka tetap menunduk. Namun hati mereka tetap memberontak jika nama gurunya dicemarkan.
Hal itulah yang diketahui oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Karena itu, maka keduanya berniat untuk mempergunakan hal itu sebagai senjata untuk mendengar keterangan orang-orang bertongkat itu kemudian.
Namun Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak ingin memaksa mereka langsung berbicara. Karena itu, maka Mahisa Pukat pun kemudian berkata, “Baiklah. Aku kira hari ini kalian masih belum siap untuk berbicara. Besok aku akan kembali lagi. Jika besok kalian juga belum siap, maka hari berikutnya dan hari berikutnya dan seterusnya sampai kalian mau berbicara meskipun kami harus menahan diri untuk tidak mengumumkan kenistaan gurumu kepada seluruh rakyat Kediri bahkan seluruh rakyat Singasari.”
Wajah orang-orang itu menjadi merah padam. Tetapi mereka memang tidak dapat berbuat apa-apa. Mereka adalah tawanan yang terkurung dan dikelilingi oleh kekuatan yang jauh melampaui kekuatan mereka.
Kecuali jika mereka memang berhasrat untuk membunuh diri.
Dengan demikian maka keempat orang itu harus menahan gejolak perasaannya betapapun sakitnya. Bukan saja karena penghinaan terhadap guru mereka, tetapi juga karena keadaan mereka sendiri Tetapi perasaan mereka menjadi semakin sakit jika orang-orang Kediri mengatakan bahwa mereka adalah korban ketamakan gurunya.
Sejenak kemudian maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang berada didalam bilik tahanan itu pun telah minta diri. Sikapnya sama sekali tidak menunjukkan kekerasan perasaan mereka. Namun keempat orang bertongkat itu menyadari, bahwa meskipun demikian anak-anak muda itu akan mampu bertindak tegas terhadap mereka.
Beberapa saat kemudian maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat itu pun meninggalkan bilik itu. Sehingga dengan demikian maka keempat orang bertongkat itu pun mendapat kesempatan untuk saling berbicara di antara mereka.
Tetapi rasa-rasanya pembicaraan mereka pun terasa hambar. Dengan nada rendah orang bertubuh kecil, saudara tertua di antara keempat orang itu pun berkata, “Anak-anak muda itu berhasil memancing perasaan kita terhadap guru.”
“Kita memang tidak dapat berbuat lain,” jawab salah seorang di antara orang-orang bertongkat itu, “aku tidak tahan mendengar mereka menghinakan guru.”
“Mereka sengaja berbuat demikian untuk, mengikuti perasaan kita,” jawab orang bertubuh kecil itu.
“Apa pun alasannya, tetapi apakah kita akan sampai hati mendengar, bahwa kesalahan ini ditimpakan seluruhnya kepada guru kita? Sementara guru kita ikut terlibat dalam hal ini karena cintanya kepada kita?” sahut salah seorang adik seperguruannya itu.
“Aku mengerti,” berkata orang bertubuh kecil itu, “Tetapi jika seandainya kita ingkar pada kenyataan dan tidak membantah kata-kata pancingan itu, semata-mata juga untuk kepentingan padepokan kita.”
“Tetapi bagaimanapun juga, aku tidak dapat mendengar penghinaan atas guru,” berkata adik seperguruannya yang lain, “Bahkan aku bersedia mengalami apa saja di dalam tahanan ini untuk mempertahankan nama guru.”
“Jika demikian, apakah kita harus berterus terang tentang padepokan kita yang besar itu. Tentang persiapan-persiapan yang sudah kita lakukan, serta tentang salah seorang di antara keluarga kita yang masih mempunyai darah keturunan raja-raja yang besar yang kita harapkan akan dapat merebut kekuasaan Kediri yang goyah?” bertanya orang bertubuh kecil itu.
“Memang hal itu tergantung kepada ketahanan kita untuk tetap membungkam,” jawab adik seperguruannya yang lain, “Jika kita mengalami tekanan, maka kita harus menahankannya. Jika sampai terloncat dari mulut kita bahwa di padepokan kita telah terkumpul kekuatan yang besar, maka Kediri tentu akan mengambil langkah-langkah, terutama Pangeran Singa Narpada, sementara kekuatan di padepokan kita belum siap. Apalagi dengan hilangnya guru dan paman yang sebenarnya akan dapat membantu kekuatan di padepokan kita.”
“Baiklah,” berkata orang bertubuh kecil itu, “kita akan tetap bertahan, apapun yang akan kita alami.”
Dengan tekad itulah, maka orang-orang bertongkat itu akan mempertanggung jawabkan nasib mereka sendiri, sementara orang-orang yang mereka tinggalkan telah menunggu mereka dengan harapan didalam hati mereka.
Demikianlah, maka dengan hati yang selalu berdebar-debar mereka menunggu waktu melintas dengan lambatnya! Ketegangan itu rasa-rasanya telah mencengkam semakin lama semakin kuat.
Dihari berikutnya, sejak matahari terbit, mereka dengan jantung yang berdegupan telah menunggu kehadiran Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang akan bertanya seribu macam persoalan yang harus mereka elakkan jawabnya.
Tetapi ternyata hari itu sampai lewat tengah hari Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak nampak datang mengunjungi mereka.
Namun ketika mereka menganggap bahwa Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pada hari itu tidak akan datang, tiba-tiba saja pintu bilik tahanan itu terbuka.
“Gila,” orang-orang bertongkat itu mengumpat.
Mereka melihat Mahisa Murti dan Mahisa Pukat berdiri di depan pintu.
Namun orang-orang bertongkat itu merasa heran, bahwa mereka melihat kedua orang anak muda itu mengenakan pakaian lengkap dengan pedang di lambung.
“Selamat sore,” berkata Mahisa Murti.
Orang-orang bertongkat itu menjawab sapa itu dengan malesnya. Meskipun jantung mereka berdebaran, namun mereka berusaha untuk nampak selalu tenang. Keempat orang itu tetap duduk berpencar di dalam ruang itu.
“Maaf, bahwa kami akan mengganggu ketenangan kalian,” berkata Mahisa Murti. Lalu, “Tetapi aku minta salah seorang di antara kalian pergi bersamaku.”
Wajah-wajah itu menjadi tegang.
“Tidak apa-apa. Tetapi para pemimpin prajurit Kediri ingin berbicara dengan salah seorang di antara kalian. Nah, siapakah di antara kalian yang akan pergi bersama kami?” bertanya Mahisa Pukat.
Keempat orang itu saling berpandangan. Namun akhirnya orang yang tertua di antara mereka tidak dapat ingkar. Katanya, “Aku adalah saudara tertua di antara kami berempat. Karena itu, jika hanya seorang saja yang harus ikut, maka biarlah aku yang ikut bersamamu.”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun mengangguk-angguk. Dengan nada datar Mahisa Pukat berkata, “Bagus. Itu adalah satu tanggung jawab yang pantas dihargai. Marilah, kita akan pergi sejenak.”
Orang bertubuh kecil itu pun kemudian melangkah kepintu. Namun ia masih berhenti sejenak dan berpaling ke arah saudara-saudara seperguruannya. Rasa-rasanya ia ingin memandang mereka sampai tuntas, seolah-olah ia tidak akan bertemu lagi dengan adik-adik seperguruannya itu.
Sejenak kemudian, maka orang bertubuh kecil itu pun telah melangkah pintu dan pintu itu pun tertutup kembali dan diselarak dari luar.
Namun demikian ketegangan masih tetap mencengkam hati ketiga orang yang masih tinggal di dalam bilik itu. Dengan cemas seorang di antara mereka bergumam, “Ke mana ia di bawa!?”
Kedua saudara seperguruannya berpaling ke arahnya. Dengan nada dalam salah seorang di antara keduanya itu menyamhut. “Ia tidak akan pergi terlalu lama. Seperti kata anak-anak muda itu, bahwa para pemimpin prajurit Kediri akan berbicara. Agaknya tidak akan terjadi sesuatu, justru karena ia akan berbicara dengan para pemimpin.”
Saudara-saudara seperguruannya mengangguk-angguk. Namun mereka sadar, bahwa saudara seperguruannya yang mengatakan itu pun tidak yakin akan kebenaran kata-katanya, karena yang diucapkan itu adalah sekedar untuk menenangkan hati saja.
Dengan tegang ketiga orang itu menunggu saudara seperguruannya yang tertua itu kembali. Namun sampai saatnya seorang prajurit menyalakan lampu minyak di dalam ruang itu, orang bertubuh kecil itu belum kembali.
“Kau tahu, ke mana saudaraku itu dibawa?” bertanya salah seorang dari ketiga orang yang menunggu itu.
Prajurit yang menyalakan lampu minyak itu menggeleng. Tetapi ia menjawab juga, “Aku tidak tahu ke mana ia dibawa. Yang aku lihat adalah bahwa saudaramu itu telah diikat di belakang seekor kuda.”
“Apa?“ hampir berbareng ketiga orang itu bertanya.
“Ya. Saudaramu diikat di belakang seekor kuda, harus mengikuti kuda itu meninggalkan istana ini. Mungkin ia akan dibawa menghadap para panglima dan Senapati, “jawab prajurit itu.
“Gila,” geram salah seorang di antara ketiga orang itu, “Apakah kau berkata sebenarnya?”
Prajurit itu memandang orang yang bertanya itu dengan tajamnya. Kemudian ia pun bertanya pula, “Apakah kau kira aku berbohong? Buat apa aku membohongimu?”
Orang-orang bertongkat itu tidak bertanya lagi. Namun jantung mereka menjadi berdentangan. Mereka tidak mengira bahwa saudaranya itu akan diperlakukan demikian oleh para prajurit Kediri.
“Perlakuan yang kejam,” geram salah seorang di antara mereka.
Saudara-saudaranya tidak menjawab. Tetapi rasa-rasanya darah mereka telah mendidih.
Karena itulah, maka hampir semalam suntuk ketiga orang yang berada didalam bilik tahanan itu hampir tidak dapat memejamkan matanya. Hanya sesaat sebelum matahari terbit mereka sempat tidur sejenak.
Ketika matahari terbit, maka mereka telah kembali dicengkam oleh kegelisahan. Mereka telah menunggu dan menunggu. Namun pada hari itu, saudara seperguruannya belum juga kembali kedalam bilik itu.
Bersambung......!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar