Jumat, 01 Januari 2021

HIJAUNYA LEMBAH HIJAUNYA LERENG PEGUNUNGAN JILID 027-03

*HIJAUNYA LEMBAH.  JILID 027-03*

Meskipun demikian, luka di lengan Pangeran Singa Narpada terasa bagaikan menggigit sampai ketulang.

Yang terjadi selanjutnya adalah serangan silih berganti yang tidak dapat, dihindari seluruhnya oleh kedua belah pihak, sehingga karena itu, maka tenaga dan kemampuan guru dari orang-orang bertongkat itu pun menjadi semakin susut, sementara tubuh Pangeran Singa Narpada pun semakin banyak terluka oleh sentuhan ilmu Pamungkas lawannya.

Namun beberapa saat kemudian, maka lawan Pangeran anga Narpada itu benar-benar sudah kehabisan tenaga. Ketika ia berusaha menghentakkan sisa tenaganya, maka tidak ada lagi yang dapat memancar dari telapak tangannya. Bahkan seakan-akan segenap tenaganya telah terperas habis.

Karena itu, ketika dengan tenaga yang sudah menjadi semakin lemah, Pangeran Singa Narpada menyerangnya, maka rasa-rasanya tubuh guru dari orang-orang bertongkat itu bagaikan tertimpa segerobag batu hitam.

Dadanya bagaikan pecah dan nafasnya pun menjadi terengah-engah. Sehingga sejenak kemudian, maka orang itu pun telah terbaring diam.

Namun Pangeran Singa Narpada seakan-akan telah menghentakkan ilmunya yang tersisa. Karena itu, demikian ia mengenai lawannya, maka ia pun terhuyung-huyung dan jatuh di sebelah lawannya terbaring.

Mahisa Agni dan Witantra yang telah kehilangan lawannya itu pun dengan cepat memburunya. Tetapi mereka tidak sempat menangkap tubuh yang terjatuh itu.

Namun Mahisa Agni itu pun berdesis, “Masih ada tarikan nafasnya.”

Witantra lah yang kemudian duduk di sisinya. Diletakkannya tangannya pada dada Pangeran Singa Narpada yang terbaring diam menelentang. Sementara Mahisa Agni menungguinya dengan hati-hati karena kemungkinan yang lain akan dapat terjadi.

Perlahan-lahan terasa nafas Pangeran Singa Narpada mengalir kembali dengan wajar. Darahnya yang bagaikan terhenti pun telah menelusuri urat-uratnya, sedangkan jantungnya berdetak sebagaimana seharusnya.

Mahisa Agni yang melihat keadaan Pangeran Singa Narpada menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia meraba kakinya, maka terasa tubuh itu menjadi semakin hangat kembali. Karena itu ia yakin bahwa keadaan Pangeran Singa Narpada akan berangsur baik, meskipun luka-lukanya harus mendapatkan pengobatan yang khusus.

Pada saat yang demikian, ternyata Mahendra telah menyelesaikan kedua lawannya pula. Tetapi ternyata tidak terlalu mudah sebagaimana diduga sebelumnya. Pada saat-saat yang sangat gawat, kedua orang itu bagaikan menjadi liar, sehingga agak sulit bagi Mahendra untuk menguasainya. Serangan-serangan mereka justru menjadi lebih cepat dan keras.

Karena itu, Mahendra terpaksa mempergunakan ilmu Bajra Geni dalam bentuk yang lunak, sehingga udara yang panas bertebaran di seputarnya.

Dengan demikian, maka kedua orang lawannya itu tidak dapat mengenainya dengan serangan-serangannya yang berbahaya. Cahaya yang meluncur dari ujung tongkat mereka, seakan-akan telah membentur lingkaran yang melindunginya. Serangan itu seakan-akan telah pecah dan hancur sebelum menyentuh Mahendra yang berlindung dibalik kekuatan ilmunya.

Pada saat-saat yang demikian maka Mahendra telah melumpuhkan kedua lawannya, sehingga keduanya menjadi tidak berdaya.

Berbeda dengan kedua orang bertongkat maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah mengerahkan ilmu mereka pula, namun dalam keadaan yang lebih baik. Setiap kali mereka mampu mengimbangi ilmu Kebo Sarik dengan lontaran-lontaran paser-paser kecil yang dibidikkan ke arah bagian-bagian tubuhnya yang lemah.

Namun jumlah paser-paser mereka pun terbatas. Pada suatu saat paser-paser itu akan habis. Jika demikian maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat akan mengalami kesulitan.

Karena itu, maka meskipun mereka tidak mempunyai kesempatan untuk membicarakannya, tetapi dengan isyarat keduanya mengerti bahwa keduanya harus mempergunakan kesempatan bergantian.

Demikianlah, pada saat-saat Kebo Sarik berusaha untuk menekan kedua anak muda itu, agar mereka kehilangan kesempatan untuk berbuat lebih banyak, bahkan agar paser-paser kecil mereka tidak sempat mencari sasaran, maka kedua anak muda itu telah sampai ke puncak ilmu mereka.

Ketika Mahisa Murti berhasil memancing perhatian Kebo Sarik sepenuhnya dengan melontarkan sisa-sisa pasernya beruntun, maka Mahisa Pukat sempat membangunkan ilmu pamungkasnya.

Dengan landasan ilmu puncaknya didasari dengan kekuatan tenaga cadangannya, maka Mahisa Pukat telah meloncat menyerang Kebo Sarik.

Kebo Sarik sempat melihat serangan itu. Demikian cepatnya justru pada saat ia berusaha menghindari serangan paser kecil yang mengarah ke lehernya.

Karena itu, maka Kebo Sarik tidak sempat berbuat banyak. Serangan itu demikian cepat datang. Namun Kebo Sarik masih sempat menghentakkan daya tahan tubuhnya untuk melawan serangan yang mengejutkan itu.

Sejenak kemudian maka telah terjadi benturan yang menggetarkan. Kekuatan ilmu puncak Mahisa Pukat yang diwarisinya dari ayahnya, telah membentur kekuatan daya tahan seorang Kebo Sarik yang memiliki ilmu yang tinggi pengalaman yang luas dalam olah kanuragan.

Akibat benturan itu memang dahsyat sekali. Kebo Sarik telah terdorong beberapa langkah surut. Namun ternyata bahwa Kebo Sarik masih tetap mampu memelihara keseimbangannya. Bahkan sejenak kemudian ia telah siap menghadapi segala kemungkinan yang mungkin dapat terjadi.

Sementara itu, Mahisa Pukat telah membehtur kekuatan yang tidak dapat dikoyak dengan ilmu puncaknya. Justru Mahisa Pukat seakan-akan telah terpental karena kekuatan sendiri. Beberapa langkah ia terlempar dan bahkan jatuh berguling.

Terasa tulang-tulang Mahisa Pukat bagaikan retak. Namun ia masih berpikir jernih. Ia justru berguling menjauhi lawannya beberapa langkah untuk mengambil jarak.

Ketika Kebo Sarik siap meloncat menerkamnya, maka Mahisa Murti pun telah bersiap pula. Namun ternyata bahwa Kebo Sarik mengurungkan niatnya. Ternyata bahwa dalam benturan yang terjadi, meskipun ia masih tetap mampu bertahan dan menjaga keseimbangannya, namun terasa dadanya menjadi sakit. Ketika ia berusaha untuk menghentakkan kekuatannya, barulah ia merasa bahwa sesuatu telah terjadi di dalam dirinya dalam benturan yang dahsyat itu.

Karena itu, maka ia mengurungkan niatnya. Justru ia telah bergeser surut beberapa langkah. Sejenak ia berusaha untuk memperbaiki keadaannya dengan menarik nafas dalam-dalam.

Mahisa Murti tidak tergesa-gesa menyerangnya. Ia justru bersiaga menghadapi segala kemungkinan jika orang itu dengan tiba-tiba telah menyerang Mahisa Pukat yang dengan sedikit kesulitan bangkit dan duduk sejenak. Beberapa kali ia sempat menarik nafas dalam-dalam. Ternyata tubuhnya menjadi sedikit segar sehingga dengan demikian, maka ia pun segera bangkit berdiri. Dikembangkannya tangannya sambil menarik nafas beberapa kali sehingga terasa dadanya menjadi semakin longgar.

Sejenak kemudian, maka keadaan Mahisa Pukat itu pun telah berangsur baik. Meskipun ia masih merasa sakit di beberapa bagian tubuhnya justru karena kekuatannya sendiri seakan-akan telah memental ketika ia membentur kekuatan lawannya, namun Mahisa Pukat pun kemudian telah bersiap menghadapi segala kemungkinan pula.

Kebo Sarik menggeram ketika ia melihat Mahisa Pukat telah bersiap pula. Dengan suara berat ia bergumam, “Setan. Ternyata kau tidak mati karena ilmumu sendiri.”

Mahisa Pukat menarik nafas pula sambil berkata, “Kita sama-sama mengalami akibat. Aku tidak ingkar, bahwa keadaanku mungkin lebih parah dari keadaanmu. Tetapi aku pun telah bersiap untuk bertempur.”

Kebo Sarik memandang anak muda itu dengan mata yang menyala. Namun tiba-tiba saja ia telah menyerang Mahisa Pukat dengan ilmunya.

Mahisa Pukat yang melihat gerak Kebo Sarik itu sudah memperhitungkan kemungkinan itu. Karena itu, betapapun tubuhnya terasa sakit, namun ia telah berusaha untuk meloncat menghidar.

Kebo Sarik yang melihat keadaan Mahisa Pukat, maka ia pun berusaha untuk menghancurkannya sama sekali. Selagi ia masih sempat.

Tetapi ketika Kebo Sarik siap untuk melontarkan ilmunya, maka paser kecil telah meluncur dari tangan Mahisa Murti, tepat mengarah ke wajahnya. Karena itulah, maka ia telah mengurungkan niatnya dan berusaha mengelakan serangan Mahisa Murti itu.

Pada saat yang demikian di dadanya terasa lagi seakan-akan telah terdapat luka yang menggigit di bagian dalam.

Namun Kebo Sarik itu sempat menghindari serangan Mahisa Murti. Bahkan ia pun telah siap pula untuk menyerangnya.

Pada saat yang demikian Mahisa Pukat telah bersiap sepenuhnya. Ia berusaha untuk mengatasi perasaan sakitnya, sehingga seakan-akan ia benar-benar telah pulih kembali.

Dengan garangnya Mahisa Pukat pun kemudian telah berusaha untuk meloncat menyerang. Tetapi justru Kebo Sarik lah yang menyongsongnya dengan lontaran ilmunya.

Dengan menggigit bibirnya untuk menahan sakit Mahisa Pukat telah menggeliat menghindari serangan itu. Tetapi ternyata bahwa sambil menghindar ia sempat mengambil sebuah paser kecil dan sekaligus melemparkannya ke arah jantung Kebo Sarik.

Kebo Sarik menyadari kekuatan lemparan lawannya yang masih muda itu. Paser itu akan dapat menyusup kulit dagingnya sampai menyentuh jantung. Karena itulah, maka Kebo Sariklah yang kemudian berusaha untuk menghindar.

Namun pada saat yang demikian, diluar perhitungan Kebo Sarik, maka Mahisa Murti lah yang kemudian meloncat menyerang dengan ilmu puncaknya pula, sebagaimana Mahisa Pukat.

Sekali lagi Kebo Sarik tersudut untuk menangkis serangan iiu karena ia sama sekali sudah tidak sempat lagi mengenai. Sekali lagi telah terjadi benturan yang dahsyat. Mahisa Murti dengan kekuatan puncaknya telah membentur Kebo Sarik yang tengah bertahan dengan mengerahkan daya tahannya.

Sebenarnyalah bahwa telah terdapat bibit luka di dalam dada Kebo Sarik. Ketika sekali lagi ia harus berbenturan ilmu dengan anak muda itu maka jantungnya telah benar-benar terguncang sehingga karena itu, maka Kebo Sarik tidak lagi mampu menahan serangan itu sebagaimana dilakukan atas serangan Mahisa Pukat.

Dengan demikian, maka dada Kebo Sarik itu benar-benar bagaikan pecah. Ia telah terdorong beberapa langkah surut.

Ternyata bahwa dalam keadaannya, Kebo Sarik tidak mampu untuk mempertahankan keseimbangannya. Karena itu, maka ia pun kemudian terjatuh berguling.

Namun dengan susah payah Kebo Sarik itu berusaha untuk bangkit kembali dengan berdiri tegak untuk menanti kemungkinan yang bakal terjadi kemudian.

Sementara itu, Mahisa Murti pun telah terpental dan jatuh pula berguling. Tetapi seperti Kebo Sarik, maka Mahisa Murti pun kemudian telah tegak kembali. Namun betapa perasaan sakit telah menyengat bagian dalam dadanya.

Sejenak Mahisa Murti berusaha untuk mengatasi perasaan sakitnya. Dengan mengerahkan daya tahannya, maka Mahisa Murti telah bersiap menghadapi segala kemungkinan.

Sejenak ketiga orang yang berada di arena itu justru bagaikan membeku. Ketiga-tiganya sudah terluka dibagian dalamnya, sehingga karena itu, maka mereka pun telah menjadi semakin berhati-hati.

Ternyata bahwa Kebo Sarik masih dibakar oleh keinginannya untuk membinasakan kedua lawannya yang masih sangat muda itu. Karena itu, maka sejenak kemudian, ia pun telah menghentakkan ilmunya pula menyerang Mahisa Murti dari tempatnya dengan mengembangkan telapak tangannya.

Mahisa Murti yang masih berusaha menahan rasa sakitnya mengumpat didalam hati. Ia pun harus mengerahkan tenaganya yang tersisa untuk menghindari serangan itu.

Hampir saja Mahisa Murti terlambat karena hambatan dari dalam dirinya. Namun ternyata bahwa ia masih mampu melepaskan diri dari sentuhan ilmu itu.

Sebenarnyalah bahwa serangan Kebo Sarik itu pun sudah tidak lagi sedahsyat sebelumnya. Tenaga dorong atas ilmunya itu memang sudah berkurang, sehingga lontaran ilmunya telah susut pula.

Ketika Kebo Sarik akan mengulangi serangannya, maka Mahisa Pukat berusaha untuk mencegahnya. Dengan cepatnya, Mahisa Pukat telah melontarkan pasernya sekali lagi mengarah Kebo Sarik.

Kebo Sarik lah yang kemudian harus menghindar. Tetapi ketika ia meloncat, maka ia pun telah menyeringai menahan sakit di dalam dadanya. Rasa-rasanya jantungnya akan terlepas dari tangkainya.

Mahisa Pukat melihat keadaan Kebo Sarik. Sejenak telah timbul keraguan di dalam hatinya, karena keadaan tubuhnya sendiri yang terluka di dalam. Namun Mahisa Pukat tidak mau melepaskan kesempatan ia memaksa diri dengan mengerahkan kemampuan, tenaga dan pemusatan nalar dan budinya, maka Mahisa Pukat telah meloncat menyerang Kebo Sarik dengan segenap kekuatan yang masih tersisa dalam puncak ilmunya.

Kebo Sarik terkejut melihat serangan itu. Tetapi ia tidak sempat mengelak. Yang dapat dilakukannya adalah sekali lagi menangkis serangan itu.

Seperti Mahisa Pukat, maka Kebo Sarik pun telah mengerahkan sisa tenaga yang ada padanya. Betapa perasaan sakit menyengat dadanya, namun ia masih mampu menghentakkan daya tahannya.

Sekali lagi telah terjadi benturan antara dua kekuatan raksasa yang telah menyusut. Mahisa Pukat yang telah mengerahkan kekuatannya yang tersisa itu, seakan-akan telah memeras apa yang masih tinggal didalam dirinya. Demikian benturan terjadi, maka Mahisa Pukat itu pun telah terlempar jatuh dan dunia pun rasa-rasanya telah menjadi gelap.

Ternyata Mahisa Pukat menjadi pingsan.

Kebo Sarik yang membentur ilmu pamungkas Mahisa Pukat meskipun kekuatannya sudah menjadi susut, namun karena keadaan Kebo Sarik sendiri yang lemah dibagian dalam tubuhnya, maka ia pun telah terlempar pula beberapa langkah dan terbanting jatuh.

Kepala Kebo Sarik pun menjadi pening. Nafasnya terasa sesak. Meskipun demikian Kebo Sarik masih tetap menyadari, bahwa ia masih dalam keadaan yang gawat. Karena itu, maka ia pun berusaha untuk segera bangkit berdiri.

Mahisa Murti telah melihat apa yang terjadi. Ia melihat Mahisa Pukat jatuh pingsan. Sehingga karena itu, maka jantungnya bagaikan berhenti berdentang. Nalar pun menjadi buram dan Mahisa Murti itu tidak berpikir panjang lagi.

Meskipun keadaan tubuhnya masih sangat lemah, namun keadaan saudaranya itu membuatnya tidak sempat menimbang lagi.

Pada saat yang demikian itulah, maka Mahisa Murti telah membangunkan kekuatan yang tersisa didalam dirinya. Pada saat Kebo Sarik masih belum tegak benar, maka Mahisa Murti pun telah meloncat menyerang lawannya dengan ilmu pamungkasnya.

Mahisa Agni dan Witantra yang sempat menyaksikannya telah berbareng memanggilnya. Namun Mahisa Murti telah meloncat dan membenturkan kekuatan ilmunya yang masih tersisa di dalam dirinya yang menjadi lemah itu.

Kebo Sarik benar-benar tidak mampu berbuat apa-apa. Ia memang mencoba membangunkan kemampuan untuk bertahan dari apa yang masih ada didalam dirinya. Namun ternyata bahwa yang tertinggal itu tidak mampu lagi melindunginya.

Sejenak kemudian, maka Mahisa Murti telah membenturkan ilmunya Kebo Sarik. Satu benturan yang ternyata telah mengakhiri pertempuran itu. Kebo Sarik yang sudah menjadi sangat lemah itu, sama sekali tidak mampu lagi bertahan, ketika kekuatan raksasa Mahisa Murti, meskipun sudah susut, menghantamnya, maka isi dadanya telah bergetar dan bahkan jalan pernafasannya menjadi bagaikan tersumbat.

Ternyata Kebo Sarik tidak dapat mengatasi kesulitan didalam dirinya. Isi dadanya bagaikan telah diremukkan oleh ilmu anak-anak muda itu. Nafasnya pun menjadi sesak, dan detak jantungnya telah terhenti.

Namun dalam pada itu, Mahisa Murti pun telah terlempar dan terbanting jatuh. Seperti Mahisa Pukat, maka semuanya telah menjadi gelap. Dan Mahisa Murti pun menjadi pingsan.

Mahendra yang telah melumpuhkan kedua lawannya terkejut melihat keadaan itu. Tiba-tiba saja ia telah memukul kedua orang yang telah dikalahkannya itu pada punggungnya, sehingga keduanya telah jatuh pingsan pula.

“Kubunuh kalian jika anak-anakku mengalami cidera,” geram Mahendra yang kemudian berlari ke arah kedua anak-anaknya.

Mahisa Agni dan Witantra pun kemudian dengan tergesa-gesa telah mendekati Mahisa Murti yang kemudian perlahan dan hati-hati telah diangkatnya dan dibaringkannya disamping Mahisa Pukat.

“Mereka keduanya menjadi pingsan,” desis Mahisa Agni.

Wajah Mahendra menjadi tegang. Namun ia pun mengangguk-angguk, meskipun getar didalam dadanya masih terasa menggelora.

Dengan kemampuan dan ilmu yang ada didalam diri mereka, maka Mahendra dan Witantra, masing-masing berusaha untuk membantu ke dua orang anak muda itu. Mereka memiliki arus ilmu dari satu perguruan, sehingga dengan demikian maka hendaknya memiliki pengetahuan untuk membantu kedua orang anak muda itu.

Witantra telah menggenggam kedua tangan Mahisa Murti dengan kedua tangannya. Kemudian dipusatkannya daya kemampuan ilmunya untuk menyalurkan daya ketahanan kedalam diri Mahisa Murti, sementara itu Mahendra telah melakukan hal yang sama atas Mahisa Pukat.

Mahisa Agni berdiri lermangu-mangu mengamati kedua anak muda yang sedang pingsan itu. Ketika ia berpaling ke arah Pangeran Singa Narpada, maka ia pun menarik nafas dalam-dalam. Pangeran Singa Narpada ternyata telah berhasil mengatasi saat-saat yang paling berbahaya dalam pergulatannya melawan maut karena luka-luka dalamnya.

Beberapa saat kemudian, maka baik Witantra, maupun Mahendra telah berhasil menghubungkan kekuatan yang tersalur dari dalam dirinya dengan jalur daya tahan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang sudah tidak berdaya sama sekali. Namun dengan hubungan itu, maka perlahan-lahan kekuatan daya tahan kedua anak muda itu mulai dibangunkannya kembali.

Dengan demikian, maka Witantra dan Mahendra itu mulai berharap bahwa kedua orang anak muda iiu akan mampu berlahan untuk tetap hidup.

Ada semacam penyesalan di dalam hati Mahendra, bahwa ia telah memberikan kesempatan kepada anak-anaknya yang masih sangat muda untuk melawan Kebo Sarik, yang semula hanya karena kesegarannya untuk mempergunakan ilmunya dalam bentuk yang lunak untuk mengusir ular-ular yang sangat berbahaya baginya, dan digelitik oleh keinginannya untuk melihat tataran kemampuan anak-anaknya dalam dunia olah kanuragan yang terlalu garang.

Dan kini, ia harus melihat akibat aias kedua anak-anaknya. Untuk beberapa saat Witantra dan Mahendra berjuang mengatasi kesulitan didalam diri Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Namun karena kekuatan Witantra dan Mahendra telah tersalur kejalur kekuatan daya tahan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, maka keadaan kedua anak muda itu memang mulai berangsur membaik.

Perlahan-lahan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat itu mulai bergerak. Perlahan-lahan pula keduanya mulai membuka matanya.

Yang mula-mula mereka lihat adalah kegelapan dan titik-titik yang bertebaran di langit. Baru kemudian dalam keremangan malam dilihatnya bayangan orang-orang yang ada di sisinya.

Untuk beberapa saat dibiarkannya kedua orang anak muda itu mulai menyadari dirinya dan didorong oleh kekuatan yang tersalur dari Witantra dan Mahendra, mengatasi segala kesulitan didalam diri mereka.

Sementara itu, keadaan Pangeran Singa Narpada menjadi semakin baik. Bahkan karena kekuatan tubuhnya yang melampaui kekuatan orang kebanyakan, maka ternyata bahwa Pangeran Singa Narpada telah mampu mengatasi kesulitan yang paling tajam didalam dirinya, sehingga meskipun masih dalam keadaan yang sangat lemah maka Pangeran Singa Narpada telah mampu bangkit.

Mahisa Agni telah membantunya untuk berdiri. Semula Mahisa Agni ingin mempersilahkannya untuk beristirahat sejenak. Namun Pangeran Singa Narpada berkata, “Aku sudah berangsur baik. Bagaimana dengan anak-anak itu?”

“Nampaknya mereka akan dapat tertolong, meskipun keadaan mereka cukup parah,” jawab Mahisa Agni.

Pangeran Singa Narpada menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Untunglah bahwa mereka mampu mengatasi lawan mereka dan tidak menjadi korban karenanya. Jika terjadi demikian, maka aku akan merasa sangat menyesal, bahwa permainanku telah menyeret keduanya yang sebenarnya masih terlalu muda.”

“Kesalahannya tidak sepenuhnya berada pada Pangeran,” jawab Mahisa Agni, “ayah anak-anak itu pun juga bertanggung jawab.”

Pangeran Singa Narpada mengangguk-angguk. Katanya, “Sokurlah bahwa keduanya tidak menjadi korban karenanya.”

Namun dalam pada itu, cahaya kemerah-merahan mulai nampak membayang di langit. Karena itu, maka Pangeran Singa Narpada pun berkata, “Kekuatan sirep itu akan segera lenyap karena orang yang melontarkannya telah terbunuh, apalagi sesaat kemudian kita akan sampai kebatas ujung malam.”

Pangeran Singa Narpada menarik nafas dalam-dalam. Kemudian sambil memandang langit yang semakin cerah, ia berkata, “orang-orang yang tinggal di sebelah menyebelah ini pun akan segera terbangun. Mereka akan menemukan kita dan menjadi heran atas diri mereka sendiri, bahwa mereka tidak mendengar apa yang telah terjadi, karena mereka tidak menyadari, bahwa mereka telah terpukau oleh pengaruh sirep yang sangat tajam, yang ternyata mampu menjangkau daerah yang luas.

Mahisa Agni tidak menjawab. Ketika ia memandang ke arah Mahisa Pukat, maka dilihatnya anak muda itu telah menyeringai menahan sakit di seluruh tubuhnya.

Seperti yang dikatakan oleh Pangeran Singa Narpada maka pengaruh sirep pun semakin lama menjadi berkurang. Selain karena orang yang melontarkan sirep itu sudah terbunuh, juga karena pengaruh sirep itu memang tidak dapat berlangsung untuk waktu yang terlalu lama.

Beberapa orang prajurit yang bertugas, mulai terbangun dari tidur mereka yang nyenyak. Seorang perwira yang memimpin para prajurit yang bertugas rasa-rasanya bagaikan kehilangan jantung ketika ia melihat pintu Gedung Perbendaharaan yang terbuka.

“Apa yang terjadi,” perwira itu hampir berteriak.

Para petugas pun menjadi gempar. Yang masih belum terbangun dari tidurnya yang terlalu nyenyak, telah mengalami perlakuan yang kasar dari perwiranya. Ditendangnya paha orang-orang yang masih tertidur itu dengan bentakan-bentakan keras.

“He, apa yang kalian lakukan dalam tugas kalian,” perwira itu hampir berteriak, “pintu Gedung Perbendaharaan telah terbuka.”

Para prajurit pun terhentak karena terkejut. Gedung Perbendaharaan itu terbuka.

Selagi para prajurit itu kebingungan dan tidak tahu apa yang dilakukannya, maka perwira pun telah memerintahkan agar mereka untuk sementara tidak melaporkan kepada siapapun juga.

“Aku akan menghadap Pangeran Singa Narpada. Pangeran Singa Narpada lah yang telah menangani benda-benda terpenting didalam Gedung itu sejak Kediri kehilangan benda yang sangat berharga,” berkata Perwira itu.

“Peti perak yang ada di dalam Gedung Perbendaharaan itu nampaknya tidak berada ditempatnya,” desis seorang prajurit yang pernah menyaksikan dari luar para petugas yang merawat benda-benda berharga itu memasuki Gedung Perbendaharaan.

“Kita tidak tahu apa-apa tentang isi Gedung itu,” jawab perwira yang memimpin penjagaan malam itu, “karena itu, sebelum Sri Baginda mendengar, aku akan menghubungi Pangeran Singa Narpada. Dengan demikian kita menjadi pasti, apakah yang telah terjadi.”

“Justru terbalik,” berkata seorang prajurit, “kita sebaiknya melaporkannya kepada Sri Baginda. Jika kita menyampaikannya kepada Pangeran Singa Narpada, maka belum lagi persoalannya diusut, kita sudah dicekiknya sampai mati.”

“Tidak,” jawab perwira itu, “aku yakin tidak. Pangeran Singa Narpada memang seorang yang keras. Tetapi ia bukan seorang pembunuh. Jika benda-benda berharga di Gedung Perbendaharaan ini memang hilang, kita pantas digantung di alun-alun. Aku tidak akan ingkar. Tetapi jika yang terjadi lain, maka kita pun akan segera mengetahui sehingga jantung kita tidak selalu diganggu oleh ketegangan di setiap saat.”

Prajurit-prajuritnya pun tidak dapat mencegahnya lagi. Perwira itu pun berniat untuk pergi ke istana Pangeran Singa Narpada dan melaporkan apa yang terjadi, sekaligus menyerahkan dirinya bersama para petugas yang lain untuk diperlakukan apa saja.

Namun dalam pada itu, ditempat lain pun telah terjadi kegemparan pula. Beberapa orang yang terbangun dengan perasaan heran karena mereka tertidur sangat nyenyak, dan bahkan bangun sedikit kesiangan itu, telah menemukan sesuatu yang sangat mengejutkan terjadi di sebelah rumah mereka. Bahkan sesuatu yang sangat mengerikan.

Ternyata ada diantara mereka yang terbangun itu yang telah mengenali Pangeran Singa Narpada. Karena itu, dengan wajah yang tegang orang itu menghadap sambil bertanya, “Apa yang telah terjadi Pangeran?”

Pangeran yang masih sangat lemah karena luka-lukanya yang cukup parah itu pun berkata, “Sampaikan keadaanku kepada para prajurit yang bertugas di istanaku. Jangan kepada yang lain. Aku memerlukan pertolonganmu.”

Bersambung.....!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...