*HIJAUNYA LEMBAH. JILID 027-02*
Tetapi berbeda dengan gurunya, orang bertongkat yang bertubuh kecil itu sama sekali tidak senang dengan sikap Mahisa Agni. Karena itu, maka katanya, “Marilah orang tua yang licik. Kau sudah berpura-pura ketika kau bertemu dengan aku. Sekarang kau memancing perasaanku, agar kau menaruh belas kasihan kepadamu. Tetapi aku mengerti, jika belas kasihanku sudah runtuh, maka kau akan mempergunakan kesempatan itu untuk menghancurkan aku.”
“Ah, kau terlalu berprasangka,” berkata gurunya, “layani orang itu sebagaimana kemauannya. Kalian akan menemukan satu permainan yang mengasikkan.”
Orang bertubuh kecil itu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia mencoba mengerti pesan gurunya. Tentu gurunya mencoba menasehatinya agar ia tidak terperosok kedalam dorongan perasaannya yang bergejolak karena sikap lawannya.
Sementara itu, maka seorang lagi diantara orang-orang bertongkat itu berkata, “Biarlah orang tua yang seorang lagi menjadi lawanku.”
“O,” berkata Witantra, “Ada juga yang menghargai aku? Marilah, mungkin kita sempat bermain-main. Mudah-mudahan aku mampu berbuat sesuatu.”
Orang bertongkat itu pun kemudian menyahut, “Kita mencari tempat yang lapang. Aku akan mempergunakan tongkatku yang panjang.”
“Silahkan. Aku kali ini juga akan mempergunakan tongkat meskipun tidak sepanjang tongkatmu,” berkata Witantra.
“Baik. Kita akan mempergunakan tongkat. Tetapi agaknya tongkatmu adalah sekedar sebatang kayu yang kau ketemukan di pinggir jalan. Karena itu, maka agaknya kau memang dengan sengaja menghina aku. Kau kira bahwa dengan tongkat semacam itu kau akan mampu melawan tongkatku?”
Witantra mengerutkan keningnya. Katanya, “Tongkatku bukan sembarang tongkat. Memang bukan tongkat sebaik tongkatmu. Tetapi mudah-mudahan aku dapat mengimbangi tongkatmu.”
Orang bertongkat itu tidak menjawab. Beberapa langkah mereka beringsut untuk mendapatkan tempat yang luas.
“Mudah-mudahan kita tidak diketemukan oleh peronda yang kadang-kadang nganglang,” berkata Witantra.
“Persetan,” jawab lawannya, “mereka tidur seperti mati. Kita akan mendapat waktu yang leluasa sampai menjelang pagi.”
“Bagus,” jawab Witantra, “Kita pergunakan kesempatan ini sebaik-baiknya.”
Keduanya pun kemudian segera mempersiapkan diri. Sementara kedua saudara seperguruan orang bertongkat itu tidak mempunyai pilihan lain kecuali harus berhadapan dengan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.
Dengan demikian maka orang-orang itu pun telah terlibat dalam pertempuran di belakang istana, di sebuah halaman yang luas tanpa takut terganggu, karena pengaruh sirep yang menebar sampai ke tempat itu.
Yang kemudian terlibat kedalam pertempuran adalah semua orang yang ada di tempat itu. Masing-masing telah mendapatkan lawannya. Pangeran Singa Narpada yang bertanggung jawab atas pusaka yang ingin dimiliki oleh orang-orang bertongkat itu harus bertempur dengan guru dari orang-orang bertongkat itu. Orang yang memiliki ilmu yang sangat tinggi.
Sementara itu, Mahisa Agni dan Witantra harus bermain-main dengan dua orang di antara keempat orang bertongkat itu. Sedangkan Mahendra harus bertempur melawan Kebo Sarik.
Dalam pada itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah mendapat lawan di antara orang-orang bertongkat itu pula. Tetapi bukan orang bertubuh kecil yang pernah dilawannya berdua. Yang dihadapinya adalah adik seperguruan dari orang bertubuh kecil itu.
Untuk beberapa saat Mahisa Murti dan Mahisa Pukat harus bertempur dengan sangat berhati-hati. Keduanya harus memperhitungkan kemampuan lawannya baik-baik. Baik Mahisa Murti maupun Mahisa Pukat memperhitungkan kekuatan lawannya atas dasar pengenalan mereka terhadap ilmu orang bertubuh kecil yang pernah mereka lawan berdua.
Namun ketika mereka telah bertempur beberapa saat lamanya, maka terasa oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, bahwa ternyata kemampuan kedua orang itu masih belum pada tataran orang bertubuh kecil itu.
Meskipun demikian baik Mahisa Murti maupun Mahisa Pukat, tidak dapat lengah. Agaknya kedua orang itu pun telah memiliki dasar ilmu yang nggegirisi, yang mampu melontarkan serangan sebagaimana dilakukan oleh orang bertubuh kecil itu.
Sementara itu, maka di lingkungan pertempuran yang lain pun benturan ilmu telah menjadi semakin sengit. Yang paling menggetarkan adalah pertempuran antara Pangeran Singa Narpada melawan guru dari orang-orang bertongkat itu. Keduanya adalah orang-orang yang berilmu tinggi, sehingga seolah-olah yang mereka lakukan sama sekali diluar pengamatan kewadagan.
Yang tidak kalah sengitnya adalah pertempuran antara Kebo Sarik dan Mahendra. Ternyata kemampuan Mahendra telah mengejutkan Kebo Sarik. Ia mengira bahwa selain kakak seperguruannya yang bertempur melawan Pangeran Singa Narpada, tidak ada orang lain yang dapat mengimbangi, ilmunya. Namun ternyata bahwa lawannya saat itu, memiliki kemampuan diluar dugaannya itu.
Karena itu, maka kemarahan Kebo Sarik telah menghentak-hentak di dadanya. Selapis demi selapis ia meningkatkan kemampuannya. Namun ternyata bahwa lawannya itu pun mampu meningkat kan kemampuannya pula.
Dengan demikian, maka pertempuran antara Kebo Sarik dan Mahendra itu pun menjadi semakin dahsyat. Keduanya memiliki ilmu yang tinggi.
Pada saat-saat keduanya mendekati puncak kemampu-annya, maka gerak mereka pun menjadi semakin cepat. Bahkan kemudian keduanya seakan-akan telah berubah menjadi bayangan yang berputaran di dorong oleh angin pusaran.
Sementara itu, Mahisa Agni yang menghadapi orang bertubuh kecil itu pun ternyata harus berhati-hati. Orang bertongkat yang bertubuh kecil itu memiliki bekal pula untuk bertempur dalam putaran ilmu kanuragan. Tetapi ternyata bahwa saat itu ia telah mendapat lawan Mahisa Agni. Seorang yang memiliki landasan ilmu yang masak.
Meskipun demikian, Mahisa Agni yang sudah menjadi terlalu tua itu, tidak ingin menyakiti hati lawannya. Ia tidak menunjukkan dengan serta merta kelebihannya, meskipun ia sadar, bahwa tenaga wadagnya tidak lagi utuh sebagaimana saat ia berumur sebaya lawannya itu.
Tetapi tingkat ilmu Mahisa Agani dan orang bertubuh kecil itu memang terpaut beberapa lapis yang cukup tebal. Sehingga apabila Mahisa Agni menghendaki, maka ia akan dengan cepat menyudahi pertempuran itu.
Yang terjadi sebagaimana Mahisa Agni adalah Witantra yang bertempur melawan adik seperguruan orang bertubuh kecil itu. Meskipun Witantra tidak mau mengabaikan lawannya sehingga ia berbuat satu kesalahan yang dapat menjeratnya, namun selisih ilmu yang cukup banyak membuat lawannya kadang-kadang menjadi bingung.
Bahkan Witantra masih juga sempat sekali-sekali memperhatikan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang bertempur melawan dua orang saudara seperguruan orang bertubuh kecil itu. Ternyata bahwa dasar ilmu puncak Mahisa Murti dan Mahisa Bungalan tidak perlu mereka pergunakan untuk mengatasi serangan-serangan lawannya yang garang.
Namun pada suatu saat, ternyata Mahisa Murti dikejutkan oleh serangan lawannya sebagaimana pernah dilakukan oleh orang bertubuh kecil itu. Ketika orang itu mendapat kesempaian, maka ia lelah mengacungkan tongkatnya. Dan dari ujung tongkat itu telah meluncur cahaya yang silau.
Mahisa Murti sempat meloncat. Dengan demikian maka cahaya itu tidak sempat menyentuhnya. Ketika cahaya itu mengenai tanah di belakang Mahisa Murti semula berpijak, maka telah terjadi ledakan. Tetapi ledakan itu tidak mengejutkan dan tidak sedahsyat ledakan pada saat Mahisa Murti melawan orang bertubuh kecil itu.
“Ilmunya belum terlalu mapan,” berkata Mahisa Murti di dalam hatinya. Meskipun demikian Mahisa Murti sadar, bahwa jika serangan itu mengenainya, maka ia akan mengalami nasib yang buruk. Kulitnya tentu akan terkelupas se bagaimana jika kulitnya tersentuh api.
Karena itu, maka Mahisa Murti itu pun harus selalu berhati-hati menghadapinya.
Sebagaimana terjadi pada Mahisa Murti, maka telah terjadi pula pada Mahisa Pukat. Mahisa Pukat juga merasakan bahwa tingkat ilmu lawannya masih berada dibawah ilmu orang bertubuh kecil yang pernah bertempur melawan Mahisa Pukat dan Mahisa Murti berdua. Sehingga dengan demikian maka Mahisa Pukat merasa bahwa jika ia tidak melakukan kesalahan, maka ia sendiri akan mampu mengimbangi lawannya itu.
Dengan hati-hati maka Mahisa Pukat telah meningkatkan serangan-serangannya. Tetapi Mahisa Pukat masih membatasi diri untuk tidak mempergunakan ilmu puncaknya yang memiliki daya penghancur yang sangat besar.
Dalam keadaan terdesak, maka lawannya itu pun tidak dapat berbuat lain kecuali melepaskan kemampuannya yang jarang dimiliki oleh orang lain.
Dengan demikian maka sejenak kemudian tongkat lawan Mahisa Pukat itu pun mulai teracung. Sebagaimana lawan Mahisa Murti maka serangan-serangan yang meluncur dari ujung tongkat itu telah menyambar-nyambar.
Namun juga seperti Mahisa Murti, Mahisa Pukat masih selalu mampu menghindarinya.
Tetapi Mahisa Pukat tidak tergesa-gesa membalas serangan-serangan itu dengan paser-paser kecilnya. Tetapi ia masih mencoba melawan serangan-serangan itu dengan kecepatan geraknya.
Karena itulah maka setiap kali Mahisa Pukat berusaha untuk bertempur pada jarak yang dekat. Dengan demikian maka lawannya tidak sempat mengacungkan tongkatnya untuk melontarkan serangannya yang berbahaya itu. Setiap kali tongkatnya siap teracu, maka Mahisa Pukat dengan cepat menyerangnya sehingga lawannya itu harus menghindar atau menangkis serangan itu sebelum ujung tongkatnya sempat tepat mengarah kesasaran.
Ternyata Mahisa Pukat berhasil mengacaukan pemusatan serangan-serangan lawannya. Dengan demikian maka lawannya harus bekerja keras untuk mengimbangi kecepatan gerak Mahisa Pukat.
Mahisa Agni masih juga bertempur melawan orang bertubuh kecil, saudara seperguruan tertua diantara orang-orang bertongkat itu. Namun orang itu tidak banyak dapat berbuat meskipun lawannya adalah orang yang sudah terlalu tua untuk turun kemedan.
Mahisa Agni ternyata berusaha untuk menyesuaikan diri dengan keadaannya. Jika lawannya melepaskan serangan dengan ujung tongkatnya, maka seolah-olah tidak nampak oleh lawannya, kapan ia bergerak. Namun cahaya yang meluncur dari ujung tongkat itu sama sekali tidak mengenainya Orang kedua di antara orang-orang bertongkat itu pun sama sekali tidak berdaya menghadapi Witantra. Tetapi seperti Mahisa Agni, Witantra memberinya kesempatan untuk bermain-main.
Yang sungguh-sungguh bertempur dengan sengitnya adalah Mahendra dengan Kebo Sarik disamping Pangeran Singa Narpada melawan guru dari orang-orang bertongkat itu. Ternyata Kebo Sarik benar-benar seorang yang memiliki ilmu yang tinggi. Kekuatannya melampaui dugaan. Tenaga cadangannya ternyata sangat mengejutkan.
Namun Mahendra mampu berloncatan tidak kalah cepatnya. Dengan tangkas ia mampu menghindari setiap serangan. Bahkan pada saat-saat tertentu serangannyalah yang mengejutkan Kebo Sarik.
Semakin lama keduanya telah terlibat kedalam pertempuran yang semakin sengit. Keduanya berloncatan sambar menyambar. Mehendra yang meskipun sudah terhitung tua, tetapi ia adalah saudara seperguruan Witantra yang paling muda, masih memiliki gejolak yang bergelora di dalam dadanya. Karena ilulah, maka perlahan-lahan kemarahannya mulai terungkit ketika serangan lawannya mulai menyentuhnya.
Meskipun demikian Mahendra tidak pernah memandang lawannya dengan perasaannya yang buram. Meskipun ia mulai menjadi marah, tetapi ia masih tetap berusaha menguasai perasaannya, agar ia tidak terseret kedalam langkah-langkah yang tidak wajar.
Pada saat-saat berikutnya, keduanya benar-benar bagaikan terlibat kedalam putaran angin pusaran. Semakin lama menjadi semakin cepat, sehingga pertempuran itu tidak lagi nampak ujudnya.
Namun Mahendra yang memiliki landasan ilmu yang mapan sama sekali tidak merasa kebingungan. Apapun yang dilakukan oleh lawannya, tidak terlepas dari pengamatannya, sehingga karena itu, maka ia pun selalu mampu mengimbanginya.
Ketika Kebo Sarik dengan kemampuan ilmunya menyambar Mahendra dengan ayunan tangan mendatar, maka dengan loncatan kecil Mahendra tergeser surut. Tetapi tiba-tiba saja tubuhnya berputar dengan kaki mendatar menyambar lambung lawannya. Namun Kebo Sarik pun dengan sigapnya melenting selangkah surut. Bahkan tiba-tiba saja sambil merebahkan dirinya, kakinya telah menyambar kaki Mahendra yang menjadi tumpuan putarannya.
Mehendra terkejut. Namun kemampuannya yang tinggi, membuatnya tidak terjebak dalam kesulitan. Ia justru menjatuhkan diri dan berguling sekali. Bahkan kemudian ia pun telah melenting berdiri mendahului Kebo Sarik yang juga bangkit berdiri. Pada saat yang bersamaan, hampir saja tangan Mahendra menyambar kening.
Tetapi Kebo Sarik yang merasa memiliki kekuatan yang sangat besar memang dengan sengaja tidak menghindarinya. Ia ingin membentur langsung kekuatan Mahendra. Karena itu, Kebo Sarik telah menangkis serangan itu.
Satu benturan yang keras telah terjadi. Kebo Sarik mengharap bahwa benturan itu akan mengecilkan hati Mahendra yang akan dapat mengukur kekuatannya.
Tetapi ternyata Kebo Sarik telah salah menilai. Mahendra tidak menyeringai, menahan sakit. Tetapi pada benturan itu justru Kebo Sarik merasa betapa besarnya tenaga Mahendra.
Dengan demikian bukan Mahendra yang menjadi berkecil hati, tetapi justru Kebo Sarik lah yang menjadi marah. Ia merasa bahwa kekuatannya adalah kekuatan yang tidak ada bandingannya. Ternyata bahwa seseorang telah mampu mengimbanginya.
Dengan demikian maka Kebo Sarik itu pun telah mengerahkan kemampuan dan ilmunya untuk dapat menghancurkan Mahendra. Tetapi usahanya tidak segera dapat berhasil. Bahkan sekali-sekali ialah yang telah terdesak karena kecepatan gerak Mahendra.
Dalam pada itu, Mahisa Murti telah mendesak lawannya pula. Meskipun lawannya mampu juga melepaskan ilmunya, tetapi kekuatan ilmu itu masih belum mapan. Mahisa Murti masih mampu menghindari setiap serangan dan bahkan mempunyai kesempatan untuk menyerang kembali.
Ketika Mahisa Murti semakin mendesaknya, maka kesempatannya untuk melepaskan serangan ilmunya itu pun menjadi sempit. Meskipun demikian Mahisa Murti tidak menjadi lengah. Bagaimanapun juga jika serangan itu mengenainya, maka ia akan mengalami luka-luka yang dapat membahayakannya, karena selanjutnya, lawannya tentu akan mempergunakan kesempatan untuk menyerangnya terus.
Keadaan Mahisa Pukat pun berangsur semakin baik pula. Mahisa Pukat menekan lawannya semakin berat. Serangan-serangannya datang membadai. Sekali-sekali Mahisa Pukat memang harus berloncatan menghindar. Namun kemudian serangannya datang lagi bergulung-gulung sehingga sulit untuk dibendung.
Ketika lawannya melepaskan ilmunya mengarah ke dadanya, maka Mahisa Pukat pun sempat meloncat kesamping. Tetapi lawannya tidak membiarkannya. Demikian Mahisa Pukat tegak, maka sekali lagi serangan itu menyambarnya, sehingga Mahisa Pukat harus meloncat menghindar.
Dengan tangkasnya Mahisa Pukat melenting dan berputar sekali di udara. Ketika ia melekatkan kakinya di tanah, maka ia berada selangkah disamping lawannya. Demikian lawannya mengayunkan tongkatnya mendatar setinggi lambung, Mahisa Pukat telah menjatuhkan dirinya, sekaligus menjulurkan kakinya ke arah lutut lawannya.
Lawannya tidak sempat mengelak. Juga tidak sempat menangkis. Hal itu terjadi demikian cepatnya, sehingga karena lututnya yang dikenai serangan lawannya, maka orang itu bagaikan dihentakkan kesamping.
Untunglah bahwa orang itu pun memiliki kemampuan yang cukup tinggi. Ketika ia jatuh menyamping maka ia masih mampu berputar sehingga tubuhnya tidak terbanting sebagaimana sebatang pisang yang roboh. Namun tubuh itu pun terguling beberapa kali sebelum kemudian melenting berdiri.
Namun demikian ia berdiri, maka tongkatnya pun telah mengarah ke tubuh lawannya dan ilmunya telah menyambar ke arah lawannya yang sudah siap pula menunggu.
Karena itu, maka Mahisa Pukat pun tidak terkejut lagi atas serangan itu. Dengan sigapnya ia telah bergeser menghindarinya dengan cepat. Bahkan dengan satu loncatan yang panjang justru mendekati tubuh lawannya.
Ketika lawannya berusaha bergeser, maka ketegangan telah mencengkamnya. Ternyata ia baru merasa bahwa lututnya yang dikenai serangan Mahisa Pukat itu terasa sakit.
Perasaan sakit itu benar-benar telah mengganggunya. Namun ia tidak dapat berbuat lain kecuali menahan rasa sakit itu. Apalagi serangan Mahisa Pukat pun telah datang membadai.
Dengan demikian maka Mahisa Pukat lah orang yang pertama-tama menguasai lawannya di antara mereka yang tengah bertempur itu. Dengan lutut yang sakit, maka lawannya tidak lagi dapat sepenuhnya mengerahkan kemampuannya. Setiap kali ia berusaha untuk meloncat menjauh. Jika ia mendapat kesempatan mengambil jarak, maka ia dapat menyerang dengan ujung tongkatnya yang melepaskan semacam cahaya yang mampu mengelupas kulit.
Saudara-saudara seperguruannya pun melihat keadaan itu. Tetapi mereka tidak berbuat apa-apa. Apalagi mereka yang bertempur melawan Mahisa Agni dan Witantra. Sedangkan yang bertempur melawan Mahisa Murti pun telah merasa bahwa ia menjadi semakin terdesak.
Yang masih bertempur dalam keadaan yang sebenarnya seimbang adalah Pangeran Singa Narpada dengan guru dari keempat orang bertongkat itu. Namun demikian, keadaan murid-muridnya sebenarnyalah telah mengganggu ketenangan pemusatan nalar budi orang itu. Ketajaman penglihatannya telah mengatakan kepadanya, bahwa tidak seorang dari keempat muridnya yang mampu mengatasi ilmu lawannya. Meskipun muridnya yang tertua, yang bertubuh kecil itu nampaknya seimbang dengan lawannya, namun gurunya itu mengerti, bahwa sebenarnya lawan muridnya itu hanya sekedar bergurau saja sebagaimana kata-kata dan tingkah lakunya sebelum pertempuran itu benar-benar dimulai.
Demikian pula muridnya yang kedua. Witantra tidak dengan sungguh-sungguh berusaha mengalahkan lawannya itu dengan cepat. Dibiarkannya lawannya mengerahkan segenap kemampuannya sehingga pada saatnya ia menjadi kelelahan.
Sementara itu, kedua muridnya yang lain, yang bertempur dengan anak-anak yang masih terlalu muda itu, ternyata tidak juga mampu mengimbanginya.
Dengan demikian maka disamping lawannya yang memang berilmu tinggi, seorang Pangeran yang seakan-akan menjadi lambang kekuatan Kediri, maka orang itu pun telah menggelisahkan keadaan keempat muridnya pula. Bahkan ketika ia sempat serba sedikit memperhatikan Kebo Sarik, maka adik seperguruannya itu pun agaknya menghadapi lawan yang sangat berat pula. Bahkan sekali-sekali Kebo Sarik itu telah mulai terdesak.
Dengan demikian maka Kebo Sarik itu pun harus berjuang dengan segenap kemampuannya melawan Mahendra. Dikerahkannya segenap ilmunya, namun ternyata bahwa kemampuan Mahendra memang berada di atas kemampuannya.
Karena itulah, maka akhirnya Kebo Sarik berusaha untuk mengatasi kesulitannya dengan senjata andalannya.
Ternyata Kebo Sarik tidak mempergunakan kemampuan ilmu sebagaimana dimiliki oleh perguruannya yang sudah diwarisi oleh orang-orang bertongkat itu. Ia sadar bahwa lawannya tentu mempunyai cara untuk melawannya.
Karena itu, maka ia pun telah mempergunakan senjatanya yang khusus. Bahkan senjata kebanyakan sebagaimana dipergunakan dalam pertempuran, tetapi Kebo Sarik mempunyai senjata-senjata yang aneh.
Dalam keadaan yang paling sulit, maka tiba-tiba saja Kebo Sarik telah mengambil sesuatu dari kantong yang tergantung didalamnya. Satu di antara senjata-senjatanya yang tersimpan di dalam kantung itu.
Dengan cepatnya Kebo Sarik telah melontarkan sesuatu ke arah Mahendra. Untunglah Mahendra cepat menanggapi keadaan. Karena itu, maka ia pun dengan tangkas mengelak.
Tetapi senjata Kebo Sarik itu seolah-olah mampu menggeliat dan berbelok arah.
Mahendra harus meloncat sekali lagi dengan tergesa-gesa. Untunglah bahwa ia memiliki kemampuan bergerak cepat, sehingga senjata itu tidak menyentuhnya.
Ketika senjata itu jatuh di tanah, maka sadarlah Mahendra, bahwa yang dilontarkan itu adalah seekor ular.
Mahendra tidak sempat merenungi senjata yang aneh itu, karena ular itu seakan-akan tahu apa yang harus dilakukannya. Ular itu sempat meluncur dengan cepat ke arah Mahendra.
“Gila,” geram Mahendra, “senjata-senjata yang aneh itu memerlukan perlakuan khusus.”
Sebenarnyalah bahwa Mahendra memang harus melawan ular itu dengan cara yang khusus. Selain dengan kecepatan geraknya, maka ia harus berusaha untuk dapat membunuh ular itu. Sementara Mahendra harus memperhatikan ular yang tidak juga merayap pergi, maka Kebo Sarik pun telah menyerangnya pula dengan garang.
“Kau mempunyai cara yang aneh dalam perkelahian seperti ini,” berkata Mahendra.
“Kau akan mati dipatuk ular-ularku dengan racunnya yang paling ganas. Kau tidak akan dapat menghindarinya,” berkata Kebo Sarik.
Mahendra tidak menjawab. Ia harus menghindari serangan-serangan Kebo Sarik dan sekaligus menghindari patukan ular yang masih saja berada di arena itu dan menelusur ke mana saja ia bergeser.
Ternyata kecepatan gerak Mahendra masih mampu melawan serangan yang datang dari Kebo Sarik dan ularnya yang terlatih baik. Namun ketika Kebo Sarik melepaskan ular masih saja berada di arena itu dan ularnya yang lain, maka Mahendra pun telah menjadi kesulitan.
Dalam pada itu, yang terjadi dengan Mahendra itu tidak terlepas dari pengamatan kedua anak-anaknya. Karena itu, maka tiba-tiba saja Mahisa Murti bertanya, “Apa yang terjadi ayah. Nampaknya ayah menghadapi cara yang licik.”
“Ular,” jawab Mahendra.
“O,” desis Mahisa Murti, “serahkan kepadaku.”
“Aku ikut,” berkata Mahisa Pukat pula.
Mahendra tidak menjawab. Sejenak ia berloncatan sambil berpikir. Ia tahu, bahwa kedua anaknya itu dapat membebaskan diri dari racun ular dan bisa yang betapapun tajamnya.
Tetapi Mahendra masih juga harus berpikir, apakah kedua anak-anaknya itu akan mampu menghadapi ilmu Kebo Sarik.
Namun Mahendra pun kemudian mempercayakannya, kepada ilmu yang telah diwariskannya. Dalam keadaan yang sulit, maka kedua anaknya akan dapat melepaskan ilmu pamungkasnya. Mungkin Kebo Sarik juga mempunyai tingkat kemampuan yang akan dapat melawan ilmu itu, tetapi anaknya berdua tentu memiliki paduan kekuatan yang luar biasa.
Karena itu, maka Mahendra pun kemudian memilih untuk memberikan kesempatan kepada kedua anaknya untuk menguji kemampuannya daripada mengambil alih penangkal racunnya, atau sampai pada puncak ilmu Bajra Geni dalam bentuk yang lunak.
Dengan demikian maka Mahendra pun kemudian berkata, “Baiklah. Cobalah kemampuan kalian menghadapi orang ini. Orang ini memiliki ilmu yang tinggi. Mungkin kalian akan dapat menghadapinya berdua.”
“Bagaimana dengan lawan-lawan kami?” bertanya Mahisa Murti.
“Lepaskan mereka,” jawab Mahendra, “tetapi jika kalian mengalami kesulitan atas Kerbau Gila ini, serahkan kembali kepadaku.”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun kemudian telah melepaskan lawan mereka kedua orang bertongkat. Mereka mula-mula berusaha untuk menahan kedua anak muda itu. Tetapi ternyata bahwa Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menggiring lawan-lawannya mendekati arena perkelahian antara Mahendra dan Kebo Sarik.
Kemudian dengan cepat Mahendra meninggalkan lawannya dan arena yang ditelusuri oleh beberapa ekor ular yang ganas itu. Sementara Mahisa Murti dan Mahisa Pukat dengan cepat mamasukinya.
“Gila,” geram Kebo Sarik, “kalian tentu mempunyai panangkal racun.”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak menjawab. Namun keduanya telah mulai menyerang Kebo Sarik itu dengan garangnya.
Pertempuran antara kedua orang anak muda melawan Kebo Sarik itu ternyata mempunyai warna yang lain dari sebelumnya.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sama sekali tidak menghiraukan ular-ular yang menjalar di bawah kaki mereka. Jika ular itu menggigit, maka Mahisa Murti atau Mahisa Pukat hanya mengibaskannya. Atau mungkin memijit kepala ular itu sehingga diremukkannya.
Dengan demikian maka senjata ular yang berbisa itu tidak mampu melindungi Kebo Sarik dari lawannya yang bergerak sangat cepat dan tangkas.
Tetapi Kebo Sarik tidak tertarik untuk mempergunakan ular-ularnya melawan kedua orang anak muda itu. Namun demikian ia sempat menggeram, “Pengecut. Kenapa orang itu lari?”
“Tidak,” jawab Mahisa Murti, “ia tidak lari. Ia hanya ingin memberikan kesempatan kepada kami berdua.”
“Omong kosong,” jawab Kebo Sarik, “orang itu tidak dapat melawan ular-ularku.”
“O,” Mahisa Murti menjawab sambil menyerang, “kau salah mengartikan langkahnya. Ia memang tidak dapat melawan ular-ularmu dengan cara yang wajar sebagaimana dilalukannya. Tetapi ia masih belum ingin melepaskan ilmunya yang tertinggi.”
“Jika demikian maka ia tentu tidak akan melarikan diri,” berkata Kebo Sarik.
Mahisa Pukat tidak berkata apapun juga. Tetapi serangannya datang membadai.
Namun Kebo Sarik memang memiliki kemampuan yang luar biasa. Itulah sebabnya, maka kedua anak muda itu harus mengerahkan segenap kemampuannya.
Namu ternyata bahwa gabungan kekuatan dan ilmu Mahisa Murti dan mahisa Pukat mampu juga menggetarkan pertahanan Kebo Sarik.
Sementara itu, Mahendra sendiri tidak mengalami banyak kesukaran mengatasi kedua lawannya yang semula bertempur melawan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Meskipun kadang-kadang ia harus berloncatan menghindari serangan-serangan mereka yang seolah-olah meluncur dari ujung tongkatnya, namun yang terjadi sama sekali tidak membahayakan.
Namun dalam pada itu, seorang diantara orang-orang bertongkat itu bertanya kepadanya, “Kenapa kau lari he?”
“O,” Mahendra menarik serangannya, justru karena pertanyaan itu, “Baiklah kau mendengar jawabnya sebelum kau kehilangan kesadaranmu.”
“Persetan,” geram orang bertongkat itu, “kau terlalu menghina.”
“Maaf. Tetapi dengarlah. Aku tidak lari. Tetapi aku memang menghindarkan diri dari ular-ularnya agar aku tidak terpaksa melepaskan sesuatu yang tidak perlu, justru karena ada kedua orang anak muda itu,” jawabnya.
“Aku tidak mengerti apa yang kau katakan,” jawab orang bertongkat itu, sementara Mahendra harus menghindari serangan lawannya yang seorang lagi.
“O,” desis Mahendra, “jadi kau tidak juga mengerti? Baiklah. Aku akan menundjukkan serba sedikit, bahwa kau tidak akan dapat menundukkan lagi bahwa aku melarikan diri dari ular-ular itu.”
Lawannya tidak menjawab. Tetapi kedua orang bertongkat itu telah menyerang bersama-sama.
Semakin lama serangan itu datang semakin cepat, sementara Mahendra tidak lagi terlalu banyak menyerang. Hanya pada saat ilmu lawannya menyambarnya ia bergerak menghindar.
Kedua lawannya mula-mula menjadi heran, bahwa orang tua itu tidak lagi terasa garang. Karena itu, maka justru keduanyalah yang telah menyerang Mahendra semakin berani.
Tetapi beberapa saai kemudian keduanya merasa sesuatu yang lain. Semakin sering mereka menyerang, maka rasa-rasanya sesuatu telah menyesakkan dada mereka. Bahkan mereka merasa seakan-akan mereka telah memasuki lingkaran panasnya api. Semakin lama semakin menyengat tubuh mereka.
Dengan demikian, maka keduanya telah bergeser menjauh. Keduanya tidak lagi dapat mendekati Mahendra. Setiap Mahendra bergeser, maka mereka pun harus bergeser pula. Bahkan jika mereka melontarkan serangan lewat ujung tombak mereka, maka cahaya yang meluncur dari ujung tongkat itu seakan-akan telah pecah ketika cahaya itu memasuki lingkaran tertentu di seputar Mahendra.
Tetapi hal itu tidak berlangsung lama. Beberapa saat kemudian udara panas itu bagaikan telah terhembus oleh angin dan hanyut tidak tentu arah.
Kedua orang bertongkat itu termangu-mangu karenanya. Sementara itu Mahendra pun tersenyum. Katanya, “Nah, bukankah aku tidak seharusnya takut menghadapi ular-ular itu. Panas udara akan mengusir mereka dan tidak akan dapat menggigitku.”
Kedua orang itu termangu-mangu. Namun kemudian seorang diantara mereka bertanya, “Kenapa kau menghindari paman Kebo Sarik.”
Mahendra meloncat selangkah surut. Sambil tertawa ia berkata, “Ada dua alasan. Pertama aku ingin mencoba kemampuan kedua anah-anak itu. Kemudian, aku masih belum merasa perlu untuk mempergunakan ilmuku.”
Kedua orang bertongkat itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian keduanya telah menyerang bersama-sama dengan garangnya. Tetapi serangan-serangan itu tidak banyak menyulitkan Mahendra.
Sementara itu Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah mengerahkan segenap kemampuan mereka untuk mengatasi kemampuan ilmu Kebo Sarik. Kedua anak muda itu pernah bertempur melawan orang bertongkat yang bertubuh kecil dan mengatasi ilmunya. Namun ternyata Kebo Sarik memiliki kelebihan.
Meskipun demikian kedua anak muda itu sama sekali tidak menjadi gentar. Mereka memiliki bekal yang cukup untuk menghadapi raksasa dalam olah kanuragan itu. Keduanya memiliki kecepatan gerak sehingga berganti-ganti mereka menyerang dan menghindar.
Kebo Sarik yang menjadi semakin marah itu pun memutuskan untuk melawan kedua orang anak muda itu dengan ilmu yang diwarisinya dari perguruannya. Ilmu sebagaimana pernah ditunjukkan oleh orang bertongkat yang bertubuh kecil itu.
“Ular-ularku tidak berdaya atas kedua anak muda ini,” berkata Kebo Sarik di dalam hatinya, “karena itu, maka harus aku pergunakan cara yang lain.”
Sejenak kemudian, maka Kebo Sarik itu pun telah mengetrapkan ilmunya. Karena ia tidak membawa tongkat panjang, maka ia pun telah mempergunakan caranya sendiri untuk melepaskan kekuatan yang bagaikan meluncurnya cahaya yang menyilaukan itu.
Pada saat-saat kedua anak muda itu menyerang bagaikan angin pusaran, maka Kebo Sarik itu telah mengacungkan ujung jarinya ke arah Mahisa Murti.
Untunglah bahwa Mahisa Murti cepat menanggapi keadaan. Ia segera mengerti bahwa dengan mengacungkan ujung jarinya ke arahnya, maka orang ku tentu akan menyerangnya.
Karena itu, maka Mahisa Murti pun dengan cepat telah meloncat menghindari arah ujung jari itu, sehingga dengan demikian maka ketika serangan Kebo Sarik meluncur, maka serangan itu tidak mengenai sasarannya. Namun sebongkah batu yang tersentuhnya, telah pecah bagaikan meledak.
“Luar biasa,” desis Mahisa Murti, “agaknya kekuatan ilmu itu melampaui ilmu orang bertubuh kecil itu.”
Namun Mahisa Murti tidak sempat berlama-lama mengagumi kemampuan lawannya, karena serangan berikutnya segera menyusul.
Tetapi Kebo Sarik tidak sempat melontarkan serangan berikutnya, karena Mahisa Pukat telah menyerangnya dengan cepat dan tangkas.
Kebo Sarik terpaksa harus menghindari serangan itu. Karena itu maka Mahisa Murti mendapat kesempatan uniuk memperbaiki keadaannya. Mahisa Pukat yang tidak mengenal lawannya itu pun dengan cepat telah berputar dan serangannya datang sekali lagi mengarah ke lambung.
Namun serangan itu pun tidak mengenainya. Bahkan Kebo Sarik yang bergeser masih sempat mengangkat jarinya dan menunjuk ke arah Mahisa Pukat.
Seperti Mahisa Murti, maka Mahisa Pukat pun segera meloncat dan berguling sekali untuk menghindarkan diri. Sementara itu, Kebo Sarik yang gagal mengenai serangannya telah siap untuk menyerang kembali. Tetapi Mahisa Murti yang telah bersiap, mulai menyerang pula.
Kebo Sariklah yang kemudian meloncat menghindar.
Dengan demikian maka pertempuran itu pun menjadi semakin sengit. Serangan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menjadi semakin cepat. Tetapi mereka pun akhirnya menjadi kesulitan melawan serangan-serangan Kebo Sarik yang semakin cepat dan terarah.
Pada saat yang demikian itulah, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah mempergunakan senjata mereka yang telah berhasil mengalahkan orang bertubuh kecil itu.
Baik Mahisa Murti maupun Mahisa Pukat itu pun kemudian telah mempergunakan paser-paser kecil mereka. Untuk mengurangi serangan lawannya, maka keduanya telah melontarkan serangan-serangan dari jarak tertentu sebagaimana dilakukan oleh Kebo Sarik.
Namun Mahisa Murti dan Mahisa Pukat itu menjadi berdebar-debar ketika mereka melihat Kebo Sarik tertawa. Katanya, “Aku adalah orang yang terbiasa bermain-main dengan ular. Kalian tentu mengerti, bahwa aku tentu yakin akan diriku sendiri bahwa bisa ular dan bahkan segala macam racun itu tidak akan dapat membunuhku. Nah, bukahkah senjata-senjata kecilmu itu tentu beracun?”
“Gila,” geram Mahisa Pukat.
Namun Mahisa Murti berkata, “Baiklah. Katakan bahwa kau tidak lagi dapat dibunuh dengan racun, karena kau kebal racun. Tetapi paser-paserku ini jika mengenai bagian-bagian tubuhmu yang lemah, meskipun racunnya tidak berpengaruh, tetapi ada pengaruh yang lain.”
“Apa artinya jarum-jarum kecil itu jika bukan karena racunnya?” bertanya Kebo Sarik.
“Kami adalah pembidik-pembidik yang baik. Kami tentu akan dapat membidik ke arah mata atau telinga atau bagian-bagian tubuh yang lain yang lemah. Bahkan seandainya jarum-jarum kami mengenai bagian-bagian tubuhmu yang lain pun tentu akan berpengaruh, karena jarumku akan menusuk sampai ketulang,” berkata Mahisa Pukat.
Kebo Sarik tidak menjawab. Beberapa kali ia harus berloncatan menghindar. Desing paser-paser kecil itu memang menunjukkan kepadanya, bahwa paser-paser itu dilontarkan dengan kuatnya yang sangat besar. Karena itu, maka jika paser itu benar-benar mengenai matanya atau telinganya, bahkan bagian-bagian tubuhnya yang lain, meskipun bukan karena racunnya. Namun tusukan jarum benar-benar akan menembus sampai ketulang.
Karena itu, maka Kebo Sarik selalu berusaha untuk menghindar. Namun sementara itu, sekali-sekali serangan Kebo Sarik pun masih juga menyambar-nyambar.
Mahendra sekali-sekali sempat memperhatikan kedua anaknya. Ternyata bahwa ia masih dapat menahan diri untuk tidak merasa sangat cemas.
Sementara itu, maka Mahisa Agni dan Witantra agaknya sudah mulai jemu dengan permainan itu. Orang-orang tua itu memang sudah tidak mempunyai kemauan sebagaimana mereka masih muda untuk bermain-main di medan. Pada masa-masa muda mereka akan membiarkan lawan-lawan mereka kehabisan nafas dan kehilangan kemampuan untuk berbuat sesuatu meskipun akan memerlukan waktu yang cukup lama.
Tetapi ketika umur mereka menjadi semakin tua, maka rasa-rasanya tidak pantas lagi mempermainkan lawan dan membiarkan mereka terkapar karena kehabisan tenaga.
Karena itu, maka baik Mahisa Agni maupun Witantra berusaha untuk segera mengakhiri pertempuran itu.
Bagi keduanya sama sekali bukan merupakan sesuatu yang sulit untuk dilakukan. Ketika keduanya memang menghendaki, maka dengan cepat mereka pun telah berhasil menguasai lawan-lawan mereka. Meskipun lawan-lawan mereka termasuk orang-orang yang berilmu tinggi, karena mereka adalah murid-murid tertentu dan terpercaya, namun Mahisa Agni dan Witantra adalah perbendaharaan ilmu dan pengalaman yang sangat luas.
Dengan menyalurkan kemampuan mereka, maka dengan cepat Mahisa Agni dan Witantra berhasil menguasai lawan-lawan mereka. Kemana lawan-lawan mereka meloncat, mereka telah menghadapi, serangan-serangan yang menekan.
Meskipun lawan-lawan Mahisa Agni dan Witantra itu masih juga melepaskan serangan-serangan mereka dengan lontaran semacam cahaya yang mampu membakar tubuh, namun serangan-serangan itu tidak banyak memberikan arti. Karena itulah, maka beberapa saat kemudian, orang-orang bertongkat itu benar-benar berada didalam kesulitan.
Orang bertongkat yang bertubuh kecil itu masih mencoba untuk memberikan perlawanan lebih banyak lagi. Dengan mempergunakan kecepatan gerak ia mencoba untuk menembus pertahanan lawannya. Namun usahanya itu sia-sia. Orang-orang tua itu ternyata memiliki pengamatan yang sangat luas terhadap olah kanuragan, sehingga seakan-akan apa yang akan dilakukannya telah dapat ditebak lebih dahulu.
Dengan demikian, maka kedua orang tua itu telah memberikan tekanan yang semakin lama semakin berat. Bahkan kemudian baik Mahisa Agni maupun Witantra telah mulai menekan mereka dengan sungguh-sungguh dan bahkan keduanya mulai menyentuh kedua orang bertongkat itu.
Sebenarnyalah kedua orang bertongkat itu memang harus mengakui bahwa kedua orang tua adalah orang-orang terkuat didalam dunia olah kanuragan. Kedua orang bertongkat itu tidak dapat mengatakan, siapakah yang lebih baik. Orang-orang itu atau gurunya. Bahkan menilik sikap dan geraknya yang mantap dan penuh dengan tenaga, sehingga meskipun ayunan tangan mereka tidak menyentuh tubuh orang bertongkat itu, namun terasa angin bagaikan bertiup dengan kencangnya.
Orang bertongkat yang bertubuh kecil itu pun kemudian berkata di dalam hatinya, “Kedua anak muda itu tentu murid dari orang-orang tua yang memiliki ilmu yang nggegirisi itu. Karena itu, maka mereka mampu melawan paman Kebo Sarik. Bahkan hanya sekedar melawanku beberapa saat yang lampau.”
Dengan demikian maka orang-orang bertongkat itu suda dah tidak mempunyai harapan lagi. Karena itu, maka rasa rasanya mereka telah menjadi putus asa dan bertempur dengan menghentakkan kemampuan mereka.
Namun yang mereka lakukan itu tidak berarti lagi. Semakin sering mereka melepaskan serangan dengan hentakkar ilmu puncak mereka, maka mereka telah melepaskan pula bagian dari tenaga mereka, sehingga dengan demikian maka mereka pun bertambah lemah karenanya.
Sebenarnyalah bahwa kemampuan dan kekuatan mereka bukannya tidak terbatas. Dasar kekuatan wadag mereka, landasan ilmu serta perbendaharaan pengalaman mereka merupakan unsur dari seluruh kemampuan mereka.
Ketika mereka sudah sampai kebatas kemampuan, maka mereka yakin, bahwa mereka telah tidak mempunyai kesempatan apapun untuk menghadapi orang-orang tua itu.
Dalam kesulitan itu, maka ada sepercik niat mereka untuk melepaskan diri dari pertempuran itu. Namun mereka pun yakin bahwa hal itu tidak akan mungkin dapat mereka lakukan. Kedua orang tua itu tentu akan dengan mudah menghalau usaha mereka melarikan diri.
“Tidak ada kemungkinan lain,” berkata orang-orang bertongkat itu, “Batas terakhir dari langkah seorang laki-laki adalah kematian. Aku tidak peduli lagi terhadap kematian.”
Dengan demikian maka orang bertubuh kecil itu pun kemudian telah menghentakkan segenap kemampuan dan ilmunya. Meskipun ia sadar, setiap kali ia melepaskan serangan dengan ilmu puncaknya maka berarti bahwa simpanan tenaganya menjadi susut sehingga terakhir ia akan sampai kebatas.
Namun Mahisa Agni dan Witantra tidak menunggu. Merekalah yang kemudian menguasai medan. Serangan-serangan orang-orang tua itu datang semakin cepat dan sekali-sekali menyentuh sasaran.
Dengan demikian maka keduanya telah mendorong orang-orang bertongkat itu memaksa diri dengan mengerahkan kemampuan dan ilmu mereka, sehingga beberapa saat kemudian, orang-orang bertongkat itu pun telah menjadi terengah-engah. Rasa-rasanya nafas mereka akan terputus di tengah dan tulang-tulang mereka pun menjadi lemah dan tidak berdaya.
Itulah sebabnya, maka sentuhan serangan Mahisa Agni dan Witantra dengan mudah telah mendorong mereka jatuh berguling-guling. Bahkan ketika mereka akan bangkit kembali, terasa urat nadi mereka tidak lagi dapat bekerja dengan wajar.
Dengan demikian maka Mahisa Agni dan Witantra dengan cepat telah mengakhiri perlawanan orang-orang bertongkat itu. Pukulan mereka pada sasaran tertentu telah membuat lawan-lawan mereka kehilangan kesempatan untuk meneruskan perlawanannya.
Orang yang bertubuh kecil itu telah terlempar beberapa langkah dan terbanting jatuh. Kemudian rasa-rasanya malam menjadi semakin pekat. Bintang-bintang nampak menjadi kuning pudar, sehingga akhirnya semuanya menjadi hilang.
Ternyata orang bertubuh kecil itu menjadi pingsan.
Sementara itu lawan Witantra pun menyadari, bahwa ia tidak akan dapat berbuat apa-apa lagi. Pukulan Witantra membuat tangannya bagaikan lumpuh dan tidak mampu bergerak lagi. Bahkan ketika ia memikirkan kemungkinan untuk lari, kakinya pun terasa menjadi sangat berat.
Tidak ada kesempatan untuk melarikan diri. Bahkan oleh perasaan sakit maka orang-orang bertongkat itu rasa-rasanya tidak mampu lagi berbuat apa-apa meskipun ia tidak menjadi pingsan seperti saudara seperguruannya.
Sementara itu dua orang bertongkat yang lain masih bertempur melawan Mahendra. Meskipun mereka berdua, tetapi dengan bekal yang ada pada mereka, maka keduanya agaknya sama sekali lidak mampu mengimbangi lawannya. Mahendra mampu berbuat apa saja untuk mengatasinya ilmu kedua orang bertongkat itu. Bahkan kedua orang bertongkat itu menyadari, bahwa Mahendra masih belum mempergunakan ilmu pamungkasnya yang baru diperlihatkan sebagian.
Meskipun demikian, kedua lawannya masih bertempur dengan segenap kemampuan mereka. Dengan ujung tongkat mereka, keduanya menyerang Mahendra beruntun, ganti berganti, meskipun serangan mereka tidak pernah memberikan arti apapun juga, bahkan serangan puncak kemampuan mereka yang bagaikan cahaya itu.
Bahkan semakin lama perlawanan keduanya menjadi semakin lemah.
Berbeda dengan mereka adalah Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Dengan landasan ilmu yang telah mereka warisi dari ayahnya, serta pengalaman yang semakin berkembang, maka ilmu mereka pun menjadi semakin mantap dan matang. Seakan-akan dari hari ke hari ilmu kedua anak muda itu menjadi semakin meningkat.
Pada saat-saat ia bertempur melawan Kebo Sarik, tanpa mereka sadari, keduanya telah mematangkan ilmu mereka pula. Serangan-serangan yang berat yang terlontar dari Kebo Sarik yang memiliki kekuatan yang sangat besar, serta ilmunya yang menggetarkan telah memaksa kedua anak muda itu mengembangkan ilmu dan kemampuannya.
Dengan demikian maka pertempuran antara Kebo Sarik melawan Mahisa Murti dan Mahisa, Pukat semakin lama justru menjadi semakin sengit. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang sudah memiliki bekal yang cukup itu ternyata mampu mengembangkan ilmu mereka, justru pada saat-saat yang gawat.
Kebo Sarik yang sudah memiliki pengalaman yang sangat luas itu merasa heran atas kemajuan kedua anak yang dianggapnya masih terlalu muda itu. Betapapun ia meningkatkan ilmunya, namun kedua anak muda itu dengan rapi mampu melawannya berpasangan. Apalagi keduanya ternyata benar-benar kebal racun dari bisa ular yang sangat tajam sebagaimana ular-ularnya.
Sementara itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih mempergunakan paser-paser kecilnya untuk mengimbangi serangan-serangan ilmu Kebo Sarik dari jarak tertentu. Meskipun demikian, keduanya sadar, bahwa racun-racun pasernya tidak akan mampu melumpuhkan lawannya. Dengan demikian maka keduanya berusaha untuk mengenai Kebo Sarik pada bagian-bagian tubuhnya yang lemah.
Dibagian lain, Pangeran Singa Narpada masih bertempur melawan guru dari orang-orang bertongkat itu. Keduanya adalah orang yang memiliki ilmu yang tinggi. Guru dari orang-orang bertongkat itu mampu menyerang Pangeran Singa Narpada dengan mengembangkan telapak tangannya. Cahaya yang meloncat dari ujung-ujung tongkat sebagaimana dilakukan oleh murid-muridnya seolah-olah dapat meluncur dari telapak tangannya yang dikembangkan. Serangan-serangan itu sangat berbahaya, karena sentuhan-sentuhannya pada bebatuan, cabang pepohonan dan bahkan tanah tempat Pangeran Singa Narpada berpijak, bagaikan meledak karenanya.
Dengan demikian maka Pangeran Singa Narpada harus mengatasinya dengan kecepatan gerak. Bahkan sekali-sekali Pangeran Singa Narpada masih mampu meloncat mendekat dan menyerang lawannya.
Gerak yang sangat cepat dan tiba-tiba, memang kadang-kadang mengejutkan, sehingga sekali-sekali serangan itu mampu menyentuh tubuhnya.
Tetapi sentuhan itu sama sekali tidak menyakitinya. Bahkan guru dari keempat orang bertongkat itu mengabaikan sentuhan-sentuhan yang dianggapnya tidak berarti itu.
Meskipun demikian kemarahan guru orang-orang bertongkat itu bagaikan membakar jantungnya ketika ia melihat keadaan murid-muridnya, bahkan karena Kebo Sarik juga tidak segera mengalahkan kedua lawannya yang masih terlalu muda itu.
Karena itu, maka ia pun berusaha untuk dengan cepat mengalahkan lawannya. Pangeran Singa Narpada. Dengan demikian maka ia akan dapat banyak berbuat bagi murid-muridnya.
Namun Pangeran Singa Narpada pun telah meningkatkan kemampuannya. Untuk melawan lawannya. Pangeran Singa Narpada lebih banyak bertumpu pada kecepatan geraknya.
Ketika tangan Pangeran Singa Narpada mengenai pundak lawannya tanpa menimbulkan rasa sakit, lawannya menggeram, “Buat apa kau menggamit aku?”
Pangeran Singa Narpada tidak menjawab. Tetapi ia justru menghindari serangan lawannya yang menyambarnya.
Meskipun serangan itu tidak mengenainya, tetapi udara panas bagaikan menyengatnya, karena Pangeran Singa Narpada tidak cukup jauh menghindar. Namun sekali lagi dengan loncatan panjang ia berhasil mendekati lawannya dan kakinya yang terjulur sempat menggapai lambung. Tetapi serangan kaki itu sama sekali tidak membuat lawannya merasa sakit, karena sentuhan itu memang tidak terlalu keras, sementara itu, daya tahan guru orang-orang bertongkat itu memang tinggi.
Namun demikian sekali lagi Pangeran Singa Narpada menyerang. Ia telah berputar bertumpu pada sebelah tumitnya, sementara kakinya yang lain terayun dengan derasnya. Ketika kaki itu hampir mengenai perut lawannya, maka lawannya itu tidak mengelak sama sekali. Bahkan lawannya itu telah memiringkan tubuhnya dan menangkis serangan itu dengan sikunya.
Terjadi benturan yang keras. Namun Pangeran Singa Narpada lah yang terpaksa bergeser selangkah surut, sementara lawannya tetap berada ditempatnya.
Guru dari orang-orang bertongkat itu pun merasa, bahwa ia memiliki kekuatan yang lebih besar dari lawannya. Karena itu, maka ia sama sekali tidak merasa cemas lagi jika serangan-serangan Pangeran Singa Narpada yang datang dengan cepat, tetapi tidak menyakitinya.
Perasaan itulah yang membuat orang itu menjadi lengah. Pada saat-saat ia berusaha memaksakan kemenangannya, karena ia ingin dengan cepat menyelesaikan pertempuran untuk menolong murid-muridnya, maka ia tidak lagi berusaha menghindari serangan-serangan Pangeran Singa Narpada. Dengan mengerahkan daya tahannya, ia telah menangkis hampir semua serangan. Sementara itu serangan-serangannya sendiri masih belum juga berhasil mengenai lawannya, meskipun kadang-kadang sentuhan udara yang panas karena ilmu orang itu pun telah terasa oleh Pangeran Singa Narpada.
Namun dalam pada itu, datanglah saat-saat yang sama sekali tidak diperhitungkan oleh lawan Pangeran Singa Narpada itu. Ketika Pangeran Singa Narpada mulai mengerahkan ilmunya, maka perlahan-lahan namun pasti, ia akan mampu menguasai lawannya.
Dalam setiap sentuhan, maka seakan-akan Pangeran Singa Narpada telah menghisap sebagian kekuatan lawannya. Sedikit demi sedikit, tanpa terasa. Namun beberapa saat kemudian, maka lawan Pangeran Singa Narpada itu mulai merasa satu kelainan didalam dirinya.
Ketika ia melepaskan serangannya, maka ia merasa bahwa serangannya tidak lagi terasa mantap. Ledakan yang terjadi tidak lagi menghentak, dan mengejutkan. Apalagi ketika ia mencoba bertahan dengan menangkis serangan Pangeran Singa Narpada. Rasa-rasanya tenaganya menjadi semakin lemah.
Sepercik pertanyaan telah menyentuh hati guru dari orang-orang bertongkat itu. Beberapa kali ia mencoba membentur kekuatan Pangeran Singa Narpada. Namun tiba-tiba saja orang itu berteriak, “Licik kau Pangeran. Kau mempergunakan ilmu yang tidak pantas dipergunakan dalam pertempuran antara laki-laki jantan. Kau berlaku sebagai seorang pencuri yang dengan bersembunyi-sembunyi telah mencuri kekuatannya.”
Pangeran Singa Narpada termangu-mangu sejenak. Seperti Ki Ajar Bomantara, maka orang ini pun menganggapnya licik.
“Apakah benar aku telah bertempur dengan licik?” pertanyaan itu pun terasa mengganggu sekali didalam jantung Pangeran Singa Narpada.
Dalam pada itu, ketika Pangeran Singa Narpada sedang dicengkam oleh keragu-raguan, maka sebuah serangan telah menyambarnya. Pangeran Singa Narpada terkejut. Meskipun ia sempat mengelak, tetapi serangan itu telah menyentuh kulitnya.
Pangeran Singa Narpada bagaikan terlempar beberapa langkah dan jatuh berguling. Untunglah ia sempat mengelak ketika serangan berikutnya menyambarnya, sehingga tanah tempat ia berguling itulah yang bagaikan telah meledak, meskipun ledakannya tidak lagi sedahsyat pada saat-saat ilmu itu mulai ditrapkan.
Sambil melenting Pangeran Singa Narpada telah menyerang lawannya. Guru dari orang-orang bertongkat itu-pun segera menghindarinya. Ia tidak lagi mau terjebak dalam hisapan kekuatan oleh ilmu Pangeran Singa Narpada.
Tetapi gerak Pangeran Singa Narpada demikian cepatnya. Demikian lawannya mengelak, maka ia pun lelah memburunya, sehingga tangannya berhasil menyentuh pundak guru dari orang-orang bertongkat itu.
Sentuhan itu memang tidak menyakiti. Tetapi dengan demikian selapis lagi kekuatannya telah terhisap.
“Gila,” geram orang itu. Sementara itu, Pangeran Singa Narpada telah melibatnya bagaikan angin pusaran.
Lawannya tidak mampu mengelakkan diri sepenuhnya. Beberapa kali Pangeran Singa Narpada berhasil menyentuhnya, sehingga lawannya telah kehilangan beberapa lapis lagi kekuatannya. Namun demikian, lawannya telah berhasil pula mengenai lengan Pangeran Singa Narpada telah terpental dan jatuh berguling di tanah.
Perasaan sakit yang luar biasa telah menyengat tubuhnya. Lengannya bagaikan terbakar, sementara kulitnya terasa telah terkelupas.
Meskipun demikian, Pangeran Singa Narpada masih melihat serangan berikutnya yang datang ke arahnya, sehingga sambil menyeringai ia masih sempat meloncat menghindar.
Sejenak kemudian, betapapun perasaan sakit membakar lengannya, namun ia telah bersiap untuk menghadapi segala kemungkinan.
Pertempuran antara kedua orang berilmu tinggi itu nampaknya menjadi semakin cepat. Tetapi tenaga dan kemampuan mereka sebenarnya telah jauh susut, sehingga setiap serangan rasa-rasanya tidak terasa menggetarkan lagi.
Bersambung.....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar