*HIJAUNYA LEMBAH. JILID 027-4*
Dengan tergesa-gesa orang itu pun telah berjalan menuju ke istana Pangeran Singa Narpada, sementara Pangeran Singa Narpada berpesan kepada orang-orang yang melihat peristiwa itu, agar apa yang mereka lihat, jangan disebar luaskan dahulu.
Demikianlah, ketika orang yang mendapat perintah Pangeran Singa Narpada itu sampai di istananya dan menghubungi perwira prajurit yang bertugas, maka perwira yang memimpin para petugas di Gedung Perbendaharaan pun telah berada di istana itu pula.
Karena itu, maka ia pun telah mendengar dari mulut orang yang mendapat perintah dari Pangeran Singa Narpada, apa yang telah terjadi.
Dengan demikian maka para prajurit yang bertugas di istana Pangeran Singa Narpada pun menjadi sibuk. Dengan tergesa-gesa mereka telah menyiapkan beberapa ekor kuda.
Sejenak kemudian beberapa orang prajurit telah berderap menuju ke tempat yang telah disebut oleh orang yang memberitahukan apa yang telah terjadi dengan Pangeran Singa Narpada itu. Bahkan perwira yang bertugas di Gedung Pembendaharaan itu telah ikut pula bersama mereka. Rasa-rasanya ia memang ingin bertemu dengan Pangeran Singa Narpada, apapun yang akan terjadi atas dirinya, biarlah terjadi.
Akhirnya Mahisa Agni, Witantra dan Mahendra telah ikut bersama Pangeran Singa Narpada. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat memang memerlukan perawatan yang lebih baik agar luka mereka yang parah tidak membahayakan jiwa mereka.
Sejenak kemudian, maka pedati-pedati itu pun telah meninggalkan bekas medan yang garang itu. Diiringi beberapa orang prajurit, maka iring-iringan itu memang tidak dapat menghindarkan diri dari perhatian rakyat Kediri.
Namun para prajurit yang mengawal pedati-pedati itu tidak memberikan kesan ketegangan sama sekali. Wajah mereka nampak cerah dan sikap mereka pun tidak menjadi garang. Mereka tidak memegang senjata di tangan. Sehingga dengan demikian, maka orang-orang yang melihat iring-iringan itu tidak mendapat kesan bahwa sesuatu yang garang telah terjadi di Kediri.
Dalam pada itu, Mahisa Agni dan Witantra berada didalam pedati yang sama dengan Pangeran Singa Narpada yang lemah. Sementara Mahendra menunggu kedua anaknya yang dibaringkannya didalam pedati yang lain. Di pedati berikutnya, terbaring orang-orang bertongkat yang terluka dan menjadi lemah sekali. Di sebelah menyebelah pedati-pedati yang dipergunakan untuk membawa mereka, para pengawal berkuda mengamatinya dengan cermat, meskipun tidak menimbulkan kesan kegarangan. Bahkan orang-orang yang berada ditepi jalan melihat para pengawal itu seakan-akan sedang mengiringi para bangsawan yang sedang bertamasya.
Beberapa saat kemudian pedati-pedati itu telah memasuki halaman istana Pangeran Singa Narpada. Sementara itu perwira yang bertugas di Gedung Perbendaharaan Istana diperintahkan untuk kembali ke tugasnya.
“Kalian tidak perlu memberikan laporan apapun juga. Peti itu akan segera aku kembalikan ke tempatnya. Aku yakin meskipun aku belum melihatnya, tidak ada benda-benda berharga lainnya yang hilang,” berkata Pangeran Singa Narpada.
Perwira itu pun mengangguk hormat. Kemudian ia pun telah memisahkan diri dan kembali ke tempat tugasnya.
Para prajurit yang bertugas semalam menerima kedatangan perwiranya dengan jantung yang berdebar-debar. Rasa-rasanya mereka tidak tahan lagi menunggu terlalu lama karena ketegangan yang mendesak didalam dada mereka.
Karena itu, begitu perwira itu meloncat dari kudanya maka para prajurit itu pun telah mendekatinya dan kemudian mengerumuninya.
“Apakah kami akan digantung?” bertanya salah seorang prajurit.
Perwira itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku belum tahu, hukuman apa yang akan ditimpakan kepada kita. Tetapi Pangeran Singa Narpada memerintahkan untuk menutup kembali pintu yang terbuka itu. Pangeran Singa Narpada tidak merasa perlu untuk melihat isinya lebih dahulu. Mungkin karena Pangeran Singa Narpada yakin bahwa memang tidak ada benda berharga yang hilang, tetapi mungkin juga karena Pangeran Singa Narpada masih dalam keadaan yang sangat lemah.”
“Apa yang terjadi dengan Pangeran Singa Narpada?” bertanya para prajurit.
Perwira itu menarik nafas dalam-dalam. Pangeran Singa Narpada masih belum menceriterakan secara terperinci, apa yang telah terjadi atas dirinya dan orang-orang yang terbunuh dan terluka. Namun serba sedikit perwira itu sudah dapat menangkap peristiwa yang mendebarkan.
Dengan singkat ia berkata, “Ada kekuatan yang telah memasuki Gedung Perbendaharaan ini. Agaknya kita sudah dicengkam oleh kekuatan sirep yang sangat kuat, sehingga kita semuanya telah tertidur nyenyak. Peristiwa ini mirip sekali dengan saat-saat sebuah benda yang paling berharga hilang dari Gedung Perbendaharaan ini. Hal itu ternyata telah terulang kembali, meskipun menurut Pangeran Singa Narpada, tidak ada sesuatu yang hilang. Mungkin isi dari peti perak itu sudah berhasil dikuasai kembali oleh Pangeran Singa Narpada, sehingga Pangeran Singa Narpada menganggap bahwa tidak ada sesuatu yang pantas digelisahkan.”
Keterangan perwira itu memang sedikit dapat menurunkan ketegangan para prajurit. Tetapi para prajurit itu pun tahu, bahwa Pangeran Singa Narpada bukan seorang yang dikendalikan saja oleh perasaannya. Mungkin penalarannya telah mengekangnya untuk dengan cepat mengambil keputusan. Namun sikapnya yang keras dan tidak berdebar-debar, karena tidak mustahil mereka dipanggil oleh Pangeran Singa.Narpada dan sambil memandangi dengan wajah yang tenang tanpa menunjukkan sikap yang keras, Pangeran itu mengucapkan keputusan hukuman bagi mereka.
Namun dalam pada itu, perwira itu pun telah mematuhi perintah Pangeran Singa Narpada. Ia sama sekali tidak membuat laporan apapun. Perwira itu mengerti, bahwa laporan yang diberikannya jika ia menyebut juga tentang peti perak yang hilang, maka hal itu tentu akan menggembirakan lingkungan keprajuritan dan tidak mustahil akan segera sampai kepada Sri Baginda. Padahal, sama sekali tidak terjadi sesuatu sebagaimana dimaksud oleh Pangeran Singa Narpada.
Dengan demikian, maka yang tidak terjadi sesuatu itu akan dapat menimbulkan persoalan yang mungkin akan berkepanjangan.
Karena itu, maka perwira itu juga memerintahkan kepada para prajuritnya untuk tidak menyebut-nyebut apa yang telah mereka alami. Mereka tidak usah mengatakan tentang sirep dan apa yang telah terjadi atas mereka.
Beberapa orang prajurit yang berkuda di pagi-pagi yang dingin itu memang menarik perhatian beberapa orang. Tetapi karena para prajurit itu nampaknya tidak menunjukkan sesuatu yang menimbulkan persoalan di dalam hati orang-orang yang melihatnya, maka beberapa saat kemudian, mereka pun telah melupakannya.
Dalam waktu yang singkat, maka para prajurit itu sudah sampai di tempat Pangeran Singa Narpada menunggu. Mereka pun menjadi berdebar-debar ketika mereka melihat keadaan Pangeran Singa Narpada, dan bahkan beberapa sosok tubuh yang terbaring.
“Apa yang telah terjadi Pangeran?” bertanya perwira yang memimpin sekelompok prajurit itu.
“Ceritera yang panjang,” jawab Pangeran Singa Narpada, “sekarang usahakan untuk mengatasi peristiwa ini agar tidak menimbulkan persoalan yang dapat menggelisahkan rakyat Kediri khususnya di Kota Raja ini.”
Perwira itu tidak mendesak untuk mendengar peristiwa itu dalam keseluruhan. Pangeran Singa Narpada hanya memberikan beberapa perintah tentang mayat-mayat yang terdapat di tempat itu, serta mencari beberapa buah pedati untuk membawa mereka yang terluka dan yang tertawan.
“Aku sendiri juga harus menumpang sebuah pedati,” berkata Pangeran Singa Narpada.
Perwira itu pun segera melaksanakan perintah Pangeran Singa Narpada dibantu oleh orang-orang yang tinggal di sekitar tempat kejadian itu. Namun dengan pesan, agar peristiwa itu tidak menimbulkan kegelisahan, sehingga orang-orang yang ikut menyelenggarakan beberapa sosok mayat, mendapat pesan untuk berhati-hati jika mereka pada suatu saat harus menceriterakan kejadian yang mereka lihat itu.
Dalam pada itu, perwira yang bertugas di Gedung Perbendaharaan Istana tidak sabar lagi menunggu. Karena itu, ketika para prajurit dan orang-orang di sekitar tempat itu sibuk mengurusi mayat-mayat dan orang-orang yang terluka maka perwira itu telah menghadap Pangeran Singa Narpada yang masih sangat lemah untuk menyampaikan persoalannya.
“Ampun Pangeran, hukuman apapun yang harus kami terima, kami tidak akan ingkar. Tetapi perkenankanlah kami mengetahui, apakah peti perak itu memang hilang atau hanya dipindahkan tempatnya saja, atau mungkin justru selain peti itu ada juga benda-benda berharga lainnya yang hilang,” bertanya perwira itu.
Pangeran Singa Narpada menarik nafas dalam-dalam. Kemudian sambil menunjuk sebuah peti perak yang dibawa oleh orang-orang yang telah dilumpuhkan itu Pangeran Singa Narpada bertanya, “Peti itu yang kau maksud?”
Wajah orang itu menegang. Ia melihat sebuah peti perak yang tergeletak begitu saja di dekat tempat yang menjadi ajang pertempuran itu. Dengan ragu-ragu orang itu pun kemudian bertanya, “Apa artinya ini Pangeran?”
“Nanti aku akan berceritera,” berkata Pangeran Singa Narpada, “tetapi jangan cemas tentang peti perak itu.”
Perwira itu menarik nafas dalam-dalam. Namun ia masih juga bertanya, “Atau mungkin ada benda-benda lain yang hilang?”
“Aku belum melihatnya, tetapi aku kira tidak ada benda lain yang hilang, karena yang mereka cari adalah peti perak itu,” jawab Pangeran Singa Narpada.
“Bukankah di dalam peti itu tersimpan benda yang paling berharga?” bertanya perwira itu.
“Peti itu kosong. Seandainya tidak ada seorang pun yang melihat, maka kita tidak akan merasa kehilangan apapun juga kecuali peti itu sendiri,” jawab Pangeran Singa Narpada, “tetapi baiklah kita berbicara nanti tentang peti itu. Sekarang aku memerlukan kalian untuk menghapuskan bekas-bekas peristiwa yang baru saja terjadi.”
Perwira itu tidak bertanya lebih lanjut. Tetapi dengan demikian, maka ia tidak lagi dibayangi oleh ketegangan tentang benda-benda berharga yang hilang. Peti perak itu ternyata tidak berisi apapun juga. Apalagi benda yang paling berharga sebagaimana dicemaskannya.
Dalam pada itu, maka dengan cepat segala sesuatunya telah diselesaikan. Telah datang pula ke tempat itu beberapa buah pedati yang akan dipergunakan untuk membawa orang-orang yang tertawan, yang ternyata juga telah terluka, Pangeran Singa Narpada sendiri serta Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang meskipun sudah sadar, tetapi keadaannya masih sangat lemah.
Kepada orang-orang yang tinggal di sekitar tempat itu, sekali lagi Pangeran Singa Narpada berpesan, agar mereka tidak membuat kegelisahan dengan ceritera yang berlebihan.
“Semuanya sudah diatasi,” berkata Pangeran Singa Narpada, “karena itu, maka jika kalian berceritera harus ada kesan, bahwa tidak akan ada bahaya apapun yang mengancam kita semuanya.”
Orang-orang yang tinggal di sekitar, arena itu dan yang telah membantu menyelesaikan akibat dari pertempuran itu mengangguk-angguk. Sebenarnyalah mereka memang melihat bahwa Pangeran Singa Narpada dan beberapa orang yang belum mereka kenal, telah mengatasi semua kesulitan.
Mahisa Agni, Witantra dan Mahendra tidak dapat menolak ketika Pangeran Singa Narpada mempersilahkan mereka untuk singgah di Istana Pangeran Singa Narpada.
“Kami tinggal di rumah sahabat kami,” berkata Mahisa Agni, “karena itu, maka sebaiknya kami minta diri lebih dahulu.”
“Biarlah orang itu juga diundang ke istana kami,” berkata Pangeran Singa Narpada, “dengan demikian, maka kita tidak kehilangan waktu sekarang ini, mengingat keadaan kedua anak muda itu.”
Kepada para prajuritnya perwira itu berkata, “Biarlah Pangeran Singa Narpada sendiri melihatnya dan memberikan laporan kepada Sri Baginda. Dengan demikian maka semuanya akan jelas sebagaimana adanya. Jika Sri Baginda hanya sekedar mendengar dari mulut kemulut dan ceritera orang-orang yang tidak berhak, maka mungkin ceritera itu akan berkisar dari keadaan yang sebenarnya.”
Karena itulah, maka para jurit sama sekali tidak berbicara tentang peristiwa yang telah terjadi semalam. Mereka saling berdiam diri, seolah-olah tidak pernah terjadi sesuatu.
Sementara itu, Pangeran Singa Narpada di istananya telah mendapat pengobatan yang sebaik-baiknya. Seorang tabib yang terbiasa merawatnya telah diundang.
Namun ternyata tabib itu berkata, “Ampun Pangeran. Keadaan Pangeran ternyata cukup gawat. Karena itu, pengobatannya adalah diluar kemampuanku. Namun aku akan memanggil seorang kawanku yang akan bersama-sama dengan aku mencoba mengobati Pangeran. Luka-luka di dalam tubuh Pangeran bukan sekedar luka sewajarnya. Karena itu, untuk menyembuhkannya juga diperlukan perawatan yang khusus.”
Dengan demikian, maka di istana itu telah hadir dua orang tabib yang bukan hanya sekedar mengobati Pangeran Singa Narpada, tetapi juga yang lain-lain. Bahkan juga orang-orang bertongkat yang telah menjadi tawanan.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun mendapat perhatian yan sungguh-sungguh karena keduanya benar-benar dalam keadaan yang gawat. Untunglah, bahwa dalam saluran ilmu, Witantra dan Mahendra setiap kali dapat membantunya dengan menyalurkan ketahanan di dalam tubuh masing-masing membantu kesulitan yang dialami oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat didalam dirinya.
“Aku harus segera melaporkan keadaan ini kepada Sri Baginda,” berkata Pangeran Singa Narpada, “Sri Baginda harus mendengar laporan ini dari mulutku langsung agar Sri Baginda tidak mendapat gambaran yang salah.”
“Tetapi Pangeran harus beristirahat dahulu,” berkata Mahisa Agni, “jika keadaan Pangeran sudah berangsur baik, maka Pangeran akan dapat menghadap Sri Baginda.”
“Tetapi selama itu, berita yang bersimpang siur telah didengar oleh Sri Baginda,” berkata Pangeran Singa Narpada, “karena itu, maka aku harus menghadap meskipun keadaan masih, sangat lemah. Aku memang memerlukan seorang kawan yang akan dapat membantuku.”
“Mungkin satu dua orang perwira kepercayaan Pangeran?” bertanya Mahisa Agni, “namun Pangeran harus dapat membatasi diri. Menghadap sebagaimana perlunya saja. Selanjutnya Pangeran harus beristirahat sebanyak-banyaknya.”
“Bagaimana jika kita menghadap bersama-sama?” bertanya Pangeran Singa Narpada.
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Pangeran, sebaiknya aku tidak menghadap Sri Baginda. Pangeran pun tidak usah melaporkan kehadiranku di Kediri.”
“Kenapa?” bertanya Pangeran Singa Narpada.
“Aku ingin berada di Kediri tanpa ikat-ikatan paugeran justru karena aku pernah berada di Kediri,” jawab Mahisa Agni.
Pangeran Singa Narpada menarik nafas dalam-dalam. Namun katanya, “Baiklah. Aku akan menyebut orang-orang yang tidak dikenal yang telah membantuku.”
Mahisa Agni tersenyum. Dengan nada datar ia berkata, “Aku mengerti kesulitan Pangeran untuk memberikan laporan, karena Pangeran tentu tidak seorang diri mengatasi orang-orang yang memasuki Gedung Perbendaharaan. Apalagi empat orang di antara mereka dapat ditangkap hidup-hidup.”
“Aku akan menyebut anak-anak muda yang terluka itu dan guru mereka yang kemudian dengan tergesa-gesa meninggalkan istana ini,” berkata Pangeran Singa Narpada.
Mahisa Agni tersenyum. Namun sementara itu, setelah berbicara dengan Witantra dan Mahendra, Pangeran Singa Narpada memutuskan untuk melaporkannya sebagaimana dikatakannya itu.
Tetapi karena keadaan Pangeran Singa Narpada yang lemah, terpaksa Pangeran Singa Narpada mempergunakan sebuah kereta untuk naik kereta yang ditarik oleh seekor kuda. Tetapi biasanya ia lebih senang naik kuda saja.
Kedatangannya memang sudah ditunggu oleh Sri Baginda. Ternyata Sri Baginda telah mendengar laporan tentang ristiwa yang baru saja terjadi meskipun tidak lengkap dan simpang siur.
“Aku memang menunggu kedatanganmu,” berkata Sri Baginda.
“Ampun Sri Baginda,” jawab Pangeran Singa Narpada, “hamba telah datang terlambat.”
“Aku telah mendengar bahwa sesuatu telah terjadi di luar dinding istana. Banyak orang yang menyaksikan, kau tarluka dalam satu pertempuran. Namun lawan-lawanmu telah terbunuh dan tertangkap,” berkata Sri Baginda.
Pangeran Singa Narpada menarik nafas dalam-dalam. Memang sulit untuk merahasiakan satu peristiwa yang dilihat oleh banyak orang. Mungkin mereka tidak dengan sengaja menyebarkan berita itu dan apalagi memutarbalikkan kenyataan yang terjadi. Namun karena mereka sekedar membicarakannya sehingga berita itu tersebar dari mulut kemulut, maka kemungkinan bahwa berita itu telah berkembang dan menyusut, memang besar sekali.
Dengan nada dalam Pangeran Singa Narpada pun kemudian berkata, “Ampun Sri Baginda. Justru karena hamba telah terluka cukup parah, maka hamba telah terlambat menghadap untuk memberikan laporan.”
Sri Baginda mengangguk-angguk. Ia memang melihat keadaan Pangeran Singa Narpada yang sangat lemah. Bahkan masih nampak pada wajahnya yang kadang-kadang menjadi tegang menahan sakit didalam tubuhnya.
“Sebaiknya kau beristirahat,” berkata Sri Baginda.
“Hamba memang akan segera mohon ijin untuk beristirahat sesuai pula dengan petunjuk tabib yang mengobati hamba,” berkata Pangeran Singa Narpada, “namun hamba ingin menyampaikan laporan terperinci, agar Sri Baginda dapat mendengar langsung dari mulut hamba, karena jika Sri Baginda mendengar dari pihak yang lain, mungkin akan ada selisih dari kenyataan yang terjadi di Gedung Perbendaharaan itu.”
Sri Baginda mengangguk-angguk. Katanya, “Aku mengerti maksudmu. Katakanlah. Dengan demikian maka kau akan dapat segera beristirahat.”
Pangeran Singa Narpada menarik nafas dalam-dalam. Namun ia pun kemudian memberikan laporan terperinci tentang peristiwa yang terjadi di istana dan tentang peti peraknya yang diambil oleh orang-orang yang mempergunakan cara seperti yang pernah terjadi. Para penjaga telah terbius oleh ilmu sirep yang justru sangat tajam, sehingga tidak terlawan oleh para perwira yang bertugas.
“Tetapi seandainya tidak ada orang yang melihat peti perak itu diambil seseorang, maka kita tidak akan kehilangan,” berkata Pangeran Singa Narpada.
“Kenapa?” bertanya Sri Baginda.
“Mahkota itu tidak ada didalam peti perak itu,” jawab Pangeran Singa Narpada.
“Aku sudah menduga. Tetapi kenapa kau curiga dan tidak menyimpan mahkota itu didalamnya,” bertanya Sri Baginda.
“Orang bertongkat itu mengatakan, bahwa peti dapat menyerap cahaya teja. Tetapi ketika mahkota itu sudah ada didalam peti perak itu, maka ketika dengan susah payah aku memusatkan penglihatan batinku, ternyata aku masih melihat cahaya itu berdiri tegak seakan-akan menusuk langit. Dengan demikian aku menjadi curiga karenanya, dan aku tidak menyimpan mahkota itu didalam peti perak, karena aku sudah menduga, bahwa cara itu sekedar untuk mempermudah orang-orang didalam gerombolan itu untuk mengambilnya.”
Sri Baginda mengangguk-angguk. Namun Sri Baginda sudah dapat menelusuri cara berpikir Pangeran Singa Narpada sehingga ialah yang kemudian justru telah mengelabuhi orang-orang yang ingin mencuri pusaka yang sangat berharga.
Namun kemudian Sri Baginda pun bertanya, “Tetapi siapakah orang-orang yang telah membantumu. Menurut pendengaranku, sama sekali bukan prajurit Kediri.”
“Anak-anak muda dari sebuah perguruan bersama gurunya,” jawab Pangeran Singa Narpada, “dua anak muda yang membantu hamba untuk menangkap orang-orang yang mencuri peti itu. Sebenarnya hamba dapat membiarkan saja mereka membawa peti itu karena peti itu memang tidak berisi mahkota sebagaimana mereka inginkan. Tetapi timbul keinginan hamba untuk menangkap mereka dan kemudian bertanya kepada mereka, apakah hal itu mereka lakukan untuk kepentingan mereka sendiri, atau ada pihak lain yang memperalat mereka. Karena itu, maka terjadilah pertempuran, yang ternyata dalam pertempuran itu hamba tetah terluka dan kedua anak muda itu telah terluka parah. Namun hamba telah berhasil membunuh guru dari orang-orang yang berusaha mencuri mahkota itu.”
Sri Baginda menarik nafas dalam-dalam. Namun Pangeran Singa Narpada telah memenuhi permintaan Mahisa Agni dan Witantra untuk tidak menyebut namanya.
Ketika Sri Baginda bertanya, siapakah guru anak-anak muda yang terluka itu, maka Pangeran Singa Narpada menjawab, “Namanya Mahendra. Sebenarnya ia adalah seorang pedagang keliling. Mahendra bukan seorang pertapa yang tinggal di sebuah padepokan. Tetapi ia telah menjadikan kedua orang anaknya sebagai muridnya.”
“Dimanakah Mahendra itu sekarang?” bertanya Sri Baginda.
Pangeran Singa Narpada ragu-ragu untuk mengatakan bahwa Mahendra masih berada di rumahnya. Karena dengan demikian Sri Baginda akan dapat memanggilnya dan bertanya tentang bermacam-macam persoalan. Jika ada terselip kata, Mahendra akan dapat menyebut Mahisa Agni atau Witantra.
Karena itu, maka Pangeran Singa Narpada pun berkata, “Mahendra telah meninggalkan Kediri. Namun setiap saat ia akan kembali ke rumah hamba, karena kedua anaknya ada di rumah hamba untuk mendapat pengobatan.”
Pangeran Singa Narpada termangu-mangu ketika Sri Baginda tidak segera menyatakan sesuatu.
Namun akhirnya Sri Baginda berkata, “Baiklah. Jika kedua anak yang membantumu itu sembuh, bawalah mereka menghadap. Adalah lebih baik jika kau bawa juga ayahnya yang juga gurunya itu apabila pada suatu saat ia datang.”
“Hamba Sri Baginda,” jawab Pangeran Singa Narpada, “Mahendra adalah seorang pedagang keliling. Pada suatu saat yang dekat ia tentu akan datang ke Kediri. Selain menengok anaknya ia juga mempunyai hubungan dagang dengan beberapa orang Kediri.”
“Baiklah,” sahut Sri Baginda. Namun kemudian ia pun bertanya, “Tetapi bagaimana dengan orang-orang yang kau tawan?”
“Mereka masih dalam keadaan parah. Jika mereka berangsur baik, maka kita akan dapat menyadap keterangan dari orang-orang itu,” jawab Pangeran Singa Narpada. “Mudah-mudahan dengan perawatan yang baik, mereka akan cepat sembuh, setidak-tidaknya mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan kita.”
Sri Baginda mengangguk-angguk. Dengan laporan Pangeran Singa Narpada ia menjadi jelas, apa yang telah terjadi. Ternyata bahwa Pangeran Singa Narpada telah menyelamatkan lagi mahkota yang ternyata hampir saja hilang lagi setelah dengan mempertaruhkan nyawanya Pangeran Singa Narpada mencarinya hingga mahkota itu diketemukan.
Dan kini Pangeran Singa Narpada pun dalam keadaan terluka sehingga keadaannya masih sangat lemah.
Namun karena itu, maka Sri Baginda pun berkata, “Singa Narpada. Bukankah dengan peristiwa-peristiwa itu berarti bahwa beberapa pihak diluar istana ini mengetahui, dan bahkan mereka menerima anggapan bahwa di dalam mahkota itu telah tersimpan wahyu keraton.”
“Ya Sri Baginda,” jawab Pangeran Singa Narpada, “anggapan itu tentu akan tersebar semakin lama semakin luas. Orang-orang akan menganggap bahwa siapa yang memiliki atau menyimpan mahkota itu akan dapat memegang kekuasaan di Kediri. Anggapan itulah yang berbahaya, sehingga banyak pihak yang berusaha untuk memiliki mahkota itu.”
“Dengan demikian maka kita harus memikirkan, cara pengamanan yang lebih baik dari masa yang lewat. Jika kali ini kau tidak menaruh kecurigaan dan menyimpan mahkota itu dengan cara yang khusus, maka mahkota itu tentu sudah hilang lagi dari Gedung Perbendaharaan,” berkata Sri Baginda.
Pangeran Singa Narpada mengangguk-angguk. Katanya, “Kita akan segera mengambil langkah-langkah Sri Baginda.”
Sri Baginda pun mengangguk-angguk pula. Namun nampak oleh Sri Baginda bahwa keadaan Pangeran Singa Narpada masih sangat letih. Karena itu maka katanya, “Baiklah Singa Narpada. Kita masih akan dapat berbicara panjang jika keadaanmu sudah memungkinkan. Sekarang kembalilah ke istanamu. Beristirahatlah sebaik-baiknya. Untuk langkah pertama, maka kau akan memerintahkan untuk melipatkan penjagaan. Prajurit akan tersebar di satu daerah yang luas, sehingga apabila terjadi lagi seorang yang memiliki ilmu sirep yang tajam, maka prajurit yang tersebar itu akan mengalami tingkat cengkaman ilmu sirep yang berbeda, sehingga memungkinkan beberapa orang diantaranya dapat mengenalinya. Kelak jika kau sudah baik, maka segalanya terserah kepadamu.”
“Ampun Baginda,” berkata Pangeran Singa Narpada. “Terima kasih atas kesempatan bagi hamba untuk beritirahat. Namun hamba masih ingin singgah sejenak di Gedung Perbendaharaan Istana untuk melihat dan meneliti apa yang telah terjadi.”
Demikianlah maka Pangeran Singa Narpada pun mengundurkan diri dari hadapan Sri Baginda. Bersama perwira yang menyertainya telah pergi ke Gedung Perbendaharaan. Dengan cermat ia melihat isi Gedung Perbedaharaan yang ternyata masih utuh itu. Mahkota yang menjadi sasaran orang-orang bertongkat itu masih berada dilemparnya, karena mahkota itu memang tidak disimpan di dalam peti perak, meskipun peti perak itu semula diletakkan di tempat yang langsung dapat menarik perhatian orang-orang yang memasuki Gedung Perbedaharaan.
Dengan demikian maka dengan hati yang tenang, Pangeran Singa Narpada telah berkata kepada perwira yang bertugas pada saat mahkota itu hilang, “Jangan cemas. Kau tidak kehilangan apapun juga malam ini, kecuali nyawaku yang hampir saja dibawa oleh para pencuri itu.”
“Ampun Pangeran,” perwira itu menunduk dalam-dalam, “hukuman apapun yang harus kami pikul, akan kami jalani dengan pasrah.”
“Kalian tidak akan dihukum. Tetapi kalian harus lebih berhati-hati. Kalian harus berjuang melawan ilmu sirep. Sebab jika kalian menyerah, maka kalian benar-benar akan dicengkam oleh ilmu itu tanpa dapat melawan.”
“Kami mengerti Pangeran,” jawab perwira itu, “kami telah mendapat satu pengalaman yang sangat menarik kali ini.”
“Baiklah,” jawab Pangeran Singa Narpada, “kalian akan segera mendapat kesempatan beristirahat, karena pengganti kalian seharusnya telah melakukan tugasnya sejak pagi hari. Kalian dapat menceriterakan pengalaman kalian kepada pengganti kalian agar pengganti kalian menjadi berhati-hati. Meskipun beberapa orang diantara mereka telah tertangkap, tetapi kita tidak tahu, apakah jumlah mereka dan para pengikutnya yang lain tidak akan berbuat apa-apa.”
“Baiklah Pangeran,” jawab perwira itu, “hamba akan melakukannya sebaik-baiknya.”
Dengan demikian, maka Pangeran Singa Narpada itu pun meninggalkan istana itu dengan hati yang tenang. Apalagi Sri Baginda memang sudah memerintahkan untuk memperkuat penjagaan dan memberikan perintah kepada perwira untuk mengambil langkah-langkah menghindari cengkaman sirep yang tajam yang akan dapat membius semua orang petugas.
Pangeran Singa Narpada yang masih sangat lemah itu pun kemudian telah kembali ke istananya dan menceriterakan apa yang telah dilakukannya.
“Aku mengatakan bahwa yang ada di istana ini tinggal kedua anak-anak muda itu,” berkata Pangeran Singa Narpada kemudian.
“Terima kasih Pangeran,” jawab Mahisa Agni, “dengan demikian telah dihindari satu hubungan yang diikat oleh paugeran dan basa basi yang justru akan menjadi sangat aku dan menegangkan. Agaknya kami yang tua-tua ini lebih senang berada di Kediri dengan cara ini.”
“Aku mengerti,” sahut Pangeran Singa Narpada, “karena itu aku tidak melaporkannya kepada Sri Baginda. Mudah-mudahan hal ini tidak menjadi sebab kesalahanku jika pada suatu saat Sri Baginda mengetahuinya.”
“Bagaimana dengan orang-orang yang terbunuh dan yang menyerah,” bertanya Mahisa Agni.
Mahisa Agni tersenyum. Namun ia pun kemudian berkata, “Sri Baginda tidak akan mengetahui Pangeran. Kami memang tidak akan terlalu lama berada di Kediri.”
“Kami sama sekali tidak mengusir kalian,” jawab Pangeran Singa Narpada, “kami akan senang sekali jika kalian tetap tinggal disini.”
“Terima kasih,” jawab Mahisa Agni, “kami berdua adalah perantau yang tidak akan dapat menetap terlalu lama di sini. Kami akan meninggalkan Kediri, tetapi kami masih akan singgah dan bermalam barang satu malam di rumah pekatik sahabat kami itu.”
“Menyesal sekali,” berkata Pangeran Singa Narpada, “tetapi bagaimana dengan anak-anak muda itu?”
“Kami titipkan kedua orang anak itu disini,” jawab Mahendra, “Aku sendiri terutama akan segera kembali. Nampaknya aku juga akan mendapat pasaran di sini dengan barang-barang jualanku.”
“Aku akan membantu,” berkata Pangeran Singa Narpada, “jika kau membawa permata yang tidak terlalu mahal serta barangkali wesi aji yang menarik, para prajurit terutama para perwira akan menjadi pembeli cukup banyak.”
Dengan demikian maka orang-orang tua itu pun telah bersiap-siap untuk meninggalkan istana itu. Tetapi atas permintaan Pangeran Singa Narpada mereka masih tinggal semalam lagi. Dengan demikian maka keadaan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menjadi semakin baik ketika orang-orang tua itu benar-benar meninggalkan mereka untuk pergi bermalam satu malam di rumah pekatik tempat mereka menumpang sejak mereka berada di Kediri.
“Bukankah di istana Pangeran Singa Narpada keadaannya jauh lebih baik dari di rumah ini tuan,” berkata pekatik itu.
“Ingat Ki Sanak,” jawab Mahisa Agni, “kami adalah pengembara.”
Pekatik itu hanya tersenyum. Tetapi ia mengerti maksud jawaban Mahisa Agni itu.
Di rumah itu ketiga orang Singasari itu masih bermalam satu malam. Mereka pun segera meninggalkan rumah pekatik itu untuk menempuh satu perjalanan panjang.
Sementara itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih tetap berada di istana Pangeran Singa Narpada. Mereka mendapat perawatan yang sebaik-baiknya, sehingga keadaan mereka dengan cepat berangsur baik.
Disamping Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, maka ampat orang bertongkat itu pun mendapat perawatan yang baik pula. Mereka pun menjadi berangsur-angsur sembuh pula, sehingga dalam waktu yang terhitung singkat, mereka akan segera dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan.
Namun agaknya keadaan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat lah yang lebih cepat menjadi baik. Ketahanan tubuh anak-anak muda itu benar-benar mengagumkan. Pada waktu-waktu tertentu, ketika orang-orang tua masih berada di istana Pangeran Singa Narpada, mereka telah membantu kedua anak muda itu untuk meningkatkan daya tahan tubuh. mereka serta untuk mengatasi rasa sakit. Namun ketika keadaan kedua anak muda itu berangsur baik, maka hal itu tidak diperlukannya lagi.
Pangeran Singa Narpada benar-benar menjadi heran terhadap kedua orang anak muda itu. Meskipun Pangeran Singa Narpada mengerti bahwa keduanya telah mewarisi satu kekuatan ilmu yang dahsyat, namun dalam usia mereka yang masih sangat muda, keduanya telah mampu mengembangkan ilmu mereka dengan sebaik-baiknya.
Sebenarnyalah pertempuran yang terjadi antara Mahisa Murti dan Mahisa Pukat disatu pihak melawan Kebo Sarik dilain pihak, agaknya sangat berarti bagi kedua anak muda itu. Dengan pertempuran itu, maka keduanya mendapatkan satu pengalaman yang sangat berarti. Dalam keadaan yang tersudut, keduanya telah menghentakkan ilmunya dan bahkan kadang-kadang di luar sadar mereka melakukan sesuatu yang sangat berarti dan menentukan.
Keadaan yang demikian itu, perlu mereka pelajari. Pangeran Singa Narpada yang merasa kagum terhadap anak muda itu tidak segan-segan telah memberikan beberapa petunjuk. Meskipun Pangeran Singa Narpada sendiri terluka dalam pertempuran itu, namun ia sempat berbicara banyak dengan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, meskipun masih terbatas pada kemungkinan keadaan tubuh mereka yang lemah.
Tetapi baik Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, maupun Pangeran Singa Narpada bersama-sama dari hari ke hari menjadi semakin pulih pada keadaan mereka sebagaimana sebelum terjadi peristiwa usaha untuk mengambil mahkota yang disangkanya ada di dalam peti perak itu.
Dalam keadaan yang demikian, maka Pangeran Singa Narpada telah menyempatkan waktunya untuk memberikan petunjuk kepada anak-anak muda itu sesuai dengan dasar ilmu yang ada di dalam diri mereka.
“Ilmu kalian adalah ilmu yang dahsyat,” berkata Pangeran Singa Narpada, “sebagian telah dapat kalian kembangkan dengan baik. Namun jika kalian mendapat banyak kesempatan untuk mengembangkannya terus, maka kalian benar-benar akan menjadi orang-orang yang memiliki kemampuan yang sulit dicari bandingannya.”
“Pangeran terlalu memuji,” berkata Mahisa Murti, “yang kami miliki adalah setitik kecil dari kemungkinan yang sangat luas di dalam dunia olah kanuragan.”
“Yang kau miliki sudah terlalu banyak sebagai bekal dalam umur kalian,” berkata Pangeran Singa Narpada, “karena itu kesempatan kalian masih sangat luas.”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat hanya dapat mengangguk-angguk saja. Namun mereka selalu menyadari bahwa apa yang pernah mereka terima dari ayah mereka barulah tubuh ilmu itu sendiri, sampai ke puncak sehingga masih harus dikembangkannya.
Sementara itu Pangeran Singa Narpada berkata selanjutnya, “Pengalamanmu bertempur melawan Kebo Sarik itu sangat berarti meskipun kau dilukainya, bahkan menurut penilaianku, kau menjadi benar-benar parah.”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun menyadari keadaannya. Lukanya memang sangat parah. Namun keadaan mereka sudah menjadi berangsur baik karena pengobatan yang teratur dan dilakukan oleh ahli yang terpercaya, karena itu adalah tabib pribadi Pangeran Singa Narpada.
Ketika keadaan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sudah hampir sampai pada tataran pulih kembali, maka Pangeran Singa Narpada yang merasa sangat tertarik kepada anak-anak itu pun berkata, “Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Kalian telah membantu kesulitanku tidak hanya kali ini. Tetapi kau ikut pula menemukan Mahkota itu ketika Mahkota itu berhasil diambil dan dibawa keluar dari Gudang Perbendaharaan. Karena itu, maka sudah selayaknya Kediri mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepadamu dan kepada orang-orang terdekat didalam keluargamu. Kakakmu yang kali ini tidak ikut hadir dalam permainan yang sangat berbahaya yang seharusnya tidak aku lakukan, ayahmu sendiri dan kedua pamanmu yang ternyata adalah orang-orang penting yang pernah mewakili Singasari dalam jabatan tertinggi di Kediri. Namun yang kali ini datang dalam ujud sebagai pengembara dan berada di rumah seorang pekatik.”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak menyahut. Tetapi mereka memang merasa berdebar-debar. Pangeran Singa Narpada nampaknya begitu bersungguh-sungguh.
Lalu katanya pula, “Aku minta kalian berdua tidak tergesa-gesa meninggalkan rumahku. Orang-orang yang tertawan itu pun sudah berangsur baik, sehingga akan datang saatnya untuk mengajukan beberapa pertanyaan kepada mereka. Sementara itu, atas nama Kediri aku ingin mengucapkan terima kasih kepada kalian, jika guru dan sekaligus ayahmu itu tidak berkeberatan. Karena itu, aku minta kalian tinggal disini, sampai pada satu hari ayahmu akan datang kemari.”
“Apakah ayah akan datang kemari?” bertanya Mahisa Pukat.
“Tentu. Dan aku yakin bahwa ia akan datang,” jawab Pangeran Singa Narpada, “ayahmu adalah seorang pedagang keliling. Nampaknya ia akan mengadakan hubungan dengan orang-orang Kediri dalam dunia perdagangannya. Selebihnya, ia tentu akan menengok kalian karena pada saat ditinggalkannya, kau masih dalam keadaan terluka.”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak menjawab. Sementara itu Pangeran Singa Narpada berkata selanjutnya, “Terima kasih kami tidak akan banyak berarti bagi kalian, tetapi karena hanya itu yang aku punya, maka aku ingin memberikannya juga kepada kalian, itu pun tergantung pada kalian dan seperti yang aku katakan, jika guru dan sekaligus ayah kalian itu tidak berkeberatan.”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun segera menangkap maksud Pangeran Singa Narpada. Namun sebelum mereka menjawab, Pangeran Singa Narpada meneruskan, “Tetapi jangan salah menangkap maksudku. Aku sama sekali tidak merasa mempunyai kelebihan dari ayah dan sekaligus gurumu itu. Yang ada padaku barangkali tidak sebaik yang ada pada ayahmu. Tetapi agaknya apa yang dimiliki oleh ayahmu itu berbeda dengan yang aku miliki. Jika yang berbeda itu mampu kau tangkap pula, maka didalam dirimu akan tersimpan beberapa macam ilmu. Meskipun ilmu yang dapat aku berikan kepadamu itu tidak lebih baik dari ilmu ayahmu, tetapi pada satu saat agaknya ada semacam ilmu arang lain yang lebih tepat kalian hadapi dengan ilmu itu.”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Baru sejenak kemudian Mahisa Murti menjawab, “Kami tentu akan berterima kasih sekali atas kemurahan hati Pangeran. Namun segala sesuatunya memang terserah kepada ayah. Jika ayah tidak berkeberatan karena beberapa pertimbangan, maka kami berdua akan menerima dengan segala kesungguhan hati dan rasa terima kasih.”
“Baiklah,” berkata Pangeran Singa Narpada, “karena itu tinggallah disini untuk beberapa saat lamanya. Selain menunggu kau sembuh benar-benar, maka aku pun menunggu kedatangan ayahmu. Sementara itu, orang-orang yang kita tawan pun akan menjadi sembuh pula karenanya.”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak menjawab. Tetapi mereka sebenarnya memang berharap untuk dapat melengkapi ilmu mereka dengan kekuatan ilmu yang lain. Kakaknya, Mahisa Bungalan, yang juga pernah menerima ilmu ayahnya, namun justru ia berada pada puncak kemampuannya beralaskan ilmu yang diterimanya dari Mahisa Agni.
Karena itulah, maka untuk beberapa saat kemudian Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih tetap berada di istana Pangeran Singa Narpada. Perawatan yang dilakukan sudah hampir dilepaskan sama sekali, karena keduanya telah menjadi sembuh meskipun mereka masih harus memulihkan keadaan tubuh mereka.
Dalam pada itu, sebenarnyalah bahwa beberapa saat kemudian Mahendra telah datang pula ke istana Pangeran Singa Narpada. Ternyata seperti yang dikatakan oleh Pangeran Singa Narpada, bahwa Mahendra tidak hanya sekedar menengok anaknya yang terluka, tetapi ia benar-benar telah membawa beberapa macam barang dagangan.
“Apa salahnya,” berkata Mahendra, “mudah-mudahan aku mendapatkan pasaran di sini.”
Namun sebenarnyalah Mahendra menjadi gembira melihat kedua anaknya telah menjadi hampir pulih kembali.
Namun dalam kesempatan itu pula, ternyata bahwa Mahendra benar-benar mendapat kesempatan untuk memperluas daerah perdagangannya. Ternyata beberapa orang perwira di Kediri tertarik untuk membeli beberapa jenis batu-batu yang berharga. Batu akik dan jenis-jenis batu yang semacam. Beberapa cincin berbatu akik telah terjual. Bahkan satu dua orang di antara mereka telah membeli pula batu-batu permata.
Beberapa hari Mahendra berada di Kediri. Pangeran Singa Narpada telah memberikan tempat baginya untuk bermalam. Bahkan Pangeran Singa Narpada pulalah yang telah menghubungkannya dengan para perwira dan bangsawan di Kediri sehingga Mahendra dapat membuka pasaran baru.
“Ayah memanfaatkan keadaan ini,” berkata Mahisa Murti.
“Tidak ada salahnya,” sahut Pangeran Singa Narpada, “ayahmu tidak merugikan orang lain. Dalam hubungan jual beli keduanya memang harus bersetuju.”
Mahendra sendiri tersenyum. Katanya, “Aku membawa barang-barang yang paling baik yang aku punya.”
Namun dalam pada itu, Pangeran Singa Narpada telah menyampaikan maksudnya kepada Mahendra, bahwa ia ingin menyatakan terima kasihnya atas kedua anak muda itu dengan memberikan sesuatu kepada mereka.
“Aku bukan termasuk Pangeran yang berada, yang memiliki harta benda yang tidak terhitung. Karena itu, yang ingin aku berikan kepada kedua anak-anak muda itu adalah apa yang aku punya,” berkata Pangeran Singa Narpada.
“Pangeran terlalu merendahkan diri,” jawab Mahendra, “Pangeran mempunyai segala-galanya. Bahkan seandainya Pangeran menghendaki, maka Kediri adalah milik Pangeran.”
“Tentu tidak,” jawab Pangeran Singa Narpada, “selain itu, agaknya anak-anak muda itu tentu akan menolak jika aku memberikan pernyataan terima kasih dengan cara yang lain, dengan cara sebagaimana kebanyakan dilakukan orang.”
Namun dalam pembicaraan selanjutnya, ternyata Mahendra sama sekali tidak merasa berkeberatan jika Pangeran Singa Narpada ingin membantu meningkatkan kemampuan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.
“Tetapi aku mohon Pangeran mampu menyesuaikan dengan ilmu yang telah dimiliki oleh anak-anak itu,” berkata Mahendra kemudian.
“Aku akan berusaha,” berkata Pangeran Singa Narpada, “jika aku mengalami kesulitan, maka aku akan mengurungkan niat itu.”
“Baiklah Pangeran. Sudah sewajarnya aku sebagai ayahnya, mengucapkan terima kasih atas kemurahan hati Pangeran,” jawab Mahendra.
Demikialah, maka Pangeran Singa Narpada sudah berkenan untuk menurunkan ilmunya kepada kedua anak muda yang ternyata telah menarik hatinya itu. Dua orang anak muda yang memiliki kemampuan sebagai bekalnya melampaui dugaannya setelah keduanya ternyata mampu mengalahkan Kebo Sarik, yang agaknya seorang yang telah banyak makan garamnya kehidupan yang keras dalam dunia kanuragan.
Namun dengan demikian, maka atas ijin Mahendra, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat akan berada di istana Pangeran Singa Narpada untuk waktu yang cukup lama.
“Sementara kita dapat berlatih bersama, sekaligus berusaha mendapat keterangan dari orang-orang bertongkat itu,” berkata Pangeran Singa Narpada.
“Segala sesuatunya terserah kepada Pangeran,” berkata Mahendra, “aku menitipkan anak-anak itu disini. Tetapi mohon Pangeran mengetahui, bahwa mereka adalah anak-anak dari padukuhan kecil yang kurang memahami unggah-ungguh dan paugeran hidup di lingkungan yang lebih tinggi.”
“Aku tertarik kepada keduanya sebagaimana adanya,” jawab Pangeran Singa Narpada.
“Terima kasih Pangeran,” berkata Mahendra, “Pangeran telah memberikan terlalu banyak kepada keluarga kami. Kedua anakku akan menerima ilmu yang tidak dapat dinilai harganya, sementara itu, aku telah mendapat pasaran baru yang memberikan keuntungan dalam duniaku sebagai seorang pedagang.”
“Aku tidak akan kehilangan apapun,” jawab Pangeran Singa Narpada, “karena itu, maka aku merasa tidak berbuat apa-apa yang berlebihan.”
“Baiklah Pangeran,” berkata Mahendra, “jika besok aku mohon diri, maka biarlah anak-anak tinggal di sini. Segala sesuatunya terserah kepada Pangeran.”
“Tetapi bukankah kau akan sering datang? Apakah dalam hubungan kedua anak muda yang tinggal disini, atau karena kau mempunyai dagangan baru yang barangkali menarik,” berkata Pangeran Singa Narpada.
Mahendra tertawa. Namun katanya kemudian, “Aku akan datang lagi. Mungkin dengan Mahisa Agni atau Witantra atau keduanya.”
“Dimana mereka sekarang?” bertanya Pangeran Singa Narpada.
“Kita kembali ke Kediri saat itu. Tetapi Mahisa Agni dan Witantra ternyata masih ingin mengulangi pengembaraan dimasa mudanya. Agaknya keduanya merasa tidak mempunyai kewajiban yang mengikat lagi di istana Singasari.”
“Baiklah,” berkata Pangeran Singa Narpada, “besok anak-anak itu akan mulai dengan laku yang harus mereka jalani sementara aku ingin melihat celah-celah ilmu mereka yang dapat aku sisipi ilmu yang mudah-mudahan berarti bagi keduanya.”
Sebagaimana direncanakan, maka dihari berikutnya Mahendra telah meninggalkan Kediri. Baru sepeninggal Mahendra, Pangeran Singa Narpada bersiap-siap untuk menempa kedua orang anak muda yang sangat menarik baginya itu. Kedua anak muda itu harus mulai dengan laku yang dapat memberikan kejelasan bagi Pangeran Singa Narpada tentang ilmu yang pernah dimilikinya.
Pangeran Singa Narpada sendiri tidak mengerti, kenapa ia lebih tertarik kepada kedua anak muda itu daripada lingkungan istana Kediri sendiri. Kepercayaannya kepada para bangsawan Kediri telah menjadi kabur sejak beberapa tingkat pemberontakan yang pernah terjadi. Yang terakhir adalah pemberontakan Pangeran Kuda Permati.
Sementara itu, nampaknya para bangsawan Kediri tidak bersungguh-sungguh berusaha untuk menumpas pemberontakan itu. Bahkan Sri Baginda sendiri nampak ragu-ragu dengan langkah-langkahnya. Sehingga Pangeran Singa Narpada sendiri pernah justru ditangkap dan ditahan untuk beberapa lama.
Karena itu, rasa-rasanya Pangeran Singa Narpada tidak rela untuk mewariskan ilmunya kepada orang-orang yang kurang dipercayainya. Orang-orang yang pada suatu saat mungkin akan bersikap lain, bahkan bertentangan dengan dirinya.
Dengan demikian maka bagi Pangeran Singa Narpada lebih baik untuk mewariskan ilmunya justru kepada orang lain sama sekali yang sudah jelas menunjukkan satu sikap yang bagi Pangeran Singa Narpada sangat menarik. Sejalan dengan keyakinannya sendiri.
Meskipun demikian Pangeran Singa Narpada tidak melakukannya dengan semata-mata. Pangeran Singa Narpada telah berusaha agar yang dilakukan itu tidak diketahui oleh orang-orang Kediri terutama di lingkungan para bangsawan, sehingga tidak akan menimbulkan iri hati pada mereka yang merasa memerlukan peningkatan ilmu.
Karena itulah, maka waktu yang dipergunakan oleh Pangeran Singa Narpada adalah waktu yang khusus. Malam hari. Waktu yang tidak banyak diperlukan oleh orang lain.
Di hari-hari pertama, yang dilakukan oleh Pangeran Singa Narpada adalah menjajagi kemampuan dan ilmu yang ada didalam diri Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Agar Pangeran Singa Narpada tidak salah menyisipkan ilmunya kedalam celah-celah ilmu kedua anak muda itu, maka ia harus memahami benar-benar, apa yang telah dimiliki oleh kedua orang anak muda itu.
Dengan sungguh-sungguh Pangeran Singa Narpada berusaha untuk memeras kemampuan kedua anak muda itu. Didalam sanggar yang tertutup, Pangeran Singa Narpada telah bertempur melawan kedua orang anak muda itu dalam tataran ilmu tertinggi, meskipun mereka tidak sampai pada ilmu pamungkas. Namun dengan mengetrapkan ilmu tertinggi, maka Pangeran Singa Narpada mengerti, bahwa kedua orang anak muda itu benar-benar telah berada dalam tataran tertinggi di lingkungan dunia olah kanuragan.
Karena itu, maka untuk mengimbangi kedua orang anak muda itu benar-benar terasa pada Pangeran Singa Narpada, betapa beratnya.
Dengan penjajagan itu, maka Pangeran Singa Narpada dapat melihat kenyataan yang ada di dalam diri Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, sehingga ia akan dapat menemukan celah-celah yang akan dapat menerima ilmu yang akan diwariskannya.
Namun demikian, ketika penjajagan itu berakhir, maka Pangeran Singa Narpada masih ingin melihat kemampuan kedua anak muda dalam ilmu puncaknya, karena dengan ilmu puncaknya itu keduanya telah mampu menghentikan perlawanan Kebo Sarik meskipun keduanya kemudian menjadi pingsan.
Dalam kesempatan yang khusus, maka Pangeran Singa Narpada telah membawa kedua orang anak muda itu ke tempat yang terbuka. Tempat yang jarang sekali disentuh kaki manusia.
Di tempat itu Pangeran Singa Narpada minta agar Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menunjukkan kepadanya, kemampuan pamungkas yang dapat dilakukan oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat untuk menghancurkan sasaran.
Di tempat yang terasing itulah, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah menunjukkan kemampuan puncak ilmu mereka. Dengan tangan mereka, maka keduanya telah berhasil merobohkan pohon-pohon yang besar dan kuat.....
Bersambung.....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar