*HIJAUNYA LEMBAH. JILID 026-03*
Tetapi sebagaimana dikatakan oleh Mahisa Agni, maka lebih baik untuk mengikuti perkembangannya dengan diam-diam, agar ia tidak terlibat langsung ke dalam persoalan yang berkembang di Kediri.
“Yang harus juga mendapat perhatian adalah justru sikap ragu-ragu Sri Baginda,” berkata Mahisa Bungalan kemudian.
“Ya,” jawab Mahisa Agni, “Justru karena itu, maka lebih baik kita melangkah dengan diam-diam. Masa tugasku dan pamanmu Witantra di Kediri telah lewat lama sekali. Mungkin kami tidak dapat mengenali perkembangan yang terjadi sekarang. Namun mungkin dalam umurku yang sudah semakin tua ini, masih dapat berbuat sesuatu sebelum akhir itu datang menjemput.”
“Jangan berkata begitu paman,” jawab Mahisa Bungalan.
“Kemana lagi kita akan pergi,” berkata Mahisa Agni, “orang yang sudah setua aku dan pamanmu Witantra, sebentar lagi sudah tidak akan berarti bagi kehidupan ini. Aku, pamanmu Witantra dan kemudian yang sedikit lebih muda adalah ayahmu, telah berusaha untuk menyalurkan apa yang kami miliki kepada tataran berikutnya. Karena itu, maka kami memang sudah bersiap memasuki lorong menuju ke jaman langgeng itu.”
“Tetapi bukan berarti bahwa paman sudah tidak berarti lagi,” berkata Mahisa Bungalan.
“Aku pun tidak bermaksud berkata demikian. Karena itu, aku masih ingin pergi ke Kediri. Tetapi apa yang dapat aku lakukan sekarang bersama pamanmu Witantra, tentu sudah jauh dibawah kemungkinan yang dapat aku lakukan kemudian. Namun kekurangan itu pada saatnya akan terisi dan berkembang pada dirimu dan adik-adikmu,” jawab Mahisa Agni.
Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya, “Tetapi bukankah pengalamanku jauh lebih kurang daripada paman berdua.”
“Mahisa Bungalan,” berkata Witantra, “pada saatnya seseorang masih akan kalah dari orang lain tentang beberapa hal. Tetapi pada suatu saat kemudian pada seseorang dapat berkembang. Nah, karena itulah, maka seandainya kau sekarang mengaku pengalamanmu masih jauh dibawah pengalaman orang-orang tua, namun pengalamanmu bukannya terhenti sampai disini.”
Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. Ia mengerti sepenuhnya keterangan kedua pamannya itu.
“Nah, untuk beberapa saat kau tentu mendapat kesempatan untuk beristirahat setelah kau melaporkan perjalanan. Mungkin kami akan dapat berusaha agar kau dapat langsung menghadap Sri Maharaja. Sehingga dengan demikian, maka persoalan yang menyangkut Kediri dalam keseluruhan, bukan sekedar mengenai mahkota yang hilang itu akan dapat diketahui oleh Sri Maharaja.”
“Terima kasih paman,” jawab Mahisa Bungalan, “Jika aku dapat menghadap Sri Maharaja, maka kau akan mendapat kesempatan untuk menceriterakan segalanya sampai tuntas.”
Dengan demikian, maka Mahisa Bungalan pun kemudian mohon diri dan menanti kapan ia dapat menghadapi Sri Maharaja.
“Aku menunggu paman,” berkata Mahisa Bungalan.
“Ya. Tetapi kau harus lapor kepada Panglimamu lebih dahulu. Katakan kepada Panglimamu, bahwa pamanmu tengah berusaha untuk mendapat waktu menghadap Sri Maharaja,” berkata Mahisa Agni.
“Baiklah paman,” berkata Mahisa Bungalan yang kemudian meninggalkan kedua pamannya dan kembali pulang ke rumah yang disediakan baginya di lingkungan pasukannya untuk beristirahat setelah menempuh perjalanan yang berat. Mahisa Bungalan berniat untuk besok saja menghadap dan melaporkan kehadirannya kepada Panglimanya.
Sementara itu, di Kediri, kehidupan berangsur menjadi semakin baik, dan bahkan telah hampir menjadi pulih kembali. Para petani telah berani bekerja di sawah. Bahkan di malam hari mengairi sawahnya. Para pedagang dan saudagar telah dengan tenang menempuh perjalanan dalam tugas perdagangannya. Sedangkan para prajurit tidak lagi selalu dicengkam oleh ketegangan bahwa pagi atau sore nyawanya akan direnggut oleh peperangan diantara keluarga sendiri-sendiri.
Dalam masa yang semakin baik itulah, maka Pangeran Singa Narpada telah memerintahkan beberapa orang untuk mencari seekor kerbau bertanduk dungkul dan berkulit bule.
“Jarang sekali Pangeran,” berkata seorang prajurit yang diperintahkannya.
“Aku tahu,” berkata Pangeran Singa Narpada, ”Tetapi kita harus menemukannya. Kerbau itu akan dapat membantu membuat Kediri menjadi semakin tenang.”
Prajurit itu akan mengangguk-angguk. Bagaimanapun juga ia harus menjalankan tugas itu. Dapat atau tidak dapat.
“Bukan tugas yang berat dibanding dengan usaha Pangeran Singa Narpada untuk menemukan mahkota yang hilang,” berkata prajurit itu didalam hatinya, “Aku harus menemukannya. Apalagi tugas itu sama sekali tidak mengandung bahaya apapun juga. Sedangkan menemukan mahkota itu, tentu saja dibayangi oleh nafsu maut setiap saat.”
Prajurit itu ternyata bukan prajurit satu-satunya yang mendapat tugas. Beberapa orang prajurit yang lain telah mendapat tugas yang sama pula. Bahkan mereka wajib mengemukakan, siapa yang menemukan seekor kerbau sebagaimana yang dimaksud harus diserahkan kepada Pangeran Singa Narpada.
“Usahakan secepatnya,” berkata Pangeran Singa Narpada.
Dengan janji kesanggupan didalam hati, maka para prajurit itupun segera berangkat ke segala penjuru Kediri untuk menemukan kerbau yang dimaksud.
Tetapi sebagaimana sudah diduga, untuk menemukan jenis kerbau bertanduk dungkul dan berkulit bule tidak terlalu mudah. Meskipun Kediri cukup luas, namun yang dicari adalah seekor kerbau yang memang jarang sekali ada.
Meskipun demikian para prajurit yang mendapat tugas itupun tidak menjadi jemu. Apalagi Pangeran Singa Narpada tidak membatasi waktu. Pangeran Singa Narpada yang tahu benar, bahwa jarang sekali terdapat kerbau yang sebagaimana dicarinya, maka iapun memberikan keleluasan waktu kepada para prajurit.
“Jika kalian telah terlalu lama pergi dan tidak mendapatkan kerbau itu, maka kalian dapat kembali menengok keluarga kalian. Setelah satu dua pekan, maka kalian dapat meneruskan usaha kalian mencari kerbau itu. Kapan pun kerbau itu kau dapatkan bukannya soal bagiku, karena meskipun lambat, tetapi itu akan lebih baik daripada tidak sama sekali.”
Para prajurit yang mendapat tugas itupun mengangguk-angguk. Sikap lunak Pangeran Singa Narpada tidak membuat mereka menjadi malas dan bekerja asal saja memenuhi perintah tanpa melakukan usaha dan kerja keras.
Namun karena yang mereka cari adalah benar-benar langka, maka usaha mereka pun memerlukan waktu yang lama. Sementara itu, Mahisa Agni dan Witantra benar-benar ingin melakukan sebagaimana telah mereka katakan. Keduanya ingin pergi ke Kediri untuk melihat cahaya teja sebagaimana yang dimaksud. Mahisa Agni dan Witantra sudah pernah berada di Kediri untuk waktu yang cukup lama meskipun tidak bersamaan. Namun mereka tidak sempat memperhatikan, apakah dari gedung perbendaharaan telah memancar teja.
“Mungkin kemampuan kita tidak setajam kemampuan orang-orang yang pernah dengan serta merta melihatnya,” berkata Mahisa Agni.
Witantra mengangguk-angguk. Katanya, “Mungkin. Sekarang pun kemampuan kita untuk melihat sesuatu yang gaib seperti itu tidak cukup tajam untuk dapat dengan serta merta menangkapnya.”
“Kita memerlukan waktu untuk membangunkan kemampuan melihat cahaya teja seperti itu,” sahut Mahisa Agni, “Mungkin sekejap tetapi mungkin sepenginang.”
“Bukankah itu bukan masalah,” berkata Mahisa Bungalan, “Jika kita melakukannya malam hari, maka kita mempunyai banyak waktu tanpa menarik perhatian orang lain. Karena kita akan dapat memilih tempat yang sepi.”
Mahisa Agni mengangguk-angguk. Katanya, “Kita akan segera pergi ke Kediri.”
“Baiklah,” berkata Mahisa Bungalan, “Tetapi apakah aku harus minta ijin lagi?”
Mahisa Agni tersenyum. Katanya, “Biarlah kami, orang-orang tua ini pergi sendiri. Jika kau minta ijin lagi, maka agaknya akan dapat memberikan kesan yang kurang baik. Apalagi jika tiba-tiba karena sesuatu hal pada waktu yang dekat, kau diperlukan lagi oleh Kediri, sehingga kau harus minta ijin lagi untuk meninggalkan kesatuanmu.”
“Tetapi bukankah aku tidak minta ijin untuk bertamasya?” jawab Mahisa Bungalan, “Bukankah panglima mengetahui apa yang aku lakukan?”
“Ya. Untuk menemukan mahkota itu,“ jawab Witantra, “Tetapi untuk mengantar kami ke Kediri dengan rencana yang tidak dapat disebut, maka agaknya pimpinanmu akan berpikir lain.”
Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya, “Jadi paman berdua tidak akan mengajak siapapun juga?”
“Agaknya kali ini tidak Mahisa Bungalan,“ jawab Witantra.
Namun Mahisa Bungalan berkata, “Bagaimana dengan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat? Jika paman berdua menghubungi ayah, maka agaknya ayah tidak akan berkeberatan memberikan ijin kepada Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Apalagi bersama paman berdua, sedangkan mereka berdua saja pergi ke Kediri, ayah telah melepaskannya setelah keduanya menyelesaikan laku untuk menerima warisan ilmu ayah.”
Witantra mengerutkan keningnya. Namun kemudian sambil memandang Mahisa Agni ia bertanya, “Apakah kita perlu membawa kedua orang anak itu?”
“Ada baiknya paman,“ Mahisa Bungalan lah yang menjawab, “mungkin paman berdua memerlukan sesuatu yang tidak pantas paman lakukan sendiri. Misalnya membeli makanan atau kebutuhan-kebutuhan kecil lainnya.”
Mahisa Agni tersenyum. Katanya, “Kita adalah pengembara. Aku dan pamanmu Witantra adalah pengembara pula sejak muda. Karena itu, biarlah kali ini kita pergi berdua. Suatu ketika yang tua-tua ini ingin mengenang kembali masa penjelajahan diantara lembah dan lereng pegunungan. Sementara itu, biarlah Mahisa Murti dan Mahisa Pukat beristirahat.”
“Mereka tidak akan istirahat,” berkata Mahisa Bungalan, “Seandainya tidak paman bawa, mereka pun tentu akan pergi sendiri karena mereka mempunyai pertanda petugas sandi.”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Jika demikian mungkin aku dapat menghubunginya. Mungkin kita akan bertemu pada suatu saat.”
Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. Tetapi agaknya kedua pamannya benar-benar ingin berdua saja. Tetapi agaknya memang sudah cukup seandainya keduanya menentukan satu kemungkinan untuk dapat bertemu dengan kedua adiknya di Kediri.
Namun demikian, Mahisa Agni dan Witantra minta beberapa petunjuk kepada Mahisa Bungalan, apa saja yang perlu diperhatikan oleh mereka di perjalanan.
“Kami sudah terlalu tua untuk dapat berbuat sebagaimana pernah kami lakukan,” berkata Mahisa Agni, “Karena itu kami memang harus berhati-hati.”
Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam. Namun iapun kemudian telah memberikan keterangan apa saja yang diketahuinya tentang Kediri. Tentang Mahkota yang hilang, tentang Pangeran Lembu Sabdata yang kemudian berada didalam bilik tahanan khusus. Tentang Pangeran Singa Narpada dan tentang beberapa hal yang lain, yang perlu diketahui oleh kedua pamannya. Bahkan Mahisa Bungalan pun telah memberitahukan kepada kedua pamannya itu, bahwa ia bersama Pangeran Singa Narpada telah mencoba pula melihat cahaya teja. Dan sesungguhnya ia dapat berhasil. Tetapi dengan laku yang sungguh-sungguh dan memerlukan waktu.
“Terima kasih,” berkata Mahisa Agni kemudian, “Besok kami berdua akan singgah di rumah ayahmu Mahendra. Mungkin Mahisa Murti dan Mahisa Pukat akan dapat memberikan beberapa petunjuk pula. Yang penting, kami ingin dapat berhubungan dengan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat jika mereka memang akan pergi juga ke Kediri.”
“Silahkan paman,” berkata Mahisa Bungalan, “Sebenarnya aku ingin ikut dengan paman. Tetapi jika hal ini paman hanya ingin pergi berdua, maka betapapun aku menyesal, namun aku terpaksa tidak dapat ikut pula.”
Witantra tersenyum. Katanya, “Mungkin lain kali kau memerlukan kau. Biarkan kali ini dua orang tua berjalan terbungkuk-bungkuk. menempuh satu jarak yang agak panjang. Tetapi dengan perjalanan itu kami justru ingin mendapat kesegaran baru didalam akhir perjalanan hidup ini. Kami ingin melihat sawah yang terbentang di ngarai. Hutan yang hijau di lembah-lembah dan lereng pegunungan.”
Sebenarnyalah, maka di keesokan harinya, Mahisa Agni dan Witantra telah meninggalkan Kota Raja: Mereka ingin singgah lebih dahulu di rumah Witantra. Selain untuk minta diri. mereka pun ingin berbicara serba sedikit dengan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.
Mahisa Agni dan Witantra ingin menempuh perjalanan mereka dengan berjalan kaki saja. Mereka agaknya tidak ingin mempergunakan kuda yang pada saat-saat tertentu justru akan dapat mengganggu.
Kedatangan mereka di rumah Mahendra, keduanya telah disambut dengan gembira. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang baru datang dari perjalanan itupun kemudian sempat berceritera panjang lebar tentang perjalanan mereka.
“Ternyata anak-anak telah melakukan satu tugas yang sangat berat bersama Pangeran Singa Narpada,” berkata Mahendra.
Mahisa Agni dan Witantra mengangguk-angguk. Namun mereka pun kemudian menceriterakan niat mereka untuk pergi ke Kediri.
“Sikap orang yang bertubuh kecil dan bersenjata tongkat panjang itu agaknya menarik perhatian,” berkata Mahisa Agni.
“Apalagi sesuai dengan pengenalan kita atas ciri-ciri orang itu,” berkata Witantra.
“Paman akan mengajak kami berdua?” bertanya Mahisa Murti.
Tetapi sambil tersenyum Mahisa Agni berkata, “Kami akan pergi berdua saja. Kami ingin sekali-sekali berjalan-jalan berdua dengan gaya orang-orang tua.”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat merasa kecewa. Namun sementara itu Witantra berkata, “Bukankah kau baru saja kembali dari tugasnya yang berat itu?”
“Ya paman. Tetapi kami memang tidak berniat untuk tinggal di rumah terlalu lama,” berkata Mahisa Pukat.
“Kakakmu Mahisa Bungalan juga mengatakan demikian, bahwa kalian tentu tidak akan betah tinggal di rumah,” jawab Mahisa Agni, “Namun jika demikian maka kita akan dapat berjanji, dimana kita kira-kira dapat bertemu.”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat termangu-mangu. “Sementara masih memerlukan istirahat barang satu dua pekan. Sementara itu, kami yang tua-tua ini akan mulai perjalanan besok pagi. Tetapi kecepatan yang dapat kami tempuh tentu sudah jauh berbeda dengan kemungkinan yang dapat kalian lakukan.”
“Kami tidak akan beristirahat terlalu lama,” berkata Mahisa Murti, “Jika perlu besok pun kami dapat berangkat.”
“Jangan,” berkata Witantra, “Kalian harus beristirahat untuk mengendapkan pengalaman yang baru saja kalian dapatkan dari perjalanan yang lalu. Dengan demikian maka pengalaman itu akan dapat memberikan arti yang sebesar-besarnya bagi kalian dan pengembangan ilmu kalian.”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih akan menjawab. Tetapi ayahnya berkata, “Aku sependapat dengan paman-pamanmu. Kalian memang harus beristirahat. Bukan dalam pengertian kewadagan saja. Tetapi seperti yang dikatakan oleh pamanmu, kau perlu mengendapkan pengalamanmu.”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu ayahnya berkata, “Kita akan dapat mengurangi peristiwa-peristiwa yang telah terjadi dan memberikan arti bagi kepentingan kalian. Mungkin aku akan dapat membantu.”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk kecil. Jika ayahnya sudah bersikap demikian, maka mereka pun tidak akan dapat berbuat lain.
Namun Mahisa Murti dan Mahisa Pukat dapat menentukan tempat-tempat yang mungkin akan dapat mereka pergunakan untuk saling menunggu. Mungkin mereka akan saling memerlukan kelak.
Malam itu, Mahisa Agni dan Witantra bermalam di rumah Mahendra. Mereka sudah bersiap-siap untuk berangkat di keesokan harinya sebagai dua orang perantau. Mereka sengaja mengenakan pakaian dan perlengkapan bagi perantau tua yang tidak banyak menarik perhatian.
Di keesokan harinya Mahendra tersenyum melihat keduanya siap untuk berangkat. Dengan nada datar Mahendra berkata, “Aku masih nampak lebih gagah di perjalanan, karena aku adalah seorang saudagar.”
Mahisa Agni tersenyum pula. Katanya, “Tetapi perjalanan kami tentu lebih aman daripada perjalananmu.”
“Ternyata aku juga tidak pernah diganggu orang,” jawab Mahendra.
Mahisa Agni dan Witantra tertawa. Namun mereka pun kemudian minta diri. Adalah diluar kebiasaannya, bahwa Mahisa Agni dan Witantra telah membawa tongkat. Tetapi jenis kedua tongkat itu berbeda. Tongkat Mahisa Agni adalah tongkat yang pendek setinggi lambung. Sedangkan tongkat Witantra adalah tongkat yang lebih panjang, setinggi pundaknya.
Namun seperti perjalanan Mahisa Bungalan, atau Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, maka keduanya pun telah membawa bekal uang. Meskipun ujud mereka benar-benar sebagai dua orang pengembara, tetapi mereka tidak akan kekurangan bekal di perjalanan.
Dengan berjalan sewajarnya mereka menempuh jalan-jalan bulak yang hijau. Sekali-sekali mereka memasuki padukuhan-padukuhan besar dan kecil.
Keduanya benar-benar tidak menarik perhatian.
Karena itu, maka perjalanan mereka pun sama sekali tidak terganggu. Sekali-sekali mereka melalui lereng-lereng pegunungan yang mulai ditumbuhi semak-semak belukar dan pepohonan yang semakin tinggi. Hutan yang pada satu saat hampir saja menjadi gundul. Untunglah bahwa usaha itu dapat dicegah, sehingga dengan demikian maka lereng-lereng pegunungan itu masih tetap hijau.
Ternyata di sepanjang perjalanan menuju ke Kediri, keduanya sama sekali tidak mengalami kesulitan. Jika malam datang, maka dengan senang hati para penunggu banjar memberi tempat kepada kedua orang tua itu untuk bermalam. Bahkan mereka kadang-kadang memberi makan dan minum secukupnya kepada kedua orang tua yang nampaknya menempuh perjalanan yang sangat jauh.
“Kemana sebenarnya kalian akan pergi?” bertanya salah seorang penunggu banjar tempat kedua orang tua itu menginap.
“Kami adalah pengembara,” jawab Mahisa Agni, “Kadang-kadang kami merasa kebingungan juga, kemana kami harus pergi.”
“Apakah kau tidak mempunyai sanak kadang?” bertanya penunggu banjar itu.
“Kami memang mempunyai seorang kemenakan. Ia tinggal di Kediri. Sudah pernah kami pergi mencarinya. Tetapi kami tidak menemukannya. Kali ini kami mencoba sekali lagi. Mudah-mudahan kami dapat bertemu dengan >rang yang kami cari itu,” jawab Mahisa Agni.
Penunggu banjar itu mengangguk-angguk. Katanya, “ya, mudah-mudahan Kalian sebenarnya sudah terlalu tua untuk menempuh perjalanan yang se demikian jauhnya. Tetapi kenapa kalian harus mencari kemenakan kalian?”
“Kami merasa hidup kami menjadi semakin sulit. Sawah dan ladang kami yang sempit tidak lagi dapat kami kerjakan dengan baik. Sehingga pada suatu saat kami memikirkan hidup kami yang sudah menjadi terlalu tua ini,” jawab Mahisa Agni.
Penunggu banjar itu mengangguk-angguk. Ia merasa iba kepada kedua orang tua itu. Sehingga malam itu, Mahisa Agni dan Witantra telah mendapat suguhan makan dan minuman hangat secukupnya.
“Makanlah,” berkata penunggu banjar itu, “Tidak ada yang pantas aku suguhkan.”
Mahisa Agni dan Witantra pun mengucapkan terima kasih. Makanan dan minuman itu memang dapat menyegarkan tubuhnya setelah seharian berjalan.
Menjelang pagi, maka Mahisa Agni dan Witantra telah mohon diri. Mereka mengucapkan terima kasih ketika penunggu banjar itu minta mereka menunggu sampai dapat disiapkan makan pagi untuk mereka.
“Terima kasih. Sudah terbiasa bagi kami untuk tidak makan di pagi hari. Kami kadang-kadang memang hanya makan sekali sehari. Dan itu sudah terlalu cukup bagi kami.”
“Apakah kalian ingin membawa beras?” bertanya penunggu banjar itu, “Ada sejemput beras yang dapat kalian bawa. Mungkin kalian memerlukannya di perjalanan.”
“Terima kasih Ki Sanak,” jawab Witantra, “tetapi biarlah kami tidak usah membawanya. Kami masih mempunyai keyakinan bahwa kami akan mendapatkan belas kasihan di sepanjang perjalanan kami sebagaimana kami dapat sampai disini.”
Penunggu banjar itu mengangguk-angguk. Sekali lagi ia berkata, “Mudah-mudahan kalian dapat menemukannya.”
Demikianlah maka Mahisa Agni dan Witantra meninggalkan banjar itu. Dengan nada datar Witantra berkata, “Mereka pada umumnya adalah orang-orang baik. Hampir setiap penunggu banjar menganggap bahwa orang-orang seperti kita ini harus mendapatkan pertolongan.”
Witantra mengangguk-angguk. Katanya, “Sebenarnya menilik sikap mereka, maka di Kediri dan di Singasari akan dapat ditemukan satu suasana damai dan penuh kerukunan.”
“Namun kadang-kadang orang-orang yang berkedudukan yang membuat suasana menjadi demikian buruknya, sehingga sifat-sifat yang jernih itu tidak dapat diketemukan lagi,” sahut Mahisa Agni.
Witantra mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak dapat ingkar, bahwa pertentangan demi pertentangan itu telah mengusik kedamaian di Kediri dan Singasari.
Demikianlah maka keduanya perlahan-lahan menjadi semakin mendekati Kota Raja di Kediri. Suasana di Kediri memang sudah menjadi wajar kembali. Semua segi kehidupan telah hampir pulih kembali.
Bekas-bekas peperangan yang dahsyat antara pasukan Pangeran Singa Narpada dan pasukan Pangeran Kuda Permati sudah tidak nampak lagi. Rumah-rumah yang hancur dan terbuka, telah berdiri lagi meskipun mungkin belum seperti yang telah rusak. Pintu-pintu gerbang yang roboh dan dinding-dinding yang runtuh, telah diperbaiki pula, sehingga Kediri telah nampak utuh kembali.
“Sisa-sisa pertentangan itu telah hampir hilang sama sekali,” berkata Witantra.
“Ya. Menilik ujud kewadagannya. Mudah-mudahan pertentangan yang membakar jantung telah menjadi padam pula,“ jawab Mahisa Agni.
“Itulah yang sulit,” berkata Witantra, “Biasanya bekas-bekas lahiriah lebih cepat dapat diatasi. Tetapi yang tersembunyi didasar jantunglah yang sulit untuk diketahui.”
Mahisa Agni mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya, “Tetapi kesan yang tenang dan damai seperti ini juga berpengaruh. Betapapun panasnya hati, lambat-laun akan menjadi sejuk pula.”
“Mudah-mudahan,” jawab Witantra, “Namun mungkin juga yang terjadi sebaliknya. Langkah-langkah akan diatur jika keadaan sudah menjadi tenang.”
Mahisa Agni tersenyum. Katanya, “Memang mungkin. Untuk itu maka Pangeran Singa Narpada tidak boleh menjadi lengah. Ia justru harus membentuk orang lain untuk dapat menggantikan kedudukannya pada saat-saat ia menjadi semakin tua seperti kita dan tidak dapat berbuat banyak lagi. Untunglah bahwa kita sudah meninggalkan jejak ilmu kepada anak-anak muda, meskipun segala sesuatunya tergantung kepada anak-anak itu sendiri. Tetapi mudah-mudahan yang kita miliki ini tidak akan terkubur bersama kita.”
Witantra mengangguk-angguk. Namun sebenarnyalah bahwa kedua orang tua itu rasa-rasanya sudah menjadi lapang, karena mereka telah mewariskan milik mereka kepada anak-anak muda.
Demikianlah maka di sepanjang jalan mereka sama sekali tidak menemukan yang dapat menghambat perjalanan mereka. Jika mereka berjalan melalui pasar, maka pasar-pasar itupun telah menjadi ramai. Jika mereka melewati gardu-gardu dimalam hari, nampak anak-anak muda yang gembira bergurau didalamnya. Sementara yang lain bermain macanan atau bas-basan.
Dengan demikian, maka padukuhan-padukuhan-pun nampaknya sudah benar-benar menjadi tenang. Orang-orang yang mengambil keuntungan dari kekeruhan peperangan pun agaknya sudah tidak banyak lagi, karena anak-anak mudanya telah siap mengamankan padukuhan masing-masing.
Dalam pada itu, Mahisa Agni dan Witantra memang tidak langsung menuju Kediri. Mereka melingkari daerah yang panjang untuk melihat keadaan lebih banyak lagi.
Namun, agaknya pada suatu kali, mereka memang menjumpai satu keadaan yang menarik. Ketika mereka sedang berada di sebuah warung, maka tiba-tiba saja dua orang telah memasuki warung itu pula. Dua orang bertubuh tinggi besar namun keduanya juga membawa tongkat panjang. Agak lebih panjang sedikit dari tongkat yang dibawa oleh Witantra.
Kedua orang itu memperhatikan Mahisa Agni dan Witantra dengan seksama. Namun kemudian mereka duduk beberapa jengkal di sebelah Witantra.
Dengan kasar keduanya minta disediakan makan dan minuman. Sementara itu, tangan-tangan mereka telah menggapai makanan yang ada di depan mereka, pada sebuah pagar bambu yang rendah.
Sekali-sekali kedua orang itu berpaling dan memandang tongkat Witantra. Namun ternyata memang ada perbedaan. Tongkat kedua orang itu adalah tongkat yang memang dibuat dengan cermat. Kayu terpilih yang dibubut rapi dan halus. Pada alas dan ujungnya terdapat selut yang berwarna tembaga. Sedangkan tongkat Witantra adalah tidak lebih dari sepotong kayu yang dihilangkan kulitnya, sehingga baik ujudnya maupun bentuknya adalah alami, sebagaimana tongkat Mahisa Agni yang lebih pendek lagi.
Namun agaknya kedua orang itu ingin tahu juga tentang dua orang tua yang membawa tongkat itu. Karena itu, salah seorang diantara mereka bertanya, “Ki sanak. Siapakah kalian berdua he?”
Witantra yang duduk lebih dekat dari merekalah yang menjawab, “Kami berdua adalah pengembara yang tidak berharga Ki Sanak.”
“O.“ orang itu mengangguk-angguk. Lalu ia masih bertanya lagi, “Tetapi sempat juga kau membeli makan, makanan dan minuman di sebuah kedai. Bukankah itu sangat berlebih-lebihan bagi kalian? Kalian dapat minta belas kasihan kepada para bebahu padukuhan atau kabuyutan. Atau jika kalian bermalam di sebuah banjar, maka biasanya kau akan mendapat makan dan minum.”
“Ya, ya Ki Sanak. Memang demikianlah yang terjadi di setiap hari. Tetapi pagi ini secara kebetulan ada dua orang dermawan yang memberi kami uang. Kami berpapasan di jalan. Dua orang berkuda itu tiba-tiba saja berhenti dan bertanya kepada kami, apakah kami sudah makan,” jawab Witantra.
“Kalian tentu menjawab belum meskipun seandainya kalian telah mendapat sepotong ketela rebus dari penunggu banjar tempat kau bermalam semalam,“ geram orang itu.
Witantra tidak menyahut. Tetapi ia menundukkan kepalanya.
“Kau tentu mendapat uang dari penunggang kuda itu. Dan sekarang dengan semena-mena kau belikan makan, makanan dan minuman. Kenapa uang itu tidak kau belikan ketela pohon saja, atau ubi jalar atau semacamnya?”
Witantra menjadi bingung. Bagaimana ia harus menjawab pertanyaan itu. Karena itu beberapa saat ia justru terdiam, sementara Mahisa Agni pun tidak segera menemukan jawabnya.
Karena kedua orang pengembara itu tidak menjawab, maka orang bertongkat itu berkata, “Ternyata kalian bukan orang yang baik. Jika uang itu kau belikan ketela pohon atau ubi rambat, maka yang kau makan sekali ini, akan dapat kau jadikan bekal untuk dua atau tiga hari.”
Dalam pada itu, Witantra kemudian mencoba juga untuk menjawab, “Ki Sanak, Terus-terang, kami jarang sekali mendapat kesempatan seperti ini. Karena itu, maka biarlah kami sekali ini melakukannya. Nanti dan besok, kami berharap untuk mendapatkan belas kasihan dari orang-orang lain, khususnya para penunggu banjar yang pada umumnya selalu berbaik hati memberikan makan dan minum kepada kami.”
Orang bertongkat itu tidak menjawab. Tetapi tiba-tiba saja seorang diantaranya berdiri dan mendekati Witantra. Diamatinya semangkuk nasi yang ada di depan Witantra. Sejenak orang itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian katanya, “Yang kalian makan ternyata sangat berlebihan bagi seorang pengembara.”
Witantra menjadi berdebar-debar. Dipandanginya Mahisa Agni sekilas. Namun agaknya Mahisa Agni pun sangat tertarik kepada kata-kata orang itu.
Tetapi ternyata kedua orang bertongkat itu tidak bertanya lebih banyak lagi. Keduanya pun kemudian justru telah sibuk dengan makan mereka sendiri.
Namun dalam pada itu, meskipun perlahan-lahan dan tidak jelas, tetapi Mahisa Agni dan Witantra sempat mendengar orang-orang itu menyebut tentang seekor kerbau bertanduk dungkul dengan kulit berwarna bule.
“Bagaimana jika kerbau yang demikian tidak didapatkannya di seluruh Kediri?” bertanya salah seorang diantara mereka.
“Tentu saja akan didapatkannya. Kediri cukup luas sehingga yang aneh-aneh sekalipun akan terdapat juga didalamnya,“ jawab yang lain.
Namun pembicaraan berikutnya, Mahisa Agni dan Witantra tidak sempat mendengarnya lagi dengan jelas, sehingga mereka tidak dapat menangkap pengertiannya.
Meskipun kemudian Mahisa Agni dan Witantra telah selesai, namun mereka tidak segera meninggalkan tempat itu. Mereka menunggu sehingga kedua orang itulah yang lebih dahulu meninggalkan warung itu.
“Siapakah mereka?” bertanya Witantra kepada pemilik Warung itu.
Pemilik warung itu termangu-mangu. Namun kemudian jawabnya. “Aku tidak tahu sebelumnya. Tetapi sudah dua tiga kali ini mereka membeli makan dan makanan disini. Agaknya mereka orang yang datang dari jauh.”
“Jika demikian, dimana mereka menginap?” bertanya Mahisa Agni.
“Aku tidak tahu,” jawab pemilik warung itu.
Mahisa Agni mengangguk-angguk. Namun kemudian tiba-tiba saja pemilik warung itu berkata, “Tetapi sebenarnya aku sependapat dengan kedua orang itu. Jika Ki Sanak ini pengembara, maka apa yang Ki Sanak beli di warung ini memang terlalu berlebihan. Tetapi aku pun dapat mengerti, bahwa jika ada orang-orang yang baik hati memberikan uang cukup, maka sekali-sekali seseorang memang ingin makan yang lain dari kebiasaannya.”
“Agaknya memang demikian,” berkata Mahisa Agni, “Kami selama dalam pengembaraan hanya makan seadanya. Belas kasihan orang-orang yang melihat kami menginap di banjar-banjar, yang pada umumnya adalah penunggu banjar. Mereka sering memberi makan dan minum. Mungkin beberapa kerat ketela pohon ubi jalar atau bahkan nasi serta lauk-pauknya. Namun ketika beberapa orang penunggang kuda yang dermawan memberi kami uang, maka ada keinginan kami untuk makan dan minum yang berbeda dengan yang kami dapat selama ini.“
Pemilik warung itu mengangguk-angguk, Katanya, “Seperti yang sudah aku katakan, aku memang dapat mengerti keinginan kalian. Dan agaknya kalian benar-benar sudah menikmati yang kalian anggap lain itu.”
Mahisa Agni dan Witantra mengangguk-angguk. Sementara itu pemilik warung itupun berkata, “Karena itu Ki Sanak, maka biarlah apa yang sudah kalian makan dan minum, tidak usah kalian bayar. Jika kalian mendapat uang dari penunggang kuda seperti yang kalian katakan itu, biarlah uang itu kalian simpan untuk menjadi bekal dalam perjalanan kalian. He, kalian sebenarnya akan pergi ke mana? Apakah kalian mempunyai tujuan dalam pengembaraan kalian?”
“Sebenarnya kami memang tidak mempunyai tujuan. Tetapi bukan pula tidak bertujuan sama sekali. Sambil mengembara kami memang ingin menemukan seseorang. Kemanakan kami yang tinggal di Kediri. Tetapi sudah terlalu lama kami tidak berhubungan. Dalam pengembaraan kami yang terdahulu, kami tidak berhasil menemukannya. Tetapi kami masih berharap bahwa kami akan berhasil kali ini.”
“Apakah kalian mendapatkan keterangan baru tentang kemenakan kalian?” bertanya pemilik warung itu.
Bersambung.....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar