*HIJAUNYA LEMBAH. JILID 026-04*
“Tidak. Tetapi waktu itu Kediri terasa terlalu panas karena pertentangan yang timbul. Kini agaknya Kediri telah menjadi dingin kembali,” jawab Witantra. Namun kemudian, “Tetapi Ki Sanak, bukankah makanan dan minuman ini Ki Sanak perjual belikan, sehingga rasa-rasanya janggal sekali jika Ki Sanak merelakannya kepada kami tanpa membayar sama sekali.”
“Ah sudahlah,” berkata pemilik warung itu, “Jangan kalian risaukan. Yang kalian makan dan minum tidak akan membuat aku rugi bahkan menjadi melarat.”
Mahisa Agni dan Witantra saling berpandangan sejenak. Kemudian Mahisa Agni pun berkata, “Terima kasih Ki Sanak. Semoga untuk selanjutnya warung ini akan menjadi bertambah ngrembaka.”
“Doakan saja,” jawab pemilik warung itu.
Mahisa Agni dan Witantra kemudian meninggalkan warung itu. Sebenarnya bahwa mereka tidak perlu membayarkan makanan dan minuman dari warung itu, meskipun seandainya mereka harus membayar dua tiga kali lipat, maka mereka tidak akan merasa keberatan.
Sejenak kemudian maka kedua orang itupun telah berjalan menyusuri jalan bulak yang menuju ke padukuhan sebelah. Di sebelah menyebelah tampak tanaman yang berwarna segar. Hijau bercahaya terkena sinar matahari.
Namun langkah keduanya itupun tertegun ketika mereka melihat dua orang bertongkat yang mereka ketemukan didalam warung itu berdiri dibawah sebatang pohon randu. Agaknya mereka memang sedang menunggu.
”Berhati-hatilah,” berkata Witantra, “Aku memang merasa curiga kepada keduanya.”
“Apakah yang mereka kehendaki,” desis Mahisa Agni, “Satu-satunya sebab ialah karena kau juga membawa tongkat seperti mereka. Mungkin mereka ingin menelusuri apakah kita mempunyai alas ilmu yang sama meskipun dalam perkembangan menjadi berbeda.”
Witantra menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kita adalah pengembara yang bodoh dan tidak berilmu.”
Mahisa Agni tersenyum. Namun ia tidak menjawab lagi.
Dengan jantung yang berdebaran, maka kedua orang itu berjalan semakin dekat dengan kedua orang yang menunggu di pinggir jalan itu.
Namun keduanya justru menjadi heran. Ternyata kedua orang itu tidak berbuat apa-apa. Ketika Mahisa Agni dan Witantra berjalan di hadapan mereka, salah seorang diantara mereka menyapa, “He, bukankah kalian adalah orang yang kami jumpai di warung itu?”
“Ya,” jawab Mahisa Agni.
“Kalian mau kemana?” bertanya orang itu.
“Kami tidak mempunyai tujuan,” jawab Mahisa Agni.
Keduanya itu memperhatikan lagi ketika Mahisa Agni dan Witantra berjalan menjauh menyusuri jalan bulak itu.
“Kita salah duga,” berkata Witantra.
“Ya,” jawab Mahisa Agni, “Tetapi justru karena itu, mereka menjadi semakin menarik perhatian.”
“Mungkin kita masih akan bertemu lagi. Mereka berada di tempat ini secara khusus,” berkata Witantra kemudian, “bukanlah tempat ini sudah terlalu dekat dengan kota Raja.”
Mahisa Agni mengangguk-angguk. Ketika ia berpaling, maka dilihatnya kedua orang itu masih berada di tempatnya.
Namun Mahisa Agni dan Witantra tidak berminat lagi untuk memperhatikan mereka pada saat itu. Namun keduanya seakan-akan mempunyai satu keyakinan bahwa pada suatu saat mereka akan dapat bertemu lagi.
Namun jantung Mahisa Agni dan Witantra menjadi berdebar-debar ketika mereka kemudian bertemu dengan dua orang lain lagi. Setelah mereka berjalan agak jauh, ternyata mereka telah bertemu lagi dengan dua orang yang juga bersenjata tongkat panjang.
“Kita bertemu lagi dengan orang-orang bertongkat,” berkata Witantra.
Mahisa Agni mengangguk-angguk. Bahkan kemudian ia berdesis, “Seorang diantara mereka bertubuh kecil. Orang itu mempunyai ciri-ciri sebagaimana dikatakan oleh Mahisa Bungalan dan kedua adiknya.”
Witantra mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Aku kira memang orang itulah yang dimaksud.”
“Mudah-mudahan orang itu tidak memancing persoalan sehingga kami harus berbuat sesuatu,” berkata Mahisa Agni.
Witantra tidak menjawab. Tetapi ia memang menjadi sangat berhati-hati. Sejak semula ia memang sudah sangat tertarik kepada orang yang diceriterakan oleh Mahisa Bungalan dan kedua adiknya.
Kedua orang itupun ternyata telah tertarik pula kepada Mahisa Agni dan Witantra. Bahkan keduanya ternyata ingin mengetahui serba sedikit dengan dua orang yang juga bertongkat meskipun tongkatnya berbeda dengan tongkat yang dibawanya.
Ketika jarak mereka menjadi semakin dekat, maka kedua orang bertongkat itu telah dengan sengaja menyongsong langkah-langkah Mahisa Agni dan Witantra. Beberapa langkah di hadapan mereka maka kedua orang bertongkat itupun telah berhenti.
Sejenak kedua orang itu mengamati tongkat yang dibawa oleh Mahisa Agni dan Witantra. Dengan nada datar orang yang bertubuh kecil itu bertanya, “Ki Sanak. Siapakah kalian berdua yang juga bersenjata tongkat?”
Mahisa Agni dan Witantra saling berpandangan sejenak. Dengan wajah tegang Mahisa Agni menjawab, “Kami sama sekali tidak bersenjata. Tongkat ini adalah sekedar untuk menopang tubuh kami yang sudah tua. Kami memotong dahan kayu yang ada di halaman. Itu saja.”
“Bagaimana jika tongkat kalian kami tukar dengan tongkat kami?“ bertanya orang itu, “Tongkat kami lebih baik dari tongkat kalian. Baik dari segi ujudnya, maupun dari manfaatnya.”
Mahisa Agni termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia melangkah maju sambil tersenyum, “Terima kasih Ki Sanak. Terima kasih.”
Tetapi Mahisa Agni terkejut ketika orang itu membentaknya, “Gila. Seandainya saja. Hanya seandainya.”
Mahisa Agni dengan serta merta melangkah surut. Dengan kecewa ia berkata, “Jadi Ki Sanak tidak bersungguh-sungguh?”
“Kau memang dungu,” bentak orang yang bertubuh kecil. ”Kau sangka kami dapat melepaskan tongkat kami begitu saja.”
“Tetapi bukankah, menurut pendengaran telingaku, Ki Sanak minta tongkat kita dipertukarkan?” bertanya Mahisa Agni.
“Sekali lagi kau sebut, aku patahkan batang lehermu dengan tongkatku ini,” bentak yang seorang.
Mahisa Agni pun bergeser semakin menjauh. Wajahnya nampak ketakutan. Sementara Witantra pun melangkah surut pula.
Sementara itu, orang bertongkat itupun bertanya, “Jadi tongkat kalian bukan merupakan senjata?”
“Tidak Ki Sanak. Sudah aku katakan, bahwa aku tidak pernah membawa senjata karena aku tidak dapat mempergunakannya. Sementara itu aku tidak pernah mempunyai persoalan dengan siapapun juga, sehingga aku kira, aku dan saudaraku ini tidak memerlukan senjata apapun juga,” jawab Mahisa Agni.
“Bagaimanakah jika kalian bertemu dengan orang jahat yang ingin merampas semua milik yang kau bawa?” bertanya orang bertubuh kecil itu.
“Aku tidak membawa apa-apa. Jika ada orang yang ingin merampas apa yang kami bawa, maka kami tidak akan berkeberatan,” jawab Mahisa Agni.
Kedua orang itu masih mengamati Mahisa Agni dan Witantra, Namun kemudian orang bertubuh kecil itu berkata, “Pergilah. Jangan bertemu aku lagi. Mungkin sikapku lain kali agak berbeda.”
“Terima kasih Ki Sanak,” jawab Mahisa Agni. Tetapi ia masih bertanya, “Tetapi siapakah Ki Sanak berdua ini?”
“Buat apa kau bertanya,“ jawab orang bertubuh kecil itu, ”sebut saja nama kami sekehendak hatimu. Bagi kami tidak ada bedanya sama sekali.”
Mahisa Agni mengangguk-angguk. Ia tidak bertanya lagi. Tetapi bersama Witantra iapun kemudian meninggalkan kedua orang bersenjata tongkat yang masih berdiri termangu-mangu itu.
Beberapa langkah kemudian barulah Mahisa Agni berkata, “Nampaknya kedua orang ini seperguruan dengan kedua orang yang kita temui lebih dahulu. Tetapi menarik sekali bahwa mereka telah berkumpul disini. Tentu ada satu keperluan dari perguruan mereka dengan daerah ini, ternyata beberapa orang diantara mereka telah berkumpul.”
Witantra menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian, “Apakah kita perlu mengamati mereka?”
“Untuk sementara belum. Sebaiknya kita pergi saja ke Kediri. Kita mencoba melihat, apakah benar cahaya yang memancar dari benda yang sangat berharga itu nampak diatas gedung perbendaharaan.”
Witantra mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Kita akan pergi ke Kediri. Namun pada saat yang lain kita akan dapat kembali lewat tempat ini.”
Mahisa Agni mengangguk-angguk. Jawabnya, “Ya. Kita memang ingin mengetahui apa yang akan dilakukan oleh orang-orang bertongkat itu.”
Dengan demikian maka Mahisa Agni dan Witantra telah melanjutkan perjalanan mereka. Mereka ternyata akan langsung pergi ke Kediri untuk melihat cahaya teja yang memancar dari benda yang paling berharga itu.
Sementara itu, kedua orang yang bersenjata tongkat itu-pun telah meneruskan perjalanan mereka pula. Ternyata kedua orang itu memang sudah berjanji untuk bertemu dengan kedua orang yang telah menunggu dibawah pohon randu itu.
Ternyata bahwa ketika keempat orang itu bertemu dan saling berbincang, mereka telah menyebut-nyebut dua orang yang juga bertongkat yang lewat di jalan itu pula.
“Pengembara yang malas itu,” berkata salah seorang dari kedua orang bertongkat yang bertemu dengan Mahisa Agni di warung.
“Aku kira tongkat itu merupakan senjata mereka,” berkata orang yang bertubuh kecil. ”Aku telah mengujinya. Ketika aku berkata bahwa aku minta tongkatnya aku tukar, ternyata dengan serta merta mereka memberikannya.”
Kawan-kawannya tertawa. Katanya, “Untunglah, bahwa mereka tidak menuntut untuk melakukan tukar menukar itu.”
“Gila. Ia tidak akan melakukannya,” berkata orang bertubuh kecil itu, “Aku akan dapat membungkamnya.”
Yang lain mengangguk-angguk. Orang bertubuh kecil itu memang akan dapat melakukannya apa saja yang dikatakannya.
Sementara itu, maka orang bertubuh kecil itupun kemudian berkata, “Jadi, apakah yang akan kita lakukan kemudian?”
“Sampai sekarang memang belum diketemukan seekor kerbau dungkul berkulit bule,” jawab seorang kawannya.
Orang bertubuh kecil itu mengangguk-angguk. Tetapi katanya, “Aku minta terlalu sulit. Seharusnya aku minta seekor kerbau dungkul saja, sehingga peti dari perak itu akan segera siap. Dengan demikian, dimana mahkota itu disimpan didalam gedung perbendaharaan akan segera dapat diketahui. Seorang diantara kita yang paling mungkin untuk memasuki gedung perbendaharaan tidak dapat melihat cahaya teja yang memancar dari benda itu. Sebaliknya, aku yang mampu melihatnya, tidak memiliki alas kemampuan untuk memasuki gedung perbendaharaan itu.”
“Bukankah kalian dapat pergi bersama-sama,” berkata salah seorang kawannya.
“Memang mungkin. Tetapi jika ada cahaya yang mirip memancar dari satu dua pusaka yang lain dan sangat sulit untuk membedakannya, maka kita akan segera mengetahui, dimana mahkota itu disimpan, sehingga kita tidak usah memilikinya lagi.”
Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Namun seorang diantara mereka bertanya, “Jika ada cahaya itu, maka bukanlah kau sudah melihatnya.”
“Ya. Dari gedung perbendaharaan terpancar beberapa jenis cahaya. Bahkan ada yang sangat mirip, meskipun hanya pada saat-saat tertentu. Namun itu akan dapat membingungkan. Karena itu, seandainya aku tidak dapat pergi, maka seorang diantara kita yang memiliki kemampuan untuk memasuki gedung itu akan dengan segera mengetahui dimanakah mahkota itu disimpan.”
Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Sementara itu salah seorang yang lain berkata, “Bagaimana mungkin kau dapat menipu Pangeran Singa Narpada yang memiliki nama yang besar. Bukan saja karena ilmunya yang tinggi, tetapi juga karena kecerdikannya yang tidak dapat diatasi oleh Pangeran Kuda Permati.”
Orang bertubuh kecil itu temangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Aku yakin, bahwa ilmuku tidak akan melampaui ilmu Pangeran Singa Narpada. Tetapi ia adalah seorang kesatria yang tidak pernah terpikir didalam benaknya untuk menipu orang lain. Karena itu, maka ia mempunyai anggapan demikian pula terhadap orang lain yang belum terbukti pernah menipunya. Karena itu menghadapi sikap yang licik, Pangeran Singa Narpada agaknya menjadi lengah.”
Kawan-kawan orang bertubuh kecil itu tertawa. Katanya, “Jadi kau menyadari, bahwa yang kau lakukan itu adalah satu langkah yang licik?”
“Jika kita tidak berbuat licik, mana mungkin kita akan berhasil menguasai sesuatu yang sangat berharga itu. Betapapun besarnya perguruan kita, namun kita bukanlah trah keraton. Isi dari perguruan kita, memang bukan apa-apa dibanding dengan kekuatan Kediri. Karena itu, maka kita harus melakukan sesuatu untuk mengatasi kelemahan kita. Mudah-mudahan kita berhasil, karena ternyata Pangeran Singa Narpada telah memerintahkan orang-orangnya untuk mencari apa yang aku katakan.”
“Jika saja pada saat pusaka itu dibawa oleh Pangeran Singa Narpada kita sempat berkumpul,” berkata salah seorang dari mereka.
“Jika kita hanya berempat ini, maka kita tentu akan gagal,” berkata orang bertubuh kecil. ”Kekuatan mereka, empat orang yang membawa pusaka itu lebih besar dari kita berempat. Kecuali jika kita sempat menyampaikannya kepada guru dan beberapa kawan kita yang lain.”
Yang lain mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Baiklah. Segalanya terserah kepadamu. Kau adalah orang tertua diantara saudara-saudara kita seperguruan. Jika tidak ada guru, maka kata-katamulah yang kami jadikan pegangan.”
“Baiklah,” berkata orang bertubuh kecil itu, “Kita harus mengamati terus, apakah Pangeran Singa Narpada sudah berhasil mendapatkan seekor kerbau dungkul berkulit bule. Jika sudah maka akan kita perhitungkan, bahwa peti itu akan segera siap. Dan kita akan dengan mudah mengambilnya di gedung perbendaharaan dengan cara sebagaimana pernah terjadi. Ketika orang yang pernah mengambilnya lebih dahulu sudah tidak ada, maka mereka tentu tidak akan mengira, bahwa cara itu akan terulang oleh orang lain.”
“Tetapi bukanlah kita masih harus menunggu,” berkata salah seorang diantara mereka.
“Tentu. Setelah benda itu ada di tangan kita pun, kita akan menunggu. Kita tidak tahu pasti apa yang kelak akan terjadi. Tetapi api perjuangan yang pernah dinyalakan oleh beberapa orang Kediri berurutan, akan menyala terus. Yang terakhir kebetulan adalah Pangeran Kuda Permati. Namun sementara itu orang-orang diluar istana seperti kita bukannya tidak mempunyai kewajiban yang sama. Bahkan dengan benda keramat yang menjadi tempat bersemayamnya wahyu keraton itu, maka tidak mustahil bahwa yang kecil seperti kita akan dapat memegang pimpinan pemerintahan sebagaimana pernah ditunjukkan kenyataannya oleh seorang terbuang dipadang Karautan yang bernama Ken Arok, yang telah membangunkan Singasari dan menempatkan Kediri dibawah pengaruh Singasari itu,” jawab orang bertubuh kecil itu.
Saudara-saudara seperguruannya hanya mengangguk-angguk saja. Namun kemudian katanya, “Tetapi tidak baik kita berkumpul dengan ciri senjata kita yang memang agak menyolok ini. Kita sebaiknya berpisah. Jika kita bertemu seperti ini, maka kita tidak usah membawa jenis senjata yang menarik perhatian mi.”
Saudara-saudara seperguruannya mengangguk-angguk. Seorang diantara mereka tiba-tiba saja bertanya, “Bagaimana pendapat kalian dengan kedua orang bertongkat yang lewat di jalan ini?”
Tetapi seorang yang lain menyahut, “Mereka benar-benar pengembara. Kita tidak perlu menghiraukannya.”
“Ya,” jawab yang seorang lagi. ”Tidak ada tanda-tanda bahwa mereka perlu diperhatikan. Dua orang yang sudah tua itu tentu dua orang yang kesepian karena tidak mempunyai sanak kadang.”
Keempat orang itu sependapat, bahwa dua orang bertongkat yang sudah terlalu tua itu memang bukan orang yang dapat dianggap berbahaya.
Sejenak kemudian maka keempat orang itupun telah berpisah, masing-masing berdua dengan tujuan yang tidak sama. Namun mereka ternyata tidak akan meninggalkan tempat itu terlalu jauh. Mereka akan selalu berusaha mendengar kabar, apakah Kediri telah mendapatkan seekor kerbau sebagaimana dikehendaki oleh Pangeran Singa Narpada.
Tetapi Pangeran Singa Narpada sendiri tidak pernah merasa gelisah karena kesulitannya untuk menemukan kerbau dungkul berkulit bule. Ia menekankan kepada kesiagaan yang tinggi atas para pengawal gedung perbendaharaan.
Meskipun demikian bukan berarti bahwa Pangeran Singa Narpada menghentikan usahanya untuk mendapatkan seekor kerbau sebagaimana yang disebut oleh seseorang yang mengaku bernama Ki Ajar Wantingan.
Tetapi menurut pendapat Pangeran Singa Narpada, adalah tidak mutlak bahwa yang dicarinya itu akan dapat mengamankan pusaka yang sangat berharga. Yang akan terjadi hanyalah sekedar usaha agar mahkota itu tidak selalu menarik perhatian bagi orang-orang yang memiliki ketajaman penglihatan atas cahaya yang memancar dari benda-benda yang keramat.
Namun memang sebenarnyalah Pangeran Singa Narpada tidak menaruh kecurigaan sama sekali kepada Ki Ajar Wantingan, meskipun Mahisa Bungalan agak bersikap lain.
Sementara itu, Mahisa Agni dan Witantra telah berada didalam Kota Raja pula. Pada satu malam, mereka telah memerlukan untuk melihat dari luar dinding istana, apakah benar ada cahaya teja yang memancar dari benda-benda keramat didalam gedung perbendaharaan.
Ketika keduanya menyaksikan sendiri, maka Witantra pun berkata, “Ternyata yang dikatakan oleh Mahisa Bungalan dan kedua adiknya itu benar.”
Mahisa Agni yang juga melihat cahaya itupun mengangguk-angguk. Katanya, “Memang menarik perhatian bagi mereka yang dapat menyaksikannya. Tetapi tentu bukan hanya sekarang.”
“Itulah sebabnya maka seseorang telah menggerakkan beberapa tataran untuk melakukan perlawanan terhadap Singasari. Yang terakhir adalah Pangeran Kuda Permati dan Pangeran Lembu Sabdata yang tertawan dalam keadaan kurang lengkap kesadarannya itu,” jawab Witantra.
Mahisa Agni mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Sebaiknya kita tinggal untuk sementara sambil mengamati, apakah sebenarnya masih ada sisa-sisa sikap dari Pangeran Kuda Permati di Kediri. Sementara itu, kita juga ingin mendengar apakah Pangeran Singa Narpada sudah menemukan seekor kerbau sebagaimana dikehendaki.”
“Ya. Tetapi orang-orang bertongkat itu sangat menarik perhatian,” jawab Witantra, “Sayang, bahwa kita tidak mempunyai tempat untuk tinggal di Kediri.”
“Kita dapat berada dimana saja,” desis Mahisa Agni.
Witantra mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya, “Tetapi akan lebih baik bagi kita jika kita mempunyai landasan di Kediri.”
“Kita pernah berada di Kediri. Apakah tidak ada seorang pun diantara orang-orang yang pernah kita kenal yang akan dapat membantu kita?” desis Mahisa Agni.
“Soalnya adalah, siapa diantara mereka yang dapat kita percaya? Setelah beberapa lama kita tidak pernah membuat hubungan dengan mereka, tentu kita memerlukan waktu untuk mengingat-ingat,” sahut Witantra.
Mahisa Agni mengangguk-angguk. Katanya, “Kita tidak tergesa-gesa. Kita masih mempunyai waktu cukup untuk menemukan seseorang yang kita kehendaki. Jika pada saatnya peti itu siap dan ternyata cahaya itu masih dapat kita lihat, maka orang yang menganjurkan untuk membuat peti perak itu tentu mempunyai maksud tersendiri.”
“Ya. Dan kita patut menilai maksud itu,” berkata Witantra kemudian.
Demikianlah kedua orang tua itu telah bertekad untuk tinggal beberapa lama di Kediri. Sebelum mereka menemukan tempat yang layak bagi landasan rencana mereka, maka mereka akan berada dimana saja sebagai dua orang pengembara sejati kita tidak akan tergantung kepada tempat.
Dari sehari, maka kedua orang itu memang berusaha untuk dapat berhubungan dengan seseorang yang dikenalnya dengan baik. Bukan seorang Pangeran. Bukan pula seorang Tumenggung. Tetapi justru seorang pekatik yang pernah berada di istana Mahisa Agni pada saat ia memegang kuasa Singasari di Kediri.
Pekatik yang juga sudah tua itu terkejut sekali ketika ia menyadari bahwa orang yang datang kepadanya itu adalah Mahisa Agni dan Witantra. Dua orang yang pernah dikenalnya sebagai dua orang pejabat tertinggi Singasari di Kediri. Bahkan yang kuasanya berada di sisi Sri Baginda pada waktu itu. Namun yang kedudukan itu kemudian telah dihapuskan ketika Singasari telah menganggap bahwa Kediri sudah dapat sepenuhnya dipercaya.
“Sudahlah,” berkata Mahisa Agni, “Kami datang tidak dalam jabatan kami. Tetapi kami adalah pengembara yang singgah untuk mencari air.”
“Ah,” desis pekatik itu, “Jangan begitu. Tuanku berdua dapat singgah di istana.”
“Tidak,” jawab Mahisa Agni dengan serta merta. Lalu katanya, “Aku memang sedang dalam penyamaran.”
“O.“ pekatik itu termangu-mangu.
“Aku sedang bermain-main dengan satu persoalan yang ingin kami pecahkan,” berkata Mahisa Agni, “Karena itu, aku memerlukan bantuanmu. Aku ingin berada di rumah ini sebagai saudaramu.“
“Bagaimana mungkin tuanku berdua berada di rumahku yang kecil dan kotor ini?” desis pekatik itu.
“Ingat. Kami berdua adalah pengembara,” jawab Mahisa Agni, “Kami berdua memerlukan bantuanmu bagi kepentingan Kediri dan Singasari. Kami dapat berada dimana saja. Bahkan selama ini kami tidur dibawah pepohonan, diatas rerumputan kering.”
Pekatik itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Segala sesuatunya terserah kepada tuanku, jika memang tuanku kehendaki. Apapun yang tuanku inginkan dapat tuanku lakukan disini.”
Ternyata Witantra dan Mahisa Agni dapat diterima dengan baik oleh pekatik itu. Sementara itu, pekatik itupun tahu benar maksud Witantra dan Mahisa Agni.
Karena itu, ketika Mahisa Agni minta agar ia memanggilnya dengan sebutan yang akrab pekatik itu berkata, “Sebenarnya memang demikian seharusnya. Tetapi rasa-rasanya sulit bagiku untuk mengucapkannya.”
“Panggil kami kakang,” berkata Mahisa Agni, “Bukankah menurut pengamatan lahiriah kami lebih tua dari padamu, meskipun mungkin umur kita hampir bersamaan.”
“Baiklah,” berkata pekatik itu, “Tetapi hendaknya jangan kelak kena kutuk karena aku telah berani memanggil tuanku berdua dengan sebutan kakang.”
“Kamilah yang menghendakinya,” berkata Witantra, “Dan sebenarnyalah bahwa kami adalah orang-orang kebanyakan yang tidak akan dapat membuat orang lain mengalami kesulitan.”
Dengan demikian maka Witantra dan Mahisa Agni telah berada di tempat pekatik itu pula, sebagaimana pernah mereka lakukan sebelumnya dalam penyamaran dan pengembaraan, meskipun pada orang yang berbeda.
Namun dalam pada itu, ternyata bahwa betapapun sulitnya, akhirnya usaha Pangeran Singa Narpada untuk menemukan seekor kerbau dungkul berkulit bule itupun berhasil. Ketika kerbau itu kemudian dibawa ke alun-alun, maka orang-orang di sekitarnya telah berkerumun untuk melihat seekor kerbau yang jarang ada itu. Bahkan mungkin di seluruh Kediri tidak dapat diketemukan genap lima ekor kerbau yang bertanduk dungkul dan berkulit bule.
Dengan satu upacara khusus maka kerbau yang jarang sekali terdapat itu, terpaksa dikorbankan untuk memenuhi nasehat seorang yang bersikap sangat baik kepada Pangeran Singa Narpada, yang dikenalnya dengan nama Ki Ajar Wantingan.
Meskipun Pangeran Singa Narpada tidak meletakkan segenap usaha pengamanan kepada ketiadaan cahaya yang dapat memancar dari benda yang paling berharga itu dengan menempatkannya didalam sebuah peti perak berlapis kulit kerbau yang jarang sekali terdapat itu, namun Pangeran Singa Narpada sama sekali tidak menaruh kecurigaan, bahwa ada maksud tertentu pada orang yang bersikap sangat baik itu.
Namun demikian, Pangeran Singa Narpada telah berusaha memenuhi nasehat itu yang mungkin memang akan dapat membantu mengamankan benda yang memang sangat berharga bagi Kediri itu.
Peristiwa yang termasuk aneh itu ternyata telah diikuti oleh beberapa pihak. Pangeran Singa Narpada tidak berhasil merahasiakan usahanya untuk melakukan pengamanan itu dengan diam-diam, karena sejak kerbau itu memasuki pintu gerbang, ternyata telah banyak sekali, menarik perhatian orang. Namun tidak banyak diantara mereka yang mengetahui, maksud sebenarnya dari Pangeran Singa Narpada yang telah mengorbankan kerbau dungkul berkulit bule itu.
Sebagian dari orang-orang Kediri itu menganggap bahwa korban kerbau dungkul itu dimaksud untuk menghindarkan Kediri dari perang saudara yang dapat merenggut jiwa yang tidak terhitung jumlahnya. Apalagi mereka itu adalah putra-putra terbaik dari Kediri.
Namun diantara mereka beberapa orang dari sebuah perguruan telah mengikuti perkembangan keadaan itu dengan saksama. Beberapa orang diantara mereka telah melihat di alun-alun pada saat kerbau itu dikorbankan.
“Kita akan segera memastikan bahwa mahkota itu akan berada didalam sebuah peti yang dibuat dari perak dan dilapisi dengan kulit kerbau yang dikorbankan itu. Kasihan. Binatang yang langka,” berkata seorang yang bertubuh kecil.
“Kau yang bersalah,” berkata kawannya, “Sebenarnya kau dapat menyebut yang lain. Seekor kerbau bule saja misalnya, atau apapun yang lebih banyak terdapat di Kediri daripada seekor kerbau dungkul berkulit bule.”
“Tetapi aku sudah terlanjur menyebutnya,“ jawab orang bertubuh kecil yang ternyata telah meninggalkan tongkatnya di penginapannya. Lalu, “Tetapi sudahlah. Ternyata Pangeran Singa Narpada telah berhasil mendapatkannya. Semakin sulit syarat itu didapatkannya, maka dianggapnya bahwa syarat itu akan semakin berarti.”
Kawannya mengangguk-angguk. Namun ia tidak menjawab lagi. Yang penting bagi mereka adalah mengikuti perkembangan usaha Pangeran Singa Narpada untuk membuat sebuah peti yang cukup besar dari perak dan dilapisi kulit kerbau yang dikorbankan itu.
Tetapi selain sekelompok murid dari sebuah perguruan itu, maka Mahisa Agni dan Witantra pun telah mengikuti perkembangan keadaan. Sekali lagi mereka memperhatikan cahaya teja yang terdapat di gedung perbendaharaan dari benda-benda yang paling berharga. Jika peti itu siap dan salah satu dari cahaya teja itu lenyap, maka apa yang dikatakan oleh orang yang menyebut dirinya Ki Ajar Wantingan itu benar-benar petunjuk yang sangat berarti. Tetapi jika ternyata tidak, maka tentu ada maksud yang lain dari orang yang menyebut dirinya Ajar Wantingan itu.
Namun mereka tidak dapat mengetahui dengan segera. Mereka harus menunggu kapan peti dan lapisannya itu siap. Pangeran Singa Narpada tentu tidak akan mengemukakan, bahwa ia telah menyimpan benda yang paling berharga itu didalam sebuah peti untuk menyerap cahaya tejanya, karena itu, maka Mahisa Agni dan Witantra harus berusaha mencari berita, apakah benda itu memang sudah disimpan.
Ternyata apa yang dilakukan oleh Mahisa Agni dan Witantra tidak banyak berbeda dengan apa yang telah dilakukan oleh murid-murid dari sebuah perguruan yang ternyata juga menginginkan mahkota yang dianggap menjadi tempat bersemayam Wahyu Keraton itu, sehingga siapa yang memilikinya akan dapat menjadi pemegang Wahyu Keraton itu pula, dan akan dapat pada suatu saat menjadi raja atau menurunkan raja-raja di Kediri.
Sementara itu, Pangeran Singa Narpada memang sudah memerintahkan untuk membuat sebuah peti dari perak yang kemudian akan dilapisi oleh kulit kerbau yang jarang sekali terdapat di Kediri itu.
Bagaimana juga rahasia itu disimpan, namun ternyata bahwa terbetik juga berita yang dapat ditangkap oleh Mahisa Agni dan Witantra lewat pekatik yang memberikan tempat tinggal kepada mereka, tetapi juga didengar oleh orang-orang yang memang telah menjerumuskan Pangeran Singa Narpada.
“Kotak itu sudah jadi,” berkata seseorang kepada orang yang bertubuh kecil dan bersenjata tongkat panjang itu, “Kulit kerbau itupun telah kering dan siap dipasang.”
“Kita akan menunggu beberapa hari lagi,” berkata orang bertubuh kecil, “usahakan untuk mendengar perkembangan keadaan.”
Dalam pada itu, pekatik yang masih juga bekerja di istana itupun mendengar juga bahwa kotak yang terbuat dari perak itu sudah selesai. Bahkan kulit kerbau itupun telah dipasang pula untuk melapisinya.
“Tetapi kemudian peti yang sudah dilapisi itu telah berada kembali di tangan Pangeran Singa Narpada,” kata pekatik itu. Lalu katanya, “Tidak seorang pun tahu, apa yang akan dilakukan dengan peti perak dan kulit kerbau itu.”
Mahisa Agni dan Witantra hanya mengangguk-angguk saja. Tetapi kepada pekatik itu mereka tidak mengatakan, apakah gunanya peti perak dan kulit kerbau dungkul berkulit bule itu.
Untuk meyakinkan kebenaran petunjuk tentang peti yang berlapis kulit kerbau itu, maka Mahisa Agni dan Witantra telah menunggu pula untuk beberapa lama. Ketika pada suatu malam mereka melihat gedung perbendaharaan, maka cahaya teja yang pernah dilihatnya itu masih tetap nampak.
“Mungkin Pangeran Singa Narpada masih belum mempergunakan peti itu,” berkata Mahisa Agni.
“Mungkin,” jawab Witantra, “Karena itu, kita akan menunggu lagi beberapa lamanya.”
Namun pekatik itu tiba-tiba pada suatu saat berkata kepada Mahisa Agni dan Witantra, “Menurut pendengaranku dari orang-orang di lingkungan istana dan yang bertugas membersihkan Gedung Perbendaharaan, bahwa peti-perak itu berada di gedung perbendaharaan.”
Mahisa Agni dan Witantra mengangguk-angguk. Katanya, “Terima kasih.”
“Tetapi buat apa sebenarnya tuanku, eh, kakang memperhatikan peti perak itu?” bertanya pekatik itu.
Mahisa Agni lah yang menjawab, “Tidak apa-apa. Tetapi peti itu sangat menarik perhatianku.”
Tetapi pekatik itu tersenyum. Meskipun ia sekedar seorang pekatik, tetapi ia bukannya orang yang dungu. Karena itu maka katanya, “Tuanku tentu merahasiakan sesuatu. Tetapi baiklah. Aku percaya bahwa setiap usaha tuanku tentu mengarah kepada sesuatu yang baik bagi Kediri.”
“Panggil aku kakang,” berkata Mahisa Agni.
“Ya. Maksudku memang demikian,” jawab pekatik itu.
Namun dengan keterangan itu, maka Mahisa Agni dan Wintantra telah mengulangi penglihatannya. Namun ternyata bahwa mereka masih melihat cahaya teja yang pernah dilihatnya itu. Merekapun yakin, bahwa orang-orang yang memiliki ketajaman penglihatan akan dapat mengetahui bahwa di gedung perbendaharaan itu masih terdapat beberapa pusaka yang keramat, diantaranya adalah tempat bersemayam Wahyu Keraton. Bagi orang yang tidak dapat mengenali cahaya itu, akan segera mengetahui bahwa benda yang sangat berharga itu berada di sebuah peti perak yang dilapisi oleh kulit seekor kerbau. Kulit kerbau apapun juga, akan mudah dibedakannya.
Tiba-tiba saja Mahisa Agni itupun berkata, “Jika Pangeran Singa Narpada memenuhi anjuran orang yang menyebut dirinya Ki Ajar Wantingan, bukankah itu berarti bahwa Pangeran Singa Narpada telah menempatkan benda yang paling berharga itu di tempat yang siap untuk diambilnya?”
“Jika orang-orang seperti Ajar Wantingan itu sendiri yang memasuki Gedung Perbendaharaan, maka ia tidak memerlukan tempat seperti itu, karena ia akan segera mengetahui, dimanakah dan yang manakah pusaka yang sangat berharga itu,” sahut Witantra.
“Jika orang lain yang melakukannya?” sahut Mahisa Agni. “Pada kesempatan yang terdahulu, Pangeran Lembu Sabdata ikut melibatkan diri, sehingga sebagai seorang Pangeran, maka ia tentu banyak mengenal letak dan ujud dari benda yang diinginkan. Karena itu, maka dengan bekal keterangan daripadanya, maka benda itu dapat diambil dari Gedung Perbendaharaan. Tetapi tanpa petunjuk apapun, seseorang yang memang belum mengetahuinya dan tidak memiliki ketajaman penglihatan akan sulit untuk dengan cepat menemukannya.”
Witantra mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Aku mengerti. Agaknya maksud orang yang menyebut dirinya Ajar Wantingan itu memang demikian, meskipun aku tidak mutlak menuduhnya.”
Mahisa Agni mengangguk-angguk. Katanya, “Sesuatu yang sangat menarik.”
Dalam pada itu, bahwa peti yang terbuat dari perak berlapis kulit seekor kerbau dungkul berkulit bule telah berada di Gedung perbendaharaan, telah di dengar pula oleh orang-orang bertongkat yang dipimpin orang yang menyebut dirinya Ki Ajar Wantingan. Dengan segera mereka-pun telah mengadakan pembicaraan tentang langkah-langkah akan mereka ambil.
“Mahkota itu tentu telah berada di dalam peti itu,” berkata orang bertubuh kecil itu.
“Ya. Satu kesempatan sudah terbuka,” sahut yang lain.
“Tetapi kita jangan tergesa-gesa. Menurut pengamatan orang-orang yang dapat kita percaya, meskipun mereka tidak menyadari, namun mereka telah memberikan beberapa keterangan tentang penjagaan atas gedung perbendaharaan itu. Agaknya masih ada kecemasan di hati Pangeran Singa Narpada, sehingga penjagaan di Gedung Perbendaharaan itu masih terlalu kuat,” berkata orang bertubuh kecil itu.
Namun demikian seorang kawannya tersenyum sambil menjawab, “Kita akan memberikannya kepada Kerbau dungkul kita. Ia tidak akan dapat dicegah oleh penjagaan yang betapapun kuatnya sebagaimana pernah terjadi. Ia memiliki ilmu sirep yang sangat kuat. Jauh lebih kuat dari ilmu orang yang menyebut dirinya Ajar Bomantara itu. Meskipun ada juga Senapati yang bertugas, tetapi ia tidak akan terlepas dari kekuatan sirep itu. Kecuali jika Pangeran Singa Narpada sendiri yang berada di Gedung perbendaharaan, mungkin ia akan dapat lolos dari pengaruh sirep itu.”
“Kita memang akan menghubungi paman Kebo Sarik,” berkata orang bertubuh kecil. ”Jangan hinakan paman kita itu dengan istilah-istilah yang menyakitkan hati. Ia adalah adik seperguruan guru kita, yang memiliki kemampuan sebagaimana guru kita. Seandainya terpaut serba sedikit, itu adalah wajar karena ia lebih muda dari guru kita.”
“Maaf, aku agak terlanjur menyebutnya,“ jawab saudara seperguruannya, “Tetapi ujudnya memang mengingatkan kita kepada seekor kerbau. Aku kira paman Kebo Sarik tidak akan marah meskipun kau berkata seperti itu di hadapannya.“ ia berhenti sejenak, lalu, “Tetapi kita harus kembali ke Parang Gantungan, atau ke Parang Wedang untuk menemuinya.”
“Guru akan memerintahkannya menemui kita. Kita akan mencarinya di sekitar Hutan Wentar sebagaimana yang pernah guru katakan,” berkata orang bertubuh kecil itu, “Mudah-mudahan paman sudah datang.”
“Apakah kira-kira paman bersedia,” bertanya seorang diantara adik-adik seperguruannya itu.
“Jika guru memerintahkannya,“ jawab orang bertubuh kecil itu.
“Tetapi paman bukannya orang yang rajin. Ia seorang pemalas meskipun sebenarnya ia memiliki ilmu yang sangat tinggi sebagaimana guru sendiri,” berkata yang lain lagi.
Tetapi saudara seperguruannya yang lebih tua berkata, “Ia akan datang. Kita akan mengatakan kepada paman, bahwa tugasnya telah menunggu.”
Orang bertubuh kecil itu kemudian berkata, “Ya. Paman akan memasuki Gedung Perbendaharaan dan mengambil peti yang terbuat dari perak itu. Meskipun paman tidak memiliki ketajaman penglihatan batin yang akan dapat melihat cahaya teja yang memancar dari benda yang sangat berharga itu, namun ia akan dapat langsung menemukan peti yang kita perlukan itu.”
“Bukankah kau akan dapat menyertainya?” bertanya salah seorang saudara seperguruannya.
“Memang mungkin. Tetapi semakin banyak orang yang memasuki halaman istana, maka kemungkinan untuk dapat diketahui menjadi semakin besar pula,” jawab orang bertubuh kecil itu, “Tetapi kita akan berbicara dengan paman. Apakah ia akan sendiri memasuki halaman istana atau ia memerlukan seorang kawan. Paman dan aku sama-sama belum mengenali isi istana itu. Lorong-lorong dan longkangan-longkangan serta bangsal-bangsal yang ada. Yang aku ketahui, dan yang juga akan dapat diketahui oleh paman, adalah keterangan-keterangan tentang itu. Dan aku yakin, sebagaimana aku dan kalian, maka paman tentu akan dapat mengenalinya jika ia mendapat kesempatan untuk memasuki halaman istana itu.”
Saudara-saudara seperguruannya mengangguk-angguk. Lalu seorang diantara mereka berkata, “Jika demikian, kita akan pergi ke Hutan Wentar. Mudah-mudahan kita akan dapat menemuinya.”
Dengan demikian, maka keempat orang itupun telah siap untuk pergi ke Hutan Wentar. Sementara itu, orang bertubuh kecil itu tidak mencemaskan bahwa mahkota yang akan diambilnya itu telah diambil lebih dahulu oleh orang lain.
Pada saat keempat orang itu meninggalkan daerah perbatasan Kota Raja Kediri, maka dua orang anak muda justru telah memasuki Kota Raja. Adalah diluar dugaan, bahwa ketika mereka berada di sebuah kedai, dua orang justru sedang membicarakan empat orang bertongkat yang berjalan beriringan.
“Tongkat mereka panjang?” bertanya salah seorang dari kedua anak muda itu.
“Ya. Tongkat mereka terlalu panjang,” jawab orang itu.
Sementara pemilik kedai itupun menyahut, “Dua diantaranya sering datang dan makan dikedai ini dengan tongkat-tongkat mereka. Tetapi ketika kemudian mereka datang berempat, mereka tidak lagi membawa tongkat-tongkat panjang mereka.”
“Kenapa?” bertanya salah seorang dari kedua anak muda itu.
“Aku tidak tahu,“ pemilik warung itu menggeleng.
Anak-anak muda itupun mengangguk-angguk. Namun kemudian salah seorang diantara mereka berbisik, “Mereka tidak ingin menarik perhatian. Jika keempat-empatnya membawa tongkat panjang, maka akan segera diketahui, bahwa mereka adalah sekelompok orang dari satu perguruan.”
“Tetapi ketika mereka meninggalkan tempat ini, mereka juga membawa tongkat-tongkat mereka,” sahut yang lain.
“Tidak ada kemungkinan lain. Mereka tentu tidak akan meninggalkan tongkat-tongkat mereka, karena tongkat-tongkat mereka itu adalah senjata mereka,” jawab yang lain.
Yang seorang mengangguk-angguk. Tetapi mereka tidak membicarakannya lagi.
Ketika kedua orang anak muda itu kemudian meninggalkan kedai itu, maka seorang diantaranya berkata, “Kita akan langsung mencari paman Mahisa Agni dan paman Witantra. Mungkin keduanya menaruh perhatian atas keempat orang pembawa tongkat panjang itu.”
Demikianlah, maka sebagaimana dikatakan, kedua anak muda itu telah memasuki Kota Raja Kediri dan berusaha untuk mencapai tempat yang sudah dijanjikan. Ketika mereka belum menemukan Mahisa Agni dan Witantra di tempat itu, maka keduanya telah menunggu.
“Sampai kapan?” bertanya Mahisa Pukat.
“Setiap saat kita datang ke tempat ini,” jawab Mahisa Murti, “Kita tidak harus selalu berada disini. Memang mungkin kita berselisih waktu. Pada saat kita datang kedua paman itu baru saja meninggalkan tempat ini atau sebaliknya. Tetapi pada suatu saat kita tentu akan bertemu.”
Sebenarnyalah keduanya tidak perlu menunggu terlalu lama. Di hari berikutnya, ketika kedua orang anak muda itu mengawasi tempat yang mereka janjikan untuk bertemu dengan Mahisa Agni dan Witantra dari tempat yang agak jauh, mereka telah melihat dua orang tua berjalan melewati tempat itu.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun kemudian mengikuti Mahisa Agni dan Witantra ke rumah pekatik yang telah memberi kesempatan kedua orang tua itu tinggal selama mereka berada di Kediri.
Di rumah pekatik itulah maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sempat berceritera tentang keempat orang bertongkat yang meninggalkan daerah perbatasan.
“Mereka pergi kemana?” bertanya Mahisa Agni.
“Itulah,” berkata Mahisa Murti.
Mahisa Pukat pun kemudian bangkit berdiri dan melangkah mendekat.
“He, kau sudah datang,” desis Witantra.
“Aku sudah sehari disini,” berkata Mahisa Pukat.
“Marilah, ikut kami. Kami tinggal di rumah seorang sahabat yang baik.”Ajak Witantra.
“Tidak seorang pun yang mengetahuinya,“ jawab Mahisa Murti.
Mahisa Agni mengangguk-angguk. Namun kepergian keempat orang itu justru menjadi teka-teki baginya.
“Mungkin tugas mereka sudah selesai,” berkata Witantra.
“Tugas yang mana?” bertanya Mahisa Agni.
“Mereka hanya bertugas untuk berusaha agar benda yang sangat berharga itu ditempatkan pada satu tempat yang mudah dikenal. Sementara itu akan ada petugas lain yang datang untuk mengambilnya,” jawab Witantra.
“Memang masuk akal,” berkata, Mahisa Agni kemudian, “tetapi apakah mereka pergi begitu saja dan tidak akan ikut campur dalam usaha pengambilan benda berharga itu? Atau mereka memang bermaksud baik. Mereka benar-benar ingin membantu Pangeran Singa Narpada, agar mahkota itu tidak terlalu menarik perhatian. Tetapi usaha itu tidak berhasil, sehingga dengan demikian maka mereka pun tidak lagi merasa mempunyai tugas apapun lagi.”
“Banyak kemungkinan dapat terjadi,” sahut Witantra, “Tetapi sebaiknya kita tetap berhati-hati. Kita dapat saja mencurigai langkah-langkah seseorang meskipun akhirnya ternyata bahwa kitalah yang keliru.”
“Jadi bagaimana menurut pendapatmu?” bertanya Mahisa Agni.
“Kita ikut mengawasi gedung perbendaharaan itu,“ jawab Witantra, “Kita sudah mengetahui letaknya dan kita mengetahui kemungkinan yang paling besar, jalan yang akan dilalui seseorang apabila ia ingin memasuki istana dan menuju ke Gedung Perbendaharaan.”
“Paman sudah mengetahui letak bangsal-bangsal di istana Kediri?” bertanya Mahisa Pukat.
“Aku dan paman Mahisa Agni pernah berada di Kediri dalam tugas kami yang berat. Karena itu, maka kami serba sedikit dapat mengetahui tentang istana Kediri,” jawab Witantra.
“Tetapi apapun kita tidak usah menyampaikan kepada Pangeran Singa Narpada?” bertanya Mahisa Pukat.
“Kita menunggu perkembangan keadaan,” jawab Mahisa Agni, “Mungkin kitalah yang salah menilai.”
Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Kita akan menunggu perkembangan keadaan.”
“Namun sementara ini, kita akan selalu mengawasi jalan yang menuju ke Gedung Perbendaharaan itu. Maksudku, jalan yang paling mungkin dilalui dengan diam-diam, diluar pengamatan atau kemungkinan pengamatan yang paling kecil dari para pengawal,” berkata Mahisa Agni.
Dengan demikian, maka Mahisa Agni, Witantra dan kedua orang kakak beradik itu sudah menempatkan diri mereka dibawah tugas yang mereka letakkan di pundak mereka sendiri.
Namun menurut perhitungan mereka, jika seseorang ingin memasuki Gedung Perbendaharaan Istana itu, maka tentu akan dilakukannya dimalam hari.
Dengan demikian maka bagi Mahisa Agni, pengawasan yang paling cermat justru harus dilakukan pada malam hari.
“Kita akan mengamati Gedung Perbendaharaan itu di malam hari,” berkata Mahisa Agni, “Kita akan membagi diri menjadi dua kelompok. Aku dengan Mahisa Murti dan Witantra dengan Mahisa Pukat. Kita akan berganti-ganti melakukan tugas pengamatan itu, sehingga kita tidak akan menjadi terlalu letih. Meskipun kita berempat akan berada di satu tempat, tetapi yang bertugas akan kita tentukan bergantian.”
Witantra sependapat dengan Mahisa Agni, sehingga dengan demikian maka mereka pun telah membagi hari-hari yang akan mereka lalui dengan tugas yang mereka sandang atas kehendak mereka sendiri.
Beberapa hari hal itu telah mereka lakukan. Namun mereka sama sekali tidak menjumpai peristiwa yang menarik perhatian. Namun pada hari-hari berikutnya, keempat Orang itu merasa bahwa seseorang telah melihat kehadiran mereka dan mengawasinya.
“Apakah kita perlu berbuat sesuatu atasnya?” bertanya Mahisa Murti yang sedang bertugas bersama Mahisa Agni.
“Jangan,” jawab Mahisa Agni, “Biarlah terjadi sesuatu. Baru kita tahu, apa yang akan dilakukannya.”
Sementara itu, orang yang sedang mengawasi mereka itupun tidak pula berbuat apa-apa, sehingga untuk sementara mereka saling berdiam diri dan tidak mengambil langkah-langkah apapun juga. Ternyata Witantra pun telah mencegah Mahisa Pukat untuk mengamati orang itu dekat lagi.
“Kita harus berhati-hati,” berkata Witantra, “Bukankah kita tidak akan berbuat jahat dan tidak akan memasuki Gedung Perbendaharaan? Dengan demikian, maka tidak akan ada orang yang bertindak atas kita, karena kita tidak berbuat apa-apa disini.”
Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Tetapi iapun sudah bersiaga. Seandainya ada juga orang yang berbuat apa-apa, maka ia sudah siap menghadapinya.
Ternyata dari hari ke hari mereka tidak menemui persoalan yang penting selain malam yang dingin dan angin yang basah bagaikan meresap sampai ke tulang. Sekali-sekali mereka masih melihat seseorang yang kadang-kadang bergerak dengan cepat melintas dalam jarak pengamatan. Tetapi orang itupun tidak berbuat apa-apa sebagaimana keempat orang itupun tidak berbuat apa-apa juga.
Sementara itu, keempat orang bertongkat yang pergi ke Hutan Wentar ternyata telah sampai ketujuan. Setelah berada beberapa saat di hutan Wentar, ternyata mereka telah menemukan orang yang mereka cari.
“Paman,” berkata orang yang bertubuh kecil. ”Aku sudah berhasil membujuk Pangeran Singa Narpada untuk menempatkan pusaka itu di sebuah peti dari perak.”
“Dan kau berharap mengambilnya,” sahut seorang yang bertubuh gemuk dan berambut panjang terurai dibawah ikat kepalanya berjuntai dengan kasar sampai ke bahunya.
“Ya paman,” jawab orang bertubuh kecil itu.
“Anak-anak dungu,“ geram orang bertubuh gemuk itu, “Ternyata kalian adalah anak-anak yang tidak berarti sama sekali. Umur kalian yang semakin tua itu tidak menumbuhkan kemampuan didalam diri kalian selain kesombongan dan ketamakan saja.”
Orang bertubuh kecil itu tersenyum. Katanya, “Paman jangan menganggap kami masih terlalu bodoh. Kami sudah menjadi semakin tua paman. Dan pengalaman kami pun telah menjadi cukup panjang.”
“Tetapi kalian masih memerlukan aku untuk mengambil benda itu,“ jawab pamannya, “Jika bukan gurumu yang memerintahkan aku kemari, aku sebenarnya sangat segan melakukannya. Bukan karena aku merasa takut. Tetapi cara begini akan membuat kalian tetap manja dalam umur kalian yang semakin tua. Bahkan rambut kalian sudah mulai ubanan.”
“Paman,” berkata orang bertubuh kecil itu mewakili saudara-saudara seperguruannya, “paman memang mempunyai kelebihan dari kami di samping kekurangan paman.”
“Kekurangan?” mata orang bertubuh gemuk itu terbelalak. ”Kau menganggap bahwa padaku masih terdapat kekurangan?”
“Ya, sebagaimana kami masih belum menguasai benar-benar ilmu sirep, paman pun tidak mempunyai ketajaman penglihatan atas cahaya-cahaya gaib dari benda-benda yang keramat dan bertuah.”
“Apa artinya cahaya-cahaya gaib itu?“ geram orang bertubuh gemuk.
“Karena itulah maka paman harus mendapat petunjuk. Benda yang harus paman ambil berada di sebuah peti perak berlapis kulit. Kulit apapun itu tidak penting. Tetapi diantara benda-benda yang ada, yang berada di peti perak itulah yang paling harga. Karena didalam peti itulah Wahyu Keraton bersemayam,” sahut orang bertubuh kecil itu.
“Persetan,“ geram orang bertubuh gemuk itu, “Kalian masih juga dapat menyombongkan diri. Tetapi baiklah. Aku akan menolong kalian karena guru kalian juga akan datang kemari. Jika aku tidak melakukannya, kakang itu tentu akan marah kepadaku.”
Orang bertubuh kecil itu tidak peduli apapun alasannya. Tetapi yang penting baginya pamannya itu bersedia mengambil benda yang sangat berharga itu di Gedung Perbendaharaan.
“Tetapi apakah paman akan memasuki Gedung itu sendiri, atau memerlukan satu dua orang kawan?” bertanya orang bertubuh kecil itu.
“Kau mulai menghina aku lagi,“ geram orang gemuk itu, “Sejak kapan aku memerlukan kawan dalam satu tugas betapapun beratnya?”
Orang bertubuh kecil itu tidak menjawab. Demikian pula adik-adik seperguruannya. Namun mereka mendapat satu keyakinan bahwa pamannya benar-benar akan melakukannya. Karena itu, maka mereka tidak mempersoalkannya lagi.
Tetapi yang kemudian ditanyakan oleh orang bertubuh kecil itu adalah, “Kapan guru akan datang?”
“Aku tidak tahu waktunya,” berkata orang gemuk itu, “Tetapi gurumu akan datang?”
“Baiklah paman. Jika demikian maka semua persoalan sudah menjadi jelas. Namun demikian, agaknya paman tidak usah tergesa-gesa. Kita mempunyai kesempatan untuk beristirahat serta mempersiapkan segala sesuatu yang perlu,” berkata orang yang bertubuh kecil itu. “Dalam tiga empat hari kita sempat tidur nyenyak sambil menunggu guru.”
Dengan demikian, maka orang-orang itupun sempat berbicara tentang istana. Tentang letak Gedung Perbendaharaan dan tentang orang-orang yang tidak menyadari, telah diperalat untuk memberikan beberapa keterangan tentang keadaan istana itu. Tetapi ternyata guru orang-orang bertongkat itu tidak segera datang, sehingga orang bertubuh gemuk itu pada suatu hari berkata, “Bagaimana jika gurumu tidak jadi datang?”
“Apakah paman sanggup melakukan sebelum guru hadir?” bertanya orang bertubuh kecil itu.
“Sekali lagi kau menghina aku, aku akan kembali ke Padepokan,“ geram orang gemuk itu.
“Kenapa aku menghina?” bertanya orang bertubuh kecil itu.
“Kau menganggap bahwa yang dapat aku lakukan sangat tergantung kepada gurumu,” jawab orang itu.
“Bukan maksudku paman,” jawab orang bertubuh kecil itu, “Tetapi jika paman akan melakukannya kami pun tidak berkeberatan.”
“Kalian mau apa?” bertanya orang gemuk itu.
“Setidak-tidaknya kami dapat membantu paman diluar dinding istana. Jika paman sudah berhasil, maka kami berempat akan dapat menemani paman menyusuri jalan-jalan Kediri, karena kami mengenali jalan-jalan di Kediri seperti mengenali halaman rumah kami sendiri,” jawab orang bertubuh kecil itu.
Orang yang gemuk itu mengangguk-angguk. Katanya, “Kita tunggu sampai besok. Jika gurumu tidak datang, aku akan melakukannya. Aku sudah terlalu lama berada disini.”
“Terserah kepada paman. Tetapi kami hanya ingin memperingatkan, bahwa di Kediri ada orang-orang yang memiliki ilmu yang tinggi, yang mungkin dapat terlepas dari ilmu sirep paman.”
Berbeda dengan kebiasaannya, orang bertubuh gemuk itu menanggapinya dengan sungguh-sungguh, “Kita memang harus berhati-hati. Aku tidak mengingkari kemungkinan bahwa ada orang yang memiliki kelebihan. Tetapi apakah setiap hari orang-orang memiliki ilmu yang tinggi itu selalu ada diantaranya para prajurit pengawal?”
“Itulah yang akan kami selidiki lebih dahulu,” jawab orang bertubuh kecil itu, “Karena itu, agaknya lebih baik bagi kita untuk mendekati Kediri setelah besok guru tidak datang.”
Dengan demikian maka mereka telah menunggu satu hari lagi. Tetapi guru orang-orang bertongkat itu memang tidak datang. Karena itu, maka mereka pun telah sepakat untuk pergi ke Kediri. Mereka akan mulai merintis jalan untuk menyelesaikan tugas mereka yang berat itu.
Sementara itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun mulai menjadi gelisah. Meskipun demikian, mereka sama sekali tidak menunjukkan perasaannya itu kepada Mahisa Agni dan Witantra, betapapun mereka membicarakannya diantara keduanya.....
Bersambung.....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar