*HIJAUNYA LEMBAH : JILID-027-01*
Namun satu perkembangan baru telah terjadi. Orang yang nampak sekali-sekali melintas dalam garis pengamatan itu tidak lagi nampak. Sehingga dengan demikian, maka seolah-olah orang itu telah melepaskan pengamatannya atas keempat orang dari Singasari itu.
“Apa sebabnya?” bertanya Mahisa Pukat kepada Mahisa Agni.
“Aku tidak tahu,” jawab Mahisa Agni, “mungkin orang itu telah mendapat keyakinan bahwa kita tidak akan berbuat apa-apa.”
“Tetapi ada kemungkinan lain,” berkata Witantra, “Mungkin orang itu mengenali salah seorang di antara kita sehingga orang itu tidak perlu meneruskan pengamatannya.”
“Ya,” Mahisa Agni mengangguk-angguk, “tetapi menilik jarak pengamatan dan cara yang dipergunakan, sulit baginya untuk dapat mengenali salah seorang dari kita. Hal itu hanya mungkin karena orang itu mengenali tabiat salah seorang di antara kita yang dapat dilihatnya dari kejauhan.”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Tetapi mereka tidak menyatakan sesuatu. Bahkan Mahisa Agni pun kemudian berkata, “Tetapi kita masih harus tetap berhati-hati. Bagaimana pun juga, ada seribu kemungkinan masih dapat terjadi.”
Sebenarnyalah bahwa mereka memang tidak meninggalkan kewaspadaan. Semakin lama rasa-rasanya mereka justru merasa bahwa mereka harus bersiap menghadapi sesuatu.
Namun dalam pada itu, di siang hari ketika Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pergi ke pasar yang ramai di Kediri, dengan berusaha untuk tidak bertemu dengan orang-orang yang mengenalinya, terutama orang-orang di seputar Pangeran Singa Narpada, telah dikejutkan dengan kehadiran seorang pedagang besi-besi bertuah, wesi aji dan bebatuan memiliki nilai-nilai yang khusus. Nampaknya orang itu mendapat perhatian dari isi pasar yang memang ramai itu.
“Apa kerja ayah disini?” bisik Mahisa Murti.
“Seperti seorang dukun yang memamerkan berbagai wesi aji,” sahut Mahisa Pukat.
Mahisa Murti mengangguk-angguk. Tetapi kemudian katanya, “Tetapi bukankah memang pekerjaan ayah berdagang wesi aji dan batu akik di samping kadang-kadang juga permata intan berlian di musim tidak ada kerja di sawah?”
“Tetapi bukankah ayah tidak pernah memakai cara itu? Menarik perhatian orang banyak dengan ceritera yang kadang-kadang membual?” sahut Mahisa Pukat.
Mahisa Murti tertawa. Katanya, “Kau tahu kenapa begitu?”
Mahisa Pukat merenung. Namun tiba-tiba ia berdesis, “Ayah sedang mencari perhatian.”
“Ya. Ayah memang sedang mencari kita,” sahut Mahisa Murti, “satu hal yang tidak direncanakan, sehingga sebelumnya ayah tidak bertanya kepada kita, dimana ayah dapat menemui kita.”
“Tetapi ayah tahu, dimana kita dapat menemui paman Mahisa Agni dan paman Witantra,” desis Mahisa Pukat.
“Ayah tentu sudah mencari kita di sana. Tetapi bukankah kita tidak pernah lagi ke tempat itu sejak kita berada di tempat pekatik yang baik hati itu?” jawab Mahisa Murti.
Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Namun tiba-tiba saja diluar pengertian Mahisa Murti, Mahisa Pukat telah menyibakkan beberapa orang yang mengerumuni Mahendra yang sedang menjajagi beberapa jenis wesi aji dan batu-batu yang dianggap bertuah.
Dengan kasar tiba-tiba saja Mahisa Pukat membentak, “He orang tua. Kenapa kau berusaha menipu orang banyak.”
Mahendra terkejut. Tetapi ketika ia mengangkat wajahnya, tiba-tiba saja ia menarik nafas dalam-dalam. Dengan suara merendah ia bertanya, “Apa yang kau maksud anak muda.”
“Omong kosong dengan segala bualanmu tentang wesi aji dan batu akik. Kau kira ada orang yang akan percaya kepadamu? Kau anggap orang-orang Kediri itu masih terlalu bodoh seperti orang-orang dari daerah asalmu?” bentak Mahisa Pukat.
Mahendra menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Maaf, anak muda. Jadi apa yang harus aku lakukan.”
“Simpan barang-barangmu dan ikut aku,” berkata Mahisa Pukat.
Mahisa Murti mengumpat. Mahisa Pukat telah melakukan kesalahan karena gejolak kemanjaannya. Tetapi ternyata Mahendra tidak membantah. Ia pun kemudian menyimpan barang-barangnya dan kemudian berkata kepada orang-orang yang berkerumun, “Maaf Ki Sanak. Permainanku terpaksa aku hentikan. Aku akan mengikuti anak muda ini dan menyelesaikan persoalan kami.”
Mahisa Pukat pun kemudian meninggalkan tempat itu diikuti oleh Mahendra dan Mahisa Murti.
Diluar pasar, ketika mereka tidak lagi berada di antara banyak orang Mahisa Murti berdesis, “Apakah pantas seorang pengembara berbuat seperti yang kau lakukan?”
Mahisa Pukat mengerutkan keningnya. Namun Mahendra lah yang menjawab, “Biarlah. Mudah-mudahan tidak ada orang yang menghiraukan. Satu cara Mahisa Pukat untuk mengajak aku mengikutinya keluar dari pasar itu.”
Mahisa Murti mengerutkan keningnya. Tetapi ia pun kemudian bertanya, “Tetapi bagaimana tanggapan mereka jika besok kita nampak lagi di pasar itu?”
“Aku memang kurang memikirkan akibatnya,” berkata Mahisa Pukat.
Namun Mahendra pun berkata, “Aku mengerti. Karena itu, untuk beberapa hari kalian tidak usah pergi ke pasar itu.”
Mahisa Murti mengangguk-angguk. Jawabnya, “Baik ayah.”
“Nah, sekarang, aku akan kalian bawa kemana?” bertanya Mahendra.
“Ke paman Mahisa Agni dan paman Witantra,” jawab Mahisa Pukat.
“Jadi kalian telah bertemu dengan pamanmu Mahisa Agni dan pamanmu Witantra,” bertanya Mahendra.
“Bukankah kami sudah berjanji untuk bertemu?” sahut Mahisa Murti.
“Bagus. Dengan demikian mungkin kalian memerlukan petunjuk-petunjuk mereka dalam hal tertentu,” berkata Mahendra, “tetapi apakah sudah terjadi sesuatu dengan kalian?”
“Belum ayah,” jawab Mahisa Pukat, “tetapi nampaknya keadaan menjadi semakin meningkat. Namun kami belum dapat mengatakan, apa yang akan terjadi.”
Mahendra mengangguk-angguk. Katanya, “Syukurlah. Agaknya aku memang ingin terlibat seandainya akan terjadi sesuatu. Rasa-rasanya ingin juga sekali-sekali mengenang pada masa muda sebagaimana dilakukan oleh paman-pamanmu itu.”
“Tetapi belum tentu akan terjadi sesuatu ayah,” jawab Mahisa Murti.
“Tentu saja aku tidak ingin memaksakan terjadi sesuatu,” jawab Mahendra. “Tetapi baiklah, mungkin dari paman-pamanmu aku akan mendapat kesan tentang Kediri.”
Kedua anak muda itu tidak menjawab lagi. Mereka pun semakin lama menjadi semakin dekat dengan rumah pekatik yang memang agak tersembunyi karena rumah itu bukan rumah yang baik dan besar.
Kedatangan Mahendra memang mengejutkan Mahisa Agni dan Witantra. Namun merekapun kemudian menjadi gembira karena mereka mendapat seorang kawan lagi dalam tugas mereka yang agak menjemukan.
“Kita akan menghadapi satu permainan yang menjemukan. Bahkan mungkin tidak akan terjadi apa-apa setelah kita menunggu beberapa lama sehingga Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menjadi hampir kehabisan kesabaran,” berkata Mahisa Agni.
Mahendra mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya, “Mungkin yang kita tunggu sekarang ini merupakan ujian kesabaran dan ketabahan bagi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.”
Mahisa Agni dan Witantra mengerutkan keningnya. Namun kemudian merekapun tersenyum. Sementara Mahisa Agnipun berkata, “Memang mungkin akan bermanfaat bagi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat dan bagi perkembangan ilmu mereka.”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sendiri hanya terdiam. Tetapi sebenarnyalah mereka memang sudah menjadi jemu menunggu. Tidak terjadi sesuatu di Gedung Perbendaharaan. Pekatik itu pun mengatakan bahwa peti perak itu masih berada didalam gedung.
Tetapi Mahisa Agni dan Witantra, bahkan kemudian juga Mahendra yang baru datang, berpendapat, bahwa mungkin memang akan terjadi sesuatu meskipun tidak segera.
Namun setiap kali mereka selalu minta agar pekatik itu berusaha mencari keterangan tentang peti perak berlapis kulit kerbau dungkul yang berwarna bule.
Sementara itu, orang yang bertubuh gemuk, yang menamakan dirinya Kebo Sarik beserta keempat orang bertongkat itu pun telah berada di Kediri pula. Dari orang-orang yang tidak menyadari bahwa dirinya telah diperalat, maka orang bertubuh kecil itu mengerti, bahwa peti perak itu masih tetap berada di Gedung Perbendaharaan.
Karena guru ke empat orang bertongkat itu tidak juga segera datang, maka Kebo Sarik tidak sabar lagi menunggunya. Katanya kemudian kepada ke empat orang bertongkat itu, “Gurumu tidak dapat dipastikan, kapan ia akan datang. Karena itu, maka aku tidak dapat disuruh menunggunya tanpa batas. Aku akan segera melakukan tugas yang ingin kau bebankan kepadaku itu.”
“Baiklah paman,” berkata orang yang bertubuh kecil, “tetapi aku mohon paman melakukannya menunggu satu dua malam. Aku harus meyakinkan bahwa tidak ada seorang pun di antara para penjaga yang berilmu tinggi, yang akan mampu menolak atau melawan ilmu paman yang dahsyat itu.”
Kebo Sarik mengangguk-angguk. Katanya, “Terserahlah kepadamu. Tetapi ada juga baiknya kita berhati-hati.”
Dengan demikian, maka orang bertubuh kecil itu berusaha untuk meyakinkan, bahwa penjagaan yang kuat di Gedung Perbendaharaan adalah penjagaan dalam keadaan wajar. Apalagi setelah pusaka itu ditempatkan di dalam peti yang menurut pengertian orang bertubuh kecil itu, dianggap bahwa Pangeran Singa Narpada percaya bahwa cahaya teja dari benda yang paling berharga itu telah diserap oleh peti dan lapisannya.
Dari beberapa orang pelayan dalam yang tidak menyadari dengan siapa ia berbicara, dan dengan beberapa keping uang, maka orang bertubuh kecil itu mendapat keterangan tentang Gedung Perbendaharaan.
“Yang bertugas setiap malam hanyalah para prajurit. Para Pelayan Dalampun kadang-kadang harus juga bertugas malam. Tetapi sekedar untuk melayani kebutuhan para petugas di Gedung Perbendaharaan yang jarang sekali terjadi melakukan sesuatu di malam hari,” berkata seorang Pelayan Dalam kepada orang bertongkat yang bertubuh kecil itu.
“Bagaimana dengan Pangeran Singa Narpada?” bertanya orang bertubuh kecil itu.
“Jarang sekali Pangeran Singa Narpada mengunjungi Gedung perbendaharaan itu. Pangeran itu agaknya terlalu percaya kepada para prajurit yang sudah berlipat dua dari para prajurit yang bertugas mengawal Gedung Perbendaharaan itu sebelumnya,” jawab Pelayan Dalam itu.
Orang bertubuh kecil itu mengangguk-angguk. “Jumlah yang berlipat limapuluh tidak merupakan hambatan bagi paman. Tetapi meskipun hanya seorang tetapi memiliki kemampuan untuk melawan sirep, maka barulah persoalannya harus dipecahkan,” berkata orang bertubuh kecil itu di dalam hatinya.
Keterangan itulah yang disampaikannnya kepada pamannya. Yang kemudian berkata, “Baiklah. Jika demikian, aku akan mengambilnya. Aku akan membuat semua orang tertidur dan mengambil barang itu sebagaimana aku mengambil di rumahku sendiri.”
“Tetapi hati-hatilah paman,” berkata orang bertubuh kecil itu, “Benda itu adalah benda yang sangat keramat. Karena itu, maka aku mohon paman agak mengenakan sedikit subasita. Mungkin paman harus menyembah benda yang akan paman ambil itu.”
“Aku harus menyembah?” mata Kebo Sarik terbelalak.
“Menurut pendengaranku, benda itu memiliki kekuatan diluar kewajaran,” jawab orang bertubuh kecil itu.
“Omong kosong,” jawab Kebo Sarik, “yang penting bagi kalian adalah, bahwa benda itu aku bawa kepada kalian bersama petinya.”
“Baik paman,” jawab orang bertubuh kecil itu.
“Jangan hiraukan apa yang aku lakukan,” jawab Kebo Sarik, “sementara adalah persoalanku. Dan aku akan mengatasinya.”
“Baiklah paman,” jawab orang bertubuh kecil itu, “kami akan menunggu paman diluar. Kami akan membantu paman agar paman dengan cepat meninggalkan istana dan tidak tersesat, karena jalan di Kediri yang bersimpang siur.”
“Kalian curiga bahwa aku akan membawa benda itu lari?” bertanya Kebo Sarik.
“Tidak paman, sama sekali tidak,” jawab orang bertubuh kecil itu, “aku tahu paman sangat baik terhadap kami. Apalagi terhadap guru yang merupakan saudara seperguruan paman itu. Karena itu, paman tidak akan sampai hati melarikan benda itu.”
“Terima kasih,” jawab Kebo Sarik, “mudah-mudahan aku dapat menahan diri.”
Orang bertubuh kecil itu termangu-mangu sejenak. Namun ia pun kemudian tersenyum sambil berkata, “Sekali lagi kami nyatakan, bahwa kami percaya kepada paman.”
Kebo Sarik tidak menjawab lagi. Tetapi katanya, “besok malam aku akan memasuki Gedung Perbendaharaan itu.”
Ke empat orang bertongkat itu mengangguk-angguk. Namun rasa-rasanya jatung mereka menjadi tegang.
Meskipun sudah menjadi rencana mereka, tetapi ketika Kebo Sarik mengatakan bahwa ia benar-benar akan memasuki Gedung Perbendaharaan itu, rasa-rasanya mereka akan memasuki satu arena yang sangat gawat karena bagaimanapun juga mereka menyadari, bahwa di Kediri ada orang-orang yang memiliki ilmu yang tinggi. Yang paling mereka cemaskan adalah kemungkinan Pangeran Singa Narpada dapat mencium rencana mereka atau menangkap tebaran ilmu sirep itu.
“Aku yakin bahwa paman Kebo Sarik memiliki kemampuan untuk mengimbangi ilmu Pangeran Singa Narpada,” berkata orang bertubuh kecil itu kepada saudara-saudara seperguruannya, “tetapi jika kedatangannya diketahui, maka seluruh kekuatan Kediri akan melawannya.”
“Kita percaya bahwa paman Kebo Sarik akan dapat mengatasinya,” jawab saudara seperguruannya, “jika sesuatu terjadi diluar istana, maka kita akan dapat membantunya, setidak-tidaknya untuk membawa benda itu lari.”
Orang bertubuh kecil itu mengangguk-angguk. Katanya, “Kita memang harus mempergunakan umpan yang besar untuk mengambil ikan raksasa.”
Saudara seperguruannya mengangguk-angguk pula. Bahkan orang bertubuh kecil itu berkata didalam hatinya, “Jika umpan itu tertelan sekalipun, asal ikannya dapat kita tangkap, maka kita harus merelakannya.”
Demikianlah, maka keempat orang bertongkat itu menunggu dalam ketegangan sampai hari berikutnya. Namun Kebo Sarik sendiri justru tidak menghiraukannya. Ia makan apa saja yang ingin ia makan sebagaimana kebiasaannya. Ia tidur hampir sehari suntuk disela-sela waktu makannya.
Namun ketika senja mulai membayang, maka Kebo Sarik mulai mempersiapkan diri. Ia mandi di sungai untuk waktu yang cukup lama berendam didalam air. Demikian ia naik ke darat, maka mulutnya tidak boleh lagi dilalui makanan dan minuman apapun juga. Untuk beberapa saat ia berdiri diatas batu memandang arah matahari terbenam dengan tangan bersilang di dada dan wajah tengadah.
Kemudian, Kebo Sarik itu pun duduk di sebuah batu yang besar ditempat yang terasing dari kunjungan seseorang sambil memusatkan nalar budinya. Ia berpesan kepada orang-orang bertongkat, bahwa sebelum tengah malam, ia jangan diusik dari samadinya.
Karena itu, maka keempat orang bertongkat itu justru telah berjaga-jaga di dekat tempat Kebo Sarik bersamadi. Mereka menunggu sampai bintang Gubug Penceng berada diatas puncak langit, sehingga dengan demikian mereka tahu, bahwa hari telah tengah malam.
“Kita bangunkan paman Kebo Sarik,” berkata orang bertubuh kecil itu, “waktunya telah menjadi terlalu sempit.”
“Masih separo malam. Paman tentu sudah memperhatikan,” jawab saudara seperguruannya.
Namun demikian mereka pun segera mendekati Kebo Sarik yang sedang bersamadi. Dengan sangat hati-hati maka orang bertubuh kecil itu menyebut namanya.
“Paman, paman Kebo Sarik. Hari telah sampai tengah malam.”
Perlahan-lahan Kebo Sarik membuka matanya. Kemudian dipandanginya lingkaran kegelapan disekitarnya. Namun ketajaman matanya telah melihat keadaan disekelilingnya dengan jelas. Demikian pula keempat orang bertongkat itu.
Kebo Sarik kemudian mengangkat wajahnya melihat bintang-bintang di langit. Maka ia pun kemudian berdesis. “Terima kasih. Kalian memenuhi permintaannya membiarkan aku duduk disini sampai tengah malam.”
Kebo Sarik kemudian bangkit sambil berkata, “Marilah. Kita pergunakan yang tengah malam ini dengan sebaik-baiknya.”
Demikianlah keempat orang itu pun telah meninggalkan sungai itu dan menuju ke istana Kediri, bersama pamannya. Dengan sangat berhati-hati maka kelima orang itu pun telah mendekati istana. Seperti yang diperhitungkan oleh Mahisa Agni dan Witantra, maka mereka telah memilih jalan sebagaimana yang diduga, yang paling mudah untuk dilalui memasuki halaman istana dan langsung menuju ke Gedung perbendaharaan.
Mahisa Agni dan Mahisa Murtilah yang sedang bertugas mengatasi jalan itu. Dengan jantung yang berdebar-debar mereka telah melihat ke empat orang bertongkat itu mendekati. Kemudian seorang yang bertubuh gemuk memberikan pesan-pesannya sebelum orang itu meloncat masuk.
“Luar biasa,” desis Mahisa Agni.
Cara Kebo Sarik meloncat dan masuk ke halaman, benar-benar telah mendebarkan jantung.
“Beritahu pamanmu Witantra,” berkata Mahisa Agni, “aku mengawasi mereka di sini. Cepat, kalian harus sudah berada di sini sebelum orang-orang itu pergi.”
Mahisa Murti pun kemudian telah meniggalkan Mahisa Agni yang mengawasi kelima orang yang telah berusaha untuk mendapatkan benda yang paling berharga di Kediri itu. Bahkan seorang diantaranya telah memasuki halaman istana.
Namun beberapa puluh langkah kemudian Mahisa Murti terkejut ketika tiba-tiba sesosok tubuh telah meloncat menghentikan langkahnya.
Mahisa Murti bersingsut setapak surut. Dengan tangkasnya ia pun segera bersiap menghadapi segala kemungkinan.
Namun Mahisa Murti itu pun menarik nafas dalam-dalam. Dengan wajah yang masih tegang ia berdesis, “Pangeran Singa Narpada.”
“Ya,” jawab orang yang telah menghentikan langkahnya itu.
“Apakah ada yang penting Pangeran, bahwa Pangeran telah menghentikan langkahku?” bertanya Mahisa Murti.
“Aku ingin bertemu dengan orang yang datang bersamamu. Siapakah orang itu?” bertanya Pangeran Singa Narpada.
Mahisa Murti termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Silahkan menemuinya. Aku mendapat perintah untuk melakukan sesuatu.”
“Antar aku kepadanya agar tidak terjadi salah paham,” berkata Pangeran Singa Narpada.
“Aku harus melakukan perintahnya segera,” jawab Mahisa Murti.
“Aku hanya memerlukan waktu sejenak. Aku akan mengatakan kepadanya, bahwa aku memerlukan bantuanmu dan bantuan orang yang datang bersamamu itu,” berkata Pangeran Singa Narpada.
Mahisa Murti termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Marilah Pangeran. Tetapi jika terjadi kelambatan, maka itu adalah tanggung jawab Pangeran.”
“Ya. Aku bertanggung jawab,” jawab Pangeran Singa Narpada.
Mahisa Murti pun kemudian telah membawa Pangeran Singa, Narpada kembali. Ia menganggap bahwa Pangeran Singa Narpada adalah orang yang paling berkepentingan dengan benda yang dianggap sangat berharga itu.
Ketika Mahisa Murti datang kembali dengan seseorang, Mahisa Agni pun terkejut. Ia pun segera bersiap pula untuk menghadapi segala kemungkinan.
Namun Mahisa Murti dan Pangeran Singa Narpada pun dengan tergesa-gesa telah menempatkan diri untuk menghadapi agar orang-orang yang sedang mereka aman tak dapat mengetahui kehadiran mereka.
“Kenapa kau kembali Mahisa Murti?” bertanya Mahisa Agni.
Mahisa Murti memang tidak ingin terjadi salah paham. Karena itu maka dengan segera Mahisa Murti menjelaskan. “Aku datang bersama Pangeran Singa Narpada.”
“Pangeran Singa Narpada,” ulang Mahisa Agni.
“Ya paman,” jawab Mahisa Murti.
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Dengan suara datar Mahisa Agni berkata, “Selamat bertemu kembali Pangeran.”
Pangeran Singa Narpada termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia berdesis, “Kakang Mahisa Agni dari Singasari?”
Mahisa Agni termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia menjawab, “Ya Pangeran. Inilah aku.”
“O,” Pangeran Singa Narpada mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Aku tidak menyangka bahwa kau telah memberikan perhatianmu untuk hal-hal yang tidak berarti seperti ini.”
“Jangan memperkecil arti benda-benda yang paling berharga di Kediri, sehingga kau tidak akan bersusah payah mencarinya jika benar benda itu tidak berarti.”
“Maksudku bagi Singasari,” jawab Pangeran Singa Narpada.
“Tetapi sudahlah. Biarlah Mahisa Murti menemui pamannya dan membawanya kemari. Ia tidak boleh terlambat,” berkata Mahisa Agni.
“Siapakah yang akan dipanggil?” bertanya Pangeran Singa Narpada.
“Orang-orang tua telah berkumpul di sini untuk melihat sesuatu yang mungkin sangat berharga bagi sisa-sisa usianya,” jawab Mahisa Agni.
“Siapa?” bertanya Pangeran Singa Narpada.
“Witantra,” jawab Mahisa Agni.
“Kakang Witantra juga berada disini?” bertanya Pangeran Singa Narpada, “tetapi dimana kalian tinggal?”
“Kita jangan terlalu banyak kehilangan waktu,” jawab Mahisa Agni, “biarlah Mahisa Murti pergi.”
“Baiklah,” jawab Pangeran Singa Narpada, “panggil kakang Witantra. Aku juga ingin bertemu dengannya.”
Mahisa Murti termangu-mangu sejenak, namun kemudian ia pun segera beringsut dan pergi meninggalkan tempat itu.
“Apa yang akan kau lakukan bersama kakang Witantra?” bertanya Pangeran Singa Narpada.
“Aku mendengar bahwa Mahkota Kediri pernah hilang. Itulah sebabnya, bahwa ketika seseorang memasuki halaman istana maka aku segera tertarik kepada peristiwa itu?” jawab Mahisa Agni.
“Tentu sesuatu yang benar-benar akan dilakukan,” berkata Pangeran Singa Narpada didalam hatinya, “bukan waktunya untuk bergurau.”
Namun dalam pada itu, maka Pangeran Singa Narpada berkata, “Kakang Mahisa Agni. Aku minta kakang tidak berbuat apa-apa. Juga kakang Witantra,” berkata Pangeran Singa Narpada selanjutnya.
“Kenapa?” bertanya Mahisa Agni, “seseorang telah siap untuk mengambil benda yang paling berharga dari Kediri, dan kini kau minta kepadaku untuk tidak berbuat apa-apa?”
“Ya,” jawab Pangeran Singa Narpada, “biarlah orang itu mengambil Mahkota yang dianggap dapat menjadi tempat bersemayam Wahyu Keraton.”
Mahisa Agni menjadi heran. Dengan nada ragu ia bertanya, “Kau aneh Pangeran. Kenapa begitu?”
Pangeran Singa Narpada tersenyum. Katanya, “Sebaiknya kau tidak usah melibatkan dirimu terlalu jauh dalam hal ini. Karena itu, maka cobalah melupakan apa yang kau lihat.”
“Aku tidak mengerti Pangeran,” desis Mahisa Agni.
Pangeran Singa Narpada menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya, “Terima kasih atas perhatianmu. Tetapi kami minta, biarkan saja orang-orang itu melakukan apa saja yang diinginkannya.”
Mahisa Agni masih saja merasa heran. Namun kemudian katanya, “Jika demikian, baiklah. Yang menghendaki adalah Pangeran Singa Narpada, sehingga aku tidak mempunyai wewenang untuk berbuat lain.”
Pangeran Singa Narpada memandang Mahisa Agni dengan tajamnya. Namun kemudian ia berdesis, “Aku minta maaf.”
Mahisa Agni tidak menjawab. Tetapi diperhitungkannya keempat orang bertongkat yang juga berusaha untuk berada didalam tempat yang terlindung. Namun karena Mahisa Agni dan Pangeran Singa Narpada tengah mengawasi mereka, maka keempat orang itu tidak terlepas dari penglihatan mereka.
Dalam pada itu, maka sejenak kemudian dengan sangat berhati-hati, Witantra, Mahisa Pukat dan Mahendra pun telah datang pula bersama Mahisa Murti. Sebagaimana Mahisa Agni, maka Witantra pun sudah mengenal pula Pangeran Singa Narpada. Hanya Mahendra lah yang kemudian diperkenalkan kepada Pangeran itu.
Sementara itu, maka Mahisa Agni lah yang kemudian menjelaskan, “Pangeran Singa Narpada tidak menghendaki kita berbuat sesuatu.”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat lah yang paling terkejut mendengarnya. Karena itu, maka Mahisa Murtilah telah bertanya, “Kenapa?”
“Tidak ada penjelasan,” jawab Mahisa Agni.
Mahisa Murti memandang Pangeran Singa Narpada dengan tajamnya. Dengan nada dalam ia pun bertanya, “Apakah benar Pangeran menghendaki demikian?”
“Ya,” jawab Pangeran Singa Narpada.
“Kenapa Pangeran?” bertanya Mahisa Murti, “Bukankah dengan susah payah selama ini kita berusaha untuk menemukan kembali benda berharga itu.”
“Ya. Sudah aku katakan, bahwa aku mengucapkan terima kasih yang tidak terhingga atas bantuan Mahisa Bungalan dan kalian berdua,” berkata Pangeran Singa Narpada, “namun biarlah kali ini, aku memohon, agar kalian tidak berbuat sesuatu.”
Mahisa Murti masih menjawab. Tetapi tiba-tiba saja mereka merasa sesuatu yang terasa bukannya dalam kewajaran. Udara terasa semakin sejuk dan rasa-rasanya mereka bagaikan dibelai oleh kantuk yang mulai menyentuh perasaan.
“Sebagaimana dilakukan oleh orang yang terdahulu,” berkata Mahisa Agni, “menurut pendengaranku, orang yang melakukannya terdahulu mempergunakan ilmu sirep pula seperti ini.”
“Ya. Mereka mempergunakan ilmu sirep,” jawab Pangeran Singa Narpada.
Mahisa Pukat dan Mahisa Murti adalah diantara mereka yang paling gelisah. Tetapi sementara itu Mahisa Agni berkata, ”Pangeran. Biarlah kami tidak berbuat apa-apa. Tetapi apakah kami boleh menyaksikan, apa yang akan terjadi kemudian? Mungkin Pangeran telah memasang pasukan yang sangat kuat, yang lepas dari pengamatan orang-orang itu, atau jebakan lain yang mungkin tidak lagi memerlukan kita semuanya.”
“Marilah kita lihat,” berkata Pangeran Singa Narpada, “aku tidak berkeberatan.”
Mahisa Agni pun tidak bertanya lagi. Mereka berenam-pun kemudian memperhatikan orang-orang yang sedang berjaga-jaga di luar pada saat seorang di antara mereka berada di dalam.
Ternyata ilmu sirep Kebo Sarik memang terlalu kuat. Ketika ia sudah berada di dalam dinding istana, maka ilmu sirepnya pun mulai menebar. Para petugas tidak seorang pun yang mampu melepaskan diri dari cengkaman ilmu sirep itu, sehingga dengan demikian maka para petugas itu pun seorang demi seorang telah tertidur nyenyak.
Kebo Sarik pun kemudian sesuai dengan petunjuk orang-orang bertongkat itu, telah menemukan pintu Gedung Perbendaharaan. Dengan hati-hati ia mengangkat selarak dan meletakkan disamping dua orang penjaga yang tertidur dengan nyenyaknya, sementara tombaknya masih tersandar pada dinding.
Perlahan-lahan Kebo Sarik membuka pintu Gedung Perbendaharaan itu. Ketika ia melihat isinya, maka jantungnya menyadi berdebar-debar. Kebo Sarik itu melihat sebuah peti yang berwarna putih berkilat-kilat.
“Tentu peti itu,” berkata Kebo Sarik didalam hatinya.
Dengan tanpa ragu-ragu Kebo Sarik telah melangkah memasuki Gedung Perbendaharaan itu. Namun tiba-tiba terasa tubuhnya bagaikan diguncang oleh angin prahara. Dengan kekuatan yang tidak terlawan Kebo Sarik telah terdorong keluar.
“Gila,” geram Kebo Sarik, “siapakah yang bermain hantu-hantuan di sini he?”
Tidak ada jawaban. Semua orang yang bertugas telah tertidur nyenyak.
Sekali lagi Kebo Sarik mencobanya. Namun sekali lagi ia terdesak keluar.
Tiba-tiba saja Kebo Sarik itu teringat akan pesan salah seorang murid kakak seperguruannya. Betapapun segannya, namun Kebo Sarik itu pun kemudian telah berjongkok dan kemudian menyembah tiga kali ke arah pintu yang sudah terbuka itu.
Ketika ia melangkah masuk, maka ternyata ia tidak lagi mengalami goncangan dan terdorong keluar. Tidak ada kekuatan apapun yang telah mengganggunya, sehingga dengan langkah yang tetap ia memasuki Gedung Perbendaharaan itu.
Sejenak, Kebo Sarik itu berdiri termangu-mangu dihadapan peti yang berwarna putih berkilat-kilat itu.
Dengan dada tengadah Kebo Sarik memperhatikan peti itu. Lalu dengan suara berat ia bergumam, “Inilah Kebo Sarik. Semua yang dilakukan akan dapat diselesaikan dengan sempurna.”
Tanpa berjongkok dan menyembah lagi, maka Kebo Sarik itu pun telah meraih peti perak itu dan dengan bangga telah membawanya keluar dari Gedung Perbendaharaan.
Para penjaga masih juga tertidur dengan nyenyaknya. Ilmu Sirep Kebo Sarik ternyata lebih baik dari ilmu Sirep Ki Ajar Bomantara, sehingga karena itu, prajurit yang jumlahnya berlipat itu pun tidak ada yang mampu bertahan atas kekuatan sirep itu.
Sementara itu, Pangeran Singa Narpada bersama kelima orang dari Singasari itu pun masih mengawasi orang-orang bertongkat di luar dinding. Beberapa lama mereka menunggu. Namun sejenak kemudian jantung mereka menjadi berdebar-debar. Mereka melihat seseorang meloncat keluar dari lingkungan dinding istana.
“Itulah,” desis Mahisa Pukat.
“Ya,” sahut Mahisa Murti, “dan kita berdiam diri tanpa berbuat sesuatu.”
“Sudahlah,” berkata Pangeran Singa Narpada, “sekali lagi aku minta. Lupakan peti perak itu.”
Tetapi tiba-tiba saja Mahisa Pukat berdesis, “Pangeran. Apakah justru Pangeran yang telah mengatur semuanya ini? Dan pada saat terakhir Pangeran sendiri menghendaki mahkota itu bagi Pangeran?”
“Mahisa Pukat,” hampir berbareng Mahisa Agni, Witantra dan Mahendra memotong.
Tetapi Mahisa Pukat berkata selanjutnya, “Jika bukan demikian apakah artinya, bahwa Pangeran Singa Narpada sama sekali tidak mengambil langkah-langkah tertentu untuk mencegahnya? “
Pangeran Singa Narpada memandang Mahisa Pukat dengan tajamnya. Namun kemudian ia menarik nafas dalam-dalam sambil berkata, “Ternyata kau masih terlalu muda untuk mengetahui.”
Mahisa Pukat termangu-mangu. Namun tiba-tiba saja Mahisa Agni menggamit Witantra sambil bertanya, “Kau lihat cahaya itu?”
“Ya,” jawab Witantra yang kemudian berkata kepada Mahendra, “kau juga melihat?”
“Apa yang kau maksud? Cahaya yang memancar dari pusaka yang paling berharga di Kediri?” bertanya Mahendra.
“Ya,” jawab Witantra.
Mahendra termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “beri aku kesempatan sebentar.”
Witantra dan Mahisa Agni tidak bertanya lebih lanjut. Sementara itu Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menjadi bingung. Mereka tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh orang-orang tua itu.
Namun kemudian Witantra itu pun berkata, “Ya. Aku mulai melihatnya meskipun tidak jelas.”
“Dimana?” bertanya Mahisa Agni.
“Didalam lingkungan istana,” jawab Mahendra.
“Tepat,” jawab Witantra, “Dan kau tidak melihat sesuatu dari peti itu?”
“Tidak,” jawab Witantra.
“Nah, sekarang jawablah Pangeran. Apakah Pangeran telah menjebak orang-orang itu?” bertanya Mahisa Agni.
Pangeran Singa Narpada menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Ya. Aku telah menjebak mereka. Peti itu tidak berisi mahkota sebagaimana mereka bayangkan. Tetapi yang ada didalamnya adalah benda lain yang tidak berarti sama sekali.”
“O,” Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Aku mohon maaf Pangeran.”
Pangeran Singa Narpada tersenyum. Namun sebelum ia menjawab, maka terdengar suara tertawa nyaring.
Suara tertawa itu begitu mencengkam sehingga orang-orang yang sedang memperhatikan orang-orang bertongkat itu pun tergetar karenanya.
Dalam pada itu, maka terdengar orang yang tertawa itu berkata, “Ternyata kalian tidak lebih dari anak-anak yang dungu. He, kau Kerbau buntung. Kau kira kau telah berhasil?”
“Guru,” berkata salah seorang dari orang-orang bertongkat itu, “paman telah salah mengambil benda yang kita inginkan.”
“Tidak,” jawab Kebo Sarik, “bukankah yang kau maksud adalah peti perak ini?”
“Kalian semua memang dungu. Kau juga,” berkata orang yang baru saja datang itu kepada orang bertubuh kecil, “kau tahu pamanmu tidak tahu menahu tentang cahaya teja yang memancar dari benda itu. Ia pun tidak tahu, bahwa peti ini kosong atau mungkin hanya berisi sepotong kayu lapuk atau apa.”
“Gila,” geram Kebo Sarik, “jadi orang-orang Kediri telah mengelabui aku?”
“Dan kau memang merupakan sasaran yang menyenangkan untuk melakukan permainan seperti ini,” jawab orang yang baru datang itu.
“Aku akan kembali ke Gedung Perbendaharaan itu. Aku akan membakarnya. Bahkan seisi istana ini akan aku bakar sampai menjadi abu,” geram Kebo Sarik.
“Kau akan menjadi semakin dungu,” berkata orang yang baru datang itu, yang ternyata adalah guru orang-orang bertongkat itu, “kau tidak akan dapat melakukan apapun juga.”
“Kenapa?” bertanya Kebo Sarik.
“Guru. Aku akan memasuki Gedung Perbendaharaan itu bersama paman Kebo Sarik. Aku tahu, dimana pusaka itu disembunyikan. Aku akan mencari dan menemukannya,” berkata orang bertubuh kecil itu.
“Tidak mungkin,” jawab gurunya, “kita tidak hanya berenam disini.”
“Maksud guru?” bertanya orang bertubuh kecil.
“Kita mempunyai kawan. Karena itu, maka kita tidak akan mungkin berbuat sesuatu tanpa diketahui oleh orang-orang Kediri,” jawab orang itu.
Murid-muridnya serta Kebo Sarik termangu-mangu sejenak. Sementara itu orang yang baru datang itu berkata selanjutnya, “Kalian memang dungu. Kalian sama sekali tidak tahu, bahwa apa yang kalian lakukan itu selalu diikuti oleh orang-orang Kediri. Lihat kesana.”
Pangeran Singa Narpada menarik nafas dalam-dalam. Ternyata orang itu telah menunjuk ke tempat Pangeran Singa Narpada dan orang-orang Singasari itu mengamati orang-orang yang telah mengambil peti perak itu.
Sementara itu orang-orang bertongkat serta orang yang telah memasuki Gedung Perbendaharaan dan mengambil peti perak itu memandang ke arah yang ditunjuk oleh guru mereka. Namun mereka tidak segera melihat sesuatu, karena Pangeran Singa Narpada dan kawan-kawannya berlindung di balik batang-batang perdu.
Namun gurunya itu pun kemudian berkata, “Marilah. Kita dekati mereka.”
Orang itu tidak menunggu lebih lama. Ia pun kemudian berjalan di paling depan diikuti oleh adik seperguruannya dan murid-muridnya.
“Luar biasa,” desis Pangeran Singa Narpada, “orang itu mengetahui bahwa kita berada di sini.”
Mahisa Agni mengangguk-angguk. Katanya, “Ternyata bukan kita yang berusaha menangkap mereka. Tetapi akhirnya merekalah yang akan menangkap kita.”
“Satu permainan yang mengasyikkan,” sahut Mahendra, “untunglah aku menyusul kalian sehingga aku dapat ikut serta dalam permainan seperti ini.”
“Ah, kau,” sahut Witantra, “Kau masih lebih muda dari aku. Agaknya masih ada sisa-sisa kemudaanmu. Tetapi agaknya anak-anak mudalah yang menjadi paling gembira menghadapi keadaan seperti ini.”
“Ya,” desis Pangeran Singa Narpada, “kemampuan kita akan benar-benar diuji oleh orang-orang yang memiliki kemampuan yang sangat tinggi. Tetapi aku kira ada juga baiknya untuk sekali-sekali membenturkan ilmu pada kemampuan yang pilih tanding. Tanpa diasah maka pisau tidak akan menjadi tajam.”
Mahisa Agni mengangguk-angguk. Namun sebenarnyalah ia mengagumi ketajaman perasaan orang yang datang terakhir itu.
Dengan demikian maka yang dapat dilakukan oleh Pangeran Singa Narpada dan kawan-kawannya adalah sekedar menunggu. Namun mereka merasa tidak ada gunanya lagi berlindung dibalik pohon-pohon perdu sehingga mereka pun telah bergeser dan berdiri ditempat terbuka.
“Selamat malam Ki Sanak,” sapa orang yang datang terakhir itu.
Pangeran Singa Narpada lah yang menjawab, “Selamat Ki Sanak. Kedatangan kalian memang menarik perhatian.”
Orang yang bertubuh kecil dan bertongkat itu terkejut ketika dilihatnya Pangeran Singa Narpada sedang mengamatinya. Namun kemudian orang itu pun tersenyum sambil berkata, “Selamat bertemu kembali Pangeran.”
“O, kau Ki Ajar Wantingan,” desis Pangeran Singa Narpada, “terima kasih atas segala petunjuk yang telah kau berikan.”
“Ah jangan begitu Pangeran,” jawab orang bertubuh kecil itu yang menyebut dirinya Ki Ajar Wantingan, “ternyata bahwa Pangeran tidak dengan sungguh-sungguh memenuhinya, sehingga kami terpaksa datang untuk melihatnya.”
“Apakah aku tidak dengan sungguh-sungguh memenuhi pesan-pesanmu? Aku sudah dengan susah payah mencari seekor kerbau bertanduk dungkul dan berkulit bule,” jawab Pangeran Singa Narpada, “betapapun sulitnya. Akhirnya aku telah mendapatkannya. Sementara itu, aku pun telah membuat sebuah peti dari perak dan melapisnya dengan kulit kerbau sebagaimana kau maksudkan.”
“Terima kasih Pangeran. Tetapi ternyata bahwa hal itu tidak Pangeran lakukan,” jawab orang bertubuh kecil itu.
“Mungkin Pangeran benar-benar membuat peti dengan lapisan kulit itu.Tetapi mahkota itu tidak Pangeran masukkan kedalamnya. Hal itu kami ketahui karena cahaya yang memancar dari Gedung Perbendaharaan itu. Jika Pangeran melakukannya sebagaimana aku katakan, maka cahaya itu tentu sudah lenyap. Karena itulah maka kami telah terdorong untuk melihat, apakah benar Pangeran telah melakukan seperti yang aku pesankan.”
“Apa yang kalian temukan di dalam peti itu?” bertanya Pangeran Singa Narpada.
Orang bertubuh kecil itu tersenyum. Katanya, “Apapun yang ada didalamnya bukanlah yang kami maksudkan.”
“Baiklah aku berterus terang Ki Sanak,” berkata Pangeran Singa Narpada, “aku memang sudah mencoba memasukkan benda yang paling berharga itu kedalam peti perak yang kau anjurkan itu. Tetapi ternyata peti perak dengan lapisannya sama sekali tidak menyerap cahaya sebagaimana kau katakan. Ketika mahkota itu aku masukkan kedalamnya, maka cahaya itu masih juga memancar sebagaimana biasanya menembus lapisan perak dan kulit kerbau yang sulit dicari itu. Sejak itulah aku mempunyai dugaan yang lain dari petunjukmu. Aku mulai curiga, bahwa aku telah terjebak oleh sikap dan, kata-katamu yang nampak bersungguh-sungguh itu.”
“Jadi Pangeran juga dapat melihat cahaya itu?” bertanya orang bertubuh kecil itu.
“Tidak selalu. Hanya dalam keadaan tertentu, sebagaimana orang lain yang menghendakinya,” jawab Pangeran Singa Narpada.
Orang bertubuh kecil itu mengangguk-angguk. Lalu katanya kepada gurunya, “Guru, agaknya kita memang tidak mempunyai pilihan lain. Kita akan memasuki Gedung itu lagi dan memilih sendiri di antara isinya.”
Gurunya tersenyum. Dipandanginya Pangeran Singa Narpada sambil berkata, “Baiklah. Aku sependapat untuk kembali memasuki gedung itu dan memilih isinya. Tetapi sebagai seorang yang mengenal unggah-ungguh, maka aku akan minta ijin dahulu kepada Pangeran ini, yang barangkali termasuk salah seorang di antara para pemimpin Kediri yang ikut mempunyai wewenang atas gedung itu.”
“O,” orang bertubuh kecil itu mengangguk-angguk. Katanya, “Agaknya aku melupakannya guru. Mungkin aku terlalu bernafsu untuk segera memiliki benda yang sangat berharga itu.”
“Nah Pangeran,” berkata gurunya, “Pangeran sudah mendengar keinginan kami. Karena itu, kami mohon agar Pangeran tidak berkeberatan bahwa kami akan mengambil benda yang kami ingini. Kami akan berterima kasih jika Pangeran justru bersedia untuk membantu kami sehingga usaha kami akan cepat kami selesaikan.”
“O. Tentu dengan senang hati Ki Sanak,” jawab Pangeran Singa Narpada, “aku akan dengan senang hati menunjukkan benda yang kalian inginkan. Tetapi sudah tentu, aku minta upah atas hasil jerih payahku. Agaknya mahkota itu memang bukan milikku. Jika aku menjualnya sekarang, maka aku tidak akan kehilangan.”
Guru dan orang-orang bertongkat itu mengerutkan keningnya. Mereka justru menjadi heran mendengar jawaban itu. Bahkan dengan ragu-ragu guru itu bertanya, “Apakah yang Pangeran inginkan sebagai upah menurut istilah Pangeran sendiri.”
Pangeran Singa Narpada termenung sejenak. Sementara itu orang-orang Singasari yang ada ditempat itu pun menjadi termangu-mangu.
Pangeran Singa Narpada sendiri kemudian tersenyum sambil menjawab, “Ki Sanak. Aku minta upah yang memadai. Karena benda itu nilainya tidak terhingga, maka upah yang aku minta adalah kepala kalian.”
“Gila,” Kebo Sarik berteriak.
Tetapi guru orang-orang bertongkat itu justru tertawa. Katanya, “Kau memang dungu Kerbau Gila. Aku sudah menduga, bahwa Pangeran yang suka berkelakar ini akan sampai kepada permintaan yang demikian. Selain Pangeran ini tentu tidak akan terpikir olehnya untuk benar-benar membuat peti dan mengisinya dengan benda lain serta menempatkannya di tempat yang terhormat. Dalam kesibukan yang mendesak, Pangeran Singa Narpada masih sempat meluangkan waktunya untuk bermain-main dengan kita. Karena itu, kita jangan lekas marah. Kita harus menghadapi sikap Pangeran Singa Narpada dengan caranya.”
Kebo Sarik itu menggeram. Katanya, “Aku tidak telaten. Jika kita harus bertempur, marilah kita lakukan sekarang.”
“Ya. Sebentar lagi. Kecuali jika Pangeran Singa Narpada menginginkan waktu yang lain di tempat yang lain pula,” jawab guru orang-orang bertongkat itu.
Kebo Sarik benar-benar tidak telaten dengan sikap saudara seperguruannya. Tetapi ia tidak berbuat apa-apa kecuali menggeram.
Namun dalam pada itu, Pangeran Singa Narpada menjawab, “Ki Sanak, biarlah pekerjaan kita lekas selesai. Marilah, berikan upah itu sekarang. Baru kalian dapat mengambil benda berharga itu.”
“Baiklah Pangeran,” berkata guru orang-orang bertongkat itu, “kita akan mempertahankan kepala kita masing-masing. Mahkota itu letaknya memang di kepala. Jika kepalaku harus aku berikan kepada Pangeran, dimana aku akan memakai mahkota itu?”
Pangeran Singa Narpada dan orang-orang tua dari Singasari itu sempat tersenyum. Namun Kebo Sarik justru berteriak, “Jangan bergurau lagi. Aku sudah menjadi jemu. Ayo, siapa yang akan menjadi lawanku.”
“Kenapa kau begitu tergesa-gesa?” bertanya Pangeran Singa Narpada, “menurut pengamatanku, kaulah yang telah menyebarkan ilmu sirep yang sangat tajam. Dengan demikian, maka agaknya kau juga memiliki ilmu yang lain yang cukup tinggi. Karena itu, maka biarlah salah seorang dari orang-orang tua yang ada disini melawanmu. Karena aku yang bertanggung jawab atas pusaka itu, maka akulah yang akan berhadapan dengan orang yang agaknya tertua di antara kalian.”
“Ya,” jawab guru orang-orang bertongkat itu, “aku adalah saudara seperguruan orang yang bernama Kebo Sarik ini. Aku adalah guru dari orang-orang yang membawa kayu bakar yang barangkali perlu jika mereka kedinginan.”
“Nah, apakah kau memilih lawan yang lain? Mungkin aku bukan orang terbaik didalam kelompokku. Tetapi sekedar karena kewajibanku maka aku menempatkan diri sebagai lawanmu,” berkata Pangeran Singa Narpada pula.
“Bagus,” jawab orang itu, “agaknya memang satu kehormatan bahwa aku akan bertempur melawan seorang Pangeran yang berilmu tinggi.”
“Siapa bilang aku berilmu tinggi?” bertanya Pangeran Singa Narpada.
Tetapi Kebo Sarik lah yang menjawab, “Yang mana lawanku. Aku akan segera menyelesaikannya dan kembali memasuki Gedung Perbendaharaan.”
Diantara orang-orang tua dari Singasari ternyata Mahendra lah yang menjawab, “Baiklah. Aku terima kau sebagai lawanku. Aku sudah terhitung tua. Tetapi belum setua saudara-saudaraku ini. Karena itu, agaknya akulah orang yang paling pantas melawan seseorang yang oleh saudara seperguruannya disebut Kerbau Gila.”
“Jangan ikut-ikutan menyebut aku Kerbau Gila,” bentak Kebo Sarik, “sebentar lagi kau akan mati disini. Mintalah maaf agar jalan kematianmu menjadi terang.”
Mahendra tertawa. Katanya, “Kau memang cepat marah. Jika aku menyebutmu Kerbau Gila adalah sekedar menirukan saudara seperguruanmu. Tetapi jika kau tidak mau, katakan, bagaimana aku harus memanggilmu.”
“Cukup,” bentak Kebo Sarik, “jangan banyak bicara lagi. Aku tidak terbiasa berbicara tanpa ujung pangkal. Jika kau memang siap melawan aku, marilah.”
Mahendra tidak menjawab lagi. Ia pun bergeser beberapa langkah dan siap menghadapi segala kemungkinan.
Ternyata Kebo Sarik memang tidak banyak bicara. Ketika mereka sudah memisahkan diri, maka tiba-tiba saja ia telah menyerang dengan garangnya.
Tetapi Mahendra telah memperhitungkannya. Karena itu, maka dengan tangkas ia pun menghindar. Bahkan dengan tidak kalah garangnya Mahendra pun telah menyerang lawannya pula.
“Mereka telah mulai,” berkata Pangeran Singa Narpada, “nah, bagaimana dengan yang lain? Sudah aku katakan, bahwa aku telah memilih lawanku, sehingga selebihnya akan dihadapi oleh orang-orang tua dan anak-anak muda. Memang dua angkatan yang jauh. Tetapi meskipun demikian, mereka akan dapat menyelesaikan tugas mereka dengan baik.”
Dalam pada itu, maka orang yang bertubuh kecil itu pun berkata, “Nah, siapakah yang akan bertempur melawan aku?”
“Kau pernah melawan kedua anak muda itu. Apakah kau akan mengulanginya? Keduanya masih menyimpan bahkan telah melengkapi kembali paser-paser kecilnya,” bertanya Pangeran Singa Narpada.
Orang bertubuh kecil itu mengerutkan keningnya. Lalu katanya, “Sebenarnya aku ingin menebus kekalahan. Tetapi sekarang aku tidak sendiri. Karena itu, maka aku tidak merasa perlu untuk bertempur melawan kedua anak-anak itu.”
“Jika demikian kau harus memilih lawan lain. Jika bukan yang anak-anak, kau dapat memilih yang sudah tua-tua,” berkata Pangeran Singa Narpada.
Orang bertubuh kecil itu termangu-mangu. Menurut penglihatannya, kedua orang tua itu adalah orang-orang yang pernah ditemuinya.
Dalam pada itu, maka Mahisa Agni lah yang menyahut, “Aku sudah terlalu tua untuk melibatkan diri kedalam permainan seperti ini. Tetapi karena sudah tidak ada orang lain, maka biarlah aku melakukannya. Tetapi dengan janji, bahwa kita akan melakukan perlahan-lahan agar nafasku tidak terputus karenanya.”
Suara tertawa guru dari orang-orang bertongkat itu bagaikan meledak. Katanya, “Menyenangkan sekali berhubungan dengan kalian. Ternyata kalian adalah orang-orang yang gembira dan penuh gurau betapapun peliknya persoalan yang kalian hadapi. Nah, marilah kita mulai dengan pemainan yang perlahan-lahan saja, sekedar untuk menghangatkan badan di malam yang dingin ini.”
Bersambung......!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar