Kamis, 17 Desember 2020

HIJAUNYA LEMBAH HIJAUNYA LERENG PEGUNUNGAN JILID 006-01

*HIJAUNYA LEMBAH : JILID-006-01*

“He” Desis kawannya sambil menyentuhnya dengan sikunya.

“Mataku tidak dapat terbuka lagi” jawab cantrik itu

“Jika tiba-tiba datang seseorang merundukmu dan menusuk perutmu dengan pedang?” bertanya kawannya.

“Bukankah kau ada disitu” jawabnya.

“Anak setan” jawab kawannya “kau kira aku akan melindungimu? Aku akan lari karena ketakutan. Biar saja orang itu menusuk perutmu sampai tembus”

Cantrik yang mengantuk itu tertawa, katanya “Jangan marah, mari kita bergantian. Sekarang aku akan tidur. Nanti jika aku sudah bangun, kau dapat tidur”

“Nanti kapan kau akan bangun? Sesudah matahari terbit?” geram kawannya.

Cantrik itu masih tertawa. Tetapi justru dengan demikian, kantuknya menjadi berkurang, sehingga katanya, “Baiklah. Aku tidak akan tidur. Tetapi jika tanpa aku sengaja aku tertidur, itu bukan salahku”

“Sudah aku katakan. Jika kau tidur atau tertidur, aku akan pergi dan mencari kawan yang tidak tidur atau tertidur” jawab kawannya.

Cantrik itu bergeser. Tetapi iapun kemudian bangkit sambil berkata, “Aku akan tetap jaga sampai pagi. Lihat aku akan berjalan hilir mudik”

Kawannya tidak menyahut. Dibiarkannya saja kawannya itu berusaha untuk melawan kantuknya.

Dalam pada itu. Empu Pulung Geni yang ternyata harus mengakui kelebihan Empu Nawamula telah meninggalkan medan. Peristiwa yang serupa telah terulang kembali.

Bagaimanapun juga, ternyata bahwa Empu Nawamula memiliki kelebihan dari Empu Pulung Geni. Apalagi jika Empu Nawamula itu berusaha membangunkan murid-muridnya dan seisi padepokan. Maka Empu Pulung Geni akan mengalami nasib yang sangat buruk.

Karena itu, tidak ada pilihan lain bagi Empu Pulung Geni kecuali meninggalkan padepokan itu dengan hati yang sakit.

“Anak itu sudah berkhianat” geramnya, “selama ini aku pelihara anak itu dengan baik. Tetapi pada suatu saat, aku harus membunuhnya. Tidak ada hukuman yang lain dari kematian bagi seorang pengkhianat”

Empu Pulung Geni yang sudah jauh dari padepokan muridnya yang berkhianat itu berdiri dengan nafas yang berdesakkan. Dipandanginya arah padepokan yang ditinggalkannya. Ketika ia yakin, bahwa tidak seorang pun yang mengejarnya, maka ia pun dapat beristirahat.

“Semuanya sia-sia” geramnya, “aku bertempur melawan Empu Nawamula karena aku berusaha memenuhi permintaan anak itu. Tetapi pada saat yang paling menentukan ia telah berkhianat. Seandainya aku tahu, aku tentu sudah mencekiknya ketika ia merengek, minta agar aku menolongnya, membalas sakit hatinya dan sekaligus mengambil gadis itu”

Namun semuanya sudah terjadi. Dan Singatama memang sudah berkhianat terhadap gurunya.

Empu Pulang Geni yang lelah itu pun kemudian duduk di atas sabuah batu yang besar. Ia bukan saja lelah wadagnya, tetapi hatinyapun rasa-rasanya hampir patah menghadapi pengkhianatan muridnya.

Tetapi Empu Pulung Geni terikat pada satu tugas lain yang lebih besar dari keterikatannya dengan muridnya. Akhirnya sambil menggeretakkan giginya ia berkata, “Apapun yang terjadi, pada suatu saat aku akan menghukumnya. Jika aku terpancang kepada itu, maka kesanggupanku untuk satu tugas yang lebih penting akan terbengkalai”

Karena itu, maka untuk sementara Empu Pulung Geni berusaha untuk melupakan sakit hatinya. Dengan luka di dalam dadanya, maka ia pun berkeputusan untuk kembali saja ke padepokannya.

“Masih ada beberapa orang yang setia kepadaku selain Singatama” geram Empu Pulung Geni.

Tetapi untuk beberapa saat Empu Pulung Geni masih tetap duduk di atas sebuah batu untuk menenangkan hatinya dan mengatur pernafasannya.

Dalam pada itu, ketika langit menjadi merah maka Empu Pulung Geni pun telah bersiap-siap untuk meninggalkan tempat itu. Kembali ke padepokannya.

Sementara itu, pada saat yang sama, Singatama duduk di dalam sanggar dengan tubuh gemetar, seperti orang kedinginan. Pamannya duduk di belakangnya sambil melekatkan kedua telapak tangannya pada punggungnya. Keduanya dengan wajah yang tegang berusaha untuk mencapai satu keseimbangan bagi Singatama yang telah melepaskan ilmu hitamnya.

Untuk beberapa saat, Singatama masih tetap menggigil. Namun beberapa saat kemudian, pernafasannya pun menjadi semakin teratur, dan tubuhnya tidak lagi berguncang-guncang oleh perubahan yang terjadi di dalam dirinya setelah ia mengosongkan diri dari ilmunya.

Tepat pada saat langit menjadi cerah, maka Empu Nawamula sudah selesai dengan tugasnya. Singatama benar-benar menjadi seorang anak muda yang baru. Seolah-olah baru dilahirkan kembali setelah beberapa tahun lamanya ia bertualang di dunia kelam.

“Berdirilah” berkata Empu Nawamula kemudian. Singatama kemudian bangkit berdiri. Tetapi hampir saja ia kehilangan keseimbangannya. Untunglah Empu Nawamula cepat menangkapnya dan membantunya berdiri tegak.

“Ada sesuatu yang asing di dalam diriku paman” berkata Singatama.

“Ya. Justru yang asing itu adalah pribadimu yang sebenarnya, yang sudah lama terselubung oleh ilmu hitammu. Kau memang merasa asing dengan dirimu sendiri, karena sudah terlalu lama kau kehilangan dirimu itu” berkata Empu Nawamula.

Singatama mulai menggerakkan tangan dan kakinya. Perlahan-lahan ia berjalan mengelilingi ruangan sanggar pamannya itu. Semakin lama langkahnya semakin mantap dan rasa-rasanya tenaganya pun telah pulih kembali.

“Kau telah kehilangan kemampuanmu untuk mempergunakan segala tenaga di dalam dirimu yang didorongkan oleh kekuatan ilmumu. Yang tersisa adalah tenaga wadagmu sewajarnya dan kemampuanmu dalam arti ketrampilan tubuhmu. Tetapi kau tidak akan dapat membangunkan kekuatan di luar kemampuan wajarmu dengan ilmumu”

Singatama menarik nafas dalam-dalam Ketika ia mencoba menggerakkan tangan dan kakinya, pamannya berkata, “Cobalah. Kau bukan tidak dapat berbuat apa-apa sama sekali”

Ternyata Singatama yang kemudian menggerakkan tangan dan kakinya masih juga mampu mengingat unsur unsur gerak dari ilmunya. Namun sebagai gerak wantah yang tidak mempunyai kekuatan pendukung selain tenaga wadagnya saja.

“Bagaimanapun juga, kau adalah kemanakanku” berkata Empu Nawamula.

Tetapi hal itu memang sudah dikehendaki. Singatama sama sekali tidak menyesal. Apalagi ia masih tetap mempunyai alat pelindung meskipun sekedar ketrampilan gerak tubuhnya saja.

“Mulai esok, jika kau kehendaki, kau akan dapat mempelajari ilmu yang lain dari ilmu yang pernah kau miliki” berkata pamannya.

“Aku akan melakukannya paman. Aku tidak mau kehilangan waktu terlalu banyak. Jika aku memerlukan waktu dua atau tiga tahun, untuk memiliki tataran ilmu yang akan paman berikan maka aku masih mempunyai kesempatan dalam umurku yang sekarang” berkata Singatama.

“Baiklah. Kau membuat aku merasa sangat berbahagia sekarang ini. Seolah-olah aku telah menemukan sesuatu yang sangat berharga yang pernah hilang sebelumnya”

Demikianlah, maka Singatama benar-benar bertekad untuk merubah cara hidupnya. Sejalan dengan hatinya yang ikhlas menanggalkan ilmu hitamnya, maka ia pun telah dengan berani minta maaf kepada Widati dan ayahnya atas tingkah lakunya.

“Aku tidak akan berharap apa-apa” berkata Singatama kepada Ki Buyut, “aku berusaha untuk menjadi orang baru. Meskipun aku tidak akan dapat melupakan perasaanku waktu itu, tetapi aku mulai mempergunakan nalarku”

“Terima kasih angger” jawah Ki Buyut, “mudah-mudahan dengan demikian, anakku akan mendapatkan ketenangan di dalam hidupnya”

“Ya Ki Buyut” sahut Singatama” sekali lagi aku berjanji, bahwa aku tidak akan mengganggunya lagi. Aku tidak akan mempunyai kemampuan untuk berbuat sesuatu, apalagi memaksakan kehendakku, karena aku sudah kehilangan ilmuku”

Mahisa Agni dan Witantra yang menyaksikannya, merasa tersentuh pula hatinya. Ia melihat kesungguhan pada Singatama untuk merubah cara hidupnya, sehingga ia telah banyak memberikan bukti kesungguhannya.

Dengan demikian, maka Ki Buyut pun merasa lebih tenang untuk kembali ke Kabuyutannya yang sudah terlalu lama ditinggalkannya. Anak muda yang untuk beberapa lama menghantui anak gadisnya ternyata telah berubah sikap.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang mendengar keputusan Singatama itu pun menjadi gembira. Dengan demikian, maka mereka tidak akan terikat untuk mengamati gadis itu saja. Mereka akan sempat melanjutkan perjalanan mereka untuk melihat-lihat hijaunya lembah-lembah yang membentang luas di tlatah Singasari.

Tetapi kedua anak muda itu masih mempunyai satu kewajiban untuk mengantarkan Widati kembali ke kabuyutannya. Namun dalam pada itu, ternyata bahwa Mahisa Agni dan Witantrapun ingin juga kembali ke Singasari. Mereka akan berangkat bersama dengan Ki Buyut dan anak gadisnya yang akan diantar oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.

Pada hari yang sudah ditentukan, maka Ki Buyut pun telah bersiap-siap. Meskipun demikian, ada juga kecemasan di hati Ki Buyut meskipun Singatama telah merubah cara hidupnya. Jika diperjalanan itu mereka bertemu, secara kebetulan atau memang sudah direncanakan oleh Empu Pulung Geni, maka nasib anak gadisnya tentu akan menjadi sangat buruk.

Tetapi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah menenangkan hati mereka. Dengan penuh kesungguhan Mahisa Pukat berkata, “Kami akan berbuat sejauh dapat kami lakukan”

Ki Buyut mengangguk-angguk meskipun ia masih juga meragukan. Tetapi bagaimanapun juga Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak mengatakannya, bahwa kedua orang pamannnya itu akan dapat menyelesaikan tanpa kesulitan seandainya mereka benar-benar bertemu dengan Empu Pulung Geni.

“Menurut pendapatku. Empu Pulung Geni telah meninggalkan tempat ini” berkata Empu Nawamula, “ia tidak akan telaten menunggui sesuatu yang tidak berkepastian, sejak muridnya telah meninggalkannya” Ki Buyut mengangguk-angguk. Ia percaya kepada Empu Nawamula. karena menurut pendapatnya, Empu Nawamula memiliki ketajaman penglihatan jauh melampaui penglihatannya atas peristiwa yang baru saja terjadi itu.

Dengan demikian, maka akhirnya Ki Buyut dan anak gadisnya itu pun telah meninggalkan padepokan Empu Nawamula kembali ke Kabuyutan mereka. Bersama mereka adalah Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, serta Mahisa Agni dan Witantra.

Ternyata di perjalanan mereka sama sekali tidak menjumpai hambatan apapun juga. Perjalanan yang tidak mereka selesaikan dalam sehari. Tetapi mereka masih harus bermalam di perjalanan yang cukup panjang itu.

Tetapi rasa-rasanya kegelisahan mereka telah jauh berkurang dari saat-saat sebelumnya, dengan demikian maka rasa-rasanya perjalanan mereka itu pun tidak merupakan perjalanan yang terlalu berat sebagaimana saat mereka berangkat. Bahkan ketika mereka harus bermalam di perjalanan. Widati merasakannya sebagai satu pengalaman yang menarik. Meskipun gelap malam membuatnya berdebar-debar, tetapi kehadiran orang-orang yang dapat dianggapnya sebagai pelindung yang meyakinkan, membuatnya menjadi lebih tenang.

Ketika Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menyalakan perapian di dekat tempat mereka akan bermalam di perjalanan, maka Widati telah mendekatinya. “Hangatnya perapian ini” desisnya.

“Kau belum mengantuk?” bertanya Mahisa Murti.

Widati menggeleng. Katanya, “Suara burung hantu itu membuat aku tidak dapat tidur”

Mahisa Murti tersenyum. Katanya, “Burung hantu itu tidak dapat membuat bunyi yang lain. Dalam segala keadaan burung itu akan mengeluarkan bunyi yang sama”

Widati mengangguk-angguk. Tetapi ketika tidak dengan sengaja ia mengangkat wajahnya dan memandang ke dedaunan pepohonan yang berwarna kehitam-hitaman, maka kulitnya serasa telah meremang.

Tanpa disadarinya ia telah bergeser mendekati Mahisa Murti sambil berdesis, “Dedaunan itu”

Mahisa Murti pun mengangkat wajahnya pula sambil bertanya, “Kenapa dengan dedaunan itu?”

“Menakutkan” jawab Widati.

Mahisa Murti tersenyum. Katanya, “Jika demikian, jangan memandang dedaunan itu. Disiang hari dedaunan itu nampak hijau segar. Tetapi dalam gelap, warna hijaunya menjadi gelap juga”

Widati mengangguk. Katanya, “Cahaya api itu membuat warna dedaunan itu menjadi aneh. Seperti wajah-wajah raksasa”

Mahisa Pukat tertawa. Katanya, “Raksasa yang akan menelan kita”

“Ah” Widati beringsut semakin dekat. Jangan takut” berkata Mahisa Pukat kemudian, “lihat saja bintang-bintang yang bertaburan itu. Menyenangkan sekali. Tetapi sekaligus memperingatkan kita, betapa kecilnya kita manusia dihadapan luasnya alam yang tidak dapat di mengerti itu”

Widati mengangguk-angguk. Seleret nampak bintang yang berpindah tempat, meluncur dengan cepat.

Dalam pada itu, Mahisa Agni dan Witantra masih juga duduk berhincang dengan Ki Buyut beberapa langkah dari anak-anak muda yang duduk diperapian itu.

Bagi Ki Buyut pengalaman yang baru saja terjadi itu merupakan satu pengalaman yang menggetarkan hati. Jika Mahisa Murti dan Mahisa Pukat salah menilai lawan dan para cantrik yang berdiri di pihaknya, maka anak gadisnya akan ikut menjadi korban.

“Untunglah, semuanya telah lampau” desis Witantra. “Ya. Tetapi rasa-rasanya masih ada yang menggelisahkan” jawab Ki Buyut. Tetapi kemudian, “Untunglah, bahwa tempat tinggalku tidak diketahui baik oleh Singatama maupun oleh gurunya. Apalagi saat ini Singatama telah merubah sikap”

Mahisa Agni dan Witantra mengangguk-angguk. Keduanya mengerti, bahwa Ki Buyut masih belum dapat menghapuskan kegelisahannya sepenuhnya. Tetapi beban yang memberati jantungnya telah banyak berkurang oleh sikap Singatama.

Karena itu, maka seterusnya Ki Buyut sempat berbicara tentang kehidupan di Kabuyutan. Tentang tanah pertanian. Tentang parit-parit. Tentang pegunungan dan hutan-hutan yang gersang.

“Masih banyak kesempatan Ki Buyut” berkata Mahisa Agni, “Kabuyutan itu masih akan dapat berkembang dengan baik. Kesulitan yang pernah mencengkam Kabuyutan. itu menjadi pengalaman yang sangat berharga. Pengalaman itu ternyata telah dilengkapi dengan pengalaman Ki Buyut selama Ki Buyut berada di sebuah padepokan semu itu”

Ki Buyut mengangguk-angguk. Katanya, “Kesulitan yang datang beruntun itu tentu terasa sangat berat bagi Kabuyutan kami. Tetapi seperti yang Ki Sanak katakan, mudah-mudahan di saat mendatang, kami dapat memperbaiki keadaan itu perlahan-lahan”

Mahisa Agni melihat kesungguhan di wajah Ki Buyut yang merasa sangat prihatin atas keadaan Kabuyutannya. Namun dengan kesungguhan pula ia berniat untuk mengejar kemunduran yang dialaminya itu. Beberapa saat mereka masih berbincang. Mereka sempat menyinggung para tawanan yang terluka dan masih berada padepokan.

Namun di antara mereka terdapat prajurit Singasari yang semula terluka pula, sehingga para prajurit itu akan dapat membantu mengawasi para tawanan yaryg ada suatu saat akan diambil oleh para prajurit dari Singasari.

Ketika malam menjadi semakin dalam, maka Ki Buyut pun beringsut setapak. Dibaringkannya tubuhnya di atas rerumputan kering yang sudah dipersiapkannya. Sementara Mahisa Agni dan Witantra pun telah berbaring pula beberapa langkah di sebelah Ki Buyut.

Namun dalam pada itu, yang masih tetap duduk dan berbicara tanpa berkeputusan adalah Mahisa Murti dan Widati. Agaknya mereka menemukan bahan pembicaraan yang sangat menarik.

Sementara Mahisa Pukat agaknya telah menjadi lelah dan beringsut semakin dekat dengan perapian. Sambil meletakkan dagunya di lututnya, ia bermain dengan sebatang ranting yang ujungnya sedang menyala. Seolah-olah ia tidak lagi menghiraukan, apa yang sedang dipercakapkan oleh Mahisa Murti.

Tetapi di luar sadarnya, seolah-olah dalam nyala api di hadapannya, telah membayang wajah seorang gadis pula. Gadis yang pernah dilihatnya di rumah Ki Raganiti. Paman Widati.

Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Gadis itu memang memiliki beberapa persamaan dengan Widati. Itu adalah wajar sekali, karena keduanya adalah saudara sepupu.

“Persetan dengan gadis itu” desak Mahisa Pukat di dalam hatinya. Namun justru karena itu, setiap kali ia mengungkit bara di perapian yang menyala itu, rasa-rasanya wajah itu telah membayang. Semakin lama iustru semakin jelas.

Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Ia pun kemudian tidak dapat ingkar lagi, sebenarnya gadis yang dijumpainya di rumah Ki Raganiti itu telah meninggalkan secercah bekas dihatinya.

Karena itu, maka Mahisa Pukat pun tidak lagi berusaha mengusir bayangan yang setiap kali timbul dan seakan-akan menggodanya. Dibiarkannya saja bayangan itu bermain justru di angan-angannya.

Sementara itu, Mahisa Murti masih saja berbincang dengan Widati. Ada saja yang menarik untuk dibincarakan, sehingga keduanya sama sekali tidak merasa bahwa malam menjadi semakin kelam.

Bahkan tanpa disadarinya, Mahisa Pukat ternyata telah tertidur dengan nyenyaknya di pinggir perapian sambil memegang sebuah ranting yang tidak lagi menyala ujungnya.

Mahisa Agni dan Witantra pun telah saling berdiam diri. Tanpa berjanji mereka agaknya telah membagi waktu. Justru ketika Mahisa Agni bangkit dan duduk di atas sebuah batu, Witantra telah berusaha untuk dapat memejamkan matanya barang sejenak.

Dalam pada itu, Ki Buyut pun ternyata tidak juga dapat tidur. Bagaimanapun juga, ia tidak begitu senang melihat anaknya berbincang seolah-olah tanpa akhir dengan Mahisa Murti. Meskipun pandangannya terhadap Mahisa Murti sudah berubah, namun rasa-rasanya sikap anaknya itu agak kurang pantas bagi seorang gadis.

Karena Widati masih saja duduk di sebelah perapian bersama Mahisa Murti, maka akhirnya Ki Buyut itupun berkata, “Widati. Malam telah lewat. Kau harus beristirahat. Kita masih akan menempuh perjalanan yang cukup panjang”

Widati mengerutkan keningnya. Namun iapun kemudian menyadari maksud ayahnya. Malam memang sudah larut. Dan ia masih saja berbicara dengan seorang anak muda.

Karena itu, maka Widati pun kemudian bangkit sambil berdesis, “Aku harus beristirahat”

“Tidurlah. Besok perjalanan masih panjang” berkata Mahisa Murti.

Widatipun kemudian meninggalkan Mahisa Murti termangu-mangu sendiri. Perlahan-lahan ia mendekati ayahnya yang kemudian duduk sambil berkisar. Katanya, “Tidurlah”

Widatipun kemudian duduk bersandar sebuah batu yang besar sambil berkata, “Aku akan tidur di sini ayah”

“Berbaringlah agar kau dapat tidur dengan baik” berkata ayahnya.

“Sama saja bagiku. Sambil bersandar pun aku dapat tidur dengan nyenyak” jawab Widati.

Ki Buyut menarik nafas dalam-dalam. Wajah Widati nampak cerah di bayangan api perapian. Bahkan ketika ia pun kemudian tertidur, sebuah senyuman masih membayang di bibirnya.

Ki Buyut menarik nafas dalam-dalam. Iapun menjadi yakin, bahwa antara anak gadisnya dengan anak muda yang sebenarnya bernama Mahisa Murti itu telah terjalin satu hubungan yang rumit di dalam hati mereka.

Namun akhirnya Ki Buyut itupun tertidur juga setelah ia yakin bahwa Widati pun telah tertidur pula.

Yang kemudian masih terbangun adalah Mahisa Agni dan Mahisa Murti yang duduk di dekat Mahisa Pukat terbaring. Sementara itu agaknya Witantra pun telah tertidur pula.

Perlahan-lahan Mahisa Agni melangkah mendekati Mahisa Murti yang merenung. Sambil duduk di sebelah anak muda itu Mahisa Agni bertanya, “Kau tidak beristirahat Murti”

Mahisa Murti memandang wajah Mahisa Agni sekilas. Kemudian katanya, “Kita bergantian paman. Silahkan paman beristirahat. Nanti, pada saatnya aku mengantuk, aku akan membangunkan paman atau Mahisa Pukat atau paman Witantra”

Mahisa Agni tersenyum. Katanya, “Kau dapat bergantian dengan Mahisa Pukat. Aku akan bergantian dengan pamanmu Witantra. Tetapi jika kau ingin tidur, tidurlah. Biarlah aku duduk mengawasi keadaan. Nampaknya tidak ada sesuatu yang pantas di cemaskan di tempat ini”

Mahisa Murti mengangguk-angguk. Namun katanya kemudian, “Aku tidak mengantuk sekarang paman. Mungkin nanti sebentar”

Mahisa Agni menepuk bahu anak muda itu. Tetapi kemudian iapun bangkit dan berjalan mengelilingi orang-orang yang sedang tidur itu sebelum ia kembali duduk di atas sebuah batu.

Mahisa Murti memandangi Mahisa Agni beberapa lama. Namun ia pun kemudian beringsut lebih dekat dari api. Dilontarkannya beberapa potong ranting kering ke dalam api itu, sehingga untuk sesaat, apipun melonjak semakin besar.

Lewat tengah malam, Witantra telah terbangun dengan sendirinya. Setelah mengeliat, maka ia pun kemudian duduk di sebelah Mahisa Agni sambil berkata, “Aku tertidur nyenyak sekali”

“Kau belum lama tertidur” jawab Mahisa Agni.

Namun Witantra menyahut sambil memandangi bintang-bintang dilangit, “Sudah cukup lama. Bintang-bintang telah bergeser terlalu jauh”

Mahis Agni menarik nafas dalam-dalam. Sambil menunjuk Mahisa Murti yang masih duduk di tepi perapian Mahisa Agni berkata, “Anak itu belum sempat tidur”

Witantra mengangguk. Jawabnya, “Ada sesuatu yang mengganggunya”

“Ya” jawah Mahisa Agni, “perasaannya sendiri”

Witantra tersenyum. Katanya, “Biarlah ia membangunkan Mahisa Pukat, agar ia dapat beristirahat barang sejenak”

Witantra pun kemudian bangkit mendekatinya, sementara Mahisa Agni pun kemudian berpindah duduk bersandarkan pohon yang tidak terlalu besar. Namun dengan demikian, ia pun sempat memejamkan mata menjelang dini hari.

Witantra pun yang kemudian duduk di sebelah Mahisa Murti sambil berkata, “Sudah waktunya kau membangunkan Mahisa Pukat”

Mahisa Murti mengerutkan keningnya. Namun kemudian katanya, “Baiklah paman. Aku akan beristirahat”

Mahisa Murti pun kemudian membangunkan Mahisa Pukat yang nampaknya sangat malas untuk membuka matanya. Namun akhirnya ia pun duduk pula sambil menggeliat.

“Aku akan tidur. Kau kawani paman Witantra” berkata Mahisa Murti.

Mahisa Pukat menggosok matanya.’Ketika ia memandang berkeliling, dilihatnya Widati telah tertidur sambil bersandar sebongkah batu.

Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Tidurlah. Aku kawani paman Witantra”

Mahisa Murti pun kemudian beringsut selangkah. Sambil berdesah ia pun meletakkan kepalanya di atas setumpuk rerumputan kering.

Mahisa Pukat lah yang kemudian duduk di sebelah Witantra sambil berkata, “Mahisa Murti sedang diganggu oleh perasaannya sendiri terhadap gadis yang bersandar batu itu”

Witantra tersenyum. Katanya, “Hal yang wajar. Tetapi Mahisa Murti harus ingat, apa yang pernah terjadi atas Mahisa Bungalan sebelumnya. Hubungannya dengan gadis itu harus diaturnya sebaik-baiknya agar tidak menjeratnya ke dalam satu kesulitan”

“Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Tiba-tiba saja ia teringat pada seorang gadis yang pernah dilihatnya dan telah meninggalkan kesan tersendiri pula dihatinya.

“Apapula kata paman Witantra jika ia mengetahuinya” berkata Mahisa Pukat di dalam hatinya. Namun tiba-tiba saja Mahisa Pukat menguap. Agaknya matanya masih saja ingin terpejam.

“Tidurlah” berkata Witantra sambil tersenyum, “aku akan berjaga-jaga”

“Ah” desis Mahisa Pukat yang melihat Mahisa Murti terbujur.

Witantra tidak mendesaknya. Namun ketika Mahisa Murti sudah tertidur, sekali lagi Witantra berkata, “Tidurlah”

Mahisa Pukat ragu-ragu. Namun akhirnya iapun beringsut untuk bersandar sebatang pohon pula. Katanya, “Aku tidak ingin tidur. Tetapi jika aku tertidur, justru karena paman mengijinkan”

Witantra tersenyum. Katanya, “Yah, tidurlah”

Mahisa Pukat pun kemudian tersenyum. Namun akhirnya matanyapun telah terpejam pula.

Tidak ada yang menarik terjadi malam itu, selain permainan perasaan anak-anak muda yang ada diantara iring-iringan yang sedang beristirahat itu. Nampaknya mereka tertidur sambil membawa angan-angan masing-masing.

Ketika langit menjadi merah oleh cahaya fajar, maka mereka pun telah terbangun. Ki Buyut telah mengantarkan anak gadisnya ke sebuah belik kecil yang tidak terlalu jauh dari perapian.

Sejenak kemudian maka orang-orang yang berada di dalam sekelompok kecil itu pun sudah siap membenahi diri, sehingga merekapun telah siap untuk melanjutkan perjalanan.

“Marilah” berkata Mahisa Agni, “mumpung hari masih pagi”

Sejenak kemudian, iring-iringan itu pun mulai bergerak. Kuda-kuda merekapun telah menjadi segar.

Dengan demikian perjalanan mereka pun menjadi lebih cepat. Apalagi jalan yang mereka tempuh kemudian adalah jalan yang lebih baik. Meskipun mereka kadang-kadang harus menyusup hutan-hutan kecil, namun perjalanan tidak lagi terasa terlalu berat.

Namun mereka tidak dapat menempuh perjalanan sepanjang hari tanpa beristirahat untuk makan dan minum. Bagi orang-orang yang terbiasa hidup dalam pengembaraan dan berada di dalam lingkungan olah kanuragan, hal itu tidak akan banyak terasa mengganggu. Tetapi tentu tidak bagi Widati dan Ki Buyut.

Karena itu, ketika matahari yang terik menyengat ujung pepohonan, maka iring-iringan itu pun mendekati sebuah pasar yang telah menjadi sepi. Tetapi masih ada satu dua buah kedai yang melayani para pembelinya.

“Kita singgah sebentar” berkata Mahisa Murti yang mengetahui keadaan Widati.

Sebenarnya Mahisa Agni dan Witanta ingin memperingatkan Mahisa Murti karena, jumlah mereka agaknya akan dapat menarik perhatian. Tetapi mengingat keadaan Widati, maka keduanya akhirnya mengambil satu sikap yang lain.

“Mahisa Murti” berkata Mahisa Agni, “kau, Mahisa Pukat dan Ki Buyut serta anaknya, singgahlah di kedai itu. Biarlah aku menunggu di tempat yang terpisah, agar tidak terlalu menarik perhatian. Nampaknya jumlah kita terlalu banyak untuk sekelompok pejalan biasa”

Mahisa Murti mengerutkan keningnya. Kemudian katanya kepada Mahisa Pukat perlahan-lahan, “Bagaimana pendapatmu?”

“Aku mengerti pendapat paman Mahisa Agni” berkata Mahisa Pukat, “karena itu, agaknya kami persilahkan paman Mahisa Agni dan paman Witantra untuk singgah di kedai yang satu, sedang kita akan singgah dikedai yang lain.

“Baiklah” berkata Mahisa Murti yang kemudian mendekati Ki Buyut sambil berkata, “marilah. Kita akan dapat singgah di kedai itu sebentar”

Ki Buyut tidak menolak. Ia tahu bahwa anak gadisnya benar-benar telah haus dan lapar. Karena itu, maka mereka pun telah menggeser arah kudanya, berbelok menuju ke pasar yang telah sepi itu.

Tetapi ketika mereka memasuki sebuah kedai dan Mahisa Agni serta Witantra memasuki kedai yang lain, maka Ki Bayutpun telah bertanya, “Kenapa kedua pamanmu itu tidak bersama-sama dengan kita disini?”

Mahisa Murtilah yang berbisik ditelinga Ki Buyut, “Tidak apa-apa. Sekedar untuk mengurangi perhatian orang. Supaya mereka tidak bertanya-tanya, seolah-olah kita sedang mengungsi dengan anak cucu”

Ki Buyut mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia pun tersenyum sambil mengangguk-angguk. Sejenak kemudian, mereka pun telah duduk di dalam kedai itu. Meskipun pasar itu sudah sepi, tetapi masih ada juga beberapa orang yang berada di kedai itu. Agaknya di sudut pasar beberapa orang pandai besi masih sibuk menyelesaikan pekerjaannya.

Mahisa Agni dan Witantra yang berada di kedai yang lain, di luar sadar telah memperhatikan pandai besi itu. Bahkan Witantra telah bertanya kepada pemilik kedai itu, “Apakah sudah terbiasa bahwa pandai besi itu bekerja sehari penuh?”

“Tidak Ki Sanak” jawab pemilik kedai itu, “biasanya mereka selesai sebelum tengah hari. Jika masih ada pekerjaan, mereka akan mengerjakannya esok”

“Tetapi mereka hari ini bekerja terlalu keras” sahut Mahisa Agni.

“Mereka menerima pesanan khusus” jawab pemilik kedai itu.

“Apa?” bertanya Witantra.

“Mereka menerima pesanan lebih dari lima puluh kapak” jawab pemilik kedai itu.

“Kapak demikian banyak?” bertanya Witantra, “apakah mungkin yang memesan itu seorang pedagang yang akan menjualnya lagi di tempat lain yang masih belum memiliki seorang pandai besi pun?”

“Entahlah” jawab pemilik kedai itu, “aku tidak tahu” Mahisa Agni dan Witantra mengerutkan keningnya ketika tiba-tiba saja seorang bertubuh tinggi tegap menjulurkan kepalanya di pintu belakang kedai itu sambil berkata, “Ya. Kau, memang tidak tahu apa-apa” Pemilik kedai itu berpaling Orang itu berpegangan kedua uger-uger pintu belakang kedainya, sementara kepalanya terjulur ke dalam. Wajahnya yang keras membayangkan sikapnya yang agaknya juga cukup keras seperti wajahnya itu.

Rasa-rasanya debar jantung pemilik Kedai itu menjadi semakin cepat. Tetapi ia sama sekali tidak menjawab. Bahkan ia pun kemudian menyibukkan dirinya dengan melayani minuman Mahisa Agni dan Witantra.

Mahisa Agni dan Witantra saling berpandangan sejenak. Namun mereka pun tidak berkata sepatahpun. Bahkan ketika pemilik kedai itu membuat minuman yang tidak mereka pesan, mereka pun tidak menolaknya, karena mereka mengerti, bahwa pemilik kedai itu menjadi sangat gelisah.

Untuk beberapa saat kedai itu menjadi sepi. Baik pemilik kedai itu, maupun Mahisa Agni dan Witantra, sama sekali tidak mengatakan sesuatu. Mereka sibuk dengan kepentingan mereka masing-masing. Pemilik kedai itu membenahi barang-barangnya yang tidak sedang dipakai, sedang Mahisa Agni dan Witantra sibuk dengan minuman hangatnya, meskipun yang mereka pesan bukan air sere seperti yang dihidangkan. Namun air sere dengan gula kelapa itu pun rasa-rasanya cukup segar. Apalagi bagi mereka yang agak kurang tidur di malam sebelumnya.

Dalam kesepian itu, ternyata ada dua orang berkuda lagi yang berhenti di depan kedai itu. Dua orang penunggangnya pun kemudian turun dan setelah menambatkan kudanya, memasuki kedai itu pula. Berbeda dengan orang yang masih berdiri di pintu belakang, orang yang memasuki kedai itu nampaknya lebih tertib, meskipun keduanya agaknya orang-orang yang sombong.

“Beri aku minuman dan makanan yang paling baik” berkata salan seorang dari kedua orang itu.

Pemilik warung itupun kemudian menjadi sibuk. Seperti yang dibuatnya untuk Mahisa Agni dan Witantra, maka ia pun telah membuat minuman air sere dengan gula kelapa bagi kedua orang tamunya yang baru itu. Baru kemudian pemilik kedai itu telah menghidangkan setambir makanan bagi mereka.

Tetapi seorang dari kedua orang tamu itu mengerutkan keningnya. Diamatinya mangkuk air sere itu dengan kerut di dahi.

“Minuman apa ini?” ia bertanya.

“Air sere” jawab pemilik kedai itu.

Orang itu mencicipi air sere itu setitik. Namun tiba-tiba saja ia melemparkan mangkuk itu sambil membentak, “Gila. Kau beri minum apa aku he?”

Pemilik kedai itu terkejut bukan buatan. Air yang masih hangat itu telah terpercik ke tubuhnya. Sambil bergeser surut ia pun menjawab, “Itu adalah jenis minuman yang paling baik disini Ki Sanak”

“Kau gila” geram orang itu, “beri aku minuman yang lebih baik”

“Apa yang Ki Sanak maksudkan?” bertanya pemilik kedai itu termangu-mangu.

“Tuak. Beri aku tuak sebumbung” geram orang itu.

Pemilik kedai itu menjadi tegang. Dengan wajah cemas ia menjawab, “Maaf Ki Sanak. Aku tidak mnyediakan tuak di sini. Yang ada hanyalah minuman-minuman panas. Air sere, air salam dan barangkali dawet legen jika dikehendaki. Aku dapat memesan di kedai sebelah”

“Cukup” bentak orang itu, “beri aku tuak. He, kau dengar”

Pemilik kedai itu menjadi bingung. Sekali lagi ia mencoba menjelaskan, “Aku tidak mempunyai tuak Ki Sanak”

“Aku tidak peduli. Apakah kau akan membeli, atau mencuri atau merampok. Aku perlu tuak kau dengar”

Pemilik kedai itu menjadi gemetar. Ia tidak pernah menjumpai pembeli yang tidak mau tahu, apakah ia mempunyai persediaan jenis makanan atau minuman yang dikehendaki.

Kesan Mahisa Agni dan Witantra terhadap itu pun segera berubah. Jika semula mereka hanya menganggap dua orang itu agak sombong, namun akhirnya mereka pun melihat kekasaran orang yang tidak mereka kenal itu.

Selagi pemilik kedai itu termangu-mangu, maka salah seorang dari keduanya membentak sambil menghentakkan tangannya pada paga bambu di hadapannya, “Cepat, sebelum aku robohkan kedaimu ini”

Demikian kerasnya orang itu menghentakkan tangannya, sehingga mangkuk Mahisa Agni dan Witantra pun telah bergoncang, sehingga minuman hangat di dalamnya telah memercik pula ke tubuh mereka.

Tetapi baik Mahisa Agni maupun Witantra masih tetap berdiam diri tanpa berbuat sesuatu menyaksikan sikap itu. Namun dalam pada itu, yang tiba-tiba saja menyahut adalah orang yang berwajah kasar yang berdiri di pintu belakang itulah yang menyahut, “Kau jangan gila Ki Sanak. Kau sudah dengar bahwa di kedai ini tidak ada tuak?”

Kedua orang itu tiba-tiba saja telah berpaling. Dengan kerut di dahi, seorang diantara mereka bertanya, “Siapa kau?”

Tiba-tiba saja jawab orang itu mengejutkan Mahisa Agni dan Witantra, “Aku saudara pemilik kedai ini. Aku tidak senang melihat kesombonganmu seperti itu”

“Persetan” teriak yang seorang. Tetapi yang lain justru tertawa sambil berkata, “Kau orang gila juga seperti saudaramu pemilik warung ini. Kau jangan ikut campur he?”

Orang yang berdiri di pintu belakang itu melangkah masuk. Wajahnya yang garang menjadi semakin garang.

Dalam pada itu, Mahisa Agni dan Witantra masih tetap berdiam diri. Namun keduanya mengerti, kenapa orang yang berdiri di pintu belakang itu telah ikut campur.

Agaknya ia telah merasa tersinggung, seolah-olah kedua orang yang baru datang itu adalah orang-orang yang paling menakutkan di muka bumi. Sehingga dengan demikian, didorong oleh harga dirinya yang menghentak maka orang itupun telah ikut campur.

“Ki Sanak” berkata orang berwajah garang itu, “aku minta kalian secepatnya meninggalkan kedai ini sebelum aku mengambil sikap”

“Apa yang akan kau lakukan” bertanya salah seorang dari kedua orang itu.

“Mengusir kalian dari tempat ini. Siapa kalian?” jawab orang berwajah kasar itu.

Sekali lagi orang-orang itu tertawa. Salah seorang berkata, “Kau belum mengenal aku. Karena itu, kau berani berkata seperti itu”

Orang berwajah garang itu menggeram. Katanya Sudah aku katakan, siapapun kalian, kalian harus pargi dari tempat ini”

Kedua orang itu saling berpandangan sejenak. Yang seorang kemudian berkata, “Apa boleh buat sebenarnya kita tidak ingin berbuat apa-apa disini. Tetapi orang ini telah menjerumuskan dirinya sendiri ke dalam kesulitan”

“Kau kira apa yang kau lakukan itu tidak apa-apa? bentak orang berwajah kasar, “kau telah berbuat seolah-olah kau tidak dibatasi oleh paugeran apapun. Apa yang ingin kau lakukan dapat kau lakukan. Kau minta apa yang tidak ada. Tetapi apa yang tidak ada itu harus ada. Bukankah itu satu perbuatan gila. Dengan tidak langsung kau sudah menantang aku yang melihat tingkah lakumu”

Seorang di antara kedua orang itu mengangkat bahunya. Sedangkan yang lain berkata, “Kita tidak mempunyai pilihan lain. Orang ini harus disingkirkan. Ia bukan saja akan menghalangi kita dalam permainan kecil-kecilan ini. Tetapi dalam langkah-langkah yang besar pun ia akan selalu ikut campur, ia merasa dirinya terlalu besar. Mungkin tukang-tukang kedai memang mempunyai orang-orang kasar untuk menakut-nakuti pencuri-pencuri kecil. Tetapi langkahnya kali ini telah menjerumuskannya ke dalam kesulitan yang sebenarnya”

“Cukup” teriak orang berwajah kasar itu, “aku bukan orang upahan. Bukan pula apa-apa. Jika aku ingin mengusir kalian, karena kesombongan kalian telah menyinggung harga diriku”

Kedua orang itu menarik nafas dalam-dalam. Sejenak keduanya terdiam. Namun tiba-tiba yang seorang berkata, “Marilah Ki Sanak. Aku ingin memperlihatkan kepadamu, bahwa aku dapat merobek mulutmu”

Orang berwajah kasar itu menggeram. Tetapi ia membiarkan kedua orang itu melangkah keluar. Agaknya keduanya ingin berada di tempat terbuka, apapun yang akan terjadi.

Orang berwajah garang itu pun kemudian menyusulnya. Ketika kedua orang itu berhenti di halaman kedai itu. maka orang berwajah garang itupun telah bersiap.

Kemarahan telah membakar jantung orang berwajah garang itu karena sikap kedua orang yang menurut penilaiannya sangat sombong dan tidak tahu diri itu.

“Kau tetap pada pendirianmu?” bertanya salah seorang dari kedua orang itu.

“Ya. Aku muak melihat orang-orang gila seperti kalian berdua. Sangat menjengkelkan. Kalian minta apa yang tidak ada” geram orang berwajah kasar itu.

Dalam pada itu, salah seorang dari kedua orang itu melangkah maju sambil berkata, “Bersiaplah”

“Jangan hanya seorang” geram orang berwajah kasar itu “majulah bersama-sama”

Tetapi orang yang menghadapinya itu membentak, “Ternyata kau lebih sombong dari kami berdua. Cepat, jangan banyak bicara lagi”

Orang berwajah kasar itu memang tidak menunggu. Justru ia telah meloncat dan menyerang lawannya dengan garangnya.

Sejenak kemudian perkelahian diantara keduanya telah terjadi. Semakin lama semakin sengit.

Dalam pada itu. Mahisa Agni dan Witantra pun telah bergeser. Tetapi mereka masih tetap berada di dalam kedai itu bersama pemilik kedai yang ketakutan.

“Aku akan menutup kedai ini” suara pemilik kedai itu menjadi gemetar.

“Jangan ditutup” sahut Mahisa Agni, “mereka akan menjadi semakin marah. Kedua orang itu akan dapat membakar kedaimu”

“Tetapi siapa pun yang memang, aku akan menjadi sasaran. Apalagi jika kedua orang itu nanti memaksa untuk mendapatkan tuak. Darimana aku harus mengambilnya” suara pemilik warung itu gemetar.

“Mudah-mudahan mereka menginginkan yang lain. Tetapi mereka tidak akan membakar kedaimu” berkata Witantra pula.

Tetapi pemilik kedai itu justru menjadi semakin ketakutan. Jika ia membiarkan kedainya terbuka, maka mungkin sekali orang-orang itu, siapa pun yang menang, akan membuat kedainya menjadi rusak. Tetapi jika ia menutupnya, seperti yang dikatakan oleh Mahisa Agni dan Witantra. mungkin kedai itu akan dibakar.

Dalam kebimbangan itu, maka ia menyaksikan perkelahian yang semakin seru. Sementara salah seorang dari kedua orang yang datang kemudian itu memperhatikan perkelahian itu dengan seksama.

Dalam pada itu, ternyata Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang berada di kedai lainpun mendengar hiruk-pikuk cli halaman kedai sebelah. Suara itu ternyata telah mengejutkan mereka. Mereka menyangka bahwa telah terjadi sesuatu dengan Mahisa Agni dan Witantra. Sehingga karena itu, maka keduanya telah meloncat keluar dari dalam kedai.

Tetapi mereka pun kemudian menyaksikan, bahwa dua orang sedang berkelahi. Diantara mereka bukannya Mahisa Agni atau Witantra. Tetapi orang lain. Sejenak Mahisa Murti dan Mahisa Pukat termangu-mangu. Tetapi karena mereka tidak melihat Mahisa Agni dan Witantra. maka mereka pun kemudian bergeser surut.

Sementara orang-orang itu berkelahi semakin sengit, maka orang-orang yang tersisa di pasar itu pun menjadi ribut. Pandai besi yang masih bekerja itup un dengan cepat mengemasi barang-barangnya dan memadamkan perapiannya.

Dalam pada itu, pemilik kedai sebelah telah berkata kepada Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, “Masuklah, agar kalian tidak disandang ikut campur dalam persoalan yang tidak kalian ketahui”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menjadi termangu-mangu. Mereka ingin tahu, apa yang sebenarnya telah terjadi. Tetapi merekapun nampaknya tidak ingin ikut campur dalam persoalan yang tidak mereka mengerti. Apalagi nampaknya Mahisa Agni dan Witantra pun tidak ikut campur pula.

Dalam pada itu, pemilik kedai itupun berkata, “Silahkan masuk Ki Sanak. Aku akan menutup saja kedai ini. Jika perkelahian itu berkembang, maka lebih baik, kita sudah tidak berada di tempat ini”

“Maksudmu?” bertanya Mahisa Murti.

“Aku akan menutup kedaiku dan kemudian pulang saja” berkata pemilik kedai itu. Lalu, “Aku juga ingin memper silahkan Ki Sanak untuk meninggalkan tempat ini”

“Apakah perkelahian itu akan dapat berkembang?” bertanya Mahisa Pukat.

Pemilik kedai itu bergumam, “Silahkan masuk. Aku akan menutup kedaiku. Kita akan pergi lewat pintu belakang saja”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak menjawab. Keduanya pun kemudian masuk ke dalam kedai. Sementara itu, Ki Buyut dan Widati nampak menjadi cemas. Agaknya telah terjadi satu perselisihan yang gawat di antara orang-orang yang tidak mereka kenal”

Namun demikian, agaknya Mahisa Pukat masih belum puas bahwa pertanyaannya belum terjawab. Karena itu, maka sekali lagi ia bertanya, “Apakah pertempuran ini masih akan berkembang?

“Mungkin sekali. Nampaknya salah satu pihak tidak seorang diri” jawab pemilik kedai itu.

“Ya. Nampaknya mereka berdua. Tetapi agaknya mereka bersikap jantan, sehingga mereka berkelahi seorang melawan seorang” berkata Mahisa Pukat pula.

“Tetapi jika kawannya kalah, maka yang seorang itu tentu akan mengambil sikap lain. Mungkin ia akan membantu, sehingga yang seorang itu akan berkelahi melawan dua orang. Padahal yang seorang itu pun tidak sendiri di daerah ini” jawab pemilik kedai itu.

“Apakah ia mempunyai kawan?” bertanya Mahisa Murti.

“Ya. Mereka sudah lama berkeliaran di daerah ini. Mereka sedang memesan kapak kepada pandai besi di sudut pasar itu. Kapak penebang pohon” jawab pemilik kedai itu pula.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Namun mereka pun kemudian harus berkemas, ketika mereka melihat pemilik kedai itu bersiap-siap untuk pergi.

Tetapi keterangan pemilik kedai itu memang menarik perhatiannya. Orang yang sedang bertempur itu, ternyata mempunyai banyak kawan. Sedang mereka berada di tempat itu untuk memesan sejumlah kapak penebang pohon.

“Marilah Ki Sanak” berkata pemilik kedai itu, “kita keluar lewat pintu belakang”

Tetapi tiba-tiba saja Mahisa Murti bertanya, “Kita akan pergi kemana? Jika kita keluar dari kedai ini, apakah kita tidak justru menarik perhatian. Kuda-kuda kami ada di depan kedai ini”

Pemilik kedai itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Mereka sedang berkelahi. Mereka tidak akan memperhatikan kita”

“Tetapi saat kami mengambil kuda-kuda kami, “ sahut Mahisa Pukat.

Pemilik kedai itu mengerutkan keningnya. Kemudian iapun bertanya, “Jadi apa yang akan kalian lakukan?”

“Kami akan bersembunyi di dalam kedai ini sampai segalanya berakhir” jawab Mahisa Pukat.

Pemilik kedai itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Sekali lagi aku katakan, perkelahian itu akan dapat berkembang”

“Tetapi mereka tidak akan menghiraukan kami yang ada di dalam kedaimu ini” jawab Mahisa Pukat.

Orang itu merenung sejenak. Namun akhirnya iapun berkata, “Baiklah. Kita akan tetap berada disini. Nampaknya mereka tidak akan mengganggu orang-orang lain yang tidak mencampuri persoalan mereka”

“Terima kasih” berkata Mahisa Murti, “namun demikian, agaknya menarik juga untuk mengintip mereka dari celah-celah dinding agar kita dapat mengikuti perkembangan yang terjadi”

Pemilik kedai itu tidak melarang dan tidak berkeberatan ketika kemudian Mahisa Murti dan Mahisa Pukat berusaha untuk mengintip perkelahian itu. Meskipun mereka tidak dapat melihat dalam keseluruhan, tetapi mereka dapat melihat sebagian dari apa yang terjadi, sehingga mereka mendapat kesan, perkembangan dari perkelahian itu.

Ternyata perkelahian itu semakin lama menjadi semakin seru. Keduanya memiliki kemampuan yang cukup, sehingga dengan demikian maka keduanya telah menunjukkan kelebihan mereka. Bukan saja kekuatan wadag mereka, tetapi juga kecepatan gerak dan kemampuan mereka mempergunakan unsur-unsur gerak yang membahayakan lawan.

Mahisa Agni dan Witantra masih memperhatikan pertempuran itu dengan seksama. Tetapi mereka sama sekali tidak memberikan kesan, bahwa mereka dapat mengetahui apa yang sedang mereka saksikan, yang mereka lakukan adalah, seolah-olah mereka menjadi cemas melihat perkembangan yang terjadi.

Tetapi pemilik kedai itu benar-benar tidak berani menutup kedainya, karena seperti yang dikatakan oleh Mahisa Agni dan Witantra, bahwa dengan demikian, mungkin sekali kedai itu justru akan dibakar.

Dalam pada itu, salah seorang di antara mereka yang datang kemudian, yang tidak terlibat dalam perkelahian itu, menyaksikan perkelahian itu dengan jantung yang berdebaran.

Namun dalam pada itu, orang-orang yang berada di dalam kedai itu terkejut, ketika tiba-tiba saja pintu belakang telah terbuka. Seorang yang bertubuh tinggi kekurus-kurusan berdiri sambil memperhatikan seisi kedai itu.

“He, kau sedang mengintip?” bertanya orang itu.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat termangu-mangu. Sementara itu orang itu pun berkata, “Kau sebenarnya tidak perlu mengintip. Marilah, kita akan melihat apa yang terjadi”

Hampir di luar sadarnya, Mahisa Pukat lah yang menjawab, “Kami menjadi ketakutan”

Orang itu tertawa. Katanya, “Jika kalian memang ketakutan, memang sebaiknya kalian bersembunyi di dalam kedai ini. Biar aku sendiri yang mendekat. Agaknya perkelahian itu memang sangat menarik untuk dilihat. Kalian akan dapat melanjutkan mengintip perkelahian itu”

Tidak seorang pun yang menjawab. Ketika orang itu pergi maka pemilik kedai itu dengan tergesa-gesa telah menutup kembali pintu belakang kedainya.

“Kau kenal orang itu?” bertanya Mahisa Murti.

“Orang itu adalah kawan dari orang yang. sedang berkelahi itu. Aku tidak kenal mereka. Tetapi aku pernah melihat mereka. Agaknya mereka akan berada di tempat ini sampai pesanan mereka selesai” jawab pemilik kedai itu.

“Kapak-kapak itu?” bertanya Mahisa Pukat. “Ya” jawab pemilik kedai itu pula.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak bertanya lagi. Mereka telah berusaha untuk mengintip lagi, apakah yang akan terjadi di antara orang-orang yang sedang berkelahi itu.

Dalam pada itu, maka orang yang bertubuh tinggi kekurus-kurusan itu pun telah mendekati arena perkelahian yang menjadi semakin seru. Dengan nada datar ia pun kemudian berkata, “Marilah kita menonton bersama-sama”

Orang yang datang berkuda berdua dengan orang yang sedang berkelahi itu termangu-mangu. Ternyata ada orang lain yang datang tanpa ragu-ragu.

“Siapa kau?” bertanya orang itu.

“Aku kawan orang yang sedang berkelahi itu” jawab orang yang bertubuh tinggi kekurus-kurusan. Lalu, “Kenapa kawanmu itu berkelahi dengan kawanku? Aku mendengar dari anak-anak yang berlari-lari ketakutan”

“Kawanmu telah mencampuri urusan kami” jawab orang itu.

“Urusan apa?” bertanya orang tinggi itu.

“Tidak apa-apa. Apakah kau juga akan turut campur?” bertanya orang berkuda itu.

“Hanya jika perlu. Jika tidak perlu, aku akan menonton saja di sini. Nampaknya perkelahian itu sangat sengit. Keduanya memiliki ilmu dan kemampuan yang seimbang. Jika kau merasa ilmumu setingkat dengan kawanmu itu, maka jika kita berkelahi, akan menjadi sangat seru pula. Siapa yang membuat kesalahan, akan tidak diampuni lagi. Nyawanya akan menjadi taruhan” orang bertubuh tinggi itu terdiam sejenak. Lalu, “He, apakah kau berniat demikian?”

“Anak setan” geram orang berkuda itu, “aku akan menunggu sejenak. Tetapi pada saatnya aku akan memperhatikan kesombonganmu itu”

Orang bertubuh tinggi itu tertawa. Tetapi ia tidak menjawab.

Dalam pada itu, perkelahian itu pun sebenarnya menjadi semakin sengit. Keduanya saling mendesak. Mereka telah bertempur dengan mempergunakan senjata masing-masing. Sekali-sekali terdengar senjata itu berdentang. Namun kemudian senjata-senjata itu berputaran bagaikan baling-baling. Bahkan kadang-kadang terdengar senjata-senjata itu bagaikan bersuit nyaring jika tebasan mendatar serta ayunan serangan yang sangat keras membelah udara.

Bersambung....!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...