*HIJAUNYA LEMBAH : JILID-015-01*
Sekali-kali lawannya memang mampu meloncat menghindar dengan kecepatannya yang melampaui kecepatan gerak Mahisa Murti, tetapi pada saat tertentu, gerak Mahisa Murti pun demikian tiba-tiba diluar perhitungan lawannya, sehingga lawannya harus menangkis serangan Mahisa Murti, sehingga dengan demikian terjadi satu benturan yang Sangat keras.
Tapi sejenak kemudian, ketika lawannya telah berhasil memperbaiki keadaannya dengan menghindari benturan-benturan berikutnya, kembali Mahisa Murti tegak bagaikan tonggak yang menghunjam ke dalam pusat bumi. Tegak dan tidak dapat digoyahkan.
Pada saat yang demikian itulah maka baik Pangeran Lembu Sabdata maupun kedua orang yang akan membebaskannya menjadi gelisah. Yang bertempur melawan Senopati dari Singasari, meskipun ia merasa dapat mengalahkannya, tetapi ternyata Senopati itu seakan-akan menjadi sangat liat. Menurut perhitungannya semuanya akan dapat segera diselesaikan, tetapi ternyata bahwa setiap kali ia menghadapi satu keadaan yang tidak diduganya. Senopati itu masih sempat menghindari serangannya yang dianggapnya akan mampu mematikannya.
Karena itulah, maka kedua orang yang berusaha membebaskan Pangeran Lembu Sabdata itu mulai menjadi cemas. Apalagi ketika mereka melihat, bahwa keadaan Pangeran Lembu Sabdata sendiri menjadi sulit.
Dalam pada itu, Mahisa Murti tidak menyia-nyiakan setiap perkembangan keadaan. Ketika ia melihat lawannya menjadi gelisah, maka ia justru berusaha menyerang dengan hentakkan-hentakkan yang mendebarkan. Meskipun lawannya masih tetap mampu bergerak cepat, tetapi dalam hentakkan-hentakkan itu Mahisa Murti berhasil membuat benturan-benturan senjata yang sangat berpengaruh atas lawannya.
Tangan lawannya yang setiap kali terasa menjadi pedih, semakin lama semakin mempengaruhi kemampuannya menggenggam senjata. Karena itu, maka lawannya itu pun harus memusatkan serangan-serangannya berdasarkan kepada kecepatan gerak. Namun dalam keadaan yang demikian, kembali Mahisa Murti bertahan pada sikapnya.
Kecemasan semakin mencengkam kedua orang yang berusaha membebaskan Pangeran Lembu Sabdata. Yang melawan Senopati dari Singasari itu pun menjadi gelisah pula. Senopati itu masih juga belum dapat diselesaikan, sementara Pangeran Lembu Sabdata menjadi semakin terdesak. Agaknya Mahisa Pukat akan memenangkan perlombaan dengan lawan Senopati dari Singasari itu.
Kedua orang yang berusaha membebaskan Pangeran Lembu Sabdata itu terkejut ketika mereka mendengar desis tertahan. Pangeran Lembu Sabdata terdorong surut. Agaknya pedang Mahisa Pukat telah menyentuh tubuhnya meskipun tidak terlalu dalam.
Yang tidak terduga, hampir bersamaan, Mahisa Murti berhasil memancing benturan senjata yang sangat kuat. Kedua senjata yang saling membentur itu telah menimbulkan loncatan-loncatan bunga api. Demikian kerasnya benturan itu, sehingga hampir saja senjata lawan Mahisa Murti itu terloncat dari tangannya.
Saat yang demikian itulah yang ditunggu oleh Mahisa Murti. Dengan kecepatan yang mungkin dilakukan, maka iapun telah menjulurkan pedangnya. Dengan cepat lawannya mengelak. Melampaui kecepatan gerak Mahisa Murti. Karena itu, maka senjata Mahisa Murti tidak dapat menghunjam ke dadanya, dan menyentuh jantung. Tetapi ujung senjata itu sempat pula menggores di dada lawannya, sehingga di dada itu telah tergurat seleret garis yang merekah karena darah yang mengembun.
Lawan Mahisa Murti itu mengumpat. Dengan tangkasnya ia melenting menjauh. Namun dengan kemarahan yang membakar jantungnya, ia telah meloncat pula menyerang. Geraknya menjadi lebih cepat oleh kemarahan yang meluap itu.
Mahisa Murti bergeser setapak. Ternyata gerak lawannya menjadi semakin sulit untuk diikutinya. Tetapi dengan perhitungan yang mapan, maka Mahisa Murti berhasil membuat lawannya mengakui kemantapan tempurnya.
Meskipun setiap kali Mahisa Murti harus bergeser surut, namun tiba-tiba saja ia mengayunkan pedangnya menyambar tubuh lawannya. Jika lawannya mengelak, maka dengan sepenuh kemampuannya ia berusaha memburunya dengan ayunan, senjatanya, sehingga lawannya harus melindungi diri dengan senjatanya pula. Pada saat-saat yang demikian maka terjadi benturan-benturan kekuatan yang menguntungkannya.
Namun kemarahan lawannya agaknya membuat Mahisa Murti sedikit terdesak. Kecepatan gerak lawannya agak membingungkannya ketika serangan itu datang seakan-akan dari segenap arah.
Tetapi lawan Mahisa Murti itu ternyata harus memperhitungkan seluruh keadaan. Kawannya masih belum berhasil melumpuhkan Senopati Singasari yang meskipun sudah terdesak terus. Sementara Mahisa Murti masih mampu memberikan perlawanan yang kadang-kadang justru mengejutkan. Bahkan berhasil melukai dadanya meskipun tidak terlalu dalam.
Yang ternyata keadaannya kemudian paling sulit adalah Pangeran Lembu Sabdata sendiri. Ia menjadi semakin terdesak. Mahisa Pukat pun mempunyai perhitungan tersendiri atas keseluruhan medan. Iapun berusaha berpacu untuk memenangkan pertempuran itu jika ia tidak ingin mengalami kesulitan. Apalagi ketika ia melihat bahwa Mahisa Murti ternyata juga mulai terdesak. Lawannya, yang memiliki ilmu sirep itu ternyata memang seorang yang menguasai ilmu kanuragan yang tinggi. Kecepatan geraknya merupakan kelebihan yang kemudian ternyata agak sulit diimbangi oleh Mahisa Murti, meskipun dengan tiba-tiba diluar perhitungan lawannya, ia justru berhasil melukainya.
Pada saat yang paling mendesak, maka kedua orang itu harus mengambil satu keputusan yang paling baik bagi mereka. Merekapun harus memperhitungkan waktu. Orang-orang yang berada di banjar itu, pada satu saat tentu-akan terbangun mendengar hiruk pikuk karena kekuatan sirep yang mereka lontarkan telah tidak lagi mampu mencengkam sasarannya.
Dalam keadaan yang gawat itu, maka tiba-tiba saja, salah seorang dari kedua orang yang berusaha membebaskan Pangeran Lembu Sabdata itu memberikan satu isyarat kepada kawannya.
Mahisa Murti tidak terlepas dari kewaspadaan, yang membuatnya secara naluriah meloncat menjauhi lawannya untuk melihat apa yang akan dilakukan setelah didengarnya isyarat yang mengejutkan itu.
Sebenarnyalah yang terjadi memang mendebarkan. Ternyata kedua orang itu hampir bersamaan telah melontarkan senjata yang aneh, yang diambilnya dari kantong di ikat pinggangnya.
Mahisa Murti yang pernah mengenal Ki Sarpa Kuning, segera menduga bahwa yang dilemparkan oleh lawannya itu adalah seekor ular.
Karena itu, nalarnya cepat bekerja untuk mengatasi kesulitan yang dihadapinya itu. Bahkan kesulitan itu akan datang terutama tidak dari dirinya sendiri, tetapi dari Senopati Singasari itu.
Dengan demikian, maka. yang dilakukan oleh Mahisa Murti pun sangat mengejutkan lawannya, Mahisa Murti sama sekali tidak menghiraukan ular yang dilemparkan kepadanya dan langsung mematuk lengannya. Tetapi dengan serta merta ia justru telah meloncat sambil menjulurkan pedangnya langsung ke dada lawannya.
Lawannya sama sekali tidak menduga. Lawannya itu memperhitungkan kemungkinan yang lain, Mahisa Murti di-sangkanya akan menjadi bingung dan putus asa karena gigitan ular yang sangat berbisa itu.
Tetapi ternyata yang dilakukan adalah lain. Karena itu, maka lawannya yang sama sekali tidak bersiaga menghadapi serangan itu berusaha untuk mengelak. Tetapi Mahisa Murti pun sempat menggerakkan pedangnya mendatar. Meskipun tidak begitu keras, tetapi pedangnya itu telah menyambar lambung lawannya yang sedang meloncat, tanpa sempat menangkisnya.
Terdengar desah dari mulut lawan Mahisa Murti itu. Sebuah luka telah menganga. Lebih dalam dari luka yang tergores di dadanya. Orang itu terhuyung-huyung sejenak. Namun dengan penuh kebencian ia berkata, “Kau akan mati. Gigitan ular itu tidak akan dapat diobati oleh siapapun juga”
Tetapi Mahisa Murti tidak menghiraukannya. Namun jantungnya bergetar ketika ia melihat Senopati itu menyeringai menahan sakit. Seekor ular membelit kakinya sambil menggigit pahanya.
Dengan pedangnya Senopati itu menebas tubuh ular itu sehingga putus. Tetapi gigitan ular itu tidak segera terlepas dari kakinya.
Mahisa Murti masih mendengar lawan Senopati itu tertawa. Tetapi tiba-tiba saja suara tertawanya patah di tengah ketika ia melihat kawannya terhuyung-huyung dan jatuh di tanah dengan luka di dada dan lambung.
Pada saat yang demikian itulah, maka Mahisa Murti telah meloncat menyerang dengan garangnya tanpa menghiraukan seekor ular yang masih menggantung di tangannya.
Serangan itu sangat mengejutkan. Lawannya benar-benar tidak menyangkanya sebagaimana kawannya yang terluka. Namun demikian, orang itu masih mempunyai kesempatan untuk mengelakkan serangan Mahisa Murti.
Tetapi Mahisa Murti tidak melepaskannya. Dengan garangnya ia memburu lawannya dengan pedang yang berputaran.
“Goncangan perasaanlah yang sebenarnya telah menghambat tata gerak lawannya. Ketika ia melihat ular yang tergantung di lengan Mahisa Murti, justru dengan demikian serangan-serangan Mahisa Murti datang bagaikan prahara, jantungnya terasa berdentangan semakin cepat. Karena itulah, maka bukan Mahisa Murti yang menjadi bingung dan berputus asa, tetapi justru lawannya itulah.
Dengan demikian, maka pada saat yang singkat dengan mengerahkan segenap kemampuan yang ada padanya, maka Mahisa Murti berhasil mendesak lawannya. Dalam putaran senjata yang cepat dan kuat, Mahisa Murti telah berhasil memaksa lawannya menangkis serangannya.
Kesempatan itu tidak dilepaskan oleh Mahisa Murti. Sekali lagi ia mengayunkan pedangnya dengan segenap kemampuannya. Dan sekali lagi terjadi benturan yang sangat keras.
Ternyata lawan Mahisa Murti tidak berhasil mempertahankan pedangnya. Tiba-tiba saja pedangnya telah terlempar jatuh.
Tetapi seperti yang diduga, lawannya itu telah melemparkan senjatanya yang lain. Mirip sekali dengan apa yang telah dilakukan oleh Ki Sarpa Kuning.
Namun sekali lagi orang itu dicengkam oleh kegelisahan dan ketegangan. Mahisa Murti sama sekali tidak mengelak ketika seekor ular kemudian menggigit pundaknya. Bahkan dengan loncatan panjang Mahisa Murti masih tetap menyerang. Lawannyalah yang kemudian menjadi kehilangan keseimbangan berpikir. Tiba-tiba saja orang itu telah sampai kepada keputusan terakhir dari langkah yang harus diambil. Sebagaimana perintah yang dibawanya, jika ia tidak berhasil menyelamatkan Pangeran Lembu Sabdata, maka jalan yang harus ditempuhnya adalah justru membunuhnya.
Karena itu, pada kesempatan terakhir itu, orang itu masih berusaha mempergunakannya untuk menjalankan perintah itu.
Dengan serta merta, maka orang itu telah berlari justru ke arah Pangeran Lembu Sabdata yang masih berusaha bertahan. Hampir diluar penglihatan mata Pangeran Lembu Sabdata sendiri orang itu telah melepaskan senjata anehnya ke arah Pangeran itu.
“Pangeran” teriak Mahisa Murti, “menghindarlah” Tetapi terlambat. Seekor ular lebih besar sedikit dari sebatang lidi telah melekat di punggungnya, sekaligus mematuknya.
“Gila” teriak Pangeran Lembu Sabdata.
Mahisa Pukat telah terkejut pula karenanya. Tiba-tiba saja Pangeran Lembu Sabdata telah melemparkan senjatanya dan mengibaskan seekor ular yang melekat di punggungnya dengan laku seperti orang yang kesurupan.
“Jangan kebingungan Pangeran” teriak Mahisa Murti pula. Sementara itu, pedangnya telah berhasil menggores tubuh orang yang telah melemparkan ular ke punggung Pangeran Lembu Sabdata.
Sejenak orang itu terhuyung-huyung. Namun sejenak kemudian orang itu telah terjatuh di tanah.
Dalam pada itu, Mahisa Murti pun kemudian berkata, “Cepat. Selamatkan Pangeran dari bisa ular itu”
Barulah Mahisa Pukat sadar. apa yang telah terjadi. Dengan tergesa-gesa iapun segera menghampiri tubuh Pangeran Lembu Sabdata yang mulai menggigil. Bukan saja karena lukanya oleh sentuhan pedang Mahisa Pukat dan gigitan ular di punggung. Tetapi kemarahan yang menghentak-hentak jantungnya atas sikap orang yang berusaha membebaskannya itu membuat darahnya bagaikan mendidih.
Sementara itu, Mahisa Murti pun telah berlari ke arah Senopati yang telah terduduk di tanah. Terasa di tubuhnya bisa ular itu mulai menjalar bersama dengan arus darahnya.
“Kita akan mati” desis Senopati itu, “ular itu tentu sangat berbisa. Apalagi kau telah digigit oleh dua ekor ular sekaligus”
Mahisa Murti termangu-mangu. Namun iapun kemudian telah duduk di sebelah Senopati yang menjadi semakin lemah.
Dalam pada itu, maka baik Mahisa Murti maupun Mahisa Pukat telah berusaha mempergunakan batu akik dan akar penangkal bisa untuk menolong Pangeran Lembu Sabdata dan Senopati Singasari yang terluka.
Tetapi ternyata gigitan ular itu benar-benar berbahaya. Mahisa Murti sendiri yang telah digigit oleh dua ekor ular, merasa tubuhnya menjadi gemetar, sementara itu, ia masih harus melekatkan cincinnya pada luka di tubuh Senopati Singasari itu tanpa melepaskan dari jari-jarinya.
Mahisa Pukat yang menolong Pangeran Lembu Sabdata dari gigitan ular itu pun menjadi cemas. Mahisa Pukat sendiri tidak mengalami kesulitan apa-apa. Tetapi ia menyadari, bahwa Mahisa Murti tengah berjuang untuk dirinya sendiri dan Senopati dari Singasari itu dari gigitan ular yang sangat berbisa.
Karena itu, maka oleh kecemasan yang mendesak di dadanya, maka Mahisa Pukat pun telah mengambil satu sikap. Setelah melekatkan gelang akarnya di tangan Pangeran Lembu Sabdata yang pingsan, maka Mahisa Pukat pun telah berlari ke gardu di gerbang halaman banjar. Sejenak kemudian telah terdengar suara kentongan memecah sepinya malam.
Orang-orang yang ada di banjar itu sendiri tidak mendengar suara kentongan itu. Bahkan orang-orang yang tinggal di sekitar banjar itu pun agaknya telah terpengaruh pula oleh sirep yang tajam, meskipun perlahan-lahan mulai berkurang.
Namun dalam pada itu, orang-orang yang berada di rumah Ki Sanggarana telah terkejut mendengar suara kentongan itu. Lebih-lebih Ki Waruju yang sejak sore telah merasakan satu keadaan yang tidak wajar menurut petunjuk firasatnya.
Karena itu, maka beberapa orang dengan tergesa-gesa telah pergi ke banjar. Termasuk Pangeran Singa Narpada dan Ki Waruju di samping Ki Sanggarana sendiri.
“Kalian tinggal di sini” pesan Pangeran Singa Narpada kepada beberapa orang yang datang ke Kabuyutan itu bersamanya, “tetapi berhati-hatilah. Agaknya kita memang harus berjaga-jaga”
Ki Sanggarana pun telah memberikan beberapa pesan pula kepada para pemimpin anak-anak muda Talang Amba yang menjadi berdebar-debar mendengar kentongan itu, sementara beberapa orang prajurit Singasari pun telah bersiap untuk mengadakan pengamatan di padukuhan induk itu. Bahkan Pemimpin yang bertanggung jawab atas seluruh pasukan Singasari di Talang Amba telah memerintahkan untuk menghubungi beberapa padukuhan yang lain agar mereka berhati-hati.
Ketika orang-orang yang gelisah itu datang ke banjar, maka mereka pun segera mengetahui apa yang terjadi. Beberapa orang masih tetap tidur silang melintang. Sementara itu, dengan jantung yang berdebaran, Ki Waruju berlari-lari menemui Mahisa Pukat yang masih saja membunyikan kentongan. Bahkan di beberapa gardu yang justru terletak agak jauh dari banjar, suara kentongan itu sudah disahut dan menjalar dari padukuhan ke padukuhan lainnya.
“Apa yang terjadi?” bertanya Ki Waruju.
“Sirep” jawab Mahisa Pukat yang meletakkan pemukul kentongannya, “Mahisa Murti sedang bekerja keras untuk menyelamatkan seorang Senopati dari Singasari, sementara itu Pangeran Lembu Sabdata pun telah terkena racun ular yang sangat berbisa”
“Dimana?” bertanya Pangeran Singa Narpada yang mendengar jawaban Mahisa Pukat.
Mahisa Pukat pun kemudian membawa mereka ke ruang dalam. Dengan hati yang berdebar-debar Ki Waruju pun segera berlari ke arah Mahisa Murti yang mulai menjadi sangat letih. Racun yang bekerja di dalam dirinya cukup kuat untuk mengguncang pertahanannya. Tetapi justru karena ia harus membantu menyelamatkan seorang Senopati dari Singasari itulah, maka beban penangkal racunnya menjadi terlalu berat.
“Dimana penangkal racunmu?” bertanya Ki Waruju kepada Mahisa Pukat.
Sambil menunjuk ke arah Pangeran Lembu Sabdata yang terbaring, Mahisa Pukat berkata, “Pangeran Lembu Sabdata juga mengalami keadaan yang gawat”
“Kau obati Pangeran Lembu Sabdata dengan penangkal racunmu?” bertanya Ki Waruju.
“Ya. Semula Pangeran itu menggigil. Namun kemudian menjadi pingsan” jawab Mahisa Pukat.
Ki Waruju tidak bertanya lebih banyak lagi. Ia tidak boleh terlambat. Karena itu, maka iapun segera berusaha untuk membantu Mahisa Murti.
“Mahisa Murti” desis Ki Waruju, “lepaskan Senopati itu”
Mahisa Murti termangu-mangu. Dengan lemah ia : menjawab, “Ia akan mati jika tidak ada pertolongan baginya”
“Aku akan menolongnya” jawab Ki Waruju.
Mahisa Murti menyadari, bahwa Ki Waruju pun memiliki penangkal bisa pula seperti dirinya dan Mahisa Pukat. Karena itu, maka dengan lemah Mahisa Murti pun mengangkat tangannya dari tubuh Senopati yang terkena gigitan ular itu.
“Kau akan mampu menolong dirimu sendiri” berkata Ki Waruju.
Mahisa Murti mengangguk. Sementara itu, Ki Waruju lah yang kemudian membantu Senopati itu dengan penangkal racunnya.
Dalam pada itu, Pangeran Singa Narpada pun telah berdiri di sisi tubuh Pangeran Lembu Sabdata. Dengan wajah tegang ia bergumam, “Satu usaha untuk menghilangkan jejak. Jika adimas Lembu Sabdata terbunuh, maka sulit bagi kita untuk menelusuri jejak pengkhianatannya”
Mahisa Pukat yang kemudian berjongkok di sisi tubuh itu pun berdesis, “Ia mulai sadar”
“Syukurlah” jawab Pangeran Singa Narpada.
Sementara itu, oleh penangkal racun Mahisa Pukat, sebenarnyalah keadaan Pangeran Lembu Sabdata menjadi berangsur-angsur baik. Perlahan-lahan racun yang telah mengalir di urat darahnya bagaikan terdorong kembali ke luka gigitan ular di punggungnya. Kemudian perlahan-lahan, dari luka itu telah mengalir darah yang kehitam-hitaman. Baru kemudian, darahnya yang merah mulai meleleh dari luka itu.
Sejenak kemudian Pangeran Lembu Sabdata pun telah menjadi sadar. Luka-lukanya menjadi tidak lebih dari luka biasa yang tidak seberapa besarnya. Namun tubuhnya terasa masih terlalu lemah.
Ketika Pangeran itu membuka matanya, maka yang dilihatnya adalah Pangeran Singa Narpada yang berdiri tegak di sisinya berbaring.
Perlahan-lahan Pangeran Lembu Sabdata bangkit dibantu oleh Mahisa Pukat dan duduk bertelekan kedua tangannya. Perlahan-lahan nafasnya pun mulai menjadi teratur sebagaimana arus darahnya.
Di sebelah lain, Mahisa Murti yang bebannya menjadi lebih ringan, perlahan-lahan menjadi semakin baik pula.
Demikianlah, akhirnya mereka yang terkena racun bisa ular itu pun berangsur menjadi sembuh selain luka-luka di kulit dan daging mereka yang sama sekali tidak berbahaya. Sementara keadaan Pangeran Lembu Sabdata menjadi semakin baik, Mahisa Pukat telah mengambil kembali penangkal racunnya dan dikenakannya di pergelangan tangannya.
“Adimas” desis Pangeran Singa Narpada, “hampir saja adimas kehilangan kesempatan untuk melihat matahari terbit esok pagi”
Pangeran Lembu Sabdata menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu, beberapa orang telah berusaha untuk menolong dua orang yang terluka oleh senjata Mahisa Murti.
“Jika anak-anak muda ini tidak bertindak cepat untuk menolong adimas, meskipun adimas dapat digolongkan lawan dari keduanya, maka adimas sudah tidak lagi akan dapat bangkit untuk selamanya” berkata Pangeran Singa Narpada.
Pangeran Lembu Sabdata menundukkan kepalanya. Perlahan-lahan ingatannya telah pulih kembali, sehingga ia dapat menggambarkan seluruhnya apa yang telah terjadi atas dirinya.
“Baiklah” berkata Pangeran Singa Narpada, “adimas tentu masih merasa letih sekali. Biarlah adimas beristirahat sebaik-baiknya di sisa malam ini. Luka adimas meskipun tidak membahayakan jiwa adimas lagi, tetapi juga memerlukan perawatan. Namun yang penting bagi adimas, di sisa malam ini adimas dapat merenungkan apa yang telah terjadi malam ini, sehingga adimas dapat mengambil atas kesimpulan yang paling baik bagi adimas, tetapi juga bagi Kediri dan Singasari. Bagi keluarga besar kita”
Pangeran Lembu Sabdata tidak menjawab. Namun sejenak kemudian ia telah mengedarkan tatapan matanya ke sekitarnya. Ternyata beberapa orang prajurit dan pengawal yang tertidur nyenyak telah mulai sadar.
Demikianlah, maka Pangeran Lembu Sabdata pun kemudian telah dipersilahkan masuk kembali ke dalam biliknya. Namun karena pintu sudah dirusakkannya, maka pengawalannya pun menjadi lebih ketat. Sementara itu seseorang telah mengobati luka-lukanya pula.
Dalam pada itu, maka para pengawal dan para prajurit pun telah terbangun dari tidur mereka yang nyenyak. Bahkan sebagian dari mereka masih harus dibangunkan dengan susah payah. Namun agaknya pengaruh sirep di banjar itu pun telah menjadi kehilangan kekuatan.
Pangeran Singa Narpada dengan beberapa orang pimpinan Kabuyutan Talang Amba serta Ki Waruju tidak lagi kembali ke rumah Ki Sanggarana. Mereka tetap berada di banjar, duduk diatas sehelai tikar di pendapa. Agaknya keadaan Talang Amba masih tetap gawat dan dibayangi oleh kekuatan yang ingin menghancurkan Singasari lewat segala cara dan dari sudut manapun juga.
Namun dalam pada itu, di dalam biliknya, Pangeran Lembu Sabdata masih sempat merenungi keadaannya. Terasa tubuhnya masih terlalu lemah meskipun tidak lagi membahayakan jiwanya. Tetapi peristiwa yang baru saja terjadi, justru telah membakar penilaiannya atas keadaan yang dihadapinya.
Dengan sepenuh hati ia telah berjuang untuk kepentingan beberapa orang saudaranya yang bersepakat untuk menghancurkan Singasari dan membangunkan kembali kekuasaan Kediri yang telah dirampas oleh Ken Arok, Akuwu Tumapel dan yang kemudian telah membangun Singasari yang berkembang dengan perkasa. Tetapi hasilnya sama sekali tidak berarti. Bahkan ketika dua orang diantara lingkungannya yang gagal menolongnya, justru telah sampai hati berusaha untuk membunuhnya.
Dengan demikian maka Pangeran Lembu Sabdata pun kemudian menyadari keadaan dirinya sendiri.
“Aku tidak lebih dari alat saja” gumam Pangeran Lembu Sabdata di dalam hatinya, “Jika mereka merasa tidak lagi dapat mempergunakan aku, atau justru berbahaya bagi kedudukan mereka, maka mereka tidak segan-segan untuk membunuhnya”
Tiba-tiba saja Pangeran Lembu Sabdata menggeram. Tetapi iapun kemudian tidak berusaha untuk memecahkan persoalan yang sedang dihadapinya. Tiba-tiba saja ia menjadi malas berpikir.
Hampir diluar sadarnya. Pangeran Lembu Sabdata yang menjadi sangat kecewa itu telah membaringkan dirinya. Ia tidak peduli lagi, apa yang terjadi diluar biliknya yang pintunya telah rusak itu.
“Aku akan tidur. Persetan dengan keadaan yang kusut ini” desisnya.
Sementara Pangeran Lembu Sabdata berbaring, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sedang menunggui orang-orang yang berusaha mengobati dua orang yang terbuka oleh pedang itu. Ternyata luka itu cukup parah sehingga sulit bagi orang-orang yang berusaha menolongnya untuk mempertahankan hidup kedua orang itu.
Tetapi mereka masih tetap berusaha.
“Tidak ada gunanya” salah seorang dari kedua orang itu berdesis.
“Kami harus berusaha” jawab orang yang menolongnya.
Tetapi orang itu menggeleng lemah.
Namun sementara itu, Mahisa Murti pun telah bertanya, “He, apakah kau murid atau saudara seperguruan Ki Sarpa Kuning?”
“Persetan dengan Sarpa Kuning, “ orang itu menggeram. Tetapi keadaannya justru menjadi semakin buruk. Sehingga orang-orang yang menunggui keduanya pun menjadi putus asa. Agaknya kedua orang itu memang sulit untuk ditolong jiwanya.
Namun dalam pada itu, orang-orang Talang Amba dan para prajurit Singasari masih tetap berusaha. Jika keduanya dapat ditolong jiwanya, maka keduanya pun akan dapat menjadi sumber keterangan yang barangkali bermanfaat.
Dengan hati-hati kedua orang itu pun kemudian telah dibawa ke dalam sebuah bilik di bagian belakang banjar itu. Namun demikian, para prajurit Singasari yang memiliki pengalaman yang cukup, tidak lepas dari kewaspadaan.
Kedua orang itu telah mendapat pengawalan yang sangat ketat.
Tetapi ternyata bahwa yang diharapkan itu hanyalah sekedar harapan saja. Karena luka-lukanya, maka kedua orang itu tidak lagi dapat diselamatkan jiwanya. Seorang demi seorang keduanya telah menarik nafas terakhir, sebelum mereka sempat mengatakan sesuatu kepada para prajurit Singasari dan orang-orang Talang Amba.
Ketika Pangeran Singa Narpada mendapat laporan tentang hal itu, maka iapun menarik nafas dalam-dalam sambil berkata, “Apa boleh buat. Sebenarnya mereka merupakan orang-orang penting bagi kita”
Ki Waruju mengangguk-angguk. Namun kematian memang tidak akan dapat ditawar apapun sebabnya. Jika batas waktu itu telah datang, maka setiap orang akan tinggal menjalaninya dengan lantaran yang berbeda-beda
Sementara itu, Senopati Singasari yang memimpin para prajurit yang bertugas di banjar itu pun telah, menjadi berangsur baik sebagaimana Pangeran Lembu Sabdata. Di serambi belakang, diantara beberapa orang kawannya ia berbaring untuk menenangkan diri. Luka-lukanya yang telah diobati itu masih terasa pedih. Tetapi sudah tidak berbahaya lagi bagi jiwanya, karena bisa ular yang menyusup ke dalam darahnya telah terhisap keluar.
“Untunglah ada anak-anak muda itu” berkata Senopati itu kepada kawannya, “tanpa mereka, segalanya akan menjadi rusak. Mungkin Pangeran itu telah tidak akan dapat kita ketemukan lagi”
“Keduanya pantas mendapat kehormatan” desis kawannya.
Ketika Pangeran Singa Narpada mendapat laporan tentang hal itu, maka iapun menarik nafas dalam-dalam sambil berkata, “Apa boleh buat. Sebenarnya mereka melupakan orang-orang penting bagi kita”
“Lukaku karena gigitan ular berbisa itu pun telah mendapat pertolongannya pula, sehingga nyawaku dapat diselamatkan” desis Senopati itu, “tetapi Mahisa Murti sendiri mula-mula mengalami kesulitan karena penangkal racunnya harus bekerja terlalu berat. Untunglah Ki Waruju segera datang”
Kawannya mengangguk-angguk. Terbayang apa yang telah terjadi, sementara para prajurit yang lain telah tertidur nyenyak tanpa dapat memberikan bantuan apapun juga.
“Kedua anak muda itu memang luar biasa” desis prajurit itu tiba-tiba.
“Apa? bertanya Senopati yang terluka itu.
“Mahisa Murti dan Mahisa Pukat” jawab kawannya, “Kenapa mereka tidak menjadi prajurit saja?”
“Kakaknya adalah Senopati yang mumpuni” desis Senopati yang terluka itu.
Kawannya mengangguk-angguk. Memang tidak aneh bahwa kedua anak muda itu memiliki kemampuan yang mengagumkan, apalagi ditilik umur mereka yang masih muda. karena keduanya adalah adik dari seorang Senopati yang memiliki kemampuan yang jarang ada bandingnya.
Dalam pada itu. Pangeran Singa Narpada ternyata, tetap berada di banjar. Ketika matahari kemudian terbit, maka banjar itu telah disibukkan oleh orang-orang Talang Amba dan para prajurit yang menyelenggarakan dua orang yang terbunuh oleh Mahisa Murti. Dua orang yang telah mencoba membebaskan Pangeran Lembu Sabdata, namun gagal.
Sementara itu, Pangeran Lembu Sabdata yang telah terbangun dari tidurnya, sempat pula mengingat-ingat apa yang telah terjadi. Perasaan kecewa kembali menerpa jantungnya. Percobaan untuk membunuhnya benar-benar telah membuatnya menilai kembali segala sesuatu yang telah dilakukannya.
Tetapi agaknya Pangeran Lembu Sabdata itu masih dicengkam oleh kebimbangan, la masih belum pasti, apakah yang mengambil keputusan untuk membunuhnya itu hanyalah kedua orang itu, atau mereka memang sudah mendapat pesan untuk berbuat demikian.
Namun dalam pada itu, Pangeran Singa Narpada tidak tergesa-gesa memanggilnya dan memberikan beberapa pertanyaan. Ternyata bahwa Pangeran yang mempunyai pengalaman yang luas itu mengerti, apa yang sedang bergejolak di dalam hati Pangeran Lembu Sabdata.
Ketika Pangeran Singa Narpada menengok Pangeran Lembu Sabdata di dalam biliknya, maka Pangeran Singa Narpada melihat beberapa perubahan telah terjadi di dalam diri Pangeran itu. Meskipun Pangeran Lembu Sabdata masih belum menunjukkan sikap yang pasti, tetapi nampak pada dirinya, perubahan-perubahan sikap jiwani yang mendasar.
Karena itu, maka Pangeran Singa Narpada telah berkata kepada Ki Sanggarana, “Biarlah ia mendapat kesempatan untuk merenung di hari ini. Peristiwa yang terjadi semalam agaknya telah membawa satu perubahan di dalam dirinya. Perubahan sikap terhadap perjuangan yang sedang dilakukannya.
Ki Sanggarana mengangguk-angguk. Iapun mengerti maksud Pangeran Lembu Sabdata, sehingga karena itu, maka katanya, “Segalanya terserah kepada Pangeran”
“Besok aku akan berbicara dengan adimas Pangeran Lembu Sabdata. Hari ini aku akan bertanya kepada orang-orangnya yang tertangkap, apakah mereka mengenal kedua orang yang terbunuh itu. Menilik senjata yang dipergunakannya, agaknya keduanya memang mempunyai hubungan dengan Ki Sarpa Kuning menurut keterangan yang aku dengar”
Sebenarnyalah pada hari itu Pangeran Singa Narpada sama sekali tidak menemui lagi Pangeran Lembu Sabdata di dalam biliknya. Namun karena pintu bilik Pangeran Lembu Sabdata sedang diperbaiki, maka untuk sementara Pangeran Lembu Sabdata ditempatkan di bilik yang lain dengan pengawalan yang lebih kuat.
Sementara itu, para pemimpin dari Singasari dan Kediri yang dipimpin oleh Pangeran Singa Narpada itu telah melanjutkan usaha mereka untuk mengetahui lebih banyak lagi tentang usaha beberapa orang di Kediri untuk menghancurkan Singasari. Dengan sungguh-sungguh mereka berusaha untuk mengetahui siapa saja yang telah terlibat di dalam usaha itu.
Tetapi tidak banyak yang mereka dapat dari orang-orang yang hanya tahu mengangkat senjata dan menjalankan perintah. Sebagian besar dari mereka sama sekali tidak tahu, untuk apa mereka berbuat.
Namun para pemimpin itu mendapatkan beberapa keterangan, kelompok dan padepokan mana saja yang terlibat dalam kegiatan yang dilakukan oleh orang bangsawan di Kediri.
Sementara itu, Pangeran Singa Narpada sendiri berusaha untuk mengetahui, apakah ada diantara orang-orang itu yang mengenal dua orang yang berusaha membebaskan Pangeran Lembu Sabdata. Orang-orang yang dianggap mengetahui beberapa hal tentang kegiatan mereka, telah diberi kesempatan untuk mengenali wajah kedua orang yang terbunuh itu sebelum keduanya dikuburkan. Namun tidak seorang pun yang mengenali keduanya.
“Jika ada yang mengenalnya, maka mereka tentu berusaha untuk mengingkari” desis Ki Waruju.
Pangeran Singa Narpada mengangguk-angguk. “Memang sulit untuk memancing pengakuan dari orang-orang itu. Tidak akan mudah dibedakan antara mereka yang memang benar-benar tidak mengetahui persoalan yang dihadapi, dengan mereka yang berpura-pura tidak tahu, atau dengan sadar memang menyimpan rahasia yang sebenarnya diketahuinya.
Namun dalam pada itu, Mahisa Murti pun kemudian berkata kepada Pangeran Singa Narpada, “Pangeran, aku berusaha untuk mengetahui, apakah ada hubungan antara kedua orang itu dengan Ki Sarpa Kuning. Namun nampaknya kedua orang itu tidak begitu tertarik mendengar nama Ki Sarpa Kuning. Bahkan agaknya keduanya dibatasi oleh jarak tertentu, meskipun keduanya jelas telah mengenai nama itu”
Pangeran Singa Narpada mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Memang ada banyak kemungkinan. Sikapnya itu dapat juga menjadi cara untuk mengingkari hubungan mereka dengan Ki Sarpa Kuning, mengingat jenis senjata mereka yang sama”
“Tetapi apakah Pangeran dapat mengatakan, bahwa jenis ular yang dipergunakan juga sama? Ki Sarpa Kuning lebih banyak dipergunakan jenis ular hitam yang sangat berbisa. Tetapi agaknya kedua orang itu tidak. Mereka mempergunakan jenis ular lain dan lebih kecil meskipun ternyata bisanya tidak kalah tajamnya”
Pangeran Singa Narpada mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia menggeleng, “Aku memang tidak mengerti”
“Di Talang Amba ada seorang murid Ki Sarpa Kuning yang dengan sadar telah menempuh jalan kembali. Tetapi ternyata orang itu juga tidak mengenal kedua orang yang terbunuh itu” berkata Mahisa Pukat.
Pangeran Singa Narpada mengangguk-angguk. Katanya
“Baiklah. Kita memang tidak segera dapat melihat lingkungan mereka masing-masing. Tetapi kita tidak boleh berhenti berusaha”
“Harapan terakhir ada pada Pangeran Lembu Sabdata” berkata Ki Waruju.
“Tetapi apakah Pangeran Lembu Sabdata akan bersedia mengungkapkan satu rahasia, itulah yang masih menjadi pertanyaan” desis Ki Sanggarana.
“Semuanya memang harus dijajagi. Aku akan mencobanya besok” sahut Pangeran Singa Narpada.
Namun dalam pada itu, kegagalan dua orang yang ingin membebaskan Pangeran Lembu Sabdata dan yang kemudian berusaha untuk membunuhnya, telah tersebar dari mulut ke mulut. Para prajurit dan orang-orang Talang Amba yang berada di banjar telah menceriterakan hal itu kepada orang-orang yang mereka kenal yang kemudian menularkannya kepada kawan- kawan mereka, sehingga dengan demikian, maka di pasaran hal itu telah menjadi pembicaraan yang ramai.
Seorang berwajah pucat, bertubuh tinggi, duduk di sebuah kedai sambil menghirup minuman panas. Mulutnya sibuk mengunyah makanan disela-sela minumannya yang meluncur menghangatkan tubuhnya.
Sekali-kali keningnya berkerut ketika ia mendengar orang-orang lain di kedai berceritera pula tentang usaha dua orang untuk membebaskan Pangeran Lembu Sabdata yang ditawan di banjar Padukuhan Induk Kabuyutan Talang Amba.
Sambil mengunyah segumpal jenang alot, orang itu tiba-tiba saja bertanya kepada orang yang duduk di sebelahnya.
“Siapakah dua orang yang kalian ceriterakan itu?”
Orang yang duduk di sebelahnya berpaling. Kemudian dengan dahi yang berkerut ia menjawab, “Tidak ada orang yang tahu. Keduanya mati sebelum sempat menjawab pertanyaan-pertanyaan”
Orang berwajah pucat itu tidak menghiraukan lagi percakapan orang-orang di dalam kedai itu. Setelah mendengar dari beberapa orang, maka iapun yakin, bahwa dua orang itu memang mati sebelum mengatakan sesuatu.
Tanpa memberikan kesan apapun juga yang mencurigakan, maka orang berwajah pucat itu pun kemudian meninggalkan kedai itu setelah membayar makanan dan minumannya. Perlahan-lahan ia berjalan tanpa menarik perhatian.
Dibawah sebatang pohon Nagasari yang tumbuh di pinggir jalan orang itu berhenti sejenak. Diamatinya kedai yang sudah jauh ditinggalkannya.
Dalam pada itu, seorang yang lain melangkah mendekatinya. Orang itu pun berhenti pula di bawah pohon
Nagasari itu. Sementara orang yang berwajah pucat itu bertanya, “Apa yang kau dengar tentang kedua orang itu?”
“Keduanya telah mati” jawab orang yang baru datang, orang yang bertubuh sedang dan berambut keriting.
Orang yang berwajah pucat menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Keduanya sudah berusaha dengan sebaik-baiknya. Tetapi ternyata diantara orang-orang Talang Amba dan prajurit Singasari yang ada di banjar mampu melawan sirep, sehingga keduanya justru telah terjebak”
“Ya” sahut kawannya, “bahkan seorang diantara keduanya telah berhasil mengambil langkah berikutnya ketika keduanya merasa usahanya untuk membebaskan Pangeran Lembu Sabdata gagal”
“Ya. Ularnya telah mematuk Pangeran itu. Tetapi justru orang Talang Amba telah menyelamatkannya” jawab yang lain.
“Itulah yang mencemaskan. Bukankah dengan demikian Pangeran itu akan merasa diselamatkan dan berhutang budi? Jika dalam keadaan yang demikian ia kehilangan kesetiaannya kepada Pangeran Kuda Permati, maka semua rahasia akan tumpah lewat mulutnya. Padahal menurut Pangeran Kuda Permati, Pangeran Lembu Sabdata mengetahui cukup banyak tentang rencana yang sudah tersusun” berkata orang yang berambut keriting.
Kawannya menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “Apa yang dapat kita lakukan dalam keadaan seperti ini. Sirep agaknya sudah tidak akan berarti apa-apa lagi. Nampaknya racun ular pun tidak berhasil menyelesaikan tugas-tugas berat sebagaimana harus dilakukan, karena orang-orang Talang Amba dan prajurit Singasari di Talang Amba mempunyai penangkal racun yang kuat. Sementara itu, Pangeran Singa Narpada akan dapat berbuat jauh lebih kasar dari yang kita duga, meskipun ia menghadapi adiknya sendiri, Pangeran Lembu Sabdata. Bahkan seandainya kesetiaan Pangeran Lembu Sabdata tetap utuh, apakah ia akan dapat bertahan menghadapi Pangeran Singa Narpada?”
Orang yang berambut keriting itu termangu-mangu. Namun sambil menggeleng ia berkata, “Tidak ada jalan lain yang dapat kita tempuh. Mungkin kita akan dapat memanjat atap dan melontarkan beberapa ekor ular dari atap. Tetapi gigitan ular itu akan segera kehilangan arti, karena Pangeran Lembu Sabdata akan segera memanggil orang-orang Talang Amba yang akan dapat memudarkan kemampuan racun bisa ular itu”
Orang yang berwajah pucat itu pun mengangguk-angguk. Kemudian katanya, “Memang tidak ada jalan yang dapat kita tempuh. Kita tidak perlu membunuh diri dengan melakukan langkah-langkah yang tidak berarti. Sebaiknya kita kembali ke Kediri dan membuat laporan selengkapnya apa yang telah terjadi sebelum Pangeran Singa Narpada menempuh jalan yang lebih keras di Kediri sendiri menghadapi Pangeran Kuda Permati. Meskipun belum tentu jika Pangeran Singa Narpada akan dapat mengalahkan Pangeran Kuda Permati dengan pengikutnya yang sudah mulai berkembang”
“Pangeran Kuda Permati yakin, bahwa perjuangannya tentu akan berhasil. Pada satu saat, Kediri tentu akan berhasil melepaskan diri dari Singasari dan bahkan akan dapat menekan Singasari untuk menjadi Pakuwon sebagaimana sebelumnya. Pakuwon Tumapel” desis orang berambut keriting itu.
Kawannya mengangguk-angguk. Kemudian katanya, “Jika demikian, marilah. Kita kembali ke Kediri. Kita melaporkan apa yang telah terjadi”
“Tetapi kita masih belum dapat memastikan, apa yang akan dilakukan oleh Pangeran Lembu Sabdata. Mungkin ia akan tetap dalam kesetiaannya. Tidak satu katapun yang diucapkan akan mengungkapkan rahasia Pangeran Kuda Permati” berkata orang berambut keriting itu.
“Apapun yang dikatakan, kita akan melaporkannya kepada Pangeran Kuda Permati” jawab orang berwajah pucat itu.
Dengan demikian, maka mereka pun segera mengambil kesimpulan untuk meninggalkan daerah Talang Amba, kembali ke Kediri. Mereka sekali lagi harus melaporkan kegagalan, sebagaimana pernah terjadi sebelumnya. Kegagalan demi kegagalan.
Dalam pada itu, di hari berikutnya, ternyata Pangeran Singa Narpada telah siap untuk berbicara dengan Pangeran Lembu Sabdata. Karena itu, maka Pangeran Singa Narpada pun telah minta kesempatan untuk menemui Pangeran itu di dalam biliknya yang sudah diperbaiki.
“Aku minta seorang saksi” berkata Pangeran Singa Narpada, “maksudku di samping seorang petugas dari Singasari, juga salah seorang yang akan ditunjuk oleh Ki Sanggarana, pemangku Buyut di Kabuyutan Talang Amba”
Ki Sanggarana ternyata tidak menemukan orang Talang Amba sendiri yang pantas untuk menyertai Pangeran Singa Narpada. Karena itu, maka iapun telah minta kepada Ki Waruju untuk mewakili orang-orang Talang Amba, ikut bersama Pangeran Singa Narpada berbicara dengan Pangeran Lembu Sabdata.
“Marilah” berkata Pangeran Singa Narpada, “Aku kira adimas Lembu Sabdata telah mendapatkan sedikit ketenangan, sementara luka-lukanya agaknya sudah tidak mengganggunya lagi”
Ketika seorang pengawal memberitahukan kepada Pangeran Lembu Sabdata, bahwa beberapa orang akan datang ke biliknya, maka wajah Pangeran Lembu Sabdata pun menjadi tegang. Tetapi ia tidak menjawabnya sama sekali. Dibiarkannya pengawal itu berbicara, kemudian melangkah keluar dari dalam biliknya.
Sejenak kemudian, maka seperti yang dikatakan oleh pengawal itu, bahwa Pangeran Singa Narpada dengan seorang pemimpin pemerintahan dari Singasari dengan diikuti oleh Ki Waruju telah memasuki bilik itu.
“Selamat pagi adimas” desis Pangeran Singa Narpada.
Pangeran Lembu Sabdata memandanginya sejenak. Kemudian iapun beringsut menepi. Nampaknya Pangeran Lembu Sabdata telah memberikan tempat kepada ketiga orang yang memasuki bilik itu untuk duduk di pembaringannya, sebuah amben yang memang agak besar.
Pangeran Singa Narpada dan kedua orang yang menyertakan itulah telah duduk di amben itu. Sementara itu, Pangeran Lembu Sabdata pun selalu menundukkan kepalanya.
Baru sejenak kemudian Pangeran Singa Narpada itu pun berkata, “Adimas Pangeran. Agaknya adimas sudah menjadi semakin baik, sementara itu, aku sudah terlalu lama berada di Kabuyutan ini. Sebenarnya aku hanya ingin bermalam selama-lamanya satu malam saja ketika aku berangkat dari Kediri. Tetapi ternyata aku harus memperpanjang perjalanan ini”
Pangeran Lembu Sabdata tidak menjawab. Tetapi kepalanya masih saja menunduk dalam-dalam.
“Nah, adimas. Aku minta adimas dapat membantu aku untuk mempercepat tugasku” berkata Pangeran Singa Narpada.
Ternyata kata-kata yang lembut itu justru membuat kulit Pangeran Lembu Sabdata meremang. Kata-kata pengantar yang ramah dan akrab dari Pangeran Singa Narpada itu merupakan ancang-ancang saja dari sikapnya yang keras.
Pangeran Lembu Sabdata sudah mengenal sifat dan watak Pangeran Singa Narpada. Pangeran itu- tidak akan memilih sasaran. Jika ia menjadi marah, maka kadang-kadang ia tidak lagi mampu mengendalikan dirinya lagi-
Kesempatan yang diberikan kepada Pangeran Lembu Sabdata untuk merenungi keadaannya, memang telah merubah sikapnya. Jika pada hari-hari pertama, ia seakan-akan tidak gentar menghadapi kekerasan jiwa Pangeran Singa Narpada, bahkan rasa-rasanya ia akan bertahan dan tidak akan mengucapkan satu katapun yang bersifat rahasia demi kesetiaannya kepada Pangeran Kuda Permati dan beberapa orang Pangeran yang lain, meskipun kulitnya akan dikelupas sekalipun, namun perlahan-lahan telah berubah sama sekali. Apalagi ketika orang-orang Talang Amba telah berusaha menolong jiwanya ketika bisa ular yang tajam hampir saja merenggut jiwanya
“Kenapa aku tidak dibiarkannya mati” gumam Pangeran Lembu Sabdata itu setiap kali.
Meskipun Pangeran Lembu Sabdata sadar, bahwa usaha orang-orang Talang Amba dan Singasari menolongnya tentu didorong oleh kepentingan mereka untuk mendapatkan rahasia yang diketahuinya, namun kekecewaan yang tidak terkirakan telah mencengkam jantungnya atas langkah yang telah diambil oleh orang-orang yang berusaha menolongnya.
Pangeran Lembu Sabdata yang merenungi keadaannya, telah mengambil satu kesimpulan, bahwa kedua orang itu tentu telah mendapat perintah. Jika mereka gagal melepaskan Pangeran Lembu Sabdata,. maka mereka justru harus membunuhnya saja.
Dengan demikian, maka Pangeran Lembu Sabdata dapat mengambil satu kesimpulan, jika seseorang sudah tidak diperlukan lagi, bahkan dianggap akan dapat mengungkapkan rahasia yang tersimpan di dalam dirinya, maka orang itu harus dibunuh.
Pangeran Lembu Sabdata menjadi sangat kecewa akan sikap itu. Karena itu, maka setelah merenungi keadaannya, maka ia telah memutuskan untuk tidak membiarkan dirinya mengalami kesulitan menghadapi Pangeran Singa Narpada.
“Jika kakangmas Pangeran Kuda Permati sampai hati mengambil satu keputusan untuk membunuhnya, maka aku pun sampai hati pula mengungkapnya segala rahasianya” berkata Pangeran Lembu Sabdata di dalam hatinya. Sebenarnyalah jika Pangeran Kuda Permati tetap mempercayakan dan tidak berusaha untuk membunuhnya, maka agaknya Pangeran Lembu Sabdata pun akan tetap pula pada sikapnya. Semua rahasia yang ada di dalam dirinya, akan dibawanya mati.
Karena itu, maka Pangeran Lembu Sabdata justru tidak lagi menjadi sangat tegang menghadapi Pangeran Singa Narpada dan kedua orang yang menyertainya.
“Adimas” berkata Pangeran Singa Narpada kemudian, “bagaimana keadaan adimas sekarang? Bukankah lukamu memang sudah menjadi baik, “
Pangeran Lembu Sabdata baru mengangkat wajahnya. Jawabnya, “Aku sudah sembuh kakangmas. Luka itu tidak seberapa”
“Syukurlah. Jika demikian, maka aku akan dapat mulai dengan beberapa hal. Seperti yang sudah aku katakan, maka aku ingin adimas membantu aku, agar pekerjaanku cepat selesai” berkata Pangeran Singa Narpada.
“Baiklah” jawab Pangeran Lembu Sabdata, “Apa yang sebenarnya ingin kakangmas ketahui? Usaha untuk membunuhku itu membuatku menjadi mendendam. Karena itu, maka tugas kakangmas memang akan cepat selesai”
Pangeran Singa Narpada mengerutkan keningnya. Sementara itu Pangeran Lembu Sabdata berkata, “Sebenarnya aku sama sekali tidak ingin merubah sikapnya atas Kediri dan Singasari. Tetapi ternyata orang-orang yang selama ini telah bekerja bersamaku, sama sekali tidak mempunyai landasan kepercayaan yang satu kepada yang lain, sehingga justru karena itu, maka aku dengan sengaja akan mengkhianati mereka”
Pangeran Singa Narpada termangu-mangu sejenak. Sikap Pangeran Lembu Sabdata memang sudah berubah meskipun dalam watak yang sama. Tinggi hati dan tetap garang.
Sementara itu Pangeran Lembu Sabdata meneruskan, “Kakangmas, jika aku mengatakan sesuatu tentang usaha untuk menghancurkan Singasari. sama sekali bukan karena aku takut mengalami tekanan. Jasmaniah atau rohaniah. Aku sebenarnya telah siap menghadapi sikap yang bagaimanapun juga. Tetapi jika aku kemudian mengatakan satu jalur perlawanan atas Singasari, maka itu adalah karena kehendakku sendiri, karena aku kecewa atas sikap saudara-saudaraku yang tidak mempercayai aku”
Pangeran Singa Narpada menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia berusaha untuk menyabarkan diri sendiri. Katanya kemudian, “Baiklah adimas. Apapun yang mendorongmu aku tidak akan mempersoalkannya. Tetapi aku ingin mengetahui siapakah yang menjadi penggerak utama dari usaha melawan kekuasaan Singasari itu?”
“Kakangmas Kuda Permati. Nah, jelas? Kakangmas Kuda Permati telah memerintahkan dua orang pengikutnya untuk membunuh aku karena agaknya kakangmas Kuda Permati tidak percaya bahwa tidak seorang pun akan dapat memeras keterangan dan mulutku. Kakangmas Singa Narpada pun tidak akan berhasil memaksa aku bicara dengan cara apapun juga. Tetapi sekarang, akan sengaja mengatakan” jawab Pangeran Lembu Sabdata.
Pangeran Singa Narpada sekali lagi menarik nafas dalam-dalam. Meskipun Pangeran Singa Narpada sudah tidak terlalu terkejut mendengar nama itu. Tetapi bahwa ia masih berharap untuk berhadapan dengan orang lain. Tetapi ternyata bahwa nama itulah yang disebut oleh Pangeran Lembu Sabdata.
Dengan demikian, maka Pangeran Singa Narpada tidak akan dapat mengelak lagi, bahwa ia memang pada satu saat berhadapan dengan saudaranya yang pendiam itu. Tetapi yang memiliki keinginan untuk menggulung bintang-bintang di langit.
“Adimas Lembu Sabdata” berkata Pangeran Singa Narpada, “sebenarnya aku memang sudah menyangka. Tetapi kenapa adimas Lembu Sabdata sampai terjerumus ke dalam pengaruhnya yang akan dapat mengeruhkan keadaan bukan saja pada masa hidup kita sekarang ini, tetapi juga pada masa anak cucu kita. Aku tidak akan merasa prihatin seperti sekarang ini, seandainya Pangeran Kuda Permati menghimpun kekuatannya, menyingkir ke hutan dan membangun kekuatan melawan Singasari dan Kediri. Tetapi yang dilakukan oleh Pangeran Kuda Permati ternyata sangat mencemaskan. Hutan-hutan dijadikan padang yang gundul dan gersang. Tetapi yang akan menjadi jalur arus banjir di musim hujan. Lereng-lereng pegunungan yang ditebangi akan kehilangan warnanya dan tanah akan hanyut bertimbun di lembah-lembah”
Bersambung......!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar