Senin, 28 Desember 2020

HIJAUNYA LEMBAH HIJAUNYA LERENG PEGUNUNGAN JILID 020-01

*HIJAUNYA LEMBAH : JILID-020-01*

Orang yang bertempur menghadapi para petani itu-pun segera kehilangan kesempatan untuk memenangkan pertempuran. Seorang demi seorang mereka telah dilumpuhkan. Meskipun para petani itu tidak ingin membunuh lawannya, tetapi diluar kehendaknya ternyata bahwa ada di antara lawan mereka yang tertusuk senjata sampai ke pusat jantung.

Agak berbeda dengan para petani itu, maka ketiga orang pengawal Purnadewi sama sekali tidak mempertimbangkan untuk mengalahkan lawannya tanpa membunuhnya. Mereka bertempur sebagaimana mereka bertempur. Karena itu, maka ketika senjatanya menusuk sampai ke pusat dada lawannya, maka mereka sama sekali tidak terlalu banyak menaruh perhatian.

Ternyata bahwa dua ujung tombak dan sebilah pedang yang berada di tangan ketiga orang pengawal Purnadewi itu telah mematuk tubuh lawannya dan menghilangkan nyawanya. Bahkan seorang di antara mereka telah membunuh dua orang berturut-turut.

Karena itu, maka dalam waktu yang dekat, sepuluh orang yang mencegat perjalanan Purnadewi dan ketiga orang perwira yang dilepaskannya itu telah dilumpuhkan, sehingga mereka tidak lagi berdaya untuk berbuat apa-pun juga.

Namun ketiga orang pengawal Purnadewi itu benar-benar menjadi heran. Kelima orang petani yang telah mengalahkan Purnadewi dan para pengawalnya. Demikian lawan-lawan mereka, mereka kalahkan, maka mereka-pun begitu saja melangkah meninggalkan tempat itu.

Para pengawal Purnadewi tidak menahannya. Dibiarkannya saja kelima orang itu pergi memasuki pategalan.

Baru sejenak kemudian, maka Purnadewi dapat menjadi tenang. Jantungnya menjadi lebih teratur dan nafasnya tidak lagi terasa memburu lewat kerongkongannya.

Karena itu, maka ia-pun mulai dapat menilai apa yang telah terjadi.

Ketika ketiga orang perwira yang mengawalnya itu sudah membenahi diri, maka Purnadewi itu-pun bertanya, “Siapakah orang-orang yang telah menolong kita itu?”

Para pengawalnya menggelengkan kepalanya. Salah seorang diantaranya menjawab, “Orang itu asing bagi kami. Entahlah jika mereka mengenakan pakaian yang lain dan di siang hari pula. Agaknya mereka bukan petani-petani biasa yang kebetulan melihat peristiwa ini.”

Purnadewi menarik nafas dalam-dalam. Namun dengan demikian ia telah melihat sendiri, betapa pertentangan dan peperangan telah merusak kesadaran manusia tentang baik dan buruk. Orang-orang yang menghentikannya itu sama sekali tidak lagi menghormati peradaban dan hubungan diantara sesamanya.

“Bagaimana-pun juga, kita merasa bersyukur,” berkata Purnadewi, “Aku telah terlepas dari petaka yang sangat mengerikan. Aku benar-benar merasa ketakutan dan putus asa.”

“Baiklah puteri,” berkata salah seorang diantara ketiga perwira yang mengawalnya, “Marilah kita melanjutkan perjalanan. Jika di sini kita bertemu dengan sekelompok prajurit yang menjadi pengikut Pangeran Kuda Permati, maka agaknya kita telah menempuh jalan yang benar.”

Dengan demikian, maka keempat orang itu-pun telah meneruskan perjalanan. Sementara itu dari balik semak-semak kelima orang yang mengenakan pakaian petani memperhatikan perjalanan itu.

“Untunglah bahwa kita selalu mengawasinya,” berkata Pangeran Singa Narpada yang mengenakan pakaian petani itu pula.

“Ya Pangeran,” jawab Panji Sempana Murti yang ikut bersama Pangeran Singa Narpada, “Jika kita percayakan puteri itu bersama ketiga orang yang mengawalnya, maka ia sudah mengalami bencana yang paling dahsyat.”

“Kita ikut bertanggung jawab bahwa Purnadewi harus sampai kepada suaminya,” berkata Pangeran Singa Narpada.

Panji Sempana Murti mengangguk-angguk. Ia-pun sependapat bahwa puteri Purnadewi harus sampai kepada Pangeran Kuda Permati untuk dapat diharapkan bahwa perjalanannya akan membawa hasil.

“Marilah,” Tiba-tiba terdengar suara Pangeran Singa Narpada yang selalu berkepentingan bahwa Purnadewi harus sampai kepada suaminya, maka ia-pun berkepentingan untuk menyelamatkan Purnadewi karena ia adalah saudara sepupunya, “Tugas kita belum selesai. Kita harus yakin, bahwa usaha ini akan berhasil. Baru jika Purnadewi bertemu dengan suaminya, maka ia akan dapat menyampaikan segala pesan kita dalam ujud yang sudah berbeda menurut tanggapan Purnadewi sendiri. Peristiwa yang baru saja terjadi akan menguatkan sikapnya, bahwa peperangan ini hanya akan menghasilkan bencana saja.”

Panji Sempana Murti menarik nafas dalam-dalam. Namun mereka-pun telah meneruskan perjalanan mereka membayangi perjalanan puteri Purnadewi dengan ketiga orang perwira yang telah dibebaskannya.

Perjalanan itu memang perjalanan yang berat. Apalagi bagi Purnadewi. Tetapi ternyata ketiga orang perwira yang merasa dirinya diselamatkan itu telah membantunya sejauh dapat mereka lakukan.

Ketika Purnadewi menjadi sangat letih, maka ketiganya bergantian telah menolongnya dengan memapahnya.

“Kita beristirahat sebentar,” berkata Purnadewi, “Aku tidak kuat lagi meneruskan perjalanan. Kakiku telah terluka oleh goresan-goresan batu-batu yang runcing.

Ketiga orang perwira itu tidak dapat memaksanya. Mereka-pun kemudian memberikan kesempatan kepada Purnadewi untuk beristirahat, berbaring diatas sebuah batu yang besar. Sementara itu, ketiga orang perwira itu menungguinya dengan setia. Bahkan karena kakinya yang terasa bagaikan terbakar, Purnadewi telah berpindah, duduk dan merendam kakinya di dalam sebuah parit yang tidak begitu besar, namun airnya yang bening rasa-rasanya bagaikan menghisap perasaan sakit dan letihnya meskipun mula-mula kaki itu terasa sangat pedih ketika menyentuh air.

Dari kejauhan Pangeran Singa Narpada menyaksikan adik sepupunya yang kelelahan. Ia merasa kasihan. Tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa kecuali dengan sabar menunggunya.

Namun ternyata Purnadewi mempunyai kemauan yang keras. Sejenak kemudian, ketika kakinya sudah merasa dingin, ia-pun telah bangkit sambil berkata, “Kita meneruskan perjalanan.”

“Bagaimana dengan kaki puteri?” bertanya salah seorang diantara para perwira.

“Tidak apa-apa. Kakiku sudah terasa baik,” jawab Purnadewi.

Namun demikian mereka mulai berjalan, maka kaki Purnadewi yang tersentuh runcingnya bebatuan telah kembali merasa sakit.

“Puteri,” berkata salah seorang perwira, “Jika puteri berkenan, apakah kami dapat menyediakan sebuah terompah. Mungkin dengan cumpring bambu atau dengan apa-pun juga. Bahkan dapat juga dengan mempergunakan sobekan kain panjang untuk dibalutkan ke kaki puteri.”

Purnadewi menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya, “Terima kasih. Aku akan mencoba untuk berjalan tanpa alas.”

Namun kaki Purnadewi tidak memenuhi gejolak tekadnya untuk berjalan terus tanpa alas. Karena itu, maka ia terpaksa tidak menolak ketika seorang diantara para perwira itu telah mengoyak kain penjangnya dan kemudian membalut kaki Purnadewi dengan sobekan kain panjangnya itu.

Dengan demikian, maka kaki Purnadewi menjadi agak terlindung, sehingga meskipun terasa sakit, tetapi ia kemudian dapat melanjutkan perjalanannya.

Pangeran Singa Narpada melihat keadaan adik sepupunya itu. Ia memang menjadi sangat kasihan. Tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa. Ia tidak dapat menolong lebih banyak lagi selain membebaskannya dari tangan orang-orang yang menjadi liar karena pengaruh peperangan yang tidak berkesudahan.

Betapa-pun lambatnya, namun Purnadewi itu berjalan juga ke arah yang diduganya menjadi tempat tinggal dan landasan sementara dari pasukan Pangeran Kuda Permati.

Beberapa saat kemudian, maka sekali lagi keempat orang itu dikejutkan oleh kedatangan beberapa orang yang berloncatan dari balik semak-semak. Menilik sikap dan pakaian mereka, maka keempat orang itu-pun segera mengetahui bahwa mereka adalah para pengikut Pangeran Kuda Permati sebagaimana yang mereka jumpai beberapa saat yang lalu.

Purnadewi yang telah mengalami perlakuan yang sangat menyakitkan hati, sekali lagi menjadi ketakutan. Mungkin orang-orang itu-pun akan bersikap sebagaimana sikap kawan-kawannya yang terdahulu.

Jika disini tidak ada seorang-pun yang menolong sebagaimana terjadi beberapa saat yang lalu, akibatnya akan sangat parah baginya dan tentu juga ketiga orang yang mengawalnya itu.

Ternyata bahwa sikap orang-orang itu tidak kalah garangnya. Mereka mengepung keempat orang yang telah mereka hentikan itu. Sementara itu sebagaimana telah dilakukan, maka ketiga orang perwira yang mengawal Purnadewi itu-pun telah berpencar diseputar Purnadewi yang ketakutan pula.

“Siapakah kalian,” geram pemimpin dari orang-orang yang menghentikannya itu.

Perwira yang mengawal Purnadewi itu tidak ingin berputar-putar lagi. Dengan tegas ia-pun menjawab, “Aku mengawal puteri Purnadewi, isteri Pangeran Kuda Permati.”

Orang itu mengerutkan keningnya. Dengan ragu-ragu ia bertanya, “Apakah kau berkata sebenarnya?”

“Ya. Puteri inilah yang akan aku antar menghadap Pangeran Kuda Permati.”

Suasana menjadi tegang. Tetapi orang yang menghen tikan itu tidak segera percaya. Dalam keremangan malam mereka mencoba memperhatikan puteri itu dengan saksama.

Namun seorang diantara mereka yang menghentikan itu berkata, “Apakah masuk akal bahwa puteri Purnadewi akan berada di sini di malam buta ini? Bukankah puteri berada di landasan utama.”

“Apakah kau belum mendengar berita tentang jatuhnya landasan Utama itu ke tangan para penjilat di Kediri,” sahut salah seorang perwira yang mengantar puteri itu.

“Mustahil,” jawab orang yang menghentikan perjalanan itu, “Tempat itu tidak akan diketahui oleh pasukan Singa Narpada.”

“Tetapi akhirnya diketahuinya juga,” jawab perwira itu, “Dan puteri ini sudah tertawan. Untunglah bahwa diantara mereka yang berkhianat dan menjadi penjilat itu masih terdapat orang-orang yang menyadari kebesaran diri, sehingga orang itu telah berusaha untuk membebaskan kami.”

Orang-orang yang menghentikannya itu masih ragu-ragu. Bahkan seorang diantara mereka bertanya, “Jika demikian, maka bukti apakah yang dapat kau berikan kepada kami?”

“Bukti,” ulang salah seorang perwira itu, “bukti apakah yang kalian kehendaki. Bukti itu adalah puteri itu sendiri. Lihatlah dengan saksama. Bukankah perempuan ini adalah puteri Purnadewi. Bukti apa lagi yang kalian kehendaki?”

“Aku belum pernah bertemu secara pribadi dengan puteri Purnadewi. Karena itu, bagaimana, aku dapat mempercayai bahwa puteri ini adalah Purnadewi,” berkata orang yang menghentikannya itu.

“Bawa kami menghadap. Jika kami sudah menghadap Pangeran Kuda Permati, maka kalian akan tahu, apakah benar puteri ini adalah Purnadewi,” berkata perwira yang mengawalnya.

Ternyata ketegangan telah terjadi lagi. Orang-orang yang menghentikan keempat orang itu tidak juga dapat mempercayainya sebagaimana yang terdahulu. Bahkan pemimpinnya berkata, “Apakah kalian orang-orang yang diselusupkan oleh orang-orang Kediri yang menjadi penjilat itu untuk membujuk Pangeran Kuda Permati atau untuk melakukan satu tindakan yang licik atau perbuatan-perbuatan lain.”

“Tidak,” Seorang perwira yang tidak sabar lagi membentak, “Kami ingin menyerahkan puteri Purnadewi.”

Suasana-pun menjadi tegang. Sebagaimana pernah terjadi sebelumnya. Orang-orang yang menghentikan keempat orang itu nampaknya menjadi sangat ragu-ragu. Jika benar puteri Purnadewi telah ditangkap oleh orang-orang Kediri, apakah mungkin ia dapat meloloskan diri bersama tiga orang perwira yang juga telah tertangkap.

Ketegangan itu-pun semakin lama menjadi semakin menyakitkan jantung Purnadewi sendiri. Hampir saja ia menjerit meledakkan himpitan perasaan yang tidak tertahankan. Namun ia masih berusaha untuk bertahan.

Di belakang semak-semak lima orang yang berpakaian petani masih mengamatinya. Dua diantara mereka adalah Pangeran Singa Narpada sendiri dan Panji Sempana Murti. Dua orang yang memiliki ilmu yang sulit dicari bandingnya.

Namun dalam puncak ketegangan itu, tiba-tiba terdengar suara seseorang. Salah seorang diantara mereka yang menghentikan keempat orang itu.

“Kakang. Engkaukah itu?” desis seseorang sambil melangkah maju mendekati salah seorang dari ketiga orang yang mengawal puteri Purnadewi itu.

Orang yang dipanggil itu termangu-mangu. Namun ketika orang yang menyebutnya itu melangkah mendekat, maka wajahnya-pun menjadi cerah. Dengan lantang ia berkata, “Kau Tembi?”

“Ya kakang. Jadi orang-orang ini kawan-kawan kakang?” berkata orang yang disebut Tembi.

“Ya. Keduanya juga perwira dari pasukan Pangeran Kuda Permati, sedangkan puteri ini benar-benar puteri Purnadewi.”

Orang yang disebut Tembi itu-pun kemudian menghadap kepada orang yang memimpin kelompok kecil yang menghentikan perjalanan keempat orang itu sambil berkata, “Seorang diantara para perwira itu adalah kakakku.”

“Kau yakin?” bertanya pemimpin kelompok itu.

“Aku yakin. Ia memang kakakku yang tertangkap oleh pasukan Kediri. Aku yakin,” jawab Tembi.

Pemimpin kelompok itu termangu-mangu. Namun kemudian ia-pun berkata, “Jika kau yakin, maka biarlah kita membawa mereka melalui tahap-tahap yang seharusnya. Jika benar puteri itu Purnadewi, isteri Pangeran Kuda Permati, maka biarlah ia dibawa menghadap.”

“Ya. Puteri itu adalah puteri Purnadewi,” jawab seorang diantara pengawalnya. Lalu, “Namun bagaimana-pun juga kami tidak akan melepaskannya. Jika puteri itu dibawa menghadap, maka kami baru melepaskannya setelah kami yakin, bahwa puteri itu benar-benar akan bertemu dengan Pangeran Kuda Permati.”

“Percayalah kepadaku,” berkata pemimpin kelompok itu, “Marilah. Kita akan mulai dengan tahap demi tahap. Tidak mudah bagi seseorang untuk menghadapi Pangeran Kuda Permati.”

“Tetapi kaki puteri itu sakit. Apakah Pangeran Kuda Permati masih jauh?” bertanya salah seorang pengawalnya.

“Pangeran Kuda Permati tidak berada di daerah ini,” jawab pemimpin kelompok ini, “Tetapi jangan cemas. Jika kalian benar, maka pada saatnya puteri itu tentu akan bertemu dengan Pangeran Kuda Permati.”

Ketiga orang pengawal itu tidak menjawab. Namun dalam pada itu pemimpin kelompok itu-pun berkata, “Marilah. Ikut aku. Kalian dapat membantu puteri itu berjalan.”

Para perwira itu tidak dapat berbuat lain. Seorang diantara orang-orang yang mencegatnya itu adalah adik dari seorang diantara ketiga perwira yang mengawal puteri Purnadewi, sehingga-pengenalan itu ternyata sangat berarti bagi keempat orang yang mencari Pangeran Kuda Permati itu.

Meskipun demikian, kelima orang dalam pakaian petani itu masih belum melepaskan mereka. Dengan sangat hati-hati mereka mengikuti dari kejauhan.

Perlahan-lahan karena keadaan kaki puteri Purnadewi, keempat orang diikuti oleh orang-orang yang menghentikannya itu merayap maju, sehingga akhirnya mereka memasuki sebuah padukuhan. Namun agaknya penjagaan di padukuhan itu cukup ketat, sehingga akan sangat sulit bagi Pangeran Singa Narpada untuk dapat memasukinya.

Namun dengan demikian, maka Pangeran Singa Narpada menjadi yakin, bahwa puteri Purnadewi tentu akan sampai kepada suaminya, karena di dalam padukuhan yang dijaga ketat itu tentu ada satu atau dua orang perwira yang akan dapat menghubungkan Purnadewi dengan Pangeran Kuda Permati.

Dengan nada dalam Pangeran Singa Narpada itu-pun kemudian bertanya kepada Panji Sempana Murti, “Bagaimana pendapatmu tentang kemungkinan yang dapat terjadi atas Purnadewi?”

“Aku kira perjalanannya selanjutnya telah aman,” jawab Panji Sempana Murti.

“Aku sependapat,” berkata Pangeran Singa Narpada selanjutnya, “Karena itu, maka tugas kita mengantar Purnadewi sudah selesai. Semoga ia dapat bertemu dengan suaminya dan berbicara, tentang kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi di Kediri.”

Panji Sempana Murti menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Tugas puteri Purnadewi adalah tugas yang besar. Jika ia berhasil, maka ia akan dapat menyelesaikan tugas yang tidak dapat kita selesaikan dengan kekuatan prajurit.”

“Ya. Purnadewi benar-benar mengemban tugas yang sangat besar. Mudah-mudahan hatinya mantap dan tidak terpengaruh oleh sikap suaminya,” desis Pangeran Singa Narpada. Lalu, “Tetapi jika Purnadewi gagal, maka Kediri besar-benar akan dibakar oleh pembantaian yang tidak ada batasnya. Kedua belah pihak akan menjadi liar dan buas. Sehingga orang-orang yang tidak bersalah akan menjadi korban pembantaian yang sangat keji. Aku merasa, bahwa aku bukan seorang yang berhati lembut sebagaimana kau dan seluruh pasukan kita. Keadaan akan semakin kalut jika Singasari ikut mencampuri persoalan ini dengan kekuatan prajurit pula.”

Dengan demikian, maka kedua orang itu berpendapat, bahwa mereka tidak merasa perlu lagi untuk mengikuti Purnadewi lebih jauh. Kecuali menurut pendapat mereka sudah tidak ada gunanya lagi, maka perjalanan yang demikian tentu akan menjadi sangat berbahaya, karena beberapa ratus tonggak lagi, mereka benar-benar akan berada di daerah yang untuk saat itu dikuasai oleh Pangeran Kuda Permati.

“Perjalanan kita cukup sampai di sini,” berkata Pangeran Singa Narpada, “Marilah. Kita akan kembali ke Kota Raja. Besok kita akan kembali kepada pasukan kita masing-masing yang bertugas di sisi Utara, meskipun barangkali ada tugas lain yang harus kita lakukan.”

Dengan demikian, maka Pangeran Singa Narpada, Panji Sempana Murti dan pengawal-pengawalnya telah meninggalkan tempat itu untuk kembali ke Kota Raja.

Ternyata bahwa mereka telah berhasil mengirimkan Purnadewi kepada suaminya dengan cara yang agak berbelit-belit. Tetapi jika benar Purnadewi dapat bertemu dengan suaminya, maka akan mungkin timbul satu perubahan suasana di Kediri.

Sementara itu, sekelompok prajurit Kediri yang menjadi pengikut Pangeran Kuda Permati telah membawa puteri Purnadewi ke sebuah padukuhan terpencil. Padukuhan yang kecil, yang terletak di tempat yang tidak terlalu mudah untuk dijangkau. Tetapi di padukuhan itu terdapat sebuah sumber air yang besar, yang mampu membuat tanah di sekitar padukuhan itu menjadi hijau. Meskipun demikian, selingkar bukit bukit gersang seakan-akan telah membatasi padukuhan itu dari hubungan dengan padukuhan padukuhan yang lain.

Semula padukuhan itu sepi. Penduduknya sangat sedikit. Namun tiba-tiba padukuhan itu menjadi ramai, ketika sepasukan Pangeran Kuda Permati berada di padukuhan itu, karena mereka menganggap bahwa tempat itu adalah tempat yang sangat baik untuk mereka pergunakan sementara, sebelum pasukan itu meneruskan pengembaraan mereka mengelilingi Kota Raja. Menyerang dan menghilang. Namun para perwiranya tidak dapat mencegah akibat-akibat buruk dari cara hidup yang demikian bagi orang-orang yang tidak mempunyai pegangan yang kuat itu.

Ketika Purnadewi memasuki padukuhan itu, ia berpengharapan untuk dapat segera bertemu dengan Pangeran Kuda Permati. Namun ternyata bahwa ia-pun menjadi sangat kecewa. Pangeran Kuda Permati tidak berada di tempat itu.

“Dimana kakangmas Kuda Permati?” bertanya Purnadewi kepada pemimpin kelompok yang menghentikan perjalanannya itu.

“Aku tidak tahu puteri,” jawab pemimpin kelompok itu, “Tetapi di padukuhan ini ada beberapa orang perwira yang mempunyai kedudukan yang lebih tinggi dari aku. Mungkin mereka akan dapat menunjukkan jalan yang paling baik puteri.”

Purnadewi tidak tergesa-gesa minta diantarkan kepada suaminya. Jika ia berniat demikian, maka akan mungkin dapat menimbulkan persoalan lain.

Demikianlah, kedatangan Purnadewi telah menimbulkan sedikit keributan di padukuhan kecil itu. Untunglah bahwa persoalannya segera dapat dijernihkan. Dan bahkan akhirnya para perwira di padukuhan itu percaya bahwa puteri itu adalah Purnadewi. Bahkan ada diantara mereka yang mengenali ketiga orang pengawal itu sebagai perwira yang memiliki kedudukan yang baik karena kemampuan ilmu mereka di dalam pasukan Pangeran Kuda Permati. Namun dalam satu sergapan yang tiba-tiba mereka telah dapat tertangkap oleh pasukan Pangeran Singa Narpada. Dan bahkan ada di antara mereka yang mengenal puteri Purnadewi itu sendiri.

Tetapi Purnadewi menjadi kecewa. Pangeran Kuda Permati tidak ada di padukuhan itu.

“Kakiku sudah tidak dapat aku pergunakan untuk berjalan lagi,” berkata Purnadewi dengan wajah yang sayu.

“Puteri dapat beristirahat di sini sehari atau lebih,” berkata seorang perwira yang bertanggung jawab terhadap pasukan yang ada di daerah itu, “pada saatnya kaki puteri telah sembuh, maka kita akan berangkat.”

“Apakah kau tidak dapat melaporkan kepada kakangmas Kuda Permati, bahwa aku berada di sini?” bertanya puteri Purnadewi.

“Tentu puteri,” jawab perwira itu, “Tetapi aku tidak dapat mengatakan, keputusan apa yang akan diambil oleh Pangeran Kuda Permati. Mungkin Pangeran akan menjemput puteri, tetapi mungkin Pangeran akan memerintahkan kepada puteri untuk menyusul Pangeran di tempat yang lain.”

“Kenapa begitu?” bertanya Purnadewi, “apakah kakangmas Kuda Permati sudah tidak menghiraukan aku lagi?”

“Mungkin bukan begitu puteri,” jawab perwira itu, “Tetapi kehadiran puteri mungkin akan dapat menimbulkan persoalan tesendiri. Jika Pangeran Kuda Permati datang ke tempat ini, apakah terjamin bahwa Pangeran akan selamat dari sergapan orang-orang Kediri yang menjadi, penjilat dari orang-orang Singasari?”

“Jadi apakah kehadiranku ini tidak akan berarti apa-apa bagi kakangmas Kuda Permati?” bertanya Purnadewi.

“Bukan begitu, “Jawab perwira itu, “Tetapi aku harap puteri menyadari, bahwa perjalanan puteri dapat saja diikuti oleh orang-orang Kediri. Diluar tahu puteri, aku telah memerintahkan untuk meneliti dengan saksama daerah di sekitar bukit-bukit yang melingkari padukuhan ini. Mungkin ada sekelompok prajurit Kediri yang mengikuti perjalanan puteri.”

Purnadewi menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu, perwira itu membiarkannya merenung.

Sebenarnyalah, bahwa perwira itu telah memerintahkan untuk melihat sekeliling padukuhan itu. Di celah-celah bukit, dibalik semak-semak dan di tempat-tempat yang dapat dipergunakan untuk bersembunyi.

Namun mereka tidak menemukan seorang-pun yang mengamati perjalanan Purnadewi dengan ketiga orang pengawalnya, sementara Pangeran Singa Narpada, Panji Sempana Murti dan kawan-kawannya telah kembali ke Kota Raja. Mereka-pun telah memperhatikan bahwa jika mereka mengikuti perjalanan Purnadewi untuk selanjutnya, maka mereka akan dapat terperosok kedalam bahaya.

Karena para pengikut Pangeran Kuda Permati yang berada di padukuhan itu tidak menemukan tanda-tanda apa-pun, serta atas dasar laporan mereka yang membawa keempat orang ke padukuhan itu, maka perwira itu menganggap bahwa kedatangan Purnadewi tidak membawa kemungkinan diketahuinya persembunyian mereka.

Tetapi ternyata bahwa Pangeran Kuda Permati masih harus dihubungi.

Ketika kemudian malam berakhir dengan terkoyaknya kegelapan oleh sinar matahari pagi, maka Purnadewi dan para pengawalnya telah beristirahat di padukuhan itu. Purnadewi tidak lagi merendam kakinya didalam air. Tetapi seorang yang mengerti serba sedikit tentang obat-obatan telah mengobati kaki Purnadewi dengan sejenis dedaunan, butir-butir nasi yang dilembutkan dengan sedikit garam, diusapkan dari lutut sampai ke telapak kakinya.

Terasa kaki Purnadewi menjadi dingin. Sama sekali tidak terasa pedih sebagaimana jika kakinya direndam didalam air. Meskipun kemudian kaki yang panas itu terasa dingin, tetapi luka-lukanya terasa pedih bukan main.

Jenis dedaunan, butir-butir nasi dan sedikit garam itu membuat kaki Purnadewi bagaikan direndam tidak saja didalam air di parit yang bening, tetapi seolah-olah direndam didalam air yang tersimpan sewindu lamanya. Dingin tanpa rasa pedih. Panas, letih dan sakit yang bagaikan menggigit telah hilang dihisap oleh obat-obatan itu.

Namun demikian kegelisahan Purnadewi masih belum dapat dihapus dengan obat apa-pun juga, sebelum ia berhasil bertemu dengan Pangeran Kuda Permati. Rasa-rasanya ia tidak lagi dapat mempercayai siapa-pun juga, termasuk orang-orang yang berada didalam padukuhan. Yang paling mungkin untuk bertindak jujur terhadapnya hanyalah ketiga orang yang telah dibebaskannya. Sesuai dengan ketentuan yang sudah diatur lebih dahulu oleh Pangeran Singa Narpada dan Panji Sempana Murti dengan persetujuan, pimpinan petugas sandi dari Kediri.

Namun Purnadewi tidak dapat berbuat apa-apa. Ia hanya dapat menunggu, sampai saatnya Pangeran Kuda Permati memberikan kabar kepadanya. Apakah ia harus datang menghadap, atau Pangeran itu datang menjemputnya.

Namun bagaimana-pun juga, masa istirahat itu telah membuat badan Purnadewi menjadi segar. Demikian pula ketiga perwira yang menyertainya. Makanan dan minuman yang dihidangkan kepada mereka, kesempatan untuk berbaring dan minum obat-obatan membuat mereka melupakan perasaan letih yang dialaminya dalam perjalanan itu.

Namun betapa kecewa puteri Purnadewi ketika di tengah hari ia bertanya tentang suaminya, perwira yang bertanggungjawab atas padukuhan itu memberikan keterangan, bahwa mereka belum berhasil membuat hubungan dengan Pangeran Kuda Permati.

Demikian pula ketika matahari telah turun dan hampir tenggelam di bawah cakrawala. Perwira itu telah menemui Purnadewi sebelum Purnadewi mencarinya.

“Puteri, sampai saat ini utusan kami masih belum berhasil membuat hubungan dengan Pangeran Kuda Permati,” berkata perwira itu, “Sebagaimana puteri mengetahui, maka Pangeran Kuda Permati adalah orang yang sangat penting bagi Kediri. Tentu banyak orang yang ingin menemukannya. Mungkin diantara mereka adalah pengkhianat-pengkhianat, sehingga karena itu, maka Pangeran Kuda Permati harus benar-benar berada di tempat yang paling aman. Dan itu berarti bahwa tempat tinggalnya yang selalu bergerak itu tidak dengan mudah diketemukan siapa-pun juga.”

“Tetapi aku adalah isterinya,” berkata puteri Purnadewi.

“Kami mengetahuinya,” jawab perwira itu, “Karena itu betapa-pun sulitnya, kami berusaha untuk menemukannya. Tetapi Pangeran Kuda Permati sendiri tentu tidak mengetahui bahwa puteri sedang mencarinya. Bahkan mungkin Pangeran Kuda Permati masih belum mengetahui jika landasan utamanya telah berhasil diketemukan oleh orang-orang Kediri dengan petunjuk para pengkhianat.”

Puteri Purnadewi menarik nafas dalam-dalam. Namun ia tidak dapat memaksa orang-orang itu dengan cepat dapat menemukan Pangeran Kuda Permati. Puteri Purnadewi-pun menyadari bahwa tempat tinggal Pangeran Kuda Permati tentu merupakan rahasia yang harus dipegang teguh oleh para pengikutnya yang setia.

“Mudah-mudahan malam nanti kita dapat membuat hubungan berkata perwira itu. Agaknya petugas kita telah mendekati kemungkinan itu.”

“Mudah-mudahan,” berkata Purnadewi, “Aku sudah terlalu lama mengalami tekanan batin yang hampir tidak teratasi.”

Dalam pada itu, beberapa orang petugas telah bekerja keras sesuai dengan kemampuan mereka dan pengenalan mereka atas medan, untuk menemukan Pangeran Kuda Permati. Dengan pengalaman dan ketekunan, maka akhirnya mereka-pun telah dapat membuat hubungan sebelum waktu yang telah ditentukan sebagaimana kebiasaan Pangeran Kuda Permati.

Hubungan itu telah membuat Pangeran Kuda Permati terkejut. Namun dengan demikian, maka petugas itu telah mendapat kesempatan untuk menghadapnya. Kesempatan yang jarang sekali didapatkan oleh para pengikut Pangeran Kuda Permati itu.

Dengan penuh kesungguhan, petugas itu menceriterakan apa yang telah terjadi dengan puteri Purnadewi sesuai dengan keterangan yang diterimanya. Perjalanan yang panjang dan keadaan wadagnya yang memelas.

Wajah Pangeran Kuda Permati menjadi merah. Ia memang sudah mendapat laporan tentang landasan utamanya yang telah diketahui oleh Pangeran Singa Narpada. Ia-pun telah mendapat laporan bahwa isterinya telah tertangkap. Namun ternyata menurut laporan yang diterima kemudian, atas bantuan beberapa orang petugas sandinya di Kediri, isterinya berhasil lolos dari tangan orang-orang Kediri.

Tetapi Pangeran Kuda Permati tidak begitu saja menerima keadaan itu. Bukan karena ia curiga terhadap isterinya. Tetapi ia curiga terhadap kelicikan orang-orang Kediri.

“Mungkin perjalanan Purnadewi diawasi,” berkata Pangeran Kuda Permati.

“Perwira yang bertanggung jawab atas daerah kedudukan kami telah mencurigai kemungkinan itu pula, sehingga ia-pun telah mengamankan daerah di sekitar kedudukan kami. Ternyata tidak seorang-pun yang diketemukannya,” jawab petugas itu.

Pangeran Kuda Permati mengangguk-angguk. Tetapi ia adalah seorang yang sangat cermat menghadapi keadaan, karena menurut pendapatnya orang-orang Kediri yang tidak berpihak kepadanya adalah orang-orang yang sangat licik dan pengecut.

Karena itu, maka Pangeran Kuda Permati sendiri telah mengatur perjalanan Purnadewi. Ia telah memberikan pesan kepada petugas itu untuk membawa Purnadewi ke satu tempat. Baru kemudian ia akan dijemput oleh orang-orang kepercayaan terdekat dari Pangeran Kuda Permati.

“Katakan kepada Purnadewi. Bukan berarti aku tidak memperhatikannya. Tetapi segala sesuatunya akan aku selesaikan tanpa menimbulkan akibat yang tidak kita inginkan.”

Demikianlah, maka petugas itu-pun segera kembali ke padukuhan yang menjadi tempat kedudukan pasukannya untuk sementara. Segala sesuatunya-pun telah dilaporkannya kepada pimpinannya, sehingga perwira yang bertanggung jawab atas padukuhan itu-pun mengatur segala suatunya sesuai dengan kehendak Pangeran Kuda Permati.

Dengan hati-hati, maka di hari berikutnya Pangeran Purnadewi-pun telah disiapkan. Dengan sebuah pedati, maka puteri Purnadewi akan dibawa ke satu tempat yang telah ditentukan. Dengan cermat pula pemimpin pasukan di padukuhan itu telah mempersiapkan pengawalan.

Iring-iringan itu akan meninggalkan padukuhan menjelang senja, sehingga perjalanan mereka akan ditempuh pada malam hari. Perjalanan yang paling baik menurut perhitungan Pangeran Kuda Permati. Sementara jalan yang ditentukan-pun merupakan jalan yang jarang sekali dilalui oleh pasukan peronda dari Kediri.

“Mereka tidak akan berani melalui daerah ini jika tidak membawa pasukan segelar sepapan,” berkata perwira yang memimpin pasukan itu.

Purnadewi yang berjalan didalam satu iring-iringan yang besar itu-pun merasa lebih tenang. Apalagi ia tidak berjalan sebagaimana yang dilakukan sebelumnya, tetapi dalam perjalanan itu ia berada didalam sebuah pedati. Meskipun kadang-kadang ia turun dari pedati dan benar-benar berjalan untuk mengurangi kejemuannya duduk di dalam pedati, tetapi ia tidak mengalami kelelahan yang sangat seperti yang telah dijalaninya.

Meskipun demikian, di dalam iring-ringan yang besar itu, Purnadewi telah menyaksikan satu dua peristiwa yang membuat jantungnya semakin pedih. Ketika iring-iringan itu melewati sebuah jalan di pinggir sebuah padukuhan di malam hari dan mereka menjumpai dua orang anak muda yang sedang meronda dan bersikap mencurigai iring-iringan itu, maka tanpa ragu-ragu kedua orang anak muda itu telah dibinasakan untuk menghilangkan jejak.

“Menyedihkan sekali,” berkata Purnadewi didalam hatinya. Sementara itu, Purnadewi masih mencemaskan nasib beberapa orang lainnya yang mungkin akan dijumpainya di perjalanan, meskipun ada juga orang yang terlepas dari maut waktu mereka melihat iring-iringan itu lewat, karena agaknya orang itu tidak menaruh banyak perhatian atau tidak tahu menahu tentang iring-iringan yang lewat itu.

Namun sebenarnyalah Pangeran Kuda Permati telah memasang satu jaringan kekuatan yang mengamati perjalanan itu tanpa diketahui oleh siapa-pun juga. Sasarannya adalah, kemungkinan orang -orang Kediri yang setia terhadap Pangeran Singa Narpada mengikuti perjalanan Purnadewi yang sengaja dilepaskannya.

Tetapi pasukan terpilih Pangeran Kuda Permati itu juga tidak menemukan seorang-pun yang pantas mereka curigai.

Dengan demikian, maka kepercayaan Pangeran Kuda Permati yang mengamati perjalanan itu berkesimpulan, bahwa Memang tidak ada orang-orang Kediri yang mengikuti perjalanan Purnadewi untuk mengetahui tempat Pengeran Kuda Permati tinggal.

Karena itulah, maka Purnadewi telah sampai di tempat yang dituju tanpa hambatan apa-pun juga. Ia sampai ke sebuah padukuhan yang memang sudah disiapkan untuk menerimanya.

Namun padukuhan itu bukan tempat tinggal Pangeran Kuda Permati. Karena itu, maka Purnadewi masih harus menempuh perjalanan lagi, perjalanannya yang terakhir untuk sampai kepada suaminya, Pengeran Kuda Permati.

Purnadewi beristirahat di padukuhan itu selama siang hari. Ia mendapat kesempatan untuk melepaskan lelahnya, meskipun ia tidak menjadi terlalu lelah sebagaimana perjalanannya yang pertama. Tetapi hari itu, Purnadewi sempat berbaring sejenak untuk mendapatkan kesegarannya kembali. Ia sempat mulai memperhatikan dirinya sebelum ia bertemu dengan suaminya. Kakinya tidak lagi terasa bengkak, meskipun masih juga agak terasa sakit. Tetapi sudah hampir dapat dilupakannya.

Ketika malam turun, maka mereka-pun telah bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan. Tetapi Purnadewi akan mengalami pengawalan dengan orang yang berbeda. Orang yang akan mengawalnya kemudian adalah orang-orang yang dikirim langsung oleh Pangeran Kuda Permati.

Menjelang keberangkatan mereka, Purnadewi sudah sempat untuk mandi dan membenahi pakaiannya dengan pakaian yang didapatkannya dari orang-orang padukuhan itu. Dengan demikian, maka tubuh Purnadewi-pun rasa-rasanya menjadi bersih dan segar. Tidak lagi dibayangi oleh debu dan keringat, serta bau yang tidak sedap.

Ketika malam turun, maka Purnadewi-pun telah melanjutkan perjalanan mereka. Namun ada satu perintah yang kurang disenanginya. Ketiga orang perwira yang mengawalnya tidak boleh melanjutkan perjalanan. Mereka harus tinggal bersama para pengikutnya yang lain di padukuhan itu untuk menerima tugas-tugas mereka yang akan datang.

“Pengawalnya puteri Purnadewi sepenuhnya ada di tangan kami,” berkata pemimpin pengawal yang menjemput Purnadewi atas perintah langsung dari Pangeran Kuda Permati.

“Tetapi mereka telah menunjukkan kesetiaan mereka,” berkata Purnadewi, “Tanpa mereka, aku telah menjadi lumut di perjalanan.”

Tetapi pemimpin pengawal itu-pun berkeras. Katanya, “Atas perintah Pangeran Kuda Permati sendiri. Pangeran menghargai dan sangat berterima kasih kepada mereka bertiga. Tetapi mereka tidak perlu ikut bersama puteri untuk menghadap. Kepada mereka akan diberikan tugas-tugas yang lain, yang sesuai dengan kedudukan mereka sebagai perwira didalam pasukan Pangeran Kuda Permati.”

Ketiga orang yang telah mengawal puteri Purnadewi dari Kota Raja itu tidak dapat memaksa. Mereka mengenal sifat dan watak Pangeran Kuda Permati apabila telah menjatuhkan perintah. Karena itu, maka mereka-pun telah berhenti sampai di padukuhan itu dan tidak melanjutkan perjalanan mereka mengikuti Purnadewi yang telah mendapatkan pengawalan yang khusus.

Perjalanan Purnadewi untuk selanjutnya merupakan perjalanan yang tidak terlalu sulit. Baginya tetap disediakan sebuah pedati Namun demikian, ada juga perasaan kecewa, bahwa ia tidak diperkenankan membawa ketiga orang yang telah memberikan jasa kepadanya di sepanjang perjalanan dari Kota Raja. Bahkan yang telah dengan tanpa gentar siap mempertaruhkan nyawa mereka.

Tetapi seperti ketiga orang perwira itu, maka Purnadewi-pun tidak dapat memaksa. Ia harus tunduk kepada perintah Pangeran Kuda Permati.

Namun perjalanan mereka di malam hari itu ternyata merupakan perjalanan yang cukup panjang. Mereka melintasi bulak-bulak panjang dan jalan-jalan setapak. Dengan demikian, maka perjalanan pedati yang diperuntukkan bagi Puteri Purnadewi-pun kadang-kadang mengalami kesulitan, sehingga Purnadewi lebih senang turun dari pedati itu dan berjalan kaki bersama dengan para pengawalnya.

Ketika langit mulai dibayangi oleh warna-warna merah, maka barulah mereka mendekati sebuah padukuhan kecil yang berada diantara bulak-bulak yang panjang, di pinggir sebatang sungai yang bertebing curam.

Sebagai seorang isteri prajurit yang melakukan pengambaraan, maka Purnadewi dapat memperhitungkan kemungkinan yang ada pada padukuhan itu. Padukuhan itu merupakan padukuhan yang terpencil, yang dapat melihat ke arah yang jauh, sementara apabila datang bahaya, maka mereka akan turun ke sungai dan mencari jalan untuk menghindarkan diri.

Purnadewi-pun kemudian diberitahu oleh pemimpin pengawalnya, bahwa Pangeran Kuda Permati berada di padukuhan itu.

“Mudah-mudahan belum ada persoalan yang memaksa Pangeran meninggalkan tempat itu,” berkata pemimpin pengawal itu, “Namun seandainya demikian, maka aku akan segera mendapat keterangan kemana arah kepergian Pangeran Kuda Permati.”

Puteri Purnadewi menjadi berdebar-debar. Jika Pangeran Kuda Permati karena sesuatu hal harus meninggalkan tempat itu, maka ia harus mencarinya lagi. Mungkin semalam, tetapi mungkin lebih dari itu, sehingga pertemuannya akan menjadi semakin tertunda-tunda, sementara persoalan didalam dirinya terasa menjadi semakin mendesak.

Tetapi ketika iring-iringan itu memasuki padukuhan dan dilihatnya para pengawal masih berkeliaran, maka Purnadewi dapat menduga bahwa Pangeran Kuda Permati tentu masih berada di padukuhan itu.

Sebenarnyalah, maka Purnadewi-pun telah dibawa ke sebuah rumah kecil di ujung padukuhan, namun berhalaman cukup luas. Puteri itu melihat penjagaan yang kuat di halaman rumah itu, dan bahkan beberapa orang berada di luar dinding halaman, sehingga dengan demikian, maka Purnadewi-pun menduga bahwa di rumah itulah Pangeran Kuda Permati tinggal.

Purnadewi yang sudah turun dari pedati telah memasuki regol halaman rumah itu. Perlahan-lahan ia melintas menuju ke pendapa yang sederhana dan kecil, sebagaimana bagian dari keseluruhan rumah yang hanya kecil pula.

“Marilah puteri,” pemimpin pengawalnya mempersilahkan.

Purnadewi-pun naik ke pendapa dengan jantung yang berdebaran. Sementara itu, pemimpin pengawal itu berkata, “Silahkan masuk. Puteri dapat beristirahat di rumah ini sebagaimana puteri berada di rumah sendiri. Rumah ini memang disediakana untuk puteri.”

Jantung Purnadewi berdentang semakin cepat. Dengan nada tinggi ia bertanya, “Tetapi dimana kakangmas Kuda Permati?”

“Pangeran Kuda Permati ada di padukuhan ini pula. Seorang diantara kami sudah memberitahukan kepada Pangeran, bahwa puteri telah tiba. Kami mohon maaf, bahwa puteri harus menempuh jalan yang berliku-liku. Tetapi kami mohon puteri dapat mengerti keadaan Pangeran Kuda Permati dan kelicikan petugas sandi Pangeran Singa Narpada dan orang-orang Singasari.

Puteri Purnadewi mengangguk kecil. Betapa-pun ia merasa kecewa, tetapi ia berusaha untuk mengerti. Apalagi menurut pemimpin pengawalnya itu, Pangeran Kuda Permati ada di padukuhan itu.

Dalam pada itu, maka Purnadewi justru telah mengisi waktunya dengan membersihkan dirinya. Mandi di pakiwan agar tubuhnya menjadi segar. Kemudian minum minuman panas yang dihidangkan serta beberapa potong makanan.

Baru kemudian, ketika matahari terbit, sekelompok pengawal terpilih telah memasuki halaman rumah itu. Purnadewi yang duduk di pendapa menjadi berdebar-debar, Dengan serta merta ia-pun telah berdiri dan sebenarnyalah ia melihat diantara iring-iringan yang datang itu adalah Pangeran Kuda Permati.

Dengan serta merta, maka puteri Purnadewi-pun telah menghambur menyongsong Pangeran Kuda Permati. Sebagaimana puteri Purnadewi, maka Pangeran Kuda Permati-pun telah ditekan oleh kerinduan yang tajam.

Sambil menangis puteri Purnadewi memeluk suaminya. Sementara itu Pangeran Kuda Permati-pun berdesis, “Sudahlah Diajeng. Kita sudah dipertemukan dalam keadaan selamat. Untuk selanjutnya, aku tidak akan meninggalkanmu lagi.”

“Kakangmas,” tangis Purnadewi, “Aku takut.”

“Aku mengerti Diajeng,” jawab Kuda Permati, “Aku sudah mendapat laporan semua peristiwa tentang dirimu. Bahkan sampai saat-saat kau mendapat kesempatan untuk lolos, karena ada beberapa petugas sandi yang dapat melakukan langkah-langkah yang diperlukan untuk membebaskanmu. Tetapi ternyata bahwa yang terjadi itu sangat meragukan aku, karena dalam jaringan petugas sandi kami yang berada di Kediri, terdapat perbedaan pengertian tentang orang-orang yang dimaksud. Tidak ada petugas sandi yang akan dapat membebaskanmu dan tiga orang perwira, kecuali diantara orang-orang Kediri yang menjadi penjilat itu terdapat orang-orang yang atas kesadaran sendiri telah berjuang bagi tegaknya Kediri.”

“O,” Purnadewi termangu-mangu, “aku kurang mengerti kakangmas.”

“Ya. Kau tentu tidak dapat membedakannya,” jawab Pangeran Kuda Permati, “Karena itu jangan pikirkan. Biarlah kami yang memikirkannya. Tetapi yang jelas, bahwa tidak ada petugas sandi yang mengikutimu untuk menemukan tempat kedudukanku yang sekarang.”

“Ya kakangmas,” jawab Purnadewi.

“Marilah,”Ajak Pangeran Kuda Permati, “Kita duduk di pendapa.”

Keduanya-pun kemudian naik ke pendapa. Beberapa orang pengawalnya-pun telah menyebar.

Dalam pada itu, dengan singkat Pangeran Kuda Permati memberitahukan kepada Purnadewi alasan-alasan apakah yang mendorongnya untuk tidak segera menemuinya. Dengan penuh pengertian Purnadewi-pun mengangguk-angguk mengiakan.

“Teka-teki yang belum terpecahkan Diajeng,” berkata Pangeran Kuda Permati, “Siapakah yang telah melepaskan Diajeng dan ketiga orang perwira yang kemudian mengawal Diajeng sampai ke tempat yang memungkinkan Diajeng berhubungan dengan orang-orangku.”

Purnadewi sama sekali tidak menjawab. Namun terlintas didalam ingatannya, sepuluh orang pengikut suaminya telah dengan kasar dan berani menghinanya. Mereka tidak percaya bahwa ia adalah Purnadewi, dan bahkan mereka berani merencanakan untuk melakukan sesuatu yang paling terkutuk. Kemudian kehadiran lima orang petani yang telah menolongnya dan membebaskannya dari kesepuluh orang itu.

Purnadewi menarik nafas dalam-dalam. Memang ada sesuatu yang dirahasiakannya terhadap suaminya.

Hari itu, kedudanya sama sekali tidak membicarakan tentang persoalan yang menyangkut perjuangan Pangeran Kuda Permati. Purnadewi-pun sama sekali tidak menyinggung kelima orang petani yang telah menolongnya, dan para pengikut suaminya yang telah kehilangan alas peradabannya. Hari itu baik Purnadewi mau-pun Pangeran Kuda Permati menempatkan dirinya sebagaimana dua orang suami isteri yang sudah lama tidak bertemu dengan mengungkapkan pengalaman-pengalaman batin yang kadang-kadang terasa aneh.

Namun Pangeran Kuda Permati adalah seorang pemimpin yang bertanggung jawab atas satu tugas yang baginya merupakan tugas yang besar, yang menyangkut masa depan Kediri. Karena itu, maka ia tidak dapat melepaskan diri terlalu lama dari tugas-tugasnya. Sehari ia berada di rumah itu bersama Purnadewi. Namun di hari berikutnya, tugas-tugasnya sudah membayanginya.

Tetapi Purnadewi-pun menyadari kedudukannya. Karena itu, maka ia tidak menghalanginya. Purnadewi sama sekali tidak menunjukkan sikap yang lain dari sikapnya ketika ia akan ditinggalkan oleh Pangeran Kuda Permati di landasan utama dari perjuangannya yang telah berhasil diketemukan oleh Pangeran Singa Narpada.

Karena itu, maka Pangeran Kuda Permati sama sekali tidak ragu-ragu lagi, bahwa tidak ada petugas lawan yang membayangi isterinya sebagai satu cara menemukan landasannya, meskipun untuk sementara.

Ternyata bahwa Pangeran Kuda Permati masih melanjutkan perjuangannya yang disangkanya akan mendatangkan satu masa kebesaran bagi Kediri sebagaimana masa-masa yang telah lampau.

Namun dalam pada itu, Purnadewi yang telah melihat sendiri cacat-cacat dari perjuangan suaminya, pengertian yang lain serta wawasan yang lebih luas, telah mempunyai satu sikap yang mapan. Dalam waktu yang dekat, maka ia-pun sempat memperhatikan dan mengamati apa yang dilakukan oleh para pengikut suaminya.

Ternyata apa yang tidak pernah diperhatikannya sebelumnya, kini dapat dilihatnya. Para pengikut suaminya bukanlah pejuang-pejuang yang murni, yang telah mengorbankan segala-galanya bagi Kediri. Tetapi mereka ternyata telah dihinggapi oleh godaan-godaan nafsu yang hitam. Ketamakan akan harta benda, akan kekuasaan dan dengki serta iri. Pelanggaran atas paugeran hubungan antara manusia sebagaimana yang selalu mereka hormati sebelumnya serta penghinaan atas martabat perempuan yang tidak berdaya.

Karena itu, maka semua rencananya justru telah menjadi semakin bulat. Ia bertekad untuk bertemu dan berbicara kepada suaminya.

Namun pada hari-hari pertama, Purnadewi masih tetap merupakan isteri yang mampu menempatkan diri dalam perjuangan Pangeran Kuda Permati. Ketika Pangeran Kuda Permati di hari berikutnya lagi kembali dengan hulu pedang yang bernoda darah, sebagaimana sering dilihatnya, sementara Pangeran itu sedang mencuci tangannya, Purnadewi sama sekali tidak mempertanyakannya.

Namun sebenarnyalah Pangeran Kuda Permati masih belum dapat memecahkan teka-teki, bagaimana mungkin Purnadewi dapat melepaskan diri bersama ketiga orang perwira yang telah tertangkap oleh pasukaan Pangeran Singa Narpada. Satu hal yang sulit dimengerti, bahwa hal itu dapat terjadi.

Hari demi hari berjalan sebagaimana kwajarannya. Namun bagi Pangeran Kuda Permati dan bagi Purnadewi, ternyata telah terjadi gejolak perasaan yang semakin lama semakin sulit untuk tetap di petahankan mengendap didalam dada mereka.

Karena itulah, maka pada satu sore, setelah Pangeran Kuda Permati membersihkan dirinya, ia telah menemui Purnadewi di ruang dalam rumah yang tidak begitu besar itu.

“Diajeng. Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan,” berkata Pangeran Kuda Permati.

Purnadewi menjadi berdebar-debar. Tetapi ia memang menunggu saat yang demikian. Purnadewi memang ingin mendapat kesempatan untuk berbicara dengan Pangeran Kuda Permati.

Sejenak Purnadewi berusaha untuk menguasai perasaannya. Kemudian dengan tenang ia-pun duduk berhadapan dengan Pangeran Kuda Permati. Demikian cermatnya Purnadewi menguasai dirinya, maka Pangeran Kuda Permati telah menjadi ragu-ragu.

Bersambung.....!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...