Senin, 28 Desember 2020

HIJAUNYA LEMBAH HIJAUNYA LERENG PEGUNUNGAN JILID 020-02

*HIJAUNYA LEMBAH.  JILID 020-02*

Tetapi akhirnya Pangeran Kuda Permati itu-pun berkata, “Diajeng. Ada sesuatu yang ingin aku beritahukan kepadamu. Aku telah berbicara langsung dengan ketiga orang perwira yang mengawalmu sampai ke tempat yang telah aku tentukan untuk mengirimkan pasukan menjemputmu.”

Purnadewi menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian, “Syukurlah. Dengan demikian kakangmas akan mendapat gambaran perjalanan yang telah aku tempuh untuk menemukan kakangmas.”

“Ya Diajeng. Aku tahu, bahwa kau telah menempuh satu perjalanan yang sangat berat bersama ketiga orang perwira itu. Ketiga perwira itu ternyata merupakan tiga orang pewira yang sangat setia. Yang bersedia mempertaruhkan nyawanya bagi keselamatanmu,” berkata Pangeran Kuda Permati.

“Ya,” jawab Purnadewi, “Mereka berbuat apa saja bagi keselamatanku.”

“Juga ketika kau bertemu dengan sepuluh orang pengikutku yang tidak percaya, bahwa kau adalah puteri Purnadewi, isteri Pangeran Kuda Permati.”

Sesuatu berdesir di hati Purnadewi. Tetapi dengan cepat ia berhasil menguasainya. Sambil mengaguk-angguk ia menjawab, “Benar kakangmas. Ketiga orang itu telah mempertaruhkan nyawanya. Karena itu, aku pernah minta kepada pemimpin pengawal agar ketiganya diperkenankan untuk ikut bersamaku.”

“Sayang sekali,” berkata Pangeran Kuda Permati, “permintaanmu itu tidak diijinkannya.”

Purnadewi menarik nafas dalam-dalam. Agaknya waktunya memang sudah tiba untuk mengatakan sesuatu kepada Pangeran Kuda Permati. Namun demikian Purnadewi masih menunggu waktu yang paling tepat untuk memulainya.

“Diajeng. Katakan, apakah yang dikehendaki oleh orang-orang Kediri yang telah membebaskanmu dan mengantarmu kepadaku? Semula aku mengira bahwa mereka ingin mengikutimu dan menemukan tempat persembunyianku. Tetapi aku salah. Tidak seorang-pun yang mengikutimu untuk seterusnya. Ketika mereka yakin bahwa kau selamat menembus daerah perbatasan, maka mereka telah meninggalkanmu.”

Purnadewi mengerutkan keningnya. Namun kemudian katanya, “Memang ada sesuatu yang aneh. Lima orang petani yang muncul, membantu kami, kemudian menghilang begitu saja tanpa memberikan pesan apa-pun juga.”

Pangeran Kuda Permati itu-pun kemudian berjalan mondar-mandir didalam ruangan itu. Katanya, “Memang sulit untuk menjawab teka-teki itu. Apalagi aku tidak melihat sendiri apa yang terjadi. Tetapi yang dapat aku lakukan adalah mengurai peristiwa itu dan mengambil satu kesimpulan. Memang kesimpulan itu dapat salah, tetapi juga dapat benar.”

Wajah Purnadewi menjadi tegang. Tetapi ia-pun kemudian mendengarkan suaminya berkata, “Diajeng Purnadewi. Dengar, kelima orang itu adalah orang-orang Kediri yang menjadi penjilat kaki orang-orang Singasari. Orang-orang Kediri yang demikian pulalah yang telah membebaskanmu. Sama sekali bukan orang-orangku. Meskipun ada satu dua petugas sandi kita yang berada diantara orang-orang Kediri yang sedang terbius oleh ketamakan itu, tetapi mereka tidak akan mampu membebaskanmu dan apalagi membebaskan ketiga orang perwira itu.”

“Jadi menurut kakangmas?” bertanya Purnadewi.

“Kau dan ketiga orang perwira itu memang sengaja telah dilepaskan oleh orang-orang Kediri. Ketiga orang itu diperlukan untuk mengawalmu sampai saatnya kau bertemu dengan pasukanku yang sebenarnya. Sebelum mereka yakin bahwa kau akan selamat sampai kepadaku, maka lima orang dengan ilmu sependapat …?” bertanya Pangeran Kuda Permati.

“Sependapat tentang apa?” bertanya Purnadewi.

“Bahkan kehadiranmu disini justru sudah diatur oleh orang-orang Kediri. Dan agaknya orang-orang Kediri yang membiarkan dirinya diperbudak oleh orang-orang Singasari itu berhasil,” jawab Pangeran Kuda Permati.

“O,” wajah Purnadewi menjadi tegang, “Jika demikian apakah kakangmas menjadi kecewa dan menyesal, bahwa aku telah berada disini?”

Pengeran Kuda Permati menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya, “jangan salah mengerti. Aku sama sekali tidak menyesal bahwa kau telah kembali kepadaku. Tetapi yang harus aku perhatikan adalah caramu untuk kembali.”

“Siapa-pun yang menolongku untuk kembali,” berkata Purnadewi, “Apakah ada bedanya?”

“Tentu Diajeng,” wajah Pangeran Kuda Permati menjadi buram, “yang paling baik bagiku adalah bahwa kau tidak tertangkap oleh Pengeran Singa Narpada, sehingga tidak menumbuhkan masalah seperti sekarang ini.”

“Masalah apa?” bertanya Purnadewi.

Pengeran Kuda Permati termangu-mangu sejenak. Namun nampaknya Pangeran Kuda Permati telah menghentakkan perasaannya untuk mendapatkan kekuatan jiwani.

Katanya kemudian dengan suara yang menghentak-hentak.

Wajah Purnadewi benar-benar menjadi tegang. Tetapi dibiarkannya Pangeran Kuda Permati berkata selanjutnya, “dengan demikian, maka mereka tidak mempergunakan untuk menemukan tempatku sekarang ini. Tetapi bukan berarti bahwa kau telah dilepaskan begitu saja bersama dengan ketiga orang perwiraku yang setia itu. Tetapi nampaknya ketiga orang itu benar-benar tidak mengerti apa yang mereka hadapi sebenarnya. Tetapi, aku kira kau berbeda dengan mereka.”

Namun dalam pada itu Pangeran Kuda Permati-pun melanjutkan, “Tetapi Diajeng. Memang ada satu teka-teki yang sulit untuk dijawab dalam perjalananmu. Ketika kau bertemu dengan sepuluh orang yang tidak percaya bahwa kau adalah isteriku, maka kau telah mendapat pertolongan dari lima orang dalam pakaian petani. Lima orang yang memiliki ilmu yang tinggi. Nah, apa katamu tentang para petani itu?”

Pengeran Kuda Permati berhenti sejenak. Dipandanginya wajah isterinya yang tegang. Memang ada sesuatu yang rasa-rasanya menahan kata-katanya. Tetapi ternyata Senapati tertinggi dari satu kelompok yang besar, yang mewakili salah satu sikap orang-orang Kediri itu berkata, “Diajeng. Sebaiknya kita saling berterus terang. Pesan apakah yang sampaikan kepadaku dari kakangmas Pangeran Singa Narpada?”

Wajah puteri Purnadewi itu menjadi semakin tegang. Ia tidak akan dapat ingkar lagi. Ternyata ketajaman penggraita Pangeran Kuda Permati berhasil melihat apa yang sebenarnya telah terjadi dengan dirinya.

Tetapi Purnadewi memang sudah bersiap untuk mengatakannya. Ia tidak akan menyimpan rahasia itu untuk seterusnya. Ia datang menemui suaminya, dengan tujuan tertentu. Bukan saja pesan Pangeran Singa Narpada, tetapi ketika ia telah melihat dan menghayati sendiri peperangan yang membakar Kediri, maka ia-pun ingin menyampaikan isi hatinya sendiri.

Namun untuk sesaat Purnadewi masih tetap berdiam diri. Memang masih terasa keragu-raguan mengekangnya. Namun ia berusaha untuk mengatasinya jika saatnya tiba.

Sementara itu Pangeran Kuda Permati telah mendesaknya pula, “Katakan Diajeng. Jangan ragu-ragu. Bukankah pesan itu dapat diterima dan dapat pula tidak diterima? Karena itu, kau tidak usah merasa terlalu bersalah untuk menyampaikan pesan itu.”

Purnadewi menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Baiklah kakangmas. Memang ada pesan dari kakangmas Singa Narpada yang ingin aku sampaikan kepada kakangmas. Sebenarnyalah aku memang dikirim oleh kakangmas Singa Narpada sebagaimana dugaan kakangmas.”

Pangeran Kuda Permati mengangguk-angguk. Katanya, “Kakangmas Singa Narpada memang seorang yang sangat cerdik. Ia mempunyai seribu cara didalam peperangan. Ia dapat sekejam serigala lapar menghadapi mangsanya, tetapi ia dapat mempergunakan cara selembut cara yang dipergunakannya sekarang.”

“Ya,” jawab Purnadewi, “pasukan kakangmas Singa Narpada di medan perang membantai lawannya tanpa ampun, sebagaimana prajurit-prajuritnya dibantai oleh lawan-lawannya.”

Pangeran Kuda Permati mengerutkan keningnya. Namun kemudian katanya, “Itulah gambaran dari peperangan.”

“Aku sudah melihatnya sendiri kakangmas,” berkata Purnadewi, “Ketika landasan Utama kakangmas Kuda Permati pecah oleh serangan pasukan kakangmas Singa Narpada, aku melihat kekejaman dari peperangan itu sendiri. Seandainya aku bukan adik sepupu kakangmas Singa Narpada, mungkin nasibku sudah lain.”

“Tidak,” jawab Kuda Permati, “Bukan karena kau adik sepupunya. Meskipun kau adik sepupunya, tetapi jika kau tidak akan dapat dipergunakan, maka kau tentu sudah menjadi korbannya pula.”

Purnadewi merenung sejenak. Lalu jawabnya, “Mungkin juga kakangmas. Mungkin pada saat itu, kakangmas Singa Narpada menemukan satu cara unatuk mempergunakan aku menyampaikan pesan kepada kakangmas Kuda Permati.”

“Dan ternyata ia telah melakukannya,” berkata Pangeran Kuda Permati.

“Ya. Aku telah mendapat pesan itu,” berkata Purnadewi kemudian.

“Karena itu, katakanlah,” desak Pangeran Kuda Permati.

Purnadewi menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian. “Kakangmas. Sebagaimana kakangmas dapat menebak, bahwa aku memang telah dikirim untuk menyampaikan satu pesan, agaknya kakangmas juga dapat menebak pesan apakah yang aku bawa itu.”

“Mungkin aku dapat menduganya Diajeng,” jawab Pangeran Kuda Permati, “Mungkin kakangmas Singa Narpada mengira bahwa kau adalah orang yang paling berpengaruh atasku, sehingga ia berpesan, agar aku menyerah saja.”

“Hampir tepat kakangmas,” jawab puteri Purnadewi, “Kakangmas Singa Narpada memang menginginkan kakangmas menghentikan peperangan.”

“Dan bukankah kau sudah tahu jawabnya?” bertanya Pangeran Kuda Permati. “Kau sudah mengenal aku dengan baik. Kau-pun mengerti landasan perjuanganku, sehingga kau tentu dapat mengerti pula tanggapanku atas tawaran kakangmas Singa Narpada itu.”

“Aku mengerti kakangmas. Kakangmas tidak akan mau mendengarkannya. Kakangmas tentu menanggapi permintaan kakangmas Singa Narpada itu sebagai satu lelucon saja. Kita telah terjerumus kedalam satu peperangan yang dapat disebut perang yang besar dan meliputi daerah yang luas. Karena pesan yang demikian sederhana ini tidak akan berpengaruh sama sekali,” jawab Purnadewi.

Pangeran Kuda Permati menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kau benar Diajeng. Pesan itu tidak ada harganya sama sekali bagiku. Dengan demikian aku pantas mengucapkan terima kasih kepada kakangmas Singa Narpada yang telah mengirimkan kau kembali kepadaku. Sementara itu, kita dapat mengabaikan pesan-pesannya yang tidak berarti sama sekali. Sebenarnya kakangmas Singa Narpada sudah harus dapat memperhitungkan bahwa pesannya tidak akan memberikan kesan apa-pun kepadaku meskipun yang menyampaikan isteriku sendiri.”

“Ya kakangmas,” jawab Purnadewi, “Tetapi agaknya kakangmas Singa Narpada memang sudah menduganya. Karena itu tidak begitu mengharap bahwa pesannya akan berpengaruh. Ia justru lebih banyak berbuat dengan pasukannya. Ia telah memanggil lagi anak-anak muda yang dipersiapkan oleh Panji Sempana Murti untuk menjadi prajurit dengan latihan-latihan khusus.”

“Persetan,” geram Kuda Permati, “Meskipun kakangmas Singa Narpada memanggil semua laki-laki penjilat di seluruh Kediri, tetapi ia tidak akan dapat mencegah usaha kita untuk membebaskan Kediri dari tangan orang-orang Singasari yang tamak.”

“Tetapi apakah kakangmas Kuda Permati tidak memperhitungkan kemungkinan-kemungkinan lain yang dapat terjadi?” bertanya puteri Purnadewi kemudian.

“Kemungkinan yang mana?” Pangeran Kuda Permati justru ganti bertanya.

“Kakangmas,” desis Purnadewi, “Semakin lama pertempuran ini berlangsung, maka korban-pun akan menjadi semakin banyak.”

Pertanyaan yang tidak diduga-duga oleh puteri Purnadewi itu telah membuat jantung Pangeran Kuda Permati bagaikan berhenti berdetak. Ia sama sekali tidak mengira bahwa akhirnya Purnadewi sampai pada pendapat yang demikian.

Karena itu, maka dengan wajah yang kemerah-merahan Pangeran Kuda Permati menjawab dengan suara yang bergetar, “Diajeng. Sungguh betapa dungunya aku di hadapan Pangeran Singa Narpada. Aku mengira bahwa aku akan mendapatkan kemenangan didalam perang yang aneh ini. Aku kira, aku akan dapat menyampaikan pernyataan terima kasih kepada kakangmas Singa Narpada karena ia sudah mengirimkan kau kepadaku dengan sikap yang bodoh. Aku kira kakangmas Singa Narpada hanya sekedar mengirimkan pesan kepadamu karena kau dianggap berpengaruh kepadaku. Ketika kau menyampaikan pesan itu, maka kau merasa bahwa aku telah mencapai satu kemenangan. Betapa bodohnya kakangmas Singa Narpada yang telah melepaskanmu dan mendorongmu kembali kepadaku dengan cerdik bersama tiga orang perwira yang diperlukannya untuk mengawalmu di perjalanan, hanya sekedar untuk menyampaikan pesan itu. Aku kira bahwa kakangmas Singa Narpada demikian yakin akan pengaruhmu atas diriku, sehingga pesanmu akan dapat aku terima, setidak-tidaknya aku pikirkan. Tetapi aku sama sekali tidak menghiraukannya. Dan aku menganggap bahwa perang telah selesai dan aku mendapatkan kemenangan mutlak.” Pangeran Kuda Permati berhenti sejenak, lalu, “Tetapi ternyata tidak. Pesan kakangmas Singa Narpada bukan pesan yang diharapkan akan aku dengarkan. Tetapi ia telah membentukmu menjadi seorang yang lain. Kau bukan sekedar membawa pesan. Tetapi kakangmas Singa Narpada sudah berhasil merubah sikapmu. Secara jiwani kakangmas Singa Narpada telah menjadikan kau orang lain. Dan kau yang lain itulah yang akan mempengaruhi aku. Bukan sekedar pesan orang yang mengirimkan kau kemari.”

Wajah puteri Purnadewi memang menjadi tegang. Tetapi seakan-akan ia sudah siap menghadapi kemungkinan itu. Pengalamannya yang pendek pada saat terakhir, sejak ia diambil oleh Pangeran Singa Narpada dari alas utama perjuangan Pangeran Kuda Permati sampai ia kembali kepada suaminya, telah menempa jiwanya, sehingga ia sudah siap menghadapi persoalan-persoalan yang akan timbul kemudian.

Sebenarnyalah puteri Purnadewi secara jiwani telah berubah.

Karena itu, maka jawabnya, “Kakangmas. Aku mohon maaf. Tetapi perkenankanlah aku menyampaikan satu pendapat yang barangkali ada gunanya kakangmas dengarkan.”

“Tidak ada gunanya Diajeng,” jawab Pangeran Kuda Permati, “Jika kau sekarang sudah berubah, maka kau harus menyadari, bahwa aku adalah Kuda Permati yang dahulu. Kuda Permati yang tidak akan pernah berubah.”

“Justru karena itu kakangmas,” berkata puteri Purnadewi, “Justru karena kakangmas adalah seorang kesatria. Seorang yang lebih mementingkan kepentingan rakyat banyak daripada kepentingan diri sendiri.”

Wajah Pangeran Kuda Permati menjadi semakin tegang, sementara Purnadewi berkata lebih lanjut, “Kakangmas, dengan demikian, maka aku mengharap bahwa kakang mas Kuda Permati untuk selanjutnya tetap memperhatikan keadaan rakyat kecil yang tidak banyak tahu menahu tentang peperangan ini.”

“Cukup Diajeng,” potong Pangeran Kuda Permati, “Kau tidak usah mengajari aku tentang apa-pun juga. Aku mempunyai sikap yang matang, sehingga aku akan dapat mengetrapkannya sesuai dengan kepentingan yang tentu sudah aku pertimbangkan masak-masak.”

Purnadewi menarik nafas dalam-dalam. Kemudian dengan nada lembut ia berkata, “jadi kakangmas tidak mau lagi mendengarkan kata-kataku.”

“Aku sudah dapat membaca, apa yang akan kau katakan,” jawab Pangeran Kuda Permati.

“Mungkin kakangmas, tetapi jika aku yang mengucapkannya, maka kesannya akan dapat berbeda, karena aku melihat sendiri apa yang terjadi, dan bahwa aku-pun mengalami perlakuan yang sangat pahit sebagai akibat peperangan. Namun ternyata bahwa berpuluh-puluh, beratus ratus bahkan beribu-ribu orang yang mengalami keadaan lebih parah dari yang aku alami akibat dari peperangan ini. Apakah kita, orang-orang yang kebetulan berperanan didalam kemungkinan-kemungkinan terjadinya satu perubahan tidak merasa perlu untuk menghiraukannya,” berkata Purnadewi.

“Kenapa hal itu tidak kau sampaikan kepada kakang-mas Singa Narpada agar ia menghentikan pembantaian yang dilakukannya tanpa ampun?” bertanya Pangeran Kuda Permati.

“Aku sudah menyampaikan kepadanya. Tetapi pasukan kakangmas Singa Narpada-pun mengalami pembantaian tanpa ampun,” jawab Purnadewi, “Tetapi itu tidak terlalu menyakitkan hati. Yang lebih parah adalah pembantaian terhadap orang-orang yang tidak tahu menahu sama sekali tentang pertempuran ini. Orang yang tidak tahu akan cita-cita kakangmas Kuda Permati yang ingin membebaskan diri dari kesatuan Singasari dan berdiri sendiri bahkan kemudian menguasai Singasari dan tidak pula mengerti, tugas kakangmas Singa Narpada untuk mempertahankan kedudukan Kediri seperti sekarang ini.”

“Diajeng,” potong Pangeran Kuda Permati, “istilah yang kau pergunakan-pun telah berbeda. Inilah puteri Purnadewi yang sekarang, setelah ditangkap oleh Pangeran Singa Narpada dan kemudian dilepaskannya lagi?”

Wajah Purnadewi menjadi semakin tegang. Dipandanginya wajah suaminya dengan tajamnya. Kemudian dengan nada ragu ia bertanya, “Apa yang berubah kakangmas.”

“Sejak kapan kau menyebut negeri ini sebagai bagian dari Kesatuan Singasari yang besar?” bertanya Pangeran Kuda Permati, “Tentu kakangmas Singa Narpada yang mengajarimu. Yang mengatakan, bahwa Kediri merupakan satu bagian dari kesatuan Singasari itu, yang mempunyai wewenang mengurus dirinya sendiri. Sehingga dengan demikian, maka Kediri merupakan anggauta dari sebuah keluarga besar yang duduk dalam tataran yang sama, yang diembani oleh Sri Maharaja di Singasari yang Besar, Yang Bijaksana, Yang penuh Kasih Sayang terhadap rakyatnya, dan sebutan-sebutan apalagi yang dapat diucapkan untuk menjilat kaki orang-orang Singasari.”

“Kakangmas,” potong Purnadewi dengan suara melengking, “Kakangmas melihat persoalan ini dari satu sisi, sebagaimana yang pernah aku lihat dahulu. Tetapi kemudian aku sempat melihat dari sisi yang lain, yang dapat aku jadikan bahan perbandingan antara kedua sisi penglihatanku itu.”

“Begitukah menurut kakangmas Singa Narpada?” bertanya Pangeran Kuda Permati dengan suara yang berat.

“Kakangmas Singa Narpada tidak mengatakan demikian, kakangmas,” jawab puteri Purnadewi, “Kakangmas Singa Narpada hanya memberi kesempatan kepadaku untuk melihat sisi yang lain yang belum pernah aku lihat.”

“Tetapi sebelumnya kau tidak pernah mengatakan tentang satu Kesatuan dari Singasari yang besar, yang didalamnya terkandung Kediri dan daerah-daerah lainnya di wilayah yang sekarang disebut Singasari. Coba kau lihat, jika kita menyetujui istilah itu, maka Kediri merupakan bagian kecil dari yang disebut Singasari sebagai beberapa Pakuwon yang dahulu merupakan daerah Kediri. Wewenang dan haknya tidak lebih dari satu kerajaan yang berada dibawah pengaruh kekuatan Maharaja di Singasari, apa-pun yang dikatakan oleh orang-orang Singasari untuk sekedar menyenangkan hatiku, hatimu dan hati orang-orang Kediri yang lemah,” jawab Pangeran Kuda Permati.

Purnadewi memandang Pangeran Kuda Permati dengan tajamnya. Ia tidak menunduk sebagai dilakukannya pada saat-saat lampau jika Pangeran Kuda Permati bersikap agak keras kepadanya. Tetapi saat itu Purnadewi justru berkata, “Kakangmas. Marilah kita berpikir bening. Jangan tenggelam kedalam arus perasaan yang tidak berujung pangkal. Biasanya seorang perempuanlah yang tidak mampu mempergunakan nalarnya. Tetapi sekarang, ternyata sikapku benar-benar dipengaruhi oleh nalar dalam keseimbangannya dengan perasaan.”

“Omong kosong,” teriak Pangeran Kuda Permati, “omong kosong. He, begitukah kakangmas Singa Narpada mengajarimu, atau kau sudah tidak waras lagi sekarang?”

Purnadewi menarik nafas dalam-dalam. Ia mengenal suaminya dengan baik, sehingga ia tahu, bahwa suaminya telah menjadi benar-benar marah.

Tetapi pengalamannya telah menempanya, sehingga Purnadewi tidak menjadi gemetar karenanya.

“Diajeng,” berkata Pangeran Kuda Permati dengan suara geram, “Sebaiknya kau tidak usah ikut berbicara tentang sikapku menghadapi Singasari. Apa-pun yang aku lakukan, biarlah aku lakukan. Pada saatnya kau akan ikut menikmati hasil dari perjuanganku.”

“Ampun kakangmas,” jawab Purnadewi, “Aku tidak akan dapat berdiam diri menghadapi keadaan yang semakin parah ini.”

“Apa pedulimu,” bentak Pangeran Kuda Permati.

“Kakangmas,” berkata Purnadewi kemudian, “Setiap hari kematian akan bertambah-tambah, sementara aku sama sekali tidak berbuat apa-apa bagi Kediri yang sama-sama kita cintai ini. Tetapi cintaku kepada Kediri bukannya beralaskan kepada kepentingan diriku pribadi. Kepada kepuasan diri atau cita-cita pribadi, tetapi aku mencintai Kediri sebagai satu kenyataan yang aku hadapi di setiap hari. Kematian, tangis, dan kepahitan hidup yang menyayat tanpa ada henti-hentinya.”

“Itu adalah korban dari sebuah perjuangan,” teriak Pangeran Kuda Permati, “Semakin besar cita-cita perjuangan, maka pengorbanan-pun akan menjadi semakin besar.”

“Perjuangan apa?” bertanya Purnadewi, “perjuangan bagi kepentingan siapa? Mereka yang menjadi korban sama sekali tidak merasa bahwa mereka sedang berjuang untuk satu cita-cita. Mereka sama sekali tidak mengerti, untuk apa sebenarnya perang itu terjadi.”

“Cukup,” bentak Pangeran Kuda Permati, “Aku tidak akan mendengarkan kata-katamu. Biarlah kau tetap berada disini atau jika kau ingin kembali kepada kakangmas Singa Narpada. Tetapi kau jangan menjadi racun bagiku. Selama ini kau merupakan satu dorongan yang tidak ternilai bagi perjuanganku. Aku menjadi semakin bergairah dalam perjuangan ini karena doronganmu. Namun kini kau sudah berubah. Meskipun demikian aku tidak akan bergeser sama sekali dari arah yang telah aku yakini.”

Purnadewi masih akan menjawab, tetapi Pangeran Kuda Permati telah berkata, “Kau mendapat kesempatan untuk merenungi kata-kataku. Pada saatnya aku akan bertanya kepadamu, apakah kau masih mengerti arti dari perjuangan ini, atau sebaliknya.”

Purnadewi sama sekali tidak mendapat kesempatan untuk menjawab. Pangeran Kuda Permati tidak menunggunya. Dengan wajah yang garang dan jantung yang berdegup semakin cepat, Pangeran Kuda Permati meninggalkan rumah itu.

Beberapa orang yang memang ditempatkan sebagai pengawal Purnadewi itu termangu-mangu. Mereka tidak tahu pasti, apa yang terjadi. Tetapi mereka mendengar perselisihan yang telah terjadi antara Pangeran Kuda Permati dengan isterinya. Satu peristiwa yang jarang sekali terjadi.

Apalagi ketika Pangeran Kuda Permati pada saat meninggalkan rumah itu berpesan kepada pemimpin pengawal khusus yang menjaga rumah itu, “Hati-hati. Amati. Jangan ada orang yang berhubungan dengan Purnadewi dan apalagi Purnadewi jangan sampai meninggalkan halaman rumah ini. Kalian bertanggungjawab jika terjadi sesuatu atasnya.”

Pemimpin pengawal itu tidak sempat menjawab. Ia tidak tahu maksud Pangeran Kuda Permati. Tetapi ia tidak dapat berbuat lain kecuali melakukan perintah itu.

“Tidak boleh ada orang yang berhubungan dengan puteri dan puteri-pun tidak boleh keluar dari halaman ini,” pemimpin pengawal itu memberikan perintah pula kepada para pengawal yang lain.

Berbagai pertanyaan telah timbul diantara para pengawal tentang puteri Purnadewi. Perselisihan yang terjadi dengan Pangeran Kuda Permati apalagi tidak jelas persoalannya bagi mereka, telah membuat mereka bertanya-tanya.

Dalam pada itu, sepeninggal Pangeran Kuda Permati, maka Purnadewi-pun telah berlari masuk kedalam biliknya. Dijatuhkannya dirinya tertelungkup di pembaringannya. Rasa-rasanya tugas yang diembannya telah gagal sama sekali. Ia tidak mendapat cukup kesempatan untuk menjelaskan. Apalagi meyakinkan Pangeran Kuda Permati.

Namun puteri Purnadewi-pun mengerti sepenuhnya sifat dan watak Pangeran Kuda Permati. Apalagi perjuangannya itu-pun telah dirintisnya untuk waktu yang lama. Ia tidak tiba-tiba saja mengumpulkan para prajurit dan mengajak mereka untuk berontak. Tetapi Pangeran Kuda Permati telah menempuh jalan yang agak panjang. Ia telah menempa secara jiwani beberapa orang pemimpin prajurit untuk bersamanya melakukan perlawanan terhadap Singasari. Karena itulah, maka dalam keadaan yang bagaimana-pun juga, para pengikut Pangeran Kuda Permati pada umumnya adalah orang-orang setia, yakin akan kebenaran perjuangannya dan berani.

Meskipun demikian dalam perkembangan selanjutnya telah timbul akibat-akibat buruk yang mempengaruhi sikap jiwani yang sekuat baja itu. Kegersangan, kesendirian tanpa anak dan isteri, kekejaman dan perjalanan yang seakan-akan tidak pernah berakhir. Bahkan kadang-kadang haus dan lapar serta pengalaman-pengalaman yang lain, telah menggeser sikap mereka dari sikap seorang pejuang menjadi orang-orang yang ganas dan garang. Bahkan tujuan perjuangan mereka semakin lama menjadi semakin kabur dibayangi oleh sifat-sifat yang justru bertentangan dengan dasar perjuangan mereka sendiri.

Apa yang dilihat dan dialami oleh puteri Purnadewi sama sekali tidak mencerminkan satu pengalaman yang mengharukan tentang seorang pahlawan yang berjuang, tetapi rasa-rasanya yang dialaminya tidak lebih dari berada diantara segerombolan penyamun dan perampok. Yang merampas milik orang lain, membunuh dan bahkan berbuat kasar yang lain yang jauh lebih rendah dari martabat yang seharusnya bagi seorang pejuang.

“Tetapi masih ada kesempatan,” berkata Purnadewi kepada dirinya sendiri. “Ia harus berbuat dengan sabar. Bukankah pada suatu saat Pangeran Kuda Permati akan datang lagi kepadanya?”

Sebagaimana kerasnya sikap Pangeran Kuda Permati, maka Purnadewi-pun harus sadar, bahwa ia tidak boleh berputus asa. Betapa kerasnya batu karang, tetapi titik-titik air akan dapat melubanginya.

Dengan demikian, maka Purnadewi-pun masih berpengharapan. Ia tidak boleh dengan cepat menjadi putus asa.

Sementara itu Pangeran Kuda Permati telah berada kembali diantara para Senopatinya. Kemarahannya kepada isterinya, masih nampak terkesan di wajahnya. Bahkan kemudian Pangeran Kuda Permati telah memerintahkan para Senopatinya untuk meningkatkan pengawasan.

“Sikap kita tidak boleh mengendor,” berkata Pangeran Kuda Permati, “Dalam beberapa waktu yang tidak terlalu lama, aku akan menyerang Kota Raja dari beberapa penjuru. Aku ingin mengatakan kepada kakangmas Singa Narpada, bahwa usahanya dengan mempengaruhi Purnadewi sama sekali tidak berarti apa-apa.”

Para Senopati itu-pun kemudian mendapat gambaran, apa yang sebenarnya telah terjadi. Pemimpin pengawal di rumah yang didiami oleh Purnadewi-pun kemudian mengerti juga, bagaimana sikap Purnadewi itu kemudian, sehingga Pangeran Kuda Permati telah mengambil sikap yang tegas terhadapnya, meskipun ia adalah isterinya.

Dengan demikian, maka para pengawal di rumah yang didiami oleh Purnadewi itu-pun berusaha dengan sungguh-sungguh untuk dapat melakukan tugas mereka dengan sebaik-baiknya, karena sedikit saja kesalahan yang mereka lakukan, mungkin akan dapat menimbulkan akibat yang tidak dikehendaki. Bukan saja atas mereka, tetapi atas lingkungan yang lebih luas.

Ternyata bahwa Purnadewi-pun menyadari sikap suaminya. Ia melihat para pengawal yang hilir mudik dihalaman. Siang dan malam. Tidak seorang-pun yang pernah memasuki halaman rumah itu kecuali para pembantu yang telah mendapat kepercayaan untuk melayani Purnadewi di rumah itu. Juru patehan, juru taman, juru madaran, juru panebah dan beberapa orang tertentu lainnya.

Namun Purnadewi tidak berputus-asa. Ia masih menunggu kesempatan. Ia yakin bahwa pada satu saat, suaminya tentu masih akan datang mengunjunginya. Ia tidak akan menjadi jemu untuk mengatakan, bahwa saatnya pembantaian harus dihentikan.

Tetapi sebelum Pangeran Kuda Permati datang kerumah itu, maka telah terjadi sesuatu yang mengejutkan bagi Puteri Purnadewi. Di tengah malam buta ia telah dibangunkan oleh para pengawal. Dengan tergesa-gesa pemimpin pengawal itu berkata, “Puteri, mohon maaf. Malam ini juga puteri diminta untuk meninggalkan tempat ini.”

“Kenapa?” bertanya puteri Purnadewi.

“Orang-orang Kediri yang menjadi penjilat itu agaknya dapat mencium kegiatan kami dan oleh para pengkhianat mereka agaknya telah mendapat petunjuk tentang padukuhan ini,” jawab pemimpin pengawal itu.

Purnadewi tidak dapat membantah. Jika demikian, maka ia memang harus pergi. Ia tidak mau tertangkap lagi sebelum ia sempat berbicara lebih panjang dengan suaminya.

Karena itu, maka Purnadewi-pun segera berbenah diri. Namun ia masih sempat bertanya, “Dimana kakangmas Kuda Permati sekarang?”

“Di bagian lain dari pertahanan kita telah terjadi pertempuran sejak lewat senja. Pangeran Kuda Permati memimpin sendiri para prajurit untuk melawan pasukan yang besar dari Kediri. Yang agaknya tidak lagi berpegang pada paugeran perang yang hanya dapat terjadi di siang hari. Tetapi mereka dengan sengaja menyerang, mungkin mereka bermaksud menyergap kita,” berkata pemimpin pengawal itu, “Tetapi usaha mereka tentu akan sia-sia.”

“Jadi kemana aku harus pergi?” bertanya Purnadewi.

“Pangeran Kuda Permati telah memberikan perintah terperinci. Kita akan menuju ke sebuah padukuhan yang sudah ditentukan oleh Pangeran Kuda Permati,” jawab Purnadewi.

Namun puteri Purnadewi menjadi berdebar-debar pula. Mungkin orang-orang Kediri berhasil menemukan tempat itu, karena ada diantara mereka yang sempat mengikutinya dan melihat arah kepergiannya.

“Tetapi tidak,” Katanya, “Segala pihak waktu itu telah meyakinkan, bahwa tidak ada seorang-pun yang mengikuti perjalananku. Memang masuk akal bahwa kelima orang petani itu adalah orang-orang kakangmas Pangeran Singa Narpada yang mendapat tugas untuk menyelamatkan perjalananku, sampai mereka yakin aku akan dapat sampai kepada kakangmas Kuda Permati karena mereka-pun berkepentingan sekali dengan perjalananku. Tetapi setelah itu, tidak ada orang lain yang akan dapat menembus jebakan kakangmas Kuda Permati.”

Demikianlah, di malam yang gelap Purnadewi dikawal oleh sekelompok prajurit pilihan telah menyusuri jalan-jalan kecil berpindah dari satu padukuhan ke padukuhan yang telah di tentukan. Perjalanan di malam hari melewati jalan-jalan yang sempit bukan satu perjalanan yang mudah, sebagaimana ia meninggalkan Kota Raja.

Beberapa orang pengawal berjalan di depannya, selebihnya berjalan di belakangnya. Dua orang diantara mereka telah mendahului untuk mengamati apakah jalan yang akan mereka lalui aman, karena dalam keadaan yang rumit itu, disetiap tempat akan dapat mereka temui kawan dan mungkin juga lawan.

Namun ternyata bahwa beberapa puluh langkah dari sebuah padukuhan yang nampak di hadapan mereka, meskipun jalan yang mereka lalui tidak akan menembus padukuhan itu, terdapat sesuatu yang mencurigakan. Dua orang yang berjalan mendahului kelompok itu telah memberikan laporan tentang sesuatu yang mencurigakan, sepasukan yang cukup kuat.

“Jika demikian, kita turun ke sungai,” berkata pemimpin pengawal itu.

Kedua orang itu sependapat. Mereka harus menghindar, karena menurut pengamatan mereka, jumlah pasukan itu jauh lebih kuat dari pada pengawal.

Purnadewi sama sekali tidak mengeluh ketika mereka harus menuruni tebing sungai yang sulit. Bagaimana-pun juga jiwanya sudah ditempa untuk mengalami satu peristiwa yang betapa-pun beratnya.

Meskipun demikian Purnadewi mengalami sedikit kesulitan, sehingga dua orang pengawal terpaksa menolongnya.

Belum lagi mereka menyusuri tepian sungai sampai seratus langkah, maka mereka telah mendapat perintah untuk berhenti.

“Cepat, melekat tebing,” perintah itu menjalar dari mulut kemulut.

Dengan cepat, para pengawal itu-pun telah melekat tebing. Yang sempat mencari perlindungan pada pohon-pohon perdu telah berusaha untuk membayangi dirinya dengan rimbunnya daun perdu yang tumbuh di lereng itu.

Dalam pada itu, puteri Purnadewi-pun telah berjongkok pula dibawah sebuah semak-semak, dibayangi oleh seorang pengawal di belakangnya.

Untuk beberapa saat orang-orang itu berusaha untuk tidak menarik perhatian dengan berdiam diri bagaikan membeku.

Sebenarnyalah sejenak kemudian, sebuah iring-iringan telah lewat diatas tebing. Sepasukan prajurit Kediri yang jumlahnya jauh lebih banyak dari para pengawal Purnadewi, sehingga jika para pengawal itu berusaha untuk bertemu dalam kancah pertempuran, maka mereka tidak akan dapat menang.

Karena itu, maka para pengawal lebih baik berusaha untuk menghindar. Kecuali jika mereka bertemu dan dalam keadaan memaksa, maka mereka memang harus berusaha melindungi puteri Purnadewi dengan mempertaruhkan nyawa mereka.

Tetapi agaknya para prajurit Kediri itu tidak melihat bahwa ada sekelompok pasukan di tepian. Karena itu, maka mereka-pun hanya berjalan saja beriringan didalam gelapnya malam tanpa berpaling.

Tidak seorang-pun diantara mereka yang membawa obor. Mungkin mereka-pun berusaha untuk tidak bertemu dengan pasukan Pangeran Kuda Permati yang lebih besar, karena jumlah mereka sebenarnya juga tidak terlalu banyak.

Beberapa saat kemudian, maka orang terakhir dari iring-iringan itu-pun telah lewat. Meskipun demikian, para pengawal yang baru berada di tepian itu masih menunggu untuk sesaat. Baru setelah keadaan menjadi sepi, dan tidak lagi terdengar langkah orang dan desir dedaunan, maka pemimpin pengawal itu-pun memberi isyarat kepada dua orang pengamatnya untuk melihat keadaan.

Kedua orang itu-pun kemudian merangkak naik keatas tebing. Tenyata iring-iringan itu sudah menjadi semakin jauh. Mereka telah lenyap dalam gelapnya malam, sehingga mereka sama sekali sudah tidak nampak lagi.

Karena itu, maka kedua orang itu-pun kemudian kembali memberikan laporan kepada pemimpin pengawal itu.

“Baiklah,” berkata pemimpin pengawal itu, “Kita akan meneruskan perjalanan.”

Sejenak kemudian, maka Purnadewi-pun telah dipersilahkan untuk meneruskan perjalanan. Tetapi berjalan di tepian ternyata jauh lebih sulit daripada berjalan diatas tebing. Dalam kelokan-kelokan sungai kadang-kadang mereka temukan sebuah kedung yang mungkin masih menyimpan buaya didalamnya.

Karena itulah, maka sejenak kemudian mereka telah memanjat tebing. Beberapa orang pengawal-pun kemudian membantu Purnadewi merangkak memanjat tebing yang curam.

Purnadewi masih juga tidak mengeluh. Ia berjalan dalam keletihan. Kakinya mulai merasa sakit, sebagaimana pernah dirasakannya pada saat ia meninggalkan Kota Raja bersama tiga orang perwira yang mengawalnya dengan setia.

Meskipun Purnadewi tidak mengeluh sama sekali, tetapi pemimpin pengawal itu kemudian mengerti bahwa kaki Purnadewi telah terluka. Karena itu, maka pemimpin pengawal itu-pun kemudian bertanya kepada para pengawalnya, “Siapa yang mempergunakan terompah?”

Namun ternyata tidak seorang-pun yang memakai terompah diantara para pengawalnya, sehingga akhirnya, ternyata pemimpin pengawal itu berpikir seperti para perwira yang mengawalnya dari Kota Raja. Dengan sesosok kain panjang salah seorang pengawal, maka kaki Purnadewi telah dilindungi dari kemungkinan yang lebih parah lagi.

Demikianlah, maka mereka-pun telah melanjutkan perjalanan. Ketika mereka mendekati sebuah pedukuhan, maka sekali lagi telah terjadi sesuatu yang mencurigakan. Namun ketika dua orang pengamat itu menyelidiki keadaan, maka mereka menemukan padukuhan itu baru saja menjadi ajang pertempuran antara para prajurit Kediri dengan para pengkikut Pangeran Kuda Permati. Nampaknya sepasukan Pangeran Kuda Permati yang kuat telah menemukan sepasukan prajurit Kediri yang sedang memasuki daerah pengaruh mereka.

Pertempuran tidak dapat dihindarkan. Namun para prajurit Kediri yang jumlahnya lebih kecil itu harus melarikan diri dalam keadaan yang pahit.

Ketika Purnadewi dan para pengawalnya memasuki padukuhan itu, mereka masih menemukan para pengikut Pangeran Kuda Permati menikmati kemenangannya. Sementara itu, sepasukan Kediri yang mereka jumpai di tebing sungai, adalah sebagian dari pasukan yang melarikan diri dari tangan para pengikut Pangeran Kuda Permati di padukuhan itu.

Ternyata sikap pemimpin pasukan para pengikut Pangeran Kuda Permati itu sangat menyakitkan hati. Hampir saja terjadi salah paham sebagaimana pernah terjadi dengan para pengikut Pangeran Kuda Permati, sehingga terpaksa hadir kelima orang dalam pakaian petani untuk menolongnya.

Tetapi akhirnya salah paham itu dapat diatasi. Tetapi pemimpin pengawal itu harus membawa Purnadewi melanjutkan perjalanan.

“Aku tidak yakin bahwa perempuan itu benar puteri Purnadewi isteri Pangeran Kuda Permati,” berkata pemimpin pasukan pengikut Pangeran Kuda Permati di padukuhan itu.

“Tetapi ciri-ciri para pengawal serta pengenalan mereka atas kata-kata sandi menunjukkan bahwa mereka adalah bagian dari kita,” berkata salah seorang perwiranya.

“Mungkin. Tetapi mereka tidak boleh mengganggu tugas-tugas kita disini. Karena itu, biar saja mereka pergi ke tempat yang sudah ditunjuk bagi mereka,” jawab pemimpin pasukan di padukuhan itu.

Dengan demikian, maka Purnadewi-pun telah meninggalkan padukuhan itu dengan selapis lagi pengalaman yang penting baginya.

Purnadewi melihat sendiri korban yang silang melintang di padukuhan yang baru saja ditinggalkan. Sebagian besar diantara korban itu adalah prajurit Kediri yang jumlahnya jauh lebih sedikit. Mereka yang tidak sempat melarikan diri ternyata harus mengalami nasib yang paling pahit. Tidak ada lagi kesempatan untuk dapat hidup bagi mereka.

Dengan demikian, maka Purnadewi-pun menjadi semakin yakin, bahwa perang harus dihentikan. Pangeran Kuda Permati harus menyadari, bahwa perjuangan yang diyakininya akan membawa keberuntungan bagi rakyat Kediri itu ternyata hanya membawa korban tanpa hitungan.

“Tidak mungkin jika kakangmas menuntut Sri Baginda di Kedirilah yang harus menghentikan perlawanan dan kemudian menyerahkan segala sesuatunya kepada kakangmas Pangeran Kuda Permati,” berkata Purnadewi didalam hatinya. Sementara itu ia-pun menjadi semakin yakin bahwa perjuangan Pangeran Kuda Permati sebagian terbesar hanyalah didorong oleh gejolak perasaannya saja, “Ia tidak melandasi perjuangannya dengan perhitungan yang mapan dan dengan sikap yang dewasa. Ternyata sebelum kakangmas Kuda Permati mendapatkan kemenangan yang berarti, kakangmas Kuda Permati sudah tidak mampu lagi menguasai sifat dan watak para pengikutnya, sehingga tingkah laku para pengikutnya sudah keluar dari jejer seorang kesatria.”

Karena itu, maka tekadnya menjadi semakin bulat untuk berbuat sesuatu agar perang itu-pun segera berhenti. Pembantaian akan berhenti pula, sehingga rakyat Kediri tidak lagi akan saling berhubungan.

“Jika Kediri menjadi semakin ringkih, maka tidak mustahil bahwa akhirnya Kediri memang tidak akan mampu menjaga dirinya sendiri, sehingga akan menjadi alasan yang kuat bagi Singasari untuk datang dan memegang segala kendali di Kediri. Dengan demikian hubungan Singasari dan Kediri akan berubah. Tidak lagi satu lingkungan keluarga besar yang satu, tetapi Singasari akan menguasai Kediri. Dengan seribu macam alasan,” berkata Purnadewi selanjutnya.

Dalam pada itu, maka puteri itu-pun telah melanjutkan perjalanan mereka. Dengan kesan tersendiri Purnadewi meninggalkan padukuhan yang mengerikan, yang berubah menjadi neraka yang hampir saja membakar dirinya pula. Untunglah bahwa Yang Maha Agung masih melindunginya dan memberinya kesempatan untuk meninggalkan tempat itu.

Seperti perjalanan yang ditempuhnya terdahulu, maka perjalanan berikutnya-pun merupakan perjalanan yang sulit. Namun Purnadewi berjalan dengan hati yang teguh meskipun tubuhnya menjadi semakin lemah.

Namun akhirnya Purnadewi sampai juga ke sebuah padukuhan yang telah ditunjuk oleh Pangeran Kuda Permati. Tetapi seperti pesan Pangeran Kuda Permati, padukuhan itu hanya dipergunakan untuk sehari saja. Malam berikutnya mereka harus melanjutkan perjalanan ke sebuah padukuhan lain yang akan menjadi tempat tinggal sementara Pangeran Kuda Permati dan Purnadewi. Dari tempat itu Pangeran Kuda Permati akan mengendalikan pasukannya untuk beberapa waktu, sehingga pada saat tertentu berikutnya mereka akan mencari tempat yang lain yang lebih aman.

“Sampai kapan keadaan seperti ini berlaku bagi orang-orang Kediri?” bertanya Purnadewi didalam hatinya.

Ketika matahari terbit, maka Purnadewi-pun dipersilahkan untuk membersihkan dirinya dengan air panas. Sehari ia akan mendapat kesempatan untuk beristirahat di sebuah padukuhan. Padukuhan yang telah dijaga dengan baik oleh sepasukan pengikut Pangeran Kuda Permati. Namun sikap para pengawal di padukuhan itu terhadap para pengawal yang mengawal Purnadewi agaknya juga kurang baik. Mereka menganggap bahwa para pengawal Purnadewi bukan prajurit yang tangguh tanggon di peperangan. Tetapi mereka adalah pengawal-pengawal yang hanya pantas untuk mengantarkan seorang perempuan yang pergi mengungsi.

Sikap itu sangat menyakitkan hati. Demikian tersinggung pemimpin pengawal puteri Purnadewi itu, sehingga dengan nada kasar ia berkata, “Marilah kita buktikan. Aku adalah pemimpin pasukan khusus yang mendapat tugas untuk mengawal Puteri Purnadewi. Jika kalian menganggap kami terlalu tidak berarti, maka marilah, kita akan saling menjajagi. Siapakah yang lebih baik diantara kita. Kalian atau kami. Karena itu, maka tunjukkan seorang wakil dari antara kalian yang paling baik untuk berhadapan dengan aku di arena perang tanding. Aku menurut saja pilihan kalian. Sampai mati atau tidak.”

Tantangan itu-pun terlalu menyakitkan hati. Pemimpin pasukan yang ada di padukuhan itu-pun kemudian menjawab dengan lantang, “Aku akan memasuki arena. Bersiaplah. Arena akan siap dalam sekejap.”

Namun demikian pemimpin pengawal itu sama sekali tidak memberitahukan hal itu kepada Purnadewi. Ia-pun berpesan kepada para pengawal yang bertugas berada di halaman rumah yang dipergunakan untuk beristirahat, agar hal itu tidak diketahuinya.

Sebenarnyalah arena-pun siap dalam sekejap. Para pengikut Pangeran Kuda Permati dari kedua belah pihak telah berkumpul diseputar arena.

“Kau harus menebus kesombonganmu dengan nyawamu,” teriak pemimpin pasukan yang berada di padukuhan itu.

Pemimpin pengawal puteri Purnadewi sama sekali tidak menyahut.

Sejanak kemudian kedua orang pemimpin pasukan yang sama-sama menjadi pengikut Pangeran Kuda Permati itu-pun telah bersiap. Diseputar arena berkumpul para anggauta pasukan masing-masing. Jumlah mereka yang ada di padukuhan itu memang lebih banyak dari jumlah para pengawal Puteri Purnadewi. Tetapi para pengawal Purnadewi sama sekali tidak merasa gentar jika akibat dari perang tanding itu akan semakin meluas.

Pemimpin pasukan yang ada di padukuhan itu agaknya tidak ingin menunggu lebih lama lagi. Dengan kemarahan yang membakar kantungnya, karena tantangan itu, maka ia-pun telah mendahului meloncat menyerang.

Tetapi serangan yang pertama itu tidak menyentuh sasarannya. Pemimpin pengawal puteri Purnadewipun sempat mengelak dengan loncatan kecil. Tetapi lawannya tidak melepaskannya. Dengan serta merta, maka serangan berikutnya-pun telah memburunya.

Meskipun demikian serangan itu sama sekali tidak berhasil mengenai sasarannya, sehingga akhirnya pengawal Puteri Purnadewi itu harus berusaha untuk menyerang kembali. Ia tidak mau sekedar menjadi sasaran serangan dan harus berloncatan menghindar terus-menerus.

Dengan demikian, maka pertempuran itu-pun menjadi semakin sengit. Keduanya saling menyerang dan menghindar. Sekali-sekali kekuatan mereka berbenturan meskipun tidak dalam kekuatan sepenuhnya.

Namun lambat laun, mereka semakin memanjatkan ilmunya. Ketika pertempuran itu menjadi semakin cepat dan keras, maka keduanya-pun mulai merambah pada puncak ilmu mereka.

Ternyata pengawal Purnadewi itu bukannya prajurit sebagaimana disangka oleh para pengawal di padukuhan itu. Mereka bukan sekedar untuk menakut-nakuti perampok-perampok kecil dalam pengawalnya atas puteri Purnadewi. Sebenarnyalah mereka adalah pasukan pilihan yang ditunjuk oleh Pangeran Kuda Permati untuk mengawal isterinya.

Karena itu, maka pemimpin pasukan pengawal yang diambil dari pasukan khusus itu, merupakan seorang yang memiliki ilmu yang tinggi, melampaui pemimpin pengawal yang berada di padukuhan itu.

Dengan demikian, maka dalam pertempuran yang berlangsung semakin cepat, mulai nampak kelebihan pemimpin pengawal puteri Purnadewi itu.

Perasaan tersinggung yang menyentuh jantungnya telah membuatnya ingin membuktikan, bahwa ia dan pasukannya justru memiliki kemampuan lebih baik dari para pengawal yang ada di padukuhan itu. Mereka berhasil menguasai daerah yang memang tidak dipertahankan oleh satu kekuatan prajurit. Mereka berada di padukuhan itu, begitu saja tanpa mengalami perlawanan. Karena itu, maka para pengawal di padukuhan itu agak kurang menyadari kemampuan diri dibanding dengan kesatuan-kesatuan yang lain dari para pengikut Pangeran Kuda Permati. Meskipun sebagian dari mereka mula-mula adalah prajurit Kediri tetapi sebagian yang lain adalah anak-anak muda yang dapat dibujuk untuk ikut dalam pasukan mereka tanpa mengerti dan mengenal arti perjuangan yang sesungguhnya yang dilakukan oleh Pangeran Kuda Permati.

Sementara itu meskipun pemimpin pasukan yang ada di padukuhan itu juga seorang prajurit, tetapi ia bukan dari pasukan khusus yang mendapat latihan mirunggan untuk melakukan tugasnya.

Demikianlah pertempuran antara kedau orang pemimpin pasukan itu berlangsung semakin keras. Keduanya saling menyerang, saling menghindar dan saling menunjukkan ilmu kanuragan yang mereka kuasai masing-masing.

Namun dalam pertempuran yang semakin cepat, maka pemimpin pengawal puteri Purnadewi mulai berhasil menyentuh lawannya dengan serangan-serangannya. Ketika tangannya mengenai lambung, maka lawannya menyeringai menahan mual perutnya.

Lawannya itu meloncat mundur. Tetapi pemimpin pengawal itu tidak ingin melepaskannya. Ia ingin segera menyelesaikan dan membuatnya jera. Pengawal itu tidak ingin apa yang dilakukan itu diketahui oleh puteri Purnadewi.

Karena itu, maka ia-pun telah memburunya. Dengan satu lontaran kaki menyamping dan tubuh yang miring, maka pemimpin pengawal itu berhasil mengenai lawannya sekali lagi, sehingga ia telah terhuyung-huyung.

Namun sekali lagi pemimpin pengawal itu memanfaatkan keadaan. Sekali lagi meloncat maju menyerang. Dengan tangannya langsung mengenai dadanya.

Pemimpin pengawal di padukuhan itu terlempar selangkah surut. Namun ternyata bahwa ia tidak mampu lagi mempertahankan keseimbangnnya. Karena itu, maka sejenak kemudian, ia-pun telah terjatuh di tanah.

Bersambung.....!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...