Jumat, 25 Desember 2020

HIJAUNYA LEMBAH HIJAUNYA LERENG PEGUNUNGAN JILID 014-03

*HIJAUNYA LEMBAH.  JILID 014-03*

Justru karena itu, maka para pemimpin dari Kabuyutan Talang Amba itu menjadi tenang. Mereka telah melakukan satu perlawanan terhadap orang-orang Kediri dalam angka mempertahankan hal mereka terhadap ancaman orang lain. Apalagi mereka sadar, bahwa Pangeran Lembu Sabdata telah mempergunakan cara yang paling buruk untuk menghancurkan wilayah Singasari. Bukan hanya untuk satu saat. Tetapi untuk waktu yang lama. Bahkan mungkin sekali keadaan tidak akan tertolong lagi. Jika hutan itu benar-benar menjadi gundul, maka tanah di lereng bukit itu akan hanyut. Jika yang tersisa adalah batu-batu padas dan batu-batu hitam, maka gunung itu tidak akan dapat ditanami lagi untuk selamanya. Gunung itu kelak akan menjadi lambang kehancuran bagi kesuburan tanah Kabuyutan Talang Amba. Sehingga yang kemudian terbentang dibawah bukit batu yang gundul adalah tanah yang gersang. Padang yang luas tidak berpohon dan bahkan rerumputan pun tidak akan dapat tumbuh lagi.

Impian buruk yang mengerikan itu harus dicegah. Tiga atau empat keturunan lagi tidak boleh mengutuk leluhur mereka karena kedengkian serupa itu.

Demikianlah, maka Ki Sanggarana bersama beberapa orang itu pun telah duduk di pendapa. Sementara itu. Pangeran Singa Narpada telah memperkenalkan dirinya pula, sedangkan yang lain adalah Pangeran Kuda Kertapati.

“Kedatangan Pangeran ke Kabuyutan ini telah mengejutkan kami” berkata Ki Sanggarana kemudian.

“Ya Ki Sanggarana. Kami pun menyadari bahwa mungkin sekali kehadiran kami akan mengejutkan orang-orang Talang Amba. Tetapi barangkali Ki Sanggarana sudah dapat menduga keperluan kami datang ke Kabuyutan ini”

“Pangeran” jawab Ki Sanggarana, “memang di Kabuyutan ini telah tumbuh persoalan antara kami, orang-orang Talang Amba yang mendapat perlindungan dari para prajurit dari Singasari dengan orang-orang dari Kediri. Tetapi sudah barang tentu kami tidak dapat menyebut mereka adalah para pengawal dari Kediri, karena kami pun mengerti, tidak semua orang Kediri atau katakan bahwa yang terjadi itu sama sekali tentu bukan sikap resmi Kediri”

“Ya, ya Ki Sanggarana” jawab Pangeran Singa Narpada Pangeran Lembu Sabdata memang tidak mewakili sikap Kediri yang sebenarnya. Ia bertindak atas namanya sendiri, sedangkan apa yang dilakukannya pun bukan sikap kebanyakan orang-orang Kediri”

“Kami memang sudah menduga” jawab Ki Sanggarana, “karena itu sikap kami pun tidak kami tujukan kepada Kediri, sebagaimana para prajurit Singasari. Mereka mendapat perintah untuk melindungi Kabuyutan ini dari kerusuhan-kerusuhan yang terjadi. Sementara itu, para perusuh dapat saja dilakukan oleh orang-orang dari Kediri, atau oleh orang-orang dari Singasari atau Gagelang atau tempat-tempat lain”

Pangeran Singa Narpada mengangguk-angguk Katanya, “Aku mengucapkan terima kasih atas pengertian itu”

Ki Sanggarana pun mengangguk-angguk pula. Namun ia masih tetap berdebar-debar. Langkah yang akan diambil oleh para bangsawan di Kediri itu.

Sementara itu Pangeran Singa Narpada itu pun berkata, “Ki Sanggarana. Aku datang ke Kabuyutan ini bersama beberapa orang kawan. Kami ingin melihat apa yang sebenarnya telah terjadi. Dengan demikian maka kami akan dapat mengambil satu kesimpulan yang tepat. Tidak hanya berdasarkan atas laporan-laporan saja”

“Apakah Pangeran sudah berhubungan dengan para pemimpin di Singasari?” bertanya Ki Sanggarana.

“Ada dua orang bangsawan dari Singasari yang menyertai perjalanan kami, karena kami ingin melihat persoalan ini dalam keseluruhan. Juga dalam hubungan dengan hadirnya para prajurit dari Singasari” jawab Pangeran Singa Narpada.

Ki Sanggarana mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Baiklah Pangeran. Kita akan dapat membicarakannya. Tetapi karena disini hadir prajurit dari Singasari yang berbaur dengan anak-anak muda Talang Amba, maka Senapati yang memimpin pasukan Singasari itu pun akan ikut pula berbicara diantara kita”

“Tentu” sahut Pangeran Singa Narpada, “semua pihak yang berkepentingan dengan penyelesaian yang harus diambil sebaik-baiknya ikut dalam pembicaraan ini”

“Baiklah Pangeran” berkata Ki Sanggarana kemudian, “dimanakah kawan-kawan Pangeran?”

“Mereka terhenti di padukuhan kecil di ujung Kabuyutan ini. Para peronda hanya mengijinkan kami berdua Ki Sanggarana lebih dahulu untuk mendapatkan ijin memasuki Kabuyutan” jawab Pangeran itu.

“O” Ki Sanggarana mengangguk-angguk, “kami mohon maaf Pangeran. Itu hanyalah karena sikap hati-hati dari anak-anak kami”

“Kami mengerti” jawab Pangeran Singa Narpada, “Karena itu kami berusaha untuk mematuhi ketentuan mereka.

Demikianlah, maka Ki Sanggarana itu pun mempersilahkan orang-orang berkuda itu untuk datang ke rumahnya. Kedua Pangeran itu berkeberatan ketika Ki Sanggarana akan memerintahkan anak-anak muda menjemput mereka.

“Biar kami berdua sajalah kembali ke Padukuhan kecil itu. Untuk membuktikan bahwa kami telah bertemu dengan Ki Sanggarana, ada juga baiknya satu atau dua orang pergi bersama kami” berkata Pangeran Singa Narpada.

Sejenak kemudian, maka dua orang pengawal di rumah Ki Sanggarana itu pun telah mengantarkan kedua Pangeran itu kembali ke padukuhan kecil di ujung Kabuyutan. Mereka, memanggil kawan-kawan mereka untuk bersama-sama menemui Ki Sanggarana dan orang-orang Kediri yang tertawan.

Sementara itu, Ki Sanggarana pun telah mempersiapkan diri untuk menerima mereka. Bahkan dengan sikap berhati-hati Ki Sanggarana telah berbicara dengan Senapati Singasari yang berada di Talang Amba, agar para prajurit Singasari pun bersikap hati-hati pula.

“kami mengharap Senapati ikut menentukan sikap” berkata Ki Sanggarana.

“Jika benar ada diantara mereka satu atau dua orang Senapati dari Singasari, mungkin aku akan dapat mengenalinya” berkata pemimpin tertinggi dari para pengawal yang berada di Talang Amba.

“Apakah, para prajurit yang berada di padukuhan-padukuhan kecil itu mungkin tidak mengenal seorang Senapati dari Singasari?” bertanya Ki Sendawa.

“Mungkin sekali Ki Sendawa” jawab Senapati itu, “tata keprajuritan Singasari cukup luas. Ada beberapa kesatuan yang terpisah. Mungkin terpisah tempatnya dan mungkin terpisah tugas-tugasnya”

Ki Sendawa mengangguk-angguk. Tetapi ia dapat mengerti, bahwa Singasari yang luas itu tentu mempunyai tata keprajuritan yang luas pula.

Dalam pada itu, maka Pangeran Singa Narpada bersama sekelompok perwira dan bangsawan diiringi oleh beberapa orang prajurit telah memasuki padukuhan induk. Mereka langsung pergi ke rumah Ki Sanggarana, yang menerima mereka di pendapa bersama beberapa orang bebahu Kabuyutan itu, Mahisa Murti, Mahisa Pukat, Ki Waruju dan beberapa orang Senapati terpenting dari pasukan Singasari yang ada di padukuhan itu. Untuk mempermudah hubungan diantara mereka, maka para Senapati yang semula membaurkan diri diantara anak-anak muda Talang Amba itu telah mengenakan pakaian keprajuritan mereka.

Demikianlah, ketika iring-iringan itu memasuki halaman rumah Ki Sanggarana, maka para Senapati terpenting dari pasukan Singasari yang ada di Talang Amba segera melihat, bahwa diantara mereka yang datang itu memang terdapat beberapa orang perwira tinggi dari Singasari.

“Agaknya persoalan ini benar-benar ingin diselesaikan dengan tuntas” berkata Senapati itu di telinga Mahisa Murti.

“Agaknya memang harus demikian” jawab Mahisa Murti, “Jika Kediri tidak mengambil sikap terhadap para Pangerannya, maka persoalannya akan dapat semakin berlarut-larut”

“Nampaknya kali ini Kediri bersungguh-sungguh” berkata Senapati itu pula.

“Mereka mungkin akan dapat segera mengatasi persoalan yang timbul pada para Pangeran” jawab Mahisa Murti pula, “tetapi mereka harus juga memperhatikan benih yang sudah mereka tebarkan. Yang sudah bergerak bukan saja terbatas kepada para Pangeran. Tetapi tentu ada satu dua orang Akuwu yang masih mempunyai pendirian seperti Akuwu Gagelang yang terbunuh itu.

Senopati itu mengangguk-angguk. Ternyata sikap itu telah berkembang. Tidak hanya pada para Pangeran dan pengikutnya di Kediri. Tetapi beberapa orang Akuwu agaknya telah terpengaruh pula seperti di Gagelang yang terbunuh itu.

Sementara itu Mahisa Murti pun telah berkata pula, “Selain para Akuwu, mana mungkin pula sikap itu sudah merambat diantara para pemimpin Padepokan. Ada diantara mereka yang dengan sadar atas cita-cita beberapa orang Pangeran di Kediri, tetapi ada pula yang menyatakan ikut serta dengan mereka hanya karena janji”

Senopati itu masih mengangguk-angguk. Iapun mengerti, bahwa ada beberapa orang diluar lingkungan istana Kediri, yang terlibat. Nama Ki Sarpa Kuning dan para pengikutnya adalah salah satu contoh dari mereka yang berada di-barisan Pangeran Lembu Sabdata.

Dalam pada itu, maka para tamu dari Kediri dan Singasari itu pun segera dipersilahkan untuk naik ke pendapa. Ki Sanggarana bersama beberapa orang telah menerima mereka. Sementara itu dengan tidak menimbulkan kesan yang dapat menarik perhatian, maka beberapa orang anak muda Talang Amba mengamati halaman rumah Ki Sanggarana itu. Segala kemungkinan masih akan dapat terjadi. Meskipun diantara mereka terdapat beberapa orang bangsawan dari Singasari, namun yang tidak terduga itu dapat saja megejutkan Talang Amba.

Setelah Ki Sanggarana mempersilahkan tamunya untuk duduk dengan baik, maka iapun kemudian mulai bertanya tentang kedatangan para Pangeran dan perwira dari Kediri dan Singasari itu.

“Kami telah mendapatkan laporan dari Talang Amba” berkata Pangeran Singa Narpada.

“Demikian cepatnya” desis Ki Sanggarana.

“Di samping para prajurit Singasari yang dikirim untuk membantu Talang Amba, maka telah dikirim pula beberapa orang petugas sandi dari Singasari untuk melihat apakah yang terjadi disini. Bersamaan dengan itu, maka semua persoalan telah dikirim pula ke Kediri. Karena itu, maka beberapa orang pemimpin di Kediri telah datang ke Singasari. Dan bersama-sama kami telah datang kemari” jawab salah seorang perwira tinggi dari Singasari yang berada diantara para tamu itu.

Ki Sanggarana mengangguk-angguk. Kerucigaannya menjadi semakin susut. Beberapa orang Senopati terpenting Singasari yang ada diantara mereka yang menerima tamu dari Kediri dan Singasari itu pun mengangguk-angguk. Agaknya mereka pun mempercayai sepenuhnya keterangan itu.

Dalam pada itu, maka Ki Sanggarana pun kemudian bertanya, “Setelah tuan-tuan sampai ke Talang Amba, apakah yang dapat kami lakukan untuk membantu tugas tuan-tuan?”

“Kami ingin berbicara dengan beberapa orang yang tertawan. Bukankah diantara mereka yang tertawan terdapat Pangeran Lembu Sabdata?” jawab Pangeran Singa Narpada.

“Ya Pangeran. Sebenarnya kami tidak ingin menawan. Tetapi kami hanya memperlakukannya secara khusus, karena Pangeran Lembu Sabdata terlibat dalam satu tindakan kekerasan terhadap Talang Amba” sahut Ki Sanggarana.

Pangeran Singa Narpada tersenyum. Katanya, “Tidak ada istilah lain yang lebih baik daripada tawanan. Memang adimas Pangeran Lembu Sabdata harus mengalami perlakuan yang demikian”

Ki Sanggarana tidak menjawab. Tetapi ia mengangguk-angguk mengiakan. Karena itu, maka Pangeran Singa Narpada itu pun kemudian bertanya, “Jadi apakah menurut Ki Sanggarana, kami akan diperkenankan menemui adimas Lembu Sabdata?”

Ki Sanggarana mengangguk-angguk kecil. Meskipun nampak ragu-ragu, namun iapun kemudian berkata, “Baiklah Pangeran. Jika hal itu Pangeran kehendaki, maka kami tidak berkeberatan. Pertemuan itu akan dapat dilakukan di pendapa ini”

“O” Pangeran Singa Narpada mengangguk-angguk. “Jadi Ki Sanggarana akan membawa Adimas Pangeran kemari?”

“Jika Pangeran Lembu Sabdata bersedia, Pangeran” jawab Ki Sanggarana.

“Baiklah. Agaknya itu memang lebih baik. Tetapi yang ingin kami temui bukannya sekedar Pangeran Lembu Sabdata. Itulah sebabnya kami membawa beberapa orang kawan dalam perjalanan ini selain beberapa orang pengawal” berkata Pangeran Singa Narpada.

“Jadi siapa saja yang ingin Pangeran temui?” bertanya Ki Sanggarana.

“Yang terpenting memang hanya adimas. Pangeran Lembu Sabdata” jawab Pangeran Singa Narpada, “tetapi kami ingin juga melihat tawanan yang ada di Talang Amba. Kami ingin melihat pihak mana sajakah yang terlibat. Apakah mereka hanya para pengawal Kediri dan dengan cerdik telah diperlakukan sebagai para pengikut adimas Lembu Sabdata atau masih ada pihak-pihak lain. Dengan demikian, maka kami akan mendapatkan sedikit gambaran, siapa sajakah yang telah terlibat. Sehingga kami akan dapat mengambil langkah-langkah yang bermanfaat bagi satu usaha mencari penyelesaian”

Ki Sanggarana mengangguk-angguk. Diluar sadarnya maka iapun berpaling kepada Senopati yang memimpin seluruh pasukan Singasari yang ada di Talang Amba. Katanya, “Bagaimana Ki Sanak. Ki Sanak lah yang telah menangkap mereka”

Senopati itu mengangguk. Katana, “Aku percayakan semuanya- kepada para Senopati yang memiliki tanggung jawab lebih besar yang sekarang telah hadir disini.

Ki Sanggarana mengangguk-angguk. Iapun mengerti, bahwa dengan hadirnya beberapa orang perwira tinggi dari Singasari, maka Senopati yang ada di Talang Amba akan menyerahkan segala sesuatunya kepada mereka.

Demikianlah, maka segala persiapan pun segera dilakukan. Sementara itu, Ki Sanggarana masih sempat menjamu tamu-tamunya sambil menunggu para prajurit Singasari dan anak-anak muda Talang Amba yang akan menghubungi Pangeran Lembu Sabdata dan orang-orang yang tertawan yang diletakkan di beberapa tempat, terutama di banjar-banjar padukuhan.

Tetapi di banjar padukuhan induk itu telah terjadi satu perselisihan antara Pangeran Lembu Sabdata dan Senopati yang datang kepadanya, memberitahukan akan kehadiran Pangeran Singa Narpada yang ingin bertemu dengan Pangeran Lembu Sabdata.

“Jika ia ingin bertemu dengan aku, biarlah orang itu datang kemari” jawab Pangeran Lembu Sabdata.

“Pangeran” berkata Senopati itu, “mereka mengharap agar Pangeran bersedia untuk datang ke pendapa rumah Ki Sanggarana. Kita akan dapat berbicara dengan baik sebagaimana hubungan antara sesama. Bukankah Pangeran Singa Narpada itu termasuk sanak kadang Pangeran sendiri? sehingga dengan demikian, maka pertemuan itu akan menjadi pertemuan yang akan dapat memberikan beberapa pemecahan terhadap masalah yang sedang dihadapi oleh Pangeran”

“Aku tidak pernah berhubungan dengan Pangeran Singa Narpada sebelumnya” jawab Pangeran Lembu Sabdata.

“Pangeran berdua adalah kadang sentana dari Kediri” berkata Senopati itu.

“Tetapi sikap dan pandangan kami berbeda. Aku bukan penjilat seperti kakangmas Pangeran Singa Narpada. Buat apa aku datang menemuinya. Aku sudah tahu apa yang akan dikatakannya. Dan aku pun sudah tahu apa yang akan dianjurkannya kepadaku. Tentu suatu pengkhianatan terhadap cita-cita yang agung bagi Kediri, sebagaimana sudah mulai merata di kalangan para bangsawan di Kediri selain beberapa orang penjilat seperti kakangmas Singa Narpada itu” jawab Pangeran Lembu Sabdata.

“Terserahlah, apa yang akan Pangeran katakan terhadap Pangeran Singa Narpada. Tetapi sekarang kami persilahkan bersama kami pergi ke rumah Ki Sanggarana. Jarak dari banjar ini ke rumah itu sangat dekat”

“Tidak. Sudah aku katakan, bahwa aku tidak akan pergi” bentak Pangeran Lembu Sabdata, “jangan mengatakan sekali lagi tentang hal itu. Aku muak mendengar. Jika kau ingin ikut dengan penjilat itu lakukan. Tetapi jangan ajak aku”

“Aku mendapat perintah” berkata Senopati itu.

“Tutup mulutmu” Pangeran Lembu Sabdata hampir berteriak, “sudah aku katakan. Jangan menyebutnya lagi”

Senopati itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian iapun berkata, “Aku mendapat perintah, bagaimana mungkin aku tidak menyebutnya”

“Diam. Diam kau iblis. Aku tidak mau kau mengatakannya. Aku muak. Atau aku harus membungkam mulutmu” Pangeran Lembu Sabdata itu berteriak.

Namun dalam pada itu Senopati itu menjadi jengkel. Karena itu maka katanya lebih keras lagi, “Bersiaplah. Kau harus datang ke pendapa rumah Ki Sanggarana. Sekarang, Kau harus menemui Pangeran Singa Narpada dari Kediri dan beberapa orang Senopati dari Singasari”

Kemarahan Pangeran Lembu Sabdata telah memuncak. Karena itu maka tiba-tiba saja telah meloncat menerkam Senopati itu.

Tetapi Senopati itu memang sudah menduga. Ia sudah bersiap. Demikian Pangeran Lembu Sabdata meloncat, iapun meloncat pula menghindar.

Namun dalam sekejap, maka beberapa orang prajurit Singasari yang menjaga banjar itu telah mengacungkan senjata mereka dari beberapa arah. Bahkan sepucuk tombak telah menyentuh tubuh Pangeran Lembu Sabdata itu.

Karena itu, maka Pangeran Lembu Sabdata pun tidak memburu Senopati yang menghindar itu. Bagaimanapun juga, ia tidak akan dapat keluar dari lingkaran ujung senjata di sekitarnya. Apalagi yang menggenggam senjata adalah prajurit-prajurit Singasari.

“Nah Pangeran” berkata Senopati itu, “Kau harus menyadari kedudukanmu disini. Kau tidak berada di istanamu di Kediri. Dan kami bukan abdimu yang kau anggap tidak berharga. Dengar, dengan sekali lagi. Mau atau tidak mau. Kau dipanggil menghadap ke rumah Ki Sanggarana. Kau akan diperiksa sebagai seorang tawanan yang kalah perang”

Pangeran Lembu Sabdata menggeretakkan giginya. Tetapi ketika ia bergerak, maka ujung-ujung senjata telah melekat dikulitnya.

“Pengecut” geram Pangeran itu, “Kau bersembunyi di belakang kecoak-kecoak ini”

“Kau jangan membuat hatiku semakin sakit Pangeran. Kau telah dikalahkan dalam peperangan. Kau sudah melepaskan senjatamu dan kau adalah tawanan. Sekarang dengar perintahku. Pergi ke rumah Ki Sanggarana. Jika kau tidak puas dengan perlakuan ini, adukan kepada saudara-saudaramu yang ada di pendapa itu” jawab Senopati itu.

Wajah Pangeran Lembu Sabdata menjadi merah padam. Tetapi terasa ujung senjata masih melekat dikulitnya. Bahkan salah seorang diantara mereka yang membawa tombak telah menekankan ujung tombaknya sambil berkata, “Marilah Pangeran. Mereka sudah menunggu di pendapa”

Pangeran Lembu Sabdata menggeram. Kemarahannya bagaikan membakar seisi dadanya. Tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa. Senjata-senjata sudah menekan kulitnya. Nampaknya prajurit-prajurit Singasari dan anak-anak muda Talang Amba itu tidak hanya sekedar bermain-main. Mereka benar-benar akan melakukan apa yang mereka katakan, karena Pangeran Lembu Sabdata bagi mereka memang tidak lebih dari seorang tawanan.

Karena itu, mau tidak mau, maka Pangeran Lembu Sabdata itu pun telah melangkah. Demikian mereka turun ke halaman, maka Senopati yang memerintahkannya pergi ke rumah Ki Sanggarana itu pun berkata, “Jangan biarkan Pangeran itu lari atau melakukan hal-hal yang dapat menimbulkan keributan. Tetapi juga jangan menjadi tontonan orang di sepanjang jalan. Biarlah Pangeran itu berjalan sendiri”

Pangeran Lembu Sabdata mengumpat. Namun orang-orang yang mengacukan senjatanya pun telah bergeser dan mengambil jarak. Dengan demikian, maka para prajurit Singasari dan beberapa orang anak muda Talang Amba itu pun kemudian sekedar mengiringi Pangeran itu tanpa menimbulkan kesan yang dapat menarik perhatian, seakan-akan mereka sedang menggiring seorang tawanan.

Pangeran Lembu Sabdata memang tidak berbuat sesuatu. Ia sadar, bahwa para prajurit Singasari dan anak-anak muda Talang Amba itu akan dapat menjadi kasar jika mereka tersinggung. Mungkin mereka akan dapat memperlakukannya dengan kasar pula dan menghinakannya di depan orang-orang Talang Amba.

Karena itu, maka Pangeran Lembu Sabdata pun berusaha untuk berbuat sebagaimana dikehendaki oleh Senopati dari Singasari itu, agar segala sesuatunya tidak justru membuat dirinya semakin kecil.

Ketika mereka memasuki halaman rumah Ki Sanggarana yang memang tidak begitu jauh dari banjar, maka jantung Pangeran Lembu Sabdata rasa-rasanya memang akan meledak, la melihat beberapa orang saudaranya berada di pendapa. Beberapa orang Perwira dan pengawal.

Ketika Pangeran Lembu Sabdata mendekati pendapa, maka orang-orang yang berada di pendapa itu pun telah beringsut. Mereka telah memberikan tempat kepada Pangeran Lembu Sabdata yang diantar naik ke pendapa.

“Marilah adimas” Pangeran Singa Narpada mempersilahkan. Sementara Ki Sanggarana pun telah menyongsongnya dengan penuh hormat. Sama sekali tidak tercermin sikapnya kepada seorang tawanan.

Pangeran Lembu Sabdata pun kemudian naik ke pendapa dan duduk di tempat yang sudah disediakan, di sebelah Pangeran Singa Narpada.

“Marilah adimas” berkata Pangeran Singa Narpada pula, “sudah cukup lama kita tidak bertemu”

Pangeran Lembu Sabdata tidak menjawab. Tetapi kepalanya menunduk dalam-dalam. Namun demikian giginya terkatub rapat-rapat.

Dengan demikian Pangeran Lembu Sabdata berusaha untuk menahan diri, agar tidak dengan serta merta mengumpat-umpat dihadapan beberapa orang saudaranya itu.

Beberapa saat kemudian, maka Pangeran Singa Narpada itu pun berkata, “Adimas. Ada beberapa hal yang ingin aku bicarakan. Aku minta dengan sangat, agar adimas dengan ikhlas bersedia untuk memberikan keterangan sebaik-baiknya. Karena aku datang tidak atas kehendakku sendiri. Tetapi aku mewakili semua kadang di istana Kediri.

Pangeran Lembu Sabdata masih tetap berdiam diri. Tetapi dadanya rasa-rasanya bagaikan meledak.

“Adimas” berkata Pangeran Singa Narpada, “Yang ingin aku ketahui, sudah berapa lama adimas berada atau berkepentingan dengan tlatah Talang Amba atau lebih luas lagi daerah Gagelang ini? Menurut keterangan yang aku dengar, bukankah adimas justru pernah berada di Gagelang?

Pangeran Lembu Sabdata tidak segera menjawab. Tetapi ia masih tetap berdiam diri.

Pangeran Singa Narpada menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya kepada Ki Sanggarana dan Senopati yang bertanggung atas seluruh pasukan yang berada di Talang Amba, “Aku mengerti, bahwa cara ini tentu bukan cara yang terbaik untuk berbicara dengan adimas Lembu Sabdata. Karena itu, aku mohon kesempatan untuk berbicara pada satu tempat yang terpisah. Aku akan membawa beberapa orang saksi termasuk para perwira dari Singasari dan sudah tentu Ki Sanggarana sendiri”

“Silahkan Pangeran” jawab Ki Sanggarana yang mengerti kesulitan Pangeran Singa Narpada untuk berbicara di tempat terbuka, karena ada beberapa hal yang mungkin tidak perlu didengar oleh beberapa orang lain.

Karena itu. maka Ki Sanggarana pun kemudian mempersilahkan Pangeran Singa Narpada dan beberapa orang lain untuk masuk ke Pringgitan bersama Ki Sanggarana sendiri.

Tetapi sebenarnyalah yang terpenting bagi para Pangeran dari Kediri dan Singasari bukan saja mendapat keterangan dari Pangeran Lembu Sabdata. tetapi juga dari para pengikutnya. Karena itu dengan demikian, mereka akan mendapat gambaran, siapa saja yang telah terlibat dalam usaha yang dilakukan oleh Pangeran Lembu Sabdata yang sudah tentu tidak berdiri sendiri.

Karena itu. demikian Pangeran Singa Narpada mempersilahkan Pangeran Lembu Sabdata untuk memasuki pringgitan tanpa dapat menolaknya, maka beberapa orang yang lain telah membuat rencana mereka sendiri. Bersama para Senopati dari Singasari yang berada di Talang Amba maka para pengiring Pangeran Singa Narpada telah memencar ke banjar-banjar tempat para pengikut Pangeran Lembu Sabdata tertawan.

Ternyata tugas beberapa orang yang menemui para pengikut Pangeran Lembu Sabdata di banjar-banjar tidak terlalu banyak mengalami kesulitan. Pada umumnya tawanan-tawanan itu dengan terus terang mengatakan apa saja yang mereka ketahui. Tetapi yang mereka ketahui ternyata terlalu sedikit. Mereka hanya dibentuk untuk menjadi seorang pengikut yang setia dengan harapan-harapan yang sangat baik di masa depan, apabila nanti saatnya datang Kediri dapat menguasai kembali seluruh buminya yang pernah dirampas oleh Singasari.

Tetapi pada umumnya mereka tidak mengetahui cita-cita itu sampai mendasar karena mereka menangkap harapan-harapan itu dengan sangat dangkal

Itulah sebabnya, maka mereka pun dengan tekad yang menyala di dalam hati berusaha untuk menghancurkan perlahan-lahan kekuatan Singasari. Dari sedikit namun akhirnya Singasari akan runtuh.

“Apakah kalian tahu, apa artinya rencana Pangeran Lembu Sabdata untuk membuat hutan di lereng menjadi gundul?” bertanya seorang perwira dari Kediri kepada salah seorang pengikut Pangeran Lembu Sabdata.

“Aku mengetahui” jawab orang itu, “dengan demikian maka daerah di bawah lereng akan mengalami kesulitan. Di musim basah akan datang banjir setiap kali dan di musim kering mereka tidak akan mendapatkan air”

“Kau tahu dengan pasti” desis perwira itu.

“Ya. Tanah di tebing akan hanyut dan bukit itu akan menjadi bukit batu dan padas” orang itu melanjutkan.

“Jika demikian, kenapa kau melakukannya juga? Apakah kau dapat membayangkan penderitaan yang akan terjadi?” bertanya perwira itu.

“Kami dengan sengaja ingin melihat Singasari hancur” jawab orang itu yakin.

“Jadi, apakah yang akan didapatkan oleh Kediri seandainya ia dapat menghancurkan Singasari? Apakah kemudian Kediri hanya akan memerintah bukit gundul berbatu-batu terjal?” bertanya perwira itu.

“Hal itu tidak terjadi atas Kediri. Hanya atas Singasari” jawab orang itu.

“Kau membedakan Kediri dari Singasari. Jika menurut tanggapanmu Kediri menang, maka Kediri akan bangkit sementara Singasari akan dihancurkan? Jadi menurut angan-anganmu, Kediri adalah daerah dengan batasan yang mana karena sebelumnya Kediri mempunyai wilayah yang hampir sama dengan Singasari? Sehingga dengan demikian, maka berarti menghancurkan Talang Amba sekarang ini juga menghancurkan satu daerah yang akan menjadi wilayah Kediri seandainya Kediri menang atas Singasari” berkata perwira itu.

Orang itu menjadi termangu-mangu. Tetapi iapun mulai berpikir.

“Nah. Cobalah menilai apa yang telah kau lakukan” berkata perwira itu.

Namun di samping sikap dan sejauh manakah kesadaran para pengikut Pangeran Lembu Sabdata, maka para perwira dari Kediri dan Singasari itu pun mengenal siapa saja yang berada di dalam barisan Pangeran Lembu Sabdata. Meskipun mereka tidak mengatakan nama-nama dari jalur kepemimpinan mereka di Kediri, namun dengan mengetahui dari kesatuan mana saja yang telah membantu Pangeran Lembu Sabdata, maka orang-orang Kediri itu akan sampai kepada satu orang pemimpin dari satu lingkungan tertentu.

Di banjar yang lain, para perwira itu ternyata telah menemukan sekelompok tawanan yang berasal dari sebuah padepokan. Ternyata mereka sama sekali bukan pengawal dari Kediri. Mereka terlibat dalam pertempuran di Talang Amba karena mereka mendapat perintah dari pemimpin mereka.

“Padepokanmu tentu sebuah padepokan yang besar?” bertanya perwira yang memeriksanya.

Orang itu ragu-ragu. Tetapi akhirnya mereka pun mengangguk.

“Kenapa kalian melibatkan diri dalam permusuhan ini?” bertanya perwira itu pula.

“Aku tidak tahu” jawab salah seorang dari mereka, “Ki Ajar memerintahkan kepada kami untuk ikut dalam kesatuan ini”

“Dan pemimpin padepokanmu? Apakah ia ikut pula?” bertanya perwira itu pula.

Orang itu menggeleng. Katanya, “Hanya kami para cantrik dan jejanggan. Dua puluh orang diantara kami telah dipersiapkan. Tetapi yang kemudian ikut hanya lima belas orang”

“Berapa orang yang ada di banjar ini?” bertanya perwira itu pula.

“Yang aku ketahui hanya empat orang. Aku tidak tahu. dimana saja kawan-kawanku yang lain” jawab orang itu.

Perwira itu mengangguk-angguk. Ia mempercayai jawaban-jawaban orang itu. Dan ternyata bahwa orang itu memang tidak banyak mengetahui persoalan yang sedang dihadapi oleh Pangeran Lembu Sabdata. Mereka hanya sekedar melakukan perintah dari pimpinan padepokannya.

Ternyata bukan hanya satu padepokan saja yang telah terlibat. Tetapi beberapa padepokan dan kelompok-kelompok orang yang tidak puas menanggapi perkembangan masyarakat. Mereka yang berkeberatan membayar pajak mendapat janji pembebasan pajak untuk satu daerah yang akan menjadi daerah perdikan.

Para pemimpin dari Kediri dan Singasari itu pun melihat, bahwa jaring-jaring yang dipasang oleh Pangeran Lembu Sabdata dan beberapa orang saudaranya itu ternyata cukup luas.

Sementara itu di pringgitan rumah Ki Sanggarana, Pangeran Singa Narpada bersama seorang perwira dari Singasari, di Talang Amba dan Sanggarana sendiri sedang bertanya tentang beberapa hal kepada Pangeran Lembu Sabdata disaksikan oleh Ki Waruju.

Namun ternyata bahwa Pangeran Lembu Sabdata masih tetap bersikap permusuhan dengan orang-orang yang sedang mempertanyakan beberapa hal tentang dirinya itu.

“Adimas” berkata Pangeran Singa Narpada, “Aku memerlukan bantuanmu untuk memecahkan persoalan yang sedang dihadapi oleh Kediri dan Singasari sekarang ini. Jika kau sama sekali tidak mau mengatakan apapun juga, maka kami akan mengalami banyak kesulitan untuk mencari jalan yang paling baik. Yang tidak merugikan segala pihak dan bermanfaat”

“Apa yang baik kakangmas tidak selalu baik bagiku. Yang bermanfaat bagi Kediri dan Singasari sekarang ini, tidak selalu bermanfaat menurut pendapatku” jawab Pangeran Lembu Sabdata.

“Kau benar adimas. Tetapi yang ingin kami ketahui adalah alasanmu. Penjelasan-penjelasan dan mungkin beberapa kenyataan yang dapat kau tunjukkan kepada kami sehingga memaksa adimas melakukan langkah-langkah seperti sekarang ini berkata Pangeran Singa Narpada.

Tetapi Pangeran Lembu Sabdata nampaknya sama sekali tidak tertarik. Katanya, “Apa yang dapat aku katakan tentang sikapku? Yang aku katakan tentu tidak akan dipercaya. Karena itu kakangmas, sebaiknya kita hentikan saja pembicaraan ini. Jika kakangmas atas nama Kediri yang rapuh atau Singasari yang tamak itu akan menghukum aku, lakukanlah. Aku tidak akan berkeberatan menjalaninya. Aku memang seorang tawanan”

“Hatimu menjadi sekeras batu adimas. Sebenarnya kita masih mempunyai banyak kesempatan untuk mencari penyelesaian sebagaimana kadang sendiri. Memang tidak dapat diingkari, tentu ada perbedaan sikap diantara kita. Jika tidak, maka kau dan beberapa orang saudara kita tentu tidak akan melakukan hal seperti ini. Namun justru perbedaan sikap itulah yang ingin kami ketahui” berkata Pangeran Singa Narpada yang masih saja nampak sabar dan sareh.

Pangeran Lembu Sabdata menggeleng. Katanya, “Tidak ada yang perlu aku katakan. Sepatah kata aku menjawab, maka segera menjadi jelas, bahwa arah kita berlawanan. Karena itu, jawaban itu tidak akan ada gunanya sama sekali”

“Bagaimana jika ternyata kami dapat mengerti alasan-alasanmu, sehingga kami pun akan merubah arah?” desis Pangeran Singa Narpada.

Pangeran Lembu Sabdata tertawa betapapun pahitnya. Katanya, “Jangan menganggap aku masih terlalu kanak-kanak menanggapi persoalan ini. Baiklah kita sudahi saja pembicaraan ini. Agaknya tidak akan ada gunanya. Jika aku sekarang akan digantung, biarlah kakangmas menyediakan tambang di halaman. Bukankah tugas kakangmas akan cepat selesai”

Nampak perubahan pada wajah Pangeran Singa Narpada. Namun ia masih dengan sareh berkata, “Baiklah adimas. Jika hari ini kau tidak ingin mengatakannya, maka aku akan menunggu kesedianmu dengan sabar. Aku akan berada di Kabuyutan ini barang dua tiga hari. Dan jika saat itu masih belum cukup, maka aku pun akan menunggu sampai kapan pun”

“Tidak ada gunanya geram Pangeran Lembu Sabdata, “Meskipun kakangmas ada disini sampai kiamat, aku akan tetap menganggap bahwa pembicaraan diantara kita tidak akan ada gunanya. Bahkan seandainya kakangmas akan mempergunakan cara seperti yang dilakukan oleh para pengawal di Kediri yang sedang memeriksa seorang penyamun, aku pun merasa tidak perlu untuk memberikan keterangan apapun juga sampai tubuhku menjadi hancur lumat”

Pangeran Singa Narpada menarik nafas dalam-dalam, seakan-akan ia ingin mengendapkan isi dadanya yang mulai terangkat naik.

“Adimas, agaknya suasana di Kabuyutan ini perlahan-lahan akan menjadi berangsur baik. Kehidupan akan menjadi tenang dan berlangsung wajar. Sementara itu, diantara kita masih terdapat jurang yang tidak terjembatani” berkata Pangeran Singa Narpada.

“Memang. Tidak ada jembatan yang dapat menghubungkan pendirian kita masing-masing. Kami adalah orang-orang yang berdiri diatas harga diri, sementara pihak yang lain adalah orang-orang yang berhati ilalang. Karena itu, setiap pembicaraan hanya akan membuang waktu saja. Dan itu sebaiknya tidak usah dilakukan” jawab Pangeran Lembu Sabdata.

Pangeran Singa Narpada mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Jika demikian, kami akan kembali ke pendapa. Biarlah adi Pangeran berada di pringgitan ini”

“Aku akan kembali akan ke banjar” geram Pangeran Lembu Sabdata.

“Banjar mana?” bertanya Pangeran Singa Narpada.

“Banjar padukuhan induk ini” jawab Pangeran Lembu Sabdata.

“Siapa yang memerintahkan adimas ke sana?” bertanya Pangeran Singa Narpada pula.

“Tidak ada. Itu adalah keinginanku sendiri” jawab Pangeran Lembu Sabdata dengan nada keras.

“Sayang adimas” suara Pangeran Singa Narpada menurun, “adimas adalah seorang tawanan seperti yang adimas katakan sendiri. Karena itu, adimas tidak berhak untuk menentukan apapun juga meskipun atas diri adimas sendiri. Bukankah begitu? Jika diantara kita masih di antara dengan anggapan bahwa adimas adalah seorang tawanan kami, maka segalanya akan berlaku sebagai mana seharusnya bagi seorang tawanan”

Wajah Pangeran Lembu Sabdata menjadi tegang. Ia sadar, bahwa yang dikatakan oleh Pangeran Singa Narpada itu adalah ungkapan kemarahannya. meskipun dengan sekuat kemampuan telah dikekangnya.

Meskipun demikian Pangeran Lembu Sabdata masih juga tidak mau tunduk. Karena itu, maka katanya, “Perlakukan aku sebagai tawanan. Aku tidak akan menyesal”

Pangeran Singa Narpada mengatupkan giginya rapat-rapat. Namun ia masih tetap berusaha untuk berbuat sebaik-baiknya sebagai seorang Pangeran, saudara tua Pangeran Lembu Sabdata.

“Jika demikian adimas, kau akan tetap tinggal di pringgitan ini. Kau tidak akan dibawa pergi kemanapun juga. Nanti kita akan bertemu lagi. Mungkin kau sudah mempunyai kesempatan untuk berbicara lebih baik dari sekarang”

Pangeran Lembu Sabdata tidak menjawab. Ia tidak menghiraukan lagi ketika orang-orang yang berada di pringgitan itu kemudian meninggalkannya, kecuali dua orang pengawal yang selalu mengawasinya.

“Penjilat” geramnya ketika orang-orang yang berada di pringgitan itu kemudian meninggalkannya, kecuali dua orang pengawal yang akan selalu mengawasinya.

“Penjilat” geramnya ketika orang-orang itu sudah tidak berada lagi di pringgitan.

Kedua pengawal itu hanya saling berpandangan. Mereka tidak menjawab dan tidak berbuat apa-apa.

“Penjilat” sekali lagi mereka mendengar suara Pangeran Lembu Sabdata. Ketika kemudian keduanya berpaling kepadanya, maka Pangeran itu menunjuk mereka berdua berganti-ganti, “Kalianlah pengkhianat dan penjilat itu”

Kedua orang pengawal itu mengerutkan keningnya. Kemudian seorang diantaranya bertanya, “Kenapa Pangeran menuduh aku sebagai pengkhianat dan penjilat dan penjilat”

Kau bersedia menjalankan perintahnya meskipun kau tahu bahwa itu tidak benar” geram Pangeran Lembu Sabdata.

“Yang mana yang tidak benar Pangeran?” bertanya salah seorang dari keduanya.

Bersambung.... !

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...