*HIJAUNYA LEMBAH. JILID 013-04*
Kawannya justru tertawa. Katanya “Aku menjadi kasihan kepada mereka. Pemimpin-pemimpin mereka yang sombong sama sekali tidak memperhatikan keadaan yang sebenarnya dari anak-anak muda Talang Amba yang sebenarnya masih belum siap sama sekali menghadapi keadaan ini“
“Kemenangan yang pernah terjadi agaknya membuat mereka mabuk. Mereka tidak dapat lagi melihat kenyataan, bahwa kemenangan di Kabuyutan ini sebenarnya bukan kemenangan mereka. Tetapi kemenangan orang-orang Singasari yang licik itu” berkata orang yang pertama.
“Selambat-lambatnya dua hari lagi, Kabuyutan itu akan menjadi karang abang. Rumah-rumah akan dibakar. Dan anak-anak muda itu akan dibantai tanpa ampun. Mungkin kita akan mendapatkan perempuan boyongan yang dapat kita bawa kembali ke Kediri” sahut kawannya.
“Gila” geram yang lain “Aku sudah beristri. Jika aku mendapatkan gadis boyongan, tentu tidak akan aku bawa kembali ke Kediri“
“Kau bawa kemana“ bertanya kawannya.
“Aku tinggalkan saja ia disini” jawabnya. Kawannya mengerutkan keningnya. Namun iapun kemudian tertawa keras-keras.
“Sst” desis yang lain “jangan menjadi gaduh seperti itu. Ingat, tugas kita adalah tugas rahasia”
Kawannya terdiam. Namun bibirnya masih saja tersenyum-senyum.
Sebenarnyalan pada saat itu, anak-anak muda Talang Amba bagaikan menjadi kebingungan. Bahkan ada beberapa orang yang menyingkir dari padukuhan-padukuhan terpencil. Mereka akan dapat menjadi korban kebinasaan orang-orang yang mengancam akan menghancurkan Talang Amba itu. Sebagian besar dari mereka telah memasuki padukuhan induk Kabuyutan dan tinggal diantara sanak kadang mereka yang berada di induk padukuhan itu.
Tetapi Ki Sanggarana dan para bebahu Kabuyutan itu tidak berusaha untuk menenangkan mereka. Dibiarkannya saja kebingungan itu di Talang Amba.
Dalam pada itu, persiapan-persiapan yang sebenarnya telah dilakukan. Ki Sanggarana memang menganjurkan agar para penghuni padukuhan-padukuhan kecil lebih baik meninggalkan padukuhan mereka dan berada di padukuhan induk.
Sementara itu kesan kebingungan dan tingkah laku anak-anak muda yang hilir mudik dari satu padukuhan ke padukuhan yang lain itu memang disengaja oleh Ki Sanggarana dan para pemimpin Kabuyutan Talang Amba. Dengan demikian maka penempatan para prajurit Singasari ditempai tempat yang memerlukan tidak dapat diamati oleh para pengawas yang tidak berani memasuki Kabuyutan. Mereka hanya mengamati dari tempat yang jauh atau memasuki daerah pategalan diantara padukuhan-padukuhan. Sehingga mereka tidak dapat mengamat dengan cermat apa yang sebenarnya terjadi di padukuhan-padukuhan yang sedang bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan itu.
Dengan keadaan yang nampaknya membingungkan dan kegelisahan yang kurang dapat dikuasai itu. sebenarnyalah bahwa para prajurit Singasari lelah menempati tempat-tempat yang paling baik bagi mereka. Tempat yang akan memungkinkan mereka bergerak cepat kearah yang paling memerlukan, sementara itu, anak-anak muda Talang Amba sendiri telah berada di gardu-gardu pengawasan di padukuhan-padukuhan yang terpencar. Namun mereka lelah menyiapkan alat-alat isyarat serta tanda-tanda yang sudah saling disetujui.
Demikianlah. Talang Amba telah benar-benar berada dalam kesiagaan penuh. Selain anak-anak muda. maka para prajurit Singasaripun telah siap menghadapi segala kemungkinan. Dalam ujud sebagaimana anak-anak muda Talang Amba. sebagian dari merekapun telah berada di gardu-gardu pula. sedangkan sebagian besar tetap berada di dalam rumah rumah yang ditentukan bagi mereka di padukuhan-padukuhan yang tersebar.
Sementara itu untuk mempercepat gerak anak-anak muda Talang Amba. maka mereka telah mempersiapkan kuda sebanyak yang ada di Kabuyutan Talang Amba. Dengan kuda-kuda itu. maka anak-anak muda Talang Amba akan dapat digerakkan kearah pasukan lawan yang akan memasuki Kabuyutan Talang Amba.
Namun sekali lagi para pengawas telah men tertawakan anak-anak muda itu. Sebagian dari mereka memang telah mempergunakan kuda-kuda itu sebagai alat penghubung dari satu padukuhan dengan padukuhan yang lain.
“Anak-anak Talang Amba benar-benar melakukan persiapan. Seolah-olah Kabuyutan mereka adalah satu negara besar yang sudah bersiap menghadapi serangan lawannya” berkata salah seorang pengawas.
“Dengan nada tengadah anak-anak muda berkuda hilir-mudik” sahut yang lain “seakan-akan mereka adalah kesatria-ksatria yang sedang memeriksa pasukan segelar sepapan”
Keduanya tertawa. Namun merekapun tidak berkata lebih banyak lagi. Mereka hanya tinggal menunggu kehancuran Kabuyutan Talang Amba. karena merekapun sebenarnya lelah menjadi jemu mengawasi Kabuyutan itu untuk waktu yang sudah cukup lama. Meskipun mereka melakukan bersama beberapa orang dan mereka mendapat kesempatan untuk bergantian kembali ke Kediri, namun tugas itu merupakan tugas yang tidak menyenangkan.
Demikianlan. ketika hari pertama telah lewat, maka persiapanpun telah diperkuat. Agaknya orang-orang Kediri yang menjadi pengikut Pangeran yang gagal menguasai Talang Amba dengan memperalat Akuwu Gagelang itu benar benar akan lurun pada hari kedua.
Sebenarnyalah, ketika matahari mulai membayang di langit pada hari kedua, sepasukan yang kuat yang berada di hutan di lereng bukit telah bersiap. Katika Pangeran Lembu Sahdata memerintahkan untuk membakar hutan itu, maka seorang pengikutnya yang ditugaskan memasuki Talang Amba sebelumnya telah mencegahnya.
“Kita akan menghancurkannya kemudian. Kita akan mengikat para pemimpin Talang Amba itu pada batang batang pohon di dalam hutan ini dan membakarnya berkata pengikutnya itu. Kita tidak perlu memasuki hutan ini lagi” jawab Pangeran Lembu Sabdata.
“Tetapi orang-orang Talang Amba telah menghina kami” jawab pengikutnya “ketika kami berada di Talang Amba. mereka mengatakan, bahwa kami tidak akan berani memasuki Talang Amba. Yang dapat kami lakukan hanyalah menyalurkan kemarahan dan dendam kami hanya dengan membakar hutan itu saja”
Pangeran Lembu Sabdata mengerutkan keningnya, sementara pengikutnya itu berkata selanjutnya “kami ingin menunjukkan kepada mereka, apa yang dapat kami lakukan. Karena itu, kami ingin menangkap mereka, mengikat mereka dihutan ini, kemudian membakar mereka hidup-hidup bersama seluruh hutan ini” Mudah-mudahan angin bertiup nanti, sehingga hutan ini akan cepat menjadi abu. Kita akan membakar dari bagian bawah dan api akan menjalar ke lereng yang lebih tinggi. Kami akan memusnakan semua isinya termasuk binatang-binatang liar yang adadi dalamnya”
Pangeran Lembu Sabdata mengangguk-angguk. Dan pengikutnya yang lain yang ikut memasuki Talang Amba sebelumnya menyambung “Para pemimpin di Talang Amba terlalu sombong dan sikapnya sangat menyakitkan hati. Dibakar hidup-hidup itupun masih merupakan hukuman yang terlalu ringan bagimereka. Tetapi itu akan lebih baik daripada mereka dihukum mati sebagaimana kebiasaan kami menghukum mati seorang penjahat dengan juru tuwek”
“Terserahlah kepada kalian” desis Pangeran Lembu Sabdata. Lalu Agaknya kalian mempunyai pertimbangan tersendiri. Dalam akhir hidupnya, para pemimpin itupun akan melihat, bagaimana hutan mereka akan terbakar habis”
Dengan demikian maka Pangeran Lembu Sabdata telah mengurungkan niatnya untuk membakar hutan itu lebih dahulu. Akhirnya iapun sependapat untuk menangkap para pemimpin Talang Amba yang sombong dan memaksa mereka melihat kehancuran tanah yang mereka pertahankan. Hutan yang hijau itu akan menyala dan mereka akan ikut terbakar di dalamnya.
Tiba-tiba saja Pangeran Lembu Sabdata itu tertawa. Katanya “Pikiran kalian memang sangat menarik”
Demikianlah maka pasukan Pangeran Lembu Sabdata yang untuk beberapa malam berada di hutan itupun telah mulai bergerak. Mereka membagi pasukan mereka menjadi beberapa kelompok.
“Tutup semua jalan keluar” perintah Pangeran Lembu Sabdati “tidak boleh seorangpun dari para pemimpin Talang Amba yang luput dari tangan kita. Mereka semua harus mempertanggung-jawabkan perbuatan mereka. Kita akan memasuki Talang Amba dari beberapa arah. Menurut perhitunganku, mereka tidak akan mempertahankan padukuhan demi padukuhan. Tetapi mereka akan mempertahankan beberapa padukuhan terpenting saja. Terutama padukuhan induk. Karena itu, maka kita harus dapat mengepung padukuhan induk itu setelah menembus beberapa padukuhan terpenting di sekitarnya”
Atas petunjuk orang-orang yang telah berada di sekitar Talang Amba sejak beberapa saat sebelumnya, maka kelompok-kelompok itupun bergerak menuju kesasaran. Menurut petunjuk para pengawas, maka tiga padukuhan utama sebelum padukuhan induk merupakan padukuhan yang dijaga paling ketat.
“Anak-anak muda Talang Amba bagaikan kebingungan. Seperti gabah sedang ditampi. Agaknya tidak ada petunjuk yang mapan bagi anak-anak muda itu, bagaimana mereka harus mempertahankan padukuhan mereka. Tetapi menurut pengamatan kami, anak-anak muda Talang Amba terbanyak ada di tiga padukuhan yang merupakan padukuhan yang membayangi padukuhan induk dari tiga jurusan” berkata salah seorang dari para pengawas.
Pangeran Lembu Sabdata mempercayai petunjuk itu. Lapun memperhitungkan bahwa anak-anak muda Talang Amba akan bertahan di padukuhan itu, sebelum mereka melepaskan pasukan lawan menuju ke padukuhan induk.
Tetapi Bangeran Lembu Sabdata telah menentukan satu isyarat bagi pasukannya. Menjelang tengah hari, setiap kelompok harus sudah dapat menyeleaikan tugas masing-masing di padukuhan-padukuhan itu, seterusnya setelah isyarat dibunyikan, maka tengah hari mereka memasuki padukuhan induk dari tiga arah dan seterusnya padukuhan induk itu harus benar-benar dikepung rapat.
“Jika ada kesulitan, maka setiap kelompok harus memberikan laporan, sehingga bagi kelompok yang memiliki kelebihan kekuatan akan mengirimkan bantuan secukupnya” berkata Pangeran Lembu Sabdata.
Tetapi para pemimpin kelompok itupun tertawa. Salah seorang diantara mereka berkata “Apakah kira-kira diantara kita ada yang akan mengalami kesulitan? Jika demikian, maka sebaiknya kelompok yang mengalami kesulitan itu kembali saja ke Kediri, melepaskan pakaian pengawal kita dan ikut masak saja didapur”
Beberapa orang pemimpin pasukan pengawal yang terlibat dalam kegiatan Pangeran Lembu Sabdata dan beberapa orang saudaranya itu tertawa pula. Bahkan Pangeran Lembu Sabdatapun akhirnya tersenyum juga sambil berkata “Siapa tahu. Anak-anak Talang Amba sudah berlatih keras untuk beberapa hari. Mungkin ada keajaiban yang membuat mereka memiliki kekuatan seorang prajurit linuwih”
Yang mendengar gurau Pangeran yang sebelumnya selalu bersungguh-sungguh itupun tertawa pula.
Demikianlan, maka sejenak kemudian pasukan itu benar-benar telah menuruni bukit. Mereka meninggalkan hutan yang juga termasuk wilayah Talang Amba. Mereka sama sekali tidak menghiraukan padukuhan-padukuhan kecil yang terpencar. Tetapi mereka langsung menuju ke tiga padukuhan yang cukup besar diseputar padukuhan induk, sekedar dipisahkan oleh bulak-bulak sempit.
Anak-anak muda Talang Amba memang memberikan kesan, bahwa padukuhan itulah yang paling banyak dipertahankan, karena letaknya yang melindungi padukuhan induk Kabuyutaan Talang Amba.
Dalam pada itu, ketika kelompok-kelompok pasukan Pangeran Lembu Sabdata itu mendekati padukuhan-padukuhan di Talang Amba, maka para pengawas diantara anak-anak muda Talang Ambapun segera memberikan laporan. Beberapa orang berkuda meninggalkan padukuhan-padukuhan kecil yang memang tidak akan mereka pertahankan. Tetapi, sebenarnyalah bahwa padukuhan padukuhan itu bukannya padukuhan yang dikosongkan oleh anak-anak muda Talang Amba.
Dengan cerdik anak-anak muda Talang Amba yang telah berbaur dengan prajurit-prajurit Singasari di padukuhan padukuhan kecil itu memang menghindari pasukan Pangeran Lembu Sabdata.
Jika pasukan Pangeran Lembu Sabdata menuju ke sebuah padukuhan kecil sekedar untuk lewat, maka anak-anak di padukuhan itu telah berusaha untuk bersembunyi. Sementara itu pasukan Pangeran Lembu Sabdatapun tidak banyak memperhatikan padukuhan itu. Mereka sekedar lewat saja jalan induk yang membelah padukuhan itu menuju ke sasaran.
Apabila ketika kelompok-kelompok pasukan itu melihat beberapa anak muda yang meninggalkan padukuhan itu diatas punggung kuda. Maka merekapun semakin meyakini kebenaran perhitungan mereka, bahwa pasukan Talang Amba bertahan diseputar induk padukuhan.
Namun dalam pada itu, demikian pasukan Pangeran Lembu Sabdata itu lewat, maka anak-anak muda Talang Amba dan para prajurit Singasari yang berada di padukuhan-padukuhan kecil itupun segera bersiap-siap.
Beberapa saat kemudian, maka pasukan Pangeran Lembu Sabdata itupun telah mendekati tiga padukuhan induk yang mereka perhitungkan menjadi daerah pertahanan orang-orang Talang Amba. Pasukan Pangeran Lembu Sabdata itu memang tidak menghiraukan mereka menuju ke padukuhan induk menerobos lewat bulak-bulak diluar ketiga padukuhan yang mereka perkirakan menjadi daerah pertahanan orang-orang Talang Amba itu. Pasukanitu memang akan menusuk dan menghancurkan orang-orang Talang Amba yang bertahan di padukuhan-padukuhan itu. Baru menjelang tengah hari pasukan itu akan bergerak dan mengepung padukuhan induk, sehingga tidak seorangpun yang boleh lolos dari tangan mereka. Sementara itu, disaat pasukan Pangeran Lembu Sabdata itu bertempur di ketiga padukuhan yang menjadi sasaran itu, maka sekelompok kecil dari mereka akan mengamati padukuhan induk, agar tidak ada orang yang berusaha melarikan diri.
Demikianlah, maka pasukan itupun benar-benar telah berada dihadapan padukuhan-padukuhan yang menjadi sasaran. Setiap kelompok akan menghadapi satu padukuhan. Mereka mendapat waktu untuk menghancurkan seisi padukuhan itu dalam waktu setengah hari. sampai saatnya menjelang tengah hari mereka akan mengepung padukuhan induk.
Untuk mempersiapkan sergapan mereka di padukuhan-padukuhan yang menjadi sasaran, maka kelompok-kelompok pasukan itu kemudian telah mengatur diri. Pasukan-pasukan yang telah disusun dalam kelompok-kelompok itu lalu berpencar, membuat gelar sebelum mereka memasuki padukuhan.
“Membuang-buang waktu saja” desis salah seorang pengawal “seharusnya kita tidak perlu menganggap lawan di padukuhan itu sebagian lawan yang berarti, sehingga sebenarnya kita tidak perlu menyusun gelar. Begitu saja kita memasuki padukuhan itu lewat beberapa arah. Langsung saja kita menghancurkan padukuhan itu dan membakar semua rumah yang ada dan membunuh semua laki-laki yang melawan”
“Pemimpin-pemimpin kita terlalu berhati-hati” jawab kawannya “tetapi itu tidak ada jeleknya. Kita akan menghancurkan padukuhan itu dengan lebih sempurna Dengan gelar kita akan menempuh lawan kita dan menghancurkannya sampai tuntas“
Kawannya mengangguk-angguk. Namun rasa-rasanya sangat segan untuk maju dalam gelar yang sangat mengikat itu.
Tetapi para pengawal itu tidak dapat berbuat lain. Pimpinan mereka menghendaki demikian, dan mereka harus melakukannya.
Perlahan-lahan gelar pasukan Lembu Sabdata itupun merayap maju. Pangeran Lembu Sabdata sendiri berada diluar ketiga gelar yang siap untuk menghancurkan padukuhan-padukuhan dihadapan mereka. Dengan demikian Pangeran Lembu Sabdata akan dapat mengatur seluruh pasukan yang dibawanya.
Dalam pada itu, sebenarnyalah anak-anak muda Talang Amba dan para prajurit Singasari telah bersiap di dalam ketiga padukuhan itu. Sementara itu anak-anak muda di padukuhan-padukuhan kecil diluar ketiga padukuhan itu telah mendapat perintah pula untuk bergerak jika pertempuran telah terjadi. Mereka mendapat perintah untuk menghalangi semua unsur yang ada di dalamnya pasukan Pangeran Lembu Sabdata yang akan melarikan diri.
Ketika pasukan Pangeran Lembu Sabdata dalam gelar yang lengkap itu semakin dekat dengan padukuhan-padukuhan yang menjadi sasaran mereka, maka anak-anak muda yang ada dipadukuhan-padukuhan itupun telah mempersiapkan busur dan anak panah. Sebagaimana yang pernah mereka lakukan, maka dalam bentuknya pertama, mereka harus berusaha mengurangi jumlah lawan mereka sebanyak-banyaknya.
Tetapi pasukan Pangeran Lembu Sabdatapun telah mengenal cara itu pula. Karena itu. maka mereka yang telah berada di paling depan telah bersiap dengan perisai untuk melindungi diri dari ujung anak panah dan lembing.
Sejenak kemudian, maka benturanpun tidak dapat dihindarkan lagi. Ketika aba-aba terdengar dari para Senopati dalam gelar itu. maka para pengawal dalam pasukan Pangeran Lembu Sabdatapun telah bergerak semakin cepat. Sebagian dari mereka dengan segan ikut pula berlari-lari. Bahkan ada juga yang sempat bergumam “Anak-anak Talang Amba memang gila. Mereka dapat memaksa kami berlari-lari seperti ini. Sebaiknya kita memasuki padukuhan itu dari arah yang manapan yang kita kehendaki”
Tetapi kawannya tidak menjawab. Tiba-tiba saja ia terpaksa meloncat menghindar ketika sebuah lembing mengarah kepadanya.
“Satu lontaran yang luar biasa” desis Pengawal yang hampir saja terkena itu “lembing itu melampaui perisai yang melindungi pasukan ini”
“Kita sudah semakin dekat” jawab yang lain.
“Bagaimanapun juga kita harus berhati-hati” berkata kawannya pula anak-anak Talang Amba pernah belajar bagaimana mereka harus melontarkan senjata-senjata me reka”
Tidak ada jawaban lagi. Semua orang mulai memperhatikan tugas mereka di dalam satu kelompok yang cukup besar yang memencar dalam gelar yang melebar.
Namun yang tidak mereka duga sebelumnya, ketika tiba-tiba, saja mereka melihat anak-anak muda Talang Amba telah muncul dari balik dinding dan kemudian bahkan berloncatan keluar.
Sikap anak anak muda Talang Amba itu memang mengejutkan. Menurut perhitungan, maka anak-anak muda Talang Amba itu akan tetap berlindung dibalik dinding batu sambil melontarkan anak panah dan lembing, sehingga dengan demikian mereka berharap untuk dapat mengurangi jumlah lawan sebanyak-banyaknya. Namun bagi pasukan yang berpengalaman, maka mereka telah bersedia dengan pasukan berperisai untuk mengatasinya.
Tetapi yang mereka hadapi kemudian justru anak-anak muda Talang Amba itulah yang berloncatan keluar dari balik dinding dengan senjata teracu.
“Aneh” desis salah seorang diantara para penyerang “mungkin juga bahwa anak-anak itu sudah menjadi gila”
Dalam pada itu, Senopati yang memimpin setiap kelompok itupun telah mengambil sikap menghadapi anak-anak muda Talang Amba yang justru keluar dari sarang mereka. Dengan tegas para Senopati itu memerintahkan agar setiap orang di dalam pasukan itu tidak ragu-ragu.
“Lakukanlah tugas kalian dengan tegas dan penuh tanggung jawab“ perintah para Senopati “Jika lawan kalian terbunuh, adalah satu hal yang sangat wajar. Dan kalian memang harus membunuh sebanyak-banyaknya. Sebelum lengah hari tugas kalian disini harus sudah selesai, sebelum kita memasuki padukuhan induk Kabuyutan”
Perintah itu menjalar dari mulut ke mulut, sehingga setiap orangpun kemudian mendengar “Bunuh lawan sebanyak-banyaknya dan hancurkan padukuhan itu sehingga menjadi abu”
Beberapa orang pengawal dan pasukan Pangeran Lembu Sabdata itu. justru menjadi gembira. Setelah mereka mengatasi perasaan terkejut mereka, maka mereka merasa akan mendapat permainan yang mengasyikkan.
“Perburuan yang akan sangat menyenangkan” berkata salah seorang diantara mereka. Lalu katanya kepada kawan disampingnya “Marilah kita bertaruh. Siapa diantara kita yang lebih banyak membantai lawan”
“Tentu aku” jawab kawannya.
“Dua keping uang untuk satu kepala” berkata orang pertama “kita hitung berapa selisihnya. Tetapi kita harus jujur”
“Bagus. Kau harus menjual kerbaumu untuk membayar taruhan ini” jawab kawannya pula.
Demikianlah, maka jarak yang menjadi semakin pendek itupun akhirnya telah dilampaui. Kedua pasukan itupun telah membenturkan diri dengan serunya. Keduanya telah merundukkan senjata masing-masing. Sementara itu sorak yang gemuruh bagaikan membelah langit, Kedua belah pihak telah meneriakkan aba-aba. peringatan dan ancaman-ancaman. Bahkan ada pula yang telah mengumpat-umpat.
Benturan itu benar-benar mengejutkan para pengikut Pangeran Lembu Sabdata. Ternyata mereka tidak menyangka, bahwa pada benturan pertama itu. pasukan mereka dalam gelar itu bagaikan membentur benteng yang sangat kuat Ternyata pada saat terakhir, anak-anak muda Talang Amba yang berloncatan keluar dari padukuhan itupun telah menyusun satu gelar yang dapat mengimbangi welar pasukan Pangeran Lembu Sabdata.
Dengan demikian, maka induk pasukan dari para pengikut Pangeran Lembu Sabdata itu telah berhadapan dengan induk pasukan anak-anak muda Talang Amba. Sementara itu sayap-sayapnyapun telah berhadapan dengan sayap-sayap pasukan Talang Amba pula.
Yang terjadi itu bukan saja satu diantara tiga kelompok pasukan Pangeran Lembu Sabdata. Tetapi ketiga kelompok pasukan Pangeran Lembu Sabdata telah menghadapi keadaan yang serupa.
“Bukan main” geram salah seorang Senopati dari pasukan Pangeran Lembu Sabdata “anak-anak Talang Amba yang berlatih dalam waktu yang singkat itu telah mampu melakukan satu gerak pasukan dengan cepat dan rapi. Bagaimanapun kerasnya mereka melatih diri. namun agaknya mereka mendapatkan seorang atau lebih pelatih yang memang mumpuni dalam perang gelar”
Demikianlah yang terjadi kemudian adalah satu arena pertempuran yang sengit. Ternyata anak-anak muda Talang Amba bukan kambing hitam yang lemah yang dapat diperlakukan sekehendak hati pasukan lawannya. Para pengikut Pangeran Lembu Sabdata tidak dapal membantai orang-orang Talang Amba sebagaimana mereka kehendaki.
Dua orang pengikut Pangeran Lembu Sabdata yang bertaruh tentang jumlah orang yang dapat mereka bunuh, telah terkejut pula menghadapi lawan-lawannya. Pada saat mereka benar-benar ingin membunuh untuk mendapatkan kemenangan di dalam taruhan, maka keduanya ternyata telah menghadapi dua orang anak muda yang tangguh. Masing-masing menghadapi anak-anak muda yang ternyata memiliki kemampuan yang tinggi dalam mempermainkan senjata mereka.
“Gila” geram pengikut Pangeran Lembu Sabdata itu “siapakah yang mengajari kalian dalam ilmu pedang?“
Tiba-tiba saja salah seorang diantara lawan-lawannya itu menjawab “Ki Sanggarana”
“Omong kosong” teriak pengikut Pangeran Lembu Sabdata “suruh Sanggarana maju kehadapanku. Ia sendiri tidak akan mampu menghadapi aku dalam sekejap”
“Tetapi aku adalah muridnya. Guru yang cakap akan dapat membuat muridnya menjadi lebih pandai dari gurunya. Dan agaknya Ki Sanggarana adalah guru yang baik”
“Persetan” geram pengikut Pangeran Lembu Sabdata itu.
Dengan kemarahan yang menghentak-hentak dadanya, maka pengikut Pangeran Lembu Sabdata itupun berusaha untuk dengan cepat mengakhiri pertempuran. Namun ternyata lawan yang dihadapinya adalah lawan yang tangguh Pengikut Pangeran Lembu Sabdata itu tidak dapat mengalahkannya dalam sekejap seperti yang diduganya Bahkan dalam benturan senjata. Pengikut Pangeran Lembu Sabdata itu menjadi semakin heran. Lawannya bukan saja memiliki ilmu pedang yang mapan, yang dapat mengimbangi ilmunya, tetapi juga memiliki kekuatan yang mengejutkan.
Yang terjadi benar-benar diluar perhitungan para pengikut. Pangeran Lembu Sabdata. Ternyata orang-orang Talang Amba itu mampu memberikan perlawanan jauh lebih baik dari yang mereka perhitungkan.
Namun dalam pada itu, para pengikut Pangeran Lembu Sabdata itu telah menemukan beberapa persoalan yang menjadi pertanyaan diantara mereka. Kadang-kadang mereka menemukan lapisan-lapisan yang sangat lemah diantara pertahanan lawan. Namun dalam saat-saaat yang pendek, maka lapisan-lapisan itupun bagaikan bergeser. Ada diantara pasukan lawan yang seakan-akan bergerak dari satu tempat ke tempat lain. Dan ada diantara lawan yang selalu bertempur berpasangan.
Akhirnya orang-orang yang berada di dalam pasukan Pangeran Lembu Sabdata itupun menemukan jawabnya. Kemampuan anak-anak muda Talang Amba itu tidak tampak. Anak-anak muda Talang Amba itu terdiri dari beberapa tataran. Ada yang ternyata masih baru mulai pada tataran pertama dalam olah kanuragan, namun ada diantara mereka yang memiliki ilmu yang telah mapan.
Hal itu telah menumbuhkan kecurigaan pula pada para pengikut Pangeran Lembu Sabdata. Namun mereka tidak mempunyai kesempatan terlalu banyak. Lawan mereka mengalir dalam jumlah yang cukup besar, melamapaui jumlah mereka. Sementara itu, sebagian dari mereka memiliki kemampuan yang tinggi.
Sebenarnyalah pasukan Talang Amba adalah campuran antara anak-anak muda Talang Amba sendiri dan para prajurit Singasari yang. mengenakan pakaian seperti anak-anak muda Talang Amba. Satu pertempuran sebagaimana pernah pula terjadi saat orang-orang Talang Amba menghadapi para pengawal dari Gagelang.
Hal-hal yang dianggap janggal itupun kemudian telah dilaporkan pula kepada Pangeran Lembu Sabdata. Beberapa dugaan telah membuat Pangeran Lembu Sabdata itu marah sekali.
“Jadi kita mendapatkan keterangan yang salah?“ bentak Pangeran Lembu Sabdata.
“Masih dalam penyelidikan Pangeran” jawab seorang pengawalnya “tetapi ada diantara anak-anak Talang Amba yang memiliki kemampuan yang mengagumkan. Mereka berhasil mengimbangi kemampuan orang-orang kita”
“Hanya tiga orang di Talang Amba yang dapat diperhitungkan disamping Ki Sanggarana dan Ki Sendawa. Yang lain adalah tikus-tikus kecil yang tidak akan dapat melawan kalian“ Pangeran Lembu Sabdata hampir berteriak.
“Ya Pangeran“ pengawalnya menjadi Cemas melihat sikap Pangeran yang marah itu, sehingga ia tidak memberikan laporan lebih terperinci, karena pengawal itupun sedang menunggu mungkin ada perkembangan keadaan yang menguntungkan bagi pasukan Pangeran Lembu Sabdata itu.
Namun ternyata arena pertempuran itu tidak segera berubah. Pasukan Pangeran Lembu Sabdata tidak segera dapat mendesak lawannya. Jika pasukan itu bersepakat untuk menyelesaikan padukuhan-padukuhan itu sebelum tengah hari, untuk selanjutnya mereka akan memasuki padukuhan induk, maka ternyata kemajuan mereka tidak seperti yang mereka perhitungkan. Bahkan dibeberapa bagian dari medan itu, jumlah anak-anak muda Talang Amba yang terlalu banyak, telah membuat lawan mereka mengalami kesulitan.
Karena itulah, maka Pangeran Lembu Sabdata kemudian menjadi curiga tentang kekuatan lawan. Dengan demikian maka iapun kemudian memanggil pengawalnya dan memerintahkannya untuk melihat langsung perkembangan keadaan.
“Kita tidak boleh terlambat” berkata Pangeran Lembu Sabdata “sebelum matahari sampai di puncak langit kita-harus sudah menyelesaikan pertempuran ini”
Dua orang diantara pengawal khususnya itupun kemudian langsung menuju ke medan, untuk melihat sendiri, apa yang sebenarnya telah terjadi, sehingga pasukannya seakan-akan tidak mampu untuk mendesak maju anak-anak muda Talang Amba.
Sekilas kedua orang itu melihat, bahwa lawan memang terlalu banyak, Anak-anak muda Talang Amba bertempur dalam kelompok-kelompok untuk menghadapi para pengikut Pangeran Lembu Sabdata. Dan ternyata bukan saja anak-anak muda yang telah turun ke medan. Tetapi orang-orang yang lebih tuapun telah ikut pula. Seolah-olah semua laki-laki di Talang Amba telah ikut dalam pertempuran itu.
Untuk beberapa saat kedua pengawal itu mengamati dengan saksama. Namun akhirnya merekapun menemukan kejanggalan seperti yang pernah dilaporkan. Ada sebagian dari pasukan Talang Amba yang memiliki kemampuan yang mencurigakan.
“Aku tidak percaya bahwa orang-orang yang mampu menahan kemajuan pasukan kita itu adalah anak-anak muda Talang Amba” berkata salah seorang dari mereka.
“Jadi, mereka orang-orang mana?” bertanya kawannya.
“Aku jadi curiga pula terhadap kemampuan para pengawas yang ditugaskan oleh Pangeran Lembu Sabdata mengamati daerah ini sebelum ditentukan serangan ini” jawab yang pertama.
“Maksudmu, Talang Amba telah disusupi oleh pasukan Singasari seperti yang pernah terjadi?” bertanya kawannya.
“Ya” jawab yang pertama.
“Dalam jumlah yang besar?” bertanya kawannya pula.
“Ya” jawab yang pertama pula.
Tetapi kawannya menggeleng. Katanya “Pengawas yang ditempatkan didaerah ini tidak hanya satu orang. Tetapi cukup banyak. Jika didaerah ini telah didatangi sepasukan dari Singasari, mereka tentu melihatnya. Mungkin pada saat mereka memasuki padukuhan-padukuhan. Mungkin pada hari-hari yang lain“
Orang yang pertama mengangguk-angguk. Pengawas yang dikirim kedaerah Talang Amba memang cukup banyak. Mereka dapat mengawasi jalan-jalan masuk ke Kabuyutan. Jika satu pasukan memasuki Kabuyutan ini, maka mereka tentu melihatnya. Seandainya pasukan itu dipecah-pecah dalam kelompok-kelompok yang lebih kecil, maka merekapun akan dapat pula mengetahuinya.
“Sulit bagi pasukan Singasari untuk berada di Kabuyutan Talang Amba tanpa diketahui oleh para pengawas” berkata orang yang pertama itu.
Namun tiba-tiba kawannya bertanya “Bagaimana jika orang-orang Singasari itu memang belum beranjak sejak peristiwa dengan orang-orang Gagelang itu?“
“Tentu tidak” jawab orang pertama “menurut keterangan yang sampai kepada kita, mereka telah meninggalkan Talang Amba. Yang ada di Kabuyutan itu tinggal dua orang anak muda dan seorang yang sudah lebih tua Hanya itu”
“Tetapi apakah mungkin anak-anak muda Talang Amba memiliki kemampuan yang demikian tinggi hanya dalam waktu penempaan yang pendek, betapapun tinggi ilmu orang yang menempa mereka?”
“Tentu tidak” jawab orang pertama.
“Jadi kesimpulanmu?“ desak kawannya.
Orang yang pertama itu termangu-mangu. Namun menilik pertempuran yang berlangsung dengan dahsyatnya itu, maka iapun berdesis “Memang agaknya ada unsur orang diluar Kabuyutan ini yang ikut dalam pertempuran itu seperti yang pernah terjadi. Tetapi kapan mereka berada di dalam lingkaran Kabuyutan itu”
Kawannya mengangguk-angguk. Lalu iapun bertanya lagi “Jadi apa yang akan kita laporkan kepada Pangeran Lembu Sabdata?“
Orang yang pertama itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Aku tidak sampai hati untuk mengatakan bahwa pasukan dari luar Kabuyutan memang ada diantara anak-anak muda Talang Amba”
“Kenapa tidak sampai,hati?” bertanya kawannya.
“Kau sadar, apa yang akan dilakukan Pangeran Lembu Sabdata dan Senopati yang memimpin pasukan ini terhadap para pengawas? Para pengawas itu tentu akan mendapat hukuman yang sangat berat. Apalagi jika pasukan Pangeran Lembu Sabdata nanti dapat dihancurkan.
“Jadi, apa yang akan kita katakan? Jika kita tidak mengatakan yang sebenarnya, tetapi akhirnya pasukan kita itu pecah, apakah justru bukan kita sendiri yang akan mendapat hukuman?“
“Aku sadar” jawab orang pertama “agaknyaa kita akan melaporkan saja apa yang kita lihat tanpa memberikan dugaan apapun tentang orang-orang yang ada diantara anak-anak muda Talang Amba. Kita hanya akan mengatakan bahwa diantara anak-anak muda Talang Amba terdapat anak-anak muda yang memiliki ilmu yang dapat mengimbangi orang-orang kita. Siapapun mereka. Mungkin anak-anak muda Talang Amba sendiri yang sudah berlatih dengan keras, sehingga mereka memilikikemampuan yang mengejutkan”
Kawannya mengangguk-angguk. Ia sependapat dengan kawannya itu. lapun tidak ingin melihat para pengawas mendapat hukuman yang berat karena mereka tidak dapat mengetahui tataran kemampuan lawannya. Bahkan mungkin ada unsur dari luar yang telah memasuki Kabuyutan Talang Amba.
Demikianlah merekapun kemudian kembali kepada Pangeran Lembu Sabdata yang dikawal oleh beberapa orang mengamati pertempuran dari jarak yang cukup.
Ketika para pengawal yang mendapat perintah untuk mengamati pertempuran dari dekat itu menemuinya, maka dengan serta merta Pangeran itupun bertanya “Bagaimana menurut pertimbanganmu atas laporan-laporan tentang keadaan medan?”
“Memang ada beberapa masalah yang timbul Pangeran” jawab salah seorang dari mereka “ternyata anak-anak muda Talang Amba sebagian memiliki kemampuan yang mampu mengimbangi pasukan kita. Mungkin mereka adalah anak-anak muda yang telah mendapat tempaan yang berat selama ini. Mungkin Talang Amba telah menunjuk sebagian dari anak mudanya yang memang sudah memiliki sedikit ilmu kanuragan. Kemudian orang-orang yang sudah memiliki dasar itu telah ditempa sehingga mereka menjadi pengawal Kabuyutan yang kuat sekarang ini”
Tetapi Pangeran Lembu Sabdata membentak “Jangan mengigau. Anak-anak muda Talang Amba tidak akan mungkin mencapai tataran kemampuan pasukan kita. Mungkin mereka memang meningkat, tetapi tentu masih jauh dari tataran pasukan Kediri”
Tetapi kami memang melihat orang orang yang memiliki ilmu yang tinggi” desis pengawal itu.
“Gila. Ada yang tidak wajar di Talang Amba. Dan ini adalah kesalahan para pengawas” geram Pangeran Lembu Sabdata.
Dalam pada itu. maka dua orang pengawal yang lain telah datang pula berlari-lari kecil dengan nafas terengah-engah. Dengan sertu merta kedua orang itu menghadap Pangeran Lembu Sabdata. Seorang diantaranya berkata sendat “Pangeran. Agaknya memang benar Ada orang Singasari atau Gagelang yang ada diantara anak-anak muda Talang Amba”
Pengawal yang lapor pertama itu menarik nafas dalam-dalam, la sudah berusaha melindungi para pengawas. Tetapi agaknya kawan-kawannya tidak berbuat demikian, sehingga mereka mengatakan terus terang, apa yang telah mereka lihat.
“Jadi menurut pertimbanganmu, yang memiliki ilmu yang mampu mengimbangi ilmu orang-orang kita itu bukan anak muda Talang Amba sendiri?“
“Bukan Pangeran” jawab pengawal itu “Aku yakin bahwa mereka bukan anak-anak muda Talang Amba meski pun menilik pakaian mereka memang demikian”
Pangeran Lembu Sabdata menggeram. Kemarahannya bagaikan membakar jantungnya. Dengan suara bergetar ia berkata “Jadi, apa artinya aku menempatkan para pengawas di sekitar Kabuyutan ini untuk waktu yang cukup lama dengan beaya yang tinggi. Ternyata mereka tidak mampu melakukan tugas mereka mengamati Kabuyutan Talang Amba. Jika benar diantara anak-anak muda dan pengawal Kabuyutan itu orang-orang Singasari atau Gagelang, maka tugas kita akan menjadi berat. Tidak mudah untuk menghancurkan mereka. Apalagi sesuai dengan rencana kita untuk menyelesaikan tugas kita masing-masing disetiap padukuhan sampai sebelum tengah hari”
“Tidak mungkin dapat kita lakukan Pangeran“ pengawal yang melaporkan tentang kehadiran orang-orang dari luar Kabuyutan itu menyambung “pertempuran, di padukuhan-padukuhan itu ternyata sulit untuk dapat maju meskipun hanya setapak”
Pangeran Lembu Sabdata menjadi tegang. Katanya “Aku masih menunggu-laporan dari dua orang yang melihat keadaan padukuhan yang satu lagi”
Sejenak kemudian, dua orang pengawal telah mendekati mereka pula. Dua orang pengawal yang mengamati pertempuran di padukuhan ketiga.
“Bagaimana pendapatmu?” tanya Pangeran Lembu Sabdata ketika keduanya mendekat.
“Ada kekuatan lain yang membantu orang-orang Talang Amba Pangeran. Kami merasa ragu bahwa kemampuan anak-anak muda Talang Amba dapat maju demikian pesatnya dalam waktu yang dekat” jawab pengawal itu “namun kami belum mendapat bukti, dari manakah orang-orang yang ada diantara orang-orang Talang Amba itu” jawab pengawal itu.
“Bodoh” geram Pangeran Lembu Sabdata “Kenapa kau tidak menyebutkan saja orang Singasari atau orang Gagelang?“
“Bagaimana kami dapat menyebut demikian. Pangeran” jawab pengawal itu “kami tidak melihat perbedaan lahiriah antara orang-orang yang kami anggap memiliki kelebihan itu dengan anak-anak muda Talang Amba sendiri.
“Bagus“ Pangeran Lembu Sabdata hampir berteriak “orang manapun mereka, tetapi ada kekuatan dari luar Talang Amba yang membantu mereka”
Kedua jorang itu ragu-ragu. Namun akhirnya mereka mengangguk.
“Nah, bukankah sudah lengkap. Ketiga padukuhan itu sudah diamati. Hasilnya sama. Ada kekuatan lain yang ada di Kabuyutan Talang Amba. Meskipun diantara kalian tidak berani menyebut bahwa mereka berasal dari Singasari atau Gagelang. Tetapi itu bukan soal. Soalnya adalah para pengawas tidak melihat ada kekuatan lain yang memasuki Talang Amba itu” kemarahan Pangeran Lembu Sabdata bagaikan akan meledakkan jantungnya.
Para pengawal yang telah mengamati pertempuran di tiga padukuhan itu tidak dapat berbuat apa-apa. Mereka memang mengatakan demikian. Mereka melihat kekuatan yang bukan anak-anak Talang Amba sendiri.
Dalam pada itu, tiba-tiba saja Pangeran Lembu Sabdata itu berteriak “Panggil pemimpin pengawas itu. Ia ada disini sekarang”
Para pengawal itu menjadi termangu-mangu. Pemimpin pengawas itu memang berada di medan itu bersama para pengawas yang lain. Mereka ikut serta di dalam pasukan Pangeran Lembu Sabdata. Ketika pasukan itu mendekati Talang Amba, maka mereka langsung bergabung dengan pasukan itu.
“Cepat” teriak Pangeran itu pula.
Dua orang pengawal telah melangkah meninggalkan sekelompok pengawal yang berada di sekitar Pangeran Lembu Sabdata yang marah. Demikian keduanya melangkah menjauh, maka seorang diantara mereka berkata “Pengawas itu memang bodoh. Mereka tidak dapat melihat, kapan orang-orang dari luar itu masuk. Jika hanya satu atau dua. Mungkin sepuluh dua puluh, masih dapat dimengerti. Tetapi kekuatan yang ada di Talang Amba terdiri dari beberapa kelompok yang memencar di semua padukuhan”
Dua orang pengawal itu menyadari, apa yang mungkin dapat terjadi atas pemimpin pengawas itu, karena para pengawas yang berada di sekitar Kabuyutan ini memang sudah menghabiskan banyak beaya. Seolah-olah semua yang mereka minta telah dipenuhi dengan satu harapan, bahwa Pangeran Lembu Sabdata akan dapat memasuki Talang Amba dengan rancak dan membakar rumah-rumah yang dikehendaki. Yang terakhir Pangeran Lembu Sabdata akan membakar hutan di lereng bukit tanpa diganggu oleh siapapun.
Tetapi keinginan Pangeran Lembu Sabdata itu telah pecah ketika diketahuinya, bahwa ada kekuatan lain yang membantu Kabuyutan talang Amba.
Demikianlah, maka Kcdua pengawal itu telah mencari pemimpin pengawas yang memang ada di medan. Semula mereka berada dibelakang pasukan para pengikut Pangeran Lembu Sabdata yang bertempur di padukuhan dihadapan mereka. Namun ketika kedua pengawal itu sampai ke belakang medan, mereka tidak segera dapat menemukan pemimpin pengawas itu.
“Agaknya ia telah melibatkan diri” berkata salah seorang dari para pengawal itu.
“Apakah mereka memang mendapat tugas yang demikian?” bertanya kawannya.
“Aku tidak tahu. Menurut pendapatku, kewajiban mereka sudah selesai sampai saatnya Pangeran Lembu Sabdata datang ke Kabuyutan ini, karena mereka hanya bertugas untuk mengawasi. Tetapi apabila mereka dengan suka rela ikut pula di dalam pasukan ini, hal itu memang mungkin sekali terjadi”
Kawannya mengangguk-angguk. Mungkin para pengawas termasuk pemimpinnya itu melihat kesulitan yang terjadi di medan, sehingga mereka terdorong untuk ikut serta membantunya.
Karena itu, maka kedua orang pengawal itupun telah mendekati arena pertempuran untuk mencari pemimpin pengawas yang mungkin telah ikut bertempur.
Tetapi mereka tidak segera melihat pemimpin pengawas itu. Meskipun mereka sudah beberapa lama berada di medan, seakan-akan telah menilik semua orang yang bertempur, namun seorangpun dari pengawas tidak diketemukannya.
“Mungkin ia berada di padukuhan yang lain” gumam salah seorang diantara kedua orang pengawal itu.
“Mungkin. Tetapi mungkin mereka telah tidak ada di medan di Kabuyutan Talang Amba ini” jawab yang lain.
“Pergi?” bertanya kawannya.
“Ya. Melarikan diri. Bukan saja untuk menyingkir dari kemungkinan ditangkap oleh orang-orang Talang Amba, tetapi jika mereka tetap berada disini, mereka tentu akan ditangkap oleh Pangeran Lembu Sabdata sendiri. Jika demikian, maka nasib mereka akan jauh lebih buruk daripada mereka ditangkap oleh orang-orang Singasari, jika yang berada di Talang Amba itu prajurit-prajurit Singasari” jawab yang lain.
Kawannya mengangguk-angguk. Katanya “Kau benar, Jika ia jatuh ketangan Pangeran Lembu Sabdata yang melihat kesulitan di medan kali ini, maka mungkin sekali, umurnya tidak akan sampai malam nanti”
“Tetapi, nasib kita sendiripun menjadi gawat, jika kita tidak dapat menghadapkan para pengawas” desis yang lain.
“Kedudukan kita agak lain. Kita tidak pernah dianggapnya menipu atau berkhianat” berkata kawannya.
Meskipun demikian keduanya menjadi berdebar-debar juga. Mereka bersepakat untuk mencari pengawas itu di kedua padukuhan yang lain, yang juga menjadi ajang pertempuran. Namun di kedua padukuhan itupun mereka tidak menemukan para pengawas. Apalagi pemimpinnya.
“Mereka menyadari kegagalan mereka, sehingga mereka tidak dapat melihat bahwa ada sepasukan prajurit yang memasuki Kabuyutan ini. Karena itu, maka lebih baik bagi mereka untuk melarikan diri saja” berkata salah seorang dari keduanya.
Kawannya mengangguk-angguk.
Dengan demikian, setelah mereka yakin tidak akan dapat menemukan para pengawas, maka merekapun segera kembali ke tempat Pangeran Lembu Sabdata memimpin seluruh pasukannya.
Laporan tentang lenyapnya para pengawas itu membuat Pangeran Lembu Sabdata semakin marah. Ia sadar, bahwa para pengawas itu telah mengkhianatinya ketika mereka menyadari bahwa tugas mereka telah gagal.
“Kerahkan semua pasukan cadangan. Kita akan menghancurkan orang-orang Talang Amba sebagaimana kita rencanakan. Sebelum tengah hari, maka padukuhan-padukuhan itu harussudah selesai, sehingga kemudian kita akan dapat pergi ke padukuhan induk.
Demikianlah, maka perintah itupun telah jatuh. Semua pasukan cadangan, dan bahwa para pengawal Pangeran Lembu Sabdata itupun telah dikerahkan ke medan. Bahkan Pangeran Lembu Sabdatapun telah langsung berada di antara pasukannya di salah satu medan di padukuhan-padukuhan di sekitar padukuhan induk Kabuyutan Talang Amba.
Sebenarnyalah pada waktu itu, para pengawas telah melihat kegagalan tugasnya. Dengan jantung yang berdentang-an mereka melihat, tiba-tiba saja ada kekuatan yang tidak mereka kenal berada di Talang Amba. Para pengawaspun yakin, bahwa mereka tentu bukannya anak-anak muda Talang Amba – sendiri. Sehingga dengan demikian, maka mereka telah mengambil kesimpulan bahwa mereka tidak dapat melaksanakan tugas mereka dengan baik.
Karena itulah, maka para pengawas itu bersepakat untuk melarikan diri saja dari medan. Karena jika mereka jatuh ketangan Pangeran Lembu Sabdata, maka ujung kerisnya tentu akan segera mengakhiri hidup para pengawas itu. Tanpa ampun.
Namun ternyata mereka sekali lagi salah hitung. Ketika mereka meninggalkan padukuhan yang berada dekat dengan padukuhan induk itu, maka di padukuhan kecil yang merupakan pintu keluar dari Kabuyutan Talang Amba, para pengawas itu telah dicegat oleh beberapa orang anak muda.
“Kalian akan pergi kemana Ki Sanak?” bertanya seorang diantara anak-anak muda itu.
“Kami akan meninggalkan neraka ini” jawab salah seorang dari para pengawas itu.
“Siapakah kalian sebenarnya” tanya pemimpin dari anak-anak muda yang menghentikan para pengawas itu.
“Kami adalah orang-orang Kediri. Kami tidak mau diadu dengan orang-orang Talang Amba. Karena itu, maka kamipun merasa lebih baik untuk pergi” jawab salah seorang dari para pengawas.
Tetapi pemimpin dari anak-anak muda itu berkata “Jangan pergi Ki Sanak. Kami persilahkan Ki Sanak tinggal di padukuhan ini sampai pertempuran berakhir. Nanti segalanya akan diselesaikan dengan baik. Karena Ki Sanak adalah bagian dari orang-orang yang menjadi pengikut Pangeran dan Kediri itu, maka untuk sementara Ki Sanak menjadi tawanan kami”
“Aku bukan pengikut Lembu Sabdata“ bentak pengawas itu.
“Siapa? Lembu Sabdata? Jadi Pangeran dari Kediri itu bernama Lembu Sabdata?” tanya seorang diantara anak-anak muda Talang Amba itu.
“Ya. Pangeran Lembu Sabdata. Nah, beri aku jalan keluar” geram salah seorang diantara para pengawas itu.
“Jangan Ki Sanak. Lebih baik Ki Sanak tidak bersikap bermusuhan” jawab pemimpin dari anak-anak muda itu.
Para pengawas itu menjadi tegang. Diluar sadar, mereka memperhatikan anak-anak muda yang telah menghentikan mereka. Menurut ujudnya mereka adalah anak-anak muda Talang Amba. Tetapi seperti yang berada di padukuhan di sekitar padukuhan induk Talang Amba, ternyata terdapat beberapa kelompok orang yang memiliki kemampuan yang tinggi, yang pasti bukan anak-anak muda Talang Amba, sehingga para pengawas itu merasa telah melakukan satu kesalahan, bahw a mereka tidak melihat, kapan orang-orang itu hadir.
Karena itulah, maka mereka lebih baik menghindarkan diri dari Pangeran Lembu Sabdata yang akan dapat menghukum mereka, karena pada saat mereka melakukan tugas, seakan-akan apa saja yang mereka kehendaki telah dipenuhi. Sehingga dengan demikian maka pengawasan itu telah menelan beaya yang cukup banyak. Namun yang ternyata tidak ada artinya sama sekali.
Dengan demikian, bukan saja karena beaya yang besar, tetapi juga karena pasukan para pengikut Pangeran Lembu Sabdata itu telah terjebak memasuki satu lingkungan pasukan lawan yang sangat kuat.
Untuk beberapa saat para pengawas yang ingin menghindari kemarahan Pangeran Lembu Sabdata itu termangu-mangu. Namun hampir semua diantara mereka berpendapat, bahwa kekuatan orang-orang dari luar Talang Amba tentu berada di tiga padukuhan di sekitar padukuhan induk itu.
Karena itulah, maka para pengawas itu menganggap bahwa yang mereka hadapi itu benar-benar hanya anak-anak muda Talang Amba saja.
“Ki Sanak” berkata salah seorang diantara para pengawas “seharusnya Ki Sanak tidak mengganggu kami. Kami sudah menyatakan bahwa kami tidak mau diadu domba dengan anak-anak muda Talang Amba. Karena itu, kami akan pergi saja. Tetapi Ki Sanak justru menghalangi kami.
“Kami terpaksa melakukannya” jawab pemimpin anak-anak muda itu “kami memerlukan keterangan selengkapnya tentang pasukan yang tiba-tiba telah menyerang Talang Amba tanpa sebab ini. Karena itu maka kami berharap bahwa kalian bersedia tinggal. Karena menurut pengamatan kami, kalian tentu termasuk orang-orang yang akan dapat memberikan keterangan kepada kami“
“Jangan memaksa“ tiba-tiba salah seorang pengawas itu menggeram “Aku akan dapat mengambil jalan kekerasan untuk meninggalkan tempat ini”
“Jika demikian sikap Ki Sanak untuk menghindari permusuhan dan adu domba itu tidak ada artinya” berkata pemimpin anak muda itu.
“Ada bedanya. Kami sekedar mempertahankan kebebasan kami. Mempertahankan hak kami sebagai seorang yang tidak berada dibawah kuasa kalian” jawab salah seorang pengawas “Karena itu maka jangan halangi kami. Dengan demikian maka kami benar-benar tidak akan bermusuhan dengan kalian”
Tetapi pemimpin anak-anak muda Talang Amba itu menggeleng. Katanya “Maaf Ki Sanak. Kami tidak akan melepaskan kalian. Kami curiga terhadap siapapun juga. Apalagi Kalian, karena kalian akan dapat menjadi penghubung untuk mendapatkan bantuan dari kawan-kawan kalian yang mungkin kini berada di disatu tempat”
“Gila“ seorang pengawas yang bertubuh tinggi besar dan berjambang panjang menggeram “Jika demikian, maka kami benar-benar akan mempergunakan kekerasan. Jangan menyesal jika dengan demikian ada diantara kalian yang terbunuh”
“Kami adalah pengawal Kabuyutan” jawab pemimpin pengawal itu “Jika ada diantara kami yang harus gugur dalam tugas ini, adalah satu akibat yang sangat wajar. Karena itu kami tidak akan takut karenanya”
Para pengawas yang ingin melepaskan diri dari tangan Pangeran Lembu Sabdata itu menggeram. Namun agaknya anak-anak muda yang menahan mereka itu benara-benar tidak akan melepaskan mereka begitu saja. Karena itu, maka memang tidak ada jalan lain untuk keluar kecuali dengan kekerasan.
Karena itu, maka para pengawas itupun telah mempersiapkan diri untuk bertempur.
Demikianlah, anak-anak muda Talang Amba itupun telah memencar. Mereka menghadapi para pengawas itu dari berbagai arah. Namun dengan demikian, maka para pengawas yang gagal melakukan tugas mereka itupun seakan-akan telah terkepung…..
Bersambung.....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar