*HIJAUNYA LEMBAH. JILID 025-02*
Sementara itu, Pangeran Singa Narpada terlibat ke dalam pertempuran yang sengit pula melawan Ki Ajar Bomantara. Ternyata pertapa itu benar-benar seorang yang memiliki ilmu yang sangat tinggi sehingga Pangeran Singa Narpada benar-benar harus berhati-hati menghadapinya. Banyak persoalan yang harus dipecahkan dalam pertempuran itu, sehingga Pangeran Singa Narpada yakin, bahwa ia tidak sekedar dapat mempergunakan wadagnya, ilmu dan kemampuannya, tetapi juga otaknya.
Yang dilakukan Ki Ajar memang banyak mengandung kemungkinan. Karena itu, Pangeran Singa Narpada harus dengan cepat memecahkan kemungkinan-kemungkinan itu sehingga sampai pada satu kesimpulan sebelum mengambil sikap.
Dengan demikian maka pertempuran antara keduanya menjadi sulit untuk diterka. Kadang-kadang yang tidak terduga-duga telah terjadi. Tetapi sebaliknya yang diperkirakan akan terjadi, justru tidak.
Namun dalam pada itu, Ki Ajar harus bekerja sebaik-baiknya untuk menghadapi Pangeran Singa Narpada. Ia harus yakin, bahwa ia akan memenangkan pertempuran. Seandainya ia sendiri pada saat itu tidak bertemu dengan Pangeran Singa Narpada, maka Pangeran Lembu Sabdata lah yang harus melakukan untuknya.
Karena itu, menurut perhitungannya, maka Pangeran Singa Narpada yang langsung menghadapinya itu, pada suatu saat akan dihancurkannya.
Tetapi Pangeran Singa Narpada sudah tentu tidak akan membiarkan dirinya digulung oleh kemampuan dan ilmu Ki Ajar. Karena itu, maka apapun yang terjadi, dihadapinya dengan hati yang tabah. Ketabahan hati seorang Senapati Agung yang pantang menyerah.
Tetapi Ki Ajar dengan penuh keyakinan telah menekan lawannya. Ia harus menunjukkan kepada murid-muridnya di padepokan itu, juga kepada muridnya yang khusus Pangeran Lembu Sabdata, bahwa Pangeran Singa Narpada bukan apa-apa baginya.
Dengan perhitungan yang cermat, Ki Ajar berusaha untuk selalu berada selapis diatas tataran kemampuan lawannya. Demikian Pangeran Singa Narpada berusaha mengimbangi Ki Ajar dengan meningkatkan ilmunya, maka Ki Ajar sudah selapis pula di atasnya.
Karena itulah, maka Pangeran Singa Narpada harus bekerja keras untuk dapat bertahan terhadap lawannya. Dalam kesempatan yang terbuka, maka serangan Ki Ajar memang datang bagaikan badai. Menerjang dengan kekuatan yang tidak terlawan, sehingga setiap kali Pangeran Singa Narpada memang terdesak surut.
Untuk mengimbangi tingkat ilmu lawannya, Pangeran Singa Narpada berusaha untuk sampai kepada tingkat tertinggi kemampuannya ilmu kewadagannya. Dengan demikian ia mampu bergerak dengan kecepatan yang hampir tidak kasat mata. Dengan kecepatan gerak itu Pangeran Singa Narpada berusaha, untuk mengurangi tekanan Ki Ajar yang terus semakin berat.
Namun ternyata bahwa Ki Ajar masih belum sampai ke puncak. Ketika Pangeran Singa Narpada mengerahkan kemampuannya dan menitik beratkan perlawanannya kepada kecepatan gerak, maka Ki Ajar itu tertawa. Katanya, “Kau akan mencoba untuk mengatasi kecepatan gerakku Pangeran.”
Pangeran Singa Narpada tidak menjawab. Namun ia sadar, bahwa dalam keadaan yang demikian, maka Ki Ajar itu tidak sekedar bergurau. Ia akan mampu untuk berbuat lebih banyak lagi dari yang dilakukannya.
Sebenarnyalah ternyata bahwa Ki Ajar telah meningkatkan pula kecepatan geraknya, sehingga Pangeran Singa Narpada tidak berhasil mengatasinya dengan bertumpu kepada kecepatannya.
Dengan demikian maka akhirnya Pangeran Singa Narpada pun telah meningkatkan ilmunya pula tidak sekedar pada puncak kemampuan kewadagannya. Dengan memusatkan nalar budinya, maka iapun telah merambah dalam kemampuan ilmunya yang dilambarinya dengan ungkapan tenaganya yang paling dalam, yang disadapnya dari kekuatan alam yang melingkunginya.
Demikianlah, maka Pangeran Singa Narpada telah menggeram bagaikan seekor singa. Dengan menghentikan semua daya ungkapnya atas kemampuannya untuk menyadap kekuatan dari alam sekitarnya, maka Pangeran Singa Narpada telah mengisi semua tatageraknya dan daya tahannya dengan kekuatan-kekuatan yang hanya dapat disadapnya lewat laku yang rumit dan berat.
Karena itulah maka kekuatan dan daya tahan Pangeran Singa Narpada benar-benar sampai pada satu tataran diluar jangkauan nalar dan pikiran wantah.
Ki Bomantara terkejut melihat perubahan yang terjadi pada Pangeran Singa Narpada. Ketika terjadi benturan kekuatan meskipun tidak langsung, namun Ki Ajar telah mendapat kesan, bahwa kekuatan Pangeran Singa Narpada telah menjadi berlipat ganda.
Ki Ajar Bomantara menarik nafas dalam-dalam. Bahkan kemudian katanya, “Tingkah laku Pangeran lelah mempercepat penyelesaian. Pangeran telah memamerkan satu kekuatan yang luar biasa. Yang tidak dapat aku lawan dengan kemampuan wajar dan tenaga cadangan yang tersedia didalam diriku. Karena itu, maka biarlah kita mempertemukan ilmu kita masing-masing. Justru karena aku tidak ingin menjadi korban karena ilmu Pangeran, biarlah ilmukulah yang melumatkan Pangeran.”
Pangeran Singa Narpada pun menjadi semakin berhati-hati. Ia sadar apa yang akan terjadi. Karena itu maka sebelum ia dilumatkan, maka ia harus membangunkan seluruh kekuatannya.
Namun demikian, maka sejenak kemudian, Ki Ajar benar-benar melakukan apa yang dikatakannya. Dengan ilmunya yang mampu membangunkan kekuatan yang disadapnya dari luar dirinya, maka iapun bagaikan memiliki kekuatan raksasa. Bahkan lebih dari itu, maka tiba-tiba saja udara di sekitar Ki Ajar itupun menjadi hangat. Bukan saja hangat, tetapi semakin lama menjadi semakin panas.
Ilmu yang dilepaskan oleh Ki Ajar adalah sejenis ilmu yang telah diteruskannya kepada Pututnya dan kepada Pangeran Lembu Sabdata, sehingga keduanya mampu membangunkan ilmu seperti itu. Namun yang ternyata keduanya membentur kekuatan yang mampu mengimbanginya.
Sebenarnyalah bahwa Putut terpercaya dari padepokan itu tidak sempat melepaskan ilmu puncaknya yang dapat membakar udara di sekitarnya. Memang tataran kemampuan pemusatan nalar budi untuk melepaskan ilmu itu berbeda dari gurunya. Karena itu ketika ia terlibat dalam pertempuran pada jarak pendek, Putut itu benar-benar tidak mempunyai kesempatan. Sementara itu Mahisa Murti telah pula mengerahkan ilmunya yang menggetarkan yang disadapnya dari gurunya yang juga adalah ayahnya.
Hampir berbareng Pangeran Lembu Sabdata juga mulai digetarkan oleh kemampuan lawannya. Anak muda yang dikiranya tidak akan mampu bertahan sepenginang.
Namun ternyata bahwa Pangeran Lembu Sabdata tidak banyak mendapat kesempatan untuk memenangkan pertempuran itu. Bahkan pada tataran terakhir, ternyata Mahisa Pukat benar-benar mampu mengimbanginya.
Namun yang nampak mulai terdesak adalah justru Putut terpercaya diantara para murid Ki Ajar Bomantara. Perlahan-lahan ia merasakan betapa lawannya masih mampu meningkatkan ilmunya selapis, meskipun sangat tipis.
Tetapi kelebihan selapis tipis itu belum menentukan apakah Putut itu akan dapat dikalahkan oleh lawannya. Jika lawannya membuat kesalahan sedikit saja, maka mungkin yang terjadi adalah sebaliknya. Mungkin yang ilmunya kalah selapis tipis itu akan berhasil menyelesaikan pertempuran dengan kemenangan.
Namun Mahisa Murti pun bertempur dengan sangat cermat. Ia tidak mau membuat kesalahan barang sedikit pun. Jika lawannya dengan serta merta meloncat menjauh untuk mengambil jarak, maka iapun dengan cepat memburunya, sehingga ilmu yang dilontarkan itu tidak sempat memanaskan tubuhnya.
Dengan demikian, maka yang dipergunakan oleh Putut itu adalah ilmunya yang mempergunakan ujud wadagnya untuk melawan Mahisa Murti. Sekali-sekali Putut itu mampu juga mengerahkan kemampuannya dan mendesak lawannya.
Mahisa Murti lah yang kemudian merasa bahwa ia telah terlalu lama mengerahkan segenap kemampuannya, namun tidak berhasil mengalahkan lawannya. Sementara itu, Mahisa Murti pun menyadari, jika ia dipaksa untuk mengerahkan kemampuannya dalam tataran itu untuk beberapa lama lagi, maka kemampuannya pun akan segera susut.
Karena itu, maka Mahisa Murti pun kemudian telah sampai kepada satu keputusan untuk mengakhiri pertempuran.
Untuk beberapa saat, para cantrik yang menyaksikan pertempuran itu masih menganggap bahwa kemampuan ilmu kedua orang itu seimbang. Desak mendesak, serang menyerang, meskipun Putut terpercaya itu memang lebih sering bergeser menjauh.
Para cantrik itu juga melihat, bahwa keduanya telah sering tersentuh oleh serangan-serangan lawannya. Sekali-sekali mereka berdesah. Namun kemudian mereka-pun telah bertempur bagaikan putaran angin pusaran.
Dalam kesadaran bahwa tenaganya sudah sampai ke batas, sehingga Mahisa Murti merasa bahwa tataran kekuatannya mulai pada titik menurun, maka Mahisa Murti pun segera mengambil sikap.
Sementara itu Putut yang berusaha untuk mengambil jarak itu merasa heran, bahwa pada saat Mahisa Murti tidak memburunya. Putut itu mengira, bahwa kecepatan geraknya tidak lagi terjangkau oleh kemampuan Mahisa Murti, yang diperhitungkan oleh lawannya, kemampuannya memang mulai menurun.
Karena itu, maka kesempatan itu telah dipergunakannya sebaik-baiknya. Putut itu mampu mengerahkan ilmunya untuk melepaskan pancaran panas pada udara di sekelilingnya.
Namun pada saat yang bersamaan Mahisa Murti ternyata telah membangunkan puncak ilmunya pula. Sebagaimana diwariskan oleh ayahnya, maka Mahisa Murti akan mampu melepaskan ilmu yang sulit dicari imbangannya.
Dalam waktu yang melampaui batas kecepatan angan-angan para cantrik yang menyaksikan pertempuran itu, maka keduanya telah mampu melepaskan ilmu masing-masing. Putut itu benar-benar telah membakar udara di sekitarnya. Sementara itu, Mahisa Murti pun telah membentangkan tangannya, kemudian bersilang dan ketika terasa udara panas mulai menyentuhnya, maka Mahisa Murti dengan perhitungan yang matang, telah meloncat justru memasuki lingkungan udara panas itu.
Kulit dagingnya memang terasa bagaikan dibenam dalam api. Namun Mahisa Murti harus meyakinkan dirinya, bahwa ia harus melakukannya apapun yang terjadi.
Betapa terasa kulitnya terkelupas oleh panasnya api, namun akhirnya tangan Mahisa Murti berhasil menyentuh tubuh Putut terpercaya di padepokan itu, yang menjadi tetua para cantrik yang telah memiliki pula puncak kemampuan dari cabang perguruan Ki Ajar Bomantara.
Dua ilmu yang nggegirisi telah membentur sasaran masing-masing. Ilmu yang dilontarkan oleh Putut itu benar-benar telah membakar tubuh Mahisa Murti sehingga di beberapa bagian tubuh itu benar-benar telah terkelupas.
Namun dalam pada itu, tangan Mahisa Murti dalam puncak ilmunya telah menghantam, kening Putut yang terpercaya itu.
Benturan ilmu pada sasaran masing-masing itu bagaikan telah mengguncangkan padepokan itu. Perhatian orang-orang yang ada di halaman itu, bahkan yang sedang bertempur sekalipun telah tertarik pada peristiwa yang dahsyat itu.
Yang kemudian mereka lihat adalah, dua sosok tubuh yang kemudian terbaring diam.
Beberapa orang cantrik dengan serta merta telah berloncatan mendekat. Namun dalam pada itu terdengar suara Mahisa Bungalan, “Jangan kalian nodai sifat kesatria dari dua orang yang telah bertempur mempertaruhkan nyawa mereka. Biarlah mereka tetap dalam keadaannya.”
Para cantrik itupun tertegun diam. Namun yang terdengar kemudian adalah suara Ki Ajar, “Kau mencemaskan kejujuran para cantrik. Mereka tidak akan mencekik kawanmu seandainya mereka masih hidup. Tetapi jika itu membuat kau menjadi ragu-ragu akan kejujuran kami, maka biarlah keduanya tetap dalam keadaannya. Tetapi jika kawanmu itu kemudian mati kehausan seandainya ia masih hidup, jangan menyesal. Cantrik-cantrikku tentu bermaksud menolongnya jika kau tidak mencurigainya.”
“Ia tidak memerlukan pertolongan,” jawab Mahisa Bungalan, “Terima kasih.”
“O,“ geram Panembahan Bajang sambil bertempur. ”Kau dapat juga mengucapkan terima kasih.”
Mahisa Bungalan tidak menyahut. Namun keduanya bertempur semakin dahsyat.
Loncatan api yang memancar dari telapak tangan Panembahan Bajang masih menyambar-nyambar, sementara Mahisa Bungalan masih saja harus meloncat menghindar. Untunglah bahwa ancang-ancang Panembahan Bajang pada saat melontarkan ilmunya dapat dibaca oleh Mahisa Bungalan sehingga ia mampu untuk meloncat menghindar. Tetapi sudah tentu bahwa ia tidak akan membiarkan dirinya menjadi sasaran ilmu Panembahan Bajang.
Namun sementara itu, Ki Ajar pun telah berteriak kepada para cantrik, “Biarkan kedua orang itu dalam keadaannya.”
Tetapi dalam pada itu, serangan-serangan Ki Ajar pun telah datang membadai. Dengan kemampuan ilmunya yang dapat membakar udara di sekitarnya, ia selalu memburu Pangeran Singa Narpada.
Dalam pada itu, Pangeran Singa Narpada mengalami sedikit kesulitan dengan lawannya. Daya tahan Pangeran Singa Narpada memang cukup tinggi, jauh lebih tinggi dari Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Tetapi ilmu yang disadap dari panasnya api itupun dilontarkan oleh Ki Ajar Bomantara. Bukan oleh Pututnya yang terbaring diam di samping tubuh Mahisa Murti.
Namun sebagaimana dilakukan oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, maka Pangeran Singa Narpada menganggap bahwa ia akan dapat memadamkan ilmu itu pada sumbernya. Karena itu, dengan mengerahkan daya tahannya maka Pangeran Singa Narpada telah menyusup pertahanan Ki Ajar Bomantara untuk langsung berusaha memadamkan ilmu itu.
Usaha Pangeran Singa Narpada untuk menyusup memang berhasil. Tetapi ternyata kematangan ilmu Ki Ajar membuatnya jauh lebih baik dalam ungkapan ilmu puncaknya itu. Karena itu serangan Pangeran Singa Narpada memang harus dihindarinya. Namun pada saat-saat ia berloncatan menghindar, ternyata bahwa serangannya dengan ilmu puncaknya itu tidak mengendor. Udara masih tetap panas bagaikan membara, sehingga setiap kali, maka Pangeran Singa Narpada harus mencari kesempatan untuk berloncatan menjauh.
Ki Ajar Bomantara tertawa. Katanya, “Pangeran. Kau adalah orang yang ditakuti di seluruh Kediri. Pangeran Kuda Permati pun merasa segan terhadapmu. Namun menurut perhitunganku, maka kau memang memiliki ilmu setingkat dengan Pangeran Kuda Permati, atau katakanlah kematangan ilmumu selapis lebih tinggi. Tetapi kemampuan memecahkan persoalan dengan otaknya, Pengeran Kuda Permati jauh lebih baik dari padamu. Dan kini kau berhadapan dengan guru Pangeran Kuda Permati. Nah, kau sudah dapat mengira-irakan akhir dari pertempuran ini.”
Jantung Pangeran Singa Narpada berdenyut semakin cepat. Namun ia tidak dapat ingkar bahwa kemampuan ilmu Ki Ajar benar-benar nggegirisi. Jika ia harus bertempur dengan cara itu untuk seterusnya, maka iapun pada akhirnya akan menjadi arang dan debu.
Namun Ki Ajar memang seorang yang memiliki kemampuan bagaikan tanpa batas.
Dalam pada itu, Mahisa Pukat masih bertempur melawan Pangeran Lembu Sabdata. Ia berhasil mendesak lawannya, tetapi ia masih selalu dibayangi oleh keragu-raguan, bahwa Pangeran Singa Narpada menghendaki apabila mungkin menangkap Pangeran itu hidup-hidup.
Karena itu, maka dengan mengerahkan segenap kemampuan yang ada padanya, Mahisa Pukat telah berusaha mendesak Pangeran Lembu Sabdata untuk sampai pada satu keadaan yang tidak dapat diatasi lagi atau sampai pada suatu keadaan yang lemah sekali oleh keletihan.
Namun tidak mudah bagi Mahisa Pukat untuk melakukannya. Pangeran Lembu Sabdata juga seorang yang memiliki ilmu yang cukup tinggi serta perhitungan yang mapan. Karena itu, maka menanggapi serangan-serangan Mahisa Pukat pada jarak yang pendek itu, iapun telah berusaha untuk membuat jebakan-jebakan yang dapat membuat jarak antara dirinya dengan Mahisa Pukat. Tetapi Mahisa Pukat tidak mau kehilangan. Ia mampu bergerak secepat lawannya, serta mampu mengurangi langkah-langkah yang diambilnya. Karena itu, maka Pangeran Lembu Sabdata tidak pernah berhasil memisahkan Mahisa Pukat dengan jarak dari dirinya.
Yang menjadi semakin seru adalah pertempuran antara Ki Ajar Bomantara melawan Pangeran Singa Narpada. Ilmu Ki Ajar seakan-akan memancar dari dirinya tanpa jarak waktu sekejap pun dari saat yang dikehendakinya.
Meskipun ia harus berloncatan menghindari dan menangkis serangan lawan, tetapi serangannya itu masih tetap mencengkam dan membakar udara di seputarnya bagaikan bara api tempurung.
Beberapa kali Pangeran Singa Narpada harus meloncat menjauh. Ia harus memecahkan ilmu lawannya yang nggegirisi itu.
Dalam pada itu terdengar suara tertawa Ki Ajar Bomantara sambil berkata, “Pangeran. Jangan menyesal. Pangeran lah yang telah memasuki padepokan. Jika kemudian Pangeran akan terbakar hidup-hidup disini, adalah karena pokal Pangeran sendiri. Dengan demikian maka Pangeran sudah memetik hasil pekerjaan Pangeran sendiri.”
Pangeran Singa Narpada tidak menjawab. Tetapi ia telah digiring oleh Ki Ajar ke sudut halaman. Jika Pangeran Singa Narpada tidak lagi mampu menjauhi lawannya, maka ia tentu akan terbakar hangus karena ilmu Ki Ajar yang nggegirisi itu.
Suara Ki Ajar masih terdengar menggetarkan udara halaman padepokan itu. Selangkah demi selangkah ia bergeser maju, sementara Pangeran Singa Narpada harus berloncatan mengambil jarak. Meskipun demikian Pangeran Singa Narpada itu masih juga berusaha untuk menyusup di panasnya ilmu Ki Ajar dan dengan segenap kekuatan yang ada padanya menyerang lawannya. Namun Ki Ajar mampu menghindari serangan-serangan itu, atau menangkisnya.
Kadang-kadang Pangeran Singa Narpada memang bergerak terlalu cepat, sehingga Ki Ajar tidak dapat menghindari serangan itu, dan terpaksa menangkisnya.
Tetapi dalam udara yang panas, maka kemampuan Pangeran Singa Narpada seakan-akan telah menyusut, karena sebagian besar kemampuannya diterapkan untuk melindungi dirinya dengan mempertebal daya tahannya. Namun begitu, terasa kulitnya kadang-kadang masih terkelupas juga.
“Sudahlah Pangeran,” berkata Ki Ajar, “Sebaiknya Pangeran menghentikan saja perlawanan ini dan mati dengan tenang. Karena dalam keadaan seperti ini, sudah tidak ada lagi jalan kembali bagi Pangeran selain kematian. Tetapi bukanlah pada saat terakhir Pangeran masih dapat memilih jalan kematian yang paling baik?”
Hati Pangeran Singa Narpada bagaikan menyala mendengar kata-kata itu. Karena itu, maka akhirnya Pangeran Singa Narpada sampai pada suatu pertimbangan untuk dengan kemampuannya yang terakhir merebut kemenangan.
“Tetapi apakah aku harus mempergunakan ilmu itu?” berkata Pangeran singa Narpada di dalam hatinya.
Tetapi memang tidak ada jalan lain. Meskipun Pangeran Singa Narpada merasa segan, namun ia memang berada dalam satu keharusan, meskipun hal itu masih juga belum menjamin bahwa ia akan dapat memecahkan ilmu lawannya yang luar biasa itu.
Untuk sejenak Pangeran Singa Narpada sengaja menjauhi lawannya yang berusaha mendesaknya. Namun sebenarnyalah ia tengah mengambil ancang-ancang. Ia berusaha untuk dapat mengetrapkan ilmunya, meskipun pada saat itu ilmu itu jarang dikenal.
“Ilmu ini agak licik,” berkata Pangeran Singa Narpada didalam hatinya. Namun kemudian dibantahnya sendiri, “Kenapa licik?”
Akhirnya Pangeran Singa Narpada memutuskan, bahwa ia harus mempertahankan hidupnya. Karena itu, maka tidak ada jalan lain untuk berusaha, selain mempergunakan ilmunya itu, yang mungkin akan dapat menolongnya atau memperpanjang perlawanannya.
Sejenak kemudian, maka Pangeran Singa Narpada pun telah bersiap dengan ilmunya yang jarang sekali hadir didalam unsur tata geraknya dalam pertempuran yang betapapun dahsyatnya.
Ketika Ki Ajar dengan kemampuannya membakar udara di sekitarnya maju selangkah lagi, maka Pangeran Singa Narpada pun telah berusaha meningkatkan daya tahannya untuk mengatasi udara panas itu. Dengan kecepatan yang hampir tidak dapat dilihat, maka Pangeran Singa Narpada pun telah meloncat menyerang lawannya.
Ki Ajar masih sempat menghindari serangan itu tanpa melepaskan pancaran panasnya. Namun ternyata Pangeran Singa Narpada tidak segera bergeser menjauh. Tetapi sekali lagi ia menyerang dengan cepatnya. Kakinya terlontar mengarah lambung.
Demikian cepatnya serangan itu, sehingga Ki Ajar tidak sempat menghindar, tetapi ia harus menangkisnya sebagaimana selalu dilakukannya.
Bersambung....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar