*HIJAUNYA LEMBAH. JILID 017-02*
Orang-orang padukuhan itu hanya diam mematung. Sementara itu orang yang berdiri di pendapa itu telah menjadi letih dan suaranya pun tidak lantang.
Ketika mereka pergi, maka padukuhan itu menjadi, gempar. Mereka melihat pasukan itu menyusuri jalan padukuhan bagaikan seekor ular naga yang tidak dapat dicegah.
Ternyata pasukan itu meninggalkan kesan yang mencengkam setiap orang di padukuhan itu. Mereka pernah mengagumi pasukan Panji Sempana Murti. Namun kemudian telah mereka lihat pasukan yang lebih besar dari pasukan Panji Sempana Murti itu.
Bahkan di hari berikutnya mereka mengetahui, bahwa yang terjadi di padukuhan mereka, telah terjadi pula di padukuhan lain. Di padukuhan pemilik kuda berwarna dawuk itu.
“Bagaimana mungkin hal ini terjadi” desis seseorang, “ketika kami akan memukul kentongan, di seluruh padukuhan sudah tidak terdapat sebuah pun. Kemana saja hilangnya kentongan-kentongan itu”
Namun hal itu bukan merupakan suatu hal yang mengherankan bagi Dandang Panumping dan kelompok kecilnya. Mereka tahu pasti, bahwa sebelum pasukan itu memasuki padukuhan, sekelompok orang yang yang memiliki kelebihan di antara mereka telah mendahului memasuki padukuhan. Mereka adalah sekelompok prajurit dari pasukan khusus yang yang bertugas mendahului setiap gerakan. Orang-orang itulah yang telah menyingkirkan semua kentongan di seluruh padukuhan. Tentu merupakan satu kerja yang berat dan harus dilakukan dengan cepat. Namun ternyata pasukan khusus itu telah menyelesaikannya dengan baik.
Dalam pada itu dirumahnya Dandang Panumping sedang duduk berbincang dengan sekelompok keci kawan-kawannya. Dengan nada dalam. Dandang Panumping berkata, “Satu hasil yang dapat dibanggakan. Kami sama sekali tidak mengetahui gerakan mereka. Mereka dapat melakukan kewajiban mereka dengan baik dan mengejutkan”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat- pun mengaguminya. Dengan nada datar Mahisa Murti berkata, “Kami yang berada di gardu sama sekali tidak mengetahuinya, bahwa hal seperti itu telah terjadi”
“Bukan satu hal yang terlalu dapat dibanggakan” berkata Dandang Panumping, “soalnya kita sama sekali tidak menduga, bahwa hal itu akan dilakukan oleh Pangeran Kuda Permati atau orang-orangnya, sehingga justru karena itu, kita menjadi lengah. Karena itu, kita tidak boleh tenggelam dalam kekaguman atas hasil kerja pasukan itu”
Mahisa Murti mengangguk-angguk. Sebenarnyalah bahwa hal itu mungkin sekali terjadi ketika anak-anak muda di gardu itu bergurau dengan riuhnya. Agaknya untuk menjaga agar mereka tidak segera mengantuk, di gardu-gardu lain pun terjadi hal yang serupa.
Peristiwa itu memang telah menggemparkan seluruh Kabuyutan Panji Sempana Murti pun segera menerima laporan. Bahkan sebelum fajar Panji Sempana Murti sudah mendengarnya, bahwa di dua padukuhan telah terjadi satu pameran kekuatan dari Pangeran Kuda Permati.
Dengan cepat, Panji Sempana Murti telah memanggil beberapa orang pembantunya yang terpenting untuk membicarakan sikap Pangeran Kuda Permati.
“Sikapnya sudah jelas” berkata salah seorang perwiranya, “Pangeran Kuda Permati seakan-akan telah menjawab tantangan kita”
“Mereka berhasil menakut-nakuti rakyat yang sebenarnya sudah mulai menunjukkan sikapnya yang menguntungkan” berkata Panji Sempana Murti, “dengan pasukan khusus yang bergerak lebih dahulu dari induk pasukannya, mereka berhasil membuat rakyat Kabuyutan ini menjadi bingung”
“Menurut laporan yang kami terima, pasukan itu tidak berbuat apa-apa. Mereka hanya menunjukkan bahwa mereka lebih kuat dari kita” berkata salah seorang perwiranya.
“Kita harus menjawabnya” berkata Panji Sempana Murti, “meskipun itu akan berarti perang. Kita memang menyadari bahwa kekuatan kita lebih kecil dari kekuatan langeran Kuda Permati sebagaimana dipertontonkan kepada rakyat Kabuyutan ini. Aku mencoba menghubungi pimpinan pasukan di Kota Raja. Tetapi mereka sampai saat ini masih belum dapat memberikan bantuan seorangpun. Sementara itu, kita tidak mempunyai kesempatan lagi untuk menunggu”
“Apa yang harus kita lakukan?” bertanya seorang perwiranya.
“Kita memanggil anak-anak muda dari kelompok satu. Kita akan menempa mereka dengan rencana peningkatan jangka pendek. Dalam beberapa hari, kita harus sudah dapat meningkatkan kemampuan mereka sementara kita benar-benar akan menghadapi.
Para perwiranya mengangguk-angguk. Mareka sadar, bahwa Panji Sempana Murti tentu tidak akan mundur, apa pun yang dilakukan oleh Pangeran Kuda Permati. Karena itu, maka rencana itu adalah satu-satunya rencana yang paling baik.
Karena itu, maka Panji Sempana Murti pun bergerak dengan cepat pula. Hari itu juga, maka semua anak muda yang berada didalam kelompok di setiap padukuhan harus berkumpul di banjar Kabuyutan. Mereka akan mendapatkan bimbingan untuk menghadapi keadaan dan mereka pun akan ditempa untuk waktu yang singkat, agar mereka memiliki kemampuan yang lebih besar untuk menghadapi pasukan Pangeran Kuda Permati.
Sementara itu, kepada semua laki-laki dianjurkan untuk menyiapkan kentongan di depan gardu dan di dalam rumah, sehingga kentongan itu tidak akan dapat disingkirkan oleh orang lain.
“Kita harus mempunyai keberanian untuk berpindah” berkata Panji Sempana Murti kepada para bebahu, “kecuali jika kalian memang ingin membiarkan hak kita dirampas oleh orang-orang Pangeran Kuda Permati. Hal ini sudah menjadi petunjuk bahwa sebelum mereka berkuasa, mereka sudah melakukana pemerasan yang ganas. Apalagi jika pada saatnya mereka berkuasa benar-benar”
Para bebahu itu mengangguk-angguk. Mereka memang sependapat, bahwa apabila Pangeran Kuda Permati kelak berkuasa sebagai seorang pemegang limpahan kekuasaan Sri Baginda, maka ia akan dapat berbuat jauh lebih buruk dari saat itu. Dengan berbagai alasan, maka ia akan memungut pajak yang lebih banyak dan akan memberikan beban yang lebih berat.
Karena itu, sikap Panji Sempana Murti telah mereka sambut dengan penuh harapan. Sementara itu, Panji Sempana Murti dan rakyat Kabuyutan itu memang tidak dapat mengharap bantuan pasukan dari Kediri.
Dalam pada itu, pada hari itu juga, maka Panji Sempana Murti telah menugaskan kepada beberapa orang prajurit pilihan untuk menempa anak-anak muda yang telah berkumpul. Mereka adalah anak-anak muda ayang dianggap mempunyai bekal betapa pun kecilnya.
Demikianlah, setelah pada hari itu, Panji Sempana Murti secara umum memberikan petunjuk dan bimbingan langsung yang kemudian ditegaskan oleh para perwira terpilih dari pasukannya, maka Panji Sempana Murti telah mengambil kebijaksanaan bahwa latihan-latihan berikutnya akan diadakan di padukuhan masing-masing sekaligus berjaga-jaga atas segala kemungkinan. Panji Sempana Murti lah yang menugaskan beberapa orang perwira terpilih di padukuhan-padukuhan itu untuk menempa anak-anak muda dengan cara yang keras dan bersungguh-sungguh.
Seperti laporan-laporan yang lain, maka hal itu pun dengan cepat diketahui oleh Pangeran Kuda Permati. Namun agaknya Pangeran Kuda Permati tidak begitu cepat menjadi cemas melihat cara yang ditempuh oleh Panji Sempana Murti.
“Cara yang tidak akan banyak membantu” berkata Pangeran Kuda Permati, “hal itu dilakukan oleh Panji Sempana Murti untuk menutupi kelemahannya. Ia sudah terlanjur berbuat sesuatu, sehingga karena itu, maka ia harus berbuat lebih lanjut. Dan ia memang sudah melakukannya tanpa mengingat arti dari langkah-langkahnya. Sebaliknyalah yang dilakukan itu sama sekali tidak akan berarti apa-apa”
“Tetapi hal itu jangan diabaikan Pangeran” minta seorang penasehatnya.
“Aku tidak akan mengabaikannya. Aku akan berbuat langsung pada saatnya” berkata Pangeran Kuda Permati, ”aku akan memasuki padukuhan demi padukuhan. Perlawanan mereka tidak akan berarti apa-apa. Kentongan di rumah-rumah mereka memang akana memberikan kemungkinan didengar oleh padukuhan-padukuhan di sekitarnya. Namun itu hanya akan menambah korban saja”
“Apaboleh buat” desis penasehatnya, “jika kematian akan bertambah, maka Panji Sempana Murti lah yang bertanggung jawab. Jika ia tidak melakukan sebagaimana dilakukan sekarang, maka ketenangan daerah ini tidak akan terganggu.”
Namun dalam pada itu, ternyata di samping pasukan Panji Sempana Murti, sekelompok orang telah bergerak pula. Dengan cara sandi. Dandang Penumping telah memerintahkan semua orang yang berada di bawah pengamatan tugasnya untuk bersiaga.
“Kalian harus berada di dalam kelompok yang ditentukan di padukuhan kalian masing-masing” perintah Dandang Penumping kepada semua orang petugas sandi Singasari yang berada di Kediri, “tetapi berhati-hatilah. Kita masih akan tetap merahasiakan diri sejauh dapat kita lakukan. Jika kalian harus ikut bertempur, maka lakukanlah sebaik-baiknya di antara orang-orang yang sulit untuk dapat mengerti, bahwa kalian sebenarnya memiliki ilmu”
Demikian pula dilakukan oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang berada di kelompok dua hanya karena kemudaan mereka.
Tetapi, adalah diluar perhitungan semua orang, bahwa ada satu pihak pula yang telah melibatkan diri. Ternyata seorang pemimpin pasukan yang merasa tersinggung atas perlakuan Sri Baginda terhadap Pengeran Singa Narpada, telah mencium pula kesulitan yang dialami oleh Panji Sempana Murti. Seorang petugas sandinya dengan terperinci lelah melaporkan semua peristiwa yang terjadi didaerah perbatasan itu.
“Apakah sebenarnya maksud Sri Baginda” berkata perwira itu di dalam hatinya, “apakah Sri Baginda henar-benar telah berniat untuk memisahkan diri dari Singasari. Jika demikian maka semua persoalan harus dibicarakan sebaik-baiknya. Bukan hanya sekedar melakukan langkah-langkah yang tidak dimengerti”
Karena itu, maka perwira yang termasuk di dalam pasukan yang dipimpin oleh Pangeran Singa Narpada itu telah mengambil sikap sendiri tanpa menunggu perintah dari sia-pa pun juga. Ia merasa kehilangan jalur kepemimpinan sejak Pangeran Singa Narpada kehilangan kebebasannya meskipun tanpa tuduhan yang jelas.
Sepasukan perwira itu memang tidak terlalu besar. Ia tidak berani berdiri pada pimpinan tertinggi pasukan Pangeran Singa Narpada, karena ia tidak mendapat kuasa dari Pangeran itu. Ia hanya berani berbuat niatnya sendiri atas pasukan yang dipimpinnya.
Setelah mendapat laporan terperinci dari petugas sandinya maka perwira itu telah memerintahkan dua orang petugas sandinya yang lain untuk mencari hubungan dengan Panji Sempana Murti.
Kedatangan kedua petugas sandi itu memang megejutkan. Tetapi setelah nawala perwira yang disebut Rangga Widarba itu diterima oleh Panji Sempana Murti, maka tawaran kerja sama dari Rangga Widarda itu diterima dengan senang hati oleh Panji Sempana Murti.
Sebagai sesama perwira prajurit Kediri, Panji Sempana Murti mengenal sikap dan pandangan hidup Rangga Widarba sebagaimana Rangga Widarba mengenal Panji Sempana Murti. Karena itu maka Panji Sempana Murti tidak menaruh curiga, bahwa tawaran Rangga Widarba itu akan merupakan jebakan baginya.
Setelah hubungan pertama itu dilakukan, maka kedua orang itu pun telah saling mengirimkan keterangan tentang pasukan masing-masing, tentang kedudukan masing-masing dan kemungkinan-kemungkinan yang dapat mereka lakukan menghadapi pasukan Pangeran Kuda Permati.
Namun dalam pada itu Rangga Widarba berpesan, “Kakang Panji Sempana Murti. Karena yang aku lakukan bukannya sesuatu yang dibenarkan oleh paugeran seorang prajurit, maka aku akan melakukannya dengan diam-diam. Aku akan mengirimkan pasukanku tanpa panji-panji kesatuan. Tanpa rontek dan umbul-umbul. Biarlah mereka berada di bawah panji-panji pasukan kakang Panji Sempana Murti”
Panji Sempana Murti membaca pesan itu sambil mengangguk-angguk. Ia dapat mengerti, bahwa hal itu sebenarnya tidak akan dapat dilakukan. Rangga Widarba hanya dapat menyerahkan pasukannya atas perintah Pangeran Singa Narpada. Tetapi karena Pangeran Singa Narpada ada di dalam tahanan, maka perintah itu tidak akan dapat turun kepada para perwira bawahannya, Sementara itu Pangeran Singa Narpada tidak sempat menunjuk seseorang yang akan menjalankan kuasa dan kebijaksanaannya.
Namun hal itu akan sangat menguntungkan bagi Panji Sempana Murti. Ia akan mendapat sepasukan- prajurit meskipun akan datang tanpa pertanda kebesaran apa pun juga. Bahkan dengan diam-diam.
Sementara itu, rencana Panji Sempana Murti telah berjalan. Hari pertama ia mengirimkan para perwiranya ke padukuhan-padukuhan untuk menempa anak-anak muda yang berada dalam kelompok satu yang menurut penilaiannya, pernah mendapatkan tuntunan olah kanuragan betapa pun kecilnya.
Namun, di hari kedua, di sebuah padukuhan telah terjadi kegemparan. Ketika anak-anak muda itu sedang melatih diri di halaman banjar padukuhan, tiba-tiba saja di sekitar banjar itu berloncatan sepasukan prajurit pengikut Pangeran Kuda Permati. Mereka langsung bertengger di atas dinding halaman banjar tanpa berbuat sesuatu. Mereka menonton latihan itu sambil tertawa-tawa.
“Bagus” teriak salah seorang prajurit yang berada di-sudut, “Latihan ini akan sangat menguntungkan bagi kalian. Tetapi jangan sekali-sekali mencoba menghadapi kami. Anak-anak muda yang berada di banjar menjadi tenang. Tetapi mereka tidak dapat berbuat apa-apa selain menghentikan latihan mereka”
“Jangan memukul kentongan” teriak salah seorang prajurit pengikut Pangeran Kuda Permati itu, “karena jika kalian lakukan itu, maka akibatnya akan menyulitkan kalian”
Anak-anak muda yang berada di banjar menjadi tegang. Namun dalam pada itu, salah seorang perwira prajurit Panji Sempana Murti berdesis di antara mereka, “Biarkan mereka. Baru jika mereka berbuat sesuatu, apa boleh buat. Kita akan membunyikan isyarat dan bertempur menurut kemampuan kita sampai batas”
Karena itu, maka anak-anak muda itu pun kemudian hanya sekedar duduk-duduk saja di pendapa banjar sambil menggenggam senjata yang mereka pergunakan dalam latihan.
Sementara itu, di luar banjar, prajurit-prajurit Pangeran Kuda Permati itu pun telah menakut-nakuti rakyat agar mereka tidak membunyikan kentongan. Dengan garang salah seorang di antara prajurit itu berteriak, “Siapa yang pertama kali membunyikan kentongan, maka ia adalah orang yang pertama kali akan mati”
Karena itu, seperti di banjar, maka tidak seorang pun yang sempat membunyikan kentongan. karena prajurit-prajurit itu datang dengan tiba-tiba.
Di antara mereka yang bertengger di dinding banjar itu ada yang berteriak, “Kenapa kalian berhenti berlatih. Lakukan, kami akan melihat, apakah kalian sudah pantas untuk melawan kami”
Jantung anak-anak muda bagaikan meledak. Tetapi salah seorang perwira yang memberikan latihan kepada mereka masih saja berdesis, “Biarkah mereka”
“Mereka menghina kita” jawab anak muda itu.
“Kita tidak dapat berbuat banyak menghadapi mereka. Bukan karena kemampuan mereka sangat tinggi, tetapi jumlah mereka sangat banyak” jawab perwira itu. Lalu katanya, “Tetapi itu wajar sekali. Kita terbagi dalam pedukuhan-pedukuhan. Mereka dapat saja dengan segenap kekuatan mereka datang ke setiap pedukuhan untuk menakut-nakuti kita dalam jumlah yang besar. Tetapi jumlah itu adalah mereka seluruhnya. Sedangkan kita sekarang adalah sebagian saja dari kekuatan kita seluruhnya”
Anak-anak muda itu berusaha menahan diri. Betapapun telinga mereka menjadi sakit mendengar ejekan-ejekan prajurit-prajurit Pangeran Kuda Permati, namun para perwira selalu menahan mereka, agar tidak bertindak tergesa-gesa.
Akhirnya para prajurit Pangeran Kuda Permati itu pun menjadi puas dengan ejekan-ejekan mereka yang menyakitkan hati. Ketika terdengar aba-aba, maka mereka pun segera berloncatan turun.
“Selamat tinggal” teriak salah seorang di antara mereka, “lain kali kami akan meninjau lagi, sampai dimanakah kemajuan kalian dalam olah kanuragan”
Demikianlah, dengan kesan yang sangat menyakitkan hati, maka prajurit-prajurit itu pun telah meninggalkan anak-anak muda yang berlatih di halaman banjar.
Perisiwa itu pun dengan cepat diketahui oleh Panji Sempana Murti. Namun Panji Sempana Murti telah membenarkan sikap beberapa orang perwiranya yang mencegah benturan kekerasan pada waktu itu.
“Kita memang belum siap sepenuhnya” berkata Panji Sempana Murti, “hanya jika kita tidak mungkin lagi mengelak, kita akan bertempur”
Tetapi keadaan dengan cepat berubah. Rangga Widarba memenuhi janjinya. Dengan diam-diam, tahap demi tahap telah memasuki barak Panji Sempana Murti, sepasukan yang dikirim oleh Rangga Widarda. Pasukan yang dibekali oleh satu sikap yang kecewa, karena Panglima, Singa Narpada telah ditahan tanpa melakukan satu kesalahan pun.
Sesuai dengan sikap Pangeran Singa Narpada sendir maka pasukan Rangga Widarba adalah pasukan yang keras, yang sesuai pula dengan sikap Panji Sempana Murti setelah ia menemukan kembali pribadinya yang untuk beberapa saat telah terombang-ambing oleh keadaan yang kurang menentu.
Dengan cepat pula Panji Sempana Murti telah menanggapi kehadiran prajurit itu dan bersama-sama dengan para perwira di kedua belah pihak, Panji Sempana Murti menentukan sikap.
Namun ternyata ketajaman pengamatan petugas sandi dari Singasari di Kediri telah mencium pengiriman pasukan dengan diam-diam itu. Seorang perwira di dalam lingkungan pasukan Pangeran Singa Narpada adalah serang petugas sandi dari Singasari.
Karena itulah, maka kedatangan pasukan itu telah diketahui pula oleh Dandang Penumping.
“Kita harus membuat hubungan dengan petugas yang ada di dalam lingkungan pasukan Pangeran Singa Narpada itu” berkata Dandang Penumping kepada kawan-kawannya, termasuk Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.
Namun Dandang Penumping masih harus menunggu sikap Panji Sempana Murti selanjutnya.
Ternyata pada hari pertama pasukan itu berada di Kabuyutan, Panji Sempana Murti masih belum menentukan tugas apapun juga. Namun justru pada hari itu, seorang dalam pakaian orang kebanyakan telah memasuki sebuah warung di pasar yang mulai susut. Warung Pugutrawe.
Orang itu duduk diwarung Pugutrawe untuk waktu yang agak lama. Dua orang yang datang hampir bersamaan dengan orang itu telah pergi. Tetapi orang itu tetap berada di warung.
Bahkan kemudian ketika warung itu sudah sepi, orang itu masih memesan, “Wedang jae panas Ki Sanak. Gula kelapa. Tetapi jangan kau celupkan langsung ke dalam wedang jae. Biarlah gulanya kalian taruh di cawan terpisah”
“Baik Ki Sanak” jawab Pugutrawe.
“Tetapi apakah Ki Sanak menjual sadak golor pendek bertanya orang itu.
Pugutrawe mengerutkan keningnya. Dengan suara ragu ia bertanya, “Untuk siapa Ki Sanak”
“Aku sendiri. Aku adalah pemakan sirih yang kuat,” jawab orang itu.
“Sadak satu atau dua lembar?” bertanya Pugutrawe.
“Lembar pertama pada wajahnya dan lembar kedua pada punggungnya” jawab orang itu.
“Kau memiliki angka?” bertanya Pugutrawe tiba-tiba.
“Aku adalah Lingkaran Watang ke tiga” jawab orang itu.
Pugutrawe menarik nafas dalam-dalam. Kata-kata sandi yang diucapkan adalah kata-kata sandi yang hanya dimengerti untuk tataran tertentu. Di daerah perbatasan itu hanya ia sendirilah yang mengerti kata sandi itu, sehingga dengan demikian maka Pugutrawe kemudian duduk di sebelahnya.
“Katakan” berkata Pugutrawe.
“Aku berada di dalam pasukan yang dikirim oleh Rangga Widarba dengan diam-diam untuk membantu Panji Sempana Murti” berkata orang itu.
“Pasukan itu sudah datang?” bertanya Pugutrawe.
“Ya. Tetapi kami belum mulai bergerak” jawab orang itu, “nampaknya menurut laporan yang kami dengar, Pangeran Kuda Permati terlalu merendahkan kekuatan pasukan Panji Sempana Murti sehingga mereka akan menjadi lengah. Sementara ini mereka hanya menakut-nakuti saja tanpa berbuat sesuatu yang berarti dalam benturan kekerasan”
“Ya. Laporan itu benar” jawab Pugutrawe.
“Kita akan selalu berhubungan” berkata orang itu, “Aku berada di barak Panji Sempana Murti. Tetapi sejak besok aku akan mendapat tugas di tempat yang lain, yang belum aku mengerti sekarang”
“Aku mempunyai beberapa orang pembantu di sini. Yang tinggal bersamaku dan yang tersebar di beberapa tempat. Mereka berada di dalam lingkungan kelompok-kelompok yang disusun oleh Panji Sempana Murti” berkata Pugutrawe.
“Ya. Tetnyata Panji Sempana Murti telah melakukan sesuatu yang sangat berarti” berkata orang itu, “juga dengan kehadiran kami, wadah yang dibentuknya akan bermanfaat”
“Kami berada di warung ini” berkata Pugutrawe, “kecuali jika pasukan Panji Sempana Murti mulai digerakkan. Aku sendiri berada dalam kelompok ketiga, kelompok laki-laki yang sudah tidak begitu banyak diperhitungkan. Tetapi beberapa kawan kita berada di kelompok dua”
Orang itu mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Aku akan kembali. Tetapi nampaknya pasukan akan mengalami hambatan untuk bergerak. Kami ternyata tidak akan dapat meminjam kuda penduduk setempat”
“Kau sudah mendapat keterangan tentang kuda di sini?”bertanya Pugutrawe.
“Sudah. Karena itu, Panji Sempana Murti mengambil kebijaksanaan lain dari gerak cepat pasukan berkuda jawab orang itu.
Pugutrawe mengangguk-angguk. Ia mengerti maksud orang yang datang ke warungnya itu. Panji Sempana Murti memang tidak menyusun pasukan berkuda yang kuat dengan meminjam kuda dari penduduk Kabuyutan itu, karena di Kabuyutan itu kuda yang ada benar-benar sudah hampir habjs. Yang dilakukan oleh Panji Sempana Murti adalah membangunkan kekuatan di padukuhan-padukuhan, sementara pasukan berkuda yang dibawanya yang akan bergerak dari satu tempat ke tempat yang lain.
Dengan hadirnya sepasuan prajurit yang dikirim oleh Rangga Widarba, maka Panji Sempana Murti sempat menyusun satu rencana pertahanan yang lebih baik. Hasil dari pembicaraannya dengan para perwiranya dan para perwira dari pasukan yang datang adalah, menempatkan pasukan itu di padukuhan-padukuhan. Mereka dipecah dalam bagian-bagian yang lebih kecil dan menempatkan mereka di antara anak-anak muda dan laki-laki yang sudah terbagi menjadi tiga golongan. Sebagian dari mereka berada di kelompok satu yang dianggap memiliki bekal kemampuan olah kanuragan dan mendapat tempaan dari para perwira Panji Sempana Murti, sementara yang lain berada di kelompok dua. Kelompok yang meskipun tidak memiliki kemampuan olah kanuragan, namun memiliki kekuatan dan keberanian untuk ikut berjuang langsung.
Demikianlah, setelah berada di warung itu beberapa saat, maka perwira prajurit dari pasukan Rangga Widarba itu pun minta diri. Setelah memberikan beberapa keterangan tantang cara yang dapat ditempuh untuk menghubunginya.
“Aku akan lebih banyak menghubungi kalian, karena dengan cara yang demikian agaknya lebih mudah dilakukan daripada kalian mencari aku. Tetapi setelah aku tahu, dimana aku di tempatkan, maka mungkin aku akan dapat memberikan keterangan baru” berkata orang itu.
Pugutrawe mengangguk. Katanya, “Silahkan. Pada kesempatan lain aku ingin memperkenalkan kau dengan beberapa orang pembantuku”
“Aku akan segera datang lagi” jawab orang itu.
Mereka tidak dapat meneruskan pembicaraan mereka, karena dua orang yang agaknya suami isteri telah memasuki warung itu pula. Dengan demikian, maka Pugutrawe pun segera sibuk melayani kedua orang yang baru datang itu.
Sejenak kemudian perwira pasukan Rangga Widarba yang datang menyamar sebagai orang kebanyakan itu pun telah minta diri meninggalkan warung itu.
Di jalan di depan warung orang itu berpapasan dengan dua orang anak muda yang justru pergi ke warung itu sambil menjinjing keba berisi makanan yang akan dijual di warung itu.
Keduanya saling tidak memperhatikan karena mereka belum pernah mengenal dan bahkan belum pernah melihat sebelumnya, meskipun agaknya perwira Rangga Widarba yang menjadi salah seorang petugas sandi dari Singasari itu sudah mendapat beberapa bekal dan petunjuk mengenai kedudukan Dandang Panumping yang lebih banyak dikenal sebagai Pugutrawe .
Dalam satu kesempatan maka Pugutrawe pun memberikan beberapa penjelasan kepada kedua orang anak muda itu, bahwa perang agaknya akan menjadi lebih luas, karena hadirnya sepasukan prajurit dari Kediri.
Sebenarnyalah, bahwa Panji Sempana Murti di hari berikutnya telah mulai mengetrapkan kebijaksanaannya. Ia menugaskan para prajurit yang dikirim oleh Rangga Widarba dan mengetrapkannya pada kelompok-kelompok yang sudah dibaginya sebelumnya. Sebagian dari mereka berada di kelompok satu, dan yang lain di kelompok dua.
Panji Sempana Murti bekerja dengan sangat hati-hati, karena ia sadar, bahwa petugas sandi yang dipasang oleh Pangeran Kuda Permati pun tersebar dimana-mana.
Dengan hadirnya sekelompok prajurit di setiap pedukuhan, maka padukuhan-padukuhan itu menjadi semakin kuat. Tetapi bukan saja para petugas sandi Pangeran Kuda Permati yang tidak mengetahui siapakah sebenarnya orang-orang baru itu, bahkan orang-orang padukuhan itu sendiri tidak mengetahuinya. Tidak seorang pun di antara mereka yang dikenal sebagai seorang prajurit. Bagi orang-orang padukuhan itu, mereka adalah beberapa orang laki-laki dari tempat lain yang telah mendapat tugas untuk bekerja bersama dengan mereka menghadapi kekuatan Pangeran Kuda Permati, sebagaimana dikatakan oleh mereka, bahwa mereka telah dikerahkan untuk menghadapi Pangeran Kuda Permati, karena Panji Setnpana Murti tidak memiliki kekuatan cukup di daerah perbatasan ini, sementara Kediri tidak mampu lagi mengirimkan prajurit-prajuritnya yang tidak banyak jumlahnya, sesuai dengan pembatasan yang dilakukan oleh kekuasaan Singasari.
Meskipun demikian, kehadiran mereka sudah cukup memberikan dorongan bagi orang-orang Kabuyutan di daerah perbatasan itu untuk berjuang lebih keras lagi karena orang lain telah datang dan ikut mempertahankan hak mereka atas Kabuyutan itu.
Sementara itu, latihan-latihan telah dilakukan dengan sungguh-sungguh. Bahkan kadang-kadang terasa sangat berat. Namun hal itu akan bermanfaat bagi anak-anak muda untuk menghadapi pasukan Pangeran Kuda Permati.
Dalam pada itu, Pangeran Kuda Permati pun sedang memperbincangkan langkah-langkah yang akan diambilnya. Sama sekali tidak ada niat Pangeran Kuda Permati untuk dengan terang-terangan menduduki satu wilayah tertentu. Pangeran itu sadar, jika ia melakukannya, maka kekuasaannya atas daerah itu tidak akan berlangsung lama, karena pasukan Kediri akan dapat dengan kekuatan yang besar mengusirnya. Yang dilakukan adalah sekedar membayangi kekuasaan yang ada dan menghisap daerah itu sampai kekayaannya yang terakhir.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat termangu-mangu. Di luar sadar mereka telah memperhatikan orang di sekitarnya. Namun tak seorang pun yang memperhatikan mereka. Agaknya orang-orang itu mengira bahwa kedua anak muda itu lagi berpikir tentang harga yang ditawarkan oleh pemilik lembu jantan itu atau mungkin memang seorang pedagang sapi.
“Apa yang harus kami kerjakan?” bertanya Mahisa Murti, “Pergi kelingkungan Pangeran Kuda Permati” berkata Ki Waruju.
“Maksud paman?” bertanya Mahisa Pukat.
“Ya. Memasuki daerah yang dalam keadaan sehari hari menjadi daerah tempat tinggal Pangeran Kuda Permati dan pasukannya” jawab Ki Waruju.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat saling berpandangan sejenak. Namun dengan ragu-ragu Mahisa Pukat bertanya, “Apakah hal yang demikian mungkin kami lakukan?”
“Kita akan mencoba” berkata Ki Waruju, “Aku sendiri sudah sering melakukannya”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih saja termangu-mangu. Sementara itu Ki Waruju berkata, “Selama ini aku menunggu untuk dapat bertemu dengan kalian. Aku selalu berada di pasar hewan. Setiap hari tertentu dua kali dalam sepekan, aku menunggu. Akhirnya aku tidak hanya berada di satu tempat, di kota raja saja. Aku mulai berkenalan dengan pedagang-pedagang dan blantik lembu dan kerbau. Bahkan kuda. Akhirnya aku sendiri menjadi blantik yang berpindah-pindah dari satu pasar hewan ke pasar hewan yang lain. Dengan demikian, hubungan menjadi semakin luas, sehingga akhirnya aku dapat berada disemua pasar hewan, termasuk didaerah yang dikuasai oleh Penge-ran Kuda Permati”
“Jadi Pangeran Kuda Permati memang sudah menguasai satu lingkungan tertentu?” bertanya Mahisa Pukat.
“Seperti bayangan. Nampak, tetapi sulit untuk disentuh” jawab Ki Waruju.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Namun akhirnya mereka mengangguk-angguk. Mereka dapat membayangkan satu lingkungan yang berada dibawah bayangan raksasa. Ada tetapi setiap saat lenyap tanpa bekas. Ia hadir dalam lingkungannya dan ada dalam ketiadaan.
“Justru disitulah kesulitan Kediri menghadapi Pangeran Kuda Permati” berkata Ki Waruju, “setiap orang dalam satu lingkungan setiap saat dapat berubah menjadi prajurit yang siap bertempur. Tetapi jika satu kekuatan yang besar datang, yang mereka jumpai adalah petani-petani yang bekerja disawah tanpa kesan sama sekali tentang kekuatan yang pernah ada didalam satu lingkungan. Demikian juga para belantik dan pedagang di daerah itu. Namun aku tahu pasti, dimanakah letak daerah bayangan itu”
“Baiklah paman” berkata Mahisa Murti, “Aku akan pergi”
“Kalian harus membuat laporan tentang rencana kalian” berkata Ki Waruju, “kalian tidak usah menyebut namaku. Mungkin justru akan mengundang persoalan”
Demikian Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah menemui Pugutrawe di warungnya. Ketika warung itu sepi, maka keduanya telah menyatakan keinginan mereka untuk melihat daerah kuasa Pangeran Kuda Permati
“Kami mendapat beberapa keterangan tentang daerah itu” berkata Mahisa Murti.
“Dari siapa?” bertanya Pugutrawe.
“Di pasar hewan. Seorang pedagang sapi menyebut-nyebut satu lingkungan yang berada di dalam bayangan kekuasaan Pangeran Kuda Permati” jawab Mahisa Murti.
”Satu daerah yang sangat berbahaya” desis Pugutrawe.
“Jika rencana kami disetujui, maka kami memerlukan uang untuk membeli satu dua ekor lembu” berkata Mahisa Murti.
Pugutrawe mengangguk-angguk. Orang itu sama sekali tidak menaruh kecurigaan kepada Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Selain pertanda yang dipakainya, keduanya memang menunjukkan kesanggupan mereka. Untuk beberapa saat, keduanya berada dalam pengawasan. Ternyata keduanya sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda yang dapat menimbulkan kesan yang lain.
Karena itu, maka Pugutrawe kemudian berkata, “Apakah kau yakin akan rencanamu?”
“Kami yakin” berkata Mahisa Murti.
“Ingat. Nama kami dan siapa pun juga yang berada di dalam lingkungan kami, tabu kau ucapkan. Kecuali kau dengan sengaja mengkhianati perjuangan kita” berkata Pugutrawe.
“Kami akan menjunjung nilai-nilai yang ada di dalam lingkungan kita” sahut Mahisa Murti.
“Pergilah” berkata Pugutrawe yang kemudian memberikan bekal yang cukup kepada kedua anak muda itu. Sementara itu, kedua anak muda itu sendiri memang memiliki uang yang cukup pula. Mereka benar-benar akan memenuhi sebagaimana dikatakan oleh Ki Waruju.
Sejenak kemudian keduanya sudah kembali ke pasar hewan, untuk menghilangkan kecurigaan, mereka telah membeli seekor lembu jantan dari Ki Waruju dan mereka bawa kembali kerumah Pugutrawe. Baru sambil berangkat ke daerah yang akan menjadi sasaran menyelidikan mereka, mereka melaporkan tentang pembelian itu.
“Jadi kau beli lembu itu disini?” bertanya Pugutrawe, “Hanya satu. Kemudian aku akan pergi dan membeli lebih dari seekor di daerah bayangan itu” berkata Mahisa Murti yang kemudian bersama Mahisa Pukat telah minta diri.
Dalam pada itu, Ki Waruju telah menunggu mereka di tempat yang sudah ditentukan. Seekor sapi yang dijualnya telah laku, dibeli oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.
Karena itu, maka Pangeran Kuda Permati pun tidak terlalu banyak menaruh minat terhadap anak-anak muda yang sedang berlatih olah kanuragan Betapa pun besar kekuatan disatu padukuhan, maka kekuatan itu tidak akan dapat mencegahnya untuk melakukan sesuatu. Seandainya padukuhan itu sempat membunyikan isyarat, maka jarak waktu kedatangan pasukan Panji Sempana Murti cukup memberikan kesempatan kepada pasukan Panji Kuda Permati untuk menghindar. Tetapi jika kekuatan itu harus berbenturan, maka kekuatan Pangeran Kuda Permati tidak akan cemas menghadapinya.
Sikap itulah yang kemudian ditunjukkan oleh Pangeran Kuda Permati. Sekali-sekali sepasukan prajurit yang kuat hanya sekedar lewat saja disebuah padukuhan. Mereka selalai berusaha mencegah kesempatan membunyikan tanda bahaya. Seandainya ada juga yang sempat membunyikannya, maka pasukan Pangeran Kuda Permati yang kuat itu sudah lewat. Namun demikian ada juga satu dua rumah yang sempat terkuras harta miliknya. Bukan saja kuda. Justru orang-orang Pangeran Kuda Permati sudah mulai memasuki rumah-rumah.
Cara itu memang menyulitkan Panji Sempana Murti. Bahkan para prajurit Rangga Widarba yang tersebar di padukuhan-padukuhan pun menganggap bahwa perlawanan terhadap kekuatan yang demikian akan banyak menimbulkan korban, sementara menunggu kehadiran pasukan Panji Sempana Murti dan bantuan dari padukuhan-padukuhan yang lain.
“Pasukan Panji Sempana Murti memerlukan waktu untuk hadir. meskipun pasukan itu adalah pasukan berkuda” berkata salah seorang perwira.
Namun kekerasan hati Panji Sempana Murti telah mendesaknya untuk mengambil tindakan yang lain. Ia segera berbicara dengan para perwiranya dan para perwira dari pasukan Rangga Widarba. Dua pasukan yang sama-sama memiliki watak yang keras sebagaimana pimpinan mereka.
“Kita akan datang ke daerah pertahanannya” berkata Panji Sempana Murti, “Kita harus mencari dan mendapatkan keterangan terperinci dari lingkungan pertahanan Pangeran Kuda Permati”
Para perwira dari kedua pasukan itu sependapat, Jika tidak mereka tusuk sampai ke jantung sarangnya, maka kekuatan Pangeran Kuda Permati sulit untuk diatasi. Mereka datang dan segera pergi. Agaknya mereka telah mendapatkan kuda cukup banyak bagi sebuah pasukan yang besar.
Dengan demikian, maka tugas terberat untuk sementara akan dibebankan kepada pasukan sandi yang ada di dalam lingkungan pasukan Panji Sempana Murti.
Namun dalam pada itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah mendapat keterangan pula dari Pugutrawe bahwa pasukan Panji Sempana Murti dan pasukan Rangga Widarba akan mengambil langkah-langkah baru menyesuaikan diri dengan langkah-langkah yang diambil oleh Pangeran Kuda Permati.
“Kita tidak boleh ketinggalan” berkata Pugutrawe, “meskipun kita mungkin akan mendapat keterangan-keterangan, namun aku harus berhubungan dengan kawan-kawan kita dalam jaringan yang lebih luas”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk. Namun mereka membayangkan bahwa persoalannya akan bertambah rumit. Pangeran Kuda Permati ternyata memiliki perhitungan yang cermat menghadapi perkembangan keadaan.
Sementara Pugutrawe menunggu perkembangan lebih lanjut, maka hampir diluar dugaan, ketika Mahisa Murti dan Mahisa, Pukat dengan persetujuan Pugutrawe pergi ke sebuah pasar khusus untuk menjual binatang ternak, mereka telah bertemu dengan searang pedagang sapi yang sangat ramah terhadap mereka.
“Marilah anak muda” berkata orang itu, “Aku mempunyai seekor lemgbu jantan yang masih muda. Mungkin kalian memerlukan untuk satu peralatan atau untuk satu keperluan khusus di padukuhanmu”
Kedua anak muda termangu-mangu. Namun hampir bersamaan keduanya berdesis perlahan, “Ki Waruju?”
Orang itu tersenyum. Namun Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah mengikutinya mendekati seekor lembu jantan yang memang masih muda.
“Paman berada disini?” bertanya Mahisa Murti.
“Ya. Bukankah aku sudah berpesan, bahwa aku akan berada di pasar hewan” jawab Ki Waruju.
“Tetapi aku kira paman berada di Kota Raja. Tidak di daerah perbatasan” jawab Mahisa Murti sambil mengamati lembu jantan yang masih muda itu, sementara ini kami masih ikut serta mengamati Pangeran Kuda Permati, sehingga kami masih belum memasuki Kota Raja. Mungkin dari persoalan ini kami akan dapat melacak persoalan yang terjadi pada Pangeran Singa Narpada”
Ki Waruju mengangguk-angguk. Sementara Mahisa Pukat berkata, “Tetapi agaknya disini pun persoalannya tidak terlalu sederhana”
Ki Waruju tersenyum. Katanya, “Agaknya kau memerlukan keterangan tentang lingkungan Pangeran Kuda Permati?” bertanya Ki Waruju.
“Ya” desis Mahisa Pukat. Namun ia pun kemudian menyadari keadaannya. Kembali kedua anak muda itu mengamati lembu jantan itu. Sekali-sekali mereka mengelilingi lembu itu sambil menyentuhnya.
“Mungkin aku dapat membantu” berkata Ki Waruju.
“Paman ingin bertemu dengan kawan-kawanku di sini? bertanya Mahisa Pukat.
Tetapi Ki Waruju tersenyum sambil berkata, “Jangan aku. Kalian sajalah. Aku dapat memberimu jalan”
Dengan demikian, maka mereka bertiga pun kemudian menuju ke tempat tinggal Ki Waruju. Ternyata Ki Waruju telah membeli sebidang tanah yang tidak terlalu luas dan mendirikan sebuah rumah kecil sebagai tempat tinggalnya. Namun dalam usahanya membantu Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, Ki Waruju justru benar-benar dapat memanfaatkan keadaan. Ki Waruju bukan saja berada di pasar-pasar sambil menunggu Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, tetapi Ki Waruju dengan demikian telah mendapatkan nafkahnya pula. Bahkan keuntungannya sebagai pedagang ternak dan juga kuda telah dapat dikumpulkannya.
“Aku semula memang tidak mengira, bahwa dengan demikian aku justru dapat menabung” berkata Ki Waruju.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tertawa. Katanya Jarang sekali terdapat seseorang yang menempatkan dirinya dalam tugas sandi dapat memanfaatkan keadaan seperti Ki Waruju”
“Aku melakukan hal ini atas kehendakku sendiri, sehingga dengan demikian aku tidak mendapat dukungan beaya dari siapa pun juga. Untunglah, bahwa aku justru telah mendapat satu jalan”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Sementara itu mereka telah berada di rumah Ki Waruju yang letaknya memang cukup jauh dari tempat tinggal Pugutrawe Mereka tinggal dalam Kabuyutan yang berbeda, “Tinggallah di sini” berkata Ki Waruju, “dalam beberapa hari, kau akan melihat suasana. meskipun tempat ini bukan pusat pengendalian dari para pengikut Pangeran Kuda Permati, namun kita sudah berada di daerah bayangan itu”
“Apa yang paman ketahui tentang daerah ini?” bertanya Mahisa Murti.
“Setiap kali kita akan melihat prajurit Kediri yang berkeliaran. Tetapi berbeda dengan tempat kau tinggal. Di sana para prajurit di bawah kekuasaan Panji Sempana Murti. Tetapi di sini para prajurit adalah orang-orang yang setia kepada Pangeran Kuda Permati. Prajurit-prajurit itu pada saat-saat tertentu telah menyatu dengan penghuni Kabuyutan ini, sehingga sulit untuk mengetahui, yang manakah prajurit yang setia kepada Pangeran Kuda Permati, dan yang manakah yang sebenarnya adalah rakyat biasa. Karena para prajurit itu pada saat-saat tertentu adalah tidak berbeda dengan rakyat biasa” berkata Ki Waruju.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Agaknya Panji Sempana Murti juga ingin menjadikan Kabuyutan di perbatasan Utara itu menjadi satu daerah yang menyatu antara rakyat kebanyakan dan para prajurit Kediri, meskipun dengan landasan maksud yang berbeda.
“Tetapi, apakah paman dapat menunjukkan pusat kekuatan Pangeran Kuda Permati?” bertanya Mahisa Pukat.
“Kita masih harus mencarinya. Secara kasar kita memang dapat menunjuk satu tempat. Tetapi mungkin kita akan dikelabui oleh dugaan kita sendiri” jawab Ki Waruju.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Namun dengan demikian mereka mendapat gambaran, bahwa didaerah itu Pangeran Kuda Permati sudah mendapat dukungan yang luas bagi perjuangannya. Karena itulah, agaknya maka Pangeran Kuda Permati berani mengambil satu langkah, menarik diri dari Kota Raya dan berada didaerah yang tidak terlalu jauh, namun dalam satu lingkungan yang menguntungkan perjuangannya.
Tetapi sikap Sri Baginda yang memang memberikan angin yang baik bagi Pangeran Kuda Permati. Bahkan Pangeran Singa Narpada telah ditangkap, justru pada saat Pangeran Singa Narpada menyerahkan Pangeran Lembu Sabdata yang dianggap-telah melawan Kediri dan berpihak kepada Pangeran Kuda Permati.
Seandainya Pangeran Singa Narpada tidak ditangkap, maka kedudukan Pangeran Kuda Permati akan berlainan. meskipun Pangeran Singa Narpada tidak akan dengan mudah menangkapnya, tetapi ia akan dapat membuat Pangeran Kuda Permati mengalami kesulitan.
Namun Pangeran Singa Narpada justru telah kehilangan kesempatan itu.
Sejak hari itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah berada di rumah Ki Waruju, seorang yang dikenal sebagai belantik ternak. Bahkan kemudian bukan saja sebagai belantik, tetapi ia telah mempunyai modal untuk membeli satu dua ekor lembu sebagai barang dagangan.
Di rumah Ki Waruju memang terdapat sebuah kandang yang memuat empat ekor ternak. Dengan kehadiran Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, maka dengan uang yang ada, Ki Waruju dapat membeli empat ekor kerbau.
“Paman” bertanya Mahisa Murti kemudian, “apakah pada suatu saat. ternak-ternak itu tidak akan dirampas oleh Pangeran Kuda Permati?”
Ki Waruju menggeleng. Katanya, “Di sini tidak terjadi perampasan. Aku tahu bahwa di Kabuyutanmu para pengikut Pangeran Kuda Permati telah mengambil semua kuda yang ada. Tetapi di sini justru tidak. Pangeran Kuda Permati di sini berusaha untuk mengambil hati rakyat yang menyelimutinya. Mereka tidak boleh dikecewakan, agar mereka tetap merupakan tirai yang selalu dapat menyelubunginya”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Namun demikian Ki Waruju berkata, “Tetapi bukan berarti bahwa tirai itu tidak akan tertembus”
“Namun, dengan demikian apakah tidak berarti bahwa kehadiran orang-orang baru dapat dicurigai disini?” bertanya Mahisa Murti.
Ki Waruju mengerutkan keningnya. Sambil mengangguk-angguk ia menjawab, “Kau benar. Memang orang baru mungkin sekali akan dicurigai. Tetapi aku sudah terbiasa berhubungan dengan banyak orang. Para pedagang. Sehingga di rumahku yang kecil ini hilir mudik orang-orang yang datang untuk membicarakan jual beli ternak”
“Tetapi tidak menetap di sini” berkata Mahisa Pukat.
“Tidak banyak bedanya. Tidak akan ada orang yang menghiraukan apakah orang-orang yang kelihatan berkeliaran di rumah ini menetap atau tidak. Bahkan seandainya menetap sekalipun, maka aku akan mempertanggung jawabkannya. Apalagi jika kandang itu sudah penuh dengan ternak, maka aku akan mempunyai banyak alasan untuk memanggil katakanlah dua orang kemenakanku untuk tinggal bersamaku di sini” jawab Ki Waruju.
“Tetapi apakah sikap para tetangga di sekitar tempat ini meyakinkan?”bertanya Mahisa Murti kemudian.
“Aku yakin” jawab Ki Waruju, “Mereka sangat baik terhadap aku, meskipun aku terhitung orang baru di sini. Tetapi aku sering menolong orang-orang di sekitar rumah ini dengan pengobatan jika ada di antara mereka atau keluarga mereka yang sakit menurut batas kemampuan yang ada padaku”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Mereka yakin bahwa penilaian Ki Waruju atas orang-orang di sekitarnya tentu cukup tajam, sehingga keduanya tidak perlu mencemaskannya.
Karena itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak mempersoalkannya lagi.
Dalam pada itu, di hari-hari berikutnya, maka Ki Waruju telah membeli beberapa ekor ternak untuk memenuhi kandangnya. Namun binatang-binatang itu hanya singgah sebentar, karena kemudian telah dijualnya lagi, sebagaimana laku seorang pedagang.
Sementara itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang dengan rajin memelihara ternak-ternak dagangan Ki Waruju, dengan rajin mencari rerumputan dan kadang-kadang menggembalakannya di luar padukuhan. Jika Ki Waruju memelihara beberapa ekor kerbau, atau ternak yang lain, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sering membawa binatang-binatang itu kesungai untuk dimandikan.
Dalam kerjanya, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang masih muda itu menjadi nampak semakin muda. Kadang-kadang mereka berada di antara para gembala yang lebih kecil dan bermain-main dengan mereka.
Meskipun Mahisa Murti dan Mahisa Pukat memiliki tubuh yang sedang bagi anak-anak muda yang sedang berkembang, tetapi berada di antara anak-anak remaja yang sedang menggembala Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak nampak terlalu tua.
Bahkan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih pantas juga untuk bermain ketangkasan dengan para gembala, bahkan kadang-kadang mereka ikut bermain binten.
Memang sulit bagi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat untuk menyesuaikan diri dengan kemampuan para gembala. Tetapi setiap kali Mahisa Murti dan Mahisa Pukat berusaha untuk kalah juga dalam permainan ketangkasan dan binten.
Sebenarnyalah bahwa tidak seorang pun di antara para gembala itu akan dapat berbuat sesuatu atas kedua anak muda itu. Namun Mahisa Murti dan Mahisa Pukat harus luluh di antara mereka, sehingga bagaimanapun juga mereka harus berusaha untuk menghapuskan jarak pada tingkat kemampuan mereka.
Demikianlah kerja Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sehari-hari. Jika mereka pergi menggembala, mereka membawa keranjang kosong. Nanti, sambil membawa binatang yang mereka gembalakan, maka mereka membawa keranjang yang sudah penuh berisi rumput segar. Bahkan kadang-kadang Mahisa Murti dan Mahisa Pukat harus mencari rumput tanpa ternak yang digembalakan, karena ternak mereka sedang dibawa ke pasar, sementara mereka harus menyediakan rumput jika paman mereka pedagang ternak it u justru membawa ternak yang baru.
Namun dalam pada itu, dalam lingkungan para gembala. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat memang sempat melihat kehidupan rakyat di sekitarnya. Memang mereka tidak nampak sebagaimana para prajurit yang kadang-kadang memang nampak hilir mudik. Tetapi pada saat-saata tertentu, mereka memang seorang prajurit.
Ketika Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sedang menggembala, bersama dengan beberapa orang anak-anak remaja dan bahkan juga anak-anak yang lebih besar, mereka telah dikejutkan oleh sekelompok orang yang membawa seorang yang terikat tangannya di punggungnya. Berlari-larian para gembala pergi ke pinggir jalan. Dari mereka yang menggiring orang yang terikat itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mendengar, “Ini adalah salah satu contoh dari petugas sandi yang dikirim oleh Panji Sempana Murti, budak Singasari”
Dada Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menjadi berdebar-debar. Orang yang terikat dan kakinya itu agaknya sudah mengalami perlakuan yang tidak baik dari mereka yang membawanya, yang menurut pengamatan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat terdapat dua orang prajurit dan beberapa orang petani kebanyakan.
“Mereka akan dibawa kemana?” bertanya Mahisa Murti kepada kawannya, seorang gembala yang hampir sebaya dengan dirinya.
“Ke banjar” jawab anak itu, “Mereka harus dihukum sesuai dengan kesalahan mereka”
“Marilah, kita melihat” ajak Mahisa Murti.
Kawannya menjadi ragu-ragu. Tetapi akhirnya, bersama-sama para gembala itu menyetujui.
“Marilah” desis seseorang.
Anak-anak itu pun kemudian menanggalkan keranjang-keranjang mereka di sawah. Berlan-lari mereka mengikuti iring-iringan yang membawa orang terikat itu.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat berusaha untuk tetap dianggap belum dewasa sepenuhnya, sehingga tidak seo-rang pun menaruh curiga kepada mereka. Apalagi mereka berada di antara para gembala, yang di antaranya ada juga yang telah remaja. Dalam pakaian, sikap dan tingkah laku yang disesuaikan dengan kawan-kawannya, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat memang masih pantas untuk berada di antara para gembala.
“Apa yang akan mereka lakukan atas orang yang terikat itu?” bertanya Mahisa Murti.
“Ia akan dihukum” jawab kawannya, “Aku pernah melihat seorang di antara petugas sandi yang dihukum mati.”
“Petugas sandi dari mana?” bertanya Mahisa Pukat
“Mereka adalah budak-budak Singasari” jawab kawannya.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Mereka sadar, bahwa pengaruh Pangeran Kuda Permati memang sudah merasuk kedalam sanubari rakyat padukuhan itu dan sekitarnya. Sehingga bagi mereka, semua yang berbau Singasari tidak pantas mendapat tempat di antara mereka.
Beberapa saat anak-anak gembala itu mengikuti orang yang sudah terikat itu. Seperti yang dikatakan oleh anak-anak itu, maka biasanya orang-orang yang disebut pengkhianat itu akan membawa ke banjar dan diadili menurut mereka yang berkuasa di padukuhan itu. Anak-anak padukuhan itu sudah terbiasa melihat bagaimana para pengikut Pangeran Kuda Permati memperlakukan orang yang disangka petugas sandi. Benar atau tidak benar. Bahkan orang yang sama sekali tidak tahu menahu tentang hubungan antara Kediri dan Singasari, jika mereka sudah dituduh petugas sandi, maka mereka akan mengalami nasib yang sangat buruk. Perlakuan yang kadang-kadang diluar batas kewajaran sikap kemanusiaan sering terjadi. Luapan perasaan masarakat yang sengaja telah dibakar oleh para pengikut Pangeran Kuda Permati sering menimbulkan ungkapan yang sangat pahit bagi sikap kemanusiaan itu sendiri.
Ketika orang itu memasuki halaman banjar, maka bagaikan mengalir, anak-anak muda telah memasuki halaman itu pula. Namun mereka sama sekali tidak menghiraukan sekelompok gembala yang juga berada di halaman itu sambil membawa cambuk, bertubuh kotor oleh lumpur dan sikap yang kekanak-kanakan.
“Ikut orang itu” teriak seseorang, “pada tonggak yang sudah tersedia”
Sebenarnyalah, orang itu pun kemudian diikat di tonggak di tengah-tengah halaman. Agaknya tonggak itu memang dipasang khusus untuk mengikat orang-orang yang dituduh pengkhianat.
Dalam pada itu, tiba-tiba saja Mahisa Pukat berdesis kepada seorang kawannya yang ujudnya tidak terpaut banyak dari Mahisa Pukat itu sendiri, “He, apakah kita pasti bahwa orang itu memang pengkhianat”
Bersambung. ....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar