*HIJAUNYA LEMBAH. JILID 012-04*
Karena itu maka diluar sadar, maka orang-orang Gagelang yang berpihak kepada orang-orang Talang Amba itu telah bersorak ketika pada benturan pertama, orang-orang yang disangkanya orang Talang Amba itu mampu mendesak orang-orang Gagelang.
“Gila. Apa yang sebenarnya terjadi?” bertanya Senapati yang memimpin orang-orang Gagelang yang setia kepada Akuwu itu, “Bukankah mereka orang-orang Talang Amba yang tidak berarti apa-apa bagi kalian. Kenapa kalian tiba-tiba saja telah terdesak?”
Para pengawal tidak menjawab. Mereka mencoba mengerahkan kemampuan mereka. Mereka berusaha untuk tetap menganggap orang-orang yang datang itu adalah orang-orang yang tidak berarti apa-apa bagi mereka, sehingga dengan demikian, maka mereka akan dengan mudah dapat dihancurkan.
Tetapi kenyataannya tetap berbeda dari yang mereka kehendaki. Ketika orang-orang Gagelang itu memaksa diri untuk mendesak, maka korban pun mulai jatuh diantara mereka.
Para pengawal dari Gagelang itu mengumpat-umpat. Tetapi kawan mereka yang telah terbaring di tanah merupakan satu kenyataan, bahwa lawan mereka memang memiliki kemampuan yang mampu mengimbangi kemampuan mereka.
Demikianlah, maka pertempuran itu pun telah menjadi semakin sengit. Ternyata bahwa orang-orang Gagelang yang setia kepada Akuwu tidak dapat mengingkari satu kenyataan. Orang-orang yang mereka sangka orang-orang Talang Amba itu memiliki ilmu yang dapat mengimbangi ilmu para pengawal.
“Satu keajaiban” desis seorang Senapati Gagelang., “Tetapi adalah satu kenyataan, bahwa orang-orang Talang Amba itu benar-benar mampu mendesak para pengawal di Gagelang”
“Hampir tidak mungkin” berkata Senapati itu pengawal Gagelang memiliki masa latihan yang berat. Sedangkan orang-orang Talang Amba tidak lebih dari petani-petani yang setiap harinya memegang cangkul dan bekerja di sawah.
Namun pertempuran itu masih berlangsung dengan sengitnya Orang-orang yang disangka orang-orang Talang Amba itu telah merampas sebagian perhatian dari para pengawal dari Gagelang yang setia kepada Akuwu.
Sementara itu, para pengawal yang berpihak kepada orang-orang Talang Amba pun tidak kalah herannya menghadapi kenyataan itu. Orang-orang dalam pakaian petani yang sederhana itu bertempur dengan tangkasnya Bukan saja cara mereka mempermainkan senjata, tetapi cara mereka menyerang dalam kesatuan yang utuh dan mapan
Tetapi para pengawal yang berpihak kepada orang-orang Talang Amba itu tidak berpikir lebih rumit lagi. Mereka masih harus menghadapi lawan yang memiliki kemampuan yang seimbang dengan mereka
Dengan demikian maka pertempuran diantara orang-orang Gagelang itu telah berubah keseimbangannya karena kehadiran orang-orang yang mereka sangka orang-orang Talang Amba. Sebagian dari orang-orang Gagelang yang setia kepada Akuwu itu telah bertempur menghadapi mereka, sementara yang lain masih tetap menghadapi pecahan dari pasukan Gagelang sendiri.
Dalam pada itu, di induk pasukan Akuwu Gagelang masih bertempur menghadapi Mahisa Bungalan. Ternyata Senapati muda dari Singasari itu memiliki bekal ilmu yang tinggi, Akuwu yang merasa dirinya orang terkuat di Gagelang, dan bahkan Akuwu Gagelang yang merasa dirinya tidak kalah dengan Senapati Singasari yang manapun juga. harus mengakui, bahwa ia benar-benar telah dihadapi oleh salah seorang dari Senapati di Singasari itu.
Sementara di bagian lain. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah bertempur dengan lawannya masing-masing.
Dengan demikian, maka pertempuran yang menebar sampai ke padukuhan sebelah menyebelah itu berlangsung semakin sengit. Kekuatan orang-orang Talang Amba benar-benar tidak masuk di akal orang-orang Gagelang. Namun bagi mereka hal itu adalah satu kenyataan.
Satu demi satu korban pun berjatuhan di kedua belah pihak Namun ternyata bahwa orang-orang Gagelang telah menjadi semakin terdesak. Orang-orang Gagelang yang sama sekali tidak menduga bahwa mereka, akan menghadapi lawan yang tangguh, benar-benar telah merasa terpukul.
Demikian pula Pangeran dari Kediri yang ada diantara orang-orang Gagelang. Iapun sama sekali tidak menduga, bahwa hal yang tidak masuk akal itu akan terjadi.
Namun justru karena itu, Akuwu Gagelang memang tidak mempunyai pilihan lain. Jika ia tidak berhasil memenangkan pertempuran itu, maka hal itu berarti bahwa ia akan jatuh ke tangan Senapati dari Singasari. Ia akan dapat berbicara tentang keadaan di Talang Amba dan rencana untuk menebang hutan di lereng Gunung, sebagaimana sebelumnya pernah direncanakan oleh Ki Sarpa Kuning.
Karena itu, maka Akuwu itu tidak mempunyai pilihan lain kecuali bertempur dengan sepenuh kekuatan yang ada pada pasukannya, la harus dapat menghancurkan lawannya dan membunuh para Senapati dari Singasari itu.
Dengan demikian, maka Akuwu sendiri telah berusaha untuk bertempur dengan segenap kemampuannya. Dengan seluruh ilmu yang ada di dalam dirinya. Kemampuannya bertempur dan ilmu pedangnya yang nggegirisi merupakan kekuatan utamanya untuk menghadapi Mahisa Bungalan. Namun kekuatan cadangan yang ada di dalam diri Akuwu itu pun merupakan kekuatan yang menggetarkan.
Namun Mahisa Bungalan adalah seorang Senapati muda yang tangguh tanggon. Senapati muda yang memiliki bekal yang kuat untuk menghadapi Akuwu dari Gagelang. Senopati yang di masa sebelumnya telah menempa diri sebagai pengembara yang menyadap pengalaman yang tidak ada taranya.
Karena itulah, maka Akuwu tidak segera dapat menguasai lawannya. Mahisa Bungalan dalam beberapa hal justru menunjukkan kelebihannya. Mahisa Bungalan mempunyai daya tahan diluar nalar Akuwu Gagelang. Meskipun Akuwu memiliki kecepatan gerak yang mengagumkan namun ternyata bahwa Mahisa Bungalan masih mampu mengimbanginya. Meskipun Mahisa Bungalan tidak terlalu banyak bergerak sebagaimana dilakukan oleh Akuwu yang tangkas trengginas itu, namun setiap kali kaki Mahisa Bungalan bergeser, ia sudah siap menghadapi serangan Akuwu Gagelang yang bagaimanapun juga cepatnya.
Namun yang nampak paling sulit diantara pasukan Gagelang adalah pasukan Gagelang yang setia kepada Akuwu yang harus menghadapi kawan-kawan mereka sendiri. Jika semula mereka berhasil mendesak dan bahkan siap untuk menguasai lawannya, namun ternyata mereka teluh mengalami satu kesulitan yang tidak akan dapat mereka atasi. Korban diantara mereka pun semakin lama menjadi semakin banyak. Bukan saja karena kawan-kawan mereka sendiri, namun juga karena orang-orang dalam pakaian petani yang sederhana yang mereka sangka orang-orang Talang Amba.
Tetapi, agaknya bukan saja pasukan Gagelang yang menghadapi kawan-kawan mereka sendiri itulah yang mengalami kesulitan. Semua pasukan Gagelang di arena pertempuran itu mengalami kesulitan. Orang-orang Talang Amba sendiri yang merasa mempunyai kawan yang bukan saja mampu mengimbangi kemampuan lawan, namun juga dapat melindungi mereka, menjadi semakin berani.
Ada juga satu dua diantara mereka yang terluka. Tetapi kawan-kawannya tidak menjadi gentar, karena mereka melihat keadaan lawan yang jauh lebih parah dari keadaan orang-orang Talang Amba.
Namun demikian, kadang-kadang orang-orang Talang Amba memang dapat menjadi sasaran orang-orang Gagelang yang ingin menumpahkan kemarahan mereka. Tetapi orang-orang Gagelang tidak mampu memiliki diantara lawan-lawannya, karena ujud lahiriahnya tidak jauh berbeda.
Demikianlah, di semua arena, orang-orang Gagelang telah terdesak. Mereka bergeser semakin jauh dari padukuhan. Bahkan mereka pun menjadi semakin gelisah, ketika mereka melihat kawan-kawan mereka yang terpisah, yang harus berhadapan dengan pecahan pasukan Gagelang sendiri, juga mengalami kesulitan setelah beberapa kelompok orang-orang yang disangka orang-orang Talang Amba itu datang membantu.
Karena itulah, maka pasukan Gagelang yang setia kepada Akuwu dan yang harus menghadapi pecahan pasukannya sendiri serta orang-orang yang mereka sangka orang-orang Talang Amba itu akhirnya tidak berpengharapan lagi. Mereka tidak lagi mempunyai harapan untuk dapat melepaskan diri dari keadaan yang paling pahit dari seorang prajurit.
“Orang-orang Talang Amba benar-benar memiliki kemampuan diluar dugaan” berkata Senapati yang memimpin pasukan Gagelang yang setia. Bahkan iapun tidak dapat mengingkari satu kenyataan, bahwa orang-orang yang disangkanya orang-orang Talang Amba itu memiliki kelebihan dari pasukannya. Secara pribadi, orang-orang dalam pakaian petani itu mempunyai kemampuan yang lebih baik dari orang-orangnya.
“Seandainya mereka terhimpun dalam satu pasukan yang tertib maka kekuatan orang-orang Talang Amba benar-benar nggegirisi” gumam Senapati itu.
Meskipun demikian, sebagai seorang prajurit Senapati itu bertempur terus. Ia tidak akan meninggalkan kewajibannya. Apapun yang terjadi.
Namun dalam pada itu. tiba-tiba saja salah seorang diantara para petani itu telah berteriak, “He, orang-orang Gagelang. Masih ada satu kesempatan bagi kalian. Menyerah”
Darah Senapati yang memimpin orang-orang Gagelang itu justru bagaikan mendidih. Bagaimana mungkin pasukan Pakuwon Gagelang harus menyerah kepada pasukan Kabuyutan Talang Amba yang kecil dan lemah.
Tetapi aku menghadapi kenyataan yang lain berkata Senapati itu namun demikian, ia sama sekali tidak bermimpi untuk menyerah kepada orang-orang Talang Amba. Jika terjadi demikian, maka para pengawal Gagelang itu tentu akan menjadi pangewan-ewan. Pengawal dari sebuah Pakuwon yang selama ini dibanggakan harus menyerah kepada petani-petani yang tidak terbiasa mempergunakan senjata.
Karena itu, maka Senapati itu pun justru bertempur semakin sengit. Dikerahkannya segenap kemampuannya untuk melawan orang-orang yang mengenakan pakaian petani yang sederhana itu bersama dengan pasukannya.
Namun dalam pada itu, sesuatu telah terjadi Senapati itu terkejut ketika ia dapat mengenali salah seorang dari para petani yang dihadapinya. Seorang yang pernah dikenalnya. Bukan sebagai petani di Talang Amba, tetapi sebagaimana dirinya sendiri, seorang prajurit. Bukan dari Gagelang, tetapi dari Singasari.
Untuk sesaat Senapati itu berusaha mengenali dengan sebaik-baiknya. Namun akhirnya ia memastikan bahwa orang itu adalah orang yang dikenalnya dengan baik.
Karena itu, maka dengan ragu-ragu ia menyapa, “Apakah aku berhadapan dengan orang-orang Talang Amba?”
Hampir berbareng beberapa orang berkata, “Ya. Karena itu menyerahlah”
Senapati itu meloncat menghindar ketika ujung sebuah tombak menggapainya. Namun ia masih sempat berkata, “Sinduwata. Engkaukah itu?”
Orang yang dapat dikenali oleh Senapati itu tersenyum. Katanya, “Ketika aku melihatmu di medan, aku dengan sengaja mendekatimu. Aku memang Sinduwata”
“Jika demikian, kau bukan orang Talang Amba” berkata Senapati itu.
“Aku memang orang Talang Amba meskipun aku sudah lama meninggalkan padukuhanku” jawab orang yang dikenalinya itu.
“Bohong” desis Senapati itu.
“Ya. Aku memang berbohong. Jika demikian kau kenal aku. Dan kau pun tentu mengetahui apa yang telah terjadi seluruhnya di Talang Amba ini” jawab orang yang disebut Sinduwata.
Senapati itu meloncat surut. Sambil menarik nafas dalam-dalam ia berteriak nyaring, “apakah aku berhadapan dengan pasukan dari Singasari?”
Orang-orang dalam pakaian petani itu termangu-mangu. Sementara itu Sinduwata pun menyahut, “Menyerahlah. Kau tidak mempunyai pilihan lain. Aku menaruh hormat kepada kawan-kawanmu yang dapat melihat kenyataan dan kemudian berpihak kepada orang-orang Talang Amba”
“Mereka telah berkhianat” jawab Senapati itu.
“Renungkan. Mereka atau kau yang telah berkhianat, termasuk Akuwu dari Gagelang itu sendiri” berkata Sinduwata.
Senapati itu termangu-mangu. Namun dalam keadaan yang demikian tiba-tiba sebuah lembing telah meluncur ke dadanya. Senapati itu terkejut. Tetapi ia sudah tidak sempat lagi mengelak. Satu-satunya cara yang dapat dilakukannya adalah menangkis lontaran lembing itu dengan pedangnya. Tetapi satu kemungkinan yang sangat buruk dapat terjadi. Jika ia salah hitung sekejap saja, maka ujung lembing itu akan sempat mematuk dadanya.
Namun yang terjadi adalah lain, Sinduwata masih sempat meloncat menyambar lembing itu dengan pedangnya, sehingga lembing itu meluncur ke arah samping.
Senapati itu terkejut. Namun ia masih sempat bertanya, “Kenapa kau selamatkan nyawaku?”
“Aku ingin kau menyerah” jawab orang yang disebut Sinduwata.
“Aku tidak akan menyerah kepada orang-orang Talang Amba” jawab Senapati itu, “barangkali kematian adalah jalan yang lebih pantas bagi seorang prajurit daripada menyerah kepada orang-orang Talang Amba. Kami adalah pengawal sebuah Pakuwon yang selama ini berbangga atas kekuatannya. Apakah pantas jika kami harus menyerah kepada orang-orang Kabuyutan yang lebih banyak bekerja di sawah daripada berolah senjata”
“Kau mengenal aku?” bertanya Sinduwata.
“Ya. Kau adalah seorang prajurit Singasari” jawab Senapati itu.
“Dan kau mempunyai ketajaman penglihatan atas lawan yang Kau hadapi?” bertanya Sinduwata pula.
“Sudah aku sebut tadi, apakah kalian prajurit dari Singasari?” Senapati itulah yang bertanya.
“Ya” jawab Sinduwata, “kami adalah prajurit-prajurit Singasari yang ingin mengetahui apakah yang telah terjadi sebenarnya di Talang Amba”
“Apakah orang yang mengenakan pakaian Senapati Singasari yang tiga orang itu benar-benar prajurit Singasari?” bertanya Senapati itu.
“Ya” jawab Sinduwata, “Mereka adalah Senapati-senapati prajurit Singasari. Nah, sekarang kau akan dapat memilih. Kau akan berpihak kepada Singasari atau kau akan tetap berkhianat seperti yang dilakukan oleh Akuwu di Gagelang”
Senapati itu termangu-mangu. Sementara itu Sinduwata mendesaknya, “cepat. Ambil keputusan. Menyerah atau seluruh pasukanmu akan aku hancurkan
Senapati itu memang tidak mempunyai pilihan lain. Tetapi yang ternyata dihadapinya adalah bukan orang-orang Talang Amba. Karena itu, maka ia masih juga mempertimbangkan, apakah ia akan menyerah. Jika benar yang dihadapinya adalah prajurit Singasari, maka bukannya sesuatu yang hina jika ia menyerah kepada mereka.
Namun Senapati itu tidak mempunyai waktu terlalu lama. Pertempuran yang terjadi di sekitarnya menjadi semakin sengit. Pasukan Gagelang terdesak semakin parah, sementara pecahan pasukan Gagelang yang berpihak kepada orang-orang Talang Amba menjadi semakin garang, karena mereka mendapat kesempatan untuk menekan lawannya yang semula hampir saja membinasakan mereka.
Dalam keadaan yang demikian, maka Senapati yang memimpin pasukan Gagelang itu tidak mempunyai pilihan lain. Tiba-tiba saja ia meneriakkan aba-aba untuk meletakkan senjata.
“Kita berhadapan dengan prajurit-prajurit Singasari yang menyamar” teriak Senapati itu, “Karena itu, mereka sebenarnya membawa kuasa Sri Maharaja di Singasari sebagaimana dikatakan oleh tiga orang Senapati dari Singasari itu.
Teriakan itu semula memang agak meragukan. Namun sekali lagi Senapati itu meyakinkan, “Tidak ada pasukan yang memiliki kemampuan tempur sebagaimana yang kita hadapi. Mereka bukan orang-orang Talang Amba. Tetapi mereka adalah prajurit-prajurit Singasari. Dengan demikian kita akan menyerah kepada Singasari. Tidak kepada Talang Amba”
Para pengawal di Gagelang itu mulai berpikir tentang orang-orang yang mereka hadapi. Mereka memang sudah diragukan sejak benturan senjata terjadi diantara mereka terhadap orang-orang dalam pakaian petani sebagaimana orang-orang Talang Amba.
Namun dalam pada itu, orang-orang Gagelang yang berpihak kepada orang-orang Talang Amba masih saja bertempur dengan serunya, sehingga sekelompok orang-orang dalam pakaian petani telah mendapat perintah dari Sinduwata untuk membuat hubungan dengan mereka dan memerintahkan menghentikan pertempuran karena pasukan Gagelang yang setia kepada Akuwu telah menyerah.
“Atas nama kuasa Sri Maharaja Singasari” Sinduwata menegaskan.
Ternyata Senapati yang memimpin pasukan Gagelang yang berpihak kepada orang-orang Talang Amba itu pun kemudian dapat mengerti atas penjelasan yang diberikan oleh orang-orang yang mengenakan pakaian petani yang sederhana itu. Karena sebenarnyalah mereka memiliki terlalu banyak kelebihan dari para petani kebanyakan.
“Jadi kalian adalah prajurit-prajurit Singasari?” bertanya Senapati yang berpihak kepada orang-orang Talang Amba.
“Ya” jawab prajurit Singasari itu, “keadaan ini telah diperhitungkan oleh para pemimpin keprajuritan di Singasari, sehingga mereka memutuskan untuk mengutus beberapa Senapati dan prajurit secukupnya untuk membayangi Kabuyutan Talang Amba. Ternyata kami diperlukan disini”
Dengan demikian maka pasukan Gagelang yang terpisah dan yang semula harus menghadapi pecahan dari pasukan itu sendiri adalah pasukan yang pertama kali menyerah. Mereka telah meletakkan senjata mereka dan menghentikan perlawanan.
Pertempuran antara pengawal Gagelang yang terbelah itu telah terhenti. Pasukan pengawal yang semula setia kepada Akuwu itu pun telah menyerah. Sementara senjata mereka di kumpulkan maka Sinduwata telah memberikan beberapa penjelasan kepada pasukan Gagelang itu.
Dengan demikian, jelas bagi kalian, bahwa Akuwu Gagelang yang telah melawan kekuasaan Singasari. la mempergunakan kesempatan yang timbul saat-saat di Gagelang terjadi perebutan kekuasaan antara paman dan kemanakan Namun yang diakhiri dengan sikap yang terpuji dari kedua belah pihak. Bahkan Talang Amba telah berhasil membunuh orang yang telah meracuni Ki Sendawa, karena ia menginginkan imbalan yang terlalu mahal. Hutan di lereng pegunungan.
Sementara itu, senapati Ki Sarpa Kuning, maka Akuwu telah mengambil alih tugasnya. Dengan memberikan keterangan yang sesat kepada orang-orangnya, maka Akuwu berhasil membawa mereka untuk memerangi orang-orang Talang Amba. Namun untunglah bahwa kesiagaan para prajurit Singasari telah berhasil mengatasi keadaan.
Dalam pada itu, Akuwu di Gagelang masih bertempur dengan serunya. Ketika ia mengetahui, bahwa pertempuran antara pasukannya yang terbelah itu sudah selesai, dan bahkan pasukan yang setia kepadanyalah yang harus menyerah, maka Akuwu itu mengumpat dengan kasarnya. Sementara itu, kedua orang pengawal pangapitnya telah bertempur pula semakin garang, betapapun hati mereka menjadi gelisah.
Kekalahan pasukan yang setia kepada Akuwu itu berpengaruh atas ketahanan jiwani pasukannya yang tersebar di padukuhan-padukuhan sebelah menyebelah. Dengan demikian, maka mereka pun segera merasa kecil menghadapi orang-orang Talang Amba.
Namun Senapati yang memimpin mereka masih sempat menyalakan api di dalam dada para pengawalnya, “Kekalahan mereka bukan oleh orang-orang Talang Amba. Tetapi para pengawal yang telah berkhianat itu telah bertempur dengan gila. Mereka berhasil mempengaruhi lebih banyak lagi pengawal-pengawal yang hatinya sempit sesempit otak mereka. Karena itu, kita harus dengan cepat menghancurkan orang-orang Talang Amba. Kemudian kita akan menghancurkan pengkhianat-pengkhianat itu. Hukuman bagi mereka akan jauh lebih berat dari hukuman atas orang-orang Talang Amba sendiri. Para Senapati yang berkhianat itu akan dihukum picis di alun-alun Gagelang”
Teriakan itu sempat membangkitkan nyala sekejap di hati para pengawal. Namun kemudian kembali mereka menghadapi satu kenyataan. Orang-orang Talang Amba telah bertempur dengan kemampuan yang sangat tinggi.
Namun sekali-sekali, para pengawal itu berkesempatan untuk bertemu dengan orang-orang Talang Amba yang sebenarnya. Namun setiap kali pedang mereka siap menebas leher, tiba-tiba saja datang orang yang lain. Juga dalam pakaian petani yang sederhana seperti orang yang sedang dihadapinya. Namun orang yang datang kemudian itu ternyata memiliki ilmu yang jauh lebih baik dari orang-orang yang hampir saja diselesaikannya. Bahkan lebih baik dari dirinya sendiri
Meskipun demikian, ada juga orang-orang Talang Amba yang terpaksa menjadi korban. Betapapun juga mereka berada diantara orang-orang berilmu, namun sekali-sekali ada juga pedang yang menyusup diantara mereka dan mematuk korbannya.
Namun sebenarnyalah bahwa orang-orang Gagelang sudah tidak mempunyai harapan lagi. Tetapi karena Akuwu di Gagelang masih juga bertempur, maka mereka pun berusaha untuk tetap mempertahankan dirinya.
Dalam pada itu, Akuwu masih bertempur dengan mengerahkan segenap kemampuannya. Ia memang tidak mempunyai kesempatan lagi. Segala perbuatannya sudah diketahui dan dimengerti oleh para Senapati di Singasari. Karena itu, apapun yang dilakukannya kemudian, ia tentu akan diharapkan pada suatu pengadilan.
“Aku akan dihukum” berkata Akuwu di dalam hatinya, “mungkin hukuman gantung karena pengkhianatan ini. Agaknya lebih baik bagiku untuk mati di medan perang ini daripada mati sebagai tontonan orang-orang Singasari”
Karena itu, maka Akuwu Gagelang itu justru bertempur semakin garang. Ia tidak menghiraukan apa yang terjadi di sekitarnya. Ia tidak mau melihat, bahwa orang-orangnya mengalami kesulitan. Semakin lama, maka korban pun semakin banyak berjatuhan.
Tetapi pendirian Akuwu sudah jelas. Lebih baik mati daripada menjadi pangewan-ewan. Dan pendirian itu pun agaknya terdapat pula diantara para Senapati dan pengawalnya. Apalagi mereka yang mengikuti Akuwu dengan sadar, dan tahu dengan pasti apa yang telah terjadi di Talang Amba.
Namun sebenarnyalah bahwa Akuwu pun masih mempunyai harapan untuk mati bersama lawannya. Akuwu terlalu yakin akan dirinya sendiri dan kemampuan ilmunya. Karena itu, maka iapun bertempur semakin dahsyat. Senjatanya terayun-ayun menggetarkan. Bahkan kilatan cahaya yang terpantul dari helai pedangnya, bagaikan gumpalan awan yang bercahaya mengitari tubuhnya.
Mahisa Bungalan menjadi berdebar-debar juga melihat kemampuan ilmu pedang lawannya. Namun sebagai seorang Senapati yang memiliki pengalaman pengembaraan yang luas. maka iapun masih sempat juga melihat lubang-lubang kecil diantara gumpalan awan yang menyilaukan itu.
Dengan kemampuannya bergerak secepat sikatan menyambar bilahan, maka Mahisa Bungalan itu sekali-sekali justru telah menjulurkan pedangnya. Menyusup diantara gumpalan awan putaran pedang lawannya.
Tetapi Akuwu pun cukup tangkas, sehingga dengan demikian maka pertempuran antara Mahisa Bungalan dan Akuwu Gagelang itu pun berlangsung dengan dahsyatnya.
Namun dalam pada itu, dalam hiruk pikuk pertempuran, maka Mahisa Murti telah berusaha dengan segenap kemampuannya untuk menguasai lawannya. Tetapi adalah diluar dugaan, bahwa pengawal itu telah berusaha bertempur tidak saja seorang melawan seorang, tetapi justru berusaha menyusup dalam kesibukan benturan senjata diantara para pengawal Gagelang dan orang-orang Talang Amba.
Mahisa Murti semula tidak mengerti maksud lawannya. Namun ketika tiba-tiba saja, lawannya bergeser menjauh, barulah Mahisa Murti sadar, bahwa tentu ada maksud tertentu yang tidak diperhitungkan sebelumnya.
Mahisa Murti terkejut ketika tiba-tiba saja pengawal itu telah bergeser di belakang seorang pengawal Gagelang. Bahkan yang mengejutkan Mahisa Murti, dengan serta merta, pengawal Akuwu yang bertempur melawannya itu telah mendorong pengawal Gagelang yang lain ke arah Mahisa Murti.
Pada saat pedang Mahisa Murti terjulur, pengawal yang didorong oleh Mahisa Murti itu hampir saja membenturnya tanpa dapat mempergunakan senjatanya. Seandainya Mahisa Murti bergeser setapak, kemudian menebaskan pedangnya, maka pedang itu akan dapat memenggal leher pengawal itu.
Tetapi rasa-rasanya sesuatu telah menahannya, sehingga karena itu, Mahisa Murti hanya bergeser selangkah dan memukul tengkuk orang itu justru dengan tangkai pedangnya.
Orang itu memang jatuh terjerembab. Tetapi orang itu tidak mati, meskipun ia menjadi pingsan.
Ternyata sesaat itu dapat dipergunakan oleh lawan Mahisa Murti sebaik-baiknya. Lawannya itu adalah seorang pengawal pengapit Akuwu Gagelang, namun yang sebenarnya adalah seorang Pangeran dari Kediri. Dengan tangkasnya, maka orang itu pun telah menyusup diantara ayunan senjata di medan pertempuran. Semakin lama semakin jauh dari Mahisa Murti, sehingga akhirnya lawannya itu telah hilang ditelan oleh hiruk pikuknya pertempuran itu sendiri.
Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Iapun melihat, bahwa para pengawal Gagelang tidak akan dapat bertahan terlalu lama. Namun bahwa ia telah kehilangan lawannya, maka Mahisa Murti pun menjadi marah.
Tetapi ia tidak ingin menumpahkan kemarahannya kepada orang-orang Gagelang yang sudah kehilangan kesempatan. Sebentar lagi mereka akan disapu dari medan jika mereka tidak mau menyerah.
Dengan geram, Mahisa Murti pun kembali ke arena yang dipergunakannya semula. Sementara itu ia masih melihat Mahisa Pukat bertempur dengan serunya, sebagaimana juga Mahisa Bungalan yang bertempur melawan Akuwu dari Gagelang.
Untuk sesaat Mahisa Murti hanya berdiam diri. Namun iapun kemudian membantu pula orang-orang Talang Amba melawan para pengawal dari Gagelang yang sudah kehilangan gairah perjuangannya. Hanya karena Akuwu masih bertempur sajalah, mereka juga masih bertempur. Namun diantara mereka ada juga Senapati yang memang memilih mati di medan perang daripada menyerahkan diri kepada orang-orang Talang Amba atau orang Singasari.
Di padukuhan sebelah, Ki Sanggarana dan Ki Sendawa bertempur diantara orang-orang Talang Amba dan orang-orang yang belum dikenalnya yang datang bersama Senapati Singasari yang berada di Talang Amba bersama Mahisa Bungalan.
Keduanya masih belum sempat mendapatkan penjelasan tentang orang-orang yang telah melibatkan dirinya bersama orang-orang Talang Amba melawan pasukan Gagelang dan yang ternyata memiliki kemampuan yang dapat mengimbangi, bahkan melampaui para pengawal dari Gagelang. Dalam benturan-benturan kekerasan, selanjutnya, maka pasukan Gagelang telah menjadi semakin terdesak.
Ketika orang-orang Gagelang itu kemudian mengetahui, bahwa kawan-kawannya yang bertempur terpisah melawan pecahan dari pasukan Gagelang sendiri telah menyerah, maka pasukan Gagelang itu pun menjadi semakin kehilangan gairahnya. Bahkan beberapa orang tidak lagi ingin melawan ketika pasukan mereka menjadi semakin terdesak. Mereka lebih baik memilih bergeser surut menjauhi lawan yang serasa menjadi semakin garang.
Akhirnya Senapati Singasari yang berada di pasukan itu telah berteriak, “Kawan-kawanmu telah menyerah dan kehilangan kemampuan untuk melawan. Karena itu, menyerahlah sebelum terjadi malapetaka yang lebih besar bagi orang-orang Gagelang”
Tidak ada jawaban. Seorang Senapati Gagelang yang memimpin pasukan di arena itu menjadi ragu-ragu. Tetapi ia tidak akan mempunyai kesempatan untuk memperbaiki keadaan. Bahkan semakin lama keadaannya akan menjadi semakin parah, karena jumlah mereka akan semakin susut.
Sementara itu, di padukuhan yang lain, Ki Waruju pun tidak terlalu banyak berbuat karena orang-orang yang telah membantu pasukan yang sebenarnya tidak memiliki kemampuan yang pantas untuk melawan Gagelang. Tetapi kehadiran orang-orang yang tidak dikenal dan berpihak kepada Talang Amba itu ternyata telah menentukan segala-galanya. Sehingga dengan demikian, Ki Waruju tidak merasa perlu mengerahkan segenap kemampuannya untuk membinasakan lawan-lawannya secepatnya dan sebanyak-banyaknya sebagaimana diperkirakan sebelumnya seandainya ia harus bertempur hanya dengan orang-orang Talang Amba. saja.
Sementara itu, seperti di padukuhan yang lain, maka Senapati Singasari yang ada di padukuhan itu pun telah meminta agar pasukan Gagelang menyerah.
Tetapi seperti kawannya juga di padukuhan sebelah. Senapati Gagelang itu pun ragu-ragu juga. Namun dalam keragu-raguan itu terdengar Ki Waruju berkata, “Ki Sanak, Senapati dari Gagelang. Kau tidak akan berbuat apapun juga sekarang ini. Keadaan para pengawal Gagelang sudah semakin parah. Agaknya kalian tidak sempat memperhitungkan apa yang akan kalian hadapi disini. Sebenarnya kalian dapat mengukur kemampuan orang-orang Talang Amba dengan apa yang dapat aku lakukan. Dengan mudah aku dapat keluar dari bilik tahanan. Bahkan tidak hanya hari ini. tetapi selama beberapa hari aku berada di Gagelang. Aku sudah berulang balik kembali ke Talang Amba tanpa kalian ketahui. Nah. sekarang kalian berhadapan langsung dengan orang-orang Talang Amba yang lain, yang mungkin memiliki kelebihan dari aku sendiri”
Senapati itu menjadi semakin ragu. Sementara Senapati dari Singasari itu pun berkata, “Menyerahlah. Aku akan menjamin bahwa kalian akan diperlakukan dengan baik oleh para prajurit Singasari kelak, karena mau tidak mau kalian akan dihadapkan kepada kekuasaan Singasari. Tetapi itu lebih baik daripada kalian akan menjadi tawanan orang-orang Talang Amba dan mendapat hukuman langsung dari mereka. Mungkin kalian akan menjadi pangewan-ewan disini. Tetapi hal itu tidak akan terjadi di Singasari. karena Sri Maharaja di Singasari tentu mengetahui, siapakah yang sebenarnya telah bersalah sekarang ini”
Senapati itu manjadi semakin ragu. Namun ia benar-benar tidak dapat mengingkari kenyataan yang terjadi. Pasukannya benar-benar mengalami kesulitan.
Karena itu akhirnya Senapati itu telah mengambil satu keputusan tanpa menghiraukan pasukan Gagelang yang berada di induk pasukan. Apalagi setelah ia mengetahui, bahwa kawan-kawannya yang bertempur melawan belahan pasukan Gagelang sendiri juga telah menyerah.
Sejenak kemudian, maka Senapati itu pun telah meletakkan senjatanya sambil mengisyaratkan bahwa ia telah menyerah. Bahkan kemudian iapun telah memberikan aba-aba untuk meletakkan senjata kepada seluruh pasukannya.
Ada beberapa orang yang terkejut mendengar perintah itu. Namun sebagian besar dari mereka dengan serta merta telah melangkah surut sambil meletakkan senjata mereka.
Dalam pada itu. Senapati dari Singasari itu pun kemudian telah memberikan aba-aba juga kepada orang-orang Talang Amba dan orang-orang yang telah membantu mereka, untuk tidak mengambil langkah-langkah sendiri menghadapi pasukan yang telah menyerah itu.
Dengan demikian, maka pertempuran di padukuhan itu pun segera berhenti. Orang-orang Talang Amba telah mengumpulkan senjata lawan-lawan mereka, yang menyerah. Dalam pada itu, di padukuhan yang lain, orang-orang Gagelang telah jauh terdesak. Sehingga akhirnya, mereka pun tidak dapat berbuat lain. Dengan demikian, maka mereka pun telah berbuat sebagaimana dilakukan oleh kawan-kawan mereka. Menyerah.
Hanya di induk pasukan sajalah pertempuran masih berlangsung. Akuwu Gagelang bertempur dengan tangkasnya melawan Mahisa Bungalan. Sementara itu. Mahisa Murti tiba-tiba saja sudah termangu-mangu berdiri memperhatikan pertempuran itu.
Mahisa Bungalan yang melihat Mahisa Murti termangu-mangu hampir diluar sadarnya telah bertanya, “Dimana lawanmu?”
Mahisa Murti mengerutkan keningnya. Namun kemudian jawabnya sebagaimana adanya, “Melarikan diri. Ia menghilang di dalam hiruk-pikuk pertempuran. Aku tidak dapat mengejarnya dan kehilangan orang itu”
“Siapa lawanmu he? Seorang dari pengawalku?” tiba-tiba saja Akuwu itu bertanya.
“Ya” jawab Mahisa Murti, lalu, “seorang yang lain masih bertempur melawan Mahisa Pukat”
Diluar sadar, Akuwu Gagelang itu telah melihat ke arah yang ditunjuk oleh Mahisa Murti. Ia melihat seorang pengawalnya masih bertempur. Karena itu, maka iapun. segera menyadari bahwa yang melarikan diri adalah Pangeran dari Kediri itu.
“Licik, pengecut” Akuwu itu menggeram. Namun ia tidak menarik diri dari keputusannya. Lebih baik mati di pertempuran dari pada harus menjadi seorang tawanan yang pada saatnya juga akan digantung di alun-alun.
Tetapi Akuwu itu tidak mau mati sendiri. Ia sadar, bahwa yang dilakukan selama ini adalah atas dasar pertimbangan, pendapat dan bahkan sebagian adalah karena bujukan Pangeran dari Kediri itu.
Karena itu, maka sambil memutar pedangnya dan menyerang, maka ia berteriak, “Ketahuilah orang-orang Singasari yang dungu. Orang yang melarikan diri itu bukannya seorang pengawal dari Gagelang. Bukan pula seorang juru taman atau hamba apapun juga di Gagelang. Ia adalah seorang Pangeran dari Kediri. Ia adalah orang yang paling berkepentingan dengan hutan di lereng bukit”
Mahisa Bungalan mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak sempat berbuat apapun juga, karena Akuwu itu masih saja menyerangnya dengan garang.
Namun sejenak kemudian, Mahisa Bungalan mendapat kesempatan untuk berbicara, “Akuwu. Jika demikian, maka kau tidak terlalu berkepentingan dengan pertempuran ini. Sebaiknya kau menghentikan perang yang tidak akan berarti apa-apa bagimu dan bagi Gagelang. Orang yang paling bernafsu untuk menguasai Talang Amba justru karena hutan di lereng gunung itu, sekarang telah pergi”
“Aku tidak peduli. Apakah orang itu sudah pergi atau mati. Tetapi aku tidak ingin menjadi tawanan yang pada saatnya juga akan dihukum mati”
Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam. Agaknya Akuwu itu benar-benar telah kehilangan nalarnya. Ia tidak, lagi mau berpikir. Kegagalan yang dihadapinya membuatnya mata gelap dan bahkan seperti orang yang gila.
Karena itu, maka sejenak kemudian Akuwu itu pun kembali mengerahkan kemampuannya untuk membunuh Mahisa Bungalan yang untuk sejenak lebih banyak melindungi dirinya, sementara ia masih berusaha untuk memaksa Akuwu menyerah.
Tetapi Akuwu Gagelang benar-benar sudah tidak mau berpikir lagi selain dibakar oleh satu niat, membunuh atau jika tidak berhasil biarlah ia dibunuh.
Namun dalam pada itu, ternyata Mahisa Bungalan sempat berkata kepada orang-orang yang ada di sekitarnya sambil berloncatan menghindari serangan Akuwu, “He, apakah kalian mendengar yang dikatakan oleh Akuwu”
Mahisa Bungalan tidak sempat berbicara lebih banyak. Serangan Akuwu Gagelang melibatnya semakin dahsyat. Senjata Akuwu itu berputaran bagaikan gumpalan awan di seputarnya. Jika gumpalan awan itu menyentuhnya, maka tubuhnya tentu akan terkoyak.
Namun dalam pada itu, ternyata Mahisa Murti cukup cerdas menangkap perkembangan keadaan. Ia mengerti maksud Mahisa Bungalan. Karena itu. maka katanya kemudian kepada orang-orang yang sedang bertempur di sekitarnya, “He. orang-orang Gagelang. Apakah kalian tidak dapat melihat kenyataan di sekitarmu. Lihat, perlawan di kedua sayap pasukanmu sudah dapat dipatahkan. Sementara itu, kawan-kawan kalian yang menyadari apa yang sebenarnya terjadi, telah berhasil menguasai lawannya Sekarang lihat lah kepada dirimu sendiri Apa yang sedang terjadi dan untuk apa sebenarnya kalian berperang? Kalian tidak akan dapat memenangkan perang ini. Itu sudah pasti. Sebentar lagi orang-orang Talang Amba yang sudah berhasil mengalahkan lawan-lawannya itu akan segera berkumpul kemari. Apakah yang dapat kalian lakukan”
Mahisa Murti menunggu sejenak. Agaknya orang-orang Gagelang yang mendengar suaranya mulai berpikir. Namun Akuwu lah yang berteriak, “Persetan dengan igauanmu. Aku akan membunuh kalian semua”
“Kau mulai bermimpi Akuwu” sahut Mahisa Murti bukankah kau sendiri yang mengatakan, bahwa Pangeran dari Kediri itu sudah melarikan diri dari medan Sementara itu, kalian yang hanya sekedar menjadi alatnya, masih juga ingin mempertaruhkan nyawa?”
Orang-orang Gagelang memang mulai berpikir Sementara itu keadaan mereka menjadi semakin rapuh, Orang-orang Talang Amba benar-benar sudah menguasai keadaan, sehingga ruang bergerak bagi mereka menjadi semakin sempit. Bahkan orang-orang Talang Amba kemudian bukan saja mendesak orang-orang Gagelang, tetapi mereka mulai mengepung orang-orang Gagelang.
Dalam pada itu orang-orang, Gagelang memang mulai menjadi kehilangan ruang gerak. Bahkan semakin lama mereka pun menjadi semakin tertekan.
“Sekali lagi, aku peringatkan” berkata Mahisa Murti, “menyerahlah”
Tekanan orang-orang Talang Amba yang mengepung orang-orang Gagelang telah mempersempit kepungan mereka. Semakin lama semakin sempit.
Namun dalam pada itu. Akuwu Gagelang masih saja bertempur tanpa menghiraukan orang-orangnya lagi. Bahkan apapun yang akan mereka lakukan. Akuwu tidak peduli lagi.
Akhirnya orang-orang Gagelang itu pun menyadari, bahwa mereka tidak dapat lagi bertumpu kepada perintah-perintah Akuwu. Bahkan mereka pun kemudian mengerti, apa yang sebenarnya terjadi pada pemimpin mereka.
Karena itu, ketika tekanan Mahisa Pukat atas pengawal pengapit Akuwu yang masih juga bertempur dengan sengitnya menjadi semakin berat, maka pengawal itu mulai berpikir untuk mengambil sikap lain. Apalagi ketika kemudian dari tubuhnya lelah menitik darah ketika senjata Mahisa Pukat mengenainya.
“Kau dengar tentang kawanmu yang sebenarnya adalah Pangeran yang melarikan diri itu?” bertanya Mahisa Pukat
Pengawal itu tidak menjawab. Tetapi iapun mengetahui bahwa pengawal yang seorang itu adalah seorang Pangeran dari Kediri, meskipun hanya orang-orang tertentu sajalah yang mengetahuinya.
Karena itu. maka iapun kemudian menganggap bahwa pertempuran untuk seterusnya tidak akan banyak bermanfaat bagi Gagelang. Jika Akuwu masih bertempur terus, adalah karena ia melihat tidak ada kesempatan lagi untuk tetap hidup. Menyerah atau mati di peperangan, tidak ada bedanya baginya. Bahkan mati di peperangan agaknya lebih baik bagi Akuwu yang memang seorang prajurit.
Tetapi pengawal itu masih melihat satu kemungkinan untuk hidup meskipun ia akan mengalami hukuman dari Singasari. Tetapi kesalahannya tidak akan seberat kesalahan yang disandang oleh Akuwu di Gagelang.
Karena itulah, maka akhirnya pengawal yang menjadi kepercayaan Akuwu dan bahkan memerintah para Senapati itu pun akhirnya telah memilih jalan yang lain dari yang ditempuh oleh Akuwu. Ketika Mahisa Pukat mendesaknya, maka tiba-tiba saja pengawal itu melontarkan senjatanya sambil berkata, “Aku menyerah”
Mahisa Pukat tertegun. Namun kemudian senjata teracu ke dada lawannya sambil berkata, “Perintahkan pasukan Gagelang menyerah”
“Itu wewenang para Senapati” jawab pengawal itu, “aku adalah sekedar pengawal Akuwu”
“Aku tahu, kau mempunyai pengaruh atas para Senapati” desak Mahisa Pukat.
Pengawal itu termangu-mangu sejenak. Sementara Mahisa Pukat masih berdiri di hadapannya dengan pedang teracu.
Tetapi pengawal itu masih tetap ragu-ragu. Katanya, “Mereka mendapat perintah langsung dari Akuwu aku hanya menjadi perantara saja”
“Terserahlah Jika kau ingin melihat para pengawal Gagelang menjadi banten, sementara kau sudah berhasil menyelematkan diri” berkata Mahisa Pukat Lalu, “Jika demikian. maka aku akan memerintahkan mengikatmu sementara aku akan membunuh sebanyak banyaknya”
Wajah Senopati itu menjadi tegang. Namun kemudian katanya, “Baiklah. Aku akan mencoba mempergunakan pengaruhku untuk memerintahkan mereka menyerah. Tetapi jika suaraku lenyap tanpa pengaruh apapun juga, itu bukan salahku”
“Cobalah” berkata Mahisa Pukat.
Pengawal itu termangu-mangu. Namun akhirnya iapun meneriakkan aba-aba untuk menyerah. Katanya, “Tidak ada peluang lagi bagi kita. Menyerahlah. Dengan demikian maka jumlah korban dapat dikurangi”
Namun yang terdengar adalah jawaban Akuwu, “Pengecut. Jika kau akan menjilat kaki orang Singasari atau orang-orang Talang Amba lakukanlah sendiri”
Wajah pengawal itu menegang. Tetapi hampir diluar sadarnya ia menyahut, “Tidak ada harapan lagi Akuwu”
“Aku akan membunuh semua orang Talang Amba dan Singasari” teriak Akuwu.
“Tetapi jangan mengorbankan para pengawal lebih banyak lagi. pertempuran selanjutnya akan sia-sia” jawab pengawal itu.
“Bagiku tidak ada bedanya” geram Akuwu, “apapun yang akan terjadi, aku akan mati. Aku lebih baik mati di peperangan daripada di tiang gantungan menjadi tontonan”
“Sikap Akuwu berbeda dengan sikapku” jawab pengawal itu.
Sementara itu. ia masih menyaksikan Akuwu bertempur terus melawan Mahisa Bungalan, meskipun untuk sesaat Mahisa Bungalan lebih banyak melayani Akuwu yang diharapkan akan menyerah itu. Lalu pengawal itu melanjutkan Akuwu. meskipun pada satu saat nanti aku akan digantung dan bahkan menjadi tontonan sekalipun, aku tidak berkeberatan. Tetapi jika dengan demikian beberapa nyawa pengawal yang lain dapat diselamatkan dalam pertempuran ini”
“Omong kosong” teriak Akuwu, “Singasari akan menghukum kita semuanya. Semua pengawal Gagelang akan digantung. Bahkan pengawal yang tidak tahu menahu apa yang sedang mereka lakukan”
“Tetapi setidak-tidaknya kita mengurangi rasa permusuhan. Dan korban-korban dipihak Talang Amba dapat dicegah untuk selanjutnya” jawab pengawal itu.
“Pengecut cengeng” teriak Akuwu yang marah, “kau pun pantas untuk dibunuh”
Pengawal itu tidak menjawab lagi. Sementara itu Akuwu itu pun justru bertempur lebih garang lagi.
Namun dalam pada itu, ternyata seorang Senopati dari Gagelang yang mendengar percakapan antara Akuwu dan pengawal khususnya itu dapat mengambil sikap sendiri, ia pun tiba-tiba saja telah memerintahkan para pengawal di dalam kelompoknya untuk menyerah.
“Tidak ada kemungkinan lain” teriak Senopati itu. Karena itulah maka para pengawalnya pun telah bergeser surut serta menundukkan senjata mereka. Sementara orang-orang yang dalam pakaian petani sebagaimana orang-orang Talang Amba itu pun telah berusaha menguasai diri pula.
“Kami menyerah” teriak Senopati itu Ketika Senopati itu meletakkan senjatanya, maka para pengawal yang lain di bawah perintahnya telah menyerah pula.
Ternyata sikap itu telah diikuti oleh beberapa orang Senopati yang lain, sehingga akhirnya pasukan Gagelang yang berada di induk pasukan itu pun lelah menyerah pula.
Dalam pada itu, maka Mahisa Bungalan pun kemudian berkata kepada Akuwu, “Dengar dan lihat. Akuwu yang perkasa. Semua pasukanmu telah menyerah. Apakah kau masih akan bertempur seorang diri melawan seluruh pasukan Talang Amba?”
“Persetan” geram Akuwu, “aku akan membunuh semua orang yang menentang kekuasaanku, atau aku akan mati untuk mempertahankan kekuasaanku”
“Kau sudah kehilangan penalaranmu” sahut Mahisa Bungalan.
“Jika kau takut, pergi dari medan. Aku akan mengampunimu” teriak Akuwu.
Mahisa Bungalan sudah tidak melihat kemungkinan lagi untuk memaksa Akuwu menyerah, Akuwu sudah benar-benar tidak dapat lagi berpikir tentang dirinya dan pasukannya. Bahkan Akuwu sudah cenderung untuk membunuh diri di peperangan itu.
Karena itu. maka Mahisa Bungalan pun kemudian memutuskun untuk menghadapi Akuwu itu. Ia tidak akan memerintahkan orang-orangnya untuk bersama sama dan beramai-ramai menangkap atau membunuh Akuwu di Gagelang. Tetapi dalam keadaan yang demikian maka Mahisa Bungalan pun telah memutuskan untuk menghadapinya sendiri. sebagaimana dalam perang tanding.
Karena itu, maka Mahisa Bungalan itu pun kemudian berkata ,, “Akuwu. Jika kau memang memilih arena pertempuran ini sebagai gelanggang untuk menentukan nasibmu, maka baiklah aku akan memberimu kesempatan. Marilah kita berhadapan sebagai prajurit. Jika kau bertempur seorang diri. maka aku pun akan melawanmu seorang di meskipun aku berhak memerintahkan orang orangku untuk beramai-ramai menangkapmu seperti menangkap seorang perampok”
“Gila. Aku adalah Akuwu yang mulia di Gagelang” jawab Akuwu.
“Tetapi sikap dan tingkah lakumu tidak mencerminkan kedudukanmu itu” jawab Mahisa Bungalan.
Wajah Akuwu di Gagelang itu menjadi merah. Kemarahan dan perasaan yang bercampur baur telah membuat dadanya bagaikan mendidih. Dengan suara bergetar oleh gejolak perasaannya, Akuwu itu menjawab, “Kau adalah orang yang paling sombong yang pernah aku lihat. Karena itu, maka kau akan mengalami kematian yang paling pahit dari semua orang yang pernah menempatkan diri sebagai lawanku”
Tetapi Mahisa Bungalan telah benar-benar bersiap menghadapi Akuwu yang seakan-akan telah menjadi putus asa dan berusaha untuk membunuh diri dengan caranya itu.
Demikianlah, maka sejenak kemudian, maka pertempuran antara kedua orang itu pun menjadi semakin dahsyat. Akuwu yang memiliki ilmu yang tinggi dan gejolak perasaan yang menghentak-hentak itu, lelah menyerang Mahisa Bungalan dengan sengitnya. Senjatanya yang berputaran bagaikan gumpalan kabut putih melanda Mahisa Bungalan bagai amuk angin pusaran.
Tetapi, Mahisa Bungalan pun memiliki kemampuan yang dapat mengimbangi ilmu Akuwu di Gagelang. Justru karena hatinya yang tidak menjadi kabur oleh kemurahan dan perasaan yang baur, maka ia masih dapat berpikir secara bening. Karena itulah, maka perhitungannya masih jauh lebih mapan dari Akuwu yang bagaikan menjadi gila.
Dalam pada itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menyaksikan pertempuran itu dengan jantung yang berdegupan. Ia melihat kegarangan Akuwu di Gagelang dengan ketegangan yang mencengkam.
Sementara itu, setelah menyelesaikan persoalan para pengawal yang menyerah, serta menyerahkannya kepada beberapa orang prajurit Singasari yang ada diantara orang-orang Talang Amba. maka Ki Waruju, murid Ki Sarpa Kuning, Ki Sendawa dan Ki Sanggarana, serta beberapa orang yang lain, telah berada di induk pasukan Perang tanding antara Akuwu di Gagelang serta Mahisa Bungalan itu benar-benar telah menarik perhatian Agaknya Mahisa Bungalan telah menempatkan dirinya pada keadaan yang sangat berbahaya itu untuk memenuhi tuntutan sikap jantannya menghadapi Akuwu yang kehilangan akal itu.
Dengan demikian, maka pertempuran itu menjadi semakin cepat. Serangan-serangan Akuwu yang sangat berbahaya datang membadai. Sementara Mahisa Bungalan pun telah bertahan dengan cermatnya. Bahkan kemudian serangan-serangan balasannya pun telah menghentak dan mengejutkan Akuwu yang marah itu.
Sambaran-sambaran senjata Akuwu berdesing di seputar tubuh Mahisa Bungalan yang berloncatan menghindar dan dengan senjatanya menangkis mengimbangi kecepatan serangan Akuwu. Namun sekali-kali ujung pedang Mahisa Bungalan justru berhasil mematuk disela-sela gumpalan putih putaran pedang Akuwu di Gagelang itu.
Sementara itu, beberapa orang Singasari tengah sibuk mengurus orang-orang yang menyerah. Mereka memperlakukan orang-orang dengan baik, karena mereka mengerti, bahwa kesalahan utama terletak pada sikap Akuwu di Gagelang. Karena itu, maka Akuwu di Gagelang lah yang harus memikul tanggung jawab yang paling berat.
Tetapi justru oleh kesadaran yang demikian, maka Akuwu di Gagelang telah memilih jalan memintas. Apapun yang dilakukannya, menurut pendapatnya, akhirnya ia akan mati juga. Sehingga karena itu, maka ia memilih jalan terdekat dan yang menurut anggapannya paling terhormat bagi seorang prajurit. Mati di medan perang.
Namun Mahisa Bungalan yang masih tetap berpikir jernih itu masih juga berusaha untuk dapat menundukkan Akuwu tanpa membunuhnya. Dengan demikian, Singasari akan mendapat jalur yang lebih dekat pula untuk mengusut, siapakah orang-orang di Kediri yang telah melakukan perbuatan yang akan sangat merugikan Singasari. Bahkan akan sangat membahayakan tata kehidupan rakyat padesan. Dengan cara yang sangat kasar beberapa orang di Kediri itu ingin membuat Singasari menjadi lemah. Tetapi langkah-langkah yang mereka ambil sama sekali tidak menghiraukan tata kehidupan rakyat dan mempertimbangkan masa-masa yang terbentang dihadapan mereka untuk waktu yang panjang.
Tetapi Mahisa Bungalan tidak banyak mendapat kesempatan. Serangan-serangan Akuwu melandanya bagaikan debur ombak menghantam batu karang. Berurutan tidak henti-hentinya.
Justru karena usahanya untuk mengalahkan lawannya tanpa membunuhnya, maka Mahisa Bungalan pun seakan-akan telah terdesak. Meskipun serangannya yang berbahaya kadang-kadang berhasil menyusup pertahanan dan putaran pedang Akuwu, namun serangan-serangan itu bukannya serangan-serangan yang dapat membunuhnya.
Tetapi berbeda dengan sikap itu, Akuwu benar-benar ingin membinasakan lawannya. Setidak-tidaknya mereka berdua harus mati bersama-sama.
Karena itu, maka serangan-serangan Akuwu lah yang kemudian seakan-akan menguasai arena, sehingga Mahisa Bungalan lebih banyak bergeser, menghindar dan menangkis serangan lawannya. Ia masih berharap, bahwa pada satu saat Akuwu menjadi kelelahan dan perlawanannya akan berhenti dengan sendirinya.
Tetapi perhitungan Mahisa Bungalan itu ternyata keliru. Akuwu di Gagelang itu tidak segera kehilangan kemampuannya melawan. Bahkan seakan-akan semakin lama ia menjadi semakin garang. Meskipun tubuhnya telah dipenuhi oleh keringat yang bagaikan terperas dari kulitnya, namun ia masih tetap bertempur sebagaimana mula-mula ia turun ke medan. Bahkan oleh gejolak perasaannya, Akuwu itu pun menjadi semakin garang.
Mahisa Bungalan sekali-sekali benar-benar terdesak. Tetapi ia masih berusaha untuk menundukkan lawannya tanpa membunuhnya.
Namun Mahisa Bungalan lah yang kemudian justru mengalami kesulitan. Ilmu Akuwu itu terlalu tinggi untuk dapat dikuasainya. Bahkan justru karena itu, maka Mahisa Bungalan yang lebih banyak menghindar dan menangkis itu, pada satu kali telah membuat satu kesalahan.
Pada saat yang gawat, Mahisa Bungalan masih berusaha untuk menghindari ujung pedang Akuwu yang menusuk ke arah jantungnya. Ketika pedang itu tidak menyentuh sasaran, maka pedang itu telah berputar dan menyambar mendatar.
Mahisa Bungalan masih sempat meloncat surut. Namun Akuwu yang marah itu memburunya, sementara pedangnya terangkat tinggi-tinggi sebelum terayun ke arah dahi Mahisa, Bungalan.
Mahisa Bungalan melihat satu kesempatan terbuka. Ketika Akuwu mengayunkan pedangnya dan mengangkatnya tinggi-tinggi tanpa memperhitungkan jarak, maka sebenarnya Mahisa Bungalan dapat memanfaatkan kelengahan Akuwu itu. Jika ia menjulurkan pedangnya sambil meloncat maju, maka ia akan dapat mengenai dada Akuwu yang terbuka.
Tetapi ketika Mahisa Bungalan melakukannya, maka tiba-tiba saja ia menjadi ragu-ragu. Pedangnya yang sudah terjulur itu pun ternyata tidak menggapai tubuh lawannya.
Namun dalam pada itu, ternyata Akuwu masih sanggup melakukan satu serangan yang berbahaya bagi Mahisa Bungalan. Pedangnya benar-benar terayun mengarah ke dahi lawannya yang ragu-ragu.
Mahisa Bungalan terkejut melihat ayunan pedang itu. Dengan tergesa-gesa ia berusaha menangkis ayunan pedang yang dilandasi dengan seluruh kemampuan dan kekuatan itu.
Mahisa Bungalan berhasil menangkis serangan itu dan dahinya tidak benar-benar terbelah. Tetapi pedang yang berkisar itu, ternyata masih juga menyentuh pundak Mahisa Bungalan.
Terdengar Mahisa Bungalan mengeluh tertahan. Pundaknya telah terkoyak oleh pedang Akuwu meskipun tidak begitu dalam. Namun darah yang hangat telah meleleh dari lukanya itu.
Yang terdengar adalah suara tertawa Akuwu. Meskipun pedangnya masih saja berputar, namun ia dapat berteriak nyaring, “He anak Singasari yang malang. Kau akan segera terkapar di tanah. Kau mati dalam kesombonganmu, maka kau sudah akan mati karena luka-lukamu”
Mahisa Bungalan menggeram. Luka itu memang terasa pedih. Ketika ia memandang wajah Akuwu yang sedang tertawa itu, tiba-tiba saja jantungnya berdentang. Wajah itu seolah-olah bukan lagi wajah Akuwu di Gagelang.
Tetapi wajah itu bagaikan wajah iblis yang garang, yang haus tetes-tetes darah segar dari tubuhnya.
Tiba-tiba saja Mahisa Bungalan melangkah surut. Dadanya terasa bergejolak semakin dahsyat. Tangannya menjadi bergetar oleh kemarahan yang tertahan.
“Iblis ini sudah melukai pundakku” geram Mahisa Bungalan.
Sementara itu, Akuwupun bertempur Semakin seru. Ia terasa bahwa kemampuannya memang melampaui kemampuan Mahisa Bungalan sehingga ia selalu dapat
mendesaknya dan melukainya.
Untuk sesaat Mahisa Bungalan masih berusaha menguasai perasaannya. Meskipun pundaknya terasa pedih, namun ia mencoba untuk melihat satu kepentingan yang
besar untuk tetap membiarkan Akuwu di Gagelang itu hidup.
Tetapi untuk melawan Akuwu itu tanpa menyentuhnya, ternyata menjadi sangat sulit bagi Mahisa Bungalan.
Apalagi sejak ia terluka. Luka itu kadang-kadang bagaikan menggigit. Apalagi disaat ia menyadari, bahwa darah yang mengalir itu akan dapat menyusutkan tenaganya dengan
cepat.
Karena itu, maka akhirnya Mahisa Bungalan itu berkata di dalam hatinya “Aku memang tidak ingin membunuhnya. Tetapi jika dengan demikian aku sendiri yang akan menjadi
korban, maka aku merasa berkeberatan”
Dengan demikian, maka sejenak kemudian, Mahisa Bungalaan itupun mengambil keputusan “Aku akan bertempur sebagaimana seharusnya aku melayaninya. Jika dengan demikian, orang ini terbunuh, maka hal itu sama sekali tidak akan harapkan”
Dengan keputusan itu, maka Mahisa Bungalanpun telah bertempur semakin garang. Ia bergerak semakin cepat, mengimbangi sikap Akuwu yang semakin kasar.
Bersambung.....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar