Rabu, 16 Desember 2020

HIJAUNYA LEMBAH HIJAUNYA LERENG PEGUNUNGAN JILID 005-03

*HIJAUNYA LEMBAH. JILID 005-03*

Mahisa Agni dan Witantra menyadari betapa beratnya hati orang tua itu. Ia merasa bertanggung jawab atas satu wilayah yang ditinggalkannya. Tetapi ia tidak ingin membiarkan anaknya menemui kesulitan yang parah.

Dalam pada itu. selagi Ki Buyut, Mahisa Agni dan Witantra sedang berbincang, ternyata sebuah bayangan telah melintas dengan cepat di kebun belakang padepokan itu. Ketika bayangan itu mencapai dinding padepokan, maka dengan ringannya bayangan itu meloncat naik dan kemudian turun di bagian luar dari padepokan.

Demikian bayangan itu hilang dibalik dinding, maka telah terdengar suara burung hantu berkumandang memecah kesepian malam. Namun suara burung itu bagaikan hanyut oleh angin malam yang sejuk, hilang tanpa gema. Yang kemudian terdengar adalah desir angin itu sendiri.

Di luar dinding, bayangan itu tercenung membeku. Namun kemudian bayangan itu melintas diantara gerumbul-gerumbul perdu di luar dinding padepokan.

Dengan pasti bayangan itu menuju ke hutan yang tidak terlalu jauh dari padepokan itu. diantarai oleh sebuah bulak yang agak luas disambung dengan sebidang padang perdu yang tidak terlalu panjang. Demikian bayangan itu menginjak padang perdu, maka sekali lagi mengumandang suara burung hantu di kesenyapan malam.

Ternyata isyarat itu tidak sia-sia. Sejenak kemudian terdengar suara yang serupa. Suara burung hantu dari pinggir hutan yang tidak terlampau lebat itu. Arah suara itulah yang Kemudian dituju oleh bayangan yang keluar dari padepokan itu.

“Aku kau biarkan terlalu lama menunggu disini” berkata orang yang menirukan suara burung hantu di pinggir hutan itu. Lalu, “Hampir saja aku kehilangan kesabaran dan bertindak sendiri. Hari-hari rasanya terlalu panjang. Melampaui panjangnya tahun”

“Aku tidak dapat berbuat lebih cepat Guru” berkata orang yang datang itu, “Aku terikat oleh satu keadaan. Jika aku tergesa-gesa, mungkin aku justru akan mengalami kesulitan. Karena itu aku memilih terlambat, tetapi meyakinkan, daripada cepat tetapi gagal”

Orang yang berada di pinggir hutan itu mengangguk- angguk. Katanya kemudian, “Baiklah Singatama. Katakan, apa yang telah terjadi di padepokan itu. Apakah kau melihat satu kemungkinan untuk melakukan rencanaku semula”

Singatama menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Aku masih belum dapat mengatakan dengan pasti guru. Tetapi aku akan mencoba untuk berbuat sebaik- baiknya”

“Apakah ada kesulitan yang mungkin tidak dapat teratasi” bertanya gurunya.

“Guru” berkata Singatama, “kesulitan yang utama adalah datang dari diriku sendiri”

“Aku mengerti Singatama. Empu Nawamula adalah pamanmu” sahut Empu Pulung Geni.

“Guru. Tetapi ada kesulitan lain” jawab Singatama. Lalu, “di padepokan itu tinggal seorang gadis yang telah membuat hatiku selama ini gelisah. Gadis yang aku cari selama ini”

Empu Pulung Geni menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Usahakan untuk mengekang perasaanmu. Kau harus dapat membedakan persoalan yang paling besar yang kita hadapi sekarang. Meskipun jika kita dapal menyelesaikan yang besar itu. yang kecilpun akan terlesaikan juga”

“Maksud guru” bertanya Singatama.

“Jika Nawamula telah dapat dilenyapkan, maka padepokan itu akan segera, kau kuasai. Tidak seorangpun, yang akan berani menentangmu. Ayah gadis itu pun tidak”

“Bagaimana dengan dua orang anak muda yang ada di padepokan itu guru” bertanya Singatama

“Jangan risau. Aku akan membunuh mereka, demikian Nawamula terbunuh” jawab Empu Pulung Geni.

“Dan dua orang pamannya yang kini tinggal di padepokan itu pula” bertanya Singatama lebih lanjut.

“Apakah mereka memiliki kelebihan” Empu Pulung Geni justru bertanya.

Singatama merenung sejenak. Kemudian sambil menggeleng ia berkata, “Menurul penglihatanku, tidak ada lebihnya pada kedua orang itu. Ketika kita bertempur di luar apa yang disebut padepokan itu. kedua orang itu sama sekali tidak menunjukkan kelebihan apapun juga meskipun mereka ikut meloncat keluar dan bertempur di antara para cantrik”

Empu Pulung Geni menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Semuanya akan dapat diselesaikan dengan baik. Aku akan membunuh Empu Nawamula. Kemudian orang- orang yang tidak berarti itu akan dengan mudah aku bantai pula. Tanpa mereka, apakah kesulitanmu untuk mengambil gadis itu. Sementara itu. kita akan dapat melakukan satu tugas yang memang dibebankan kepada kita”

Singatama mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia berkata, “Bukankah tugas itu tidak terlalu tergesa-gesa?”

“Memang tidak. Tugas ini termasuk satu tugas untuk satu tujuan yang jauh. Bukan untuk tujuan esok seperti keinginanmu mengambil gadis itu” jawab Empu Pulung Geni. “Karena itu, kita dapat menunggu. Tugas itu akan kita lakukan kemudian”

“Bukankah hutan itu tidak akan berubah. Bukit itu juga tidak akan lari. Sementara hujan baru akan turun di musim hujan mendatang”

“Aku mengerti Singatama” jawab Empu Pulung Geni, “tetapi jika kerja itu masih juga belum dimulai, maka kita masih belum dapat mengatakan, bahwa kita telah melaksanakan perintah itu”

Singatama menarik nafas dalam-dalam. Sementara Empu Pulung Geni berkata, “Pemerintahan Ranggawuni nampaknya terlalu kuat. Tetapi kita akan dapat merintis sejak sekarang untuk memperlemah kedudukannya. Kita tidak akan dapat mengimbangi kekuatan prajuritnya yang tersebar. Tetapi kita dapat memperlemah susunan dan kesejahteraan masyarakatnya”

Singatama mengangguk-angguk. Dengan nada datar ia berguman, “Satu kerja yang baru akan nampak hasilnya setelah satu keturunan lewat”

“Mungkin aku tidak akan dapat melihat hasilnya” berkata Empu Pulung Geni, “tetapi kau, anak cucuku, akan melihat, betapa Kediri dapat berdiri lagi dengan megahnya. Tidak lagi sebagai satu negara yang takluk di bawah pemerintahan apa yang sekarang disebut Singasari, satu perkembangan dari Pakuwon kecil yang disebut Tumapel”

Singatama mendengarkan dengan seksama ketika gurunya melanjutkan, “Jika hutan-hutan di lereng gunung dan perbukitan yang menghadap Kotaraja Singasari itu ditebang sampai gundul, maka Singasari akan ditimpa bencana. Bukan hanya sekali dua kali. Tetapi disetiap musim hujan. Banjir bandang dan kerusakan tanaman di sawah, di pategalan dan di kebun-kebun. Bendungan akan pecah dan jalan-jalan akan terputus. Dengan demikian, maka Singasari akan selalu terganggu oleh amukan alam yang tidak terkendali. Sementara itu, Kediri dapat bersiap-siap untuk menentukan satu saat bahwa Singasari akan dapat dihancurkan. Jika tidak pada masa pemerintahan sekarang, tentu pard masa pemerintahan berikutnya”

Singatama mengangguk-angguk. Tetapi saat itu ia tidak begitu tertarik kepada beban gurunya itu. Ia lebih memikirkan hari esok bagi dirinya sendiri. Jika gadis itu dapat segera diambilnya, maka ia akan merasa bahwa hidupnya menjadi lengkap.

Karena itu, maka katanya, “Jika demikian guru. Yang manakah yang akan guru lakukan lebih dahulu. Membunuh paman Nawamula dan mengambil gadis itu, atau bersiap- siap dengan pekerjaan guru yang sebenarnya dapat dilakukan dalam jangka panjang”

“Sudah aku katakan Singatama, aku akan membunuh Empu Nawamula itu dahulu. Sementara itu, gadis itu akan dapat kau ambil pula dari padepokan itu” jawab gurunya.

“Baiklah guru” sahut Singatama, “Aku akan mencari kesempatan itu. Tetapi kesempatan itu tidak terlalu mudah. Kadang kadang aku tidak tahu, dimanakah paman tidur. Mungkin di biliknya. Mungkin di sanggar, tetapi mungkin di perapiannya bersama dengan murid-murid khususnya”

“Kau harus dapat menunjukkan dengan tepat. Pada suatu saat jika kesempatan itu datang kau harus memberi isyarat. Tetapi kau harus berusaha, agar jangan terlalu lama. Pekerjaanku yang kemudian sudah menunggu. Pekerjaaan besar bagi masa mendatang itu. Sehingga dengan demikian, maka sebenarnya waktu kita tidak terlalu panjang” berkata gurunya kemudian.

Singatama mengangguk-angguk. Katanya, “Aku akan berusaha. Tetapi sudah barang tentu bukan sekedar menunjukkan dimana paman tidur. Seandainya pada saat itu guru berusaha untuk memasuki biliknya atau sanggarnya atau perapian, sementara paman Nawamula dapat melihat kehadiran guru, bukankah akibatnya justru akan mempersulit kedudukan guru”

“Aku mengerti dan aku tidak akan ingkar, bahwa aku tidak akan dapat membunuh Empu Nawamula jika ia sempat melawan. Tetapi kau tentu mempunyai akal. Mungkin kau akan dapat membuka pintu biliknya atau sanggarnya, sehingga mempermudah pekerjaanku. Aku harus berdiri disisinya. pada saat ia masih tidur. Aku akan membangunkannya dengan ujung pedangku di depan wajahnya, sehingga ia tidak mendapat kesempatan melawan, tetapi ia mengerti bahwa akulah yang datang untuk membalas dendam” geram Empu Pulung Geni.

Pekerjaan itu memang sulit. Tetapi Singatama yang sudah berhasil menyusup di lingkungan padepokan itu tentu akan mendapatkan satu cara untuk melakukannya. Apalagi menurut gurunya, sepeninggal Empu Nawamula, maka tidak akan ada lagi orang yang berarti, yang akan dapat mencegahnya mengambil gadis itu. Dua anak muda yang mengalahkannya itupun tentu tidak akan berarti apa-apa bagi gurunya. Murid-murid Empu Nawamula pun tidak akan berbahaya.”

Tetapi untuk mendapat kesempatan memberikan jalan kepada gurunya memasuki bilik atau sanggar pamannya itu adalah pekerjaan yang sangat berat meskipun ia bertekad untuk melakukannya.

Untuk beberapa saat lamanya, Singatama masih berbincang dengan gurunya. Namun kemudian katanya, “Baiklah guru. Aku akan kembali ke padepokan. Mudah-mudahan dalam waktu dekat aku dapat melakukannya. Sebenarnya akupun sudah terlalu lama menunggu satu kesempatan untuk mengambil gadis itu. Apalagi aku tahu, bahwa gadis itu tidak akan terlalu lama berada di padepokan. Pada suatu saat gadis itu tentu akan dibawa pulang oleh ayahnya”

“Bukankah itu akan lebih baik” berkata gurunya, “dengan sangat mudah kau akan dapat mengambilnya”

“Tetapi aku belum pernah tahu, dimanakah rumahnya” jawab Singatama, “justru pada saat para cantrik aku perintahkan untuk mengambil gadis itu atau untuk mengetahui tempatnya, mereka telah melakukan satu perbuatan yang terkutuk”

“Sudahlah” berkata gurunya, “jangan mengumpat. Kita semuanya telah melakukan satu kesalahan sehingga kita terjebak ke dalam satu kesulitan. Hampir semua orang kita tertawan. Tetapi justru karena itu, aku berharap kau akan dapat membantuku melepaskan dendam yang membara di jantung ini”

Singatama kemudian minta diri kepada gurunya yang akan tetap menunggu sampat kesempatan itu datang.

“Tetapi guru jangan berada terlalu jauh dari padepokan itu” minta Singatama.

“Apakah setiap malam aku harus melakukannya? Mengintai kesempatan yang tidak pasti datangnya” bertanya Empu Pulung Geni.

“Tetapi jika kesempatan itu datang, dan guru tidak ada di tempat, maka kita harus menunggu lagi untuk satu kesempatan yang lain” berkata Singatama.

Gurunya mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Aku akan berada di dekat padepokanmu. Tetapi kau harus berbuat lebih cepat”

Singatama menyanggupinya untuk berusaha. Karena itu, maka sejenak kemudian, anak muda itu pun telah meninggalkan gurunya, kembali ke padepokannya

Demikian Singatama sampai di luar dinding, maka ia pun berusaha untuk berbuat dengan sangat berhati-hati. Ketika ia yakin, bahwa tidak ada seseorang yang akan dapat melihatnya, maka ia pun telah meloncat dinding dibawah bayangan sebatang pohon yang rimbun. Kemudian dengan sangat hati-hati ia memasuki halaman belakang padepokannya.

Sejenak kemudian, Singatama sudah berada di dalam biliknya. Tidak seorangpun yang mengetahuinya bahwa ia telah meninggalkan padepokan itu untuk menemui gurunya dan berbicara tentang satu usaha untuk membunuh Empu Nawamula yang menganggap bahwa kemanakannya itu sudah menemukan kembali jalan menuju ke kehidupan yang sewajarnya, meskipun ia masih belum menyatakan sikapnya yang pasti tentang ilmu hitamnya yang harus ditanggalkannya.

Namun dalam pada itu pertemuannya dengan gurunya, telah mendorongnya untuk bekerja lebih giat. Segala usaha harus dilakukannya. Bukan saja karena kesetiaannya kepada gurunya, tetapi juga didorong oleh keinginannya untuk segera menguasai gadis yang bernama Widati itu. yang tidak diduganya, akan berada pula di padepokannya.

Malam berikutnya, Singatama sama sekali tidak mendapat kesempatan untuk mengetahui dimana gurunya berada. Yang dilihatnya adalah orang-orang tua, paman kedua orang anak muda yang paling dibencinya itu berbincang di rumah sebelah bersama Ki Buyut, ayah Widati. Karena itu. malam itu Singatama sama sekali tidak dapat berbuat apa-apa.

Namun di malam berikutnya, ia mendapat akal. Ketika senja turun, maka ia telah berkata kepada pamannya, “Paman, apakah paman mempunyai waktu barang beberapa saat malam nanti?”

“Untuk apa?” bertanya Empu Nawamula.

“Ada sesuatu yang ingin aku katakan” jawab Singatama, “tidak tentang apa-apa. Tetapi tentang diriku sendiri”

Empu Nawamula menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku sekarang sudah tidak mempunyai pekerjaan apapun juga Singatama Jika kau ingin mengatakan sesuatu, marilah kita duduk di penclapa.

Singatama mengerut kau keningnya. Jawabnya, “Bagaimana jika malam nanti paman. Mungkin aku akan dapat mengatakan pengalamanku sendiri dengan leluasa. Tidak diganggu oleh hilir mudiknya para cantrik yang menyalakan lampu”

Empu Nawamula berpikir sejenak. Kemudian katanya, “Baiklah. Aku akan menyediakan waktu bagimu”

“Terima kasih paman. Nanti tengah malam aku mohon paman bersedia mengatakan sesuatu tentang diriku sebagaimana paman kehendaki” berkata Singatama.

Empu Nawamula mengerutkan keningnya. Namun kemudian iapun mengangguk-angguk.

Ketika Singatama kemudian meninggalkannya, maka Empu Nawamula pun berdesis, “Apakah anak itu benar- benar ingin melepaskan ilmu hitamnya?”

Namun dalam pada itu, ternyata Singatama telah mempunyai rencananya sendiri. Karena itu, ketika malam menjadi semakin pekat, maka ia pun dengan mengendap- endap telah pergi ke kebun belakang. Dengan hati-hati sekali, ia pun kemudian meloncat keluar padepokan.

Sejenak ia menunggu. Ketika ia yakin, bahwa tidak ada seorang pun didekatnya. maka terdengar satu isyarat dari mulutnya. Suara burung hantu. Beberapa saat Singatama menunggu. Hatinya menjadi berdebar-debar ketika ia mendengar suara yang sama dari arah kegelapan.

Sejenak ia masih memperhatikan suara itu. Namun kemudian ternyata bahwa suara isyarat itu tentu suara gurunya. Karena itu. maka sekali lagi ia menyahut dengan suara burung hantu yang ngelangut.

Sebenarnyalah, seperti yang diharapkannya, ternyata gurunya telah mendekatinya. Dengan suara rendah hampir berbisik ia bertanya, “Apakah kesempatan itu sudah kau dapat sekarang?”

“Guru” berkata Singatama, “sulit untuk mengetahui dimana paman tidur. Seandainya aku mengetahuinya, maka untuk dapat memasuki tempat itupun agaknya terlalu sulit pula”

“Lalu. apa maksudnya memanggil aku sekarang” bertanya gurunya.

“Aku mempunyai satu cara. jika guru sependapat” desis Singatama.

“Cara bagaimana” bertanya gurunya pula.

“Aku telah minta paman untuk berbicara berdua saja. Aku akan minta paman untuk berbicara di tempat yang sepi. Apakah kesempatan itu sudah cukup?” bertanya Singatama.

Empu Pulung Geni termangu-mangu. Namun kemudian ia berkata, “Agaknya kau belum mengerti. Bukankah dengan demikian aku masih harus berkelahi melawan Empu Nawamula? Apalagi di padepokannya. Dalam waktu sekejap, maka semua orang di dalam padepokan itu telah mengepungku”

“Bukan begitu guru” berkata Singatama, “selagi paman berbicara dengan sungguh-sungguh, guru dapat merunduknya. Dengan demikian, maka guru akan mendapat kesempatan untuk menguasainya lebih dahulu dan kemudian membunuhnya, setelah Empu Nawamula menyadari dengan siapa ia berhadapan”

Empu Pulung Geni mengangguk-angguk. Katanya, “Tetapi apakah kau benar-benar akan mendapat tempat yang menyendiri?”

“Aku akan mohon kepada paman Nawamula” berkata Singatama, “ tetapi tidak disanggar.

“Jika terpaksa di sanggar? bertanya Empu Pulung Geni.

“Tidak apa-apa guru. Aku akan berusaha agar pintu sanggar tidak diselarak dari dalam. Jika Empu Nawamula menyadari, seseorang memasuki sanggar, maka aku akan lebih dahulu mengancamnya agar paman tidak bergerak. Tetapi aku mohon paman-cepat mengambil sikap sebelum perutku dibelah oleh paman Nawamula”

Empu Pulung Geni menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Pekerjaanku masih cukup banyak. Aku masih harus mencari tempat itu. Sementara itu. para cantrik berkeliaran di halaman.

“Tidak guru” jawab Singatama, “di malam hari hanya tiga tiga orang cantrik yang bertugas. Itu pun berada di halaman depan menqawasi regol. Sementara itu, guru tentu akan mendengar suaraku berbincang dengan paman Nawamula. sebagai isyarat dimana kami berada”

Empu Pulung Geni mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Aku akan mencoba. Tetapi kau harus cukup berhati-hati”

Singatama mengangguk-angguk. Iapun menyadari bahwa pekerjaan itu bukannya pekerjaan yang mudah. Ia harus berbuat dengan hati-hati dan kesiagaan yang tinggi, sehingga bukan justru dirinyalah yang akan menjadi korban.

Dalam pada itu, maka Singatama pun berkata, “Sudahlah guru. Aku akan kembali. Aku persilahkan guru memasuki halaman dan bersembunyi di tempat yang paling baik menurut pendapat guru”

“Aku belum mengetahui tempat-tempat yang terbaik untuk bersembunyi di kebun padepokanmu, karena aku belum pernah mengamati halaman dan kebun padepokanmu dengan baik” jawab Empu Pulung Geni.

“Nanti, guru akan menemukannya. Pada tepat tengah malam, aku mohon paman Nawamula untuk berbicara berdua saja. saat itu tiba menurut pengamatan paman atas bintang-bintang, biarlah paman mulai mencari, dimana aku dan paman berbicara berkata Singatama.

Empu Puiung Geni tidak menjawab. Ia pun kemudian meninggalkan gurunya dan meloncat memasuki kebun belakang. Namun dalam pada itu, gurunya pun telah mengikutinya pula.

Karena tengah malam masih beberapa saat lagi, Singatama sempat kembali ke biliknya tanpa diketahui oleh orang lain. Karena itu, maka ia pun merasa bahwa rencananya tentu akan dapat dilakukannya. Tengah malam ia akan memanggil pamannya. Jika pamannya tidak berkeberatan, ia akan mengajak pamannya duduk di pinggir belumbang.

“Para cantrik tentu akan terkejut melihat paman Nawamula esok pagi terapung di belumbang itu menjadi mangsa ikan. Tetapi ikan-ikan itu pun akan mati, karena racun luwuk guru yang menyentuh paman Nawamula terlalu keras, sehingga ikan-ikan yang menggigit kulit pamanpun akan mati pula” berkata Singatama di dalam hatinya.

Demikianlah, rasa-rasanya malam merambat terlalu lambat. Singatama merasa terlalu lama menunggu. Ketika ia keluar dari biliknya dan pergi ke pendapa, maka dilihatnya seorang cantrik yang duduk terkantuk-kantuk, sementara dua orang yang lain sedang berjalan memutari halaman padepokan. Perlahan-lahan ia melangkah menuruni tangga pendapa. Dipandanginya bintang yang berhamburan di langit.

“Hampir tengah malam” ia berdesis. Namun kemudian, “tetapi paman dimana?”

Perlahan-lahan Singatama kembali masuk ke ruang dalam lewat pringgitan. Dilihatnya pintu butulan di bagian samping ruang dalam tertutup rapat. Singatama sendirilah yang menyelaraknya setelah ia memasuki ruang itu dengan diam-diam.

Namun ternyata bahwa Singatama tidak perlu gelisah terlalu lama. Sejenak kemudian ia mendengar suara Empu Nawamula berbicara dengan cantrik yang sedang terkantuk-kantuk itu.

“Dua orang kawanku sedang nganglang Empu” lapor cantrik itu.

“Jangan lengah” berkata Empu Nawamula, “meskipun nampaknya tidak akan terjadi sesuatu, tetapi kau harus tetap berhati-hati”

“Ya Empu” jawab cantrik itu sambil berusaha membuka matanya lebar-lebar.

Ketika Empu Nawamula memasuki ruang dalam, Singatama sudah menunggunya. Ia duduk di sebuah amben di ruang tengah.

“O” sapa Empu Nawamula, “apakah kau bermaksud berbicara sekarang?”

“Ya paman. Aku rasa, hari telah tengah malam” jawab Singatama.

“Baiklah. Kita dapat duduk di sini tanpa diganggu oleh siapapun juga” berkata Empu Nawamula.

Tetapi Singatama mengerutkan keningnya. Dipandanginya pintu pringgitan, seolah-olah ia ingin mengatakan bahwa di pendapa ada seorang cantrik padepokan.

Tetapi Empu Nawamula yang seolah-olah mengetahui apa yang ingin dikatakannya itu justru berkata, “Cantrik itu tidak akan tahu, apa yang kita perbincangkan disini. Karena itu. Katakanlah”

Namun ternyata Singatama menggelengkan kepalanya. Katanya, “Paman, ada satu hal yang sangat penting yang ingin akan aku katakan. Satu rahasia yang sangat gawat tentang ilmu yang selama ini aku miliki. Yang menurut paman, ilmu itu harus dihapuskan. Hal itulah yang ingin aku perbincangkan dengan paman” berkata Singatama.

Empu Nawamula mengangguk-angguk. Namun kemudian iapun bertanya, “Menurut pendapatmu, dimanakah sebaiknya kita berbicara agar tidak akan terganggu?”

“Di kebun, paman” jawab Singatama, “aku akan dapat memperagakan beberapa tata gerak yang mungkin perlu untuk memperjelas keteranganku”

Empu Nawamula termangu-mangu sejenak. Namun ia masih bertanya, “Di halaman belakang, di mana?”

“Bagaimana jika dipinggir belumbang” bertanya Singatama.

Empu Nawamula berpikir sejenak. Tetapi ia masih bertanya, “Kenapa di Pinggir belumbang?”

“Tidak apa-apa paman. Tetapi suasananya akan menyegarkan” jawab Singatama kemudian. Lalu, “Dengan demikian, pikiranku akan menjadi bertambah bening. Sehingga dengan demikian, apa yang ingin aku katakan akan dapat aku katakan dengan gamblang, sehingga tidak terjadi salah paham”

Empu Nawamula mengerutkan keningnya. Namun ia pun kemudian mengangguk sambil menjawab, “Baiklah. Kita akan pergi ke belumbang. Mudah-mudahan kolam itu akan benar-benar dapat memberikan kesegaran baru bagi kita”

Keduanya pun kemudian pergi ke belakang seperti yang diminta oleh Singatama. Dengan demikian, maka Singatama mengharap bahwa gurunya akan sempat merunduk Empu Nawamula. Dengan berlindung pada dedaunan dan rumpun-rumpun perdu, Empu Pulung Geni akan dapat mendekati pamannya yang sama sekali tidak menduga, bahwa seseorang akan merunduknya. Apalagi orang itu adalah Empu Pulung Geni. Seorang yang memiliki nama menggetarkan.

Tetapi rupa-rupanya Empu Pulung Geni telah kehilangan harga dirinya karena dendam yang membara di jantungnya. Ia lebih senang membunuh Empu Nawamula untuk melepaskan dendamnya daripada mempertahankan harga dirinya.

Dalam pada itu, Singatama pun telah membayangkannya, bahwa gurunya akan meloncat dari balik sebuah gerumbul yang rimbun sambil mengacukan pedangnya. Sementara Empu Nawamula terkejut dan berpaling gurunya akan tertawa sambil berkata, “Aku Empu Pulung Geni yang sedang dibakar oleh api dendam. Sadarilah, bahwa akulah yang telah berbasil membunuhmu”

Empu Nawamula tidak akan sempat berbuat apa-apa. Pedang gurunya akan segera menghunjam ke tubuh Empu Nawamula, sehingga pamannya itu akan mati. Singatama menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu, keduanya telah berada ditepi kolam.

“Kita duduk ditepi kolam paman” berkata Singatama. Empu Nawamula merenung sejenak. Namun kemudian ia pun melangkah dekat ke tepi kolam dan duduk membelakangi air yang bening yang bergetar oleh dedaunan yang menguning yang runtuh dari dahannya.

“Kita duduk di sini paman” minta Singatama, “kenapa paman duduk terlalu menepi?”

Tetapi Empu Nawamula menjawab, “Wajah air itu terasa sangat menyegarkan. Aku akan duduk di sini. Kemarilah Singatama. Mendekatlah”

Singatama menjadi berdebar-debar. Pamannya duduk membelakangi air, sehingga sulit bagi Empu Pulung Geni untuk merunduknya dari belakang.

“Gila” geram Singatama, “apakah paman menyadari niatku untuk menjebaknya?”

Tetapi pertanyaan itu telah dijawabnya sendiri, “Tentu tidak. Hanya satu kebetulan. Tetapi kebetulan yang pantas diumpati”

“Duduklah Singatama” pamannya kemudian mempersiapkan, “kita dapat berbincang disini tanpa diganggu orang lain. Kau dapat mengatakan apa saja yang ingin kau katakan tanpa didengar orang lain pula”

Namun dalam pada itu kegelisahan telah mencengkam jantung Singatama. Tetapi ia tidak mempunyai kesempatan untuk merubah sikap duduk pamannya yang nampaknya memang sudah mapan sekali.

Karena itu, maka perlahan-lahan Singatama pun duduk dihadapan pamannya. Dengan jantung yang berdebaran ia berusaha untuk mengatasi kesulitannya.

“Guru tentu mempunyai perhitungan sendiri” berkata Singatama di dalam hatinya, “jika ia merasa sulit untuk melakukannya sekarang, biarlah ia mengambil kesempatan yang lain. Aku akan berbicara dengan guru esok”

Dengan demikian maka Singatama pun harus menyesuaikan diri. Meskipun rasa-rasanya ia sedang duduk di atas bara, tetapi ia bertahan untuk tetap duduk.

“Singatama” berkata pamannya, “apa yang ingin kau katakan? Katakanlah, agar persoalan ini cepat selesai”

“Paman” berkata Singatama, “bukankah paman pernah berkata bahwa mungkin sekali ilmuku dapat dilepaskan sehingga aku akan menjadi kosong dan bersih”

Empu Nawamula menarik nafas dalam-dalam. Jawabnya, “Benar Singatama. Ilmu hitammu memang dapat ditanggalkan. Kau akan menjadi bersih. Dengan demikian maka kau akan siap menempuh satu kehidupan baru”

Singatama mengangguk-angguk. Namun ia menjadi semakin gelisah. Apa yang akan di katakannya dan akan dilakukannya jika gurunya mengurungkan niatnya untuk membunuh Empu Nawamula karena keadaan yang tidak memungkinkan.

Namun dalam pada itu, meskipun dengan tergagap, Singatama masih dapat menemukan bahan pembicaraan, “Paman. Sebenarnya aku ingin melakukannya. Tetapi bagaimanakah dengan aku pada masa-masa kosong itu? Apakah aku menjadi orang yang sama sekali tidak memiliki kemampuan membela diri?”

“Bukan begitu Singatama” berkata pamannya, “kau masih akan tetap memiliki ketrampilan dasar ilmu kanuragan. Tetapi benar-benar ketrampilan wadag. Kau tidak akan mampu membangkitkan tenaga cadanganmu, karena pada dasarnya, tenaga cadanganmu sudah terisi dengan watak ilmu hitam. Untuk sementara, kau memang banyak kehilangan. Tetapi kau akan dapat mulai dengan satu babak baru dalam hidupmu, khususnya dalam ilmu kanuragan”

Singatama mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Apakah paman tidak mempunyai satu cara pun yang dapat ditempuh selain mengosongkan diriku”

Empu Nawamula menggelengkan kepalanya. Katanya, “Kau harus mengikhlaskan ilmumu. Tetapi dengan dasar ketrampilan wadagmu yang masih kau kuasai, maka kau akan dapat dengan cepat mengisi kekosongan itu dengan ilmu kanuragan dalam wataknya yang baru”

Singatama mengangguk-angguk. Namun kegelisahannya menjadi semakin memuncak ketika ia melihat pada gerumbul di arah samping Empu Nawamula bergerak.

“Agaknya guru telah menemukan tempat ini” desis Singatama di dalam dirinya, “tetapi apakah guru dapat melakukan dari arah itu”

Tetapi Singatama berusaha untuk menenangkan dirinya. Katanya kepada diri sendiri, “Guru tahu apa yang baik dilakukannya”

Namun dalam pada itu, untuk sesaat Singatama telah terdiam. Keringatnya mulai membasahi keningnya. Sementara itu, Empu Nawamula pun berkata, “Singatama. Masih ada kesempatan. Ibarat orang yang tersesat, maka langkahmu masih belum terlalu jauh. Karena itu, kembalilah anakku”

Terasa sesuatu berdenyut di jantung Singatama. Dalam keadaan yang tegang itu, ia mendengar suara pamannya. Pamannya. Yang duduk dihadapannya itu memang pamannya. Saudara kandung orang tuanya.

Tetapi Singatama bukan seorang anak yang dekat dengan orang tuanya. Bukan saja wadagnya, tetapi juga hatinya. Anak itu seakan-akan tidak lagi mempunyai satu ikatan yang mantap dengan ayah dan ibunya.

Namun dalam pada itu, suara Empu Nawamula didengarnya lagi, “Yang aku tidak tahu Singatama. Apakah yang sebenarnya kau cari dengan pengabdianmu kepada ilmu hitam itu. Jika kau ingin memiliki kemampuan yang tinggi, maka kau dapat melihat sendiri, bahwa ilmu gurumu bukan ilmu yang tidak terkalahkan. Karena itu, kenapa kau tidak mencari saja kemampuan ilmu kanuragan lewat jalan yang lebih baik”

Jantung Singatama menjadi semakin berdebaran. Disaat yang menegangkan itu, ia dapat membayangkan kembali, apa yang sudah terjadi atasnya. Sikap pamannya dan sikap orang-orang di padepokan itu. Disaat ia dianggap orang yang paling jahat, ia masih dapat diterima kembali oleh pamannya karena ia menyatakan diri untuk bertobat. Rasa-rasanya pamannya sama sekali tidak pernah mendendamnya. Jika pamannya membentaknya, marah dan mengancam itu adalah semata-mata sikapnya sebagai seorang tua.

Sekilas terbayang orang yang sudah tidak ada. Sepercik pertanyaan tiba-tiba saja mengguncang jantungnya, “Apakah ayahku meninggal terlalu cepat karena aku?”

Dalam pada itu. Empu Nawamula masih berkata selanjutnya, “Singatama. Sebenarnya kau tidak terlalu tergesa-gesa untuk mengambil satu sikap. Kau masih sempat memikirkannya. Dan kau akan menjadi semakin jelas melihat, langkah yang paling baik yang dapat kau tempuh. Kau masih muda. Menilik gelar lahiriah, kau masih akan memiliki hari depan yang panjang. Karena itu, bukankah kau masih mempunyai kesempatan untuk memilih. Memilih dengan tepat setelah kau pikirkan masak- masak”

Degup jantung Singatama terasa memukul dinding dadanya semakin keras. Pada saat yang demikian, Empu Pulung Geni menggeretakkan giginya. Sebenarnya ia menyadari, bahwa kedudukannya agak kurang menguntungkan, karena ia tidak dapat merunduk dari belakang. Tetapi harus dari samping.

Namun didorong oleh dendamnya yang hampir meledakkan jantungnya serta mendengar keterangan Empu Nawamula yang akan dapat menggoyahkan kesetiaan Singatama yang muda itu, maka rasa-rasanya Empu Pulung Geni tidak lagi dapat menahan diri.

“Tingkat perbedaan ilmuku dengan ilmu Empu Nawamula tidak terlalu jauh. Kalau aku sempat meloncat dan mengancamnya, maka aku akan dapat menguasainya dengan sebaik-baiknya” berkata Empu Pulung Geni di dalam hatinya.

Karena itu, maka Empu Pulung Geni tidak lagi berniat menunda rencananya. Ia harus dapat membunuh Empu Nawamula. Baru ia akan dapat melakukan tugasnya dengan tenang, mengemban kewajiban yang disepakati oleh sekelompok orang-orang yang tidak puas dengan keadaan di atas Tanah Kediri dan Singasari

Tetapi Empu Pulung Geni masih menunggu satu kesempatan yang baik. Jika Empu Nawamula sedang dengan sungguh-sungguh memberikan petunjuk-petunjuk kepada Singatama, maka perhatiannya tentu akan tertuju kepada anak itu sepenuhnya.

Ternyata Empu Pulung Geni tidak perlu menunggu terlalu lama. Ketika Empu Nawamula sedang berbicara dengan sareh kata demi kata, kalimat demi kalimat, maka dorongan dendam di jantung Empu Pulung Geni tidak tertahankan lagi.

Karena itu, maka iapun aaggra bersiap dengan hati-hati. Namun demikian, ternyata bahwa dedaunan di gerumbul tempatnya bersembunyi masih juga bergerak.

Tetapi untunglah, bahwa Empu Nawamula tidak melihatnya. Karena seperti yang diperhitungkan oleh Empu Pulung Geni, bahwa perhatiannya sepenuhnya tertuju kepada Singatama.

Empu Pulung Geni masih menunggu sesaat. Ketika saat yang paling baik itu datang, maka iapun telah siap untuk meloncat.

Tetapi yang sesaat itu ternyata sangat menentukan. Yang sesaat itu telah memberikan kesempatan kepada Singatama yang bimbang untuk mengambil keputusan. Karena itu, ketika tiba-tiba saja ia melihat dedaunan yang bergoyang, maka dengan serta merta anak muda itu berteriak, “Paman, hati-hati”

Peringatan Singatama itu telah menyengat naluri Empu Nawamula. Dengan serta merta iapun telah meloncat tepat pada saat Empu Pulung Geni meloncat pula dari balik gerumbul sambil mengacungkan senjatanya.

Tetapi Empu Nawamula sudah tidak ada lagi ditempatnya, sementara Singatama pun telah melenting berdiri dan meloncat menjauh.

Empu Pulung Geni berdiri dengan wajah yang tegang Sorot matanya bagaikan menyala memandang Singatama yang berdiri termangu-mangu.

“Maaf guru” suaranya terbata-bata, “aku tidak dapat mengingkari perasaanku. Paman selalu memaafkan kesalahanku. Karena itu, aku tidak dapat membiarkannya mengalami bencana dengan satu keadaan yang tidak adil. Sekarang, terserah kepada guru dan paman. Aku tidak akan dapat ikut campur”

“Anak iblis” geram Pulung Geni, “kau telah berkhianat. Dan kau tahu, hukuman yang paling baik bagi seorang pengkhianat”

Terasa juga jantung Singatama bergetar. Ia tahu apa arti kata-kata gurunya. Ia tahu, bahwa di lingkungannya tidak pernah didengarnya kata pengampunan.

Karena itu, maka iapun sadar, bahwa hukuman yang akan di bebankan kepadanya oleh gurunya tentulah hukuman mati.

Ternyata Singatama menjadi ngeri juga. la teringat kepada upacara yang setiap kali dilakukan. Sementara mereka masih mempergunakan tubuh seekor binatang untuk membasahi senjata mereka sebelum dipergunakan. Tetapi bagaimana jika dirinya, yang dianggap oleh gurunya itu sebagai seorang pengkhianat mengalami nasib seburuk seekor binatang?

Selagi Singatama dicengkam oleh kegelisahan, terdengar suara Empu Nawamula, “Pulung Geni. Apakah arti perbuatanmu itu? Bukankah dengan demikian kau telah mengotori harga dirimu dengan satu perbuatan yang licik sebagaimana dilakukan oleh para pengecut”

“Aku tidak peduli” geram Empu Pulung Geni, “jika muridku itu tidak berkhianat, kau telah mati oleh tanganku”

“Tetapi aku masih hidup sekarang ini” jawab Empu Nawamula, “kita telah berhadapan. Marilah. Kita akan mengulangi pertempuran diantara kita, seorang melawan seorang”

Memang tidak ada pilihan lain. Karena itu. maka Empu Pulung Geni pun segera bersiap, sementara Empu Nawamulapun telah memcabut senjatanya pula.

“Ikutlah bertempur bersama pamanmu pengkhianat” geram Empu Pulung Geni.

Tetapi Singatama melangkah surut sambil menjawab, “Tidak guru. Aku sama sekali tidak akan berani ikut campur”

“Jangan panggil lagi aku guru bentak Empu Pulung Geni, “kau bukan lagi muridku”

Singatama tidak menyebut Namun yang kemudian berbicara adalah Empu Nawamula, “Sudahlah. Jangan kau umpati lagi anak itu, kau sekarang berhadapan dengan aku. Marilah kita yang tua-tua ini membuat perhitungan”

Empu Pulung Geni sama sekali tidak menjawabnya lagi. Dengan serta-merta ia pun kemudian meloncat menyerang.

Tetapi Empu Nawamula telah bersiap. Dengan demikian, maka ia pun masih sempat menghindar sambil berkata, “Ah. kau terlalu tergesa gesa”

Empu Pulung Geni tidak menghiraukannya, bahkan serangannya pun menjadi semakin cepat. Pedangnya menyambar mendatar. Ketika dengan kerisnya yang besar Empu Nawamula menangkisnya, maka pedang itu pun telah berputar dan mematuk kearah jantung.

Namun Empu Nawamula bergeser selangkah kesamping. Ujung pedang Empu Pulung Geni sama sekali tidak mengenainya. Bahkah Empu Pulung Geni lah yang kemudian harus meloncat surut, menghindari serangan Empu Nawamula.

Demikianlah perkelahian antara kedua orang itu pun semakin lama menjadi semakin cepat. Keduanya bergerak bagaikan tidak menyentuh tanah. Namun seperti yang pernah terjadi, maka Empu Pulung Geni memang tidak akan mampu mengimbangi kemampuan Empu Nawamula. Apalagi dengan kecemasan bahwa para cantrik dan seisi padepokan akan terbangun dan kemudian beramai-ramai mengepungnya.

Dalam pada itu. pertempuran itu pun semakin lama menjadi semakin sulit untuk membatasi diri. Benturan senjata dan kadang-kadang hentakan yang tidak terkekang, telah menggetarkan sepinya malam di padepokan itu.

Para cantrik yang berada di pendapa memang tidak segera mendengar pertempuran yang terjadi di kebun belakang, di dekat blumbang yang terpisah. Namun merekapun kemudian mendengar bunyi bentakan-bentakan yang aneh yang tidak segera mereka ketahui artinya.

Bukan hanya cantrik yang sedang berjaga-jaga, tetapi dirumah sebelah, Mahisa Agni dan Witantrapun telah mendengarnya pula.

“Suara apa itu agaknya” desis Mahisa Agni.

Witantra bangkit dari pembaringannya. Sejenak ia mempernatikan suara yang lemah sekali menembus dinding.

Namun Mahisa Agni pun kemudian bangkit pula sambil mengerutkan keningnya. Katanya, “Aku agak curiga”

“Ya. Kita lihat, apakah yang terjadi” sahut Witantra. Sesaat kemudian keduanya segera membenahi diri dan keluar dari rumah itu. Mereka sama sekali tidak membangunkan Ki Buyut yang juga berada di rumah itu bersama anak perempuannya. Namun ketika keduanya akan meninggalkan rumah itu untuk melihat apakah yang telah terjadi, ternyata hampir berbareng keduanya tertegun

“Bagaimana dengan gadis itu” desis Mahisa Agni.

“Ia perlu diawasi. Mungkin terjadi sesuatu yang dapat mengancam keselamatannya, “ sahut Witantra.

“Tunggulah disini” berkata Mahisa Agni, “aku akan melihat apakah yang terjadi. Agaknya telah terjadi sesuatu yang perlu mendapat perhatian”

“Baiklah” berkata Witantra, “aku akan berada di dalam” Ketika Mahisa Agni meninggalkan tempatnya, Witantra justru kembali masuk ke dalam untuk mengamati keadaan, justru karena di rumah itu ada Widati.

Dengan tergesa-gesa Mahisa Agni menyusuri longkangan di antara barak-barak para cantrik. Tetapi ia tidak segera menemukan sesuatu. Apalagi suara yang mencurigakan itupun tiba-tiba saja tidak didengarnya lagi.

“Apa yang telah terjadi” bertanya Mahisa Agni kepada diri sendiri, “kemana suara itu tiba-tiba saja telah diam”

Tetapi ketajaman pendengaran Mahisa Agni telah membawanya untuk pergi ke belumbang. Suara itu agaknya bersumber dari pinggir blumbang.

Meskipun suara itu sudah tidak terdengar lagi, namun Mahisa Agni tidak mengurungkan niatnya. Dengan hati-hati ia mendekati blumbang yang sudah menjadi sepi.

Mahisa Agni menjadi semakin berdebar-debar ketika ia melihat pepohonan perdu dan ranting-ranting yang berpotongan.

“Tentu telah terjadi pertempuran disini” berkata Mahisa Agni di dalam hatinya.

Sejenak Mahisa Agni termangu-mangu, ia menyesali kelengahannya bahwa ia sama sekali tidak mengetahui adanya pertempuran itu.

Namun dengan demikian, maka Mahisa Agni menjadi semakin berhati-hati. Sesuatu akan dapat terjadi setiap saat.

Untunglah bahwa Witantra tetap berada di rumah itu” berkata Mahisa Agni di dalam hatinya, “mungkin gadis itulah yang menjadi sasaran.

Tetapi menilik bekas-bekas pertempuran itu. Mahisa Agni dapat mengambil kesimpulan, bahwa pertempuran itu terjadi antara orang-orang yang berilmu tinggi, meskipun hanya sebentar.

Dalam keragu-raguan itu Mahisa Agni mendengar suara lamat-lamat, “Nampaknya dua orang sedang berbicara perlahan-lahan”

Karena itu, maka dengan sangat hati-hati Mahisa Agnipun mendekati suara itu. Mungkin suara itu akan dapat memberikan jawaban atas peristiwa yang terjadi di tepi belumbang itu.

Ketika ternyata yang sedang berbicara itu adalah Empu Nawamula dengan Singatama. Dengan nada rendah Singatama berkata, “Ampun paman. Sebenarnyalah, aku terlibat dalam kecurangan ini. Tetapi menurut pendapatku, guru memang hanya seorang diri”

“Tetapi nampaknya kau sudah menemukan satu keputusan yang akan sangat berarti bagi hidupmu kelak Singatama. Justru pada saat terakhir. Pada saat yang paling sulit bagimu. Jika saat itu kau tidak menemukan satu kebenaran tentang dirimu, mungkin akhir peristiwa ini akan berbeda” sahut Empu Nawamula.

“Tetapi yang aku lakukan tidak sebanding dengan kesalahan-kesalahan yang telah menodai hidupku” desis Singatama.

“Masih ada kesempatan. Sudah aku katakan” jawab Empu Nawam pula.

Mahisa Agni yang serba sedikit dapat menangkap peristiwa yang sedang terjadi.

Namun demikian kakinya berdesir didedaunan yang runtuh di tanah, Empu Nawamula telah bergeser sambil mempersiapkan diri.

“Aku Empu” desis Mahisa Agni.

“O” Empu Nawamula menarik nafas panjang, “kenapa Ki Sanak berada disini?”

“Aku mendengar suara-suara yang mencurigakan” jawab Mahisa Agni.

“Jadi kau mendengarnya Ki Sanak?” bertanya Empu Nawamula.

Mahisa Agni menjadi ragu-ragu sejenak. Namun kemudian ia pun menjawab, “Ya. Aku sedang pergi ke pakiwan ketika aku mendengar suara yang mencurigakan. Karena itu maka aku mencoba untuk melihat apa yang terjadi. Tetapi tiba-tiba suara itu telah terdiam dan ketika aku menelusuri kebun padepokan ini, aku telah menemukan kalian berdua”

Empu Nawamula menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Sesuatu telah terjadi Untunglah, bahwa Yang Maha Agung masih melindungi aku”

Dengan singkat, Empu Nawamula menceriterakan apa yang telah terjadi. Kemudian, “Ternyata seperti saat ia datang, maka dengan licik Empu Pulung Geni itu pun meninggalkan padepokan ini”

Mahisa Agni menjangguk-angguk. Dengan menyesal ia mengulangi, “Empu Pulung Geni itu berhasil meninggalkan padepokan ini”

“Ya. Aku tidak dapat menangkapnya. Ternyata ia memiliki kemampuan untuk berlari sangat cepat dan meloncati dinding Halaman padepokan ini. Aku menjadi ragu-ragu mengejarnya, karena menurut perhitunganku, kecepatanku berlari tidak akan dapat melebihinya”

Mahisa Agni mengangguk-angguk. Tetapi bahwa Empu Pulung Geni itu terlepas dari tangan Empu Nawamula, berarti bahwa bencana masih akan selalu mengintip padepokan itu.

Tetapi ternyata bahwa Singatama telah menemukan satu kesadaran tentang dirinya. Pada saat yang tidak terduga-duga, Singatama merasa bahwa orang yang bernama Empu Nawamula itu adalah pamannya.

Ternyata bahwa setitik demi setitik, tetesan kasih sayang Empu Nawamula telah berhasil meluluhkan hati anak itu perlahan-lahan. Bahwa Empu Nawamula tidak menghukumnya dan bahkan menerimanya kembali sebagai kemanakannya, telah membuat goncangan di hati anak muda itu.

Hampir di luar sadarnya Mahisa Agnipun berkata, “Namun agaknya Empu telah mendapatkan gantinya. Angger Singatama telah menemukan dirinya yang selama ini hanyut dalam arus yang kelam. Bagi Empu Nawamula, hal itu tentu satu kurnia yang luar biasa”

“Ya Ki Sanak” jawab Empu Nawamula, “sekarang aku benar-benar telah menemukan kemanakanku yang hilang.

Ia telah membuktikan, bahwa di dalam kegelapan hati, masih juga ada sumber cahaya yang dapat dikembangkannya. Akhirnya, hatinya telah menjadi terang kembali”

“Sukurlah” berkata Mahisa Agni, “namun masih ada satu tantangan bagi angger Singatama. Bagaimana dengan ilmu hitam yang lelah ada di dalam diri”

Empu Nawamula mengerutkan kuningnya. Katanya kemudian, “Masih ada satu cara untuk mengatasinya. He, Ki Sanak, kau mengerti kesulitan itu?”

Mahisa Agni terkejut mendengar pertanyaan itu. Namun Kemudian katanya, “Bukankah Empu Nawamula sendiri pernah menyinggung akan hal itu”

Empu Nawamula mengerutkan keningnya. Kemudian katanya, “Ya. Aku memang pernah mempersoalkan sebelumnya. Tetapi segalanya masih juga tergantung kepada Singatama”

“Paman” berkata Singatama kemudian, “mumpung hatiku sedang terang. Aku bersedia membersihkan diri. Bahkan aku mohon paman segera dapat melakukannya, sebelum aku mengambil keputusan lain. Jika kegelapan itu mencengkam jantungku lagi, mungkin aku akan kehilangan kesempatan itu”

Empu Nawamula menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Baiklah. Kita akan pergi ke Sanggar” Lalu katanya kepada Mahisa Agni, “Maaf Ki Sanak. Aku persilahkan Ki Sanak kembali ke pondok Ki Sanak. Aku akan berada di sanggar hanya dengan kemanakanku saja”

“Baik Empu” jawab Mahisa Agni, “nampaknya hal itu memang hanya penting bagi Empu dan Singatama saja”

Empu Nawamula mengangguk-angguk. Sementara Mahisa Agni pun telah kembali ke rumah yang dihuninya di padepokan itu.

Sementara Singatama pergi ke Sanggar, maka Empu Nawamula telah memerintahkan para cantrik agar membangunkan kawan-kawan mereka. “Kalian harus mengamati halaman dan kebun padepokan ini dengan baik. Baru saja ada orang memasuki kebun ini tanpa kalian ketahui. Bahkan bukan orang kebanyakan” berkata Empu Nawamula kepada para cantrik yang bertugas. Lalu, “Karena itu, panggillah semua cantrik dan beri mereka tugas malam ini. Mungkin orang itu kembali justru pada saat aku berada di sanggar. Dalam keadaan yang paling gawat, sebelumnya aku dapat keluar dari sanggar, maka ketiga muridku dan kedua anak muda yang bernama Mahisa Murti dan Mahisa Pukat itu akan dapat membantu kalian”

“Baik Empu” jawab para cantrik yang sedang bertugas. Demikianlah, ketika kemudian Empu Nawamula memasuki sanggar bersama Singatama, maka para cantrik di padepokan itupun telah dibangunkan. Mereka harus berjaga-jaga, karena baru saja ada orang yang memasuki halaman padepokan dengan maksud Buruk.

“Kita harus mengawasi seluruh halaman padepokan” berkata cantrik yang mendapat tugas dari Empu Nawamula.

Para cantrik itupun kemudian telah mengatur diri, termasuk Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Mereka berada di setiap sudut halaman. Namun bagaimanapun juga, ada diantara para cantrik itu yang tidak dapat menahan matanya untuk tidak terpejam.....

Bersambung....!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...