Sabtu, 19 Desember 2020

HIJAUNYA LEMBAH HIJAUNYA LERENG PEGUNUNGAN JILID 008-02

*HIJAUNYA LEMBAH.  JILID 008-02*

Sejenak kemudian kuda mereka pun berlari semakin cepat, meskipun tidak terlalu kencang sebagaimana kuda-kuda itu sedang berpacu. Singasari memang tidak terlalu jauh lagi. Jika saja kedua orang tawanan itu tidak berkeras untuk beristirahat di perjalanan, karena mereka mempunyai rencana untuk berusaha melarikan diri, maka mereka memang tidak akan bermalam. Tetapi permintaan kedua tawanan itu untuk bermalam ternyata telah menyeret mereka kedalam maut.

Meskipun dengan demikian Mahisa Agni dan Witantra pun telah kehilangan pula. Tetapi mereka membawa sedikit arah yang akan dapat mereka telusuri.

Namun dalam pada itu, mereka tidak langsung menuju ke Kota Raja. Mereka akan singgah lebih dahulu di rumah Mahendra, karena Mahisa Murti dan Mahisa Pukat akan pulang lebih dahulu untuk berbicara tentang beberapa hal dengan ayahnya, sebelum mereka akan mulai lagi dengan satu petualangan yang baru, untuk melanjutkan petualangan mereka yang selalu terputus oleh beberapa sebab.

“Perjalanan yang pernah kita tempuh adalah perjalanan-perjalanan kerdil yang tidak banyak berarti” berkata Mahisa Murti, “kami ingin satu pengembaraan yang panjang dan penuh satu bagi pengalaman hidup kami di masa mendatang”

“Peristiwa yang terjadi itu mempunyai nilai yang besar sebagai satu pengalaman” jawab Mahisa Agni, “kau dapat mengetahui arti hijaunya lembah dan hijaunya lereng pegunungan. Jika yang hijau itu kemudian menjadi gundul, maka kegersangan itu akan mempunyai akibat yang sangat luas. Jangan menganggap bahwa hal itu bukan satu pengalaman yang berharga. Atau seandainya kau tidak menangkapnya sebagai satu pengalaman, maka perasaanmu memang tidak cukup peka menanggapi pengalaman yang berharga itu. Dengan demikian, maka kau tidak akan pernah merasa mendapatkan satu pengalaman pun berapa lamanya kau mengembara”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat hanya dapat menundukkan kepalanya. Mereka dapat mengerti kata-kata pamannya itu. Sebenarnyalah bahwa mereka telah mendapatkan satu pengalaman yang berharga. Dan bahkan pengalaman itu bukannya satu pengalaman yang tidak akan ada singgungannya lagi dengan masa-masa mendatang, karena Singasari masih harus menanggapi tantangan itu dengan sungguh-sungguh.

Karena itu, meskipun mereka tidak mengucapkannya, mereka pun telah berjanji kepada diri sendiri, bahwa dalam pengembaraannya mendatang, mereka akan berusaha untuk memperhatikan orang-orang yang dengan sengaja telah berusaha untuk mengacaukan tata kehidupan Singasari.

Namun dalam pada itu Mahisa Agni berkata, “Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Jika kelak kau akan melanjutkan pengembaraanmu, maka kau harus mengisi pengembaraanmu dengan satu langkah yang berarti. Berarti dalam arti yang sebenarnya. Bukan saja bagi kalian sendiri, tetapi lebih-lebih lagi bagi lingkungan kalian. Karena itu, kalian akan menjadi pengembaraan bukan sekedar mengembara tanpa tujuan. Bukan sekedar melihat-lihat dunia yang luas ini dan mencari bekal bagi hidup kalian kelak. Tetapi langkah kalian harus berarti bagi satu lingkungan. Terutama bagi Singasari”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Namun dalam pada itu, mereka pun mulai menilai perjalanan yang pernah mereka tempuh. Apakah pengembaraan itu mempunyai arti seperti yang dikatakan oleh pamannya atau pengembaraan itu hanya berarti bagi diri mereka berdua.

Namun Mahisa Agni yang melihat gejolak perasaan itu di dalam diri kedua anak muda itu pun berkata, “Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Sebenarnyalah apa yang kau lakukan, merupakan langkah-langkah yang baik. Ada hal-hal yang telah kalian lakukan. Kau telah melibatkan Singasari dalam beberapa persoalan. Dan itu adalah pertanda bahwa kau memang pengembara yang bukan sekedar mengembara. Tetapi kau mampu mengambil langkah-langkah penting di saat pengembaraanmu. Langkah-langkah yang bermanfaat bagi Singasari. Dan agaknya kau pun masih akan berbuat demikian, apalagi setelah kau mengetahui, bahwa ada pihak yang dengan sengaja ingin mengacaukan tata kehidupan Singasari”

Kedua orang anak muda itu pun mengangguk-angguk. Mereka menyadari bahwa mereka memang seharusnya berbuat demikian, sebagaimana dikatakan oleh pamannya. Sehingga perjalanan yang akan mereka tempuh kelak bukan sekedar perjalanan yang tidak berarti apa-apa bagi sesama.

Demikianlah, maka iring-iringan itu pun semakin lama menjadi semakin dekat dengan Singasari. Sebagaimana mereka putuskan bahwa mereka akan singgah lebih dahulu di rumah Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, sebelum Mahisa Agni dan Witantra masuk kembali ke lingkungan istana.

Kedatangan mereka di rumah Mahendra telah disambut dengan gembira. Dengan wajah yang cerah Mahendra menemui kedua anaknya sambil bertanya, “Bukankah kalian selamat?”

“Ya ayah” jawab keduanya hampir bersamaan. Demikianlah, maka ke empat orang yang baru saja datang itu pun telah dipersilahkan naik ke pendapa.

“Kalian akan minum dan makan makanan lebih dahulu sebelum kalian membersihkan diri” berkata Mahendra ketika, beberapa macam makanan dan minuman dihidangkan.

Namun dalam pada itu Mahendra menjadi heran, bahwa mereka berempat, tetapi kuda yang ada di halaman berjumlah enam ekor.

“Kuda siapakah yang dua itu?” bertanya Mahendra. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat saling berpandangan sejenak. Dalam pada itu Mahisa Agni pun berkata, “Katakan kepada ayahmu apa yang telah terjadi”

Mahisa Murti lah yang kemudian menceriterakan apa yang telah dialaminya di sepanjang perjalanan. Sehingga akhirnya kedua orang yang sebenarnya akan dapat memberikan sedikit keterangan tentang usaha pengacauan tatanan pertanian di Singasari itu terbunuh oleh guru mereka sendiri, dengan cara yang mengerikan.

“Bukan main” berkata Mahendra, “agaknya ada satu rencana yang besar yang sudah tersusun”

“Ya” sahut Witantra hal ini harus diketahui oleh kalangan istana. Satu-satunya nama yang paling mungkin dapat kita telusuri sekarang, adalah orang yang mengaku guru dari kedua orang yang terbunuh itu. Sebagaimana juga disebut olah kedua orang-tawanan itu”

“Namanya?” bertanya Mahendra.

“Ki Sarpa Kuning” jawab Witantra, “aku sudah menjajagi ilmunya. Meskipun ilmu kanuragannya masih dapat aku atasi, namun orang itu memiliki jenis senjata yang dahsyat”

Witantra pun kemudian telah menceriterakan tentang ular dan bisa yang melampaui ketajaman bisa biasa.

Keterangan itu memang sangat menarik. Namun Mahendra pun menjadi berdebar-debar ketika kemudian ternyata bahwa kedua anaknya masih saja berniat untuk melanjutkan pengembaraannya meskipun mereka mengetahui gejolak yang sedang mengancam Singasari.

“Nampaknya beberapa orang Kediri tidak sedang bermain-main” berkata Mahendra, “kita bukan saja menghadapi kekuatan yang berkeliaran di hutan-hutan. Tetapi beberapa orang pemimpin Kediri telah menjadi jemu untuk tetap berada di bawah kuasa Singasari. Karena itu, .maka mereka telah berusaha untuk pada suatu saat dapat bangkit dan bermimpi tentang Kediri pada, masa kejayaannya. Sebelum Tumapel yang kecil itu dapat mengalahkan Kediri dan kemudian mendirikan Singasari”

Kedua anaknya mengangguk-angguk. Mereka juga sudah mendengar hal itu dikatakan baik oleh Mahisa Agni maupun oleh Witantra, Dan mereka pun menyadari keadaan yang semakin menjadi gawat.

Tetapi semuanya itu tidak mematahkan keinginan mereka, untuk melakukan pengembaraan.

“Baiklah Mahisa Murti dan Mahisa Pukat” berkata Mahisa Agni, “jika kalian memang berkeras untuk mengembara dan mencari pengalaman baru, terutama untuk mengenali hubungan antara Kediri dan Singasari, maka kalian harus mengadakan, persiapan yang lebih baik. Yang baru saja kita lihat adalah kekuatan bisa yang tajamnya melampaui ketajaman bisa biasa. Kemudian hutan di lereng pegunungan yang akan dihancurkan agar tanah persawahan menjadi kehilangan kesempatan di segala musim untuk ditanami. Di musim hujan akan terjadi banjir dan di musim kering akan menjadi ladang batu padas yang keras dan pecah-pecah karena tidak ada setitik air pun yang dapat membasahinya”

“Kami akan berusaha untuk mengatasi setiap kesulitan paman” berkata Mahisa Murti.

“Tetapi kau tidak akan dapat mengatasi bisa ular itu tanpa pertolongan orang lain. Karena itu, kau harus menunggu sehingga seorang tabib istana akan menyiapkan obat untuk melawan bisa ular itu. Sementara itu luka-lukamu akan dapat disembuhkannya. Ingat, Sarpa Kuning itu telah mendendam kita. Ia memerlukan menunggu kita lewat untuk mengenali wajah-wajah kita di siang hari”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Namun mereka pun tidak memaksa diri untuk segera berangkat sebagaimana dipesan oleh pamannya.

Dalam pada itu, maka Mahisa Agni dan Witantra pun akan segera kembali ke istana. Mereka harus melaporkan apa yang diketahuinya. Sementara itu mereka harus menyiapkan sejenis obat yang dapat melawan racun yang sangat tajam.

Namun dalam pada itu, Mahisa Agni telah bersepakat dengan Witantra, bahwa mereka tidak akan dapat melepaskan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tanpa pengawasan. Disadari atau tidak disadari oleh anak-anak muda itu.

Ketika Mahisa Agni dan Wintantra pergi istana, maka mereka telah membawa dua ekor kuda dari tawanan mereka yang terbunuh. Sementara Mahisa Murti dan Mahisa Pukat akan beristirahat barang satu dua hari di rumahnya sendiri.

Tetapi pengembaraan mendatang, akan merupakan pengembaraan yang lebih berat lagi keduanya karena, mereka harus mengamati beberapa hal yang akan langsung mempunyai sentuhan atas Singasari.

Ternyata berita yang dibawa oleh Mahisa Agni dan Witantra memang sangat menarik perhatian. Bagaimanapun juga berita itu, tidak dapat diabaikan oleh orang-orang Singasari. Jika rencana itu benar-benar akan dijalankan oleh orang-orang yang mendapatkan perintah dari satu dua orang bangsawan Kediri yang tidak lagi dapat menahan diri untuk terus berada di bawah kekuasaan Singasari, maka semakin lama persoalannya akan menjadi semakin gawat.

Tetapi Singasari juga tidak tergesa-gesa. Para pemimpin Singasari harus mempunyai bukti-bukti yang cukup untuk menentukan satu sikap.

Dalam pada itu, di samping persoalan yang masih akan banyak dibicarakan dan diurai segala seginya, Mahisa Agni dan Witantra telah menghubungi seseorang yang memiliki pengetahuan yang mumpuni mengenai bisa ular yang melampaui ketajaman bisa kebanyakan.

“Untuk apa” bertanya tabib yang berambut putih seperti kapuk itu meskipun ia masih nampak tegap.

“Seseorang telah menyerang lawannya dengan ular. Sejenis ular bandotan. Tetapi obatku tidak dapat menolongnya” jawab Mahesa Agni.

Orang tua itu mengerutkan keningnya. Dengan nada dalam ia bertanya, “Siapa orangnya?”

“Menurut dua orang muridnya yang terbunuh, namanya Ki Sarpa Kuning” jawab Mahisa Agni.

“Ki Sarpa Kuning” orang itu mengulang. Wajahnya menjadi tegang.

“Kau sudah pernah mendengar namanya” bertanya Witantra.

“Sarpa Kuning dari Banjar Kuning?” bertanya orang itu pula.

Mahisa Agni mengangguk. Katanya, “Ya. Ki Sarpa Kuning dari padepokan yang disebutnya Banjar Kuning”

Orang berambut putih seperti kapuk itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku mengenal namanya. Ia adalah orang yang menguasai ilmu tentang bisa. Adalah wajar bahwa kalian tidak akan dapat melawan kemampuannya. Namun ia bukan saja orang yang mengerti dan memahami tentang bisa dan racun. Tetapi ia juga seorang yang memiliki kemampuan dalam olah kanuragan”

“Ya” jawab Witantra, “ia memang memiliki kemampuan itu. Karena itu, maka seseorang harus memiliki bekal yang Cukup untuk menghadapinya. Setidak-tidaknya seseorang harus memiliki obat manawar bisa yang sangat tajam itu”

Orang berambut seputih kapas itu mengangguk-angguk. Kemudian iapun bertanya.

“Apakah kalian akan mencoba mengunjungi padepokannya?”

“Kami tidak akan dengan sengaja mencari persoalan dengan padepokan Banjar Kuning. Tetapi jika pada suatu saat, hal Itu terjadi, maka kami memang harus bersiap menghadapinya. Terutama bisa dan racunnya”

Orang berambut putih itu mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Aku akan berusaha menyiapkan obat yang dapat melawan ketajaman racun orang-orang Banjar Kuning. Meskipun demikian, jangan menganggap bahwa dengan reramuan itu, kalian sudah benar-benar terbebas dari cengkaman racun yang dibuat oleh orang-orang padepokan Banjar Kuning”

“Kami mengerti” jawab Mahisa Agni, “nampaknya orang-orang Banjar Kuning memang memiliki kelebihan. Terutama orang pertama di padepokan itu”

“Ia bukan saja menguasai racun. Tetapi ia menguasai ular-ular itu sendiri yang dapat dipergunakannya sebagai senjatanya” sambung Witantra.

Orang berambut putih itu pun mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya , “Aku memerlukan waktu beberapa hari. Pada saatnya aku akan manghubungimu”

“Beberapa hari?” bertanya Mahisa Agni, “apakah kau dapat menyebutkan, berapa hari yang kau perlukan”

“Apakah kau sangat tergesa-gesa?” bertanya orang itu.

“Bukan aku yang tergesa-gesa. Aku tidak akan pergi kemanapun dalam waktu dekat Tetapi kemenakanku” jawab Mahisa Agni.

“Kemanakanmu. Anak Mahendra itu yang kau maksud?” bertanya orang berambut putih itu pula.

“Ya. Ia akan mengembara menjelajahi lereng pegunungan” jawab Mahisa Agni, “karena kami saat itu telah terlihat dalam satu persoalan dengan orang-orang padepokan Banjar Kuning, maka kami tidak dapat melepaskan anak-anak itu tanpa bekal”

“Mahisa Bungalan, maksudmu?” bertanya orang itu pula.

“Bukan. Kedua adiknya. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat” jawab Witantra.

Orang berambut putih itu menggelengkan kepalanya. Katanya, “Kalian nampaknya terlalu kurang berhati-hati menghadapi orang-orang padepokan Banjar Kuning. Kau kira anak-anak itu akan dapat mengatasinya, jika benar-benar mereka terlibat dalam satu persoalan dengan padepokan Banjar Kuning”

Mahisa Agni dan Witantra saling berpandangan. Namun dalam pada itu Mahisa Agni pun bertanya, “Apakah kau banyak mengerti tentang Banjar Kuning?”

“Tidak terlalu banyak. Tetapi aku pernah mengenal. Kami adalah orang-orang yang memperdalam pengetahuan kami tentang bisa dan racun. Pada satu saat kami telah pernah bertemu. Namun aku tidak akan pernah dapat berbuat sesuatu yang tidak aku kehendaki, karena ia memiliki kemampuan dalam olah kanuragan. Selebihnya, aku tidak tahu apa yang dilakukannya, sementara aku pun memperdalam ilmu tentang racun itu dengan caraku sendiri” berkata orang beramhut putih itu.

Mahisa Agni dan Witantra mengangguk-angguk. Meskipun orang berambut putih itu menurut pengenalan Mahisa Agni dan Witantra juga memiliki kemampuan dalam olah kanuragan, tetapi mereka percaya bahwa orang yang menyebut dirinya Ki Sarpa Kuning itu memang memiliki ilmu kanuragan yang lebih baik. Apalagi Witantra sendiri memang pernah menjajagi ilmu orang itu.

Dalam pada itu, maka Mahisa Agni dan Witantra pun tidak dapat memaksa orang itu bekerja lebih cepat. Sehingga dengan demikian, maka mereka telah memberitahukan kepada Mahisa Murti dan Mahisa Pukat untuk menunggu, sesuai dengan waktu yang disediakan oleh orang berambut putih itu.

“Demikian lamanya” keluh Mahisa Murti.

“Kau tidak dapat memaksanya untuk bekerja lebih cepat, jika kau menghendaki hasil yang benar-benar mampu melawan bisa yang sangat tajam” berkata Mahendra. Namun dalam pada itu, Mahendra ternyata telah mempunyai satu rencana sendiri, meskipun ia tidak mengabaikan rencana yang sudah dibuat oleh Mahisa Agni dan Witantra tentang obat racun dan bisa itu.

Ketika Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menghadap ayahnya, di serambi pada satu sore, maka Mahendra itu pun berkata, “Kalian memang harus membawa obat yang baik untuk melawan racun. Karena itu, maka kalian harus menunggu” Mahendra berhenti sejenak, lalu, “tetapi memang ada cara lain untuk melawan racun dan bisa yang sangat keras itu”

Kedua orang anak muda itu menjadi tegang. Dengan ragu-ragu Mahisa Pukat bertanya, “Apakah ayah bersedia memberikan cara itu. Atau setidak-tidaknya memberikan petunjuk untuk melakukannya?”

Mahendra menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya “Duduklah dengan tenang. Aku akan mengambil sesuatu”

Kedua anak muda itu tidak menjawab. Mereka duduk tanpa beringsut setapak pun sambil menunggu Mahendra yang sedang masuk ke ruang dalam.

Ketika Mahendra itu keluar, maka ia pun membawa dua buah kotak kayu kecil di kedua tangannya.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat termangu-mangu. Tetapi keduanya menjadi hampir tidak sabar.

“Apa itu ayah?” bertanya Mahisa Pukat.

Tetapi Mahendra tidak segera menjawab. Ia pun kemudian duduk kembali seperti semula dan meletakkan kedua kotak kecil itu di hadapannya.

Sejenak kemudian, maka ia pun berkata, “Pada saatnya, kalian akan mendapat beberapa bumbung kecil yang berisi bermacam-macam obat. Antara lain, obat untuk melawan racun dan bisa. Karena obat-obat itu akan sangat berarti bagi kalian dan mungkin orang lain yang kalian jumpai mengalami kecelakaan di perjalanan atau di tempat-tempat lain yang kalian lalui”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak menjawab. Sementara Itu Mahendra meneruskan, “Namun selain obat-obat itu, sebenarnya, aku mempunyai sesuatu yang dapat aku berikan kepada kalian justru setelah aku mengetahui, bahwa kalian telah terlibat dalam satu permusuhan dengan orang-orang padepokan Banjar Kuning yang memiliki kekhususan kemampuan tentang bisa dan racun”

“Apakah ayah mengenal mereka?” bertanya Mahisa Pukat.

Mahendra mengangguk jawabnya, “Aku mendengar tentang mereka dari kalian dan paman-pamanmu Mahisa Agni dan Witantra”

Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak bertanya lagi.

Dalam pada itu Mahendra pun melanjutkan, “Anak-anakku. Bukan berarti aku tidak percaya kepada obat-obat yang akan kau bawa. Tetapi di samping obat-obat itu, aku ingin memberikan kepada kalian untuk meyakinkan, agar kalian benar-benar tidak hancur karena racun itu”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menjadi tidak sabar. Tetapi mereka masih terpaksa menunggu.

Dalam pada itu Mahendra pun telah membuka kedua kotak yang ada di hadapannya sambil berkata, “Sebagaimana kalian ketahui, aku adalah seorang pedagang wesi aji dan juga bebatuan yang memiliki tuah. Yang kalian lihat ini adalah benda-benda yang memiliki kekuatan yang khusus”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat bergeser maju. Sambil menunjukkan selingkar cincin Mahendra berkata, “Cincin ini bermata sebuah batu akik berwarna gelap. Akik ini memiliki khasiat untuk melawan bisa ular. Akik ini oleh seseorang telah diberikan kepadaku. Bukan sebagai barang yang diperdagangkan. Tetapi tanpa aku ketahui sebabnya, ia telah memberikannya kepadaku”

“Siapa ayah?” berkata Mahisa Murti.

“Seorang tua di padukuhan yang tidak terlalu jauh dari Kota Raja. Padukuhan itu termasuk dalam daerah Kabuyutan Malawi. Orang itu menyebutnya akik Jamur Gunung” jawab Mahendra. Lalu katanya, “seseorang yang memakai cincin ini dan terkena racun atau bisa, betapapun juga tajamnya, maka racun dan atau bisa itu tidak akan dapat membunuhnya”

Wajah kedua anak muda itu menjadi cerah. Sebelum Mahendra mengatakan sesuatu, keduanya sudah menduga, bahwa isi kotak yang lain pun memiliki pula satu kekuatan.

Sebenarnyalah, Mahendra pun kemudian memberitahukan, bahwa yang berada di kotak yang lain adalah sebuah gelang dari sepotong akar berwarna keputih-putihan. Seperti akik Janur Gunung maka akar Kayu Bule itu pun mempunyai kekuatan untuk melawan bisa. Siapapun yang memakai gelang akar Kayu Bule itu, maka ia akan terbebas dari ketajaman racun dan bisa.

“Mengingat perjalanan ini kepada kalian. Terserah, siapakah yang akan memakai cincin, dan siapakah yang memilih gelang.

Kedua anak muda itu pun saling berpandangan sesaat. Kemudian sambil menarik nafas dalam-dalam, keduanya pun memandangi kotak yang ada di hadapan ayahnya itu. Yang sebuah berisi cincin bermata batu akik berwarna gelap, sedangkan yang lain berisi sebuah gelang yang berwarna keputih-putihan yang terbuat dari sejenis akar.

Untuk beberapa saat keduanya saling berdiam diri. Namun dalam pada itu, Mahendra lah yang kemudian berkata, “Tetapi kalian masih harus membuktikannya. Kelak, apabila obat yang dipesan oleh kedua pamanmu itu sudah siap, maka kita akan mencoba benda-benda ini. Jika ternyata bahwa benda-benda ini tidak berkhasiat, maka kita akan dapat mengobatinya dengan obat-obat yang tentu sudah diperhitungkan untuk melawan bisa yang paling kuat sekalipun”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Rasa-rasanya mereka tidak sabar untuk membuktikan khasiat dari kedua benda itu. Namun mereka tidak akan dapat memaksa ayahnya, karena jika kedua benda itu ternyata tidak memiliki khasiat seperti yang dikatakan oleb ayahnya itu, maka tidak ada obat yang akan dapat menolong lagi.

Demikianlah, untuk beberapa saat Mahisa Murti dan Mahisa Pukat harus tetap berada, di rumahnya. Rasa-rasanya mereka telah menunggu untuk waktu yang tidak terbatas. Namun mereka dapat juga memanfaatkan waktu yang menggelisahkan itu dengan berada di dalam sanggar.

Bukan saja mereka berdua, tetapi mereka berada di dalam sanggar bersama ayah mereka.

Mahendra dapat menduga, bahwa kedua anaknya itu akan mengembara ke daerah yang gawat dalam jelajah orang-orang berilmu. Karena itu, maka tidak ada bekal yang lebih baik yang dapat diberikannya kecuali mendalami ilmu yang telah diberikannya.

Setelah untuk beberapa saat mereka menunggu, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun akhirnya melihat kehadiran kedua orang pamannya di rumahnya. Dengan tergesa-gesa keduanya menyongsongnya. Sedangkan pertanyaan yang pertama yang dilontarkan oleh Mahisa Pukat adalah, “Apakah paman sudah mendapatkah obat itu?”

Mahisa Agni dan Witantra tersenyum. Sambil meloncat turun dari kudanya Mahisa Agni berkata, “Sabarlah. Apakah kami tidak akan kau persilahkan naik?”

“O” Mahisa Pukat menjadi gagap. Sementara Mahisa Murti lah yang menyambung, “Marilah paman. Silahkan naik ke pendapa”

Mahisa Agni dan Witantra pun kemudian naik ke pendapa sementara, Mahisa Pukat telah memberitahukan kepada ayahnya, bahwa kedua pamannya telah datang.

“Apakah mereka telah membawa obat itu?” bertanya Mahendra.

“Entahlah ayah” jawab Mahisa Pukat, “silahkan ayah bertanya langsung kepada paman Mahisa Agni atau paman Witantra”

Mahendra mengangguk-angguk. Ia pun kemudian pergi ke pendapa menemui Mahisa Agni dan Witantra.

Dalam pembicaraan berikutnya ternyata bahwa Mahisa Agni dan Witantra telah membawa obat-obat yang diperlukan oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat dalam pengembaraan mereka. Bukan saja obat penawar bisa, tetapi juga obat untuk luka-luka yang baru oleh goresan senjata yang tidak beracun. Juga obat untuk beberapa macam penyakit yang akan dapat mereka pergunakan untuk diri mereka sendiri, atau untuk orang lain yang memerlukannya.

Mahisa Pukat yang tidak sabar lagi, tiba-tiba saja telah memotong pembicaraan, “Ayah. Bukankah ayah akan mencoba kemampuan kedua benda yang pernah ayah perlihatkan itu?” Sekarang paman Mahisa Agni dan paman Witantra telah membawa obat yang ayah kehendaki”

Mahisa Agni dan Witantra mengerutkan dahi. Namun Mahendra tersenyum sambil berkata, “Aku akan melakukannya. Tetapi tidak sangat tergesa-gesa. Biarlah pamanmu beristirahat. Mungkin pamanmu akan tinggal disini dua tiga hari”

Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Namun ia pun kemudian menundukkan kepalanya sambil berkata, “Baiklah ayah. Paman agaknya memang akan tinggal di sini beberapa hari”

Tetapi dalam pada itu. Witantra menjawab, “Tidak Mahisa Pukat. Kami tidak akan tinggal lebih dari satu malam di sini”

“Kenapa tergesa-gesa?” bertanya Mahisa Murti.

“Tidak ada apa-apa. Tetapi kata harus membicarakan beberapa persoalan-persoalan dan langkah-langkah yang dapat yang lakukan untuk mencegah orang-orang yang dapat mengganggu tatanan yang sudah ada”

Mahendra mengangguk-angguk. Katanya, “Hal itu memang harus di tanggapi dengan cepat”

“Kami akan berbuat apa saja untuk hal itu” berkata Mahisa Pukat. Lalu, “Karena itu, kami akan melanjutkan pengembaraan kami”

“Bagus. Bagus. Kalian memang akan melanjutkan pengembaraan kalian” jawab ayahnya, “dan karena itulah maka kedua pamanmu itu datang kemari”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat saling berpandangan sejenak, namun mereka pun kemudian menundukkan kepala mereka dalam-dalam.

Demikianlah, setelah Mahisa Agni dan Witantra beristirahat, berbincang-bincang sejenak, maka mereka pun mulai mempertanyakan obat yang telah pernah mereka bicarakan sebelumnya.

Apakah kau sudah mendapatkan?” bertanya Mahendra. Mahisa Agni mengangguk-angguk. Jawabnya, “Ya. Kami sudah mendapatkannya. Obat yang tentu akan sangat bermanfaat bagi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.

Mahendra mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya, “Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tentu akan mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya. Namun demikian, ada sesuatu yang ingin aku katakan kepada kalian berdua tentang bisa ular dan racun yang tajam”

Mahisa Agni dan Witantra mengangguk-angguk kecil. Kemudian dengan ragu-ragu, Witantra bertanya, “Apa yang kau maksud Mahendra”

Mahendra memandang kedua orang tamunya itu berganti-ganti. Namun kemudian katanya, “Bukan maksudku memperkecil arti dari usaha kalian berdua. Kami sangat berterima kasih atas beberapa jenis obat-obatan yang akan dapat mereka bawa dalam pengembaraan mereka. Namun demikian ada sesuatu yang ingin aku katakan”

Witantra mengerutkan keningnya. Namun dalam pada itu Mahendra pun segera menceriterakan apa yang akan dilaksanakan dengan kedua anaknya. Ia pun mengatakan, bahwa ia ingin mencoba, apakah benar bahwa benda-benda yang dimilikinya itu, mempunyai kekuatan yang dapat menawarkan segala macam bisa dan racun.

Witantra dan Mahisa Agni pun mengangguk-angguk setelah mereka mendengarkan ceritera Mahendra. Bahkan kemudian Mahisa Agni pun berkata, “Aku sependapat Mahendra. Benda-benda itu memang harus dibuktikan. Apakah memang memiliki kekuatan seperti yang dimaksud atau tidak Jika benar-benar benda-benda itu memiliki kekuatan itu, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat akan merasa diri mereka lebih aman terhadap gangguan racun”

“Jika kalian tidak berkeberatan, biarlah kita mencobanya atas kedua orang anak muda itu” berkata Mahendra. Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Ketika ia berpaling kepada Witantra, maka Witantra pun berkata, “Aku percaya sepenuhnya atas obat yang telah kita bawa. Karena itu, maka aku tidak berkeberatan untuk melakukan percobaan terhadap Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.

Demikianlah, setelah mereka memperbincangkannya beberapa saat. akhirnya ketiga orang tua itu mengambil keputusan, bahwa percobaan atas Mahisa Murti dan Mahisa Pukat akan dilakukan Mereka bertiga akan bertanggung jawab, seandainya terjadi sesuatu atas kedua orang anak muda itu.

Namun bagaimanapun juga Mahendra menjadi sangat tegang ketika percobaan itu dilakukan. Soalnya bukan sekedar bertanggung jawab bersama dengan Mahisa Agni dan Witantra. Tetapi kedua orang anak muda itu adalah anaknya.

Mahisa Murti lah yang kemudian mengenakan cincin bermata batu akik yang disebut Jamur Gunung Kemudian Mahisa Pukat memakai gelang akar Kayu Bule.

Yang membesarkan hati Mahendra adalah kedua anaknya itu sama sekali tidak menunjukkan kecemasannya, sedangkan Mahisa Agni dan Witantra pun yakin akan kemanjuran obat yang mereka bawa, sehingga seandainya benda-benda itu tidak mempunyai khasiat sebagaimana dikatakan orang, maka kedua anak muda itu akan dapat diobati oleh Mahisa Agni dan Witantra.

Setelah segala persiapan dilakukan, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun kemudian duduk di dalam sanggar.

Keris milik Mahendra yang terkenal karena warangannya yang sangat keras, akan dipergunakannya untuk mencoba, apakah benda-benda itu benar-benar berkasiat.

Demikianlah, perlahan-lahan, Mahendra sendiri telah menggoreskan ujung kerisnya yang diberi warangan yang sangat keras itu pada kulit kedua orang anak-anaknya.

Sejenak ketegangan telah mencengkam. Dengan jantung yang berdegupan, ketika orang tua itu menunggu akibat yang dapat terjadi atas kedua anak muda itu. Namun Mahisa Agni dan Witantra telah, mempersiapkan obat yang mereka bawa dan siap untuk dipergunakan setiap saat.

Namun ternyata bahwa setelah beberapa saat keris itu digoreskan, baik Mahisa Murti maupun Mahisa Pukat tidak mengalami sesuatu selain ketegangan jiwa Bagaimanapun juga, mereka harus menahan gejolak perasaan mereka. Meskipun mereka sama sekali tidak mengalami ketakutan tetapi keinginan mereka untuk segera mengetahui hasil dari percobaan itulah yang membuat mereka menjadi sangat tegang.

Setelah beberapa saat mereka menunggu dan tidak terjadi perubahan sesuatu atas kedua orang anak muda itu, maka Mahendra pun kemudian berkata, “Bagaimana perasaan kalian sekarang”

Hampir berbareng keduanya menjawab, “Tidak apa-apa” Mahendra mengerutkan keningnya. Namun kemudian Mahisa Agni yang telah mendekati kedua anak muda itu berkata, “Tunjukkan luka-luka kalian”

Kedua anak muda itu menunjukkan luka di lengannya. Ternyata bahwa pada luka itu telah mengalir darah.

“Darah” desis Mahisa Agni.

Sejenak orang-orang yang ada di dalam sanggar itu membeku, namun sejenak kemudian mereka pun menarik nafas dalam-dalam.

Sementara itu, dari luka di lengan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah mengalir darah yang berwarna merah kehitam-hitaman. Namun sejenak kemudian darah itu seolah-olah menjadi semakin merah dan cerah.

“Luar biasa” desis Mahisa Agni, “dari mana kau mendapatkan kedua jenis benda itu?”

Mahendra memandang luka di kedua lengan anaknya itu dengan tajamnya. Namun kemudian jawabnya, “Orang-orang yang baik hati telah memberikan benda-benda itu kepadaku. Pemberian yang ternyata sangat berharga”

“Meskipun demikian, luka itu harus diobati” berkata Witantra kemudian, “keduanya benar-benar telah terbebas dari racun. Selain keduanya tidak merasakan sesuatu pada tubuh mereka, darah itu merupakan pertanda, bahwa racun itu tidak merusak bagian dari tubuhnya, karena racun itu telah terdesak keluar oleh kekuatan yang tumbuh di dalam diri kedua anak itu oleh pengaruh benda-benda yang dikenakannya’“

“Ya. Ya” jawab Mahendra sambil mengangguk-angguk, “luka itu memang harus diobati. Tetapi luka itu tidak lebih dari luka biasa karena goresan ujung benda tajam”

Demikianlah, setelah luka-luka itu diobati, maka mereka pun telah keluar dari sanggar. Ketika mereka sudah duduk di pendapa, sambil tersenyum Mahisa Agni berkata, “Jika aku tahu, kau memiliki benda-benda itu, maka aku tidak perlu menunggu beberapa hari selama obat untuk melawan bisa itu dipersiapkan”

“Tanpa persediaan obat itu. aku tidak akan berani mencoba, apakah benda-benda itu memang berkasiat” jawab Mahendra.

Witantra tertawa. Katanya, “Bagaimanapun juga obat-obat itu mempunyai arti. Dengan persediaan obat itu, Mahendra berani mencoba melihat khasiat benda itu. Sementara itu, obat itu pun akan sangat berarti bagi orang lain yang memerlukan pertolongan”

Mahisa Agni pun tertawa. Katanya, “Ya Kalian akan dapat memanfaatkan obat-obat itu. Tetapi yang aku tidak mengerti, seandainya ada orang yang terkena racun, jika seketika orang itu mengenakan benda-benda yang dimiliki oleh anak-anak itu, apakah racun itu juga akan tawar?”

“Demikianlah menurut keterangan pemiliknya yang memberikan benda-benda itu kepadaku” jawab Mahendra, “seandainya ada seseorang yang terkena racun atau dipagut ular, maka dengan menempelkan benda-benda, itu pada tubuh korban, maka racun itu akan menjadi tawar”

Mahisa Agni dan Witantra mengangguk-angguk. Benda-benda itu tentu lebih baik bagi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat dari pada obat yang akan dibawanya. Dengan benda-benda itu melekat di tubuh mereka, maka mereka akan langsung terhindar dari racun yang menyerang mereka dari manapun datangnya. Tanpa memerlukan waktu sebagaimana mereka harus mengobati luka-luka mereka. Apalagi benda-benda itu pun akan dapat menolong orang lain yang juga terserang racun.

Meskipun demikian, Mahisa Agni dan Witantra telah menyerahkan obat yang mereka dapatkan dari istana itu kepada Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Mungkin orang lain akan memerlukannya.

Dengan demikian, maka niat Mahisa Murti dan mahisa Pukat untuk menempuh pengembaraan lagi menjadi semakin kuat. Rasa-rasanya mereka ingin saat itu juga berangkat. Bekal mereka menjadi semakin lengkap dengan benda-benda yang dapat melawan bisa, sementara ayahnya telah memberikan beberapa petunjuk terpenting dalam puncak kemampuan ilmu mereka.

“Perjalanan itu akan terasa semakin menyenangkan” berkata Mahisa Pukat.

“Kita akan segera dapat melihat, apa yang sebenarnya telah dilakukan oleh orang-orang yang memesan kapak itu Mudah-mudahan kita tidak terlambat mengatasi rencana mereka yang mengerikan itu. Banjir di setiap tahun dan kekeringan di setiap tahun pula” sahut Mahisa Murti.

“Tetapi hati-hatilah” pesan Mahisa Agni, “hal itu bukan sekedar akan kau lihat di lereng pegunungan. Yang terjadi di lereng pegunungan itu ternyata dikendalikan oleh beberapa orang yang mempunyai pengaruh yang kuat di Kediri”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Namun dalam pada itu, Witantra pun berkata, “Mungkin kau tidak dapat membayangkan, betapa besarnya yang kau hadapi karena kau belum mengetahui berapa besarnya pengaruh para bangsawan di Kediri. Karena itu, maka kau merasa sama sekali tidak cemas menghadapi mereka. Seperti anak-anak yang sama sekali tidak takut memegang api. Baru ketika tangannya terbakar, ia menyadari, bahwa api itu dapat menyakitinya”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak menyahut. Tetapi mereka benar-benar mulai berpikir. Bahkan perjalanan mereka mendatang, memang perjalanan yang penuh dengan bahaya.

Apalagi jika mereka benar-benar ingin mengetahui dan lebih-lebih lagi untuk mencegah orang-orang yang menjadi alat orang-orang tertentu di Kediri.

Namun niat kedua orang anak muda itu sudah bulat. Nampaknya sudah tidak ada lagi yang dapat menghalangi mereka Karena itu, maka yang tua-tuapun hanya dapat memberikan pesan dan nasehat, apa yang harus diketahui oleh anak-anak muda yang jiwanya sedang bergejolak. Jiwanya yang mekar dan berkembang.

Mahendra menyadari, jika jiwa yang sedang mekar itu dibendungnya, maka pada suatu saat justru akan meledak dan akibatnya akan tidak dapat diperhitungkan sebelumnya.

Demikianlah, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun segera bersiap-siap. Ketika Mahisa Agni dan Witantra kembali ke Singasari. maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun itu rasa-rasanya tidak tercegah lagi.

“Baiklah” berkata Mahendra , “tetapi kalian harus mempergunakan pengalaman kalian sebaik-baiknya. Mungkin kalian akan berhadapan dengan keadaan yang sangat sulit untuk di atasi, mungkin kalian mengalami satu kesulitan yang sangat gawat. Tidak ada orang lain yang akan dapat membantu selain kalian berdua sendirilah yang harus mengatasinya”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk Sementara Mahendra berkata lebih jauh, “Namun bagaimanapun kalian akan dapat berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena sebenarnyalah kalian tidak pernah sendiri dalam arti yang sebenarnya. Jika kalian memohon kepadaNya, maka sebenarnyalah doa kalian akan terkabul”

Demikianlah, maka pada satu hari yang sudah ditentukan, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat meninggalkan rumah mereka untuk mengulangi pengembaraan mereka. Keduanya merasa bahwa peristiwa-peristiwa yang memaksa mereka kembali kepada ayah mereka. Namun ternyata bahwa gejolak mereka untuk pergi mengembara masih bergelora.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah sepakat untuk tidak membawa kuda dalam pengembaraan mereka. Seperti saat-saat mereka berangkat terdahulu, mereka pun tidak membawa kuda.

Namun dalam pada itu, mereka telah sepakat pula untuk mengambil arah yang lain. Mereka tidak akan pergi ke kabuyutan-kabuyutan yang pernah dilewati. Apalagi Kabuyutan-Kabuyutan yang pernah menumbuhkan kesan tersendiri dihati mereka.

Karena itu, maka mereka telah memilin arah yang berlawanan sama sekali dengan arah yang pernah mereka tempuh sebelumnya.

Seperti perjalanan-perjalanan yang lain, yang pernah dilakukannya, maka terasa udara pagi itu sangat cerah. Langit nampak biru bersih. Sementara matahari masih membayang di langit dengan warnanya yang merah. Betapa lembutnya angin, sehingga dedaunan yang bergerak hampir tidak dapat dilihat oleh mata wadag.

Ketika sesaat kemudian, matahari mulai menjenguk dari balik cakrawala, maka udara menjadi semakin ceria. Burung-burung liar bersiul bersahutan. Seolah-olah saling menyapa setelah mereka tidur nyenyak sepanjang malam hari.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat berjalan perlahan-lahan. Tidak ada yang mengejar mereka untuk tergesa-gesa. Dengan wajah yang cerah pula seperti pagi hari itu, mereka melihat orang-orang yang berjalan beriring pergi ke pasar.

Ada yang membawa hasil bumi mereka, ada yang membawa hasil ketrampilan tangan mereka. Bahkan ada diantara mereka yang-membawa serentengikan air dan sekepis lainnya hasil kerjanya semalam-malaman. Dengan sehelai jala mereka menyusuri sungai untuk mencari ikan yang akan dapat ditukarkan dengan barang-barang kebutuhan sehari-hari lainnya. Satu kerja tambahan di samping kerja di sawah di malam hari”

Namun selain mereka yang pergi ke pasar, ada juga orang-orang yang langsung pergi ke sawah. Dengan cangkul dipundak mereka menyusuri pematang untuk melihat, apakah sawah mereka tidak kekeringan.

Sementara itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat berjalan terus dengan tenangnya. Ketika mereka sebuah bukit di kejauhan, maka Mahisa Murti berkata, “Kita akan melingkari bukit itu. Kita akan sampai ke daerah yang menjadi sasaran penebangan itu dari arah yang lain dari yang pernah kita lakukan”

Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Meskipun mereka berjalan menuju ke arah yang berlawanan dengan perjalanan mereka yang terdahulu, namun.mereka tetap ingin melihat, apa saja yang pernah dilakukan oleh orang-orang yang pernah mencegat perjalanan mereka kembali dengan membawa dua orang tawanan yang telah terbunuh di perjalanan.

“Orang yang bermain-main dengan bisa itu harus dapat dicari jejaknya” berkata kedua anak muda itu di dalam hatinya. Mereka tidak lagi merasa ngeri dengan bisa dan racun yang betapapun kerasnya yang dapat dibuat oleh orang yang bernama Ki Sarpa Kuning itu.

Perjalanan mereka di hari pertama sama sekali tidak menjumpai persoalan yang menarik. Sekali ketika mereka singgah di sebuah kedai, beberapa anak muda telah memperhatikan mereka. Seorang diantara mereka agaknya dengan sengaja ingin memancing persoalan. Tetapi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat berusaha untuk tidak melayani mereka, sehingga karena itu, maka tidak terjadi sesuatu atas kedua anak muda itu, meskipun jantung mereka terasa sakit karena mereka memaksa diri untuk menghindar.

“Masih juga ada anak-anak muda yang tidak mempunyai pekerjaan” desis Mahisa Murti ketika mereka sudah keluar dari padukuhan itu.

“Aku ingin memberikan sedikit peringatan seandainya kau tidak mencegahnya” guman Mahisa Pukat.

“Tidak ada gunanya, selain membangkitkan dendam di hati mereka. Jika kemudian ada pengembara berikutnya yang lewat di padukuhan mereka, akan dapat menjadi sasaran kebencian mereka kepada setiap pengembara” berkata Mahisa Murti.

Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Dengan demikian pengembara yang tidak tahu apa-apa, akan dapat menjadi sasaran dendam mereka.

Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Ia mengerti keterangan Mahisa Murti. Namun bagaimanapun juga, kadang-kadang ia sulit untuk menahan diri, agar ia tidak tersinggung Karenanya.

Demikianlah keduanya berjalan semakin lama menjadi semakin jauh. Mereka berusaha untuk mengambil jalan melingkar, sehingga mereka akan dapat mengetahui apa yang terjadi di berbagai tempat, sebelum mereka akan berhubungan dengan orang-orang yang telah mendapatkan tugas yang akan dapat dengan perlahan-lahan membuat Singasari menjadi sangat lemah. Dan merekapun harus mempersiapkan diri untuk menemui orang-orang dari sebuah padepokan yang dipimpin oleh Ki Sarpa Kuning.

Dihari-hari pertama dari perjalanan mereka, keduanya tidak menjumpai masalah yang berarti. Namun keduanya menjadi heran, bahwa hampir di setiap tempat mereka bertemu dengan anak-anak muda yang dalam kelompok-kelompok kecil berusaha membangkitkan perselisihan.

“Aneh” berkata Mahisa Murti.

“Hampir dimana-mana” berkata Mahisa Pukat, “tetapi aku justru menjadi terbiasa”

“Apakah tidak ada kerja yang lebih baik dari anak-anak itu selain mengganggu orang lain” gumam Mahisa Murti.

Tetapi keduanyapun melihat pula kelompok-kelompok anak-anak muda yang bekerja dengan sungguh-sungguh. Dengan gembira mereka berdendang sambil mencangkul sawahnya. Seorang anak muda yang duduk di atas ujung garunya, dengan menggenggam cambuk di tangan, memandang gumpalan-gumpalan lumpur di bawah kakinya dengan cerah, sebagaimana ia memandang hari depan. Sawahnya itu kelak akan menghasilkan bagi kesejahteraan keluarganya. Sementara itu, anak-anak dengan riang bekerjanya sambil menggembalakan kambingnya di rerumputan yang hijau segar.

Namun ketika Mahisa Murti dan Mahisa Pukat kemudian berjalan menyusuri tebing sungai, terdengar Mahisa Pukat mengeluh, “Jika tidak segera dapat di atasi, maka sawah itu akan rusak. Banjir bandang yang akan merusakkan tanaman, dan kekeringan yang menggelisahkan”

“Kita akan membantu mereka” berkata Mahisa Pukat, “kita akan melihat, apa yang akan terjadi di lereng pegunungan”

Mahisa Murti mengangguk-angguk Namun kemudian katanya, “Ternyata di antara mereka yang bekerja keras, masih ada anak-anak muda yang kehilangan hari-harinya yang paling berharga. Mereka menyia-nyiakan masa muda mereka dengan tingkah laku yang tidak terkekang”

“Apakah kita juga memanfaatkan masa-masa muda kita?” bertanya Mahisa Pukat.

“Ya” jawab Mahisa Murti, “kita sudah menuntut ilmu kanuragan dan sedikit kajiwan. Sekarang kita berusaha untuk mendapatkan penglaman. Mungkin pengalaman kita akan berbeda dengan pengalaman anak muda yang sedang menggarap sawahnya itu. Juga berbeda dengan anak muda yang membantu ayahnya menjadi pande besi atau anak-anak muda yang mulai mengembangkan kemampuannya untuk berdagang. Dan berbeda pula dengan Kakang Mahisa Bungalan yang berada di dalam lingkungan keprajuritan”

Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Katanya, “Mudah-mudahan pengalaman yang akan kita dapatkan itu akan bermanfaat”

“Tentu” jawab Mahisa Murti.

Namun dalam pada itu,. Mahisa Pukat pun berkata, “Tetapi, lihatlah pegunungan itu. Hutan yang lebat bagaikan tidak bercelah-celah. Apakah mungkin sekelompok orang akan menebangi pepohonan itu sehingga hutan akan-menjadi gundul. Coba bayangkan, kira-kira. akan dapat mereka lakukan berpuluh-pulh tahun. Sedangkan pepohonan yang muda telah tumbuh dan menjadi besar, sehingga lereng pegunungan itu akan tetap menjadi hijau”

Mahisa Murti mengangguk-angguk. Namun kemudian jawabnya, “Kita masih belum tahu pasti, apa yang akan mereka lakukan. Mereka telah memesan kapak, terlalu banyak. Mereka telah mengerahkan orang-orang. Tetapi aku kira benar perhitunganmu. Jika hal itu dilakukan oleh beberapa padepokan tertentu yang dapat” dibujuk oleh orang-orang Kediri, berapa puluh tahun, rencananya akan dapat mereka ujudkan”

“Mudah-mudahan hal itu tidak terjadi. Tetapi kita harus melihatnya” berkata Mahisa Murti.

Demikianlah keduanya meneruskan perjalanan mereka. Dari arah yang mereka tempuh kemudian, sama sekali tidak mereka temui sikap atau bahkan rerasan tentang hutan di lereng pegunungan. Seolah-olah yang ada itu memang seharusnya demikian. Hutan itu memang harus ada. Dan airpun akan mengalir di segala musim.

Karena itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukatpun bergeser melingkar. Mungkin pada suatu saat ia mendengar serba sedikit tentang pembicaraan yang menyangkut masalah hutan dan kapak penebang kayu

Tetapi ternyata yang dijumpai oleh kedua anak muda itu adalah persoalan yang lain. Ketika mereka memasuki sebuah padepokan, yang mempunyai beberapa orang pande besi, mereka memang melihat kesibukan dari para pande besi itu. Tetapi mereka tidak sedang membuat kapak. Tetapi mereka membuat senjata.

“Mereka membuat pedang-pedang yang sederhana” berkata Mahisa Murti.

Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Ada dua orang pande besi di ujung pasar, dan sebuah lagi di sudut pasar itu, memang sedang sibuk membuat pedang.

Kesibukan itu memang menarik sekali. Pedang adalah senjata untuk bertempur. Jika pande-pande besi itu sibuk membuat senjata, maka kesibukan itu agak berbeda dengari kesibukan pande-pande besi di padukuhan-padukuhan yang lain. Pande besi di padukuhan yang lain sibuk membuat alat-alat pertanian. Ada yang membuat kejen bajak, cangkul dan alat-alat yang lain. Tetapi pande-pande besi di padukuhan ini membuat senjata untuk bertempur.

“Mungkin telah terjadi sesuatu yang memaksa pande-pande besi itu membuat pedang” berkata Mahisa Murti.

Mahisa Pukat mengangguk-angguk pula. Jawabnya “Tentu ada sebabnya”

“Kita dapat bertanya kepada pande-pande besi itu” berkata Mahisa Murti, “tetapi apakah hal itu tidak akan menarik perhatian mereka?”

“Dalam satu kesempatan yang tidak terlalu khusus” desis Mahisa Pukat, “sambil lalu kita akan menanyakan pada saat kita berada di kedai”

Mahisa Murti mengangguk-angguk-Katanya, “Kita singgah di kedai itu”

Keduanyapun kemudian singgah memasuki satu kedai di luar pasar yang sibuk itu setelah mereka melihat-lihat barang seienak. Terutama Dande-pande besi di pasar itu

Tidak ada yang menarik perhatian kedua anak muda itu di dalam kedai. Semuanya seperti yang terdapat di kedai kedai yang lain. Makanan, minuman dan pelayanan sebagaimana yang mereka alami sebelumnya. Pemilik kedai itu tidak banyak memperhatikan kedua anak muda pengembara dalam ujud lahiriah yang kusut dan letih itu.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang duduk di sudut kedai itu memperhatikan orang-orang yang keluar masuk kedai itu. Tidak ada yang mencurigakan, dan dalam pembicaraan mereka, sama sekali tidak tersinggung masalatf-masalah yang ada hubungannya dengan pedang-pedang yang dibuat oleh pande-pande besi itu.

Sambil menarik nafas dalam-dalam Mahisa Murti berdesis, “Tidak ada jalan untuk berbicara tentang pande-pande besi itu”

“Kita tunggu sampai kedai ini menjadi sepi. Kita akan berbicara dengan pemilik kedai itu” jawab Mahisa Pukat.

“Pemilik kedai itu sama sekali tidak menghiraukan kita” berkata Mahisa Murti.

“Kau pancing nanti jika kau membayar makanan yang kecilmu itu. Dengan demikian pemilik kedai itu akan memperhatikan kita, dan memberi kesempatan kita untuk berbicara” berkata Mahisa Pukat.

Mahisa Murti mengangguk-angguk Sementara itu, pemilik kedai itu masih saja sibuk dengan para pembeli, pemilik kedai itu memang tidak begitu menghiraukan kedua anak muda pengembara itu. Menurut ujudnya, kedua anak muda itu tidak akan memberinya uang sebagaimana para pedagang yang singgah di kedainya.

Namun dalam pada itu, ketika kedai itu menjadi agak sepi karena beberapa orang pembelinya sudah meninggalkan makanan dan minuman yang membuat tubuh mereka menjadi segar, maka Mahisa Murti mulai menarik perhatian. Ia telah mengambil beberapa jenis makanan yang paling mahal. Sepotong jadah ketan ireng dan segumpal iwak empal. Sementara Mahisa Pukat telah mengambil sepotong paha ayam panggang.

Pemilik kedai itu mengerutkan keningnya. Rasa-rasanya agak kurang wajar menilik pakaiannya, bahwa anak-anak muda itu membeli makanan yang mahal, yang jarang dibeli oleh para pedagang-pedagang kecil di pasar itu. Tetapi pemilik kedai itu masih belum menegurnya. Ia menduga mungkin anak-anak muda itu baru saja mendapatkan uang dari kerja yang keras dalam pengembaraannya.

Namun sikap keduanya semakin menggelitik hati pemilik kedai itu. Mahisa Pukat ternyata tidak menghabiskan paha ayamnya. Tetapi sisanya telah dilemparkannya keluar, sementara itu tangannya menggapi sebutir telur pindang. Sedangkan Mahisa Murti telah mengambil sepotong jenang alot. Tetapi jenang alot itu tidak memuaskannya. Sambil meletakkan jenang alot itu di bibir paga makanan, ia mengambil sebungkus nagasari.

Pemilik kedai itu menjadi curiga. Karena itu, maka iapun berkata, “Anak-anak muda, apakah kalian menyadari apa yang kalian lakukan?”

“Kenapa?” bertanya Mahisa Murti.

“Barang-barang yang kau buang itu ada harganya. Bahkan termasuk makanan yang mahal” jawab pemilik kedai itu.

“Aku akan membayarnya” jawab Mahisa Murti. Sejenak ia termangu-mangu. Namun ketika orang terakhir telah keluar dari kedai itu, maka ia mulai mengguncang kampilnya sambil berkata, “jika perlu akan membayar harga lipat dua”

Pemilik kedai itu menjadi tegang. Namun Mahisa Pukat kemudian bergumam, “Kami akan membayarnya berapapun kau minta. Aku senang dengan kedai ini. Masakanmu enak dan pelayananmu menyenangkan. Apakah semua kedai disini seperti kedaimu ini?”

Orang itu termangu-mangu. Ia tidak tahu maksud kedua anak muda itu. Hampir di luar sadarnya ia mengangguk sambil menjawab, “Ya, anak muda. Semua kedai di pasar ini mempunyai makanan, minuman dan pelayanan yang hampir sama”

“Menarik sekali” sahut Mahisa Pukat, “pasar ini cukup ramai. Ada berapa orang pande besi yang ada di pasar ini?”

Pertanyaan itu tidak diduganya. Kenapa anak muda itu tiba-tiba saja telah bertanya tentang pande besi, sementara baru saja ia memuji makanan dan pelayanan di kedai itu.

Namun hampir diluar sadarnya, pemilik kedai itu rnenjawab, “Ada tiga orang pande besi dengan beberapa orang pembantunya”

Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Aku juga melihat, ada tiga orang pande besi dengan beberapa orang pembantu. Tetapi apa yang mereka buat sekarang ini?”

Pertanyaan itu juga tidak disangka-sangka. Namun pemilik kedai itu tidak segera menjawabnya. Sehingga Mahisa Pukat mendesaknya, “Apa yang paling banyak mereka buat sekarang? Alat-alat pertanian? Alat-alat rumah tangga atau apa?”

“Ya, ya. Anak muda. Mereka membuat alat-alat pertanian dan alat-alat rumah tangga” jawab pemilik kedai itu.

“Kau yakin?” bertanya Mahisa Murti. Orang itu menjadi ragu-ragu. Namun akhirnya ia menjawab, “Ya. Aku yakin”

Tetapi sambil tersenyum Mahisa Murti menggeleng, “Tidak Ki Sanak. Kau tidak mengatakan yang sebenarnya. Kenapa? Apakah ada sesuatu yang mendesak, sehingga pande besi itu semuanya telah membuat senjata?”’

Wajah pemilik kedai itu menjadi tegang. Namun kemudian jawabnya, “Aku tidak tahu Ki Sanak. Itu adalah persoalan pande besi itu sendiri. Apapun yang mereka lakukan, tidak ada hubungannya apapun dengan aku. Aku adalah penjual makanan dan minuman. Jika kau ingin makan makanan dan memesan minuman, aku akan melayani tetapi tidak tentang senjata-senjata itu” 

Mahisa Murti mengangguk-angguk. Namun dalam pada itu, Mahisa Pukat bertanya 

“Berapa aku harus membayar untuk makanan yang telah kami makan, minuman yang 
telah kami minum dan keterangan tentang pedang-pedang” Wajah orang itu semakin menegang.

Sementara Manisa Murti mulai melepaskan tali kampilnya sambil berkata 

“Berapa aku harus membayar” 

Orang itu menjadi semakin bingung. Namun tiba-tiba saja Mahisa Murti telah melemparkan beberapa keping uang. Jauh lebih banyak dari harga makanan dan minuman yang telah mereka ambil dari kedai itu. 

“Kau benar-benar tidak tahu apa-apa tentang pedang itu?” bertanya Mahisa Murti. 

Pemilik kedai Itu termangu-mangu sejenak. Ternyata bahwa tidak ada orang lain di dalam kedainya selain kedua orang anak muda itu Karena itu. 

Maka katanya kemudian 

“Tetapi aku hanya akan mengatakan, apa yang aku ketahui” 

“Katakan” desak Mahisa Murti. 

Pemilik kedai itu masih saja ragu-ragu. Tetapi akhirnya ia berkata “Kita, padukuhan-padukuhan di daerah ini sedang dilanda oleh kegelisahan” 

“Kenapa?” bertanya Mahisa Pukat. 

Orang itu termangu-mangu. Dipandanginya Kedua anak muda itu. Namun ketika terpandang olehnya kepingan-kepingan uang, maka katanya “Ada semacam ketegangan 
yang terjadi. Beberapa hari yang lalu. Ki Buyut telah meninggal dunia” 

“Lalu?” Apa hubungannya dengan pedang?” bertanya Mahisa Murti. 

“Ki Buyut tidak mempunyai anak” jawab pemilik kedai itu. 

“Lalu?” bertanya Mahisa Pukat. 

“Tidak mempunyai kakak dan tidak mempunyai adik laki-laki” jawab pemilik kedai itu.



Bersambung.... 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...