Sabtu, 26 Desember 2020

HIJAUNYA LEMBAH HIJAUNYA LERENG PEGUNUNGAN JILID 016-02

*HIJAUNYA LEMBAH.  JILID 016-02*

Mahisa Murti tidak menjawab. Tetapi ia memang menguap.

Tetapi agaknya Mahisa Murti pun sudah tidak akan sempat tidur. Suara ayam jantan yang berkokok telah memenuhi keheningan. Fajar memang telah menyingsing.

Mahisa Pukat duduk di atas amben bambu di bawah lampu minyak yang berkerdipan. Sambil bersandar dinding diamatinya Mahisa Murti yang berbaring. Tetapi Mahisa Murti sama sekali tidak memejamkan matanya.

“Tidurlah” desis Mahisa Pukat.

Mahisa Murti menggeleng. Jawabnya, “Mana mungkin pada waktu yang begini. Entahlah, justru setelah matahari terbit nanti. Mungkin aku justru akan tertidur nyenyak”

Mahisa Pukat tidak menjawab. Dipandanginya sudut-sudut ruangan itu, seakan-akan ada yang dicarinya. Namun Mahisa Pukat memang tidak melihat sesuatu yang mencurigakan.

Untuk beberapa saat kedua anak muda itu saling berdiam diri. Lampu minyak masih berkeredipan menerangi bilik itu.

Mahisa Murti tiba-tiba saja bangkit. Ia mendengar suara pedati di halaman yang mulai bergerak. Semakin lama menjadi semakin jauh.

“Pedati” desis Mahisa Murti

“Ya. Mungkin sesuatu harus dibawa dengan pedati meninggalkan rumah ini” sahut Mahisa Pukat.

“Matahari masih belum terbit” berkata Mahisa Murti kemudian.

Mahisa Pukat tidak menyahut. Bahkan mereka pun telah duduk kembali dengan baik ketika mereka mendengar derap langkah mendekati.

Sejenak kemudian pintu bilik itu pun diketuk dari luar. Perlahan-lahan saja.

Mahisa Pukat pun yang kemudian berdiri menghampiri pintu. Meskipun kedua anak muda itu merasa, bahwa mereka telah sampai ketempat yang memang harus di datangi, namun mereka masih tetap berhati-hati.

Demikian pintu, itu terbuka, maka mereka melihat orang yang bertubuh tinggi besar itu telah berdiri di luar pintu.

“Apakah kalian sempat beristirahat” bertanya orang bertubuh raksasa itu.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat saling ber pandangan sejenak. Namun sebelum mereka menyahut, orang bertubuh raksasa itu berkata, “kalian tentu belum, sempat beristirahat. Tetapi kalian dipanggil ke dalam”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak dapat menolak. Mereka pun kemudian mengikuti orang bertubuh-itu masuk ke ruang dalam.

Diruang dalam orang yang menyebut dirinya pemilik warung itu duduk diapit oleh dua orang yang belum pernah dilihat sebelumnya oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.

Demikian Mahisa Murti dan Mahisa Pukat memasuki ruang itu, maka sambil tersenyum orang yang menyebut dirinya pemilik warung itu pun segera mempersilahkan duduk.

“Marilah anak-anak muda” berkata orang itu, “sebentar lagi aku harus sudah pergi. Pedati yang membawa dagangan ke warungku sudah berangkat. Aku harus segera menyusulnya. Nanti pada saat matahari naik, orang mulai datang untuk berbelanja di pasar itu dan di antara mereka akan singgah di warung kami”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Pedati yang meninggalkan halaman itu ternyata berisi dagangan yang akan dijual di warung. Mungkin nasi dan beberapa jenis makanan sebagaimana pernah mereka makan pada saat-saat mereka berada di warung itu.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun kemudian duduk pula bersama beberapa orang di ruang itu. Dengan berdebar-debar keduanya menunggu apa yang akan dikatakan oleh pemilik warung itu kepada mereka.

Baru sejenak kemudian orang itu berkata, “Anak-anak muda. Melihat ciri-ciri dan sikap kalian, maka kami tidak meragukan lagi bahwa kalian telah dikirim untuk bergabung dengan kami. Kami sama sekali tidak berkeberatan karena kami memang memerlukan kawan-kawan yang akan dapat membantu kami dalam saat seperti sekarang ini. Karena itu, lakukan apa yang telah kalian persiapkan. Aku dan kawan-kawan kita yaiig sudah terdahulu berada di sini akan dapat membantu keterangan-keterangan yang kalian perlukan. Namun dalam banyak hal kami masih harus bekerja keras. Persoalan Pangeran Kuda Permati merupakan bagian yang terpenting dari. tugas kita di sini. Sementara itu peristiwa yang dialami Pangeran Singa Narpada tidak akan dapat lepas dari perhatian kita. Kita akan mengikuti persoalannya untuk selanjutnya, sementara itu sikap Sri Baginda atas Pangeran Lembu Sabdata pun secara terus-menerus kita ikuti. Untuk selanjutnya, maka kalian berdua telah diserahkan kepadaku untuk membimbing langkah-langkah selanjutnya dalam hubungan dengan tugas ini. Sayang sekali bahwa kalian masih belum dapat berhubungan langsung dengan Senapati dalam tugas ini di Kediri. Mungkin pada suatu saat kalian akan mendapat kesempatan. Namun segala sesuatunya masih tergantung pada keadaan. Sedangkan aku sendiri masih belum mendapat kesempatan untuk mengetahui di mana tempat Senapati itu dalam tugas ini meskipun aku pernah melihat baraknya di Singsari, barak pasukan khusus sandi”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Ternyata pemilik warung itu juga bukan pemimpin dari. jaringan sandi Singsari yang ada di Kediri. Namun demikian orang itu tentu memiliki wawasan yang cukup luas dan akan dapat meberikan kesempatan untuk melakukan tugasnya.

“Anak-anak muda” berkata pemilik warung itu, “mungkin kalian dapat menyebut nama kalian yang sebenarnya dan bahan-bahan yang ada pada kalian dalam tugas kalian”

Kedua anak muda itu ragu-ragu sejenak. Namun kemudian mereka berusaha untuk menghilangkan segala prasangka. Karena itu maka Mahisa Murti pun menjawab, “Namaku adalah Mahisa Murti, dan saudaraku ini bernama Mahisa Pukat. Kami datang dari Talang Amba, satu daerah yang menjadi sasaran serangan Pangeran Lembu Sabdata itu ditangkap dan jatuh ke tangan orang-orang Singasari Namun kedatangan Pangeran Singa Narpada telah membawanya ke Kediri. Meskipun akhirnya terjadi sesuatu yang agaknya kurang wajar”

Pemilik warung itu mengangguk-angguk. Ia pun dapat mengerti kenapa kedua orang anak muda itu berkepentingan dengan Pangeran Kuda Permati. Namun kemudian ia pun bertanya pula, “Anak-anak muda. Apakah kalian memang anak-anak muda dari Talang Amba?”

Mahisa Murti pun kemudian menceriterakan tentang dirinya dan tentang Mahisa Pukat. Ia sadar, bahwa dengan demikian, maka tugasnya berdua tidak akan banyak terganggu oleh prasangka. Jika orang-orang itu mempercayainya dan mengetahui latar belakang kehadirannya, maka ia akan mendapat bantuan seperti yang dikehendakinya.

Pemilik warung itu pun memperhatikan segala ceriteranya dengan saksama. Kemudian dengan suara datar ia pun berkata, “Pantas. Memang kalian tidak akan mendapat pertanda bahwa kalian termasuk dalam jajaran petugas sandi jika kalian memang tidak mempunyai kelebihan apa-apa. Kelebihan kemampuan kalian telah kami ketahui. Kalian mampu melampaui hambatan-hambatan yang kami pasang. Bahkan kemudian ternyata kalian memang anak-anak muda yang pantas untuk mendapat kehormatan, karena kalian kemenakan Mahisa Agni dan adik Mahisa Bungalan. Seorang Senopati yang penunjul”

“Tetapi mungkin kami akan mengecewakan kalian” berkata Mahisa Pukat kemudian.

“Entahlah apa yang akan terjadi. Tetapi kita akan berusaha untuk bekerja bersama. Biarlah kalian hari ini beristirahat secukupnya. Besok kalian akau membantu aku di warung itu sebelum kalian mendapatkan jalan, apa yang harus kau lakukan kemudian. Pada hari-hari tertentu kalian dapat berada di warung itu. Apalagi pada hari-hari Keliwon. Biasanya pada hari-hari itu warungku banyak dikunjungi orang, karena pasar itu memang menjadi lebih ramai dari hari-hari biasanya” berkata pemilik warung itu, lalu, “Sementara itu, dalam usaha kailan melaksanakan tugas kalian, kalian dapat berhubungan langsung dengan kedua orang ini. Pada saat-saat aku tidak ada, kedua orang ini akan memberikan banyak petunjuk dan bimbingan bagi kalian, berdua”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk kecil. Sekilas diamatinya kedua orang yang sebelumnya belum pernah dilihatnya itu. Sementara itu pemilik warung itu berkata, “Yang seorang bernama Watang Cemani sedang yang lain adalah Lembu Panenggak. Keduanya adalah kawan-kawanku terdekat”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Namun hampir di luar sadarnya, Mahisa Pukat pun bertanya, “Sedangkan Ki Sanak sendiri?”

Orang itu mengerutkan keningnya. Namun ia pun kemudian tersenyum. Jawabnya, “Namaku Dandang Panumping”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih mengangguk-angguk. Sementara itu, pemilik warung yang menyebut dirinya bernama Dandang Panumping itu berkata, “Tetapi anak-anak muda, sebagai penjual di warung itu namaku adalah Ki Pugutrawe”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih saja mengangguk-angguk. Mereka harus mengingat-ingat nama itu. Di warung ia harus memanggil orang itu Ki Pugutrawe.

Dalam pada itu, maka Ki Pugutrawe itu pun kemudian berkata, “Sudahlah, Aku sudah kesiangan hari ini. Aku akan segera menyusul daganganku. Sebentar lagi orang-orang akan memerlukan makan pagi. Dan aku harus melayani mereka”

Demikianlah, maka pemilik warung yang menyebut dirinya bernama Ki Pugutrawe itu pun telah bersiap-siap untuk berangkat, sementara Mahisa Murti dan Mahisa Pukat dipersilahkan kembali ke dalam biliknya. Hari itu mereka masih belum mempunyai tugas apapun juga. Mereka masih mendapat kesempatan untuk beristirahat.

Karena itu maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun kemudian mendapat kesempatan untuk kembali ke dalam biliknya sementara Pugutrawe masih berpesan, “Kedua orang yang akan memberi kalian bimbingan ini tinggal di rumah ini pula. Mereka ada di gandok sebelah Timur. Namun demikian kalian harus ikut menjaga, agar rumah ini nampaknya tetap lengang dan tidak penuh dengan orang-orang yang dapat menarik perhatian. Jika tidak penting sekali, kalian jangan berkeliaran di halaman depan. Sementara halaman rumah ini telah aku bawakan dengan kesibukan orang-orang yang membantu aku sebagai pemilik warung itu. Mereka adalah orang-orang yang setiap kali datang menjual kayu bakar, daun pisang dan kebutuhan-kebutuhan lain. Sebuah pedati dengan orang-orang yang memelihara lembunya dan beberapa orang untuk kepentingan-kepentingan lain”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah mendapat gambaran yang agak lengkap dengan isi rumah itu. Karena itu, maka mereka pun kemudian telah kembali ke dalam bilik untuk beristirahat.

Ketika mereka duduk di serambi, maka orang yang bertubuh raksasa itu datang mendekat. Kemudian ia pun duduk pula di sebelah mereka sambil bertanya, “He, dari mana kalian mendapat ilmu iblis kalian itu? Anak-anak yang masih semuda kalian mampu mempermainkan aku. Sebenarnyalah aku benar-benar menjadi marah terhadap kalian”

Mahisa Pukat tertawa. Katanya, “Kau memiliki modal yang luar biasa. Tetapi kau tidak sempat mengembangkan ilmumu lebih jauh. Kau mempunyai kekuatan raksasa sesuai dengan tubuhmu”

“Ya. Aku memang tidak sempat. Tetapi aku akan mencari waktu khusus untuk itu. Aku mudah mendapat ijin dari Pugutrawe untuk melakukannya” berkata orang bertubuh raksasa itu, “he, apakah kalian mau berlatih bersama aku?”

“Apakah di sini tidak ada orang lain?” bertanya Mahisa Murti.

“Aku agak segan dengan Watang Cemani dan Lembu Penenggak. Mereka adalah orang yang terlalu bersungguh-sungguh dalam banyak hal” jawab orang bertubuh raksasa itu.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Menurut pengamatan mereka yang hanya sekilas, kedua orang itu nampaknya memang pendiam dan tidak banyak bicara. Selama mereka berada di ruang dalam, keduanya sama sekali tidak menunjukkan sikap yang ramah. Wajah keduanya memang nampak selalu bersungguh-sungguh.

Namun dalam pada itu Mahisa Pukat pun kemudian bertanya kepada, raksasa itu, “Bagaimana anggapanmu tentang kami? Apakah kau mengira bahwa kami tidak selalu bersuugguh-sungguh, sehingga kau tidak segan menyatakan niatmu kepadaku?”

“Jangan mengada-ada. Aku tahu, kalian bukan orang-orang garang. Ketika kalian terlibat dalam perkelahian yang seru, kalian masih sempat mempermainkan aku” jawab orang bertubuh tinggi besar itu, “dengan demikian aku menganggap bahwa kalian memang orang-orang yang tidak terlalu kaku, dan bahkan sedikit mempunyai sifat Jenaka”

Mahisa Pukat tertawa. Katanya, “Sukurlah jika masih ada orang yang menganggap kami demikian. Sebenarnyalah kami adalah orang-orang yang kasar dan sama sekali tidak mengenal gurau”

“Omong kosong” sahut raksasa itu, “bagaimana sifat dan keadaan, aku ingin mendapat kesempatan untuk meningkatkan ilmu meskipun hanya dalam kesempatan yang terbatas”

Mahisa Pukat mengangguk. Jawabnya, “Baiklah. Kita dapat mengatur waktu. Aku belum tahu, kewajiban apakah yang harus aku lakukan. Tetapi aku kira, bahwa aku tidak hanya akan berada di rumah ini. Rumah ini hanyalah sekedar tempat persinggahan untuk memberikan laporan-laporan dan mendapatkan petunjuk-petunjuk yang kami perlukan”

Orang itu mengangguk-angguk. Jawabnya, “Ya. Demikian pula yang dilakukan oleh orang-orang lain. Mereka pada umumnya memang tidak tinggal di rumah ini” orang itu berhenti sejenak, Lalu, “Nah, jika demikian, mumpung kalian untuk sementara masih berada di rumah ini”

Mahisa Pukat pun mengangguk sambil tersenyum. Katanya, “Baiklah. Aku setuju. Besok kita akan mulai, apakah di sini ada sanggar yang memadai?”

“Tidak usah dengan sanggar. Kita dapat berlatih di tempat terbuka. Di halaman belakang yang rimbun oleh pepohonan. Tetapi sudah barang tentu di malam hari”

“Apakah bunyi gaduh yang timbul tidak akan menarik perhatian?” bertanya Mahisa Murti.

“Kita dapat mempergunakan tempat yang paling sepi, tempat yang agak jauh dengan tetangga dan tempat-tempat yang dihuni orang di halaman ini” jawab orang bertubuh raksasa itu.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Keduanya memang tidak berkeberatan. Apalagi Pututrawe sudah memberi ijin kepada orang bertubuh raksasa itu. Meskipun agaknya Pututrawe bukan orang tertinggi, tetapi ia tentu memiliki pengaruh yang besar di antara mereka.

Namun sementara itu, selagi mereka masih berbicara tentang kemungkinan-kemungkinan latihan untuk meningkatkan ilmu masing-masing, maka mereka tertegun ketika mereka melihat Watang Cemani muncul dari sudut rumah itu dan berada di serambi.

“O” orang bertubuh raksasa itu tergagap, “marilah”

“Aku akan berbicara dengan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat” jawab Watang Cemani dengan wajah yang sama sekali tidak berubah. Wajah yang selalu nampak bersungguh-sungguh.

“Silahkan” jawab orang bertubuh raksasa itu.

“Aku memerlukan mereka di ruang dalam” gumam Watang Cemani.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat saling berpandangan. Namun mereka pun kemudian bangkit sambil bersiap-siap untuk mengikuti Watang Cemani.

“Kau tinggal di sini” berkata Watang Cemani kepada orang bertubuh tinggi besar itu.

Orang itu termangu-mangu. Namun ia pun kemudian mengangguk sambil menjawab, “Baiklah. Aku tinggal di sini”

Watang Cemani pun kemudian meninggalkan serambi itu, sementara Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun mengikutinya menuju ke ruang dalam.

Diruang itu telah menunggu Lembu Penenggak. Seperti Watang Cemani, maka wajah Lembu Panenggak pun nampaknya selalu bersungguh-sungguh.

“Marilah anak-anak” desis Lembu Panenggak dengan suara yang datar.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun kemudian duduk di hadapan Lembu Panenggak, sementara Watang Cemani pun telah duduk pula di samping Lembu Panenggak.

“Ada yang ingin kami ketahui tentang kalian” berkata Lembu Panenggak.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat termangu-mangu. Tetapi mereka tidak menjawab.

“Siapakah sebenarnya yang telah memerintahkan kalian berdua kemari?” bertanya Lembu Panenggak

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengerutkan keningnya. Sejenak mereka termangu-mangu. Namun Mahisa Murti pun kemudian menjawab, “Sudah kami ceriterakan, bagaimana kami dapat mencapai tempat ini”

“Ya. Tetapi siapakah yang memerintahkan kalian” ulang Lembu Panenggak dengan nada berat.

Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Lalu, “Senapati dari Singasari yang memimpin sepasukan prajurit di Talang Amba untuk menghadapi pasukan Pangeran Lembu Sabdata”

Lembu Panenggak mengerutkan keningnya. Wajan memancarkan perasaan yang sulit ditebak.

“Anak-anak” berkata Lembu Panenggak kemudian, “sebenarnya aku merasa heran, bahwa seorang Senapati memerintahkan kalian untuk datang kemari dalam tugas sandi. Apakah Senapati itu tidak mempunyai petugas-petugas sendiri-sendiri, sehinggat merekalah yang akan mendapat tugas yang berat ini. Petugas-petugas sandi memerlukan latihan khusus untuk melaksanakan tugasnva. Sedangkan kalian adalah anak-anak ingusan yang di samping tidak mengenal paugeran dan kebiasaan-kebiasaan dalam tugas sandi ini”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat saling berpandangan sejenak. Namun Mahisa Murti pun kemudian menjawab, “Kami memang tidak mendapat latihan apapun dalam tugas ini. Kami hanya merasa terpanggil untuk membantu menjernihkan kekeruhan yang terjadi di Talang Amba. Namun kami pun tertarik keadaan keganjilan-keganjilan yang terjadi di Kediri, bahwa menurut pendengaran kami, ada semacam salah paham yang telah terjadi setelah Pangeran Singa Narpada kembali dari Talang Amba”

“Hanya itu?” bertanya Lembu Panenggak.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menjadi, bingung, sehingga Mahisa Murti pun bertanya, “Aku tidak tahu yang kau maksudkan”

“Ternyata kalian memang anak-anak yang bodoh. Dengar baik-baik” berkata Lembu Panenggak, “apakah hanya karena itu maka kalian merasa terpanggil? Apakah kalian tahu, dimanakah letak istana Kediri. Di mana istana Pangeran Singa Narpada, Pangeran Lembu Sabdata dan Pangeran Kuda Permati. Apakah kalian mengenal salah seorang dari keluarga mereka sehingga kalian akan dapat mencari hubungan untuk mengetahui persoalan yang berkembang di antara mereka. Apalagi apakah kalian mempunyai hubungan dengan orang-orang yang berada di sekitar Sri Baginda untuk mendapatkan penjelasan tentang sikap Sri Baginda atas Pangeran Singa Narpada?”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menjadi semakin bingung. Sambil menggeleng Mahisa Pukat itu pun menjawab, “Tidak. Kami tidak tahu apa-apa tentang semuanya itu. Sekali lagi aku katakan, bahwa kami hanya merasa terpanggil untuk ikut mempertahankan Talang Amba dan Gagelang. Jika kami terlempar ke tempat ini, sebenarnya hanyalah kelanjutan saja dari sikap kami. Namun kami tidak terlalu bodoh untuk mendengarkan keterangan tentang semua yang belum kami ketahui. Kami ternyata mampu menemukan rumah ini dan berhubungan dengan Dandang Penumping”

Wajah Lembu Panenggak menjadi tegang Dipandanginya Mahisa Pukat dengan sorot mata tajam. Sementara itu terdengar ia berkata, “Kau semakin menunjukkan kebodohan. Mencari Dandang Penumping bukan satu soal yang dapat dibanggakan. Anak anak kecil pun akan dapat melakukannya. Tetapi yang aku tanyakan adalah bobot dari alasanmu datang kemari dan jangkauan pengetahuanmu tentang medan yang akan kau hadapi”

“Semuanya sudah kami katakan” jawab Mahisa Pukat “apa lagi”

“Kami meragukan keterangan kalian yang kalian katakan kepada Dandang Penumping dan kepada kami” berkata Lembu Panenggak.

Wajah Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menjadi tegang. Sementara itu Mahisa Pukat berkata lantang, “Terserah. Itu hakmu. Tetapi kami memakai cincin yang diberikan oleh seorang Senapati dari Singasari.

“Kami juga meragukan keaslian cincin itu” jawab Lembu Panenggak itu dengan tegas.

Jawaban itu benar-benar mengejutkan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Karena itu, maka dengan wajah yang tegang dan suara yang bergetar Mahisa Pukat menjawab, “Ternyata kami justru telah meragukan kalian berdua. Ternyata kalian tidak dapat mengenali keaslian cincin yang kami pakai. Dengan demikian maka kalian berdua bukan seorang yang tahu pasti akan pertanda yang sudah disiapkan oleh Singasari”

Sementara itu Mahisa Murti pun menyambung, “Kau sudah menempatkan dirimu pada keadaan yang sulit dalam pandangan kami, Seandainya kalian tidak mengenal cincin ini sebagai cincin yang memang benar-benar diserahkan oleh seorang pemimpin dari lingkungan petugas sandi, maka kau memang pantas dicurigai. Apalagi karena kau sudah berhasil memasuki rumah ini, satu lingkungan yang menurut pendapat kami, pasti merupakan lingkungan dari banyak lingkungan para petugas sandi, sebaiknya jika alasan itu hanya sekedar alasan, ketidak percayaan kalian terhadap kami berdua, maka kau telah menempatkan dirimu berhadapan langsung dengan dengan Senapati yang telah memberikan cincin itu kepada kami. Siapa pun kami, betapapun bodoh dan dungunya kami berdua, tetapi kami sudah mendapatkan kepercayaan itu dari Senapati yang berwenang memberikan pertanda itu kepada kami. Dengan demikian, maka jika kau tidak mengakui pertanda ini, maka sepantasnya kau mendapat perhatian khusus dari Singasari”

“Anak-anak gila” geram Lembu mulai mengancam dengan cara yang sudah terlalu sering dipergunakan oleh orang-orang seperti kalian. Tetapi semuanya itu tidak ada gunanya. Kalian akan tetap dianggap sebagai orang-orang yang telah dengan sengaja menyusup ke dalam lingkungan kami”

“Bagus” jawab Mahisa Pukat, “kau mau apa?”

Wajah orang itu menjadi merah, sementara itu Mahisa Murti melanjutkan, “Itulah sebabnya, maka Singasari dengan penuh kebijaksanaan telah mengirimkan orang ketiga bersama kami. Orang yang akan mengawasi kami tetapi juga akan melindungi kami. Orang yang berasal dari lingkungan keprajuritan Singasari sendiri”

Ketegangan nampaknya telah mencengkam jantung Lembu Panenggak. Dipandanginya Watang Cemani sejenak. Namun kemudian Lembu Panenggak itu tertawa. Katanya, “Sekarang kami semakin yakin bahwa kalian memang orang yang tidak pantas berada di antara kami. Seorang petugas sandi yang sebenarnya tidak akan menyebut orang lain dari lingkungannya, yang akan dapat membuka jalur menelitian terhadap kawan-kawannya. Dengan menyebut orang ketiga, maka kalian telah menyatakan diri, bahwa kalian memang bukan orang-orang yang pantas menyebut diri petugas sandi”

Kedua anak muda itulah yang menjadi semakin tegang. Tetapi Mahisa Pukat dengan segera menjawab, “Kau memang jauh lebih bodoh dari yang aku duga. Kau kira dalam hubungan sandi, aku dapat menunjukkan seseorang. Jika kalian menuduh bahwa kami telah menyeret seorang lagi di antara kami ke dalam malapetaka, maka kau sama sekali tidak mengerti tubuh dari petugas sandi. Tidak seorang pun yang tahu, siapakah yang mendampingi dan mengawasi. Tetapi dengan penuh kesadaran bahwa orang itu ada di sekitar kami. Nah, apa katamu”

Lembu Panenggak menggeretakkan giginya. Katanya, “Sikap kalian sangat sombong. Kalian sangka, apakah kalian akan dapat menyelamatkan diri dari tangan kami. Kami akan menangkap kalian. Kami tidak mempedulikan Dandang Penumping. Setelah kalian berdua kami selesaikan, maka barulah kami akan melaporkannya kepada Dandang Penumping”

Wajah Mahisa Pukat pun telah, membara. Katanya, “Jika benar kami memasuki mulut serigala, maka kami tidak akan membiarkan diri kami untuk dikunyah. Tetapi kami akan memotong tenggorokan serigala itu dan membunuhnya. Karena itu, jangan menganggap bahwa kami akan menyerah. Kami akan menyerah bersama lepasnya nyawa kami”

“Omong kosong” geram Lembu Panenggak, “kami mampu menangkap kalian dan memeras keterangan tentang orang ketiga yang kau sebut”

Mahisaa Murti pun yang kemudian menjawab dengan suaranya bergetar, “Sebenarnya kami menghormati kalian berdua. Tetapi kami bukan kambing perahan yang dapat kau perlakukan sekehendak hatia. Kami akan mempertahankan diri sampai batas terakhir daria kemampuan kami, apapun kalian akan bertempur berdua saja, atau kalian masih ingin memanggil kawan”

“Gila” geram Lembu Panenggak, “darahku sudah mendidih. Apakah kau tidak menyadari, bahwa sikap kalian akan membawa akibat yang lebih buruk dari mati”

“Akibat apapun tidak akan dapat memaksa kami untuk menyerahkan leher kami. Bersiaplah. Kita akan menentukan, siapakah di antara kita yang pantas berada di rumah ini menunggu kedatangan Dandang Panumping” tantang Mahisa Murti.

Dalam pada itu Watang Cemani pun telah bergeser men- dekati Lembu Panenggak. Wajahnya pun menjadi tegang dan sikapnya menjadi garang.

Namun dalam pada itu, Lembu Panenggak menarik nafas dalam-dalam sambil berkata, “Kalian benar-benar sudah jemu hidup”

“Jangan aneh-aneh” berkata Mahisa murti, “jika kalian ingin berbuat sesuatu yang menarik kalian adalah benar, maka lakukanlah sebagaimana kami pun akan berbuat sesuai dengan keyakinan kami”

Lembu Panenggak memandang kedua anak muda itu sejenak. Namun kemudian katanya, “Ternyata kalian masih beruntung. Dalam keadaan yang menentukan, aku mendengar kedatangan seseorang yang tidak perlu tahu tentang keadaan rumah ini meskipun ia terbiasa keluar masuk tanpa hambatan”

“Apa maksudmu?” bertanya Mahisa Murti.

Lembu Panenggak terdiam sejenak. Di luar memang terdengar langkah seseorang. Sejenak kemudian, pintu berse-rit. Sebuah kepala muncul menjenguk ke dalam.

“He” desis orang itu, “apa yang sedang kalian lakukan?”

Lembu Panenggak yang tegang, tiba-tiba saja menjadi ramah dan menjawab, “Tidak apa-apa Kiai. Marilah”

Orang itu melangkah masuk. Dilihatnya Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang agaknya belum dikenalnya. Dengan ramah orang itu menyapanya, “Siapa kalian? Aku yang setiap hari datang kemari, belum pernah melihat kalian berdua di sini”

“Keduanya adalah saudara Pugutrawe” jawab Lembu Panenggak mendahului Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang termangu-mangu.

“O” orang itu mengangguk-angguk, “kebetulan sekali ada kalian sekarang ini. Tolong, ambilkan aku kelapa muda”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat termangu-mangu. Sebelum mereka menjawab orang itu mendesak, “Ayo. Jangan ragu-ragu. Pugutrawe sendiri sering memanjat untuk mengambil kelapa muda bagiku”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih termangu-mangu. Karena itu maka orang itu pun semakin mendesaknya, “Cepat. Kenapa kalian hanya mematung saja?”

Dalam pada itu sebelum Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menjawab, maka Lembu Panenggaklah yang menyahut, “Baiklah kiai. Biarlah seseorang mengambil kelapa muda itu untuk Kiai. Tetapi bukankah salah seorang dari keduanya”

Orang itu mengerutkan keningnya. Tetapi ia pun kemudian bertanya, “Kenapa dengan dua orang anak ini?. Apakah mereka memang pemalas?”

“Mereka baru saja datang, sehingga keduanya masih terlalu letih untuk memanjat sebatang pohon kelapa” jawab Lembu Panenggak.

Orang itu mengangguk-angguk katanya “Terserah, siapa saja yang akan memanjat. Aku memerlukan dua buah kelapa muda itu”

Lembu Panenggak dan Watang Cemani pun tiba-tiba telah meninggalkan ruangan itu mengikuti orang yang ingin mendapat dua butir kelapa muda itu dengan meninggalkan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat begitu saja.

Beberapa saat lamanya, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat termangu-mangu di tempatnya. Namun akhirnya Mahisa Murti pun berkata, “Marilah. Kita kembali ke bilik kita”

Mahisa Pukat tidak menjawab. Namun keduanya kemudian meninggalkan ruang itu dan kembali ke dalam bilik mereka berdua.

Ketika mereka sampai ke bilik mereka, orang yang bertubuh tinggi besar itu ternyata justru telah tertidur dengan nyenyaknya di lantai, tanpa alas apapun juga.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak membangunkannya. Justru keduanya telah berbaring di pembaringannya.

“Orang itu agaknya memang gila” geram Mahisa Pukat, “jika keduanya menyusul kemari, apaboleh buat. Bukan salah kita jika terjadi sesuatu”

Mahisa Murti termangu-mangu. Namun kemudian ia pun berkata, “Aku kurang mengerti, apakah sebenarnya yang baru saja terjadi”

“Yang kau maksud, apakah mereka benar-benar akan melakukan seperti yang dikatakannya?” bertanya Mahisa Pukat.

“Ya” jawab Mahisa Murti.

Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Memang perasaanku pun condong untuk menduga demikian. Tetapi kita harus tetap berhati-hati”

“Aku mengerti” jawab Mahisa Murti, “karena itu, kita jangan sampai tertidur bersama-sama. Apakah itu siang, apakah malam hari”

Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Jawabnya, “Bagaimanapun juga kedua orang itu memang aneh”

Dalam pada itu, Watang Cemani, Lembu Panenggak dan orang yang ingin mendapatkan dua butir kelapa itu pun terhenti di sudut kandang, beberapa langkah dari sebatang pohon kelapa yang tidak terlalu tinggi, tetapi buahnya cukup lebat.

Namun ternyata mereka tidak mencari orang untuk memanjat pohon kelapa itu. Sementara itu, dengan kata-kata yang bernada dalam, Lembu Panenggak berkata, “Keduanya mempunyai ketahanan jiwani yang tinggi. Keduanya sama sekali tidak menunjukkan kecemasan atau gentar ketika aku menggertaknya. Bahkan mengancamnya untuk membunuh”

Orang yang menginginkan dua butir kelapa muda itu tertawa. Katanya, “Kau justru telah hanyut ke dalam arus perasaanmu. Agaknya kau benar-benar menjadi marah”

“Jawaban anak-anak itu memang membuat telinga ini menjadi merah” jawab Lembu Panenggak, “Aku hampir kehilangan pengamatan diri. Anak-anak itu sama sekali tidak mengenal takut. Mereka menantang kami dengan tatag”

“Menurut pengamatanku, keduanya memang pantas untuk berada dalam lingkungan petugas sandi” berkata Watang Cemani. Orang yang mengatakan ingin mendapat dua butir kelapa muda itu mengangguk-angguK. Lalu katanya, “Kalian harus membuat laporan terperinci kepada .Dandang Penumping”

“Ya. Watang Cemani akan pergi ke warungnya. Ia berpesan, agar segala sesuatunya segera dilaporkan tanpa menunggu ia kembali” berkata Lembu Panenggak.

“Tetapi jangan sampai terjadi salah paham. Kedua anak itu jangan sampai meninggalkan tempat ini karena perlakuanmu” berkata orang yang ingin mendapatkan kelapa muda itu.

“Menilik sikapnya yang keras, mereka tidak akan pergi. Bahkan keduanya telah siap untuk bertahan jika ada seseorang yang memaksanya untuk pergi. Ia merasa sudah mendapatkan haknya untuk tinggal di sini. Selain ciri yang dipakainya yang didapatkannya dari Singasari, ia pun merasa sudah diterima oleh Dandang Penumping” berkata Lembu Panenggak.

“Baiklah” berkata orang yang menyebut dirinya ingin mendapatkan kelapa muda itu, “tetapi pada suatu saat, mereka harus mengerti bahwa kalian tidak bersungguh-sungguh. Menilik sikap mereka yang keras, maka mereka tidak akan mudah melupakan mereka yang keras, maka mereka tidak akan mudah melupakan peristiwa ini jika kalian tidak memberikan penjelasan kepada keduanya”

Lembu Panenggak mengangguk-angguk. Katanya, “Hatiku benar-benar terbakar. Untunglah aku selalu menyadari tugasku. Tetapi biarlah Dandang Penumping yang mengatakan kepada anak-anak itu. Selama aku bertugas, aku belum pernah mengalami kekerasan sikap seperti itu”

“Keduanya adalah adik Mahisa Bungalan. Senapati besar yang keras hati” berkata Watang Cemani, “bukanlah sifat itu nampakjuga pada keduanya.?

Yang lain mengangguk-angguk. Namun kemudian orang yang mengatakan memerlukan dua buah kelapa muda itu pun kemudian berkata, “Aku benar-benar akan mengambil kelapa muda”

Lembu Panenggak tidak mencegahnya Orang itu kemudian memanjat dengan cekatan. Dalam waktu yang singkat, dua buah kelapa muda sudah terjatuh dari tangkainya.

“Sudahlah” berkata orang itu, “Aku akan pergi. Aku akan datang menjelang malam. Hati-hatilah dengan anak-anak muda itu. Jika kau ingin melakukan, sesuatu, sebaiknya kau hubungi aku seperti yang tadi kau lakukan”

“Baiklah” jawab Lembu Panenggak, “mudah-mudahan keduanya akan mampu dikendalikan dengan baik sesuai dengan tugas.

Demikianlah, maka orang yang membawa dua butir kelapa muda itu pun minta diri. Ia sempat sungguh di ruang yang telah kosong. Namun orang itu mengerti, bahwa Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tentu sudah berada di biliknya, sehingga ia pun singgah pula sejenak.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat terkejut ketika seseorang memasuki bilik mereka. Demikian pintu berderit, maka keduanya telah berdiri tegak menghadap pintu.

Namun yang berdiri di pintu itu adalah orang yang memerlukan dua butir kelapa muda.

“Aku sudah mendapatkan kelapa muda itu anak-anak” berkata orang itu.

“O, sukurlah” jawab Mahisa Murti. Lalu, “Kami mohon maaf bahwa kami tidak dapat mengambil kelapa muda itu”

“O, tidak apa-apa. Bukankah yang penting bahwa aku telah mendapatkannya” berkata orang itu. Lalu, “Baiklah, beristirahatlah. Aku akan pulang”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak menjawab. Mereka memandangi saja ketika orang itu kemudian meninggalkan biliknya tanpa menutup pintu. Sekilas orang itu sempat melihat raksasa yang tidur sambil mendekur.

“Pemalas itu tidur di sini” desis orang itu sambil melangkah pergi.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Ketika Mahisa Pukat menutup pintu bilik itu, maka orang bertubuh tinggi besar yang tertidur itu pun telah terbangun.

“O, ada apa dengan kalian?” bertanya raksasa itu.

“Tidak ada apa-apa” jawab Mahisa Pukat.

“Orang itu mengusap matanya sambil bangkit dan duduk bersandar dinding. Katanya, “Aku bermimpi ada orang yang baru saja memasuki bilik ini”

“Kau tidak bermimpi. Memang ada orang yang baru saja keluar dari bilik ini. Ia sempat melihat kau tidur mendekur” jawab Mahisa Pukat.

“Karena itu, aku memang bermimpi. Tidak mungkin aku mendengar kehadirannya sambil mendekur” jawab raksasa itu.

“Mungkin” jawab Mahisa Murti, “tetapi di dalam mimpimu siapakah yang telah datang ke bilik ini?”

Orang itu menggeleng. Gumamnya seakan-akan kepada diri sendiri Aku tidak mengenalnya”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Agaknya orang itu memang sedang bermimpi, jika ia tidak bermimpi, maka seharusnya ia mengerti siapakah orang yang menginginkan kelapa muda itu.

“Dalam pada itu ketika Mahisa Murti dan Mahisa Pukat kembali berbaring di pembaringan mereka, maka Lembu Panenggak telah meninggalkan rumah itu. Sebagaimana biasa, ia hanya mengenakan pakaian orang kebanyakan. Dengan sebuah keba dari pandan yang dikepitnya, ia pun berjalan tergesa-gesa meninggalkan regol halaman menuju ke warung Pugutrawe.

Tidak seorang pun yang menaruh perhatian kepadanya. Rumah Pugutrawe memang sering didatangi oleh banyak orang. Kadang-kadang menawarkan kayu bakar. Kadang-kadang daun pisang atau beras. Tetangga-tetangganya mengetahui bahwa Pugutrawe membuka sebuah warung nasi dan beberapa jenis makanan. Meskipun warung itu pada mulanya tidak terlalu besar. Tetapi agaknya warung itu berkembang dengan baik, sehingga semakin lama semakin besar sebagaimana warung-warung yang lain di sekitar warungnya.

Seandainya tempat pertemuan beberapa jenis barang itu masih tetap seramai sebelumnya, maka perkembangan warung Pugutrawe tentu semakin baik. Tetapi keramaian tempat itu semakin lama nampaknya semakin susut. Apalagi pada saat-saat terakhir, kadang-kadang timbul kekerasan yang dapat membuat orang-orang kecil dipengaruhi juga. oleh perkembangan persoalan yang lebih besar. Kekurangan yang terjadi di Kediri memang sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan putaran perdagangan rakyat kecil. Apalagi di daerah perbatasan yang sejak tersingkirnya Pangeran Kuda Permati menjadi daerah yang sangat rawan. Kadang-kadang muncul orang-orang yang menjadi pengikut Pangeran Kuda Permati. Memungut pajak dan barang-barang sesuai dengan kehendaknya sendiri, sementara Kediri masih belum sempat melindungi orang-orang yang terpaksa menuruti kehendak para pengikut Pengeran Kuda Permati.

Persoalan inilah yang disoroti dengan tajamnya oleh para petugas sandi dari Singasari. Ketika Lembu Panenggak memasuki warung Pugutrawe, maka beberapa orang telah berada di dalam warung itu. Seorang yang bertubuh gemuk sedang sibuk menyuapi mulutnya dengan nasi dan lauk pauknya. Semetara orang lain yang bertubuh kurus, tengah menikmati minuman panasnya. Sekali-sekali terdengarjn mulutnya berdesis, segumpal demi segumpal ia mengunyah gula kelapa.

Kemudian dihirupnya wedang sereh yang panas dari mangkuknya.
Lembu Panenggak menelan ludahnya Rasa-rasanya ia pun telah menjadi sangat haus.

“Wedang sere” tiba-tiba Lembu Penenggak memesan minuman, “gulanya jangan dimasukkan ke dalam wedang sere itu”

Pugutrawe tersenyum. Katanya, “Buat sendirilah”

Lembu Panenggak menarik nafas dalam-dalam. Orang bertubuh kurus yang sedang menikmati minuman panas itu pun memandanginya sejenak. Namun ia pun kemudian tidak memperhatikannya lagi.

Ketika kemudian Pugutrawe memberikan mangkuk itu kepada Lembu Panenggak, maka Lembu Panenggak itu pun berdesis, “Aku sudah memanggil kedua anak muda itu”

Pugutrawe tersenyum. Perlahan-lahan ia bertanya, “Bagaimana kesanmu atas mereka?”

“Aku kagum kepada mereka. Mereka mempunyai tekad yang sangat teguh. Tetapi mereka masih kekanak-kanakan. Mereka memerlukan beberapa petunjuk untuk mengendalikan perasaan mereka.

Pugutrawe mengangguk-angguk. Ia memang sudah menduganya.

Dalam pada itu, Lembu Panenggak pun telah duduk pula sambil meneguk wedang serenya. Beberapa orang memandanginya. Nampaknya orang, yang sedang meneguk wedang seresambil mengunyah gula kelapa itu sudah terlalu biasa berada di warung itu.

Pugutrawe melihat tatapan mata beberapa orang yang sedang berada di warungnya itu. Karena itu, maka katanya kemudian kepada orang gemuk yang sudah selesai makan, “Ini adalah adikku”

Orang gemuk itu mengangguk-angguk. Katanya, “Rasa-rasanya aku pernah melihatnya”

“Agaknya di warung ini juga. Ia sering berada di warung ini jika haus atau lapar. Tetapi ia malas untuk membantu aku bekerja di sini” berkata Pugutrawe.

Orang yang gemuk itu pun menyahut sambil mengusap mulutnya, “Seharusnya ia tidak boleh malas. Lalu apa kerjanya sehari- harinya?”

“Disawah” jawabi Pugutrawe.

“O, Artinya ia bekerja juga. Bukan sekedar bermalas-malasan meskipun tidak membantu di warung ini” berkata orang gemuk itu, “memang seseorang dapat memilih pekerjaannya sendiri. Aku juga tidak mau bekerja di warung seperti ini. Aku lebih suka menjadi tengkulak hasil bumi seperti yang aku lakukan sekarang. Jika aku lapar, aku dapat membeli makanan di warung-warung yang tersebar”

“Orang lain akan memilih tugas yang lain pula” orang bertubuh kurus itu pun tiba-tiba menyahut.

“Itulah bijaksananya yang memberikan rejeki kepada kita masing-masing dengan cara yang berbeda-beda, sehingga kita tidak saling berebut pada pilihan yang sama” berkata Pugutraewe.

Orang-orang yang berada di warung itu mengangguk-angguk. Sementara itu Lembu Panenggak masih saja menghirup minumannya sambil tersenyum di dalam hatinya.

Dalam pada itu, maka satu dua orang yang berada di dalam warung itu sudah melangkah keluar. Seorang lain memasuki warung itu dengan tidak mengacuhkan orang-orang lain yang sudah ada di dalamnya.

Sambil memungut sepotong makanan dari tambir yang berada di atas paga, maka ia pun berkata, “Apakah kau mempunyai tuak?”

Pugutrawe menggeleng. Jawabnya, “Sayang Ki Sanak. Aku tidak mempunyai persediaan tuak”

Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian sambil mengunyah makanannya ia memesan, “Wedang tape”

Pugutrawe pun kemudian sibuk membuat wedang tape buat orang itu, sementara Lem bu Panenggak sempat memhatikan orang itu dengn saksama. Namun kemudian ia pun berdiri sambil berdesis di telinga Pugutrawe, “Aku sebaiknya pergi saja”

“Ya. Tetapi bagaimana dengan anak-anak itu? Beri mereka kesan yang baik sehingga mereka tidak salah paham atas sikapmu yang barangkali dianggapnya terlalu kasar” berkata Pugutrawe kemudian.

“Aku justru hampir kehilangan kesabaran” jawab Lembu Panenggak “Untunglah, aku masih sempat mengekang diri”

“Baiklah” berkata Pugutrawe kemudian, “mereka akan segera dapat melakukan tugas mereka”

“Jangan tergesa-gesa. Biarlah ia berada di sini lima enam hari, sebelum mereka benar-benar melakukan pekerjaan itu” berkata Lembu Panenggak.

Pugutrawe mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak sempat menjawab ketika orang yang-memesan wedang tapi itu berteriak, “He apakah kau tidak mendengar pesanku”

“O. maaf Ki Sanak” berkata Pugutrawe sambil membawa mangkuk berisi wedang tape yang masih panas dengan gula kelapa yang langsung di masukkan ke dalam mangkuk pula.

Orang itu mengangguk-angguk Sementara Pugutrawe telah berada di luar warung. Tetapi ia tidak segera meninggalkan warung itu. Ternyata ia pergi menuju ke deretan pande besi yang sedang sibuk membuat alat-alat pertanian.

“He” seorang tukang pande yang sudah terbiasa dengan Lembu Panenggak meskipun dengan nama yang berbeda, “apakah kau akan membeli parang atau cangkul?”

Lembu Panenggak kemudian berjongkok di sebelah tukang pande itu. Katanya, “Bukankah baru saja aku membeli cangkul. Kenapa kau tidak bekerja?”

“Beristirahat sejenak. Aku baru saja makan” jawab pande besi itu.

Lembu Panenggak mengangguk-angguk. Tiga orang pembantu tukang pande itu pun masih beristirahat setelah mereka makan.

Dari tempat itu Lembu Panenggak mengamati warung yang baru ditinggalkannya. Didalam ada orang yang pernah dikenalnya sebagai salah seorang yang sering menyatakan dirinya sebagai pemungut pajak bagi perjuangan yang panjang.

“Orang itu tentu mempunyai jalur dengan Pangeran Lembu Permati meskipun jalur itu panjang dan berbelit” berkata Lembu Panenggak di dalam.hatinya.

Tetapi ternyata tidak terjadi sesudah sesuatau di dalam warung itu. Beberapa saat ia menunggu. Sampai saatnya tukang pande itu bangkit dan berkata, “Aku akan bekerja lagi”

“O, silahkan” jawab Lem bu Panenggak. Sementara itu seseorang telah berada di ububannya. Dengan kedua tangannya ia menekan penghembus di dalam ububannya berganti-ganti, sehingga api pun mulai menyala besar.

Dari tempatnya Lembu Panenggak melihat orang yang berada di dalam warungnya itu satu demi satu ke luar, sementara orang lain pun masih seorang demi. seorang. Memang tidak terlalu penuh seperti warung-warung lain yang lebih besar. Namun warung Pugutrawe itu pun mulai berkembang pula.

Ia menarik nafas ketika ternyata orang yang dikenalnya sebagai pemungut pajak itu pun telah melangkah ke luar.

Dengan demikian maka orang yang sering memungut pajak menurut kehendaknya sendiri, meskipun berlandaskan satu tugas juga, tetapi tugas yang tidak dapat dipertanggung jawabkan itu, tidak membuat keributan di warung Pugutrawe.

Karena itu, maka Lembu Panenggak itu pun kemudian meninggalkan pande besi yang sudah mulai bekerja itu, kembali ke rumah yang dihuninya.

Ketika ia memasuki regol halaman, dilihatnya Watang Cemani berada di pendapa. Dengan serta merta ia pun kemudian bertanya, “Bagaimana dengan kedua orang anak muda itu?”

“Mereka masih tetap berada di dalam biliknya” jawab Watang Cemani.

“Aku yakin mereka tidak akan pergi. Hati mereka ternyata sekeras baja” berkata Lembu Panenggak.

“Apa kata Dandang Penumping?” bertanya Watang Cemani.

Lembu Panenggak kemudian menceriterakan pertemuannya dengan Pugutrawe dan tanggapan Pugutrawe atas laporannya tentang kedua anak muda itu.

“Menurut aku, biarlah Dandang Penumping yang mengatakan tentang diri kita dalam hubungan dengan usahamu menjajagi tekad mereka” berkata Watang Cemani, “jika aku atau kau yang menyampaikannya maka keduanya akan sulit untuk mengerti. Kucurigaan mereka tidak akan mudah terhapus”

Lembu Panenggak mengangguk-angguk. Katanya, “Dandang Penumping tentu tidak akan berkeberatan”

Sebenarnyalah, bahwa Pugutrawe memang tidak berkeberatan ketika Lembu Panenggak minta kepadanya, setelah ia pulang dari warungnya. Sementara itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih tetap berada di tempatnya, meskipun keduanya kemudian duduk di serambi. Namun keduanya sama sekali tidak meninggalkan kewaspadaan.

Ketika Pugutrawe mengatakan kepada Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, bahwa Lembu Panenggak tidak bersikap sebagaimana dilakukan itu. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat memang tidak terkejut lagi. Mereka memang sudah menduga, menilik beberapa peristiwa yang telah terjadi sebelumnya atas keduanya.

Namun dalam pada itu. Dandang Penumping itu pun telah memberitahukan kepada mereka, bahwa mereka akan tetap berada di rumah itu untuk dua tiga pekan.

“Dari tumah ini kau akan dapat mengenali keadaan di daerah perbatasan ini” berkata Dandang Penumping.

Senapati Singasari di Talang Amba juga menyebut daerah itu dengan daerah perbatasan. Sehingga dengan demikian maka petunjuk yang dikatakan oleh Dandang Penumping itu mereka terima dengan senang hati.

“Dalam waktu dua atau tiga pekan, kalian akan melihat-lihat keadaan Kediri dari daerah perbatasan ini, sebelum kalian benar-benar akan memasuki medan. Kalian memerlukan pengenalan yang lebih dalam tentang Singasari, orang-orang yang menghuninya dan sikapnya. Baru kemudian kau akan merambah ke pengenalan yang lebih khusus lagi. Karena sebenarnyalah, bukan hanya kau berdua yang merasa perlu untuk mengetahui sikap Sri Baginda atas Pangeran Singa Narpada, Pangeran Kuda Permati dan Pangeran Lembu Sabdata”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam, sementara itu Dandang Penumping berkata selanjutnya, “Tetapi bukan berarti bahwa kehadiran kalian adalah sia-sia. Semakin banyak orang yang membantu dalam tugas ini akan terasa semakin baik. Tetapi sudah barang tentu tidak sembarang orang. Mereka harus orang-orang terpilih. Karena itu maka kalian berdua telah mengalami berbagai macam penjajagan sebelum kalian benar-benar akan terjun. Bahkan aku akan berkata terus terang, bahwa dalam waktu dua tiga pekan ini pun masih merupakan semacam pendadaran bagi kalian”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Dengan nada datar Mahisa Murti berdesis, “Aku mengerti”

“Sukurlah. Karena itu, maka dalam waktu dua tiga pekan, kalian akan lebih banyak mendengar dan melihat. Di hari-hari tertentu kau dapat berada di warung itu”

Demikianlah, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun kemudian telah menjadi pembantu Pugutrawe di warungnya. Keduanya dalam ujud orang kebanyakan, telah membantu menyiapkan pesanan-pesanan orang-orang yang berada di warung Pugutrawe. Pada hari-hari pertama Pugutrawe masih harus banyak memberikan petunjuk-petunjuk. Namun kemudian keduanya pun dengan cepat dapat melakukan sebagaimana dikehendaki oleh Pugutrawe.

Selain menunggui warung itu, maka kadang-kadang dengan Lembu Panenggak dalam ujudnya sebagai orang kebanyakan, kadang-kadang keduanya berada di tempat para pande besi bekerja. Bahkan Mahisa Pukat kadang kadang duduk sambil menekan tangkai ububan dengan kedua tangannya berganti-ganti.

Ternyata kedua anak muda itu cepat sekali menyesuaikan diri dengan kehidupan di sekitar warung itu. Bahkan keduanya pun dengan cepat telah mengenal gadis-gadis yang sering berada di tempat itu untuk menjual hasil pekarangan atau mereka yang memang berjual beli bermacam-macam barang dan hasil bumi.

Tetapi tidak banyak gadis-gadis dan perempuan yang sering mengunjungi warung warung. Kebanyakan dari mereka telah membawa bekal sendiri dari rumah mereka.

Namun dalam pada itu, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah melihat sikap beberapa orang yang kurang wajar. Yang kadang-kadang nampak terlalu kasar.

Dengan cepat Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah menghubungkan mereka dengan para pengikut Pangeran Kuda Permati yang telah meninggalkan Kota Raja.

“Tetapi Pangeran itu sangat berani. Ia tetap berada di daerah perbatasan” gumam Mahisa Pukat.

Dalam pada itu, selama Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pada hari-hari tertentu berada di warung Pugutrawe, maka ia telah banyak mendapat petunjuk-petunjuk. Baik dari Pungutrawe sendiri maupun Lembu Panenggak atau dari Watang Cemani.

Untuk kedua kalinya Mahisa Murti dan Mahisa Pukat melihat seseorang yang mengalami kesulitan karena orang itu telah menyelamatkan kudanya dari para pengikut Pangeran Kuda Permati. Dengan kasar orang-orang Pangeran Kuda Permati memaksa pemilik kuda itu untuk mencarikan gantinya meskipun ia harus menjual kuda itu untuk mencarikan gantinya meskipun ia harus menjual miliknya yang lain.

Dengan diam-diam Mahisa Murti dan Mahisa Pukat berusaha untuk mengetahui rumah orang yang dipersalahkan karena menyelamatkan kudanya itu.

“Hati-hatilah” berkata Pugutrawe, “kau tahu siapa kau berdua dan siapakah orang-orang itu”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Mereka sadar, bahwa mereka harus melakukan tugas mereka dengan penuh tanggung jawab.

Karena itulah, maka keduanya tidak begitu saja mencari rumah orang itu, tetapi dengan ketajaman ingatan mereka, maka mereka berusaha untuk tetap mengenali orang itu dan menjumpainya di pasar itu pada saat-saat yang lain.

Ternyata bahwa usaha kedua anak muda itu berhasil, tanpa menimbulkan kecurigaan.Orang itu pada suatu saat telah berdiri di muka warung Pugutrawe.

Meskipun orang itu semula tidak ingin masuk kedalam warung namun Mahisa Murtilah yang kemudian sambil tersenyum mempersilahkan.

Orang itu termangu-mangu. Ketika ia berpaling dilihatnya seorang anak muda sambil tersenyum berdiri di muka pintu warung itu.

“Silahkan Ki Sanak” desis Mahisa Murti.

Orang itu menarik nafas dalam-dalam, namun kemudian ia pun telah masuk ke warung itu.

“Wedang jae” minta orang itu.

Mahisa Pukatlah yang kemudian menyiapkan wedang jae untuk orang itu.

Adalah kebetulan bahwa pada saat itu tidak banyak orang berada di dalam warung itu. Dua orang duduk terpencar, sementara orang yang kehilangan kudanya itu duduk menyendiri.

Bersambung......!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...