Selasa, 15 Desember 2020

HIJAUNYA LEMBAH HIJAUNYA LERENG PEGUNUNGAN JILID 004-01

*HIJAUNYA LEMBAH : JILID-004-01*

Demikianlah, ketika fajar menyingsing Empu Nawamula sudah bersiap bersama Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Mereka akan menempuh perjalanan yang cukup panjang. Empu Nawamula telah mendapat petunjuk dari Singatama, arah mana yang harus ditempuhnya sehingga Empu itu akan sampai pada sebuah padukuhan tempat tinggal paman gadis yang telah menarik perhatian Singatama itu.

Namun agaknya dua orang cantrik yang telah ditunjuk untuk mengikuti perjalanan Empu Nawamula itu telah menarik perhatian Singatama. Ketika Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah siap meloncat ke punggung kudanya, Singatama yang sudah berada di halaman padepokan itu pula, telah mendekati keduanya. Diamatinya kedua anak muda itu seorang demi seorang. Dengan nada berat Singatama itu berkata, “Aku belum pernah melihat kedua anak ini”

“Keduanya orang baru di padepokan ini” sahut Empu Nawamula.

Singatama mengangguk-angguk. Katanya pula, “Selama aku berada di padepokan ini, agaknya keduanya bersembunyi saja. Atau sengaja menghindar. Atau barangkali aku tidak memperhatikannya”

“Keduanya bekerja seperti kawan-kawannya” jawab Empu Nawamula, “mungkin kau tidak memperhatikannya”

Singatama mengangguk-angguk. Disentuhnya pundak Mahisa Pukat. Katanya, “Nampaknya tubuhmu kuat seperti seekor banteng muda. He, kau juga seperti seekor anak gajah. Nampaknya kau mempunyai tenaga yang luar biasa. Tetapi kau tentu agak malas” katanya pula kepada Mahisa Murti.

Mahisa Pukat dan Mahisa Murti hanya menundukkan kepalanya saja. Mereka berusaha untuk menahan diri agar tidak timbul persoalan baru diantara mereka.

“Mereka cukup rajin” berkata Empu Nawamuala, “untuk memberikan pengalaman kepada mereka, maka aku akan membawa mereka menempuh perjalanan ini”

“Nampaknya keduanya masih terlalu dungu” berkata Singatama, “tetapi terserah kepada paman, bahwa paman akan mengajak keduanya”

“Justru karena keduanya masih terlalu hijau, maka aku ingin menunjukkan kepada mereka, bahwa mereka harus menyesuaikan diri dengan kerasnya kehidupan” sahut Empu Nawamula.

“Tetapi jika paman menemui kesulitan di perjalanan, maka paman tidak dapat berharap, kedua anak-anak ingusan ini akan dapat membantu” desis Singatama.

“Mudah-mudahan perjalananku lancar” jawab Empu Nawamula.

(ceritanya loncat : Emang dari sononya)

Empu Nawamula mengangguk-angguk. Sementara itu Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun merasakan perubahan suasana pertemuan itu. Ki Rangganiti tidak lagi bersikap kasar. Bahkan kemudian sikapnya menjadi ramah.

Katanya selanjutnya, “Ia menganggap bahwa segala yang dikehendakinya tidak akan dapat di tentang”

“Dan anak itu menghendaki kemanakan Ki Rangganiti?” sahut Empu Nawamula.

“Ya, Ki Sanak. Ia menginginkan kemanakanku itu. Tetapi ia sama sekali tidak berbuat sebagaimana seharusnya. Ia tidak berkenalan dengan kemanakanku sebagai mana sewajarnya seorang anak muda berkenalan dengan seorang gadis. Tetapi Singatama mulai dengan mengganggu kemanakanku. Karena itu, maka aku terpaksa selalu mengawasinya. Setidak-tidaknya orang-orangku selalu bersamanya kemana ia pergi. Akhirnya aku menjadi cemas, bahwa pada suatu saat aku akan lengah, sehingga kemanakanku itu akan mengalami kesulitan yang gawat” berkata Ki Rangganiti dengan nada dalam.

“Ki Rangganiti” berkata Empu Nawamula kemudian, “ternyata yang aku dengar dari Singatama agak berbeda. Menurut Singatama. Ia sudah sepakat dengan kemanakan Ki Rangganiti. Tetapi Ki Rangganiti lah yang berkeberatan, karena Ki Rangganiti mempunyai perhitungan yang lain. Ki Rangganiti menghendaki Singatama berhubungan saja dengan anak gadis Ki Rangganiti sendiri.

“He” Ki Rangganiti terkejut. Lalu, “Anak itu sudah memutar balikkan kenyataan. Tetapi sekali lagi aku ingin bertanya, apakah Ki Sanak benar-benar tidak akan berbuat sesuatu melampaui seorang utusan? Jika Ki Sanak berpendirian bahwa kemanakan Ki Sanak itu sudah sepakat untuk hidup bersama dengan kemanakanku, selanjutnya Ki Sanak akan dapat memaksakan kehendak Ki Sanak untuk mengambil kemanakanku itu”

“Tidak Ki Rangganiti” jawab Empu Nawamula, “aku tetap seorang utusan yang tidak mempunyai kekuasaan lebih dari menyampaikan satu permohonan. Ditolak atau diterima, aku hanya dapat menyampaikan jawaban itu kepada yang berkepentingan”

Ki Rangganiti mengangguk-angguk, katanya, “Jika demikian, baiklah aku katakan, bahwa yang dikatakan oleh Singatama itu adalah satu ceritera ngayawara. Semuanya tidak benar. Aku memang mempunyai seorang anak gadis. Tetapi ia tidak akan aku perbolehkan, apalagi hidup bersama Singatama, berkenalan pun tidak akan aku ijinkan”

Empu Nawamula mengangguk-angguk. Katanya, “Aku percaya kepada Ki Rangganiti. Aku mengerti, kenapa Ki Rangganiti mengambil satu keputusan untuk menyingkirkan kemanakannya Ki Rangganiti” Empu Nawamula berhenti sejenak, lalu, “Tetapi apakah di tempatnya yang baru, anak gadis itu cukup mendapat perlindungan?”

Sebenarnya keadaannya tidak jauh berbeda. Di sini pun perlindungan yang sebenarnya kurang memadai. Mungkin kami dapat mencegah usaha yang kasar dari Singatama sendiri dengan mengerahkan beberapa orang. Tetapi jika pada suatu saat, Singatama membawa kekuatan yang ada di belakangnya, mungkin kami tidak akan dapat bertahan. Justru karena itu, maka pertanggungan jawab atas gadis itu kepada ayahnya akan menjadi terlalu berat bagiku, sehingga akhirnya aku memutuskan untuk menyerahkan kembali anak itu kepada orang tuanya. Tetapi aku sudah berpesan, agar mereka berhati-hati mengawasi anak gadisnya. Mungkin untuk beberapa lamanya, Singatama tidak akan berhasil menemukan gadis itu. Tetapi jika ia masih selalu memburunya, mencarinya dengan segala cara, mungkin pada suatu saat ia akan menemukannya”

Empu Nawamula menarik nafa dalam-dalam. Sambil mengangguk-angguk ia berkata, “Kasihan gadis itu. Apakah rumah orang tuanya cukup jauh dari padukuhan ini?”

Wajah Ki Rangganiti menjadi tegang. Tiba-tiba ia berkata, “Aku sudah terpancing untuk mengatakan bahwa gadis itu ada pada orang tuanya. Itu satu kesalahan. Tetapi sudah tentu bahwa aku tidak akan mengatakan, di mana rumah orang tuanya. Maaf, bagaimanapun juga aku masih belum dapat mempercayai Ki Sanak sepenuhnya dalam hubungannya dengan Singatama”

“Aku mengerti Ki Rangganiti” jawab Empu Nawamula., “karena itu, baiklah aku tidak akan memaksa untuk mengetahui, dimana rumah orang tuanya”

“Ya. Aku tidak akan mengatakannya. Bahkan aku menyesal bahwa aku sudah mengatakannya, bahwa ia telah aku kirimkan kembali kepada orang tuanya. Namun baiklah aku katakan pula, bahwa perlindungan bagi gadis itu akan lebih baik justru setelah padukuhan ayahnya baru saja mengalami pergolakan. Dengan demikian, maka orang- orang padukuhan itu akan menjadi berhati-hati. Apalagi aku sudah memberikan beberapa keterangan tentang Singatama” berkata Ki Rangganiti.

Empu Nawamula mengangguk-angguk. Ia mengerti sepenuhnya sikap Ki Rangganiti, sehingga karena itu, maka beberapa saat Empu Nawamula tidak mengatakan sesuatu.

Namun dalam pada itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukatlah yang menjadi gelisah. Adalah diluar kehendak mereka, jika tiba-tiba saja mereka telah teringat sesuatu. Pengalaman dari perjalanan mereka yang belum terlalu jauh itu.

Karena itu, adalah juga diluar sadarnya, bahwa tiba-tiba saja Mahisa Murti berkata, “Apakah gadis itu anak seorang Buyut?”

Wajah Ki Rangganiti tiba-tiba menjadi tegang. Dipandanginya Mahisa Murti dengan tajamnya. Bahkan kemudian dengan suara bergetar ia berkata, “Darimana kau tahu, bahwa ia anak seorang Buyut? Apakah dengan demikian berarti bahwa kau sudah mengadakan penyelidikan lebih jauh bagi kepentingan Singatama?”

Mahisa Murti terkejut mendengar pertanyaan itu. Baru kemudian ia sadar, bahwa ia telah menyebut sesuatu yang dapat menumbuhkan ketegangan baru.

Tetapi ia sudah mengucapkannya. Bahkan kemudian Empu Nawamulapun memandanginya dengan tatapan mata keheranan.

“Coba katakan” berkata Ki Raganiti, “siapa yang mengatakan bahwa kemanakanku itu anak perempuan seorang buyut?”

Mahisa Murti menjadi gelisah. Tetapi Mahisa Pukatlah yang.kemudian menyahut, “Ki Raganiti. Dalam pengembaraan kami, kami telah singgah di sebuah Kabuyutan. Anak perempuan Ki Buyut itu ternyata baru saja pulang dari rumah pamannya. Hal itulah yang telah mempengaruhi jalan pikiran kami, sehingga tidak sengaja saudaraku itu telah menyebut anak perempuan seorang Buyut”

“Coba katakan, anak Kabuyutan manakah yang kau maksud?” bertanya Ki Raganiti.

“Tentu saja tidak ada hubungannya dengan ceritera Ki Raganiti” jawab Mahisa Pukat, “Kabuyutan itu terletak ditempat yang cukup jauh”

“Nama Kabuyutan itu” Ki Raganiti tidak sabar.

“Randumalang” jawab Mahisa Pukat dengan jujur.

Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Keterangan Mahisa Pukat yang terus-terang itu justru telah membuatnya agak tenang. Sehingga dengan demikian, maka ia pun akan dapat mengatakan sebagaimana adanya.

Tetapi adalah di luar dugaan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Jawaban Mahisa Pukat dengan menyebut nama Kabuyutan itu, telah membuat wajah Ki Raganiti menjadi semakin tegang. Bahkan kemudian dengan suara lantang ia berkata, “Anak-anak muda. Apakah kalian memang dengan sengaja ingin mempermainkan aku. Empu Nawamula telah mengatakan, bahwa ia hanya sekedar utusan. Semula aku mempercayainya. Tetapi ternyata bahwa kalian bertiga, datang dengan satu sikap pasti. Bahkan mungkin kalian telah berhasil menculik gadis itu untuk kepentingan Singatama, sehingga kehadiran kalian sekarang ini semata- mata adalah satu usaha penghinaan belaka”

Empu Nawrmula pun menjadi bingung. Bahkan kemudian ialah yang bertanya kepada Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, “Aku kurang mengerti, siapakah yang kalian sebutkan. Mungkin satu pengalaman dalam pengembaraan kalian sebelum kalian datang ke padepokanku”

“Ya Empu” jawab Mahisa Pukat, “kami memang singgah di Kabuyutan Randumalang”

“Jangan menganggap kami orang-orang yang sama sekali tidak berarti. Sudah aku katakan, bahwa aku sudah mempersiapkan orang-orangku. Sekarang, katakan. Apa maksud kalian sebenarnya datang kemari. Apakah kalian akan mengatakan, bahwa kalian telah berhasil menemukan gadis itu dan menculiknya? Atau kalian barangkali ingin memeras kami?”

“Jangan berprasangka terlalu buruk Ki Raganiti” berkata Empu Nawamula, “sebenarnyalah aku ingin mendengar, apa yang telah dijumpai oleh kedua orang anak muda ini.” “Omong kosong” geram Ki Kaganiti, “bagaimana mungkin Ki Sanak masih akan bertanya kepada orang- orang dari padepokan Ki Sanak sendiri”

“Ki Raganiti” berkata Mahisa Murti kemudian, “baiklah aku menceriterakan apa yang aku ketahui tentang seorang gadis. Hal ini sama sekali belum pernah aku ceriterakan kepada Empu Nawamula di saat-saat aku berada di padepokan, karena kami berdua menganggap bahwa persoalan ini sama sekali tidak penting dan tidak ada hubungannya dengan kehadiran kami di padepokan Empu Nawamula”

Ki Raganiti mengerutkan keningnya, sementara Mahisa Murti menceriterakan perkenalannya dengan seorang gadis Randumalang yang bernama Widati.

Ketegangan benar-benar mencengkam jantung Ki Raganiti. Namun menilik cara mengucapkan dan urutan ceriteranya, maka Mahisa Murti telah mengatakan dengan jujur.

“Ki Raganiti” berkata Mahisa Murti kemudian, “menilik sikap Ki Raganiti, maka aku dapat menduga, bahwa gadis yang Ki Raganiti maksudkan, adalah gadis yang aku sebutkan. Gadis yang meninggalkan rumah pamannya karena gangguan seorang anak muda yang tidak disukainya. Jika benar demikian, bahwa Widati yang dipanggil Ireng itu adalah kemanakan Ki Raganiti yang sedang bersembunyi di rumah orang tuanya, maka kami berdua minta maaf, karena kami tidak sengaja telah tersangkut ke dalam persoalan itu.

Ki Raganiti menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu Empu Nawamulapun berkata, “Sebenarnyalah, bahwa aku sama sekali tidak mengetahui peristiwa yang pernah dialaminya”

Sejenak Ki Raganiti terdiam. Namun akhirnya ia berkata, “Sekali lagi aku telah salah sangka. Aku percaya akan keterangan anak-anak muda itu. Agaknya kalian mang pernah singgah di Randumalang”

“Ya” desis Mahisa Pukat, “kami beradu di Randumalang justru pada saat Randumalang sedang bergejolak. Tetapi pada saat kami berada di Kabuyutan itu, maka pergolakan itu sudah berakhir. Sehingga beberapa hari kemudian aku melihat anak perempuan Ki Buyut itu telah berada di Kabuyutan”

Ki Raganiti mengangguk-angguk. Katanya, “Sebenarnyalah Ki Sanak. Kemanakanku yang bernama Widati itulah yang telah menimbulkan persoalan dengan Singatama. Mudah-mudahan ayahnya mempunyai kekuatan untuk melindunginya, apabila pada suatu saat Singatama dapat menemukannya”

Empu Nawamula menarik nafas dalam-dalam. Di luar dugaannya, bahwa gadis yang dipersoalkan itu justru telah pernah ditemui oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Karena itulah, maka kedua anak muda itu pun mengetahuinya di mana gadis itu menyembunyikan diri dari pengamatan Singatama.

Namun dalam pada itu, Ki Raganiti bertanya, “Ki Sanak. Aku tidak dapat ingkar, bahwa gadis itulah yang sedang bersembunyi. Ternyata bahwa kedua anak muda itu telah menemukannya. Tentu saja, terserah kepada kalian, apakah kalian akan mengatakannya kepada Singatama atau tidak. Tetapi sudah tentu bahwa kami bertekad untuk menyelamatkan gadis itu dari tangan Singatama, dengan cara dan pengorbanan apapun juga”

Empu Nawamula mengangguk-angguk sambil bergumam, “Ki Raganiti. Singatama adalah kemanakanku. Sudah tentu bahwa aku tidak dapat mencuci tangan akan tingkah lakunya. Maksudku, bahwa aku tidak akan memenuhi segala keinginannya, tetapi adalah menjadi kewajibanku untuk mengekangnya, apabila ia sudah melakukan satu perbuatan yang dapat merugikan orang kami”

Ki Raganiti memandang wajah Empu Nawamula dengan tajamnya. Sejenak ia berusaha merenungi kata-kata Empu Nawamula. Baru kemudian ia berkata, “Jadi maksud Empu, bahwa niat Singatama itu harus dicegah”

“Jika benar seperti yang Ki Raganiti katakan, bahwa sebenarnya Widati itu tidak bersedia menerima Singatama untuk hidup bersama” berkata Empu Nawamula.

“Aku tidak mempunyai cara untuk membuktikannya. Tetapi mungkin kedua anak muda yang telah mengetahui tempatnya itu dapat bertanya langsung kepada gadis itu” jawab Ki Raganiti, “itu pun harus mendapat pengawasan sebaik-baiknya. Karena bagaimanapun juga. aku berkewajiban melindungi kemanakanku”

“Ki Raganiti” berkata Mahisa Murti kemudian, “aku menjadi saksi, bahwa Widati sama sekali tidak tertarik ke pada Singatama. Aku dapat memastikannya, karena gadis itu kembali kerumah orang tuanya, karena menghindarkan diri dari seorang anak muda. Menurut dugaanku, anak muda yang dimaksud adalah Singatama”

Empu Nawamula mengangguk-angguk, sementara Ki Raganiti berkata, “Apakah kau pernah mendengar pengakuannya itu?”

“Ya” jawab Mahisa Murti, “Widati pernah mengatakan kepadaku. Meskipun saat itu keterangannya tidak jelas, tetapi saat ini aku mampu menghubungkan persoalannya”

Ki Raganiti menarik nafas panjang. Katanya, “Empu. Bukankah sudah jelas”

“Ya Aku percaya kepada keterangan anak muda ini” jawab Empu Nawamula, “karena itu, maka aku berkesimpulan, bahwa aku harus mencegah Singatama. Sementara itu. Aku pun berkesimpulan, bahwa aku harus tetap merahasiakan tempat gadis itu”

Ki Raganiti menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Terima kasih Ki Sanak. Ternyata bahwa Ki Sanak dapat mengetahui kesulitan yang sedang kami alami”

“Baiklah Ki Raganiti” berkata Empu Nawamula, “aku akan kembali ke padepokan. Aku akan mengatakan kepada Singatama, bahwa lamaranku ditolak. Dan aku pun akan mengatakan, bahwa gadis itu berada di tempat yang jauh dan tidak diketahui, karena Ki Raganiti telah merahasiakannya”

“Mudah-mudahan Empu dapat mencegah tingkah laku anak muda yang selama ini telah sangat menggelisahkan keluarga kami” berkata Ki Raganiti.

“Aku akan berusaha” jawab Empu Nawamula. Lalu, “Sebaiknya kami minta diri. Kami akan dapat mengatur, apa yang sebaiknya kami lakukan di sepanjang perjalanan kami, sehingga saat kami sampai di padepokan, kami akan dapat menjawab segala pertanyaan Singatama dengan mapan”

“Jadi, apakah Empu akan kembali sekarang?” bertanya Ki Raganiti.

“Ya. Kami muhon diri” jawab Empu Nawamula Tetapi, ternyata Ki Raganiti menahannya. Katanya, “Hari menjadi malam. Sebaiknya Empu bermalam disini. Besok Empu dapat kembali setelah hari menjadi terang”

Empu Nawamula tidak dapat menolak. Sementara itu Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun sama sekuli tidak berkeberatan.

Dalam pada itu, Ki Raganiti yang kemudian mengetahui bahwa tamu-tamunya bukan orang yang harus dicurigai akan bertindak kasar, telah mengisyaratkan kepada pembantu-pembantunya untuk memberikan hidangan kepada tamu-tamunya.

Setelah berbicara beberapa lamanya tentang persoalan yang lain, yang tidak menyangkut gadis yang bernama Widati itu, dan yang berkisar pada kehidupan sehari-hari, maka pintu pringgitanpun terbuka. Seorang gadis dengan membawa nampan berisi mimuman dan makanan berjalan sambil bejongkok mendekati mereka yang sedang duduk berbincang.

“Ini adalah anak gadisku” berkata Ki Raganiti setelah gadis itu masuk kembali keruang dalam, “agaknya gadis inilah yang telah disebut-sebut oleh Singatama”

Empu Nawamula mengangguk-angguk. Katanya, “Singatama memang mengatakannya, bahwa Ki Raganiti sebenarnya ingin menjodohkan anak gadis Ki Raganiti sendiri. Karena itu, Ki Raganiti telah menolak Singatama yang menginginkan gadis yang bernama Widati itu”

“Empu besok dapat bertanya langsung kepada anak gadisku. Ia memilih membunuh diri daripada harus menjadi isteri seorang anak muda yang bernama Singatama, sebagaimana akan dilakukan oleh Widati. Karena itu, maka aku harap Empu dapat menilai keterangan Singatama itu”

Empu Nawamula mengangguk-angguk. Tetapi sebagaimana Ki Raganiti mempercayai keterangannya dan keterangan kedua anak muda yang bersamanya itu, maka Empu Nawamulapun percaya kepada keterangan Ki Raganiti.

Dalam pada itu, ketika malam menjadi larut, ketiga orang itupun kemudian dipersilahkan untuk beristirahat di gandok. Namun dalam pada itu, maka Empu Nawamula dan kedua orang anak muda yang menyertainya itupun melihat, bahwa di halaman itu telah bersiap-siap beberapa orang yang dapat bertindak apabila ketiga orang tamu Ki Raganiti itu berbuat sesuatu yang bersifat kekerasan.

Namun dalam pada itu, hampir semalam suntuk Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak dapat memejamkan matanya. Gadis yang bernama Widati itu ternyata telah menimbulkan persoalan yang tidak pernah mereka duga sebelumnya. Sehingga jika Singatama benar-benar ingin memaksakan kehendaknya, maka Singatama itu tentu akan berhadapan dengan Mahisa Murti. Jika demikian maka Mahisa Pukatpun tidak akan melepaskan saudaranya itu berbuat sendiri.

Tetapi dalam pada itu Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih belum tahu pasti, betapa tinggi dan lengkapnya ilmu pertapa yang disebut sebagai guru Singatama. Bersumber ilmu yang hitam, orang itu tentu mempunyai kemampuan yang sangat tinggi.

Meskipun tidak saling membicarakannya, kedua anak muda itu rasa-rasanya telah menjadi kanak-kanak kembali. Sebagaimana pada masa kanak-kanak mereka, jika mereka gagal untuk melakukan sesuatu, maka merekapun segera berlari kepada ayahnya untuk membantunya.

Namun demikian, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat merasa bahwa mereka telah dibekali dengan ilmu yang lengkap oleh ayah mereka. Bahkan oleh Witantra dan Mahisa Agni. Karena itu, maka mereka tidak boleh lagi merengek seperti kanak-kanak. Mereka harus berusaha memecahkan masalah yang mereka hadapi.

“Tetapi dalam keadaan tertentu, apa salahnya jika ayah mengetahui persoalannya” berkata kedua anak muda itu didalam hatinya, karena menurut angan-angan mereka, pertapa yang mengangkat Singatama sebagai muridnya itu adalah seorang yang memiliki kemampuan yang luar biasa dalam kesesatan. Di samping orang itu tentu terdapat kekuatan yang mendukungnya. Satu lingkungan kekuatan hitam yang cukup besar.

Namun demikian, kedua anak muda itu masih harus menunggu perkembangan pesoalannya. Mereka tidak dapat berbuat tergesa-gesa.

Baru ketika malam hampir menginjak dini hari, kedua anak muda itu dapat tertidur untuk beberapa saat. Tetapi tidak terlalu lama, karena sebentar kemudian, ayam jantan pun telah berkokok untuk yang terakhir kalinya di malam itu. Namun yang sebentar itu telah membuat mereka menjadi segar kembali.

Pagi-pagi benar Mahisa Pukat telah pergi ke pakiwan. Tetapi langkahnya tertegun, ketika ia melihat seseorang sedang mengambil air di sumur disebelah pakiwan.

Namun Mahisa Pukat menjadi herdebar-debar ketika ia mendengar orang yang mengambil air itu menyapanya, “Apakah Ki Sanak akan pergi ke pakiwan?”

Mahisa Pukat termangu-mangu. Ternyata yang berada di sumur itu adalah gadis sang semalam menyuguhkan minuman dan makanan di pendapa.

Dengan segan Mahisa Pukat pun menjawab pendek, “Ya”, Silahkan” berkata gadis itu sambil melepaskan timba senggot yang sudah hampir ditariknya.

Dengan menjinjing kelenting maka gadis itu pun meninggalkan sumur menuju ke pintu dapur di hagian belakang rumahnya yang di batasi oleh sebuah longkangan.

Mahisa Pukat memandangi gadis itu sampai hilang di balik pintu dapur yang masih diterangi dengan lampu minyak. Ia sudah melihat wajah gadis itu semalam. Rasa-rasanya ada sesuatu yang melekat di dalam angan-angannya tentang gadis itu.

“Ada beberapa persamaannya dengan Widati” gumam Mahisa Pukat diluar sadarnya.

Tetapi Mahisa Pukat itu menggeleng. Ia berusaha untuk mengusir angan-angannya tentang gadis itu. Dengan sigapnya ia pun kemudian meraih senggot timba dan sejenak kemudian senggot itu pun telah berderit memanjang.

Mahisa Pukat dengan cepat mengisi pakiwan itu sehingga penuh. Baru kemudian iapun mandi untuk membuat tubuhnya menjadi semakin segar.

Sejenak kemudian, maka Mahisa Murtipun telah menyusulkan. Baru yang terakhir adalah Empu Nawamula.

Ketika langit menjadi terang, maka ketiga orang itu pun telah bersiap Mereka ingin segera kembali ke padepokan dan memberitahukan kepada Singatama hasil pembicaraan mereka dengan Ki Raganiti. Mereka hanya akan mengatakan bahwa Ki Raganiti tetap tidak setuju dan menolak lamaran Singatama, sementara itu kemanakannya telah disembunyikan di tempat yang tidak diberitahukannya”

Namun demikian, Ki Raganiti masih menahannya barang sejenak untuk memberikan hidangan minuman dan makanan hangat di pagi-pagi yang sejuk.

Baru kemudian Empu Nawamula bersama Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah minta diri.

“Aku mohon maaf Empu” berkata Ki Raganiti, “mungkin keputusanku menolak lamaran kemanakan Empu itu akan menimbulkan persoalan dalam keluarga Empu”

“Aku akan mencoba mengatasinya Ki Raganiti” jawab Empu Nawamula, “agaknya itu memang menjadi kewajibanku”

Ki Raganiti menarik nafas dalam-dalam. Ia mengerti, bahwa Singatama tidak akan begitu saja menerima keputusan atas lamarannya. Anak muda itu tentu akan menjadi marah. Dan tidak mustahil bahwa ia akan mengambil langkah-langkah tertentu yang akan dapat menimbulkan persoalan baru.

Dalam pada itu, ketika segalanya telah siap, maka Empu Nawamula dan kedua orang anak muda yang menyertainya itupun sekali lagi minta diri untuk kembali kepadepokannya.

Dalam pada itu, diluar dugaan, anak gadis Ki Raganiti itupun telah mengantarkan tamu-tamunya sampai ke regol. Bahkan ketika Mahisa Pukat memandanginya, gadis itu telah menatapnya pula, sehingga justru karena itu, maka keduanya cepat-cepat mengalihkan arah tatapan mata mereka ke kejauhan.

Sejenak kemudian, maka Empu Nawamula dan kedua orang cantrik yang khusus itu pun telah meninggalkan rumah Ki Raganiti dengan kesan tersendiri. Bahkan dengan demikian merekapun menjadi pasti, bahwa Singatama memang ingin memaksakan kehendaknya untuk memiliki seorang gadis yang bernama Widati, yang sejak beberapa saat lamanya telah disembunyikan di rumah orang tuanya dari penglihatan anak muda yang bernama Singatama.

“Apakah kira-kira yang akan dikatakan oleh kemanakan Empu itu” bertanya Mahisa murti.

Empu Nawamula menarik nafas dalam-dalam. Sambil memandang hijaunya pepohonan ia kemudian berdesis, “Banyak kemungkinan dapat terjadi. Tetapi yang pasti, ia akan tetap berusaha untuk memiliki gadis itu. Saat ini ia masih berusaha untuk mencari jalan yang paling baik. Ia minta aku untuk melamar gadis itu baginya. Tetapi agaknya ia akan dapat bertindak lebih keras. Ia akan dapat berhubungan dengan gurunya dan kekuatan di sekitarnya”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Sementara itu Mahisa Pukatpun berkata, “Tetapi lingkungan Ki Buyut di Randumalang telah berubah”

“Apa yang berubah?” bertanya Empu Nawamula.

“Anak-anak muda di Randumalang tidak lagi terlalu lemah. Meskipun serba sedikit mereka telah memiliki dasar pengetahuan mempergunakan senjata yang setiap hari tentu akan mereka kembangkan sendiri” berkata Mahisa Pukat. “Justru karena itu, mereka akan dapat membantu melindungi anak gadis Ki Buyut yang terancam oleh kogurangan Singatama itu”

“Mudah-mudahan” sahut Empu Nawamula sambil mengangguk-angguk, “tetapi jika Singatama datang bersama sepuluh orang dan gurunya, maka anak-anak muda Randumalang itu tidak akan banyak dapat berbuat banyak. Mungkin mereka sempat mengusir Singatama. Tetapi korban tentu akan terlalu banyak”

Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Memang mungkin sekali terjadi. Sepuluh orang yang garang apalagi guru Singatama yang bersumber pada ilmu hitam itu. tentu bukan lawan yang akan dapat diatasi oleh anak-anak muda Randumalang.

Sementara itu, mereka bertiga pun telah berpacu semakin lama semakin jauh. Sekali-sekali mereka harus beristirahat. Sehingga ketika matahari mulai merendah, mereka pun menjadi semakin mendekati padepokan mereka.

“Rasa-rasanya perjalanan kembali menjadi lebih pendek” berkata Mahisa Pukat.

“Tetapi bukankah jaraknya tidak berubah?” bertanya Empu Nawamula.

“Ya. Tentu tidak berubah” sahut Mahisa Pukat.

“Karena itu, perasaan kita bukanlah ukuran yang pasti. Yang terasa pendek, sebenarnya adalah panjang dan sebaliknya” berkata Empu Nawamula.

Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Ia pun sependapat, bahwa perasaan bukanlah alat pengukur yang baik. Juga terhadap kebenaran.

Dalam pada itu, semakin mereka mendekati padepokan, maka mereka pun menjadi berdebar-debar. Bahkan Empu Nawamula itupun berkata, “Ada beberapa kemungkinan terjadi di padepokan, ngger. Mungkin kita akan menarik nafas dalam-dalam. Tetapi mungkin kita akan mengumpat di dalam hati. Mungkin pula kita akan disakiti, jika tidak tubuh kita, adalah hati kita. Tetapi mungkin pula kita harus membela diri”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Tetapi mereka berpendirian, bahwa mereka bukan sanak bukan kadang Singatama. Karena itu, maka mereka pun tidak akan membiarkan diri mereka disakiti. Apalagi mengalami nasib yang paling buruk dengan tanpa membela diri sama sekali.

Karena itu, maka kedua anak muda itu pun telah mempersiapkan diri lahir dan batin. Mereka akan menghadapi segala kemungkinan dengah sikap dan landasan mereka.

Sebenarnyalah, bahwa ketika mereka bertiga melihat regol padepokan, maka jantung mereka serasa herdetak semakin cepat. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tiba tiba saja, diluar kehendak mereka sendiri, keduanya berkuda sebelah menyebelah di belakang Empu Nawamula. Seolah- olah mereka telah berjanji di dalam diri mereka, bahwa apapun yang akan terjadi, keduanya akan menghadapi dengan tabah.

Sejenak kemudian, maka mereka bertiga pun telah sampai di depan regol padepokan. Meskipun padepokan itu adalah padepokan sendiri, tetapi ternyata bahwa Empu Nawamula telah berhenti di depan regol. Sekilas ia berpaling kepada kedua orang anak muda yang mengikutinya, seolah-olah ingin memberi mereka peringatan, agar mereka bersiap menghadapi segala kemungkinan.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat saling berpandangan sejenak, namun mereka pun benar-benar telah mempersiapkandiri mereka.

Empu Nawamula menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian ia pun telah menyentuh leher kudanya yang kemudian berjalan perlahan-lahan memasuki regol halaman padepokannya diikuti oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.

Demikian mereka memasuki halaman, maka dengan tergesa-gesa Singatama yang berada di pendapa, telah menyongsong mereka. Demikian Empu Nawamula meloncat turun diikuti oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, Singatama telah berteriak, “Nah, bukankah paman berhasil? Apa kata kelinci tua itu? Dan bukankah paman telah diberitahu, dimana gadis itu bersembunyi?”

Empu Nawamula termangu-mangu sejenak. Namun kemudian jawabnya, “Biarlah aku duduk dahulu di pendapa. Biarlah nafasku senggang sehingga aku dapat berkata kalimat demi kalimat”

“Ah” desah Singatama, “paman mengada ada saja. Apa beratnya mengatakan satu dua kalimat?”

“Aku lelah sekali. Jika kau mendesak aku begitu, aku tidak akan mengatakannya sama sekali” jawab Empu Nawamula.

“Gila” geram Singatama, “setua paman masih juga merajuk”

Empu Nawamula tidak menjawab. Ia pun kemudian mencuci kakinya pada sebuah belanga yang tersedia di bawah ia sebatang pohon pacar kuning, demikian pula Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.

“Biarlah kakiku kering. Aku akan duduk di pendapa dan memberi tahukan hasil perjalananku” berkata Empu Nawamula.

“Berhasil atau tidak. Hanya itu jawab yang ingin aku dengar” teriak Singatama.

Tetapi Empu Nawamula tidak menghiraukannya. Ia pun kemudian melangkah mendekati pendapa. Di tangga pendapa ia duduk sambil membersihkan telapak kakinya yang basah dan dilekati oleh debu.

Baru kemudian, Empu Nawamula itu pun bergeser ke tengah pendapa padepokan itu diikuti oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.

Rasa-rasanya Singatama sudah tidak telaten lagi. Demikian Empu Nawamula dan kedua anak muda itu mapan, maka sekali lagi ia bertanya mendesak, “Bagaimana hasil perjalanan paman? Aku tidak sabar lagi menunggu”

Dengan sareh Empu Nawamula berkata, “Singatama. Cobalah kau bersabar sedikit. Biarlah nafasku agak teratur. Baru saja aku datang dari perjalanan yang panjang”

“Sudahlah paman. Jika paman menjawab pertanyaanku, maka persoalannya menjadi jelas. Satu kalimat saja aku kira sudah cukup, sepanjang kalimat paman yang berisi keluhan tanpa akhir itu” potong Singatama.

Empu Nawamula mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Baiklah. Aku akan mengatakan hasil perjalananku”

“Cepatlah” bentak Singatama.

Sikap Singatama itu membuat Empu Nawamula menjadi marah. Bagaimanapun juga ia menahan diri, tetapi bahwa kemanakannya itu telah membentaknya, rasa-rasanya jantungnya menjadi semakin cepat berdentang.

Karena itu, maka tiba-tiba saja ia menjawab, “Baiklah. Jika kau ingin cepat, dengarlah. Lamaranmu telah ditolak”

Jawaban itu bagaikan deru guntur yang menggelegar di langit. Wajah Singatama menjadi tegang. Namun kemudian warna merah telah membara di sorot matanya. “Apakah maksud paman?” anak muda itu bertanya.,

“Sudah jelas. Seperti yang kau inginkan. Aku berkata apa adanya. Cepat dan satu kalimat” jawab Empu Nawamula.

Ketegangan di wajah Singatama menjadi semakin tajam. Tetapi ia pun mengerti, bahwa pamannya mulai kehilangan kesabaran. Karena itu, Singatama lah yang berusaha mengekang diri, karena ia tidak yakin akan jawaban pamannya.

“Katakanlah sebaik-baiknya paman” pinta Singatama.,

“Sudah aku katakan. Lamaranmu ditolak. Ki Raganiti tidak mau mengatakan di mana kemanakannya itu, dan ia pun mengatakan bahwa gadis itu lebih baik mati daripada menjadi isterimu” jawab Empu Nawamula.

Terasa jantung Singatama bagaikan disentuh api. Tetapi wajah dan kata-kata pamannya agaknya memang meyakinkan.

Karena itu, maka ia pun kemudian bertanya, “Paman, apakah yang telah paman lakukan menghadapi sikap Ki Raganiti itu?”

“Apa yang dapat aku lakukan? Aku datang untuk melamar. Dan lamaran itu ditolak. Apa yang harus aku lakukan kecuali kembali dan mengabarkan kepadamu, bahwa lamaran itu ditolak?” jawab Empu Nawamula.

Singatama sekali tidak bersiap menghadapi sikap pamannya itu. Karena itu ia justru menjadi bingung.

Tetapi sejenak kemudian, maka ia pun menggeram. Dengan nada kasar ia bertanya, “Dan paman tidak memaksa Ki Raganiti untuk menunjukkan dimana anak gadisnya? Paman dapat juga menerima penghinaan itu, bahwa lamaran paman telah ditolak tanpa kehadiran gadis itu sendiri?”

“Kau membohongi aku” jawab Empu Nawamula, “kau katakan bahwa sebenarnya gadis itu akan menerimamu. Tetapi sudah aku katakan, bahwa gadis itu lebih baik membunuh diri dari menerima lamaranmu”

“Gila” geram Singatama, “padukuhan itu memang harus dimusnahkan. Paman dapat melakukannya untuk membalas penghinaan itu”

“Kenapa aku berbuat demikian? Aku tidak berhak. Selebihnya ternyata padukuhan itu telah siap. Aku tidak tahu darimana asalnya. Tetapi sepasukan pengawal telah membayangi aku” berkata Empu Nawamula, “apa lagi yang dapat aku lakukan menghadapi orang se Kabuyutan?”

Menghadapi sikap pamannya, Singatama justru menjadi bingung. Tetapi ia tidak dapat menerima jawaban seperti yang dikatakan pamannya itu. Bahkan kemudian, ia mulai menyesali sikap Empu Nawamula.

Tetapi Singatama juga mengetahui, bahwa pamannya bukannya orang kebanyakan. Karena itu, jika ia ingin berbuat keras terhadap pamannya, maka ia harus memperhitungkan segala macam akibat yang dapat terjadi. Karena itu, maka Singatama itu pun berusaha untuk mendapatkan jalan yang paling baik. Dengan nada tinggi ia berkata, “Paman, aku adalah kemanakan paman. Paman tentu mengerti, bahwa paman seharusnya berusaha membantuku. Juga dalam hubunganku dengan gadis itu”

“Aku sudah melakukan yang harus aku lakukan” jawab Empu Nawamula, “aku sudah datang melamar. Dan aku pun sudah menyampaikan jawabnya. Apalagi yang masih kurang. Sementara sikapmu sama sekali tidak mencerminkan sikap seorang kemanakan. Kau bersikap terlalu kasar, dan menganggap aku sebagai budakmu yang harus tunduk kepada segala perintahmu”

Wajah Singatama menegang. Agaknya pamannya telah benar-benar menjadi marah. Tetapi sifatnya yang angkuh dan bahwa ia tidak pernah mengalami perlakuan yang demikian, masih juga menggelitik hatinya, sehingga kemudian iapun berkata, “Baiklah paman. Jika paman sudah merasa cukup berbuat untukku, maka aku akan berbuat sendiri”

“Apa yang akan kau lakukan?” bertanya Empu Nawamula.

“Aku harus menemukan tempat persembunyian gadis itu. Sebenarnya aku ingin menghancurkan Kabuyutan itu. Sebenarnya aku ingin bantuan paman dan para cantrik di padepokan ini, disamping guruku dan cantrik-cantriknya. Aku yakin, bahwa betapapun besarnya kekuatan yang ada di Kabuyutan itu, kita akan dapat dengan mudah menghancurkannya” geram Singatama.

Empu Nawamula memandang kemanakannya dengan tatapan mata yang tajam. Dengan tajam pula ia bertanya, “Apa hubungannya penghancuran Kabuyutan itu dengan keinginanmu memperistri seorang gadis?”

“Orang-orang Kabuyutan itu ikut menghalangi niatku” jawab Singatama.

“Apa yang mereka lakukan?” bertanya Empu Nawamula pula.

“Bukankah paman mengatakan, bahwa mereka telah membayangi paman, sehingga paman tidak dapat berbuat apa-apa?” sahut Singatama.

“Ternyata nalarmu sudah keblinger. Mereka telah melakukan satu kewajiban yang seharusnya mereka lakukan? Mereka sama sekali tidak ikut campur dalam persoalanmu dengan gadis yang kau sebut-sebut itu. Tetapi adalah kewajiban mereka untuk membayangi orang yang dicurigai”

“Apakah paman dicurigai? Kenapa? Bukankah paman tidak melakukan sesuatu?” bertanya Singatama.

“Aku memang tidak melakukan sesuatu. Tetapi bahwa orang-orang di Kabuyutan itu mencurigai aku, tentu karena pokalmu sebelumnya. Jika kau berbuat baik dan sopan, tentu tidak akan terjadi anggapan yang buruk terhadapku. Tetapi dari mereka aku tahu, apa yang telah kau lakukan. Sikapmu telah memancing sikap seisi Kabuyutan itu. Karena aku adalah orang yang kau minta untuk datang ke rumah Ki Raganiti, maka tetangga-tetangganya menganggap bahwa aku akan bersikap seperti kau juga”

Wajah Singatama menjadi merah menyala. Tetapi ia tidak berani berbuat sesuatu terhadap pamannya yang diketahuinya mempunyai kemampuan yang tinggi. Tetapi dengan demikian, dendamnya kepada pamannya yang sebenarnya sudah tertanam di hatinya itu menjadi mekar.

“Aku akan mengatakannya kepada guru, bahwa sikap paman sangat menjengkelkan” berkata Singatama didalam hatinya.

Namun dalam pada itu, ia masih juga berkata, “Paman. Jika demikian, maka aku akan mengambil jalanku sendiri. Seperti yang aku katakan, maka aku akan mencari tempat tinggal gadis itu. Aku akan mengambilnya. Disetujui atau tidak disetujui”

“Kau harus menghargainya sebagai seorang manusia seperti kau dan aku” berkata Empu Nawamula, “kau tidak dapat berbuat sewenang-wenang. Jika ia dan keluarganya menolak, maka kau tidak akan dapat berbuat apa-apa”

“Aku bukan seorang yang lunak hati seperti paman” berkata Singatama. Lalu, “Karena itu, aku akan bertindak lebih keras. Aku akan memerintahkan setiap cantrik di padepokan ini untuk menyebar. Aku akan membatasi kerja mereka sepekan. Mereka harus berkumpul dan melaporkan hasil perjalanan mereka untuk mencari seorang gadis yang aku inginkan. Jika semua cantrik masih belum mendapatkannya, maka aku akan menganggap semuanya bersalah, sehingga aku akan menghukum mereka menurut caraku. Aku mohon paman tidak ikut campur, karena cantrik yang berada di padepokan ini adalah cantrik-cantrik yang berada di bawah kuasaku. Paman hanya mewakili kuasaku di sini. Karena jika paman turut campur, maka aku cemas bahwa guruku pun akan ikut campur pula. Tentu hatiku tidak akan tenang melihat perselisihan antara paman dan guru, karena apapun yang akan terjadi atas paman, terasa sakit pula di hatiku”

“Terima kasih” berkata Empu Nawamula, “tetapi apakah dengan demikian kau bermaksud mengancam aku? Aku tahu bahwa gurumu adalah orang luar biasa. Orang yang tidak terkalahkan. Tetapi akupun bukan orang yang takut dikalahkan. Bahkan mati sekalipun dalam mempertahankan sikap”

Wajah Singatama menjadi tegang. Ia belum pernah melihat sikap pamannya sekeras itu. Bahkan pada saat-saat lampau, betapapun juga, pamannya masih menunjukkan sikap yang lunak dan cenderung memenuhi segala keinginannya.

Tetapi agaknya Empu Nawamula telah benar-benar kehabisan kesabaran menghadapi kemanakannya. Apalagi ketika ternyata Singatama telah kehilangan dasar pertimbangan nalar dan martabat kemanusiaannya menghadapi gejolak perasaannya terhadap seorang gadis,

“Jika sekali ini aku juga memenuhi keinginannya, maka berarti bahwa akupun telah terlibat pada satu sikap yang salah terhadap kemanusiaan” berkata Empu Nawamula kepada diri sendiri. Sehingga dalam sikap yang demikian, sementara itu Singatama masih saja selala bersikap kasar, maka Empu Nawamula pun tidak lagi dapat bersikap lunak.

Namun dalam pada itu, Singatama bukannya mempertimbangkan sikap pamannya sebagai satu usaha pencegahan terhadap niatnya yang salah, namun justru sebaliknya. Singatama telah mendendam kepada pamannya dan sekaligus telah mengambil satu cara tersendiri untuk mendapatkan gadis yang disembunyikan itu.

Untuk langsung mengambil sikap terhadap Ki Raganiti, bahkan oleh gurunya sekalipun, Singatama memang masih harus membuat pertimbangan-pertimbangan. Mungkin Raganiti tidak memiliki kemampuan sama sekali dibandingkan dengan gurunya. Tetapi seperti yang dikatakan oleh Empu Nawamula, bahwa Ki Raganiti tidak berdiri sendiri. Apalagi gurunyapun telah mengatakan kepada Singatama, agar ia berusaha sejauh dapat dilakukannya, baru kemudian jika ia benar-benar gagal, gurunya akan turun memasuki persoalannya dengan langsung.

“Kau sudah dewasa” berkata gurunya persoalannya bukan persoalan yang rumit. Katakan kepada pamanmu. bahwa kau perlu gadis itu. Dan katakan kepada pamanmu, bahwa ia harus melamar untukmu”

Pamannya memang sudah melakukannya. Tetapi tidak seperti yang diharapkannya, bahwa pamannya akan dapat memaksa Ki Raganiti untuk menerima lamarannya, atau menunjukkan dimana gadis itu disembunyikan. Bahkan pamannya itu sama sekali tidak merasa gentar ketika ia menyebut-nyebut bahwa gurunya akan dapat mengambil satu sikap tertentu terhadapnya.

“Paman sudah kehilangan tanggung jawabnya sebagai wakil orang tuaku” berkata Singatama didalam hatinya, “seharusnya paman lebih baik bermusuhan dengan Ki Raganiti daripada dengan kemanakannya sendiri yang tentu akan dibantu oleh gurunya”

Tetapi sikap Empu Nawamula sudah jelas. Ia lebih senang menghadapi kemanakan dan guru kemanakannya itu daripada memaksakan kehendaknya kepada orang lain yang justru memerlukan perlindungan.

Dalam kesesakan nalar, Singatama itu berkata kepada diri sendiri, “Agaknya paman benar-benar ingin menyingkirkan aku, dan dengan demikian paman akan memiliki padepokan ini sepenuhnya. Paman telah membuat perapian untuk membuat keris di padepokan ini dan menerima cantrik-cantrik baru yang tentu akan berpihak kepadanya”

Justru karena itu, maka sikap Singatama pun menjadi semakin keras. Ia benar-benar ingin bertindak sebagaimana di katakannya. Ia akan memerintahkan semua cantrik untuk menyebar dan mencari gadis yang telah memikat hatinya, kemanakan Ki Raganiti yang memang bernama Widati.

Karena itu, ketika Empu Nawamula benar-benar sudah bersikap keras, maka Singatama pun telah mengambil satu langkah yang sebenarnya sangat menyakiti hati Empu Nawamula.

Singatama yang marah itu pun telah mengumpulkan para cantrik tanpa persetujuan Empu Nawamula. Namun Empu Nawamula tidak mencegahnya. Ia sedang mencari cara yang paling baik untuk mengatasi persoalan yang justru terasa menjadi semakin panas.

“Pergilah kalian kemana saja” berkata Singatama, “kalian harus kembali dalam sepekan. Satu di antara kalian harus menemukan, dimana seorang gadis yang bernama Widati bersembunyi”

Para cantrik itu menjadi berdebar-debar. Mereka belum pernah melihat orang yang harus mereka cari, dan mereka sama sekali tidak mendapat petunjuk arah yang dapat menuntun mereka kemana mereka harus pergi.

Tetapi Singatama itu berkata, “Tidak ada alasan yang dapat kalian pergunakan untuk mengelak dari tugas ini. Jika dalam sepekan tidak seorang pun yang dapat menemukan orang yang aku kehendaki, maka kalian semuanya, seisi padepokan ini akan aku hukum. Kalian tidak akan dapat melawan aku, karena aku memiliki kekuatan yang tidak akan dapat kalian lawan. Sementara itu, siapa yang dengan sengaja melarikan diri dan tidak kembali ke padepokan ini, maka keluarganya akan mengalami nasib yang buruk, karena sebenarnyalah aku tahu tempat tinggal kalian dan keluarga kalian”

Perintah itu benar-benar telah menggelisahkan. Tetapi tidak seorang pun yang berani membantah.

Dalam pada itu, satu-satu petunjuk yang mereka dapat adalah, bahwa gadis itu adalah kemanakan Ki Raganiti dan sedikit tentang ciri-ciri gadis yang harus mereka cari.

“Tidak masuk akal” berkata para cantrik di dalam hati. Tetapi mereka tidak berdaya untuk menolak. Jika mereka berani menyatakan pendapat mereka, maka mereka tentu akan dipukul oleh Singatama tanpa ampun.

Empu Nawamula sendiri tidak membantah atau mencegah perintah itu. Ia tahu, bahwa Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah menemukan gadis itu lebih dahulu sebelum perintah Singatama itu diberikan. Namun Empu Nawamula masih belum dapat membayangkan akhir dari persoalan yang bergejolak itu.

Sementara itu, kegelisahan para cantrik itu benar-benar telah menggelisahkan seisi padepokan. Para murid Empu Nawamula dan para pembantu yang lain yang hidup di padepokan itu, merasa sangat kasihan kepada para cantrik yang harus memikul tugas yang sangat berat dengan ancaman hukuman yang mendebarkan jantung. Tetapi mereka tidak akan dapat menolongnya.

Tetapi satu hal yang luput dari perhatian Singatama, bahwa mereka tidak mengenal Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sebagaimana ia mengenal para cantrik yang lain. Ia tidak mengenal keluarganya, sehingga seandainya Mahisa Murti dan Mahisa Pukat itu kemudian tidak kembali lagi ke padepokan, maka Singatama tidak akan dapat mencari keluarganya.

Namun seandainya ia menemukan keluarga Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, apakah arti Singatama itu bagi Mahendra. Bahkan seandainya gurunya melibatkan diri sekalipun, maka Mahendra tentu tidak akan gentar.

Dalam satu kesempatan, maka Empu Nawamula pun telah bertanya kepada kedua orang anak muda itu, apakah yang akan mereka lakukan.

“Kami menjadi bingung” jawab Mahisa Murti, “apakah yang sebaiknya kami lakukan menghadapi sikap Singatama itu. Jika kami tidak menemukan gadis itu, maka para cantrik yang lain akan mengalami satu penderitaan yang tentu akan sangat buruk. Singatama benar-benar seorang yang memiliki watak yang sulit dimengerti. Tetapi sudah barang tentu, untuk mengatakan tentang gadis itu kepada Singatama, akibatnya pun akan dapat menjadi sangat pahit bagi gadis itu”

Empu Nawamula itu pun menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya, “Sayang, aku sama sekali tidak dapat memberikan takaran kemampuan guru Singatama itu. Bukan berarti bahwa aku menjadi cemas menghadapinya. Sudah aku katakan, bahwa aku tidak takut menghadapi kekalahan. Tetapi jika terjadi demikian, maka aku tidak akan dapat melindungi siapapun juga yang akan mengalami nasib yang paling buruk”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Namun merekapun masih juga belum mendapat gambaran, apakah yang sebaiknya dilakukan.

“Besok pagi kita harus berangkat. Waktu kita hanya sepekan. Apakah artinya yang sepekan itu bagi para cantrik” desis Mahisa Pukat.

“Kita akan berpikir semalam suntuk. Mudah-mudahan besok kita menemukan satu cara” berkata Mahisa Murti.

Empu Nawamula menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Baiklah. Kita akan berpikir semalam suntuk”

Sebenarnyalah mereka telah memikirkan cara yang paling baik untuk dilakukan. Tingkah laku Singatama bukan saja telah menyentuh rasa keadilan, tetapi adalah satu kebetulan bahwa gadis yang disebut-sebut itu adalah gadis yang bernama Widati, gadis yang mempunyai arti khusus bagi Mahisa Murti.

Tetapi yang lebih penting lagi, bahwa di belakang Singatama berdiri satu padepokan yang memiliki corak tersendiri. Satu padepokan yang dipimpin oleh seseorang yang memiliki ilmu yang tinggi, tetapi bersumber pada kekuatan hitam yang mengerikan.

Persoalan yang menyangkut Widati hanyalah satu dari seribu persoalan yang dapat ditimbulkan oleh padepokan itu. Pada dasarnya segala macam tingkah laku yang menyimpang dari peradaban akan dapat terjadi.

Padepokan itu akan menjadi sumber yang akan mengalirkan sikap dan tingkah laku yang merugikan bebrayan manusia disekitarnya. Karena itulah, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menganggap bahwa persoalannya sebenarnya tidak terbatas pada persoalan niat Singatama untuk mengambil Widati saja, tetapi menyangkut sikap isi padepokan itu dalam keseluruhan

Dengan demikian maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang berada di serambi di depan perapian, sempat berbicara panjang tentang rencana yang akan mereka tempuh.

“Jika kita hanya memotong rencana Singatama kali ini, maka kita baru dapat membendung salah satu saluran yang bersumber dari padepokan itu. Padahal padepokan itu tentu akan mempunyai banyak sekali saluran yang akan mengalir ke sekitarnya dengan membawa arus air yang beracun” berkata Mahisa Murti.

“Sayang bahwa kita belum dapat menjajagi kekuatan yang tersimpan di dalam padepokan itu” berkata Mahisa Pukat.

“Tetapi bagaimanapun juga, kekuatan di padepokan itu mempunyai batas. Menurut pendengaran kita, hanya seorang sajalah yang perlu disegani. Pemimpin padepokan itu sendiri” berkata Mahisa Murti.

Bersambung....!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...