*HIJAUNYA LEMBAH. JILID 022-04*
Pangeran Lembu Sabdata pun kemudian menyembah mahkota yang masih dipegang oleh Ki Ajar itu. Baru kemudian ia menerimanya.
Ternyata berbeda dengan Ki Ajar, menurut Pangeran Lembu Sabdata mahkota itu sama sekali tidak berat. Mahkota itu sebagaimana benda-benda yang lain memiliki bobot yang wajar saja. Emas dengan intan berlian yang menghiasinya.
Ki Ajar menarik nafas dalam-dalam. Tetapi katanya, “Bukankah sebagaimana kataku, bahwa Pangeran Lembu Sabdata pantas untuk mengenakannya. Bukan saja sekedar pantas, tetapi mahkota itu akan menjadi alas kekuasaan Pangeran yang akan mendukung cita-cita Pangeran Kuda Permati.”
Pangeran Lembu Sabdata mengangguk-angguk. Katanya, “Semuanya akan aku junjung tinggi.”
“Nah, sekarang kita akan keluar dari istana ini dan langsung kembali ke padepokan. Kita akan berjalan tanpa berhenti. Bukankah kita akan sanggup melakukannya?” berkata Ki Ajar.
“Tentu,” jawab Pangeran Lembu Sabdata, “Bukankah kita sudah terbiasa melakukannya.”
Dengan demikian maka ketiga orang itu pun dengan hati-hati telah keluar dari lingkungan istana dan hilang di dalam gelapnya malam.
Ternyata bahwa hilangnya pusaka itu tidak segera diketahui. Untuk beberapa saat, para penjaga pintu itu masih tertidur nyenyak. Sirep yang dilontarkan terbatas itu ternyata tidak berpengaruh di seluruh istana. Sirep itu hanya berpengaruh dalam satu lingkungan kecil, sehingga para Senapati yang bertugas malam itu tidak ada yang merasa curiga karena kelainan suasana.
Baru beberapa saat kemudian, ketika dua orang prajurit meronda, berkeliling halaman istana dan melihat setiap lingkungan yang gawat, merasa heran ketika mereka memasuki lingkungan gedung perbendaharaan dan gedung pusaka.
“Aku tidak pernah merasa kantuk seperti saat ini,” berkata salah seorang diantara mereka.
Kawannya justru menguap. Desisnya, “Mataku ternyata pantas ditukar mata ikan. Kenapa tiba-tiba saja mataku terpejam.”
Kedua orang itu ternyata masih menyadari keadaannya. Karena itu, maka katanya, “Aku tidak mungkin dapat bertahan. Aku akan berkata terus terang dengan Ki Lurah. Mungkin aku sakit.”
“Kita bersama-sama sakit. Marilah kita minta waktu kita meronda ditukar.”
Keduanya segera kembali ke gardu peronda di halaman belakang istana, karena mereka mendapat tugas di bagian belakang bersama beberapa orang kawannya yang lain.
Namun demikian mereka meninggalkan daerah yang tersentuh ilmu sirep, maka mereka tidak lagi merasa kantuk. Mereka merasa bahwa badan mereka tetap sehat. Mata mereka menjadi terang dan mereka merasa siap untuk melakukan tugas mereka.
“He, apakah terjadi perubahan di dalam dirimu? Aku tidak merasa kantuk lagi,” berkata seorang diantara mereka.
“Sebagai seorang prajurit, aku sedang membuat perhitungan. Tentu tidak dapat bahwa hal seperti ini tiba-tiba saja terjadi. Apakah kau tidak merasakan sesuatu yang aneh?“
Yang lain justru bertanya.
“Ya,” jawab kawannya, “Aku memang merasa aneh.”
“Jika demikian, kita wajib menyelidiki. Mari kita kembali ke tempat yang aneh itu.” ajak yang lain.
Keduanya pun kemudian kembali mendekati gedung perbendaharaan. Namun keduanya dengan penuh kesadaran mulai memperhatikan suasana.
Demikian mereka mendekati gedung perbendaharaan, terasa angin semilir lembut. Dedaunan bergerak perlahan-lahan sementara udara yang segar menerpa wajah-wajah mereka.
“Disini aku mulai merasa kantuk,” tiba-tiba saja salah seorang diantara mereka berkata.
“Ya, tepat. Panggraitamu memang tajam sekali. Aku tahu maksudmu. Tentu ada hal yang tidak wajar disini. Atau di sekitar tempat ini,” sahut kawannya.
Demikianlah, maka keduanya menemukan sesuatu yang mendebarkan. Apalagi ketika kemudian mereka memaksa diri untuk semakin mendekat.
Ilmu Sirep itu pun sudah menjadi semakin lemah, sementara sumber ilmu itu pun telah tidak ada lagi di tempat. Karena itu, maka kedua orang yang telah berusaha untuk tetap menyadari keadaan dirinya itu pun menemukan kawan-kawannya yang sedang bertugas telah tertidur.
Dengan serta merta, maka kedua orang itu pun telah berusaha membangunkan kawan-kawan mereka yang tertidur itu.
Betapa sulitnya, namun usaha itu pun telah berhasil. Beberapa orang yang bertugas itu telah terbangun. Sementara seorang diantara kedua orang peronda itu berkata, “Aku akan melaporkan hal ini kepada Ki Lurah.”
“Pergilah. Tetapi jangan tertidur di halaman,“ pesan yang lain.
Ternyata peronda itu pun berlari, agar ia tidak disergap oleh perasaan kantuk yang mungkin akan sulit untuk diatasinya.
Laporannya lelah menggemparkan gardu peronda.
Lurah prajurit yang sedang bertugas pun telah dengan serta merta pergi ke gedung perbendaharaan.
Mereka memang masih merasakan sisa-sisa ilmu sirep itu. Namun kekuatannya sudah menjadi semakin lemah.
“Apakah kalian telah tertidur?” bertanya Lurah prajurit itu kepada para penjaga.
“Ya Ki Lurah,” jawab para prajurit itu dengan jujur. ”Kami tidak dapat menghindarkan diri. Kami tidak menyadari bahwa hal itu akan terjadi, sehingga kami sama sekali tidak dapat melawannya.”
Ki Lurah memperhatikan selarak pintu gedung perbendaharaan itu. Selarak pintu itu masih terpasang sebagaimana sebelumnya. Namun Lurah prajurit itu tidak tahu pasti apakah selarak itu pernah dibuka.
Tetapi Ki Lurah itu tidak berani membukanya dan melihat isi gedung perbendaharaan itu.
Dengan demikian, maka yang dilakukan Ki Lurah kemudian adalah melaporkan kepada petugas yang bertanggung jawab atas gedung perbendaharaan dan gedung pusaka. Dengan demikian, maka orang itu akan segera dapat mengetahui, apakah ada sesuatu yang berubah letaknya atau bahkan hilang.
Laporan itu pun sangat mengejutkan pula. Seorang Tumenggung yang bertanggung jawab atas gedung perbendaharaan itu pun telah berlari-lari pergi ke tempat tugasnya.
Ketika Ki Tumenggung itu sampai di pintu gedung pusaka, maka iapun menarik nafas panjang. Gedung itu masih tertutup sebagaimana semula. Demikian pula gedung perbendaharaan.
“Bukankah tidak ada apa-apa yang terjadi?” bertanya Ki Tumenggung.
“Tentu telah terjadi sesuatu Ki Tumenggung,” jawab Ki Lurah yang kemudian menceriterakan selengkapnya apa yang telah terjadi. ”Segala sesuatunya terserah kepada Ki Tumenggung.”
Ki Tumenggung termangu-mangu sejenak. Kemudian katanya, “Kita lihat, apakah isinya ada yang berubah.”
Para prajurit yang bertugas menjadi tegang. Sejenak kemudian Ki Tumenggung pun duduk dengan tertibnya di depan pintu gedung pusaka. Setelah menyembah maka iapun segera membuka selarak pintu itu. Ia cenderung untuk melihat isi gedung pusaka itu lebih dahulu, karena di dalam gedung itu tersimpan banyak sekali senjata-senjata yang bertuah dan memiliki kekuatan yang gaib, yang menjadi pendukung kekuasaan Sri Baginda di Kediri.
Demikian Ki Tumenggung membuka selarak, maka sekali lagi ia duduk dan menyembah. Baru kemudian ia berjalan jongkok memasuki ruangan itu.
Karena tugasnya, maka Ki Tumenggung itu telah mengenal sebaik-baiknya isi gedung pusaka itu. Karena itu, demikian pintu itu terbuka, sebenarnyalah Ki Tumenggung langsung mengenali bahwa tidak ada sebuah pun diantara pusaka-pusaka itu yang bergeser.
Ki Tumenggung menarik nafas dalam-dalam. Beberapa pusaka yang paling keramat masih berada di tempatnya.
Karena itu, maka Ki Tumenggung pun telah keluar dari gedung pusaka itu dan menuju ke gedung perbendaharaan.
Seperti yang dilakukan di gedung pusaka, maka dilakukannya pula di gedung perbendaharaan. Namun ketika ia memasuki gedung itu dengan berjalan jongkok, maka terasa jantungnya bagaikan akan meledak. Ketika ia langsung memandang ke tempat penyimpanan mahkota yang dibungkus dengan kain putih, maka terasa pandangan matanya menjadi gelap. Mahkota itu tidak ada di tempatnya. Dalam kekaburan penglihatannya ia masih berusaha melihat di sekitarnya, mungkin mahkota itu telah berpindah tempat. Namun ternyata bahwa di dalam ruangan itu tidak dilihatnya lagi mahkota yang terbungkus dengan kain putih.
Karena itu, maka isi dadanya pun terasa terguncang. Ki Tumenggung tidak dapat menahan diri lagi. Tiba-tiba saja semuanya menjadi hitam pekat.
Orang-orang yang berada diluar gedung menjadi kebingungan melihat keadaan Ki Tumenggung. Ketika mereka akan memasuki ruangan, maka terasa angin prahara telah menempuh mereka sehingga langkah mereka segera terhenti.
“Apa yang dapat kita lakukan Ki Lurah.” Seseorang telah bertanya.
Ki Lurah itu pun kemudian melakukan sebagaimana dilakukan oleh Ki Tumenggung, sehingga iapun kemudian dapat memasuki gedung perbendaharaan.
Dengan hati-hati ia mendekati Ki Tumenggung dan mengamatinya. Ternyata Ki Tumenggung itu telah pingsan.
Ki Lurah pun kemudian memanggil salah seorang diantara prajurit yang berada diluar. Dengan laku yang sama maka prajurit itu pun berhasil memasuki gedung perbendaharaan itu.
Dengan susah payah, maka Ki Lurah dan seorang prajurit telah membawa Ki Tumenggung itu keluar.
Beberapa saat, mereka berusaha merawat Ki Tumenggung sehingga Ki Tumenggung pun akhirnya menjadi sadar.
“Tutup pintu itu dahulu,” desisnya ketika matanya mulai terbuka.
Ki Tumenggung menarik nafas dalam-dalam ketika Ki Lurah dengan laku sebagaimana saat Ki Tumenggung akan membuka pintu itu telah menutupnya kembali dan menyelaraknya.
“Apa yang terjadi Ki Tumenggung?” bertanya Ki Lurah.
“Apakah ada yang salah.”
Ki Tumenggung memandang para prajurit di sekitarnya setelah ia bangkit dan duduk. Dengan nada datar ia berkata: “Kita telah mengalami satu bencana. Sebuah diantara benda-benda yang paling berharga telah hilang.”
“Apa?” bertanya Ki Lurah.
“Mahkota,” jawab Ki Tumenggung.
“Mahkota,“ ulang Ki Lurah.
“Ya. Mahkota pusaka kerajaan Kediri,” jawab Ki Tumenggung.
Untuk beberapa saat keadaan menjadi hening. Namun akhirnya Ki Lurah itu menyadari, bahwa ia tidak akan dapat ingkar lagi. Karena itu, maka katanya kepada seorang prajurit, “Laporkan kepada Senapati yang memimpin pengawalan istana malam ini.”
Prajurit itu pun segera berangkat ke bagian depan istana untuk melaporkan apa yang telah terjadi.
Betapa terkejutnya Senapati itu. Mahkota itu adalah pertanda kuasa Sri Baginda di Kediri. Bahkan menurut pendengaran Senapati itu, Mahkota itu adalah benda yang bertuah.
Karena itu, maka iapun telah bergegas pergi ke gedung perbendaharaan.
Sebenarnyalah seperti yang dilaporkan kepadanya, mahkota itu telah hilang. Ki Tumenggung yang dibebani tugas untuk memelihara gedung perbendaharaan dan gedung pusaka itu mengatakan kepada Senapati yang datang itu, bahwa mahkota itu memang sudah hilang.
“Siapa yang melaporkan kepadamu Ki Tumenggung?” bertanya Senapati itu.
“Para peronda. Aku mendapat laporan dari mereka,” jawab Ki Tumenggung.
Senapati itu memandangi Ki Lurah dengan tajamnya. Lalu katanya, “Kau tidak melaporkan kepadaku sebelum melapor kepada Ki Tumenggung?”
“Aku ingin meyakinkan apa yang terjadi. Jika tidak terjadi apa-apa, maka bukankah kita tidak perlu rebut seperti ini?” jawab Ki Lurah.
“Tetapi kenapa tiba-tiba saja kau menduga, bahwa ada sesuatu yang hilang?” bertanya Senapati itu.
Ki Lurah tidak ingkar. Iapun menceriterakan semuanya apa yang telah terjadi di gedung perbendaharaan itu.
“Jadi para prajurit yang bertugas telah tertidur?” bertanya Senapati itu.
“Ya. Dalam pengaruh ilmu sirep,” jawab Ki Lurah.
“Persetan dengan sirep. Dipengaruhi atau tidak, tetapi kenyataan yang terjadi, para prajurit telah tidur nyenyak dalam tugas mereka,“ jawab Senapati itu.
“Jangan meniadakan laporan atau sebagian dari laporan yang kami sampaikan. Sirep itu telah terjadi. Dan itu perlu kami laporkan. Jika atasan kami menganggap bahwa kami telah bersalah karena tidak berhasil melawan sirep, kami tidak akan ingkar,“ Ki Lurah menjelaskan.
“Tetapi kenyataan itu telah terjadi. Kalian tidak dapat mengamankan benda-benda berharga yang terdapat di gedung perbendaharaan.” bentak Senapati itu.
“Bukankah kami tidak akan ingkar. Kami akan mempertanggung jawabkannya. Hal itu memang sudah terjadi,” jawab Ki Lurah.
Senapati itu menggeram. Tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa. Ki Lurah sudah mengakui kesalahannya.
Namun demikian, yang akan bertanggung jawab terhadap para pemimpin Kediri, termasuk Pangeran Singa Narpada adalah Senapati yang memimpin tugas pengawalan pada malam itu. Sehingga apapun yang dikatakannya kepada Ki Lurah, namun yang terjadi itu akan dapat menjeratnya ke dalam kesulitan.
Tetapi Senapati itu harus mengusut persoalannya dengan teliti. Ia memang harus membuat laporan terperinci. Seperti yang dikatakan oleh Ki Lurah, ia memang harus melaporkan tentang sirep itu pula.
Peristiwa hilangnya mahkota itu memang tidak dapat disembunyikan. Menurut Ki Tumenggung, laporan harus dibuat secepatnya, sehingga mungkin para pemimpin di Kediri dapat mengambil langkah-langkah yang perlu.
Namun demikian, Ki Tumenggung masih berpesan, agar hilangnya mahkota itu dirahasiakan bagi rakyat banyak. Jika berita itu tersebar, maka akan terjadi keresahan yang mungkin akan berakibat buruk.
Senapati yang memimpin para peronda malam itu ternyata sependapat dengan Ki Tumenggung. Karena itu, maka iapun segera mengumpulkan para pemimpin kelompok prajurit yang malam itu bertugas di istana.
Beberapa pesan telah diberikan. Dengan tegas Senapati itu berkata, “Demi tegaknya Kediri, kalian harus merahasiakan apa yang terjadi. Meskipun hal ini tidak akan dapat kita rahasiakan terhadap para pemimpin dan kepada Sri Baginda.”
Para prajurit mengerti maksud Senapati itu. Karena itu, maka mereka pun bertekad untuk melaksanakannya. Namun demikian mereka sadar, bahwa hukuman tidak akan terlepas dari mereka, karena mereka telah melakukan satu kesalahan yang sangat besar atas Kediri.
Namun, sebagai seorang prajurit, mereka tidak akan ingkar dari tanggung jawab.
Demikianlah, ketika laporan itu sampai kepada para pemimpin di Kediri, maka rasa-rasanya Kediri bagaikan telah terbakar. Jantung di dalam hati Sri Baginda bagaikan berhenti berdetak. Apalagi Sri Baginda pun menyadari, menurut kepercayaan para raja turun temurun di Kediri, Mahkota itu adalah tempat bersemayam wahyu keraton. Hilangnya mahkota itu, maka Kediri akan benar-benar hapus. Tidak saja sebagaimana saat Tumapel mengalahkan Kediri. Karena setelah itu Kediri tetap berdiri meskipun dibawah pengaruh Singasari.
Tetapi jika Kediri sudah kehilangan wahyu keraton, maka Kediri benar-benar akan tenggelam dan hilang sama sekali dari percaturan rakyat di Singasari.
Sementara itu, darah Pangeran Singa Narpada bagaikan telah terbakar. Dengan garang ia bertanya kepada Senapati yang memberikan laporan. “Kau sebut-sebut tentang sirep?”
“Ya Pangeran,” jawab Senapati itu.
“Jika demikian, kita akan dapat menghubungkannya dengan saat hilangnya Pangeran Lembu Sabdata,” berkata Pangeran Singa Narpada.
Senapati itu mengangguk-angguk. Meskipun pada saat itu ia tidak bertugas di tempat Pangeran Lembu Sabdata ditahan, namun ia juga mendengar bahwa semua petugas pada waktu itu telah terbius oleh kekuatan ilmu yang membuat mereka mengantuk dan tertidur.
Ternyata persoalan sirep yang semula oleh Senapati yang bertugas di istana itu dianggap sebagai sesuatu yang tidak perlu di perhatikan dalam penilaian atas mahkota yang hilang, karena menurut Senapati itu, apapun yang terjadi, tetapi ternyata bahwa mahkota itu telah hilang, sehingga laporan tentang sirep itu seakan-akan hanya sekedar untuk memperkecil kesalahan, namun ternyata bahwa justru sirep itulah yang mendapat perhatian utama dari Pangeran Singa Narpada.
“Baiklah,” berkata Pangeran Singa Narpada kemudian. ”Kita tidak akan mengingkari kenyataan. Mahkota itu telah hilang. Kalian tidak akan dapat mencuci tangan begitu saja atas i hilangnya pusaka itu. Kesalahan kalian tidak kurang dari kesalahan para petugas waktu Pangeran Lembu Sabdata hilang. Namun demikian, keputusan tentang kalian tidak akan diberikan sekarang. Semua tenaga apalagi yang berhubungan dengan hilangnya mahkota itu, akan dikerahkan. Mudah-mudahan masih ada kesempatan untuk menemukannya, atau kita bersama sama akan tenggelam.“ Pangeran Singa Narpada berhenti sejenak. Namun masih terdengar giginya yang gemeretak. Katanya kemudian, “Mundurlah. Tetapi ingat, bahwa hal ini masih merupakan rahasia istana. Siapa yang membocorkan rahasia ini akan mendapat hukuman yang seimbang dengan kesalahannya. Bahkan siapa yang membocorkan rahasia ini tidak kurang dari seorang pengkhianat.”
Demikianlah mereka yang menghadap untuk melaporkan hilangnya mahkota itu telah mundur dari hadapan para pemimpin di Kediri, sementara itu Pangeran Singa Narpada masih juga berbicara dengan para pemimpin itu. Sri Baginda sendiri kemudian berkata kepada pangeran Singa Narpada. “Terserah kepada kalian, apa yang sebaiknya dilakukan. Aku akan beristirahat.”
Yang kemudian menjadi pusat pembicaraan adalah cara yang mirip yang ditempuh oleh orang-orang yang mengambil mahkota itu sebagaimana yang pernah dilakukan untuk membebaskan Pangeran Lembu Sabdata. Pangeran Singa Narpada sendiri yakin, bahwa Pangeran Lembu Sabdata tidak memiliki kemampuan untuk melontarkan ilmu sirep. Karena itu, maka tentu ada pihak lain yang telah mengambilnya dari bilik tahanannya dan yang kemudian telah mengambil mahkota itu pula dari gedung perbendaharaan.
Satu kesimpulan yang diambil oleh Pangeran Singa Narpada namun yang belum dikatakannya kepada siapapun, adalah satu rangkaian usaha untuk merebut tahta Kediri dan usaha untuk menempatkan Pangeran Lembu Sabdata pada kedudukan tertinggi. Namun Pangeran Singa Narpada yakin, bahwa ada satu pihak yang berdiri di belakang Pangeran Lembu Sabdata, justru orang itu adalah orang yang menentukan segala-galanya.
Karena itulah, maka Pangeran Singa Narpada yakin bahwa yang dihadapi oleh Kediri adalah satu gerakan yang sangat rumit. Namun Pangeran Singa Narpada yang mempunyai ketajaman pengamatan dan perhitungan, tidak melepaskan usaha yang sedang dilakukan itu dengan usaha Pangeran Kuda Permati yang gagal.
“Tetapi kegagalan itu telah memberikan banyak pelajaran kepada pihak mereka,” berkata Pangeran Singa Narpada di dalam dirinya, “Kini orang yang telah menggerakkan usaha perlawanan itu, telah mengambil cara yang lain. Cara yang lebih cermat dan lembut.”
Pikiran itu merupakan pangkal usaha Pangeran Singa Narpada untuk menelusuri hilangnya pusaka yang dianggap menjadi tempat semayam wahyu keraton Kediri.
Tetapi sebenarnyalah Pangeran Singa Narpada telah menjadi curiga terhadap para pemimpin Kediri sendiri. Seolah-olah diantara mereka terdapat orang-orang yang setiap saat akan dapat berkhianat.
Karena itu, maka untuk beberapa lama Pangeran Singa Narpada tidak banyak memberikan pendapatnya dalam pertemuan-pertemuan para pemimpin Kediri. Bahkan ia telah mengatakan cara-cara yang mungkin ditempuh, namun yang berbeda dari perhitungannya yang sebenarnya.
“Kita harus menyebarkan para petugas sandi,” berkata Pangeran Singa Narpada. ”Mereka harus berusaha melihat pertanda-pertanda yang mencurigakan. Bahkan mungkin mereka dapat mendengar atau melihat gerakan yang pantas untuk diamati.”
Tetapi persoalannya tidak terlalu sederhana. Hal itu disadari oleh Pangeran Singa Narpada.
Namun para pemimpin di Kediri itu memang belum menemukan jalan yang menjurus ke arah yang memungkinkan untuk mengetahui jejak mahkota yang hilang itu.
Namun dalam pada itu, Pangeran Singa Narpada berniat untuk menelusuri gerakan ini dari ujung, Ia harus menemukan beberapa nama yang dapat dihubungkan dengan Pangeran Kuda Permati. Karena Pangeran Singa Narpada-pun kemudian yakin bahwa terbunuhnya Pangeran Kuda Permati ternyata masih belum memadamkan perlawanan itu. Bahkan perlahan-lahan api perlawanan itu justru semakin lama menjadi semakin membesar kembali.
Dengan demikian maka Pangeran Singa Narpada berpendapat bahwa sumber dari gerakan itu masih harus diketemukan.
Tetapi untuk sementara Pangeran Singa Narpada merasa dirinya sendiri. Ia tidak lagi dapat mempercayai seseorang. Bahkan ia menduga, lepasnya Pangeran Lembu Sabdata dan hilangnya mahkota itu, tentu berkaitan dengan pengkhianat diantara para pemimpin Kediri sendiri.
Dalam pada itu, Ki Ajar yang telah berhasil mengambil mahkota yang dianggap dapat menjadi tempat semayam wahyu keraton itu telah berada kembali di padepokannya. Yang kemudian menyimpan mahkota itu adalah Pangeran Lembu Sabdata, yang dianggap memiliki darah raja-raja Kediri, sehingga mahkota itu tidak akan menimbulkan persoalan baginya. Bahkan kemudian diharapkan bahwa wahyu keraton yang bersemayam di mahkota itu akan dapat mendukung usaha Pangeran Lembu Sabdata untuk menguasai tahta.
“Perjuangan ini harus dilakukan sampai tuntas,” berkata Ki Ajar. Lalu, “perjuangan yang dilakukan oleh Pangeran Kuda Permati ternyata diwarnai oleh kebimbangan. Pangeran Kuda Permati ingin merubah sikap Kediri, tetapi ia ingin tetap membiarkan Sri Baginda untuk berada diatas tahtanya. Sikap yang bimbang inilah salah satu sebab, kenapa Pangeran Kuda Permati tidak berani bergerak lebih tegas dan lebih keras.“ Ki Ajar itu berhenti sejenak, lalu, “Sikap kita harus lain. Kita harus bersikap tegas. Meskipun mungkin Sri Baginda itu juga disentuh oleh perasaan ragu sebagaimana sikapnya terhadap Pangeran Singa Narpada, tetapi sikap yang ragu itu akan dapat menghambat perjuangan. Karena itu, maka bagaimanapun juga, sampai hati atau tidak, Sri Baginda harus disingkirkan.”
Pangeran Lembu Sabdata yang masih lebih muda dari Pangeran Kuda Permati itu mengangguk-angguk. Agaknya ia akan dapat berbuat lebih keras dari Pangeran Kuda Permati itu. Apalagi Pangeran Lembu Sabdata benar-benar sudah berada dibawah pengaruh Ki Ajar.
“Tetapi sekali lagi Pangeran, kita tidak boleh tergesa-gesa,” berkata Ki Ajar, “Kita harus menunggu sampai orang-orang Kediri melupakannya, sebagaimana saat hilangnya Pangeran dari bilik tahanan. Baru di saat orang-orang Kediri itu tidak lagi memikirkan mahkota yang hilang, kita akan menyusun diri. Jika hal itu kita lakukan sekarang sebelum kita mulai, kita tentu sudah akan digulung oleh Pangeran Singa Narpada. Sementara itu, Pangeran masih harus menyempurnakan ilmu Pangeran bersama dengan Putut itu.“
“Baik Ki Ajar,” jawab Pangeran Lembu Sabdata, “Aku memang tidak tergesa-gesa. Aku sependapat, bahwa seharusnya aku menyempurnakan ilmu yang aku sadap dari Ki Ajar, agar bekalku jadi memadai nanti.”
“Dengan demikian, maka untuk sementara kita pun akan melupakan mahkota itu,” berkata Ki Ajar, “Asal Pangeran menyimpannya dengan baik.”
“Aku simpan di dalam bilikku,” berkata Pangeran Lembu Sabdata, “Dan kita bersama-sama akan mempertahankannya seandainya ada pihak yang berhasil mengetahui, bahwa mahkota itu ada disini.”
“Tentu,” berkata Ki Ajar, “Tetapi tidak akan ada orang yang pernah menduga bahwa Pangeran berada disini.”
Menurut perhitungan, para pemimpin di Kediri tentu akan menghubungkan hilangnya mahkota ini dengan hilangnya Pangeran dari bilik tahanan. Mereka tentu akan memperhitungkan pula cara yang mirip yang terjadi pada saat Pangeran diambil dari bilik tahanan itu, dan pada saat mahkota itu hilang. Keduanya mempergunakan ilmu sirep. Karena itu, untuk sementara kita tidak boleh menempuh jalan yang sangat berbahaya dengan memberikan kemungkinan seseorang dapat mengenali Pangeran.”
“Tidak seorang pun lagi yang akan dapat mengenal aku,” berkata Pangeran Lembu Sabdata.
“Tetapi lebih baik kita berhati-hati. Untuk sementara Pangeran akan tetap berada di padepokan. Biarlah orang lain diantara kita yang melihat-lihat suasana setelah mahkota itu hilang,” berkata Ki Ajar.
Pangeran Lembu Sabdata tidak membantah. Ia patuh kepada semua perintah Ki Ajar. Karena itu, maka untuk beberapa lama Pangeran Lembu Sabdata tetap berada di padepokan. Dipergunakannya waktunya untuk memperdalam ilmunya, sehingga Pangeran Lembu Sabdata benar-benar menjadi seorang yang jarang ada duanya di dalam olah kanuragan. Bersama Putut yang terpercaya di padepokan itu, ilmu Pangeran Lembu Sabdata setapak demi setapak berkembang.
Sementara itu, dalam pengamatan yang dilakukan oleh murid terpercaya dari padepokan Ki Ajar, ternyata di Kediri suasana tidak bergejolak sebagaimana telah diduga oleh Ki Ajar. Ki Ajar sudah memperhitungkan bahwa hilangnya mahkota itu akan dirahasiakan, sehingga tidak akan banyak orang yang mengetahuinya. Dengan demikian Kediri akan dapat menjaga ketenangannya.
Namun pengamatan Putut yang tajam itu, dapat dilihatnya bahwa ada juga pihak yang menjadi sibuk karenanya. Meskipun tidak semata-mata, maka perondaan yang dilakukan oleh para prajurit Kediri pun agaknya telah meningkat. Bahkan para prajurit itu telah mengamati daerah yang luas. Para Senapati di daerah perbatasan Kota Raja juga sibuk dan sangat berhati-hati menanggapi perkembangan keadaan.
Tetapi mereka tidak menemukan sesuatu. Tidak ada persiapan-persiapan yang pantas dicurigai. Tidak ada kegiatan yang mengarah kepada pembentukan satu kekuatan.
Karena itu, maka sikap para prajurit Kediri itu pun semakin lama menjadi semakin lunak pula. Juga para Senapati di daerah perbatasan.
Namun berbeda dengan mereka, dengan diam-diam Pangeran Singa Narpada justru telah mengadakan pengamatan. Namun hal itu pun juga dilakukannya dengan sangat berhati-hati. Ia merasa bersalah, bahwa selama ini ia menjadi lengah.
Meskipun ia masih saja setelah berpesan, agar para prajurit Kediri tidak pernah melupakan hilangnya Pangeran Lembu Sabdata. namun ia tidak memerintahkan untuk mengambil langkah-langkah yang perlu.
Tetapi sebenarnya bahwa Pangeran Singa Narpada tidak pernah menduga, bahwa sasaran berikutnya adalah justru mahkota Kediri. Sebelumnya Pangeran Singa Narpada memperhitungkan, bahwa langkah selanjutnya adalah menghimpun kembali kekuatan Pangeran Kuda Permati yang tercerai berai. Karena itu perhatian Pangeran Singa Narpada sebagian besar adalah pengamatan kemungkinan timbulnya kekuatan-kekuatan kelompok-kelompok yang akan dapat tersusun menjadi kekuatan yang besar untuk melawan Kediri.
Namun dalam kesendiriannya, Pangeran Singa Narpada teringat kepada Singasari. Ia memang tidak ingin mengundang kekuatan prajurit Singasari untuk hadir di Kediri.
Sejak Singasari menarik wakil kuasa Sri Maharaja Singasari di Kediri, sebenarnya Pangeran Singa Narpada berharap bahwa Kediri akan mampu menegakkan dirinya sendiri. Kelonggaran-kelonggaran yang diberikan oleh Singasari ternyata tidak pernah dapat dimanfaatkan justru karena pergolakan yang terjadi di Kediri.
Pangeran Singa Narpada tidak akan mengundang bantuan Singasari, karena Kediri memang tidak memerlukannya. Dalam pada itu, Kediri masih juga belum melihat sasaran kekuatan prajurit, yang menurut perhitungan Pangeran Singa Narpada lambat laun tentu ikan datang juga.
“Yang penting untuk dilaksanakan dengan cepat adalah menemukan kembali mahkota yang hilang itu,” berkata Pangeran Singa Narpada dalam hatinya.
Karena itu maka telah terbersit niatnya untuk berhubungan dengan Singasari dalam usaha menemukan mahkota itu dengan tugas sandi.
“Aku tidak dapat mempercayai lagi orang-orang Kediri. Meskipun aku yakin, bahwa hanya satu-dua orang saja yang berkhianat, tetapi aku tidak tahu yang manakah yang hanya satu atau dua itu,” desis Pangeran Singa Narpada kepada diri sendiri. Karena itulah, maka agaknya ia akan merasa lebih aman untuk bekerja dengan orang-orang Singasari.
“Tidak dengan satu pasukan segelar sepapan. Tetapi hanya satu atau dua orang saja,” desisnya pula.
Ternyata Pangeran Singa Narpada benar-benar ingin melaksanakan maksudnya. Karena itu, maka dengan diam-diam ia telah mempersiapkan dirinya untuk pergi ke Singasari. Ia tidak akan dengan resmi menghubungi Panglima keprajuritan di Singasari, tetapi ia ingin bertemu langsung dengan seorang Senapati muda yang dikenalnya. Mahisa Bungalan, lewat seorang pemimpin Singasari yang pernah berada di Kediri, Mahisa Agni.
“Mahisa Agni tentu sudah terlalu tua untuk melaksanakan tugas-tugas yang berat,“ gumam Pangeran Singa Narpada. ”Tetapi agaknya Mahisa Bungalan akan bersedia membantuku apabila ia mendapat ijin dari Panglima.”
Karena itulah, maka pada suatu hari Pangeran Singa Narpada minta diri kepada kepercayaannya, namun yang tidak juga dapat menampung kesulitannya karena hilangnya mahkota Kediri. Betapapun juga ia mempercayainya, namun persoalan yang dianggapnya sangat penting dan menentukan itu dirasa perlu untuk berahasia. Pangeran Singa Narpada tidak mengatakan bahwa ia akan pergi dari Kediri untuk memecahkan persoalan mahkota yang hilang, tetapi ia mengatakan bahwa ia akan mesu diri. Menyepi untuk mendapatkan petunjuk tentang mahkota yang hilang itu.
“Nalarku sudah buntu,” berkata Pangeran Singa Narpada. ”Karena itu, aku merasa perlu untuk mencari kesegaran penglihatan hatiku agar aku tahu apa yang sebaiknya aku lakukan.”
“Apakah Pangeran akan pergi untuk waktu panjang?” bertanya kepercayaannya itu.
“Aku tidak tahu, berapa hari aku akan pergi,” jawab Pangeran Singa Narpada. ”Mudah-mudahan tidak terlalu lama. Tetapi jika seseorang mencariku, katakan bahwa aku sedang samadi di dalam sanggar. Katakan bahwa aku tidak pergi kemana-mana. Tetapi untuk sementara aku tidak dapat menerima tamu siapapun juga.”
“Pangeran tidak membawa seorang pengawalnya?” bertanya kepercayaannya pula.
Pangeran Singa Narpada menggeleng. Jawabnya, “Aku akan pergi sendiri. Perhatian semua pesanku. Jangan ada yang salah langkah, atau salah ucap.”
“Baiklah Pangeran,” jawab kepercayaannya itu, “Aku akan melakukannya sebaik-baiknya.”
Demikianlah maka Pangeran Singa Narpada pun telah meninggalkan istananya. Ia keluar dari gerbang halaman istananya pada saat matahari telah terbenam, sehingga tidak ada seorang pun yang melihatnya. Apalagi Pangeran Singa Narpada telah mengenakan pakaian orang kebanyakan.
Pangeran Singa Narpada sendiri sadar, bahwa perjalanannya adalah perjalanan yang panjang. Apalagi ia tidak membawa seekor kuda agar ia dapat dengan leluasa bergerak di Singasari kelak.
Sementara itu, tidak seorang pun di Kediri yang mengetahui bahwa Pangeran Singa Narpada telah menuju ke Singasari untuk berusaha menemukan seorang atau sekelompok petugas sandi yang akan dapat membantunya menemukan mahkota Kediri yang hilang. Mahkota yang dianggap tempat bersemayam wahyu Keraton.
Dengan demikian, maka mulailah Pangeran Singa Narpada dengan pengembaraannya. Ia sadar, bahwa tugas yang diembannya adalah tugas yang berat dan berbahaya. Tetapi ia merasa wajib untuk melakukannya. Jika ia tidak berbuat sesuatu, maka hari depan Kediri akan menjadi sangat suram. Kediri akan menjadi kuburan anak-anak terbaiknya yang saling membunuh diantara mereka sendiri.
Meskipun demikian ada juga kecemasan di hati Pangeran Singa Narpada. Jika selama ia pergi, ada gerakan kekuatan yang besar, mungkin Kediri akan mengalami kesulitan.
Tetapi Pangeran Singa Narpada percaya kepada Panji Sempana Murti. Dalam keadaan yang gawat, ia tentu tidak hanya bergerak di perbatasan Utara, Ia akan dapat mengambil langkah yang akan mencegah bahaya yang akan dapat menghancurkan Kediri sampai saatnya ia datang.
Dalam perjalanan Pangeran Singa Narpada merasa ragu. Apakah ia akan memberikan pesan-pesan kepada Panji Sempana Murti atau tidak.
Namun akhirnya ia memutuskan, bahwa tidak perlu ada seorang pun yang mengetahui kepergiannya ke Singasari. Mungkin Panji Sempana Murti tidak sependapat, sehingga justru akan timbul persoalan diantara mereka.
Karena itu, maka keberangkatan Pangeran Singa Narpada benar-benar tidak diketahui oleh seorang pun diantara orang-orang Kediri. Pangeran itu menempuh perjalanan sebagaimana seorang pengembara. Tetapi untuk mempermudah segala persoalan di perjalanan, maka Pangeran Singa Narpada telah membawa bekal uang yang cukup banyak, meskipun ia tidak akan berada di Singasari terlalu lama.
Dalam perjalanannya sebagai seorang pengembara maka Pangeran Singa Narpada justru tidak banyak mengalami hambatan. Tidak banyak orang yang memperhatikan perjalanan semacam itu. Bahkan beberapa orang berusaha untuk menghindari para pengembara yang kadang-kadang dengan memelas minta uang kepada mereka dan sulit untuk menolaknya.
Tetapi diantara mereka yang berusaha menghindar, ternyata Pangeran Singa Narpada telah diamati oleh dua orang yang berwajah kasar. Ketika Pangeran Singa Narpada berada di sebuah kedai, tidak sengaja Pangeran Singa Narpada telah berbuat kesalahan sehingga kedua orang itu mengetahui bahwa kampil yang dibawa olehnya berisi uang yang tidak terlalu sedikit.
“He.” Bisik salah seorang diantara kedua orang itu kepada kawannya, “pengembara itu membawa uang.”
Kawannya mengangguk. Tetapi ia tidak menjawab.
Ketajaman penglihatan Pangeran Singa Narpada menangkap gelagat yang kurang baik. Ia menyesal bahwa ia telah melakukan kesalahan, sehingga telah menarik perhatian orang lain. Apalagi agaknya kedua orang itu adalah orang yang berkelakuan tidak baik.
Tetapi hal itu sudah terlanjur terjadi. Karena itu, maka ia harus mengatasi kemungkinan yang dapat terjadi.
Namun demikian Pangeran Singa Narpada masih akan berusaha menghindar apabila mungkin. Sehingga tidak usah terjadi bahwa ia mempertahankan miliknya itu dengan kekerasan.
Karena itu, demikian Pangeran Singa Narpada membayar makanan dan minuman, sebelum kedua orang itu selesai, dengan cepat telah meninggalkan kedai itu. Dengan tergesa-gesa Pangeran Singa Narpada telah memilih jalan yang banyak dilalui orang sehingga sulit bagi kedua orang itu untuk mendapat kesempatan berbuat jahat atas dirinya. Bahkan ternyata kemudian Pangeran Singa Narpada sempat memasuki sebuah pasar yang ramai.
Tetapi ternyata kedua orang itu tidak melepaskannya. Kedua orang itu berhasil menyusulnya dan mengikutinya memasuki pasar itu pula.
Pangeran Singa Narpada menarik nafas dalam-dalam. Menurut pengamatannya kedua orang itu memang dua orang yang terbiasa melakukan kejahatan sehingga dengan telaten mengikuti calon korbannya.
“Agaknya sulit untuk menghindari mereka,” berkata Pangeran Singa Narpada kepada dirinya sendiri.
Karena itu, maka Pangeran Singa Narpada pun kemudian tidak lagi berusaha menghindar. Ia berjalan saja keluar dari pasar dan berjalan menuju ke sebuah padukuhan.
“Mudah-mudahan aku akan dapat berada di banjar padukuhan itu sampai malam nanti,” berkata Pangeran Singa Narpada di dalam hatinya.
Namun demikian kedua orang itu masih saja mengikutinya. Tetapi keduanya masih belum mempunyai kesempatan untuk bertindak, karena Pangeran Singa Narpada selalu berada di jalan yang banyak dilalui orang.
Tetapi Pangeran itu kecewa. Ketika ia memasuki padukuhan di hadapan bulak itu, ternyata padukuhan itu sedang sibuk dengan upacara kematian. Bekel yang memimpin padukuhan itu telah meninggal.
Pangeran Singa Narpada tidak mau mengganggu orang-orang yang sedang sibuk. Karena itu, maka iapun telah meneruskan perjalanan.
Tetapi ketika Pangeran Singa Narpada keluar dari padukuhan itu dan menghadap ke sebuah bulak yang panjang, maka iapun mengeluh di dalam hati. Ia memang tidak mempunyai kesempatan untuk menghindar.
Namun ketika ia berada diluar regol padukuhan, ia berhenti dan duduk di sebuah sebatang pohon yang besar, tidak jauh dari regol yang justru banyak terdapat anak-anak muda yang masih berada dalam suasana upacara kematian pemimpin mereka.
Kedua orang yang mengikuti Pangeran Singa Narpada itu mengumpat. Mereka tidak akan dapat berbuat apa-apa di hadapan anak-anak muda itu.
“Pengembara itu agaknya sudah merasa bahwa kita akan berbuat sesuatu atas dirinya,” berkata salah seorang diantara mereka.
Yang lain mengangguk-angguk. Namun keduanya masih saja termangu-mangu di regol.
Ternyata sikap kedua orang itu menarik perhatian anak-anak muda yang berada di regol. Seorang diantara mereka telah mendekati kedua orang itu sambil bertanya, “Apakah yang menarik perhatian kalian disini?”
Kedua orang itu memandang anak muda itu dengan wajah yang tegang. Dengan kasar ia menjawab, “Apa pedulimu.”
Anak muda itu terkejut. Ia tidak mengira bahwa kedua orang itu akan bersikap sangat kasar, sehingga karena itu maka anak muda itu pun menjawabnya dengan keras pula, “Aku bertanya dengan baik. Kenapa jawabmu begitu kasar?”
“Jangan ikut campur,“ orang itu justru membentak. ”Ajak saja kawan-kawanmu pergi.”
Anak muda itu benar-benar tersinggung. Katanya, “Persetan. Kau jangan mencari perkara disini.”
Kedua orang itu menjadi semakin marah. Namun sementara itu beberapa orang yang lain telah mengerumuninya pula setelah mereka mendengar nada-nada yang keras dan kasar.
“Ada apa?” bertanya beberapa orang.
“Aku bertanya dengan baik. Tetapi jawabnya kasar sekali,” jawab anak muda itu.
Yang lain pun kemudian mendesak maju. Agaknya anak-anak muda itu tidak senang melihat sikap orang itu.
Tetapi tiba-tiba saja salah seorang diantara kedua orang itu berkata, “Kalian mau apa?”
“Jangan begitu Ki Sanak,” sahut seorang yang nampaknya paling tua diantara anak-anak muda itu, “Kita tidak ingin bertengkar. Kenapa kita tidak berbicara dengan baik saja?”
“Jangan campuri urusanku,” sekali lagi orang itu membentak.
Dengan demikian anak-anak muda itu menjadi marah. Beberapa orang mendesak semakin maju. Seorang diantara mereka berkata, “Kau ingin kami juga berbuat kasar?”
Tetapi jawab salah seorang dari kedua orang itu sangat mengejutkan anak-anak muda itu. Katanya, “Kau jangan mengganggu aku anak setan. Kau dengar namaku. Kemudian pertimbangkan, apakah kalian benar-benar ingin berbuat kasar.“ orang itu berhenti sejenak, lalu, “Namaku Sadkala.”
Anak-anak muda itu saling berpandangan sejenak. Namun kemudian beberapa orang diantara mereka justru menjadi gemetar. Ternyata orang itu adalah Sadkala. Orang yang namanya sangat ditakuti.
Anak-anak muda itu belum begitu mengenal orang yang bernama Sadkala. Namun seorang diantara mereka ternyata memang pernah melihat orang yang bernama Sadkala. Tetapi semula ia tidak begitu memperhatikan. Namun demikian ia mendengar nama itu, maka iapun segera teringat, bahwa orang itu memang bernama Sadkala. Seorang yang namanya sering disebut-sebut dan seakan-akan tidak seorang pun yang menghalangi apapun yang ingin dilakukannya.
Karena anak-anak muda itu menjadi termangu-mangu, maka orang yang bernama Sadkala itu berkata, “Nah, apa yang akan kalian lakukan? Sebenarnya aku tidak ingin kalian menjadi ribut. Tetapi kalian yang mencari perkara.”
Anak-anak muda itu seorang demi seorang telah bergeser surut. Sementara itu, seorang diantara mereka berdesis, “Sebenarnya satu kesempatan baik. Jika kita tidak sedang sibuk dengan kematian Ki Bekel, maka kita sekarang ini dapat membunyikan pertanda, sehingga kita dan anak-anak muda di seluruh padukuhan akan dapat menangkapnya.”
Kawannya mengangguk-angguk. Tetapi katanya, “Sulit untuk menangkapnya, tetapi jika kita berbuat demikian dengan segala kekuatan yang ada aku kira kita akan berhasil. Tetapi sudah tentu tidak sekarang.”
Anak-anak muda itu tidak berkata apa-apa lagi. Sementara itu kedua orang itu pun telah bergeser menjauhi regol. Mereka tidak menghiraukan lagi anak-anak muda yang menjadi gemetar mendengar namanya.
“Jadi agaknya orang itu termasuk orang yang ditakuti,” berkata Pangeran Singa Narpada di dalam hatinya. Apalagi ketika dari tempatnya ia melihat anak-anak muda itu bergeser menjauh.
Dalam pada itu, dengan kemampuan ilmunya, Pangeran Singa Narpada sempat mendengarkan percakapan itu meskipun lamat-lamat. Tetapi dengan demikian ia mengerti, apa yang sedang dipercakapkan.
Namun justru karena itu, maka Pangeran Singa Narpada pun segera bangkit dan meninggalkan tempatnya menuju ke bulak yang panjang yang terbentang di hadapannya.
Keduanya yang melihat buruannya meneruskan perjalanan mereka pun telah meninggalkan regol itu pula.
Anak-anak muda yang ada di regol itu hanya memandanginya saja. Namun agaknya mereka pun menjadi curiga, bahwa orang yang bernama Sadkala dan kawannya itu sedang mengikuti seorang pengembara.
Namun salah seorang diantara mereka kemudian berdesis, “Tentu tidak. Buat apa orang yang dikenal dengan nama Sadkala itu mengikuti seorang pengembara? Jika ia ingin mengikuti, tentu seseorang yang mungkin akan dapat dirampoknya.”
“Tetapi demikian orang yang duduk dibawah pohon itu pergi, maka mereka pun telah pergi pula,” berkata yang lain.
“Hanya satu kebetulan,” sahut kawannya.
Mereka tidak membicarakan lagi. Memang ada kecemasan bahwa kedua orang itu akan berbuat jahat terhadap pengembara yang nampaknya tidak berdaya. Tetapi mereka telah menenangkan perasaan mereka sendiri, dengan satu anggapan bahwa kedua orang perampok yang namanya ditakuti itu tentu tidak akan merampok pengembara yang miskin dan tidak mempunyai bekal apapun juga. Bahkan kadang-kadang untuk makan sehari-hari saja mereka minta bantuan kepada orang lain.
Namun sebenarnyalah bahwa kedua orang itu telah mengikuti pengembara yang diketahuinya mempunyai uang yang cukup banyak di dalam kampilnya. Karena itu, maka agaknya mereka merasa akan dapat merampas uang itu dengan mudahnya.
Ketika pengembara itu telah berada di tengah-tengah bulak panjang, maka kedua orang itu mempercepat langkahnya sehingga jarak mereka dengan pengembara itu menjadi semakin lama semakin dekat.
Pangeran Singa Narpada yang memang berpakaian sebagai seorang pengembara itu dengan sengaja telah memancing kedua orang itu. Pangeran Singa Narpada yang mempunyai kebiasaan yang keras terhadap kejahatan, tidak dapat meninggalkan sifatnya. Meskipun ia dalam pakaian seorang pengembara, namun kebiasaannya untuk ternyata masih saja lekat padanya.
Sejenak kemudian, maka kedua orang itu telah menyusulnya. Seorang diantara mereka berjalan di sisi kanannya, dan orang yang lain berjalan di sisi kirinya.
Pangeran Singa Narpada memperlambat langkahnya. Dengan tegang ia memandang kedua orang itu berganti-ganti.
“Berhentilah,” berkata orang yang menyebut dirinya Sadkala itu.
Pengeran Singa Narpada pun telah berhenti pula.
“Siapakah kau, he pengembara?” bertanya Sadkala.
“Aku?” bertanya Pangeran Singa Narpada.
“Ya. Kau.“ Sadkala mulai membentak.
“Aku memang seorang pengembara,” jawab Pangeran Singa Narpada.
Sadkala itu kemudian berkata, “berhentilah.”
“Kenapa?” bertanya Pangeran Singa Narpada.
“Berhentilah,“ ulang Sadkala dengan nada yang keras.
Pangeran Singa Narpada pun berhenti. Sementara itu Sadkala memandang ujung jalan di tengah bulak itu sampai ke ujung yang lain.
“Nah, kau lihat,” berkata Sadkala itu.
“Apa?” bertanya Singa Narpada.
“Jalan ini terlalu panjang dan sepi. Jika kau berteriak, maka tidak seorang pun yang akan mendengar. Pada saat seperti ini, tidak kita lihat ada seorang di tengah sawah,” berkata Sadkala.
Bersambung.....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar