Kamis, 10 Desember 2020

HIJAUNYA LEMBAH HIJAUNYA LERENG PEGUNUNGAN JILID 001-01

*HIJAUNYA LEMBAH : JILID-001-01*

Tetapi sejenak kemudian, para pengawal itu telah diherankan lagi oleh kehadiran Mahisa Murti. Ketika ia menjenguk keruang dalam dan melihat pertempuran itu, maka katanya, “Tiga orang lawanku telah binasa. He, siap yang akan melawan aku lagi?”

Tidak seorangpun yang datang mendekatinya. Karena itu maka katanya, “Jika demikian, akulah yang akan datang kepada kalian”

Dengan langkah pendek Mahisa Murti maju mendekati mereka yang sedang bertempur. Tetapi ia justru tidak mendekati Mahisa Pukat yang berloncatan sambil memutar tombak pendeknya. Tetapi ia telah mendekati seorang pengawal yang sedang mempertahankan diri, dan bahkan sekali-kali mendesak lawannya.

Hampir tidak masuk akal, bahwa Mahisa Murti telah bergabung dengan salah seorang pengawal yang justru telah berhasil menguasai lawannya. Dengan gerak yang sederhana dalam putaran pedang pengawal yang sedang menyerang itu, ternyata Mahisa Murti telah berhasil melukai lawan pengawal itu.

Segores luka telah mengoyak lambungnya. Sehingga darah pun telah memancar dari luka itu.

Ketika pengawal yang bertempur bersamanya itu masih akan menusuk dadanya, Mahisa Murti berkata, “Sudahlah. Masih banyak lawan yang harus kau tangani. Bantulah saudaraku itu”

Pengawal itu menjadi heran. Mahisa Murti sendiri tidak membantunya. Tetapi ia menyuruhnya melibatkan diri. Tetapi pengawal itu tidak berpikir panjang, lapun segera menerjunkan diri ke dalam pertempuran yang garang itu, bersama Mahisa Pukat melawan beberapa orang yang bertempur dengan keras dan kasar.

Yang dilakukan oleh Mahisa Murti adalah seperti yang sudah dilakukannya. Ia mendekati pengawal lainnya yang masih bertempur melawan seorang diantara mereka yang ingin merampas benda-benda berharga itu. Seperti yang sudah terjadi, maka dengan mudah Mahisa Murti telah melumpuhkan seorang diantara mereka yang berniat jahat itu.

Seperti yang terdahulu, maka pengawal yang telah terbebas dari lawannya itupun telah bergabung pula dengan Mahisa Pukat.

Sehingga dengan demikian, maka keadaanpun menjadi semakin gawat bagi orang-orang yang memasuki banjar dengan niat buruk itu.

Namun Mahisa Murti masih melakukan sekali lagi. lapun telah membebaskan pengawal yang seorang lagi dari lawannya dan minta kepada pengawal itu untuk bertempur bersama Mahisa Pukat.

Dengan demikian, maka orang-orang yang memasuki banjar itu lelah kehilangan harapan untuk dapat memenangkan pertempuran.

Seorang demi seorang mereka telah tersentuh senjata. Bahkan orang yang bertubuh tinggi besar itupun lelah menitikkan darah dari pundaknya yang lerluka.

Mahisa Murti berdiri bertolak pinggang sambil menyaksikan pertempuran yang sudah mulai menjadi berat sebelah itu. Apalagi ketika ia melihat seorang lawan telah terlempar dan jatuh berguling dilantai dengan dada yang berlumuran darah.

“Anak-anak yang meronda itu masih juga belum angun” berkata Mahisa Murti seolah-olah tidak menghiraukan pertempuran itu sama sekali.

“Sumber sirep itu sebentar lagi akan lenyap sahut Mahisa Pukat sambil bertempur” Cobalah, bangunkan mereka”

Mahisa Murti mengangguk angguk Ketika ia yakin bahwa sebentar lagi, Mahisa Pukat dan ketiga orang pengawal itu akan dapat menguasai lawan mereka sepenuhnya, maka iapun tidak mencampurinya lagi. Tetapi iapun mendekati peronda yang masih tertidur nyenyak.

Sambil mengguncangkan tubuh seorang di antara mereka yang tertidur nyenyak itu, Mahisa Murti berusaha untuk membangunkan mereka. Sementara itu, sumber dari sirep yang tajam itupun telah kehilangan kekuatannya. Apalagi orang itu telah terluka pula seperti beberapa orang kawannya.

Karena itu, maka peronda itupun perlahan-lahan mulai terbangun. Namun iapun segera terlonjak berdiri ketika ia mendengar hiruk pikuk sisa pertempuran yang sudah hampir selesai itu. Tetapi yang dilihatnya di dalam banjar itu benar-benar telah mengguncangkan jantungnya.

“Apa yang terjadi?” bertanya peronda itu.

“Sebagaimana kau lihat” jawab Mahisa Murti, “pengawai benda-benda berharga dari Pakuwon itu sedang bertempur mempertahankan benda-benda keramat itu”

Peronda itu meloncat kearah pintu. Tetapi ia terkejut bahwa tombaknya yang di sandarkannya di pintu itu telah tidak ada.

“Apa yang kau cari?” bertanya Mahisa Murti.

“Tombakku” jawab peronda itu, “Tombakmu sedang dipinjam. Tetapi nanti jika orang-orang yang akan ,erampas barang-barang berharga itu telah menyerah, tombakmu akan dikembalikan” jawab Mahisa Murti. Lalu, “sekarang bangunkan kawan-kawanmu. Laporkan hal ini kepada Ki Buyut”

“Kita tidak mempunyai Buyut sekarang ini. Baru akan diselenggarakan wisuda” jawab peronda itu.

“Tetapi bukankah ia sudah memangku kewajiban mengatasi persoalan ini? Jika bukan calon. Buyut yang akan menerima wisuda, itu, laporkan kepada siapa yang berhak menanganinya” berkata Mahisa Murti.

Peronda itu segara mendekati kawannya yang terbaring dimuka pintu. Sejenak kemudian kawannya itupun telah terbangun pula.

Sejenak ia menjadi bingung. Dengan ragu-ragu ia bertanya kepada Mahlsa Murti, “Siapa kau?”

“Ya” sambung kawannya yang terbangun lebih dahulu,, “aku bertanya tentang kau”

“Nanti sajalah. Sekarang bangunkan kawan-kawan-mu yang lain” jawab Mahisa Murti.

Kedua peronda itupun kemudian membangunkan seorang kawannya yang tertidur diruang dalam. Kemudian mereka berlari ke gardu di halaman banjar.

Ketika para peronda itu sudah terbangun, maka di halaman itupun segera terdengar suara riuh, sementara beberapa orang diantara mereka berlari-lari ke rumah calon buyut yang akan diwisuda serta beberapa orang bebahu Kabuyutan lainnya.

“Apa yang telah terjadi?” bertanya orang yang akan diwisuda itu.

“Aku kurang tahu. Tetapi telah terjadi pertempuran di dalam banjar” jawab para peronda itu.

Orang yang akan di wisuda menjadi Buyut menggantikan ayannya itu menjadi bingung. Ia tahu bahwa didalam banjar itu disimpan benda-benda yang akan dipergunakan dalam upacara wisuda beberapa hari mendatang.

Karena itu, maka iapun segera meraih tombaknya dari ploncon diruang dalam. Berlari-lari kecil orang yang akan diwisuda itupun menuju kebanjar dengan jantung yang berdebaran. Sementara beberapa peronda akan menghubungi Kabuyutan yang lain.

Ketika orang-orang itu sampai ke banjar, ternyata pertempuran telah selesai. Tiga orang pengawal dan para peronda sedang sibuk mengumpulkan orang orang yang terluka, sementara mereka yang menyerah terpaksa diikat kaki dan tangannya sementara menunggu penyelesaian.

Sedangkan seorang diantara para pengawal yang terluka itupun telah berusaha mengobati lukanya dibantu oleh kawan-kawannya.

“Ada dua orang yang terbunuh diantara mereka” berkata salah seorang pengawal kepada kawannya yang terluka.

Dalam pada itu, para perondapun segera mempersilahkan orang yang akan diwisuda itu masuk kedalam banjar. Ketika ia melihat para pengawal, maka dengan serta-merta ia bertanya, “Apa yang terjadi?”

Para pengawal itupun kemudian mempersilahkannya duduk.

Seorang di antara para pengawal itu pun kemudian menceriterakan kembali apa yang terjadi di dalam banjar ini kepada calon Buyut yang akan di angkat menggantikan ayannya itu dan beberapa orang bebahu lainnya, yang datang berurutan saling susul-menyusul.

“Ada dua orang anak muda yang telah menolong kami” berkata salah seorang pengawal itu.

“Apa yang mereka lakukan?” bertanya calon Buyut itu., “Mereka membangunkan kami. Karena itulah maka kami sempat mempertahankan benda-benda itu. Tetapi ternyata bukan itu saja. Mereka menentukan kemenangan kami ketika mereka membatu kami yang mengalami kesulitan melawan jumlah lawan yang terlalu banyak. Ternyata kemampuan kedua anak muda itu jauh melampaui kemampuan kami” jawab pengawal itu.

“Dimana kedua orang anak muda itu?” bertanya Ki Buyut.

“Ke pakiwan. Mereka sedang membersihkan diri” jawab pengawal itu.

“Aku akan memanggilnya” berkata pengawal yang lain lagi.

Namun pada saat itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah meninggalkan banjar itu. Mereka menyelinap dan meloncati dinding halaman, menyusup dalam kegelapan keluar dari padukuhan yang hampir saja terkena bencana itu.

Karena itulah, maka pengawal itu tidak dapat menemukannya di pakiwan dan dimanapun juga di banjar itu.

Dengan demikian orang-orang didalam banjar itu menjadi bingung. Bukan saja para pengawal, tetapi para perondapun telah ikut mencari dua orang anak muda yang telah membantu mereka bertempur mengalahkan orang- orang yang ingin merampas benda-benda keramat yang akan dipergunakan dalam wisuda beberapa hari mendatang.

“Mereka pergi ke pakiwan” berkata seorang pengawal., “Tidak ada” pengawal yang lain yang mencarinya ke pakiwan menjawab, “aku sudah mencari bukan saja di pakiwan. tetapi di halaman samping sudah aku jelajahi sampai kesudut-sudutnya”

“Aneh” berkata seorang peronda, “tidak ada orang lain di halaman banjar ini. Bahkan sampai keharaman belakang”

Akhirnya semua orang telah mencarinya. Ketika para pengawal itu menjadi gelisah, merekapun telah menengok peti-peti berharga yang mereka tinggalkan. Sekilas terpercik juga kecurigaan mereka, bahwa kedua orang anak muda itu telah melarikan diri sarnbil membawa benda-benda keramat yang akan dipergunakan dalam upacara wisuda itu.

Tetapi semuanya masih berada ditempatnya.

Namun seorang pengawal yang mulai curiga terhadap kenyataan yang dialaminya itu melihat tombak dan parang yang tergolek didepan pintu bilik penyimpanan itu. Karena itu, berbisik ia berkata, “Apakah mungkin kedua anak muda itu bukan ujud yang sebenarnya?”, “Maksudmu?” bertanya yang lain.

“Benda-benda itu adalah benda-benda yang bukan saja berharga, tetapi juga keramat” desisnya pula, “Ya. Kenapa?” desak kawannya.

“Apakah, apakah kedua anak-anak muda itu sebenarnya bukan orang yang sebenarnya?” pengawal itu menjawab.

“O” kawannya termangu-mangu, “maksudmu yang nampak sebagai dua orang anak muda itu sebenarnya adalah tuah dari benda-benda itu?” bertanya kawannya.

“Ya. Ketika mereka kembali ke asal mereka, senjata- senjata yang dipinjamnya dari para peronda itu ditinggalkannya didepan bilik ini” jawab pengawal itu.

Keterangan itu memang menarik perhatian. Ketika mereka duduk kembali dan berbincang, maka hal itu menjadi pokok pembicaraan para pengawal, para peronda dan para bebahu kabuyutan itu.

“Memang aneh berkata seorang pengawal hampir tidak masuk akal. Ketika kami tertidur oleh sirep yang sangat tajam, maka kami telah mereka bangunkan. Mereka berbisik di telinga kami, yang seolah-olah memberikan kekuatan kepada kami untuk mengatasi sirep itu. Ketika kami berhasil sadar sepenuhnya akan keadaan kami, maka orang-orang yang akan merampas benda-benda pusaka itu mulai memecah pintu, sementara kedua orang anak muda itu bersembunyi di dalam bilik itu juga”

Yang mendengarkan ceritera pengawal itu mengangguk-angguk.

Kemudian pengawal itu meneruskan Tetapi ketika kami terdesak dan tidak berpengharapan lagi. maka keduanyapun telah keluar dari bilik itu dan melihatkan diri sehingga akhirnya sebagaimana kalian lihat, kami dapat keluar dengan selamat meskipun seorang kawan kami terluka. Namun ternyata bahwa kami dapat mengalahkan lawan- lawan kami. Ada yang terpaksa terbunuh, luka-luka parah, selainnya yang menyerah telah kami ikat tangan kakinya”

Orang yang akan diwisuda itu menjadi berdebar-debar.

Di luar sadarnya ia memandangi pintu bilik banjar yang dipergunakan untuk menyimpan barang-barang berharga itu. Hampir tidak masuk akal bahwa benda-benda itu dapat diselamatkan.

“Apakah aku boleh melihat benda-benda itu?” bertanya calon buyut yang beberapa hari lagi akan di wisuda.

“Silahkan. Marilah, aku akan membuka peti itu” sahut salah seorang dari para pengawal itu.

Orang yang akan menggantikan kedudukan ayahnya itupun kemudian memasuki bilik penyimpanan itu. Ketika peti kecil yang berada di peti yang besar itu dibuka satu demi satu, maka orang itu melihat beberapa buah benda berharga. Di antaranya sebuah topeng yang terbuat dari emas, sebilah keris dalam wrangkanya yang terbuat dari emas bertreteskan berlian, dan beberapa macam benda yang lain.

“Semuanya masih utuh” desis para pengawal.

Orang-orang yang berada di banjar itu pun akhirnya mengambil satu kesimpulan, bahwa benda-benda yang sangat mahal harganya itu memang gawat ternyata pusaka- pusaka itu telah menolong diri sendiri.

“Tentu di antara pusaka-pusaka itu ada yang benar-benar memiliki tuah dan dapat menjadikan dirinya sebagaimana kalian lihat sebagai dua orang anak muda” berkata calon Buyut yang akan diwisuda itu.

Namun kesimpulan itu telah membuat orang-orang yang berada di dalam banjar itu menjadi semakin menghormati benda-benda berharga yang disimpan didalam peti itu.

“Kami akan melaporkan kepada Akuwu apa yang telah terjadi di sini” berkata salah seorang pengawal, “mungkin

Akuwu sudah tidak akan terkejut dan heran, karena Akuwu tentu sudah mengetahuinya.

“Tetapi kita wajib melaporkannya” berkata pengawal itu. Para pengawal itu sepakat, bahwa dua orang diantara mereka di keesokan harinya akan pergi menghadap Akuwu, sementara seorang yang lain akan menunggui pusaka itu bersama kawannya yang terluka dibantu oleh para peronda yang terdiri dari anak-anak muda dari Kabuyutan itu bersama orang yang akan diwisuda itu sendiri serta para bebahu. Tetapi menjelang senja para pengawal harus sudah kembali.

Demikianlah, maka pada malam yang tersisa itu tidak seorang pun lagi yang dapat tidur barang sekejab. Mereka masih tetap memperbincangkan kemungkinan yang aneh yang terjadi pada benda-benda keramat itu, seolah olah di antara benda-benda keramat itu ada yang. dapat mewujudkan dirinya seagai dua orang anak muda.

Ketika fajar menyingsing dua diantara para pengawal itupun telah siap meninggalkan banjar itu untuk menghadap Akuwu. Diserahkannya tanggung jawab atas benda-benda itu kepada seorang di antara. para pengawal itu dibantu oleh orang yang akan diwisuda itu sendiri bersama para bebahu dan anak-anak muda dari pedukuhan itu.

Sejenak kemudian maka kedua orang pengawal itupun telah berpacu di atas punggung kuda mereka menuju ke kata Pakuwon.

Ketika mereka menghadap Akuwu dan menceriterakan apa yang telah terjadi, maka tidak seperti yang mereka sangka, maka Akuwu itu pun ternyata terkejut bukan buatan. Dengan wajah yang tegang ia berkata, “Kalian mungkin salah menilai benda-benda itu Benda benda itu memang benda-benda upacara. Tetapi aku yang memiliki dan menyimpannya sejak bertahun tahun belum pernah menjumpai peristiwa seperti itu, atau mendengar atau mengalaminya”

“Ampun tuanku” berkata salah seorang pengawal itu, “hamba benar-benar mengalaminya Dalam keadaan yang paling sulit, seolah-olah tidak ada lagi harapan bagi hamba berempat, bahwa hamba akan dapat keluar hidup-hidup dari banjar itu, dan di saat hamba berempat menjadi, hampir putus asa bahwa hamba tidak mampu mempertahankan pusaka-pusaka keramat itu, maka kedua orang anak muda itu telah turun ke arena”

“Mungkin mereka pengembara seperti yang mereka katakan” berkata Akuwu.

“Kedatangan mereka pun sangat ajaib menurut pertimbangan nalar hamba” jawab pengawal yang lain.

Akuwu mengangguk-angguk. Ia sudah mendengar semua ceritera tentang kedua orang anak muda itu dari awal sampai mereka kembali masuk ke dalam peti-peti kecil itu setelah mereka meninggalkan senjata yang mereka pergunakan di depan pintu bilik penyimpanan pusaka itu.

“Baiklah” berkata akuwu itu, “meskipun demikian aku tidak segera dapat mempercayai. Tetapi aku pun telah bersyukur bahwa kalian telah mendapatkan sebuah pertolongan sehingga nyawa kalian telah diselamatkan, dan pusaka-pusaka keramat itu tidak lenyap dibawa oleh sekelompok perampok yang kuat, yang sekarang justru sebagian tersisa telah menjadi tawanan”

“Tuanku” berkata pengawal itu, “meskipun ternyata pusaka-pusaka itu dapat menyelamatkan diri sendiri, namun bagaimanapun juga hamba masih mengajukan sebuah permohonan”

“Apa?” bertanya Akuwu.

Karena masih ada beberapa hari lagi pusaka-pusaka keramat itu berada di padukuhan yang kecil tetapi ternyata mengundang bahaya itu. hamba mohon agar kawan hamba dapat ditambah lagi”

Akuwu itu mengangguk-angguk. Ia sependapat dengan permohonan pengawal itu. Apalagi ia kurang mempercayai apa yang telah terjadi menurut ceritera pengawal itu seolah-olah dari dalam peti itu telah muncul dua orang anak muda yang aneh itu.

“Baiklah” jawab Akuwu, “aku akan menyertakan empat orang pengawal lagi bersamamu”

Demikianlah, maka ketika dua orang pengawal itu kembali ke banjar, maka ia telah datang bersama empat orang lainnya, sehingga jumlah para pengawal itu menjadi delapan orang, sementara seorang diantara mereka terluka. Namun luka itu telah dapat dijaga dan menjadi semakin baik.

Ketika para pengawal itu kembali di banjar, mereka telah mendengar ceritera dari antara para peronda, bahwa malam sebelumnya dua orang anak muda itu telah bermalam di banjar itu pula.

“Aku melihat sendiri” berkata peronda itu, “meskipun demikian cenderung untuk sependapat, bahwa kedua orang anak muda itu memang ajaib, “

Para pengawal dan peronda peronda yang lain nampaknya masih tetap pada pendirian mereka. Seandainya malam sebelumnya kedua orang anak muda itu telah menampakkan dirinya, maka hal itu pun sekedar untuk memperkenalkan diri mereka kepada satu dua orang peronda.

Dalam pada itu, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun telah berada di luar padukuhan itu meskipun belum begitu jauh Mereka berdua menjadi ragu-ragu untuk meneruskan perjalanan mereka. Jika kelompok penjahat itu ternyata memiliki sejumlah orang lain yang lebih kuat, dan mereka dengan terang-terangan menyerbu ke padukuhan itu pada saat wisuda, apakah hal itu tidak akan sangat berbahaya” berkata Mahisa Murti.

“Ya” jawab Mahisa Pukat, “tetapi jika Akuwu hadir, maka itu akan berarti bahwa jumlah pengawal di padukuhan itu akan berlipat”

“Jika mereka datang sebelum Akuwu dengan pengawal-pengawalnya datang?” desis Mahisa. Murti.

Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Katanya, “Memang mungkin hal seperti itu terjadi. Bahkan mungkin malam nanti dan esok pagi-pagi”

Mahisa Murti kemudian berkata, “Kita tidak dapat meninggalkan padukuhan itu. Meskipun kita tidak akan menempatkan diri kita lagi untuk menghindarkan diri dari keterlibatan yang semakin jauh”

“Aku sependapat” berkata Mahisa Pukat, “malam nanti kita akan mengawasi padukuhan itu lagi”

Namun dalam pada itu, ternyata berita mengenai dua orang anak muda yang ajaib itu telah tersebar semakin luas.

Bukan saja orang-orang di padukuhan yang di hari berikutnya akan mewisuda seorang Buyut baru menggantikan ayahnya yang sudah meninggal, tetapi padukuhan-padukuhan lain pun telah mendengarnya pula.

Ketika Mahisa Murti dan Mahisa Pukat berada di dalam sebuah kedai kecil di sebuah padukahan yang berjarak tiga bulak pendek dan pantang dari padukuhan yang hampir saja mengalami bencana itu, maka mereka telah mendengar dongeng tentang dua orang anak muda yang ajaib yang merupakan perwujudan dan pusaku keramat yang tersimpan di dalam banjar sebagai salah satu benda, upacara dalam wisuda di hari berikutnya.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mendengarkan pembicaraan itu dengan jantung yang berdebaran. Penjual di kedai itu ternyata telah mempercayainya dengan sepenuh hati. Demikian pula dua orang pembeli lainnya yang kebetulan bersamaan waktunya dengan hadirnya Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.

Demikian kedua anak muda itu meninggalkan kedai itu, maka mereka pun tidak dapat menahan gejolak perasaan mereka. Namun mereka berusaha untuk menahan ledakan tertawa yang hampir tidak tertahankan.

“Pikiran gila” geram Mahisa Pukat sambil menahan tertawanya.

“Memang salah kita,” berkata Mahisa Murti, “kita pergi dengan diam-diam dan meletakkan senjata itu di depan pintu bilik penyimpanan. Menurut khayal mereka, seolah- olah kita telah kembali memasuki peti-peti itu dan meninggalkan senjata yang kita pinjam itu”

“Apakah kita akan menjelaskan?” bertanya Mahisa Pukat.

“Kita akan menunggu perkembangan keadaan” jawab Mahisa Murti.

Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Sementara itu mereka pun berjalan menuju ke sebuah padang perdu yang sepi. Sambil menunggu gelap mereka pun berbaring di atas rerumputan kering sambil membicarakan kabar yang membuat keduanya geli.

Sementara itu, di padukuhan yang akan melakukan wisuda bagi calon buyut yang akan menggantikan ayahnya itu sudah menjadi ramai. Namun bagaimanapun juga, nampak bahwa padukuhan itu dibayangi oleh kegelisahan. Orang-orang yang mempersiapkan upacara wisuda di banjar, sementara yang lain mempersiapkan hidangan dan upacara yang lain, masih tetap membicarakan niat jahat terhadap orang untuk merampas pusaka yang keramat itu.

“Tetapi pusaka itu sendiri telah menyelamatkan dirinya” berkata beberapa orang di antara mereka.

Tetapi karena itu, dalam kesibukan itu masih tetap tercermin kegelisahan. Namun bagaimanapun juga mereka harus membuat persiapan-persiapan. Di hari berikutnya, menjelang malam, Akuwu akan datang untuk mewisuda seorang Buyut baru dari padukuhan itu.

Kegelisahan itu telah memaksa orang-orang sepadukuhan menjadi bersiaga. Setiap laki-laki telah membawa senjata. Sementara anak-anak muda berjaga-jaga di gardu-gardu.

“Sebenarnya kita tidak perlu cemas” berkata seorang anak muda.

“Jika perampok-perampok itu datang dalam jumlah yang jauh lebih besar?” sahut kawannya,

“Pusaka-pusaka itu benar-benar bertuah” jawab anak muda yang pertama.

“Jika perampok-perampok itu mempunyai penawarnya, sehingga pusaka-pusaka itu tidak lagi dapat membuat dirinya sebagai dua orang anak muda?” sahut kawannya.

“Tetapi di sini sekarang sudah ada delapan orang pengawal. Sementara kita sendiri dapat mengerahkan anak- anak muda yang jumlahnya tidak terhitung lagi. Bahkan padukuhan-padukuhan tetangga sudah bersedia membantu jika kita memberikan isyarat” berkata orang pertama.

“Ya. Kita akan dapat bertempur dalam jumlah yang tidak terbatas. Tetapi apakah jumlah itu akan dapat menjamin kemenangan mutlak? Seandainya kita dapat mengusir para perampok itu, maka berapa puluh orang di antara kita yang akan menjadi korban dari peristiwa itu” sahut kawannya.

Namun agaknya kawannya yang lain sependapat dengan orang yang pertama. Katanya,, “Semua akibat yang paling buruk pun harus kita pertanggung-jawabkan. Kita tidak dapat mengingkari lagi tanggung jawab itu”

Anak-anak muda itu pun terdiam. Mereka memang tidak akan dapat berbuat lain. Di hari berikutnya, menjelang malam Akuwu akan datang. Tengah malam wisuda itu akan berlangsung. Namun di padukuhan itu telah ada delapan orang pengawal yang akan melindungi pusaka keramat yang akan menjadi bagian dari upacara itu. Sementara kehadiran Akuwu pun tentu akan membawa sejumlah pengawal pilihan. Apalagi Akuwu sudah mengetahui, bahwa ada pihak yang menginginkan merampas benda-benda yang sangat berharga itu.

Demikianlah, malam itu seluruh padukuhan itu seolah-olah tidak tertidur barang sekejap. Setiap laki-laki ikut berjaga-jaga di sekitar rumah masing-masing. Anak-anak muda berada di gardu-gardu, sementara perempuan-perempuan sibuk menyiapkan hidangan dan kelengkapan upacara di hari berikutnya, sementara yang lain menyiapkan minuman dan makanan bagi para peronda yang jumlahnya tidak terhitung di setiap gardu.

Malam itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun mendekati padukuhan itu pula. Dari kejauhan mereka pun melihat obor di regol padukuhan dan di gardu-gardu. Bahkan di setiap simpang tiga dan simpang empat.

“Meskipun jumlahnya tidak terhitung, tetapi jika sirep yang tajam itu mencengkam mereka, maka mereka pun tentu akan tertidur nyenyak” berkata Mahisa Murti.

Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Tetapi katanya, “Nampaknya tidak malam ini. Orang-orang yang akan merampok benda-benda berharga itu tentu masih harus menghitung-hitung lagi. Apalagi agaknya orang-orangnya yang terbaik telah tertangkap dan terbunuh sehingga mereka harus menilai lagi keadaan yang akan mereka hadapi.

Mahisa Murti mengangguk-angguk. Ia pun sependapat bahwa malam itu tidak akan terjadi sesuatu.

Meskipun demikian kedua orang anak muda itu tidak meninggalkan tempatnya. Mereka masih tetap mengawasi keadaan pedukuhan yang sedang sibuk mempersiapkan upacara wisuda di hari berikutnya.

“Malam ini semua tenaga telah dikerahkan” berkata Mahisa Murti, “sehingga esok mereka semua akan kelelahan. Jika menjelang pagi mereka lengah, adalah saat sang paling baik bagi orang-orang yang berniat jahat datang ke padukuhan ini. Apalagi dilambari dengan ilmu sirep”

Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Kau benar. Tetapi mudah-mudahan hal itu tidak terjadi”

Dengan sabar kedua anak muda itu menunggu. Namun mereka sempat membagi waktu yang tesisa. Sebelum pagi, maka Mahisa Pukat mendapat kesempatan pertama. Baru kemudian Mahisa Murti memanfaatkan waktu menjelang fajar untuk tidur sambil bersandar sebatang pohon.

Dalam pada itu. ternyata bahwa orang-orang padukuhan yang semalam suntuk berjaga-jaga itu sebagaimana diperhitungkan oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, telah kehabisan tenaga. Agaknya hal itu pun telah diperhitungkan pula oleh sekelompok orang yang berniat merampas benda-benda keramat itu.

Seorang yang bertubuh tinggi, dengan perut yang besar dan bermata setajam mata burung hantu mengamati keadaan padukuhan itu dengan saksama.

“Orang-orang bodoh itu terperangkap oleh kesombongan mereka sendiri” berkata orang berperut besar dan bertubuh tinggi itu.

Lima belas orang kita telah terbunuh dan tertangkap berkata salah seorang pengikutnya.

“Agaknya ilmu sirep itu dapat diatasi oleh para pengawal. Sementara menurut beberapa orang, pasukan itu dapat menjelma menjadi dua orang anak muda yang telah mengatasi kesulitan para pengawal itu” berkata orang bertubuh tinggi dan berperut besar itu.

Para pengikutnya mengangguk-angguk. Mereka pun berpendapat bahwa kesulitan yang dialami oleh kawan-kawannya yang jumlahnya cukup banyak itu hampir melumpuhkan seluruh kekuatan gerombolan yang semula cukup kuat dan ditakuti.

“Setelah kehilangan lima belas orang, maka kekuatan kita tinggal separonya” berkata orang bertubuh besar itu,, “aku tidak yakin bahwa jika kita mengulangi usaha ini, kita akan berhasil. Apalagi jumlah pengawal yang ditempatkan di padukuhan ini sudah bertambah dengan empat orang. Sehingga mereka menjadi delapan orang”

Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Namun seorang di antara mereka berkata, “Tetapi apakah kesempatan semacam ini dapat terulang”

Orang bertubuh tinggi berperut besar itu mengangguk-angguk. Katanya,, “Aku sependapat, bahwa kesempatan serupa ini akan sulit dicari. Tetapi bagaimana dengan orang kami yang tersisa tidak lebih dari dua puluh orang. Justru bukan orang-orang terbaik seperti yang sudah tertangkap itu. Mungkin aku sendiri dapat berbuat cukup banyak. Tetapi kalian harus mengakui, bahwa kawan-kawan kalian yang terbaik sudah tidak ada di antara kita.”

“Bagaimana jika kita berhubungan dengan seseorang” berkata salah seorang pengikutnya

“Tidak ada gunanya” jawab orang bertubuh tinggi dengan perut besar itu kita tentu akan berebut untuk menguasai seluruh benda-benda keramat itu. Kita akan hancur sendiri sementara kekuatan kita sudah larut”

“Jadi bagaimana menurut pertimbangan Ki Lurah” bertanya seorang pengikutnya.

Orang yang disebut Ki Lurah itu terdiam. Ia lidak ingin melepaskan benda-benda berharga itu, tetapi ia tidak cukup kekuatan untuk merampasnya. Sementara mereka meragukan, apakah ilmu sirep akan dapat dipergunakan”

“Kita dapat mencoba” tiba tiba saja seorang yang lain berbicara, “kita lontarkan ilmu sirep. Jika ilmu itu tidak berarti bagi para pengawal, kita tidak akan berbuat apa-apa. Tetapi jika pengawal itu tertidur karenanya, maka kita akan mencuri benda-benda keramat itu”

Orang yang bertubuh tinggi berperut besar itu pun menjawab, “Sebentar lagi matahari terbit. Apakah kita akan dapat membawa peti itu meninggalkan padukuhan ini. Seandainya kita berhasil mengetrapkan sirep, karena kebetulan orang-orang padukuhan ini memang telah kehabisan tenaga setelah semalam suntuk mereka berjaga-jaga, sedangkan tanpa ilmu sirep pun ada di antara mereka yang sudah tidak dapat bertahan dan tertidur di gardu-gardu, dan kita dapat mengambil peti-peti itu, bukankah akan dapat memancing kecurigaan orang-orang yang akan berpapasan dengan kita di sepanjang jalan?”

“Kita akan mengambil sebuah pedati. Mereka tidak akan terbangun dengan segera. Pedati kita tentu sudah akan meninggalkan padukuhan ini sampai ke tempat yang jauh, sehingga mereka tidak akan dapat melacak perjalanan kita” berkata seorang pengikutnya.

“Bagaimana dengan para pengawal?” bertanya orang bertubuh tinggi dan berperut besar?”

“Kita akan membinasakan mereka dalam tidur” jawab pengikutnya.

Orang yang bertubuh tinggi berperut besar yang ternyata adalah pemimpin segerombolan perampok yang besar itu, mengangguk-angguk. Katanya, “Agaknya itu lebih baik. Kita akan membunuh mereka agar mereka tidak akan dapat mengganggu kita untuk seterusnya”

“Ya. Jika mereka masih kita biarkan hidup, dan jika mereka terbangun terlalu cepat, maka mereka akan dapat menyusul kita”

“Tentu pedati itu tidak akan dapat berjalan terlalu cepat” berkata seorang pengikutnya.

“Baiklah” berkata orang itu, “meskipun seorang yang mempunyai ilmu sirep sudah tidak ada lagi di antara kita, maka kita masih mempunyai seorang yang lain. He, rambut putih. Lakukanlah. Jangan mengecewakan. Aku yang mempunyai pengetahuan serba sedikit, akan membantumu”

Demikianlah kedua orang itu pun mulai bersamadi di tempat persembunyian mereka, sementara orang-orang yang lain mengawasi keadaan. Dalam ketegangan sekali-kali mereka menengadahkan wajah mereka. Sebentar lagi, langit akan menjadi merah dan matahari pun akan segera pecah di ujung Timur.

Namun mereka masih mempunyai waktu. Sejenak kemudian ilmu mereka telah menyelubungi seluruh padukuhan.

Dalam pada itu, orang-orang yang memang sudah kelelahan dan mengantuk itu pun tidak dapat bertahan sama sekali. Bahkan para pengawal yang ternyata juga berjaga jaga semalam suntuk bersama para peronda dan mereka yang mempersiapkan upacara bagi wisuda di hari berikutnya menjelang tengah malam, tidak lagi dapat bertahan. Perasaan kantuk mereka ditambah dengan kekuatan sirep yang tajam itu telah membuat mereka benar-benar kehilangan kesadaran. Bukan saja mereka menjadi tertidur nyenyak, tetapi mereka seolah-olah telah menjadi pingsan karenanya.

Tetapi ternyata bahwa pengaruh sirep itu telah menyentuh Mahisa Pukat. Ketika perasaan kantuk yang sangat menerpa matanya, sementara ia sedang mendapat giliran berjaga-jaga, karena Mahisa Murti lah yang sedang beristirahat sambil bersandar sebatang pohon, maka ia pun mulai menjadi curiga. Segera ia pun mengetrapkan ilmunya untuk meningkatkan ketahanan tubuhnya bukan saja dari serangan wadag. tetapi juga sentuhan ilmu yang tidak kasat mata seperti ilmu sirep.

Baru kemudian, ia pun membangunkan Mahisa Murti. Mula-mula ia menemui kesulitan, karena dalam tidurnya Mahisa Murti telah dibebani ilmu sirep, sehingga tidurnya pun menjadi semakin nyenyak. Namun akhirnya Mahisa Pukat pun berhasil membangunkannya juga.

Sesaat Mahisa Murti memerlukan waktu untuk meningkatkan daya tahannya. Baru kemudian ia bertanya, “Apa yang telah terjadi?”

“Aku belum tahu. Tetapi aku merasakan hadirnya ilmu sirep itu” jawab Mahisa Pukat

Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam katanya, “Apakah satu kelemahan yang tidak dapat dimanfaatkan. Dua malam berturut-turut padukuhan ini mengalami serangan dengan cara yang sama”

“Tetapi dalam keadaan yang berbeda” jawab Mahisa Pukat.

“Ya, Malam ini para pengawal dan para peronda mengira bahwa serangan terjadi pada malam pertama itu tidak akan terjadi lagi. Apalagi malam telah hampir sampai ke ujungnya. Sebentar lagi matahari akan terbit” sahut Mahisa Murti.

“Justru di sinilah letak kesalahan mereka” jawab Mahisa Pukat, “hal yang tidak terduga, kini benar-benar terjadi pada saat orang-orang padukuhan itu menjadi letih.

“Sekali lagi kita harus bertindak” berkata Mahisa Murti. Kedua orang anak muda itu pun kemudian bersiap-siap.

Mereka pun kemudian merayap dengan hati-hati, mendekati banjar tempat penyimpanan pusaka. Namun merekapun terkejut ketika di halaman mereka terlihat beberapa orang bersenjata telah siap untuk memasuki banjar.

“Bukan main” berkata Mahisa Pukat, “apakah para pengawal itu benar-benar telah tertidur lagi seperti malam kemarin?”

Merekapun tidak menduga, bahwa serangan yang demikian akan terulang, justru menjelang pagi hari” sahut Mahisa Murti.

“Kita tidak mendapat kesempatan untuk membangunkan mereka malam ini” berkata Mahisa Pukat.

Mahisa Murti mengangguk-angguk. Agaknya para penjahat itu telah berada di sekeliling banjar. Bukan saja di halaman depan.

“Apakah yang akan kita lakukan” bertanya Mahisa Murti kemudian.

“Kita mendekat. Masih ada kesempatan meskipun sebentar lagi hari akan menjadi terang desis Mahisa Pukat.

Memang tidak ada pilihan lain. Dengan sungguh- sungguh Mahisa Murti berkata, “Mungkin kali ini kita akan benar-benar bertempur. Kita tidak dapat sekedar bermain- main seperti malam kemarin. Agaknya kita berdua harus melawan sekian banyak orang tanpa bantuan orang lain”

Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Katanya kita memerlukan sentata lagi”

“Kita ambil senjata para peronda di gardu yang sudah tertidur nyenyak itu” jawab Mahisa Murti.

Dalam pada itu, kedua orang itu masih mendengar orang yang bertubuh tinggi dan berperut besar berteriak, “Bunuh semua pengawal”

“Jangan ada yang tersisa, aku tidak yakin bahwa, pusaka itu benar-benar dapat menjadi dua orang anak muda”

“Kita tidak mempunyai banyak waktu” berkata Mahisa Pukat.

Keduanya kemudian dengan sangat berhati-hati meloncati dinding halaman dan merayap mendekati gardu.

Ternyata keremangan sisa malam masih sempat menyelimuti mereka, sehingga orang-orang itu tidak melihat saat kedua orang anak muda itu memungut senjata dari gardu.

Yang dapat mereka ambil dari gardu adalah dua batang tombak pendek. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masing-masing telah mengamati tombak pendek di tangan mereka. Meskipun tombak itu bukan tombak yang sangat baik, tetapi ternyata tombak-tombak itu akan dapat dipergunakan untuk melawan senjata para perampok yang jumlah sekitar dua puluh orang itu.

Dengan cemas Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun kemudian melihat para perampok yang naik ke pendapa. Mereka nampaknya sangat yakin, bahwa tidak seorang pun yang dapat lolos dari ilmu sirep mereka.

Dalam pada itu, disana-sini para peronda dan orang- orang yang sibuk mempersiapkan upacara wisuda yang akan diselenggarakan tengah malam berikutnya, tertidur silang melintang.

Beberapa tangkai janur masih berserakan di pendapa. Sementara di dapur asap pun masih mengepul. Tetapi perempuan-perempuan yang masak, telah tertidur pula dengan nyenyaknya.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak mempunyai kesempatan lagi untuk mencapai pintu butulan, karena untuk menuju ke tempat itu. ia harus melewati beberapa orang pengikut orang bertubuh tinggi dan berperut besar itu. Sehingga karena itu, maka iapun telah mengambil satu sikap yang lain.

Ketika sekali lagi orang bertubuh tinggi dengan perut yang besar itu berteriak memerintahkan orang orangnya segera masuk, maka tiba tiba saja Mahisa Murti telah muncul di halaman diikuti oleh Mahisa Pukat.

Yang terdengar kemudian adalah suara tertawa Mahisa Murti diselingi oleh kata-katanya, “Apa yang akan kalian lakukan Ki Sanak?”

Semua orang terkejut mendengar suara tertawa itu. Dengan serta merta mereka berpaling dan memandang ke halaman. Dengan jantung yang berdebar-debar mereka melihat dalam keremangan sisa malam dua orang anak muda yang berdiri tegak dengan tombak pendek di tangan.

“Siapa kau?” bertanya pemimpin perampok itu.

“Ki Sanak” berkata Mahisa Murti, “beri kami jalan. Kami akan kembali kedalam sarang kami”

“Siapa kau he?” desak seorang perampok yang menjadi berdebar-debar.

“Aku adalah Kiai Sodor. Aku akan kembali ke dalam selongsongku yang terletak di dalam peti” jawab Mahisa Murti.

“Aku Kiai Gampar” desis Mahisa Pukat, “beri kami jalan. Kecuali jika kalian bermaksud jahat. Kami berdua mendapat tugas untuk mengamati jalannya upacara wisuda dan ikut pula di dalamnya. Itulah sebabnya kami berada di sini untuk mengawal saudara tua kami. Topeng Emas berlian dan bergigi intan”

“Omong kosong” pemimpin perampok itu berteriak. “Jangan ganggu kami. Jika saudara tua kami itu terbangun dan keluar dari petinya, maka akan terjadi gara-gara. Gunung akan meledak dan berguguran. Lautan dan sungai-sungai akan meluap. Hujan prahara dan angin topan akan menghancurkan bumi ini”

“Aku tidak peduli” teriak pemimpin perampok itu, “jangan sangka kami anak-anak kemarin sore yang percaya kepada igauanmu itu. Lebih baik kalian tunduk di bawah perintah kami, agar kalian berdua akan dapat kami ampuni”

Mahisa Pukat lah yang tertawa Sambil melangkah maju ia berkata, “Sudahlah. Jangan membual seperti itu. Beri kami jalan, atau kami akan memusnakan kalian”

Pemimpin perampok itu menjadi semakin marah. Dengan garang ia berkata, “Baik. Aku akan membunuh kalian berdua. Jika benar kalian adalah ujud dari pusaka-pusaka yang kau sebut itu. maka kalian akan dapat menyelematkan diri kalian”

“Baik” jawab Mahisa Pukat, “jika itu yang kau kehendaki maka kami akan menembus kemampuan kalian semua sebelum kami akan memasuki selongsong kami masing-masing”

Pemimpin perampok itu menggeram. Sementara itu Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan.

Sebenarnyalah, bagaimanapun juga, kedua anak muda itu harus menilai lawannya dengan saksama. Jika malam sebelumnya mereka bertempur bersama empat orang pengawal dan lawannya pun tidak sebanyak malam itu, maka saat itu mereka berdua harus bertempur berdua saja.

Dalam pada itu, maka pemimpin perampok itu pun berkata kepada orang-orangnya, “Selesaikan dua orang anak gila ini. Baru kita menyelesaikan yang lain agar anak-anak gila ini tidak mengganggu lagi”

Tetapi Mahisa Murti menyahut, “Marilah, aku sudah siap. Apakah kau kira bahwa ilmu kalian sudah terlalu tinggi? Aku dapat menilik dari ilmu sirep kalian yang tidak berarti apa-apa ini. Dengan demikian, maka tingkat kemampuan kalianpun tidak akan jauh berbeda dengan tingkat ilmu sirep kalian ini”

Tetapi pemimpin perampok itu tidak menjawab. Ia pun langsung mendekati Mahisa Murti, sementara para pengikutnya pun telah memencar. Seorang anak muda yang lain, yang telah mengambil jarak, telah dikepungnya pula.

Namun nampaknya Mahisa Pukat memang mempunyai sikap yang agak berbeda dari Mahisa Murti. Demikian lawan-lawannya mulai mengepungnya, maka ia pun telah menyerang mereka dengan langkah menghentak yang mengejutkan. Hampir tidak dapat dilihat oleh lawannya, karena mereka memang tidak akan menduga, bahwa Mahisa Pukat akan berbuat demikian.

Namun dalam hentaknya yang mengejutkan itu, ujung tombaknya telah tergores pada dada seorang lawan. Demikian orang itu mengaduh, sambil meloncat surut, maka putaran tombaknya telah menyambar kepala seorang lawannya yang lain pada pangkalnya.

Sikap Mahisa Pukat benar-benar telah mengejutkan lawan. Sehingga justru karena itu, maka merekapun segera bergeser mundur.

Tetapi Mahisa Pukat tidak memberi mereka kesempatan untuk menilai keadaan sebaik-baiknya, karena Mahisa Pukat pun telah memburu dengan serangan-serangannya yang cepat pada satu sisi, sehingga dengan demikian, maka ternyata bahwa Mahisa Pukat telah berhasil memecahkan kepungannya. Bahkan sekali lagi, seorang lawannya telah mengaduh karena ujung tombak anak muda itu telah mematuk perutnya.

Sementara itu, Mahisa Murti pun telah mulai bertempur pula.

Orang yang bertubuh tinggi dengan perut yang besar itu berada di lingkaran pertempuran untuk melawannya.

Dengan sikap yang lebih tenang Mahisa Murti menghadapi lawan lawannya. Ia tidak meloncat-loncat mengejutkan. tetapi senjatanya lah yang berputar seperti baling-baling melindungi dirinya dari serangan-serangan senjata mereka yang mengepungnya.

Sebenarnyalah senjata Mahisa Murti tidak kalah berbahaya dari senjata Mahisa Pukat. Dalam beberapa saat beberapa orang yang mengepung Mahisa Murti pun mulai menyadari, bahwa anak muda itu benar-benar anak muda yang luar biasa.

Untuk beberapa saat Mahisa Murti masih tetap bertahan. Namun sejenak kemudian, maka tangan lawan-lawannya pun mulai merasa sakit. Benturan-benturan yang terjadi telah membuat tangan orang-orang yang mengepungnya menjadi pedih. Seorang yang lenggah, ternyata telah terkejut karena senjatanya seolah-olah telah di renggut oleh kekuatan yang tidak terlawan dan melejit ke udara, jatuh beberapa langkah dari arena.

“Gila” geram orang itu. Namun ia masih mendapat kesempatan untuk mengambilnya.

Tetapi demikian ia kembali memasuki arena, seorang di antara kawannya telah terdorong surut Bukan saja senjatanya yang terlepas dari tangannya, tetapi lambungnya telah tergores ujung senjata anak muda yang berada di dalam kepungan itu.

Sebenarnyalah Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak lagi mendapat kesempatan untuk bermain-main, jika mereka tidak ingin mendapat kesulitan. Karena itulah, maka merekapun telah mengerahkan segenap kemampuan mereka. Bahkan tenaga cadangan merekapun telah mulai tersalur pada tangan-tangan mereka.

Itulah sebabnya, maka kekuatan mereka pun seolah-olah telah menjadi berlipat. Sentuhan senjata mereka, bagaikan hantakkan kekuatan yang tidak terlawan.

Dengan kekuatan yang berlipat dan sikap yang garang Mahisa Pukat benar-benar telah mampu mengacaukan kepungan lawan-lawannya. Bahkan semakin lama ia semakin mendapat banyak kesempatan untuk mengurai perlawan orang-oroang yang berusaha mengepungnya lebih rapat. Setiap kali Mahisa Murti berhasil lolos dari lingkaran yang mengelilinginya, bahkan setiap kali dengan meninggalkan segores luka pada tubuh seorang lawan.

Mahisa Murti pun semakin lama menjadi semakin cepat bergerak. Tombaknya berputaran bagaikan perisai di seputar tubuhnya. Namun tiba-tiba tombak itu mematuk dengan cepatnya. Jika seorang di antara mereka yang mengepung mengaduh dan terdorong sulut, maka tombak itu telah berputar kembali di sekeliling tubuhnya.

Beberapa orang telah terluka di arena pertempuran. Mahisa pukat ternyata memerlukan arena yang lebih luas. Sementara Mahisa Marti bertempur di tempatnya menghadapi orang-orang yang mengurungnya. Namun meskipun Mahisa Murti tetap berada di dalam kepungan namun lawan-lawannya tidak banyak dapat berbuat atas anak muda itu.

Dengan mengerahkan segenap ilmunya, maka Mahisa Murti pun berhasil satu persatu mengurangi jumlah lawahnya. Ketika tombaknya terayun mendatar, maka seorang lawannya memekik kecil.

Dadanya terkoyak oleh ujung tombak itu. Bahkan ujung tombak itu masih juga melemparkan senjata seorang lawannya yang lain dan jatuh beberapa langkah dari padanya.

Dengan tergesa-gesa orang yang kehilangan senjata itu berlari memungut senjatanya. Namun malang, bahwa ia tidak memperhatikan kaki Mahisa Pukat. Dengan satu loncatan kecil, orang yang sedang memungut senjatanya itu telah terlempar jatuh. Justru pangkal tombak Mahisa Pukat telah menghantam tengkuknya.

Meskipun pangkal tombaknya itu tidak melukainya, tetapi benturan di tengkuknya telah membuatnya Sekaligus pingsan.

Demikianlah, dari waktu ke waktu, orang-orang yang mengepung kedua anak muda itu menjadi semakin berkurang. Sementara itu langit menjadi semakin terang. Pagipun telah mulai cerah.

“Aku tidak ingin kemanungsan” teriak Mahisa Pukat, “aku harus segera kembali ke selongsongku sebelum saudara tua yang garang itu marah. Jika ia terbangun dan tampil di arena, maka bumi akan terguncang seluruhnya dan gempa pun akan menghancurkan dataran dan lereng pegunungan sebelum gunung itu sendiri akan meledak”

Ancaman itu memang mengerikan. Orang orang yang tinggal, ternyata tidak dapat mengabaikan ancaman Mahisa Pukat itu. Bahkan dalam keadaan yang gawat, maka senjata Mahisa Murti telah menyentuh tubuh orang yang menjadi pemimpin gerombolan yang ingin merampas benda benda berharga itu.

“Kau adalah pusat dari bencana ini” berkata Mahisa Murti, “jika kau dapat aku lumpuhkan, maka semuanya akan tunduk kepadaku”

“Gila” orang itu menggeram, “kau akan mati”

“Kau tidak akan dapat membunuhku” berkata Mahisa Murti, “aku bukan wadag kasar seperti wadagmu”

Sebenarnyalah orang bertubuh tingggi dengan perut yang besar itu tidak mampu berbuat banyak. Kawan-kawannya menjadi semakin berkurang, sementara tubuhnya sendiri telah terluka.

“Lima orang pengikutnya telah tergolek di tanah. Tiga di antaranya pingsan. Sementara yang dua keadaannya sangat gawat.

Meskipun demikian orang bertubuh tinggi dan perutnya besar itu tidak mau segera melihat kenyataan. Bahkan seperti orang gila ia pun telah mengamuk sejadi jadinya. Tetapi dengan demikian, ia telah kehilangan pengamatan atas tata geraknya sendiri, sehingga seolah olah ia tidak lagi bertempur atas satu pegangan ilmu yang paling sederhana sekalipun.

Namun dalam pada itu, sikap orang bertubuh tinggi dan berperut besar itu sangat menjengkelkannya. Sehingga karena itu, maka Mahisa Murti pun telah mengambil keputusan untuk menghentikan sikap gila orang itu. Ketika dengan ayunan senjata yang tidak mapan orang itu menyerang Mahisa Murti, maka Mahisa Murti masih sempat mengelak meskipun ia harus menangkis serangan seorang lawannya yang lain.

Namun dalam pada itu. dengan sikapnya yang tidak terkendali orang itu telah memburunya dan mengayunkan senjatanya tanpa memperhitungkan akibatnya.

Mahisa Murti tidak lagi mengelak, tetapi ia sempat mengungkit senjata lawannya dengan tangkai tombaknya, sehingga senjata itu terjulur tanpa menyentuh sasaran. Pada saat yang demikian, Mahisa Murti telah memukul punggung orang itu dengan tangkai tombaknya pula.

Pukulan itu terlalu keras, sehingga orang bertubuh tinggi itu menjadi tehuyung-huyung. Hampir saja ia jatuh terjerembab. Namun untunglah bahwa ia masihi sempat menguasai keseimbangannya.

Dengan berteriak nyaring itu telah melompat, memutar tubuhnya Sambil mengumpat kasar itu mengangkat senjatanya.

Namun tepat pada saat yang sama, tombak Mahisa Murti telah terjulur lurus ke arah lambungnya yang terbuka.

Orang itu tidak dapat berbuat apa-apa. Ujung tombak Mahisa Murti telah mengoyak kulitnya meskipun tidak terlalu dalam Tetapi terasa seolah-olah isi perutnya telah tertumpah.

Melihat orang itu terluka, pengikut-pengikutnya menjadi semakin gelisah. Bahkan kemudian mereka pun mulai bergeser surut.

Tetapi orang itu berteriak, “Pengecut. Bunuh anak-anak gila itu”

“Omong kosong” geram orang itu.

Sebenarnyalah bahwa Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah mengerahkan segenap kemampuannya. Dengan tenaga cadangan mereka telah mendorong kecepatan dan kemampuan gerak mereka agar ujung senjata lawan benar- benar tidak melukai kulitnya. Dengan kecepatan gerak mereka berhasil menghindar dan menangkis setiap serangan dari segala arah. Bahkan akhirnya, dengan kecepatan puncaknya mereka berdua berhasil mematahkan perlawanan orang-orang yang bermaksud buruk itu.

Ketika sekali lagi tombak Mahisa Murti mengenai dada orang bertubuh tinggi itu, maka ia pun telah mengakhiri pertempuran. Orang bertubuh tinggi dengan yang besar itu, akhirnya jatuh terkapar di tanah. Sekali-kali terdengar orang itu mengerang menahan pedih. Tetapi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak terlalu banyak mempunyai waktu.

Keduanya telah mengikat orang-orang yang tersisa dan mengikat mereka pada batang-batang pohon yang terdapat dihalaman banjar itu. Sementara yang terlalu dan pingsan terpaksa mereka tinggalkan begitu saja.

“Jika para pengawal terbangun, maka mereka akan segera merawat mereka” berkata Mahisa Murti. Lalu sebentar lagi mereka akan terbangun. Sumber kekuatan sirep itu telah dilumpuhkan, sehingga kekuatan sirep itu sudah tidak berpengaruh lagi”

“Lalu. bagaimana dengan kita?” bertanya Mahisa Pukat., “Kita akan meletakkan senjata-senjata ini seperti malam kemarin” jawab Mahisa Murti.

“Di muka bilik itu?” bertanya Mahisa Pukat., “Ya” jawab Mahisa Murti singkat.

Dengan tergesa-gesa keduanya Kemudian memasuk ruang dalam banjar itu. Ternyata pintu banjar itu juga tidak diselarak seperti malam sebelumnya. Agaknya para peronda dan para pengawal memang tidak menduga sama sekali bahwa perampok-perampok itu akan kembali. Menurut perhitungan mereka, kemungkinan yang demikian itu hampir tidak akan terjadi.

Tetapi ternyata yang mereka anggap tidak mungkin terjadi itu telah terjadi. Sekali lagi para pengawal dihadapkan pada satu kenyataan bahwa mereka tidak berdaya menghadapi keadaan yang gawat di bawah ilmu sirep yang sangat tajam.

Setelah meletakkan senjata masing-masing, maka Mahisa Pukat dan Mahisa Murti pun meninggalkan banjar itu setelah keduanya menggeser tutup peti yang besar untuk memberikan kesan bahwa tutup itu telah bergerak.

Hampir saja keduanya terlambat meninggalkan banjar itu, ketika seorang pengawal tiba-tiba menggeliat. Namun sebelum orang itu membuka matanya, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah berjingkat keluar dari ruang dalam dan dengan tergesa-gesa meninggalkan banjar itu.

Mereka masih melibat beberapa orang tertidur di gardu-gardu meskipun matahari telah mulai nampak di ujung timur. Tanpa menghiraukan mereka, Keduanya berusaha untuk segera menjauhi banjar dan keluar dari padukuhan yang masih terasa sangat sepi.

Namun kesibukan ayam di kandang, telah membangunkan beberapa orang di sekitar banjar. Pengawal yang tertidur itu seorang demi seorang telah terbangun pula.

Ketika seorang peronda di halaman terbangun pula, alangkah terkejutnya ketika ia melihat apa yang telah tejadi.

Peronda itu mengusap matanya yang masih kabur. Seolah-olah ia tidak percaya bahwa ia benar-benar melihat satu kenyataan. Bukan sekedar mimpi.

Dengan jantung yang berbedar-berdebar ia membangunkan kawan-kawannya. Seorang demi seorang.

“Siapa mereka?” bertanya salah seorang dari para peronda itu.

“Kita bertanya kepada para pengawal” desis salah seorang di antara para peronda di halaman.

Beberapa orang pun kemudian berlari-lari ke ruang dalam. Mereka melihat para pengawal baru saja terbangun pula. Bahkan di antara mereka masih ada yang terbaring. Sambil menggeliat dengan malasnya ia berdesis, “Alangkah neyenyaknya tidurku malam ini”

“He, jadi kalian tertidur pula?” bertanya seorang peronda.

Pertanyaan itu telah mendebarkan jantung para pengawal. Bahkan salah seorang diantara para pengawal itu berkata ”He, apakah kita tertidur”



**********

(Bersambung) 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...